Anda di halaman 1dari 99

1

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Kesehatan sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum harus di

wujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia, sebagai mana di maksudkan

dalam pembangunan UUD 1945 melalui pembangunan Nasional yang

berkesinambungan. Pembangunan kesehatan sebagai bagian dari pembangunan

Nasional bertujuan untuk mempertinggi derajat kesehatan termasuk keadaan gizi

masyarakat dan penyediaan obat-obatan di Apotek dalam rangka peningkatan

kualitas dan taraf hidup serta kecerdasan dan kesejahteraan pada umumnya.

Kesehatan dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 36 pada bab I pasal 1

diartikan sebagai keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial

yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan

ekonomis.

Kesehatan sangat berpengaruh pada tingkat produktivitas seseorang yang

mengalami penurunan tingkat/kualitas kesehatan, akan menyebabkan tingkat

produktivitasnya berkurang dengan begitu pembangunan nasional di suatu negara

pun akan mengalami penurunan. Untuk mewujudkan peningkatan derajat

kesehatan masyarakat setinggi-tingginya bagi masyarakat diselanggarakan upaya

kesehatan yang terpadu dan menyeluruh. Penyelenggaraan upaya kesehatan harus

dilakukan oleh tenaga kesehatan yang bertanggung jawab, yang memiliki etik dan
2

moral yang tinggi, keahlian, dan kewenangan yang secara terus menerus harus

ditingkatkan mutunya melalui pendidikan dan pelatihan berkelanjutan, sertifikasi,

registrasi, perizinan, serta pembinaan, pengawasan, dan pemantauan agar

penyelenggaraan upaya kesehatan memenuhi rasa keadilan dan perikemanusiaan

serta sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan. (1)

Kesehatan sendiri menurut UU Nomor 36 Tahun 2009 yakni keadaan

sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan

setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Salah satu

pelayanan kesehatan ialah pelayanan kefarmasian.

Saat ini, pelayanan kefarmasian diberbagai fasilitas kesehatan telah

mengalami perubahan yang semula hanya berfokus kepada pengelolaan Obat

(Drug Oriented) berkembang menjadi pelayanan komprehensif meliputi

pelayanan Obat dan pelayanan farmasi klinik yang bertujuan untuk meningkatkan

kualitas hidup pasien(2). Sebagai konsekuensi perubahan orientasi tersebut,

apoteker dituntut untuk meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan perilaku agar

dapat melaksanakan pemberian informasi, monitoring penggunaan obat untuk

mencapai tujuan pengobatan yang sesuai harapan dan terdokumentasi dengan

baik. Apoteker juga harus memahami dan menyadari kemungkinan terjadinya

kesalahan pengobatan (Medication Error) dalam proses pelayanan kefarmasian.

Sebagai upaya agar para apoteker dapat melaksanakan pelayanan

kefarmasian di lingkungan sekitar, maka apotek merupakan salah satu sarana

kesehatan yang tepat dalam mendukung peningkatan mutu pelayanan kefarmasian

kepada masyarakat. Di apotek masyarakat akan bertemu dengan apoteker


3

yangmelakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran sediaan farmasi, serta

perbekalan kesehatan lainnya.

Apoteker selaku penanggung jawab suatu apotek, mempunyai peran besar

dalam hal pengawasan pengelolaan obat, pelayanan, jaminan keefektifan

pengobatan dan keamanan obat yang diberikan kepada pasien. Oleh karena itu,

seorang calon apoteker perlu mengetahui dan memahami secara langsung peran

apoteker seperti pelayanan dan pengelolaan obat di apotek dengan melalui praktek

kerja profesi apoteker.(2)

Dalam rangka mewujudkan upaya kesehatan yang terpadu, menyeluruh

dan berkesinambungan dibutuhkan suatu fasilitas pelayanan kesehatan.

Fasilitas pelayanan kesehatan adalah suatu alat dan/tempat yang digunakan

untuk menyelanggarakan upaya pelayanan kesehatan, baik promotif, preventif,

kuratif maupun rehabilitative yang dilakukan pemerintah, pemerintah daerah,

dan/atau masyarakat. Salah satu fasilitas kesehatan tersebut adalah apotek.

Apotek adalah salah satu sarana pelayanan kesehatan, kesehatan adalah

hak asasi manusia dan salah satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan.“Di

dalam badan yang sehat terdapat jiwa yang sehat”, pepatah ini mengingatkan

bahwa kesehatan merupakan suatu hal yang penting dan menjadi suatu kebutuhan

dalam kehidupan setiap manusia. Berbagai upaya kesehatan diselenggarakan oleh

pemerintah untuk mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal antara

lain meliputi pendekatan pemeliharaan, peningkatan kesehatan dengan cara

promosi tentang kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif),


4

penyembuhan penyakit (kuratif) dan pemulihan kesehatan baik secara mental

ataupun fisik (rehabilitatif) yang dilaksanakan secaramenyeluruh, terpadu dan

berkesinambungan. Pembangunan di bidang kesehatan salah satunya adalah

menjamin tersedianya pelayanan kesehatan yang bermutu. (3)

Menyadari pentingnya hal tersebut, maka Fakultas Farmasi Institut Sains

dan Teknologi Nasional menyelenggarakan Praktek Kerja Profesi Apoteker

(PKPA) di Apotek Kimia Farma bagi mahasiswa Program Profesi Apoteker dari

tanggal 5 februari sampai dengan 20 februari 2018, sehingga diharapkan mampu

menghasilkan apoteker yang profesional dan kompeten dalam memberikan

pelayanan kefarmasian sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

I.2 TUJUAN

Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) yang diselenggerakan oleh

Program Apoteker Fakultas Farmasi Sains dan Teknologi Nasional yang

bekerjasama dengan Apotek Kimia Farma yang bertujuan:

1. Mengetahui, memahami dan mengamati berbagai aspek profesi

meliputi peran, fungsi, tugas, wewenang, tanggung jawab dan

kegiatan - kegiatan yang dapat dilakukan apoteker dalam

melakukan praktek pelayanan kefarmasian di apotek.


5

2. Mengetahui, memahami dan mengamati berbagai aspek bisnis

meliputi pengelolaan obat di apotek mulai dari pengadaan obat

hingga penyerahan obat ke pasien.

3. Mendapatkan pengalaman praktis mengenai pekerjaan

kefarmasian di apotek

I.3 MANFAAT PKPA

Manfaat Praktek Kerja Profesi Apoteker ini diharapkan calon Apoteker

dapat mengetahui, memahami tugas dan tanggung jawab Apoteker dalam

mengelola apotek, mendapatkan pengalaman praktis mengenai pekerjaan

kefarmasian di Apotek, mendapatkan pengetahuan manajemen praktis di apotek

seperti perencanaan, penganggaran, pengadaan, pendistribusian, penyimpanan,

pemeliharaan, dan pelayanan, serta meningkatkan rasa percaya diri untuk menjadi

Apoteker yang

professional.
6

BAB II

TINJAUAN UMUM

2.1 Apotek

2.1.1 Definisi

Berdasarkan peraturan menteri kesehatan RI No. 9 tahun 2017 tentang

Apotek, Apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek

kefarmasian oleh Apoteker. Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus

sebagai Apoteker dan telah mengucapkan sumpah jabatan Apoteker(3). Dalam

prakteknya di apotek, apoteker wajib melakukan pelayanan langsung dan

bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi dengan

maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupanpasien.

2.1.2 Persyaratan Pendirian Apotek

Berdasarkan peraturan menteri kesehatan RI No. 9 tahun 2017 tentang

Apotek, Seorang Apoteker dapat mendirikan sebuah Apotek dengan modal sendiri

dan/atau modal dari pemilik modal baik perorangan maupun perusahaan. Pada

pendirian Apotek yang modalnya berasal dari pemilik modal, pekerjaan

kefarmasian harus tetap dilakukan sepenuhnya oleh Apoteker yang

bersangkutan(1). Pendirian Apotek harus memenuhi persyaratan, meliputi:

a. Lokasi

Pemerintah daerah kabupaten/kota memiliki kewenangan untuk mengatur

penyebaran apotek diwilayahnya menyesuaikan dengan akses dan

kebutuhan masyarakat akan pelayanan kefarmasian.

4
7

b. Bangunan

Bangunan apotek merupakan bangunan permanen yang dapat berupa bagian

dan/atau terpisah dari pusat perbelanjaan, apartemen, rumah toko, rumah

kantor, rumah susun, dan bangunan yang sejenis. Selain itu, bangunan

Apotek harus memiliki memberikan keamanan, kenyamanan,

dankemudahandalampemberianpelayanankefarmasiankepada p asien serta

perlindungan dan keselamatan bagi semua orang termasuk penyandang

cacat, anak-anak, dan orang lanjut usia(3).

c. Sarana, Prasarana, danPeralatan

Bangunan sarana minimal yang harus dimiliki apotek adalah:

1) PenerimaanResep

Ruang penerimaan Resep sekurang-kurangnya terdiri dari tempat

penerimaan Resep, 1 (satu) set meja dan kursi, serta 1 (satu) set komputer.

Ruang penerimaan Resep ditempatkan pada bagian paling depan dan mudah

terlihat oleh pasien(2).

1. Pelayanan Resep dan peracikan (produksi sediaan secara terbatas)

Ruang pelayanan Resep dan peracikan atau produksi sediaan secara

terbatas meliputi rak Obat sesuai kebutuhan dan meja peracikan. Di

ruang peracikan sekurang-kurangnya disediakan peralatan peracikan,

timbangan Obat, air minum (air mineral) untuk pengencer, sendok

Obat, bahan pengemas Obat, lemari pendingin, termometer ruangan,

blanko salinan Resep, etiket dan label Obat. Ruang ini diatur agar

mendapatkan cahaya dan sirkulasi udara yang cukup, dapat


8

dilengkapi dengan pendingin ruangan (airconditioner).

2. Penyerahan Sediaan Farmasi dan AlatKesehatan

Ruang penyerahan Obat berupa konter penyerahan Obat yang dapat

digabungkan dengan ruang penerimaan Resep.

3. Konseling

Ruang konseling sekurang-kurangnya memiliki satu set meja dan

kursi konseling, lemari buku, buku-buku referensi, leaflet, poster, alat

bantu konseling, buku catatan konseling dan formulir catatan

pengobatanpasien.

4. Penyimpanan Sediaan Farmasi dan AlatKesehatan

Ruang penyimpanan harus memperhatikan kondisi sanitasi,

temperatur, kelembaban, ventilasi, pemisahan untuk menjamin mutu

produk dan keamanan petugas. Ruang penyimpanan harus dilengkapi

dengan rak/lemari Obat, pallet, pendingin ruangan (AC), lemari

pendingin, lemari penyimpanan khusus narkotika dan psikotropika,

lemari penyimpanan Obat khusus, pengukur suhu dan kartusuhu.

5. Arsip

Ruang arsip dibutuhkan untuk menyimpan dokumen yang berkaitan

dengan pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan

Medis Habis Pakai serta Pelayanan Kefarmasian dalam jangka waktu

tertentu.

Prasarana Apotek paling sedikit terdiri atas:

1. Instalasi airbersih
9

2. Instalasilistrik

3. Sistem tataudara;dan

4. Sistem proteksikebakaran.

Peralatan Apotek meliputi semua peralatan yang dibutuhkan dalam

pelaksanaan pelayanan kefarmasian. Peralatan tersebut meliputi rak obat,

alat peracikan, bahan pengemas obat, lemari pendingin, meja, kursi,

komputer, sistem pencatatan mutasi obat, formulir catatan pengobatan

pasien dan peralatan lain sesuai dengan kebutuhan. Formulir catatan

pengobatan pasien yang dimaksud merupakan catatan mengenai riwayat

penggunaan Sediaan Farmasi dan/atau Alat Kesehatan atas permintaan

tenaga medis dan catatan pelayanan apoteker yang diberikan kepada

pasien(3).

d. Ketenagaan.

Apoteker pemegang SIA dalam menyelenggarakan Apotek dapat dibantu

oleh Apoteker lain, Tenaga Teknis Kefarmasian dan/atau tenaga

administrasi. Apoteker dan Tenaga Teknis Kefarmasian wajib memiliki

surat izin praktik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-

undangan(3).

2.1.3 Perizinan PendirianApotek

Dalam mendirikan Apotek diwajibkan memiliki izin Menteri Kesehatan

melalui Pemerintah Daerah kabupaten/Kota. Izin tersebut berupa Surat Izin

Apotek (SIA) yang berlaku selama 5 tahun dan dapat diperpanjang selama

memenuhi persyaratan. Untuk memperoleh SIA, Untuk memperoleh


10

SIA,Apoteker harus mengajukan permohonan tertulis kepada Pemerintah

Daerah

Kabupaten/Kota dengan menggunakan Formulir 1(3). Permohonan tersebut harus

ditandatangani oleh Apoteker disertai dengan kelengkapan dokumen

administratif meliputi:

a. fotokopi STRA dengan menunjukan STRAasli;

b. fotokopi Kartu Tanda Penduduk(KTP);

c. fotokopi Nomor Pokok Wajib PajakApoteker;

d. fotokopi peta lokasi dan denahbangunan;dan

e. daftar prasarana, sarana, danperalatan.

Paling lama dalam waktu 6 (enam) hari kerja sejak menerima

permohonan dan dinyatakan telah memenuhi kelengkapan dokumen

administratif, Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota menugaskan tim pemeriksa

untuk melakukan pemeriksaan setempat terhadap kesiapan Apotek dengan

menggunakan Formulir 2 terdiri atas:

a. tenaga kefarmasian;dan

b. tenaga lainnya yang menangani bidang sarana danprasarana.

Selanjutnya, Paling lama dalam waktu 6 (enam) hari kerja sejak tim

pemeriksa ditugaskan, tim pemeriksa harus melaporkan hasil pemeriksaan

setempat yang dilengkapi Berita Acara Pemeriksaan (BAP) kepada Pemerintah

Daerah Kabupaten/Kota dengan menggunakan Formulir 3. Apabila Dinyatakan

memenuhi syarat, paling lama dalam waktu 12 (dua belas) hari kerja Pemerintah

Daerah Kabupaten/Kota akan menerbitkan SIA dengan tembusan kepada


11

Direktur Jenderal, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi, Kepala Balai POM, Kepala

Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, dan Organisasi Profesi dengan menggunakan

Formulir 4.

Apabila dalam hal hasil pemeriksaan dinyatakan masih belum memenuhi

persyaratan, Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota harus mengeluarkan surat

penundaan paling lama dalam waktu 12 (dua belas) hari kerja dengan

menggunakan Formulir 5. pemohon dapat melengkapi persyaratan paling lambat

dalam waktu 1 (satu) bulan sejak surat penundaan diterima. Apabila pemohon

tidak dapat memenuhi kelengkapan persyaratan maka Pemerintah

Daerah Kabupaten/Kota mengeluarkan Surat Penolakan dengan menggunakan

Formulir 6.

Apabila Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dalam menerbitkan SIA

melebihi jangka waktu, Apoteker pemohon dapat menyelenggarakan Apotek

dengan menggunakan BAP sebagai pengganti SIA(3).

Penerbitan SIA oleh pemerintah daerah bersamaan dengan penerbitan

SIPA untuk Apoteker pemegang SIA. Dan, masa berlaku SIA mengikuti masa

berlaku SIPA.

2.1.4 Perubahan Izin Apotek


12

Setiap perubahan alamat di lokasi yang sama atau perubahan alamat dan

pindah lokasi, perubahan Apoteker pemegang SIA, atau nama Apotek harus

dilakukan perubahan izin dan wajib mengajukan permohonan perubahan izin

kepada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. Untuk Apotek yang melakukan

perubahan alamat di lokasi yang sama atau perubahan nama Apotek tidak perlu

dilakukan pemeriksaan setempat oleh tim pemeriksa. Tata cara permohonan

perubahan izin bagi Apotek yang melakukan perubahan alamat dan pindah lokasi

atau perubahan Apoteker pemegang SIA mengikuti ketentuan pendirian Apotek(3).

2.1.5 Pencabutan surat Izin Apotek

Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 9

tahun 2017 tentang Apotek, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat

dapat mencabut Surat Izin Apotek, apabila :

a. Apoteker sudah tidak lagi memenuhi syarat sebagai Apoteker Pengelola

Apotek.

b. Apoteker tidak lagi memenuhi kewajibannya untuk menyediakan,

menyimpan dan menyerahkan sediaan farmasi yang bermutu baik dan

keabsahannyaterjamin.

c. Apoteker Pengelola Apotek berhalangan melakukan tugasnya lebih dari 2

tahun secara terusmenerus.

d. Terjadi pelanggaran terhadap Undang-Undang Obat Keras No. St. 1937

No. 541, Undang-Undang No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan,

Undang- undang No.35 Tahun 2009 tentang Narkotika, Undang-undang

No.5 Tahun 1997 tentang Psikotropika, serta ketentuan peraturan


13

perundang- undangan lainnya yang berlaku.

e. Surat Izin Kerja (SIK) Apoteker Pengelola Apotek tersebutdicabut

f. Pemilik sarana apotek tersebut terbukti terlibat dalam pelanggaran

perundangundangan di bidangobat

g. Apotek tidak dapat lagi memenuhi persyaratan mengenai kesiapan tempat

pendirian apotek serta kelengkapan sediaan farmasi dan perbekalan

lainnya baik merupakan milik sendiri atau pihaklain

Pelaksanaan pencabutan izin apotek dilakukan setelah dikeluarkan

peringatan secara tertulis kepada Apoteker Pengelola Apotek sebanyak 3 kali

berturut-turut dengan tenggang waktu masing-masing 2 bulan. Pembekuan izin

apotek ditetapkan untuk jangka waktu selama-lamanya 6 bulan sejak dikeluarkan

penetapan pembekuan kegiatan apotek.

Pembekuan izin apotek dapat dicairkan kembali apabila apotek telah

membuktikan memenuhi seluruh persyaratan sesuai dengan ketentuan dalam

peraturan.

Pencairan izin apotek dilakukan setelah menerima laporan pemeriksaan

dari Tim Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat. Apabila Surat Izin Apotek

dicabut, APA atau Apoteker Pengganti wajib mengamankan perbekalan

farmasinya. Pengamanan dilakukan dengan cara sebagai berikut:

a. Dilakukan inventarisasi terhadap seluruh persediaan narkotika, obat keras

tertentu dan obat lainnya serta seluruh resep yang tersedia diapotek.

b. Narkotika, psikotropika dan resep harus dimasukkan dalam tempat yang

tertutup danterkunci.
14

c. Apoteker Pengelola Apotek wajib melaporkan secara tertulis kepada

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau petugas yang diberi

wewenang tentang penghentian kegiatan disertai laporan invertarisasi

yang dimaksud diatas.

2.2 Standar Pelayanan Kefarmasian DiApotek

Menurut Permenkes No. 73 tahun 2016 tentang Standard pelayanan

kefarmasian di Apotek, ruang lingkup pelayanan kefarmasian di apotek terdiri 2

kegiatan, yaitu kegiatan yang bersifat manajerial berupa pengelolaan Sediaan

Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai dan pelayanan

farmasiklinik.

2.2.1 Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis

Pakai

a. Perencanaan

Dalam membuat perencanaan pengadaan Sediaan Farmasi, Alat

Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai perlu diperhatikan pola

penyakit, pola konsumsi, budaya dan kemampuan masyarakat.

b. Pengadaan

Untuk menjamin kualitas Pelayanan Kefarmasian maka pengadaan

Sediaan Farmasi harus melalui jalur resmi sesuai ketentuan peraturan

perundang-undangan.

c. Penerimaan
15

Penerimaan merupakan kegiatan untuk menjamin kesesuaian jenis

spesifikasi, jumlah, mutu, waktu penyerahan dan harga yang tertera

dalam surat pesanan dengan kondisi fisik yang diterima.

d. Penyimpanan

- Obat/bahan Obat harus disimpan dalam wadah asli dari pabrik.

Dalam hal pengecualian atau darurat dimana isi dipindahkan pada

wadah lain, maka harus dicegah terjadinya kontaminasi dan harus

ditulis informasi yang jelas pada wadah baru. Wadah sekurang-

kurangnya memuat nama Obat, nomor batch dan tanggalkadaluwarsa.

- Semua Obat/bahan Obat harus disimpan pada kondisi yang sesuai

sehingga terjamin keamanan danstabilitasnya.

- Tempat penyimpanan obat tidak dipergunakan untuk penyimpanan

barang lainnya yang menyebabkankontaminasi.

- Sistem penyimpanan dilakukan dengan memperhatikan bentuk

sediaan dan kelas terapi Obat serta disusun secaraalfabetis

- Pengeluaran Obat memakai sistem FEFO (First Expire First Out) dan

FIFO (First In FirstOut).

e. Pemusnahan danpenarikan

- Obat kadaluwarsa atau rusak harus dimusnahkan sesuai dengan jenis

dan bentuk sediaan. Pemusnahan Obat kadaluwarsa atau rusak yang

mengandung narkotika atau psikotropika dilakukan oleh Apoteker

dan disaksikan oleh Dinas KesehatanKabupaten/Kota.

- Pemusnahan Obat selain narkotika dan psikotropika dilakukan oleh


16

Apoteker dan disaksikan oleh tenaga kefarmasian lain yang memiliki

surat izin praktik atau surat izin kerja. Pemusnahan dibuktikan dengan

berita acara pemusnahan menggunakan Formulir 1 sebagaimana

terlampir.

- Resep yang telah disimpan melebihi jangka waktu 5 (lima) tahun

dapat dimusnahkan. Pemusnahan Resep dilakukan oleh Apoteker

disaksikan oleh sekurang-kurangnya petugas lain di Apotek dengan

cara dibakar atau cara pemusnahan lain yang dibuktikan dengan

Berita Acara Pemusnahan Resep menggunakan Formulir 2

sebagaimana terlampir dan selanjutnya dilaporkan kepada dinas

kesehatankabupaten/kota.

- Pemusnahan dan penarikan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis

Pakai yang tidak dapat digunakan harus dilaksanakan dengan cara

yang sesuai dengan ketentuan peraturanperundang-undangan.

- Penarikan sediaan farmasi yang tidak memenuhi standard/ketentuan

peraturan perundang-undangan dilakukan oleh pemilik izin edar

berdasarkan perintah penarikan oleh BPOM (mandatory recall) atau

berdasarkan inisiasi sukarela oleh pemilik izin edar (voluntary recall)

dengan tetap memberikan laporan kepada KepalaBPOM.

- Penarikan Alat Kesehatan dan Bahan Medis Habis Pakai dilakukan

terhadap produk yang izin edarnya dicabut olehMenteri.

f. Pengendalian

Pengendalian dilakukan untuk mempertahankan jenis dan jumlah


17

persediaan sesuai kebutuhan pelayanan, melalui pengaturan sistem

pesanan atau pengadaan, penyimpanan dan pengeluaran. Hal ini

bertujuan untuk menghindari terjadinya kelebihan, kekurangan,

kekosongan, kerusakan, kadaluwarsa, kehilangan serta pengembalian

pesanan. Pengendalian persediaan dilakukan menggunakan kartu stok

baik dengan cara manual atau elektronik. Kartu stok sekurang-

kurangnya memuat nama Obat, tanggal kadaluwarsa, jumlah

pemasukan, jumlah pengeluaran dan sisapersediaan.

g. Pencatatan danPelaporan

Pencatatan dilakukan pada setiap proses pengelolaan Sediaan Farmasi,

Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai meliputi pengadaan

(surat pesanan, faktur), penyimpanan (kartu stok), penyerahan (nota

atau struk penjualan) dan pencatatan lainnya disesuaikan dengan

kebutuhan.

Pelaporan terdiri dari pelaporan internal dan eksternal. Pelaporan

internal merupakan pelaporan yang digunakan untuk kebutuhan

manajemen Apotek, meliputi keuangan, barang dan laporanlainnya.

Pelaporan eksternal merupakan pelaporan yang dibuat untuk

memenuhi kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-

undangan, meliputi pelaporan narkotika, psikotropika dan pelaporan

lainnya.

2.2.2 Pelayanan FarmasiKlinik

a. Pengkajian dan PelayananResep


18

Kegiatan pengkajian Resep meliputi administrasi, kesesuaian

farmasetik dan pertimbangan klinis.

Kajian administratif meliputi:

1. nama pasien, umur, jenis kelamin dan beratbadan;

2. nama dokter, nomor Surat Izin Praktik (SIP), alamat, nomor

telepondan paraf;dan

3. tanggal penulisanResep.

Kajian kesesuaian farmasetik meliputi:

1) bentuk dan kekuatansediaan;

2) stabilitas;dan

3) kompatibilitas (ketercampuranObat).

Pertimbangan klinis meliputi:

1) ketepatan indikasi dan dosisObat;

2) aturan, cara dan lama penggunaanObat;

3) duplikasi dan/ataupolifarmasi;

4) reaksi Obat yang tidak diinginkan (alergi, efek samping

Obat, manifestasi klinislain);

5) kontra indikasi;dan

6) interaksi.

Jika ditemukan adanya ketidaksesuaian dari hasil pengkajian maka

Apoteker harus menghubungi dokter penulis Resep. Pelayanan Resep

dimulai dari penerimaan, pemeriksaan ketersediaan, penyiapan Sediaan

Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai termasuk peracikan
19

Obat, pemeriksaan, penyerahan disertai pemberian informasi. Pada setiap

tahap alur pelayanan Resep dilakukan upaya pencegahan terjadinya

kesalahan pemberian Obat (medication error). Petunjuk teknis mengenai

pengkajian dan pelayanan Resep akan diatur lebih lanjut oleh Direktur

Jenderal.

b. Dispensing

Dispensing terdiri dari penyiapan, penyerahan dan pemberian informasi

Obat. Setelah melakukan pengkajian Resep dilakukan hal sebagai berikut:

1. Menyiapkan Obat sesuai dengan permintaanResep:

a. menghitung kebutuhan jumlah Obat sesuai denganResep

b. Mengambil Obat yang dibutuhkan pada rak penyimpanan dengan

memperhatikan nama Obat, tanggal kadaluwarsa dan keadaan fisik

Obat.

2. Melakukan peracikan Obat biladiperlukan.

3. Memberikan etiket sekurang-kurangnyameliputi:

a. warna putih untuk Obatdalam/oral;

b. warna biru untuk Obat luar dansuntik;

c. menempelkan label “kocok dahulu” pada sediaan bentuk suspensi

atauemulsi.

4. Memasukkan Obat ke dalam wadah yang tepat dan terpisah untuk

Obat yang berbeda untuk menjaga mutu Obat dan menghindari

penggunaan yangsalah.

Setelah penyiapan Obat dilakukan hal sebagai berikut:


20

1) Sebelum Obat diserahkan kepada pasien harus dilakukan

pemeriksaan kembali mengenai penulisan nama pasien pada etiket,

cara penggunaan serta jenis dan jumlah Obat (kesesuaian antara

penulisan etiket denganResep);

2) Memanggil nama dan nomor tunggupasien;

3) Memeriksa ulang identitas dan alamatpasien;

4) Menyerahkan Obat yang disertai pemberian informasiObat;

5) Memberikan informasi cara penggunaan Obat dan hal-hal yang

terkait dengan Obat antara lain manfaat Obat, makanan dan

minuman yang harus dihindari, kemungkinan efek samping, cara

penyimpanan Obat danlain-lain;

6) Penyerahan Obat kepada pasien hendaklah dilakukan dengan cara

yang baik, mengingat pasien dalam kondisi tidak sehat mungkin

emosinya tidakstabil;

7) Memastikan bahwa yang menerima Obat adalah pasien atau

keluarganya;

8) Membuat salinan Resep sesuai dengan Resep asli dan diparaf oleh

Apoteker (apabiladiperlukan);

9) Menyimpan Resep padatempatnya;

10) Apoteker membuat catatan pengobatan pasien dengan

menggunakan Formulir

Apoteker di Apotek juga dapat melayani Obat non Resep atau

pelayanan swamedikasi. Apoteker harus memberikan edukasi kepada


21

pasien yang memerlukan Obat non Resep untuk penyakit ringan dengan

memilihkan Obat bebas atau bebas terbatas yangsesuai.

c. Pelayanan Informasi Obat(PIO)

Pelayanan Informasi Obat merupakan kegiatan yang dilakukan oleh

Apoteker dalam pemberian informasi mengenai Obat yang tidak

memihak, dievaluasi dengan kritis dan dengan bukti terbaik dalam segala

aspek penggunaan Obat kepada profesi kesehatan lain, pasien atau

masyarakat. Informasi mengenai Obat termasuk Obat Resep, Obat bebas

dan herbal.

Informasi meliputi dosis, bentuk sediaan, formulasi khusus, rute dan

metoda pemberian, farmakokinetik, farmakologi, terapeutik dan

alternatif, efikasi, keamanan penggunaan pada ibuhamil dan menyusui,

efek samping, interaksi, stabilitas, ketersediaan, harga, sifat fisika atau

kimia dari Obat dan lain-lain.

Kegiatan Pelayanan Informasi Obat di Apotek meliputi:

1. Menjawab pertanyaan baik lisan maupuntulisan;

2. Membuat dan menyebarkan buletin/ brosur/ leaflet, pemberdayaan

masyarakat(penyuluhan)

3. Memberikan informasi dan edukasi kepadapasien;

Memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada mahasiswa farmasi

yang sedang praktikprofesi;

4. Melakukan penelitian penggunaanObat;

5. Membuat atau menyampaikan makalah dalam forumilmiah;


22

6. Melakukan program jaminanmutu.

Pelayanan Informasi Obat harus didokumentasikan untuk membantu

penelusuran kembali dalam waktu yang relatif singkat dengan menggunakan

sebuah Formulir.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam dokumentasi pelayanan Informasi

Obat :

1) TopikPertanyaan;

2) Tanggal dan waktu Pelayanan Informasi Obatdiberikan;

3) Metode Pelayanan Informasi Obat (lisan, tertulis, lewattelepon);

4) Data pasien (umur, jenis kelamin, berat badan, informasi lain seperti

riwayat alergi, apakah pasien sedang hamil/menyusui, data

laboratorium);

5) Uraianpertanyaan;

6) Jawabanpertanyaan;

7) Referensi;

8) Metode pemberian jawaban (lisan, tertulis, pertelepon) dan data

Apoteker yang memberikan Pelayanan InformasiObat.

d. Konseling

Konseling merupakan proses interaktif antara Apoteker dengan

pasien/keluarga untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman, kesadaran

dan kepatuhan sehingga terjadi perubahan perilaku dalam penggunaan Obat

dan menyelesaikan masalah yang dihadapi pasien. Untuk mengawali

konseling, Apoteker menggunakan three prime questions. Apabila tingkat


23

kepatuhan pasien dinilai rendah, perlu dilanjutkan dengan metode Health

Belief Model. Apoteker harus melakukan verifikasi bahwa pasien atau

keluarga pasien sudah memahami Obat yangdigunakan.

Kriteria pasien/keluarga pasien yang perlu diberi konseling:

1. Pasien kondisi khusus (pediatri, geriatri, gangguan fungsi hatidan/atau

ginjal, ibu hamil dan menyusui).

2. Pasien dengan terapi jangka panjang/penyakit kronis (misalnya:

TB, DM, AIDS,epilepsi).

3. Pasien yang menggunakan Obat dengan instruksi khusus (penggunaan

kortikosteroid dengan tapperingdown/off).

4. Pasien yang menggunakan Obat dengan indeks terapi sempit (digoksin,

fenitoin,teofilin).

5. Pasien dengan polifarmasi; pasien menerima beberapa Obat untuk

indikasi penyakit yang sama. Dalam kelompok ini juga termasuk

pemberian lebih dari satu Obat untuk penyakit yang diketahui dapat

disembuhkan dengan satu jenisObat.

6. Pasien dengan tingkat kepatuhanrendah.

Tahap kegiatan konseling:

1) Membuka komunikasi antara Apoteker denganpasien

2) Menilai pemahaman pasien tentang penggunaan Obat melalui Three

Prime Questions,yaitu:

a) Apa yang disampaikan dokter tentang ObatAnda?

b) Apa yang dijelaskan oleh dokter tentang cara pemakaian Obat


24

Anda?

c) Apa yang dijelaskan oleh dokter tentang hasil yang diharapkan

setelah Anda menerima terapi Obattersebut?

3) Menggali informasi lebih lanjut dengan memberi kesempatan kepada

pasien untuk mengeksplorasi masalah penggunaanObat.

4) Memberikan penjelasan kepada pasien untuk menyelesaikan masalah

penggunaanObat.

5) Melakukan verifikasi akhir untuk memastikan pemahaman pasien

Apoteker mendokumentasikan konseling dengan meminta tanda

tangan pasien sebagai bukti bahwa pasien memahami informasi yang

diberikan dalam konseling dengan menggunakan Formulir khusus

konseling.

e. Pelayanan Kefarmasian di Rumah (Home PharmacyCare)

Apoteker sebagai pemberi layanan diharapkan juga dapat melakukan

Pelayanan Kefarmasian yang bersifat kunjungan rumah, khususnya untuk

kelompok lansia dan pasien dengan pengobatan penyakit kronis lainnya.

Jenis Pelayanan Kefarmasian di rumah yang dapat dilakukan oleh

Apoteker, meliputi :

1. Penilaian/pencarian (assessment) masalah yang berhubungan dengan

pengobatan

2. Identifikasi kepatuhanpasien

3. Pendampingan pengelolaan Obat dan/atau alat kesehatan di rumah,

misalnya cara pemakaian Obat asma, penyimpananinsulin\


25

4. Konsultasi masalah Obat atau kesehatan secaraumum

5. Monitoring pelaksanaan, efektifitas dan keamanan penggunaan Obat

berdasarkan catatan pengobatanpasien

6. Dokumentasi pelaksanaan Pelayanan Kefarmasian di rumah dengan

menggunakan Formulirkhusus.

f. Pemantauan Terapi Obat(PTO)

Merupakan proses yang memastikan bahwa seorang pasien mendapatkan

terapi Obat yang efektif dan terjangkau dengan memaksimalkan efikasi

dan meminimalkan efeksamping.

Kriteria pasien:

1. Anak-anak dan lanjut usia, ibu hamil danmenyusui.

2. Menerima Obat lebih dari 5 (lima)jenis.

3. Adanyamultidiagnosis.

4. Pasien dengan gangguan fungsi ginjal atauhati.

5. Menerima Obat dengan indeks terapisempit.

6. Menerima Obat yang sering diketahui menyebabkan reaksi Obat

yang merugikan.

g. Monitoring Efek Samping Obat(MESO)

Merupakan kegiatan pemantauan setiap respon terhadap Obat yang

merugikan atau tidak diharapkan yang terjadi pada dosis normal yang

digunakan pada manusia untuk tujuan profilaksis, diagnosis dan terapi

atau memodifikasi fungsi fisiologis.


26

2.3 PenggolonganObat

Menurut Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, obat adalah

bahan atau paduan bahan, termasuk produk biologi yang digunakan untuk

mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam

rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan,

peningkatan kesehatan dan kontrasepsi, untuk manusia. Obat digolongkan

menjadi 5 bagian yaitu obat bebas, obat bebas terbatas, obat keras serta obat

narkotika dan psikotropika.

2.3.1 Obat Bebas

Obat bebas adalah obat yang dapat dibeli tanpa resep dokter. Pada

kemasan ditandai dengan lingkaran hitam, mengelilingi bulatan berwarna hijau.

Dalam kemasan obat disertakan brosur yang berisi nama obat, nama dan isi zat

berkhasiat, indikasi, dosis, aturan pakai, efek samping , nomor batch, nomor

registrasi, nama dan alamat pabrik, serta cara penyimpanannya.

Gambar II. 1. Penandaan obat bebas

2.3.2 Obat BebasTerbatas


27

Obat bebas terbatas yaitu obat yang digunakan untuk mengobati penyakit

ringan yang dapat dikenali oleh penderita sendiri. Obat bebas terbatas termasuk

obat keras dimana pada setiap takaran yang digunakan diberi batas dan pada

kemasan ditandai dengan lingkaran hitam mengelilingi bulatan berwarna biru

serta sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan No.6355/Dirjen/SK/69

tanggal 5 November 1975 disertai tanda peringatan P. No. 1 sampai P. No. 6 dan

harus ditandai dengan eetiket atau brosur yang menyebutkan nama obat yang

bersangkutan, daftar bahan berkhasiat serta jumlah yang digunakan, nomor batch,

tanggal kadaluwarsa, nomor registrasi, nama dan alamat produsen, petunjuk

penggunaan, indikasi, cara pemakaian, peringatan serta kontraindikasi.

Gambar II. 2. Penandaan obat bebas terbatas

Gambar II. 3. Penandaan peringatan pada obat bebas terbatas

2.3.3 ObatKeras

Obat keras adalah yaitu obat-obatan yang tidak digunakan untuk


28

keperluan tehnik, yang mempunyai khasiat mengobati, menguatkan,

membaguskan, mendesinfeksikan dan lain-lain tubuh manusia, baik dalam

bungkusan maupun tidak, yang ditetapkan oleh Secretaris Van Staat, Hoofd van

het Departement van Gesondheid(4). Obat ini hanya boleh diserahkan dengan

resep dokter, dimana pada bungkus luarnya diberi tanda bulatan dengan

lingkaran hitam dengan dasar merah yang didalamnya terdapat huruf “K” yang

menyentuh garis tepi. Obat yang masuk ke dalam golongan obat keras ini adalah

obat yang dibungkus sedemikian rupa yang digunakan secara parenteral, baik

dengan cara suntikan maupun dengan cara pemakaian lain dengan jalan merobek

jaringan, obat baru yang belum tercantum dalam kompedial/farmakope terbaru

yang berlaku di Indonesia serta obat-obat yang ditetapkan sebagai obat keras

melalui keputusan Menkes RepublikIndonesia.

Gambar II. 4. Penandaan obat keras

2.3.4 ObatNarkotika
29

Menurut Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika,

narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik

sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan

kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan

dapat menimbulkan ketergantungan, yang dibedakan ke dalam golongan-

golongan. Penandaan obat narkotika adalah tanda palang merah yang berada di

bungkus obat (5).

Gambar II. 5. Penandaan obat narkotika

Narkotika dibagi ke dalam 3 golongan yaitu :

a. Narkotika GolonganI

Narkotika Golongan I adalah narkotika yang hanya digunakan untuk tujuan

pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta

mempunyai potensi yang sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan(6).

b. Narkotika GolonganII

Narkotika Golongan II adalah narkotika berkhasiat pengobatan diganakan

sebagai pilihan terakhir dalam terapi dan/atau digunakan untuk tujuan ilmu

pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi mengakibatkan

ketergantungan(5).

c. Narkotika GolonganIII

Narkotika Golongan III adalah narkotika berkhsiat pengobatan dan banyak


30

digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan pengembangan ilmu

pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan

ketergantungan(5).

2.3.5 ObatPsikotropik

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1997

tentang Psikotropika, psikotropika adalah zat atau obat baik alamiah maupun

sintetis bukan narkotika yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada

susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan

perilaku(6).

Psikotropika dibagi menjadi beberapa golongan, yaitu :

a. Psikotropika GolonganI

Psikotropika Golongan I adalah psikotropika yang hanya dapat digunakan

untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta

mempunyai potensi amat kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan.

Contoh : lisergida dan meskalina

b. Psikotropika GolonganII

Psikotropika Golongan II psikotropika yang berkhasiat pengobatan

digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta

mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh:

amfetamin dan metamfetamin.

c. Psikotropika GolonganIII

Psikotropika Golongan III adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan

dan banyak digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu


31

pengetahuan serta mempunya potensi sedang mengakibatkan

ketergantungan.Contoh : amobarbital, pentobarbital dan pentazonia.

d. Psikotropika GolonganIV

Psikotropika Golongan IV adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan

dan sangat luas digunakan untuk terapi dan/atau untuk tujuan ilmu

pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan sindroma

ketergantungan. Contoh : barbital, alprazolam dan diazepam.

2.4 Pengelolaan Narkotika, Psikotropika, Dan Prekursor Farmasi

DiApotek

Pengelolaan Narkotika, Psikotropikadan Prekursor Farmasi diatur dalam

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2015 Tentang

Peredaran, Penyimpanan, Pemusnahan, dan Pelaporan Narkotika, Psikotropika,

dan Prekursor Farmasi(7).

a. Pemesanan

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 3

Tahun 2015, pemesanan Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor Farmasi di

Apotek hanya dapat dilakukan berdasarkan surat pesanan. Surat pesanan hanya

dapat berlaku untuk masing-masing Narkotika, Psikotropika, atau Prekursor

Farmasi. Surat pesanan Narkotika hanya dapat digunakan untuk 1 (satu) jenis

Narkotika dan surat pesanan Psikotropika atau Prekursor Farmasi hanya dapat
32

digunakan untuk 1 (satu) atau beberapa jenis Psikotropika atau Prekursor

Farmasi. Surat pesanan Narkotika, Psikotropika dan Prekursor Farmasi harus

terpisah dari pesanan barang lain.

b. Penyimpanan

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 3

Tahun 2015. tempat penyimpanan Narkotika, Psikotropika, danPrekursor

Farmasi di fasilitas pelayanan kefarmasian termasuk apotek harusmampu

menjaga keamanan, khasiat, dan mutu Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor

Farmasi. Tempat penyimpanan Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor Farmasi

dapat di apotek berupa lemari khusus. Tempat penyimpanan Narkotika dilarang

digunakan untuk menyimpan barang selain Narkotika,begitu pula dengan tempat

penyimpanan Psikotropika dan Prekursor Farmasi. Lemari khusus untuk

menyimpan Narkotika, Psikotropika dan PrekursorFarmasi di apotek harus

memenuhi syarat sebagai berikut:

a. Terbuat dari bahan yangkuat.

b. Tidak mudah dipindahkan dan mempunyai 2 (dua) buah kunci yang berbeda.

c. Diletakkan di tempat yang aman dan tidak terlihat olehumum.

d. Kunci lemari khusus dikuasai oleh Apoteker penanggung jawab/Apoteker

yang ditunjuk dan pegawai lain yangdikuasakan.

c. Penyerahan

Pada Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 3 Tahun

2015 dijelaskan bahwa apotek menyerahkan Narkotika, Psikotropika dan

Pekursor Farmasi kepada:


33

a. Apoteklainnya.

b. Puskesmas.

c. Instalasi Farmasi RumahSakit.

d. Instalasi FarmasiKlinik.

e. Dokter.

f. Pasien.

Penyerahan Narkotika dan/atau Psikotropika kepada apotek lain,

puskesmas, Instalasi Farmasi Rumah Sakit dan Instalasi Farmasi Klinik dapat

dilakukan untuk memenuhi kekurangan jumlah Narkotika, Psikotropika atau

Prekursor Farmasi golongan obat keras berdasarkan resep yang telah diterima.

Penyerahan berdasarkan surat permintaan tertulis yang ditandatangani oleh

apoteker penanggung jawab. Sedangkan Narkotika, Psikotropika, atau Prekursor

Farmasi golongan obat keras diserahkan kepada pasien berdasarkan resepdokter.

Penyerahan Prekursor Farmasi golongan obat bebas terbatas oleh apotek

kepada apotek lainnya, Puskesmas, Instalasi Farmasi Rumah Sakit, Instalasi

Farmasi Klinik, dan Toko Obat hanya dapat dilakukan untuk memenuhi

kekurangan kebutuhan harian Prekursor Farmasi golongan obat bebas terbatas

yang diperlukan untuk pengobatan.

d. Pemusnahan

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 3

Tahun 2015. pemusnahan Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor Farmasi di

apotek hanya dilakukan dalam hal:

1. Diproduksi tanpa memenuhi standar dan persyaratan


34

yangberlaku dan/atau tidak dapat diolahkembali.

2. Telahkadaluwarsa.

3. Tidak memenuhi syarat untuk digunakan pada pelayanan

kesehatan dan/atau untuk pengembangan ilmu pengetahuan,

termasuk sisa penggunaan.

4. Dibatalkan izinedarnya.

Pemusnahan Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor Farmasi harus

dilakukan dengan tidak mencemari lingkungan dan tidak membahayakan

kesehatan masyarakat.

e. Pencatatan

Apotek wajib membuat pencatatan mengenai pemasukan dan/atau

pengeluaran Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor Farmasi. Pencatatan paling

sedikit terdiriatas:
1. Nama, bentuk sediaan, dan kekuatan Narkotika, Psikotropika, dan

PrekursorFarmasi.

2. Jumlahpersediaan.

3. Tanggal, nomor dokumen, dan sumberpenerimaan.

4. Jumlah yangditerima.

5. Tanggal, nomor dokumen, dan tujuanpenyaluran/penyerahan.

6. Jumlah yangdisalurkan/diserahkan.

7. Nomor batch dan kadaluwarsa setiap penerimaan atau

penyaluran/penyerahan.

8. Paraf atau identitas petugas yang ditunjuk.

Seluruh dokumen pencatatan, dokumen penerimaan, dokumen

penyaluran, dan/atau dokumen penyerahan termasuk surat pesanan Narkotika,

Psikotropika, dan Prekursor Farmasi wajib disimpan secara terpisah paling

singkat 3 (tiga)tahun.

f. Pelaporan

Apotek wajib membuat, menyimpan, dan menyampaikan laporan

pemasukan dan penyerahan/penggunaan Narkotika dan Psikotropika. Pelaporan

dilakukan paling lambat setiap tanggal 10 setiap bulan melalui aplikasi SIPNAP

(Sistem Informasi Pelaporan Narkotika dan Psikotropika) yang dapat diakses di

website sipnap.kemkes.go.id. Pelaporan paling sedikit terdiri atas:

1. Nama, bentuk sediaan, dan kekuatan Narkotika, Psikotropika, dan/atau

PrekursorFarmasi.

2. Jumlah persediaan awal dan akhirbulan.

3. Jumlah yangditerima.
4. Jumlah yangdiserahkan

2.5 Obat WajibApotek

Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia

No.347/MENKES/SK/VII/1990 tentang Obat Wajib Apotek, menerangkan bahwa

obat wajib apotek (OWA) adalah obat keras yang dapat diserahkan tanpa resep

dokter oleh apoteker kepada pasien di apotek. Peraturan mengenai obat wajib

apotek dibuat untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menolong

dirinya sendiri guna mengatasi masalah kesehatan dan peningkatan pengobatan

sendiri secara tepat, aman dan rasional(8).

Obat yang dapat diserahkan tanpa resep dokter harus memenuhi kriteria:

a. Tidak dikontraindikasikan pada wanita hamil, anak dibawah usia 2 tahun,

dan orang tua diatas 65tahun.

b. Pengobatan sendiri dengan obat dimaksud tidak memberikan resiko akan

kelanjutan penyakit.

c. Penggunaan tidak memerlukan cara dan atau alat khusus yang harus

dilakukan oleh tenagakesehatan.

d. Penggunaannya diperlukan untuk penyakit yang prevalensinya tinggi di

Indonesia.

e. Obat dimaksud memiliki rasio khasiat keamanan yang dapat

dipertanggung jawabkan untuk pengobatan sendiri.

Dalam melayani pasien yang memerlukan OWA, Apoteker di apotek diwajibkan

untuk:

1. Memenuhi ketentuan dan batasan tiap jenis obat per pasien yang
disebutkan dalam OWA yangbersangkutan.

2. Membuat catatan pasien serta obat yang telahdiserahkan.

3. Memberikan informasi, meliputi dosis dan aturan pakainya, kontraindikasi,

efek samping dan lain-lain yang perlu diperhatikan olehpasien.

2.6 ObatGenerik

Obat generik adalah obat dengan nama resmi Internasional Non

Proprietary Name (INN) yang ditetapkan dalam Farmakope Indonesia atau buku

standar lainnya untuk zat berkhasiat yang dikandungnya(9).

Gambar II. 6. Penandaan obat generik


BAB III

TINJAUAN KHUSUS

3.1. Sejarah PT. Kimia Farma, Tbk

Kimia Farma adalah perusahaan industri farmasi pertama di Indonesia yang

didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda tahun 1817. Nama perusahaan ini pada

awalnya adalah NV Chemicalien Handle Rathkamp & Co. Berdasarkan

kebijaksanaan nasionalisasi atas eks. perusahaan Belanda di masa awal

kemerdekaan, pada tahun 1958, Pemerintah Republik Indonesia melakukan

peleburan sejumlah perusahaan farmasi menjadi PNF (Perusahaan Negara

Farmasi) Bhinneka Kimia Farma. Kemudian pada tanggal 16 Agustus 1971,

bentuk badan hukum PNF diubah menjadi Perseroan Terbatas, sehingga nama

perusahaan berubah menjadi PT Kimia Farma (Persero).

Pada tanggal 4 Juli 2001, PT Kimia Farma (Persero) kembali mengubah

statusnya menjadi perusahaan publik, PT Kimia Farma (Persero) Tbk, dalam

penulisan berikutnya disebut Perseroan. Bersamaan dengan perubahan tersebut,

Perseroan telah dicatatkan pada Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya
(sekarang kedua bursa telah merger dan kini bernama Bursa Efek Indonesia).

Berbekal pengalaman selama puluhan tahun, Perseroan telah berkembang menjadi

perusahaan dengan pelayanan kesehatan terintegrasi di Indonesia. Perseroan kian

diperhitungkan kiprahnya dalam pengembangan dan pembangunan bangsa,

khususnya pembangunan kesehatan masyarakat Indonesia.(14)

3.2. Logo PT. Kimia Farma, Tbk

Gambar 3.1 Logo PT. Kimia Farma (Persero), Tbk

PT. Kimia Farma (Persero), Tbk memiliki simbol yaittu matahari terbit

berwarna orange dan tulisan Kimia Farma dengan jenis huruf italic berwarna biru

dibawahnya (Gambar 3.1.). Maksud dari simbol tersebut adalah :

A. Simbol Matahari

1. Paradigma baru

Matahari terbit adalah tanda memasuki babak baru dalam kehidupan yang

lebih baik.

2. Optimis

Matahari memiliki cahaya sebagai sumber energi, cahaya tersebut adalah

penggambaran optimisme Kimia Farma dalam menjalankan bisnisnya.

3. Komitmen

Matahari selalu terbit dari timur dan tenggelam di barat secara teratur dan

terus menerus, memiliki makna adanya komitmen dan konsistensi dalam


menjalankan segala tugas yang diemban oleh Kimia Farma dalam bidang

farmasi dan kesehatan.

4. Sumber energi

Matahari merupakan sumber energi bagi kehidupan dan Kimia Farma baru

memposisikan dirinya sebagai sumber energi bagi kesehatan masyarakat.

5. Semangat yang abadi

Warna orange berarti semangat, warna biru berarti keabadian.

Harmonisasi antara kedua warna tersebut menjadi satu makna yaitu

semangat yang abadi.

B. Jenis Huruf

Dirancang khusus untuk kebutuhan Kimia Farma disesuaikan dengan nilai

dan image yang telah menjadi energi bagi Kimia Farma karena prinsip sebuah

identitas harus berbeda dengan identitas yang telah ada.

C. Sifat Huruf

1. Kokoh

Memperlihatkan Kimia Farma sebagai perusahaan terbesar dalam bidang

farmasi yang memiliki bisnis hulu hilir dan merupakan perusahaan farmasi

pertama yang dimiliki Indonesia.

2. Dinamis

Dengan jenis huruf italic, memperlihatkan kedinamisan, dan optimisme.

3. Bersahabat

Dengan jenis huruf kecil dan lengkung, memperlihatkan keramahan Kimia

Farma dalam melayani konsumennya dalam Konsep Apotek Jaringan.


3.3. PT. Kimia Farma Apotek

PT. Kimia Farma Apotek merupakan anak perusahaan dari PT. Kimia

Farma (Persero) Tbk, yang bergerak di bidang retail farmasi. PT. Kimia Farma

Apotek didirikan berdasarkan akta pendirian No. 6 tanggal 4 Januari 2003

dihadapan Notaris Ny. Imas Fatimah, S.H. di Jakarta dan telah diubah dengan

akta No. 25 tanggal 14 Agustus 2009 dihadapan Notaris Ny. Imas Fatimah, S.H.

Akta ini telah mendapat persetujuan dari Menteri Kehakiman dan Hak Asasi

Manusia Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No. AHU-45594.AH.01.02.

Tahun 2009 tanggal 15 September 2009. Pada tahun 2011, PT Kimia Farma

Apotek memulai program transformasi dan mengubah visi dari jaringan layanan

ritel farmasi menjadi jaringan layanan kesehatan yang terkemuka dan mampu

memberikan solusi kesehatan masyarakat di Indonesia.

Penambahan jumlah apotek merupakan bagian dari strategi perusahaan

dalam memanfaatkan momentum pasar bebas AFTA dimana pihak yang memiliki

jaringan luas seperti Kimia Farma akan diuntungkan. Hingga saat ini, PT. Kimia

Farma Apotek membawahi Apotek Kimia Farma dan wilayah usahanya terbagi

menjadi 51 Unit Bisnis dan lebih dari 500 unit apotek yang tersebar di seluruh

wilayah Indonesia. Tiap-tiap Unit Bisnis (Business Manager/BM) membawahi

apotek pelayanan yang berada di wilayah usahanya.

Kimia Farma melalui anak perusahaannya PT. Kimia Farma Apotek terus

mengembangkan bisnis dengan memperkuat jaringan layanan retail farmasi

dengan konsep layanan ritel farmasi One Stop Health Care Solution (OSHCS) dan

layanan kesehatan terpadu, mulai dari layanan klinik, layanan laboratorium klinik,
layanan apotek, dan layanan kesehatan lainnya. Langkah-langkah tersebut

merupakan strategi PT Kimia Farma untuk terus meningkatkan market share

dalam upaya memenangkan persaingan yang semakin ketat.

Selain peningkatan market share, Kimia Farma pun fokus menjadi penyedia

layanan kesehatan untuk peserta BPJS. Kesiapan tersebut antara lain melalui

ketersediaan produk-produk yang terjamin kualitas dan mutunya, kontinuitas

produk melalui proses pendistribusian hingga ke pelosok daerah dan juga sebaran

layanan kesehatan di seluruh daerah. Saat ini, Kimia Farma juga sudah

menyiapkan sistem informasi yang terintegrasi yang dapat mengelola data base

peserta BPJS sehingga memudahkan dalam pelayanan dan monitoring peserta

yang berobat ke seluruh jaringan klinik – klinik Kesehatan Kimia Farma.

Kimia Farma terus membangun jaringan layanan kesehatan khususnya di

daerah Indonesia Timur mengingat potensinya yang masih cukup besar dan

tingkat pertumbuhan ekonomi yang cukup menggembirakan. Hingga akhir tahun

2015 ini, Kimia Farma memiliki 617 Apotek, 200 klinik dan 35 laboratorium

klinik dan akan terus dikembangkan hingga mencapai 1000 klinik. Selain itu juga,

Kimia Farma melakukan kegiatan CSR seperti donor darah, pengobatan gratis,

dan kunjungan siswa sekolah ke apotek sebagai sarana pengenalan serta

meningkatkan pengetahuan tentang apotek dan kesehatan.

3.3.1 Visi dan Misi

Kimia Farma Apotek memiliki Visi yaitu Menjadi perusahaan

jaringan layanan kesehatan yang terkemuka dan mampu memberikan solusi

kesehatan masyarakat di Indonesia.


Sedangkan yang menjadi Misi Kima Farma Apotek yaitu

Menghasilkan pertumbuhan nilai perusahaan melalui :

1. Jaringan layanan kesehatan yang terintegrasi meliputi jaringan apotek,

klinik, laboratorium klinik, dan layanan kesehatan lainnya.

2. Saluran distribusi utama bagi produk sendiri dan produk prinsipal.

3. Pengembangan bisnis waralaba dan peningkatan pendapatan lainnya

(Fee-Based Income)

3.3.2 Budaya Perusahaan

Budaya perusahaan I C A R E yang menjadi acuan/pedoman bagi

Perseroan dalam menjalankan usahanya, untuk berkarya meningkatkan

kualitas hidup dan kehidupan masyarakat luas. Berikut adalah nilai-nilai inti

(corporates values) Perseroan :

1. Innovative

Budaya berpikir out of the box, smart, dan kreatif untuk membangun

produk unggulan.

2. Customer First

Mengutamakan pelanggan sebagai mitra kerja.

3. Accountability

Memegang teguh amanah perusahaan dengan memelihara

profesionalisme, integritas dan kerja sama.

4. Responsibility

Memiliki tanggung jawab pribadi untuk bekerja tepat waktu, tepat

sasaran atau tepat target dan dapat diandalkan, serta senantiasa bekerja

pantang menyerah dan bijaksana dalam menghadapi setiap masalah.


5. Eco – Friendly

Menciptakan sistem dan perilaku ramah lingkungan.

3.4. Struktur Organisasi PT. Kimia Farma, Tbk

Sesuai dengan SK. Dir Kimia Farma Apotek No. KEP 023/

DIRKFA/VI/2005, tanggal 22 Juni 2005, PT. Kimia Farma Apotek dipimpin oleh

seorang direktur (Direktur Utama). Direktur Utama membawahi 2 direktur

(Direktur Operasional, Direktur Keuangan dan Akuntansi).

Direktur Operasional dan Pengembangan membawahi : Manager Evaluasi

Operasional, Manager Pengembangan Pasar, Manager Pelayanan dan Logistik,

dan Manager Bisnis. Direktur Keuangan dan Akuntansi membawahi Manager

Keuangan, Manager Teknologi Informasi, Manager Akuntansi dan Perpajakan,

Manager SDM dan Manager Umum.

Organisasi Kimia Farma Apotek terdiri dari Manager Bisnis (BM) dan

Apotek Pelayanan. BM membawahi beberapa Apotek Pelayanan yang berada

dalam suatu wilayah yang bertugas menangani pengadaan, penyimpanan barang,

dan administrasi apotek pelayanan yang berada di bawahnya. Sedangkan apotek

pelayanan hanya melaksanakan fungsi pelayanan. Dengan adanya konsep BM,

diharapkan pengelolaan aset dan keuangan dari apotek dalam satu area menjadi

lebih efektif dan efisien, demikian juga kemudahan dalam pengambilan

keputusan-keputusan yang menyangkut antisipasi dan penyelesaian masalah.

Secara umum, keuntungan yang diperoleh melalui konsep BM adalah :

a. Koordinasi modal kerja menjadi lebih mudah.


b. Apotek pelayanan akan lebih fokus pada kualitas pelayanan sehingga mutu

pelayanan akan meningkat yang diharapkan akan berdampak pada

peningkatan penjualan.

c. Merasionalkan jumlah SDM terutama tenaga administrasi yang diharapkan

berimbas pada efisiensi biaya administrasi.

d. Meningkatkan bargaining dengan pemasok untuk memperoleh sumber

barang dagangan yang lebih murah agar dapat memperbesar range margin

atau HPP rendah.

3.5. Business Manager (BM) Wilayah Jaya I

Bisnis Manager Jaya I, membawahi wilayah Jakarta Selatan, Jakarta Barat,

dan sedikit Jakarta Pusat dan Tanggerang Selatan. Bisnis Manager Jaya I terletak

di Jl. Sultan Hasanuddin No.1 Jakarta Selatan.

3.5.1 Manajer Bisnis

Tugas dari seorang manajer bisnis adalah mengarahkan, mengelola,

dan mengawasi kegiatan operasional beberapa apotek pelayanan di

wilayahnya baik dari sisi penjualan dan pelayanan untuk memastikan

pencapaian target operasional yang telah ditentukan baik dari segi

penjualan, keuntungan, dan lainnya. Adapun tanggung jawab utama dari

manajer bisnis adalah :

1. Perencanaan, pengelolaan, pengkoordinasian dan pengawasan kegiatan

bisnis dan operasional unit bisnis sesuai dengan kebijakan yang

digariskan PT. Kimia Farma Apotek.


2. Perencanaan dan penyusunan rencana kerja serta anggaran perusahaan

unit bisnisnya.

3. Pengendalian dan pengawasan penggunaan anggaran operasional.

4. Perencanaan, pengkoordinasian, pelaksanaan, dan analisis

pengembangan usaha di daerahnya berkoordinasi dengan manajer

pelayanan dan pengembangan usaha.

5. Evaluasi dan peningkatan standar pelayanan yang ada di unitnya.

3.5.2 Bagian Logistik

Bagian Pengadaan dipimpin oleh Inventory Supervisor yang

bertanggung jawab langsung pada Manajer Bisnis. Dalam melaksanakan

tugasnya, bagian pembelian haruslah merencanakan semua perbekalan

farmasi yang akan dibeli secara cermat dan sesuai dengan kebutuhan

apotek-apotek pelayanan yang berada di bawah pengelolaannya. Tanggung

jawab utama bagi Inventory Supervisor adalah:

a. Pengecekan dan validasi BPBA (Bon Permintaan Barang Apotek) dari

apotek pelayanan untuk memastikan pemesanan barang/obat-obatan

kepada distributor/PBF (Pedagang Besar Farmasi) yang dibutuhkan

apotek pelayanan sesuai dengan rencana dan ketentuan serta prosedur

yang berlaku.

b. Perencanaan dan pengadaan barang untuk seluruh unit bisnis apotek

berdasarkan pareto penjualan apotek.

c. Pemeriksaan terhadap ketersediaan barang di gudang, sebelum

dilakukan pemesanan barang kepada distributor untuk memastikan

ketepatan dalam pemenuhan ketersediaan barang.


d. Pembuatan SPB (Surat Pesanan Barang) sebagai bukti pemesanan

barang/obat-obatan kepada distributor/PBF dan permintaan pengiriman

barang/obat-obatan secara langsung dari distributor/PBF kepada apotek

pelayanan, untuk memastikan bahwa distributor/PBF memberikan dan

mengirimkan barang/obat-obatan yang sesuai dengan pesanan kepada

apotek pelayanan.

3.5.3 Bagian Keuangan

Bagian keuangan dijalankan oleh Supervisor Keuangan dan

Akuntansi (petugas kasir besar) yang bertanggung jawab kepada Manajer

Bisnis. Tugas kasir besar adalah:

a. Penyiapan uang sebagai modal awal untuk diserahkan ke kasir apotek.

b. Penerimaan setoran penjualan tunai berdasarkan bukti setoran kasir dari

apotek pelayanan.

c. Penerimaan hasil penagihan piutang dagang berupa uang tunai, cek atau

giro dari bagian penagihan.

d. Pengeluaran uang untuk keperluan rutin dengan sepengetahuan/perintah

unit BM seperti : uang transpor, gaji pegawai, pembayaran hutang

dagang yang telah jatuh tempo, dan lain-lain.

e. Pembuatan laporan mingguan saldo kas/bank.

Tanggung jawab kasir besar adalah:

a. Penerimaan dan pengeluaran uang (surat berharga) sesuai dengan bukti-

bukti dokumen yang sah dan disetujui oleh APA.


b. Pemeliharaan keamanan dari risiko kehilangan dan kerusakan uang

(surat berharga).

c. Bertanggung jawab terhadap keuangan perusahaan.

d. Pemesanan barang/obat-obatan sekaligus melakukan negosiasi diskon

harga (waktu kegiatan dan waktu pembayaran) dan bonus dengan

distributor/ PBF untuk mendapatkan harga yang kompetitif.

e. Verifikasi faktur dan BPBA dari seluruh apotek pelayanan.

f. Pemberian faktur untuk verifikasi lebih lanjut terhadap barang yang

sudah dicek kepada administrasi pembelian/hutang dagang, memastikan

pengarsipan faktur, dan memperlancar proses pembayaran hutang

kepada distributor/PBF.

g. Rekapitulasi koreksi harga dan penambahan barang/obat-obatan.

h. Pemilihan distributor/PBF.

3.5.3.1 Bagian Administrasi/Ketatausahaan

Fungsi bagian administrasi/ketatausahaan adalah sebagai

pelaksana pembuatan laporan akuntansi keuangan dan sebagai

pengawas kesesuaian proses pelaksanaan pengumpulan data,

pencatatan, penyajian laporan dan pengarsipan data dari seluruh

fungsi kegiatan yang ada di apotek terhadap sistem yang berlaku di

apotek. Bagian ini dipimpin oleh seorang Supervisor administrasi

dan keuangan yang bertanggungjawab kepada Manajer Bisnis.

Supervisor administrasi dan keuangan bertugas mengkoordinir

semua kegiatan administrasi di apotek yang ada dibawahnya,

meliputi administrasi hutang dagang, administrasi piutang dagang,


administrasi kas bank, administrasi pajak, administrasi inkaso, dan

administrasi umum.

3.5.3.2 Administrasi Hutang Dagang

Bagian ini melaksanakan semua kegiatan administrasi

pembelian barang diapotek, yaitu:

a. Pencatatan seluruh faktur pembelian di kartu hutang masing-

masing distributor sebagai hutang dagang.

b. Penerimaan faktur asli, pajak, dan surat pesanan dari distributor

dan membuat tanda terima faktur untuk distributor seminggu

sebelum jatuh tempo pembayaran.

c. Pencocokkan salinan faktur dengan yang asli dan menyimpannya

sampai jatuh tempo.

d. Penyerahan struk hutang dagang ke bagian keuangan untuk

dibuatkan bukti pengeluaran kas.

e. Perlengkapan berkas-berkas seperti faktur asli, salinan faktur, SP

barang, dan bukti pengeluaran kas untuk diserahkan ke kasir

besar.

f. Pembuatan laporan hutang dagang.

g. Pembuatan laporan saldo mutasi hutang dagang.

3.5.3.3 Administrasi Piutang Dagang

Bagian ini melaksanakan semua kegiatan administrasi

penjualan kredit di apotek, kegiatannya meliputi :


a. Pengumpulan faktur-faktur resep kredit setiap hari disertai faktur

penjualan, copy resep, dan kuitansi serta mengelompokkannya

berdasarkan masing-masing debitur.

b. Pembuatan rekap tagihan per bulan untuk masing-masing debitur.

c. Pembuatan kuitansi penagihan per bulan untuk masing-masing

debitur (dibuat 5 rangkap yaitu 1 untuk bagian administrasi

inkaso, 1 lembar untuk bagian administrasi piutang dagang, dan 3

lembar untuk ditagihkan kepada debitur).

d. Pencocokkan resep/faktur penjualan kredit dengan data yang ada

di komputer.

e. Pencatatan piutang dagang dalam kartu piutang dagang.

f. Pembuatan laporan piutang dagang setiap bulan.

3.5.3.4 Administrasi Pajak

Bagian administrasi pajak bertugas untuk mengurus seluruh

administrasi pajak yang ada di BM wilayah Jaya I, meliputi :

a. Pembuatan laporan pajak setiap bulan untuk PPN (Pajak

Pertambahan Nilai).

b. Pembuatan laporan pajak setiap bulan untuk PPH pasal 21.

c. Pembuatan laporan pajak setiap bulan untuk PPH pasal 22.

d. Pembuatan laporan pajak setiap bulan untuk PPH pasal 23.

3.5.3.5 Administrasi Inkaso

Kegiatan bagian administrasi inkaso meliputi :

1. Bertanggung jawab dalam penyimpanan dan penerbitan alat-alat

tagih (dibuat oleh bagian administrasi piutang dagang) yang


terdiri dari rekap tagihan, kuitansi penagihan, dan bukti fotokopi

resep kredit.

2. Setiap bulan dilakukan penerbitan tagihan ke masing-masing

debitur, kemudian dibuat tanda terima kuitansi dari debitur.

3. Tanda terima kuitansi kemudian disimpan di map tunggu sampai

jatuh tempo pelunasan piutang tiba.

4. Setelah jatuh tempo, tanda terima kuitansi ditagihkan ke debitur

oleh bagian penagihan untuk dilunasi oleh debitur, hasil

pelunasan diserahkan ke bagian kasir besar.

5. Setelah dilunasi, nota inkaso sebagai bukti pelunasan piutang

akan diterbitkan oleh bagian administrasi inkaso.

6. Setiap bulan dilakukan stok kuitansi untuk melihat apakah

terdapat debitur yang belum melunasi piutangnya.

3.5.3.6 Administrasi Kas Bank

Bagian ini bertugas untuk mencatat seluruh penerimaan dan

pengeluaran melalui kas atau bank. Kegiatannya adalah membuat

laporan saldo kas/bank berdasarkan dokumen penjualan tunai dan

penerimaan piutang, pembayaran hutang, dan dokumen biaya

variabel dan biaya tetap.

3.5.3.7 Administrasi Umum

Administrasi terbagi menjadi dua bagian yaitu bagian

umum dan bagian sumber daya manusia/kepegawaian. Setiap bagian

tersebut mempunyai tugas tersendiri. Adapun tugas dari bagian-

bagian tersebut adalah sebagai berikut :


a. Tugas bagian umum meliputi:

1. Penyiapan bahan-bahan rapat.

2. Kegiatan surat menyurat.

3. Bertanggung jawab terhadap seluruh barang inventaris

perusahaan.

b. Tugas bagian SDM/kepegawaian :

1. Pembuatan daftar gaji pegawai, IP (Iuran Pensiun), ISP (Iuran

Sosial Pensiun), dan Iuran Jamsostek.

2. Pengajuan kenaikan pangkat dan membuat surat usulan

kenaikan pangkat bagi pegawai.

c. Tugas Bagian Teknologi Informasi (IT) bertanggung jawab atas

kelancaran sistem yang digunakan di BM wilayah Bogor baik

software maupun hardware.

3.6. Apotek Kimia Farma No. 254

Apotek Kimia Farma No.254 merupakan salah satu Apotek pelayanan dan

PT. Kimia Farma Apotek untuk wilayah Jakarta Barat yang tergabung dalam

Bisnis Manager Jaya I yang membawahi Jakarta Selatan, Jakarta Barat serta

sedikit Jakarta Pusat dan Tangerang Selatan. Apotek ini mengelola kegiatan

penjualan dan pelayanan, sedangkan untuk kegiatan administrasi dilakukan oleh

Bisnis Manager (BM) Jaya I yamg terletak di apotek Kimia Farma No.42 Blok M.

Bisnis Manager (BM) ini bertugas mengurus seluruh administrasi pengadaan dan

pembelian, penyimpanan, pengeluaran atau gudang, tata usaha dan personalia

serta kasir besar untuk kepentingan Apotek pelayanan Kimia Farma yang berada
di wilayah Bisnis Manager Jaya I.

3.6.1 Lokasi

Apotek Kimia Farma No.254 terletak di Jl. Raya Pos Pengumben

Blok I No.11, Jakarta Barat. Ditinjau dari lokasi, lokasi apotek sangat

strategis dan ramai dekat dengan perkantoran, rumah penduduk sekolah

dan pertokoan, terletak di tepi jalan raya dua arah, dekat persimpangan

lampu lalu lintas yang dapat dilalui oleh kendaraan umum maupun pribadi

sehingga menjadikan apotek Kimia Farma No.254 mudah terjangkau oleh

masyarakat, berdekatan dengan perumahan menengah keatas, gedung

perkantoran, dekat dengan RS. Medika Permata Hijau, RS.Graha Kedoya,

RS. Siloam serta beberapa praktek dokter umum. Bagian paling depan

apotek dilengkapi dengan papan yang memuat logo Kimia Farma dengan

berwarna biru tua dan logo jingga/orange sehingga masyarakat lebih

mudah untuk menemukan Apotek Kimia Farma. Apotek juga

menyediakan tempat praktek dokter umum, dokter gigi yang

mempermudah bagi pasien untuk berkonsultasi dan melakukan

pemeriksaan kesehatan dan tersedia gerai ATM.

3.6.2 Tata Ruang

Apotek Kimia Farma 254 terdiri dari satu lantai, dimana pada sisi

kiri dari pintu utama Apotek terdapat sarana penunjang yaitu ruang

praktek dokter umum, ruang praktek dokter gigi, ruang tunggu, serta mesin

ATM, dilengkapi dengan pendingin ruangan dan penerangan lampu yang

cukup baik. Apotek Kimia Farma 254 dilengkapi dengan fasilitas :

1. Area Apotek
Area apotek terdiri dari beberapa bagian :

a. Tempat penerimaan resep, penyerahan obat dan kasir apotek

Tempat ini berupa counter yang tingginya sebatas dada sehingga

membatasi ruang dalam Apotek dengan pasien/pelanggan.

Ditempat ini terdapat komputer sehingga petugas dapat langsung

terhubung dengan sistem informasi yang berisi harga dan stok obat

serta menyimpan data tentang pasien dan dokter, dengan adanya

sistem ini maka petugas apotek dapat langsung menetapkan harga

obat.

b. Tempat Konseling antara Apoteker dan pasien

Tempat ini dilengkapi buku-buku yang berhubungan dengan

kefarmasian, meja dan kursi yang cukup nyaman agar pasien dapat

mendengarkan informasi yang diberikan oleh Apoteker mengenai

cara pemakaian obat.

c. Tempat penyiapan dan peracikan obat

Tempat penyiapan obat terletak di bagian belakang tempat

penerimaan resep dan penyerahan obat, tempat peracikan terletak

pada bagian samping tempat penyiapan obat digunakan untuk

racikan obat dalam dan racikan obat luar. Di ruangan ini dilakukan

peracikan obat-obat yang dilayani berdasarkan resep dokter.

Tempat peracikan dilengkapi dengan lumpang mortir (yang


berbeda antara racikan obat dalam dan racikan obat luar), blender

untuk obat antibiotik dan nonantibiotik, kertas perkamen,

timbangan, sealing machine, gelas ukur, botol obat dan pot obat.

Ruangan dilengkapi dengan wastafel yang berguna untuk mencuci

alat yang terpakai.

d. Tempat penyimpanan obat

Obat disimpan diseluruh apotek, dimana obat yang disimpan

berupa rak-rak. Rak obat dipisahkan berdasarkan efek farmakologis

obat, bentuk sediaan dan sifat stabilitas obat yang disusun secara

alfabetis, sedangkan obat psikotropik dan obat narkotik diletakan

dilemari khusus yang dipasang pada dinding, terdapat lemari es

untuk menyimpan obat-obat seperti suppositoria, ovula dan insulin.

e. Tempat Administrasi

Ruangan ini dilengkapi dengan komputer yag digunakan untuk

membuat Bon Permintaan Barang Apotek (BPBA), laporan

narkotika dan psikotropika, dropping obat, surat penerimaan obat

dan rekapitulasi resep kredit, sedangkan untuk pemesanan khusus

narkotika dan psikotropika dibuat secara manual.

2. Area Swalayan Farmasi

Ruangan ini berada di bagian depan arah pintu masuk apotek dan mudah

terlihat dari ruang tunggu pasien. Ruangan ini terdiri atas rak-rak untuk

meletakan barang, barang yang dijual di swalayan farmasi adalah obat

bebas, obat bebas terbatas, herbal, jamu, fitofarmaka, alat kesehatan,

produk-produk susu, minyak angin, bedak tabur, vitamin, makanan


ringan, lemari pendingin yang berisi minuman ringan dan susu serta

disusun berdasarkan departemen antara lain medicine care, personal

care, baby care, dan healt care.

3. Ruang Tunggu

Pada ruang tunggu memiliki fasilitas pendingin ruangan dan televisi untuk

memberikan kenyamanan bagi pasien yang menunggu.

4. Tempat Parkir

Tempat parkir terletak dibagian depan area apotek, tempat yang disediakan

cukup luas untuk digunakan parkir kendaraan konsumen yang ingin ke

apotek.

5. Kamar Mandi dan Mushola

Kamar mandi dan mushola terletak dibagian belakang.

6. Sarana Penunjang

Apotek Kimia Farma No.254 memiliki sarana penunjang diantaranya

ruang praktek dokter umum, dokter gigi dan mesin ATM.

7. Tempat Pendaftaran

Tempat untuk pendaftaran klinik berupa meja yang terdapat buku untuk

mendaftarkan pasien dan terdapat tempat untuk melakukan pengecekan

darah sederhana seperti pengecekan gula darah, asam urat dan

kolesterol.

3.6.3 Struktur Organisasi dan Personalia

Apotek KF No.254 dipimpin oleh seorang Apoteker Pengelola

Apotek (APA) yang bertanggung jawab terhadap keseluruhan kegiatan


apotek. Struktur organisasi diperlukan agar kegiatan apotek dapat berjalan

lancar. Oleh karena itu, pembagian tugas, wewenang dan tanggung jawab

menjadi jelas sehingga tidak terjadi overlapping/Tumpang tindih dalam

pekerjaan serta memudahkan pengawasan dan pertanggung jawaban.

Terdapat pelaksana-pelaksana yang masing-masing memiliki

tanggung jawab lain selain menyiapkan obat dan memberikan obat kepada

pasien, seperti Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK) yang bertanggung

jawab dalam penjualan resep kredit dengan perusahaan atau instansi.

Masing-masing TTK juga bertanggung jawab pada rak-rak obat tertentu

mengenai kerapihan, kebersihan, dan kelengkapan persediaan obat.

Tenaga Kerja yang terlihat di Apotek Kimia Farma No. 254 Pos

Pengumben terdiri dari :

1. Apoteker Pengelola Apotek (Manajer Apotek pelayanan) berjumlah

satu orang yaitu : Antonius Dewanto Purnomo S.Farm,Apt

2. Apoteker Pendamping berjumlah satu orang

3. Asisten Apoteker berjumlah tujuh orang

4. Juru Racik berjumlah dua orang

5. Petugas Keamanan satu orang

3.6.4 Tugas dan Fungsi Tenaga Kerja Apotek KF No. 254

a. Apoteker Pengelola Apotek

Apotek Pelayanan Kimia Farma 254 dipimpin oleh seorang

Apoteker Pengelola Apotek yang telah memiliki Surat Izin

Praktik Apoteker (SIPA) dan Surat Izin Apotek. Tugas dan

fungsi Apoteker Pengelola Apotek adalah :


1. Melakukan visi, misi, dan tujuan

2. Melaksanankan bussines plan dan strategic plan

3. Melaksanakan sistem/peraturan pada setiap kegiatan

4. Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan program

kerja pada setiap fungsi kegiatan yang ada di Apotek

Wewenang dan tanggung jawab Apoteker Pengelola Apotek :

1. Menentukan arah/kebijakan terhadap seluruh kegiatan yang

ada di apotek

2. Menentukan sistem/aturan main terhadap seluruh kegiatan

yang ada diapotek

3. Mengawasi pelaksanaan seluruh kegiatan di apotek.

b. Apoteker Pendamping

Apoteker Pendamping yaitu apoteker yang bekerja di apotek di

samping APA dan/atau menggantikan pada jam-jam tertentu

pada hari buka apotek. Apotek ini mempunyai satu orang

Apoteker Pendamping yang melaksanakan pekerjaan

kefarmasiannya sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan.

c. Asisten Apoteker

Asisten apoteker (AA) bertanggung jawab langsung kepada

Apoteker Pengelola Apotek dalam menjalankan tugasnya.

Adapun tugas dan tanggung jawab asisten apoteker adalah

senagai berikut :

1. Menyiapkan, menimbang, meracik mengubah bentuk,

mengemas dan memberikan etiket sesuai permintaan resep.


2. Memeriksa kebenaran obat sebelum diserahkan kepada

pasien.

3. Memberikan informasi cara pemakaian obat kepada pasien.

4. Membuat salinan resep untuk obat yang perlu diulang, obat

baru diserahkan sebagian, obat yang belum diserahkan atau

atas permintaan dari pasien/intansi sesuai kesepakatan.

5. Membuat faktur penjualan resep tunai atau resep kredit dari

intansi yang telah disepakati.

6. Mencatat atau menghitung harga resep kredit.

7. Mengkontrol persediaan obat diruang racik.

8. Mengisi bon permintaan barang yang dibutuhkan diruang

peracikan.

9. Memberikan bimbingan kepada juru racik dalam

melaksanakan tugasnya.

10. Turut berpartisipasi dalam melaksanakan pemeliharaan

sanitasi/kebersihan diruang peracikan.

d. Juru resep

Juru resep mempunyai tugas sebagai berikut :

1. Membantu tugas asisten apoteker dalam menyiapkan obat,

yaitu dengan menyiapkan obat-obat racikan yang bahannya

tela disiapkan oleh asisten apoteker sesuai dengan bentuk

yang diminta.

2. Melaporkan sediaan obat yang sudah jadi kepada asisten.


3.7 Kegiatan Apotek

Apotek Kimia Farma No. 254 merupakan Apotek pelayanan 24 jam,

pelayanan terbagi atas 3 shift yaitu shift pagi pukul 08.00 – 15.00 WIB, shift siang

pukul 15.00 – 22.00 WIB dan Shift malam pukul 22.00 – 08.00 WIB. Kegiatan

utama yang dilakukan Apotek Kimia Farma No.254 meliputi kegiatan teknis

kefarmasian maupun kegiatan nonteknis kefarmasian.

3.7.1 Kegiatan Teknis Kefarmasian

Kegiatan teknis kefarmasian yang dilakukan di apotek meliputi

pengadaan, penyimpanan, peracikan, penjualan obat dan perbekalan farmasi

lainnya serta pengelolaan narkotika dan psikotropika.

1. Pengadaan Barang

Pengadaan barang berupa baik berupa obat dan perbekalan farmasi

lainnya dilakukan oleh seluruh karyawan yang bertanggung jawab

kepada Apoteker Pengelola Apotek. Pengadaan barang dilakukan

berdasarkan data yang tercatat pada buku defekta atau permintaan obat,

pareto dan program yang sebelumnya harus mendapat persetujuan dari

manajer apotek. Kebutuhan barang tersebut dimasukan pada Bon

Permintaan Barang Apotek (BPBA). Pengadaan barang di Apotek Kimia

Farma No.254 dilakukan melalui Bisnis Manajer Jaya I. Sistem KIS

(Kimia Farma Information System) atau Sistem Informasi Kimia Farma.

Barang yang dipesan oleh Apotek yang tersedia di gudang BM Jaya I

akan diantar langsung oleh Petugas Gudang, namun jika persediaan


barang tidak ada maka akan dipesankan melalui SP (Surat Pesanan) ke

PBF. Apabila permintaan barang yang tercantum dalam Bon Permintaan

Barang Apotek (BPBA) tidak seluruhnya dapat dipenuhi oleh Bisnis

Manajer Jaya I selama 1 minggu, maka apotek pelayanan harus

mencantumkan kembali barang tersebut pada Bon Permintaan Barang

selanjutnya. Khusus untuk pengadaan narkotika dan psikotropika,

pemesanan dilakukan oleh masing-masing apotek pelayanan melalui

Surat Pemesanan (SP) yang telah ditanda tangani oleh Apoteker

Pengelola Apotek langsung ke distributor.

Apotek pelayanan dapat melakukan pembelian mendesak (CITO) jika

obat atau perbekalan farmasi lainnya dibutuhkan segera tetapi tidak ada

persediaan. Pembelian obat dan perbekalan farmasi lainnya tidak saja

berasal dari Pedagang Besar Farmasi Kimia Farma atau KFTD tetapi

juga melalui Pedagang Besar Farmasi atau distributor lainnya. Adapun

dasar penilaian Pedagang Besar Farmasi atau distributor adalah sebagai

berikut :

a. Ketersediaan barang

b. Kualitas barang yang dikirim dapat dipertanggung jawabkan

c. Besarnya potongan harga (diskon) yang diberikan

d. Kecepatan pengiriman barang yang tepat waktu

e. Cara atau kriteria pembayaran (atas dasar masa kredit/jatuh tempo

hutang dagang)

Prosedur pembelian barang melalui bisnis manajer adalah :


a. Bagian pembelian di bisnis manajer mengumpulkan data barang yang

harus dipesan berdasarkan Bon Permintaan Barang Apotek (BPBA)

dari apotek pelayanan. pemesanan dilakukan oleh bisnis manajer

seminggu sekali.

b. Bagian pembelian Bisnis Manajer membuat surat pesanan yang berisi

nama distributor, nama barang, kemasan, jumlah barang dan potongan

harga yang kemudian ditanda tangani oleh bagian pembelian dan

Apteker Pengelola Apotek. Surat pesanan dibuat rangkap dua untuk

dikirim ke distributor dan untuk arsip.

c. Setelah membuat pesana, bagian pembelian langsung memesan

barang ke distributor. Bila ada pesanan mendadak maka bagian

pembelian akan melakukan pemesanan melalui telepon dan surat

pesanan akan diberikan pada saat barang diantarkan.

d. Pedagang Besar Farmasi akan mengantar langsung barang yang

dipesan oleh Apotek pelayanan ke Apotek yang bersangkutan.

2. Penerimaan Barang

Setelah barang yang dipesan datang dilakukan penerimaan dan

pemeriksaan barang. Pemeriksaan yang dilakukan antara lain

pemeriksaan nama, kemasan, jumlah, tanggal kadaluarsa dan kondisi

barang serta dilakukan pencocokan antara faktur dan salinan faktur

dengan surat pesanan yang meliputi nama, kemasan, jumlah dan harga

serta nama distributor. Kemudian faktur ditanda tangani dan diberi

stampel Apotek. Faktur asli diserahkan kembali kepada petugas pengatur

barang atau distributor untuk kelengkapan syarat dalam proses


pembayaran utang dagang. Faktur umumnya berjumlah 4 lembar, 1

lembar disimpan oleh Apotek pelayanan sebagai arsip, sedangkan 1

lembar disimpan oleh bisnis manajer untuk kepentingan administrasi dan

pembayaran hutang dagang.

3. Penyimpanan Barang

Apotek memiliki ruang/tempat penyimpanan sediaan farmasi dan

perbekalan kesehatan lainnya pada sarana swalayan farmasi dan ruang

peracikan. Swalayan farmasi menyediakan tempat untuk men-display

obat bebas dan obat bebas terbatas serta informasi bagi pasien berupa

brosur/leaflet. Di dalam ruang peracikan, sediaan farmasi dan perbekalan

kesehatan lainnya disimpan di dalam rak-rak/lemari yang memudahkan

pengisian dan pengeluaran barang. Di tempat ini terdapat serangkaian

kegiatan yang meliputi : penerimaan, pengawasan, pengendalian

persediaan, dan pengeluaran obat. Penyimpanan sediaan farmasi disusun

berdasarkan kelas terapi (sifat farmakologis), keamanan, bentuk sediaan,

suhu stabilitas, dan disusun secara alfabetis. Rak penyimpanan sediaan

farmasi di ruang peracikan terdiri dari :

1. Rak penyimpanan obat antibiotik.

2. Rak penyimpanan obat analgesik dan anti inflamasi

3. Rak penyimpanan obat antihistamin

4. Rak penyimpanan obat asam urat dan saluran kemih

5. Rak penyimpanan obat generik

6. Rak penyimpanan obat hipertensi dan jantung

7. Rak penyimpanan obat hormon dan kontrasepsi


8. Rak penyimpnan obat saluran pencernaan

9. Rak penyimpanan obat susunan saraf pusat

10. Rak penyimpanan obat tetes atau drops

11. Rak penyimpanan obat vitamin dan suplemen

12. Rak penyimpanan alkes

13. Rak penyimpanan salep

14. Rak penyimpanan sirup/suspensi (antibiotik,non antibiotik, dan

generik)

15. Lemari penyimpanan Obat BPJS

16. Lemari penyimpanan obat psikotropika dan narkotika

17. Lemari es untuk penyimpanan dan yang termostabil seperti

suppositoria dan insulin

Setiap TTK bertanggung jawab terhadap lemari penyimpanan obat

yang telah ditetapkan, meliputi kerapihan, kebersihan, dan

kelengkapan/stok obat yang ada di lemarinya. Setiap pemasukan dan

penggunaan obat/barang harus diinput ke dalam komputer dan

dicatat pada kartu/buku stok, meliputi tanggal

pengisian/pengambilan, nomor dokumen, jumlah barang yang

diisi/diambil, sisa barang, dan paraf petugas yang melakukan

pengisian/pengambilan barang. Kartu stok harus diisi dengan

lengkap dan rapi serta diletakkan di masing-masing kotak obat/

barang.

4. Penjualan

Penjualan yang dilakukan oleh Apotek KF No.254 meliputi penjualan tunai


dan kredit obat dengan resep dokter, serta pelayanan upaya pengobatan

diri sendiri (UPDS). Penjualan tunai obat dengan resep dilakukan

terhadap pelanggan yang langsung datang ke apotek untuk menebus obat

yang dibutuhkan dan dibayar secara tunai. Penjualan tunai obat dengan

resep dokter mengikuti alur sebagai berikut :

1. Tenaga Teknis Farmasi pada bagian penerimaan resep menerima

resep dari pasien, lalu dilakukan pemeriksaan kelengkapan dan

keabsahan resep tersebut.

2. Ada tidaknya obat pada persediaan akan diperiksa oleh Tenaga

Teknis Farmasi. Bila obat yang dibutuhkan tersedia, kemudian

dilakukan pemberian harga dan pemberitahuan kepada pasien.

3. Setelah disetujui oleh pasien, segera dilakukan pembayaran atas obat

dan dibuatkan struk pembayaran obat tersebut yang disatukan

dengan resep aslinya.

4. Pasien menerima struk pembayaran dan diminta untuk menunggu.

5. Informasi kepada pasien akan dicatat di Catatan Pengobatan

Pasien/Patient Medication Records.

6. Bila obat hanya diambil sebagian maka petugas membuat salinan

resep/copy resep untuk pengambilan sisanya. Bagi pasien yang

memerlukan kuitansi dapat pula dibuatkan kuitansi dan salinan resep

di belakang kuitansi tersebut.

7. Obat disiapkan.

8. Setelah obat selesai disiapkan maka obat diberi etiket dan label bila

perlu dan dikemas dengan kemasan.


9. Pemeriksaan kembali dilakukan sebelum obat diberikan yang

meliputi nomor resep, nama pasien, kebenaran obat, jumlah dan

etiketnya, serta dilakukan juga pemeriksaan salinan resep sesuai

resep aslinya serta kebenaran kuitansi.

10. Obat diserahkan kepada pasien sesuai dengan nomor resep yang

disertai dengan informasi tentang cara pemakaian obat dan informasi

lain yang diperlukan pasien. Konseling dapat dilakukan bersamaan

pada saat pemberian informasi obat atas permintaan pasien.

11. Lembaran resep asli dikumpulkan menurut nomor urut dan tanggal

resep dan disimpan sekurang-kurangnya tiga tahun.

Penjualan dengan cara kredit obat dengan resep dokter adalah

penjualan obat dengan resep berdasarkan perjanjian kerjasama yang telah

disepakati oleh suatu perusahaan/instansi dengan apotek yang

pembayarannya dilakukan secara kredit melalui penagihan kepada

perusahaan secara berkala. Prosedur pelayanan resep kredit pada

dasarnya sama dengan pelayanan resep tunai, hanya saja pada pelayanan

resep kredit terdapat beberapa perbedaan seperti:

a. Setelah resep dokter diterima dan diperiksa kelengkapannya maka

dilakukan penetapan harga oleh petugas apotek. Namun tidak

dilakukan pembayaran oleh pasien.

b. Harga resep kredit ditetapkan berdasarkan perjanjian kerjasama oleh

intansi/perusahaan dengan Apotek Kimia Farma sehingga harganya

berbeda dengan pembelian resep tunai.


c. Penomoran resep dokter yang dibeli secara kredit dibedakan dengan

resep yang dibeli secara tunai.

d. Resep disusun dan disimpan terpisah dari resep yang dibeli secara

tunai kemudian dikumpulkan dan dijumlahkan nilai rupiahnya

berdasarkan masing-masing instansi atau perusahaan untuk dilakukan

penagihan pada saat jatuh tempo pembayaran yang telah disepakati

bersama.

Pelayanan UPDS adalah penjualan obat bebas atau perbekalan farmasi

yang dapat dibeli tanpa resep dari dokter seperti OTC (over the counter)

baik obat bebas dan obat bebas terbatas. Pelayanan UPDS mengikuti alur

sebagai berikut :

a. Petugas menerima permintaan barang dari pasien dan langsung

menginformasikan ketersediaan obat.

b. Setelah disetujui oleh pembeli, pembeli langsung membayar ke kasir.

c. Bagian kasir menerima uang pembayaran dan membuat bukti penyerahan

nota penjualan bebas.

d. Barang beserta bukti pembayaran penjualan bebas diserahkan kepada

pasien.

3.7.2 Pengelolaan Narkotika

Pengelolaan narkotika diatur secara khusus mulai dari pengadaan

sampai pemusnahan untuk menghindari terjadinya kemungkinan

penyalahgunaan obat tersebut. Pelaksanaan pengelolaan narkotika di Apotek

Kimia Farma No.254 meliputi:

a. Pemesanan Narkotika
Pemesanan sediaan narkotika dilakukan secara tertulis sesuai dengan

ketentuan yang berlaku. Surat pesanan khusus narkotika yang sudah

ditanda tangani oleh APA dikirim ke DC. Pemesanan dilakukan ke PBF

KF selaku distributor tunggal dengan membuat surat pesanan khusus

narkotika model N.9 yang dibuat rangkap empat, yang masing-masing

diserahkan kepada PBF yang bersangkutan (SP asli dan 2 lembar copy

SP), dan satu lembar sebagai arsip di apotek. Setiap lembar SP hanya

berlaku untuk satu item narkotika.

b. Penerimaan Narkotika

Penerimaan narkotika dari PBF harus diterima oleh APA. APA akan

menandatangani faktur tersebut setelah melihat kesesuaian dengan surat

pesanan. Pada saat diterima dilakukan pemeriksaan yang meliputi jenis

dan jumlah narkotika yang dipesan.

c. Penyimpanan Narkotika

Obat-obat yang termasuk golongan narkotika di Apotek Kimia Farma

No.254 disimpan dalam lemari khusus yang terkunci. Anak kunci

dikuasakan kepada apoteker dan supervisor.

d. Pelayanan Narkotika

Apotek Kimia Farma No.254 hanya melayani resep narkotika dari resep

asli atau salinan resep yang dibuat oleh Apotek Kimia Farma No.254

sendiri yang belum diambil sama sekali atau baru diambil sebagian.

Apotek tidak melayani pembelian obat narkotika tanpa resep atau

pengulangan resep yang ditulis oleh apotek lain. Resep yang berisi

narkotika dipisahkan dan digaris-bawahi dengan tinta merah serta


mencantumkan alamat atau nomor telepon pasien.

e. Pelaporan Narkotika

Pelaporan penggunaan narkotika di Apotek Kimia Farma No.254 dibuat

setiap bulan melalui program SIPNAP (Sistem Pelaporan Narkotika dan

Psikotropika) Kemenkes RI (Lampiran 20) yang meliputi laporan

penggunaan sediaan jadi narkotika dan laporan khusus penggunaan

morfin, petidin, dan derivatnya. Laporan dibuat rangkap empat dan

ditandatangani oleh APA dengan mencantumkan nama jelas, alamat

apotek, dan stempel apotek yang kemudian dikirimkan kepada Kepala

Dinas Kesehatan Kota Jakarta Barat, dengan tembusan kepada Kepala

Balai Besar POM Propinsi DKI Jakarta, Unit Logistik Sentral PT. Kimia

Farma (Persero) Tbk. Unit Pelayanan Penanggung Jawab Narkotika,

Dinas Kesehatan Kota Jakarta Barat, dan Arsip apotek.

f. Pemusnahan Narkotika.

Prosedur pemusnahan narkotika dilakukan sebagai berikut :

1. APA membuat dan menandatangani surat permohonan untuk

pemusnahan narkotika yang berisi antara lain jenis dan jumlah

narkotika yang rusak dan atau tidak memenuhi syarat.

2. Surat permohonan yang telah ditandatangani oleh APA dikirimkan

ke Balai POM Jawa Barat Balai POM akan menetapkan waktu dan

tempat pemusnahan.
3. Kemudian dibentuk panitia pemusnahan yang terdiri dari APA,

TTK, Petugas Balai POM Provisnsi DKI Jakarta, dan Kepala Kantor

Dinas Kesehatan Kota Jakarta Barat.

4. Bila pemusnahan narkotika telah dilaksanakan, dibuat Berita Acara

Pemusnahan yang berisi : hari, tanggal, bulan, tahun dan tempat

dilakukannya pemusnahan; Nama, jenis dan jumlah narkotika yang

dimusnahkan; Cara pemusnahan; Petugas yang melakukan

pemusnahan; nama dan tanda tangan APA. Berita acara tersebut

dikirimkan kepada Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (POM)

Provinsi DKI Jakarta, Kepala Dinas Kesehatan Kota Jakarta Barat,

dan Arsip apotek.

3.7.3 Pengelolaan Psikotropika

Pengelolaan psikotropika di Apotek Kimia Farma No.254 meliputi :

a. Pemesanan Psikotropika

Pemesanan obat psikotropika dilakukan dengan menggunakan Surat

Pesanan Psikotropika yang boleh berisi lebih dari satu jenis psikotropika.

Surat pemesanan dibuat rangkap 2, yang masing-masing diserahkan ke

PBF yang bersangkutan (asli) dan 1 lembar sebagai arsip di apotek.

b. Penyimpanan Psikotropika

Penyimpanan obat psikotropika dilakukan di lemari khusus yang terpisah

dari sediaan yang lain, terkunci, dan anak kunci dikuasakan kepada TTK

penanggung jawab psikotropika.

c. Pelayanan Psikotropika
Apotek KF No.254 hanya melayani resep psikotropika dari resep dokter.

Pengulangan resep atau copy resep yang berisi psikotropika dapat

dilayani dengan memeriksa terlebih dahulu kelengkapan serta

kerasionalan resep oleh apoteker.

d. Pelaporan Psikotropika

Prosedur pelaporan penggunaan psikotropika sama dengan pelaporan

penggunaan narkotika melalui program SIPNAP Kemenkes RI. Laporan

penggunaan psikotropika pada Apotek Kimia Farma no.254 dikirimkan

kepada Kepala Dinas Kesehatan Kota Jakarta Barat setiap bulan. Laporan

psikotropika memuat nama apotek, nama obat, nama distributor, jumlah

penerimaan, jumlah pengeluaran, tujuan pemakaian, dan stok akhir.

Laporan ditandatangani oleh APA dilengkapi dengan nama dan nomor

SIPA serta stempel apotek dengan tembusan kepada :

a. Kepala Balai Besar POM provinsi DKI Jakarta

b. Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta.

c. Arsip Apotek.

e. Pemusnahan Psikotropika

Tata cara pemusnahan psikotropika sama dengan tata cara pemusnahan

narkotika. Dalam pelaksanaannya, pemusnahan psikotropika dapat

dilakukan bersamaan dengan pemusnahan narkotika

3.7.4 Kegiatan Non Teknis Kefarmasian

Kegiatan non teknis kefarmasian yang dilakukan oleh Apotek Kimia

Farma No.254 berupa administrasi harian dalam bentuk pembuatan Laporan

Ikhtisar Penjualan Harian (LIPH) baik tunai maupun kredit, serta


memasukkan data resep tunai dan resep kredit. Kegiatan pencatatan

dilakukan oleh bagian administrasi dan keuangan di Bisnis Manajer,

meliputi kegiatan administrasi dan keuangan. Kegiatan administrasi

ditangani oleh beberapa staf adiministrasi dan keuangan yang bertanggung

jawab kepada supervisor administrasi dan keuangan, sedangkan kegiatan

keuangan ditangani oleh Kasir Besar. Supervisor administrasi dan keuangan

serta Kasir Besar bertanggung jawab langsung kepada pimpinan apotek

Bisnis Manajer.

BAB IV

PEMBAHASAN

Lokasi Apotek Kimia Farma No. 394 terletak di Jalan Nusantara, Depok, Jawa

Barat. Apotek ini berlokasi di Jalan Siliwangi No.35, Depok Jawa Barat. Apotek Kimia
Farma No. 394 berada pada lokasi yang cukup strategis, ramai, aman dan mudah

dijangkau masyarakat, baik dengan kendaraan umum maupun dengan kendaraan pribadi.

Di sekitar lingkungan apotek terdapat pertokoan, apartement, perkantoran, pemukiman

penduduk dan rumah sakit. Selain itu di apotek ini memiliki area parkir yang cukup luas

sehingga meningkatkan kemungkinan jumlah pelanggan bagi apotek. Lokasi apotek

kimia farma ini diperjelas dalam Peraturan Mentri Kesehatan Nomor 73 tahun 2016

tentang sarana dan prasarana menurut standar pelayanan kefarmasian di apotek.

Sejarah dari Apotek Kimia Farma No. 394 ini yaitu merupakan rumah warga yang

disewakan sampai sekarang ini. Pada bulan Februari 2011, berdirilah Apotek Kimia

Farma No.394 dan BM (Bussiness Manager) daerah depok adalah Bapak Hilmi dengan

apoteker pertama adalah Ibu Diar. Setelah Ibu Diar pindah digantikan oleh apoteker lain

yaitu Ibu Anggi, kemudian digantikan oleh Bapak Syahri, kemudian Bapak Syahri

digantikan oleh Bapak Hanif, lalu Bapak Hanif digantikan oleh Ibu Feni, setelah itu Ibu

Feni digantikan oleh Ibu Sekar dan lalu digantikan dengan Bapak Tedi Fawitra yang

menjabat sampai sekarang. Dari segi sarana dan prasarana tata ruang di Apotek Kimia

Farma No. 394 sudah cukup baik untuk menyelenggarakan kegiatan pelayanan kesehatan.

Pada bagian luar apotek terdapat papan nama apotek yang jelas.

Lay out apotek kimia farma No. 394 terdiri dari ruang penerimaan resep, tempat

penyerahan obat, ruang racik, lemari obat, gudang, kamar mandi, dan tempat parkir yang

luas. Bagian pelayanan depan mudah dilihat oleh pasien yang datang yaitu berupa

swalayan farmasi seperti personal care, vitamin, food suplemen, kosmetik, serta obat-

obatan bebas dan bebas terbatas. Penyusunan barang menurut kategori ini dimaksudkan

untuk memudahkan pasien dalam mencari dan memilih barang yang diperlukan atau yang

akan dibeli.

Tata ruang apotek terdiri dari ruang tunggu, swalayan farmasi, tempat penerimaan

resep, kasir, ruang penyimpanan obat, ruang racik, tempat penyerahan resep, dan tempat

administrasi. Tata ruang dan bangunan Apotek Kimia Farma No. 394 ini sudah sesuai
dengan PerMenKes RI No.9 tahun 2017, dimana bangunan apotek sekurang-kurangnya

terdiri dari ruang tunggu, ruang administrasi, ruang penyimpanan obat, ruang peracikan,

ruang penyerahan obat dan toilet yang dilengkapi dengan sumber air yang memenuhi

syarat kesehata, penerangan yang baik, ventilasi dan system sanitasi yang baik dan

memenuhi syarat.

Bagian depan apotek juga dilengkapi neon box yang bertuliskan logo Kimia Farma

sehingga apotek mudah dikenali dan dapat menarik pelanggan. Bagian depan apotek

Kmia Farma No.394 berupa kaca tembus pandang sehingga terlihat dari luar. Ruang

tunggu apotek yang nyaman karena dilengkapi dengan pendingin ruangan. Apotek juga

dilengkapi degan papan nama yang memuat nama apotek, nama apoteker pengelola

apotek, nomor SIA, alamat dan nomor telepon apotek. Apotek juga telah dilengkapi

dengan sarana penunjang seperti toilet yang dapat digunakan oleh pelanggan apotek.

Apotek juga memiliki swalayan farmasi dimana peletakkan barangnya didesain

berdasarkan kelompok terapi dan bentuk sediaannya.papan petunjuk yang bertuliskan

kelompok tertentu sudah tertata dengan baik, sehingga memudahkan konsumen atau

pelanggan untuk mencari produk yang diinginkan. Sebagian produk farmasi maupun non

farmasi di swalayan farmasi masih belum dilengkapi dengan label harga sehingga

menyulitkan konsumen untuk mengetahui atau membandingkan harga obat atau barang

yang ingin dibelinya.

Apotek Kimia Farma No. 394 dipimpin oleh seorang Apoteker Pengelola Apotek

(APA) yang bertanggung jawab terhadap keseluruhan kegitan apotek dan bertanggung

jawab langsung kepada Manager Bisnis Depok. Tenaga teknis kefarmasian bekerja

dengan merangkap sebagai petugas kasir, pelayanan kefarmasian dan administrasi. Selain

petugs apotek, terdapat beberapa sales Promotion Girl (SPG) yang ditugaskan dibagian

swalayan untuk membantu penjualan produk-produk swalayan dan membantu petugas

dalam menyusun produk-produk di area swalayan farmasi.

Pengelolaan perbekalan farmasi yang dilakukan di Apotek Kimia Farma No.394


meliputi perencanaan, pengadaan, penerimaan, penyimpanan, pemusnahan, pengendalian,

pencatatan dan pelaporan. Tujuan pengelolaan perbekalan adalah untuk menjamin

kualitas barang dan menjaga ketersediaan barang di apotek agar tidak terjadi kehilangan,

kekosongan atau penumpukan barang.

Sistem pengadaan dan pembelian barang di Apotek Kimia Farma No. 394 dahulu

menggunakan sistem yang terpusat dan terkoordinasi di AP3 Depok menggunakan sistem

Distribution Centre Pengelolaan Pengadaan Produk Pareto (DCP4) setiap hari Selasa

yang dibuat berdasarkan history penjualan apotek selama 3 bulan terakhir, terhitung dari

hari pengadaan barang yang sering disebut DC (distribution center) ke belakang.

Sekarang sistem pengadaan barang di Kimia Farma No. 394 menggunakan sistem Surat

Pemesanan dan sistem Min-Max yang dilakukan oleh apotek Kimia Farma masing-

masing.

Pemesanan dengan SP dilakukan ke Pedagang Besar Farmasi Kimia Farma

selaku distributor tunggal dengan membuat surat pemesanan barang yang dibuat rangkap

empat, yang masing- masing diserahkan kepada Pedagang Besar Farmasi (PBF) yang

bersangkutan (Surat Pemesanan asli dan 2 Lembar kopi Surat Pemesanan), dan satu

lembar sebagai arsip di apotek.

Pengadaan Min-Max menentukan berapa jumlah persediaan pengaman,

persediaan minimum, persediaan maksimum dan kuantitas pemesanan. Dalam metode ini,

kuantitas minimum dan maksimum untuk setiap jenis barang sudah ditentukan, untuk

mencegah terjadinya kekurangan bahan baku, dan berguna untuk melakukan pemesanan

kembali, dimana kuantitas bahan baku yang dipesan adalah sebesar kebutuhan untuk

menjadikan persediaan pada tingkat yang maksimum. Metode Min-Max dilakukan

dengan mengendalikan jumlah minimum dan maksimum persediaan dengan mengatur

rencana pemesanan persediaan (plan order) agar tidak terjadi kekurangan (stockout) atau

kelebihan persediaan (overstock). Metode ini digunakan pada gondola-gondola swalayan

farmasi di Apotek Kimia Farma 394, dimana pengadaan barang sesuai barang yang
terjual.

Untuk pengadaan obat golongan Narkotika di Kimia Farma 394 dilakukan

dengan cara melalukan pemesanan langsung ke distributor yaitu PBF Kimia Farma

dengan membuat Surat Pemesanan yang telah ditandatangani oleh Apoteker Penanggung

Jawab. Pengadaan Psikotropika juga dilakukan langsung ke distributor PBF Kimia Farma

atau PBF resmi lainnya.

Penyimpanan obat di Apotek Kimia Farma No. 394 dilakukan dengan

meletakkan pada rak obat dan disusun berdasarkan bentuk sediaan dan stabilitas obat dan

menurut efek farmakologisnya disusun secara alfabetis, menggunaan sistem FIFO (First

In First Out) dan FEFO (First Expired First Out) untuk pengeluaran obat atau penjualan,

hal tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas produk, mempermudah pencarian

sehingga mengurangi resiko kesalahan terapi apabila terjadi kesalahan dalam

pengambilan obat dan untuk mencegah terjadinya penumpukan barang yang telah

kadaluarsa sehingga obat-obat yang mempunyai waktu kadarluarsa lebih singkat

disimpan paling depan yang memungkinkan diambil terlebih dahulu. Obat-obat yang

memerlukan kondisi penyimpanan khusus seperti suppositoria, dan insulin disimpan

dalam lemari pendingin dengan suhu 2- 8 oC.

Untuk penyimpanan obat narkotika disimpan dalam lemari khusus yang terbuat

dari kayu yang dipasangkan pada dinding apotek, lemari diletakkan di pojok dalam agar

tidak terlihat oleh pasien/ orang yang tidak berkepentingan. Terdiri dari dua bagian yang

masingmasing memiliki kunci yang berbeda (kunci ganda) sesuai dengan Peraturan

Menteri Kesehatan No.3 Tahun 2015. Setiap satu bulan sekali melalui sistem online yaitu

Sistem Pelaporan Narkotika dan Psikotropika (SIPNAP), sedangkan Prekusor dilaporkan

melalui website http://enapza.pom.go.id. Pelaporan melalui sistem online memudahkan

apotek dalam melakukan pelaporan. Untuk obat-obatan tertentu, pelaporan dilakukan

dengan membuat laporan tiap bulan disampaikan kepada Kepala Badan Direktur

Pengawasan Narkotika, Psikotropik dan Zat adiktif sesuai dengan peraturan Kepala
Badan POM No. 7 tahun 2016.

Pelayanan resep yang diterima Apotek Kimia Farma No. 394 terbagi menjadi dua,

yaitu resep tunai dan resep kredit yang bekerjasama dengan instansi-instansi terkait

seperti rekanan perusahaan seperti BPJS, OJK, PT. PLN, dan Inhealth Mandiri yang

menyediakan anggaran kesehatan bagi karyawannya. Selain itu Apotek juga melayani

resep BPJS dan umum dari pasien yang berobat pada dokter. Sebagian besar konsumen

tetap Apotek Kimia 394 Farma No. 394 adalah pasien yang mempunyai penyakit kronik

seperti diabetes, hipertensi, asam urat dan asma, yang penggunaan obatnya dilakukan

secara terus-menerus.

Alur pelayanan resep yang pertama yaitu resep yang dibawa oleh pasien diterima

oleh petugas Apotek. Kemudian resep yang diterima diskrining untuk melihat persyaratan

administrasi, kesesuain farmasetik dan farmasi klinis. Setelah dinyatakan resep lengkap,

selanjutnya dilakukan pengecekan terhadap persediaan obat dan dihargai, kemudian

setelah pengecekan obat TTK akan melakukan konfirmasi kepada konsumen mengenai

obat yang ada maupun tidak ada. TTK juga akan menyatakan kepada pasien terkait harga

yang harus dibayar dan jika pasien setuju maka obat langsung disiapkan. Kegitan

dispensing dilakukan oleh petugas yang berbeda untuk memperkecil kesalahan dalam

pelayanan resep. Selanjutnya obat diberi etiket yang mencantumkan nama obat, jumlah

dan cara pakai dan tanggal kadaluarsa. Setelah obat siap untuk diserahkan kepada pasien

apoteker melakukan pemeriksaan terakhir untuk memastikan kesesuaian antara penulisan

etiket dengan resep dan penyerahan obat disertai pemberian tentang Informasi obat

kepada pasien.

Sistem pelayanan resep kredit dapat dilakukan di seluruh Apotek Kimia Farma atau

hanya di Apotek-apotek Kimia Farma tertentu saja, tergantung dari kesepakatan antara
instansi dengan Kimia Farma. Banyaknya pelayanan resep kredit sebenarnya

menunjukkan bahwa suatu Apotek cukup bagus dalam pengembangan usaha tetapi bila

resep kredit yang diterima oleh Apotek terlalu banyak, maka semakin besar pula modal

apotek yang tertahan dalam bentuk piutang.

Pelayanan obat tanpa resep diantaranya adalah penjualan obat bebas di swalayan

farmasi, penjualan Obat Wajib Apotek (OWA), alat kesehatan dan perbekalan lainnya

dalam rangka Upaya Pengobatan Diri Sendiri (UPDS). Setiap jenis pelayanan, dilakukan

pemeriksaan untuk menghindari terjadinya kesalahan. Proses pemeriksaan meliputi

perhitungan harga, penimbangan, pemberian etiket, pembuatan copy resep, kwitansi,

pengemasan dan penyerahan obat serta pemberian informasi obat. Tahap-tahap tersebut

dilakukan untuk menjamin keamanan, kemanfaatan, serta mutu pelayanan di Apotek.

Selain itu, PIO sangat dibutuhkan bagi pasien yang melakukan UPDS/Swamedikasi agar

tercapainya outcomes pengobatan yang diharapkan.

Apotek Kimia Farma No. 394 jarang melakukan penolakan resep. Apabila ada obat

dalam resep yang tidak tersedia, ada upaya untuk memenuhi permintaan konsumen

dengan menawarkan obat lain sebagai pengganti obat yang tidak ada dengan komposisi

zat yang sama. Jika ada obat yang persediaannya habis maka dilakukan pengecekkan stok

obat di laci-laci obat dan jika obat tersedia maka obat dapat langsung diberikan kepada

pasien. Tetapi jika tidak ada maka pasien ditawarkan untuk menunggu atau ditinggal

selagi obat dicarikan ke apotek kimia farma lain. Obat-obat tersebut ditulis dalam buku

hutang resep pasien yang dapat dilihat pada Lampiran 3.

Resep asli dikumpulkan berdasarkan tanggal yang sama dan diurutkan sesuai nomor

resep. resep yang berisi narkotika dan psikotropik dipisahkan dan nama narkotika

digarisbawahi dengan tinta merah. Resep dibendel sesui dengan kelompoknya bedasarkan

tanggal, bulan dan tahun yang mudah dibaca dan disimpan ditempt yang ditentukan.
Penyimpanan resep yang dilakukan secara berurutan dan teratur dimaksudkan untuk

memudahkan petugas jika sewaktu- waktu diperlukan penelusuran resep. resep narkotika

dan psikotropika disimpan terpisah untuk memudahkan penyusunan laporan ke dinas

kesehatan wilayah setempat, semua resep disimpan minimal selama 3 tahun sebelum

dimusnahkan.

Dalam setiap pergantian shift, petugas apotek yang bertanggung jawab harus

melaporkan seluruh hasil penjualan apotek dalam bentuk bukti setoran kasir apotek untuk

selanjutnya divalidasi. Validasi dilakukan oleh Pharmacy Manager (APA) terhadap

semua transaksi, baik tunai maupun kredit, yang tercatat dalam buku setoran tunai harian.

Uang hasil penjualan yang didapatkan disesuaikan dengan yang tercetak di total

penjualan yang dilakukan per shift dan disetorkan kepada BM depok melalui rekening

bersama milik BM Depok dengan menuliskan berita acara setoran Apotek Kimia Farma

No. 394 pada tanggal berapa. Selain itu juga dilakukan pengantaran resep-resep kredit

yang dilayani oleh Apotek Kimia Farma No. 394 kepada BM Depok paling tidak 2 hari

sekali atau berdasarkan banyaknya resep kredit yang telah dilayani apotek.

Seorang Apoteker Pengelola Apotek (APA) bertanggung jawab terhadap

kelangsungan hidup apotek yang dipimpinnya, yaitu berkewajiban menyediakan dan

memberikan pelayanan yang baik, mengambil keputusan yang tepat, mampu

berkomunikasi antar profesi, menempatkan diri sebagai pimpinan dalam situasi

multidisipliner, kemampuan mengelola Sumber Daya Manusia (SDM) secara efektif,

selalu belajar sepanjang karier dan membantu memberi pendidikan serta memberi

peluang untuk meningkatkan pengetahuan. Apoteker di apotek memiliki tiga peranan

yang berkaitan langsung dengan pasien, yaitu sebagai profesional, manajer, dan retailer.

Secara umum kegiatan manajerial Apotek Kimia Farma No. 394 sudah sesuai

dengan PerMenKes RI No.73 tahun 2016 yaitu standar pelayanan kefarmasian di Apotek.
Kegiatan pengelolaan meliputi perencanaan, pengadaan, penerimaan, penyimpanan,

pemusnahan, pengendalian, serta pencatatan dan pelaporan.

Perencanaan dilakukan berdasarkan pertimbangan terhadap pola penyakit, bufer

stock, waktu tunggu dan consumtive method (jumlah pemakaian sebelumnya). Tujuan

dari perencanaan perbekalan farmasi adalah untuk mendapatkan jenis dan jumlah sediaan

farmasi dan perbekalan kesehatan yang sesuai kebutuhan serta menghindari terjadinya

kekosongan obat/penumpukan obat di apotek.

Pengadaan; barang berupa obat maupun perbekalan farmasi dilakukan oleh asisten

apoteker yang bertanggung jawab pada Apoteker Pengelola Apotek. Pengadaan barang di

Apotek Kimia Farma No. 394 dilakukan dengan membuat Surat Pemesanan sesuai

kebutuhan apotek. Sistem pengadaan barang Kimia Farma Apotek dilakukan dengan

sistem Surat Pemesanan setiap seminggu sekali dan Bon Permintaan Barang Apotek

(BPBA) setiap satu bulan sekali. Untuk pengadaan obat super pareto dilakukan 2 kali

dalam sebulan. Apotek dapat melakukan pembelian mendesak jika obat atau perbekalan

farmasi lainnya dibutuhkan segera tetapi tidak tersedia di apotek.

Penerimaan; dan pemeriksaan setiap barang datang ke Apotek KimiaFarma No. 394

dilakukan dengan baik. Pemeriksaan yang dilakukan antara lain pemeriksaan kecocokan

barang dengan surat pesanan atau faktur seperti nama, jumlah, tanggal kadaluarsa, harga

barang, dan nama pemasok. Kemudian akan diperiksa dengan stok fisik barang yang

datang dengan yang terdapat dalam faktur seperti kondisi fisik dan kemasan. Setelah itu

dibuat tanda terima pada faktur dengan ditanda tangani dan diberi stampel apotek.

Penyimpanan obat dilakukan oleh asisten apoteker dengan sepengetahuan APA.

Setiap pemasukan dan penggunaan obat harus selalu diinput kedalam sistem . Untuk

setiap harinya dilakukan pendataan stok melalui kartu stock pada masing-masing obat.

Tetapi setiap akhir bulan akan diadakan stok opname untuk melihat persediaan akhir obat

dan seberapa besar kebutuhan akan obat tersebut sehingga dapat diperkirakan jumlah
pembelian untuk bulan berikutnya. Masingmasing lemari penyimpanan obat memliki

penanggung jawab yaitu seorang asisten apoteker yang bertanggung jawab pada stock

barang. Penyimpanan perbekalan farmasi di Apotek Kimia Farma No. 394 disimpan

berdasarkan bentuk sediaan dimana bentuk sediaan padat (tablet, kapsul, kaplet), sediaan

cair oral, sediaan cair tetes oral, sediaan topikal (salep, krim, gel), sediaan tetes mata dan

salep mata, sediaan tetes telinga dan sediaan nasal diletakkan pada tempat yang berbeda.

Produk yang membutuhkan penyimpanan suhu dingin disimpan dalam lemari pendingin.

Produk branded dan generik juga dipisahkan dalam penyimpanannya. Produk yang cepat

terjual (produk Pareto) disimpan dalam lemari khusus. Penggolongan selanjutnya

dilakukan berdasarkan farmakologi dan disusun secara alfabetis.

Pemusnahan obat di Apotek Kimia Farma No. 394 dikoordinir oleh Unitbisnis

wilayah Depok. Obat kadaluwarsa dimusnahkan sesuai dengan jenis dan bentuk sediaan.

Pemusnahan dilakukan oleh Apoteker dan disaksikan oleh tenaga kefarmasian lain yang

memiliki surat izin praktik atau surat izin kerja. Pemusnahan obat kadaluwarsa atau rusak

yang mengandung narkotika atau psikotropika dilakukan oleh Apoteker dan disaksikan

oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Pemusnahan dibuktikan dengan berita acara

pemusnahan. Resep yang telah disimpan melebihi jangka waktu 5 (lima) tahun

dimusnahkan oleh Apoteker dan disaksikan oleh sekurang-kurangnya petugas lain di

Apotek dengan cara dibakar atau cara pemusnahan lain yang dibuktikan dengan Berita

Acara Pemusnahan Resep dan selanjutnya dilaporkan kepada dinas kesehatan

kabupaten/kota.

Pengendalian dilakukan untuk mempertahankan jenis dan jumlah persediaan sesuai

kebutuhan pelayanan, melalui pengaturan sistem pesanan atau pengadaan, penyimpanan

dan pengeluaran. Hal ini bertujuan untuk menghindari terjadinya kelebihan, kekurangan,

kekosongan, kerusakan, kadaluwarsa kehilangan serta pengembalian pesanan.

Pengendalian perbekalan farmasi dilakukan dengan pencatatan pada kartu stok untuk

setiap perbekalan farmasi yang masuk dan keluar. Setiap lemari penyimpanan obat
memiliki satu orang penanggung jawab yang akan memantau ketersediaan obat agar tidak

terjadi kekosongan stok, dan juga bertugas memantau kesesuaian obat yang tersedia

secara fisik dengan data stok di sistem komputer. Untuk pengendalian obat kadaluarsa

dilakukan dengan upaya penyimpanan obat dengan menggunakan sistem FEFO dan juga

memberikan stiker berwarna yang bertuliskan tanggal kadaluarsa obat pada kotak

penyimpanan sehingga mempermudah pengontrolan.

Pencatatan dilakukan pada setiap proses pengelolaan Sediaan Farmasi,Alat

Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai meliputi pengadaan (surat pesanan, faktur),

penyimpanan (kartu stock), penyerahan (nota atau struk penjualan). Pelaporan terdiri dari

pelaporan internal dan eksternal. Pelaporan internal merupakan pelaporan yang

digunakan untuk kebutuhan manajemen Apotek. Pelaporan di Apotek Kimia Farma

No.394 meliputi laporan keuangan (Bukti Setoran Kas, Laporan Penjualan Harian, dan

Laporan Realisasi Penggunaan Dana Kas Kecil); laporan barang (pengarsipan

dokumentasi pembelian, Surat Pemesanan, dan kartu stok); dan laporan Sumber Daya

Manusia (tata tertib pregawai, absensi, lembur, jadwal kerja, dan tunjangan). Pelaporan

eksternal merupakan pelaporan yang dibuat untuk memenuhi kewajiban sesuai dengan

ketentuan peraturan perundang-undangan meliputi pelaporan narkotika dan psikotropika.

Kegiatan pelayanan Farmasi Klinis diapotek Kimia Farma No. 394 yaitu meliputi

pengkajian Resep, dispensing, Pelayanan Informasi Obat (PIO), konseling, Pelayanan

Kefarmasian di rumah (home pharmacy care), Pemantauan Terapi Obat (PTO), dan

Monitoring Efek Samping Obat (MESO). Pelayanan farmasi klinik di Apotek Kimia

Farma No. 394 sudah berjalan dengan cukup baik, sesuai dengan Peraturan Menteri

Kesehatan Republik Indonesia 73 tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di

Apotek, pelayanan farmasi klinik selain melakukan kegiatan dispensing, di Apotek juga

dilaksanankan PTO dan MESO melalui (telefarma).

Telefarama yaitu pelayanan kefarmasian yang dilakukan TTK atau Apoteker melalui

telepon kepada pasien untuk menanyakan kondisi pasien, jadwal minum obat pasien
teratur atau tidak, sisa stok obat apakah obat masih tersedia atau sudah habis, dan

memberikan informasi mengenai obat dan kesehatan yang dibutuhkan pasien. Telefarma

diberikan kepada pasien pelanggan dengan penyakit kronis tertentu yang data pasienya

dapat dilihat melalui PMR (Patient Medical Record).

Kegiatan PTO bertujuan memastikan bahwa pasien mendapatkan terapi obat yang

efektif dan terjangkau dengan memaksimalkan efikasi dan meminimalkan efek samping.

Sedangkan kegiatan MESO merupakan kegiatan pemantauan setiap respon terhadap obat

yang merugikan atau tidak diharapkan yang terjadi pada dosis normal yang digunakan

pada manusia untuk tujuan profilaksis, diagnosis dan terapi. Konseling bertujuan untuk

meningkatkan pengetahuan, pemahaman, kesadaran dan kepatuhan sehingga terjadi

perubahan perilaku dalam penggunaan obat dan menyelesaikan masalah yang dihadapi

pasien. PIO yang dilakukan adalah memberikan informasi dan edukasi kepada pasien

serta memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada mahasiswa farmasi yang sedang

praktik profesi. Pelayanan kefarmasian di rumah (homepharmacy care), Apotek Kimia

Farma No. 394 sudah menjalankan pelayanan farmasi klinik tersebut sesuai dengan

PerMenKes RI No.73 tahun 2016.


84

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 KESIMPULAN

Dari hasil Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) yang dilaksanakan di

PT. Kimia Farma Apotek dan Apotek Kimia Farma No. 394 Jl. Siliwangi No.35,

Depok dari tanggal 4 – 28 Februari 2018, maka dapat disimpulkan bahwa :

a. Apotek Kimia Farma No. 394 merupakan Apotek pelayanan yang

dipimpin oleh seorang Apoteker Pengelola Apotek (APA) dan

didampingi seorang Apoteker Pendamping (APing). Apoteker telah

melaksanakan fungsinya secara professional dalam menjamin

penggunaan obat yang efektif, aman, dan rasional, sehingga tercapai

pelayanan kefarmasian yang optimal. Dalam pengelolaan managerial

apotek, Apoteker sudah bertanggung jawab penuh dan terus

mengawasi, seperti menentukan kebijakan pengelolaan apotek dan

pengawasan terhadap pelayanan kefarmasian.

b. Apotek Kimia Farma No. 394 telah melaksanakan Pelayanan

kefarmasiansesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 73

Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek.

Pelayanan kefarmasian yangdilakukan di Apotek Kimia Farma No.

394 meliputi pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan

medis habis pakai; dan pelayanan farmasi klinik. Pelayanan farmasi

klinik yang telah dilakukan di apotek Kimia Farma No.394 adalah

pengkajian resep, dispensing, konseling, pelayanan informasiobat,

84
85

pelayanan kefarmasian dirumah (home pharmacy care), MESO

danPTO melalui layaan telefarma.

c. Praktek pelayanan asuhan kefarmasian di Apotek Kimia Farma No.

394 sudah berjalan dengan baik sesuai dengan GPP (Good

Pharmaceutical Practice).

5.2 Saran

Saran yang dapat kami berikan setelah mengikuti Praktek Kerja

ProfesiApoteker (PKPA) yang dilaksanakan di Apotek Kimia Farma No.

394, yaitu sebagai berikut:

a) Penerapan konseling bagi pasien perlu ditingkatkan dalam rangka

peningkatan pelayanan Apotek menuju Patient Oriented.

b) Perlu disediakan ruang khusus untuk konseling yang terpisah dari

tempat penyerahan obat. Hal ini bertujuan agar pasien lebih leluasa

untuk berkonsultasi dan juga untuk meningkatkan kualitas kesehatan

pasien mengingat banyaknya pasien KF 394 yang merupakan

penderita penyakit kronis yang menggunakan obat dalam waktu

yang cukup lama.


86

DAFTAR PUSTAKA

1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. PP No. 51 Tentang


Pekerjaan Kefarmasian. Peratur Pemerintah Republik Indonesia nomor 51
tahun 2009 tentang Pekerjaan kefarmasian.2009;
2. Kementerian Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 73 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian
di Apotek.

3. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan


Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2017 tentang Apotek.
4. Direktorat jenderal pelayanan kefarmasian dan alat kesehatan. Undang-
Undang Obat Keras St. No. 419 Tahun 1949.
5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika. Available from:
http://epharm.depkes.go.id/front/pdf/UU352009.pdf
6. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Undang–Undang Republik
Indonesia Nomor 5 Tahun 1997 Tentang Psikotropika. Undang Republik
Indonesia [Internet]. Available from: http://
epharm.depkes.go.id/front/pdf/UU51997.pdf
7. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan
RI Nomor 3 Tahun 2015 tentang Peredaran, Penyimpanan, Pemusnahan,
dan Pelaporan Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor Farmasi. Undang
Republik Indones [Internet]. Available from: http://e-
pharm.depkes.go.id/front/pdf/UU51997.pdf
8. BPOM. KMK No. 347 Tahun 1990 Obat Wajib Apotek.
9. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor HK.02.02/MENKES/068/I/2010 Tentang
Kewajiban Menggunakan Obat Generik di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Pemerintah.
10. Kimia Farma. Profil Kimia Farma [Internet]. 2017. Available from:
https://www.kimiafarma.co.id/
11. Kimia Farma. Kimia Farma Apotek [Internet]. 2017. Available from:
http://www.kimiafarma.co.id/
87

LAMPIRAN

Lampiran 1. Struktur Organisasi Apotek Kimia Farma No. 394

Siliwangi Depok

Apoteker Pengelola Apotek


Tedi Fawitra, S.Farm., Apt

Apoteker Pendamping
 Dillah Azhari S.Farm., Apt
 Nicky Annisiana Fortunita
S.Farm., Apt
Tenaga Teknis Kefarmasian
 Erna
 Resti
 Suci
88

Lampiran 2. Lay Out Apotek Kimia Farma No.394

Keterangan :
A : Meja Meracik Obat
B : Lemari Narkotik Dan Psikotropik
C : Rak Penyimpanan Obat
D : Meja Penyerahan Obat
E : Meja Penerimaan Resep
F : Rak Obat OTC
G : Gudang Penyimpanan Obat
H : Toilet
I : Ruang Tunggu
89

Lampiran 3. Buku Hutang Pasien Reguler dan BPJS


90

Lampiran 4. Buku Droping

Lampiran 5. Rak Obat Apotek (Disusun berdasarkanf armakologis)


91

\
92

Lampiran 6. Etiket dan Kemasan


93

Lampiran 7 . Area SwalayandanApotek


94

Lampiran 8. Tempat penyimpanan obat narkotik dan obat psikotropik


95

Lampiran 9. Surat Pemesanan

- Narkotik 3. Prekunsor

- Psikotropika 4. Obat-obat Tertentu

Lampiran 10. Kwitansi


96

Lampiran 11. Kartu Stok


97
98
99