Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

Selulitis preseptal adalah infeksi yang umum terjadi pada kelopak mata dan
jaringan lunak periorbital yang menimbulkan eritema kelopak mata akut dan edema.
Infeksi yang terjadi umumnya berasal dari persebaran dari infeksi lokal sekitar seperti
sinusitis, dari infeksi okular eksogen, atau mengikuti trauma terhadap kelopak mata.1
Selulitis preseptal dan selulitis orbita memiliki manifestasi klinis yang
mungkin mirip, akan tetapi kedua kondisi tersebut harus dibedakan. Selulitis preseptal
hanya melibatkan jaringan lunak di anterior septum orbital dan tidak melibatkan
struktur di dalam rongga orbita. Selulitis preseptal dapat menyebar ke posterior septum
orbita dan berprogresi selulitis orbita dan abses orbital atau subperiosteal. Infeksi pada
orbita sendiri dapat menyebar secara posterior dan menyebabkan meningitis atau
trombosis sinus kavernosus. Selulitis preseptal umumnya merupakan penyakit
pediatrik dengan 80% pasien berusia di bawah 10 tahun dan kebanyakan di antaranya
berusia di bawah 5 tahun. Pasien dengan selulitis preseptal memiliki kecenderungan
lebih muda dibanding pasien yang menderita selulitis orbita.
Selulitis orbita merupakan penyebab tersering proptosis pada anak- anak
sehingga perlu dilakukan pengobatan segera2. Mengingat selulitis preseptal dapat
berkembang menjadi selulitis orbita jika tidak ditangani dengan tepat, maka mengenal
penyakit ini dan menatalaksana dengan tepat merupakan suatu poin penting yang baik
jika dimiliki oleh dokter. Untuk itu, laporan kasus mengenai selulitis preseptal ini
diselenggarakan.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Orbita3,4
Orbita adalah sebuah rongga berbentuk segi empat seperti buah pir yang berada di
antara fossa kranial anterior dan sinus maksilaris. Tiap orbita berukuran sekitar 40 mm
pada ketinggian, kedalaman, dan lebarnya. Orbita dibentuk oleh 7 buah tulang:
Os. Frontalis, Os. Maxillaris, Os. Zygomaticum, Os. Sphenoid, Os. Palatinum, Os.
Ethmoid, Os. Lacrimalis.

Gambar 1. anatomi orbita

Secara anatomis orbita dibagi menjadi enam sisi, yaitu:

1. Dinding medial, terdiri dari os maxillaris, lacrimalis, ethmoid, dan sphenoid.


Dinding medial ini seringkali mengalami fraktur mengikuti sebuah trauma. Os
ethmoid yang menjadi salah satu struktur pembangun dinding medial merupakan
salah satu lokasi terjadinya sinusitis etmoidales yang merupakan salah satu
penyebab tersering selulitis orbita.

2. Dinding lateral, terdiri dari sebagian tulang sphenoid dan zygomaticum.

3. Langit- langit, berbentuk triangular, terdiri dari tulang sphenoid dan frontal. Defek
pada sisi ini menyebabkan proptosis pulsatil.

4. Lantai, terdiri dari os. Palatina, maxillaris, dan zygomaticum. Bagian

2
posteromedial dari tulang maksilaris relatif lemah dan seringkali terlibat dalam
fraktur blowout.
5. Basis orbita, merupakan bukaan anterior orbit

6. Apeks orbita, merupakan bagian posterior orbita dimana keempat dinding orbita
bekonvergensi, memiliki dua orifisium yaitu kanal optikus dan fisura orbital
superior

Septum orbital1,4
Pada orbita terdapat suatu membran jaringan ikat yang tipis yang melapisi
berbagai struktur. Membran tersebut terdiri dari fascia bulbi, muscular sheats,
intermuscular septa, dan ligamen lockwood. Di dalam orbita terdapat struktur-
struktur sebagai berikut: bagian n. optikus, muskulus ekstraokular, kelenjar lakrimalis,
kantung lakrimalis, arteri oftalmika, nervus III, IV, dan VI, sebagian nervus V, dan
fascia serta lemak.
Inflamasi periorbital dapat diklasifikasikan menurut lokasi dan derajat
keparahan. Salah satu pertanda anatomis dalam menentukan lokasi penyakit adalah
septum orbital. Septum orbital adalah membran tipis yang berasal dari periosteum
orbital dan masuk ke permukaan anterior lempeng tarsal kelopak mata. Septum
memisahkan kelopak mata superfisial dari struktur dalam orbital dan membentuk
barier yang mencegah infeksi dari kelopak mata menuju rongga orbita.

B. Fisiologi gejala2
Kakunya struktur tulang orbita menyebabkan lubang anterior menjadi satu-
satunya tempat ekspansi. Setiap penambahan isi orbita yang terjadi di samping atau
belakang bola mata akan mendorong organ tersebut ke depan, hal ini disebut dengan
proptosis. Penonjolan bola mata adalah tanda utama penyakit orbita. Proptosis dapat
disebabkan lesi- lesi ekspansif yang dapat bersifat jinak atau ganas, berasal dari tulang,
otot, saraf, pembuluh darah, atau jaringan ikat. Selain itu dapat juga terjadi proptosis
tanpa adanya penyakit orbita. Hal ini disebut dengan pseudoproptosis.
Pseudoproptosis dapat terjadi pada miopia tinggi, buftalmos, dan retraksi kelopak
mata. Proptosis sendiri tidak menimbulkan cedera kecuali membuat kelopak mata
tidak bisa ditutup, akan tetapi penyebab proptosis itu sendiri seringkali berbahaya.

3
Posisi mata ditentukan oleh lokasi massa. Ekspansi di dalam kerucut otot
mendorong mata lurus ke depan(proptosis aksialis), sedangkan massa yang tumbuh di
luar kerucut otot mendorong mata ke samping atau vertikal menjauhi massa
tersebut(proptosis non aksialis). Kelainan bilateral umumnya mengindikasikan
adanya penyakit sistemik misalanya penyakit graves. Istilah eksoftalmos sering
dipakai untuk menggambarkan proptosis pada graves. Proptosis pulsatil dapat
disebabkan oleh fistula karotiko kavernosa, malformasi pembuluh darah arteri orbita,
atau transmisi denyut otak akibat tidak adanya atap orbita superior. Proptosis yang
bertambah dengan penekukan kepala ke depan atau dengan perasat valsava merupakan
suatu tanda adanya malformasi vena orbita atau meningokel.
Pada perubahan posisi bola mata, terutama apabila terjadi dengan cepat,
mungkin timbul interferensi mekanis terhadap gerakan bola mata yang cukup untuk
membatasi pergerakan mata dan diplopia. Dapat timbul nyeri akibat ekspansi cepat,
peradangan, atau infiltrasi pada saraf sensoris. Penglihatan biasanya tidak terpengaruh
di awal ekcuali bila lesi berasal dari n. optikus atau langsung menekan saraf tersebut.
Tanda lainnya dapat berupa edema kelopak mata dan periorbital, diskolorisasi
kulit, ptosis, kemosis, dan injeksi epibulbar. Selain itu dapat juga terjadi perubahan
fundus seperti pembengkakan cakram optik, atrofi optik, kolateral optikosiliaris, dan
lipatan koroid.

C. Inflamasi orbita4
Penyakit inflamasi pada orbita dapat diklasifikasikan menjadi:
1. Inflamasi orbita akut dan inflamasi terkait

a. Selulitis preseptal

b. Selulitis orbita dan abses intraorbital

c. Osteoperiostitis orbita

d. Tromboflebitis orbita

e. Tenonitis
f. Trombosis sinus kavernosus
4
2. Inflamasi orbita kronik
a. Inflamasi spesifik
ii. Sifilis

iii. Actinomikosis

iv. Mukormikosis

v. Infestasi parasit
b. Inflamasi non spesifik
i. Penyakit inflamasi orbital idiopatik

ii. Sindroma tolosa hunt

iii. Periostitis orbital kronik

C.1. Selulitis preseptal1,3,4


Selulitis preseptal adalah infeksi pada jaringan subkutan di anterior septum orbital.
Selulitis preseptal harus dibedakan dengan selulitis orbita karena meskipun memiliki

Gambar 2. Septum orbita


gejala yang hampir serupa, penatalaksanaan dan komplikasi yang mungkin terjadi dari
kedua keadaan tersebut berbeda. Perlu diingat bahwa selulitis preseptal seringkali
berkembang menjadi selulitis orbital karena vena- vena fasial tidak memiliki katup
5
sehingga proses peradangan seringkali meluas ke posterior.
Etiologi
Organisme terbanyak penyebab selulitis preseptal adalah staphylococcus
aureus dan streptococcus pyogenes. Selain itu, beberapa bakteri anaerob juga sering
menjadi etiologi dari selulitis preseptal. Pada tahun 1985, penyebab tersering adalah
haemophilus influenzae. Sebuah studi saat itu menunjukkan bahwa sekitar 40% pasien
memiliki hasil kultur darah positif. Seiring dengan peningkatan penggunaan vaksin,
tren ini menurun dan saat ini pada kultur darah, organisme penyebab selulitis
seringkali tidak ditemukan atau negatif yang belum jelas diketahui alasan dan
keterkaitannya dengan penurunan hasil positif dari h. influenzae.

Jalur masuk infeksi sendiri dapat dibagi menjadi:

- Infeksi eksogen, misalnya seperti trauma atau gigitan serangga

- Penyebaran infeksi jaringan sekitar seperti sinusitis, dakriosistisis, atau hordeolum

- Infeksi endogen, berasal dari penyebaran infeksi dari tempat yang jauh seperti
saluran napas atas melalui rute hematogen.

Manifestasi klinis
Selulitis preseptal bermanifestasi sebagai edema inflamasi pada kelopak mata
dan kulit periorbital tanpa melibatkan orbita dan struktur di dalamnya. Maka itu,
karakteristik dari penyakit ini adalah pembengkakan periorbital akut, eritema, dan
hiperemia pada kelopak mata tanpa adanya gejala- gejala proptosis, kemosis,
gangguan visus, dan gangguan gerakan bola mata. Mungkin juga terdapat demam dan
leukositosis.
C.2. Selulitis orbita dan abses intraorbita
Selulitis orbita adalah infeksi akut pada jaringan lunak orbita di belakang
septum orbita. Selulitis orbita dapat berkembang menjadi abses subperiosteal atau
abses orbital.
Etiologi
Orbita dapat terinfeksi melalui tiga jalur seperti pada selulitis preseptal

6
- Infeksi eksogen, dapat berasal dari trauma tembus pada mata khususnya terkait
dengan retensi benda asing intraorbital dan kadang- kadang terkait dengan tindakan
bedah seperti eviserasi, enukleasi, dan orbitotomi.

- Persebaran infeksi sekitar, seperti sinusitis, infeksi gigi, dan struktur intraorbita.
Merupakan rute infeksi tersering.

- Infeksi endogen, jarang terjadi.

Organisme penyebab hampir serupa dengan selulitis preseptal, ditambah dengan


keterlibatan streptococcus pneumoniae.

Patologi
Penampakan patologik selulitis orbital mirip seperti inflamasi supuratif secara umum
kecuali dalam beberapa aspek, yaitu:

1. Karena tidak terdapat sistem limfatik, agen protektif terbatas pada elemen
fagositik dari jaringan retikular orbital

2. Karena ruang terbatas, tekanan intraorbital meningkat sehingga mengaugmentasi


virulensi infeksi menyebabkan nekrosis dini dan ekstensif terhadap jaringan

3. Umumnya, infeksi menyebar sebagai tromboflebitis dari struktur sekitar

7
Manifestasi Klinis
Gejala meliputi pembengkakan dan nyeri hebat yang meningkat dengan
gerakan bola mata atau pada penekanan. Gejala lainnya dapat berupa demam, mual,
muntah, prostrasi, dan terkadang kehilangan penglihatan.
Tanda yang sering dijumpai pada selulitis orbital adalah pembengkakan
kelopak mata yang kemerahan dan keras seperti kayu, kemosis konjungtiva yang dapat
mengalami protrusi dan menjadi nekrotik, bola mata mengalami proptosis aksial,
terdapat restriksi dari gerakan okular, dan pada pemeriksaan fundus didapati kongesti
vena retinal dan tanda papilitis atau papiloedema. Dapat juga ditemui disfungsi saraf
optik.

Komplikasi
Komplikasi dapat terjadi bila selulitis tidak ditangani dengan tepat. Komplikasi
terdiri dari komplikasi okular, orbital, dan komplikasi lainnya. Komplikasi okular
biasanya adalah kebutaan, keratopati, neuritis optik, dan oklusi arteri retina sentral.
Komplikasi orbital adalah perkembangan selulitis orbital menjadi abses subperiosteal
dan abses orbita. Abses subperiosteal adalah penumpukan material purulen antara
dinding tulang orbital dengan periosteum, biasanya terdapat pada dinding orbita
media. Biasanya abses subperiosteal dicurigai bila terdapat manifestasi selulitis orbita
dengan proptosis eksentrik. Namun, diagnosis dipastikan dengan CT scan. Abses
orbita merupakan penumpukan material purulen di dalam jaringan lunak orbital.
Secara klinis dicurgai dengan tanda- tandan proptosis parah, kemosis, oftalmoplegia
komplit, dan pus di bawah konjungtiva. Komplikasi lainnya berupa abses parotid atau
temporal, komplikasi intrakranial, dan septikemia general atau pyaemia.

D. Pemeriksaan penunjang
1). Kultur bakteri dari usap nasal dan konjungitva dan spesimen darah, 2).Pemeriksaan
darah perifer lengkap, 3) X-Ray PNS untuk mendeteksi adanya sinusitis terkait, 4).
USG orbital untuk mendeteksi adanya abses intra orbital, 5) CT-Scan dan MRI
berguna untuk a)Membedakan selulitits preseptal dan post septal, b) Mendeteksi abses
subperiosteal dan abses orbital, c)Mendeteksi ekstensi intracranial, d) Menentukan
kapan dan darimana dilakukan drainase abses orbital 6). Punksi lumbal bila terdapat
tanda- tanda keterlibatan meningel dan serebral.

8
Gambar 3. CT scan selulitis orbita(kiri) dan selulitis preseptal (kanan)

Tatalaksana
Selulitis preseptal ditatalaksana dengan terapi medikamentosa sedangkan
selulitis orbital, terutama yang telah menunjukkan komplikasi- komplikasi berbahaya
membutuhkan tindakan bedah segera.
Pengobatan selulitis preseptal menggunakan co-amoxiclav 500/125mg setiap
8 jam. Infeksi yang parah membutuhkan antibiotik IV. Pengobatan harus dimulai
sebelum organisme penyebab teridentifikasi. Terapi antibiotik awal harus mengatasi
stafilokokus, H. influenzae, dan bakteri anaerob. Selulitis pascatrauma, khususnya
setelah gigitan hewan, harus diberikan antibiotik untuk mengatasi basil gram negatif
dan gram positif. Dekongestan hidung dan vasokonstriktor dapat membantu drainase
PNS. Juga perlu diberikan analgesia dan NSAID untuk mengontrol nyeri dan demam.
Konsultasi dengan otorlaringologis sejak dini bermanfaat.
Sebagian besar kasus berespon cepat dengan pemberian antibiotik. Kasus yang
tidak berespon mungkin membutuhkan tindakan bedah seperti drainase PNS melalui
pembedahan. Pada selulitis praseptal supuratif diindikasikan drainase melalui
pembedahan sejak dini. MRI bermanfaat untuk menentukan kapan dan dimana
drainase harus dilakukan. Indikasi pembedahan lainnya adalah terdapatnya abses
intrakranial atau subperiosteal, dan gambaran atipikal yang mungkin membutuhkan
biopsi.

Prognosis
Dengan pengenalan dan penanganan yang tepat, prognosis untuk sembuh total
tanpa komplikasi sangat baik. Morbiditas terjadi dari penyebaran patogen ke orbita
yang dapat mengancam penglihatan dan berlanjut ke penyebaran CNS. Selulitis
9
orbital dapat berlanjut menjadi abses orbital dan menyebar secara posterior
menyebabkan trombosis sinus kavernosus. Penyebaran sistemik dapat menyebabkan
meningitis dan sepsis. Pada studi terhadap pasien pediatrik, faktor risiko tinggi adalah
sebagai berikut:

1. Usia di atas 7 tahun

2. Abses subperiosteal

Nyeri kepala dan demam yang menetap setelah pemberian antibiotik IV. Pasien yang
mengalami imunokompromais atau diabetes memiliki kecenderungan lebih tinggi
untuk mengalami infeksi fungal. Manajemen agresif dengan foto polos otak dan terapi
IV diindikasikan pada pasien ini.

10
BAB III
LAPORAN KASUS
Identitas
Nama pasien : An. AD
Jenis kelamin : Laki-laki
Usia : 16 tahun
Agama : Katholik

Anamnesis
Anamnesis dilakukan kepada pasien sendiri (Heteroanamnesis)

Keluhan utama
Bengkak pada mata kiri

Riwayat penyakit sekarang


Bengkak pada mata kiri dialami penderita sejak ± 8 hari yang lalu. ± 1 minggu yang
sebelumnya penderita mengalami sakit gigi. Satu hari sebelumnya keluar darah dari
lubang hidung kiri. Riwayat demam (+) satu hari sebelum mata kiri bengkak. Mata
kiri bengkak tidak disertai dengan nyeri. Mata berair (+), pengelihatan kabur (+).
Kemudian mata lama kelamaan semakin bengkak terutama dibagian kelopak bawah
mata. Riwayat alergi (-). Ada riwayat pengobatan sebelumnya ke spesialis mata.
kemudian pasien datang ke poliklinik Mata RSUP prof. dr. R. D. Kandou manado dan
MRS.

Riwayat penyakit dahulu


Riwayat sakit mata sebelumnya disangkal, riwayat batuk atau pilek sebelumnya
disangkal, riwayat sinusitis disangkal, riwayat trauma pada mata disangkal, riwayat
gigitan serangga disangkal riwayat gangguan tumbuh kembang disangkal, riwayat
penyakit bawaan disangkal, riwayat dirawat di rumah sakit sebelumnya disangkal,
riwayat operasi disangkal. Riwayat DM, asma, hipertensi, dan TB disangkal.

11
Riwayat penyakit keluarga
Tidak ada anggota keluarga yang mengalami keluhan serupa dengan pasien
sebelumnya. Riwayat DM disangkal, riwayat hipertensi disangkal, riwayat penyakit
bawaan disangkal, riwayat TB disangkal.

12
Pemeriksaan fisik
Keadaan umum : Kompos mentis, tampak sakit ringan
Tanda vital
 Tekanan darah : 120/80 mmHg
: 80 x/menit, reguler, isi cukup, akral
 Frekuensi nadi hangat
 Frekuensi napas : 22 x/menit, regular

 Suhu : 36,5 oC

Pemeriksaan oftalmologis
OD OS
6/6 Visus 6/9 f 3

Normal per palpasi TIO SDE


Orthophoria, gerakan baik Pergerakan Orthophoria, gerakan baik ke
ke segala arah dan segala arah
kedudukan
bola mata
Superior: Edema (+), spasme
T.A.K Palpebra (+), Hiperemis (+).
Inferior:
hiperemis (+),
Benjolan lunak uk: ±4x4 cm.

Injeksi konjungtiva (-), Konjungtiva Injeksi konjungtiva (+)


injeksi silier (-) injeksi silier (-), kemosis (+)

Jernih Kornea Jernih


TAK BMD TAK
Warna cokelat, kripte (+), Iris Warna cokelat, kripte (+),
sinekia (-) sinekia (-)

13
Bulat isokor, sentral, 3 mm, Pupil Bulat isokor, sentral, 3 mm,
RAPD (-) RAPD (-)
Jernih, shadow test (-) Lensa Jernih, shadow test (-)
Jernih Badan kaca Jernih
Refleks Fundus (+), Papil Funduskopi Refleks Fundus (+), Papil
bulat, batas tegas, CDR 0,3- bulat, batas tegas, CDR 0,3-
0,4, aa/vv 2/3, eksudat (-), 0,4, aa/vv 2/3, eksudat (-),
perdarahan (-) perdarahan (-)

Telinga : Serumen (-), hiperemis (-)


Hidung : Deformitas (-), edema (-)
Mulut : Ganggren radiks 26, Nekrosis pulpa 27, 36, 46.

Pemeriksaan penunjang
Hasil laboratorium/11-7-2015
Hb 12,2 gr/dL
Ht 36,0 %
Leukosit 23580 /uL
Hitung jenis 0/0/19/64/9/8
Trombosit 299.000
Ureum 24
Kreatinin 0,6
SGOT 51 U/L
SGPT 79 U/L

Diagnosis
1. Selulitis preseptal OS

14
Tatalaksana
IVFD RL 20 gtt/Menit
Ceftriaxone 2 x 1 g iv (skin test)
Metrodinazole 3 x 500 mg iv
Metilprednisolone 3 x 125 mg iv
Ranitidin 2 x 1 amp iv
Floxa ED 8 x gtt I OS
CT-Scan kepala tanpa kontras potongan axial dan coronal
Cek Lab

Prognosis
Ad Vitam : bonam
Ad Functionam : bonam
Ad Sanactionam : bonam

15
BAB IV
PEMBAHASAN
Pada anamnesis didapatkan laki-laki umur 16 tahun datang dengan keluhan
utama bengkak pada mata kiri. Bengkak pada mata kiri dialami penderita sejak ± 8 hari
yang lalu. ± 1 minggu yang sebelumnya penderita mengalami sakit gigi. Satu hari
sebelumnya keluar darah dari lubang hidung kiri. Riwayat demam (+) satu hari sebelum
mata kiri bengkak. Mata kiri bengkak tidak disertai dengan nyeri. Mata berair (+),
penglihatan kabur (+). Kemudian mata lama kelamaan semakin bengkak terutama
dibagian kelopak bawah mata. Riwayat alergi (-). Ada riwayat pengobatan sebelumnya
ke spesialis mata. kemudian pasien datang ke poliklinik Mata RSUP prof. dr. R. D.
Kandou manado dan MRS. Riwayat sakit mata sebelumnya disangkal, riwayat batuk
atau pilek sebelumnya disangkal, riwayat sinusitis disangkal, riwayat trauma pada mata
disangkal, riwayat gigitan serangga disangkal.

Pada pemeriksaan fisik ditemukan VOD 6/6 VOS 6/9f3, TIOD normal/palpasi
TIOS sukar dievaluasi. Pada inspeksi palpebra sinistra didapatkan pembengkakan
disertai hiperemis palpebra superior dan inferior dimana palpebra inferior lebih

bengkak dengan ukuran ukuran: ±4x4 cm. pergerakan dan kedudukan bola mata

normal kiri dan kanan (orthophoria, gerakan bola mata baik ke segala arah), adanya
injeksi dan ekmosis konjungtiva sinistra. Proptosis dan eksoftalmus (-). Pupil, lensa
kamera okuli anterior & posterior, badan kaca, serta pemeriksaan funduskopi tidak ada
kelainan. Pada pemeriksaan darah lengkap didapatkan adanya leukositosis, yakni
23580/uL.

Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang diatas


maka ditegakan diagnosis selulitis preseptal. Kasus selulitis preseptal paling sering
pada anak-anak dimana 80% dari keseluruhan kasus 80% dibawah umur 10 tahun dan
puncaknya pada umur dibawah 5 tahun namun pada kasus ini pasien berusia 16 tahun.
Dimana pada dewasa kecendrungan untuk terkena selulitis orbita.1 tidak adanya
gangguan pupil/RAPD (-), pergerakan bola mata normal (tidak nyeri saat menggerakan

16
bola mata ke segala arah), proptosis (-), pada fundus tidak ditemukan optic nerve
swelling dan venous engorgement menandakan bahwa infeksi terbatas pada daerah
preseptal tidak sampai ke daerah orbita sehingga diagnosis banding selulitis orbita
dapat disingkirkan. Diagnosis juga diperkuat dengan gambaran CT-Scan kepala tanpa
kontras potongan aksial dan coronal berupa swelling pada kelopak mata dan hanya
terbatas pada soft tissues preseptal, hilangnya detail dari soft tissues preseptal, dan tidak
adanya inflamasi orbital.1

Penanganan yang dilakukan pada pasien adalah rawat inap mengingat kondisi
selulitis preseptal dapat berkembang menjadi selulitis orbital dan mengakibatkan
berbagai komplikasi yang dapat menimbulkan kebutaan bagi pasien. Maka itu
penatalaksanaan awal dan prevensi perkembangan menjadi selulitis orbita sangat
diperlukan. Selulitis preseptal ditatalaksana dengan pengobatan medikamentosa secara
intravena. Obat yang digunakan adalah ceftriaxone 2 x 1 g iv, metrodinazole 3 x 500
mg, metilprednisolone 3 x 125 mg, ranitidine 2 x 1 amp. Selain itu diberikan tetes mata
antibiotic yaitu floxa 8 x gtt I pada OS.

17
BAB V
KESIMPULAN
Pasien laki-laki umur 16 tahun didiagnosis dengan selulitis preseptal
berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Pasien dirawat
inap dan diberikan antibiotik adekuat untuk mencegah komplikasi lebih lanjut dan
pemulihan sempurna. Prognosis pada pasien ini secara umum bonam.

18
DAFTAR PUSTAKA

1. Kwitko GM. Preseptal cellulitis. http://emedicine.medscape.com/article/121


8009-overview. 2012. Diakses: Juli 2015.
2. Sullivan JA,. Orbita. Dalam : Vaughan DG, Asbury T, Riordan EP, editor.
Oftalmologi Umum Edisi 17. Jakarta : Penerbit buku kedokteran EGC. 2007.
p. 251-256.

3. Kanski JJ, Bowling B. Clinical Ophthalmology: a systemic approach. 7th ed.


Elsevier, 2011.
4. Khurana AK. Comprehensive Ophthalmology. 4th ed. New age international,
2007. p. 377-378, 384-386.

19