Anda di halaman 1dari 57

STUDI LITERATUR

BANGUNAN BENTANG LEBAR DAN BANGUNAN TINGGI

DISUSUN OLEH
`

NAMA : ARON B TAMBUNAN


NIM : 160406099
KELAS :B
DOSEN : AGUS JHONSON ST, MT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


FAKULTAS TEKNIK
DEPARTEMEN ARSITEKTUR
T.A. 2018/2019
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Diera Modern ini bangunan dengan bentang yang lebar bukan lagi hal yang jarang
kita kita lihat. Perkembangan teknologi di bidang konstruksi dan struktur makin
berkembang. Banyak arsitek yang berlomba-lomba mendesain bangunan bentak lebar
dengan sangat unik. Zaha Hadid merupakan salah satu dari arsitek yang memiliki sebuah
karya masterpiece di Heydar Aliev Center di Azerbaizan sebagai karya nyata darinya.
Bangunan bentang lebar merupakan bangunan yang memungkinkan penggunaan
ruang bebas kolom yang selebar dan sepanjang mungkin . Bangunan bentang lebar
secara umum Bangunan bentang lebar secara umum terdiri dari 2 yaitu bentang lebar
sederhana dan bentang lebar kompleks. Bentang lebar sederhana berarti bahwa
konstruksi bentang lebar yang ada dipergunakan langsung pada bangunan berdasarkan
teori dasar dan tidak dilakukan modifikasi pada bentuk yang ada. Sedangkan bentang
lebar kompleks merupakan bentuk struktur bentang lebar yang melakukan modifikasi
dari bentuk dasar, bahkan kadang dilakukan penggabungan terhadap beberapa sistem
struktur bentang lebar.
Struktur bentang lebar, memiliki tingkat kerumitan yang berbeda satu dengan lainnya.
Kerumitan yang timbul dipengaruhi oleh gaya yang terjadi pada struktur tersebut.
Bangunan bentang lebar biasanya dipergunakan untuk kegiatan-kegiatan yang
membutuhkan ruang bebas kolom yang cukup besar. Salah satu pengaplikasian struktur
bentang lebar adalah pada bandar udara (bandara). Bandar udara adalah salah satu jenis
transportasi yang digunakan untuk perjalanan melalui jalur udara. Bandara berfungsi
sebagai pintu gerbang suatu daerah karena dari bandara inilah orang- orang dari berbagai
penjuru datang.
Bangunan bentang lebar merupakan sistem bangunan yang memungkinkan
penggunaan ruang bebas kolom yang selebar dan sepanjang mungkin. Bangunan bentang
lebar secar umum digolongkan menjadi 2 yaitu bentang lebar sederhana dan bentang
lebar kompleks.
1. Bentang lebar sederhana berarti bahwa konstruksi bentang lebar yang ada
dipergunakan langsung pada bangunan berdasarkan teori dasar dan tidak dilakukan
modifikasi pada bentuk yang ada.
2. Sedangkan bentang lebar kompleks merupakan bentuk struktur bentang lebar yang
melakukan modifikasi dari bentuk dasar, bahkan kadang dilakukan penggabungan
terhadap beberapa sistem struktur bentang lebar.

Adapaun Bangunan tinggi adalah istilah untuk menyebut suatu bangunan yang
memiliki struktur tinggi. Penambahan ketinggian bangunan dilakukan untuk
menambahkan fungsi dari bangunan tersebut. Contohnya bangunan
apartemen tinggi atau perkantoran tinggi.
Bangunan tinggi menjadi ideal dihuni oleh manusia sejak penemuan elevator (lift) dan
bahan bangunan yang lebih kuat. Berdasarkan beberapa standard, suatu bangunan biasa
disebut sebagai bangunan tinggi jika memiliki ketinggian antara 75 kaki dan 491 kaki
(23 m hingga 150 m). Bangunan yang memiliki ketinggian lebih dari 492 kaki (150 m)
disebut sebagai pencakar langit. Tinggi rata-rata satu tingkat adalah 13 kaki (4 meter),
sehingga jika suatu bangunan memiliki tinggi 79 kaki (24 m) maka idealnya memiliki 6
tingkat.
Bahan yang digunakan untuk sistem struktural bangunan tinggi adalah beton
kuat dan besi. Banyak pencakar langit bergaya Amerika memiliki bingkai besi,
sementara blok menara penghunian dibangun tanpa beton.
Meskipun definisi tetapnya tidak begitu jelas, banyak lembaga mencoba mengartikan
pengertian 'bangunan tinggi', antara lain:
 International Conference on Fire Safety in High-Rise Buildings mengartikan bangunan
tinggi sebagai "struktur apapun dimana tinggi dapat memiliki dampak besar terhadap
evakuasi"
 New Shorter Oxford English Dictionary mengartikan bangunan tinggi sebagai "bangunan
yang memiliki banyak tingkat"
 Massachusetts General Laws mengartikan bangunan tinggi lebih tinggi dari 70 kaki (21
m)
 Banyak insinyus, inspektur, arsitek bangunan dan profesi sejenisnya mengartikan
bangunan tinggi sebagai bangunan yang memiliki tinggi setidaknya 75 kaki (23 m).
Struktur bangunan tinggi memiliki tantangan desain untuk
pembangunan struktural dan geoteknis, terutama bila terletak di wilayah seismik atau
tanah liat memiliki faktor risiko geoteknis seperti tekanan tinggi atau tanah lumpur.
Tantangan yang tidak kalah besar lainnya adalah bagaimana pemadam kebakaran bertugas
selama keadaan darurat pada struktur tinggi. Desain baru dan lama bangunan, sistem
bangunan seperti sistem pipa berdiri bangunan, sistem HVAC (Heating, Ventilation and
Air Conditioning), sistem penyiram api dan hal lain seperti evakuasi tangga
dan elevator mengalami masalah seperti itu.
Salah satu contoh peristiwa tantangan terhadap pemadam kebakaran yang pernah terjadi
adalah ketika pemadam kebakaran diarahkan ke sebuah hotel tinggi di Lexington,
Kentucky dengan laporan adanya asap pada bangunan tersebut. Ketika pemadam mencari
sumbernya, mereka menemukan asap di lorong, bukan di kamar tamu. Ini membantu
pemadam mengetahui bahwa masalahnya berasal dari sistem HVAC dan bahaya asli tidak
terjadi.
Bangunan tinggi mulai dibangun pada waktu awal berdirinya Amerika selama kebangkitan
industri. Menggunakan bahan ringan, mereka mampu membuat bangunan bertingkat 8.
Asch Building memiliki 10 tingkat.

B. Perumusan Masalah
Dari latar belakang masalah diatas dan uraian-uraian yang telah disampaikan, maka
adapaun rumusan masalah yang dapat disimpulkan adalah :
1. Bagaimana memahami struktur dan konstruksi bentang lebar
2. Bagaimana memahami struktur dan konstruksi bangunan tinggi
3. Apa-apa saja faktor yang harus dipenuhi dalam sebuah bangunan bentang lebar
4. Apa-apa saja faktor yang harus dipenuhi dalam sebuah bangunan tinggi

C. Manfaat
Adapun manfaat dari literatur ini adalah :
1. Untuk memahami tentang pengetahuan teknis struktur, bahan, dan konstruksi
bangunan bentang lebar
2. Untuk memahami tentang pengetahuan teknis, bahan, dan konstruksi bangunan
tinggi
3. Literatur ini dapat menjadi referensi di tahun kedepannya

D. Keluaran
-Studi literatur tentang bangunan bentang lebar dan bangunan tinggi.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori Bentang Lebar


1. Pengertian Struktur dan Konstruksi
Sebelum mengenal lebih jauh tentang struktur bentang lebar, perlu dipahami dulu
kata-kata yang suka nongkrong didepannya, yaitu struktur dan konstruksi. Dua kata ini
merupakan hal sederhana, tapi sering harus diulang buat menghindari kesalahpahaman
penggunaan kata. Dalam suatu bangunan:
Struktur merupakan sarana untuk menyalurkan beban akibat penggunaan dan atau
kehadiran bangunan dalam tanah. Struktur juga dapat didefinisikan sebagai suatu entitas
fisik yang memiliki difat keseluruhan yang dapat dipahami sebagai suatu organisasi
unsur-unsur pokok yang ditempatkan dalam suatu ruangan yang didalamnya karakter
keseluruhan itu mendominasi interelasi bagian-bagiannya (Shodek, 1998:3). Struktur
merupakan bagian bangunan yang menyalurkan beban-beban (Macdonals, 2001:1).
Struktur dianggap sebagai alat untuk mewujudkan gaya-gaya ekstren menjadi
mekanisme pemikulan beban intern untuk menopang dan memperkuat suatu konsep
arsitektural (Snyder & Catanese, 1989:259).
Konstruksi adalah pembuatan atau rancang bangun serta penyusunan bangunannya.
Ervianto :2009, menjelaskan bahwa konstruksi merupakan suatu kegiatan mengolah
sumber daya proyek menjadi suatu hasil kegiatan yang berupa bangunan.
Dalam artian sederhananya struktur adalah susunannya dan konstruksi adalah
penyusunan dari susunan-susunan, sehingga dari pengertian tersebut dapat diambil suatu
kesimpulan bahwa konstruksi mencakup secara keseluruhan bangunan dan bagian
terkecil atau detailnya disebut struktur. Penafsiran yang lebih luas tentang struktur adalah
yang didalamnya alat-alat penopang dan metode-metode konstruksi dianggap sebagai
factor intrinsic dan penentu bentuk dalam proses perancangan bangunan (Snyder &
Catanese, 1989:359). Berdasarkan buku Sistem Bentuk Struktur Bangunan (Frick,
1998:28), struktur dan konstruksi dibedakan berdasarkan fungsinya sebagai berikut:

 Fungsi konstruksi, mendayagunakan konstruksi dalam hubungannya dengan daya


tahan, masa pakai terhadap gaya-gaya dan tuntutan fisik lainnya.
• Struktur: menentukan aturan yang mendayagunakan hubungan antara konstruksi dan
bentuk. Struktur berpengaruh pada teknik dan estetika. Pada teknik, struktur
berpengaruh pada kekukuhan gedung terhadap pengaruh luar maupun bebannya
sendiri yang dapat mengakibatkan perubahan bentuk atau robohnya bangunan.
Sedangkan estetika dilihat dari segi keindahan gedung secara integral dan kualitas
arsitektural.

2. Defenisi bangunan Bentang Lebar


Bangunan bentang lebar merupakan bangunan yang memungkinkan penggunaan
ruang bebas kolom yang selebar dan sepanjang mungkin. Bangunan bentang lebar
biasanya digolongkan secara umum menjadi 2, yaitu bentang lebar sederhana dan
bentang lebar kompleks. Bentang lebar sederhana berarti bahwa konstruksi bentang lebar
yang ada dipergunakan langsung pada bangunan berdasarkan teori dasar dan tidak
dilakukan modifikasi pada bentuk yang ada. Sedangkan bentang lebar kompleks
merupakan bentuk struktur bentang lebar yang melakukan modifikasi dari bentuk dasar,
bahkan kadang dilakukan penggabungan terhadap beberapa system struktur bentang
lebar.

3. Guna dan Fungsi Bangunan Bentang Lebar


Berdasarkan gambar-gambar diatas, bangunan bentang lebar dipergunakan untuk
kegiatan-kegiatan yang membutuhkan ruang bebas kolom yang cukupp besar, seperti
untuk kegiatan olahraga berupa gedung stadion, pertunjukkan berupa auditorium,
dan kegiatan pameran atau gedung exhibition.

4. Tingkat Kerumitan Masalah Dan Teknik Pemecahan Masalah Dalam Bangunan


Bentang Lebar, Dan Struktur yang Digunakan Pada Banguanan Bentang Lebar.
Struktur bentang lebar memiliki tingkat kerumitan yang berbeda dengan yang lainnya.
Kerumitan yang timbul dipengaruhi oleh gaya yang terjadi pada struktur tersebut dan
beberapa hal lain yang berbeda. Dalam Shodek,1998, struktur bentang lebar dibagi kedalam
beberapa sistem struktur yaitu:
a. Struktur Rangka Batang dan rangka Ruang
b. Struktur Furnicular, yaitu kabel dan pelengkung
c. Struktur Plan dan Grid
d. Struktur Membran meliputi Pneumatik dan struktur tent (tenda) dan net (jaring)
e. Struktur Cangkang

Sedangkan Sutrisno, 1989, membagi ke dalam 2 bagian, yaitu:


a. Struktur ruang, yang terdiri atas Konstruksi bangunan petak (struktur rangka batang) dan
struktur rangka ruang.
b. Struktur permukaan bidang, terdiri atas:
o Struktur Lipatan
o Struktur Cangkang
o Membran dan Struktur Membran
o Struktur Pneumatik
c. Struktur kabel dan jaringan

5. Struktur dan Kontrksi Ditinjau dari Segi Islam


Struktur dan konstruksi merupakan suatu bagian dari ilmu arsitektur dengan fungsi
seperti yang dikemukakan sebelumnya sebagai pendukung pencapaian bentuk dalam
arsitektur. Sebagai sebuah ilmu, merupakan suatu hal yang penting untuk mempelajari dan
mendalaminya. Dalam Al-Alaq ayat 1, Allah memerintahkan kita untuk membaca. Ayat
ini sudah ditafsirkan dengan berbagai versi yang intinya satu, untuk terus belajar di dalam
hidup. Penguasaan struktur dan konstruksi sangat penting, mengingat peranannya sebagai
penentu kekuatan bangunan. Bangunan yang lemah, dapat menjadi musibah bagi penghuni
yang ada di dalamnya. Apalagi mengingat bentang lebar dengan perkiraan minimal orang
yang diwadahi sekitar 2000 orang. Belajar ilmu struktur bentang lebar berarti belajar untuk
menghargai hidup orang lain. Bangunan yang kokoh akan memberikan ketenangan bagi
orang yang berada di dalamnya. Dengan penguasaan ilmu struktur dan konstruksi,
manusia bisa lebih berhemat dan tidak menjadi mubatsir dalam pengaplikasian system
struktur dan konstruksinya, guna pemenuhan target kearsitekturalannya. Penguasaan
struktur dan konstruksi akan sangat menduukung surat Asy-Syu’araa ayat 128 untuk tidak
bermain-main (bermewah-mewah) mendirikan bangunan di tanah tinggi. Selain itu,
menjadikan orang untuk tidak takabur. Dalam bentuk struktur, ada strukturu kabel yang
dapat membuat rumah seperti rumah laba-laba. Perumpamaan orang-orang mengambil
pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan
sesungguhnya yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalai mereka mengetahui (Al-
Ankabuut 41). Adanya peringatan ini membuat manusia, atau si arsitek tetap sadar bahwa
bagaimanapun kuatnya struktur yang dibuat, semua tetap bergantung pada kekuasaan
Allah SWT.

6. Struktur Rangka Batang


Rangka batang adalah susunan elemen-elemen linier yang membentuk segitiga atau
kombinasi segitiga sehingga menjadi bentuk rangka yang tidak pernah dapat berubah
bentuk bila diberi beban eksternal tanpa adanya perubahan bentuk pada satu atau lebih
batangnya. Setiap elemen tersebut dianggap tergabung pada titik hubungannya dengan
sambungans endi. Sedangkan batang-batang tersebut dihubungkan sedemikian rupa
sehingga semua beban dan reaksi hanya terjadi pada titik hubung.

Prinsip Umum Rangka Batang


a. Prinsip Dasar Triangulasi Prinsip utama yang mendasari penggunaan rangka batangs
ebagai struktur pemikul beban adalah penyusunan elemen menjadi konfigurasi segitiga
yang menghasilkan bentuk stabil. Pada bentuk segiempat atau bujursangkar, bila struktur
tersebut diberi beban, makaa akan terjadi deformasi massif dan menjadikan struktur stabil.
Bila struktur ini diberi beban, maka akan membentuk suatu mekanisme runtuh (collapse).
Struktur yang demikian dapat berubah bentuk dengan mudah tanpa adanya perubahan
pada panjang setiap batang. Sebaliknya, konfigurasi segitiga tidak dapat berubah bentuk
atau runtuh, sehingga dapat dikatakan bahwa bentuk ini stabil. Pada struktur stabil.. setiap
deformasi yang terjadi relative kecil dan dikaitkan dengan perubahan panjang batang yang
diakibatkan oleh gaya yang timbul di dalam batang sebagai akibat dari beban eksternal.
Selain itu, sudut yang terbentuk antara dua batang tidak akan berubah apabila struktur
stabil tersebut dibebani. Hal ini sangat berbeda dengan mekanisme yang terjadi pada
bentuk tak stabil, dimana sudut antara sua batangnya berubah sangat besar. Pada struktur
stabil, gaya eksternal menyebabkan timbulnya gaya pada batang-batangnya, gaya-gaya
tersebut adalah gaya tarik dan tekan murni. Lentur (bending) tidak akan terjadi selama
gaya eksternal berada pada titik nodal (titik simpul). Bila susunan segitiga dari batang-
batang adalah bentuk stabil, maka sembarang susunan segitiga juga membentuk struktur
stabil dan kukuh. Hal ini merupakan prinsip dasar penggunaan rangka batang pada
gedung. Bentuk kaku yang lebih besar untuk sembarang geometri dapat dibuat dengan
memperbesar segitiga-segitiga itu. Untuk rangka batang yang hanya memikul beban
vertical, pada batang tepi atas umumnya timbul gaya tekan, dan pada teppi bawah
umumnya tibul gaya tarik. Gaya tarik atau tekan ini dapat timbul pada setiap batang dan
mungkin terjadi pola berganti-ganti antara tarik dan tekan. Penekanan pada prinsip
struktur rangka batang adalah bahwa struktur hanya dibebani beban-beban terpusat pada
titik-titik hubung agar batang-batangnya mengalami gaya tarik atau tekan. Bila beban
bekerja langsung pada batang, maka timbul pula tegangan lentur pada batang itu sehingga
desain batang sangat rumit dan tingkat efisiensi menyeluruh pada batang menurun.
b. Analisa Kualitatif Gaya Batang Perilaku gaya-gaya dalam setiap batang pada rangka
batang dapat ditentukan dengan menerapkan persamaan dasar kesinambungan . untuk
konfigurasi rangka batang sederhana, sifat gaya tersebut (tarik, tekan, atau nol) dapat
ditentukan dengan memberikan gambaran bagaimana rangka batang tersebut memikul
beban. Salah satu cara untuk menentukan gaya dalam batang pada rangka batang adalah
dengan menggambarkan bentuk deformasi yang mungkin terjadi. Metode untuk
menggambarkan gaya-gaya pada rangka batang kompleks memang garus dianalisis secara
matematis agar diperoleh hasil yang benar.

Analisa Rangka Batang


a. Stabilitas Langkah pertama pada alnalisis rangka batang adalah menentukan apakah
rangka batang mempunyai konfigurasi yang stabil atau tidak. Secara umum, setiap rangka
batang yang merupakan susunan bentuk dasar segitiga merupakan struktur yang stabil.
Pola susunan batang yang tidak segitiga umumnya kurang stabil. Rangka batang yang
tidak stabil dan akan runtuh apabila dibebani karena rangka batang ini tidak mempunyai
jumlah batang yang mencukupi untuk mempertahankan hubungan geometri yang tetap
antara titik-titik hubungannya. Penting untuk menentukan apakah konfigurasi batang stabil
atau t idak. Keruntuhan total dapat terjadi bila struktur tak stabil terbebani. Pola yang tidak
biasa seringkali menyulitkan penyelidikan kestabilannya. Pada suatu rangka batang, dapat
digunakan batang melebihi jumlah minimum yang diperlukan untuk mencapai kestabilan.
Untuk menentukan kestabilan batang bidang, digunakan persamaan yang menghubungakn
banyaknya titik hubungan pada rangka batang dengan banyaknya batang yang dieprlukan
untuk pencapaian kestabilan. Aspek lain dalam stabilitas adalah bahwa konfigurasi batang
dapat digunakan untuk menstabilkan struktur terhadap beban lateral.tinjauan stabilitas
sejauh ini beranggapan bahwa semua elemen rangka batang dapat memikul gaya tarik dan
tekan dengan sama baiknya. Elemen kabel tidal dapat memenuhi asumsi ini karena kabel
melengkung bila dibebani gaya tekan. Ketika pembebanan dating dari suatu arah, maka
gaya tekan atau gaya tarik mungkin timbul pada diagonal sesuai dengan arah diagonal
tersebut. Suatu struktur dengan satu kabel diagonal mungkin tidak stabil. Namun bila
diberi kabel digunakan system kabel silang, dimana satu kabel memikul seluruh gaya
horizontal dan kabel lainnya menekuk tanpa menimbulkan bahaya terhadap struktur, maka
kestabilan dapat tercapai.
b. Gaya Batang Prinsip yang mendasari teknik analisis gaya batang adalah bahwa setiap
struktur atau setiap bagian daris etiap struktur harus berada dalam kondisi seimbang.
Gaya-gaya batang yang ebkerja pada titik hubung rangka batang pada semua bagian
struktur berada dalam keseimbangan.
c. Metode Analisis Rangka Batang Beberapa metode digunakan untuk menganalisa rangka
batang. Metodemetode ini pada prinsipnya didasarkan pada prinsip keseimbangan.
Metode-metode yang umum digunakaan untuk analisa rangka batang adalah sebagai
berikut:
 Keseimbangan Titik Hubung pada Rangka Batang Pada analisa rangka batangd engan
metode titik hubung (joint), rangka batang dianggaps ebagai gabungan batang dan titik
hubung. Gaya batang diperoleh dengan meninjau keseimbangan titik-titik hubung. Setiap
titik hubung harus berada dalam keseimbangan
 Keseimbangan Potongan Prinsip yang mendasari teknik analisis dengan metode ini
adalah bahwa setiap bagian dari suatu struktur harus berada dalamkeseimbangan. Dengan
demikian, bagiaan yang dapat ditinjau dapat pula mencakup banyak titik hubung dan
batang. Konsep peninjauan keseimbangan pada bagian dari suatu struktur yang bukan
hanya satu titik hubung merupakan cara yang sangat berguna danmerupakan dasar untuk
analisis dan desain rangka batang dan struktur lainnya. Perbedaan antara kedua metode
tersebut adalah dalam peninjauan keseimbangan rotasinya. Metode keseimbangan titik
hubung biasanya digunakan apabila ingin mengetahui semua gaya batang. Sedangkan
metode potongan biasanya digunakan apabila ingin mengetahui hanya sejumlah terbatas
gaya batang.
 Gaya Geser dan Momen pada Rangka Batang Metode ini merupakan cara khusus untuk
meninjau bagaimana rangka batang memikul beban yang melibatkan gaya dan momen
eksternal, serta gaya dan momen tahanan internal pada rangka batang. Agar keseimbangan
vertical potongan struktur dapat dijamin, maka gaya geser eksternal harus diimbangi
dengan gaya geser tahanan total atau gaya geser tahanan internal (VR) yang besarnya
sama tapi arahannya berlawanan dengan gaya geser eksternal. Efek rotasional total dari
gaya internal tersebut juga harus diimbangi dengan momen tahanan internal (MR) yang
besarnya sama dan berlawanan arah dengan momen lentur eksternal. Sehingga memenuhi
syarat keseimbangan, dimana: ERM = M
d. Rangka Batang Statis Tak Tentu Rangka batang statis tak tentu ini tidap dapat dianalisis
hanya dengan menggunakan persamaan keseimbangan statika karena kelebihan banyaknya
tumpuan atau banyaknya batang yang menjadi variable. Pada struktur statis tak tentu,
keseimbangan translasional dan rotasional masih berlaku. Pemahaman struktur statis tak
tentu adalah struktur yang gaya-gaya dalamnya bergantung pada sifat-sifat fisik elemen
strukturnya.
e. Penggunaan Elemen (Batang) tarik Khusus : Kabel Selain elemen batang yang sudah
dibahas, ada elemen kabel yang berguna hanya untuk memikul gaya tarik. Secara fisik,
elemen ini biasanya berupa batang baja berpenampang kecil atau kabel terjalin. Elemen ini
tidak mampu memikul beban tekan, tetapi sering digunakan bila hasil analisis diketahui
sering memikul beban tarik. Elemen yang hanya memikul beban tarik dapat mempunyai
penampang melintang yang jauh lebih kecil disbanding dengan memikul beban tekan.
f. Rangka Batang Ruang Kestabilan yang ada pada pola batang segitiga dapat diperluas ke
dalam tiga dimensi. Pada rangka batang bidang, bentuk segitiga sederhana merupakan
dasar, sedangkan bentuk dasar pada rangka batang ruang adalah tetrahedron. Prinsip-
prinsip yang telah dibahas pada analisis rangka batang bidang secara umum dapat
diterapkan pada rangka batang ruang. Kestabilan merupakan tinjauan utama. Gaya-gaya
yang timbul pada batang suatu rangka batang ruang dapat diperoleh dengan meninjau
keseimbangan ruang potongan rangka batang ruang tersebut. Jelas bahwa persamaan
statika yang digunakan untuk benda tegar tiga dimensi yaitu:
 Apabila diterapkan langsung pada rangka batang ruang yang cukup besar, persamaan-
persamaan ini akan melibatkan banyak titik hubung dan batang. Bahkan tidak dikehendaki
apabila kondisi titik hubung actual sedemikian rupa sehingga ujung-ujung batang tidak
bebas berotasi, maka momen lentur local dan gaya aksialnya dapat timbul pada batang-
batang. Apabila momen lentur itu cukup besar, maka batang tersebut harus didesain agar
mampu memikul tegangan kombinasi akibat gaya aksial dan momen lentur. Besar
tegangan lentur yang terjadi sebagai akibat dari titik hubunga kaku umumnya 20% dari
tegangan normal yang terjadi. Pada desain awal biasanya tegangan lentur sekunder ini
diabaikan. Salah satu efek positif dari adanya titik hubung kaku ini adalah untuk
memperbesar kekakuan rangka batang secara menyeluruh, sehingga dapat mengurangi
defleksi. Merencanakan titik hubungan yang kaku biasanya tidak akan mempengaruhi
pembentukan akhir dari rangka batang.

Desain Rangka Batang


a. Tujuan Kriteria yang digunakan untuk merancang juga menjadi sangat bervariasi. Ada
beberapa tujuan yang menjadi kriteria dalam desain rangka batang, yaitu:
1) Efisiensi Struktural Tujuan efisiensi structural biasa digunakan dan diwujudkan dalan
suatu prosedur desain, yaitu untuk meminimumkan jumlah bahan yang digunakan dalam
rangka batang untuk memikul pembebanan pada bentang yang ditentukan. Tinggi rangka
batang merupakan variable penting dalan meminimumkan persyaratan volume material,
dan mempengaruhi desain elemennya.
2) Efisiensi Pelaksanaan (Konstruksi) Alternative lain, kriteria desain dapat didasarkan
atas tinjauan efisiensi pelaksanaan (konstruksi) sehubungan dengan fabrikasi dan
pembuatan rangka batang. Untuk mencapai tujuan ini, hasil yang diperoleh seringkali
berupa rangka batang dengan konfigurasi eksternal sederhana sehingga diperoleh bentuk
triangulasi yang sederhana pula. Dengan membuat semua batang identik, maka pembuatan
titikk hubung menjadi lebih mudah dibandingkan bila batang-batang yang digunakan
berbeda.

b. Konfigurasi Konfigurasi eksternal selalu berubah-ubah, begitu pula pola internalnya.


Konfigurasi-konfigurasi ini dipengaruhi oleh factor eksternal, tinjauan structural maupun
konstruksi. Masing-masing konfigurasi mempunyai tujuan yang berbeda. Beberapa hal
yang menjadi bahasan penting dalam konfigurasi rangka batang adalah:
1) Factor eksternal, factor yang bukan menjadi hal utama dalam menentukan konfigurasi
rangka batang. Namun factor ini dapat mempengaruhi bentuk-bentuk yang terjadi.
2) Bentuk-bentuk dasar, ditinjau dari segi structural maupun konstruksi, bentuk-bentuk
dasar yang digunakan dalam rangka batang merupakan respon terhadap pembebanan yang
ada. Gaya-gaya internal akan timbul sebagai respon terhadap momen dan gaya geser
eksternal. Momen lentur terbesar pada umumnya terjadi di tengah rangka batang yang
ditumpu sederhana yang dibebani merata, dan semakin mengecil ke ujung. Gaya geser
eksternal terbesar terjadi dikedua ujung dan semakin mengecil ke tengah.
3) Rangka Batang Sejajar, rangka batang dengan batang tepi sejajar, menahan momen
eksternal terutama oleh batang-batang tepi atas dan bawah. Gaya geser eksternal akan
dipikul oleh batang diagonal karena batang-batang tepi berarah horizontal dan tidak
mempunyai kontribusi dalam menahan gaya arah vertical. Gaya-gaya pada diagonal
umumnya bervariasi mengikuti variasi gaya geser dan pada akhirnya menentukan desain
batang.
4) Rangka batang Funicular, rangka yang batangnya dibentuk secara funicular
menunjukkan bahwa secara konsep, batang nol dapat dihilangkan hingga terbentuk
konfigurasi bukan segitiga tanpa mengubah kemampuan struktur dalam memikul beban
rencana. Batang-batang tertentu yang tersusun disepanjang garis bentuk funicular untuk
pembebanan yang ada merupakan transfer beban eksterna. Ke tumpuan. Batang-batang
lain adalah batang nol yang terutama berfungsi sebagai brancing. Tinggi relative pada
struktur ini merupakan fungsi beban dan lokasinya.

c. Tinggi rangka Batang Penentuan tinggi optimum yang meminimumkan volume total
rangka batang umumnya dilakukan dengan proses optimasi. Proses optimasi ini
membuktikan bahwa rangka batang yang relative tinggi terhadap bentangnya merupakan
bentuk yang efisien dibandingkan dengan rangka batang yang relative tidak tinggi. Sudut-
sudut yang dibentuk oleh batang diagonal dengan garis horizontal pada umumnya berkisar
antara 300-600 dimana sudut 45° biasanya merupakan sudut ideal.

d. Masalah-Masalah pada Desain Elemen Beberapa permasalahan yang umumnya timbul


pada desain elemen menyangkut factor-faktor yang diuraikan berikut ini
1) Beban Kritis, pada rangka batang, setiap batang harus mampu memikul gaya
maksimum (kritis) yang mungkin terjadi. Dengan demikian, dapat saja terjadi setiap
batang dirancang terhadap kondisi pembebanan yang berbeda-beda.
2) Desain elemen, meliputi batang tarik dan batang tekan. Untuk batang tekan, harus
diperhitungkan kemungkinan keruntuhan tekuk (buckling) yang dapat terjadi pada batang
panjang yang mengalami gaya tekan. Untuk batang tekan panjang, kapasitas pikul beban
berbanding terbalik dengan kuadrat panjang batang. Untuk batang tekan yang relative
pendek, maka tekuk bukan merupakan masalah sehingga luas penampang melintang hanya
bergantung langsung pada besar gaya yang terlibat dan tegangan ijin material, dan juga
tidak bergantung pada panjang batang tersebut.
3) Batang berukuran konstan dan/atau tidak konstan, bila batang tepi atas dirancang
sebagai batang yang menerus dan berpenampang melintang konstan, maka harus
dirancang terhadap gaya maksimum yang ada pada seluruh batang tepi atas, sehingga
penampang tersebut akan berlebihan dan tidak efisien. Agar efisien, maka penampang
konstan yang dipakai dikombinaiskan dengan bagianbagian kecil sebagai tambahan luas
penampang yang hanya dipakai pada segmen-segmen yang memerlukan.
4) Pengaruuh tekuk terhadap pola, ketergantungan kapasitas pikul beban suatu batang
tekan pada panjangnya serta tujuan desain agar batang tekan tersebut relative lebih pendek
seringkali mempengaruhi pola segitiga yang digunakan.
5) Pengaruh tekuk lateral pada desain batang dan susunan batang, jika rangka berdiri
bebas, maka ada kemungkinan struktur tersebut akan mengalami tekuk lateral pada
seluruh bagian struktur. Untuk mencegah kondisi ini maka struktur rangka batang yang
berdiri bebas dapat dihindari. Selain itu, penambahan balok transversal pada batang tepi
atas dan penggunaan rangka batang ruang juga dapat mencegah tekuk transversal.

e. Rangka batang Bidan Dan Rangka Batang Ruang Rangka batang bidang memerlukan
material lebih sedikit daripada rangka batang tiga dimensi untuk fungsi yang sama.
Dengan demikian, apabila rangka batang digunakan sebagai elemen yang membentang
satu arah, sederetan rangka batang bidang akan lebih menguntungkan disbandingkan
dengan sederetan rangka batangruang (tiga dimensi). Sebaliknya, konfigurasi tiga dimensi
seringkali terbukti lebih efisien dibandingkan beberapa rangka batang yang digunakan
untuk membentuk system dua arah. Tangka batang tiga dimensi juga terbukti lebih efisien
bila dibandingkan beberapa rangka batang yang digunakan sebagai rangka berdiri bebas
(tanpa balok transversal yang menjadi penghubung antar rangka batang di tepi atas)
Struktur Kabel
Struktur kabel adalah sebuah system struktur yang bekerja
berdasarkan prinsip gaya tarik, terdiri atas kabel baja, sendi,
batang, dan lain sebagainya yang menyanggah sebuah penutup
yang menjamin tertutupnya sebuah bangunan. Prinsip
konstruksi kabel sudah dikenal sejak zaman dahulu pada
jembatan gantung dimana gaya-gaya tarik digunakan tali.
Contoh lainnya adalah tenda-tenda yang dipakai para musafir
yang menempuh perjalanan jarak jauh lewat padang pasir.
Setelah orang mengenal baja, maka baja digunakan sebagai gantungan pada jembatan. Pada
taraf permulaan baja itu dapat berkarat. Pada zaman setengah abad sebelum sekarang,
ditemukanlah baja dengan tegangan tinggi yang tahan terhadap karat. Struktur kabel memiliki
karakteristik dasar structural dan perilaku struktur yang sama dengan struktur pelengkung.
Namun kedua jenis struktur itu berbeda dalam jenis struktur. Kabel yang mengalami beban
eksternal tentu akan mengalami deformasi yang bergantung pada besar dan lokasi beban
eksternal. Bentuk yang didapat khusus untuk beban itu ialah bentuk funicular (sebutan
funicular berasal dari bahasa Latin yang berartii “tali”). Hanya gaya tarik yang dapat timbul
pada kabel. Dengan membalik bentuk struktur yang diperoleh tadi, kita akan mendapat
struktur baru yang benar-benar analog dengan struktur kabel, hanya sekarang gaya yang
dialami adalah gaya tekan. Secara teoritis, bentuk yang terakhir ini dapat diperoleh dengan
menumpuk elemen-elemen yang dihubungkan secara tidak kaku (rantai tekan) dan struktur
yang diperoleh akan stabil. Akan tetapi, sedikit variasi pada beban akan berarti bahwa
strukturnya tidak lagi merupakan bentuk funicular sehingga akan timbul momen lentur dan
gaya geser akibat beban yang baru ini. Hal ini dapat mengakibatkan terjadinya keruntuhan
pada struktur tersebut sebagai akibat dari hubungan antara elemen-elemen yang tidak kaku,
tidak dapat memikul momen lentur. Karena bentuk struktur tarik dan tekan yang disbeutkan
diatas mempunyai hubungan dengan tali tergantung yang dibebani, maka kedua jenis struktur
disebut sebagai struktur funicular.
Banyak bangunan yang menggunakan struktur
funicular, sebagai contoh jembatan gantung
yang semua ada di Cina, India, dan Amerika
Selatan adalah struktur funicular tarik. Ada
struktur jembatan kuno menggunakan tali, ada
juga yang menggunakan bamboo. Di Cina ada jembatan yang menggunakan rantai, yang
dibangun sekitar abad pertama SM. Struktur kabel juga banyak digunakan pada gedung,
misalnya struktur kabel yang menggunakan tali. Struktur ini dipakai sebagai atap amfiteater
Romawi yang dibangun sekitar tahun 70SM.
Sekalipun kabel telah lama digunakan, pengertian teoritisnya masih belum lama
dikembangkan. Di Eropa, jembatan gantung masih belum lama digunakan meskipun
structural rantai tergantung telah pernah dibangun di Alpen Swiss pada tahun 1218. Teori
mengenai struktur ini pertama kali dikembangkan pada tahun 1595, yaitu sejak Fausto
Veranzio menerbitkan gambar jembatan gantung. Selanjutnya pada tahun 1741 dibangun
jembatan rantai di Durham Country, Inggris. Jembatan ini mungkin merupakan jembatan
gantung pertama di Eropa.
Titik balik penting dalam evolusi jembatan gantung terjadi pada awal abad ke-19 di
Amerika, yaitu pada saat James Findley mengembangkan jembatan gantung yang dapat
memikul beban lalu lintas. Findley membangun jembatannya untuk pertama kali pada tahun
1810 di Jacobs Creek, Uniontown, Pennsylvania dengan menggunakan rantai besi fleksibel.
Inovasi Findley bukanlah kabelnya, melainkan penggunaan dek jembatan yang diperkaku
yang pengkakuannya diperoleh dengan menggunakan rangka batang kayu. Penggunaan dek
kaku ini dapat mencegah kabel penumpuannya berubah bentuk sehingga bentuk permukaan
jalan juga tidak berubah. Dengan inovasi ini dimulailah penggunaan jembatan gantung
modern.
Inovasi Findley dilanjutkan oleh Thomas Telford di Inggris dengan mendesain
jembatan yang melintasi selat Menai di Wales (1818-1826). Louis Navier, ahli matematika
Prancis yang amat terkenal, membahas karya Findley dengan menulis buku mengenai
jembatan gantung, Rapport et Memoire sur les Ponts Suspends, yang diterbitkan pada tahun
1823. Navier dalam bukunya sangat menghargai karya Findley dalam hal pengenalan dek
jembatan kaku.
Segera setelah inovasi Findley, banyak jembatan gantung terkenal lainnya dibangun,
misalnya Clifton di Inggris (oleh Isombard Brunei) dan jembatan Brooklyn (oleh John
Roebling). Banyak pula jembatan modern yang dibangun setelah itu, misalnya yang
membentangi Selat Messina dengan bentang tengah sekitar 5000 ft (1525 m) dan jembatan
Verazano-Narrows yang bentang tengahnya 4260 ft (1300m). Penggunaan kabel pada gedung
tidak begitu cepat karena pada saat itu belum ada kebutuhan akan bentang yang sangat besar.
Meskipun James Bogardus telah memasukkan proposal kepada Crystal Palace pada New
York Exhibition pada tahun 1853, yang mengusulkan atap gedung berbentuk lingkaran dari
besi tuang berdiameter 700 ft (213m) digantung dari rantai yang memancar dan ditanam pada
menara pusat, struktur paviliyun pada pameran Nijny-Novgorod yang didesain oleh V.
Shookhov pada tahun 1896 dianggap sebagai awal mulanya aplikasi kabel pada gedung
modern. Struktur-struktur yang dibangun berikutnya adalah paviliyun lokomotif pada
Chicago World’s Fair pada tahun 1933 dan Livestock Judging Pavilion yang dibangun di
Raleigh, North Carolina pada sekitar tahun 1950, sejak itu sangat banyak dibangun gedung
yang menggunakan struktur kabel.

Penerapan Struktur Kabel


Dalam Arsitektur Struktur kabel merupakan suatu generalisasi terhadap beberapa struktur
yang menggunakan elemen tarik berupa kabel sebagai ciri khasnya. Struktur ini bekerja
terhadap gaya tarik sehingga lebih mudah berubah bentuk jika terjadi perubahan besar atau
arah gaya. Struktur kabel merupakan struktur funicular dimana beban pada struktur
diteruskan dalam bentuk gaya tarik searah dengan material konstruksinya sehingga
memungkinkan peniadaan momen.

Sistem Stabilisasi Beberapa system stabilisasi yang dapat digunakan untuk mengantisipasi
deformasi pada struktur kabel antara lain:
1) Peningkatan beban mati, stabilisasi ini dilakukan dengan penerapan material dengan berat
yang memadai dan merupakan material yang homogeny sehingga diperoleh beban yang
terdistribusi merata.
2) Pengaku busur dengan arah berlawanan (inverted arch), stabilisasi dengan pengaku busur
atau kabel ini berusaha mencapai bentuk yang kaku dengan menambah jumlah kabel
sehingga kemudian menghasilkan suatu jarring-jaring (cable net structure)
3) Penggunaan batang-batang pembentang (spreader), stabilisasi ini menggunakan batang-
batang tekan sebagai pemisah antara dua kabel sehingga menambah tarikan internal didalam
kabel.
4) Penambahan/pengangkuran ke pondasi (ground anchorage), system ini hanya berlaku bagi
kabel karena adanya gaya-gaya tarik yang dinetralisir oleh pondasi sehingga menghasilkan
stabilisasi. Pada pondasi terjadi tumpuan tarik akibat perlawanan gaya tarik kabel.
5) Metoda prategang searah kabel (masted structure), ciri utamanya adalah tiang-tiang dan
kabel yang secara keseluruhan membentuk suatu struktur kaku. Kabel ditempatkan pada
keadaan tertegang dengan jalan memberikan beban yang dialirkan searah kabel.
Keuntungan dan kelemahan Struktur Kabel Keuntungan:
1) Elemen kabel merupakan elemen konstruksi paling ekonomis untuk menutup permukaan
yang luas
2) Ringan, meminimalisasi beban sendiri sebuah konstruksi
3) Memiliki daya tahan yang besar terhadap gaya tarik, untuk bentangan ratusan meter
mengungguli semua system lain
4) Memberikan efisiensi ruang lebih besar
5) Memiliki factor keamanan terhadap api lebih baik dibandingkan struktur tradisional yang
sering runtuh oleh pembengkokan elemen tekan dibawah temperature tinggi. Kabel baja lebih
dapat menjaga konstruksi dari temperature tinggi dalam jangka waktu lebih panjang sehingga
mengurangi resiko kehancuran
6) Dari segi teknik, pada saat terjadi penurunan penopang, kabel segera menyesuaikan diri
pada kondisi keseimbangan yang baru tanpa adanya perubahan yang berarti dari tegangan
7) Cocok untuk bangunan bersifat permanen.

Kelemahan:
Pembebanan yang berbahaya untuk struktur kabel adalah getaran. Struktur ini dapat bertahan
dengan sempurna terhadap gaya tarik dan tidak mempunyai kemantapan yang disebabkan
oleh pembengkokan, tetapi struktur dapat bergetar dan dapat mengakibatkan robohnya
bangunan.
Struktur Membran
Membrane adalah suatu lembaran bahan tipis sekali dan hanya dapat menahan gaya tarik
murni. Soap film adalah membrane yang paling tipis, kira-kira 0,25mm yang dapat
membentang lebar. Suatu struktur membrane dapat bertahan dalam dua dimensi, tidak dapat
menerima tekan dan geser karena tipisnya terhadap bentangan yang besar. Beban-beban yang
dipikul mengakibatkan lendutan karena membrane adalah bidang dua dimensi dank arena
merupakan jala-jala yang saling membantu, maka bertambahlah kapasitasnya.
Ada dua karakter dasar dari kemampuan membrane. Tegangan membrane terdiri atas
tarik dan geser, yang selalu ada dalam permukaan bidang membrane dan tidak tegak lurus
diatas bidang itu. Aksi membrane pada dasarnya tergantung dari karakteristik bentuk
geometrinya, yaitu dari lengkungan dan miringnya bidang membrane. Walaupun membrane
tidak begitu stabil, dapat dicarikan jalan untuk dimanfaatkan sebagai struktur. Keuntungan
struktur ini ialah ringan, ekonomis, dan dapat membentang luas. Aksri struktur membrane
dapat ditingkatkan daya tariknya dengan tarikan sebelum pembebanan, sebagai contoh paying
dari kain.
Dengan mengadakan pratarik pada kain yang kemudian dikuncinya dnegan alat apitan,
rusuk-rusuk baja membuka dan mendukungnya dengan dibantu oleh batang-batang tekan
yang duduk pada tangkai payung. Kain tertarik dan memberi bentuk lengkungan yang cocok
untuk menahan beban. Membrane kain payung dapat menerima tekanan dari luar dan dalam.
Skelet dari rusuk-rusuk baja menerima tarikan dari kain dan memperkuat seluruh permukaan
bidang terhadap tekanan angin.
Struktur pneumatic membrane dapat diberi prategang dengan tekanan dari sebelah dalam
apabila menutup suatu volume atau sejumlah volume yang terpecah-pecah. Dengan cara ini
tersusunlah struktur pneumatic. Membrane mudah menjadi bengkok dan dapat mudah ditekan
oleh gas atau udara. Dalam teori, membrane tanpa prategang dapat membentangi ruangan
yang besar sekali dengan tekanan udara yang mengimbangi beratnya sendiri dari membrane
yang mengembang. Dalam praktek, membrane perlu diberi prategang supaya menjadi stabil
terhadap pembebanan yang tak simetris dan yang dinamis.
Stabilitas bentuk konstruksi ini dikendalikan oleh 2 faktor. Kesatu, tekanan pada tiap titik
dari membrane yang menyebabkan tegangan tarik harus cukup untuk menahan semua kondisi
pembebanan dan untuk menjaga agar tidak terdapat tegangan tekan pada membrane. Kedua,
tegangan membrane pada setiap titik dengan kondisi pembebanan harus lebih kecil daripada
tegangan yang diperkenankan pada bahan. Bentuk struktur pneumatic adalah karakteristik
merupakan lengkungan dua arah dari lengkungan sinplastik. Bentuk dengan lengkungan
searah dan lingkungan anti klasik tidak mungkin digunakan. Lengkungan kubah adalah
bentuk yang cocok untuk struktur membrane pneumatic, karena dapat menutup ruangan dan
dapat ditekan oleh udara yang besarnya atau kecepatannya sama kesemua arah. Tegangan
membrane dalam bola atau dalam kubah tergantung pada tekanan udara dari dalam dan garis
radius, yakni 0 = ½ pr (p= tekanan udara; r= radius kubah)
Struktur Cangkang
Cangkang adalah bentuk
struktur berdimensi tiga yang kaku
dan tipis serta mempunyai
permukaan lengkung. Permukaan
cangkang dapat mempunyai bentuk
sembarang. Bentuk yang umum
adalah permukaan yang berasal
dari: 1. Kurva yang diputar
terhadap 1 sumbu (misalnya
permukaan bola, elips, kerucut, dan parabola) 2. Permukaan translasional yang dibentuk
dengan menggeserkan kurva bidang di atas kurva bidang lainnya (misalnya permukaan bola
eliptik dan silindris) 3. Permukaan yang dibentuk dengan menggeserkan 2 ujung segmen
pada 2 kurva bidang (misalnya permukaan bentuk hiperbolik parabolid dan konoid) 4. Dan
berbagai bentuk yang merupakan kombinasi dari yang sudah disebutkan diatas.
Bentuk cangkan tidak harus selalu memenuhi persamaan matematis sederhana. Segala
bentuk cangkang mungkin saja digunakan untu suatu struktur. Bagaimanapun, tinjauan
konstruksional mungkin akan membatasi hal ini. Bebanbeban bekerja pada cangkang
diteruskan ke tanah dengan menimbulkan tegangan geser, tarik, dan tekanan pada arah dalan
bidang (in-plane) permukaan tersebut. Tipisnya permukaan cangkang menyebabkan tidak
adanya tahan momen yang berarti struktur cangkang tipis khususnya cocok digunakan untuk
memikul beban merata pada atap gedung. Struktur ini tidak cocok untuk memikul beban
terpusat. Struktur cangkang selalu memerlukan penggunaan cincin tarik pada tumpuannya.
Sebagai akibat cara elemen struktur ini memikul beban dalam bidang (terutama
dengan cara tarik dan tekan), struktur cangkang dapat sangat tipis dan mempunyai bentang
yang relative besar. Perbandingan bentang tebal sebesar 400-500 saja digunakan (misalnya
tebal 3 in atau 8 cm mungkin saja digunakan untuk kubah yang berbentang 100 sampai 125 ft
atau 30 sampai 38m). cangkang setipis ini menggunakan material yang relative baru
dikembangkan, misalnya beton bertulang yang didesain khusus untuk membuat permukaan
cangkang. Bentuk-bentuk 3 dimensional lain, misalnya kubah pasangan (bata), mempunyai
ketebalan lebih besar, dan tidak dapat dikelompokkan struktur yang hanya memikul tegangan
dalam bidang karena pada struktur tebal seperti ini momen lentur sudah mulai dominan.
Bentuk 3 dimensional juga dibuat dari batang-batang kaku dan pendek. Struktur
seperti ini pada hakikatnya adalah struktur cangkang karena perilaku strukturalnya dapat
dikatakan sama dengan permukaan cangkang menerus, hanya saja tegangannya tidak lagi
menerus seperti pada permukaan cangkang, tetapi terpusat pada setiap batang. Struktur
demikian baru pertama kali digunakan pada awal abad XIX. Kubah schewedler, yang terdiri
atas jaring-jaring batang bersendi tak teratur, misalnya diperkenalkan pertama kali oleh
Schewedler di Berlin pada tahun 1863, pada saat ini mendesain kubah dengan bentang 132 ft
(48m). struktur baru lainnya adalah menggunakan batang-batang yang diletakkan pada kurva
yang dibentuk oleh garis membujur dan melintang dari suatu permukaan putar. Banyak kubah
besar didunia ini yang menggunakan cara demikian.
Untuk menghindari kesulitan konstruksi yang ditimbulkan dari penggunaan
batangbatang yang berbeda dalam membentuk permukaan cangkang, kita dapat
menggunakan cara-cara lain yang menggunakan batang-batang yang panjangnya sama. Salah
satu diantaranya adalah kubah geodesic yang diperkenalkan oleh Buckminster Fuller. Karena
permukaan bola tidak dapat dibuat, maka banyaknya pola berulang identic yang akan dipakai
untuk membuat bagian dari permukaan bola itu akan terbatas. Icosohedron bola, misalnya
terdiri atas 20 segitiga yang dibentuk dengan menghubungkan lingkaran-lingkaran besar yang
mengelilingi bola. Tinjauan geometris demikian inilah yang digunakanoleh Fuller. Kita harus
berhatihati dalam menggunakan cara seperti ini karena sifat strukturnya dapat
membingungkan. Keuntungan structural yang didapat tidak selalu lebih besar daripada
bentuk kubah lainnya.
Bentuk-bentuk lain yang bukan merupakan permukaan putaran juga dapat dibuat
dengan menggunakan elemen-elemen batang. Beberapa diantaranya adalah atap barrel ber-rib
dan atap Lamella yang terbuat dari grid miring seperti pelengkung yang membentuk elemen-
elemen diskrit. Bentuk yang disebut terakhir ini yang terbuat dari material kayu sangat
banyak dijumpai, tetapi baja maupun beton bertulang juga dapat digunakan. Dengan system
Lamella, kita dapat mempunyai bentangan yang sangat besar.
Bulk Active Structure
a. Beam system Pengertian Secara sederhana, balok sebagai elemen lentur digunakan sebagai
elemen penting dalam struktur konstruksi. Balok mempunyai karakteristik internal yang lebih
rumit dalam memikul beban dibandingkan dengan jenis elemen struktur lainnya. Balok
menerus dengan lebih dari dua titik tumpuan dan lebih dari satu tumpuan jepit merupakan
struktur statis tak tentu. Struktur statis tak tentu adalah struktur yang reaksi, gaya geser, dan
momen lenturnya tidak dapat ditentukan secara langsung dengan menggunakan persamaan
keseimbangan dasar. Balok statis tak tentu sering juga digunakan dalam praktek, karena
struktur ini lebih kaku untuk suatu kondisi bentang dan beban dari pada struktur statis
tertentu. Jadi ukurannya bisa lebih kecil.

Prinsip dasar Variable utama dalam mendesain balok meliputi:


bentang, jarak balok, jenis dan besaran beban, jenis material, ukuran dan bentuk penampang,
serta cara penggabungan atau fabrikasi. Semakin banyak batasan desain, maka semakin
mudah desain dilakukan. Setiap desain harus memenuhi kriteria kekuatan untuk masalah
keamanan dan kemampuan layanan. Pendekatan desain untuk memenuhi kriteria ini sangat
bergantung pada material yang dipilih, apakah menggunakan balok kayu, baja atau beton
bertulang.
Kelemahan :
1. Memiliki bentang yang terbatas
2. Kekakuan tinggi
Keunggulan
1. Semakin tinggi suatu elemen, semakin kuat kemampuannya untuk memikul lentur
2. Semakin besar balok maka semakin kecil tegangannya.

b. Frame system Pengertian


Bentuk konstruksi rangka adalah perwujudan dari pertentangan antara gaya tarik bumi dan
kekokohan dan konstruksi rangka yang modern adalah hasil penggunaan baja dan beton
secara rasional dalam bangunan. Kerangka ini terdiri atas komposisi dari kolom-kolom dan
balok-balok. Unsur vertical, berfungsi sebagai penyalur beban dan gaya menuju tanah,
sedangkan balok adalah unsur horizontal yang berfungsi sebagai pemegang dan media
pembagian lentur.

Prinsip dasar

Prinsip utama yang mendasari penggunaan


rangka batang sebagai struktur pemikul
baban adalah penyusunan elemen menjadi
konfigurasi segitiga yang menghasilkan
bentuk stabil. Pada bentuk segiempat atau
bujursangkar, bila struktur tersebut diberi
beban, maka akan terjadi deformasi massif
dan menjadikan struktur tak stabil.
Keterangan :

 Struktur bangunan berwarna putih pada gambar di atas adalah gedung 3 lantai yang akan
dilindungi Steel Brached Frame dari bahaya gempa.

 Warna merah adalah rangka baja utama dari Steel Brached Frame Gambar 1.19 System
kerja frame struktur Sumber : http://sanggapramana.wordpress.com/2010/ -

 Warna hijau adalah pondasi baja untuk mendukung rangka baja Steel Brached Fram.

 Warna kuning adalah fuses (sekering) yang berfungsi untuk melenturkan, membuang
induksi energi dari gempa, dan memperkecil kerusakan, serta membatasi kerusakan bangunan
hanya pada area tertentu.

 Kabel berwarna putih yang berada di depan dan di belakang fuses (sekering) adalah
tendon (urat baja) yang terdiri dari kawat-kawat baja pilinan. Tendon ini didesain elastis
ketika gedung sedang digoncang gempa. Namun ketika goncangan berakhir, tendon yang
terbuat dari material baja berkekuatan tinggi akan menyesuaikan pada panjang semula dan
menarik gedung pada posisi semula.

Kelemahan
1. Jarak antar kolom mempunyai batas maksimum yang
relative kecil
2. Jarak antar kolom yang jauh akan mempengaruhi
dimensi dari balok mendatar yang akan membesar dan akan
menjadi tidak ekonomis.
Keunggulan
1. Penyaluran beban lebih praktis dari struktur lain
2. Bisa menahan beban berat dari atas
c. Rangka dengan grid sempit
Pengertian Grid yang sempit berasal dari hukum statika dan lebih banyak dari fungsi
perencanaan. Dinding luar yang dipecah menjadi beberapa jendela, balok dan kolom, berarti
bahwa pembatas ruang (partitions) yang melintang hanya dapat ditempatkan pada kolom.
Semakin sempit jarak kolom, maka semakin banyak jumlah kemungkinan penempatan
dinding penyekat atau batas ruang, semakin fleksibel perencanaannya dan semakin efisien
penggunaan ruang.
Grid berarti kisi - kisi yg bersilangan tegak lurus satu sama lain dan dalam arsitektur
merupakan cara untuk mencapai keteraturan saja dan tidak lebih. Kita mengenal dua tipe
skeleton, yaitu Grid-sempit dan Grid-lebar yg pada dasarnya disebabkan karena kebutuhan
jarak yg tidak sama, yg pertama kebutuhan terhadap lebarnya jarak tiang (arah memanjang
bangunan) yg lain terhadap rapatnya tiang.

Prinsip kerja
Grid yg sempit berasal sedikit dari hukum statika dan lebih banyak dari fungsi perencanaan.
Dinding luar yg dipecah menjadi beberapa jendela, balok dan kolom, berati bahwa pembatas
ruang (partitions) yang melintang hanya dapat ditempatkan pada kolom. Hal ini dirancang
apabila ruangruang dgn dinding penyekat diperlukan. Apabila tidak, dan daerah terbuka yg
luas dikehendaki, alasan tersebut diatas tidak terpakai. Ada banyak usaha untuk
mengharmoniskan jarak kolom Grid-sempit dgn dimensi perencanaan perabot kantor yg telah
menghasilkan bagi kita berbagai macam modul dengan variasinya secara kasar, yaitu antara
90 cm - 350 cm. semua modul ini mempunyai keuntugan dan kerugiannya.
Kelemahan
Pembatas ruang yang melintang dibatasi oleh kolom
Keunggulan
Semakin sempit jarak kolom, maka semakin banyak jumlah penempatan dinding penyekat,
semakin fleksibel perencanaannya dan semakin efisien penggunaan ruang

d. Rangka dengan grid lebar


Pengertian Menurut Curt Siegel rangka dgn Grid-lebar adalah bila diantara dua kolom
bangunan skeleton dapat diletakkan lebih dari satu jendela standar. Jendela dapat berupa satu
jendela panjang atau dibagi menjadi beberapa petak yg tidak memikul beban. Jarak antara
tiang jendela relatif kecil, seimbang dgn modul aksial yg diperoleh dari standar perabot
kantor atau rumah.
Prinsip dasar
Karena balok bentang pada lantai kedua (balok sabuk lantai) tidak memikul kolom - kolom
antara, maka tidak diperlukan balok yg besar atau tinggi. Balok bentang tersebut memikul
berat lantai, sama halnya dengan balok-balok ditingkat-tingkat yg diatas, maka dimensi balok
utama dapat disamakan. Jadi dalam hal ini kita mendapat bangunan-bangunan yg
kolomkolomnya merupakan garis tak terputus dari atap sampai pondasi. Untuk bangunan ini
jarak kolom relatif besar. Besarnya kolom ditentukan oleh tinggi bangunan dan jarak kolom
dgn kolom lainnya. Besar balok datar juga ditentukan oleh jarak antar kolom dan berat yg
ditimbulkan oleh beban hidup dan berat sendiri.

Kelemahan
Kekakuan bangunan ditentukan oleh hubungan (joint) antara kolom dan balok bersama-sama
pada seluruh bangunan.
Keunggulan
Semua gaya yg terjadi karena gaya berat disalurkan melalui kolom-kolom structural langsung
ke pondasi dalam tanah, tanpa melalui batang atau balok lain.

Vector Active Structure


a. Flat truss system
Pengertian Susunan elemen-elemen linear yang membentuk segitiga atau kombinasi
segitiga yang secara keseluruhan berada di dalam satu bidang tunggal.
b. Curved truss system
Pengertian Merupakan kombinasi dari struktur rangka batang rata yang membentuk
lengkungan. System struktur rangka bentang lengkung ini sering disebut juga system fire
work. System ini dapat mendukung beban atap sampai dengan bentang 75 meter, seperti
pada hangar bangunan pesawat, stadion olahraga, bangunan pabril, dll.

c. Space truss system


Pengertian Susunan elemen-elemen linear
yang membentuk segitiga atau kombinasi
segitiga yang secara keseluruhan membentuk
volume 3 dimensi (ruang). Sering disebut juga
sebagai space frame. Space frame atau system
rangka ruang adalah system struktur rangka 3
dimensi yang membentang dua arah, dimana
batang-batangnya hanya mengalami gaya tekan
atau tarik saja. System tersebut merupakan salah
satu perkembangan system struktur batang.
Struktur rangka ruang merupakan susunan
modul yang diatur dan disusun berbalikan antara
modul satu dengan modul lainnya sehingga
gaya-gaya yang terjadi menjalar dan mengikuti
modul-modul yang tersusun. Modul ini satu
sama lain saling mengikatkan, sehingga system struktur ini tidak mudah goyah.
Merupakan rangka batang ruang yang mana batangnya merupakan elemen struktur linier
kaku yang tersusun sebagai unit geometris lentur pada plat datar dibandingkan rangka
ruang adalah deformasi pada sistem bidang datar hampir disebabkan oleh momen lentur,
pada rangka ruang 70% pekerjaan deformasi disebabkan oleh momen lentur, 30% adalah
hasil tegangan aksial dalam batang.
Prinsip dasar
Kestabilan yang ada pada pola batang segitiga dapat diperluas ke dalam tiga dimensi.
Pada rangka batang bidang, bentuk segitiga sederhana merupakan dasar, sedangkan
bentuk dasar pada rangka batang ruang adalah tetrahedron. Prinsip-prinsip yang telah
dibahas pada analisis rangka batang bidang secara umum dapat diterapkan pada rangka
batang ruang. Kestabilan merupakan tinjauan utama. Gaya-gaya yang timbul pada batang
suatu rangka batang ruang dapat diperoleh dengan meninjau keseimbangan ruang
potongan rangka batang ruang tersebut.

Kelemahan
1. Perhitungan lebih rumit
2. Perakitan lebih lama dan mahal
Keunggulan
1. Tidak ada pembalokkan
2. Penyaluran gaya melalui batang-batang
3. Konstruksi lebih ringan
4. Membentuk segitiga, merupakan bentuk yang stabil
5. Pengulangan bentuk

Surface Active Structure


a. Prismatic folded structure system
Pengertian Struktur lipatan adalah bentuk yang terjadi pada lipatan bidang-bidang datar
dimana kekakuan dan kekuatannya terletak pada keseluruhaan bentuk itu sendiri.
Bentuk lipatan ini mempunyai kekakuan yang lebih dibandingkan dengan bentuk-
bentuk yang datar dengan luas yang sama dan dari bahan yang sama pula
Prinsip dasar
Semakin banyak lipatan maka semakin kuat
struktur yang menopang beban. Transfer beban
dalam struktur lipat terjadi melalui kondisi
struktural dari pelat (beban tegak lurus terhadap
bidang tengah) atau melalui kondisi struktural
dari paralel (slab load ke pesawat).
Pada awalnya, kekuatan eksternal akan
ditransfer karena kondisi struktural pelat ke pinggir lebih pendek dari satu elemen lipat. Di
sana, reaksi sebagai kekuatan aksial dibagi antara elemen yang berdekatan yang
menghasilkan strain kondisi struktural dari lembaran. Ini mengarah pada pengiriman pasukan
untuk bantalan.

Jenis Folded Plate


1. Folded plate dua segmen Komponen dasar dari
struktur folded plate terdiri dari: plat miring, plat
tepi yang digunakan untuk menguatkan plat yang
lebar, pengaku untuk membawa beban ke
penyangga dan menyatukan plat, serta kolom untuk
menyangga struktur.

2. Folded plate tiga segmen Pengaku terakhirnya berupa


rangka yang lebih kaku daripada balok penopang
bagian dalam. Kekuatan dari reaksi plat di atas
rangka kaku tersebut akan cukup besar dan di kolom
luar tidak akan diseimbangkan oleh daya tolak dari
plat yang berdekatan. Ukuran rangka dapat dikurangi
dengan menggunakan tali baja antara ujung kolom

3. Bentuk Z Masing-masing unit di atas mempunyai satu plat


miring yang lebar dan dua plat tepi yang diatur dengan
jarak antara unit untuk jendela. Bentuk ini disebut Z shell
dan sama dengan louver yang digunakan untuk ventilasi
jendela. Bentuk Z ini adalah bentuk struktur yang kurang efisien karena tidak menerus
dan kedalaman efektifnya lebih kecil daripada kedalaman vertikalnya.

4. Dinding yang menerus dengan plat Pada struktur ini ,


dinding merupakan konstruksi beton yang miring.
Dinding didesain menerus dengan plat atap. Kolom
tidak dibutuhkan di pertemuan tiap-tiap panel
dinding karena dinding ditahan di ujung atas.

5. Kanopi Bentuk ini digunakan untuk kanopi kecil di


entrance bangunan. Struktur ini mempunyai empat
segmen. Pengaku struktur disembunyikan di
permukaan atas sehingga tidak terlihat dan plat
(shell) akan muncul untuk menutup dari kolom
vertikal. Di dinding bangunan harus ada juga
pengaku struktur tersembunyi di konstruksi dinding.

6. Folded plate yang meruncing ke ujung (Tapered


Folded plate) Struktur ini dibentuk oleh elemen-
elemen runcing. Berat plat di tengah bentang
merupakan dimensi kritis untuk kekuatan
tekukan. Struktur ini tidak efisien dan tidak
cocok untuk bentang lebar karena kelebihan
beban untuk bentang lebar.

7. Folded plate penyangga tepi (edge supported folded plate) Pada struktur ini, plat tepi
dapat dikurangi dan struktur atap dapat dibuat terlihat sangat tipis jika plat tepi ditopang
oleh rangkaian kolom.

8. Folded plate truss Terdapat ikatan horizontal melintang di sisi lebar hanya di tepi
bangunan. Hal ini memungkinkan folded plate digunakan pada bentang lebar dengan
pertimbangan struktural yang matang
9. Rangka kaku folded plate Sebuah lengkung dengan segmen lurus biasanya disebut
rangka kaku. Struktur ini tidak efisien untuk bentuk kurva lengkung karena momen tekuk
lebih besar.

Kelemahan dan keunggulan Keuntungan dan kerugian dari bentuk konstruksi lipatan
adalah sebagai berikut :
segi konstruksinya adalah sebagai bidang vertical, yang dapat menggantikan kolom-
kolom dan sekaligus menjadi bearing wall. Sebagai bidang horizontal dapat
menggantikan balok-balok. Batangan dapat dicapai lebih besar (dengan perbandingan
tertentu antara bentangan dan tinggi lipatan).

Pyramidal folded structure system


Pengertian Bentuk pyramidal yaitu bentuk lipatan yang terdiri dari bidang lipatan yang
berbentuk segitiga.

Rotational shell system Pengertian Rotational shell system adalah bidang yang diperoleh
bilamana suatu garis lengkung yang datar diputar terhadap suatu sumbu. Shell dengan
permukaan rotational dapat dibagi tiga yaitu, Spherical Surface, Elliptical Surface,
Parabolic Surface.

Anticlastic shell system Pengertian Struktur bidang lengkung rangkap berbalikan


merupakan suatu bentuk pelana dengan arah lengkungan yang berbeda pada setiap
arahnya. Struktur bidang lengkung rangkap berbalikan dapat dibagi menjadi beberapa
macam tipe.
B. Sistem Struktur Bangunan tinggi
Bangunan Tinggi adalah istilah untuk menyebut suatu bangunan yang memiliki struktur
tinggi. Penambahan ketinggian bangunan dilakukan untuk menambahkan fungsi dari
bangunan tersebut. Contohnya bangunan apartemen tinggi atau perkantoran tinggi.
Bangunan tinggi menjadi ideal dihuni oleh manusia sejak penemuan elevator (lift) dan bahan
bangunan yang lebih kuat. Berdasarkan beberapa standard, suatu bangunan biasa disebut
sebagai bangunan tinggi jika memiliki ketinggian antara 75 kaki dan 491 kaki (23 m hingga
150 m). Bangunan yang memiliki ketinggian lebih dari 492 kaki (150 m) disebut
sebagai pencakar langit. Tinggi rata-rata satu tingkat adalah 13 kaki (4 meter), sehingga jika
suatu bangunan memiliki tinggi 79 kaki (24 m) maka idealnya memiliki 6 tingkat.
Bahan yang digunakan untuk sistem struktural bangunan tinggi adalah beton kuat dan besi.
Banyak pencakar langit bergaya Amerika memiliki bingkai besi, sementara blok
menara penghunian dibangun tanpa beton.
Meskipun definisi tetapnya tidak begitu jelas, banyak lembaga mencoba mengartikan
pengertian 'bangunan tinggi', antara lain:
 International Conference on Fire Safety in High-Rise Buildings mengartikan
bangunan tinggi sebagai "struktur apapun dimana tinggi dapat memiliki dampak besar
terhadap evakuasi"
 New Shorter Oxford English Dictionary mengartikan bangunan tinggi sebagai
"bangunan yang memiliki banyak tingkat"
 Massachusetts General Laws mengartikan bangunan tinggi lebih tinggi dari
70 kaki (21 m)
 Banyak insinyus, inspektur, arsitek bangunan dan profesi sejenisnya mengartikan
bangunan tinggi sebagai bangunan yang memiliki tinggi setidaknya 75 kaki (23 m).
Struktur bangunan tinggi memiliki tantangan desain untuk
pembangunan struktural dan geoteknis, terutama bila terletak di wilayah seismik atau tanah
liat memiliki faktor risiko geoteknis seperti tekanan tinggi atau tanah lumpur. Tantangan
yang tidak kalah besar lainnya adalah bagaimana pemadam kebakaran bertugas selama
keadaan darurat pada struktur tinggi. Desain baru dan lama bangunan, sistem bangunan
seperti sistem pipa berdiribangunan, sistem HVAC (Heating, Ventilation and Air
Conditioning), sistem penyiram api dan hal lain seperti evakuasi tangga
dan elevator mengalami masalah seperti itu.
Salah satu contoh peristiwa tantangan terhadap pemadam kebakaran yang pernah terjadi
adalah ketika pemadam kebakaran diarahkan ke sebuah hotel tinggi di Lexington,
Kentucky dengan laporan adanya asap pada bangunan tersebut. Ketika pemadam mencari
sumbernya, mereka menemukan asap di lorong, bukan di kamar tamu. Ini membantu
pemadam mengetahui bahwa masalahnya berasal dari sistem HVAC dan bahaya asli tidak
terjadi.
Bangunan tinggi mulai dibangun pada waktu awal berdirinya Amerika selama kebangkitan
industri. Menggunakan bahan ringan, mereka mampu membuat bangunan bertingkat 8. Asch
Building memiliki 10 tingkat.
Sistem struktur pada bangunan merupakan inti kekokohannya bangunan di atas permukaan
tanah. Sistem struktur berfungsi menahan dan menyalurkan beban gaya horizontal dan
vertikal secara merata pada sistem-sistem struktur inti dan struktur pendukung, sehingga
bangunan dapat memikul beban horizontal dan vertikal maupun gaya lateral.

Berikut adalah jenis-jenis sistem struktur inti pada bangunan tinggi :

 Sistem struktur dinding pendukung sejajar (parallel bearing walls)

Sistem ini terdiri dari unsur bidang vetikal yang di perkuat dengan berat dinding itu sendiri,
sehingga mampu menahan gaya aksial lateral secara efisien.

 Sistem struktur inti dan dinding pendukung (core and bearing walls)
Sistem ini berupa bidang vertikal yang membentuk dinding luar dan mengelilingi sebuah struktur inti.

 Sistem struktur boks berdiri sendiri (self supporting boxes)

 Sistem ini merupakan unit tiga dimensi prefabrikasi yang menyerupai bangunan dinding
pendukung yang diletakan di suatu tempat dan di gabung dengan unit lainnya.

sistem struktur ini terdiri dari kolom dan balok yang bekerja saling mengikat satu dengan yang
lainnya.

 Sistem struktur rangka selang-seling (staggered truss)


Rangka tinggi yang selantai disusun sedemikian rupa sehinga setiap lantai bangunan dapat
menumpangkan beban di bagian atas rangka begitupun di bagian bawah rangka di atasnya.

 Sistem struktur rangka trussed (trussed frame)

Sistem ini terdiri dari gabungan rangka kaku (atau bersendi) dengan rangka geser vertikal yang
mampu memberikan peningkatan kekuatan dan kekakuan struktur.

 Sistem struktur rangka belt-trussed dan inti (belt-trussed frame and core)

Sistem struktur belt-trussed bekerja mengikat kolom fasade ke inti bangunan sehingga meniadakan
aksi terpisah rangka dan inti pengakuan ini dinamai“cap trussing”.

 Sistem struktur plat terkantilever (cantilever slab)


Pemikulan plat lantai dari sebuah inti pusat akan memungkinkan ruang bebas kolom yang batas
kekuatan platnya adalah batas besar ukuran bangunan.

 Sistem struktur interspasial (interspasial)

Sistem struktur rangka tinggi selantai yang terkantilever diterapkan pada setiap lantai antara untuk
memungkinkan ruang fleksibeldi dalam dan di atas rangka.

 Sistem struktur plat rata (flat slab)


Sistem ini terdiri dari bidang horizontal yang umumnya adalah plat lantai beton tebal dan rata yang
bertumpu pada kolom.

 Sistem struktur gantung (suspension)

Sistem ini dapat memungkinkan penggunaan beban secara efisien dengan menggunakan
penggantungan sebagai pengganti kolom untuk memikul beban lantai.

 Sistem struktur rangka kaku dan inti (rigid frame and core)

Rangka kaku akan bereaksi terhadap beban lateral. Terutama melalui lentur balok dan kolom. Perilaku
demikian berakibat ayunan (drift)lateral yang besar sehingga pada bangunan dengan ketinggian
tertentu.

 Sistem struktur tabung dalam tabung (tube in tube)


Dalam struktur ini, kolom dan balok eksterior di tempatkan sedemikian rapat sehingga fasade
menyerupai dinding yang diberi pelubangan (untuk jendela).

 Sistem struktur kumpulan tabung (bundled tube)

Sistem struktur ini dapat di gambarkan sebagai suatu kumpulan tabung-tabung terpisah yang
membantuk tabung multi-use.
C. Sistem Fondasi Bangunan Bentang Lebar dan Bangunan Tinggi
Pondasi Rakit/Raft/MAT Pondation, pondasi jenis ini merupakan jenis pondasi
dangkal yang dibuat menyerupai plat beton bertulang dengan tebal berkisar antara ± 50-
200cm di bawah struktur gedung menyerupai rakit yang berfungsi dalam meneruskan
beban kolom sacara merata dan seragam di
bagian dasar permukaan struktur bangunan.
Pondasi jenis ini biasanya dipilih jika kapasitas
daya dukung suatu tanah rendah. Pondasi rakit
sendiri dapat mereduksi penurunan yang tidak
seragam (Non uniform settlement) dan juga
dalam pelaksanaannya dapat mengurangi
kebisingan dan getaran dibanding dengan
menggunakan pondasi dalam tipe pancang.
Pondasi rakit selain berfungsi untuk bangunan
gedung juga dapat dibuat untuk konstruksi
dengan beban merata seperti struktur tangki,
mesin atau silo.

Pondasi Menengah
Pondasi menegah marupakan jenis pondasi peralihan antara pondasi dangkal dan pondasi
dalam dimana kisaran kedalamannya antara ± 4-10m di bawah permukaan tanah. Pondasi
menengah bisanya dibuat untuk jenis konstruksi dengan beban sedang sampai besar misalnya
untuk struktur bangunan gedung bertingkat. Namun hal ini sekali lagi tergantung dari
karakteristik daya dukung tanah di mana bangunan itu didirikan, dimana jika dari hasil
investigasi soil menunjukan nilai kapsitas daya dukung tanah yang baik pada kedalaman
antara 4-10 m hal ini sangat memungkinkan dalam pemilihan jenis pondasi menengah. Jenis
pondasi menengah antara lain:

Pondasi Sumuran/Strauss Pile, pondasi jenis ini merupakan jenis pondasi menengah yang
berbentuk menyerupai sumur/caisson dimana dalam prosesnya dilakukan dengan melakukan
pengeboran titik pondasi dengan kedalaman tertentu kemudian dimasukkan ring caisson
segmen ke dalamnya sampai mencapai kedalaman yang direncanakan dan dilanjutkan dengan
membuat tulangan stek untuk sambungan kolom dan dimasukkan ke dalam lubang sumuran
kemudian terakhir adalah proses pengecoran dengan batu belah dan beton cycloop ke dalam
lubang sumuran. Pondasi sumuran umumnya berdiameter antara 50-100cm sesuai dengan
desain rencana.

Pondasi Dalam
Pondasi dalam merupakan pondasi yang digunakan untuk jenis bangunan dengan beban
yang cukup besar khusunya untuk struktur bangunan dengan massa dan beban rencana yang
relatif besar misalnya untuk gedung bertingkat/high rise building, bangunan bentang lebar,
jembatan, bendungan, dermaga, pabrik dsb. Pondasi dalam biasanya memiliki kedalaman
yang relatif dalam sampai mencapai tanah keras bed rock soil dengan nilai N- SPT > 50
atau CPT> 150 Kg/cm2. Pondasi dalam pada dasarnya memiliki daya dukung berupa daya
dukung ujung (PointBearing) yang terletak pada ujung pondasi tiang dan daya dukung kulit
(Friction/Skin Bearing) terhadap tanah sepanjang selimut pondasi pile. Adapun jenis-jenis
pondasi dalam akan diuraikan di bawah ini, antara lain:

Pondasi Bor/Bored Pile, pondasi ini merupakan jenis pondasi dalam yang berbentuk
tabung/silinder dengan panjang yang bervariasi (10-20)m sampai tanah keras dengan
diameter antara 20cm, 30cm, 40cm, 50cm dan 60cm, dimana dalam pelaksanaannya dibuat
dengan metode pengeboran titik pondasi sampai kedalaman yang direncanakan, Adapun
urutan pelaksanaannya natara lain:
 Mempersiapkan area kerja dengan koordinat titik pondasi yang akan dibor.
 Melakukan proses pengeboran titik pondasi. Biasanya pengeboran dilakukan dengan
mesin bor auger wash bored crane (jika jenis tanah jenuh air) dengan terlebih dahiulu
memasangan pipa casing temporary pada ujung atas lubang pengeboran. Pergerakan mesin
bor crane sebaiknya ke belakang (mundur).
 Membuang tanah sisa pengeboran keluar dari lubang secraa perlahan-lahan dengan
menggunakan bucket.
 Selama lubang pengeboran dilakukan sampai selesai maka proses selanjutnya yaitu
perakitan tulangan pondasi. Umumnya tulangan pondasi bor dibuat dengan model
spriral/spiral bar dan berdiameter sesuai dengan perencanaan.
 Memasukkan mortar bentonite slurry (Permeabilitas rendah) ke dalam lubang pondasi
pada kedalaman rencana agar lubang pondasi tidak mengalami keruntuhan terlebih jika jenis
tanah mengalami kondisi jenuh air.
 Setelah proses perakitan tulangan selesai maka rangkaina tulangan pile dimasukkan
ke dalam lubang sampai kedalaman tertentu kemudian dilakukan pengecoran dengan
menggunakan pipa tremi untuk mendistibusikan campuran beton segar/ready mix ke dalam
lubang pondasi.
Pondasi Frangki/Frangki Pile, pondasi jenis frangki merupakan jenis pondasi dengan
menggunakan metode tumbukan dengan menggunakan pipa baja dan pengecoran. Pada
dasarnya pondasi frangki merupakan jenis pondasi dalam yang metode kerjanya cukup unik
karena menggunakan metode pukulan hammer pada dalam pile untuk memadatkan plug
sampai membentuk tonjolan besar pada dasar pile dan dilanjutkan dengan proses pengecoran
pile. Franki pertama kali dikembangkan oleh seorang insinyur dari Belgia yang
bernama Edgard Frankignoul pada tahun 1909. Sejak saat itu penggunaan tiang pancang
Franki semakin berkembang hingga sekarang. Adapun prosedur pelaksanaannya antara lain:
 Temporary casing ditancapkan pada posisi titik tiang, kemudian diisi adukan beton
kering secukupnya sebagai sumbat (plug).
 Kemudian plug dipukul/ditumbuk dengan mesin hammer sehingga plug akan
menurun bersamaan dengan pipa casing.
 Sampai mencapai kedalaman yang dikehendaki, casing ditahan dan plug ditumbuk
sampai keluar dari pipa casing dan membentuk tonjolan yang membesar pada dasar pondasi.
Hal ini akan menjadi daya dukung ujung/point bearing pada jenis pondasi franki.
 Proses selanjutnya yaitu perakitan tulangan pondasi. Umumnya tulangan pondasi bor
dibuat dengan model spriral/spiral bar dan berdiameter sesuai dengan perencanaan.
 Setelah proses perakitan tulangan selesai maka rangkaian tulangan pile dimasukkan
ke dalam lubang sampai kedalaman tertentu kemudian dilakukan pengecoran dengan
menggunakan pipa tremi untuk mendistribusikan campuran beton segar/ready mix ke dalam
lubang pondasi kemudian pipa baja temporary bersamaan diangkat secara perlahan-lahan ke
atas sampai pengecoran selesai dilakukan dan siap dihubungkan dengan pile cap.
Pondasi Hammer Pile, pondasi jenis ini merupakan pondasi dalam yang dalam aplikasi
pelaksanaannya menggunakan metode mesin hammer secara mekanik untuk memukul dan
mendorong pile ke dalam tanah sampai elevasi yang direncanakan.
Pondasi hammer pile umumnya terbuat dari beton precash prategang/prestrees
concrete yang terfabrikasi/modular, pipa baja atau profil baja dimana bentuk penampang pile
ada yang berbentuk lingkaran/spun pile, segi empar/regtangle pile atau mini pile, dan
segitiga/triagle pile. Mesin pemacang yang biasanya digunakan berupa hammer di
esel driving pile, hydraulic hammer drving pile atau dengan sistem tekan/drop
yaitu Hydraulic Static Pile Driving (HSPD). Urutan pelaksanaan nya lebih sederhana
dibandingkan jenis pondasibored pile yaitu dengan melakukan proses mobilisasi precash
pile ke lokasi proyek kemudian setelah lokasi titik koordinat pile ditentukan maka dilakukan
tahap pemancangan pada titik pile yang direncanakan sampai kedalaman yang ditentukan.
Tetapi kelemahan dari pondasi hammer pile yaitu menimbulkan kebisingan dan getaran bagi
masyarakat di sekitar lokasi proyek dan berpotensi menimbulkan retak dan patah pada pile
sewaktu pemancangan berlangsung. Tetapi sekarang ini telah banyak metode pengetesan
kualitas pile antara lain dengan menggunakan metode kalendering (konvensional) atau Pile
Driving Analysis (PVD) untuk mengetahui daya dukung axial tiap pile serta metode Pile
Integrity Test (PIT) dan Sonic Loaging yang berfungsi untuk mengetahui tingkat keutuhan
suatu pile baik dari parameter luasan maupun volume suatu pile sehingga dapat secara dini
mendeteksi tingkat kerusakan pada pile (retak atau patah) dan dapat dilakukan tindakan
perbaikan secara dini sebelum bangunan atas/upper structures di laksanakan.

Dari berbagai jenis kategori pondasi yang telah dijelaskan maka dapat disimpulkan bahwa
pemilihan jenis pondasi pada bangunan sangat ditentukan dari jenis fungsi bangunan itu
sendiri serta karakteristik dari lapisan tanah dimana bangunan itu akan didirikan. Oleh karena
itu seorang insinyur perencana harus dengan cermat dan teliti menganalisis dalam pemilihan
jenis pondasi pada suatu struktur bangunan yang hendak direncanakan dikarenakan pondasi
merupakan salah satu unit struktur yang bersifat vital dalam meneruskan beban-beban yang
akan bekerja di atasnya.
BAB 3
ISI

A. Konstruksi Bangunan Bentang Lebar


Contoh Bangunan : Stadion Utama Riau

Kota : Pekanbaru, Riau


Dibangun : Tahun 2009
Tipe Stadion : Stadion Madya (Olympic)
Kategori : A
Sarana olahraga meliputi:
 International Standard Football Pitch
 Atletik
 Squash-9 counts
Tempat duduk (kapasitas kursi)
 Lower tier
 Upper tier
 Sebanyak lebih dari 43.000 kursi
Pendukung (sarana pendukung)
 Podium dan Kamar VIP
 Restoran - 9 unit
 Toko - 18 unit
 Management Office
 Kedokteran unit
 Masjid
Tahap Konstruksi
PONDASI
Pondasi yang digunakan pada bangunan Stadion Utama Riau ini adalah pondasi pile
cap. Pondasi pilecap (tiang pancang) adalah bagian dari struktur yang digunakan untuk
menerima dan mentransfer (menyalurkan) beban dari struktur atas ke tanah penunjang
yang terletak pada kedalaman tertentu. Setelah pekerjaan pile yang meliputi pengeboran
dan pemotongan pile yang tersisa di permukaan tanah, maka dilakukan penulangan untuk
membuat pile cap. Pile cap tersusun atas tulangan baja berdiameter 16mm, 19mm dan
25mm yang membentuk suatu bidang dengan ketebalan 50mm dan lebar yang berbeda-
beda tergantung dari jumlah tiang yang tertanam.
Fungsi dari pile cap adalah untuk menerima beban dari kolom yang kemudian akan
terus disebarkan ke tiang pancang dimana masing-masing pile menerima 1/N dari beban
oleh kolom dan harus ≤ daya dukung yang diijinkan (Y ton) (N= jumlah kelompok pile).
Jadi beban maksimum yang bisa diterima oleh pile cap dari suatu kolom adalah sebesar
N x (Y ton). Pile cap merupakan suatu cara untuk mengikat pondasi sebelum didirikan
kolom di bagian atasnya. Pile cap ini bertujuan agar lokasi kolom benar-benar berada
dititik pusat pondasi sehingga tidak menyebabkan eksentrisitas yang dapat menyebabkan
beban tambahan pada pondasi. Selain itu, - seperti halnya kepala kolom, pile cap juga
berfungsi untuk menahan gaya geser dari pembebanan yang ada.
Selain itu, bentuk dari pile cap juga bervariasi dengan bentuk segitiga dan persegi
panjang. Jumlah kolom yang diikat pada tiap pile cap pun berbeda tergantung kebutuhan
atas beban yang akan diterimanya. Terdapat pile cap dengan pondasi tunggal, ada yang
mengikat 2 dan 4 buah pondasi yang diikat menjadi satu.
Tahapan-tahapan pengerjaan pile cap, yaitu :
1) Setelah dilakukan penggalian tanah, dilakukan pemotongan pile sesuai elevasi
pile cap yang diinginkan.
2) Tanah disekeliling pile digali lagi sesuai dengan bentuk pile cap yang telah
direncanakan.

3) Pada pile dilakukan pembobokan pada bagian betonnya hingga tersisa tulangan
besinya yang kemudian dijadikan sebagai stek pondasi sebagai pengikat dengan
pile cap. Pembobokan hanya sampai elevasi dasar pile cap saja.

4) Melakukan pemasangan bekisting dari batako disekeliling daerah pile.

5) Sebagai landasan pile cap, dibuat lantai kerja terlebih dahulu dengan ketebalan
10 cm.

6) Melakukan pemasangan tulangan-tulangan pile cap yang meliputi tulangan


utama atas dan bawah, persiapan stek pondasi, pemasangan kaki ayam, beton
decking dan pemasangan stek pile cap sebagai penghubung menuju kolom.

7) Sebelum dilakukan pengecoran, tanah disekitar bekisting ditimbun kembali


untuk menahan beban pengecoran dan meratakan kondisi tanah seperti semula.

8) Setelah semua persiapan sudah matang, maka dapat dilakukan pengecoran pada
pile cap.
Metode Pelaksanaan :

1) Tahap pertama, dilakukan pengecoran dengan bucket dan pipa tremie untuk
daerah stage 1, lalu diratakan dengan menggunakan vibrator.

2) Tahap keduan beton di curing dan besi tulanagan dibersihkan dari kotoran dan
debu. 3) Tahap ketiga, beton stage 1 yang telah kering diberikan bonding agent
pada pemukaannya untuk pengecoran stage 2 yaitu pengecoran pelat basement.
Bonding agent in berfungsi sebagai pengikat beton lama dengan beton baru.

4) Tahap Keempat, pengecoran stage 2 dengan menggunakan concrete pump untuk


pelat basement. Pada pengecoran ini menggunakan beton yang dicampur dengan
waterproofing intergral (Conplast X421M)

KOLOM
Dengan mengetahui secara detail kondisi
lapangan maka pihak kontraktor akan mampu
melangkah lebih jauh dalam upaya optimasi dengan
inovasi metode dan sistem konstruksi yang
memungkinkan diterapkan di sini, Sebagai contoh,
misalnya; dalam penerapan sistem pracetak untuk
konstruksi beton yang diperlukan baik di dalam
maupun di luar stadion. Semula kalau dibuat
dengan kolom beton akan memiliki dimensi 1m x
2,5m yang dinilai terlalu boros. Untuk efisiensi pelaksanaan maka konstruksinya diganti
dengan baja yang dibalut dengan cladding dari aluminium composite panel (ACP), dengan
performance lebih mewah. Dijelaskan ada beberapa konstruksi struktur stadion yang
mengalami revisi desain, seperti pada bagian konstruksi listplank luar atap stadion. Semula
akan dibuat dengan cor beton keliling atap stadion, namun hal ini tidak mudah dikerjakan
karena harus memasang scaffolding setinggi belasan meter mengelilingi stadion. Dengan
pertimbangan teknis dan efisiensi lalu konstruksi listplank diganti dengan sistem pracetak
berupa GRC.
BALOK
Penggantian listplank dari beton menjadi GRC sangat efektif karena bukan hanya
mudah dikerjakan juga lebih cepat dan relatif lebih hemat. GRC ini lalu di finish dengan cat
khusus yang tahan terhadap cuaca, sehingga lebih awet ketahanan warnanya. Di bagian lain
ditempuh juga inovasi dengan mengubah sistem konstruksi dari cor di tempat menjadi sistem
pracetak terutama pada bagian tribun. Di bagian ini, ujar Nanang, sistem pracetaknya dibuat
mock up di halaman stadion untuk memberi contoh dari PP yang pernah membuat tribun
dengan sistem pracetak di stadion Samarinda. Konstruksi tribun untuk stadion Riau dibuat
dengan panjang bervariasi yang semula hanya 3 m menjadi 6 sampai 8 m dan diprestress
sehingga bentuknya lebih langsing. Dengan sistem pracetak prategang ini, maka bisa
dikurangi jumlah balok dari 4 buah menjadi 2 buah. Dengan demikian, bisa lebih hemat dan
cepat. Secara konstruksi perubahan bentuk tribun konvensional dengan sistem pracetak
prategang memiliki kekuatan sama, namun secara biaya bisa jika semula harus dibuat dengan
sistem konvensional harus membuat balok sedikitnya 6000 buah balok dihemat menjadi
hanya 4.000 buah balok untuk konstruksi tribun. Dengan begitu, secara waktu mulai dari
produksi hingga pemasangan di lapangan lebih cepat.

ATAP
Struktur atap Stadion Utama Riau merupakan sebuah struktur atap bentang lebar yang
dalam perencanaannya didesain sebagai atap lengkung yang memiliki nilai artistik tinggi
dengan konstruksi berupa sistem rangka baja yang dibuat melengkung. Struktur utama pada
rangka struktur atap stadion ini menggunakan sistem rangka batang bidang (Plane truss)
dengan bentang struktur mencapai hingga 45 meter.

Rangka batang bidang merupakan susunan elemenelemen linear yang membentuk segitiga
atau kombinasi segitiga yang secara keseluruhan berada di dalam satu bidang tunggal
(Ariestadi,2008). Penggunaan baja dengan sistem struktur ini pada bentang panjang yang
berdiri bebas tanpa penumpu memang menghasilkan penggunaan material yang lebih sedikit
namun juga menghasilkan profil yang lebih besar dan berat hingga akan sangat berpengaruh
pada perencanaan struktur dibawahnya dan tentunya juga proses mobilisasi. Namun jika
diperhatikan lebih jauh, penggunaan sistem rangka bidang (Plane truss) sebagai penyusun
struktur utama dengan rangka ujung berdiri bebas terlihat jarang dipergunakan pada struktur
stadion, hampir seluruh bangunan Stadion dengan struktur atap bentang lebar, Bahkan untuk
struktur rangka atap stadion lain yang terdekat dengan stadion utama Riau seperti stadion
renang Rumbai Sport Centre, Stadion Gelanggang Remaja dan Stadion anggar yang berada di
Universitas Lancang Kuning di Rumbai juga menggunakan sistem Rangka ruang (Space
truss).

Struktur rangka ruang adalah komposisi dari batang-batang yang masing-masing berdiri
sendiri, memikul gaya tekan atau gaya tarik yang sentris dan dikaitkan satu sama lain dengan
sistem tiga dimensi atau ruang (macdonald,2002).
B. Konstruksi Bangunan Tinggi

Contoh Bangunan bangunan tinggi : Dewitt Chesnut Apartement Chicago

Tinggi: 120 m
Mulai dibangun: 1963
Lantai: 43
Dibuka: 1966
Perusahaan arsitektur: Skidmore, Owings and Merrill
Lokasi: 260 E. Chestnut Street; Chicago, Illinois

Pondasi
Pondasi yang digunakan pada bangunan Dewitt
Chesnut Apartement di Chichago adalah Jenis
pondasi rakit. pondasi rakit karena paling dapat
mencapai kesatuan. Walaupun demikian bukan
berarti pondasi yang lain tidak boleh digabungkan
sebagai tambahannya. Pada pondasi rakit sangat
menguntungkan bila ruang rakitnya dimanfaatkan
untuk basement.
Kolom dan Dinding
Kolom bentuk profilnya perlu dipilih yang mudah dijajarkan. Jarak antar kolom dan
dimensinya adalah fungsi dari ketinggian bangunan. Jarak kolom antara 1,2 s/d 3 meter
panjang. (Sebagai gambaran: bangunan Apartemen De Witt Chestnut di Chicago tinggi 43
lantai jarak as kolom ke-kolom 1,65 meter. - Dinding luar sistem struktur tube in tube adalah
deretan kolom exterior yang rapat dan membentuk bidang datar, sehingga celah-celah kolom
merupakan lubanglubang teratur untuk jendela. Dinding dalam dapat berupa kolom-kolom
yang rapat, dapat merupakan dinding masif atau merupakan kolom sebagai rangka dari
dinding pengisi yang tipis.

Balok spandrel adalah balok yang mengikat semua kolom dan merupakan pengikat
bangunan secara keseluruhan, inilah yang menjadikan kehomogenan seluruh struktur. Selain
mengikat kolom juga sebagai tempat bertumpunya pelat pelat lantai.
- Atap bangunan strukturnya dapat disamakan dengan struktur lantai bangunan untuk
kemudahannya

Sistem Struktur

Kekakuan sistem tabung kosong sangat ditingkatkan apabila digunakan inti tidak hanya untuk
menahan beban gravitasi, tetapi juga untuk menahan beban lateral. Struktur lantai mengikat
tabung interior bersama eksterior dan berlaku sebagai satu kesatuan terhadap gaya gaya
lateral.
Reaksi suatu sistem tabung dalam tabung (Tube in Tube) terhadap angin menyerupai struktur
rangka dengan dinding geser. Akan tetapi, tabung rangka eksterior lebih kaku dari pada
tabung interior. Bangunan ’Tube in Tube’ strukturnya terdiri dari penggabungan
komponenkomponen struktur yaitu: pondasi, basemen, kolom, balok spanderel, lantai (dan
balok), serta core
BAB 4

PENUTUP

Kesimpulan
Pembebanan pada struktur bangunan merupakan salah satu hal yang terpenting dalam
perencanaan sebuah gedung. Kesalahan dalam perencanaan beban atau penerapan beban pada
perhitungan akan mengakibatkan kesalahan yang fatal pada hasil desain bangunan tersebut.
Untuk itu sangat penting bagi kita untuk merencanakan pembebanan pada struktur bangunan
dengan sangat teliti agar bangunan yang didesain tersebut nantinya akan aman pada saat
dibangun dan digunakan.
Bangunan tinggi berbeda dengan bangunan bertingkat."Bangunan tinggi adalah bangunan
yang mempunyai struktur tinggi."bangunan tinggi merupakan bangunan yang tingginya
kurang lebih 100m. "bangunan tinggi jauh lebih berisiko dibandingkan dengan jenis
bangunan lainnya. Oleh karena itu di butuhkan perencanaan yang matang dalam
pembangunannya. struktur bangunan tinggi biasanya dilengkapi dengan plumbing,
telekomunikasi,transportasi, pemadam kebakaran, penangkal petir, sistem pembuanagan
sampah, saluran air hujan serta sirkulasi udara bangunan dewitt chestnut Apartement
merupakan contoh bangunan yang cukup dibilang telah memenuhi standar,dari hasil analisis,
membuktikan bahwa bangunan ini memiliki perencanaan yang sangat matang, sehingga
bangunan ini tetap berdiri kokoh hingga sekarang.
Bangunan Bentang Lebar merupakan bangunan dimana jarak antar satu ke kolom yang
lainnya itu berjarak cukup jauh. Untuk sekarang ini umumnya bangunan bentang lebah
dikatakan apabila sudah dapat 20 meter. Salah satu contoh bangunan bentang lebar lebar
adalah stadion sepakbola. Stadion utama riau merupkan contoh yang cukup baik dalam
perencanaan dan konstruksinya. Menggunakan jenis pondasi yang tepat, Pembalokan dan
kolom menjadi hal mutlak yang harus diperhatikan dalam proses konstruksinya. Dan tak
kalah penting adalah bagian atap dari stadion utama riau. Atap dari stadion utama riau
menjadi focal point yang penting, apabila bangunan tersebut adalah bangunan bentang lebar.
DAFTAR PUSTAKA
https://id.wikipedia.org/wiki/Bangunan_tinggi

file:///C:/Users/A%20C%20E%20R/Downloads/dlscrib.com_pengantar-struktur-bentang-lebar.pdf

Sumber: Ariestadi, Dian, 2008, Teknik Struktur Bangunan Jilid 2 untuk SMK, Jakarta: Pusat Perbukuan
Departemen Pendidikan Nasional, h. 181-193.

Structure; Daniel Schodek

://www.scribd.com/document/372080243/Struktur-Bangunan-Tinggi-Dan-Bentang-Lebar

https://edoc.site/sistem-struktur-tube-in-tube-pdf-free.html