Anda di halaman 1dari 86

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah proses infeksi akut

berlangsung selama 14 hari, yang disebabkan oleh mikroorganisme dan

menyerang salah satu bagian, dan atau lebih dari saluran napas, mulai dari

hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah), termasuk jaringan

adneksanya, seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura. Gejala awal

yang timbul biasanya berupa batuk pilek, yang kemudian diikuti dengan

napas cepat dan napas sesak. Pada tingkat yang lebih berat terjadi

kesukaran bernapas dan tidak dapat minum. Usia Balita adalah kelompok

yang paling rentan dengan infeksi saluran pernapasan. Kenyataannya

bahwa angka morbiditas dan mortalitas akibat ISPA, masih tinggi pada

balita di Negara berkembang. (Hartono, 2012)

World Health Organitation (WHO) pada tahun 2012, menjelaskan

Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) di Negara berkembang mencapai

angka kematian balita di atas 40 per 1000. kelahiran hidup balita di Negara

berkembang mencapai 15%-20% pertahun pada golongan usia balita.

ISPA lebih banyak di Negara berkembang dibandingkan di Negara maju

dengan persentase masing-masing sebesar 25%-30% dan 10%-15%.

Angka kematian balita di Asia Tenggara yang terjadi sebanyak 2,1 juta

balita. India, Bangladesh, Indonesia, dan Myanmar merupakan negara

dengan kasus kematian balita akibat ISPA terbanyak. (Usman, 2014)

1
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) Di Indonesia, selalu

menempati urutan pertama penyebab kematian pada kelompok bayi dan

balita. Selain itu ISPA juga sering berada pada daftar 10 penyakit

terbanyak di rumah sakit. Di Indonesia terjadi lima kasus diantara 1000

bayi atau Balita, ISPA mengakibatkan 150.000 bayi atau Balita meninggal

tiap tahun atau 12.500 korban perbulan atau 416 kasus perhari, atau 17

anak perjam atau seorang bayi tiap lima menit (Siswono, 2012). Sebagai

kelompok penyakit, ISPA juga merupakan penyebab utama kunjungan

pasien ke sarana kesehatan yakni sebanyak 40%-60% kunjungan berobat

di puskesmas dan 15%-30% kunjungan berobat di rumah sakit (Depkes

RI, 2009).

Penyebab ISPA terjadi karena serangan mikroorganisme virus,bakteri

dan jamur. Dari tiga penyebab ISPA ini.virus yang sering menimbulkan

ISPA. Berikut beberapa mikroorganisme yang membuat ISPA muncul :

Adenvirus, Rhinovirus, Coronavirus, Pneumokokus, Streptokokus,

Respiratory Syncytial virus, Virus influenza. Dan penyebab ISPA selain

virus : debu, asap, perokok (Anisa , 2016)

Dampak rokok tidak hanya mengancam siperokok tetapi juga

orang disekitarnya atau perokok pasif . Berdasarkan laporan Badan

Lingkungan Hidup Amerika (EPA / Environmental Protection Agency)

mencatat tidak kurang dari 300 ribu anak berusia 1-5 tahun menderita

bronkhitis dan pneumonia, karena turut menghisap asap rokok yang

dihembuskan orang disekitarnya terutama ayah dan ibunya. Populasi yang

2
sangat rentan terhadap asap rokok adalah anak-anak, karena mereka

menghirup udara lebih sering dari pada orang dewasa. Organ anak- anak

masih lemah sehingga rentan terhadap gangguan dan masalah dapat

berkembang sehingga jika terkena dampak buruk maka perkembangan

organnya tidak sesuai dengan semestinya (Depkes, 2008).

Infeksi Saluran Pernafasan Akut adalah penyakit infeksi akut yang

menyerang salah satu bagian dan atau lebih dari saluran nafas mulai dari

hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah) termasuk jaringan

adneksanya, seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura. Kriteria

penggunaan pola tatalaksana penderita ISPA adalah balita, dengan gejala

batuk dan atau kesukaran bernafas. Pola tatalaksana penderita ini terdiri

dari 4 bagian yaitu tahap pemeriksaan, penentuan ada tidaknya tanda

bahaya, penentuan klasifikasi penyakit, serta tahap pengobatan dan

tindakan. Sedangkan Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai

jaringan paru - paru (alveoli). Menurut Pedoman Program Pemberantasan

Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut untuk Penanggulangan

Pneumonia pada Balita terjadinya pneumonia pada anak seringkali

bersamaan dengan terjadinya proses infeksi akut pada bronkhus yang

disebut bronkopneumonia. Dalam pelaksanaan Pemberantasan Penyakit

ISPA semua bentuk Pneumonia (baik Pneumonia maupun

bronkopneumonia) disebut Pneumonia saja. (Depkes RI, 2008)

3
Sementara menurut WHO, pneumonia merupakan bentuk peradangan

dari jaringan paru yang ditandai dengan gejala batuk dan sesak nafas atau

nafas cepat. Selanjutnya digunakan oleh Departemen Kesehatan dalam

Program penanggulangan infeksi saluran pernafasan akut (P2–ISPA) secara

Nasional. Berdasarkan buku pedoman P2-ISPA pneumonia diklasifikasikan

sebagai bukan pneumonia (ISPA), pneumonia dan pneumonia berat

(Depkes, 2008)

Faktor risiko terjadinya ISPA secara umum terdapat tiga bagian,

yaitu faktor lingkungan, faktor individu anak serta faktor perilaku. Faktor

lingkungan meliputi: pencemaran udara dalam rumah (asap rokok dan asap

hasil pembakaran bahan bakar untuk memasak dengan konsentrasi yang

tinggi), ventilasi rumah dan kepadatan hunian. Faktor individu anak

meliputi: umur anak, berat badan lahir, status gizi, vitamin A dan status

imunisasi. Faktor perilaku meliputi perilaku pencegahan dan

penanggulangan ISPA pada bayi atau peran aktif keluarga atau masyarakat

dalam menangani penyakit ISPA (Prabu, 2013).

Pencemaran udara yang menjadi penyebab ISPA adalah asap rokok,

terdapat dua jenis paparan rokok yaitu second hand smoke dan third hand

smoke.second hand smoke adalah asap rokok yang berasal dari rokok itu

sendiri dan asap rokok yang di keluarkan oleh perokok aktif. Third hand

smoke adalah asap rokok yang menempel pada baju, karpet, tirai dan lain-

lain (Kusuma, 2014)

4
ISPA atau Infeksi Saluran Pernapasan Akut merupakan penyakit

yang disebabkan oleh infeksi akut berkaitan dengan saluran pernapasan

bagian atas termasuk hidung, sinusitis, faring atau laring. Beberapa jenis

penyakitnya yaitu tonsillitis, pharyngitis, laryngitis, sinusitis, otitis media

dan selesma. Penyebab ISPA salah satunya adalah virus. Ada lebih dari

200 virus berbeda yang terisolasi dalam tubuh penderita. Salah satu virus

yang paling umum adalah rhinovirus. Virus lainnya antra lain coronavirus,

parainfluenza, adenovirus, enterovirus, dan respiratory syncytial virus.

(Depkes RI, 2008)

Gejala yang mungkin terjadi saat seseorang terserang penyakit ISPA

yaitu batuk-batuk, sakit tenggorokan, ingusan, hidung tersumbat, sakit

kepala, demam, dan bersin-bersin. Gejala tersebut biasanya terjadi 1-3 hari

setelah terserang dan penyakit ini akan bertahan sekitar satu minggu

sampai 10 hari. Apabila penanganan ispa tidak ditangani dengan baik

maka dapat menimbulkan beberapa gejala seperti gangguan, pernafasan

sakit tenggorakan, sakit kepala, menyebakan tubuh menjadi kurang prima,

dapat menularkan pada orang yang lain, serta dapat menyebabkan

kematian (Prabu, 2013)

Salah satu bahaya yang paling ditakuti dari ISPA adalah

menyebabkan kematian. Penyakit ISPA memang ada beberapa yang cukup

berbahaya sehingga dapat menyebabkan kematian mendadak. Kematian

bisa terjadi karena penyakit yang sudah parah, kurangnya perawatan,

pengobatan yang tidak sesuai, dan lain-lain. ISPA sebaiknya mendapatkan

5
pengobatan sejak dini karena jika tidak akan mudah menjadi parah

sehingga menyebabkan kematian yang tidak diinginkan.Baik pada anak-

anak ataupun orang dewasa sebaiknya ISPA segera ditangani dengan baik

sebelum terlambat. Pemeriksaan dini melalui dokter diperlukan agar

penyakit dapat segera terdeteksi dan diobati sejak dini (Prabu, 2013)

Balita mempunyai resiko terserang ISPA. Hal ini dikarenakan pada

usia balita yang imunitas masih belum sempurna dan lumen saluran

nafasnya relatif sempit. Faktor- faktor terjadinya ISPA pada balita secara

umum dipengaruhi oleh faktor individu (umur, status gizi, imunisasi yang

tidak lengkap, ASI eksklusif) faktor perilaku (kebiasaan merokok, bahan

bakar memasak, penggunaan obat nyamuk) faktor lingkungan fisik rumah

(kepadatan hunian, ventilasi, kelembaban, letak dapur, jenis lantai, jenis

dinding) faktor sosial ekonomi (pendidikan orang tua, penghasilan orang

tua) (Depkes RI, 2009).

Indonesia merupakan negara dengan jumlah perokok aktif sekitar

27,6% dengan jumlah 65 juta perokok atau 225 miliar batang per tahun.

Rokok merupakan benda beracun yang memberi efek yang sangat

membahayakan pada perokok ataupun perokok pasif, terutama pada balita

yang tidak sengaja terkontak asap rokok yang dapat menyebabkan Infeksi

pada saluran pernapasan. Nikotin dengan ribuan bahaya beracun asap

rokok lainnya masuk ke saluran pernapasan bayi. Nikotin yang terhirup

melalui saluran pernapasan dan masuk ke tubuh melalui ASI ibunya akan

berakumulasi di tubuh bayi (Hidayat, 2013)

6
Penemuan ISPA di indonesia pada tahun 2013 sebesar 23% dengan

jumlah kasus yang ditemukan sebanyak 499.259 kasus dan untuk provinsi

Jateng didapatkan prevalensi sebesar 10,96% (Depkes, 2014). Setiap anak

diperkirakan mengalami tiga sampai enam episode ISPA setiap tahunnya,

dan kunjungan pasien penderita antara 40- 60% rawat jalan serta 15-30%

rawat inap dari kunjungan di Puskesmas (Depkes, 2009).

Data Dinas Kesehatan Kepri tahun 2013 penemuan kasus Ispa dan

penangan Ispa berdasarkan Kabupaten/Kota tahun 2013 kabupaten

karimun sebesar 37%, kota tanjungpinang sebesar 11,78%, Kabupaten

natuna sebesar 8,08%, Kota batam sebesar 3,28%, dan anambas sebesar

2,07%. Berdasarkan data tersebut disimpulkan bahwa angka penemuan

dan penanganan ISPA balita di seluruh Kabupaten/Kota yang ada dalam

wilayah Provinsi Kepulauan Riau masih sangat rendah (6,42%).

Data Dari Dinas Kesehatan Kota Batam tahun 2016 menyebutkan

angka kejadian ISPA bulan tahun 2016 sebanyak 25.729 kasus. Sedangkan

menurut data yang ada di Puskesmas Bulang, penderita ISPA yang berobat

ke Puskesmas Bulang tahun 2016 sebanyak 587 kasus dari 877 jiwa balita,

penderita ISPA yang berobat ke Puskesmas Galang tahun 2016 sebanyak

1.017 kasus dari 1.572 jiwa balita, penderita ISPA yang berobat ke

Puskesmas Kabil tahun 2016 sebanyak 1.286 kasus dari 2.805 jiwa balita ,

penderita ISPA yang berobat ke Puskesmas Botania tahun 2016 sebanyak

3.866 kasus dari 8.759 jiwa balita.

7
Hasil studi pendahuluan yang dilakukan pada tanggal 8 Agustus

2017 di wilayah puskesmas Galang. Dari 10 reponden didapatkan orang

tua laki-laki yang merokok di dalam rumah sebanyak 9 orang (90%) dan

yang tidak merokok 1 orang (10%), dan kejadian ISPA pada balita

sebanyak 7 balita (70%) dan yang tidak terkena ISPA sebanyak 3 balita

(30%).

Penelitian yang di lakukan Chairunnisa (2013) dengan judul

hubungan antara kebiasaan merokok dalam keluarga dengan kejadian

ISPA pada balita di Wilayah Puskesmas Bayan Kabupaten Purworejo.

Dengan jumlah sampel berjumlah 51 responden, didapatkan responden

dengan kebiasaan merokok menunjukkan sebagian besar adalah responden

dengan umur 17-34 tahun yaitu 40 responden (78,4%), didapatkan

responden dengan Penyakit ISPA sebagian besar didapati responden

dengan ISPA ringan yaitu 34 responden (66,7%). maka didapatkan nilai

p= 0,002 maka di nyatakan ho di tolak sehingga ada hubungan antara

kebiasaan merokok dalam keluarga dengan kejadian ISPA pada balita.

Penelitian yang di lakukan oleh Hadiana (2013)dengan judul

Hubungan Status Gizi Terhadap Terjadi ISPA Pada Balita Di Puskesmas

Pajang Surakarta. Hasil dari uji chi square dieroleh p value sebesar 0,000

dengan taraf signifkan (α) 0.005 maka dinyatakan ho ditolak sehingga ada

hubungan status gizi terhadap terjadi ISPA pada balita, selain itu

didapatkan nilai RP (ratio prevalensi) = 27,5 dengan (interval kepercayaan

95%, 8,372-90,328), artinya bahwa anak yang mengalami gizi kurang

8
berisiko 27,5 kali untuk mengalami ISPA dibanding balita yang

mempunyai gizi baik.

Penelitian yang di lakukan Trisnawati (2012). Dengan judul

Hubungan prilaku merokok orang tua dengan kejadian ISPA pada belita di

dapatkan hasil Ada korelasi antara perilaku merokok orang tua pada ISPA

insiden pada balita maka di dapatkan nilai (p = 0,000,) maka di nyatakan

ho di tolak sehingga ada hubungan prilaku merokok orang tua dengan

kejadian ISPA pada balita. Kerja Umum Puskesmas Purbalingga pada

tahun 2012 dikategorikan berat (80,4%). Ada korelasi Antara perilaku

merokok orang tua terhadap kejadian ISPA pada balita (p = 0.000, OR =

13,3 95% CI 5.17- 34.345).

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batam

Kepulauan Riau bersiap mengevakuasi warga kota yang terpapar kabut

asap bila kualitas udara terus memburuk dan mengganggu kesehatan

masyarakat. BPBD mengutamakan mengevakuasi ibu hamil, anak-anak

dan penderita Infeksi Saluran Pernafasan Akut, untuk tidak memperparah

penyakitnya. Kepala Badan Pengendali Dampak Lingkungan Daerah Kota

Batam Dendi Purnomo menyatakan hingga saat ini angka ISPU (Indeks

Standar Pencemaran Udara) belum pernah mencapai 300 atau berbahaya.

Kadar ISPU 0-50 berarti baik, 51-100 berarti sedang, 101-199 tidak sehat,

200-299 sangat tidak sehat dan di atas 300 artinya berbahaya.

Bapedalda (badan perencanaan pembangunan daerah) akan terus

memantau kualitas udara tiapa waktu sekaligus bersiaga bila angka ISPU

9
(Indeks Standar Pencemaran Udara) terus naik. Kepala Dinas Kesehatan

Kota Batam Chandra Rizal memperkirakan 100 orang warga kota

menderita Infeksi Saluran Pernafasan Akut akibat terpapar kabut asap

kebakaran hutan selama sepekan terakhir. Dinas Kesehatan terus

menambah pasokan obat ISPA ke seluruh Puskesmas untuk mengobati

warga yang terpapar kabut asap. Dan menurut Chandra, jumlah penderita

ISPA terus berkurang seiring membaiknya kualitas udara di Batam. Meski

begitu Dinkes tetap mengimbau warga menghindari aktivitas luar ruangan,

demi menghindari paparan asap. (Batam Pos. 2015) sehingga peneliti

berniat untuk mengambil kasus ini sesuai dengan apa yang pernah dialami

kota batam ini saat terjadinya kabut asap yang pernah melanda di batam

Kebiasaan merokok di dalam rumah dapat berdampak tidak baik

bagi anggota keluarga khususnya balita. Indonesia merupakan Negara

dengan jumlah perokok aktif sekitar 27,6% dengan jumlah 65 juta perokok

atau 225 miliar batang per tahun (WHO, 2011). Nikotin dan ribuan zat

beracun lainnya yang berasal dari asap rokok masuk ke saluran pernapasan

bayi yang dapat menyebabkan Infeksi pada saluran pernapasan. Nikotin

yang terhirup melalui saluran pernapasan dapat juga masuk ke tubuh

melalui ASI ibunya lalu berakumulasi di tubuh bayi dan membahayakan

kesehatan bayi tersebut (Hidayat, 2014).

Dampak rokok tidak hanya mengancam siperokok tetapi juga orang

disekitarnya atau perokok pasif. Dari hasil analisis WHO, menunjukkan

bahwa efek buruk asap rokok lebih besar bagi perokok pasif dibandingkan

10
perokok aktif. Ketika perokok membakar sebatang rokok dan

menghisapnya, asap yang dihisap oleh perokok disebut asap utama, dan

asap yang keluar dari ujung rokok (bagian yang terbakar) dinamakan

sidestream smoke atau asap samping. Asap samping ini terbukti

mengandung lebih banyak hasil pembakaran tembakau dibanding asap

utama. Asap ini mengandung karbon monoksida 5 kali lebih besar, tar dan

nikotin 3 kali lipat, ammonia 46 kali lipat, nikel 3 kali lipat, nitrosamine

sebagai penyebab kanker kadarnya mencapai 50 kali lebih besar asap

sampingan disbanding dengan kadar asap utama (Umami, 2013).

Berbagai cara penanganan telah dilakukan oleh sekelompok dokter

untuk mengantisipasi penyakit ISPA, salah satunya dengan pengadaan

vaksinasi diberbagai daerah, disisi lain pihak puskesmas berbagai daerah

juga sudah memberikan penkes kepada ibu tentang bahayanya penyakit

ISPA pada balita, namun dengan cara tersebut belum menunjukkan

penurunan angka penderita penyakit ISPA. Pengobatan atau tata laksana

kasis (case management) ISPA yang tepat mencegah secara efektif

terjadinya kematian ISPA, khususnya Pnemonia, sekitar 40-80%

(Tri nurhidayati, 2015).

Program pemberantasan penyakit ISPA memfokuskan kegiatannya

pada penanggulangan pneumonia pada balita (Depkes RI, 2014). Dalam

pelaksanaannya, program pemberantasan penyakit ISPA (P2ISPA) memerl

ukan dukungan dari semua pihak dan peran aktif masyarakat. Peran masya

rakat terutama keluarga, dalam penanggulangan dan pencegahan ISPA teru

11
tama pneumonia sangat menentukan keberhasilan upaya penanggulangan

penyakit ISPA terutama pneumonia (Trapsilowati, 2012).

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah peneliti kemukakan

di atas maka di rumuskan masalah penelitian sebagai berikut : Apakah ada

hubungan antara perilaku merokok orang tua dengan kejadian ISPA pada

balita di Wilayah Kerja Puskesmas Bulang Kota Batam Tahun 2017

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Penelitian ini untuk mengetahui hubungan perilaku merokok orang

tua dengan kejadian ISPA pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas

Bulang Kota Batam 2017

1.3.2 Tujuan khusus

1.3.2.1 Untuk mengidentifikasi perilaku merokok orang tua balita

di wilayah kerja Puskesmas Bulang tahun 2017

1.3.2.2 Untuk mengidentifikasi kejadian ISPA pada balita di

wilayah kerja Puskesmas Bulang tahun 2017

1.3.2.3 Untuk mengetahui hubungan antara perilaku merokok

orang tua terhadap kejadian ISPA pada balita di wilayah

kerja Puskesmas Bulang Tahun 2017

12
1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Secara Teoritis

Sebagai bahan informasi pengetahuan kesehatan khusus nya

ilmu keperawatan keluarga dan masukan bagi Puskesmas Bulang

mengenai hubungan antara perilaku merokok orang tua dengan

kejadian ISPA pada balita yang merupakan penyakit tersering

diderita oleh balita yang berobat ke pelayanan kesehatan anak

Puskesmas Bulang tahun 2017

1.4.2 Secara Praktis

1.4.2.1 Bagi Profesi Keperawatan

Sebagai informasi bagi tenaga kesehatan khususnya

keperawatan keluarga diharapkan dapat menjadi bahan masukan

tentang pentingnya mengetahui hubungan antara perilaku

merokok orang tua dengan kejadian ISPA di Puskesmas Bulang

sehingga dapat dijadikan sebagai salah satu bahan pertimbangan

dalam upaya promotif dan preventif di bidang kesehatan

khususnya dalam menurunkan angka kejadian ISPA pada balita.

1.4.2.2 Bagi Peneliti

Memberi pengalaman baru bagi peneliti dalam menerapkan

metodologi penelitian yang telah di pelajari dan di kaitkan

dengan konsep keperawatan keluarga serta dapat mengetahui

13
hubungan perilaku merokok orang tua dengan kejadian ISPA

pada balita.

1.4.2.3 Bagi Institusi Pelayanan Kesehatan

Sebagai bahan pertimbangan bagi institusi pelayanan

kesehatan dalam menyusun program karena penelitian ini akan

berguna sebaga pedoman bagi Puskesmas untuk meningkatkan

pelayanan terhadap ISPA

1.4.2.4 Bagi Institusi Pendidikan

Sebagai ilmu bahan masukan yang berguna dan

dikembangkan dalam proses pembelajaran khususnya di bidang

keperawatan keluarga dan sebagai sumber bacaan di perpustakan

tentang hubungan dan sebagai bacaan diperpustakaan.

1.4.2.5 Bagi Peneliti Selanjutnya

Data di peroleh dari hasi penelitian menjadi sebagai bahan

masukan untuk penelitian selanjutnya

1.5 Keaslian Penelitian

Penelitian-Penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan yang

berhubungan dengan penelitian ini adalah :

1.5.1 Berdasarkan pengetahuan peneliti melalui penelusuran jurnal,

peneliti menemukan penelitian yang serupa dengan penelitian

yang akan di lakukan peneliti yaitu Berhubungan Perilaku

dengan Merokok Orang Tua dengan kejadian ISPA pada Balita

Diwilayah kerja Puskesmas Bulang Kota Batam Tahun 2017.

14
1.5.2 Namun demikian, beberapa penelitian yang hampir serupa pernah

di lakukan sebagai berikut : penelitian Yuli Trisnawati (2012)

yang berjudul “hubungan perilaku merokok orang tua dengan

kejadian ispa pada balita” Penelitian ini merupakan penelitian

survey analitik dengan pendekatan kasus control. Simple teknik

random sampling dengan jumlah sampel antara 102 resonden

(kasus dan control). Instrumen penelitian berupa kuesioner dan

analisis data di lakukan dengan menggunakan univariat dan Chi

squre untuk bivariat. Perilaku merokok orang tua di Tempat

Kerja Umum Puskesmas Purbalingga pada tahun 2012

dikategorikan berat (80,4%). Ada korelasi Antara perilaku

merokok orang tua terhadap kejadian ISPA pada balita (p =

0.000, OR = 13,3 95% CI 5.17- 34.345). Jadi penelitian ini

menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara

prilaku merokok dengan kejadian ISPA pada balita

1.5.3 Berdasarkan pengetahuan peneliti melalui penelusuran jurnal,

peneliti menemukan penelitian yang serupa dengan penelitian

yang akan di lakukan peneliti. Namun demikian, beberapa

penelitian yang hampir serupa pernah di lakukan sebagai

berikut: Hubungan Status Gizi Terhadap Terjadinya Infeksi

Saluran Pernapasan Akut (ISPA) Pada Balita Di Puskesmas

Pajang Surakarta oleh dr. Pratikto Widodo Sp.A 2010. yang

dimana hasilnya penelitiannya. Dari uji Chi square diperoleh p

15
value sebesar 0,000 dengan taraf signifikan (α) 0,05 maka

dinyatakan Ho ditolak, sehingga H1 diterima. Jadi penelitian ini

menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara

status gizi terhadap terjadinya ISPA pada balita, selain itu

didapatkan nilai RP (ratio prevalensi) = 27,5 dengan (interval

kepercayaan 95%, 8,372-90,328), artinya bahwa anak yang

mengalami gizi kurang berisiko 27,5 kali untuk mengalami ISPA

dibanding balita yang mempunyai gizi baik. Dan hasil

kesimpulannya: Terdapat hubungan antara status gizi terhadap

terjadinya ISPA pada balita di Puskesmas Pajang Surakarta.

1.5.4 Berdasarkan pengetahuan peneliti melalui penelusuran jurnal,

peneliti menemukan penelitian yang serupa dengan penelitian

yang akan di lakukan peneliti. Namun demikian, beberapa

penelitian yang hampir serupa pernah di lakukan sebagai

berikut : hubungan kebiasaan merokok di dalam rumah

dengan Kejadian ISPA pada anak umur 1-5 tahun Di puskesmas

sario kota manado oleh Salma ,A Y (2011) .Desain penelitian

yang digunakan adalah desain Cross Sectional dan data

dikumpulkan dari responden menggunakan lembar kuisioner.

Sampel pada penelitian ini berjumlah 51 responden yang didapat

menggunakan teknik consecutive sampling. Hasil penelitian uji

statistik menggunakan uji chi-square pada tingkat kemaknaan

95% (α ≤ 0,05), maka didapatkan nilai p= 0,002. Ini berarti

16
bahwa nilai p< α (0,05). Disimpulkan bahwa dalam penelitian ini

ada hubungan antara kebiasaan merokok dengan kejadian ISPA

pada anak.

1.6 Sistematika Penelitian

Sistematika penulisan ini terdiri dari lima bab, yang terdiri sebagai

berikut :

1.6.1 BAB I Pendahuluan

terdiri dari latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan

penelitian (tujuan umum dan tujuan khusus), manfaat

penelitian (manfaat teoritis dan manfaat praktis), keaslian

penelitian dan sistematika penelitian.

1.6.2 BAB II Tinjauan pustaka

Pada bab 11 di uraiakan teoritis yang mendukung penelitian

meliputi konsep dasar tengtang ISPA, perilaku merokok,

kerangka konseptual, Hipotesis penelitian

1.6.3 BAB III Metode Penelitian

Jenis dan Rancangan Penelitian, Popolasi dan Sampel

Penelitian, ( kriteria inklusi dan kreteria eksklusi, besar sampel,

teknik pengambilan sampel ) Lokasi dan Waktu Penelitian,

variabel penelitian, kerangka kerja, prosedur penelitian,

pengumpulan Data, (teknik pengambilan data, Intrumen

penelitian, uji validitas dan Reliabilitas) Pengolahan data

17
dan Analisa data (univariat, bivariat) Definisi Operasional,

etika Penelitian, keterbatasan penelitian.

1.6.4 BAB IV Penelitian dan Pembahasan

Hasil penelitian dan pembahasan

1.6.5 BAB V Simpulan dan Saran

Kesimpulan dan Saran.

18
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep ISPA

2.1.1 Definisi

Infeksi saluran pernafasan akut dalam bahasa inggris dikenal

dengan Acute Respiratory Infection (ARI). Istilah infeksi saluran

pernafasan akut (ISPA) mengandung tiga unsur yaitu infeksi, salauran

pernafasan, dan akut. Infeksi adalah peristiwa masuk dan

penggandaan mikroorganisme di dalam tubuh pejamu (host),

sedangkan penyakit infeksi merupakan manifestasi klinik bila terjadi

kerusakan jaringan atau fungsi bila reaksi radang pejamu terpanggil.

Saluran pernafasan adalah organ yang mulai dari hidung hingga avioli

beserta organ adneksanya (sinus-sinus, rongga telinga tengah dan

pleura), sedangkan infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung

sampai dengan 14 hari, walaupun beberapa penyakit yang dapat

digolongkan dalam ISPA dapat berlangsung lebih dari 14 hari,

misalnya pertusis. ISPA adalah infeksi saluran pernafasan yang dapat

berlangsung sampai 14 hari, dimana secara klinis suatu tanda dan

gejala akut infeksi yang terjadi disetiap bagian saluran pernafasan

dengan berlangsung tidak lebih dari 14 hari (Depkes, 2009)

Infeksi saluran pernafasan akut adalah penyakit infeksi akut

yang menyerang salah satu bagian atau lebih dari saluran pernafasan

19
mulai dari hidung (saluran atas) sampai alveoli (saluran bawah)

termasuk jaringan adneksanya. Seperti sinus, rongga bawah , dan

pleura. ISPA adalah infeksi saluran pernafasan akutnyang ditandai

dengan batuk pilek. Anak dengan batuk pilek pada anak lamanya

sekitar 2 sampai 3 hari, namun bila lebih dari satu minggu terjadi

infeksi lanjutan. Infeksi saluran pernafasan akut adalah proses

inflamasi yang disebabkan oleh virus, bakteri, atipikal (mikroplasma),

atau aspirasi substansi asing yang melibatkan suatu atau semua bagian

saluran pernafasan (Wong, 2009).

2.1.2 Etiologi

Penyakit ini dapat disebabkan oleh virus , bakteri, riketsia, atau,

protozoa. Virus yang termasuk penggolong ISPA adalah rinovirus,

koronavirus, dan koksakivirus, influenza, virus sinsial pernafasan.

Virus yang mudah ditularkan melalui lidah yang dibatukkan atau

dibersinkan oleh penderita adalah virus influenza, virus sinsial

pernafasan, dan rinovirus (Junaidi, 2010). Etiologi ISPA terdiri dari

300 lebih jenis virus, bakteri dan riketsia serta jamur. Virus penyebab

OSPA antara lain golongan mikro virus (termasuk didalamnya virus

influenza, virus para-influenza dan virus campak), adenovirus.

Bakteri penyebab ISPA misalnya streptokokus hemolitikus,

stafilokotikus, pnemokokus, hemofilus influenza, bordetella pertusis,

korinebaterium diffteria (Depkes, 2009).

20
2.1.3 Penyaluran

Penularan ISPA adalah melalui udara yang tercemar dan masuk

ke dalam tubuh memalui saluran pernafasan. Bibit penyakit di udara

umumnya berbentul aerosol yakni suatu supensi yang melayang di

udara, dapat seluruhnya berupa bibit peyakit atau hanya sebagian

daripadanya. Aerosol merupakan bentuk dari penyebab penyakit

tersebut ada dua, yakni : droplet nuclei (sisa dari sekresi saluran

pernafasan yang dikeluarkan dari tubuh berupa droplet dan melaang

diudara) dan dust (campuran antara bibit penyakit yang melayang

diudara) (Depkes, 2008). Cara penularan utama sebagian besar ISPA

adalah melalui droplet, tapi penularan melalui kontak (termasuk

kontaminasi tangan yang diikuti oleh inkulasi tak sengaja) dan aerosol

pernafasan infeksius bebagai ukuran dan dalam jarak dekat dapat

terjadi juga sebagian pathogen (WHO, 2007)

2.1.4 Klasifikasi

Infeksi saluran pernafasan akut memiliki berbagai macam

jenisnya. Berdasarkan letaknya terbagi menjadi infeksi di saluran

pernafasan atas, sindrom croup (terdiri dari epiglottis, laring dan

trachea), dan saluran bawah (terdiri dari bronkus dan bronkoilus).

Infeksi saluran pernafasn atas terdiri dari pilek (nasofaring), faringitis,

influenza. Sindrom croup terdiri dari laryngitis akut, laryngitis

spasmodic akut, epiglotitis akut, dan trakeatitis akut. Infeksi saluran

21
pernafasan bawah terdiri dari bronchitis pneumoni, TBC, dan

Aspirasi substansi asing (Wong, 2008)

Pneumonia adalah penyakit ISPA yang tersering menyebabkan

kematian, sehingga menjadi focus dalam pemograman pemberantasan

ISPA (P2-ISPA). Berdasarkan Program Pemberantasan ISPA (P2-

ISPA) ini mengklarifikasikan ISPA menjadi 2 kelompok umur yaitu

umur dibawah 2 bulan dan golong umur 2 bulan sampai 5 tahun.

Kalsifikasi penyakit untuk golongan umur kurang 2 bulan, ada 2

klasifikasi penyakit yaitu: pneumonia berat dan bukan pneumonia.

Untuk golongan umur 2 bulan sampai 5 tahun ada 3 klasifikasi

penyakit yaitu: pneumonia berat, pneumonia, dan bukan penemonia

(Misnadiarly, 2008)

2.1.5 Manifestasi Klinis

Tanda dan gejala pada ISPA adalah batauk, sakit kepala, sakit

tenggorokan, pilek, dan pegal-pegal. Tanda dan gelaja menurut

klasifikasi adalah (misnadiary, 2008):

2.1.6.1. Pneumonia berat: ditandai secara klinis oleh adanya tarikan

dinding dada kedalam (chest indrawing).

2.1.6.2. Pneumonia: ditandai secara klinis oleh adanya nafas cepat.

2.1.6.3. Bukan pneumonia: ditandai secara klinis oleh bauk pilek, bisa

disertai demam, tanpa tarikan dinding dada kedalam, tanpa

nafas cepat. Rinofaringitis dan Tonsillitis tergolong bukan

pneumonia.

22
Tanda dan gelaja menurut menurut tingkat keparahannya

menurut keputusan menteri kesehatan (Kemenkes) RI tahun 2008:

a. ISPA ringan

ISPA ringan yaitu jika ditemukan satau atau lebih gejala-gejala

berikut:

1. Batuk

2. Pilek dangan atau tanpa demam

b. ISPA sedang

ISPA sedang yaitu jika dijumpai gejala dari ISPA ringan disertai satu

atau lebih dengan gejala-gejala sebagai berikut:

1. Pernafasan cepat

Umur 2 bulan ≤ 12 bulan : 50 kali atau lebih permenit

Umur 12 bulan ≤ 5 tahun: 40 kali atau lebih permenit

2. Wheezing (mengi) yaitu nafas bersuara

3. Sakit atau keluar cairan ditelinga

4. Bercak kemerahan (campak)

c. ISPA berat

ISPA berat ditandai dengan gejala-gejala ISPA ringan atau ISPA

sedang disertai satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut:

a. Penarikan dinding dada

b. Lubang hidung kembang kempis (dengan cukup lebar) saat

bernafas

23
c. Kesadaran menurun

d. Bibir/kulit pucat kebiruan

e. Stridor yaitu suara nafas seperti mengorok

2.1.6 Patogenesis

Infeksi pernafasan akut disebabkan karena peningkatan produksi

mukus, peningkatan ransangan otot polos bronchial, dan edema mukosa.

Aliran udara yang terhambat akan meningkatkan kerja nafas dan

menimbulkan dispneu. Patogenesis secara konkritnya yaitu adanya fektor-

faktor penyebab terdapatnya infeksi seperti prilaku terhadap lingkungan

maupun pengetahauan yang kurang terhadap pencegahan. Mikroba

menyerang anak yang memiliki imun lemah masuk saluran pernafasan

yakni dengan cara anak menghirup udara yang terdapat mikrobanya.

Mikroba masuk ke saluran pernafasan dan menginfeksi saluran pernafasan,

pertahanan tubuh dengan mengeluarkan sel-sel yang untuk membunuh

mikroba sehingga terjadi reflek batuk dan juga terdapatnya mukosa yang

berusaha membunuh hingga terjadi penumpukan sekret pada saluran

pernafasan (Muttaqin, 2008).

Pertahanan tubuh yang baik maka tubuh terus berusaha untuk

mengeluarkan mikroba dengan batuk. Pertahanan tubuh yang tidak baik,

tubuh lemah tidak dapat melawan mikroba, hingga mikroba dapat terus

menerus berjalan hingga saluran pernafasan bawah yaitu melalui bronkus

dan bronkiolus menuju alveoli. Reaksi peradangan terjadi, maka saluran

pernafasan meradang atau berwarna merah bengkak, terjadi peningkatan

24
produksi sekret sehingga tubuh merasa tidak nyaman, merasa gatal dalam

tenggorokan, batuk produktif, sesak nafas, dan penurunan batuk efektif

(Muttaqin, 2008)

Peradangan bronkus menyebar ke parenkim paru sehingga terjadi

konsidasi pada rongga alveoli dengan aksudat menyebabkan penurunan

jaringan paru dan terjadi kerusakan membrane alveolar kapiler sehingga

terjadi sesak nafas, menggunakan otot bantu nafas dan nafas tidak efektif.

Mikroba dapat menyebar keseluruh tubuh sehingga terjadi demam, tidak

nafsu makan, mual, BB menurun, lemah dan aktivitas menjadi terganggu

(Muttaqin, 2008)

2.1.7 Pencegahan

Pencegahan terjadinya ISPA yakni dengan meningkatkan daya tahan

tubuh atau memperbaiki gizi dengan makan makanan yang bergizi, minum

cukup, dan istirahat cukup. Kunjungi pelayanan kesehatan segera atau beri

pengobatan bila mulai muncul tanda-tanda ISPA. Tempat tinggal sedapat

mungkin memiliki ventilasi yang baik dan tidak terlalu penuh

penghuninya agar udara tidak sesak, serta pastikan anak mendapatkan

imunisasi lengkap (Sukandar, 2010)

Pencegahan terjadi penyakit ISPA terutama dengan menghindari

bakteri yang pathogen dengan menjaga kebersihan tangan, gunakan alat

pelindung diri terutama masker untuk menghindari droplet yang melayang

di udara jika diperkirakan ada penyebab ISPA untuk menular, tidak dekat-

dekat sama orang yang terinfaksi, ciptakan lingkungan yang bersih, hindari

25
anak dari asap yang membuat anak untuk sulit bernafas, pencegahan ini

juga dilakukan agar orang tua atau keluarga mengunakan etika batuk

dengan cara batuk menutup mulut dengan sapu tangan atau tissue, selain

itu juga untuk individu anak dilakukan peningkatan kekebalan tubuhnya

dengan imunisasi lengkap (WHO, 2007).

2.1.8 Penatalaksanaan

Penatalaksanaan dilakukan dalam pelayanan sesuai kalsifikasinya

dengan petunjuk bagan MTBS, untuk gejala batuk bukan pneumonia beri

pelega tenggorokan dan pereda batuk yang aman, jika batuk lebih dari 3

mingg rujuk untuk pemeriksaan lanjutan. Klasifikasi pneumonia diberikan

antibiotik yang sesuai, beri pelega tenggorokan dan batuk yang aman dan

pneumonia berat diberi dosis pertama antibiotic dalam penatalaksanaan

anak dengan penyakit ISPA, dengan cara (WHO, 2007):

a. Pemberian makanan

1. Berilah makanan secukupnya selama sakit

2. Tambahlah jumlahnya setelah sembuh

3. Bersihkan hidung agar tidak menganggu pemberian makanan

b. Pemberian cairan

1. Berilah anak minuman lebih banyak

2. Tingkatkan pemberian asi

c. Pemberian obat pelega tenggorokan dan pereda batuk dengan ramuan

yang aman dan sederhana.

d. Paling penting : amati tanda-tanda pneumonia

26
Bawalah kembali ke petugas kesehatan, bila nafas menjadi sesak, nafas

menjadi cepat, anak tidak mau minum, sakit anak lebih parah.

2.1.9 Faktor Resiko

Faktor resiko terjadi ISPA adalah terdapatnya bakteri-bakteri

penyebab ISPA dimana-mana dan menyerang manusia terutama

anak/balita yang sangat rentan, faktor genetic dalam keadaan umum

seperti keadaan kesehatan, sosial, dan kondisi lingkungan, sehingga faktor

ini tergantung pada orang tua yang menurunkan ketahanan tubuhnya

terhadap anak/balita, selain itu dibutuhkanpengetahuan orang tua untuk

menjaga daya tahan tubuh anak/balita. Faktor lainnya adalah makanan

yang tidak mencukupi, perumahan yang buruk, dan kepadatan penduduk

berkontribusi berkurangnya ketahanan tubuh (WHO, 2007).

Kemenkes RI (2012) dan Depkes (2004) menyatakan faktor resiko

terjadinya ISPA secara umum yaitu, faktor individu anak/balita, serta

faktor prilaku, faktor lingkungan yakni:

a. Faktor individu anak/balita

Faktor individu anak/balita atau faktor keadaan anak/balita

dimana anak/balita yang mudah sekali tekena penyakit ISPA, umur

anak, status kondisi anak saat lahir, status kekebalan tubuh, status gizi

anak, dan status kelengkapan imunisasi anak merupakan faktor anak

itu mudah sekali terkena penyakit ISPA.

27
1. Umur anak/balita

Insiden penyakit pernafasan oleh virus melonjak pada bayi

dan usia dini pada anak anak. ISPA pada umumnya infeksi pertama

yang menyerang bayi dan balita selain itu kekebalan tubuh yang

dialamioleh bayi dan balita belum terbentuk sempurna. Usia anak

dengan usia kurang dari 6 tahun beum memiliki imunitas yang

sempurna sehingga mudah terserang penyakit infeksi (Meadow dan

Simon, 2009).

2. Berat badan lahir

Bayi dengan BBLR sering mengalami penyakit gangguan

pernafasan, hal ini disebabkan oleh pertumbuhan dan

pengembangan paru yang belum sempurna dana otot pernafasan

yang masih lemah. Hal ini dikarenakan pembentukan zat antibodi

kurang sempurna sehingga lebih mudah terkena penyakit infeksi,

terutama pneumonia dan saluran pernafasan lainnya. Sadono

(2008) meneliti mengenai berat badan lahir rendah merupakan

salah satu faktor resiko dari penyakit ISPA di Kabupaten Blora

Didapatkan hasil secara statistik terbukti semakin rendah berat

badan lahir maka semakin sering pula anak mengalami penyakit

ISPA.

3. Status gizi

Gizi adalah sesuatu yang dapat mempengaruhi proses

perubahan zat makanan yang masuk kedalam tubuh dan dapat

28
mempertahankan suatu kehidupan. Macam-macam zat gizi atau zat

makanan yang diperlukan oleh tubuh manusia antara lain: a)

karbohidrat, b) protein, c) lemak, d) vitamin, e) mineral, f) air.

Penyimpangan dari kebutuhan gizi dapat menjadi sauatu resiko

penyakit maupun penyakit degenerative sehingga gizi yang

diperlukan oleh tubuh adalah gizi yang seimbang yaitu gizi yang

terpenuhi namun tidak kurang ataupun tidak lebih melainkan

cukup. Gizi yang kurang akan mempengaruhi kesehatan anak

karena dengan adanya gizi kurang anak akan mudah rentan suatu

penyakit terutama penyakit infeksi. Gizi yang cukup dapat

mempertahankan imunitas sebagai perlawanan dari suatu penyakit

(Persagi, 2009)

Balita dengan gizi yang kurang akan lebih mudah terserang

ISPA dibandingkan balita dengan gizi normal karena faktor daya

tahan tubuh yang kurang. Penyakit infeksi sendiri akan

menyebabkan balita tidak mempunyai nafsu makan dan

mengakibatkan kekurangan gizi. Keadaan gizi kurang, balita lebih

mudah terserang “ISPA berat” bahkan serangannya lebih lama

(Depkes, 2009)

4. Imunisasi

Imunisasi adalah upaya yang dilakukan untuk memberikan

kekebalan (imunitas) pada bayi atau anak sehingga terhindar dari

penyakit tertentu. Indonesia memiliki jenis imunisasi yang di

29
wajibkan oleh pemerintah (imunisasi dasar) yakni imunisasi BCG,

Hepatitis B, Polio, DPT, dan campak. Imunisasi dasar ini diberikan

pada anak sesuai dengan usianya, anak yang telah mendapatkan

imunisasi lengkap tubuhnya akan bertambah kekebalan tubuhnya

sehingga tidak mudah terserang penyakit-penyakit tertentu yang

sering dialami oleh anak-anak (Hidayat, 2009).

Imunisasi dasar memiliki fungsinya masing-masing untuk

kebal terhadap suatu penyakit. Penyakit infeksi yang sering

melanda anak terutama penyakit ISPA juga dapat dikurang

kejadiannya bilamana anak mendapatkan imunisasi secara lengkap

(Sadono, 2008).

b. Faktor lingkungan

Kondisi lingkungan (misalnya, polutan udara, kepadatan anggota

keluarga, keterbatasan tempat penukaran udara bersih (ventilasi),

kelembabpan, kebersihan, musim, temperatur) ketersediaan dan

evektivitas pelayanan kesehatan dan langkah pencegahan infeksi untuk

mencegah penyebaran (misalnya, vaksin akses terhadap fasilitas

pelayanan kesehatan, kapasitas ruang isolasi) ISPA mudah sekali

tersebar, maka lingkungan yang seperti ini merupakan faktor

terjangkitnya penyakit ISPA (WHO, 2007).

1. Pencemaran udara dalam rumah

Pajanan didalam ruangan terhadap polusi juga sangat penting

karena anak anak sebagian besar berada dalam rumah, pajanan

30
didalam ruangan semua tidak berasal dari sumber emisi didalam

ruangan, tetapi pembakaran bahan bakar biomassa khususnya pada

ventilasi dapur/kompor yang buruk dan asap tembakau

dilingkungan sering kali merupakan penyebab utama penyakit

saluran pernafasan. Pajanan terhadap gas emisi industry atau jalan

raya juga merupakan ancaman yang sangat signifikan (WHO,

2008)

Pencemaran udara didalam ruangan bisa saja terjadi asap dari

luar ruangan yang masuk kedalam ruangan selain itu juga dapat

disebabkan oleh asap rokok yang berada didalam ruangan karena

satu batang rokok sama saja menghirup 0,5 mikrogram timah hita,

(Pb) dan carbonmonixide sebanyak 20 ppm sehingga dapat

berbahaya bagi saluran pernafasan (Sitepoe, 2008)

Asap rokok dan asap hasil pembakaran bahan bakar untuk

memasak dengan kosentrasi tinggi dapat merusak mekanisme

pertahanan peru sehingga akan mudah timbulnya ISPA. Hal ini

dapat terjadi pada rumah yang ventilasinya kurang dan dapur

terletak dalam rumah, besatu dengan kamar tidur, ruang tempat

bayi dan balita (Kemenkes, 2012)

2. Ventilasi

Ventilasi adalah proses memasukkan dan menyebarkan udara

dari dalam keluar yang telah diolah sebagai daur ulang, ventilasi

udara yang dibuat serta pencahayaan didalam ruangan sangat

31
diperlukan karena akan mengurang poulasi asap yang ada dalam

ruangan sehingga dapat mencegah seseorang menghirup asap

tersebut yang lama kelamaan bisa menyebabkan terkena penyakit

ISPA. Luas penghawaan bisa menyebabkan atau ventilasi rumah

yang permanen minimal 10% dari luas lantai (WHO, 2007)

3. Kepadatan hunian rumah

Kepadatan hunian rumah menimbulkan perubahan suhu ruangan

yang keluar dalam tubuh disebabkan oleh pengeluaran panas badan

yang akan meningkatkan kelebabpan akibat uap air dari pernafasan

tersebut. Semakin banyak jumlah penghuni ruangan tidur atau

dengan penghuni lebih dari 2 orang dalam ruang tidur maka sering

cepat udara ruangan mengalami pencemaran gas atau bakteri,

selain itu juga memperhambat proses penukaran gas udara bersih

yang dapat menyebabkan penyakit ISPA (Sukandar, 2010)

c. Faktor perilaku

Perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas organism atau

mahkluk hidup yang bersangkutan. Perilaku sehat adalah kegiatan

yang dilakukan berkaitan dengan upaya mempertahankan dengan

meningkatkan kesehatan. Faktor perilaku dalam pencegahan dan

penanggulangan penyakit ISPA pada bayi dan balia alam hal ini adalah

praktek penangana ISPA di keluarga yang baik dilakukan oleh ibu,

bapak ataupun anggota keluarga lainnya. Peran aktif keluarga atau

masyarakat dalam menangani ISPA sangat penting karena penyakit

32
ISPA merupakan penyakit yanga ada sehari hari dimasyarakat atau

keluarga dan dapat menular. Hal ini mendapatkan perhatian serius

karena penyakit ini banyak menyerang balita, sehingga balita dan

anggota keluarganya yang sebagian besar dekat dengan balita dengan

ISPA mengetahui dan terampil dalam menangani penyakit ispa ketika

anaknya sakit (Kemenkes, 2012)

2.2 Merokok

2.2.1 Pengertian Merokok

Merokok merupakan aktifitas membakar tembakau kemudian

menghisap asapnya menggunakan rokok maupun pipa. Definisi yang

hamper sama dikemukakan oleh Sari, Ari, Ramdhani, dkk yang

mengatakan bahwa merokok merupakan aktifitas menghirup atau

menghisap asap rokok menggunakan pipa atau rokok. Sumarno

menjelaskan 2 cara merokok yang umum dilakukan, yaitu: (1)

menghisap lalu menelan asap rokok ke dalam paru-paru dan

dihembuskan, (2) cara ini dilakukan dengan lebih moderat yaitu hanya

menghisap sampai mulut lalu dihembuskan melalui atau hidung.

(Sitepoe, 2008)

Definisi merokok juga yaitu menghisap asap tembakau yang

dibakar ke dalam tubuh lalu menghembuskannya keluar. Sedangkan

Levy mengatakan bahwa perilaku merokok adalah kegiatan membakar

gulungan tembakau lalu menghisapnya sehingga menimbulkan asap

yang dapat terhirup oleh orang-orang disekitarnya. Berdasarkan

33
definisi merokok yang telah dikemukakan di atas, disimpulkan bahwa

merokok merupakan suatu aktifitas membakar gulungan tembakau

yang berbentuk rokok ataupun pipa lalu menghisap asapnya kemudian

menelan atau menghembuskannya keluar melalui mulut atau hidung

sehingga dapat juga terhisap oleh orang-orang disekitarnya.

(Armstrong,2011)

Rokok adalah salah satu produk tembakau yang dimaksudkan

untuk dibakar, dihisap, dan atau dihirup termasuk rokok kretek, rokok

putih, cerutu, atau bentuk lainnya yang dihasilkan dari tanaman

Nicotiana Tabacum, Nicotiana Rustica dan spesies lainnya atau

sintetisnya yang asapnya mengandung nikotin dan tar, dengan atau

tanpa bahan tambahan (Kemenkes, 2012).

Asap rokok tidak hanya membahayakan perokok, tetapi juga

orang lain disekitar perokok (perokok pasif). Asap rokok terdiri dari

asap rokok utama (main stream). Yang mengandung 25% kadar bahan

berbahaya dan asap rokok samplingan (side stream) yang mengandung

75% kadar berbahaya. Asap rokok mengandung lebih dari 4000 jenis

senyawa kimia. Sekitar 400 jenis diantaranya merupakan zat beracun

(berbahaya) dan 69 jenis tergolong zat penyebab kanker (Karsiogenik).

(Depkes RI, 2008)

Bayi dan anak para perokok yang terpapar asap rokok orang lain

akan menderita sudden infant death syndrome, infeksi saluran

pernapasan bawah (ISPA), asma, bronchitis dan infeksi telinga bagian

34
tengah yang dapat berlanjut hilangnya pendengaran. Mereka juga akan

menderita terhambatnya pertumbuhan fungsi paru, yang akan

menyebabkan berbagai penyakit paru ketika dewasa. Anak perokok

mempunyai resiko lebih besar untuk mengalami kesulitan belajar,

masalah perilaku seperti hiperaktif dan penurunan konsentrasi belajar

dibanding dengan orang tua yang tidak merokok (Kemenkes, 2012).

2.2.2 Perilaku Merokok

Perilaku merokok adalah sesuatu yang dilakukan seseorang

berupa membakar dan menghisapnya serta dapat menimbulkan asap

yang dapat terisap oleh orang-orang disekitarnya. Sedangkan menurut

Aritonang merokok adalah perilaku yang komplek, karena merupakan

hasil interaksi dari aspek kognitif, kondisi psikologis, dan keadaan

fisiologis. (Sulistyo, 2011)

Perilaku merokok merupakan perilaku yang dilakukan seseorang

berupa membakar dan menghisapnya serta dapat menimbulkan asap

yang dapat terisap oleh orang-orang disekitarnya. Dengan semakin

buruknya perilaku merokok orang tua akan semakin membahayakan

kesehatan anak yang ada didalam rumah, dirinya sendiri serta orang

disekitarnya (Amstrong ,2011)

Perilaku merokok adalah suatu aktivitas atau tindakan menghisap

gulungan tembakau yang tergulung kertas yang telah dibakar dan

menghembuskannya keluar sehingga dapat menimbulkan asap yang

dapat terhisap oleh orang-orang disekitarnya serta dapat menimbulkan

35
dampak buruk baik bagi perokok itu sendiri maupun orang-orang

disekitarnya (Nasution, 2013)

Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa perilaku

merokok adalah suatu kegiatan atau aktivitas membakar rokok

kemudian menghisapnya dan menghembuskannya keluar yang dapat

menimbulkan asap yang dapat terisap oleh orang lain dan merupakan

pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang berkaitan dengan

rokok dan merokok

2.2.2.1 Aspek-Aspek Perilaku Merokok

Aspek-aspek perilaku merokok menurut Aritonang (Nasution,

2013) yaitu:

1. Fungsi merokok dalam kehidupan sehari-hari

Fungsi merokok dapat menggambarkan perasaan yang

dialami oleh perokok, seperti perasaan positif ataupun

negatif selain itu merokok juga berkaitan dengan masa

mencari jati diri pada remaja. Perasaan positif seperti

mengalami perasaan yang tenang dan nyaman ketika

mengkonsumsi rokok.

2. Intensitas merokok

Smet mengklasifikasikan perokok berdasarkan

banyaknya rokok yang dihisap, yaitu :

a) Perokok berat yang menghisap lebih dari 15 batang

rokok dalam sehari.

36
b) Perokok sedang yang menghisap 5-14 batang rokok

dalam sehari.

c) Perokok ringan yang menghisap 1-4 batang rokok

dalam sehari

3. Tempat merokok

Tipe perokok berdasarkan tempat ada dua, yaitu :

a) Merokok di tempat-tempat umum atau ruang publik

Kelompok homogen (sama-sama perokok), secara

bergerombol mereka menikmati kebiasaannya.

Umumnya perokok masih menghargai orang lain,

karena itu perokok menempatkan diri di smoking

area. Kelompok yang heterogen (merokok ditengah

orang-orang lain yang tidak merokok, anak kecil,

orang jompo dan orang sakit.

b) Merokok di tempat-tempat yang bersifat pribadi

Kantor atau di kamar tidur pribadi. Perokok memilih

tempat, tempat seperti ini sebagai tempat merokok

digolongkan kepada individu yang kurang menjaga

kebersihan diri, merasa gelisah yang mencekam.

Toilet. Perokok jenis ini dapat digolongkan sebagai

orang yang suka berfantasi.

37
2.2.2.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Merokok

Perilaku merokok merupakan fungsi dari lingkungan dan

individu. Artinya perilaku merokok selain disebabkan faktor-

faktor dari dalam diri juga disebabkan oleh faktor lingkungan,

Lewin (Komalasari dan Helmi, 2010).

Faktor yang mempengaruhi seseorang merokok terbagi

dua, yaitu faktor dari dalam (internal) dan faktor dari luar

(eksternal) menurut Mu’tadin dan Hansen tahun 2013 (dalam

Nasution, 2013).

1. Faktor Dari Dalam (Internal)

a) Faktor Kepribadian

Individu mencoba untuk merokok karena alasan ingin

tahu atau ingin melepaskan dari rasa sakit atau

kebosanan.

b) Faktor Biologis

Banyak penelitian menunjukkan bahwa nikotin dalam

rokok merupakan salah satu bahan kimia yang berperan

penting pada ketergantungan merokok. Pendapat ini

didukung Aditama yang mengatakan nikotin dalam

darah perokok cukup tinggi.

c) Faktor Psikologis

Merokok dapat bermakna untuk meningkatkan

konsentrasi, menghalau rasa kantuk, mengakrabkan

38
suasana sehingga timbul rasa persaudaraan, juga dapat

memberikan kesan modern dan berwibawa, sehingga

bagi individu yang sering bergaul dengan orang lain,

perilaku merokok sulit dihindari.

d) Konformitas teman sebaya

Kebutuhan untuk diterima kelompok teman sebaya

sering kali membuat remaja berbuat apa saja agar dapat

diterima oleh kelompoknya. Semakin tinggi

konformitas maka semakin tinggi perilaku merokok.

e) Faktor Usia

Orang yang merokok pada usia remaja semakin

bertambah dan pada usia dewasa juga semakin banyak.

f) Faktor Jenis Kelamin

Pengaruh jenis kelamin zaman sekarang sudah tidak

terlalu berperan karena baik pria maupun wanita

sekarang sudah merokok.

2. Faktor Dari Luar (Eksternal)

a) Pengaruh Orang tua

Menurut Baer dan Corado individu perokok adalah

individu yang berasal dari keluarga tidak bahagia, orang

tua tidak memperhatikan anak-anaknya dibandingkan

dengan individu yang berasal dari lingkungan rumah

tangga yang bahagia. Perilaku merokok lebih banyak

39
didapati pada individu yang tinggal dengan orang tua

tunggal (Single Parent). Individu wanita yang

berperilaku merokok apabila ibunya merokok

dibandingkan ayahnya yang merokok (Nasution, 2013).

b) Pengaruh Teman

Berbagai fakta mengungkapkan semakin banyak

individu merokok maka semakin banyak teman-teman

individu itu yang merokok, begitu pula sebaliknya

(Nasution, 2013).

c) Pengaruh Iklan

Melihat iklan di media massa dan elektronik yang

menampilkan gambaran bahwa perokok adalah lambang

kejantanan atau glamour membuat seseorang seringkali

terpicu untuk mengikuti perilaku yang ada di iklan

tersebut (Nasution, 2013).

d) Faktor Lingkungan Sosial

Lingkungan sosial berpengaruh terhadap sikap,

kepercayaan, dan perhatian individu pada perokok.

Seseorang berperilaku merokok dengan memperhatikan

lingkungan sosialnya. Kebiasaan budaya, kelas sosial,

tingkat pendidikan, dan gengsi pekerjaan akan

mempengaruhi perilaku merokok pada individu. Dalam

bidang politik, Menambahkan kesadaran umum

40
berakibat pada langkah-langkah politik yang bersifat

melindungi bagi orang-orang yang tidak merokok dan

usaha melancarkan kampanye kampanye promosi

kesehatan untuk mengurangi perilaku merokok.

Merokok menjadi masalah yang bertambah besar bagi

negara-negara berkembang termasuk Indonesia.

(Nasution, 2013)

2.2.2.3 Kandungan rokok yang berbahaya bagi kesehatan

Rokok terbuat dari tembakau yang diperoleh dati

tanaman Nicotiana Tabacum L. Tembakau dipergunakan

sebagai bahan sigaret, cerutu, tembakau untuk pipa serta

pemakaian oral. Rokok yang tersebar merupakan suatu pabrik

kimia yang menghasilkan lebih kurang 4000 komponen akibat

berbagai proses yang terjadi (Mu’tadin, 2002).

Komponen ini dapat dibagi menjadi dua golongan besar yaitu

(Mu’tadin, 2002):

a. Komponen gas

komponen gas adalah bagian yang dapat melewati filter

antara lain CO, CO2, oksida-oksida nitrogen, amonia,

gas-gas N-nitrosamine, hydrogen sianida, sianogen,

senyawa-senyawa belerang, aldehid dan keton;

41
b. komponen padat

Komponen padat adalah bagian yang tertinggal pada filter

berupa nikotin dan tar.

Berikut ini adalah beberapa bahan kimia pada rokok

yang paling berpengaruh pada kesehatan antara lain:

1. Karbon Monoksida (CO)

Bahan kimia ini sejenis gas yang tidak mempunyai bau.

Unsur ini dihasilkan oleh pembakaran yang tidak sempurna

dari unsur zat arang atau karbon yang sangat beracun.

Oksigen dan karbon monoksida dapat dibawa oleh

homoglobin ke dalam otot-otot seluruh tubuh. Menurut

Tandra (2003), nikotin mengganggu sistem saraf simpatis

dengan akibat meningkatnya kebutuhan oksigen miokard.

Bahan ini, selain meningkatkan kebutuhan oksigen, juga

mengganggu suplai oksigen ke otot jantung (miokard)

sehingga merugikan kerja miokard. Selain menyebabkan

ketagihan merokok, nikotin juga merangsang pelepasan

adrenalin, meningkatkan frekuensi denyut jantung, tekanan

darah, kebutuhan oksigen jantung, serta menyebabkan

gangguan irama jantung. Oleh karena itu, semakin rokok

dihisap, semakin hebat jantung dipacu. Nikotin juga

mengganggu kerja saraf, otak, dan banyak bagian tubuh

lainnya. Nikotin mengaktifkan trombosit dengan akibat

42
timbulnya adhesi trombosit (penggumpalan) ke dinding

pembuluh darah. (Tandra, 2003).

2. Nikotin

Bahan kimia ini merupakan cairan berminyak yang tidak

berwarna dan dapat membuat rasa pedih pada mata. Zat ini

merupakan senyawa pirolidin yang terdapat dalam Nicotina

tabacum, Nicotina rushea dan spesies lainnya atau

sintetisnya yang bersifat adiktif dan dapat mengakibatkan

ketergantungan. Nikotin juga menghalangi kontraksi rasa

lapar. Hal itu menyebabkan seseorang bisa merasakan tidak

lapar karena merokok dan itu juga sebabnya kalau orang

berhenti merokok akan menjadi gemuk karena dia merasa

lapar dan ingin makan terus. Nikotin juga berpengaruh

terhadap pembuluh darah yakni merusak endotel pembuluh

darah dan terhadap trombosit dengan meningkatkan

agregasi trombosit. Nikotin juga diduga sebagai penyebab

ketagihan merokok (Tandra, 2003).

3. Tar

Lebih dari 2000 zat kimia baik berupa gas, maupun partikel

padat terkandung dalam asap rokok. Diantara zat – zat

tersebut ada yang mempunyai efek karsinogen. Tar adalah

komponen dalam asap rokok yang tinggal sebagai sisa

sesudah dihilangkan nikotin dan tetesan – tetesan

43
cairannya. Sebatang rokok menghasilkan 10 – 30 mg tar.

Cerutu dan rokok pipa justru menghasilkan tar yang lebih

banyak. Tar merupakan kumpulan berbagai zat kimia yang

berasal dari daun tembakau sendiri, maupun yang

ditambahkan pada tembakau dalam proses pertanian dan

industri sigaret serta bahan pembuat rokok lainnya. Kadar

tar yang terkandung dalam rokok inilah yang berhubungan

dengan resiko timbulnya kanker karena tar mempunyai efek

karsinogen (Tandra, 2003).

Berdasarkan uraian di atas maka dapat diambil kesimpulan

bahwa faktor faktor yang mempengaruhi seseorang untuk merokok ada

dua, yaitu faktor dari dalam diri individu seperti kepribadian, biologis,

psikologis, usia dan jenis kelamin sedangkan faktor dari luar individu

meliputi pengaruh orang tua, teman, iklan, dan lingkungan sosial.

2.2.3 Balita

1. Pengertian Balita

Anak balita adalah anak yang telah menginjak usia di atas satu

tahun atau lebih popular dengan pengertian usia anak di bawah

lima tahun. Menurut Sutomo. B. Balita adalah istilah umum bagi

anak usia 1-3 tahun (batita) dan anak prasekolah (3-5 tahun). Saat

usia batita, anak masih tergantung penuh kepada orang tua untuk

melakukan kegiatan penting, seperti mandi, buang air dan makan.

44
Perkembangan berbicara dan berjalan sudah bertambah baik.

Namun kemampuan lain masih terbatas. (Anggraeni. 2010)

Masa balita merupakan periode penting dalam proses tumbuh

kembang manusia. Perkembangan dan pertumbuhan di masa itu

menjadi penentu keberhasilan pertumbuhan dan perkembangan

anak di periode selanjutnya. Masa tumbuh kembang di usia ini

merupakan masa yang berlangsung cepat dan tidak akan pernah

terulang, karena itu sering disebut golden age atau masa keemasan.

(Anggraeni. DY, 2010)

2. Karakteristik Balita

Karakteristik, balita terbagi dalam dua kategori yaitu anak

usia 1 – 3 tahun (batita) dan anak usia prasekolah. Anak usia 1-3

tahun merupakan konsumen pasif, artinya anak menerima makanan

dari apa yang disediakan ibunya. Laju pertumbuhan masa batita

lebih besar dari masa usia pra-sekolah sehingga diperlukan jumlah

makanan yang relatif besar. Namun perut yang masih lebih kecil

menyebabkan jumlah makanan yang mampu diterimanya dalam

sekali makan lebih kecil dari anak yang usianya lebih besar. Oleh

karena itu, pola makan yang diberikan adalah porsi kecil

dengan frekuensi sering (Uripi,2014)

Pada usia pra-sekolah anak menjadi konsumen aktif. Mereka

sudah dapat memilih makanan yang disukainya. Pada usia ini anak

mulai bergaul dengan lingkungannya atau bersekolah playgroup

45
sehingga anak mengalami beberapa perubahan dalam perilaku.

Pada masa ini anak akan mencapai fase gemar memprotes sehingga

mereka akan mengatakan “tidak” terhadap setiap ajakan. Pada

masa ini berat badan anak cenderung mengalami penurunan, akibat

dari aktivitas yang mulai banyak dan pemilihan maupun penolakan

terhadap makanan. Diperkirakan pula bahwa anak perempuan

relative lebih banyak mengalami gangguan status gizi bila

dibandingkan dengan anak laki-laki (BPS, 2010).

3. Tumbuh Kembang Balita

Secara umum tumbuh kembang setiap anak berbeda-beda,

namun prosesnya senantiasa melalui tiga pola yang sama, yakni:

a) Pertumbuhan dimulai dari tubuh bagian atas menuju bagian

bawah (sefalokaudal).

Pertumbuhannya dimulai dari kepala hingga ke ujung kaki,

anak akan berusaha menegakkan tubuhnya, lalu dilanjutkan

belajar menggunakan kakinya.

b) Perkembangan dimulai dari batang tubuh ke arah luar.

Contohnya adalah anak akan lebih dulu menguasai penggunaan

telapak tangan untuk menggenggam, sebelum ia mampu meraih

benda dengan jemarinya.

Setelah dua pola di atas dikuasai, barulah anak belajar

mengeksplorasi keterampilan-keterampilan lain. Seperti

melempar, menendang, berlari dan lain-lain (Uripi, 2014).

46
Pertumbuhan pada bayi dan balita merupakan gejala

kuantitatif. Pada konteks ini, berlangsung perubahan ukuran

dan jumlah sel, serta jaringan intraseluler pada tubuh anak.

Dengan kata lain, berlangsung proses multiplikasi organ tubuh

anak, disertai penambahan ukuran-ukuran tubuhnya. Hal ini

ditandai oleh:

1. Meningkatnya berat badan dan tinggi badan.

2. Bertambahnya ukuran lingkar kepala.

3. Muncul dan bertambahnya gigi dan geraham.

4. Menguatnya tulang dan membesarnya otot-otot.

5. Bertambahnya organ-organ tubuh lainnya, seperti rambut,

kuku, dan sebagainya (Uripi, 2014).

Penambahan ukuran-ukuran tubuh ini tentu tidak harus

drastis. Sebaliknya, berlangsung perlahan, bertahap, dan terpola

secara proposional pada tiap bulannya. Ketika didapati

penambahan ukuran tubuhnya, artinya proses pertumbuhan

berlangsung. Sebaliknya jika yang terlihat gejala penurunan

ukuran, itu sinyal terjadinya gangguan atau hambatan proses

pertumbuhan (Uripi, 2014).

Cara mudah mengetahui baik tidaknya pertumbuhan bayi dan

balita adalah dengan mengamati grafik pertambahan berat dan

tinggi badan yang terdapat pada Kartu Menuju Sehat

47
(KMS). Dengan bertambahnya usia anak, harusnya bertambah pula

berat dan tinggi badannya. Cara lainnya yaitu dengan pemantauan

status gizi. Pemantauan status gizi pada bayi dan balita telah

dibuatkan standarisasinya oleh Harvard University dan Wolanski.

Penggunaan standar tersebut di Indonesia telah dimodifikasi agar

sesuai untuk kasus anak Indonesia (Anggraeni. DY, 2010)

Perkembangan pada masa balita merupakan gejala kualitatif,

artinya pada diri balita berlangsung proses peningkatan dan

pematangan (maturasi) kemampuan personal dan kemampuan

sosial. Kemampuan personal ditandai pendayagunaan segenap

fungsi alat-alat pengindraan dan sistem organ tubuh lain yang

dimilikinya. Kemampuan fungsi pengindraan meliputi ;

1. Penglihatan, misalnya melihat, melirik, menonton, membaca

dan lain-lain.

2. Pendengaran, misalnya reaksi mendengarkan bunyi, menyimak

pembicaraan dan lain-lain.

3. Penciuman, misalnya mencium dan membau sesuatu.

4. Peraba, misalnya reaksi saat menyentuh atau disentuh, meraba

benda, dan lain-lain.

5. Pengecap, misalnya menghisap ASI, mengetahui rasa makanan

dan minuman.

48
6. Tangan, misalnya menggenggam, mengangkat, melempar,

mencoret-coret, menulis dan lain-lain.

7. Kaki, misalnya menendang, berdiri, berjalan, berlari dan lain-

lain.

8. Gigi, misalnya menggigit, mengunyah dan lain-lain.

9. Mulut, misalnya mengoceh, melafal, teriak, bicara,menyannyi

dan lain-lain.

10. Emosi, misalnya menangis, senyum, tertawa, gembira, bahagia,

percaya diri, empati, rasa iba dan lain-lain.

11. Kognisi, misalnya mengenal objek, mengingat, memahami,

mengerti, membandingkan dan lain-lain.

12. Kreativitas, misalnya kemampuan imajinasi dalam membuat,

merangkai, menciptakan objek dan lain-lain.

2.2.4. Mekanisme Tubuh Balita Terhadap Paparan Asap Rokok.

Dalam penelitiannya menjelaskan mekanisme bagaimna nikotin

dalam asap rokok dapat menyebabkan depresi sistem imun tubuh.

Berikut tentang meanisme tersebut (Kim-Nji, 2006):

2.2.4.1. Paparan asap rokok dan fungsi fagositosis.

Nikotin pada asap rokok akan menyebabkan penekanan

atau menghambat mekanisme fagositosis yang dilakukan oleh

neuttrofil atau menosit melalui superoksida anion, peroksida,

49
dan produksi oksigen, radikal. Fagositosis sel paru alveolar

secara signifikan berkurang pada seorang perokok

dibandingkan dengan bukan perokok. Penelitian ini

menyebutkan bahwa aktivitas mengunyah tembakau dapat

menghambat aktivitas fagosit dari neutrofil dan monosit dari

mukosa mulut

2.2.4.2. Paparan asap rokok, fungsi sel T.

Kandungan nikotin pada asap rokok telah terbukti

mampu menekan selproduksi sel Thl (bertanggung jawab

untuk produksi Ig) namun selektif meransang fungsi sel Th2

untuk produksi berbagai sitokin atau imterleukin, seperti IL-4,

1L-5, 1L-10, dan IL-13. Produksi sitokin ini memberikan efek

timbulnya manifestasi klinis yang sering terlihat pada penyakit

atopik seperti asma, eksim, rhinitis, ISPA, alergi dan

gangguan lainnya

2.2.4.3. Paparan asap rokok dan perekat bakteri pada epitel mukosa

Asap rokok yang masuk kedalam paru-paru

menyebabkan penempelan komponen rokok secara pasif pada

epitel saluran pernafasan yang dapat menyebabkan

peningkatan perlekatan bakteri pathogen. Nikotin juga dapat

menyebabkan penghambatan atau penekanan saluran

pernafasan yang dilakukan oleh silia-silia.

2.3 Kerangka Konsep

50
Ventilasi <10%
dari luas kantai
rumah

Asap rokok Kelembapan udara


meningkat
Lingkungan Kepadatan
hunian

Bahan bakar
masak
Pertumbuhan mikro
Faktor
organisme penyebab
yang
Perilaku Usia dibawah ISPA (virus, bakteri,
mempen
Merokok 5 tahun riketsia atau protozoa
garuhi
(bayi, balita) meningkat

Status gizi
buruk
Anak rentan
Individu terhadap
Status
anak infeksi
imunisasi
tidak lengkap

Berat badan
lahir rendah ISPA

Skema 2.2 Kerangka Konsep Hubungan Perilaku Merokok Orang Tua


Dengan Kejadian ISPA Pada Balita
Sumber: Depkes ( 2004), WHO ( 2007), Kemenkes (2017)

51
2.3.3 Hipotesa Penelitian

1. Ho

Jika p value kecil dari 0,005 Ho ditolak maka akan ada

hubungan bermakna antara perilaku merokok orang tua dengan

kejadian ISPA pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas Bulang

Kota Batam 2017. Jika p value besar dari 0,005 maka Ho gagal

ditolak sehingga tidak ada hubungan bermakna antara perilaku

merokok orang tua dengan kejadian ISPA pada balita di

Wilayah Kerja Puskesmas Bulang Kota Batam 2017

52
BAB 3

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan

metode analitik dan pendekatan cross sectional dimana variabel independen

(prilaku merokok) dan variabel dependen (kejadian ISPA pada balita),

dikumpulkan dan diteliti pada waktu bersamaan (Notoatmodjo, 2010).

3.2 Populasi dan Sampel Penelitian

3.2.1 Populasi Penelitian

Populasi merupakan keseluruhan karakter yang mungkin secara

lengkap dan jelas yang ingin diteliti (Notoatmodjo, 2010).

a) Populasi Target

Populasi target adalah populasi yang memenuhi kriteria

sampling dan menjadi sasaran akhir penelitian (Nursalam, 2009).

Populasi target pada penelitian ini adalah semua Balita Di

Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Bulang Tahun 2017 Di

Kota Batam.

b) Populasi terjangkau

Populasi terjangkau adalah populasi yang memenuhi

kriteria penelitian dan biasanya dapat dijangkau pada penelitian

ini ialah semua Balita Di wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan

Bulang Tahun 2017 Kota Batam yang berjumlah 877 jiwa balita

53
3.2.2 Sampel Penelitian

Sampel penelitian adalah bagian populasi yang diteliti atau

sebagian jumlah dari karakteristik yang dimiliki oleh populasi

(Notoatmodjo, 2010).

a. Kriteria Inklusi dan Eksklusi

1) Kriteria Inklusi

Kriteria inklusi pada pengambilan sampel adalah sebagai

berikut:

a) Orang tua balita yang merokok di wilayah kerja

Puskesmas kecamatan bulang Tahun 2017

b) Orang tua yang mempunyai balita yang bersedia

menjadi responden

c) Orang tua yang mempunyai balita yang bisa bekerja

sama untuk menjawab kuesioner yang peneliti berikan

2) Kriteria Eksklusi

Adapun kriteria eksklusi dalam penelitian ini ialah:

a) Orang tua balita Tidak berada di wilayah kerja

Puskesmas kecamatan bulang Tahun 2017

b) Orang tua balita yang merokok

c) Tidak berada di tempat penelitian

54
3) Besaran Sampel

Besar sampel dalam penelitian ini menggunakn rumus

besar sampel. Besar sampel minimal di hitung dengan rumus

cross sectional n (proporsi binomunal ) Heru Subaris

Kasjono (2009).

α
z 2 1 − 2 𝜌(1 − 𝜌)N
𝑛= α
𝑑 2 (N − 1) + z 2 1 − 2 𝜌(1 − 𝜌)

Keterangan :

N = Besar populasi

n = Besar sampel
α
z2 1 − 2 = Nilai standar (1,96 = α = 5%)

d = penyimpangan yang masih dapat ditolerir

10% (0,1)

p = probabilitas suatu kejadian (0,5)

α
z 2 1 − 2 𝜌(1 − 𝜌)N
𝑛= α
𝑑 2 (N − 1) + z 2 1 − 2 𝜌(1 − 𝜌)

1.962 x0,5x(1 − 0,5)x877


𝑛=
0,01x877 + 3,84x0,5x0,5

3,84x0,5x0,5x587
𝑛=
0,01x877 + 3,84x0,5x0,5

563.5
𝑛=
8.77 + 0,96

563.5
𝑛=
9.73

𝑛 = 58

55
Jadi besar sampel dalam penelitian ini adalah 58 jiwa

balita di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Bulang Tahun

2017 Kota Batam

4) Teknik Pengambilan Sampel Penelitian

Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan cara

purposive sampling yang memenuhi criteria inklusi.

Pengambilan sampel harus didasarkan atas pemenuhan criteria

inklusi seperti: orang tua balita diwilayah kerja puskesmas

kecamatan bulang, orang tua balita yang bersedia menjadi

responden, orang tua yang bisa bekerja sama untuk menjawab

kuesioner yang peneliti berikan.

3.3 Lokasi dan waktu penelitian

3.3.1 Lokasi penelitian

Lokasi Penelitian dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan

Bulang Kota Batam Tahun 2017.

3.3.2 Waktu penelitian

Waktu Penelitian dilakukan dari tanggal 06 September sampai 10

September Tahun 2017.

56
3.4 Kerangka Penelitian

Variabel Bebas Variabel Terikat

Perilaku Merokok Kejadian ISPA Pada


Orang Tua Balita

Skema 3.1 Kerangka Kerja Hubungan Perilaku Merokok Orang Tua Dengan
Kejadian ISPA Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas
Bulang Kota Batam Tahun 2017

3.5 Variabel penelitian

Jenis variabel dalam penelitian ini yaitu :

3.5.1 Variabel Bebas

Variabel Bebas atau variabel independent merupakan variabel

stimulus yang menentukan variabel lain. Variabel ini yang

mempengaruhi dan menjadi penyebab timbulnya variabel dependent

yang variable bebasnya adalah perilaku merokok (Sugiyono, 2010).

3.5.2 Variabel Terikat

Variabel terikat atau variabel dependent merupakan variabel

output. Variabel terikat ini merupakan variabel yang dipengaruhi

sebagai akibat dari variabel bebas dan variabel bebasnya adalah

kejadian ISPA pada bayi (Saryono, 2009)

57
3.6 Prosedur Penelitian

Prosedur dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

3.6.1 Tahap Persiapan

a. Pengajuan judul

b. Pembuatan proposal penelitian

c. Studi pendahuluan

d. Konsultasi atau bimbingan penelitian

e. Izin sidang proposal dan penyerahan proposal penelitian

f. Seminar proposal penelitian

g. Pembuatan izin penelitian di wilayah kerja Puskesmas

Kecamatan Bulang Tahun 2017

3.6.2 Tahap Pelaksana

a. Peneliti mengurus perizinan tempat penelitian dengan

mengajukan surat izin peneliti dari STIKes Mitra Bunda Persada

Batam ditujukan ke Kantor Dinas Kesehatan Kota Batam.

b. Memberikan informasi penelitian dengan jelas kepada responden

c. Mendapatkan informed consent dari responden

3.6.3 Tahap Akhir

a. Menyusun hasil laporan penelitian

b. Sidang hasil penelitian

58
3.7 Pengumpulan Data

3.7.1 Teknik Pengumpulan Data

Data untuk penelitian ini data yang dikumpulkan merupakan data

primer dan data sekunder yaitu data tentang Balita yang menderita

sakit ISPA di wilayah kerja puskesmas Kecamatan Bulang Tahun

2017. Dan data dari Kantor Dinas Kesehatan Kota Batam.

3.7.2 Instrumen Pengumpulan Data

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner.

Kuesioner adalah alat ukur yang berupa angket atau kuesioner dengan

beberapa pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam kuesioner

mampu menggali hal-hal yang bersifat rahasia. Pembuatan kuesioner

ini mengacu oada parameter yang sudah dibuat oleh peneliti sesuai

dengan penelitian yang akan dilakukan (Hidayat, 2010)

3.7.1.1 Instrumen Variabel Independen

Instrument penelitian yang digunakan untuk mengukur

perilaku merokok yaitu kuesioner dukungan keluarga dengan

jumlah pertanyaan sebanyak 10 pertanyaan, dengan item

pertanyaan nomor 1 sampai 10 untuk jawaban “Ya” diberi

skor 1, untuk jawaban “Tidak” diberi skor 0.

3.7.1.2 Instrumen Variabel Dependen

Instrument penelitan yang digunakan dalam mengukur

kejadian ISPA pada balita dengan jumlah pertanyaan

sebanyak 6 pertanyaan. Dimana item pertanyaan 1 sampai 6

59
untuk jawaban ‘Ya” diberi skor 1, untuk jawaban “Tidak’

diberi skor 0.

3.7.1.3 Uji Validasi dan Reabilitas Instrument Penelitian.

Instrument penelitan untuk variabel perilaku merokok

merupakan alat ukur yang sudah baku, yang telah diuji

validitas oleh Rendy Zulfiar Sahroni dalam penelitan yang

berjudul Hubungan Kebiasaaan Merokok Orang Tua Dengan

Kejadian ISPA Pada Balita Di Puskesmas Ajung Kabupaten

Jember Tahun 2012. Sedangkan kuesioner tentang kejadian

ISPA pada balita dari sumber hasil penelitan yang dilakukan

oleh Habik Jayanti dalam penelitiannya berjudul Hubungan

Faktor Lingkungan Fisik Rumah Dengan Kejadian ISPA

Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Cang jiringan

Kabupaten Sleman tahun 2015.

Tabel 3.1
Hasil Uji Validitas Kebiasaan Merokok Orang Tua
Di Wilayah Kerja Puskesmas Agung
Kabupaten Jamber Tahun 2012

Butiran soal Koefisien r Koefisien 5 Status


hitung tabel
Butiran 1 1.000 0,470 Valid
Butiran 2 1.000 0,470 Valid
Butiran 3 1.000 0,489 Valid
Butiran 4 1.000 0,489 Valid
Butiran 5 1.000 0,510 Valid
Butiran 6 1.000 0,444 Valid
Butiran 7 1.000 0,410 Valid
Butiran 8 1.000 0,444 Valid
Butiran 9 1.000 0,510 Valid
Butiran 10 1.000 0,444 Valid

60
Tabel 3.2
Hasil Uji Validitas Kejadian ISPA Pada Balita Di
Wilayah Kerja Puskesmas Cang Jiriang Kabupaten
Sleman Tahun 2015

Butiran soal Koefisien r Koefisien r Status


hitung tabel
Butiran 1 1.000 0.500 Valid
Butiran 2 1.000 0.312 Valid
Butiran 3 1.000 0.607 Valid
Butiran 4 1.000 0.500 Valid
Butiran 5 1.000 0.472 Valid
Butiran 6 1.000 0.312 Valid

3.8 Pengolahan data analisa data

3.8.1 Pengolahan data

Pengolahan data ini langsung dilakukan setelah pengumpulan

data selesai, data yang terkumpul dari kuesioner yang telah diisi

kemudian diolah secara manual didalam master tabel kemudian

dilanjutkan dengan uji hipotesa menggunakan bantuan komputerisasi

dan disajikan dalam bentuk narasi dan tabel distribusi dengan tahapan

sebagai berikut:

3.8.1.1 Editing

Pengolahan data dilakukan untuk mengantisipasi kesalahan

dari data yang telah dikumpulkan, juga memonitoring jangan

sampai terjadi kekosongan dari data yang dibutuhan. Dalam

melakukan editing ada beberapa yang harus diperhatikan.

61
a. Memeriksa kelengkapan data

Memeriksa kelengkapan data adalah memeriksa semua

pertanyaan yang diajukan yang dilengkapi jabannya ya

atau tidak.

b. Memeriksa kesinambungan data

Memeriksa apakah semua data berkesinambungan atau

dalam arti tidak menemukan data atau keterangan yang

bertentangan antara satu sama lainnya.

c. Memeriksa keseragaman data

Memeriksa apakah ukuran yang dipergunakan telah

seragam atau tidak. Seandainya data tidak lengkap atau

berkesinambungan tidak seragam maka dilakukan

mendatangi responden atau memperbaiki yang kurang.

3.8.1.2 Coding

Untuk memudahkan dalam pengolahan data maka setiap

jawaban dari kuesioner yang telah disebarkan diambil kode

dengan karakter masing-masing. Kegiatan pemberian kode

numeric terhadap data yang terdiri atas beberapa kategori.

Pemberian kode ini sangat penting bila pengolahan dan analisis

data menggunakan computer.

3.8.1.3 Entry

Kegiatan ini memasukkan satu yang telah dikumpulkan dan

dimasukkan kedalam sistem komputerisasi data editor dan

62
dianalisa secara deskriptif dan analitik dengan mengunakan

program komputerisasi.

3.8.1.4 Tabulating

Tabulating adalah kegiatan memasukkan data-data hasil

penelitian kedalam tabel-tabel sesuai dengan kriteria. Sebelum

dilakukan tabulasi, dilakukan kegiatan untuk mengecek kembali

data yang telah dimasukkan, apakah ada data yang missing,

melihat variasi data dan konsisten data dan selanjutnya

mengkelompokkan data sesuai tujuan penelitian kemudian dalam

tabel sesuai kategori variabel, dan didalam penelitian ini tidak ada

missing.

3.8.2 Analisa Data

3.8.2.1 Analisa Univariat

Analisa univariat terdiri dari metode deskriptif dan

statistik yang digunakan untuk menganalisa data dari suatu

statistik penelitian.Perhitungan analisa univariat ini dilakukan

dengan persentase menggunakan rumus (Arikunto, 2006).

a. Analisa univariat dalam penelitian ini terdiri dari variabel

independent. Perilaku merokok orang tua dilakukan

perhitungan persentasi menggunakan rumus :

63
𝑓
p= x 100%
𝑛

p : Persentasi

f : Jumlah frekuensi

n : Jumlah responden

b. Analisa univariat dalam penelitian ini terdiri dari variabel

dependent kejadian ISPA pada balita dilakukan perhitungan

yang di gunakan juga dengan rumus yang sama persentasi

menggunakan rumus :

𝑓
p= x 100%
𝑛

p : Persentasi

f : Jumlah frekuensi

n : Jumla respondent

3.8.2.2 Analisa bivariat

Analisa bivariat dilakukan terhadap dua variabel yang

diduga berhubungan atau kolaborasi. Dalam analisa ini

dilakukan beberapa tahap, analisa hasil uji statistik

menggunakan uji Chi Square dan hasil uji dapat disimpulkan

adanya hubungan antara 2 variabel tersebut bermakna atau

tidak bermakna (Notoatmodjo, 2010)

Analisa bivariat bertujuan untuk mengetahui hubungan

antara dua variabel yaitu variabel Independent (prilaku

64
merokok pada orang tua) dan variabel Dependent (kejadian

ISPA pada balita). Uji statistik yang digunakan adalah kai

kuadrat dengan menggunakan derajat kepercayaan 95%.

Rumus perhitungan adalah:

(𝑂 − 𝐸) 2
2
x =
𝐸

X2 : Chi Square

O : observed (nilai hasil observasi)

E : Expected ( nilai yang diharapkan )

Berdasarkan hasil perhitungan statistic dapat dilihat

hubungan kemaknaan hubungan antara dua variabel yaitu:

1. Jika probabilitas (p value) ≤ 0,05 atau X² hitung > X² table

berarti ada hubungan antara variabel Independen dan variabel

Dependen, maka Ho ditolak.

2. Jika probabilitas (p value) > 0,05 atau X² hitung ≤ X² tabel

berarti tidak ada hubungan yang bermakna antar variabel

Independen dengan variabel Dependen dan Ho gatol (gagal

ditolak)

3.9 Definisi Operasional

Definisi operasional ini dibuat untuk mempermudah dalam

pengumpulan data serta untuk mencegah adanya interpretasi ganda dan untuk

membatasi ruang lingkup variabel (Saryono, 2009). Adapun definisi

operasional dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

65
Tabel 3.3
Defenisi operasional
Hubungan Perilaku Merokok Orang Tua Dengan Kejadian ISPA Pada
Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Bulang Kota
Batam Tahun 2017

Definisi Cara Skala Hasil


Variabel Alat Ukur
Operasional Parameter Ukur Ukur Ukur
Variabel bebas

Perilaku Perilaku Indikator Wawancara Kuesi ordinal Berdasar


merokok merokok penilaian terpimpin oner kan cut
orang tua adalah suatu perilaku of point
aktivitas atau didapatk
merokok
tindakan an nilai
menghisap meliputi: dengan
gulungan paparan kategori
tembakau asap rokok, 0. baik <
yang intensitas 50%
tergulung merokok, 1. buruk
kertas yang jenis rokok, ≥ 50%
telah dibakar
dan bahaya
dan
menghembus merokok
kannya
keluar

Variabel Terikat

Kejadian Penyakit Indikator Wawancara Kuesio ordin Berdasar


ISPA ISPA adalah kejadian terpimpin ner al kan cut of
adalah ISPA point
didapatka
infeksi meliputi:
n nilai
saluran tanda dan Dengan
pernafasan gejala yang kategori
akutnyang dirasakan 0. Tidak
ditandai dan batuk ISPA <
50%

66
dengan batuk atau pilek
pilek. Anak yang di 1. ISPA ≥
dengan batuk derita 50 %
pilek pada selama 14
anak hari
lamanya terakhir
sekitar 2
sampai 3 hari

3.10 Etika Penelitian

Penelitian yang menggunakan manusia sebagai subjek tidak boleh

bertentangan dengan etik. Tujuan penelitian harus etis dalam arti hak

responden harus dilindungi. Pada penelitian ini, maka peneliti mendapatkan

surat pengantar dari STIKes Mitra Bunda Persada Batam kemudian

menyerahkannya kepada Kepala Dinas Kesehatan kota Batam untuk

mendapatkan izin penelitian di Puskesmas Bulang Kota Batam tersebut.

Setelah mendapatkan persetujuan, peneliti melakukan penelitian dengan

menekankan masalah etika, meliputi :

3.10.1. Lembar Persetujuan Penelitian (Informed Consent)

Lembar persetujuan diedarkan sebelum penelitian

dilaksanakan agar responden mengetahui maksud dan tujuan

penelitian, serta dampak yang akan terjadi selama dalam

pengumpulan data. Jika responden bersedia diteliti mereka harus

menandatangani lembar persetujuan tersebut, jika tidak peneliti harus

menghormati hak-hak responden.

67
3.10.2. Tanpa Nama (Anomity)

Untuk menjaga kerahasiaan identitas responden, peneliti tidak

akan mencantumkan nama subjek pada lembar pengumpulan data.

Lembar tersebut hanya akan di beri kode inisial.

3.10.3. Kerahasiaan (Confidentiality)

Kerahasiaan informasi yang telah dikumpulkan dari sujek

dijamin kerahasiaannya. Hanya kelompok data tertentu saja yang

akan disajikan atau dilaporkan pada hasil riset

3.10.4. Beneficience (Prinsip Manfaat)

3.10.4.1 Bebas dari Penderitaan

Penelitian harus dilaksanakan tanpa mengakibatkan

penderitaan kepada subjek, khususnya jika menggunakan

tindakan khusus.

3.10.4.2 Bebas dari Eksploitasi

Partisipasi subjek dalam penelitian, harus

dihindarkan dari keadaan yang tidak menguntungkan.

Responden pada penelitian akan diyakinkan dengan

pernyataan bahwa partisipasinya dalam penelitian, tidak

akan dipergunakan dalam hal-hal yang bisa merugikan

subjek dalam bentuk apapun. Selama penelitian

berlangsung, responden dalam keadaan yang sesadar-

sadarnya.

68
3.10.4.3 Risiko

Peneliti harus secara hati-hati mempertimbangkan

resiko dan keuntungan yang akan berakibat kepada subjek

pada setiap tindakan. Pada penelitian ini, peneliti telah

mempertimbangkan segala risiko yang akan terjadi kepada

responden, seperti kegagalan dalam perlakuan, serta

keselamatan diri dalam menghadapi responden yang

menjalani masa masa penyembuhan.

3.10.5. Justice (Prinsip Keadilan)

3.10.5.1 Hak untuk mendapatkan perilaku adil (right in fair

treatment)

Subjek harus diperlakukan secara adil baik

sebelum, selama dan sesudah keikutsertaannya dalam

penelitian tanpa adanya diskriminasi. Apabila ternyata

mereka tidak bersedia sebagai responden maka peneliti

tidak akan memperlakukan tidak adil.

3.10.5.2 Hak dijaga kerahasiaannya (right to privation)

Subjek mempunyai hak untuk meminta bahwa

data yang diberikan harus dirahasiakan, untuk itu perlu

adanya anonymity (tanpa nama) dan confidentiality

(rahasia). Instrumen penelitian berupa lembar identitas

responden telah peneliti sediakan tanpa adanya identitas

nama

69
3.11 Keterbatasan Penelitian

Keterbatasan adalah kelemahan atau hambatan dalam penulisan

keterbatasan dalam penelitian ini yang dilaksanakan diantaranya yaitu

keterbatasan pengetahuan dan pengalaman, karena peneliti baru pertama kali

melakukan penelitian deskritif serta keterbatasan waktu peneliti karena

kesibukan yang padat, tingkat keamanan yang kurang terjamin dan jarak

lahan yang diteliti jauh sehingga peneliti merasa masih banyak kekurangan

dalam penyusunan skripsi ini.

70
BAB 4

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Puskesmas Bulang

4.1.1 Lokasi Penelitian

Kecamatan Bulang adalah sebuah kecamatan di kota Batam,

Kepulauan Riau, Indonesia, yang dimana titik kordinat 000 51’- 10 06’

lintang utara. 103048’- 104006’ bujur timur. Kecamatan ini berbatasan

dengan Kecamatan Belakang Padang disebelah utara, berbatasan dengan

Kecamatan galang disebelah selatan, berbatasan dengan Kabupaten

karimun disebelah barat dan berbatasan dengan Kecamatan Batu Aji

disebelah timur. Kecamatan Bulang merupakan wilayah perairan dengan

banyak pulau yang berada pada ketinggian sekitar 2,5 m diatas permukaan

laut dengan luas 158,743 km2 (Statistik Kecamatan Bulang, 2015)

Berpedoman kepada Sistem Kesehatan Nasional yang terdiri dari 14

program pada dasarnya Puskesmas Bulang telah melaksanakan 14

program kesehatan nasional. Pelaksanaan program pelayanan kesehatan

dasar yang langsung menyentuh pada masyarakat Kecamatan Bulang ada

10 program yang diarahkan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan

kemampuan hidup sehat bagi setiap orang sehingga peningkatan derajat

kesehatan masyarakat di Kecamatan Bulang yang setinggi-tingginya dapat

terwujud, sementara 4 program lainnya merupakan program yang tercakup

dalam, Bantuan Alokasi Umum (BAU) dari Pemerintah Kota Batam

(Statistik Kecamatan Bulang, 2015)

71
4.1.2 Data Umum

Berdasarkan hasil penelitian yang telah di lakukan pada tanggal 6 -

10 september 2017 di wilayah kerja Puskesmas Bulang Kota Batam

Tahun 2017. Kepada 58 orang tua merokok dan 58 balita ISPA pada

balita, di dapatkan hasil sebagai berikut

Tabel 4.1
Distribusi Frekuensi Karakteristik Orang Tua Berdasarkan
Usia Di Wilayah Kerja Puskesmas Bulang
Kota Batam Tahun 2017

No Umur Frekuensi Persentase


1 17 25 (Remaja Akhir) 10 17%
2 26-35 (Dewasa Awal) 38 66%
3 36-45(Dewasa Akhir) 10 17%
Jumlah 58 100

Berdasarkan tabel 4.1 bahwa umur orang tua diwilayah kerja

Puskesmas Bulang Kota Batam tahun 2017 sebagian besar berusia 26-

35 tahun berjumlah 38 jiwa (66%) dengan karakteristik berusia dewasa

awal.

Tabel 4.2
Distribusi Frekuensi Karakteristik Balita Berdasarkan Jenis
Kelamin Di Wilayah Kerja Puskesmas Bulang
Kota Batam Tahun 2017

No Umur Frekuensi Persentase


1 L 34 59%
2 P 24 41%
Jumlah 58 100

72
Berdasarkan tabel 4.2 bahwa jenis kelamin balita diwilayah kerja

Puskesmas Bulang Kota Batam tahun 2017, sebagian besar berjenis

kelamin laki -laki sebanyak 34 balita (59%)

Tabel 4.3
Distribusi Frekuensi Karakteristik Balita Berdasarkan
Usia Di Wilayah Kerja Puskesmas Bulang
Kota Batam Tahun 2017

No Umur Frekuensi Persentase


1 1 7 12%
2 2 14 24%
3 3 25 44%
4 4 9 15%
5 5 3 5%
Jumlah 58 100%

Berdasarkan tabel 4.3 bahwa umur balita diwilayah kerja

Puskesmas Bulang Kota Batam Tahun 2017, sebagian besar berusia 3

tahun sebanyak 25 balita (44%)

4.1.3 Data khusus

4.1.3.1 Analisa univariat

a. Perilaku merokok

Tabel 4.4
Distribusi Frekuensi Perilaku Merokok Orang Tua
Di Wilayah Kerja Puskesmas Bulang
Kota Batam Tahun 2017

No Perilaku Merokok Frekuensi Persentase


1 Baik 4 7%
2 Buruk 54 93%
Jumlah 58 100

73
Berdasarkan tabel 4.4 bahwa perilaku merokok orang

tua diwilayah kerja Puskesmas Bulang Kota Batam Tahun

2017, sebagian besar berperilaku buruk sebanyak 54 orang

(93%)

b. Kejadian ISPA

Tabel 4.5
Distribusi Frekuensi Kejadian ISPA Pada Balita
Di Wilayah Kerja Puskesmas Bulang
Kota Batam Tahun 2017

No Kejadian Ispa Pada Balita Frekuensi Persentase


1 Tidak ISPA 9 16%
2 ISPA 49 84%
Jumlah 58 100

Berdasarkan tabel 4.5 bahwa kejadian ISPA pada

balita diwilayah kerja Puskesmas Bulang Kota Batam Tahun

2017, sebagian besar pernah menderita ISPA sebanyak 49

balita (84%)

4.1.3.2 Analisa Bivariat

Hubungan Perilaku Merokok Orang Tua Dengan

Kejadian ISPA Pada Balita

74
Tabel 4.6
Hubungan Perilaku Merokok Orang Tua Dengan Kejadian
ISPA Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Bulang
Kota Batam Tahun 2017

Perilaku Kejadian ISPA Total P


Merokok Tidak ISPA ISPA Value
N % N % N %
Baik 4 7% 0 0% 4 7%
Buruk 5 9% 49 84% 54 93% 0.000
Total 9 16% 49 84% 58 100

Berdasarkan uji statistik tabel 4.6 didapatkan hasil

bahwa, kejadian ISPA sebagian besar terjadi ISPA pada balita

49 orang (84%) pada perilaku merokok orang tua yang buruk

sebanyak 54 orang (93%)

Dari hasil analisa dengan menggunakan Chi Square Test

diperoleh nilai (p value) = 0.000 (p value). Hal ini

menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara

perilaku merokok orang tua terhadap kejadian ISPA pada

balita di wilayah kerja Puskesmas Bulang Kota Batam tahun

2017.

4.2 Pembahasan

Hasil penelitian diperoleh data perilaku merokok dan kejadian ISPA

pada Balita di wilayah kerja Puskesmas Bulang Kota Batam Tahun 2017.

Data tersebut dapat dijadikan acuan dan tolak ukur dalam melaksanakan

pembahasan dan dapat dinyatakan sebagai berikut :

75
4.2.1 Hasil Analisa Univariat

4.2.1.1 Perilaku Merokok Orang Tua

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap 58

warga di wilayah kerja Puskesmas Bulang didapatkan bahwa

sebagian besar perilaku merokok orang tua dikategorikan

buruk dengan berjumlah 54 jiwa (93%).

Hasil penelitian ini hampir sama dengan hasil penelitian

oleh Kallo A, D (2012) .Dimana kebiasaan merokok

menunjukkan sebagian besar didapatkan hasil berkategori

perokok berat yaitu sebanyak 37 responden (72,5%)

dibandingkan dengan tidak merokok yaitu sebanyak 14

responden (27,5%).

Terdapat persamaan dalam hasil penelitian ini di dukung

oleh pernyataan Yuli, T (2012). Dimana kebiasaan merokok

menunjukkan sebagian besar didapatkan hasil berkategori

perokok berat yaitu sebanyak 80 responden (78,4%) dan tidak

merokok sebanyak 22 responden (21,6%).

Terdapat persamaan dalam hasil penelitan yang

dilakukan oleh Danistia (2016). Dimana kebiasaan merokok

menunjukkan sebagian besar didapatkan hasil berkategori

perokok berat atau buruk yaitu sebanyak 41 responden (65%)

dan tidak merokok sebanyak 22 responden (35%).

76
Nasution (2013) mengatakan perilaku merokok dapat

dipengaruhi dari beberapa faktor diantaranya: faktor dari

dalam (internal), faktor internal terdiri dari, faktor

kepribadian, faktor biologis, faktor psikologis, konformitas

teman sebaya , faktor usia, faktor jenis kelamin . Selain faktor

internal faktor dari luar (eksternal) juga mempengaruhi

diantaranya, pengaruh orang tua, pengaruh teman, pengaruh

iklan, faktor lingkungan sosial.

Mu’tadin (2002) mengatakan ada beberapa komponen

didalam kandungan rokok yang berbahaya bagi kesehatan,

komponen ini dibagi dua golongan besar : yang pertama

adalah komponen gas yang terdapat dalam rokok adalah CO,

CO2, ammonia senyawa belerang. yang kedua adalah

komponen padat yang tertinggal pada filter berupa nikotin dan

tar. Didalam rokok terdapat beberapa bahan kimia yang

terdapat pada rokok diantaranya adalah. Karbondioksida,

nikotin dan tar.

Hasil penilitian yang dilakukan Di Wilayah Kerja

Puskesmas Bulang Kota Batam, didapatkan hasil bahwa

sebagian besar perilaku merokok orang tua dikategorikan

buruk. Hal ini hampir sama dengan hasil penelitian yang

dilakukan oleh andri d, k, y (2011) yang dimana didapatkan

hasil bahwa sebagian besar perilaku merokok orang tua

77
dikategorikan buruk. Didalam teori mengatakan perilaku

merokok dipengaruh oleh beberapa faktor yang diantara faktor

dari dalam dan faktor dari luar.

Perilaku merokok orang tua yang buruk sangat

berbahaya bagi kesehatan baik untuk dirinya sendiri maupun

orang lain, terlebih dari pada itu didalam isi kandung yang ada

pada rokok memiliki zat adiktif yang sangat membahayakan

kesehatan seperti nikotin, karbondioksida, tar. Diantara itu

perilaku merokok yang buruk juga bisa menyebabkan

timbulnya kurang kenyamanan bagi individu individu lainnya,

hal ini dikarenakan kompenen asap yang dikeluar dari rokok

tersebut sangat berbahaya, yang bisa membuat orang

disekitarnya batuk-batuk dan sesak nafas.

4.2.1.2 Kejadian ISPA Pada Balita

Hasil penelitian yang dilakukan terhadap 58 warga di

wilayah kerja Puskesmas Bulang didapatkan bahwa sebagian

besar kejadian ISPA pada balita kategorikan pernah

menderita ISPA dengan berjumlah 49 balita (84%).

Penelitian ini hampir sama dengan hasil penelitian yang

dilakukan oleh Yuli,T. Yang dimana sebagian besar balita

terkena ISPA sebanyak 53 responden (51,9%), dibandingkan

dengan kasus ISPA yang terkontrol sebanyak 49 responden

(50,1%).

78
Sejalan juga dengan penelitian yang dilakukan oleh. Kallo A,

D (2012) dimana sebagian besar kejadian ISPA ringan

sebanyak 34 responden (66,7%), dan kejadian ISPA sedang

sebanyak 17 responden (33,3%).

Terdapat persamaan dalam hasil penelitan yang

dilakukan oleh Danistia (2016). Yang dimana sebagian besar

kejadian ISPA pada balita yang menderita ISPA sebanyak 43

balita (68%) dan yang tidak ISPA sebanyak 20 balita (32%).

Kemenkes RI (2012) dan Depkes (2004) menyatakan

faktor resiko terjadinya ISPA secara umum yaitu, faktor

individu anak/balita, faktor lingkungan serta faktor prilaku,

yakni: Faktor individu anak/balita atau faktor keadaan

anak/balita dimana anak/balita yang mudah sekali tekena

penyakit ISPA, umur anak, status kondisi anak saat lahir,

status kekebalan tubuh, status gizi anak, dan status

kelengkapan imunisasi anak merupakan faktor anak itu mudah

sekali terkena penyakit ISPA.

Faktor lingkungan mempengaruhi dengan kejadian ISPA

yang diantaranya, pencemaran udara dalam rumah, ventilasi,

kepadatan hunian rumah. Faktor perilaku. Perilaku adalah

suatu kegiatan atau aktivitas organism atau mahkluk hidup

yang bersangkutan. Perilaku sehat adalah kegiatan yang

dilakukan berkaitan dengan upaya mempertahankan dengan

79
meningkatkan kesehatan. Faktor perilaku dalam pencegahan

dan penanggulangan penyakit ISPA pada bayi dan balita

dalam hal ini adalah praktek penanganan ISPA di keluarga

yang baik dilakukan oleh ibu, bapak ataupun anggota keluarga

lainnya. Peran aktif keluarga atau masyarakat dalam

menangani ISPA sangat penting karena penyakit ISPA

merupakan penyakit yang ada sehari hari dimasyarakat atau

keluarga dan dapat menular (Kemenkes, 2012).

Hasil penilitian yang dilakukan Di Wilayah Kerja

Puskesmas Bulang Kota Batam, didapatkan hasil bahwa

sebagian besar kejadian ISPA pada balita positif pernah

terkena ISPA. Hal ini hampir sama dengan hasil penelitian

yang dilakukan oleh andri d, y, (2011) yang dimana

didapatkan hasil bahwa sebagian besar kejadian ISPA pada

balita positif pernah terkena ISPA. Didalam teori mengatakan

faktor yang mempengaruhi terinfeksinya ISPA pada balita

secara umum di pengarui oleh faktor individu anak, faktor

lingkungan, dan faktor perilaku

Kejadian ISPA pada balita sangat rentan terinfeksi. Hal

ini dikarenakan faktor-faktor yang dipengaruhi baik faktor

lingkungan, faktor individu anak, dan faktor perilaku. Tidak

menutup kemungkinan kejadian ISPA bisa ditularkan dengan

cara berinteraksi penderita tersebut kepada korban. Peran aktif

80
keluarga atau masyarakat dalam menangani ISPA sangat

penting karena penyakit ISPA merupakan penyakit yang ada

sehari hari dimasyarakat atau keluarga dan dapat menular

tanpa kita ketahui.

Lingkungan rumah mempunyai faktor yang tidak kalah

pentingnya, Lingkungan rumah dilihat dari beberapa poin

yang dimana ventilasi rumah yang sesuai dengan standar

nasional, keadaan dapur, pencemaran udara dalam rumah, dan

kepadatan hunian didalam rumah.

4.2.2 Hasil Analisa Bivariat

Tabel 4.6 didapatkan hasil bahwa kejadian ISPA sebagian besar

terjadi pada balita 49 orang (84%) pada perilaku merokok orang tua

yang buruk sebanyak 54 orang (93%)

Dari hasil analisa dengan menggunakan Chi Square Test

diperoleh nilai (p valoe) = 0.000 (p valoe). Hal ini menunjukkan

bahwa ada hubungan bermakna antara Perilaku Merokok Orang Tua

dengan dengan Kejadian ISPA di wilayah kerja Puskesmas Bulang

Kota Batam tahun 2017.

Penelitian ini hampir sama dengan yang dilakukan oleh

Trisnawati,(2012) dimana hasil pada perilaku merokok orang tua

sebagian besar perilaku merokok orang tuanya dikategorikan berat

sebanyak 80 responden (80.4%). Pada kejadian ISPA pada balita yang

ISPA sebanyak 39 balita (76.5%) berdasarkan hasil uji statistik chi

81
square diperoleh p value 0,000 < α (0,005) menunjukkan bahwa ada

hubungan yang bermakna antara hubungan perilaku merokok orang

tua dengan kejadian ISPA.

Mu’tidin (2002) dan WHO (2007) mengatakan perilaku

merokok didefinisikan sebagai suatu aktivitas yang berhubungan

dengan perilaku merokoknya, yang diukur melalui intensitas

merokok, waktu merokok. Selain itu faktor merokok juga di

pengaruhi dari dua faktor diantaranya faktor internal dan faktor

eksternal. Selain itu didalam kandungan rokok terdapat kandungan

yang berbahaya bagi kesehatan yang dimana kandungan itu berupa

komponen gas yang berupa karbondioksia nikotin dan tar dan

komponen padat yang terdapat di filter rokok.

Faktor resiko terjadi ISPA secara umum dapat menyerang

manusia terutama pada anak atau balita yang sangat rentan. Kejadian

ISPA terdapat faktor resiko terjadinya ISPA secara umum

dipengaruhi seperti keadaan kesehatan, sosial, lingkungan rumah,

lingkungan masyarakat, serta daya tahan tubuh anak, selain itu

dibutuhkan pengetahuan orang tua untuk menjaga daya tahan tubuh

anak. Faktor lainnya adalah makanan yang tidak mencukupi,

perumahan yang buruk, dan kepadatan penduduk berkontribusi

berkurangnya ketahanan tubuh anak (Kemenkes, 2012).

Hasil penelitian yang dilakukan di wilayah kerja puskesmas

bulang kota batam. Didapatkan hasil bahwa adanya hubungan yang

82
bermakna antara perilaku merokok orang tua dengan kejadian ISPA

pada balita. Hasil penilitian ini hampir sama dengan hasil penelitian

yang dilakukan oleh Trisnawati (2012) yang dimana ada hubungan

bermakna antara perilaku merokok dan kejadian ISPA pada balita.

Didalam teori mengatakan kejadian ispa dipengaruhi beberapa faktor

yang diantara faktor individu anak faktor lingkungan dan faktor

perilaku orang tua.

Perilaku merokok yang buruk pada orang tua sangat

mempengaruhi dengan kejadian ISPA pada baita. Hal ini dikarenakan

faktor asap rokok yang secara tidak langsung dihirup oleh balita

tersebut. Intensitas merokok orang tua yang banyak dengan

komponen asap yang tidak kasat mata, membuat balita yang ada

didalam ruang menghirup udara yang sudah tercemar dengan asap

rokok tersebut. Disisi lain kondisi balita yang sistem pertahanan

tubuhnya belum sempurna dengan cepat bisa berisiko terkenanya

penyakit ISPA ini.

83
BAB V

KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian mengenai Hubungan Perilaku Merokok

orang tua terhadap kejadian ISPA di wilayah kerja Puskesmas Bulang Kota

Batam Tahun 2017 dapat disimpulkan sebagai berikut :

5.1.1 Perilaku Merokok Orang Tua Di Wilayah Kerja Puskesmas Bulang

Kota Batam Tahun 2017, sebagian besar perilaku merokok orang

tua yang dikategorikan buruk dengan nilai 54 orang (93%).

5.1.2 Kejadian Penyakit ISPA Pada Balita di wilayah Kerja Puskesmas

Kota Batam Tahun 2017, sebagian besar pernah menderita ISPA

dengan nilai 49 balita (84%).

5.1.3 Terdapat hubungan bermakna antara Perilaku Merokok Dengan

Kejadian ISPA Di Wilayah Kerja Puskesmas Bulang Kota Batam

Tahun 2017 dengan nilai p value 0.000 < 0.005.

84
5.2 Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas, penulis mengemukakan beberapa

saran sebagai berikut :

5.2.1 Secara Teoritis

Hasil penelitian ini dapat memberikan bahan informasi

pengetahuan kesehatan khususnya ilmu kesehatan keluarga dan

masukan bagi Puskesmas Bulang mengenai hubungan antara perilaku

merokok orang tua dengan kejadian ISPA pada balita yang merupakan

penyakit tersering diderita oleh balita yang berobat ke pelayanan

kesehatan anak Puskesmas Bulang tahun 2017

5.2.2 Bagi Profesi Keperawatan

Hasil penelitian ini dapat memberi masukan dan informasi bagi

tenaga kesehatan khususnya keperawatan keluarga diharapkan dapat

menjadi bahan masukan tentang pentingnya mengetahui hubungan

antara perilaku merokok orang tua dengan kejadian ISPA di Puskesmas

Bulang sehingga dapat dijadikan sebagai salah satu bahan pertimbangan

dalam upaya promotif dan preventif di bidang kesehatan khususnya

dalam menurunkan angka kejadian ISPA pada balita.

5.2.3 Bagi Institusi Pendidikan

Hasil penelitian ini dapat memberikan masukan dan informasi

dalam pengembangan ilmu keperawatan serta menjadi bahan bacaan di

bidang kesehatan keluarga dan konsep dasar manusia yang diharapkan

bisa membantu proses pembelajaran.

85
5.2.4 Bagi Peneliti Selanjutnya

Sebagai tambahan informasi terutama dalam mengidentifikasi

faktor-faktor yang berhubungan dengan Perilaku Merokok Orang Tua

Dengan Kejadian ISPA Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas

Bulang Kota Batam Tahun 2017

5.2.5 Untuk institusi Pelayanan Kesehatan

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi lahan

penelitian untuk meningkatkan derajat kesehatan balita, serta

pengetahuan orang tua untuk mengetahui pentingnya masalah

kesehatan, hidup sehat dan memberikan informasi tentang bahaya

kejadian ISPA pada balita dan keluarga untuk melihat kondisi karakter

individu yang beragam, maka dalam pelayanan kesehatan akan

melakukan penyuluhan maupun pemberian pendidikan kesehatan

(penkes) kepada masyarakat supaya lebih berhati - hati dalam

membuang sampah maupun menjaga lingkungan rumahnya supaya

tidak terjadi penyakit yang tidak di inginkan.

86

Anda mungkin juga menyukai