Anda di halaman 1dari 42

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Presentasi nyeri haid diseluruh dunia rata–rata lebih dari 50% perempuan

disetiap dunia mengalaminya, diantaranya 15,8–89,5% dengan tingkat prevelensi

yang lebih tinggi dilaporkan pada tingkat remaja. Dari remaja yang mengeluh

nyeri, 12% mengalami nyeri berat, 37% mengalami nyeri sedang dan 49% nyeri

ringan (Lestari, 2013 ). Angka kejadian nyeri haid didunia sangat besar.Rata-rata

lebih dari 50% perempuan disetiap negara mengalami nyeri haid.Di Amerika

angka presentasenya sekitar 60% dan diSwedia sekitar 72%. Sementara di

Indonesia angkanya diperkirakan 55% perempuan usia produktif yang tersiksa

oleh nyeri haid(Lestari, 2013 ).

Kejadian nyeri haid di Asia cukup tinggi,di Taiwan prevalensi wanita

penderita nyeri haid sebesar 75,2%. Di Malaysia prevalensi nyeri haid sebesar

50,9%. Sedangkan di Indonesia kejadian nyeri haid cukup besar menunjukan

penderita nyeri haid mencapai 60–70% wanita di Indonesia (Lestari, 2013 ).

Nyeri saat haid menyebabkan ketidaknyamanan dalam aktivitas fisik

sehari-hari. Sekitar 70-90 persen kasus nyeri haid terjadi saat usia remaja dan

remaja yang mengalami nyeri haid akan terpengaruh aktivitas akademis, sosial

dan olahraganya ( Lestari, 2013 )

Nyeri haid adalah nyeri kejang otot diperut bagian bawah menyebar kesisi

dalam paha atau bagian bawah pinggang yang terjadi menjelang haid atau selama

haid akibat kontraksi otot rahim ( Harmanto, 2006 )

1
Salah satu cara yang sangat efektif untuk mencegah nyeri haid ini adalah

melakukan aktivitas olahraga. Olahraga secara teratur seperti berjalan kaki,

jogging, berlari, bersepeda, renang, atau senam aerobik dapat memperbaiki

kesehatan secara umum dan membantu menjaga siklus menstruasi agar

teratur.Seorang remaja wanita yang melakukan aktivitas olahraga secara rutin dan

teratur sebanyak dua atau lebih tiap seminggu memiliki kecenderungan yang lebih

kecil untuk menderita disminore dibandingkan dengan remaja wanita yang

melakukan olahraga yang tidak teratur atau kurang dari 2 kali dalam satu

minggu.Melihat peran olahraga dalam mempengaruhi nyeri haid, maka perlu

diteliti hubungan antara kebiasaan olahraga dengan nyeri haid.Wanita yang

melakukan olahraga secara teratur setidaknya 30-60 menit setiap3-5 kali per

minggu dapat mencegah terjadinya nyeri haid.Setiap wanita dapat sekedar

berjalan-jalan santai, jogging ringan, berenang, senam maupun bersepeda sesuai

dengan kondisi masing-masing. Salah satu cara yang efektif untuk mencegah

nyeri haid adalah dengan cara melakukan olahraga. Beberapa latihan fisik dapat

meningkatkan pasokan darah ke organ reproduksi sehingga memperlancar

peredaran darah. Olahraga merupakan salah satu teknik relaksasi yang dapat

digunakan untuk mengurangi nyeri haid ( Hanum, Nuriyanah, 2016 ).

Berdasarkan survey awal yang peneliti lakukan pada tanggal 16 Maret

2018 siswi kelas VIII di SMP N 31 Padang dilakukan dengan

wawancara,didapatkan bahwa 10 responden tersebut mengalami nyeri haid setiap

menstruasi.Sebagian kecil siswi melakukan olahraga dan terjadi penurunan nyeri

haid yaitu sebanyak 4 orang responden dan 6 responden tidak pernah melakukan

olahraga secara teratur. Alasan mereka tidak melakukan olahraga karena sebagian

2
besar responden sebanyak 6 responden malas melakukan olahraga dan tidak

mengetahui manfaat olahraga yang dapat menurunkan nyeri haid.

Meskipun teori tentang olahraga dapat menurunkan nyeri haid sudah ada

tetapi masih terbatasnya pembuktian ilmiah tentang teori tersebut sehingga penulis

tertarik untuk mengankat masalah tersebut dengan judul “ Hubungan Kebiasaan

Olahraga Dengan Kejadian Nyeri Haid Pada SiswiKelas VIII Di SMP N 31

Padang ”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka perumusan masalah dalam

penelitian ini adalah “ HubunganKebiasaan Olahraga Dengan Kejadian Nyeri

Haid Pada Siswi Kelas VIII di SMP N 31 Padang”

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui Hubungan Kebiasaan Olahraga Dengan Kejadian

Nyeri Haid Pada Siswi Kelas VIII di SMP N 31 Padang”

1.3.2 Tujuan Khusus

a. Diketahuinya distribusi kejadian kebiasaan olahraga pada siswi kelas

VIII di SMP N 31 Padang.

b. Diketahuinya distribusi kejadian nyeri haid pada siswi kelas VIII di

SMP N 31 Padang.

c. Diketahui hubungan kebiasaan olahraga dengan kejadian nyeri haid

pada siswi kelas VIII di SMP N 31 Padang.

3
1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Bagi Peneliti

Sebagai sarana belajar dan mengembangkan kemampuan ilmiah

sesuai teori yang telah didapat dibangku kuliah.Meningkatkan wawasan,

dan pengetahuan penelitian dalam menerapkan ilmu metodologi

penelitian.

1.4.2 Bagi Rumah Sakit

Sebagai bahan masukan atau informasi sebagai pelaksana

pelayanan kesehatan mengenaiHubungan kebiasaan olahraga dengan

kejadian nyeri haid pada siswi kelas VIII di SMP N 31 Padang.

1.4.3 Bagi Institusi Pendidikan

Sebagai bahan bacaan dan menambah referensi perpustakaan

kampus dan sebagai pedoman untuk penelitian selanjutnya.

1.4.4 Bagi Peneliti Selanjutnya

Disarankan kepada peneliti selanjutnya agar dapat menjadikan

penelitian ini sebagai data dasar serta data perbandingan untuk melakukan

penelitian lanjutantentang Hubungan olahraga dengan kejadian nyeri

haidpada siswikelas VIII di SMP N 31 Padang.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui Hubungan Kebiasaan Olahraga

dengan KejadianNyeri HaidpadaSiswi Kelas VIII SMP N 31 Padang tahun 2018,

yang dilakukan pada bulan Agutus.Jenis penelitian ini adalah analitik dengan

cross-sectional study. Jenis data yang dipakai dalam penelitian ini adalah data

4
primer , pengumpulan data dilakukan dengan cara memberikan kuesioner berupa

angketdan data dianalisa secara univariat dan bivariat.

5
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Nyeri Haid

2.1.1.Pengertian

Nyeri haid adalah nyeri kejang otot diperut bagian bawah menyebar

kesisi dalam paha atau bagian bawah pinggang yang terjadi menjelang haid

atau selama haid akibat kontraksi otot rahim ( Harmanto, 2006 ). Nyeri haid

adalah keluhan yang sering dialami wanita pada bagian perut bawah.Namun,

nyeri haid ini tidak hanya terjadi pada bagian perut bawah saja.Beberapa

perempuan sering merasakannya pada punggung bagian bawah, pinggang,

panggul, otot paha atas, hingga betis.Gejala yang dirasakan adalah rasa nyeri

di perut bagian bawah seperti dicengkeram atau di remas-remas, sakit kepala

yang berdenyut, mual, muntah, nyeri di punggung bagian bawah, diare,

bahkan hingga pingsan. Rasa nyeri tersebut biasanya dialami 1-2 hari

pertama saat datangnya menstruasi ( Patimah, 2017 )

2.1.2. Patofisiologi

Nyeri haid diduga terkait dengan produksi hormon progesteron yang

meningkat. Hormon progesteron dihasilkan oleh jaringan ikat kelenjer

indung telur setelah melepaskan sel telur matang setiap bulan. Hormon

tersebut memperbesar ketegangan mulut rahim hingga lubang mulut rahim

menjadi sempit, akibatnya otot – otot rahim lebih kuat berkontraksi untuk

dapat mengeluarkan darah haid melalui mulut rahim yang sempit. Kontraksi

otot rahim yang menyebabkan kejang otot yang dirasakan sebagai nyeri.

6
Keluhan nyeri haid berkurang atau malahan hilang setelah kehamilan atau

melahirkan anak pertama. Hal ini karena regangan pada waktu rahim

membesar dalam kehamilan membuat ujung – ujung syaraf di rongga

panggul dan sekitar rahim menjadi rusak ( Harmanto, 2006 ).

2.1.3 Keluhan Nyeri haid

Keluhan nyeri haid bisa ringan sampai berat dan berubah keluhan

ke seluruh tub uh, antara lain :

- Muntah

- Rasa capek / letih

- Sakit daerah bawah pinggang

- Pusing kepala dan bingung

- Perasaan cemas dan tegang

- Diare

Keluhan – keluhan tersebut diatas bisa bertambah berat apabila

ditambah dengan stres dan pengaruh kejiwaan. Biasanya rasa sakit

berkurang setelah darah haid keluar ( Harmanto, 2006 ).

2.1.4 Jenis Nyeri Haid

Lestari,2013 menyebutkan bahwa nyeri haid terbagi menjadi dua

yaitu primer dan sekunder.

1) Nyeri haid primer

Nyeri haid primer adalah nyeri haid yang dijumpai tanpa di adanya

kelainan pada alat- alat genital yang nyata. Nyeri haid primer terjadi

beberapa waktu setelah menarche biasanya setelah 12 bulan atau lebih,

oleh karena siklus- siklus haid pada bulan-bulan pertama setelah menarche

7
umumnya berjenis anovulator yang tidak disertai dengan rasa nyeri. Rasa

nyeri timbul tidak lama sebelumnya atau bersama- sama dengan

permulaan haid dan berlangsung untuk beberapa jam, walaupun pada

beberapa kasus dapat berlangsung beberapa hari. Sifat rasa nyeri adalah

kejang berjangkit- jangkit, biasanya terbatas pada perut bagian bawah,

tetapi dapat menyebar ke daerah pinggang dan paha.Bersamaan dengan

rasa nyeri dapat dijumpai rasa mual, muntah, sakit kepala, diare, iritabilitas

dan sebagainya.Dinamakan nyeri haid primer karena rasa nyeri timbul

tanpa ada sebab yang dapat dikenali.Nyeri haid primer hampir selalu

hilang sesudah perempuan itu melahirkan anak pertama, sehingga dahulu

diperkirakan bahwa rahim yang agak kecil dari perempuan yang belum

pernah melahirkan menjadi penyebabnya, tetapi belum pernah ada bukti

dari teori itu.

2) Nyeri haid Sekunder

Nyeri haid sekunder adalah nyeri haid yang disertai kelainan

anatomis genitalis. Tanda – tanda klinik dari nyeri haid sekunder adalah

endometriosis, radang pelvis, fibroid, adenomiosis, kista ovarium dan

kongesti pelvis.Umumnya nyeri haid sekunder terjadi pada perempuan

yang lebih tua (30- 40 tahun ) dan dapat disertai dengan gejala yang lain

(dispareunia, kemandulan dan perdarahan yang abnormal ).

Nyeri haid sekunder adalah nyeri menstruasi yang berkembang dari

nyeri haid primer yang terjadi selama usia 25 tahun dan penyebabnya

karena kelainan pelvis dan kelainan ginekologi atau kandungan ( Isnaini,

2016 ).

8
2.1.5 Klasifikasi Nyeri Haid

Nyeri haid sering di klasifikasikan sebagai ringan, sedang, atau

berat berdasarkan intensitas relatif nyeri.Nyeri tersebut dapat berdampak

pada kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

Intensitas nyeri menurut Multidimensional Scoring of Andersch and

Milsom mengklasifikasikan nyeri haid sebagai berikut.

a) Nyeri haid ringan didefinisikan sebagai nyeri haid tanpa adanya

pembatasan aktifitas, tidak diperlukan penggunaan analgetik dan tidak ada

keluhan sistemik.

b) Nyeri haid sedang didefinisikan sebagai nyeri haid yang memengaruhi

aktifitas sehari-hari, dengan kebutuhan analgetik untuk menghilangkan

rasa sakit dan terdapat beberapa keluhan sistemik.

c) Nyeri haid berat didefinisikan sebagai nyeri haid dengan keterbatasan

parah pada aktifitas sehari-hari, respon analgetik untuk menghilangkan

rasa sakit minimal, dan adanya keluhan sistemik seperti muntah, pingsan

dan lain sebagainya ( Lestari, 2016 )

2.1.6Derajat Nyeri Haid

Puspitasari, 2008 menyebutkan bahwa derajat nyeri haid ada 4

yaitu

1) Derajat 0

Tanpa rasa nyeri dan aktivitas sehari-hari tak terpengaruhi.

2) Derajat 1

9
Nyeri ringan dan memerlukan obat rasa nyeri ataupun tidak memerlukan

obat namun aktivitas jarang terpengaruhi.

3) Derajat 2

Nyeri sedang dan tergolong dengan obat penghilang nyeri namun aktivitas

sehari-hari terganggu.

4) Derajat 3

Nyeri sangat hebat dan tak berkurang walaupun telah menggunakan obat

dan tidak dapat berkerja,kasus ini langsung ditangani oleh dokter

Nyeri dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa golongan

berdasarkan pada sifat, tempat,berat ringannya dan waktu lamanya

serangan. Menurut klasifikasi ini nyeri dismenore termasuk ke dalam jenis

deep pain( nyeri dalam ) karena terjadi pada organ tubuh visceral yaitu

pada saluran reproduksi.

Skala penilaian numerik ( Numerical Rating Scala, NRS ) lebih

digunakan sebagai pengganti alat pendeskripsi kata. Dalam hal ini

responden menilai nyeri dengan menggunakan skala 0 – 10

0 – 10 Numeric Pain Intensity Scala

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Gambar 2.1 Skala Intensitas Nyeri ( Perry& Potter, 2006 )

Keterangan :

0 ( tidak nyeri ) : Tidak ada keluhan nyeri haid atau kram pada perut

bagian bawah

10
1 – 3( Nyeri ringan ) : Terasa kram perut bagian bawah, masih dapat

ditahan, masih dapat melakukan aktifitas, masih dapat berkonsentrasi

belajar.

4 – 6 ( Nyeri Sedang ) : Terasa kram pada perut bagian bawah, nyeri

menyebar ke pinggang, kurang nafsu makan, sebagian aktifitas terganggu,

sulit beraktifitas belajar.

7 – 9( Nyeri berat ) : Terasa kram berat pada perut bagian bawah, nyeri

menyebar ke pinggang, paha atau punggung, tidak ada nafsu makan, mual,

badan lemas, tidak kuat beraktifitas, tidak dapat berkonsentrasi belajar

10 ( Nyeri berat sekali ) : Terasa kram yang berat sekali pada perut bagian

bawah, nyeri menyebar ke pinggang, kaki, dan punggung, tidak mau

makan, mual, muntah, sakit kepala, badan tidak ada tenaga, tidak bisa

berdiri atau bangun dari tempat tidur, tidak dapat beraktivitas dan

terkadang sampai pingsan.

2.1.7 Faktor Penyebab Nyeri Haid

Menurut (Lestari,2013) terdapat beberapa faktor yang dapat

mempengaruhi dismenore antara lain:

1. Faktor Kejiwaan

Nyeri haid banyak dialami oleh remaja yang sedang mengalami

tahap pertumbuhan dan perkembangan baik fisik maupun

psikis.Ketidaksiapan remaja putri dalam menghadapi perkembangan dan

pertumbuhan pada dirinya tersebut, mengakibatkan gangguan psikis yang

akhirnyamenyebabkan gangguan fisiknya, misalnya gangguan haid seperti

dismenore.

11
2. Faktor Konstitusi

Faktor konstitusi berhubungan dengan faktor kejiwaan sebagai

penyebab timbulnya nyeri haid yang dapat menurunkan ketahanan

seseorang terhadap nyeri. Faktor ini antara lain :

a). Anemia

Sebagian besar penyebab anemia adalah kekurangan zat besi yang

diperlukan untuk pembentukan hemoglobin, sehingga disebut anemia

kekurangan zat besi.Kekurangan zat besi ini dapat menimbulkan gangguan

atau hambatan pada pertumbuhan baik sel tubuh maupun sel otak.

b). Penyakit Menahun

Penyakit menahun yang diderita seorang perempuan akan

menyebabkan tubuh kehilangan terhadap suatu penyakit atau terhadap rasa

nyeri. Penyakit yang termasuk penyakit menahun dalam hal ini adalah

asma dan migrain.

3. Faktor Endokrin

Kejang pada nyeri haid primer disebabkan oleh kontraksi yang

berlebihan.Hal ini disebabkan karena endometrium dalam fase sekresi

memproduksi prostaglandin F2 α yang menyebabkan kontraksi otot-otot

polos. Jika jumlah prostaglandin F2 α berlebih akan dilepaskan dalam

peredaran darah,dijumpai pula efek umum, seperti diare, naus dan

muntah.

4. Faktor Alergi

12
2.1.8 Faktor Resiko Terjadinya Nyeri Haid

Menurut viva health, 2012faktor resiko terjadinya nyeri haid, yaitu :

a. Menarche pada usia lebih awal

Menarche pada usia lebih awal menyebabkan alat-alat reproduksi

belumberfungsi secara optimal dan belum siap mengalami perubahan-

perubahan sehingga timbul nyeri ketika menstruasi.

b. Belum pernah hamil dan melahirkan

Perempuan yang hamil biasanya terjadi alergi yang berhubungan

dengan saraf yang menyebabkan adrenalin mengalami penurunan, serta

menyebabkan leher rahim melebar sehingga sensasi nyeri haid berkurang

bahkan hilang.

c. Lama menstruasi lebih dari normal (7 hari)

Lama menstruasi lebih dari normal (7 hari), menstruasi

menimbulkan adanya kontraksi uterus, terjadi lebih lama mengakibatkan

uterus lebih sering berkontraksi, dan semakin banyak prostaglandin yang

dikeluarkan. Produksi prostaglandin yang berlebihan menimbulkan rasa

nyeri, sedangkan kontraksi uterus yang turus menerus menyebabkan suplai

darah ke uterus terhenti dan terjadi nyeri haid.

d. Umur Perempuan semakin tua

Lebih sering mengalami menstruasi maka leher rahim bertambah

lebar, sehingga pada usia tua kejadian nyeri haid jarang ditemukan.

e. Konsumsi Alkohol

Alkohol merupakan racun bagi tubuh. Hati bertanggungjawab

terhadap penghancur estrogen untuk disekresi tubuh.Adanya alkohol

13
dalam tubuh secara terus menerus dapat mengganggu fungsi hati sehingga

estrogen tidak dapat disekresi tubuh sehingga estrogen yang menumpuk

dalam tubuh dapat merusak pelvis.

f. Perokok

Merokok dapat meningkatkan lamanya menstruasi dan

meningkatkan lamanya nyeri haid.

e. Tidak pernah berolah raga

Kejadian nyeri haid akan meningkat dengan kurangnya aktifitas

selam menstruasi dan kurangnya olah raga, hal ini dapat menyebabkan

sirkulasi darah dan oksigen menurun. Dampak pada uterus adalah aliran

darah dan sirkulasi oksigen pun berkurang dan menyebabkan nyeri

f. Stres

Menimbulkan penekanan sensasi saraf-saraf pinggul dan otot-otot

punggung bawah sehingga menyebabkan nyeri haid.

2.1.9 PenangananNyeri Haid

Menurut viva health, 2012 beberapa penanganan nyeri haid.

1) Pola makan teratur

2) Menghindari makanan yang asam dan pedas

3) Istirahat teratur

4) Mengkonsumsi obat anti nyeri untuk mengurangi nyeri haid.

5) Mengompres perut bagian bawah dengan botol berisi air panas

atau menggunakan patch yang panas atau menggunakan bantal

pemanas atau berendam dalam air hangat untuk meringankan

nyeri atau kram saat haid.

14
6) Melakukan aktifitas fisik untuk membantu mengurangi rasa

nyeri haid.

7) Mengurangi stress dapat membantu menurunkan resiko nyeri

atau kram saat.

8) Mengkonsumsi suplemen yang mengandung vitamin E,

omega-3, vitamin B1, vitamin B6 dan magnesium dapat

membantu mengurangi nyeri atau kram saat haid.

2.2 Olahraga

Diatas telah disebutkan bahwa salah satu penetalaksanaan dari

nyeri haid adalah dengan latihan fisik (olahraga). Sebelum membahas

perubahan-perubahan yang terjadi akibat berolahraga maka sebaiknya

kita mengetahui dulu tentang apa yang dimaksud olahraga. Banyak yang

memandang kegiatan ini sebagai sekedar aktifitas fisik untuk

menggerakan tubuh,meningkatkan metabolisme tubuh dan mengeluarkan

keringat. Dibawah ini akan diuraikan semua tentang olahraga.

1. Jenis-jenis olahraga

a) Olahraga Aerobik

Yaitu olahraga yang membutuhkan oksigen sebagai sumber

energi utama bagi tubuh untuk bergerak. Defenisinya adalah

olahraga yang sifatnya ringan, gerakan yang dilakukan sama dan

dilakukan berulang-ulang. Selain itu waktu untuk melakukannya

lama .Olahraga jenis inilah yang dapat digunakan untuk

meningkatkan derajat keseahatan. Contoh olahraga aerobik adalah

jalan cepat, jogging, renang, lari dan sepeda jarak jauh.

15
b) Olahraga Anaerobik

Olahraga anaerobik membutuhkan asam laktat sebagai

energy utama. Defenisinya adalah olahraga yang dilakukan dengan

intensitas yang berat, gerakannya tidak selalu harus dilakukan

berulang-ulang dan waktu melakukannya pendek.Tujuan dari

olahraga ini adalah untuk meningkatkan penampilan fisik dan

meningkatkan prestasi atlet seperti membesarkan menguatkan otot

tubuh dan menambah daya ledak otot. Contoh olahraga jenis ini

adalah angkat besi, binaraga, lari dan sepeda jarak pendek.

2. Manfaat olahraga

Sebagian besar gejala-gejala medis yang diakibatkan

kurangnya kegiatan merupakan hal yang menakutkan.Harus

disadari bahwa apabila tubuh tidak pernah / sedikit dipakai, maka

kerja paru menjadi tidak efisie, jantung melemah, kelenturan

pembuluh-pembuluh darah berkurang, ketegangan otot-otot

menghilang dan seluruh tubuh menjadi lemah, yang menjadi

sasaran empuk bagi berbagai macam penyakit. Latihan olahraga

yang baik ialah latihan yang digunakan untuk mencapai kesegaran

jasmani dengan kebutuhan tiap individu.Latihan yang berlebihan

malah merugikan.

16
Menurut Tjokronegoro (2004), latihan olahraga

menghasilkan keuntungan sebagai berikut :

a). Peningkatkan efesiensi kerja paru

Seorang terlatih dapat menyediakan oksigen hampir dua

kali lipat per menit daripada yang tidak terlatih.

b). Peningkatan efesieni kerja jantung

Jantung semakin kuat dan dapat memompa lebih banyak

darah, akibatnya orang terlatih,denyut jantungnya lebih lambat 20

kali per menit daripada yang tidak terlatih.

c) Peningkatan jumlah dan ukuran pembuluh-pembuluh

darahmenyalurkan darah ke seluruh tubuh.

d) Peningkatan volum darah yang mengalir ke seluruh tubuh.

e) Peningkatan ketegangan otot-otot dan pembuluh darah yang

seringkali bisa menurunkan tegangan darah tinggi.

f) Mengubah tubuh yang berlemak menjadi tubuh yang tegap

dan berisi .

g) Peningkatkan konsumsi oksigen maksimal.

Dalam hal ini,terjadi peningkatkan kondisi tubuh secara

menyeluruh terutama organ-organ penting seperti paru,jantung,

pembuluh darah dan seluruh jaringan tubuh sehingga akan

memperkuat daya tahan tubuh terhadap berbagai macam

penyakit.

h) Menambah kepercayaan pada diri sendiri.

i) Mengurangi nyeri pada saat menstruasi

17
3. Kategori Tingkat Kebugaran

1) Kategori 1 ( Buruk sekali )

Mereka yang termasuk kategori ini antara lain pekerja

dibelakang meja,penonton TV,orang yang terlalu banyak

merokok dan makan, serta mereka yang selalu mengeluh tidak

enak badan.

2) Kategori 2 ( Buruk )

Mereka yang termasuk kategori ini adalah orang-orang

yang hanya sekali seminggu berolahraga ringan seperti main

golf setiap sabtu.

3) Kategori 3 ( Sedang )

Mereka yang termasuk kategori ini adalah orang-orang

yang berjalan kaki tiap pagi hari,selalu mengisi waktu

berolahraga dan tekun dari minggu ke minggu sepanjang tahun.

4) Kategori 4 ( Baik )

5) Kategori 5 ( Baik sekali )

Mereka yang termasuk kategori ini adalah orang-

orang atau para pemain olahraga kompetisi (professional),

latihan tekun setiap hari dan sekali-kali melakukan

kompetisi.

Menurut Wahyuliati, 2007 berikut ini tercakup kriteria

kegiatan latihan ringan,cakup dan berat. Masing-masing kegiatan

memiliki tujuan yang berbeda,yaitu :

18
1) Latihan ringan

Latihan ringan adalah kegiatan-kegiatan yang memiliki

porsi untuk orang awam terutama bagi orang yang tidak pernah

atau jarang melakukan kegiatan olahraga. Bila ia melakukan

olahraga dengan porsi yang melebihi kepastiannya,akan

berdampak tidak baik bagi kondisi kesehatan fisiknya. Untuk

itulah,disarankan agar kegiatan latihan ringan bertujuan untuk

meningkatkan taraf kesehatan dan kebugaran badan.Yang

tergolong latihan ringan ini antara lain berjalan

lambat,bersepeda,berenang,bermain golf,bowling,memancing

dan merawat rumah atau berkebun.

2) Latihan cukup

Bagi orang awam ( bukan atlet ) yang sering melakukan

kegiatan olahraga (misalnya seminggu 1-3 kali),dapat

melakukan latihan yang cukup proposinya. Ia dapat melakukan

latihan yang melebihi dari latihan ringan,tetapi tidak melebihi

standar seorang atlet. Tujuan dari latihan cukup ini,selain dapat

mencegah gangguan penyakit, juga dapat menciptakan

kestabilan taraf kesehatan agar dapat meningkatkan prestasi

diluar bidang olahraga,misalnya profesi kerja,prestasi

kerja,prestasi sekolah atau kuliah.Latihan yang cukup ini

misalnya jogging,bersepeda,berenang,tenis meja dan

memancing atau mengecat rumah.

19
3) Latihan berat

Bagi seorang atlet sudah sewajarnya kalau ia memiliki

taraf latihan olahraga yang intensif dan cenderung keras karena

tujuannya mencapai puncak prestasi. Nahkan, dapat dikatakan

olahraga merupakan kegiatan utama yang dijadikan sumber

penghasilan dalam hidupnya. Orang-orang ini akan melakukan

kegiatan latihan yang berat, misalnya latihan 6 kali seminggu,

berjalan setiap hari, bersepeda cepat 4 kali seminggu, latihan

panjat tebing, memancing dan memindahkan furniture berat

atau latihan sejenis.

4. Takaran latihan olahraga

1) Intensitas latihan

Intensitas latihan merupakan faktor terpenting

dalam olahraga untuk mendapat kesegaran jasmani yang

diharapkan, olahraga harus dilakukan dalam takaran yang

cukup. Untuk mengetahui apakah intensitas latihan yang

dilakukan sudah cukup supaya sederhana dapat diukur

dengan menghitung detak nadi saat melakukan olahraga.

Denyut nadi maksimal (DNM) bagi seseorang tergantung

pada usianya dan dapat dihitung dengan rumus sebagai

berikut :

DNM = 220 – usia (dalam tubuh)

20
2) Lama latihan

Lama latihan olahraga juga ada takarannya. Setiap

melakukan olahraga sebaiknya zona sasaran harus dicapai

dan dipertahankan paling sedikit 25 menit. Latihan

mencapai zona sasaran yang dilakukan lebih lama

memberikan efek yang lebih baik. Pada waktu melakukan

olahraga yang lamanya mencapai 40 - 90 menit.

3) Frekuensi latihan

Yang dimaksud frekuensi latihan adalah frekuensi

latihan setiap minggu. Latihan olahraga yang dilakukan 3

kali dalam seminggu akan memberikan efek yang berarti

bagi kesehatan dan kebugaran. Lakukan dengan intensitas

rendah yang makin lama makin ditingkatkan

intensitasnya. Usahakan agar olahraga dilakukan 2 - 3

kali per minggu atau 3 - 5 kali per minggu dengan durasi

20-30 menit atau 30 - 60 menit. Apapun olahraga yang

dilakukan, tetap jalankan sesuai kaidah olahraga.Yakni

tetap lakukan pemanasan sesuai dengan nomor olahraga

dan sesudahnya juga lakukan pendinginan. Pastikan ada

waktu istirahat yang cukup, jangan memaksakan diri dan

melakukan gerakan yang dinyatakan berbahaya.

21
2.3 Olahraga dan Nyeri Haid

Berikut ini merupakan pengaruh olahraga terhadap

penurunan nyeri haid yang dialami siswi :

a. Peningkatkan efesiensi kerja paru

b. Peningkatan efesiensi kerja jantung

c. Peningkatkan jumlah dan ukuran pembuluh-pembuluh darah

yang menyalurkan darah ke seluruh tubuh, termasuk organ

reproduksi.

d. Peningkatkan volum darah yang mengalir ke seluruh tubuh

termasuk organ reproduksi.

e. Olahraga penting untuk remaja putri yang menderita nyeri haid

karena latihan yang sedang dan teratur meningkatkan pelepasan

endorphin bera ( penghilang nyeri alami ) ke dalam aliran darah

sehingga dapat mengurangi nyeri haid.

Salah satu caraefektif untuk mencegah nyeri haid adalah

dengan cara melakukan olahraga. Perempuan yang melakukan

olahraga secara teratur dapat meningkatkan sekresi hormone

endhorphin yaitu penghilang nyeri alami kedalam aliran darah

sehingga dapat mengurangi nyeri haid ( Mutohir, 2004 ). Hal ini

dikarenakan pasokan oksigen ke pembuluh darah disekitar organ

reproduksi mengalami vasokontriksi, sehingga ketika wanita

mengalami nyeri haid, oksigen tidak dapat disalurkan ke

pembuluh-pembuluh darah organ reproduksi. Bila wanita teratur

melakukan olahraga, maka wanita tersebut dapat menyediakan

22
oksigen hampir 2 kali lipat per menit sehingga oksigen

tersampaikan ke pembuluh darah yang mengalami vasokontriksi,

hal ini menyebabkan terjadinya penurunan kejadian nyeri haid

dengan teratur berolahraga ( Tjokronegoro 2004 ). Dengan

melakukan olahraga tubuh manusia akan mengeluarkan hormone

endorphin yang dilepaskan di sirkulasi darah dan membuat aliran

darah disekitar rahim menjadi lancar sehingga dapat menurunkan

rasa nyeri.

Menurut Wells (2014), olahraga dapat mengurangi lemak

tubuh seseorang yang nantinya berpengaruh dalam berkurangnya

produksi estrogen dari body fat. Akan tetapi, hal tersebut tidak

terlalu menjelaskan nyeri yang dialami pasien nyeri haid. Wells

juga berpendapat bahwa peningkatan kadar endorfin yang sangat

tinggi pada pasien yang rutin berolahraga terjadi bahkan sebelum

menstruasi, itulah yang menjadi faktor mengapa orang yang

olahraga lebih jarang mengalami nyeri haid dan mereka yang

berolahraga rutin juga memiliki kadar endorfin yang lebih stabil.

23
2.4 Kerangka Teori

Faktor resiko terjadinya


nyeri haid

1. Menarche pada
usia lebih awal
2. Belum pernah
hamil dan
melahirkan
3. Lama menstruasi
lebih dari normal
( 7 hari )
4. Umur perempuan
semakin tua
5. Konsumsi alcohol
6. Tidak pernah
berolahraga

Keuntungan kebiasaan Nyeri Haid


olahraga

a. Peningkatan
efisiensi kerja paru
b. Peningkatan
efisiensi kerja
jantung
c. Peningkatan volume
darah yang mengalir
ke seluruh tubuh
d. Mengubah tubuh
yang berlemak
menjadi tubuh yang
tegap Kerangka teori dikutip dari
e. Peningkatan Prahardjo,2010& Nugroho,2014
konsumsi oksigen Gambar 2.2
maksimal
f. Mengurangi nyeri
pada saat menstruasi

24
2.4 Kerangka Konsep

Berdasarkan uraian diatas penulis mengambil kesimpulan bahwa perlu

pengkajian untuk mengetahui kebiasaan olahraga dengan kejadian nyeri haid di

SMP N 31 Padang tahun 2018.

Variabel Independen Variabel Dependen

Kebiasaan Olahraga Nyeri Haid

Gambar 2.2
Kerangka Konsep hubungan kebiasaan olahraga dengan kejadian nyeri haid
pada siswi kelas VIII di SMP N 31 Padang

25
2.6. Defenisi Operasional

Tabel 2.1

N Variabel Defenisi Alat ukur Cara ukur Hasil ukur Skala ukur

O Operasional

1. Nyeri Nyeri Kuesioner


1 Angket Nyeri haid : Ordinal
haid haidmerupaka dengan dengan nyeri yang
nnyeri kejang derajat memberikan dirasakan
otot diperut intensitas pertanyaan sebelum atau
bagian bawah skala nyeri berupa nyeri selama
menyebar 1 – 3 nyeri haid haidberlangsun
kesisi dalam ringan, 4 - 7 g,merasakan
paha atau nyeri nyeri perut
bagian bawah sedang, 7 - dibagian
pinggang 9 nyeri berat bawah dengan
yang terjadi dan 10 nyeri intensitas
menjelang berat sekali. skala nyeri
haid atau 1 – 10
selama haid
akibat Tidak nyeri
kontraksi otot haid : Tidak
rahim. merasakan
nyeri perut
pada saat haid.

2. Kebiasaa Olahraga Kuesioner Angket Teratur : jika Ordinal


n aktifitas fisik dengan melakukan
Olahraga untuk memberikan olahraga
menggerakan pertanyaan minimal 3 kali
tubuh , berupa dalamsemingg
meningkatkan kebiasaan u dengan
metabolisme olahraga durasi minimal
tubuh dan 20-30 menit.
mengeluarkan
keringat. Tidak teratur :
melakukan
olahraga
kurang dari 3
kali dalam
seminggu
dengan durasi
kurang dari 20-
30 menit

26
2.7 . Hipotesis Penelitian

Ada hubungan kebiasaan olahraga dengan kejadian nyeri haid pada siswi

kelas VIII di SMP N 31 Padang.

27
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Jenis penelitian ini adalah analitik dengan cross-sectional study yaitu

suatu penelitian untuk mempelajari dinamika kolerasi antara faktor-faktor resiko

dengan efek dengan cara pendekatan,observasi atau pengumpulan data sekaligus

pada suatu saat (point time approach)(Notoatmodjo,2010).

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan di SMP N 31 Padang,waktu penelitian yaitu

bulan Desember 2017 sampai Agustus 2018

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian

3.3.1 Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswi kelas VIII di SMP N

31 Padang yang berjumlah 148 orang.

3.3.2 Sampel

Sampel dalam penelitian ini diambil dengan rumus :

n = __N _
1+N(d)2

Ket :

n = sampel

N = populasi

d = derajat penyimpangan terhadap populasi yang diinginkan 10% (0,1)

28
maka besar sampel adalah

n = N
1 + N (d)2
= 148
1+148 (0,1)2
= 56 orang
Jadi besar sampel yang dinilai dari penelitian ini adalah 56 orang

Penelitian ini dilakukan pada siswi kelas VIII SMPN 31 Padang yang

berjumlah 8 lokal.Untuk menentukan jumlah sampel masing-masing kelas

dilakukan dengan cara porposional random sampling.

Rumus porposional random sampling :

Sampel per kelas = Jumlah siswi per kelas x Sampel

Populasi

Jumlah sampel masing-masing kelas didapatkan sebagai berikut :

Lokal Sampel
VIII 1 6 orang
VIII 2 7 orang
VIII 3 7 orang
VIII 4 7 orang
VIII 5 7 orang
VIII 6 7 orang
VIII 7 7 orang
VIII 8 8 orang
Jumlah 56 orang

Sudah didaptkan sampel perkelas lalu dilanjutkan dengan sistematik

random sampling dengan menggunakan kelipatan dengan menggunakan

rumus :Jumlah populasi

Sampel

29
3.3 Jenis Data dan Cara Pengumpulan Data

3.3.1 Jenis Data

Jenis data yang dipakai dalam penelitian ini adalah data primer. Data

primer yaitu berbagai informasi dari keterangan yang diperoleh langsung dari

sumbernya, yaitu pihak yang dijadikan informan penelitian (Notoatmodja,2010).

3.3.2 Cara Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan cara memberikan daftar ceklis

kepada siswi kelas VIII SMP N 31 Padang yang menjadi responden. Semua

responden yang sudah dipilih melalui pengambilan sampel secara acak sistematis

dan bersedia menjadi responden. Adapun langkah-langkah dalam penelitian

sebagai berikut:

1. Pada tanggal 8 Maret 2018 Peneliti memasukan surat izin penelitian ke

STIKes MERCUBAKTIJAYA yang selanjutnya akan diajukkan ke

Dinas Kota Padang

2. Pada tanggal 15 Maret 2018 peneliti mendapat izin penelitian yang

sudah dikeluarkan dari STIKes MERCUBAKTIJAYA

3. Pada tanggal 16 Maret 2018 peneliti mengantarkan surat permohonan

izin meneliti ke Dinas Pendidikan Kota Padang

4. Pada tanggal 19 Maret 2018 peniliti menjemput surat izin meneliti ke

Dinas Pendidikan Kota Padang

5. 19 Maret peneliti melakukan survey awal Pada siswi kelas VIII di

SMPN 31 Padang.

6. Pada tanggal 2 Agustus 2018 menemui Kepala Sekolah untuk

memasukan surat penelitian

30
7. Pada tanggal 6 dan 7 Agustus 2018 peneliti melakukan penelitian di

SMPN 31 Padang

8. Pada tanggal 10 Agustus 2018 meminta surat selesai peneltian

3.4 Teknik Pengolahan Data

Semua data yang terkumpul pada penelitian ini diolah melalui proses

komputerisasi. Dalam pengolahan data terdapat langkah-langkah yang harus

ditempuh (Notoatmodjo,2010).

3.4.1 Editing (Pemeriksaan Data)

Setelah semua kuesioner diisi oleh responden,peneliti kemudian

memeriksa kembali isian kuesioner.

3.4.2 Coding (Pengkodean Data)

Selanjutnya penelitian memberi kode pada masing-masing variabel

penelitian tersebut.Hubungan kebiasaan olahraga dengan kejadian nyeri

haid.Pemberian tanda ceklis berdasarkan kategori.

a) Pengkodean Nyeri Haid

1. Tidak, jika diagnosa tidak nyeri haid diberi kode 1

2. Ya, jika diagnosa nyeri haid diberi kode 0

b) Pengkodean Olahraga

1. Tidak, jika tidak teratur berolahraga diberi kode 0

2. Ya, jika melakukan olahraga dengan teratur diberi kode 1

3.4.3 Entry (Memasukan Data)

Setelah pemberian kode,kemudian peneliti memasukkan data tersebut ke

dalam master tabel dengan menggunakan Microsoft excel.

31
3.4.4 Tabulating (Tabulasi Data)

Data yang telah dipindahkan ke dalam master tabel kemudian di olah

secara komputerisasi dan ditampilkan dalam bentuk distribusi frekuensi

berdasarkan variabel yang diteliti.

3.4.5 Cleaning (Pembersihkan Data)

Sebelum pengolahan data dilakukan,peneliti memeriksa kembali data

yang telah diisi tersebut dan semua data telah benar dan tidak ada kesalahan untuk

mendapatkan hasil yang sesuai apa yang diinginkan.

3.5 Analisa Data

3.5.1 Analisa Univariat

Analisa Univariat adalah analisa yang dilakukan terhadap setiap variabel

dari hasil penelitian (Notoatmodjo, 2010).Analisa Univariat digunakan untuk

mengetahui distribusi frekuensi dari masing – masing variable dan data dianalisa

secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel.Variabel yang didalam tabel

distribusi frekuensi adalah variabel kebiasaan olahraga dan nyeri haid.

3.5.2 Analisa Bivariat

Analisa bivariat adalah analisa yang dilakukan terhadap dua variabel yang

diduga berhubungan atau berkorelasi (variabel independen dan variabel

dependen). Analisa bivariat alam penelitian ini menggunakan uji statistic chi-

square dengan derajat kepercayaan 95% dan derajat kemaknaan 0,05

(Murdani,2015).

32
Cara pembacaan uji statistic chi-squareyaitu sebagai berikut :

a. Bila tabel 2 x 2 dijumpai nilai E < 5 maka hasil yang dibaca adalah

fisher Exact

b. Bila pada tabel 2 x 2 dan tidak ada nilai E atau < 5 maka hasil dibaca

adalah continuity correction

c. Bila tabelnya lebih 2 x 2 misalnya 3 x 2, 3x3 dan nilai-nilai lain maka

hasil yang dibaca adalah pearson chi-square

Hasil analisa dinyatakan bermakna apabila nila p value = 0,05

dengan kriteria :

a. Ha diterima jika p value <0,05 berarti ada hubungan yang bermakna

antara variabel dependen dengan variabel independen.

b. Ha ditolak jika p value ≥ 0,05 berarti tidak ada hubungan yang

bermakna antara variabel dependen dengan variabel independen.

33
BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

Pada bab ini disajikan data hasil penelitian yang meliputi gambaran umum

analisa univariat dan analisa bivariat tentang Hubungan Kebiasaan Olahraga

dengan kejadian nyeri haid siswi kelas VIII di SMPN 31 Padang.

4.1.1 Analisa Unavariat

Analisa Univariat bertujuan untuk mengetahui distribusi frekuensi dari

variable independen yang meliputi kebiasaan olahraga. Sedangkan variable

dependen yaitu kejadian nyeri haid.

4.1.1.1 Distribusi Frekuensi Kebiasaan Olahraga

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan distribusi frekuensi Kebiasaan

Olahraga pada siswi kelas VIII, seperti pada tabel dibawah ini

Tabel 4.1
Distribusi Frekuensi Kebiasaan Olahraga pada Siswi Kelas VIII di
SMPN 31 Padang Tahun 2018

Kebiasaan Olahraga Frekuensi Persentase (%)


Teratur 13 23,2
Tidak Teratur 43 76,8
Jumlah 56 100

34
Dari tabel 4.1 dapat diketahui dari 56 orang responden, 43 responden

(76.8%) memiliki kebiasaan olahraga yang tidak teratur, sedangkan 13 responden

( 23,2 ) yang memiliki olahraga yang teratur.

4.1.1.2 DistribusiFrekuensiKejadianNyeri Haid

Berdasarkanhasilpenelitiandidapatkandistribusifrekuensinyeri haid pada

siswi kelas VIII, sepertipadatabledibawahini :

Tabel 4.2
DistribusiKejadianNyeri Haidpada Siswi Kelas VIII di SMP N 31 Padang
tahun 2018

Nyeri haid Frekuensi (f) Presentase (%)


Tidak nyeri haid 15 26.8
Nyeri haid 41 73.2
Jumlah 56 100

Dari tabel 4.2 diketahuidari 56 responden, 41 responden (73,2%)

mengalami kejadian nyeri haid, sedangkan 15 responden (26,8%) tidak

mengalami nyeri haid.

4.1.2 Analisa Bivariat

Analisa ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara variable

independen danvariabledependenuntukmengetahui ada atau

tidaknyahubunganantara 2 variabeltersebut.Setelahdilakukanuji statistic

denganmenggunakanuji Chi-square denganderajatkemaknaan 95% denganalfa

0,05.

35
4.1.2.1 HubunganKebiasaanOlahragadenganKejadianNyeri Haid

Hubungankebiasaanolahragadengankejadian nyeri haid pada siswi kelas

VIII dapatdilihatdaritableberikutini :

Tabel 4.3
DiketahuinyaDistribusiFrekuensiHubunganKebiasaanOlahragadenganKeja
dian Nyeri Haid pada Siswi kelas VIII di
SMP N 31 Padang tahun 2018

Kategori
Kategori Kebiasaan Olahraga p-
nyeri haid Total
value
Teratur
Tidak teratur
f % f % F %
Nyeri haid 40 97,6 1 2,4 41 100 0,000
Tidak nyeri
3 20 12 80 15 100
haid
Jumlah 43 76,8 13 23,2 56 100

Berdasarkantabel 4.3 menunjukan bahwa dari 43 responden ( 76,8 ) siswi

yang mengalami nyeri haid sebanyak ( 97,6) dengan kebiasaan olahraga tidak

teratur.

SetelahdilakukanujiChi square menggunakan system komputerisasi,

didapatkanhasil p value = 0,000 ( p<0,05 ), ini berarti bahwa ada

hubunganantarakebiasaanolahragadengankejadiannyeri haid pada siswi kelas VIII

di SMP N 31 Padang tahun 2018.

36
4.2 Pembahasan

4.2.1 Kebiasaan Olahraga

Hasilpenelitian diketahui dari 56 orang responden, 43 responden

diantaranya sebagian besar (76.8%) memiliki kebiasaan olahraga yang tidak

teratur.Penelitianinisebanding yang dilakukan oleh Ramadani,2014 tentang

kebiasaan olahraga di SMPN 2 Demak didapatkan 83 responden lebih dari

separoh (55,4%) kebiasaan olahraganya tidak teratur ( Ramadani, 2014 ).

Kebiasaan olahraga adalah Olahraga aktifitas fisik untuk menggerakan

tubuh,meningkatkan metabolisme tubuh dan mengeluarkan

keringat.Manfaatolahragaadalahpeningkatkanefesiensikerjaparu,

peningkatanefesiensikerjajantung, menguranginyeripadasaatmenstruasi,

dll.Kebiasaan olahraga sangat berguna untuk menjaga tubuh selalu bugar,

sehingga tidak gampang terkena penyakit. Namun jika berlebihan sampai jantung

berdebar-debar, efek nya kurang menguntungkan sebab kerja otot akan melambat

( Hestianingsih, 2012 ). Frekuensi aktivitas olahraga dikatakan baik dan teratur

apabila dilakukan selama 3 - 5 kali/minggu dengan durasi minimal 30-60 menit (

Giriwijoyo, 2012 ).

Hasil analisa penelitian didapatkan sebagian besar ( 76.8% ) diantaranya

mempunyai kebiasaan olahraga tidak teratur, hal ini disebabkan karena siswi

tersebut hanya melakukan olahraga pada saat jam mata pelajaran saja yaitu 1 kali

dalam seminggu dan tidak melakukan olahraga diluar jam olahraga sekolah,

berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan guru dan siswi tidak melakukan

olahraga dengan alasan seperti pulang sekolah pukul 14.30 dilanjutkan dengan

37
belajar tambahan diluar sehingga saat sampai dirumah siswi langsung istirahat dan

tidak sempat berolahraga lagi.

4.2.2 KejadianNyeri Haid

Diketahui dari 56 responden(73,2%) mengalami nyeri haid pada sisiwi

kelasVIII di SMP N 31 Padang tahun 2018.Penelitianinisebanding yang

dilakukanoleh Ramadani,2014 tentangkebiasaanolahraga di SMPN 2 Demak

didapatkan 83 responden (57,8%) mengalami nyeri haid.

Nyeri haid adalah keluhan yang sering dialami wanita pada bagian perut

bawah.Namun, nyeri haid ini tidak hanya terjadi pada bagian perut bawah

saja.Beberapa perempuan sering merasakannya pada punggung bagian bawah,

pinggang, panggul, otot paha atas, hingga betis.Gejala yang dirasakan adalah rasa

nyeri di perut bagian bawah seperti dicengkeram atau di remas-remas, sakit kepala

yang berdenyut, mual, muntah, nyeri di punggung bagian bawah, diare, bahkan

hingga pingsan. Rasa nyeri tersebut biasanya dialami 1-2 hari pertama saat

datangnya menstruasi ( Patimah, 2017 )

Berdasarkan analisa peneliti didapatkan 56 responden, 41 responden

(73,2%) mengalami kejadian nyeri haid, hal ini disebabkan siswi yang mengalami

nyeri haid kemungkinan mempunyai kebiasaan olahraga tidak teratur. Kejadian

nyeri haid yang dialami oleh siswi nyeri perut dan siswi mengatasi istirahat dan

tidak perlu meminum obat dan ada sebagian kecil siswi mengatasi nya dengan

cara meminum obat penghilang nyeri.

38
4.2.3 Hubungan Kebiasaan Olahraga Dengan Kejadian Nyeri Haid

Pada hasil penelitian didapatkan dari 56 responden (97,6 % ) yang

mengalaminyeri haid lebih banyak dialami oleh siswi yang tidak teratur

berolahraga dan berdasarkan uji Chi Square diperoleh nilai p-value 0,000 < α (

0,05) maka Ho ditolak dan disimpulkan bahwa ada hubungan signifikan antara

kebiasaan olahraga dengan kejadian nyeri haid pada siwi kelas VIII di SMPN 31

Padang. Penelitian ini sebanding yang dilakukan oleh Ramadani, 2014 (83,7%)

yang mengalami nyeri haid lebih banyak yang dialami oleh siswi yang tidak

teratur berolahraga dan telah dilakukan uji Chi Square diperoleh nilap p-value

0,00001 , terlihat bahwa p-value 0,00001 < α ( 0,05 ), maka Ho ditolak dan

disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara kebiasaan olahraga

dengan kejadian nyeri haid di SMP N 2 Demak.

Salah satu cara efektif untuk mencegah nyeri haid adalah dengan cara

melakukan olahraga. Perempuan yang melakukan olahraga secara teratur dapat

meningkatkan sekresi hormone endhorphin yaitu penghilang nyeri alami kedalam

aliran darah sehingga dapat mengurangi nyeri haid ( Mutohir, 2004 ). Hal ini

dikarenakan pasokan oksigen kepembuluh darah disekitar organ reproduksi

mengalami vasokontriksi, sehingga ketika wanita mengalami nyeri haid, oksigen

tidak dapat disalurkan ke pembuluh-pembuluh darah organ reproduksi. Bila

wanita teratur melakukan olahraga, maka wanita tersebut dapat menyediakan

oksigen hampir 2 kali lipat per menit sehingga oksigen tersampaikan ke pembuluh

darah yang mengalami vasokontriksi, hal ini menyebabkan terjadinya penurunan

kejadian nyeri haid dengan teratur berolahraga ( Wahyuliati, 2017 ). Dengan

melakukan olahraga tubuh manusia akan mengeluarkan hormone endorphin yang

39
dilepaskan di sirkulasi darah dan membuat aliran darah disekitar rahim menjadi

lancar sehingga dapat menurunkan rasa nyeri.

Dari hasil analisa peneliti bahwa adanya hubungan kebiasaan olahraga

dengan kejadian nyeri haid, karena kebiasaan olahraga dapat menurunkan nyeri

pada saat haid.

40
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan tentang “Hubungan

kebiasaan olahraga dengan kejadian nyeri haid siswi kelas VIII di SMP N 31

Padang tahun 2018 disimpulkan bahwa :

5.1.1 Sebagian besar responden siswi kelas VIII memiliki kebiasaan olahraga

tidak teratur di SMPN 31 padang tahun 2018.

5.1.2 Sebagian besar responden siswi kelas VIII mengalami nyeri haid di SMPN

31 Padang tahun 2018

5.1.3 Ada hubungan antara kebiasaan olahraga dengan kejadian nyeri haid pada

siswi kelasVIII di SMPN 31 Padang tahun2018.

5.2 Saran

5.2.1 Bagi Institusi Pendidikan

Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi referensi bahan

pembelajaran ilmu pengetahuan mahasiswa MERCUBAKTIJAYA Padang.

5.2.2 Bagi SMPN 31 Padang

Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberi informasi tambahan tentang

hubungan kebiasaan olahraga dengan kejadian nyeri haid.

41
5.2.3 Bagi Peneliti Selanjutnya

Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan tambahan untuk

penelitian lebih lanjut tentang Hubungan Kebiasaan Olahraga Dengan Kejadian

Nyeri Haid.

42