Anda di halaman 1dari 19

PROPOSAL PENELITIAN

PENGALAMAN ORANG TUA DALAM MERAWAT ANAK DENGAN

PENGGUNA NARKOBA

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Individu


Mata Kuliah : Riset Kualitatif

OLEH:
Nama : Dilfera Hermiati
NPM : 220120140039
Peminata : Keperawatan Jiwa

PROGRAM STUDI MAGISTER KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2015
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Penelitian di dilatarbelakangi pengalaman pribadi peneliti yang

memiliki kerabat yang anaknya menggunakan narkoba dan sudah tiga kali

ditangkap oleh polisi. Pada saat peneliti menanyakan bagaimana pengalaman

menjadi orang tua yang anaknya seoarang pemakai narkoba maka kerabat

saya mengatakan:

“ini adalah cobaan yang harus dihadapi, dan semoga dengan ditangkapnya

adekmu oleh polisi dapat membuat efek jera padanya, meskipun bucik merasa

sedih tetapi bucik harus kuat”.

Perkembangan masalah narkoba pada saat sekarang dari hari ke hari

terus meningkat dan semakin sulit untuk diberantas. Masalah narkoba ini

bukan hanya menjadi masalah nasional namun sudah merupakan masalah

internasional. Di Indonesia peredaran narkoba sendiri sudah menembus ke

semua lapisan masyarakat, tidak hanya pada kalangan menengah ke atas

tetapi sudah masuk ke strata paling bawah dari masyarakat.

Jumlah pemakai narkoba sebenarnya lebih banyak dibandingkan

dengan data yang ditemukan. Bila memperhatikan jumlah pengguna narkoba

di Indonesia, jumlahnya cukup besar. Data yang didapatkan dari Badan

Narkotika Nasional (BNN) mencatat pengguna narkoba di Indonesia sekitar


3,2 juta orang, atau sekitar 1,5 persen dari jumlah penduduk negeri ini. Dari

data tersebut, sebanyak 8.000 orang menggunakan narkoba dengan

menggunakan jarum suntik, dan 60% terjangkit HIV/AIDS, dan sekitar

15.000 orang meninggal setiap tahun karena menggunakan NAPZA

(narkotika, psikotropika dan zat adiktif lain)(BNN, 2009). Data menunjukkan

bahwa pengguna narkoba di daerah Bengkulu tercatat sebanyak 16.467

orangdan 80 % dari jumlah korban adalah generasi mudah yang berusia 17

tahun (BNN Bengkulu, 2014).

Salah satu wujud tanggung jawab serta keseriusan pemerintah dalam

menganggulangi penyalahgunaan NAPZA adalah dengan disyahkannya

undang-undang nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika. Di dalam undang-

undang ini dijelaskan untuk memberikan efek jera dan pelajaran baik kepada

pemakai maupun pengedar NAPZA yaitu dengan pidana kurungan atau denda

paling banyak Rp. 800.000.000.000,- (delapan ratus miliar rupiah) serta

hukuman yang paling berat yaitu hukuman mati (Jurnal BNN, 2009).

Adanya anggota keluarga yang menggunakan narkoba akan berdampak

pada keluarga terutama bagi orang tua. Orang tua yang memiliki peran

penting, akan memikul beban yang sangat besar diantaranya adalah akibat

dari masalah yang timbulkan, stigma yang terbentuk dimasyarakat ataupu

biaya yang harus dikeluarkan untuk merehabilitasi klien. Berdasarkan hal

tersebut keluarga dalam hal ini orang tua akan terpengaruh dengan adanya

maslah yang dihadapi oleh anggota keluarganya terutama yang berhubungan

dengan anaknya.
Hal ini menunjukkan keluarga ikut terpengaruh dengan masalah yang

dialami oleh anggota keluarganya. Pernyataan tersebut diperkuat oleh Nasrul

Effendy (1998) bahwa bila ada salah satu/beberapa anggota keluarga

mempunyai masalah kesehatan/keperawatan, maka akan berpengaruh

terhadap anggota-anggota keluarga yang lain dan keluarga yang ada

disekitarnya. Keadaan anggota keluarga yang mengalami ketergantungan

narkoba dapat menjadi pemicu timbulnya masalah dalam keluarga yang

selanjutnya akan menjadi sumber stressor tersendiri bagi keluarga.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Ritanti (2010) menyatakan

bahwa pengalaman keluarga yang memiliki anggota keluarga pengguna

narkoba dalam menghadapi kehidupan bermasyarakat adalah perasaan sedih

yang mendalam dan berputus asa.

Berdasarkan dari latar belakang fenomena tersebut maka peneliti

bermaksud melakukan wawancara yang medalam tentang bagaimana

pengalaman orang tua dalam menghadapi anak yang pemakai narkoba di

rehabilitasi narkoba Rumah sakit Jiwah Daerah Soeprapto Bengkulu

1.2 FOKUS PENELITIAN

Central Phenomenon pada penelitian ini adalah pengalaman orang tua yang

memiliki anak pemakai narkoba/NAPZA di rehabilitasi Narkoba Rumah sakit

Jiwah Daerah Soeprapto Bengkulu.


1.3 RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang diatas yang menjadi rumusan masalah dalam

penelitian ini adalah “Bagaimana pengalaman orang tua yang memiliki anak

pemakai narkoba/NAPZA di rehabilitasi Narkoba Rumas sakit Jiwah Daerah

Soeprapto Bengkulu.”

1.4 TUJUAN

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap dan mengeksplorasi secara

mendalam tentang pengalaman orang tua yang memiliki anak pemakai

narkoba/NAPZA di rehabilitasi Narkoba Rumas sakit Jiwah Daerah

Soeprapto Bengkulu.

1.5 MANFAAT PENELITIAN

1.5.1 Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini semoga menjadi bahan perkembangan ilmu

keperawatan, khususnya keperawatan jiwa dalam hal penggunaan

NAPZA pada remaja dan bagaimana orang tua dalam menghadapi anak

dengan Narkoba .

1.5.2 Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini semoga dapat memberikan gambaran dan

informasi mengenai pengalaman orang tua yang memilik anak dsebagai

pemakai narkoba, sehingga dapat menjadi bahan dasar dalam


merencakana asuhan keperawatan untuk mengurangi dampak psikologis

dan psikosoial yang terjadi pada orang tua serta membuat intervensi

yang sesuai dengan apa yang orang tua butuhkan.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 LITERATUR REVIEW

Sebuah penelitian kualitatif yang diakukan oleh Butler & Bauld (2005)

mengemukakan bahwa keluarga yang memilik anak dengan pengguna heroin

dalam menghadapi masalah yang dihadpi orang tua memilih dukungan dari

lembaga special yang dapat memberikan manfaat bagi orang tua diantaraya

berkurangnya rasa isolasi orang tua terhadap lingkungan, pengetahuan

terhadap obat-obatan meningkat, dan memiliki rasa empati yang lebih besar

pada anak mereka. Namun, orang tua banyak mendapatkan kendala dalam

mendapatkan dukungan dan kurangnya kesadaran orang tua untuk

menggunakan lembaga yang tepat dalam mengatasi masalah mereka. Sama

halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh Ritanti (2010) yang melakukan

penelitian kualitatif dan mendapatkan hasil bahwa pengalaman orang tua

dengan anak pengguna NAPZA adalah mengalami kesedihan yang

mendalam, berkepanjangan dan berulang-ulang bahkan putus asa.

Artikel yang ditulis oleh Etherington (2007) menyebutkan bahwa dalam

pengalaman menjadi orang tua dengan anak mantan pecandu narkoba adalah

diperlukannya komunikasi yang teraupetik untuk mempengaruhi pola asuh

dalam membantu pengguna narkoba, tumbuhkan sikap positif, adanya

harapan, nilai-nilai dan memiliki kemampuan dalam merawat anak dengan


pengguna narkoba, selain hal tersebut konseling juga diperlukan dalam

membangun hubungan yang baik antara orang tua dan anak. Sama halnya

yang disampaikan oleh Arcidiacono, Velleman, Procentese, Albanesi, &

Sommantico (2009) dalam menghadapi anggota keluarga yang menggunakan

narkoba keluarga menggunakan beberapa mekanisme koping diantaranya

memiliki motivasi, bepikir positif, membuat rencana yang baik, dan perilaku

yang adaptif. Sama dengan penelitian selanjutnya yang disampaikan oleh

Arcidiacono, Velleman, Procentese, Berti, Albanesi, Sommantico, & Copello

(2010) bahwa strategi koping yang digunakan keluarga adalah beragam dalam

menghadapi kesulitan, mesikpun demikian keluarga masih mempertahankan

harapan yang tinggi untuk meningkatkan kesulitan yang dihadapi dengan

keluarga pengguna narkoba dan alcohol.

Peran keluarga sangat dibutuhkan dalam membantu penyembuhan pada

anak dengan pengguna narkoba. Seperti yang disampaikan oleh Garzia &

Torres (2012) bahwa pada anak sekolah dalam mengurangi dan mencegah

penggunaan narkoba lebih banyak meluangkan waktu untuk hal-hal yang

positif dengan focus pada sekolah, olahraga dan banyak berkomunikasi

dengan keluarga. Broman, Xin, & Reckase (2008) menyebutkan bahwa

struktur keluarga mempunyai efek langsung terhadap penggunaan narkoba di

kalangan remaja walaupun dampaknya kecil, selain itu peran keluarga sangat

penting dalam merawat anggota keluarga yang sakit (Arcidiacono, Velleman,

Procentese, Albanesi, & Sommantico, 2009). Sama halnya dengan penelitian

yang dilakukan oleh Widianingsih dan Widyarini (2009) yang menyebutkan


bahwa dukungan keluarga sangat penting terhadap penyesuaian diri dalam

bermasyarakat pada anggota keluarga dengan mantan pengguna narkoba.

Pencegahan dalam penggunaan narkoba di kalangan remaja sangat

penting agar peredaran narkoba dapat berkuraang. Seperti halnya yang

disampaikan oleh Brook, Brook, De La Rosa, Whiteman, Johnson, &

Montoya (2001) bahwa untuk mengurangi pemakaian narkoba secara illegal

dikalangan remaja hal yang harus dilakukan adalah dengan menjaga

lingkungan dari hal-hal negative, peran keluarga dan komponen intrapersonal.

Prisaria (2012) mengatakan bahwa memiliki pengetahuan yang tinggi dan

semakin tinggi pengaruh social yang baik maka tingkat pencegahan terhadap

NAPZA di kalangan siswa akan semakin tinggi

Dampak yang ditimbulkan akibat penggunaan narkoba yang berlebihan

akan sanagt mempengaruhi keluarga. Seperti yang disampaikan oleh Da

Silva, Noto, & Formigoni (2007) dampak yang dihadapi oleh keluarga dala

menghadapi anggota keluarga yang mengalami overdosis narkoba adalah

perasaan marah, ketidakberdayaan, malu, rasa bersalah dan rasa kehilangan,

namun hal penting yang harus diperhatikan keluarga dalam mengadapi

masalah yang dibutuhkan adalah support psikologis. Dalam sebuah artikel

yang ditulis oleh McMillan & Alten tentang Impact of drug use in families

overlooked (2005) menyebutkan bahwa dampak yang ditimbulkan oleh salah

satu anggota yang menggunakan narkoba adalah kurangya perhatian keluarga

terhadap anggota yang sehat karena keluarga terlalu focus dengan anggota

yang sakit.
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan

metode fenomenologi. Penelitian Kualitatif mencoba untuk menggali,

menemukan, menggambarkan atau mengembangkan pengetahuan bagaimana

kenyataan dialami (Brockopp, 2000) serta untuk memahami fenomena yang

dialami oleh partisipan misalnya prilaku, persepsi, motivasi maupun tindakan

yang dideskirpsikan dalam bentuk kata-kata (Moleong, 2011). Fenomenologi

adalah suatu bentuk penelitian kualitatif spesifik yang mencoba memberikan

informasi yang mendalam dan mengembangkan pemahaman tentang

pengalaman hidup (Norwood S, 2000). Penelitian kualitatif dengan

fenomenologi dipilih karena penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi

kedalaman dan kompleksitas dari pengalaman hidup orang tua dengan anak

pecandu narkoba.

3.2 Subjek Penelitian

Subjek penelitian dalam penelitian ini dinamakan informan. Penentuan

informan pada penelitian kualitatif tidak didasarkan pada perhitungan

statistik. Informan yang dipilih berfungsi untuk mendapatkan informasi yang

maksimum, bukan untuk digeneralisasikan. Penentuan informan dianggap

telah memadai apabila telah sampai kepada taraf data jernih atau telah

mencapai saturasi data. Prosedur pengambilan sampling pada penelitian ini


menggunakan purposive sampling yaitu teknik pengambilan sampling dengan

ketentuan tertentu (Sugiyono, 2005).

Yang menjadi kriteria inklusi pada penelitian ini diantaranya adalah

 Ibu yang memiliki anak dengan kecanduan/ pengguna narkoba

 Ibu dari Anak yang sedang di rehabilitasi

 Berdomisili di Bengkulu

3.3 Proses Mendapatkan Informan

Proses untuk mendapatkan informan dalam penelitian ini adalah dengan

melakukan beberapa hal diantaranya adalah dengan melihat data dari pusat

rehabilitasi dimana terdapat anak yang menggunakan narkoba kemudian

melakukan pendekatan kepada informan dan menjelaskan maksud dan tujuan

dari penelitian, apabila informan dalam penelitian setuju maka peneliti

memberikan informed consent kepada informan untuk ditanda tangani, dan

selanjutnya peneliti bersama informan mengadakan perjanjian tentang waktu

untuk melakukan wawancara.

3.4 Proses Wawancara

Untuk mendapatkan hasil wawancara mengenai pengalaman menjadi

orang tua dengan tua dengan anak pecandu/pengguna narkoba, maka tehnik

pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam (In-depth

interview) dengan informan (Moleong, 2011). Informasi dikumpulkan dengan

menggunakan alat perekam/ tape recorder serta alat tulis, namun sebelumnya

peneliti menjelaskan fungsi dari penggunaan alat perekam serta meminta izin

untuk menggunakannya. Untuk setting lingkungan dalam melakukan


wawancara akan diatur dengan baik demi menciptakan kenyaman bagi

peneliti dan informan. Wawancara dilakukan ditempat yang nyaman dan jauh

dari gangguan sehingga proses wawancara dapat berjalan dengan lancar.

Ada beberapa aspek yang harus diperhatikan dalam proses wawancara

pada penelitian kualitatif fenomenologis. Pada awal penelitian, peneliti

berusaha untuk dapat menciptakan hubungan saling percaya dengan

informan. Peneliti harus memahami emosi informan secara empatik, baik

yang diharapkan maupun yang tidak diharapkan. Berupaya menggali

informasi secara tenang tidak terburu-buru dan mempunyai kemampuan

untuk mendapatkan data yang dapat mencakup pengalaman orang tua dengan

anak pecandu/pengguna narkoba.

Dalam Proses wawancara peneliti bertindak sebagai orang yang netral

yang artinya tidak memihak pada suatu konflik pendapat, peristiwa, atau

lainnya (Moleong, 2011). Pertanyaan yang diajukan dengan menggunakan kata-

kata yang mudah dimengerti dan jelas. Dan yang menjadi pertanyaan awal dalam

wawancara adalah “Dapatkah ibu menceritakan pengalaman ibu sebagai orang

tua yang memilik anak sebagai pecandu narkoba?”.

Bila informan bingung untuk meneruskan pembicaraan maka peneliti

akan membantu dengan memberikan pertanyaan lain yang dipahami oleh

informan. Dalam mendengarkan informasi dari informan, peneliti

menggunakan tehnik mendengar, hasil wawancara selanjutnya di analisa

dengan menggunakan proses analisa data dari Georgi (1998).


3.4 Analisa Data

Analisa data adalah proses mengorganisasian dan mengurutkan data ke

dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema

dan dapat dirumuskan hipotesiss. Pada proses analisa data pada penelitian

fenomenologi terdiri atas empat tahap yaitu, bracketing, intuiting, analizing,

dan describing (Polit & Back, 2010).

Bracketing merupakan bagian terpenting dari penelitian kualitatif,

khususnya fenomenologi, yang dikenal juga “Pemetaan Pikiran” atau

“reduksi Fenomenologis”. Dalam melakukan bracketing, peneliti berusaha

untuk mengosongkan/meninggalkan pengetahuan ataupun asumsi yang

berhubungan dengan fenomena pengalaman dari orang tua yang memiliki

anak pecandu/pengguna narkoba. Bracketing diperlukan agar informasi yang

didapatkan tidak ada pengaruh dari persepsi peneliti (Polit & Back, 2010).

Intuiting, pada tahap ini yaitu pada saat peneliti mulai masuk ke dalam

fenomena yang akan diteliti. Pada tahap ini peneliti mulai mengetahui dan

memahami tentang fenomena yang telah digambarkan dari partisipan. Peneliti

merupakan instrument utama dalam mengumpulkan data, oleh sebab itu

peneliti terlibat langsung mulai dari awal penelitian sampai akhir penelitian.

Pada tahap ini peneliti mendengarkan dengan seksama dan rasa empati dan

tidak melakukan kritikan, penilaian ataupun saran khusu terhadap fenomena

yang disampaikan partisipan (Polit & Back, 2010).

Analisa data yang digunakan untuk mendeskripsikan pengalaman orang

tua dengan anak pecandu narkoba menurut Georgi (1998) adalah : (1)
Mendengarkan hasil wawancara yang telah di rekam kemudian membuat

transkrip untuk memperoleh pemahaman secara keseluruhan dari data yang

telah terkumpul, (2) Membaca transkrip secara berulang dan merenungkan isi

dari transkrip tersebut, (3) Mengidentifikasi tema yang muncul dari setiap

transkrip tersebut, (4) Mengelompokkan dan menjelaskan pertanyaan-

pertanyaan yang relevan dengan tema yang muncul, (5) Merenungkan tema

yang muncul dengan isi dari isi keseluruhan hasil wawancara, (6) Menuliskan

tema yang muncul dan mengilustrasikan sesuai dengan pernyataan klien, (7)

Melakukan validasi dengan cara menyampaikan tema yang muncul kepada

informan yang bersangkutan untuk meminta klarifikasinya. Klarifikasi tema

yang muncul dikatakan valid apabila tema tersebut telah dianalisa dan

disetujui oleh pembimbing, dan (8) Melakukan sintesa terhadap pernyataan-

pernyataan yang ada agar tidak ada data yang bertolak belakang dengan isi

transkrip yang ada.

3.6 Uji Keabsahan Data

Uji keabsahan data dalam penelitian kualitatif adalah : (1) kredibility

(validitas internal), (2) transferability (validitas eksternal), (3) dependability

(ketergantungan), dan (4) comfirmability (netral).

Prinsip kredibilitas (kredibility) merujuk pada apakah kebenaran hasil

penelitian kualitatif dapat dipercaya dalam makna mengungkapkan kenyataan

sesungguhnya. Untuk memenuhi kriteria ini, peneliti meningkatkan

ketekunan, member check, menggunakan bahan referensi. Prinsip

tranferabilitas (transferability) yang berarti bahwa hasil penelitian ini dapat


digeneralisasikan atau diaplikasikan pada situasi lain. Berkaitan dengan

penelitian ini, hasil penelitian kualitatif tidak secara apriori dapat di

generalisasikan kecuali situasi tersebut memiliki karakteristik yang sama

dengan situasi lapangan tempat penelitian. Dengan demikian, upaya untuk

mentransfer hasil penelitian kualitatif pada situasi yang berbeda sangat

mungkin memerlukan penyesuaian menurut keadaan dan asumsi-asumsi yang

mendasarinya. Oleh karena itu, supaya orang lain dapat memahami hasil

penelitian maka laporan yang dibuat harus rinci, jelas, sistematis dan dapat

dipercaya. Ketergantungan (dependability), dimana peneliti secara seksama

mengikuti semua yang berkaitan dengan interpretasi data dan tetap mengikuti

bagaimana strategi koding berkembang selama jalannya studi. Semua cacatan

disimpan untuk rujukan selanjutnya dan refleksi yang akan datang. Peneliti

lain harus memeriksa pekerjaan ini, analisa logis yang dapat diperbandingkan

seharusnya jelas. Confirmability (netral), dalam usaha untuk meminimalkan

bias yang tidak tepat, peneliti melakukan konsultasi kepada dosen

pembimbing.

3.7 Penyajian Data

Setelah data di olah melalui tahap analisa data maka data yang akan di

sajikan adalah dalam bentuk deskripsi dengan menggunakan kata-kata yang sudah

di validasi oleh informan dan sudah di ambil inti sari karena data sudah mencapai

saturasi data.
3.8 Tahapan Penelitian

Tahap penelitian ini memberikan gambaran tentang keseluruhan

perencanaan, pelaksanaan, pengumpulan data sampai penyusunan laporan.

Adapun tahap-tahap tersebut adalah : Tahap Persiapan terdiri dari

:Menyusun rancangan penelitian, Melakukan studi pendahuluan, Menyusun

proposal penelitian, dan Seminar proposal penelitian. Pada tahap

pelaksanaan terdiri dari: mengurus izin penelitian, menyiapkan

perlengkapan penelitian, mendapatkan persetujuan dari informan,

melakukan penelitian, Pengolahan data serta analisa data. Tahap akhir

terdiri dari menyusun laporan penelitian, menyajikan hasil penelitian dan

penggandaan laporan penelitian.

3.9 Etika Penelitian.

Etika penelitian dalam penelitian ini dantaranya adalah:

a. Informed Consent yaitu memberikan penjelasan kepada partisipan

tentang maksud dan tujuan dari penelitian serta memberikan lembar

persetujuan untuk menjadi partisipan dalam penelitian ini agar partisipan

mengetahui maksud dan tujuan dari penelitian.

b. Anomity (Tanpa Nama) yaitu peneliti tidak mencantumkan nama

partisipan demi menjaga kerahasiaan, peneliti hanya mencantumkan kode

pada data yang dikumpulkan.

c. Confidentiality (Kerahasiaan) yaitu menjamin kerahasiaan dari data

partisipan yang telah dikumpulkan oleh peneliti dengan menyimpan baik

– baik hasil rekaman, catatan maupun hasil observasi.


3.10 Lokasi Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Maret 2016 dengan lokasi

penelitian adalah di Bengkulu.


DAFTAR PUSTAKA

Arcidiacono, C., Velleman, R., Procentese, F., Albanesi, C., & Sommantico, M.
(2009). Impact and Coping in Italian Families of Drug and Alcohol Users.
Qualitative Research In Psychology, 6(4), 260-280.
doi:10.1080/14780880802182263
Arcidiacono, C., Velleman, R., Procentese, F., Berti, P., Albanesi, C.,
Sommantico, M., & Copello, A. (2010). Italian families living with
relatives with alcohol or drugs problems. Drugs: Education, Prevention &
Policy, 17(6), 659-680. doi:10.3109/09687630902824262.
Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia. (2009). Undang-undang No.35
tahun 2009 tentang Narkotika. Jurnal BNN. Edisi 8.
Badan Narkotika Provinsi Bengkulu. (2014).
Broman, C. L., Xin, L., & Reckase, M. (2008). Family Structure and Mediators of
Adolescent Drug Use. Journal Of Family Issues, 29(12), 1625-1649.
Brook, J. S., Brook, D. W., De La Rosa, M., Whiteman, M., Johnson, E., &
Montoya, I. (2001). Adolescent Illegal Drug Use: The Impact of
Personality, Family, and Environmental Factors. Journal Of Behavioral
Medicine, 24(2), 183-203.
Butler, R., & Bauld, L. (2005). The Parents' Experience: Coping with drug use in
the family. Drugs: education, preventiort and policy, 12(1), 35-45. DOI:
10.1080/0968763042000275308.
Da Silva, E. A., Noto, A. R., & Formigoni, M. S. (2007). Death by drug overdose:
Impact on families. Journal Of Psychoactive Drugs, 39(3), 301-306.
Etherington, K. (2007). Creation as transformation: Parenting as a turning point in
drug users’ lives. Counselling and Psychotherapy Research, 7(2): 71-78.
DOI: 10.1080/14733140701340001
García, J. A. G., & Torres, G. B. G. (2012). Family, school and sports (fede),
three areas in the lives of students in the state of jalisco, mexico: analysis
of the use of leisure time and the use or abuse of drugs. Health and
Addictions,12 (2), 193-226. ISSN: 1578-5319.
Impact of drug use in families overlooked. (2005). Mental Health Practice, 8(9), 4
Moleong, L. J. (2011). Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi. Bandung:
PT. Remaja Rosdakarya

Polit, D.F., & Beck, C.T., 2006, Nursing Research: Principles And Methods.7thed.
Prisaria, N. (2012). Hubungan Pengetahuan Dan Lingkungan Sosial Terhadap
Tindakan Pencegahan Penyalahgunaan Napza Pada Siswa Sma Negeri 1
Jepara. Di unduh pada tanggal 16 juni 2015.
Sugiyono. (2009). Metode Penelitian Kualitatif dan R & D. (Edisi ke: 6).
Bandung: Albeta.
Widianingsih, R., dan Widyarini, N. (2009). Dukungan orang tua dan penyesuian
diri remaja mantan pengguan narkoba. Jurnal Psikologi, 3(1).