Anda di halaman 1dari 45

PENGARUH PEMBERIAN PROBIOTIK SEDIAAN CAIR DAN

PADAT TERHADAP PERFORMA UDANG VANAME


(Litopenaeus vannamei) DI TAMBAK SKALA PILOT
KECAMATAN GRABAG, PURWOREJO, JAWA TENGAH

USULAN PENELITIAN

SUNENDI
NPM. 230110140069

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR

2017
PENGARUH PEMBERIAN PROBIOTIK SEDIAAN CAIR DAN
PADAT TERHADAP PERFORMA UDANG VANAME
(Litopenaeus vannamei) DI TAMBAK SKALA PILOT
KECAMATAN GRABAG, PURWOREJO, JAWA TENGAH

USULAN PENELITIAN
Diajukan untuk Menempuh Seminar Usulan Penelitian

SUNENDI
NPM. 230110140069

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR

2017
JUDUL : PENGARUH PEMBERIAN PROBIOTIK SEDIAAN CAIR
DAN PADAT TERHADAP PERFORMA UDANG
VANAME (Litopenaeus vannamei) DI TAMBAK SKALA
PILOT KECAMATAN GRABAG, PURWOREJO, JAWA
TENGAH

PENULIS : SUNENDI
NPM : 230110140069

Jatinangor, September 2017


Menyetujui :

Komisi Pembimbing :
Ketua, Dekan,

Dr. Ir. Iskandar, M.Si Dr. Ir. Iskandar, M.Si


NIP. 19610306 198601 1 001 NIP. 19610306 198601 1 001

Anggota,

Ir. Ibnu Dwi Buwono, M.Si.


NIP. 19621208 198903 1 002

Anggota,

Dr. Ratu Safitri, MS.


NIP. 19620318 198610 2 001
KATA PEGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat rahmat
dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal usulan penelitian
yang berjudul “Pengaruh Pemberian Probiotik Sediaan Cair dan Padat
terhadap Performa Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) di Tambak Skala
Pilot Kecamatan Grabag, Purworejo, Jawa Tengah”
Selama menyusun usulan penelitian, penulis sangat banyak mendapatkan
masukan, arahan dan dukungan dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis
mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah
banyak membantu. Penulis mengucapkan terimakasih kepada :
1. Dr. Ir. Iskandar, M.Si sebagai Ketua Komisi Pembimbing yang telah
memberikan banyak saran, dukungan beserta bimbingannya dalam
penyelesain Usulan Penelitian ini dan selaku Dekan Fakultas Perikanan dan
Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran
2. Ir. Ibnu Dwi Buwono, M.Si. sebagai Anggota Komisi Pembimbing sekaligus
wali dosen penulis yang telah memberikan saran, dukungan beserta
bimbingannya dalam penyelesaian Usulan Penelitian ini
3. Dr. Ratu Safitri, MS. sebagai Anggota Komisi Pembimbing yang telah
memberikan banyak saran, dukungan beserta bimbingannya dalam
penyelesaian Usulan Penelitian ini
4. Dr. Yuli Andriani, S.Pi, MP. sebagai Ketua Komisi Penelaah yaang telah
memberikan koreksi dalam penyusunan Usulan Penelitian ini
5. Prof. Dr. Ir. Junianto, MP. selaku Ketua Program Studi Perikanan Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Padjadjaran
6. Kedua orang tua, Samsudin (ayah) dan Darkinih (ibu) serta Casyatun (Kakak)
yang selalu memberikan do’a, semangat serta dukungan materil maupun
moril kepada penulis
7. Keluarga Six Sense, Novi Puspitawati, Imas Siti Nurhalimah, Ristiana Dewi,
Indra Adiwiguna dan Rizki Nugraha Saputra yang telah banyak membantu
dan mendukung dalam usulan Penelitian ini

iii
8. Teman-teman anak satu penelitian yang telah banyak membantu dalam
penyusunan usulan penelitian ini
9. FPIK 2014, yang telah memberikan pengalaman dan kebersamaan sehingga
menjadi pelajaran bagi penulis untuk melangkah kedepannya.
Penulis telah berusaha sebaik mungkin dalam penyusunan usulan
penelitian ini, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang
membangun agar menjadi masukkan yang berguna bagi penulis. Akhir kata,
penulis berharap semoga usulan penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi
penulis sendiri sehingga lancar dalam penelitian yang akan dilaksanakan.

Jatinangor, September 2017

Sunendi

iv
DAFTAR ISI

Bab Halaman
DAFTAR TABEL ......................................................................... vi
DAFTAR GAMBAR ..................................................................... vii
I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ....................................................................... 1
1.2 Identifikasi Masalah ............................................................... 4
1.3 Tujuan Penelitian.................................................................... 4
1.4 Kegunaan Penelitian ............................................................... 4
1.5 Kerangka Pemikiran ............................................................... 4
1.6 Hipotesis ................................................................................. 6
II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Udang Vaname (Litepenaeus vannamei) ............................... 7
2.1.1 Klasifikasi Udang Vaname (Litepenaeus vannamei) ............. 7
2.1.2 Morfologi Udang Vaname (Litepenaeus vannamei) .............. 8
2.1.3 Siklus Hidup Udang Vaname (Litepenaeus vannamei) ......... 9
2.1.4 Tingkah Laku dan Fisiologis Udang Vaname
(Litepenaeus vannamei) ......................................................... 11
2.1.5 Habitat Udang Vaname (Litepenaeus vannamei)................... 12
2.1.6 Pakan dan Kebiasaan Makan.................................................. 13
2.2 Probiotik ................................................................................. 17
2.2.1 Mikroba Probiotik .................................................................. 19
2.3 Parameter Kualitas Air ........................................................... 23
2.4 Kelangsungan hidup dan Pertumbuhan .................................. 26
2.5 Efisiensi Pemberian Pakan ..................................................... 27
III METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ................................................ 29
3.2 Alat dan Bahan ....................................................................... 29
3.2.1 Alat ......................................................................................... 29
3.2.2 Bahan ...................................................................................... 29
3.3 Prosedur penelitian ................................................................. 30
3.4 Metode Penelitian ................................................................... 30
3.5 Parameter Pengamatan ........................................................... 31
3.5.1 Kelangsungan Hidup .............................................................. 31
3.5.2 Laju Pertumbuhan Harian ...................................................... 31
3.5.3 Pertumbuhan Panjang ............................................................. 31
3.5.4 Pertumbuhan Biomassa Mutlak (W) ...................................... 31
3.5.5 Efisiensi Pakan ....................................................................... 32
3.6 Analisis Data .......................................................................... 32
DAFTAR PUSTAKA .................................................................... 33

v
DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman


1 Hubungan Antara pH Air dan Kehidupan Udang Windu ........... 25
2 Kualitas Air Udang Vaname ....................................................... 26

vi
DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman


1 Udang Vaname (Litepenaeus vannamei) ...................................... 7
2 Morfologi Udang Vaname (Litepenaeus vannamei)..................... 9
3 Siklus Hidup Udang Vaname (Litepenaeus vannamei) ................ 10
4 Sel Bacillus subtilis dengan SEM. ................................................ 19
5 Sel Lactobacilus plantarum dengan SEM. ................................... 20
6 Sel Nitrosomonas sp. dengan SEM ............................................... 22
7 Sel Nitrobacter sp.dengan SEM ................................................... 23

vii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kegitan budidaya perairan merupakan salah satu komoditas ekonomi yang
menguntungkan dan sangat penting bagi beberapa negara. Menurut data FishstatJ
FAO (2016) Negara Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki
produksi perairan terbesar kedua di dunia setelah China. Hal ini didukung oleh
data statistik dari Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia tahun 2015, bahwa
produksi budidaya akuakultur Indonesia mengalami peningkatan setiap tahunnya.
Pada tahun 2011, produksi perairan Indonesia mencapai 13.643 ton, tahun 2012
sebesar 15.505 ton, dan tahun 2013 sebesar 19.406 ton. Untuk rata-rata kontribusi
dari perikanan budidaya dari tahun 2010-2014 sebesar 62,35% (KKP 2015).
Usaha peningkatan produksi akuakultur juga merupakan salah satu
program strategi pemerintah yang menjadikan produksi akuakultur/perairan
sebagai alternatif ketahanan pangan nasional dalam pemenuhan protein hewani,
mengingat pesatnya peningkatan laju pertumbuhan penduduk Indonesia setiap
tahun sehingga diperlukan adanya diversifikasi pangan. Menurut Rizqi (2016)
upaya peningkatan kualitas produksi perairan meliputi tiga aspek utama yaitu 1)
Kualitas organisme akuatik yang dapat diindikasikan dengan tingginya nilai
sintasan (survival rate), pertumbuhan yang cepat dengan diimbangi pertambahan
panjang & berat, dan terhindar dari penyakit ataupun berpenyakit, 2) Kualitas
lingkungan perairan dan 3) Efisiensi pakan organisme akuatik.
Salah satu komoditas unggulan yang memiliki profit yang tinggi adalah
budidaya udang vaname (Litopenaeus vannamei). Menurut Asia Pacific
Aquaculture (2015) dimana pada tahun 2014 produksi udang vaname Indonesia
sudah menempati posisi kedua di pasar udang Amerika Serikat (AS) dengan
jumlah 504.000 MT (metrik ton). Produksi udang vaname dari tahun 2010 hingga
tahun 2013 mengalami kenaikan sebesar 19,46% sehingga pemerintah melalui
Dirjen Perikanan Budidaya (DJPB) menargetkan produksi udang vaname sebesar

1
2

671.400 MT pada tahun 2017 dengan kenaikan sebesar 12,00% setiap tahunnya
hingga 2019 (DJPB 2015).
Udang vaname memiliki nama atau sebutan yang beragam di masing-
masing negara, seperti whiteleg shrimp (Inggris), camaron patiblanco (Spanyol)
dan crevette pattes blances (Perancis). Udang yang biasa disebut udang putih
pasifik ini merupakan pengganti udang windu (Penaeus monodon) karena sering
mengalami masalah yang dihadapi salah satunya adalah mudah terserang oleh
penyakit vibriosis dan penyakit virus bercak putih atau systemic ectodhermal
mesodhermal bacculo virus (SEMBV). Peralihan komoditas ini didukung oleh SK
Menteri Kelautan dan Perikanan No. 41/2001 tanggal 12 Juli 2001 yang secara
resmi melepas udang vaname sebagai varietas unggul (Sukenda et al. 2009)
Udang vaname memiliki keunggulan dari udang windu salah satunya lebih
resisten terhadap virus. Menurut Fera (2004) udang vaname memiliki keunggulan
lebih resisten terhadap kondisi lingkungan dan penyakit, mudah dibudidayakan,
pertumbuhan yang cepat dan paling digemari di pasar Amerika Serikat. Hal
tersebut menunjukkan udang vaname memiliki potensi yang besar untuk terus
dikembangkan. Upaya untuk memenuhi target produksi tidak bisa hanya
mengandalkan pemberian pakan. Permasalahan inilah yang perlu diselesaikan
untuk menyokong produksi udang vaname setiap tahunnya. Salah satu solusi
untuk menyelesaikan permasalahan tersebut yaitu dengan adanya penggunaan
probiotik guna mempercepat pertumbuhan dari udang vaname serta
meminimalisir kematian udang vaname sehingga target produksi dapat tercapai.
Probiotik merupakan makanan tambahan berupa sel-sel mikroba hidup
yang memiliki pengaruh menguntungkan bagi inang melalui bentuk keterikatan
(asosiasi) dengan inang dan komunitas mikroba lingkungannya (Verschuere et al.
2000). Penggunaan probiotik merupakan pengendalian biologis dengan
menggunakan musuh alami untuk mengurangi kerugian yang ditimbulkan oleh
organisme pengganggu hingga batas yang bisa diterima. Mekanisme kerja
probiotik pada akuakultur yaitu menekan atau mencegah berkembangnya
organisme patogen. Efisiensi penerapan probiotik dalam akuakultur akan sangat
bergantung dari pengetahuan spesies dan atau strain dari bakteri probiotik. Prinsip
3

mekanisme kerja probiotik yaitu menggunakan konsorsium mikroba untuk


mengatasi berbagai masalah yang terjadi pada perairan budidaya.
Bakteri probiotik yang digunakan dalam penelitian ini adalah bakteri-
bakteri yang biasa digunakan dalam penambahan terhadap pakan diantaranya
Bacillus sp., Lactobacillus sp., Saccharomyces sp., dan Nitrosomonas. Bakteri
probiotik menghasilkan enzim yang mampu mengurai senyawa kompleks menjadi
senyawa yang lebih sederhana sehingga lebih mudah digunakan oleh ikan. Salah
satu probiotik yang baik untuk pencernaan adalah Bacillus sp. Kurniasih (2011)
menyatakan bahwa enzim yang dihasilkan oleh Bacillus sp. adalah enzim protease
yang memiliki fungsi untuk memecah protein menjadi asam amino. Holt et al.
(1994) menyatakan bahwa Lactobacillus sp., yang digunakan dalam akuakultur
berperan dalam menekan pertumbuhan bakteri patogen. Lactobacillus sp. tersebar
luas di lingkungan terutama pada hewan dan produk makanan, sayur-sayuran,
biasanya mendiami saluran usus burung mamalia, vagina mamalia, dan tidak
bersifat patogen. Shin (1966) dalam Haetami dkk. (2008) menyatakan bahwa
keuntungan umum yang diperoleh dari kultur Saccharomyces hidup ialah dapat
meningkatkan pertumbuhan bobot badan, efisiensi ransum, dan feed intake.
Effendi (2003) menyatakan bahwa nitrit merupakan bentuk peralihan antara
amonia dan nitrat. Oksidasi amonia menjadi nitrit dilakukan oleh bakteri
Nitrosomonas sedangkan oksidasi nitrit menjadi nitrat dilakukan oleh Nitrobacter.
Nitrat ini tidak bersifat toksis terhadap organisme akuatik. Sehingga dengan
pemberian probiotik mampu mengatasi masalah yang timbul akibat budidaya
intensif.
Beberapa penelitian mengenai efektivitas penggunaan berbagai
konsentrasi probiotik pada udang vaname telah dilakukan pada skala laboratorium
dengan menggunakan akuarium atau fiber glass sebagai tempat budidaya udang.
Namun hasil dari penelitian tersebut ketika diterapkan pada tambak budidaya
memiliki potensi hasil yang berbeda. Hal ini disebabkan karena kondisi
lingkungan yang berbeda antara penelitian yang dilakukan di akuarium dan
penerapan pada tambak budidaya.
4

Berdasarkan latar belakang tersebut maka diperlukan penelitian mengenai


sejauh mana pengaruh pemberian probiotik sediaan cair dalam berbagai dosis
yang berbeda terhadap performa udang vaname dan kualitas perairan tambak.

1.2 Identifikasi Masalah


Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, didapatkan beberapa
permasalahan sebagai berikut :
1. Apakah pemberian probiotik sediaan cair dan padat berpengaruh terhadap
performa udang vaname?
2. Apakah bentuk bahan pembawa probiotik berpengaruh terhadap performa
udang vaname?

1.3 Tujuan Penelitian


Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui pengaruh pemberian probiotik dalam sediaan cair maupun padat
terhadap performa udang vaname.
2. Mengetahui efektivitas bahan pembawa terhadap performa udang vaname
pada skala pilot.

1.4 Kegunaan Penelitian


Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai teknik
pemberian probiotik sediaan cair maupun padat dalam budidaya udang vaname
skala pilot terhadap performa udang vaname yang meliputi pertumbuhan dan
kelangsungan hidup udang vaname serta efesiensi pakan yang diberikan.

1.5 Kerangka Pemikiran


Pada kegiatan budidaya udang secara intensif dapat menurunkan daya
dukung lingkungan budidaya, teknologi ini telah menimbulkan masalah kualitas
air yang cukup serius, baik karena ketidaksesuaian lahan maupun karena usaha
petambak yang terus menggenjot produksi tanpa memikirkan daya dukung
lingkungan. Budidaya udang di banyak tempat telah menimbulkan kerusakan
ekosistem mangrove dan pencemaran perairan pesisir yang parah karena
5

penerapan teknologi budidaya intensif tanpa pertimbangan dampak yang


ditimbulkan.
Timbunan bahan organik dari sisa pakan, dan ekskresi yang mengendap di
dasar tambak memicu penurunan daya dukung tambak, khususnya alga bloom
yang menyebabkan deplesi oksigen dan keracunan pada udang (Mulyana 2011).
Hal ini dapat menimbulkan penyakit pada udang budidaya karena disebabkan
meningkatnya BOD (Biological Oxygen Demand) dan protein dari sisa pakan
yang akan meningkatkan kadar amoniak yang membuat kualitas perairan buruk.
Menurut Ghufran (2009), penyakit didefinisikan sebagai segala sesuatu yang
dapat menimbulkan gangguan suatu fungsi atau struktur dari alat-alat tubuh atau
sebagian alat tubuh, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dalam
budidaya udang, faktor hama dan penyakit harus menjadi perhatian utama.
Kegagalan usaha budidaya dapat disebabkan oleh hama dan penyakit, karena
dapat menginfeksi dan menganggu pertumbuhan udang yang dipelihara. Sebagian
besar para petani tambak menggunakan bahan kimia untuk mengatasi timbulnya
penyakit pada udang budidaya, seperti penggunaan antibiotik.
Salah satu alternatif untuk menghindari penyakit yang menyerang ikan
budidaya adalah penggunaan probiotik. Probiotik adalah produk yang tersusun
oleh biakan mikroba atau pakan alami mikroskopik yang bersifat menguntungkan
dan memberikan dampak bagi peningkatan keseimbangan mikroba saluran usus
hewan inang yakni dengan cara memodifikasi komunitas mikroba atau berasosiasi
dengan inang, memperbaiki nilai nutrisi dan pemanfaatan pakan, meningkatkan
respon inang terhadap penyakit dan memperbaiki kualitas lingkungan ambangnya
(Fuller 1987 dalam Verschuere et al. 2000). Wang et al. (2008) menyatakan
bahwa bakteri probiotik menghasilkan enzim yang mampu mengurai senyawa
kompleks menjadi sederhana sehingga siap digunakan ikan. Berdasarkan
pengertian tersebut maka aplikasi probiotik tidak hanya berfungsi sebagai agen
biokontrol untuk mengurangi serangan penyakit atau bioremediasi untuk
memperbaiki kualitas lingkungan, melainkan dapat pula meningkatkan nilai
nutrisi pakan dan laju penyerapan nutrien sehingga memungkinkan udang
mencapai pertumbuhan yang maksimum.
6

Penambahan probiotik dalam pakan dapat mempercepat pertumbuhan ikan


atau udang. Arief dkk. (2008) menyatakan bahwa pemberian probiotik komersil
dengan kandungan bakteri Lactobacillus sebanyak 5% pada ikan nila diperoleh
laju pertumbuhan 3,17 g/hari. Penelitian mengenai probiotik pada pakan juga
dilakukan oleh Praditia (2009) yang menyatakan bahwa pemberian probiotik
melalui pakan menghasilkan laju pertumbuhan bobot udang windu sebesar 7,47 -
9,03 %. Arief dkk. (2014) melaporkan bahwa pemberian probiotik komersil
dengan kandungan bakteri Lactobacillus sp., Acetobacter, Rhodobacter, dan yeast
sebanyak 5% pada ikan lele sangkuriang diperoleh rata-rata pertumbuhan harian
sebesar 2,88 gram/hari. Noviana et al. (2014) menyatakan bahwa penambahan
probiotik yang mengandung bakteri Lactobacillius, Actinomycetes sp, dan
Saccharmyces cerevisiae sebesar (10 g/kg) pada benih ikan nila dapat
meningkatkan keberadaan jumlah bakteri yang masuk ke dalam saluran
pencernaan dan mendapatkan hasil laju pertumbuhan sebesar 3,2 gram/hari.
Selanjutnya Andriani et. al (2016) melaporkan bahwa konsorsium mikroba B.
subtilis, B. lichenoformes, L. plantarum dan Nitrosomonas sebesar 5% dalam
bahan pembawa susu skim menghasilkan performa terbaik pada uji biologis udang
vaname PL12 dengan nilai laju pertumbuhan harian 0,58%, kelangsungan hidup
100% dan konversi pakan 0,942.

1.6 Hipotesis
Penambahan probiotik sediaan cair maupun padat dalam kegiatan
budidaya skala pilot dapat meningkatkan performa udang vaname dan bentuk
probiotik padat lebih efektif digunakan dalam kegiatan budidaya udang vaname
dibandingkan dengan probiotik dalam bentuk cair.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Udang Vaname (Litepenaeus vannamei)


2.1.1 Klasifikasi Udang Vaname (Litepenaeus vannamei)
Udang vaname (Gambar 1) merupakan jenis udang yang sudah banyak
dikembangkan di negara-negara bagian Amerika Selatan seperti Meksikio,
Panama, Kolombia dan Ekuador (Nadhif 2016). Kesuksesan budidaya udang
tersebut akhirnya diikuti oleh para pembudidaya di Indonesia sekarang.

Gambar 1. Udang Vaname (Litepenaeus vannamei)


(Sumber : www.afieshsp.com)

Menurut Haliman dan Adijaya (2005) klasifikasi udang yang memiliki


nama atau sebutan yang beragam di masing-masing negara, seperti whiteleg
shrimp (Inggris), crevette pattes blances (Perancis) dan camaron patiblanco
(Spanyol) adalah sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Sub kingdom : Metazoa
Filum : Arthropoda
Sub filum : Crustacea
Kelas : Malacostraca
Sub kelas : Eumalacostraca
Super ordo : Eucarida
Ordo : Decapoda
Sub ordo : Dendrobranchiata
Famili : Penaeidae
Genus : Litopenaeus
Spesies : Litopenaeus vannamei

7
8

2.1.2 Morfologi Udang Vaname (Litepenaeus vannamei)


Morfologi udang vaname atau yang biasa disebut dengan udang putih
memiliki tubuh berbuku-buku dan aktivitas berganti kulit luar (eksoskeleton)
secara periodik (moulting). Bagian tubuh udang putih sudah mengalami
modifikasi sehingga dapat digunakan untuk keperluan makan, bergerak, dan
membenamkan diri kedalam lumpur (burrowing), serta memiliki organ sensor,
seperti pada antenna dan antenula (Haliman dan Adijaya 2006).
Kordi dan Tancung (2007) juga menjelaskan bahwa kepala udang putih
terdiri dari antena, antenula dan 3 pasang maxilliped. Kepala udang putih juga
dilengkapi dengan 3 pasang maxilliped dan 5 pasang kaki berjalan (periopoda).
Maxilliped sudah mengalami modifikasi dan berfungsi sebagai organ untuk
makan. Bentuk periopoda beruas-ruas yang berujung di bagian dactylus. Dactylus
ada yang berbentuk capit (kaki ke-1, ke-2, dan ke-3) dan tanpa capit (kaki ke-4
dan ke-5). Diantara coxa dan dactylus terdapat ruang berturut-turut disebut basis,
ischium, merus, carpus dan cropus. Bagian ischium terdapat duri yang bisa
digunakan untuk mengidentifikasi beberapa spesies penaeid dalam taksonomi
(Haliman dan Adijaya 2005).
Menurut Wyban dan Sweeney (1991) bentuk rostrum udang putih
memanjang, langsing dan pangkalnya hamper berbentuk segitiga. Uropoda
berwarna merah kecoklatan dengan ujungnya kuning kemerah-merahan atau
sedikit kebiruan, kulit tipis transparan. Warna tubuhnya putih kekuningan terdapat
bintik-bintik coklat dan hijau pada ekor. Spesies ini dapat tumbuh mencapai
panjang tubuh 23 cm. Morfologi udang vaname (Litopenaeus vannamei) dapat
dilihat pada Gambar 2.
9

Gambar 2. Morfologi Udang Vaname (Litepenaeus vannamei)


(Sumber : Warsito 2012)

Ciri khusus yang dimiliki oleh udang vaname adalah adanya pigmen
karotenoid yang terdapat pada bagian kulit. Kadar pigmen karotenoid akan
berkurang seiring dengan pertumbuhan udang, karena saat mengalami molting
sebagian pigmen yang terdapat pada kulit akan ikut terbuang. Keberadaan pigmen
karotenoid memberikan warna putih kemerahan pada tubuh udang
(Haliman dan Adijaya 2005). Udang jantan dan betina dapat dibedakan dengan
melihat alat kelamin luarnya. Alat kelamin luar jantan disebut petasma yang
berbentuk seperti huruf “V” dan terletak di dekat kaki renang pertama, sedangkan
lubang saluran kelaminnya terletak di antara pangkal kaki jalan keempat dan
kelima (Adiyodi 1970), sedangkan alat kelamin udang betina (thellycum)
berbentuk seperti huruf “I”.

2.1.3 Siklus Hidup Udang Vaname (Litepenaeus vannamei)


Wyban dan Sweeney (1991) menyatakan bahwa siklus hidup udang
vaname sebelum ditebar di tambak yaitu stadia nauplius, stadia zoea, stadia mysis,
dan stadia post larva. Berdasarkan siklus hidupnya, udang vaname termasuk
katadromus yaitu pada saat benih dan fingerling di muara dan dewasa memijah di
laut. Siklus hidup udang vaname dapat dilihat pada Gambar 3.
10

Gambar 3. Siklus Hidup Udang Vaname (Litepenaeus vannamei)


(Sumber : Warsito 2012)

1. Nauplius
Stadia nauplius terbagi atas enam tahapan yang lamanya berkisar 46-50
jam. Larva berukuran 0,32 – 0,58 mm. Sistem pencernaan belum sempurna dan
memiliki cadangan makanan berupa kuning telur sehingga tidak membutuhkan
makanan dari luar.
2. Zoea
Stadia zoea terbagi atas tiga tahapan, berlangsung selama sekitar 4 hari.
Larva zoea berukuran 1,05 – 3,30 mm. Pada stadia ini larva mengalami molting
sebanyak 3 kali, yaitu stadia zoea 1, zoea 2 dan zoea 3. Stadia zoea sangat peka
terhadap perubahan lingkungan terutama kadar garam dan suhu air. Zoea mulai
membutuhkan makanan berupa fitoplankton.
3. Mysis
Stadia mysis terbagi atas tiga tahapan, yang lamanya 4-5 hari. Bentuk
udang stadia mysis mirip udang dewasa, bersifat planktonis dan bergerak mundur
dengan cara membengkokkan badannya. Udang stadia mysis mulai menggemari
pakan berupa zooplankton, misalnya Artemia salina.
4. Post larva
Pada stadia post larva sudah seperti udang dewasa. Hitungan stadia
berdasarkan hari, misalnya PL1 berarti post larva berumur satu hari. Stadia larva
ditandai dengan tumbuhnya pleopoda yang berambut (setae) untuk renang. Stadia
larva bersifat bentik atau organisme penghuni dasar perairan, dengan pakan yang
disenangi berupa zooplankton.
11

2.1.4 Tingkah Laku dan Fisiologis Udang Vaname (Litepenaeus vannamei)


Udang vaname cenderung bersifat omnivora atau pemakan segala. Udang
vaname menggunakan sinyal kimiawi berupa getaran dengan bantuan organ
sensor yang terdiri dari bulu –bulu halus (setae). Organ sensor ini terletak pada
ujung anterior antenula, bagian mulu, capit, antena, dan maxilliped. Selain itu,
juga termasuk hewan nokturnal, yaitu aktif mencari makan pada waktu malam
hari dan mempunyai sifat kanibalisme yang cukup tinggi. Tingkah laku udang
vaname berbeda dengan udang windu, karena spesies ini cenderung suka berenang
di badan air dari pada di dasar, menentang arus dan makan di pinggir dasar kolam
dekat pematang (Farchan 2006).
Menurut Haliman dan Adijaya (2005), beberapa tingkah laku udang yang
perlu diketahui adalah sebagai berikut :
1. Sifat Nocturnal
Secara alami udang merupakan hewan nocturnal yaitu sifat binatang yang
aktif mencari makan pada waktu malam dan siang harinya udang vaname lebih
suka beristirahat. Baik membenamkan diri pada lumpur maupun menempel pada
suatu benda yang terbenam.
2. Sifat Kanibalisme
Udang putih suka memangsa sejenisnya. Sifat kanibalisme sering muncul
pada udang sehat yang sedang tidak ganti kulit, kemudian menyerang udang yang
lemah terutama pada saat ganti kulit (moulting) atau udang sakit. Sifat kanibal
akan muncul terutama bila udang tersebut dalam keadaan kekurangan pakan pada
padat tebar tinggi.
3. Ganti Kulit (moulting)
Moulting merupakan suatu proses pergantian kutikula lama digantikan
dengan kutikula yang baru. Kutikula adalah kerangka luar udang yang keras (tidak
elastis). Oleh karena itu, untuk menjadi lebih besar maka udang vaname perlu
melepas kulit lama dan menggantinya dengan kulit baru.
Haliman dan Adijaya (2005) mengatakan bahwa moulting pada udang
ditandai dengan seringnya udang muncul kepermukaan air sambil meloncat-
loncat. Gerakan tersebut bertujuan untuk membantu melonggarkan kulit luar
12

udang dari tubuhnya. Gerakan tersebut merupakan salah satu cara


mempertahankan diri karena cairan moulting yang dihasilkan dapat merangsang
udang lain untuk mendekat dan memangsa (kanibalisme). Saat moulting
berlangsung, otot perut melentur, kepala membengkak, dan kulit luar bagian perut
melunak. Dengan sekali hentakan, kulit luar udang dapat terlepas.
4. Daya Tahan
Udang pada waktu masih berupa benih sangat tahan pada perubahan kadar
garam (salinitas). Sifat tersebut dinamakan euryhaline atau memiliki toleransi
yang tinggi terhadap perubahan garam. Sifat lain yang menguntungkan adalah
ketahanan terhadap perubahan suhu dan sifat ini dikenal dengan eurythermal.
5. Menyukai hidup di dasar (bentik)
6. Tipe pemakan lambat tetapi terus-menerus (continous feeder).
7. Bergerak mendekati sumber pakan
8. Menjepit pakan dengan capit kaki jalan dan dimasukkan ke dalam mulut
9. Udang akan berhenti makan bila sudah kenyang.

2.1.5 Habitat Udang Vaname (Litepenaeus vannamei)


Haliman dan Adijaya (2005) menyatakan bahwa udang vaname adalah
udang asli dari perairan Amerika Latin yang kondisi iklimnya subtropis. Udang
vaname pada habitat aslinya hidup pada kedalaman kurang lebih 70 meter. Udang
vaname hidup di daerah pasifik Barat, sepanjang Peru bagian utara, melalui
Amerika Tengah dan Selatan sampai Meksiko bagian utara, yang mempunyai
suhu air normal lebih dari 20ºC sepanjang tahun. Udang vaname ini hidup di
habitat laut tropis. Zakaria (2010) menyatakan bahwaa udang dewasa hidup dan
memijah di habitat laut lepas dan larva akan bermigrasi dan menghabiskan masa
larva sampai post larva di pantai, laguna atau daerah mangrove. Udang vaname
sudah menyebar karena diperkenalkan diberbagai belahan dunia karena sifatnya
yang relatif mudah dibudidayakan, termasuk di Indonesia.
Udang vaname bersifat nokturnal, yaitu aktif mencari makan pada malam
hari. Proses perkawinan pada udang vaname ditandai dengan loncatan betina
secara tiba-tiba. Saat meloncat inilah, betina mengeluarkan sel-sel telur dan saat
13

yang bersamaan, udang jantan mengeluarkan sperma, sehingga sel telur dan
sperma bertemu. Proses perkawinan berlangsung kira-kira satu menit. Sepasang
udang vaname berukuran 30-45 gram dapat menghasilkan telur sebanyak
100.000-250.000 butir.

2.1.6 Pakan dan Kebiasaan Makan


Pakan merupakan komponen penting karena mempengaruhi pertumbuhan
udang dan lingkungan budidaya serta memiliki dampak fisiologis dan ekonomis.
Pada tambak intensif, biaya pakan berkisar antara 60-70% dari total biaya
operasional. Kelebihan penggunaan pakan akan mengakibatkan bahan organik
yang mengendap terlalu banyak sehingga menurunkan kualitas air, demikian juga
kekurangan pakan menyebabkan udang kanibal, pertumbuhan turun dan tubuhnya
lemah sehingga daya tahan terhadap penyakit menurun (Farchan 2006).
Pakan dapat diberikan juga untuk menanggulangi penyakit seperti Vibrio
harveyi. hasil penambahan dengan probiotik melalui pakan menghasilkan
pertumbuhan, konversi pakan dan kelangsungan hidup yang lebih tinggi
(Widanarni dkk. 2010).
Udang vaname membutuhkan pakan dengan kandungan protein yang lebih
rendah daripada udang windu. Kebutuhannya berkisar antara 18-35 persen dengan
rasio konversi pakan 1:1,2 yaitu satu kilogram daging pada ikan dapat dihasilkan
dari pemberian 1,2 kilogram pakan. Hal tersebut tentu saja akan membuat biaya
produksi untuk pakan udang vaname lebih rendah daripada biaya produksi untuk
pakan udang windu (Brown 1991). Salah satu prinsip yang perlu diketahui dalam
penerapan pakan untuk kepentingan budidaya adalah program pemberian pakan
secara efektif (effective feeding program). Hal ini memerlukan pengetahuan
tentang kebutuhan nutrien dari kultivan yang akan dipelihara, kebiasan dan
tingkah laku makan, serta kemampuan kultivan dalam mencerna dan
menggunakan nutrien esensial yang diberikan.
Pakan yang diberikan harus mampu menyediakan nutrien yang dibutuhkan
oleh kultivan seperti protein dan asam amino esensial, lemak dan asam lemak,
energi, vitamin, dan mineral. Pakan yang diberikan selama periode budidaya
14

berlangsung sangat sulit untuk dikontrol secara tepat baik jumlah maupun waktu.
Oleh karena itu pengaturan jumlah pakan senantiasa dilakukan sesuai dengan
tingkat nafsu makan, pertumbuhan dan mortalitas udang. Jika pakan diberikan
terlalu sedikit dapat berakibat pertumbuhan lambat, bahkan memicu kanibalisme
terutama pada pemeliharaan dengan kepadatan tinggi. Demikian pula sebaliknya,
pemberian pakan berlebih dapat menimbulkan masalah. Selain sebagai limbah,
sisa pakan dapat menyebabkan penurunan mutu air di tambak. Seberapa besar
jumlah pakan yang dikonsumsi oleh udang dipengaruhi oleh beberapa faktor,
yaitu : jenis pakan, ukuran udang, suhu air, padat tebar, cuaca, kualitas air dan
status kesehatan udang itu sendiri. Faktor-faktor tersebut perlu diperhatikan guna
memaksimalkan penggunaan pakan bagi kultivan. Suhu misalnya, mempunyai
efek nyata terhadap konsumsi pakan dan pertumbuhan. Konsumsi pakan udang
vaname mencapai optimal pada suhu 27-31 oC. Suhu di atas atau di bawah kisaran
tersebut menyebabkan konsumsi pakan menurun.
Frekuensi pakan ditentukan berdasarkan tingkat kestabilan pakan dalam
air dan laju konsumsi pakan oleh udang. Pemberian pakan lebih sering dapat
memperbaiki rasio konversi pakan, serta mengurangi jumlah nutrien yang hilang
(leaching). Pada stadia benih, frekuensi pakan lebih sering oleh karena laju
metabolisme pada saat itu sangat tinggi. Idealnya, udang stadia post larva diberi
pakan setiap 2-3 jam sekali (12-8 kali sehari). Seiring dengan pertumbuhan udang
di tambak, maka frekuensi pakan dapat dikurangi dan umumnya maksimum 6 kali
selama 24 jam.
FCR (food convertion ratio) merupakan salah satu indikator seberapa jauh
pakan yang diberikan dapat dimanfaatkan oleh udang untuk mendukung
pertumbuhan dan kelulus hidupan. FCR menggambarkan jumlah pakan yang
diperlukan untuk menaikkan 1 kg berat udang. Semakin rendah nilai FCR, maka
pakan digunakan semakin efisien. Umumnya nilai FCR kurang dari 2 masih
dinyatakan baik. FCR yang tinggi kemungkinan disebabkan oleh beberapa faktor,
seperti : over feeding, defisiensi nutrien tertentu, kualitas air yang buruk. Faktor-
faktor tersebut perlu terus dimonitor, sehingga program pemberian pakan lebih
efisien.
15

Menurut Rahayu (2010), acuan pemberian pakan udang adalah


memberikan pakan sesuai kebutuhan nutrisi udang dan jumlah yang dibutuhkan.
Secara garis besar, teknik penentuan dosis pakan yang diberikan dibagi menjadi
dua metode, yaitu sebagai berikut:
1. Blind Feeding
Metode blind feeding maksudnya menentukan dosis pakan udang dengan
memperkirakan dosis tanpa melakukan sampling berat udang. Penentuan pakan
yang dibutuhkan selama 1 bulan diperoleh dengan menghitung 5-9 % dari total
pakan selama proses pemeliharaan, kemudian hasilnya menjadi acuan total pakan
selama 1 bulan (Rahayu 2010).
2. Sampling
Sampling untuk mengetahui biomassa udang dapat dilakukan ketika udang
telah berumur 30 hari dengan frekuensi 7 hari sekali (Rahayu 2010). Sedangkan
menurut Haliman dan Adijaya (2005) sampling dilakukan setelah udang mencapai
umur 2 bulan. Menurut Rahayu (2010), Alat yang disarankan untuk sampling
adalah jala tebar dengan ukuran mess size yang disesuaikan dengan besar udang.
Langkah-langkah sampling menggunakan jala tebar adalah sebagai beikut:
1. Sampling dilakukan pada pagi atau sore hari
2. Sampling dilakukan sebelum jam pemberian pakan, agar sebaran udang
merata
3. Peralatan sampling yang digunakan harus disterilkan terlebih dahulu.
4. Selama sampling kincir dimatikan agar sebaran udang ditambak lebih merata.
5. Udang yang telah disampling tidak dikembalikan ke tambak.
6. Jika akan melakukan sampling di tambak lain, peralatan sampling terlebih
dahulu disterilkan, untuk mengantisipasi masuknya pathogen.
Biomassa adalah jumlah berat dan populasi udang pada petakan
pemeliharaan. Prosentase pemberian pakan harian (Feeding Rate) ditentukan
berdasarkan nafsu makan dan biomassa udang. Semakin berat udang bertambah
atau biomass bertambah maka nilai FR akan semakin berkurang (Farchan 2006)
Menurut Farchan (2006), perhitungan hasil sampling diuraikan sebagai
berikut:
16

Total Berat (gr)


Berat rata − rata per individu
+ ⋯ (gr) = Jumlah Individu

Biomasa(gr) = Populasi x berat individu (gr)

Populasi
𝑆𝑢𝑟𝑣𝑖𝑣𝑎𝑙 𝑅𝑎𝑡𝑒 (%) = x 100%
Jumlah Tebar

ABW2 – ABW1
ADG =
7 hari

Jumlah udang yang terjala


ABW =
Berat udang

Keterangan:
ADG (Average Daily Growth) = Pertumbuhan harian rata-rata
ABW2 (Average Body Weight 2) = Berat sampling ke-2 atau berikutnya (kg)
ABW1 (Average Body Weight 1) = Berat sampling ke-1 atau sebelumnya (kg)

Udang vaname termasuk golongan omnivora. Beberapa sumber pakan


udang vaname, antara lain : udang kecil (rebon), fitoplankton, copepoda,
polychaeta, larva kerang dan lumut. Udang vaname juga termasuk dalam
pemangsa sejenis (kanibalisme). Udang makan atas dasar penciuman dan bukan
penglihatan, sehingga pakan harus mengandung atraktan yang baik sehingga
mudah dikenali oleh udang. Pada saat udang mulai mengambil pakan, palatabilitas
(cita rasa) menjadi penting dan menentukan apakah pakan yang diberikan ditelan
atau tidak.
Udang vaname mencari dan mengenali pakan menggunakan sinyal
kimiawi berupa getaran dengan bantuan organ sensor yang terdiri dari bulu-bulu
halus (setae) yang terdapat pada ujung anterior antennulae, bagian mulut, capit,
antenna dan maxilliped. Udang akan berenang menggunakan kaki jalan yang
17

memiliki capit untuk mendekati sumber pakan. Pakan langsung dijepit


menggunakan capit kaki jalan, kemudian pakan dimasukkan ke dalam mulut.
Selanjutnya pakan yang berukuran kecil masuk ke dalam kerongkongan dan
esofagus. Bila pakan yang dikonsumsi berukuran lebih besar, akan dicerna secara
kimiawi terlebih dahulu oleh maxilliped di dalam mulut (Haliman dan Adijaya
2005).

2.2 Probiotik
Matthews (1988) mendefinisikan probiotik sebagai mikroorganisme hidup
dalam bentuk cair yang mengandung media tempat tumbuh dan produksi
metabolisme. Fuller (1989) menambahkan probiotik adalah suatu mikrobial hidup
yang diberikan sebagai biosuplemen pakan, memberikan keuntungan bagi induk
semang dengan cara memperbaiki keseimbangan populasi mikroba usus.
Haddadin et al. (1996) menyatakan bahwa probiotik adalah organisme beserta
substansinya yang dapat mendukung keseimbangan mikroflora dalam saluran
pencernaan.
Mikroba bisa dikatakan mempunyai status probiotik bila memenuhi
sejumlah kriteria seperti bisa diisolasi dari hewan inang dengan spesies yang
sama, mampu menunjukkan pengaruh yang menguntungkan pada hewan inang,
tidak bersifat patogen, bisa transit dan bertahan hidup dalam saluran pencernaan
hewan inang. Sejumlah mikroba harus mampu bertahan hidup pada periode yang
lama selama masa penyimpanan (Budiansyah 2004).
Penggunaan probiotik ada dua macam yaitu melalui lingkungan (air dan
dasar tambak) dan melalui oral (dicampurkan ke dalam pakan). Aplikasi melalui
oral dapat meningkatkan kualitas pakan dengan menambahkan bahan aditif dalam
bentuk probiotik yang berisi mikroba pengurai ke dalam pakan dan juga berfungsi
untuk memperbaiki kualitas pakan dengan cara melalui proses penguraian
sehingga dapat meningkatkan nilai nutrisi pakan (Mansyur dan Malik 2008).
Menurut Soeharsono (2010), mekanisme kerja probiotik pada akuakultur
adalah:
18

1. Kompetisi eksklusif (competitive exclusion) terhadap bakteri patogen


misalnya Pseudomonas terhadap beberapa Vibrio sebagai patogen pada udang
2. Pengaktifan respon imun atau menstimulasi imunitas
3. Kompetisi untuk reseptor perlekatan pada epitel saluran pencernaan
4. Kompetisi untuk mendapatkan nutrient
5. Mengeluarkan substansi antibakteri
6. Dekomposisi zat organik yang tidak diharapkan, sehingga lingkungan
akuakultur menjadi lebih baik
Wang et al. (2008) dalam Ahmadi dkk. (2012) menyatakan bakteri
probiotik menghasilkan enzim yang mampu mengurai senyawa kompleks menjadi
sederhana sehingga siap digunakan ikan. Dalam meningkatkan nutrisi pakan,
bakteri yang terdapat dalam probiotik memiliki mekanisme dalam menghasilkan
beberapa enzim untuk pencernaan pakan seperti amilase, protease, lipase dan
selulose. Enzim tersebut yang akan membantu menghidrolisis nutrien pakan
(molekul kompleks), seperti memecah karbohidrat, protein dan lemak menjadi
molekul yang lebih sederhana akan mempermudah proses pencernaan dan
penyerapan dalam saluran pencernaan ikan (Putra 2010).
19

2.2.1 Mikroba Probiotik


1. Bacillus subtilis
Bacillus subtilis memiliki bentuk batang dengan ukuran 0,3-3,2 μm x1,27
7,0μm (Gambar 4). Bacillus subtilis sebagian motil, flagellumnya khas lateral,
membentuk endospora dimana endosporanya tidak lebih dari satu sel sporangium,
merupakan bakteri Gram positif dan bersifat aerobik sejati atau anaerobik
fakultatif (Pelczar dan Chan 2012). Ciri pembeda yang menonjol dari bakteri ini
adalah kemampuannya dalam membentuk endospora. Endosporanya memiliki
resistensi tinggi terhadap panas dan dapat bertahan hidup lama (Pelczar dan Chan,
2012).

Gambar 4. Sel Bacillus subtilis dengan SEM.


(Sumber : Morikawa et al. 2006)

Menurut Garrity et al. (2004) secara taksonomi Bacillus subtilis dapat


diklasifikasikan sebagai berikut:
Filum : Firmicutes
Kelas : Bacilli
Ordo : Bacillales
Famili : Bacillaceae
Genus : Bacillus
Spesies : Bacillus subtilis
Bacillus subtilis berperan dalam dekomposisi awal terhadap bahan organik
(Voset et al. 2009). Bacillus subtilis membutuhkan kondisi tertentu untuk
mencapai pertumbuhan yang optimal. Suhu yang diperlukan untuk pertumbuhan
optimal sebesar 28 – 30 oC, sedangkan suhu minimal pada pertumbuhannya
sebesar 5 – 20 oC dan suhu maksimal sebesar 45 – 55 oC. Selain itu, faktor
20

pertumbuhan yang penting bagi Bacillus subtilis adalah pH, yaitu sebesar 5,5 –
8,5. Batas pH untuk pertumbuhan Bacillus subtilis belum ditentukan (Voset et al.
2009).
Bacillus subtilis yang diberikan pada hewan akuatik mampu meningkatkan
pertumbuhan dan resisten terhadap infeksi bakteri patogen Vibrio. Hal ini
mungkin dipengaruhi oleh keberadaan bakteri probiotik yang meningkatkan
sistem imunitas tubuh inang tersebut. Menurut Rengpipat et al. (2000) aplikasi
probiotik di air pemeliharaan telah dilaporkan mampu memperbaiki kualitas air.
2. Lactobacillus plantarum
Lactobacillus plantarum (Gambar 5) merupakan bakteri Gram positif
dengan sel tidak menghasilkan spora, non-motil, aerob fakultatif, kadang-kadang
mikroaerofilik, tumbuh lebih baik dengan adanya oksigen tereduksi sebagian
anaerob, dan tumbuh optimum pada suhu 30 - 40ºC yang ditemukan dalam
berbagai relung. Relung ini termasuk susu, daging, sayur fermentasi, dan saluran
pencernaan manusia.

Gambar 5. Sel Lactobacilus plantarum dengan SEM.


(Sumber : Bronze et al. 2008)

Klasifikasi Lactobacillus plantarum menurut Garrity et al. (2004) adalah


sebagai berikut:
Filum : Firmicutes
Kelas : Bacilli
Ordo : Lactobacillales
Famili : Lactobacillaceae
Genus : Lactobacillus
Spesies : Lactobacillus plantarum
21

Koloni Lactobacillus plantarum pada media agar biasanya 2-5 mm,


konveks, penuh opak dan tidak berpigmen, sel berbentuk batang regular dengan
ukuran 0,5-1,2 x 1,0-10,0 µm; kemoorganotrofik, dan tumbuh hanya pada media
kompleks; metabolisme fermentatif dan sakaroklastik, sebagian dari produk
akhirnya adalah laktat; tidak mereduksi nitrit, gelatin tidak mencair, katalase dan
sitokrom negatif. Bakteri Lactobacillus plantarum akan mengubah karbohidrat
menjadi asam laktat, kemudian asam laktat dapat menciptakan suasana pH yang
asam. Dalam keadaan asam, Lactobacillus plantarum memiliki kemampuan untuk
menghambat bakteri patogen dan bakteri pembusuk yang ada (Delgado et al. 2001
dalam Rostini 2007). Suasana asam pada usus akan meningkatkan sekresi dari
enzim proteolitik dalam saluran pencernaan yaitu merombak protein menjadi
asam amino yang kemudian diserap oleh usus. Gatesoupe (1999) dalam Mulyadi
(2011) juga menyatakan bahwa aktivitas bakteri dalam pencernaan organisme
budidaya akan berubah dengan cepat apabila ada suatu mikroba yang masuk
melalui pakan atau air yang dapat menyebabkan terjadinya perubahan
keseimbangan bakteri yang sudah ada dengan bakteri yang masuk dalam saluran
pencernaan.
3. Nitrosomonas sp.
Bakteri Nitrosomonas sp. (Gambar 6) merupakan bakteri yang berperan
dalam proses oksidasi amonia menjadi nitrit dalam siklus nitrogen. Secara
morfologis bakteri ini berbentuk batang pendek, motil dan non motil, terdapat
dalam bentuk konsorsium, berpasangan sebagai rantai pendek maupun sendiri.
Bakteri ini adalah bakteri Gram negatif dan memiliki sitomembran. Sel tumbuh
bebas pada medium dan membentuk matriks tipis. Bakteri ini dapat tumbuh
optimum pada suhu 5 - 30 °C dan pH optimum 5,8 - 8,5 serta hidup pada habitat
air laut, air tawar dan tanah (Holt et al. 1994).
22

Gambar 6. Sel Nitrosomonas sp. dengan SEM


(Sumber : Zavarzin et al. 2004)

Klasifikasi Nitrosomonas sp. menurut Garrity et al. (2004) adalah sebagai


berikut :
Filum : Proteobacteria
Kelas : β-Proteobacteria
Ordo : Nitrosomonadales
Famili : Nitrosomonadaceae
Genus : Nitrosomonas
Spesies : Nitrosomonas sp.
Nitrosomonas sp. adalah bakteri yang mengoksidasi amoniak menjadi
nitrit sebagai proses metabolisme. Nitrosomonas sp. ditemukan di tanah, air tawar
dan pada permukaan bangunan, terutama di daerah yang mengandung tingkat
tinggi senyawa nitrogen. Nitrosomonas sp. lebih menyukai pH optimum 7,5 - 8,5
dan kisaran suhu 20-30 °C (Boyd 1990).
Nitrosomonas sp. memiliki kemampuan mengubah amoniak yang
melibatkan bakteri dengan persamaan reaksi (Effendi 2003) sebagai berikut:
2NH3 + 3O2 2NO2- + 2H+ + 2H2O
Nitrosomonas sp.

4. Nitrobacter sp.
Bakteri Nitrobacter sp. (Gambar 7) berperan dalam siklus nitrogen dengan
mengoksidasi nitrit yang merupakan hasil dari oksidasi bakteri Nitrosomonas sp.
menjadi nitrat. Nitrobacter sp. menggunakan energi oksidasi dari ion nitrit
menjadi nitrat.
23

Gambar 7. Sel Nitrobacter sp.dengan SEM


(Sumber : Zavarzin et al. 2004)

Klasifikasi Bakteri Nitrobacter sp. menurut Garrity et al. (2004) adalah


sebagai berikut :
Filum : Proteobacteria
Kelas : α-Proteobacteria
Ordo : Rhizobiales
Famili : Bradyrhizobiaceae
Genus : Nitrobacter
Spesies : Nitrobacter sp.
Habitat Nitrobacter sp.berada dalam tanah, air tawar, laut, payau, lumpur
dan batuan berpori-pori. Berbentuk batang, elipsoidal dan spiral, Gram negatif, sel
motil dan non motil serta kemoautotrof. Sel motil memiliki falgel polar atau
lateral. Nitrobacter sp. membutuhkan pH yang optimum untuk pertumbuhannya
antara 5,8 - 8,5 dan 7,3 - 7,5 (Holt et al. 1994).
Pada proses tahap kedua reaksi diperankan oleh bakteri Nitrobacter sp.
yang melakukan oksidasi dari nitrit ke nitrat dengan persamaan reaksi (Effendi
2003) sebagai berikut :
2NO2- + O2 2NO3-
Nitrobacter sp.

2.3 Parameter Kualitas Air


Kodisi suatu perairan dikatakan baik apabila kualitas perairan tersebut
sangat sesuai untuk mendukung kehidupan suatu organisme yang hidup
didalamnya. Beberapa parameter yang menunjang keberhasilan kegiatan budidaya
udang vaname diantaranya adalah suhu, DO, salinitas, pH dan amonia.
24

Suhu berpengaruh terhadap proses metabolisme dalam tubuh udang,


semakin tinggi suhu maka semakin cepat proses metabolisme terjadi. Namun
kisaran yang baik untuk pertumbuhan adalah 28 – 30° C. Pada suhu dibawah
15°C nafsu makan sudah sangat menurun dan diatas 32° C maka udang terlihat
gelisah. Menurut Haliman dan Adijaya (2005) suhu optimum pertumbuhan udang
vaname berada pada kisaran 26º-32ºC, sedangkan kisaran yang optimal untuk
pemeliharaan udang vaname menurut SNI7246:2006 yaitu 28,5º-31,5ºC.
Menurut Raharjo dkk. (2003), konsentrasi oksigen terlarut pada tambak
yang baik untuk budidaya udang vaname adalah 3,5 – 7,5 mg/l. Level oksigen
terlarut (DO) minimum yang dapat ditolerir ikan dengan aman bergantung pada
suhu hingga batas – batas tertentu untuk tiap spesies. Kelarutan oksigen dalam air
naik sejalan dengan penurunan suhu. Pada kolam, DO dapat berubah secara
dramatis selama periode 24 jam.
Menurut Haliman dan Adijaya (2005) salinitas yang baik untuk
pertumbuhan udang vaname berkisar antara 10-35 ppt, sedangkan menurut
Farchan (2006) pertumbuhan udang vaname ideal pada salinitas 15 – 30 ppt.
Walaupun pernah dicoba dipelihara pada tambak yang mempunyai salinitas 50 ppt
udang masih dalam keadaan hidup, namun dapat menyebabkan udang lemah, sulit
ganti kulit (moulting) dan mudah terserang penyakit. Menurut Subyakto et. al
(2009) salinitas 15-20 ppt masih dalam batas yang layak untuk pemeliharaan
udang vaname. Menurut SNI 7246:2006 kisaran salinitas optimal untuk
pemeliharaan udang vaname adalah 15-25 ppt. Perubahan salinitas secara
mendadak dapat menyebabkan kematian pada udang.
Sebagian besar biota akuatik sensitif terhadap perubahan pH dan
menyukai pH sekita 7-8,5. Nilai pH sangat mempengaruhi proses kimiawi
perairan, misalnya proses nitrifikasi akan berakhir jika pH rendah (Effendi 2003).
Menurut Wardoyo dan Setiyanto 1998 dalam Solihin 2010 nilai pH air yang ideal
untuk budidaya udang windu adalah 6,8-9,0, sedangkan pH antara 4,5-6,0 dan
9,8-11,0 dapat mengganggu metabolisme udang. Pada pH< 4,0 dan >10 udang
akan mati. Menurut Patang (2012) pH 7,35- 7,44 masih layak untuk pemeliharaan
larva udang, sedangkan menurut SNI 7246:2006 kisaran pH optimal untuk
25

pemeliharaan optimal untuk pemeliharaan udang vaname adalah 7,5-8,5. Tabel 2.


menyajikan hubungan antara pH air dan kehidupan udang budidaya.

Tabel 1. Hubungan Antara pH Air dan Kehidupan Udang Windu


pH air Pengaruhnya terhadap udang
<4,0 Bersifat racun terhadap udang
4,0-4,5 Tidak berproduksi, titik mati asam
4,6-6,0 Produksi rendah
6,1-7,5 Produksi sedang
7,6-8,0 Cukup Baik bagi budidaya udang
8,1-8,7 Baik bagi pemeliharaan udang
8,8-9,5 Produksi mulai menurun
9,0-11 Titik mati alkalis
>11,0 Bersifat racun terhadap udang
(Sumber : Kordi dan Tancung 2007)

Salah satu hasil dekomposisi bahan organik adalah amonia. Di air,


ammonia nitrogen mempunyai dua bentuk yaitu ammonia (NH3) yang bukan ion
dan ammonium (NH4) yang merupakan ion. NH3 racun bagi ikan dan udang,
sedangkan NH4 tidak berbahaya kecuali dalam kosentrasi yang tinggi. Kadar
ammonium yang dianggap berbahaya bagi pertumbuhan udang adalah lebih besar
dari 2 ppm. Daya racun NH3 meningkat pada kosentrasi oksigen yang rendah
untuk dapat mengurangi kadar H2S dan NH3 ini adalah dengan menggunakan
bakteri pengurai yang merupakan komponen proses nitrifikasi (Farchan 2006).
Sumber amonia di perairan adalah pemecahan nitrogen organik (protein
dan urea) dan nitrogen anorganik yang terdapat di dalam tanah dan air, yang
berasal dari dekomposisi bahan organik (tumbuhan dan biota akuatik yang telah
mati) oleh mikroba dan jamur. Proses ini dikenal dengan istilah amonifikasi,
ditunjukkan dalam persamaan reaksi
N organik + O2 → NH3 – N + O2 → NO2 –N+ O2 → NO3 –N
Amonifikasi nitrifikasi
Amonia bebas (NH3) yang tidak terionisasi (unionized) bersifat toksik
terhadap organisme akuatik. Toksisitas amonia terhadap organisme akuatik akan
meningkat jika terjadi penurunan kadar oksigen terlarut, pH, dan suhu. Amonia
juga jarang ditemukan pada perairan yang mendapat cukup pasokan oksigen.
26

Sebaliknya, pada wilayah anoksik (tanpa oksigen) yang biasanya terdapat di dasar
perairan, kadar amonia relatif tinggi (Effendi 2003). Kualitas air udang vaname
dapat dilihat dalam Tabel 3.
Tabel 2. Kualitas Air Udang Vaname
Parameter Optimal Toleransi
DO >4ppm >3 ppm
Temperatur 28-32◦C 20-35◦C
Salinitas 15-25 ppt 0-35 < 35 ppt
pH 7.5-8 7-8.5
NH3 0 ppm 0.1-0.5 ppm
NO2 0 ppm 0.1-1 ppm
HS2 0 ppm 0.001 ppm
Alkalinitas 100-120ppm 100 ppm
Kecerahan 25-40 cm
Sumber : WWF Perikanan, Kualitas Air Udang Vaname (2014)

2.4 Kelangsungan hidup dan Pertumbuhan


Perbandingan antara jumlah individu yang hidup pada akhir percobaan
dengan jumlah individu pada awal percobaan atau peluang hidup dalam suatu
faktor biotik maupun abiotik mempengaruhi kelangsungan hidup udang. Parasit,
kompetitor, umur, kemampuan adaptasi, penanganan manusia dan kepadatan
populasi dipengaruhi oleh faktor biotik, sedangkan sifat kimia dan fisika dari
suatu lingkungan air dipengaruhi oleh faktor abiotik (Rika 2008).
Kelangsungan hidup udang sangat dipengaruhi oleh kualitas air. Karena
air sebagai media tumbuh sehingga harus memenuhi syarat dan harus diperhatikan
kualitas airnya, seperti: suhu, kandungan oksigen terlarut (DO) dan keasaman
(pH). Menurut Zonneveld et al. (1991) dalam Solihin (2010) kualitas air yang
tidak stabil akan mempengaruhi kelangsungan hidup organisme perairan. Selain
itu kelangsungan hidup udang juga dipengaruhi oleh pemangsaan (kanibalisme)
pada udang itu sendiri.
Pertumbuhan dalam istilah yang dapat dirumuskan sebagai pertambahan
atau berat dalam suatu waktu, sedangkan pertumbuhan bagi populasi sebagai
pertambahan jumlah Pertumbuhan merupakan proses biologis yang kompleks
dimana banyak faktor yang mempengaruhinya. Faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan digolongkan menjadi dua bagian besar yaitu faktor internal dan
27

eksternal. Faktor-faktor yang mempengaruhi ada yang dapat dikontrol dan ada
juga yang tidak. Faktor internal adalah faktor yang sukar di kontrol, diantaranya
ialah keturunan, sex dan umur. Faktor eksternal meliputi faktor kimia, fisika dan
biologi perairan dan yang paling utama mempengaruhi pertumbuhan ialah
makanan dan suhu perairan (Effendie 1997).
Sari (1999) dalam Patang (2012) menyatakan bahwa pertumbuhan udang
dapat diduga berdasarkan peningkatan ukuran pada waktu dan frekuensi
pergantian kulit. Namun cara tersebut memiliki kelemahan karena pada crustacea
meskipun pertumbuhan berhubungan langsung dengan pergantian kulit, dapat saja
terjadi tanpa adanya pertumbuhan (Wickins 1976 dalam Patang 2012).
Ramadhana et al. (2012) dalam penelitiannya menunjukkan hasil bahwa
penambahan probiotik yang mengandung Lactobacillus sp. ke dalam pakan
dengan dosis 3%, 5% dan 7% mampu meningkatkan kandungan gizi pakan
tersebut dan menurunkan serat kasar dibandingkan tanpa pemberian probiotik,
serta dapat meningkatkan jumlah bakteri dalam mukosa usus dan kecernaan ikan
nila sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan berat dan panjang ikan nila.
Pemberian probiotik melalui pakan berpengaruh nyata terhadap laju pertumbuhan
baik bobot maupun panjang serta konversi pakan, namun tidak mempengaruhi
kelangsungan hidup (Praditia 2009).

2.5 Efisiensi Pemberian Pakan


Efesiensi pakan menunjukan persentasi pakan yang diubah menjadi daging
atau pertambahan bobot sedangkan efisiensi pemberian pakan merupakan
perbandingan antara pertambahan bobot tubuh yang dihasilkan dengan jumlah
total pakan yang diberikan selama pemeliharaan.
Pakan dapat dikatakan memberikan pertumbuhan yang baik bila nilai
efisiensi pemberian pakan lebih dari 50% atau bahkan mendekati 100% (Craig
dan Helfrich 2002). Efisiensi pemberian pakan berbanding lurus dengan
pertambahan bobot tubuh, sehingga semakin besar nilai efisiensi pemberian
pakan, maka semakin baik ikan memanfaatkan pakan yang diberikan sehingga
semakin besar bobot daging yang dihasilkan (Djajasewaka 1985). Pengukuran
28

efisiensi pertumbuhan, baik dilakukan untuk menganalisis kualitas pakan dalam


hubungannya dengan jenis ikan tertentu. Setiap jenis ikan mungkin memiliki
respon yang berbeda terhadap jenis pakan yang sama (Bey 2007).
BAB III
METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian ini akan dilaksanakan selama tiga bulan yaitu dimulai dari
tanggal 6 Oktober – 30 Desember 2017, yang bertempat di tambak udang
Minaloka Jaya, Shrimp Club Indonesia (SCI) Kecamatan Grabag, Kabupaten
Purwerojo, Jawa Tengah.

3.2 Alat dan Bahan


3.2.1 Alat
Alat yang digunakan selama penelitian adalah sebagai berikut :
1. Refraktometer digunakan untuk mengukur salinitas
2. pH meter merk Lutron dengan tipe PH-201 digunakan untuk mengukur pH
air dalam media pemeliharaan
3. DO meter merk Hanna tipe HI 9146 digunakan untuk mengukur Oksigen
Terlarut (DO)
4. Termometer, digunakan untuk mengukur suhu media pemeliharaan
5. Timbangan analitik ketelitian 0,01 gram, digunakan untuk menimbang udang
vaname
6. Jangka Sorong dengan ketelitian 0,1 mm digunakan untuk mengukur panjang
udang vaname
7. Scoop Net digunakan untuk mengambil udang vaname
8. Kamera digital, digunakan sebagai alat untuk mendokumentasikan setiap
kegiatas hasil penelitian

3.2.2 Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Hewan uji yang digunakan dalam penelitian adalah udang vaname PL-10
2. Pakan yang digunakan adalah pakan udang vaname dengan dua tipe yaitu
starter dan grower. Tipe starter memiliki kadar protein 40%, kadar lemak
6,50%, kadar serat kasar 2,20%, kadar abu 13% dan kadar air sebesar 11%,

29
30

sedangkan tipe grower memiliki kadar protein 37%, kadar serat kasar 2,70%
dan selebihnya memiliki kandungan yang sama dengan tipe starter (PT Suri
Tani Pemuka 2017)
3. Konsorsium probiotik Bacillus sp., Lactobacillus sp., Nitrobacter sp., dan
Nitrosomonas sp. yang digunakan berasal dari Mikrobiologi Universitas
Padjadjaran.

3.3 Prosedur penelitian


Penelitian ini dilakukan selama tiga bulan dengan menggunakan tiga
tambak yang masing-masing menggunakan perlakuan yang berbeda, yaitu dengan
penambahan probiotik sediaan cair dan penambahan probiotik sediaan padat yang
konsorsiumnya sudah ditentukan yang berasal dari Mikrobiologi Universitas
Padjadjaran dan tambak yang menggunakan probiotik pasaran. Pengukuran
dilakukan setiap seminggu sekali selama tiga bulan, untuk setiap perlakuan
diambil 3-5 ekor udang vaname dan ditimbang bobotnya dengan menggunakan
timbangan analitik dengan ketelitian 0,01 gr, selanjutnya dilakukan pengukuran
panjang total udang vaname dengan menggunakan jangka sorong (0,1 mm) yang
diulang sebanyak tiga kali. Perhitungan tingkat kelangsungan hidup udang
vaname (survival rate) dan efisiensi pakan dilakukan pada akhir penelitian.

3.4 Metode Penelitian


Metode penelitian dilakukan secara eksperimental dengan menggunakan
metode Rancangan Acak Kelompok (RAK). Penelitian ini terdiri atas tiga
perlakuan dengan tiga ulangan, yaitu :
Perlakuan A : kontrol
Perlakuan B : Penambahan probiotik sediaan cair
Perlakuan C : Penambahan probiotik sediaan padat
Model linear dari rancangan ini adalah sebagai berikut (Gasperz 1991) :
Yij = µ + τi + βj + εij
Keterangan :
Yij = Hasil pengamatan pada perlakuan ke-i ulangan ke-j
µ = Rata-rata umum
τi = Pengaruh perlakuan ke-i
31

βj = Pengaruh ulangan ke-j


εij = Pengaruh faktor random perlakuan ke-i ulangan ke-j

3.5 Parameter Pengamatan


3.5.1 Kelangsungan Hidup
Tingkat kelangsungan hidup hewan uji dapat diketahui dengan
menggunakan rumus Effendie (1997):
Nt
SR = X 100%
No

Keterangan :
SR = Kelangsungan hidup (%)
Nt = Jumlah udang pada akhir penelitian (ekor)
No = Jumlah udang pada awal penelitian (ekor)

3.5.2 Laju Pertumbuhan Harian


Pengukuran laju pertumbuhan harian digunakan menggunakan rumus
Effendie (1997) :
(lnWt − lnWo)
G= X 100%
t

Keterangan :
G = Laju pertumbuhan (%)
Wt = Rata-rata bobot harian ikan di akhir penelitian (g)
Wo = Rata- rata bobot harian ikan di awal penelitian (g)
t = Lama pengamatan (hari)

3.5.3 Pertumbuhan Panjang


Perhitungan pertambahan panjang mutlak dilakukan dengan menggunakan
rumus sebagai berikut Effendie (1979) :
L = Lt- Lo
Keterangan :
L = Pertumbuhan panjang mutlak
Lt = Panjang rata-rata individu pada waktu t (mm)
Lo = Panjang rata-rata individu pada awal penelitian (mm)

3.5.4 Pertumbuhan Biomassa Mutlak (W)


Perhitungan Pertumbuhan biomassa mutlak menggunakan rumus Effendie
(1979):
W = Wt – Wo
Keterangan :
32

W = Pertumbuhan mutlak (gram)


Wt = Bobot biomassa pada akhir penelitian (gram)
Wo = Bobot biomassa pada awal penelitian (gram)
3.5.5 Efisiensi Pakan
Penghitungan Efisiensi pakan dengan rumus Zonneveld et al. (1991):
(Wt+D)−W0
FE= X 100%
F

Keterangan :
FE = Efisiensi pakan (%)
Wt = Bobot ikan uji pada akhir penelitian (g)
Wo = Bobot ikan uji pada awal penelitian (g)
D = Bobot total ikan yang mati selama pemeliharaan (g)
F = Jumlah total pakan yang diberikan (g)

3.6 Analisis Data


Data penelitian dianalisis berdasarkan parameter yang diukur dalam
penelitian. Parameter kualitas air dianalisis secara deskristif dengan cara
membandingkan dengan standar kualitas air. Pengaruh perlakuan dianalisis
menggunakan analisis sidik ragam dengan uji F dan perbedaan antar perlakuan
diuji dengan uji Duncan dengan taraf kepercayaan 95% (Gasperz 1991).
DAFTAR PUSTAKA

Adiyodi, K., G. 1970. Endocrine Control of Reproduction in Decapod Crustacea.


Biol. Rev. 45: 121-165.
Agustining, D. 2012. Daya Hambat Saccharomyces cerevisiae terhadap
Pertumbuhan Jamur Fusarium oxysporum. Universitas Jember. Jember.
Ahmad, F., L. 2005. Indole Acetic Acid Production by the Indigenous Isolates of
Azotobacter and Fluorescent Pseudomonas in The Presence and Absence
Of Tryptofan. Turk. J Biol. 29 : 29- 34.
Ahmadi, H., N Iskandar dan Kurniawati. 2012. Pemberian Probiotik dalam Pakan
terhadap Pertumbuhan Lele Sangkuriang (Clarias sp.) Pada Pendederan
II. UNPAD. 3 (4) : 99-107.
Andriani, Y., R. Safitri., E. Rochima. 2016. Laporan Akhir Penelitian Hibah
Stranas. Universitas Padjadjaran.
Arief, M., Mufidah dan Kusriningrum. 2008. Pengaruh Penambahan Probiotik
pada Pakan Buatan terhadap Pertumbuhan dan Rasio Konversi Pakan
Ikan Nila Gift (Oreochromis niloticus). Berkala Ilmiah Perikanan 3(2):
53-58.
Arief, M. N., Fitriani., dan S. Subekti. 2014. Pengaruh Pemberian Probiotik
Berbeda Pada Pakan Komersial Terhadap Pertumbuhan Dan Efisiensi
Pakan Ikan Lele Sangkuriang (Clarias sp.). Jurnal Ilmiah Perikanan Dan
Kelautan. 6 (1) : 4 hlm.
Badan Pusat Statistik. 2015. Produksi Perikanan Menurut Subsektor. Dilansir di
http://www.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/1711. Pada tanggal 16 Mei
2017.
Badan Standarisasi Nasional. 2006. Standar Nasional Indonesia (SNI). SNI-01-
7252-2006. Benih Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) Kelas Benih
Sebar. Dewan Standarisasi Indonesia. Jakarta
Boyd, C. E. 1990. Water Quality in Ponds for Aquaculture. Albama Agricultural.
Experiment Station. Alabama. 482 hal.
Bronze, M., Vilas-Boas, L., Catulo, L., Peres, C. 2008. Use of Lactobacillus
platarum in Treatments of Olive Mill Wastewater.
Brown, T., A. 1991. Pengantar Kloning Gena. Yogyakarta. Yayasan Essensia
Edica.
Budiansyah, A. 2004. Pemanfaatan Probiotik dalam Meningkatkan Penampilan
Produksi Ternak Unggas. Prog. Pascasarjana IPB. Bogor.
Craig, S. dan L. A. Helfrich. 2002. Understanding Fish Nutrition Feeds and
Feeding. Virgia Tech.

33
34

Direktur Jendral Perikanan Budidaya. 2015. Rencana Strategis Direktorat Jendral


Perikanan Budidaya 2015-2019. DJPB: 38 hlm.
Djajasewaka, H. 1985. Penggunaan Silase Ikan sebagai Pengganti Tepung Ikan
dalam Pakan Ikan Mas (Cyprinus carpio L.). Buletin Penelitian
Perikanan Darat.
FishstatJ FAO. 2016. Fishary for Statistical Time Series. Dilansir di
http://www.fao.org/fishery/statistics/software/fishstatj/en. pada tanggal
16 Mei 2017.
Efendi, E. 2005. Fungsi Probiotik dalam Budidaya Perikanan. www.unila.ac.id
Effendie, I. 1997. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nustama. Jakarta. 159 hal.
Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air. Kanisius. Yogyakarta. 258 hal.
Effendie, M. I. 1979. Metode Biologi Perikanan. Bogor: Yayasan Pustaka
Nusantama
Farchan, M. 2006. Teknik Budidaya Udang Vaname. Serang: BAPPL Sekolah
Tinggi Perikanan.
Fera, V. V. 2004. Pembenihan udang vaname di PT. Birulaut Khatulistiwa
Kalianda Lampung Selatan. [Laporan Magang]. Fakultas Perikanan dan
Ilmu Kelautan, IPB. Bogor.
Fuller, R. 1989. A Review, Probiotics in Man and Animals. J Appl Bacteriol,
66:355-37.
Garrity, George M., J. A. Bell, T. G. Lilburn. 2004. Taxonomic Outline of the
Procaryotes Bergeys Manual of Systematic Bacteriology, 2nd Edition.
New York: Springer New York.
Gaspersz, V. 1991. Metode Perancangan Percobaan . Bandung : Armico
Ghufran, M. 2009. Sukses Memproduksi Bandeng Super untuk Umpan, Ekspor,
dan Indukan. Yogyakarta: Lily Publisher.
Haddadin, M. S. Y., S.M. Abdulrahim, E. A. R. Hashlamoun and R. K. Robinson.
1996. The effect of Lactobacillus acidophilus on the production and
chemical composition on hen’s eggs. Poult. Sci. 75: 491−494.
Haliman, R. W. dan S. D Adijaya. 2005. Udang Vaname (Pembudidayaan dan
Prospek Pasar Udang Putih yang Tahan Penyakit). Penebar Swadaya,
Jakarta.
Haliman, R. W. dan S. D Adijaya. 2006. Udang Vaname. Penebar Swadaya.
Depok. 76 halaman.
Haetami, K., Abun dan Y. Mulyani. 2008. Studi Pembuatan Probiotik
BASsebagai Feed Suplement serta Aplikasinya terhadap Pertumbuhan
Ikan Nila Merah. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. UNPAD.
35

Holt. G., Kreig, N.R., Sneath, P.H.A., Stanley, J.T. and Williams, S.T. 1994.
Bergeys Manual Determinative Bacteriology. Baltimore: Williamn and
Wilkins Baltimore.
Kementrian Kelautan dan Perikanan. 2015. Kelautan dan Perikanan dalam Angka
Tahun 2015. Pusat Data,Statistik dan Informasi 2015: 340 hlm.
Kordi, G. Dan A. Tancung. 2007. Pengelolaan Kualitas Air dalam Budidaya
Perairan. Jakarta : Rineka Cipta.
Kurniasih, T. 2011. Seleksi Bakteri Proteolitik dan Aplikasi Enzim Protease untuk
Meningkatkan Kualitas Pakan dan Kinerja Pertumbuhan Ikan Nila.
Thesis. Sekolah Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor. 61 hlm.
Mansyur, A. dan Abdul Malik Tangko. 2008. Probiotik: Pemanfaatannya untuk
Pakan Berkualitas Rendah. Media Akuakultur Volume 3 Nomor 2 Tahun
2008. Balai Riset Perikanan Budidaya Air payau, Maros.
Matthews, A. 1988. Product Evolution at Work. Feed management. 39: 11-19
Morikawa, M., Shinji, K., Mitsuru, H., Kazufumi, T., Steve, B., Roberto, K., and
Shigenori, K. Biofilm Formation by a Bacillus Subtilis Strain that
Produces γ-Polyglutamate. 2006. Journal of Microbiology. Departement
of Material and Life Science. Osaka University Japan.
Mulyadi, A. E. 2011. Pengaruh Pemberian Probiotik Pada Pakan Komersil
Terhadap Laju Pertumbuhan Benih Ikan Patin Siam. Skripsi. Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Padjajaran. Bandung.
Mulyana, D. Y. 2011. Kaya Raya dari Budidaya Ikan dengan Probiotik. Jakarta:
Berlin Media.
Nadhif, M. 2016. Pengaruh Pemberian Probiotik pada pakan dalam Berbagai
Konsentrasi Terhadap Pertumbuhan dan Mortalitas Udang Vaname
(Litopenaeus vannamei). Universitas Airlangga. Surabaya.
Noviana, P., Subandiyono dan Pinandoyo. 2014. Pengaruh Pemberian Probiotik
dalam Pakan Buatan Terhadap tingkat Konsumsi Pakan dan
Pertumbuhan Benih Ikan Nila (Oreochromis niloticus). Jurnal of
Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomer 4, Tahun
2014, Halaman 183-190.
Pelczar, M. J. dan E. C. S. Chan. 2012. Dasar-dasar Mikrobiologi 1. Jakarta:
Penerbit Universitas Indonesia.
Patang. 2012. Pengaruh Penggunaan Berbagai Antibiotic dan Probiotik dengan
Dosis Berbeda terhadap Pertumbuhan dan Kualitas Air pada Larva
Udang Windu (Penaeus monodon Fabricius). Jurnal Agrisistem,
Politelnik Pertanian Negeri Pangkep.
36

Praditia, F. 2009. Pengaruh Pemberian Probiotik Melalui Pakan terhadap


Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Udang Windu (Penaeus
monodon). Skripsi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. IPB. 52 hlm.
Putra, A. N. 2010. Kajian Probiotik, Prebiotik dan Sinbiotik untuk Meningkatkan
Kinerja Pertumbuhan Ikan Nila (Oreochromis niloticus). Tesis. IPB:
Bogor. 109 hlm. (Tidak diterbitkan).
Ramadhana, S., N.A. Fauzana, dan P. Ansyari. 2012. Pemberian Pakan Komersil
dengan Penambahan Probiotik yang Mengandung Lactobacillus sp.
terhadap Kecernaan dan Pertumbuhan Ikan Nila (Oreochromis nilocus).
Program Magister Ilmu Perikanan Program Pasca Sarjana UNLAM.
Rengpipat, S., S. Rukpratanporn, S. Piyatiratitivorakul and P. Menasaveta. 2000.
Immunity Enchacement in Black Tiger Shrimp (Penaeus monodon) by A
Probiont Bacterium (Bacillus S11). Aquaculture 191:271-288.
Rika. 2008. Pengaruh Salinitas terhadap Pertumbuhan dan kelulushidupan Ikan
Hasil Strain GIFT dengan Strain Singapura. Skripsi, Universitas
Diponegoro. Semarang
Rizqi, F. 2016. Pemanfaatan Probiotik Cair pada Akuakultur Sebagai Usaha
Peningkatan Produktivitas dan Efisiensi Pakan Clarias gariepinus (Ikan
Lele Dumbo). Skripsi. Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas
Airlangga. Surabaya

Rostini, I. 2007. Peranan Bakteri Asam Laktat (Lactibacillus plantarum)


Terhadap Masa Simpan Filet Nila Merah pada Suhu Rendah. Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Padjadjaran. Jatinangor. 13 hal
Soeharsono, H. 2010. Probiotik. Basis Ilmiah, Aplikasi dan Aspek Praktis. Penerbit
Widya Padjadjaran. Bandung.
Subyakto, S., D. Sutende, M. Afandi, and Sofiati. 2009. Budidaya Udang
Vannamei (Litopenaeus vannamei) Semi Intensif dengan Metode
Sirkulasi Tertutup untuk Menghindari Serangan Virus. Jurnal Ilmiah
Perikanan dan Kelautan, 1(2):121-127.
Sukenda, S., H. Dwinanti., dan M. Yuhana. 2009. Keberadaan White Spot
Syndrome Virus (WSSV), Taura Syndrome Virus (TSV) dan Infectious
Hypodermal Haematopoitic Necrosis Virus (IHHNV) di Tambak Intensif
Udang Vaname Litopenaeus vannamei di Bakauheni, Lampung Selatan.
Jurnal Akuakultur Indonesia, 8(2): 1-8 (2009).
Verschuere, L., Rombaut, G., Sorgeloos, P. and Verstraete, W. 2000. Probiotic
Bacteria as Biological Control Agents in Aquaculture. Microbiology And
Molecular Biology Reviews, 64(4): 655-671.
Wang, YB., Li, J.R., and Lin, J. 2008. Probiotics in aquaculture : Challenges and
outlook. Journal Aquaculture 281 : 1-4
37

Warsito, T. 2012. Penongkolan benih udang vaname (Litopenaeus vannamei).


Widanarni, D. Yuniasari, Sukenda, dan J. Ekasari. 2010. Nursery Culture
Performance of Litopenaeus vaname with Probiotics Addition and
Different C/N Ratio under Laboratory Condition. Journal of Biosciences
Vol. 17 No. 3 p. 115-119.
WWF-Indonesia. 2014. Budidaya Udang Vaname Tambak Semi Intensif dengan
Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) . Jakarta.
Wyban, J. A. dan Sweeney, J. N. 1991. Intensive Shrimp Production Technology.
The Oceanic Institute. Hawai. USA.
Zakaria, A. S. 2010. Manajemen Pembesaran Udang Vannamei di Tambak Udang
Binaan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pamekasan. Budidaya
Perairan Universitas Airlangga. Surabaya.
Zavarzin, G., Legunkova, R. 2004. The Morphology of Nitrobacter winogradsky.
J. gen. Microbial. 21, 186-190.
Zonneveld, N., E.A. Huisman, and J.H. Boon. 1991. Prinsip-prinsip Budidaya
Ikan. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. 318 hlm.