Anda di halaman 1dari 28

e-book

KUPEDES BRI
tujuan
pembelajaran
Peserta mampu
memahami
pengertian,memahami
pengertian,Ketentuan
Umum, Persyaratan dan
Prosedur Kupedes BRI
a. peNDAHULUAN
Bank Rakyat Indonesia yang berkomitmen untuk terus
mengembangkan perekonomian melalui pengembangan
usaha mikro kecil dan menengah selalu mengembangkan
produk pinjaman sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik
dari masyarakat mikro di Indonesia.

Salah satu skim kredit mikro komersial BRI adalah


Kupedes. Kupedes merupakan skim kredit komersil unggulan
yang dipasarkan di BRI Unit guna memenuhi kebutuhan
masyarakat. Sejak Kupedes diperkenalkan pada tahun 1984,
telah terbukti banyak membantu debitur yang bergerak di
segmen mikro untuk mengembangkan usaha mereka serta
telah menjadi sumber utama pendapatan kredit BRI.

Mempertimbangkan dinamika bisnis yang semakin


berkembang maka ketentuan dan fitur Kupedes saat ini
diatur didalam Surat Edaran Direksi BRI Nose: S.09-DIR/
ADK/05/2015 tanggal 28 Mei 2015.
b.
KETENTUAN UMUM
KUPEDES BRI
Berdasarkan SE Nose: S.09 - DIR/ADK/05/2015 tentang KUPEDES
dapat dijelaskan ketentuan-ketentuan pemberian Kupedes sebagai berikut :

1. Pelayanan Kupedes dilakukan di kantor BRI Unit dan Teras BRI.

2. Maksimal plafond Kupedes yang dapat dilayani sebesar Rp 200.000.000,-


(dua ratus juta Rupiah). BRI Unit yang bisa melayani Kupedes dengan
besaran plafond diatas Rp 100 juta s.d Rp 200 juta ditentukan oleh
Pemimpin Wilayah dengan memperhatikan kriteria sebagai berikut :
• Potensi bisnis di wilayah sekitar BRI unit.
• Tingkat persaingan.
• Letak geografis dan kemudahan layanan
• Kesiapan dan kualitas MANTRI BRI
Unit dalam menganalisa dan membina
debitur dengan eksposur kredit s.d Rp
200 juta.
• Tingkat NPL BRI Unit ≤ 3%

3. Suku bunga yang dipakai untuk kredit


Kupedes adalah sistem suku bunga flat

4. Karakteristik nasabah mikro adalah dalam


penggunaan kredit di segmen mikro belum
sepenuhnya dapat dipisahkan antara
penggunaan untuk keperluan usaha dengan keperluan rumah tangga.
Nasabah mikro juga belum memliki laporan keuangan dan pencatatan
keuangan yang masih sederhana, belum dapat dipisahkan antara laporan
keuangan pribadi dengan catatan keuangan usaha.

Berdasarkan kondisi tersebut maka pendekatan kebutuhan kredit didasarkan pada


RPC (Repayment Capacity) atau kemampuan membayar kembali dari debitur.
Untuk keperluan pencatatan dan administrasi pemberian kredit di segmen mikro
dapat menggunakan pendekatan jenis penggunaan dominan, antara lain :

5
A. Modal Kerja
Kredit Kupedes yang penggunaannya ditujukan
untuk menambah modal kerja usaha yang
dijalankan oleh calon debitur.

B. Investasi
Penggunaan Kupedes untuk pembelian barang-
barang modal yang diperlukan guna melakukan
rehabilitasi, modernisasi, ekspansi atau pendirian
usaha baru,termasuk untuk sektor pertanian tanaman
keras. Pendirian usaha baru dimaksudkan adalah
calon debitur yang telah memiliki usaha dan ingin
memperluas usahanya dengan membuka usaha
yang baru.
Contoh : Pak Hamid memiliki usaha toko sembako.
Melihat peluang yang ada, maka Pak Hamid
mengajukan pinjaman Kupedes ke BRI Unit untuk
membuka toko plastik.

5. Kupedes untuk usaha pertanian diperuntukkan untuk usaha pertanian,


peternakan, dan perikanan on farm, bukan perdagangan hasil komoditas
hasil pertanian, peternakan, dan perikanan.

Kotak Interaktif Mikro

Q : Apa pengertian suku bunga flat dan suku bunga efektif?


A : Suku bunga flat atau flat rate system adalah suatu sistem perhitungan bunga
yang dihitung tetap berdasarkan besarnya kredit mula-mula dan
dibebankan sepanjang jangka waktu kredit. Sedangkan suku bunga
efektif adalah sistem perhitungan bunga yang dihitung berdasarkan nilai
sisa pinjaman yang digunakan debitur pada saat itu

6
C.
PERSYARATAN UMUM
KUPEDES
1. WNI dan cakap hukum.

2. Usia calon debitur minimal 21


tahun atau sudah menikah. Batasan
maksimal usia calon debitur
ditambah dengan jangka waktu
kredit adalah maksimal 75 tahun.

3. Menyerahkan fotokopi KTP atau


identitas lainnya (calon debitur dan
pasangan suami/istri calon debitur)
dan harus dilakukan pencocokan
dengan aslinya. Identitas calon
debitur juga harus dicocokkan
dengan Kartu Keluarga (KK) yang
masih berlaku, surat nikah dan lain-
lain untuk mengetahui hubungan
kekeluargaannya.

4. KUPEDES dengan plafond diatas Rp 50 juta wajib memiliki NPWP.


Apabila belum memiliki pada saat pengajuan maka pemenuhan dapat
dilakukan pada saat kredit berjalan. Debitur juga bisa memberikan kuasa
kepada BRI untuk mengajukan permohonan dan pengurusan NPWP atas
nama YANG BERHUTANG ke kantor pajak (tertuang pada SH-03 Kupedes).

8
5. Kriteria calon debitur Kupedes diatas Rp 100 juta s.d Rp 200 juta
yang dapat dilayani adalah sebagai berikut :
• Nasabah KUPEDES eksisting
dengan kolektibilitas selama 1
(satu) tahun terakhir LANCAR.
• Calon debitur yang pernah
memperoleh fasilitas Kupedes
dalam kurun waktu paling lama 2
(dua) tahun yang lalu dengan track
record pinjaman 1 (satu) tahun
terakhir adalah LANCAR.
• Nasabah baru, dalam upaya
take over dari bank lain, dengan
kolektibilitas pinjaman di bank
lain tersebut selama 1 (satu) tahun
terakhir adalah lancar (dibuktikan
dengan informasi dari SID BI).

Untuk nasabah eksisting atau nasabah baru, plafond Kupedes eksisting


atau pinjaman komersial di bank lain pada posisi terakhir adalah
sebesar ≥ Rp. 75 juta atau berdasarkan dokumen pinjaman terakhir
(Model 70/LAS 01 atau Memorandum Analisa Kredit Bank lain), Ymp
memiliki RPC yang mencukupi untuk plafond kredit di atas Rp. 100 juta.

6. Mempunyai surat perijinan usaha atau (SIUP, TDP, atau surat ijin lainnya
tang dapat dipersamakan dengan itu) atau izin usaha Mikro dan Kecil
atau (IUMK) sesuai dengan peraturan Presiden No.98 tahun 2014 tentang
perizinan untuk usaha mikro dan kecil.

9
D.
PROSEDUR PEMBERIAN
DAN ANALISA KREDIT
Secara singkat prosedur pemberian kredit Kupedes di BRI Unit dapat digambarkan
melalui alur dibawah ini :

Mapping Potensi Wilayah dan Peyusunan CPP


Maping Wilayah Penyusunan CPP Penyusunan RMB

Prakarsa dan permohonan Kredit Kupedes


Permohonan Kredit Pre - Screening LKN

LOLOS

Analisis Kebutuhan Kredit Kupedes


Analisis Analisis Analisis Analisis Kondisi/ Analisis Agunan
Watak Kemampuan Modal Prospek Usaha Kredit

INPUT LAS

Putusan Kredit Kupedes


Verifikasi data oleh CS Putusan Kredit Oleh Verifikasi Putusan
Pemutus

Pencairan Kredit Kupedes


Tanda Tangan SPH Pembayaran Pemenuhuan encairan melalui
Oleh biaya-biaya Syarat-syarat OB Ke rekening
Debitur Kredit lainnya Simpedes Debitur

11
1) Mapping Potensi Wilayah dan Penyusunan
RMB

T
ahapan awal yang harus dilakukan oleh Mantri BRI Unit untuk melakukan
prakarsa kredit adalah dengan melakukan mapping potensi wilayah,
penyusunan CPP (Calon Penyimpan/Peminjam Potensial) dan penyusunan
RMB (Rencana Marketing Bulanan). Tahapan ini sangat penting dilakukan
karena penyusunan CPP dan RMB akan membuat langkah-langkah Mantri dalam
pencapaian target kinerja menjadi terarah. Penyusunan CPP dan RMB juga
salah satu cara untuk menjaga penyaluran Kupedes tepat orang, tepat guna
dan tepat jumlah. Dengan demikian kualitas kredit Kupedes juga akan tetap
terjaga dengan baik. Setelah CPP tersusun dengan baik dan pembuatan RMB
telah dilakukan maka Mantri dapat lebih memfokuskan kegiatan marketing yang
akan dilakukan dengan cara melakukan penyusunan RMH (Rencana Marketing
Harian). RMH bisa dijadikan sebagai panduan marketing harian Mantri bisa
meliputi kunjungan kepada calon debitur, penagihan kepada debitur menunggak
dan melakukan kunjungan kepada debitur eksisting dalam rangka maintenance
maupun melihat perkembangan usaha debitur kelolaannya.Kepala Unit BRI
bisa menggunakan RMH yang disusun oleh Mantri unwtuk mengetahui
dan mengarahkan Mantri untuk kegiatan pemasaran dalam satu hari.

12
2) Prakarsa dan Permohonan Kredit Kupedes
Calon debitur yang namanya telah tercatat di dalam daftar CPP dan kemudian
ingin mengajukan pinjaman Kupedes maka pengajuan Kupedes di BRI Unit
akan diprakarsai oleh Mantri dengan langkah-langkah sbb:

a. Calon debitur membuat surat permohonan


kredit kupedes dengan mencamtumkan
nominal pengajuan kredit dan tujuan
penggunaan kredit. Surat permohonan ini
harus ditandatangani oleh calon debitur dan
apabila calon debitur telah memiliki pasangan
maka pasangan debitur (suami/istri) harus
ikut menandatangani surat permohonan kredit
Kupedes tersebut.

MANTRI Perlu memperhatikan kesesuaian tanda tangan yang


ada pada surat permohonan dengan bukti identitas calon debitur
(KTP).

b. Mantri melakukan pre-screening awal melalui system LAS dan verifikasi


dokumen pengajuan debitur seperti yang telah dipersyaratkan sebelumnya.
Verifikasi yang dilakukan harus memperhatikan :
1. Debitur yang mengajukan pinjaman adalah debitur sendiri dan tidak
dapat diwakilkan.
2. Usaha debitur masuk di dalam PS KRD dan tidak merupakan usaha yang
masuk dalam daftar negative list Kanwil dan jenis usaha yang dilarang
3. Kesesuaian antar dokumen contoh tanda tangan dan nama antar bukti
identitas (KTP dengan KK/akta nikah atau lainnya)

13
4.
Mencari informasi Ymp tidak
dalam proses pengajuan kredit di
BRI Unit kerja lain atau pernah
melakukan pengajuan dan ditolak
oleh BRI Unit lainnya

C. Apabila secara sistem LAS


memberikan putusan “LOLOS” dan
Mantri pemrakarsa memutuskan
untuk melanjutkan proses pengajuan
kredit Kupedes calon debitur
bersangkutan, maka Mantri dapat
melanjutkan proses berikutnya yakni
melakukan kunjungan langsung ke
tempat usaha nasabah sekaligus
melakukan penilaian agunan. Kunjungan Mantri ke calon debitur harus
memperhatikan :
• Kunjungan Mantri sebaiknya dilakukan secara dadakan tanpa
pemberitahuan terlebih dahulu. Hal ini untuk menghindari calon debitur
melakukan kecurangan.
• Kunjungan Mantri harus dilakukan ke tempat usaha debitur dan tempat
tinggal debitur.
• Mantri wajib mencari keterangan-keterangan yang diperlukan terkait
calon debitur dari lingkungan sekitat tempat usaha dan tempat tinggal
debitur.
• Hasil kunjungan kepada calon debitur wajib dilaporkan dan dituangkan
di
dalam form LKN (Laporan Kunjungan Nasabah) / form LAS-01/
Kupedes.
• Laporan Penilaian agunan dituangkan di dalam model 71-78 Kupedes.

14
3) Analisa Kebutuhan Kredit Kupedes
Analisa terhadap calon debitur Kupedes yang harus dilakukan Mantri meliputi
analisa 5’C terhadap aspek kualitatif dan kuantitatif antara lain sebagai berikut:

a) Character / Analisa Watak


Analisa watak diperlukan untuk menilai
kemauan debitur memenuhi kewajiban
membayar dari calon debitur, untuk itu
harus diteliti perilaku pemohon meliputi :
i. Keharmonisan keluarga, gaya hidup, catatan criminal;
ii. Tingkat kooperatif calon debitur selama proses analisasi dilakukan;
iii. Informasi Bank (SID & SICD), rekan bisnis, tetangga sekitar, dsb.

b) Capacity / Analisa Kemampuan


Analisa kemampuan bertujuan untuk
menilai kemampuan debitur untuk
melakukan pembayaran kredit dari
hasil usaha yang dibiayai. Penilaian
kemampuan harus memperhatikan hal-
hal berikut :
1. Mantri harus mengetahui informasi umum tentang usaha yang akan dibiayai;
2. Informasi yang didapatkan kemudian digunakan untuk melakukan analisa
dan mengetahui kebutuhan kredit maupun untuk menilai kemampuan
membayar kembali (RPC) dari calon debitur;
3. Pendekatan perhitungan kebutuhan kredit Kupedes hanya didasarkan pada
kemampuan membayar kembali (RPC) dari calon debitur baik untuk Kupedes
modal kerja maupun investasi.
4. Penentuan kemampuan membayar kembali dari debitur hanya didasarkan
pada perhitungan laba dari usaha debitur saat ini.
5. Kemampuan membayar kembali (RPC) ditentukan sebesar 75% dari total
pendapatan laba bersih yang diperoleh dari usahanya.

5'C 15
c. Capital / Analisa Modal
Analisa modal digunakan untuk mengukur
kemampuan usaha calon debitur dalam
mendukung pembiayaan dengan modal
sendiri. Fungsi lainnya adalah mengikat
debitur secara psikologis karena dalam
menjalankan usahanya debitur tidak hanya bermodal pembiayaan dari Bank
saja namun di dalam sebagian modal usahanya berasal dari dirinya sendiri.
Hal ini akan berpengaruh pada motivasi debitur dalam memajukan usahanya.

d. Condition / Analisa Prospek Usaha


Analisa prospek usaha harus
dilakukan dengan teliti dan dapat
didasarkan beberapa aspek penilaian
seperti perkembangan ekonomi
daerah, jumlah pesaing untuk usaha
sejenis, kelebihan dari calon debitur dan aspek lain yang mempengaruhi
kelangungan usaha debitur kedepannya. Prospek usaha tentunya menjadi
hal yang patut diperhatikan oleh Mantri karena membiayai usaha calon
debitur yang sudah mulai mengalami penurunan permintaan tentunya akan
berpengaruh terhadap pendapatan yang diterima.

e. Collateral / Analisa Agunan


Analisa agunan yang dimaksud
adalah agunan tambahan yang
dimiliki oleh calon debitur. Analisis
agunan kredit Kupedes didasarkan
pada kecukupan nilai agunan
tambahan untuk menutup risiko dari kegagalan bayar calon debitur terhadap
total pinjaman Kupedes yang dimilikinya. Penilaian agunan tambahan
meliputi antara lain jenis atau macam agunan tambahan, nilai, lokasi, bukti
kepemilikan dan status hukum.

16
5'C
Kotak Interaktif Mikro

Q : Apakah yang dimaksud dengan agunan tambahan?


secara singkat dapat dijelaskan bahwa agunan tambahan
adalah agunan yang diserahkan oleh calon debitur yang
mengajukan kredit kepada Bank dimana agunan tersebut
A :
adalah harta debitur diluar dari usaha/ objek yang akan
dibiayai oleh Bank. Sedangkan usaha/objek yang akan dibiayai
Bank disebut dengan Agunan Pokok.
Q : Apakah istilah jaminan sama dengan agunan?

A: TIDAK, Jaminan dan agunan adalah istilah yang berhubungan


namun berbeda makna. Pernahkah anda mendengan istilah
Kredit Tanpa Agunan? Jika pernah, maka pernahkah anda
mendengar istilah Kredit Tanpa Jaminan? Saya yakin tidak
pernah. Mengapa demikian?

Jaminan adalah semua hal yang memberikan keyakinan kepada pemberi


keputusan kredit bahwa calon debitur mampu dan pasti akan mengembalikan
pinjaman yang diberikan oleh Bank. Analisa 5’Cs yang anda lakukan dengan
tingkat ketelitian tinggi akan mempengaruhi penilaian seberapa besar Jaminan
calon debitur anda mampu mengembalikan kredit yang akan anda berikan.
Sekarang perhatikan kembali bahwa Agunan adalah salah satu dari analisa
5’Cs anda. Jadi, PERHATIKAN ANALISA ANDA DAN PASTIKAN TELAH
DILAKUKAN DENGAN BAIK DAN BENAR SEBAGAI JAMINAN KREDIT YANG
ANDA BERIKAN AKAN DAPAT DIKEMBALIKAN OLEH DEBITUR ANDA.

17
4) Putusan Kredit Kupedes
Semua analisa yang dilakukan harus melewati system LAS (Loan Approval System)
meliputi data Kualitatif dan Kuantitatif termasuk di dalamnya adalah penilaian
agunan. Dari data yang diinput oleh Mantri maka secara otomatis sistem LAS
akan melakukan perhitungan dan menghasilkan scoring dengan nilai cut off
tertentu. Penetapan nilai cut off sepenuhnya menjadi wewenang dari Kantor Pusat.
Berdasarkan scoring tersebut akan muncul 2 (dua) kemungkinan putusan yakni
“Diterima” atau “Ditolak”.

1. Apabila scoring tidak sesuai dengan nilai cut off yang ditetapkan
maka secara otomatis pengajuan kredit akan ditolak sehingga LAS akan
mencetak surat putusan tolak dan harus ditandatangani oleh Kepala
BRI Unit. Terhadap putusan tolak tersebut Mantri pemrakarsa kemudian
menyampaikan kepada calon debitur. Customer Service berkewajiban
untuk melakukan update data penolakan pengajuan calon debitur melalui
SICD. Update data penolakan sangat penting untuk menjaga informasi
calon debitur dapat diakses oleh Mantri BRI Unit yang lain sehingga
apabila calon debitur tersebut mengajukan pinjaman di BRI Unit yang
lain, Mantri di BRI Unit yang bersangkutan akan menolak untuk memproses
pengajuan tersebut.

2. Apabila hasil scoring LAS


sesuai dengan nilai cut off yang
ditetapkan maka pengajuan
kredit tersebut akan mendapatkan
persetujuan diterima. Terhadap
pengajuan yang diterima
selanjutnya akan mendapatkan
putusan dari pejabat pemutus
sesuai kewenangan setelah
sebelumnya dilakukan verifikasi
ulang dan diteruskan oleh Customer
Service. Verifikasi dilakukan
dengan mengecek kelengkapan
dokumen dengan entry data yang
dilakukan Mantri di LAS.

18
3. Sebelum memberikan putusan terhadap pengajuan Kupedes Pejabat
Pemutus harus Meyakini kesesuaian, kebenaran, dan kewajaran analisa
Mantri terhadap usaha calon debitur yang akan dibiayai. Kepala Unit
diperkenankan untuk melakukan pemeriksaan ulang melalui on the spot
terhadap usaha debitur yang dirasa masih meragukan. Setelah meyakini
kesesuaian, kebenaran dan kewajaran pengajuan kredit yang dientry
oleh Mantri maka putusan Kredit Kupedes dilakukan oleh Pejabat Pemutus
sesuai dengan kewenangan dan semuanya dilakukan melalui sistem LAS.

4. Apabila Pejabat Pemutus memberikan putusan Tidak Setuju, maka


sistem akan mencetak surat Putusan Kredit Tolak yang kemudian harus
ditandatangani oleh pejabat pemutus sesuai kewenangan dan mencetak
surat penolakan dengan ditandatangani oleh pemimpin unit kerja.

5. Apabila Pejabat Pemutus telah memberikan putusan Setuju terhadap


pengajuan Kupedes, maka Customer Service melakukan verifikasi putusan
meliputi :
• Mencetak Surat Pengakuan Hutang (SPH-03) melalui sistem
• Melakukan interface ke BRINETS untuk mendapatkan nomor CIF dan
nomor rekening Kupedes.

5) Pencairan Kredit Kupedes


Setelah kredit Kupedes mendapatkan putusan Setuju oleh Pejabat Pemutus dan
Rekening telah terbentuk di sistem BRINETS maka terhadap Kredit Kupedes
tersebut dapat dilakukan pencairan dengan memperhatikan hal-hal berikut :

1. Debitur telah menandatangani Surat Pengakuan Hutang.


2. Seluruh biaya (provisi, administrasi, asuransi dan sebagainya) telah
dibayarkan oleh debitur baik secara tunai maupun overbooking dari
Rekening Simpedes Debitur.
3. Seluruh ketentuan-ketentuan lainnya yang dipersyaratkan dalam Putusan
Kupedes telah dipenuhi oleh debitur yang bersangkutan.
4. Pencairan Kupedes harus dilakukan melalui overbooking
(pemindahbukuan) ke rekening Simpedes debitur.
5. Customer Service wajib memasang fasilitas AGF (Automatic Grab Fund)
antara rekening pinjaman dengan rekening Simpedes aktif debitur.

19
Kotak Interaktif Mikro

Q : Ada berapa jenis kolektibilitas kredit ?


A : Kolektibiltas kredit terbagi menjadi 5 didasarkan pada jangka waktu
tunggakan debitur (keterlambatan pembayaran debitur dari tanggal jatuh
tempo), yaitu :
1. Lancar : Debitur tidak mempunyai keterlambatan pembayaran
2. DPK (Dalam Perhatian Khusus) : 1 s.d 90 hari
3. KL (Kurang Lancar) : 91 hari s.d 120 hari
4. D (Diragukan) : 121 s.d 180 hari
5. M (Macet) : >180 hari

Q : Apa yang dimaksud dengan NPL ?


A : NPL (Non Performing Loan) adalah debitur yang masuk di dalam
kolektibilitas Kurang Lancar, Diragukan, dan Macet

20
E.
KETENTUAN AGUNAN
KUPEDES
1. Pada prinsipnya calon debitur Kupedes diharapkan dapat menyerahkan
agunan yang nilainya meng-cover Kupedes yang diberikan (pokok +
bunga). Akan tetapi mengingat karakteristik/struktur pinjaman Kupedes yang
terdapat jadwal penurunan pokok pinjaman selama jangka waktu kredit,
maka nilai likuidasi agunan atas Kupedes yang diberikan dapat hanya
sebesar pokok Kupedes saat realisasi.

2. Agunan tambahan Kupedes dapat dipertimbangkan tidak meng-cover 100%


pokok Kupedes dengan syarat-syarat sebagai
berikut :
a. Pemberian KUpedes dalam ragka suplesi
atau migrasi debitur dari Kupedes Rakyat ke
Kupedes.
b. Debitur telah menikmati Kupedes / Kupedes
Rakyat di BRI Unit degan jangka waktu minimal
2 tahun.
c. Track record debitur selama mendapatkan
pinjaman Kupedes atau Kupedes Rakyat di
BRI tidak pernah menunggak.

3. Jenis agunan yang dapat diterima antara lain :


a. Tanah atau tanah/bangunan dengan status kepemilikan berupa SHM,
SHGB, SHGU, Petok D, Letter C, Girik / kepemilikan tanah berdasarkan
hak adat lainnya.
i. Untuk seluruh agunan tersebut diatas, cukup dibuatkan :
a. Surat Kuasa Menjual Agunan tidak notariil
b. Surat Pernyataan dan Penyerahan Agunan dan Bukti Penerimaan
Agunan
ii. Pada daerah tertentu dimungkinkan status tanah selain SHGB, SHM
dan SHGU misalnya : Surat Ganti Rugi, Tanah Garapan, Surat
Hijau, atau tanah dengan hak sewa lainnya yang sejenis. Untuk Bukti
kepemilikan ini dibuatkan Perjanjjian Penyerahan Hak Kepemilikan
Secara Kepercayaan Terhadap Bangunan (Model PJ-08b/UD) dan
dibuatkan Surat Kuasa Menjual Agunan.

22
b. Kendaraan Bermotor
Kendaraan bermotor yang dapat diterima sebagau agunan adalah
kendaraan roda empat (mobil.truk) dan kendaraan roda dua / sepeda
motor (baru dan bekas). Agunan dengan kendaraan bermotor harus
memenuhi kriteria :
i. Umur kendaraan bekas yang dapat diterima memenuhi syarat :
i.1. Apabila kendaraan tersebut meupakan obyek yang dibiayai
(Kupedes investasi untuk pembelian kendaraan)
a. Umur kendaraan roda dua maksimal 8 tahun
pada saat jatuh tempo Kupedes.
b. Umur kendaraan roda empat maksimal 15
tahun pada saat jatuh tempo Kupedes.

i.2. Apabila kendaraan yang diserahkan merupakan


agunan tambahan, maka umur maksimal
kendaraan yang dapat diterima sesuai dengan
judgment Pemutus dengan mempertimbangkan :
a. Nilai jual kembali.
b. Umur ekonomis kendaraan
c. Riwayat Kupedes sebelumnya (untuk nasabah
lama)
d. Risiko dari calon debitur/dbitur (rating/grade
CRS dari masing - masing debitur bersangkutan)

ii. Agunan kendaraan bermotor yang telah memiliki


BPKB, menggunakan Model PJ-08 dan dibuatkan :
• Surat Kuasa Menjual Agunan tidak notarial.
• Surat Pernyataan dan Penyerahan Agunan dan Bukti
Penerimaan Agunan
• Blanko kuitansi yang telah ditandatangani oleh pemilik

23
iii. Khusus untuk kendaraan bermotor baru (roda dua/lebih) yang belum
memiliki BPKB (karena BPKB masih dalam pengurusan) dapat
diterima apabila kendaraan bermotor roda dua tersebut merupakan
objek pembiayaan Kupedes (Kupedes digunakan utuk pembelian
kendaraan motor dalam rangka menunjang kegiatan usaha
debitur), dengan ketentuan sebagai berikut :
1. Kendaraan roda dua yang dapat diterima sebagai agunan
(pokok) adalah kendaraan-kendaraan yang memiliki NILAI
JUAL KEMBALI YANG TINGGI (motor-motor keluaran Jepang) dan
pembelian kendaraan tersebut harus dilakukan di dealer / sub
dealer resmi.
2. Bukti agunnan selama BPKB dalam proses pengurusan
menggunakan Surat Pernyataan atau cover note dari dealer / sub
dealer yang menyaatakan BPKB sedang dalam penyelesaian dan
apabila telah selesai akan diserahkan ke BRI Unit (tidak boleh
diserahkan kepada debitur). Penyerahan BPKB ke BRI Unit apabila
telah selesai pengurusannya wajib dituangkan oleh peejabat
pemutus dalam syarat pencairan kredit.
3. Selain cover note dari dealer / sub delaer, sebagai langkah
pengamanan MANTRI juga harus mengajukan Surat Permohonan
Pemblokiran ke Samsat penerbit BPKB a.n debitur.
4. MANTRI BRI Unit harus memiliki hubungan baik dengan dealer /
sub dealer yang mengeluarkan cover note serta haru memonitor
waktu penyelesaian BPKB tersebut.

24
c. Surat - surat perijinan seperti Surat Ijin Trayek, SITU, SPTU, SIPTB dan
perijinan sejenis lainnya atas Kios/Toko/LOS. Perlu diperhatikan bahwa
surat-surat perijinan tersebut bukan merupakan pernyataan hak milik dan
tidak dapat dilakukan pengikatan, maka untuk memitigasi risiko yang bisa
terjadi MANTRI perlu melakukan :
i. SITU/SPTU/SIPTB/Surat Ijin Trayek dan surat ijin lainnya yang sejenis
harus atas nama debitur yang mengajukan pinjaman dan merupakan
dokumen ASLI dan MASIH BERLAKU sehingga secara psikologis/moril
debitur terikat untuk menepati kewajiban pengembalian kreditnya
ii. ITU/SPTU/SIPTB/Surat Ijin Trayek dan surat ijin lainnya yang sejenis
harus dilengkapi dengan Surat Pernyataan Kesedian calon Debitur
untuk menyerahkan hak menempati kios/los atau hak ijin trayek
kepada BRI apabila Ymp tidak memenuhi kewajibannya , sehingga BRI
dapat mengalihkan surat-surat ijin tersebut kepada pihak ketiga yang
ditunjuk pleh BRI. Surat pernyataan tersebut harus bermaterei cukup
dan ditandatangani oleh Ymp dan harus disetujui oleh instansi yang
berwenang
iii. SITU/SPTU/SIPTB/Surat Ijin Trayek dan surat ijin lainnya harus dilengkapi
MANTRI surat pernyataan yang ditandatangani oleh instansi yang
berwenang atas Surat Ijin tersebut yang menyatakan bahwa BRI dapat
melakukan kepengurusan Surat-surat Ijin tersebut apabila Ymp tidak
membayar retribusi, belum memperpanjang jangka waktu perijinan dan
tidak mencabut surat perijinan tersebut selama jangka waktu kredit.
iv. MANTRI harus mencari tahu informasi yang berasal dari pemerintahan
setempat perihal rencana relokasi, pemugaran atau perubahan tata ruang
kota yang mungkin akan berdamppak pada perubahan objek surat
perijinan Ymp. Informasi ini bisa digunakan untuk menentukan jangka
waktu kredit maupun persyaratan-persyaratan lainnya.

Pada dasarnya ketentuan agunan pokok maupun


tambahan untuk Kupedes adalah harus atas
nama calon debitur. Namun dalam hal agunan
bukan milik / a.n Ymp maka pemilik agunan
dapat hanya menandatangani perjanjian/
dokumen yang berkaitan dengan penyerahan
agunan tanpa harus menandatangani Surat
Pengakuan Hutang.

25
F.
PENGEMBALIAN
BUNGA TEPAT
WAKTU (PBTW)
PBTW merupakan dana yang
diperhitungkan dan dipungut dari
angsuran bunga Kupedes debitur dan
akan dibayarkan kembali kepada debitur
bersangkutan apabila debitur memenuhi
seluruh kewajiban angsurannya (pokok
dan bunga) secara tepat waktu dalam
periode tertentu sesuai yang telah
diperjanjikan.

Pemberian PBTW ditentukan sebagai berikut :


1. debitur membayar angsuran secara tertib sesuai dengan jadwal angsuran
yang telah ditetapkan (tanggal pencairan kredit)selambat-lambatnya 7
(tujuh) hari kerja setelah tanggal pencairan kredit (hari kerja BRI Unit yang
bersangkutan), sepanjang tidak melewati akhir bulan.
2. Besarnya PBTW adalah 25% dari jumlah kewajiban bunga yang telah
dibayar leh debitur pada periode tertentu sesuai dengan yang telah
diperjanjikan.

Pemberian PBTW ini ditujukan untuk memberi motivasi kepada debitur Kupedes
BRI serta membangun budaya pembayaran angsuran tepat waktu pada debitur.

27
BRI corporate university
Divisi Kebijakan dan Strategi Mikro

Copyright © 2016