Anda di halaman 1dari 14

4, BE & GG, Rudi, Hapzi Ali, ENVIRONMENTAL ETHICS, Universitas Mercu Buana , 2018

Rudi, SE 1) , Prof. Dr. Ir. Hapzi Ali, MM, CMA 2)


1) Penulis Pertama
Email : rudi12980@yahoo.com
2) Dosen Pengampu

Lingkungan merupakan segala sesuatu yang berada di sekitar manusia. Lingkungan tidak
dapat terpisahkan dari hidup manusia. Lingkungan sangat berpengaruh pada kehidupan
manusia. Zaman sekarang, seiring berjalannya waktu, teknologi pun semakin canggih dan
berkembang. Hal ini memiliki dampak positif dan negatif. Dampak negatifnya adalah
individualisme semakin berkembang. Semakin banyak manusia yang egois dan tidak peduli
terhadap lingkungannya. Pencemaran lingkungan yang terjadi sebagian besar disebabkan oleh
perilaku dan perbuatan manusia yang tidak beretika baik terhadap lingkungan. Padahal
manusia diciptakan dengan tujuan melestarikan dan merawat alam beserta seluruh isinya. Oleh
karena itu, etika lingkungan yang baik dan benar sangatlah diperlukan dalam menjalani
kehidupan sehari-hari.

Pengertian Etika Lingkungan


Dalam kehidupan manusia, dibutuhkan nilai dan moral sebagai pedoman dan pegangan,
yang disebut dengan etika. Etika lingkungan merupakan norma-norma atau nilai moral yang
menjadi pedoman dan pegangan dalam suatu lingkungan tertentu. Etika lingkungan perlu
dipelajari agar masyarakat menjadi lebih kritis terhadap lingkungan. Etika lingkungan juga
berbicara tentang relasi antara hidup manusia dengan alam semesta. Dengan mempelajari dan
menerapkan etika lingkungan maka lingkungan sekitar kita akan berkembang menjadi lebih
baik.

Prinsip Etika Lingkungan


Prinsip etika lingkungan hidup dirumuskan dengan tujuan untuk dapat dipakai
sebagai pegangan dan tuntutan bagi perilaku manusia dalam berhadapan dengan alam.
Menurut Keraf, ada 9 prinsip etika lingkungan :
1. Prinsip sikap hormat terhadap alam (respect for nature)
Sesuai dengan tujuan Tuhan menciptakan manusia, manusia memiliki kewajiban untuk
menghargai, menghormati, merawat dan melestarikan semua makhluk hidup. Manusia tidak
boleh malah merusak alam dan lingkungan mereka.
2. Prinsip tanggung jawab (moral responsibility for nature)
Alam merupakan milik setiap manusia. Oleh karena itu, setiap orang harus dihargai oleh
masing-masing individu. Manusia haruslah menghargai alam dan bertanggung jawab untuk
merawat kelangsungan alam dan lingkungan.
3. Prinsip solidaritas kosmis (cosmic solidarity)
Solidaritas kosmis adalah sikap solidaritas manusia dengan alam. Prinsip ini berfungsi untuk
mengontrol.
4. Prinsip kasih sayang dan kepedulian terhadap alam (caring for nature)
Prinsip ini merupakan prinsip dimana manusia harus memberikan kasih sayang dan peduli
secara tulus pada alam dan lingkungan mereka tanpa mengharapkan balasan apapun .
5. Prinsip tidak merugikan (no harm)
Prinsip ini merupakan prinsip dimana manusia tidak melakukan hal-hal yang merugikan dan
merusak bagi alam dan lingkungan.
6. Prinsip hidup sederhana dan selaras dengan alam
Prinsip ini merupakan prinsip dimana memberi penekanan pada pola hidup manusia yang
sederhana, bukan yang rakus dan tamak dengan semena-mena mengeksploitasi alam,
mengumpulkan harta, dan memiliki kekayaan sebanyak-banyaknya dengan mengeksploitasi
alam, tetapi yang lebih dipentingkan adalah mutu kehidupan yang baik.
7. Prinsip keadilan
Prinsip keadilan lebih ditekankan pada bagaimana manusia harus berlaku adil terhadap segala
hal lain dalam keterkaitannya dengan alam dan lingkungan. Manusia harus berbagi dengan adil
mengenai pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam.
8. Prinsip demokrasi
Setiap orang yang peduli pada linkungan adalah orang yang demokratis. Dengan adanya
demokrasi, manusia dapat hidup dengan sejahtera meskipun mereka tediri atas SARA yang
berbeda. Lingkungan pun menjadi lebih beraneka ragam dan pluralisme.
9. Prinsip integrasi moral
Prinsip ini terutama ditujukan kepada para pejabat. Misalnya saja orang yang bermoral tinggi
diberikan kepercayaan untuk melakukan analisis mengenai dampak lingkungan. Hal ini
dikarenakan dengan dilakukannya hal tersebut, diharapkan orang yang bermoral tinggi dapat
menggunakan wewenang dan kepercayaan yang diberikan dengan baik sehingga tidak
merugikan ingkungan hidup fisik dan non fisik atau manusia.

Peraturan Perundangan Mengenai Etika Lingkungan


Undang-undang tentang lingkungan hidup terdapat pada “UNDANG-UNDANG REPUBLIK
INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2009 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN
LINGKUNGAN HIDUP.” Pada bab X dibahas tentang hak, kewajiban, dan larangan tentang
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Bagian pertama membahas tentang hak,
kemudian bagian kedua membahas tentang kewajiban yaitu:
Pasal 67
Setiap orang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta
mengendalikan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup.
Pasal 68
Setiap orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan berkewajiban:
a. memberikan informasi yang terkait dengan perlindungan dan pengelolaan lingkungan
b. hidup secara benar, akurat, terbuka, dan tepat waktu;
c. menjaga keberlanjutan fungsi lingkungan hidup; dan
d. menaati ketentuan tentang baku mutu lingkungan hidup dan/atau kriteria baku kerusakan
lingkungan hidup.
Bagian ketiga menjelaskan tentang larangan yaitu:
Pasal 69
Setiap orang dilarang:
a. melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan/atau
perusakan lingkungan hidup.
b. memasukkan B3 yang dilarang menurut peraturan perundang-undangan ke dalam wilayah
Negara Kesatuan Republik Indonesia;
c. memasukkan limbah yang berasal dari luar wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia ke media lingkungan hidup Negara Kesatuan Republik Indonesia;
d. memasukkan limbah B3 ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia;
e. membuang limbah ke media lingkungan hidup;
f. membuang B3 dan limbah B3 ke media lingkungan hidup;
g. melepaskan produk rekayasa genetic ke media lingkungan hidup yang
bertentangan dengan peraturan perundang-undangan atau izin lingkungan;
h. melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar;
i. menyusun amdal tanpa memiliki sertifikat kompetensi penyusun amdal;
j. memberikan informasi palsu, menyesatkan, menghilangkan informasi,
merusak informasi, atau memberikan keterangan yang tidak benar.

Pada bab XII dibahas tentang pengawasan dan sanksi administratif. Pada bagian pertama
dibahas tentang pengawasannya. Kemudian pada bagian kedua dibahas tentang sanksi
administratif yaitu: Pasal 76, Pasal 77, Pasal 78, Pasal 79, Pasal 80, Pasal 81, Pasal 82, Pasal 83

Hasil Observasi Lingkungan


Berikut hasil observasi dari lingkungan sekitar yang berhubungan dan berkaitan dengan
etika lingkungan :
1. Membuang sampah sembarangan
2. Mencoret tembok-tembok
3. Merusak barang di tempat umum / milik masyarakat / negara
4. Masih menyalakan lampu saat pagi hari ( pemborosan listrik )
5. Tidak membersihkan kotoran binatang peliharaan yang diajak jalan ke luar rumah di sekitar
lingkungan
6. Melalukan penghijauan / penanaman pohon di sekitar lingkungan
7. Merokok disembarang tempat
8. Membersihkan lingkungan sekitar tempat tinggal masing-masing
Selain apa yang terjadi di lingkungan sekitar, ada juga observasi
observasi secara meluas yang
dilakukan dan didapatkan melalui internet. Berikut hasil observasi dan riset dari media internet
:
1. Penebangan pohon secara semena
semena-mena
2. Pembakaran hutan karena alasan egois yang menguntungkan diri / kalangan sendiri
3. Isu pemanasan global

Salah satu berita yang sedang hangat dibahas saat ini adalah mengenai isu kebakaran
hutan. Dikatakan bahwa salah satu alasan hal tersebut dilakukan adalah demi keegoisan dan
keuntungan diri sendiri. Berkaitan dengan ketamakan dan kerakusan. Dampak yang ditimbulkan
sangat bertentangan dengan pasal dalam undang
undang-undang
undang dan 9 prinsip Keraf tersebut. Akibat
dari kebakaran tersebut sangat merugikan banyak orang. Masyarakat yang tidak bersalah ikut
terkena dampaknya. Lingkungan
ngan menjadi rusak oleh asap karena kebakaran hutan.

Iklim yang tak menentu juga diakibatkan salah satunya oleh pemanasan global yang secara
tidak langsung maupun langsung disebabkan oleh manusia sendiri. Sesuai dengan hasil
observasi, banyak orang yang menggunakan AC, kendaraan bermotor, kulkas, dan da alat
elektronik lain secara berlebihan. Banyaknya gedung berkaca dan rumah kaca yang dibangun
serta pohon-pohon
pohon yang ditebang juga mengambil bagian dalam merusak lingkungan yang
akhirnya berujung pada pemanasan global.

2.5 Foto Hasil Observasi Lingkungan


Lingk

1. Membuang sampah sembarangan


2. Mencoret tembok dan tempat umum

3. Sungai bersih dan kotor


4. Menjaga kebersihan lingkungan

Kenyataan Hubungan Manusia dengan Etika Lingkungan


Teori yang disebutkan di atas tentu tidak semuanya dipraktekkan di kehidupan sehari-hari
sehari
manusia. Sesuai dengan prinsip-prinsip
prinsip prinsip dan hasil observasi lingkungan sekitar, dapat dilihat dan
disimpulkan bahwa persentase manusia yang melanggar dan tidak memperdulikan memperdu etika
lingkungan lebih banyak dibanding persentase manusia yang menganut dan menerapkan etika
lingkungan dalam hidupnya. Hampir semua dari prinsip Keraf dilanggar oleh manusia yang
hidup pada zaman sekarang. Dari berbagai peraturan mengenai etika lingkungan
lin yang tertulis
dalam undang-undang,
undang, kebanyakan masyarakat melanggar pasal 69. Namun, ada juga orang
yang masih peduli terhadap lingkungan. Ada pula usaha yang dilakukan oleh pemerintah. Salah
satu contohnya dapat terlihat dari banyaknya sungai yang sudah mulai bersih dan dilakukan
pengurukan sampah secara berkala.
Infografik

Kesimpulan
Masih sangat banyak manusia yang belum sadar dan peduli akan lingkungan. Etika
lingkungan yang mereka pelajari belum diterapkan dalam kehidupan sehari-hari
sehari mereka.
Namun, ada segelintir orang dan usaha yang dilakukan oleh pemerintah untuk mulai
membenahi, menjaga kebersihan, dan melestarikan lingkungan sekitar.
Review Artikel

ETIKA LINGKUNGAN DAN IMPLEMENTASINYA DALAM PEMELIHARAAN LINGKUNGAN ALAM


PADA MASYARAKAT KAMPUNG NAGA

Citra Nurkamilah Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung Jl. AH. Nasution No.
105 Cibiru, Bandung, Jawa Barat, Indonesia E-mail: Cytranurkamilah@gmail.com

Religious: Jurnal Studi Agama-agama dan Lintas Budaya 2, 2 (2018): 136-148

Abstrak

Kerusakan lingkungan alam merupakan cerminan dari terganggunya paru-paru bumi


(Hutan) akibat dari sikap antroposentrik manusia yang mengeksploitasi secara berlebihan.
Untuk menyeimbangkan lingkungan alam agar tidak semakin rusak yaitu menumbuhkan
kembali perilaku atau etika manusia yang peduli terhadap lingkungan.

Etika ini telah lama diterapkan di Kampung Naga yang mempunyai pandangan hidup
secara alternatif mengenai hubungan manusia dengan lingkungan alam yang dianggap sakral.
Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran secara umum mengenai etika lingkungan
di Kampung Naga dalam menjaga lingkungan alam.

Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan antropologis dan
fenomenologis. Hasil dari penelitian ini yaitu masyarakat Kampung Naga memiliki etika
lingkungan yang cukup intens dengan berpedoman pada nilainilai yang dirumuskan secara
sistematis berdasarkan pada warisan nenek moyang (leluhur) yaitu warisan yang tampak dan
warisan yang tidak tampak. Hal ini berdampak pada mitigasi (upaya mengurangi resiko)
bencana di Kampung Naga seperti mencegah longsor dan banjir, terjaganya keutuhan sumber
daya alam, terjaganya fungsi hutan yang merupakan paru-paru kehidupan, serta semua
makhluk ekologis di wilayah adat tersebut telah samasama menaati etika yang disuguhkan oleh
ekosentrisme atau deep ecology. Sehingga etika lingkungan di Kampung Naga mencerminkan
hubungan ekologis yang seimbang.

HASIL DAN PEMBAHASAN


1. Etika Lingkungan Masyarakat Kampung Naga, Masyarakat Kampung Naga merupakan
masyarakat adat atau tradisional yang termasuk ke dalam masyarakat yang homogen.
Artinya, masyarakat yang diyakini sebagai satu keturunan nenek moyang (leluhur) dan
hanya memiliki keyakinan yang kuat terhadap amanat nenek moyang. Kampung Naga ini
terletak di Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat. Kawasan yang masih kental dengan
ajaran tersebut seringkali disebut dengan istilah kawasan adat atau kawasan masyarakat
adat. Kini, kawasan Kampung Naga telah menjadi daya tarik bagi warga lokal maupun
warga asing yang ingin tahu lebih dalam mengenai keanekaragaman budaya yang ada di
Indonesia. Dengan begitu Kampung Naga ini telah resmi menjadi salah satu cagar
budaya dan pariwisata di provinsi Jawa Barat. Pemahaman etika lingkungan pada
masyarakat Kampung Naga, kiranya akan sedikit menyinggung kebudayaan sunda yang
secara tidak langsung memiliki hubungan dengan pembahasan etika lingkungan di
wilayah Kampung Naga. Dalam budaya sunda, istilah ciri sabumi cara sadesa memiliki
arti di setiap lingkungan terdapat ciri dan cara yang khas serta mempengaruhi perilaku
para penghuninya.14 Ciri khas atau identitas tersebut merupakan hasil dari
kesepakatan secara kolektif yang lazimnya dipelihara serta dikembangkan secara turun
temurun. Identitas itu pula yang nantinya akan mempengaruhi kehidupan masyarakat di
kawasan tersebut yang akan mempertegas identitas budayanya Masyarakat Kampung
Naga merupakan bagian dari masyarakat sunda yang memiliki ciri khas dan cara khas
serta memperkaya budaya sunda. Ciri khas pada masyarakat Kampung Naga tidak
terlepas dari sistem pengetahuan lokal yang mereka terapkan berdasarkan warisan
nenek moyang dan telah disepakati oleh seluruh warganya untuk tetap dilestarikan.
Salah satu ciri yang membedakan masyarakat Kampung Naga dengan masyarakat di
perkotaan adalah hidup mereka yang telah lama selaras dengan alam, hidup
berdampingan dengan alam, dan bersahabat dengan alam. Mereka telah
memperlihatkan bahwa kelangsungan budaya dan lingkungan sama pentingnya.
2. Bentuk Tata Wilayah, Bentuk penataan wilayah di kawasan adat telah lama ada dan
turun temurun. Dalam hal ini, tata wilayah di Kampung Naga terbagi menjadi tiga
bagian, yaitu wilayah atas (sakral), wilayah tengah (netral), dan wilayah bawah (kotor).
Pembagian wilayah ini memiliki makna dan nilai yang berhubungan dengan pe-
mahaman masyarakat Kampung Naga terhadap etika lingkungan, yakni cara menjaga
hubung-an masyarakat Kampung Naga dengan alam dan hubungan masyarakat
Kampung Naga dengan nenek moyang (leluhur). e. Untuk lebih jelasnya, konsep dari
kosmologi Kampung Naga yang terbagi men-jadi tiga wilayah tersebut akan lebih
dijelaskan secara rinci sebagai berikut: f. Pertama, Kawasan atas (sakral) di Kampung
Naga. Wilayah yang disakralkan oleh masyarakat Kampung Naga merupakan wilayah
yang memiliki aturan adat untuk tidak dimasuki oleh sembarang orang dan tidak boleh
mengambil apapun didalamnya termasuk ranting pohon yang berjatuhan. 19 Orang
yang dapat memasuki wilayah ini hanyalah kuncen Kampung Naga saat melaksanakan
upacara adat saja. Wilayah yang disakralkan ini terletak di atas bukit di bagian barat
Kampung Naga yang berupa hutan keramat. Aturan adat semacam ini bukan hanya
untuk menghormati nenek moyang saja melainkan juga cara menghormati lingkungan
alam dan konservasi lingkungan alam. Karena secara real, hutan keramat ini berada
diatas kawasan pemukiman Kampung Naga yang berperan sebagai hutan lindung yang
akan melindungi kawasan dibawahnya. Hutan inilah yang berperan sebagai penyerap air
hujan sehingga tidak mengakibatkan banjir ke wilayah bawah atau pemukiman warga. g.
Kedua, kawasan tengah (Netral) di Kampung Naga. Kawasan ini berada ditengah-tengah
wilayah. Wilayah tengah ini menjadi pusat kehidupan masyarakat Kampung Naga. Di
wilayah ini mereka melaksanakan berbagai macam aktivitas disetiap harinya, wilayah
untuk bernaung, dan bercocok tanam. Istilah netral pada wilayah ini diartikan sebagai
wila-yah yang bersih dan bisa menjadi tempat yang suci.
3. Penghormatan Terhadap Alam Yang Disakralkan Dan Harus Dihindari Yaitu Hutan
Keramat Dan Hutan Larangan, Warisan ini menjadi etika yang digunakan oleh
masyarakat adat dalam memelihara hutan yang ada di wilayah adatnya. Selain menjadi
sebuah etika, warisan ini menjadi aturan yang harus dilestarikan oleh semua masyarakat
adat Kampung Naga maupun Sanaga. Pada wilayah adat Kampung Naga penghormatan
terhadap alam yang disakralkan termanifestasikan oleh Hutan Keramat. Hutan ini
merupakan tempat pemakaman jasad para nenek moyang (leluhur) yang dipandang
oleh mereka sebagai sentral kekuatan baik di Kampung Naga. Selain itu, penghormatan
lain terhadap alam yang disakaralkan yaitu termanifestasikan oleh bumi ageung (tempat
menyimpan benda-benda pusaka milik adat), bumi pasolatan, dan lumbungan (bekas
tempat penyimpanan padi) yang berada di wilayah pemukinan Kampung Naga dengan
ditandai oleh pagar bambu disekelilingnya.23 Sedangkan terkait dengan penghormatan
terhadap alam yang harus dihindari termanifestasikan oleh Hutan Larangan. Hutan
larangan ini diyakini oleh masyarakat Kampung Naga sebagai hutan yang ditempati oleh
kekuatan jahat, mereka meyakini hutan larangan ini sentral dari para dedemit atau roh
jahat. Artinya, di dalam hutan tersebut terdapat penunggu yang tidak terima jika
habitatnya diganggu. Sehingga hutan ini mesti dijauhi oleh masyarakat sekitar.
Meskipun terdapat ranting yang jatuh atau pohon yang tumbang tidak ada satupun yang
berani untuk me-ngambil ranting tersebut. Masyarakat Kam-pung Naga mengatakan
bahwa “lebih baik membeli kayu bakar saja ketimbang mengam-bil kayu yang jatuh di
Hutan Larangan tersebut”.

SIMPULAN
Masyarakat Kampung Naga memiliki pemahaman etika lingkungan yang cukup intens
dalam pemeliharaan lingkungan alam. Pemahaman etika lingkungan Masyarakat Kampung
Naga berpacu pada nilai-nilai yang dirumuskan secara sistematis berdasarkan pada warisan
nenek moyang mereka. Warisan nenek moyang tersebut digolongkan menjadi 2 bagian, yaitu
warisan yang tampak (tangible) dan warisan yang tidak tampak (intangible). Hakikatnya,
pemeliharaan alam di Kampung Naga yang berdasarkan etika lingkungan yang khas tersebut
mencerminkan hubungan ekologis yang seimbang. Implementasi dari hubungan ekologis
tersebut berbuah manis dalam menjaga keseimbangan lingkungan alam. Dimana mitigasi
(upaya me-ngurangi resiko) bencana telah diterapkan pada kawasan Kampung Naga seperti
mencegah longsor dan banjir, terjaganya keutuhan sumber daya alam, terjaganya fungsi hutan
yang merupakan paruparu kehidupan, serta semua makhluk ekologis di wilayah adat tersebut
telah sama-sama menaati etika yang disuguhkan oleh ekosentrisme atau deep ecology.
Filosofi Lingkungan / Environmental Philosophy
Filsafat tradisional dibagi antara konsekuensial (atau teleologis) teori seperti
utilitarianisme dan non-konsekuensial (atau deontologis) teori seperti berbasis hak filosofi.
Dengan demikian, kita dapat membagi filosofi lingkungan antara antroposentris (berpusat pada
manusia) dan ecocentric (bumi berpusat) sudut pandang, yang umumnya dipandang sebagai
dapat dibandingkan.
Pandangan ini diberi label dan digambarkan sebagai berikut :
- Kapitalis murni - pandangan dominan dalam akuntansi dan keuangan di mana satusatunya
tanggung jawab korporasi adalah untuk membuat uang untuk pemegang saham.
- Expedients - orang-orang dengan pandangan jangka panjang yang menyadari bahwa
kesejahteraan ekonomi dan stabilitas hanya dapat dicapai dengan penerimaan tanggung jawab
sosial tertentu.
- Pendukung kontrak sosial - suatu sikap yang perusahaan dan organisasi lain yang ada di akan
masyarakat dan karena itu bertanggung jawab untuk menghormati dan menanggapi
masyarakat .
- Ekologi sosial - mereka yang peduli terhadap lingkungan sosial dan merasa bahwa karena
organisasi besar telah berpengaruh dalam menciptakan sosial dan lingkungan masalah yang
mereka juga harus berpengaruh dalam membantu memberantas masalah ini.
- Sosialis - yang merasa bahwa harus ada penyesuaian yang signifikan dalam kepemilikan dan
penataan masyarakat; - Feminis radikal - mereka yang merasa bahwa ada sesuatu yang pada
dasarnya salah dengan konstruksi maskulin agresif yang memandu sistem sosial kita dan bahwa
ada kebutuhan untuk nilai-nilai yang lebih feminin seperti cinta, kasih sayang dan kerja sama. -
Ekologi yang mendalam - yang memegang bahwa manusia memiliki hak yang lebih besar untuk
eksistensi daripada bentuk lain dari kehidupan.

Clark (1998, p. 345) menjelaskan bahwa ekologi berbeda dari environmentalisme di


bahwa dibutuhkan lebih pandangan holistik yang melibatkan re-berpikir tempat manusia di
alam. ekologi sosial dan sosialis gerakan berusaha untuk menempatkan manusia dalam konteks
alam dan menawarkan kritik dari segala bentuk dominasi, tetapi khususnya dari negara bangsa,
kekuasaan terkonsentrasi ekonomi, otoritarianisme, ideologi represif dan "luas eco teknologi
mesin. Wawasan dasar ekofeminisme adalah bahwa masalahnya tidak benar-benar manusia
berpusat, tapi androsentrisme, konsepsi tertentu tentang kelelakian. Hal ini tidak mengatakan
bahwa masalahnya adalah manusia laki-laki, tapi itu masalah adalah cara berpikir yang
meremehkan baik perempuan dan alam.
Laporan lingkungan adalah artefak yang relatif baru komunikasi perusahaan dengan
produksi menjadi terlihat pada awal 1990-an. laporan lingkungan hidup dan pembangunan
berkelanjutan ini tetap sukarela di alam. Namun, persiapan laporan harus memulai jalur untuk
memungkinkan standardisasi melalui standar sukarela internasional, Global Reporting Initiative
(GRI), didirikan pada tahun 2002. laporan lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan
tidak hanya melayani peran komunikatif, mereka juga simbolis dan berfungsi sebagai perangkat
utama di pasar untuk gambar hijau dan legitimasi lingkungan. sejauh mana laporan ini mungkin
atau mungkin tidak mewakili "kebenaran". Sebaliknya, fokus kami adalah pada pilihan pesan
dan bagaimana pesan yang dibentuk oleh dan membentuk organisasi.
Fischer & Hajer (1999) menegaskan bahwa pembangunan berkelanjutan telah dibingkai
sebagai penyesuaian praktek kelembagaan dasar daripada perubahan sosial yang mendasar.
Pendekatan ini adalah satu di mana kita relatif sensitif terhadap penggunaan bahasa dalam
konteks tetapi juga salah satu yang kita cari pola yang lebih luas dan melampaui rincian teks.
Dalam rangka menciptakan struktur untuk analisis wacana dan dapat mengidentifikasi filsafat
lingkungan digunakan, kami memilih untuk mempekerjakan tiga perangkat framing kognitif
digariskan oleh Eder (1996): tanggung jawab moral, objektivitas empiris dan penilaian estetika.
sepakat pada apa yang penafsiran yang paling masuk akal untuk apa retorika itu digunakan
untuk dan apa itu mengungkapkan wacana lingkungan secara keseluruhan di mana itu terletak.
Dengan demikian, kita merasa bahwa kita mencapai "kesehatan" dari analisis (yaitu,
kehandalan) yang harus ditiru dalam semacam broadbased dari jalan. proses berulang ini khas
dalam analisis wacana (Hardy, 2001).

Peran Pemangku Kepentingan / Role of Stakeholders,


Dalam Bussiness Dictionary, pemangku kepentingan didefinisikan kelompok atau
organisasi yang memiliki kepentingan langsung atau tidak langsung dalam sebuah organisasi
karena dapat mempengaruhi atau dipengaruhi oleh tindakan organisasi, tujuan, dan kebijakan.
Meskipun para pelaku biasanya melegitimasi dirinya sebagai stakeholder, tetapi semua
pemangku kepentingan tidak sama dan memiliki kedudukan yang berbeda.
Misalnya, pelanggan perusahaan berhak untuk praktek perdagangan yang adil tetapi
mereka tidak berhak untuk mendapat pertimbangan yang sama sebagai karyawan perusahaan.
Pemangku kepentingan kunci lain dalam organisasi bisnis diantaranya kreditor, pelanggan,
direksi, karyawan, pemerintah (dan badan-badannya), pemilik (pemegang saham), pemasok,
serikat pekerja, dan masyarakat dari mana bisnis menarik sumber daya yang dimiliki.
Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa pemangku kepentingan adalah
seluruh pihak yang terkait dengan isu dan permasalahan yang menjadi fokus kajian atau
perhatian. Misalnya terkait isu perikanan, maka makna pemangku kepentingan sebagai
parapihak yang terkait dengan isu perikanan, seperti nelayan, masyarakat pesisir, pemilik kapal,
anak buah kapal, pedagang ikan, pengolah ikan, pembudidaya ikan, pemerintah, pihak swasta
di bidang perikanan, dan sebagainya.
Seorang pemangku kepentingan adalah seseorang yang mempunyai sesuatu yang dapat
ia peroleh atau akan kehilangan akibat dari sebuah proses perencanaan atau proyek. Dalam
banyak siklus, mereka disebut sebagai kelompok kepentingan, dan mereka bisa mempunyai
posisi yang kuat dalam menentukan hasil suatu proses politik. Seringkali akan sangat
bermanfaat bagi proyek penelitian untuk mengidentifikasi dan menganalisis kebutuhan dan
kepedulian berbagai pemangku kepentingan, terutama jika proyek diracang bertujuan
mempengaruhi kebijakan (Start & Hovland dalam http://www.smeru.or.id/)
Peran Pemangku Kepentingan Korporasi dihadapkan pada persaingan yang kompetitif,
keterbatasan sumberdaya, dan perolehan laba untuk meningkatkan kemakmuran pemegang
saham.Oleh sebab itu korporasi melakukan berbagai upaya yang tidak jarang memiliki dampak
negative kepada pihak lain, termasuk lingkungan. Tidak sedikit aktivitas korporasi menimbulkan
kerusakan terhadap alam.
Kerusakan alam tersebut pada akhirnya akan berpengaruh buruk terhadap lingkungan
dan makhluk hidup di dalamnya, termasuk manusia. Tindakan korporasi seperti ini pada
akhirnya akan mengancam kelangsungan hidup alam, manusia, dan perusahaan itu sendiri.
Oleh sebab itu diperlukan prinsip dan upaya yang mendorong peran korporasi dalam mencegah
hal tersebut. Korporasi justru harus berperan aktif dalam melestarikan lingkungan.

Kemitraan / Partnership

Kemitraan adalah suatu strategi bisnis yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih dalam jangka
waktu tertentu untuk meraih keuntungan bersama dengan prinsip saling membutuhkan dan
saling membesarkan. Kemitraan adalah suatu rangkaian proses yg dimulai dengan mengenal
calon mitranya, mengetahui posisi keunggulan dan kelemahan usahanya, memulai membangun
strategi, melaksanakan dan terus menerus memonitor dan mengevaluasi sampai target sasaran
tercapai. Sehingga yang menjadi titik tolak kemitraan adalah memiliki dasar ETIKA BISNIS yang
dipahami bersama.

a. Proses Pengembangan Kemitraan - Memulai membangun hubungan dengan calon mitra =


memilih mitra yg tepat - Mengerti kondisi bisnis pihak yang bermitra (kemampuan manajemen,
penguasaan pasar, teknologi, permodalan, SDM) = memudahkan penyusunan langkah/strategi -
Mengembangkan strategi dan menilai detail bisnis (strategi pesaran, strategi dsitribusi,
operasional, informasi) - Mengembangkan program = rencana taktis dan strategi yang akan
dilakukan dengan mengkomunikasikan dengan orang yang terlibat - Memulai pelaksanaan =
memulai pelaksanaan kemitraan berdasarkan ketentuan yg disepakai - Memonitor dan
mengevaluasi - Memonitor : agar terget yg ingin dicapai menjadi kenyataan - Mengevaluasi :
untuk perbaikan pelaksanaan berikutnya

b. Prinsip dalam membangun hubungan Membangun citra lembaga yg baik, diantaranya : -


Fokuskan kepada kualifikasi lembaga dan bukan hanya nama lembaga - Berkaitan dengan apa
yang kita tawarkan dan bukan apa yg kita dapatkan - Mengembangkan kemampuan
"mendengar"
DAFTAR PUSTAKA

1. Hapzi Ali, 2016. Modul BE & GG, Univeristas Mercu Buana.


2. http://bembyagus.blogspot.co.id/2012/04/pengertian-etika-etika-bisnis-dan-jenis.html
3. https://joko1234.wordpress.com/2010/03/15/prinsip-prinsip-etika-lingkungan/
4. http://satriabajabiru.blogspot.co.id/2012/02/etika-lingkungan-hidup.html
5. Keraf, A. Sonny, Etika Lingkungan (Jakarta ; Kompas, 2006)
6. Kurniawan, Ehwan , Panduan Mendaki Gunung Dalam Infografis (PT Tunas Bola;2004)
7. Kuswahyudi, Etika Kita Untuk Lingkungan Hidup, 2008
8. Citra Nurkamilah, Etika lingkungan dan implemantasinya dalam pemeliharaan
lingkuangan alam pada masyarakat kampung naga, Bandung, 2018.
9. Keraf, A. Sonny. Etika lingkungan Hidup, Jakarta:Kompas, 2010.
10. Susilo, Rachmad K. Dwi Sosiologi Lingkungan. Jakarta: Rajawali Pers, 2012.