Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

SITOHISTOTEKNOLOGI II
HISTOLOGI ORGAN DAN SISTEM RESPIRASI

NAMA : KRESNA LATAFODES WICAKSANA


( 163.41.0002 )

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN


BORNEO CENDEKIA MEDIKA
PANGKALANBUN
2018

i
KATA PENGATAR

Puji syukur penulis panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat
limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga saya dapat menyusun makalah ini tepat pada
waktunya. Dalam makalah ini saya akan membahas mengenai “HISTOLOGI ORGAN DAN
SISTEM RESPIRASI”. Dalam menyusun makalah ini, tidak sedikit kesulitan dan hambatan
yang saya alami, namun berkat dukungan, dorongan dan semangat dari orang terdekat,
sehingga saya mampu menyelesaikannya. Oleh karena itu,

Pada kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya kepada :

1. Allah SWT yang telah memberikan nikmat sehat, sehingga saya dapat membuat
makalah ini dengan baik.
2. Ibu Febri Nur Ngazizah, S.Pd., M.Si selaku Dosen mata kuliah Sitohistoteknologi
yang telah memberi tugas makalah ini.

Pangkalan Bun, 01 Juli 2018

ii
DAFTAR ISI

Judul .................................................................................................................... i
Kata pengantar ................................................................................................... ii
Daftar isi ............................................................................................................ iii

BAB I Pendahuluan ............................................................................................ 1


A. Latar Belakang ......................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .................................................................................... 2
C. Tujuan Penulisan ...................................................................................... 2

BAB II Pembahasan .............................................................................................3


A. Sistem Pernapasan .................................................................................... 3
1. Rongga Hidung ................................................................................... 3
2. Faring .................................................................................................. 6
3. Laring ................................................................................................. 7
4. Trakea ................................................................................................. 7
5. Paru – Paru ......................................................................................... 8

BAB III Penutup ................................................................................................11


Kesimpulan ....................................................................................................11

Daftar pustaka ................................................................................................... 11

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Bumi tempat kita hidup diselubungi oleh suatu lapisan udara yang terdiri dari
senyawa gas, antara lain nitrogen (N2), oksigen (O2), karbon dioksida (CO2), dan gas
mulai. Walaupun tidak menjadi gas yang paling banyak di udara, oksigen sangat penting
bagi makhluk hidup. Sel-sel tubuh kita memerlukan oksigen untuk melakukan
‘pembakaran’. Makanan ‘dibakar’ agar menghasilkan energi. Energi tersebut diperlukan
sel untuk menjalankan fungsinya. Karbon dioksida yang dihasilkan pada proses
pembakaran ini bila terakumulasi dapat membahayakan tubuh, karenanya harus segera
dikeluarkan dari tubuh. Proses dalam uraian di atas disebut respirasi sel.
Sistem pernapasan bertugas mengambil oksigen dari udara. Setelah sampai di paru-
paru, oksigen dipindahkan ke darah dan diedarkan ke seluruh tubuh. Di dalam pembuluh
darah, oksigen ditukar dengan karbon dioksida. Karbon dioksida sebagai hasil oksidasi
respirasi sel ini kemudian dibawa ke paru-paru untuk dikeluarkan dari tubuh. Pertukaran
O2 dan CO2 antara udara dengan tubuh makhluk hidup disebut respirasi. Sistem
pernapasan dan sistem sirkulasi bekerjasama dalam suatu sistem tertutup. Sistem sirkulasi
terdiri dari dua sirkuit, yang satu bertugas mengedarkan darah ke seluruh tubuh (sirkuit
mayora), sementara yang lain mengalirkan darah dari jantung ke paru-paru (sirkuit
minor).
Organ pernapasan terdiri dari saluran yang dimulai dari hidung, lalu ke pharynx,
larynx, bronchus, dan kemudian berakhir di alveolus pulmonal. Dinding gelembung
alveolus yang elastis dan banyak mengandung kapiler darah memungkinkan terjadinya
pertukaran O2 dan CO2 dengan efisiensi maksimum.

1
B. RUMUSAN MASALAH
Hal-hal yang menjadi rumusan masalah adalah sebagai berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan sistem pernapasan?
2. Apa saja organ penyusun system pernapasan?
3. Bagaimana struktur histologi dari rongga hidung ,larings,trakea,bronkus, dan paru-
paru?
4. Bagaimana perbedaan struktur histologi dari organ penyusun sistem pernapasan?

C. TUJUAN PENULISAN
Tujuan dari penulisan karya tulih ilmiah ini adalah untuk memberikan gambaran
mengenai system pernapasan ,organ pernapasan ,struktur histologi dari organ pernapasan.

2
BAB II
PEMBAHASAN
A. SISTEM PENAPASAN
Sistem pernapasan merupakan tempat terjadinya pertukaran gas antara darah dan udara.
Sistem respirasi dibagi menjadi dua bagian pokok yaitu : bagian konduksi dan bagian respirasi.
Bagian konduksi berperan sebagai pencuci, memanasi atau mendinginkan dan membuat udara
lebih lembab, sedangkan bagian respirasi merupakan tabung yang menghubungkan dunia luar dan
paru-paru.
Fungsi primer sistem pernapasan ialah menjamin terlaksananya pertukaran gas (oksigen dan
karbondioksida) antara organisme dengan lingkungannya. Penyalur udara (rongga hidung,
nasofarings, laringofarings, laring, trakea, bronkus, dan bronkiolus) menjamin aliran udara
pernapasan dari dan ke daerah pertukaran udara dalam pau-paru.

1. RONGA HIDUNG
a. Vestibulum Hidung
Rongga hidung dibagi dalam unit kanan dan kiri, dibatasi oleh suatu sekat
terdiri dari tulang rawan atau tulang. Ke arah rostral langsung di belakang hidung
disebut vestibulum hidung (region vestibularis) dan yang ke arah kaudal adalah
rongga hidung sebenarnya.
Kulit apeks nasalis berlanjut dengan gradien jaringan selaput lendir dari
rongga hidung yang sebenarnya. Ke arah rostral, daerah kutan vestibulum hidung
dibalut oleh epitel pipih banyak lapis berpigmen dan bertanduk tebal. Di tengah
daerah vestibulum, epitel lebih tipis dan tidak bertanduk. Bagian kaudal
vestibulum hidung dan sepertiga bagian rostral dari rongga hidung sebenarnya
merupakan daerah transisi dengan epitel kubus sampai silinder banyak lapis tanpa
silia. Sel-sel epitel permukaan di daerah transisi tersebut mengandung inti
multilobus (multilobated nuclei), memiliki mikrovili pada permukaannya, dan
sering berbentuk bulat. Jaringan ikat pada dermis vestibulum hidung memiliki
interdigitasi berupa papil-papil dengan daerah basal epitel.
Pada hewan piaraan terdapat kekhususan dalam vestibulum hidung. Pada
bangsa babi, bagian rostral vestibulum hidung dibalut integumentum yang
mengandung bulu rongga hidung (vibrissae), kelenjar palit, dan kelenjar peluh.
Lubang kedua dari duklus nasolakrimalis sering tampak di permukaan

3
kaudolateral pada konka ventralis anjing dan babi. Stratum papilaris dai papil-
papil dermis anjing memilki banyak papil dan kapiler yang membentuk lup.
b. Rongga Hidung Sejati
Lumen hidung sejati dibagi oleh lamel-lamel konka ventral, dorsal dan
etmoidal. Epitel yang membalut bagian besar belahan kaudal dari rongga hidung
sejati adalah silinder banyak baris bersilia. Pembalut meatus nasalis medius lebih
tipis dan mengandung lebih sedikit silia dan sel mangkok. Selapu lendir olfaktori
terdapat pada daerah permukaan kaudal pada konka etmoidalis dan septum nasal.
Epitel bersilia di luar daerah olfaktori dalam rongga hidung mengandung sel-
sel tipe basal, bersilia, sekretori dan sel kuas (brush cell). Sel-sel basal berbentuk
silinder yang pekat electron, bertaut pada lamila basalis diperkuat oleh
hemidesmosomn. Tiap sel-sel bersilia memiliki 200 sampai 300 silia aktif, di
samping banyak mikrovili yang menjulur kje dalam lumen. Kerusakkan struktur
mikro pada silia menyebabkan gerakan silia mundur atau kurang efektif. Sindrom
silia pasif, merupakan kondisi di mana saluran pernapasan mengalami infeki,
berulang secara kuat sebagai akibat kelainan silia bawaan. Hewan dengan sindrom
ini sering mengalami pembalikkan ke kiri atau ke kanan pada posisi alat jeron
rongga dada dan organ perut (situs inversus totalis). Struktur sel-sel sekretori,
yang terjadi baik pada sel mangkokj (goblet cell) atau sel penghasil lender,
bervariasi menurut fase sekresi serta lokasi dalam rongga hidung. Sel mangkok
memiliki posisi inti yang terdesak kea rah basal. Pada permukaan sel terdapat
mikrovili pendek. Sekreta sel mangkok pada hewan umumnya mengandung
sulfated acid glycoprotein yang merupakan komponen lendir yang utama (mucus).
Sel kuas (brush cell) memiliki mikrovili panjang dan tebal, serta mengandung
berkas filamen mikro. Sel ini diduga bersifat reseptor sensori, karena memiliki
ujung saraf berasal dari nervus trigeminus.
Mukosa daerah kaudal rongga hidung yang bukan daerah olfaktori memiliki
pembuluh darah lebih banyak serta lebar daripada daerah vestibularis ,daerah
transisi atau daerah olfaktori. Lapis submukosa disebut stratum kavernum . Pada
anjing stratum kavernum ini lebih vascular dari hewan piaraan lain , mengandung
sekitar 35% pembuluh darah. Glandula nasalis berbentuk tubuloasinar bercabang ,
tersebar antara vena dan stratum kavernum . Pada mamalia domestik,kelenjar
tersebut mengeluarkan sekretanya melalui epitel pada semua daerah rongga
hidung .
4
c. Organ Olfaktori
Secara mikroskopik , mukosa olfaktorius dapat dikenali atau dibedakan dari
daerah bukan olfaktori disekitarnya, karena epitel lebih tebal , dan banyak kelenjar
terorientasi vertical, serta banyak berkas serabut saraf tanpa myelin dalam lamina
propria
Mukosa olfaktorius dibalut epitel slinder banyak baris bersilia yang terdiri dari
sel utama : sel basal, sel neurosensori (sel olfaktori ), dan sel penunjang . Struktur
sel basal mirip dengan sel pada epitel diluar daerah olfaktori.
Sel neurosensori olfaktori dewasa berbentuk neuron bipolar dengan perikarion
didaerah basal epitel dengan dendrit mencapai lumen,sedangkan akson keluar dari
epitel mencapai bulbus olfaktorius susunan saraf pusat .
Sel penunjang (sustentacular cel)memipih mulai dari basis sempit pada
membrane basal dan melebar kearah lumen . Intinya mengambil warna lebih
cerah, terletak agak superficial dari sel – sel neurosensori. Pada daerah apparatus
golgi , rER terdapat supranuklear , sER tersebar diseluruh sitoplasma . Mikrovili ,
sering bercabang , tersebar pada permukaan bebas sel penunjang.
d. Organ Vomeronasal
Organ Vomeronasal terletak dalam mukosa bagian ventral septum nasi
,berbentuk buluh dengan ujung buntu , bagian luar terdiri dari tulang rawan
penunjang , lamina propria dibagian tengah yang bersifat vascular serta glandular ,
dan epitel saluran dibagian dalam. Tulang rawan vomeronasal yang bersifat hyalin
berbentuk J, menutup hampir semua bagian , kecuali daerah dorsolateral oragan
tersebut. Epitel mengalami perubahan dari epitel kubus banyak lapis didaerah
rostral menjadi epitel silinder banyak baris bersilia didaerah kaudal duktus
vomeronasal . Bagian dendrit dari sel neurosensori vomeronasal, berbeda dengan
sel neurosensori daerah olfaktori, karena tidak memiliki dendritic bulb ,tetapi
memiliki mikrovili sebagai pengganti silia pada permukaan selnya. Banyak
mitokondria , benda basal,dan badan penumbuh silia (cilliary precursor bodies)
terdapat didaerah apeks sitoplasma.
Sel – sel neurosensori vomeronasal pada anjing memiliki silia yang tidak
bergetar pada permukaan epitel (streocillia). Kelenjar vomeronasal menumpahkan
sekretanya dalam lumen organ vomeronasal,lazimnya melalui komisura antara
dinding mukosa lateral dan medial. Organ Vomeronasal berfungsi sebagai
kemoreseptor senyawa cair dengan daya uap rendah. Organ Vomeronasal
5
berkaitan dengan sikap meringis [lip-curl type of facial grimace (flehmen) action ]
yang diperliahatkan beberapa mamalia jantan, untuk mengenali substansi dalam
urine hewan betina. Pada sejumlah mamalia , kemampuan mendeteksi bau betina
birahi menimbulkan peningkatan kadar testosteron dalam plasma darah hewan
jantan . Pada kuda, duktus insisivus kearah ventral berujung buntu,berhubungan
dengan rongga hidung , tetapi tidak dengan rongga mulut .
e. Sinus paranasalis
Mukosa pembalut sinus paranasalis lebih tipis dari rongga hidung . Hanya
sedikit kelenjar subepitel atau pembuluh darah tersebar dalam selaput lendir pada
berbagai sinus. Epitelnya tampak rendah , bersilia , silinder banyak baris dan
mengandung sel mangkok . Getaran silia akan mengangkut lendir kearah lubang
yang menghubungkan sinus dengan rongga hidung .

2. FARING
Terdiri atas pars respiratoria (nasofaring) dan pars digestoria (orofaring). Dinding
dorsal palatum molle terdiri atas mukosa dan tulang, sedangkan dinding faring
dibentuk oleh mukosa, fasia pharingea interna, otot seran lintang fasia faringea
eksterna dan tunika adventitia yang bersifat longgar. Dinding faring banyak
mengandung pembuluh darah dan limfe. Pembuluh limfe ini berhubungan dengan
pembuluh limfe kavum nasi. Serabut saraf membentuk pleksus superfisial dan
profundal.
a. Nasofarings
Nasofarings adalah bagian farings bagian dorsal , terletak dorsal palatum
molle dan menjulur dari rongga hidung kearah laringofarings . Epitel pembalut
berbentuk silinder banyak baris bersilia dengan sel mangkok. Epitel daerah
kaudodorsal dari palatum molle , yang berhubungan dengan dinding dorsal
nasofarings selama proses menelan , atau dengan epiglotis,berbentuk pipih banyak
lapis . Nodulus limfatik tampak jelas pada bagian dorsal nasofarings,pada garis
tengah tempat berkumpul dengan membentuk tonsil farings .

6
3. LARINGS
Dibalut oleh mukosa dan ditunjang oleh tulang rawan . Tulang rawan Larings
berhubungan satu sama lain dengan trakea dan hyoid apparatus melalui ligamen. Otot
kerangka ekstrinsik menggerkan larings selama menelan berlangsung,sedangkan otot
kerangka intrinsic menggerakan tulang rawan larings secara individu selama
pernafasan dan bersuara. Mukosa epiglotis , vestibulum larings dan plika vokalis
dibalut oleh epitel pipih banyak lapis bertanduk . Epitel tersebut membalut ventrikel
larings kuda. Reseptor saraf pada epitel larings memberikan respon terhadap cairan
seperti air, susu, cairan lambung ,dan air liur . Mengandung banyak serabut elastik ,
leukosit , sel plasma dan sel mast . Pada babi dan ruminansia kecil, tonsila
paraepiglotika terdapat pada basis epiglotis. Tonsil ini sering terlihat pada kucing.
Kelenjar tubuloasinar sederhana bercabang terdapat dalam lamina propia dan
submukosa; kelenjar ini tidak terdapat pada vestibulum dan plika vokalis. Hampir
seluruh tulang rawan larings betipe hyaline, perikondriumnya bersatu dengan
submukosa berbatasan . Epiglotis karnivora sering terdiri dari dinding luar tulang
rawan yang didalamnya berisi sel – sel lemak , jalinan serabut membentuk tunika
adventisia mengitari tulang rawann larings dan otot kerangka.

4. TRAKEA
Trakea merupakan penyalur udara antara larings dan bronkus , berbentuk buluh
yang semifleksibel dan semikolaps, terdapat dibagian ventral leher , terbentang mulai
larings sampai rongga dada. Secara histologik , dinding trakea memiliki empat lapis :
mukosa ,otot, tulang rawan ,dan adventisia.
Mukosa trakea terdiri dari epitel silinder banyak baris bersilia dan lamina
proprianya. Pada epitel trakea dikenal tujuh macam sel : sel basal, sel mangkok, sel
bersilia , sel sikat (brush cell),sel serous ,sel clara dan sel neuroendokrin. Sel basal ini
dianggap sebagai sel bibit(progenitor) untuk sel – sel lain dalam epitel . Sel mangkok
,sel bersilia , dan sel sikat pada trakea mirip dengan yang terdapat pada sistem
pernafasan bagaian atas. Inti sel serous terletak basal dan pemukaannya memiliki
mikrovili, mengandung banyak rER dan badan pekat elektron didaerah apeks. Sel –
sel neuro endokrin ,juga dikenal sebagai sel – sel Kultschitzky (sel K) atau sel –sel
amine precursor uptake decarboxylation (APUD) ,berbentuk khas piramid dengan
basis pada lamina basalis dan mengandung butir argirofil pekat ,banyak ER,apparatus
golgi ,ribosom dan filamen. Kelenjar trakea merupakan penjuluran epitel permukaan
7
ke dalam jaringan ikat subepitel ,berbentuk kelenjar tubuloasinar yang bersifat
seromukous yang tetap berhubungan dengan lumen melalui alat penyalur ,beberapa di
antaranya memiliki silia .Ujung kelenjar sebagian besar terletak didaerah
submukosa,bagian proksimal berbentuk buluh (tubulus) yang bersifat mukous
,sedangkan bagian distal berbentuk asinus dengan epitel utamanya bersifat serous. Sel
– sel serous merupakan mayoritas ujung kelenjar pada sebagian besar hewan
;sekretanya berbentuk glikoprotein netral yang kadang –kadang mengalami sulfasi
.Sel –sel serous yang mengahasilkan protein ,butir sekretanya kecil ,pekat , memiliki
ciri tersendiri , dan terdapat dalam sitoplasma yang kaya akan rER. Jumlah cincin
tulang rawan trakea bervariasi ,tidak hanya antar jenis yang berbeda ,juga antar
individu dari satu spesies. Otot trakealis berbentuk pita otot polos ,tersusun
transversal antara ujung bebas bagian dorsal tulang rawan ,dan terdapat sepanjang
seluruh panjang trakea. Pada sebagian besar spesies kecuali anjing dan kucing ,otot
polos bertaut pada jaringan ikat pekat tidak teratur dari perikondrium pada bagian
dalam cincin, umumnya pada jarak tertentu dari ujung tulang rawan . Pada karnivora
pertautan ini justru diluar permukaan tulang rawan. Pembuluh darah besar dan saraf
sering terdapat disekitar pita otot polos tersebut.

5. PARU – PARU
Hampir seluruh rongga dada diisi oleh paru-paru kanan dan kiri. Secara umum,
paru-paru dibagi menjadi sistem penyalur udara intrapolmunar, parenkim atau sistem
respirasi, dan pleura. Sistem penyalur udara intrapumonar (bronkus dan bronkiolus),
mencagkup sekitar 6% dari paru-paru. Parenkim (sistem respirasi), atau daerah
pertukaran gas, teriri dari duktus alveolaris, sakus alveolaris, dan alveoli, yang
mencakup kira-kira 85% dari seluruh paru-paru. Paru-paru dibalut oleh, jaringan ikat
dan sel-sel mesotel membentuk pleura viseralis. Bersama dengan pleura, pembuluh
darah, saraf dan bronkiolus mengisi sisananya yang 9% sampai 10% dari paru-paru.
a. Bronkus
Percabangan bronkus terbentuk oleh bronkus primer, membentuk penyalur udara.
Penyalur udara intrapolmunar yang paling besar disebut bronkus lobus ( lobar bronchi
), masing-masing merupakan cabang langsung bronkus primer yang masuk lous paru-
paru melalui hilus. Tiap bronkus lobus bercabang dua an selanjutnya bercabang lagi.
Percabangan berlangsung terus sampai mencapai daerah pertukran udara. Sistem

8
percabangan ini disebut percabanga udara dikotomi semu ( pseudodichotomous
branching ).
Secara histologi, bronkus mirip trakea, kecuali berbagai lapisannya yang lebih
tipis. Bronkus dibalut epitel silinder banyak baris, terutama terdiri dari sel-sel yang
mampu bersekresi, sel bersillia dan sel bassal. Bronkus, dibanding dengan trakea
secara proposional memiliki jumlah sel lebih sedikit. Kompososisi epitel ke arah
distal berubah untuk satu spesies. Bronkus proksimal memiliki lebih banyak sel epitel
dan sel basal untuk tiap unit daerah bagian distal. Pada satu spesies, diamana sel-sel
mukous dominan pada epitel permukaan, presentasi popilasi sel mukous pada saluran
ke arah distal mengecil, sedangkan untuk sel clara justru membesar. Kelenjar
submukosa lebih sedkit dan lebih kecil pada bronkus proksimal dibandingkan dengan
trakea. Pada karnivora, bronkus intrapulmonar memiliki kelnjar, juga pada ruminansia
(sapi, domba ), kuda dan babi. Struktur submukosa pada bronkus bervariasi dari
proksimal ke arah distal dan kelenjarnya semakin bekurang ke arah distal.
b. Bronkeulus
Bagian distal salura udara intrapulmonar adalah bronkiolus secara histologi dapat
dibedakan dengan bronkus. Secara umum brokeolus terdiri dari epitel, dan sedikit
jaringan ikat, tanpa adanya kelnjer dan tulang rawan. Bronkiolus tanpa alveolus yang
terbuka langsung pada dindingnya, disebut tanpa alveolus. Beberapa anak cabang
bronkus tanpa alveolus terdapat pada kuda, sapi, dan domba, tetapi umumnya hanya
satu atau dua anak cabang bronkiolus tanpa alveolus terdapat pada paru-paru anjing
dan kucing. Pada anjing dan kucing, epitel bagian distal bronkiolus tanpa alveolus
mengandung sel-sel bersillia dan sel Clara dengan perbandingan 1:19.
Ada dua kekecualian stuktur daerah distal bronkiolus tanpa alveolus. Pada
mamalia laut dan kera mamakus, tulang rawan masih terdapat pada bronkiolus
terminalis, disamping itu, epitel pembalut saluran udara berbentuk banyak lapis,
mengandung sel basal, sel bersilia, sel mukousa.
c. Pleura
Pleura adalah membrana serosa yang membungkus pulmo. Terdiri atas dua bagian
yakni : yang menempel pada pulmo disebut pleura viseralis, dan menempel pada
kavum thorakis disebut pleura parietalis. Pleura terdiri atas lapisan tipis, jaringan
kolagen yang kaya fibroblast dan makrofag. Disamping itu ditemukan pula berkas
serabut elastis yang berjalan tidak beraturan kearah permukaan, seperti peritoneum
permukaannya tertutup oleh mesothelium. Gambaran yang mencolok pada pleura
9
yakni ditemukannya kapiler darah dan vasa limfe yang banyak. Nervi pada pleura
parietalis berhubungan dengan nervus phrenikus dan nervus interkostalis yang
terdapat pada pleura viseralis merupakan cabang dari nervus vagus dan nervus
simphatikus yang menginervasi bronkhi.

10
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari makalah tahapan pembuatan sediaan jaringan
adalah sebagai berikut:
1. Sistem pernapasan merupakan tempat terjadinya pertukaran gas antara darah dan
udara. Sistem respirasi dibagi menjadi dua bagian pokok yaitu : bagian konduksi dan
bagian respirasi.
2. Urutan sistem pernpasan adalah Rongga Hidung, Faring, Larings, Trakea, dan Paru –
Paru.

DAFTAR PUSTAKA
 Pratama putri, Oktaviani. Struktur histologi dari organ dan saluran pernapasan.
https://oktavianipratama.wordpress.com
 Windhu, Akita. 2011. Histologi sistem pernafasan.
http://akitawindhu27.blogspot.com
 Farhan. 2011. Histologi sistem pernapasan sistem. http://farhan-
gibran.blogspot.com

11