Anda di halaman 1dari 43

PEDOMAN KESEHATAN LINGKANGAN

RS. ISLAM BANJARMASIN

BANJARMASIN
2016

i
DAFTAR ISI

Hal

HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i


VISI, MISI, MOTO DAN TUJUAN ................................................................. ii
DAFTAR ISI ................................................................................................ iii
SK DIREKTUR RS ISLAM BANJARMASIN TENTANG PEDOMAN
PELAYANAN KESEHATAN LINGKUNGAN RS ISLAM BANJARMASIN ............. iv
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1
A. Latar Belakang .......................................................................... 1
B. Tujuan Pedoman ....................................................................... 2
C. Ruang Lingkup Pelayanan ......................................................... 2
D. Batasan Operasional ................................................................ 2
E. Landasan Hukum ..................................................................... 3
BAB II STANDAR KETENAGAAN ................................................................. 5
A. Kualifikasi Sumber Daya Manusia............................................. 5
B. Distribusi Ketenagaan ............................................................... 5
C. Pengaturan Jaga ....................................................................... 5
BAB III STANDAR FASILITAS ..................................................................... 7
A. Denah Ruang............................................................................. 7
B. Standar Fasilitas ........................................................................ 8
BAB IV TATA LAKSANA PELAYANAN .......................................................... 10
A. Penyehatan bangunan dan ruangan ........................................ 10
B. Penyehatan hygiene dan sanitasi makanan dan minuman ...... 12
C. Penyehatan air, Pengelolaan limbah dan
Tempat Pencucian Linen, Dekontaminasi ................................ 14
1. Sanitasi Air .......................................................................... 14
2. Sanitasi Limbah ................................................................... 15
3. Sanitasi Linen ..................................................................... 18
4. Dekontaminasi melalui desinfeksi dan sterilisasi .............. 19
D. Pengendalian serangga, tikus dan binatang pengganggu ....... 19
E. lainnya ...................................................................................... 21
F. Pengamanan dampak radiasi .................................................. 22
ii
BAB V LOGISTIK ........................................................................................ 24
A. Penyehatan bangunan dan ruangan ........................................ 24
B. Penyehatan hygiene dan sanitasi makanan dan minuman ...... 24
C. Penyehatan air .......................................................................... 24
D. Pengelolaan limbah .................................................................. 24
E. Pengelolaan Tempat Pencucian Linen ...................................... 24
F. Pengendalian serangga, tikus dan binatang pengganggu
lainnya ...................................................................................... 24
G. Dekontaminasi melalui desinfeksi dan sterilisasi .................... 24
H. Pengamanan dampak radiasi .................................................. 25
I. Upaya promosi kesehatan dari aspek kesehatan lingkungan . 25
BAB VI KESELAMATAN PASIEN .................................................................. 26
A. Pembuangan Limbah yang Aman ............................................. 26
B. Pencegahan Penularan Kuman ................................................. 26
C. Pencegahan infeksi nosokomial ............................................... 27
1. Kebersihan Tangan dan APD .............................................. 27
2. Pengelolaan Linen............................................................... 28
3. Pengelolaan Limbah ........................................................... 28
4. Pengendalian Lingkungan Rumah Sakit.............................. 30
BAB VII KESELAMATAN KERJA ................................................................... 32
BAB VIII PENGENDALIAN MUTU ................................................................. 33
A. Penyehatan bangunan dan ruangan ........................................ 33
B. Penyehatan hygiene dan sanitasi makanan dan minuman ...... 34
C. Penyehatan air .......................................................................... 35
D. Pengelolaan limbah .................................................................. 37
E. Pengelolaan Tempat Pencucian Linen ...................................... 38
BAB IX PENUTUP ...................................................................................... 40

iii
Lamp : SK Direktur Rumah Sakit Islam Banjarmasin

Nomor :
Tentang : Pedoman Pelayanan Bagian Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit Islam
Banjarmasin

PEDOMAN KESEHATAN LINGKUNGAN


RUMAH SAKIT ISLAM BANJARMASIN

BAB I
PENDAHULUAN

Selama ini, salah satu cara rumah sakit di Indonesia melakukan peningkatan mutu
adalah dengan memenuhi standar pelayanan yang telah ditetapkan pemerintah, yaitu
melalui akreditasi rumah sakit. Akreditasi mempunyai pengertian suatu bentuk pengakuan
dari pemerintah kepada rumah sakit yang telah memenuhi standar minimum yang
ditentukan (Adisasmito, 2007). Namun, akreditasi rumah sakit belum memuat ketentuan
yang mengharuskan rumah sakit memenuhi pedoman pengelolaan lingkungan. Padahal
rumah sakit merupakan salah satu penghasil limbah terbesar dan apabila tidak dikelola
dengan baik akan membahayakan lingkungan.
Oleh karena itu, pengelolaan rumah sakit yang komprehensif merupakan hal yang
sangat penting, baik bagi rumah sakit maupun bagi masyarakat selaku pemakai jasa
pelayanan kesehatan rumah sakit. Terlepas dari tuntutan akreditasi, bagian kesehatan
lingkungan wajib menyusun standar kegiatan pengelolaan dan penyehatan lingkungan
rumah sakit berdasarkan AMDAL dan peraturan pemerintah tentang lingkungan. Hal ini
bertujuan untuk melindungi masyarakat dari bahaya pencemaran lingkungan akibat aktifitas
medis rumah sakit.

A. Latar Belakang
Kesehatan lingkungan adalah upaya perlindungan, pengelolaan dan modifikasi
lingkungan yang diarahkan menuju keseimbangan ekologi antara manusia dan
lingkungannya agar dapat menjamin keadaan sehat dan nyaman bagi kehidupan

1
manusia (Deppan RI, 2000). Kesehatan lingkungan rumah sakit diartikan sebagai upaya
penyehatan dan pengawasan lingkungan rumah sakit yang mungkin beresiko
menimbulkan penyakit dan atau gangguan kesehatan bagi masyarakat sehingga
terciptanya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya (Depkes RI, 2009).
Upaya kesehatan lingkungan rumah sakit meliputi kegiatan-kegiatan yang kompleks
sehingga memerlukan penanganan secara lintas program dan lintas sector serta
berdimensi multi disiplin, untuk itu diperlukan tenaga dan prasarana yang memadai
dalam pengawasan kesehatan lingkungan rumah sakit (Depkes RI, 2004).

B. Tujuan Pedoman
1. Sebagai pernagkat lunak upaya penyehatan llingkungan yang mengatur pengelolaan
dan peningkatan kesehatan di lingkungan rumah sakit.
2. Sebagai standar pelayanan minimal akreditasi lingkungan di rumah sakit Islam
Banjarmasin.
3. Sebagai tindakan antisipatif dari rumah sakit apabila terjadi tuntutan-tuntutan yang
berkenaan dengan segala aktivitas pelayanan medis di bidang pengelolaan
lingkungan.

C. Ruang Lingkup Pelayanan


Persyaratan kesehatan lingkungan rumah sakit berdasarkan Permenkes No.
1204/Menkes/SK/X/2004 adalah meliputi: sanitasi pengendalian berbagai factor
lingkungan fisik, kimiawi, biologi dan social psikologi di rumah sakit. Program sanitasi di
rumah sakit terdiri dari penyehatan bangunan dan ruangan, penyehatan makanan dan
minuman, penyehatan air, penyehatan tempat pencucian umum termasuk tempat
pencucian linen, pengendalian serangga dan tikus, sterilisasi/desinfeksi, perlindungan
radiasi, penyuluhan kesehatan lingkungan, pengendalian infeksi nosokomial, dan
pengelolaan sampah/limbah (Depkes RI, 2004).

D. Batasan Operasional
1. Penyehatan bangunan dan ruangan meliputi persyaratan: lingkungan bangunan
rumah sakit, konstruksi bangunan rumah sakit, ruang bangunan,kualitas udara

2
ruang, pencahayaan, penghawaan, kebisingan, fasilitas sanitasi rumah sakit, jumlah
tempat tidur, lantai dan dinding.
2. Penyehatan hygiene dan sanitasi makanan dan minuman meliputi persyaratan:
angka kuman pada makanan, kebersihan peralatan makan, penyimpanan makanan
dan bahan mentah, kelembaban penyimpanan, cara penyimpanan bahan makanan.
3. Penyehatan air meliputi persayaratan: kualitas air minum dan kualitas air yang
digunakan di ruang khusus.
4. Pengelolaan limbah meliputi persyaratan: limbah medis padat, limbah medis non
padat, limbah cair dan limbah gas.
5. Pengelolaan tempat pencucian linen meliputi persyaratan: suhu air panas,
penggunaan detergent dan desinfektan ramah lingkungan, standar kuman bagi
linen bersih.
6. Pengendalian serangga, tikus, dan binatang pengganggu lainnya meliputi
persyaratan: kepadatan jentik Aedes sp, tidak ditemukannya lubang tanpa kawat
kasa, bebas dari kecoa, tidak ditemukannya tanda-tanda keberadaan tikus, tidak
ditemukannya lalat, bebas kucing dan binatanghg pengganggu lainnya.
7. Dekontaminasi melalui desinfeksi dan sterilisasi meliputi persyaratan: suhu pada
desinfeksi secara fisik untuk peralatan sanitasi, desinfektan dan penggunaannya,
tingkat kepadatan kuman pada lantai dan dinding, sterilisasi peralatan, petugas
sterilisasi, hasil akhir proses sterilisasi.
8. Pengamanan dampak radiasi meliputi persyaratan: Nilai Batas Dosis (NDB) bagi
pekerja dan masyarakat.
9. Upaya promosi kesehatan dari aspek kesehatan lingkungan meliputi persyaratan:
bahwa semua rumah sakit harus melaksanakan upaya promosi hygiene dan sanitasi
yang pelaksanaannya dilakukan oleh tenaga/unit organisasi yang menangani
promosi kesehatan lingkungan rumah sakit.

E. Landasan Hukum
1. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1204 tahun 2004 tentang persyaratan
kesehatan lingkungan rumah sakit.

3
2. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara RI Nomor 19 tahun 2000
tentang jabatan fungsional sanitarian dan angka kreditnya.
3. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1087 tahun 2010 tentang standar K3 di
rumah sakit.
4. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1335 tahun 2002 tentang standar
operasional pengambilan dan pengukuran sampel kualitas udara ruangan rumah
sakit.
5. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 13 tahun 1995 tentang baku
mutu emisi sumber tidak bergerak.
6. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 129 tahun 2008 tentang standar pelayanan
minimal rumah sakit.
7. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 374 tahun 2010 tentang pengendalian
vektor.

4
BAB II
STANDAR KETENAGAAN

A. Kualifikasi Sumber Daya Manusia


Penanggung jawab kesehatan lingkungan di rumah sakit kelas C dan D (rumah
sakit pemerintah) dan yang setingkat adalah seorang tenaga yang memiliki kualifikasi
sanitarian serendah-rendahnya berijazah diploma (D3) di bidang kesehatan lingkungan
(Depkes RI, 2004). Adapun, di rumah sakit islam Banjarmasin penanggung jawab
kesehatan lingkungan dipegang seorang yang berijazah S1 kesehatan masyarakat.

B. Distribusi Ketenagaan
Jabatan sanitarian terdiri atas: sanitarian terampil dan sanitarian ahli. Dimana
sanitarian terampil berijazah minimal SLTA dan telah mengikuti pendidikan dan
pelatihan di bidang kesehatan lingkungan dan memperoleh sertifikat. Sedangkan,
sanitarian ahli minimal berijazah S1/DIV Kesehatan Masyarakat, Teknik Penyehatan,
Biologi, Kimia dan lingkungan serta telah mengikuti pendidikan dan pelatihan di bidang
kesehatan lingkungan dan memperoleh sertifikat.
Kondisi di rumah sakit islam Banjarmasin ketenagaan pada unit kesehatan
lingkungan hanya dua orang, dimana satu orang sebagai kepala urusan (penanggung
jawab) dengan kualifikasi pendidikan adalah sarjana kesehatan masyarakat dan satu
orang lainnya sebagai staf dengan kualifikasi pendidikan adalah diploma III kesehatan
lingkungan. Dari dua tenaga yang ada di unit kesehatan lingkungan, tidak ada satupun
yang telah mengikuti pendidikan dan pelatihan di bidang kesehatan lingkungan dan
memperoleh sertifikat.

C. Pengaturan Jaga
Rumah sakit bekerja 24 jam, maka banyak sekali masalah lingkungan yang tidak
terdeteksi dan terealisasi akibat sanitarian tidak ada pada jam tertentu, sehingga jadi
menumpuk dan akhirnya dianggap biasa dan tidak jadi masalah lagi. Peningkatan mutu
penyehatan lingkungan harus secara terus menerus sehingga dapat segera terpenuhi,
maka perlu adanya sanitarian jaga rumah sakit untuk sore dan malam yang melakukan

5
fungsi pengamatan dan pengawasan kesehatan lingkungan secara berkesinambungan
(Sabarguna dan Rubaya, 2011).
Kondisi pengaturan jaga sanitasi di rumah sakit Islam Banjarmasin (RSIB) masih
bersifat manajerial dan strutural yang memiliki jam kerja hanya pagi hari. Tetapi, untuk
meminimalisir masalah yang muncul pada sore hari maka sanitarian yang ada di RSIB
pun melakukan jaga sore minimal 4 kali dalam sebulan secara bergiliran. Penambahan
tenaga sanitarian terampil sangat diperlukan untuk shift sore dan malam secara kontinu.

6
BAB III
STANDAR FASILITAS

A. Denah Ruang
Kebutuhan ruang, fungsi dan luasan ruang serta kebutuhan fasilitas instalasi sanitasi
sesuai pedoman teknis fasilitas rumah sakit kelas B sebagai berikut:
Tabel:
Kebutuhan Ryang, Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas Instalasi Sanitasi
No Nama Ruangan Fungsi Ruang Luas Ruang Kebutuhan Fasilitas
1 Ruang kerja dan Ruang para petugas 3-5 m2 per Meja, kursi, lemari
arsip melaksanakan petugas (min. 6 arsip, telepon, safety
kegiatan m2) box
dokumentasi hasil
pemantauan dan
ruang simpanan
arsip
2 Ruang Ruang tempat 1-1.5 m2 per Bak cuci peralatan lab,
Laboratorium pemeriksaan petugas gelas ukur, pH meter,
Kesling kesling rumah sakit (min. 12 m2) DO meter,
spektrofotometer,
reagen, bahan kimia,
pipet dll
3 Area Area tempat Sesuai Sesuai metode yang
Pengolahan Air mengolah air kebutuhan digunakan
Limbah limbah
4 Area Area tempat Sesuai Alat pengeruk sampah,
Incinerator pembakaran kebutuhan troli sampah, sapu,
limbah padat medis mesin incinerator
5 Area TPS Area penampungan Sesuai Alat pengeruk sampah,
sementara limbah kebutuhan troli sampah, sapu
padat non medis

7
6 WC petugas WC Pria/wanita Kloset, westafel, bak
luas 2-3 m2 air

B. Standar Fasilitas
1. Penyehatan bangunan dan ruangan
Peralatan pengambilan dan pengukuran sampel kualitas udara di rumah sakit
meliputi (Depkes RI, 2002):
a. Termometer untuk mengukur suhu, hygrometer untuk mengukur kelembaban,
lightmeter untuk mengukur pencahayaan, Low Volume Air Sample (LVS) untuk
mengukur debu total (TSP), Sound Level Meter untuk mengukur kebisingan.
b. Impinger Gas Sampler dan plastic bag untuk mengambil sampel kimia-gas
c. Mikrobiologi Air Sampler untuk mengambil sampel mikrobiologi
2. Penyehatan hygiene dan sanitasi makanan minuman (Depkes RI, 2003)
Peralatan pemeriksaan contoh makanan dan specimen jasaboga untuk dikirim ke
laborat: contoh makanan, usap alat makan, usap alat masak, air, usap dubur
karyawan.
3. Penyehatan air (Depkes RI, 2004)
a. Standar fasilitas: instalasi pengolahan air tambahan, desinfeksi, tangki air
b. Meter air atau manometer untuk mengukur distribusi air
c. pH meter untuk memeriksa pH, komparator untuk memeriksa sisa klor, TDS
meter untuk memeriksa kekeruhan (pemeriksaan wajib harian)
d. Termometer air, pH meter , DO meter, Test Kit Merckoquant untuk mengukur
kandungan NH3, kesadahan, alkalinitas, kecerahan (pemeriksaan fisika-kimia)
4. Pengelolaan limbah (Depkes RI, 2004)
a. Standar fasilitas limbah cair: rumah sakit harus memiliki IPAL
b. Flowmeter untuk mengukur debit laju limbah cair
c. Standar fasilitas limbah padat: wadah sampah, troli sampah, TPS medis, TPS non
medis, TPS B3, otoklaf atau dengan pembakaran incinerator
d. Standar fasilitas limbah gas; cerobong emisi dilengkapi sarana pendukung dan
alat pengaman (Kementerian LH, 1995)

8
e. Alat ukur pemantauan cerobong meliputi kadar dan laju alir volume serta alat
ukur arah dan kecepatan angin
5. Pengelolaan tempat pencucian linen (Depkes RI, 2004)
Peralatan pemeriksaan usap linen bersih untuk dikirim ke laboratorium
6. Pengendalian serangga, tikus, dan binatang pengganggu lainnya (Depkes RI, 2010)
a. Surveilans nyamuk: aspirator, sweeper aspirator, spray sheet, drop net, pit
shelter trap, insect net, double bet net trap, animal bet net trap, CO2 bait net
trap, window trap, light trap, ovitrap, emergency trap, mangon trap, bio assay
test kit untuk mengukur kekuatan racun serangga terhadap nyamuk dewasa
maupun nyamuk pradewasa, susceptibility test untuk mengukur racun serangga
b. Alat optic surveillance: kaca pembesar, mikroskop stereo, mikroskop compound
c. Alat entomologi nyamuk di laboratorium: silicagel, impregnated paper, vial
botol, bacto liver, slide box plastic, paper cup, jarum seksi, lem kutek bening,
filter paper whatman, alcohol, vial plastik, chloroform PA, petridish, kain kassa,
karet gelang, batu baterai besar, slide glass, cover glass, pinset, pipet, kurungan
nyamuk, lampu Bunsen, refrigerator, insect box, panches
d. Alat ukur factor-faktor lingkungan saat surveillance: minimum-maximum
thermometer, thermometer, sling hygrometer, salinity sphectrometer, pH
indicator, anemometer, pengukuran curah hujan, altimeter, lensatic compass,
dipper
e. Surveilance kecoa dan tikus: senter
f. Surveilance lalat: fly grill, counter
7. Dekontaminasi melalui desinfeksi dan sterilisasi (Depkes RI, 2004)
Peralatan pemeriksaan usap lantai dan dinding untuk dikirim ke laboratorium
8. Pengamanan dampak radiasi (Depkes RI, 2004)
Survey meter, dekontaminasi kit, alat-alat pemeriksaan tanda-tanda radiasi
9. Upaya promosi kesehatan dari aspek kesehatan lingkungan (Depkes RI, 2004)
Alat peraga, media cetak untuk promosi. Media elektronik untuk promosi

9
BAB IV
TATA LAKSANA PELAYANAN

A. Penyehatan Bangunan dan Ruangan


Aspek lingkungan dan bangunan rumah sakit yang secara langsung terkait kepuasan
pasien digambarkan sebagai berikut:

Lingkungan
dan 1. Batas
bangunan 2. Konstruksi
3. Tatat ruang
4. Udara, cahaya, suara Kepuasan pasien:
5. Fasilitas sanitasi 1. Lokasi
2. Kebersihan
3. Kenyamanan

1. Pemeliharaan Ruang Bangunan


a. Kegiatan pembersihan ruang minimal dilakukan pagi dan sore hari.
b. Pembersihan lantai di ruang perawatan pasien dilakukan setelah
pembenahan/merapikan tempat tidur pasien, jam makan, jam kunjungan dokter,
kunjungan keluarga, dan sewaktu-waktu bilamana diperlukan.
c. Cara-cara pembersihan yang dapat menebarkan debu harus dihindari.
d. Pada masing-masing ruang supaya disediakan perlengkapan pel tersendiri.
e. Pembersihan dinding dilakukan secara periodik minimal 2 (dua) kali setahun dan
di cat ulang apabila sudah kotor atau cat sudah pudar.
f. Setiap percikan ludah, darah atau eksudat luka pada dinding harus segera
dibersihkan dengan menggunakan antiseptik.
2. Penghawaan (ventilasi) dan pengaturan udara
a. Bila menggunakan sistem pendingin, hendaknya dipelihara dan dioperasikan
sesuai buku petunjuk dan filter udara harus dibersihkan dari debu dan bakteri
atau jamur
b. Ruangan dengan volume 100 m3 sekurang-kurangnya 1 (satu) fan dengan
diameter 50 cm dengan debit udara 0,5 m3/detik, dan frekuensi pergantian
udara per jam adalah 2 (dua) sampai dengan 12 kali.

10
c. Penghawaan alamiah, lubang ventilasi diupayakan sistem silang (cross
ventilation) dan dijaga agar aliran udara tidak terhalang. Penghawaan mekanis
dengan menggunakan exhaust fan atau air conditioner dipasang pada ketinggian
minimum 2,00 meter di atas lantai atau minimum 0,20 meter dari langit-langit.
d. Untuk mengurangi kadar kuman dalam udara ruang (indoor) 1 (satu) kali sebulan
harus disinfeksi dengan menggunakan aerosol atau disaring dengan elektron
presipitator atau menggunakan penyinaran ultra violet.
e. Pemantauan kualitas udara ruang minimum 2 (dua) kali setahun dilakukan
pengambilan sampel dan pemeriksaan parameter kualitas udara (kuman, debu,
dan gas).
3. Pencahayaan dan kebisingan
a. Lingkungan rumah sakit, baik dalam maupun luar ruangan harus mendapat
cahaya dengan intensitas yang cukup berdasarkan fungsinya.
b. Sumber-sumber bising yang berasal dari rumah sakit dan sekitarnya agar
diupayakan untuk dikendalikan antara lain dengan cara :
 Sumber bising di rumah sakit peredaman. Penyekatan, pemindahan,
pemeliharaan mesin-mesin yang menjadi sumber bising.
 Sumber bising dari luar rumah sakit : penyekatan/penyerapan bising dengan
penanaman pohon (freen belt), meninggikan tembok, dan meninggikan tanah
(bukit buatan).
4. Fasilitas Sanitasi Rumah Sakit
a. Harus tersedia air minum sesuai dengan kebutuhan.
b. Tersedia air bersih minimum 500 lt/tempat tidur/hari
c. Distribusi air minum dan air bersih disetiap ruangan/kamar harus menggunakan
jaringan perpipaan yang mengalir dengan tekanan positif.
d. Fasilitas toilet dan kamar mandi harus tersedia dan selalu terpelihara serta
dalam keadaan bersih.
e. Pada setiap unit ruangan harus tersedia toilet dan tempat cuci tangan
tersendiri. Khususnya untuk unit rawat inap dan kamar karyawan harus tersedia
kamar mandi.

11
f. Toilet dan kamar mandi harus terpisah antara pria dan wanita, unit rawat inap
dan karyawan, serta toilet karyawan dan pengunjung.

B. Penyehatan hygiene dan sanitasi makanan dan minuman


Sanitasi makanan dan minuman (makmin) penting di rumah sakit, karena rumah
sakit harus mencegah adanya penularan penyakit lewat makanan secara nyata.
Pelayanan gizi rumah sakit hendaknya menyediakan makmin yang tidak menimbulkan
bahaya serta pengolahan makmin harus berjalan tanpa menimbulkan infeksi
nosokomial.

Makanan dan
minuman di RS
1. Keharusan sehari-hari
2. Pencegahan penularan penyakit
3. Ketentuan gizi
4. Makanan diet
Beban Biaya
Mencegah infeksi Nosokomial

1. Bahan Makanan dan Makanan Jadi


a. Pembelian bahan sebaiknya ditempat yang resmi dan berkualitas baik, bahan
makanan kemasan (olahan) harus mempunyai label dan merek serta dalam
keadaan baik
b. Bahan makanan dan makanan jadi yang berasal dari instalasi Gizi atau dari
luar rumah sakit/jasaboga harus diperiksa secara fisik, dan laboratorium
minimal 1 bulan sekali sesuai Peraturan Menteri Kesehatan No.
715/MenKes/SK/V/2003 tentang Persyaratan Hygiene Sanitasi Jasaboga.
2. Bahan Makanan Tambahan
Bahan makanan tambahan (bahan pewarna, pengawet, pemanis buatan) harus
sesuai dengan ketentuan.
3. Penyimpanan Bahan Makanan dan Makanan Jadi
Tempat penyimpanan bahan makanan harus selalu terpelihara dan dalam
keadaan bersih, terlindung dari debu, bahan kimia berbahaya, serangga dan
hewan lain.

12
4. Pengolahan Makanan
a. Perlu disediakan tempat pengolahan makanan (dapur) sesuai dengan
persyaratan konstruksi, bangunan dan ruangan dapur. Asap dikeluarkan
melalui cerobong yang dilengkapi dengan sungkup asap.
b. Sebelum dan sesudah kegiatan pengolahan makanan, dapur selalu
dibersihkan dengan antiseptik.
c. Peralatan masak tidak boleh melepaskan zat beracun kepada makanan dan
tidak boleh patah dan kotor.
d. Peralatan agar dicuci segera sesudah digunakan, selanjutnya didesinfeksi dan
dikeringkan. Kemudian disimpan dalam keadaan kering dan disimpan pada
rak terlindung dari vektor.
e. Penjamah makanan harus sehat dan bebas dari penyakit menular, diperiksa
kesehatannya secara berkala minimal 2 kali setahun, termasuk pemeriksaan
usap dubur.
f. Penjamah makanan harus menggunakan APD pengolahan makan dapur,
selalu mencuci tangan sebelum bekerja dan setelah keluar dari kamar kecil.
g. Makanan yang telah siap santap perlu diperhatikan dalam cara
pengangkutannya.
h. Cara penyajian makanan harus terhindar dari pencemaran dan peralatan yang
dipakai harus bersih.
i. Makanan jadi yang sudah menginap tidak boleh disajikan kepada pasien.
5. Pengawasan Hygiene dan Sanitasi Makanan dan Minuman
a. Pengawasan internal yang dilakukan oleh petugas sanitasi atau petugas
penanggung jawab kesehatan lingkungan rumah sakit: pemeriksaan
mikrobiologi dan kimiawi, Pengawasan secara berkala dan pengambilan
sampel dilakukan minimal 2 (dua) kali dalam setahun. Dan, pengambilan
sampel bila terjadi keracunan makanan dan minuman.

13
b. Pengawasan eksternal dilakukan dengan uji petik oleh Petugas Sanitasi Dinas
Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota secara insidentil atau mendadak
untuk menilai kualitas.

C. Penyehatan air, Pengelolaan limbah dan Tempat Pencucian Linen, Dekontaminasi


Penyehatan air, pengelolaan limbah dan tempat pencucian linen, serta desinfeksi
dan sterilisasi terkait secara langsung dengan pengendalian infeksi nosokomial yang
merupakan aspek penting dari keselamatan pasien. Sanitasi air, limbah, maupun linen
yang buruk akan berakibat buruk pada rentetan kegiatan lainnya.
1. Kuantitas
Air
2. Kualitas
3. Sarana

1. Limbah padat
Limbah
2. Limbah cair
3. Kualitas effluent

1. Pengolahan infeksi
Linen
2. Pengolahan non infeksi

Desinfeksi dan Sterilisasi Keselamatan Pasien

1. Alat
2. Bahan Kimia
1. Sanitasi Air
a. Melakukan inspeksi sanitasi terhadap sarana air minum dan air bersih
minimal 1 tahun sekali.
b. Pemeriksaan kimia air minum dan/atau air bersih dilakukan minimal 2 (dua)
kali setahun (sekali pada musim kemarau dan sekali pada musim hujan) dan
titik pengambilan sampel masing-masing pada tempat penampungan
(reservoir) dan keran terjauh dari reservoir. Titik pengambilan sampel air

14
untuk pemeriksaan mikrobiologik terutama pada air kran dari ruang dapur,
ruang operasi, kamar bersalin, kamar bayi, dan ruang makan, tempat
penampungan (reservoir), secara acak pada kran-kran sepanjang sistem
distribusi, pada sumber air, dan titik-titik lain yang rawan pencemaran.
c. Pengambilan dan pengiriman sampel air dapat dilaksanakan sendiri oleh pihak
rumah sakit dan diperiksakan pada laboratorium yang berwenang, atau
dilaksanakan oleh pihak ketiga yang direkomendasikan oleh Dinas Kesehatan.
d. Setiap 24 jam sekali rumah sakit harus melakukan pemeriksaan kualitas air
untuk pengukuran sisa khlor bila menggunakan disinfektan kaporit, pH dan
kekeruhan air minum atau air bersih yang berasal dari sistem perpipaan
dan/atau pengolahan air pada titik/tempat yang dicurigai rawan pencemaran.
e. Petugas sanitasi atau penanggung jawab pengelolaan kesehatan lingkungan
melakukan analisis hasil inspeksi sanitasi dan pemeriksaan laboratorium,
apabila terdapat parameter yang menyimpang maka harus dilakukan
pengolahan, apabila tingkat risiko pencemaran amat tinggi maka harus
dilakukan perbaikan sarana.
2. Sanitasi Limbah
a. Limbah Medis Padat
1) Melaksanakan minimalisasi limbah medis padat dengan:
 Menyeleksi bahan-bahan yang kurang menghasilkan limbah sebelum
membelinya.
 Menggunakan sedikit mungkin bahan-bahan kimia, termasuk dalam
pembersihan.
 Mencegah bahan-bahan yang dapat menjadi limbah.
 Menghabiskan bahan dari setiap kemasan.
 Memesan bahan-bahan sesuai kebutuhan
 Memonitor alur penggunaan bahan kimia dari bahan baku sampai
menjadi B3.
 Menggunakan bahan-bahan yang diproduksi lebih awal untuk
menghindari kadaluarsa dan mengecek tanggal kadaluarsa saat
diantar oleh distributor.

15
2) Melakukan pemilahan, pewadahan, pemanfaatan kembali dan daur ulang:
 Pemilahan jenis limbah medis padat mulai dari sumber
 Pewadahan limbah medis padat terbuat dari bahan yang kuat, cukup
ringan, tahan karat, kedap air, dan mempunyai permukaan yang halus
pada bagian dalamnya, misalnya fiberglass. Untuk benda-benda tajam
hendaknya ditampung pada tempat khusus (safety box) seperti botol
atau karton yang aman.
 Kantong plastik yang telah dipakai dan kontak langsung dengan limbah
infeksius dan sitotoksik tidak boleh digunakan lagi, sedangkan tempat
sampah yang tidak langsung kontak harus dibersihkan dengan larutan
desinfektan apabila dipergunakan kembali.
 Upaya khusus harus dilakukan apabila terbukti ada kasus pencemaran
spongiform encephalopathies.
3) Membakar limbahnya selambat-lambatnya 24 jam menggunakan
incinerator sendiri maupun kerjasama dengan rumah sakit lain atau pihak
lain.
4) Mengangkut limbah medis yang sudah terkemas dalam kantong yang
aman dan harus diletakkan dalam container yang kuat dan tertutup,
petugas yang menangani limbah, harus menggunakan alat pelindung diri.
5) Melakukan pengolahan, pemusnahan, dan pembuangan akhir limbah
medis padat:
 Limbah Infeksius dan Benda Tajam: harus diolah dengan incinerator,
residunya dapat dibuang ke tempat pembuangan B3 atau dibuang ke
landfill jika sudah aman.
 Limbah Farmasi: dalam jumlah besar harus dikembalikan kepada
distributor, sedangkan bila dalam jumlah sedikit dan tidak
memungkinkan dikembalikan, supaya dimusnahkan melalui
insinerator pada suhu diatas 1.000° C.
 Limbah Sitotoksis sangat berbahaya: pembuangan yang dianjurkan
adalah dikembalikan ke distribusinya, insinerasi pada suhu tinggi

16
sekitar 1.200° C yang dilengkapi dengan penyaring debu dan peralatan
pembersih gas.
 Limbah Bahan Kimiawi: Pembuangannya lebih ditentukan kepada sifat
bahaya yang dikandung oleh limbah tersebut. Limbah tertentu yang
bisa dibakar, dikembalikan ke distributornya atau dikirim ke negara
lain yang mempunyai peralatan yang cocok untuk megolahnya.
 Limbah dengan kandungan logam berat tinggi: Limbah yang
mengandung Hg atau Cd tidak boleh diinsenerasi melainkan dibuang
ke tempat penyimpanan yang aman sebagai pembuangan akhir untuk
limbah industry yang berbahaya. Bila hanya dalam jumlah kecil dapat
dibuang dengan limbah biasa.
 Limbah kontainer bertekanan: dengan daur ulang, apabila masih
dalam kondisi utuh dapat dikembalikan ke distributor untuk pengisian
ulang gas. Tidak diperbolehkan masuk dalam incinerator karena dapat
meledak.
 Limbah radioaktif: dibuang sesuai dengan persyaratan teknis PP
nomor 27 tahun 2002 dan kemudian diserahkan ke BATAN untuk
penanganan lebih lanjut.
b. Limbah Padat Nonmedis
1) Pemilahan limbah nonmedis antara limbah yang dapat dimanfaatkan
dengan limbah yang tidak dapat dimanfaatkan kembali, dan antara limbah
basah dan limbah kering.
2) Tempat pewadahan terbuat dari bahan yang kuat, cukup ringan, tahan
karat, kedap air, dan mempunyai permukaan yang mudah dibersihkan
pada bagian dalamnya, misalnya fiberglass. Mempunyai tutup yang
mudah dibuka dan ditutup tanpa mengotori tangan, harus diangkut
apabila bagian kantong sudah terisi oleh limbah.
3) Pengangkutan dari setiap ruangan ke tempat penampungan sementara
menggunakan troli tertutup.
4) TPS limbah tidak merupakan sumber bau, dan lalat bagi lingkungan
sekitarnya dan dilengkapi saluran untuk cairan lindi. TPSselalu dalam

17
keadaan tertutup bila sedang tidak diisi serta mudah dibersihkan. TPS
dikosongkan dan dibersihkan sekurang-kurangnya 1 x 24 jam.
5) Upaya untuk mengurangi volume, mengubah bentuk atau memusnahkan
limbah padat dilakukan pada sumbernya.
6) Limbah domestic dibuang ke lokasi pembuangan akhir yang dikelola oleh
pemerintah daerah (Pemda).

c. Limbah Cair
1) Saluran pembuangan limbah harus menggunakan sistem saluran tertutup,
kedap air, dan limbah harus mengalir dengan lancar, serta terpisah
dengan saluran air hujan.
2) Rumah sakit harus memiliki instalasi pengolahan limbah cair sendiri atau
bersama-sama secara kolektif dengan bangunan disekitarnya yang
memenuhi persyaratan teknis.
3) Perlu dipasang alat pengukur debit limbah cair untuk mengetahui debit
harian limbah yang dihasilkan.
4) Frekuensi pemeriksaan kualitas limbah cair terolah (effluent) dilakukan
setiap bulan sekali untuk swapantau dan minimal 3 bulan sekali uji petik
sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
d. Limbah Gas
1) Monitoring limbah gas berupa NO2, So2, logam berat, dan dioksin
dilakukan minimal 1 (satu) kali setahun
2) Suhu pembakaran minimum 1.000° C untuk pemusnahan bakteri patogen,
virus, dioksin, dan mengurangi jelaga dan dilengkapi alat untuk
mengurangi emisi gas dan debu.
3) Melakukan penghijauan dengan menanam pohon yang banyak
memproduksi gas oksigen dan dapat menyerap debu.
3. Sanitasi Linen
a. Di tempat laundry tersedia kran air bersih dengan kualitas dan tekanan aliran
yang memadai, air panas untuk disinfeksi dan tersedia disinfektan.

18
b. Peralatan cuci dipasang permanen dan diletakkan dekat dengan saluran
pembuangan air limbah.
c. Tersedia ruangan dan mesin cuci yang terpisah untuk linen infeksius dan non
infeksius.
d. Laundry harus disediakan ruang-ruang terpisah sesuai kegunaannya.
e. Perlakuan terhadap linen: Pengumpulan, penerimaan, pencucian,
pengangkutan.
f. Petugas yang bekerja dalam pengelolaan laundry linen harus menggunakan
pakaian kerja khusus, alat pelindung diri dan dilakukan pemeriksaan
kesehatan secara berkala, serta dianjurkan memperoleh imunisasi hepatitis B.
4. Dekontaminasi melalui desinfeksi dan sterilisasi
a. Kamar/ruang operasi yang telah dipakai harus dilakukan disinfeksi dan
disterilisasi sampai aman untuk dipakai pada operasi berikutnya.
b. Semua benda atau alat yang akan disterilkan/didisinfeksi harus terlebih
dahulu dibersihkan secara seksama untuk menghilangkan semua bahan
organik (darah dan jaringan tubuh) dan sisa bahan linennya.
c. Setiap alat yang berubah kondisi fisiknya karena dibersihkan, disterilkan atau
didisinfeksi tidak boleh dipergunakan lagi.
d. Jangan menggunakan bahan seperti linen, dan lainnya yang tidak tahan
terhadap sterilisasi karena akan menyebabkan kerusakan.
e. Sterilisasi dan disinfeksi terhadap ruang pelayanan medis dan peralatan medis
dilakukan sesuai permintaan dari kesatuan kerja pelayanan medis dan
penunjang medis.

D. Pengendalian serangga, tikus dan binatang pengganggu lainnya


Dalam hal ini dibatasi pada surveilens vector adalah pengamatan vector secara
sistematis dan terus menerus dalam hal kemampuannya sebagai penular penyakit untuk
upaya pengendalian.
1. Surveilans nyamuk, kecoa, tikus, lalat dan binatang pengganggu lainnya.
a. Pengamatan jentik Aedes sp. setiap 1(satu) minggu, pengamatan lubang dengan
kawat kasa, konstruksi pintu harus membuka ke arah luar.

19
b. Pengamatan kecoa secara visual setiap 2 (dua) minggu.
c. Pengamatan tikus setiap 2 (dua) bulan di daerah bangunan tertutup (core)
rumah sakit.
d. Mengukur kepadatan lalat secara berkala dengan menggunakan fly grill pada
daerah core.
e. Mengamati secara berkala kucing dan anjing.

2. Pencegahan nyamuk, kecoa, tikus, lalat dan binatang pengganggu lainnya.


a. Nyamuk: melakukan Pembersihan Sarang Nyamuk (PSN), menutup saluran air
limbah, membersihkan tanaman, memasang kawat kasa, dan menggunakan
kelambu di ruang perawatan anak.
b. Kecoa: menyimpan makanan pada tempat tertutup, mengelola sampah yang
memenuhi sayarat kesehatan, menutup lubang-lubang atau celah-celah agar
kecoa tidak masuk ke dalam ruangan.
c. Tikus: menutup saluran terbuka dan lubang dalam ruangan, mengelola sampah.
d. Lalat: mengelola sampah/limbah yang memenuhi syarat kesehatan.
e. Binatang pengganggu lainnya: mengelola makanan dan limbah yang memenuhi
syarat kesehatan.
3. Pemberantasan
a. Nyamuk
1) Pemberantasan dilakukan apabila larva atau jentik nyamuk Aedes sp. > 0
dengan abatisasi.
2) Melakukan pemberantasan larva/jentik dengan menggunakan predator.
3) Bila diduga ada kasus demam berdarah yang tertular di rumah sakit, maka
perlu dilakukan pengasapan (fogging) di rumah sakit.
b. Kecoa
1) Pembersihan telur kecoa dengan cara mekanis, yaitu membersihkan telur
yang terdapat pada celah-celah dinding, lemari, peralatan dan telur kecoa
dimusnahkan dengan dibakar/dihancurkan.
2) Pemberantasan kecoa secara fisik yaitu membunuh langsung kecoa dengan
alat pemukul, menyiram tempat perindukan dengan air panas dan menutup

20
celah-celah dinding. Secara kimiawi dengan menggunakan insektisida
dengan pengasapan, bubuk, semprotan, dan umpan.
c. Tikus
Melakukan pengendalian tikus secara fisik dengan pemasangan perangkap,
pemukulan atau secara kimia dengan umpan beracun.
d. Lalat
Bila kepadatan lalat di sekitar tempat sampah (perindukan) melebihi 2 (dua) ekor
per block grill maka dilakukan pengendalian lalat secara fisik, biologik, dan kimia.
e. Binatang pengganggu lainnya
1) Penangkapan, kemudian dibuang jauh dari rumah sakit.
2) Bekerjasama dengan Dinas Peternakan setempat untuk menangkap kucing
dan anjing.

E. Pengamanan Dampak Radiasi


Aspek penting dalam pelayanan di instalasi radiologi yang terkait penanganan radiasi
diantaranya:
Infeksi nosokomial
Pemantauan NBD dari petugas

Komplikasi akibat
Kalibrasi alat Penanganan radiasi
salah dosis

Kepastian tidak
adanya kebocoran Kecelakaan alat

1. Setiap rumah sakit yang menggunakan zat radioaktif, harus memperoleh izin dari
Badan Pengawas Tenaga Nuklir (sesuai PP Nomor 64 Tahun 2000 tentang
Perizinan Pemanfaatan Tenaga Nuklir, pasal 2 ayat 1).
2. Penerimaan dosis radiasi terhadap pekerja atau masyarakat tidak boleh melebihi
nilai batas dosis yang ditetapkan oleh Badan Pengawas.
3. Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja terhadap Pemanfaatan
Radiasi Pengion
a. Organisasi dan peralatan proteksi radiasi

21
b. Pemantauan dosis perorangan
c. Pemeriksaan kesehatan awal dan berkala sekurang-kurangnya 1 tahun sekali
d. Penyimpanan dokumentasi catatan dosis
e. Program jaminan kualitas bagi instalasi yang mempunyai potensi dampak
radiasi tinggi.
f. Diklat tentang K3 terhadap radiasi
4. Pengelola rumah sakit wajib mengkalibrasikan alat ukur radiasi scara berkala
sekurang-kurangnya 1 (satu) tahun sekali dan output peralatan radioterapi secara
berkala sekurang-kurangnya 2(dua) tahun sekali.
5. Pengelola rumah sakit harus melakukan upaya pencegahan terjadinya kecelakaan
radiasi, jika terjadi kecelakaan harus melakukan upaya penanggulangan
diutamakan pada keselamatan manusia dan harus segera melaporkan terjadinya
kecelakaan radiasi dan upaya penanggulangannya kepada Badan Pengawas dan
instansi terkait lainnya.
6. Penghasil limbah radioaktif tingkat rendah dan tingkat sedang wajib
mengumpulkan, mengelompokkan, atau mengolah dan menyimpan semenatara
limbah radioaktif sebelum diserahkan kepada Badan Pelaksana.

F. Upaya promosi kesehatan dari aspek kesehatan lingkungan


1 Promosi dapat dilaksanakan dengan menggunakan cara langsung, media cetak,
maupun media elektronik.
2 Pelaksana promosi supaya dilakukan oleh seluruh karyawan rumah sakit dibawah
koordinasi tenaga/unit organisasi penanggungjawab penyelenggara kesehatan
lingkungan rumah sakit yang menangani promosi kesehatan lingkungan rumah
sakit.
3 Sasaran promosi adalah pasien/keluarga pasien, pengunjung, karyawan rumah
sakit, serta masyarakat sekitarnya.
4 Pesan promosi hendaknya disesuaikan dengan sasaran.
5 Pesan promosi kesehatan lingkungan untuk karyawan berisi hubungan fasilitas
sanitasi dengan kesehatan, syarat-syarat fasilitas sanitasi, pentingnya
pengadaan/pemeliharaan/pembersihan fasilitas sanitasi, pentingnya memberi

22
contoh terhadap pasien/keluarga pasien dan pengunjung tentang memanfaatkan
fasilitas sanitasi serta fasilitas kesehatan lainnya dengan benar.
6 Materi promosi kesehatan lingkungan sangat penting diketahui oleh seluruh
karyawan rumah sakit, untuk itu dapat disampaikan pada waktu orientasi karyawan
baru atau pada pertemuan secara berkala.

23
BAB V
LOGISTIK

A. Penyehatan bangunan dan ruangan


Perlengkapan kebersihan umum dan kerumahtanggaan

B. Penyehatan hygiene dan sanitasi makanan dan minuman


Pemeriksaan rujukan ke pihak Balai Besar Laboratorium Kesehatan di Banjarmasin
tentang makanan dan peralatannya

C. Penyehatan air
 Instalasi pengolahan air tambahan berupa tangki klorinasi
 Meter distribusi air
 pH lakmus, komparator sisa klor, TDS meter

D. Pengelolaan limbah
 IPAL
 Meter limbah cair
 TPS medis
 Incenerator

E. Pengelolaan tempat pencucian linen


Pemeriksaan rujukan ke pihak Balai Besar Laboratorium Kesehatan di Banjarmasin
tentang usap linen

F. Pengendalian serangga, tikus dan binatang pengganggu lainnya


Light trap untuk surveileans nyamuk

G. Dekontaminasi melalui desinfeksi dan sterilisasi


Desinfektan ruangan yang dilakukan oleh masing-masing unit kerja

24
H. Pengamanan dampak radiasi
Pemeriksaan paparan radiasi dan penambahan nutrisi bagi petugas radiologi

I. Upaya promosi kesehatan dari aspek kesehatan lingkungan


Brosur, pamphlet, dan leaflet serta sosialisasi aspek kesehatan lingkungan kepada
karyawan.

25
BAB VI
KESELAMATAN PASIEN

Keterkaitan sanitasi rumah sakit dengan keselamatan pasien secara langsung adalah
pembuangan limbah, pencegahan penularan kuman, dan prosedur pencegahan infeksi
nosokomial. Ketiga indicator tersebut merupakan bagian dari 25 indikator keselamatan
pasien, kelompok fasilitas dan prosedur.

A. Pembuangan Limbah yang Aman


Pembuangan limbah terkontaminasi yang benar meliputi menuangkan limbah cair
ke sistem pembuangan kotoran tertutup dan incenerasi (pembakaran) limbah padat.
Cara penanganan limbah terkontaminasi:
1. Gunakan kantong-kantong plastik yang berwarna untuk membedakan limbah
infeksius dan non infeksius, pakailah wadah plastik atau disepuh logam dengan tutup
yang rapat.
2. Gunakan wadah tahan tusukan untuk pembuangan semua benda-benda tajam.
3. Tempatkan wadah limbah dekat dengan lokasi terjadinya limbah itu dan mudah
dicapai oleh pemakai.
4. Peralatan yang dipakai untuk mengumpulkan dan mengangkut limbah tidak dipakai
untuk keperluan lain di rumah sakit.
5. Cuci semua wadah limbah dengan larutan pembersih desinfektan dan bilas teratur
dengan air.
6. Gunakan wadah terpisah untuk limbah yang akan dibakar dan yang tidak akan sibakar
sebelum dibuang.
7. Gunakan APD (missal sarung tangan utilitas dan sepatu tertutup) ketika menangani
limbah.
8. Cuci tangan setelah melepaskan sarung tangan apabila menangani limbah.

B. Pencegahan Penularan Kuman


Mikroorganisme ditularkan di rumah sakit melalui beberapa cara dan
mikroorganisme yang sama dapat ditularkan dengan lebih dari satu cara. Untuk

26
mencegah penularan mikroorganisme di rumah sakit dirancang melalui kewaspadaan
isolasi, yang lebih diarahkan pada pemutusan rantai penularan/transmisi dari reservoir
(tempat agent hidup) ke host/pejamu rentan melalui limbah, linen, air bersih, makanan
minuman dan melaui vector:
1. Menghambat atau membunuh agent, misalnya dengan mengaplikasikan antiseptic ke
kulit sebelum tindakan bekerja.
2. Memblokir cara agent berpindah dari orang yang terinfeksi ke orang yang rentan,
misalnya dengan mencuci tangan pada saat bersentuhan dengan pasien terinfeksi
atau permukaan tercemar (limbah dan linen infeksius).
3. Mengupayakan bahwa petugas sanitasi telah diimunisasi atau divaksinasi.
4. Menyediakan APD yang memadai bagi petugas sanitasi dalam upaya mencegah
kontak dengan agent terinfeksi.

C. Pencegahan Infeksi Nosokomial


Proses terjadinya infeksi bergantung pada interaksi antara daya tahan tubuh
host/penjamu, patogenitas agent infeksi, serta cara penularan. Identifikasi factor resiko
(HAIs) pada host/penjamu dan pencegahan terhadap infeksi dapat mengurangi infeksi
(HAIs), baik pada pasien ataupun pada petugas kesehatan. Demi keselamatan pasien,
maka harus dihindari transfer mikroba pathogen antar pasien dan petugas sanitasi.
1. Kebersihan tangan dan APD
a. Kebersihan Tangan
Praktek membersihkan tangan adalah untuk mencegah infeksi yang ditularkan
melalui tangan, hal-hal yang perlu diingat saat membersihkan tangan:
 Tangan harus dicuci dengan sabun dan air mengalir, bila jelas terlihat
kotor/terkontaminasi oleh bahan yang mengandung protein (darah, urine,
feces).
 Bila tangan tidak jelas terlihat kotor/terkontaminasi, harus digunakan
antiseptic berbasis alcohol untuk dekontaminasi tangan rutin.
 Pastikan tangan kering sebelum memulai kegiatan.
b. Alat Pelindung Diri
 Tangan harus selalu dibersihkan meskipun menggunakan APD

27
 Lepas dang anti bila perlu segala perlengkapan APD yang dapat digunakan
kembali yang sudah rusak atau sobek segera setelah mengetahui APD
tersebut tidak berfungsi optimal.
 Lepaskan semua APD sesegera mungkin setelah selesai bekerja dan hindari
kontaminasi, lingkungan di luar ruang isolasi, para pasien atau pekerja lain,
dan diri sendiri.
 Buang semua perlengkapan APD dengan hati-hati dan segera membersihkan
tangan.

2. Pengelolaan Linen
Tangani linen yang sudah digunakan dengan hati-hati dengan menggunakan APD
yang sesuai dan membersihkan tangan secara teratur.
a. Hilangkan bahan padat pada linen yang sangat kotor, buang ke dalam toilet
spoelhoek dan dibilas dengan air. Masukkan ke kantong linen kotor sesuai
klasifikasinya.
b. Masukkan linen yang terkontaminasi langsung ke kantong linen di ruang isolasi,
hindari mengibas-ngibaskan linen untuk menghindari kontaminasi udara dan
orang.
c. Angkut linen kotor dalam kantong terturup dengan hati-hati, petugas harus
menggunakan APD yang memadai.
d. Cuci dan keringkan linen sesuai dengan standard an prosedur penatalaksanaan
linen di rumah sakit.
e. Transportasi/ troli linen bersih dan linen kotor harus dibedakan, bila perlu diberi
warna berbeda.

3. Pengelolaan Limbah
a. Melakukan identifikasi limbah berdasarkan bentuk dan tingkat infeksinya yaitu:
limbah padat, cair, tajam, botol kaca, infeksius dan non infeksius.
b. Memisahkan limbah mulai dari awal penghasil limbah dan menempatkan sesuai
jenis limbah. Limbah cair segera dibuang ke westafel spoelhoek.
c. Memberi label dan kantong sesuai jenis limbah

28
 Limbah padat infeksius ditempatkan dalam kantong plastik warna kuninh
 Limbah padat non infeksius ditempatkan dalam kontong plastik warna hita
 Limbah benda tajam ditempatkan dalam safety box yang tahan tusuk dan
tahan air
 Limbah botol kaca ditempatkan tersendiri dalam kantong plastik warna
kuning
d. Mengemas Limbah
 Tempatkan dalam wadah limbah tertutup
 Tutup mudah dibuka, sebaiknya bisa dengan menggunakan kaki
 Kontainer dalam keadaan bersih dan harus dicuci setiap hari
 Kontainer terbuat dari bahan yang kuat, ringan dan tidak berkarat
 Tempatkan setiap container limbah pada jarak 10-20 meter
 Ikat limbah jika sudah terisi ¾ penuh
e. Menyimpan Limbah
 Tempatkan limbah dalam kantong plastik dan ikat dengan kuat dan beri label
 Setiap hari limbah diangkut dari spoelhoek ke TPS khusus medis
 Gunakan APD ketika menangani limbah
 TPS limbah non infeksius harus di area terbuka, terjangkau (oleh truk
sampah), aman, selalu dijaga kebersihannya dan kondisi kering
f. Mengangkut Limbah
 Mengangkut limbah harus menggunakan kereta dorong/troli khusus dan tidak
boleh ada yang tercecer
 Kereta dorong/troli harus kuat, mudah dibersihkan, tertutup
 Gunakan APD ketika menangani limbah
g. Mengolah Limbah
 Limbah infeksius dimasukkan dalam incinerator
 Limbah benda tajam dimasukkan dalam incinerator
 Limbah botol kaca digrinding terlebih dahulu sebelum dimasukkan dalam
incinerator
 Limbah non infeksius dibawa ke TPA
 Limbah cair infeksius dibawa ke IPAL
29
 Limbah feces, urine dimasukkan dalam septiktank
4. Pengendalian Lingkungan Rumah Sakit
Untuk mencegah terjadinya infeksi akibat lingkungan dapat diminimalkan dengan
melakukan pembersihan lingkungan, desinfeksi permukaan lingkungan yang
terkontaminasi, melakukan pemeliharaan peralatan medic dengan tepat,
mempertahankan mutu air bersih, mempertahankan ventilasi udara yang baik. Ruang
lingkup pengendalian lingkungan seperti ruang bangunan, penghawaan, kebersihan,
saluran limbah dan sebagainya.
a. Desinfeksi permukaan lingkungan
Hanya perlengkapan dan permukaan yang pernah bersentuhan dengan kulit
atau mukosa pasien atau sudah sering disentuh oleh petugas kesehatan yang
memerlukan desinfeksi.
 Bersihkan dan desinfeksi permukaan lingkungan di area perawatan
 Pilih desinfektan yang terdaftar dan gunakan sesuai petunjuk, jangan
menggunakan high level desinfectan untk peralatan non kritikal
 Gunakan detergen atau air untuk pembersihan permukaan non perawatan
 Berikan perhatian ketat untuk pembersihan dan desinfeksi permukaan yang
sering disentuh seperti pegangan pintu, bed rails, light switch
 Segera bersihkan dan dekontaminasi tumpahan darah atau material lain yang
potensial infeksi
 Pastikan kepatuhan dari petugas kebersihan untuk pembersihan dan
desinfeksi
 Jangan lakukan random sampling, bila indikasi lakukan sampling mikrobiologi
sebagai investigasi epidemiologi atau pengkajian kondisi bahaya lingkungan,
batasi sampling untuk maksud jaminan kualitas
b. Air
 Pertahankan temperature air panas 510C dan dingin 200C
 Anjurkan pasien, keluarga, pengunjung menggunakan air keran
c. Ventilasi ruangan
Ventilasi yang memadai dan aliran udara satu arah yang terkontrol harus
diupayakan untuk mengurangi penularan pathogen melalui airborne, ventilasi

30
memadai yang dapat mencegah transmisi infeksi mempunyai pertukaran udara ≥
12 kali/jam serta saluran udara ke satu arah. Ada tiga jenis ventilasi utama:
 Ventilasi mekanis, menggunakan fan untuk mendorong aliran udara melalui
suatu gedung, jenis ini dapat dikombinasikan dengan pengkondisian dan
penyaringan udara
 Ventilasi alami, menggunakan cara alami untuk mendorong aliran udara
melalui suatu gedung adalah tekanan angin dan tekanan yang dihasilkan oleh
perbedaan kepadatan antara udara di dalam dan di luar gedung
 Ventilasi gabungan, memadukan penggunaan ventilasi mekanis dan alami

31
BAB VII
KESELAMATAN KERJA

Salah satu syarat keselamatan kerja adalah memperoleh keserasian antara lingkungan dan
tenaga kerja, alat kerja, cara dan proses kerja. Keselamatan lingkungan di rumah sakit
berdampak terhadap pencemaran lingkungan. Program K3 terkait kesehatan lingkungan di
rumah sakit yang harus diterapkan:
1. Pengelolaan penyehatan lingkungan rumah sakit
Program penyehatan lingkungan rumah sakit meliputi: penyehatan ruangan, bangunan
dan fasilitas sanitasi termasuk pencahayaan, penghawaan dan kebisingan, penyehatan
makanan dan minuman, penyehatan air, penanganan limbah, penyehatan tempat
pencucian uum termasuk laundry, pengendalian serangga, tikus dan binatang
pengganggu lain, pemantauan sterilisasi dan desinfeksi, pengawasan perlindungan
radiasi, dan promosi kesehatan lingkungan.
2. Pengelolaan factor resiko dan pengelolaan limbah rumah sakit
Limbah cair: tersedianya IPAL dan perizinannya
Pengolahan limbah padat:
a. Tersedianya tempat/container penampungan limbah sesuai dengan criteria limbah
b. Tersedianya incinerator atau yang sejenisnya, terpelihara dan berfungsi dengan baik
c. Tersedia tempat pembuangan limbah padat sementara, tertutup dan berfungsi
dengan baik
3. Pemantauan dan evaluasi kesehatan lingkungan tempat kerja
a. Mapping lingkungan tempat kerja/area yang dianggap beresiko dan berbahaya, area
yang belum melaksanakan program K3RS , area yang sudah melaksanakan K3RS, area
yang sudah melaksanakan dan mendokumentasikan pelaksanaan program K3RS
b. Evaluasi lingkungan tempat kerja (observasi, wawancara SDM rumah sakit, survey
dan kuesioner, checklist dan evaluasi lingkungan tempat kerja secara rinci)
4. Pengembangan program pemeliharaan limbah padat, cair dan gas
a. Penyediaan fasilitas untuk penanganan dan pengelolaan limbah padat, cair dan gas
b. Pengelolaan limbah medis dan non medis

32
BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU

Standar Pelayanan Minimal (SPM) merupakan spesifikasi teknis tentang tolak ukur
pelayanan minimum rumah sakit yang berhak diperoleh setiap warga, ditinjau dari akses,
efektivitas, efisiensi, keselamatan dan keamanan, kenyamanan, kesinambungan pelayanan,
kompetensi teknis dan hubungan antar manusia berdasarkan standar WHO.
A. Penyehatan bangunan dan ruangan
Baku Mutu Udara Ruang
Indikator Baku Mutu Udara Ruang
Dimensi mutu Keamanan/keselamatan
Tujuan Tergambarnya upaya RS terhadap keamanan
mikrobiologi udara ruang
Definisi operasional Baku mutu udara ruang adalah standar minimal udara
ruang yang dianggap aman bagi kesehatan,
merupakan konsentrasi maksimum mikro-organisme
per m2 udara (CFU/m3). Menurut fungsi ruang atau
unit dalam Kepmenkes 1204/2004, dan diukur
dengan parameter mikrobiologi udara ruang
Frekuensi 6 bulan
pengumpulan data
Periode analisis 6 bulan
Numerator Hasil laboratorium yang sesuai dengan baku mutu
Denominator Jumlah seluruh pengujian udara
Sumber data Hasil pengujian
Standar 100%
Penanggung jawab Kaur SKL

33
Baku Mutu Lantai dan Dinding
Indikator Baku Mutu Lantai dan Dinding
Dimensi mutu Keamanan/keselamatan
Tujuan Tergambarnya upaya RS terhadap keamanan lantai
dan dinding
Definisi operasional Baku mutu adalah standar minimal parameter
mikrobiologi pada lantai dan dinding yang dianggap
aman bagi kesehatan, yang merupakan ambang batas
yang ditolerir (sekaligus untuk menilai tingkat
kebersihan)
Ruang operasi = 0-5 CFU/cm2 dan bebas pathogen
Ruang isolasi = 0-5 CFU/cm2
Ruang perawatan = 5-10 CFU/cm2
Ruang IGD = 5-10 CFU/cm2
Frekuensi 6 bulan
pengumpulan data
Periode analisis 6 bulan
Numerator Hasil laboratorium pemeriksaan mikrobiologi usap
lantai dan dinding sesuai dengan baku mutu
Denominator Jumlah seluruh pemeriksaan lantai dan dinding
Sumber data Hasil pemeriksaan
Standar 100%
Penanggung jawab Kaur SKL

B. Penyehatan hygiene dan sanitasi makanan minuman


Baku Mutu Makanan dan Peralatan
Indikator Baku Mutu Makanan dan Peralatan
Dimensi mutu Keamanan/keselamatan
Tujuan Tergambarnya kepedulian RS terhadap keamanan
mikrobiologi makanan dan peralatan
Definisi operasional Baku mutu adalah standar minimal pada makanan

34
dan peralatan makan, yang merupakan ambang batas
yang ditolerir dan dianggap aman bagi kesehatan,
diukur dengan parameter mikrobiologi:
Angka kuman E. Coli makanan = 0/gr sampel
Angka kuman E. Coli minuman = 0/100 ml
Angka total kuman peralatan makan = 100/cm2
E. Coli peralatan makan = negatif
Frekuensi 6 bulan
pengumpulan data
Periode analisis 6 bulan
Numerator Hasil laboratorium pemeriksaan mikrobiologi
makanan jadi dan usap alat makan yang sesuai
dengan baku mutu
Denominator Jumlah seluruh pemeriksaan
Sumber data Hasil pemeriksaan
Standar 100%
Penanggung jawab Kaur SKL

C. Penyehatan air
Baku Mutu Fisika dan Kimiawi Air Bersih
Indikator Baku Mutu Fisik-Kimia Air Bersih
Dimensi mutu Keamanan/keselamatan
Tujuan Tergambarnya upaya RS terhadap keamanan fisika
dan kimiawi air bersih RS
Definisi operasional Baku mutu adalah standar minimal pada air bersih
yang dianggap aman bagi kesehatan, yang merupakan
ambang batas yang ditolerir dan diukur dengan
parameter:
Fisika: TDS = 1500 mg/l
Kekeruhan = 25 mg/l
Warna = 50 TCU

35
Kimia: pH = 6.5 – 9
Kesadahan = 500 mg/l
Zat organic = 10 mg/l
Frekuensi 6 bulan
pengumpulan data
Periode analisis 6 bulan
Numerator Hasil laboratorium pemeriksaan contoh air bersih
yang sesuai dengan baku mutu
Denominator Jumlah seluruh pemeriksaan air bersih
Sumber data Hasil pemeriksaan
Standar 100%
Penanggung jawab Kaur SKL

Baku Mutu Mikrobiologi Air Bersih


Indikator Baku Mutu Mikrobiologi Air Bersih
Dimensi mutu Keamanan/keselamatan
Tujuan Tergambarnya upaya RS terhadap keamanan
mikrobiologi air bersih RS
Definisi operasional Baku mutu adalah standar minimal pada air bersih
yang dianggap aman bagi kesehatan, yang merupakan
ambang batas yang ditolerir dan diukur dengan
parameter mikrobiolgi :
Total koliform = 10 koliform/100 ml
E coli = negative
Frekuensi setiap bulan
pengumpulan data
Periode analisis setiap bulan
Numerator Hasil laboratorium pemeriksaan mikrobiologi air
bersih RS yang sesuai dengan baku mutu
Denominator Jumlah seluruh pemeriksaan air bersih
Sumber data Hasil pemeriksaan

36
Standar 100%
Penanggung jawab Kaur SKL

D. Pengelolaan Limbah
Baku Mutu Limbah Cair
Indikator Baku Mutu Limbah Cair
Dimensi mutu Keamanan/keselamatan
Tujuan Tergambarnya kepedualian RS terhadap keamanan
limbah cair
Definisi operasional Baku mutu adalah standar minimal limbah cair yang
dianggap aman bagi kesehatan, yang merupakan
ambang batas yang ditolerir dan diukur dengan
parameter:
BOD = 30 mg/l
COD = 80 mg/l
TSS = 30 mg/l
pH = 6-9
Frekuensi 6 bulan
pengumpulan data
Periode analisis 6 bulan
Numerator Hasil laboratorium pemeriksaan limbah cair RS yang
sesuai dengan baku mutu
Denominator Jumlah seluruh pemeriksaan limbah cair
Sumber data Hasil pemeriksaan
Standar 100%
Penanggung jawab Kaur SKL

Limbah Padat Infeksius


Indikator Pemusnahan sampah infeksius di incinerator
Dimensi mutu Keamanan/keselamatan
Tujuan Tergambarnya mutu pembakaran sampah infeksius di

37
RS
Definisi operasional Sampah infeksius adalah sampah padat akibat proses
pelayanan yang mengandung bahan-bahan tercemar
jasad renik yang dapat menularkan penyakit dan/atau
dapat mencederai, antara lain:
1. Sisa jarum suntik, lancet, scalpel (sampah benda
tajam)
2. Sisa ampul dan vial (sampah botol kaca)
3. Kasa, masker, handschun bekas (sampah
infeksius)
4. Sisa jaringan (sampah PA)
5. Sisa obat farmasi (sampah farmasi)
6. Sisa kegiatan kemoterapi (sampah sitotoksik)
Frekuensi 1 bulan
pengumpulan data
Periode analisis 3 bulan
Numerator Jumlah sampah infeksius yang dibakar di incinerator
sesuai dengan SPO pemusnahan
Denominator Loogbook hasil pemusnahan
Sumber data Hasil pemeriksaan
Standar 100%
Penanggung jawab Kaur SKL

E. Pengelolaan tempat pencucian linen


Baku Mutu Linen
Indikator Baku Mutu Linen
Dimensi mutu Keamanan/keselamatan
Tujuan Tergambarnya kepedulian RS terhadap keamanan
mikrobiologi linen RS
Definisi operasional Baku mutu adalah standar kuman minimal bagi linen
bersih yang dianggap aman bagi kesehatan dan

38
diukur dengan parameter mikrobiolgi :
Bacillus = 6 x 103 spora spesies Bacillus per inci
persegi
Frekuensi 6 bulan
pengumpulan data
Periode analisis 6 bulan
Numerator Hasil laboratorium pemeriksaan usap linen bersih RS
yang sesuai dengan baku mutu
Denominator Jumlah seluruh pemeriksaan linen bersih
Sumber data Hasil pemeriksaan
Standar 100%
Penanggung jawab Kaur SKL

39
BAB IX
PENUTUP

Pedoman kesehatan lingkungan disusun untuk melindungi masyarakat dari bahaya


pencemaran lingkungan akibat aktifitas medis di rumah sakit, karena pada prinsipnya
kesehatan lingkungan rumah sakit merupakan upaya penyehatan dan pengawasan
lingkungan rumah sakit yang mungkin beresiko menimbulkan penyakit atau gangguan
kesehatan bagi masyarakat. Adapun persyaratan kesehatan lingkungan rumah sakit
berdasarkan Kepmenkes No. 1204/Menkes/SK/2004 adalah meliputi:sanitasi pengendalian
faktor lingkungan fisik, kimiawi, biologi, dan sosial psikologi di rumah sakit.
Program sanitasi di rumah sakit terdiri dari penyehatan bangunan dan ruangan,
penyehatan makanan dan minuman, penyehatan air, penyehatan tempat pencucian umum
termasuk tempat pencucian linen, pengendalian serangga dan tikus, sterilisasi/desinfeksi,
perlindungan radiasi, penyuluhan kesehatan lingkungan, pengendalian infeksi nosokomial,
dan pengelolaan sampah/limbah (Depkes RI, 2004).

Ditetapkan di : Banjarmasin
Tanggal :
Tepat tanggal :

40