Anda di halaman 1dari 13

PROPOSAL PENELITIAN KUALITATIF

Oleh: Alpia Eva Lumbanbatu

NIM: 1701114428

Judul penelitian

Gangguan mental

Bab I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Ganguan mental itu merupakan totalitas kesatuan dari pada ekspresi mental yang
apatologis terhadap stimuli social, dikombinasikan dengan factor factor penyebab
sekunder lainnya. (kartono, 2001:229). Dizaman sekarang kita bisa melihat cepatnya
perkembangan teknologi, pesatnya usaha pembangunan dan industrialisasi sehingga
memunculkan masalah masalah social dan gangguan ganguan mental di kota-kota
besar dan dizaman modren ini juga masyarakat banyak tidak mampu mengikuti
perkembangan teknologi tidak mampu menyesuaikan diri seperti tuntutan social yang
semakin banyak yang dimana pendidikan harus menjadi semakin lama jika ingin
mendapat pekerjaan, rumah yang semakin lux jika digolongkan di golongan yang elit
sehingga mereka banyak frustasi dan, ketegangan batin dan menderita gangguan
mental.
Cemas-cemas, ketakutan, pahit hati, dengki, iri, marah-marah secara eksplosif, a-
sosial, ketegangan kronis merupakan awal pertanda adanya gangguan mental, gejala-
gejala penampilan dari gangguan mental banyak konflik batin adanya pikiran atau
emosi yang bertentangan, hilangnya harga diri dan kepercayaan diri, orangnya juga
selalu merasa tidak aman dan diburu-buru oleh pikiran yang tidak jelas sehingga ia
merasa cemas lalu agresif dan bahkan ada yang berusaha melakukan bunuh diri.
Komunikasi sosialnya terbatas hubungan sosial memengaruhi kondisi fisik orang
terkait, rasa sakit hati yang muncul dalam relasi sosial ataupun rasa sakit fisik terkait
dengan bagian otak. Ada ganguan intelektual dan gangguan emosional yang serius
penderita gangguan intelektual mengalami ilusi ilusi optis, halusinasi – halusinasi
berat dan delusi juga efek emosi yang tidak tepat selalu mereaksi melebih(over
acting). Sipenderita aman dalam dunia fantasinya . orang luar luar dihukum dan
dihindari, sebab mereka itu di anggap berdosa, kotor dan jahat maka realitas social
yang dihadapi menjadi kacau balau dan kehidupan batinya menjadi kalut-kusut dan
kepribadiaanya pecah berantakan.
Penderita gangguan mental itu banyak terdapat dikalangan kota-kota besar dari pada
di desa karena di kota banyak orang merasa bingung, ditolak oleh masyarakat seperti

1
dikalangan migran yang pindah dari desa ke kota yang tidak bisa menyesuaikan diri
tidak mempunyai pendidikan skill dan keterampilan sehingga mereka kalah bersaing
dan jumlah penderita gangguan mental paling banyak terdapat dikalangan orang-
orang dewasa dan usia tua karena faktor utama gangguan mental merupakan faktor
sosial dan kultural kemudian di perkirakan 40% penderita gangguan mental itu
adalah orang yang tidak memiliki agama

Bentuk-bentuk penderita gangguan mental atau kekalutan mental ada 3 yaitu,


psikopat, psikoneurosa dan psikosa fungsional. Psikopat merupakan adanya
pengorganisasian dan pengintegrasian pribadi biasanya orang yang seperti ini selalu
mempunyai banyak konflik. Psikoneurosa merupakan gangguan atau kekacauan
fungsional pada system saraf, terakhir psikosa fungsional mempunyai sifat yang
begitu abnormal dan irasional dan dianggap bisa menjadi bahaya atau mengancam
keselamatan bagi orang lain dan dirinya sendiri.

Mental disolder atau MC disebut dengan rendah diri yaitu kurangnya kemampuaan
untuk menyesuaikan diri, dengan lingkungan dimana dia hidup.(Ishaq, 2002:144).
Idak Ridak kreatif juga tasa rendah diri hal ini disebabkan oleh banyaknya masalah
masalah yang dihadapi yang tidak terselesaikan. Rasa rendah diri itu orangnya mudah
tersinggung dan menjauh dari pergaulan banyak orang dan juga tidak mampia merasu
membuat keputusan karena ia merasa bahwa keputusan yang dia buat tersebut tidak
diterima oleh banyak orang. Rasa rendah diri juga sangat berpengaryh terhadap jiwa ,
mental atau pikiran dan mungkin juga akan menimbulkan kelainan mental. Selama
kita melakukan hal yang benar, sebenarnya tidak ada alasan bagi kita untuk minder,
sikap rendah diri sebenarnya sangat merugikan diri sendiri dan rasa rendah diri itu
tidak bahagia karena dia terlalu sibuk untuk memikiran kekurangannya sehingga dia
kan terputus komunikasi dari orang lain atau dia kurang pergaulan terhadapm
masyarkat di sekitarRasa Rendah Diri juga disebabkan orang terdekat kita atau
lingkungan kita yaitu perlakuan lingkungan, masyarakat terhadap kita sendiri. Ini
berhubungan dengan pengalaman masa kecil, perlakuan keluarga yang berantakan,
atau orang miskin hidup dilingkungan orang kaya. Atau juga perlakuan etnis, warna
kulit, atau lingkungan perusahaan keluarga yang didominasi oleh keluarga.

Rasa rendah diri juga timbul karna adanya bagian tubuh yang cacat sehingga dia
tidak berani mengatakan apa yang benar karena kekurangan yang dia miliki.
Sehingga dia isolasi terhadap social. Ketika dia berisolasi akan social atau terisoalasi
akan masyarakat disekitar maka dia akan mersa dikucilkan di masyarat dan juga itu
akan mengakibat kan halusinasi-halusinasi yang tidak jelas atau bisa dikatakan di
menikamati kesendiriaanya. Harga diri rendah itu juga jika mereka yang kehilangan
akan kasih saying dan penghargan dari orang lain, gangguan harga diri rendah
digambarkan sebagai persaan yang negative terhadap dirinya sendiri.

2
1.2 Rumusan Masalah

Topik yang penulis bahas pada makalah ini diberikan rumusan masalah agar lebih
memudahkan dan tidak terjadi kesalahpahaman dalam mmenjawab permaslahannya.
Berdasarkan latar belakang berikut ini ada beberapa rumusan masalah sebagai
pertanyaan dalam makalah ini.

1. Apa yang dimaksud dengan gangguan mental

2. Bagaimana gejala-gejala gangguan mental

3. Bagaimana bentuk-bentuk gangguan mental

1.3 Tujuan dan kegunaan penelitian

1.3.1 Tujuan penelitian

Tujuan dari permasalahan ini sesuai dengan rumusan masalah yang telah
disampaikan . hal tersebut untuk dapat mempermudahkan hal yang harus dilakukan
berdasarkan masalah yang akan dibahas berdasarkan tujuan dari permasalahan dari
makalah ini yaitu: menjelaskan defenisi gangguan mental, menjelaskan ganguan-
gangguan mental,menjelaskan bentuk-bentuk gangguan mental.

1.3.2 Kegunaan penelitian

a. Manfaat teoritis

Untuk memperkaya kajian sosiologi terkait gangguan mental

3
b. Manfaat praktis

Memeperluas wawasan atau ilmu pengetahuaan peneliti terkait gangguan


mental

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Defenisi Gangguan Mental

Gangguan mental adalah gangguan dan kekacauan fungsi mental (kesehatan


mental), disebabkan oleh kegagalan mereaksinya mekanisme adaptasi dari fungsi–
fungsi kejiwaan atau mental terhadap stimuli eksternal dan ketegangan-ketegangan;
sehingga muncul gangguan fungsi atau gangguan struktur pada satu bagian, satu
organ, atau satu kejiwaan(kartono, 2001:229). Gangguan mental ini juga disebabkan
kelainan fungsi sel saraf kerusakan pada area-area otak tertentu dan kadang-kadang
gangguan mental juga sisebabkan oleh faktor genetika atau keturunan sehingga
penyakit gangguan mental tersebut diwariskan pada si penderita dan ketika seorang
ibu sedang hamil dimana ketika si ibu depresi atau banyak pikiran itu sehingga
berpengaruh pada otak bayi dan juga ketika mengkonsumsi obat-obatan yang over
dosis juga merupkan faktor penyebab dari gangguan mental, asupan gizi yang buruk

4
dan terkena racun-racun tertentu, seperti timah, juga diduga memainkan peran dalam
perkembangan penyakit mental.

Gangguan jiwa adalah gangguan yang mengenai satu atau lebih fungsi
jiwa.Gangguan jiwa adalah gangguan otak yang ditandai oleh terganggunya emosi,
proses berpikir, perilaku, dan persepsi (penangkapan panca indera).Gangguan jiwa ini
menimbulkan stress dan penderitaan bagi penderita (dan keluarganya) (Stuart &
Sundeen, 1998). Ketika seseorang membuat kita marah atau orang lain memyinggung
perasaaan kita atau kita tidak dihargai sehingga emosi kita naik dimana ketika kita
mengingat-ingat apa yang orang itu katakan membuat kita sress sehingga perkataan
tersebut kita pikirkan berlarut-larut lambat laun akan terjadi depresi dan kita akan
menganggap atau berpikir bahwa orang yang membuat kita sakit hati itu tidak
berharga bagi kita atau dimata kita, dan tindakan kita terhadap orang tersebut beda
dari yang lain .

Mental disolder atau gangguan mental adalah kurangnya kemampuan untuk


menyesuaikan diri sendiri, dengan lingkungan dimana dia hidup(Ishac, 2002:144).
Kemampuan menyesuaikan diri itu berupa berapa nyaman nya kita terhadap akan
sesuatu yang kita miliki. Contohnya berupa ketika musim dingin kita pasti memakai
baju hangat atau sweater sehingga kita nyaman terhadap diri kita begitu juga dengan
sebaliknya ketika musim pana kita juga harus menyesuaikan diri kita dan begitu juga
dengan lingkungan sekitar kita harus bisa peka terhadap sikap mereka kita harus
rendah diri sehingga mungkin mereka tidak cepat merasa tersinggung dimana dimata
masyarakat selalu salah karena tingkat kepuasan masyarakat yang sangat tinggi.

2.2 Gejala- gejala gangguan mental

Biasanya tidak terdapat penyebab tunggal, akan tetapi beberapa penyebab sekaligus
dari berbagai unsur itu yang saling mempengaruhi atau kebetulan terjadi bersamaan,
lalu timbulah gangguan jiwa. Ganguan jiwa atau gangguan mental banyak
dipengaruhi berbagai hal atau bisa dikatakan gejala-gejala penyebab gangguan jiwa
berupa perasaan, sikap dan kepercayaan bahwa seseorang hidup menyendiri, pesimis,
putus asa, ketidak berdayaan, harga diri rendah, bersalah, harapan yang negatif dan
takut pada bahaya yang akan datang. Penampilan dari gangguan mental biasanya
berupa gejala-gejala berikut(kartono, 2001:230)

a. Banyak konflik batin

5
Konflik batin itu konflik yg timbul dalam hati seseorang seperti yg gelisah
akibat dari unsur pribadi, ego. Ego berisi pikiran-pikiran rasional manusia
yang sesuai dengan realitas yang dihadapi konflik batin yang tidak
diselesaikan dapat mendorong terjadinya konflik individu dengan individu
lainnya. Konflik batin artinya konflik pribadi yang disebabkan oleh adanya
dua atau lebih keinginan atau gagasan yang saling bertentangan dan
menguasai diri individu, sehingga mempengaruhi sikap, perilaku tindakan
dan keputusannya. Konflik batin ini juga pada umumnya melanda setiap orang
dalam hidupnya atau tidak memandang bulu. Dan tidak semua orang mampu
untuk mengatasi sendiri konflik batin yang terjadi pada dirinya, sehingga
memerlukan bantuan orang lain yang lebih ahli. Konflik batin ini sering
melanda para pelajar pada umumnya, misalnya pelajar yang murung, tidak
bersemangat, malas dan sebagainya.

b. Komunikasi sosialnya terputus

Yang dimaksud dengan komunikasi terputus disini adalah kita menjauh dari
masyarakat umum dan kita merasa tertutup sehingga yang disekeliling kita
merasa aneh terhadap kita dan risih, selalu menyendiri dan merasa dirinya
paling hebat dan sifat bisa jadi bahaya kan orang yang disekitarnya. Ketika
kita tidak ada komunikasi dengan orang lain maka kan timbul delusi-delusi
kemudian adanya dikejar kejar bayangan dan bisa dikatakan separuh sadar.

c. Ada gangguan intelektual dan gangguan emosional yang serius

Gangguan emosi adalah keadaan emosi yang menyebabkan gangguan pada


diri seseorang, baik karena seseorang mengalami emosi tertentu, seperti
kecemasan, dan kemarahan yang terlalu sering atau terlalu kuat,dan juga
mereka yang merasa tidak mampu menunjukkan rasa sayang, kepercayaan,
marah atau penolakan.Gangguan kecemasan itu adalah emosi yang ditandai
dengan perasaan bahaya, ketegangan dan stress.

Sebagai pengalaman psikis yang biasa dan wajar, yang pernah dialami oleh setiap
orang dalam rangka memacu individu untuk mengatasi masalah yang dihadapi
sebaik-baiknya Penyebabnya maupun sumber biasanya tidak diketahui atau tidak
dikenali. Intensitas kecemasan dibedakan dari kecemasan tingkat ringan sampai
tingkat berat.Selain itu hal yang sama dijelaskan oleh (Ishaq, 2002:144)

6
a. Konflik kejiwaan

b. Kurangnya perhatian

Gangguan kurang perhatian dan hiperaktifitas adalah suatu kelainan


perilaku pada masa anak usia pra sekolah dan sering berlanjut sampai
dewasa dengan perilaku anti socia, sering tidak terkontrol, sulit duduk
tenang, gelisah, mudah tersinggung dan impulsif, juga ada kesulitan dalam
memusatkan perhatian, sering tidak mendengar apa yang sedang
dikatakan, sering kehilangan barangbarang yang rutin digunakan,
melakukan aktifitas fisik yang merugikan dirinya dan bersikap acuh.
Penderita sering menganggu anak lain seusianya, bolos sekolah serta
mengalami kesulitan di bidang akademis, menolak mengikuti instruksi,
dan sering berurusan dengan aparat ketika mereka berkeliaran pada wktu
jam belajar. Dan kita juga dapat melihat anak yang kurang perhatian
biasanya terjadi pada keluarga yang broken home dimana kedua orang tua
tidak peduli terhadap sianak sehingga sianak merasa terasing dimasyarakat
dan kadang juga dikucilkan.

c. Kelelahan

Ketika kita kelelahan maka hal tersebut sangat berpengaruh pada tubuh
dan penyebab kelelahan itu dapat berupa kelehan berolah raga atau pikiran
yang banyak dan juga kelelahan rohaniah dimana kekuatan batin atau jiwa
berkurang dan kita tidak mampu melakukan aktivias kita sebagaimana
biasanya. Kelelahan fisik dapat mengurangi kegiatan psikis dan fisik. Bisa
dikatakan bahwa antara fisik dan psikis, serta antara kelelahan fisik dan
kelelahan psikis mempunyai hubungan dimana ketika kita habis ujian atau
sedang wawancara kerja biarpun kita hanya duduk dan menjawab
pertanyaan yang diberikan setelah kegiatan tersbut selesai dilaksanakan
maka fisik kita akan terasa capek maka hal itu menujukkan bahwa antara
fisik dan psikis mempunyai hubungan yang sangat erat.

d. Ingatan dan lupa

Kita sangat mudah mengingat akan moment yang sangat indah dan kita
selalu merenung akan hal itu sehingga ingatan akan terbayang oleh kita.
Gejala- dejala yang membuat kita akan halpenting bisa disebabkan oleh
Obat-obatan, Trauma atau cedera kepala ringan, stress, dan ketika

7
meminum alkhol itu sangat berpengaruh pada ingatan dan juga pada
gangguan mental kita, mengonsumsi makan yang bergizi dapat meningkat
kan ingatan kita. Ada beberapa macam gangguan pada ingatan, seperti
Amnesia, kehilangan jati diri, Linglung dll.

e. Kepribadian

Gangguan kepribadian adalah pola perilaku atau cara berhubungan dengan


orang lain yang kaku. Kekakuan tersebut menghalangi mereka untuk
menyesuaikan diri terhadap tuntutan social, gangguan kepribadian yang
didasari dengan rasa ketidakpercayaan yang berlebihan terhadap apa pun,
kurang memiliki minat sosial dengan lingkungannya, gangguan
kepribadian yang didasari dengan rasa tidak nyaman dalam hubungan
dengan orang lain, penyimpangan pola pikir, memiliki persepsi dan
perilaku yang aneh.

f. Prustasi

Kata prustasi kita pribadi pasti sudah pernah merasakan hal itu dimana
kita merasakan kekecewa itulah namanya prustasi atau dimana kita kadang
diperlakukan tidak adil dan semua harapan yang kita harapkan jauh dari
hasil yang kita harapkan atau merasa frustasi dan ragu pada dirimu sendiri
atau kata prustasi kita tidak merasa semua sudah terlambat dan tidak ada
lagi gunanya. Kegagalan individu dalam mencapai tujuan atau
keinginanannya akan menyebabkan kekecewaan dalam diri individu
tersebut. Jika kekecewaan tersebut terjadi berulang-ulang dan menganggu
keseimbangan psikis, baik emosi maupun tindakan, indvidu tersebut
sudah berada dalam situasi frustasi. Adapun sumber yang menyebabkan
frustasi, mungkin berasal atau berwujud dari manusia, benda, peristiwa,
keadaan alam dan sebagainya.

2.3 Bentuk-Bentuk Gangguan Mental

Ganguaan jiwa artinya bahwa yang menonjol ialah gejala-gejlaa yang dari unsure
pisikis, gangguan mental itu adalah bentuk gejala ketidak stabilan seseorang
merasakan adanya kondisi kepribadian yang tidak sesuai dengan harapannya seperti

8
tidak tenang, pribadi yang anti social, pikiran kalut, gangguan jiwa yang paling
berbahaya itu jika dia sampai berpotensi membahayakan dirinya sendiri dan melukai
atau mengancam jiwa. Bentuk-bentukgangguan mental yang disampaikan oleh
(kartono, 2001:230) ada 3 yaitu:

a. Psikopat( pribadi yang sosiopatik, pribadi yang anti sosial)

gangguan mental yang ditandai dengan tidak adanya pengorganisasian dan


pengintegrasian pribadi.orang yang psikopat merupakan orang yang kurang
kasih saying atau bahkan tidak pernah mengalami apa itu namanya kasih, dan
bawaannya selalu marah tidak pernah merasa senang ataupun puas. Dan
jiwanya diliputi rasa benci, dendam, curiga, sikapnya aneh sering berperilaku
kasar , bertingkahlaku kegila-gilaan dan sering kali dicirikan dengan
penyimpangan seksual . reaksinya itu kekacauan pribadi yang simptomatik.

b. Psikoneurosa/ neurosa

Gangguan jiwa (neurosis) merupakan gangguan yang penderitanya masih


menyadari atas kondisi dirinya yang tengah terganggu. Ciri-ciri gangguan
wawasan yang tak lengkap mengenai sifat-sifat dan kesukarannya,
mengalami konflik batin, menampakkan reaksi kecemasan, adanya
kerusakan parsial pada aspek-aspek kepribadian.sebab timbulnya
psikoneurosa adalah tekanan social atau tekanan kultur yang sangat kuat ,
individu yang mengalami frustasi, individu yang lemah akan pertahanan diri
secara fisik dan mental dan pribadi yang tidak labil.

c. Psikosa fungsional

Individu yang tidak mampu berhubungan dengan dunia luar, realitas hidup
yangterputus dan adanya gangguan pada karakter dan fungsi intelektual nya

9
dan individu yang menderita sering mengamuk disertai kekerasan dan tingkah
lakunya sama seperti abnormal dan dia diangaap individu yang berbahaya dan
secara hukum pasien tersebut bisa dikatakan gila. Sebab dari psikosa ini
adalah bawaan mental atau gen yang diwariskan dan kebiasaan-kebiasaan
yang buruk sejak masa kanak-kanak .

Selain itu hal yang sama dijelaskan oleh (Sarwono, 2013:249) yaitu

a. Autism

Autism adalah gangguan neurologis, dimana ada gangguan otak atau


gangguan mental, Autism akibat dari mutasi atau perubahan genetika
sehingga bisa terjadi pada anak sipa sajadan juga Autism terjadi karena
salah obat dan biasnya Autism terlihat pada usia 2-3 tahun dimana tidak
ada kontak mata dengan orang lain ,l kalu dipanggil tidak menyahut
Autism tidak ada obatnmya namun pelatihan perilaku, penyesuaian
lingkungan hidup dan perubahan gaya social .

b. Fobia/ rasa takut yang tidak beralasan

Tanda fobia pada diri seseorang dapat mudah dikenali dari reaksi takut
berlebihan yang diperlihatkannya ketika melihat objek atau
menghadapi situasi tertentu. Selain rasa takut yang berlebihan, fobia juga
bisa disertai dengan serangan panik yang ditandai dengandisorientasi atau
bingung.pusing dan sakit kepala, mual, dada terasa sesak dan nyeri, sesak
napas, detak jantung meningkat, tubuh gemetar dan berkeringat, telinga
berdenging, sensasi ingin selalu buang air kecil, mulut terasa sering
menangis terus-menerus dan takut ditinggal sendirian (terutama pada
anak-anak)

10
c. Schizophrenia/ kelainan pada ekspresi

Scizophrenia adalah gangguan jiwa dengan gejala utama berupa waham


(keyakinan akan suatu hala yang sebenarnya tidak pernah terjadi atau tiak
nyata) dan halusinasi (keyakinan bahwa penderita melihat atau mendengar
sesuatu yang tidak sebenarnya tiak ada atau tidak terjadi. Kelainan pada
ekspresi yang dimaksud adalah halusinasi auditif (seakan-akan mendengar
suara atau ada yang mengajak untuk bercakap-cakap dan adanya delusi
paranoid (curiga) atau delusi yang tidak jelas.

d. Paranoia/kepribadian ganda

Paronia adalah orang yang sering curiga dan gangguan dalam proses
berpikir yang ditandai dengan kecamasan atau ketakutan yang berlebihan
sehingga mencapai tingkatyang tidak masuk akal dan disertai delusi.
Paronia mudah menguasai tubuh saat kondisi sedang menurun. Itu
sebabnya orang yang memiliki kepribadian ganda mudah merasa lelah saat
hari berganti, karena memang saat pergantian hari tidak dilalui oleh satu
pribadi yang sama.

2.4 Kerangka Pikir

Secara teoritis dikatakan bahwa gangguan mental itu bukan hanya diwariskan
atau faktor keturunan tetapi juga dipengaruhi oleh fakor lingkungan. Ganguan jiwa
atau gangguan mental banyak dipengaruhi berbagai hal atau bisa dikatakan gejala-
gejala penyebab gangguan jiwa berupa perasaan, sikap dan kepercayaan bahwa
seseorang hidup menyendiri, pesimis, putus asa, ketidak berdayaan, harga diri rendah,
bersalah, harapan yang negatif dan takut pada bahaya yang akan datang.

2.5 Kajian Terdahulu

Berdasarkan pemaparan diatas dapat dirumuskan hipotetis bahawa gangguan


mental itu bukan hanya dari faktor keturunan melainkan juga di pengaruhi kepada
siapa kita bergaul atua lingkungan.

11
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis penelitian

Penelitian ini deskriptif yang diarahkan untuk memberikan gambaran tentang


fakta-fakta atau kejadian secara sistematis dan akurat menggunakan metode kualitatif.
Dalam penelitaian kualitatif peneliti akan berusaha menggambarkan dan menjelaskan
suatu fenomena yang dimasyarakat berkaitan dengan gangguan mental di kota
Pekanbaru yang tidak hanya di pengaruhi oleh faktor kerurunan juga di pengaruhi
faktor lingkungan dimana tinggal atau bangaimana sosialnya.

3.2 populasi dan sampel

Populasi adalah sejumlah besar subjek yang mempunyai karakteristik tertentu (Sastoasmoro,
2011). Populasi pada penelitian ini seseorang yang mengalami gangguan mental yang
diakibatkan oleh faktor lingkungan. Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan
objek yang diteliti yang dan dianggap mewakili seluruh populasi ini (Notoarmodjo, 2012).
Sedangkan sampel pada penetian ini di ambil dari gangguan mental yang terjadi di daerah
pecan baru akibat dis organisasi keluarga.

3.3 Subjek penelitian

Untuk mementukan subyek penelitian supaya dapat menjaring yang memadai


agar dapar menemukan apa bfaktor terjadinya gangguanmental dan bagaimna
masyarakat menerima orang yang mengalami gangguan tersebut.

3.4 Jenis Dan Sumber Data


a. Data primer
Data primer dalah data yang didapat dari sumber pertama baik secara
individu kepada keluarganya seperti wawancara yang biasa dilakukan oleh
peneliti.

b. Data sekunder
Data sekunder adalah data primer yang diolah lebih lanjut dan disajikan
baik oleh pengumpil data primer atau pihak lain.

12
3.5 Analisis data

Analisis data terhadap penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif, penulis tidak terlalu
banyak memberikan prioritas pada penggambaran situasi atau dengan kata lain
penulis menggunakan konsep deskriptif analisis. Data yang dikumpulkan tersebut
dikelompokkan menurut jenisnya dan dianalisis secara deskriptif kualitatifyaitu suatu
analisa yang mengungkapkan fakta, keadaan, fenomena variable dan keadaan yang
terjadi saat penelitian berjalan dan menyungguhkan apa adanya.

Penelitian deskriptif menafsirkan dan menuturkan data yang bersangkutan dengan


situasi yang sedang terjadi untuk menyelidiki objek tidak adapat di ukur dengan
angka-angka ataupun ukuran lain yang bersifat eksak. Dan dari data tersebut akan
dianalisis secara dekriptif agar dalam menganalisa permasalahan penelitian tersebut
dapat berarti secara dapat menjawab apa yang menjadi permasalahannya.

Daftar pustaka

Kartono, kartini. 2001. Patologi sosial. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

http://eprints.ums.ac.id/43165/10/BAB%203.pdf

Kartono, Kartini. 2001. Patologi Sosial. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.

Ishaq, Isjoni.2002. Masalah Social Masyarakat. Pekanbaru: UNRI Press.

Sarwono, Sarlito W. 2013. Pengantar Psikologi Umum. Jakarta: Rajawali Pers.

13