Anda di halaman 1dari 28

Makalah Jenis – Jenis Fondasi

DAFTAR ISI

Kata Pengantar……………………………………………………………………………. ii

Daftar Isi….………………………………………………………………………………. iii

Bab I : Pendahuluan……………………………………………………………………….. 1

1.1 Latar Belakang Masalah…...………………………………………………………….. 1

1.2 Rumus Masalah…………….....………………………………………………………. 1

1.3 Tujuan Masalah………….……………………………………………………………. 1

Bab II : Pembahasan………..…………………………………………………………….. 2

2.1 Pengertian Pondasi Secara Umum …..……………………….………………………. 2

2.2 Jenis-Jenis Pondasi………………..………………………………………………….. 2

2.3 Bab III : Penutup / Kesimpulan……………………………………………………… 4

Daftar Pustka………….…………………………………………………………………. 5
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pondasi merupakan dasar yang terpenting dan tak bisa terhindari untuk membuat suatu
konstruksi bangunan oleh karena itu kita perlu memahami benar jenis-jenis pondasi serta
kekuatannya sesuai bangunan yang akan dibangun. Kita sering meilhat suatu bangunan runtuh
dan banyak orang menyalahkan pondasinya kurang berkualitas maka dari itu saya menarik
membuat makalah ini.

1.2 Rumus Masalah

Adapun masalah yang bisa disimpulkan sebagai berikut :

1. Bagaimana mengetahui perbedaan antara pondasi yang satu dengan pondasi yang lain
serta fungsinya dan kekuatannya.
2. Bagaimana menggambar pondasi.

1.3 Tujuan Masalah.

Tujuan masalah sebagai berikut :

1. Mengetahui Jenis – Jenis Pondasi


2. Mengetahui perbedaan pondasi yang satu dengan pondasi lain sesuai dengan fungsi
dan kekuataannya.
3. Mengetahui struktur jenis – jenis pondasi.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pondasi

Pondasi merupakan suatu komponen struktur yang sangat penting karena semua
beban yang timbul akan diterima oleh pondasi. Kestabilan berdirinya suatu bangunan
ditentukan atau tergantung pada kekuatan konstruksi pondasinya. Sebuah bangunan
tidak dapat begitu saja didirikan langsung diatas tanah, untuk itu diperlukan adanya
struktur bangunan bawah yang disebut pondasi, jadi pondasi adalah bangunan sub
struktur dibawah tanah yang berfungsi sebagai pendukung seluruh berat dari bangunan dan
meneruskan beban yang didukung ke tanah dibawahnya sekaligus menstabilkan beban.

Suatu sistem pondasi harus dihitung untuk menjamin keamanan, kestabilan


bangunan diatasnya, tidak boleh terjadi penurunan sebagian atau seluruhnya melebihi
batas-batas yang diijinkan. Hal yang juga penting berkaitan dengan pondasi adalah apa
yang disebut soil investigation, atau penyelidikan tanah. Pondasi harus diletakkan pada
lapisan tanah yang cukup keras dan padat. Untuk membuat pondasi maka diperlukan
adanya pekerjaan galian tanah, hal ini dilakukan karena pada umumnya lapisan tanah
dipermukaan setebal +/- 50 cm adalah lapisan tanah humus yang sangat labil dan tidak
mempunyai daya dukung yang baik, oleh karena itu pada dasar pondasi tidak boleh diletakkan
pada lapisan tanah humus ini.

Untuk menjaga kestabilan pondasi dan memperoleh daya dukung tanah yang
besar, dasar pondasi harus diletakkan lebih dari 50 cm di dalam permukaan tanah sampai
mencapai lapisan yang keras. Lebar galian tanah pondasi dibuat secukupnya asal bisa
untuk memasang pondasi, karena tanah yang sudah terusik akan berubah sifat maupun
kekuatannya.
2 .2 Jenis – jenis Pondasi

2.2.1.Pondasi Telapak ( Foot Plate )

Pondasi telapak merupakan salah satu jenis pondasi bangunan. Pondasi ini menyerupai
bentuk seperti telapak kaki, gunanya untuk menahan beban bangunan sebagai tumpuan
struktur kolom baik untuk rumah satu lantai atau bangunan bertingkat. Pondasi ini diletakkan
tepat pada bagia as kolom bangunan. Pondasi ini terbuat dari beton bertulang berbentuk
persegi atau persegi panjang apabila lahan bangunan tidak memungkinkan. Ukuran pondasi
telapak dibuat lebih besar dari pada dimensi kolom.

Tebal minimum fondasi telapak

Ketebalan fondasi telapak di atas lapisan tulangan bawah tidak boleh kurang dari
150mm untuk fondasi telapak di atas tanah; ataupun tidak kurang dari 300 mm untuk fondasi
telapak di atas pancang.

Pondasi Telapak ini berfungsi sebagai memperkuat struktur bangunanyang menahan


beban vertical seperti beban mati, beban hidup, dan beban gempa serta beban angin. Dalam
merencana pondasi telapak harus memenuhi syarat-syarat segala tanda aspek keamanan yang
sesuai dengan persyaratan yang berlaku di indonesia, seperti penentuan ukuran pondasi yang
memnuhi panjang, lebar dan ketebalan pondasi.

Untuk Peraturan perencanaan pondasi telapak sudah ditetapkan dalam SNI 03-2847-
2002. Pondasi telapak ini didesain agar mempunyai kapasitas daya dukung tanah dengan
penurunan / penyelesaian tertentu.Desain utamanya mempertimbangkan penurunan dan daya
dukung tanah, dalam beberapa kasus seperti turap, lendutan pondasi juga diikutkan dalam
pertimbangan. Ketika kita berbicara tentang penurunan, yang perlu diperhitungkan biasanya
penurunan keseluruhan bagian pondasi turun bersama-sama dan penurunan diferensial yaitu
sebagian pondasi saja yang turun atau miring

Luas bidang pelat beton sebagai telapak kaki pondasi biasanya berbentuk bujur
sangkar atau persegi panjang. Telapak kaki yang berbentuk bujur sangkar biasanya terletak di
bawah kolom bangunan bagian tengah. Sedangkan yang berbentuk empat persegi panjang
ditempatkan pada bawah kolom bangunan tepi atau samping agar lebih stabil. Luas telapak
kaki pondasi tergantung pada beban bangunan yang diterima dan daya dukung tanah yang
diperkenankan ( σ tanah), sehingga jika daya dukung tanahnya makin besar, maka luas pelat
kakinya dapat dibuat lebih kecil.

Ada beberapa kelebihan pondasi telapak antara lain sebagai berikut:

1. Biaya pembuatannya pondasi telapak relatif murah dibandingkan dengan lainnya.


2. Galian tanahnya tidak terlalu dalam hanya pada bagian pondasinya saja.
3. Pondasi ini bisa direncakan untuk satu lantai sampai dengan empat lantai
maksimalnya.
4. Proses pekerjaannya relatif sederhana pada tahapan pengecoran
5. Perakitan besi di dilakukan di atas dan tidak harus di tempat galian
2.2.2 Pondasi Rakit

Pondasi rakit (MAT Foundation) dapat dipakai pada tanah dengan kapasitas dukung
rendah atau jika jarak kolom atau beban lain sangat dekat dalam kedua arah sehinggan seluruh
telapak bersentuhan satu sama lain sehingga jika menggunakan pondasi telapak luasan besar
(tidak ekonomis).. Pondasi rakit sangat bermanfaat untuk mengurangi perbedaan penurunan
dalam berbagai tanah. Pondasi rakit merupakan bagian bawah struktur yang berbentuk rakit
melebar keseluruh bagian dasar bangunan.

Tahapan Pekerjaan Pelaksanaan Pondasi Rakit (MAT Foundation)

1. Persiapan Peralatan

 Menentukan peralatan apa saja yang akan digunakan dalam pekerjaan pengecoran,
peralatan tersebut harus memiliki daya jangkau dan daya angkut yang memadai.
 Semua peralatan harus telah diperiksa dan diinspeksi secara rutin dan ketika akan
melakukan pengecoran.
 Pipa penghubung harus dipasang dengan jarak 2 meter dengan spesi 1 meter terhadap
tumpuan.
 Menyediakan penerangan yang baik di lokasi pengecoran apabila pekerjaan dilakukan
di malam hari.
 Menyiapkan terpal (tarpaulin) penutup untuk mengantisipasi bila terjadi hujan dan
mengarahkan air hujan ke luar lokasi pengecoran.
 Pompa beton harus berada dekat dengan lokasi pengecoran untuk menghindari terlalu
banyaknya sambungan pipa.

2. Persiapan Pengecoran Beton

 Sebelum memulai pekerjaan, persetujuan dan izin kerja harus diberikan oleh Sub
Kontraktor dan semua inspeksi harus sudah dilaksanakan dan disetujui oleh
Supervisor Sub Konsultan.
 Ketinggian beton yang akan dituangkan harus diberi tanda dengan jelas di sekitar
formwork.
 Lokasi pengecoran selanjutnya dibersihkan menggunakan udara terkompresi dan
membuang sisa-sisa kawat pengikat serta disiram dengan air bersih yang kemudian
dialirkan keluar lokasi pengecoran.
 Pagar pengaman atau barikade pengaman harus sudah terpasang agar proses
pengecoran tidak mengganggu pekerjaan yang lain.
 Untuk pemesanan beton, jumlah beton dihitung berdasarkan shop drawing yang telah
disetujui. Untuk pengecoran skala kecil, pemesanan dilakukan sesuai perhitungan.
Untuk pengecoran skala besar, jumlah pemesanan ditambah 3% dari total beton yang
dibutuhkan dan harus dikalkulasi berulang kali untuk mencegah pemesanan berlebih.
 Peralatan cadangan harus siap di posisi yang ditentukan dan telah diperiksa serta telah
disetujui oleh Sub Konsultan sebelum pengecoran berlangsung.

3. Pengecekan Beton

 Surat pengantaran beton harus dicek untuk memastikan mix design, kuantitas, dan
slump tepat.
 Waktu pembuatan beton harus dicek dan dipastikan pengecoran sebelum 2 jam
setelah pembuatan.
 Tes slump harus dikerjakan menurut sampel kubus yang diambil.

4. Metode pengambilan sampel :

Pondasi rakit, pelat lantai dan balok = setiap 25m3 harus diambil 1 set sampel (3 silinder).
Bila jumlah beton melebihi 100m3 1 set sampel diambil setiap 100m3.

Kolom dan dinding = setiap truk mixer harus diambil 1 set sampel.

1 set sampel berisi 3 silinder. 1 silinder untuk pengujian kuat tekan beton 7 hari, 1 silinder
untuk pengujian kuat tekan beton 28 hari, dan 1 silinder untuk cadangan.

5. Pelaksanaan Pengecoran Pondasi Rakit

 Tidak boleh ada penambahan air pada beton.


 Memastikan semua platform dan jalan pekerja telah terpasang di sekitar lokasi
pengecoran.
 Pengecoran harus dikerjakan sedemikian rupa sehingga tidak terjadi pengecoran tidak
rata, segregasi, terbuangnya material, serta rusaknya formwork.
 Beton haruslah terbentuk sedekat mungkin dengan hasil akhir sehingga tidak
membutuhkan pekerjaan lain setelahnya.
 Beton haruslah dicor secara berlapis sesuai ukuran vibrator, kecuali untuk area
basemen yang dicor langsung hingga level final.
 Beton tidak boleh digerakkan secara lateral oleh vibrator.
 Beton harus digetarkan sesuai pola yang ditentukan untuk memastikan kepadatan
beton.
 Ketukan ataupun getaran lain dari luar tidak diperbolehkan.
 Beton tidak boleh jatuh bebas, lebih dari 1,5m untuk pekerjaan tertutup dan 0,9m
untuk pekerjaan terbuka.
 Lapisan beton horizontal yang telah dipadatkan tidak boleh melebihi 0.3m spasi harus
diatur agar tidak terjadi segregasi.
 Setelah ketinggian beton mencapai batas yang diinginkan, dilakukan pengukuran level
dan finish dibuat sesuai standar desain.
 Bila beton akan dituang ke lokasi yang bersinggungan dengan beton yang sudah ada
sebelumnya, tembok beton yang telah ada akan disiram air atau dilapisi cairan
pengikat yang telah disetujui.
 Setelah beton mengeras dan formwork telah dilepas, beton diselimuti dengan karung
goni basah dengan overlap 100mm dan tidak dibuka setidaknya selama 7 hari.

6. Alat-alat yang Digunakan Dalam Metode Pelaksanaan MAT Foundation

 Beton ready mix


 Pagar pembatas = dia. 2 inch, tinggi 1100 mm.
 Perlengkapan curing = karung goni
 Truk mixer = sesuai volume beton
 Pompa beton = disesuaikan
 Mobile crane = disesuaikan (biasanya cukup 1 unit)
 Converter 2-3 sockets = disesuaikan (biasanya 1-2 unit)
 Dumper = 1unit
 Theodolit dan perlengkapan leveling = disesuaikan
 Penyemprot air = 1 unit
 Kompressor : disesuaikan
 Bucket beton = 1 unit
 Vibrator : disesuaikan

7. Kebutuhan Sumber Daya

Untuk keseluruhan pengecoran digunakan sumber daya tenaga kerja berupa tenaga kerja
untuk leveling (survei), tenaga kerja untuk pekerjaan jidar, tenaga kerja untuk vibrator, tenaga
kerja untuk pengecoran, dan tenaga kerja untuk curing.

8. Hal-hal yang Harus Diperhatikan Dalam Pekerjaan Pondasi Rakit

 Izin kerja alat dan pekerja


 Pengawasan pengujian slump
 Pengawasan pengujian tekanPerlengkapan K3 yang digunakan
 Pengawasan K3 dalam pekerjaan
 Alur keluar-masuk truk mixer
2.2.3. Pondasi Sumuran

Apabila lapisan tanah keras terdapat pada kedalaman 3-5 m maka untuk membuat
pondasi langsung, lapisan tanah dasar pondasi hanrs diperbaiki dengan cara pemadatan tanah
atau urugan pasir.Penyelesaian seperti ini pada umumnya kecuali mahal juga akan lama,
sehingga perlu dipilih cara lain yang lebih praktis, antara lain dengan pondasi sumuran.

Di sini pondasi sumuran berfungsi sebagai perantara untuk memindahkan beban


bangunan yang terletak di atasnya kepada tanah dasar pondasi yang kokoh (tanah dasar yang
mempunyai daya dukung besar). Sumur-sumur ini berdiri vertikal dan dapat dibuat dari
cincin-cincin (buis) beton yang dikenal dalam perdagangan sebagai pipa beton untuk
bangunan (gorong-gorong), yang disusun vertikal satu demi satu hingga mencapai kedalaman
tertentu dan di dalam pipa lalu diisi dengan pasir atau beton siklop.

Setelah pipa beton pertama dipasang pada tempat yang sebenarnya, kemudian tanah
dalam pipa dikeluarkan sambil pipa beton diturunkan perlahan-lahan. Pekerjaan seperti ini
diulangi dengan menempatkan pipa beton kedua di atas pipa beton pertama tadi dan
seterusnya hingga mencapai kedalaman sumur seperti yang direncanakan.

Jika terdapat gangguan-gangguan yang disebabkan air tanah, maka untuk


mengeluarkan tanah galian yang terdapat di dalam pipa sumuran dapat dilakukan dengan
mengeruk. Pengecoran beton siklop dalam air sumuran dilaksanakan dengan menggunakan
corong tuang (tremi), sedang banyaknya air dalam sumuran dapat dikurangi dengan jalan
dipompa sebelum pekerjaan pengecoran dimulai.

Konstrusi pondasi sumuran seperti ini dapat dilaksanakan jika pengeringan air tanah
dalam sumuran tidak mampu dilaksanakan dengan pompa pasir karena pasir mudah
dipadatkan yaitu dengan cara mengenangi dengan air sampai jenuh, sedang untuk bangunan
yang cukup besar, bahan pengisi sumuran dapat dipakai beton siklop yaitu dengan campuran
1 Pc : 2 Ps : 3 Kr yang ditambah dengan batu kali sebanyak ±30% nya. Bahan batu kali pada
beton siklop dimaksudkan untuk menghemat biaya.

Sumuran diletakkan tepat satu sumbu di bawah dinding tembok bangunan dengan
jarak masing-masing satu terhadap yang lain supaya diusahakan agar sarna, kecuali apabila
keadaan pembagian ruangan yang tidak sarna. Demikian juga di tempat--tempat sudut
bangunan dan tempat-tempat sambungan dinding tembok (delatasi) harus didirikan pondasi
sumuran

Setelah pondasi sumuran selesai selesai dikerjakan, maka untuk selanjutnya di atas
sumuran dipasang balok terusan dari beton bertulang yang berfungsi mendukung dinding
tetnbok bangunan di atasnya

Untuk menghitung besarnya garis tengah sumuran, maka dapat dipakai ketentuan
tanpa memperhitungkan berat sendiri bahan pengisi sumuran, tetapi disertai dengan
mengurangi besarnya daya dukung tanah dasar pondasi, schingga rumus besarnya daya
dukung tanah dasar pondasi sumuran yang diperkenankan menjadi :
stanah dasar sumuran = stanah - 0,04 h(kg/cm2).

di mana h = tinggi sumur dalam meter.


2.2.4.Pondasi Tiang

Di dalam proyek suatu konstruksi, hal yang paling penting salah satunya adalah
pondasi dikarenakan berfungsi untuk meneruskan beban struktur di atasnya kelapisan tanah di
bawahnya. Ditinjau dari segi pelaksanaan, ada beberapa keadaan dimana kondisi lingkungan
tidak memungkinkan adanya pekerjaan yang baik dan sesuai dengan kondisi yang
diasumsikan dalam perencanaan meskipun macam pondasi yang sesuai telah dipilih dengan
perencanaan yang memadai, serta struktur fondasi yang telah dipilih itu di lengkapi dengan
pertimbangan mengenai kondisi tanah pondasi dan batasan-batasan struktur.

Setiap pondasi harus mampu mendukung beban sampai batas keamanan yang telah
ditentukan, termasuk mendukung beban maksimum yang mungkin terjadi. Jenis pondasi yang
sesuai dengan tanah pendukung yang terletak pada kedalaman 10 meter di bawah permukaan
tanah adalah fondasi tiang. (Dr. Ir. Suyono Sosrodarsono dan Kazuto Nakazawa, 1990).

Tanah selalu mempunyai peranan penting dalam suatu pekerjaan konstruksi. Tanah
adalah sebagai dasar pendukung suatu bangunan atau bahan konstruksi dari bangunan itu
sendiri. Pada umumnya semua bangunan dibuat diatas dan dibawah permukaan tanah, maka
diperlukan suatu sistem fondasi yang akan menyalurkan beban dari bangunan ke tanah. Untuk
menentukan dan mengklasifikasi tanah diperlukan suatu pengamatan di lapangan. Tetapi jika
mengandalkan pengamatan di lapangan, maka kesalahan-kesalahan yang disebabkan oleh
perbedaan pengamatan perorangan akan menjadi sangat besar. Untuk memperoleh hasil
klasifikasi yang objektif, biasanya tanah itu secara sepintas dibagi dalam tanah berbutir kasar
dan berbutir halus berdasarkan suatu hasil analisa mekanis. Selanjutnya tahap klasifikasi
tanah berbutir halus diadakan berdasarkan percobaab konsistensi. (Dr. Ir. Suyono osrodarsono
dan Kazuto Nakazawa, 1990).

Karena tanah mempunyai pori yang besar, maka pembebanan biasa akan
mengakibatkan deformasi tanah yang sangat besar. Hal ini tentu akan mengakibatkan
penurunan fondasi yang akan merusak konstruksi. Berbeda dengan bahan-bahan konstruksi
yang lain, karakteristik tanah didominasi oleh karakteristik mekanisnya seperti permeabilitas
atau kekuatan geser yang berubah-ubah sesuai dengan pembebanan. Akibat dari beban yang
bekerja pada tanah, susunan butir – butir tanah berubah atau kerangka struktur butir-butir
tanah berubah ehingga angka perbandingan pori (valid ratio) menjadi kecil yang
mengakibatkan deformasi pemampatan. Deformasi pemampatan tanah yang terjadi
memperlihatkan gejala yang elastis, sehingga bila beban itu ditiadakan maka tanah akan
kembali pada bentuk semula. (Dr. Ir. Suyono Sosrodarsono dan Kazuto Nakazawa, 1990).

Pondasi tiang digolongkan berdasarkan kualitas bahan material dan cara pelaksanaan.
Menurut kualitas bahan material yang digunakan, tiang pancang dibedakan menjadi empat
yaitu tiang pancang kayu, tiang pancang beton, tiang pancang baja dan tiang pancang
composite (kayu – beton dan baja – beton). Tiang pancang beton berdasarkan cara
pembuatannya dibedakan menjadi dua macam yaitu cast in place (tiang beton cor ditempat
atau pondasi tiang bor) dan precast pile (tiang beton dibuat ditempat lain atau dibuat
dipabrik). Pondasi tiang pancang dibuat ditempat lain (pabrik, dilokasi) dan baru dipancang
sesuai dengan umur beton setelah 28 hari. Karena tegangan tarik beton adalah kecil,
sedangkan berat sendiri beton adalah besar, maka tiang pancang beton ini haruslah diberi
tulangan yang cukup kuat untuk menahan momen lentur yang akan timbul pada waktu
pengangkatan dan pemancangan. Pemakaian pondasi tiang pancang mempunyai keuntungan
dan kerugian antara adalah sebagai berikut ini. Keuntungan nya yaitu :

Karena tiang dibuat di pabrik dan pemeriksaan kualitas ketat, hasilnya lebih dapat
diandalkan. Lebih-lebih karena pemeriksaan dapat dapat dilakukan setiap saat.

Prosedur pelaksanaan tidak dipengaruhi oleh air tanah

Daya dukung dapat diperkirakan berdasarkan rumus tiang pancang sehingga mempermudah
pengawasan pekerjaan konstruksi.

Cara penumbukan sangat cocok untuk mempertahankan daya dukung vertikal.

Kerugian nya :

Karena dalam pelaksanaannya menimbulkan getaran dan kegaduhan maka pada


daerah yang berpenduduk padat di kota dan desa, akan menimbulkan masalah disekitarnya.
Pemancangan sulit, bila dimeter tiang terlalu besar

Bila panjang tiang pancang kurang, maka untuk melakukan penyambungan nya sulit dan
memerlukan alat penyambung khusus.

Bila memerlukan pemotongan maka dalam pelaksanaannya akan lebih sulit dan memerlukan
waktu yang lama.

Metode pelaksanaan :

1. Penentuan lokasi titik dimana tiang akan dipancang


2. Pengangkatan tiang.
3. Pemeriksaan kelurusan tiang.
4. Pemukulan tiang dengan palu (hammer) atau dengan cara hidrolik.

Dalam menentukan kapasitas dukung tiang diperlukan klasifikasi tiang dalam


mendukung beban yang bekerja. Menurut Terzaghi, klasifikasi tiang didasarkan pada fondasi
tiang yaitu :

 Tiang gesek (friction pile), bila tiang pancang pada tanah berbutir. Akibat
pemancangan tiang, tanah disekitar tiang menjadi padat. Porositas dan kompresibilitas
tanah akibat getaran pada waktu tiang dipancang menjadi berkurang dan angka
gesekan antara butir-butir tanah dan permukaan tiang pada arah lateral menjadi
bertambah.
 Tiang lekat (cohesion pile), bila tiang dipancang pada tanah lunak (permeabilitas
rendah) atau tanah mempunyai kohesi yang tinggi.
 Tiang mendukung dibagian ujung tiang (point / end bearing pile), bila tiang dipancang
dengan ujung tiang mencapai tanah keras sehingga seluruh beban yang dipikul oleh
tiang diteruskan ke tanah keras melalui ujung tiang.
 Tiang tekan, bila tiang telah menumpu pada tanah keras dan mendapatkan tekanan
vertikal dari beban mati maupun beban hidup.
 Tiang tarik, bila tiang pancang pada tanah berbutir mendapat gaya yang bekerja dari
lendutan momen yang mengakibatkan tiang mengalami gaya tarik.

Pada kenyataannya di lapangan, tanah sangat heterogen dan pada umumnya


merupakan kombinasi dari kelima hal tersebut di atas. Berbagai metode dalam usaha
menentukan kapasitas dukung tiang ini, tapi umumnya dibedakan dalam dua kategori yaitu
untuk tiang tunggal dan kelompok tiang.
2.2.5.Pondasi Tiang Apung ( Floating )

2.2.6.Pondasi Tiang Pancang

Pondasi tiang pancang adalah suatu konstruksi pondasi yang mampu menahan gaya
orthogonal ke sumbu tiang dengan jalan menyerap lenturan. Pondasi tiang pancang dibuat
menjadi satu kesatuan yang monolit dengan menyatukan pangkal tiang pancang yang terdapat
di bawah konstruksi dengan tumpuan pondasi.

Pelaksanaan pekerjaan pemancangan menggunakan diesel hammer. Sistem kerja


diesel Hammer adalah dengan pemukulan sehingga dapat menimbulkan suara keras dan
getaran pada daerah sekitar. Itulah sebabnya cara pemancangan pondasi ini menjadi
permasalahan tersendiri pada lingkungan sekitar.

Permasalahan lain adalah cara membawa diesel hammer kelokasi pemancangan harus
menggunakan truk tronton yang memiliki crane. Crane berfungsi untuk menaikkan dan
menurunkan. Namun saat ini sudah ada alat pancang yang menggunakan system hidraulik
hammer dengan berat 3 – 7 ton.

Pekerjaan pemukulan tiang pancang dihentikan dan dianggap telah mencapai tanah
keras jika pada 10 kali pukulan terakhir, tiang pancang masuk ke tanah tidak lebih dari 2 cm.

Berikut ini cara sederhana untuk menghitung kebutuhan pondasi tiang pancang dan
penampang tiang pancang yang akan digunakan :

Misalnya didapat brosure produk tiang pancang segitiga ukuran 25/25. Jika daya dukung
setiap tiangnya mencapai 2 ton maka berapakah jumlah tiang dalam setiap kolomnya?

Adapun tahap perhitungannya adalah sebagai berikut:

 Denah bangunan dibagi-bagi di antara kolom-kolom untuk mengetahui berat yang


harus dipikul setiap pondasi. Dapat juga semua luas denah bangunan dijumlahkan
kemudian dibagi ke dalam beberapa titik pondasi dalam setiap kolomnya. Cara kedua
ini memiliki kelemahan karena beban di pinggir kolom tentu saja berbeda dengan
beban di tengah.
 Selanjutnya total volume beton dikalikan dengan berat jenis beton, volume lantai
dikalikan berat jenis lantai, demikian seterusnya untuk tembok, kayu, genteng, dan
sebagainya. Hasilnya dijumlahkan sehingga diperoleh berat = X ton.
 Selain itu juga dihitung jumlah beban hidup untuk jenis bangunan tersebut. Misalnya
beban rumah tinggal 200 Kg/m2. Sehingga diperoleh 200 kg dikalikan dengan seluruh
luas lantai, misalnya Y ton.
 Jumlah semua beban tersebut yaitu : X ton + Y ton. Misalnya, hasil penjumlahannya
48 ton. Dengan demikian kebutuhan tiang pancang adalah 48 ton : 25 ton atau sekitar
dua buah tiang pancang pada satu titik kolom. Jadi jumlah tiang pancang untuk
bangunan tersebut adalah hasil perkalian antara jumlah kolom dengan dua titik
pancang.
 Hasil tersebut hanya untuk sebuah tiang pancang yang ukurannya 6 meter setiap
batangnya. Bila kedalaman tanah keras adalah 9 meter, maka diperlukan dua buah
tiang pancang per titiknya.
 Hitungan sederhana tersebut mengabaikan daya dukung tanah hasil laboratorium dan
daya lekat tanah si sepanjang tiang pancang. Bila hal tersebut dihitung, jumlah tiang
pancang tentu akan berkurang. Bahkan cara perhitungannya tidak sesederhana
hitungan di atas.

1. Ukuran Tiang Pancang

Berbagai ukuran tiang pancang yang ada pada intinya dapat dibagi dua, yaitu :

MINIPILE dan MAXIPILE.

a. Minipile (Ukuran Kecil)

Tiang pancang berukuran kecil ini digunakan untuk bangunan-bangunan bertingkat


rendah dan tanah relative baik. Ukuran dan kekuatan yang ditawarkan adalah:

Berbentuk penampang segitiga dengan ukuran 28 dan 32.

Berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 20x20 dan 25x25.

 Tiang pancang berbentuk penampang segitiga berukuran 28 mampu menopang beban


25 – 30 ton
 Tiang pancang berbentuk penampang segitiga berukuran 32 mampu menopang beban
35 – 40 ton.
 Tiang pancang berbentuk bujur sangkar berukuran 20x20 mampu menopang tekanan
30 – 35 ton
 Tiang pancang berbentuk bujur sangkar berukuran 25 x 25 mampu menopang tekanan
40 – 50 ton.

b. Maxipile (Ukuran Besar)


Tiang pancang ini berbentuk bulat (spun pile) atau kotak (square pile). Tiang pancang
ini digunkan untuk menopang beban yang besar pada bangunan bertingkat tinggi.
Bahkan untuk ukuran 50x50 dapat menopang beban sampai 500 ton.

2. Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan :

 Karena dibuat dengan system pabrikasi, maka mutu beton terjamin.


 Bisa mencapai daya dukung tanah yang paling keras.
 Daya dukung tidak hanya dari ujung tiang, tetapi juga lekatan pada sekeliling tiang.
 Pada penggunaan tiang kelompok atau grup (satu beban tiang ditahan oleh dua atau
lebih tiang), daya dukungnya sangat kuat.
 Harga relative murah bila dibanding pondasi sumuran.

Kekurangan :

 Untuk daerah proyek yang masuk gang kecil, sulit dikerjakan karena factor angkutan.
 Sistem ini baru ada di daerah kota dan sekitarnya.
 Untuk daerah dan penggunaan volumenya sedikit, harganya jauh lebih mahal.
 Proses pemancangan menimbulkan getaran dan kebisingan.

3. Keuntungan dan Kerugian menurut teknik pemasangan

a. Pondasi tiang pancang pabrikan.

Keuntungan:

 Karena tiang dibuat di pabrik dan pemeriksaan kwalitas sangat ketat, hasilnya
lebih dapat diandalkan
 Pelaksanaan pemancangan relative cepat, terutama untuk tiang baja. Walaupun
lapisan antara cukup keras, lapisan tersebut masih dapat ditembus sehingga
pemancangan ke lapisan tanah keras masih dapat dilakukan.
 Persediaannya culup banyak di pabrik sehingga mudah diperoleh, kecuali jika
diperlukan tiang dengan ukuran khusus.
 Untuk pekerjaan pemancangan yang kecil, biayanya tetap rendah.
 Daya dukungnya dapat diperkirakan berdasar rumus tiang pancang sehingga
pekerjaankonstruksinya mudah diawasi.
 Cara pemukulan sangat cocok untuk mempertahankan daya dukung beban
vertical.

Kerugian :

 Karena pekerjaan pemasangannya menimbulkan getaran dan kegaduhan maka


pada daerah yang berpenduduk padat akan menimbulkan masalah di
sekitarnya.
 Untuk tiang yang panjang, diperlukan persiapan penyambungan dengan
menggunakan pengelasan (untuk tiang pancang beton yang bagian atas atau
bawahnya berkepala baja). Bila pekerjaan penyambungan tidak baik, akibatnya
sangat merugikan.
 Bila pekerjaan pemancangan tidak dilaksanakan dengan baik, kepala tiang
cepat hancur. Sebaiknya pada saat dipukul dengan palu besi, kepala tiang
dilapisi denga kayu.
 Bila pemancangan tidak dapat dihentikan pada kedalaman yang telah
ditentukan, diperlukan perbaikan khusus.
 Karena tempat penampungan di lapangan dalam banyak hal mutlak diperlukan
maka harus disediakan tempat yang cukup luas.
 Tiang-tiang beton berdiameter besar sangat berat, sehingga sulit diangkut atau
dipasang. Karena itu diperlukan mesinpemancang yang besar.
 Untuk tiang-tiang pipa baja, diperlukan tiang yang tahan korosi.

b. Pondasi Tiang yang Dicor di Tempat

Keuntungan:

 Karena pada saat melaksanakan pekerjaan hanya terjadi getaran dan keriuhan
yang sangat kecil maka pondasi ini cocok untuk pekerjaan pada daerah yang
padat penduduknya.
 Karena tanpa sambungan, dapat dibuat tiang yang lurus dengan diameter besar
dan lebih panjang.
 Diameter tiang ini biasanya lebih besar daripada tiang pracetak atau pabrikan.
 Daya dukung sstiap tiang lebih besar sehingga beton tumpuan (Pile cap) dapat
dibuat lebih kecil.
 Selain cara pemboran di dalam arah berlawanan dengan putaran jam, tanah
galian dapat diamati secara langsung dan sifat-sifat tanah pada lapisan antara
atau pada tanah pendukung pondasi dapat langsung diketahui.
 Pengaruh jelek terhadap bangunan di dekatnya cukup kecil.

Kerugian :

 Dalam banyak hal, beton dari tubuh tiang diletakkan di bawah air dn kualitas
tiang yang sudah selesai lebih rendah dari tiang-tiang pracetak atau pabrikan.
Disamping itu, pemeriksaan kualitas hanya dapat dilakukan secara tidak
langsung.
 Ketika beton dituangkan, dikawatirkan adukan beton akan bercampur dengan
reruntuhan tanah. Oleh karena itu, beton harus segera dituangkan dengan
seksama setelah penggalian tanah dilakukan.
 Walaupun penetrasi sampai ke tanah pendukung pondasi dianggap telah
terpenuhi, terkadang tiang pendukung kurang sempurna karena ada lumpur
yang tertimbun di dasar.
 Karena diameter tiang cukup besar dan memerlukan banyak beton, maka untuk
pekerjaan yang kecil dapat mengakibatkan biaya tinggi.
 Karena pada cara pemasangan tiang yang diputar berlawanan arah jarum jam
menggunakan air maka lapangan akan menjadi kotor. Untuk setiap cara perlu
dipikirkan cara menangani tanah yang telah dibor atau digali.

2.2.7.Pondasi Caisson,Tiang Baja,Tiang Beton

a. Pondasi caisson

Pondasi tiang bor atau kaison adalah pondasi yang berbentuk kotak, bulat atau
konbinasi bentuk-bentuk tersebut dengan tampang melintang melintang yang relatif besar.
Karena tampangnya yang besar ini, bagian dalam fondasi sering terbagi-bagi dalam ruangan-
ruangan. Pondasi kaison yang berbentuk silinder atau kotak beton dibuat dengan
membenamkan silinder beton ditempatnya, bersamaan dengan penggalian tanah. Pondasi ini
dimaksudkan untuk mengirimkan beban besar yang harus melaalui air atau material jelek
sebelum mencapai tanah pendukung yang kuat. Pekerjaan pembuatan kaison memerlukan
banyak alat-alat berat. Dalam tiap-tiap pelaksanaan sering ditemui masalah-masalah umum
dan yang tidak bias dilakukan. Berikut ini akan dipelajari cara pelaksanaan pekerjaan
pembuatan.

Tipe-tipe kaison dibagi menurut cara pembuatannya, yaitu :

 Kaison terbuka (open caisson)


 Kaison pneumatic (pneumatic caisson)
 Kaison apung (floating caisson)

1. Kaison terbuka
Kaison terbuka merupakan kaison yang pada bagian atas dan bawahnya terbuka terbuka
selama pelaksanaan. Kaison ini, bila digunakan pada area yang tergenang air, pelaksanaannya
adalah dengan membenamkan dan menggali tanah di bagian dasarnya. Kaison dimanfaatkan
dengan memanfaatkan beratnya sendiri, bersama sama dengan penggalian tanah. Ketika
pembenaman kaisonmencapai tanah keras yang diinginkan, dasar kaison ditutup dengan beton
dengan tebal antara 1,5 sampai 5 m. Pada kaison terbuka, penutupan dilakukan di bawah
muka air. Jika tanah dasar sangat keras maka penggalian dilakukan dengan cara peledakan
(blasting).

Pada penggalian tanah untuk kaison terbuka yang umunya dilakukan dengan cara pengukuran,
volume tanah yang tergali selalu lebih besar diri volume kaison yang terpasang. Hal ini,
disebabkan dinding lubang galian tanah yang cendrung bergerak ke dalam galian.

Keuntungan kaison terbuka :

 Dapat mencapai kedalaman yang besar.


 Biaya pembuatan relatif rendah.

Kerugian kaison terbuka :

 Dasar kaison tidak dapat diperiksa dan di bersihkan.


 Kualitas beton penutup dasar yang dicor dalam air tidak bagus.
 Penggalian pada tanah yang berbatu sangat sulit.

2. Kaison pneumatik

Kaison pneumatic (pneumatic caisson), merupakan kaison yang tertutup. Penggalian tanah
dilakukan dengan mengalirkan udara bertekanan kedalan ruang kerjauntuk penggalian.
Dengan cara ini penggalian dan pengecoran beton ke dalam sumuran dilakukan dalam kondisi
kering. Bentuk tubuh kaison pneumatic hampir sama seperti kaison terbuka, bedanya hanya
pada bagian ruangkerja di bawah. Penggalian dilakukan pada ruang kerja yang diberi tekanan
udara yang sama dengan tekanan air tanah untuk mencegah aliran air masuk ke ruang kerja.
Pintu udara, kecuali dipakai untuk jalan keluar – masuk pekerja juga untuk mengeluarkan
tanah galian. Unutk kaison yang besar dapat dipakai 2 pintu udara, yang pertama unutk galian
sedang yang kedua untuk keluar – masuk pekrja. Ruang kerja diisi dengan beton pada waktu
dasar kaison telah mencapai kedalaman yang dikehendaki.

Keuntungan :

 Pelaksanaan dalam kodisi kering.


 Kerena pengecoran beton dalam kondisi kering, kualitas beton dapat seperti yang
diharapkan.
 Batu-batuan besar dapat dibongkar pada waktu penggalian untuk membenamkan
kaison.

Kerugian :

 Penggalian dengan tekanan udara membuat biaya pelaksanaan tinggi.


 Kedalaman penetrasi di bawah air terbatas sampai kedalaman sekitar 40 m atau 400
kPa. Hal ini karena tenaga manusia mempunyai ketahanan terhadap tekanan udara
yang terbatas

3. Kasion Apung

Kaison apung atau kaison box merupakan kaison yang tertutup pada dasarnya. Kaison
tipe inin terbuat dari tipe beton bertulang yang dicetak di daratan dan peletakkannya
dilakukan dengan mengapungkan kaison tersebut setelah beton mengeras. Pembenaman
kaison ke dalam air atau tanah yang berair, dilakukan dengan dengan cara mengisikan, pasir,
kerikil, beton atau air ke dalamnya. Permukaan air harus diperhitungkan selalu berada pada
beberapa meter di bawah puncak kaison untuk mencegah air masuk ke dalamnya. Stabilitas
pengapungan dirancang menurut prinsip-prinsip hidrolika.

Keuntungan :

 Biaya pelaksanaan rendah.


 Dapat digunakan bila pembuatan tipe kaison yang lain tidak memungkinkan

Kerugian :

 Tanah dasar halus digali atau ditimbun sampai elevasi yang diinginkan.
 Tipe ini hanya cocok bila tanah fondasi berada di dekat permukaan tanah. Penggalian
tanahyang terlalu dalam mahal, karena tanah jenuh cenderung longsor ke dalam
lubang galian.
 Tanah pendukung sering tidak padat, karena pemadatanndi dalam air sangat sulit.

b. Tiang baja

Pondasi Tiang Pancang Baja

Pondasi tiang pancang baja biasanya berbentuk profil H ataupun berbentuk pipa
baja. Pada tiang pancang baja pipa, dapat dipilih dengan ujung terbuka bebas ataupun
tertutup. Sering kali tiang baja pipa dilakukan pengisian dengan pengecoran beton
setelah pemancangan, namun dalam beberapa hal dan kondisi, pengecoran tersebut
dirasakan tidak perlu dilakukan. Berdasarkan pengalaman, bentuk ujung terbuka lebih
menguntungkan dari segi kedalaman penetrasi dan dapat dikombinasikan dengan
pengeboran bila diperlukan, misalnya penetrasi tiang pada tanah berbatu.

Penyambungan Tiang Pancang Baja

Sambungan-sambngan pada tiang pancang baja dibuat dengan cara yang sama
dengan kolom baja, yaitu yang paling umum dengan cara mengelas atau dengan
pemakaian baut. Pada beberapa proyek kecil, penyambungan telah dilakukan dengan
lebih dahulu dan dipatenkan sebelum pemancangan dilakukan. Untuk tiang pancang baja
berbentuk profil H, pelat-pelat badan (web plates) dibuat dalam bentuk dua saluran
belakang ke belakang, dengan panjang yang cukup pas dengan badan dan flens bagian
dalam. Sambungan ini kemudian dilas ke badan tersebut memotong ujungnya dan flens
dilas bagian ujung tumpulnya untuk menyempurnakan sambungan.

Penyambungan tiang pancang pipa terdiri dari sebuah cincin yang berbingkai
(ledged ring). Penyambingan dilakukan dengan mengelas sekeliling sambungan pipa
tersebut yang kemudian ditutup dengan bingkai cincin yang juga dilas secara keliling ke
pada kedua dua pipa yang telah disambung tersebut. Biasanya sambungan ini akan
membangun kekuatan tiang pancang dalam kompresi, kelenturan dan geseran untuk
memenuhi persyaratan kode bangunan.

Kelebihan dan Kekurangan Pondasi Tiang Pancang Baja


Pondasi tiang pancang baja tersebut pada umumnya ringan, kuat dan mampu menahan
beban yang berat. Penyambungan tiangpun dapat dilakukan dengan sangat mudah. Namun
pondasi tiang pancang baja mempunyai kelemahan, yaitu dapat terjadinya korosi pada tiang
baja.yang dilakukan oleh asam maupun air. Asam adalah suatu kondisi kimiawi, di mana
bahan tersebut ber-pH kurang dari 7.

Namun penelitian menunjukkan, bahwa pemancangan terhadap tanah alamiah tak


terganggu, maka korosi tidak menjadi tidak menjadi masalah. Namun, jika pemancangan
dilakukan terhadap tanah urugkan, maka besar kemungkinannya terjadinya korosi pada tiang
pancang baja.
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Pondasi merupakan hal terpenting dan bagian dari sebuah konstruksi yang akan dibangun,
sedangkan jenis – jenis fondasi itu digunakan sesuai dengan bangunan yang akan dibangun
dan fungsi serta kekuatannya.

DAFTAR PUSTAKA

https://khedanta.wordpress.com/2011/08/04/jenis-pondasi/

https://jefrihutagalung.wordpress.com/2014/03/03/metode-pelaksanaan-mat-foundation-
pondasi-rakit/?toperStarEhJUS=1

http://prima-mangiri.blogspot.co.id/2012/09/pondasi-rakit-raft-foundation.html

“Teknik Pondasi” http://wikipedia.org/wiki/Teknik_Pondasi.

“Pondasi Menerus” http://jevuska.com/topic/pondasi -menerus.html.