Anda di halaman 1dari 14

STRUKTUR ORGANISASI NU, LEMBAGA, LAJNAH, DAN BADAN OTONOM

1. Struktur Organisasi NU tingkat kepengurusan


a. PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) untuk tingkat pusat.
b. PWNU (Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama) untuk tingkat propinsi.
c. PCNU (Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama) untuk tingkat kabupaten.
d. MWCNU (Pengurus Wakil Cabang Nahdlatul Ulama) untuk tingkat kecamatan.
e. PRNU (Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama) untuk tingkat Kelurahan.
2. Lembaga
Lembaga adalah perangkat oraganisasi NU yang berfungsi sebagai pelaksana kebijakan NU yang
berkaitan dengan bidang tertentu. Lembaga-lembaga tsb adalah :
a. LDNU (Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama) bertugas dibidang dakwah islam ASWAJA.
b. LP Ma’arif NU bertugas dibidang pendidikan formal/non formal selain pon. Pes.
c. LSM-NU (Lembaga Sosial Mabarot Nahdlatul Ulama) bertugas di bidang social dan kesehatan
d. LENU (Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama) bertugas dibidang ekonomi warga NU.
e. LP3NU (LembagaPembangunan dan Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama) bertugas
dibidang pengembangan pertanian, perternakan, dan perikanan.
f. RMI (Rabithah Ma’ahidil Islamiyah) bertugas di bidang pengembangan Pondok esantren (Pon.
Pes)
g. LKNU (Lembaga Kemaslahatan dan Keuarga Nahdlatul Ulama) bertugas dibidang
kemaslahatan keluarga, kependudukan dan lingkungan hidup.
h. Haiah Ta’mir Masjid bertugas melaksanakan kebijakan NU di bidang pengembangan dan
kemakmuran masjid.
i. Lembaga misi islam bertugas dibidang pengembangan dan penyiaran islam ASWAJA di daerah
yang bersifat khusus.
j. ISHI (Ikatan Seni Hadrah Indonesia) bertugas dibidang pengembangan seni hadroh
(terbangan).
k. Lesbumi (Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia) bertugas dibidang seni dan budaya.
l. IPSNU Pagar Nusa (Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama) bertugas dibidang pengembangan
olah raga bela diri pencak silat.
3. Lajnah
Lajnah adalah perangkat organisasi NU yang berfungsi untuk melaksanakan program NU yang
memerlukan penanganan khusus. Lajnah tersebut yaitu :
a. Lajnah falakiyah bertugas menentukan penanggalan th hijriyah, awal dan akhir bln ramadhan
b. Lajnah Taklif wannasyr bertugas penulisan karangan, penerjemahan, penerbitan buku, kitab,
dll.
c. Lajnah Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam-NU) bertugas
melakukan kajian, penelitian, dan elatihan dalam rangka meningkatkan SDM-NU.
d. Lajnah Penyuluhan dan bantuan Hukum
e. Lanjnah Zakat, Infaq dan Shadaqah
f. Lajnah Bahsul Masail Diniyah bertugas menghimpun, membahas dan memecahkan masalah
yang mauquf dan waqiah yang harus segera mendapatkan kepastian hukum.
4. Badan Otonom
Badan Otonom adalah Perangkat Organisasi NU yang berfungsi membantu melaksanakan
kebijakan NU khususnya yang berkaitan dengan kelompok masyarakat tertuntu. Yaitu :
Muslimat NU, Fatayat NU, GP Ansor, IPNU, IPPNU, Jam’iyan Ahli Thariqah al Mu’tabaroh an
Nahdliyah, JQH (Jamiyatul Quro’ wal hufadz), Pergunu (Persatuan Guru Nahdlatul Ulama), dan
ISNU (Ikatan Sarjana nahdlatul Ulama).
5. Struktur Kepengurusan NU
a. Mustasyar (Dewan Penasehat Organisasi)
Bertugas memberikan nasehat kepada pengurus NU sesuai tingkatannya dalam rangka menjaga
kemurnian Khithat NU dan Islahu Dzatil Bain (Abritase).
b. Syuriah
Adalah pimpinan NU tertinggi yang berfungsi sebagai Pembina, pengawas dan penentu
kebijakan NU.
c. Tanfidziah
Adalah pelaksana kerja program-program NU.
Struktur Pengurus

1. Pengurus Besar (tingkat Pusat).


2. Pengurus Wilayah (tingkat Propinsi), terdapat 33 Wilayah.
3. Pengurus Cabang (tingkat Kabupaten/Kota) atau Pengurus Cabang Istimewa untuk
kepengurusan di luar negeri, terdapat 439 Cabang dan 15 Cabang Istimewa.
4. Pengurus Majlis Wakil Cabang / MWC (tingkat Kecamatan), terdapat 5.450 Majelis
Wakil Cabang.
5. Pengurus Ranting (tingkat Desa / Kelurahan), terdapat 47.125 Ranting.

Untuk Pusat, Wilayah, Cabang, dan Majelis Wakil Cabang, setiap kepengurusan terdiri dari:

1. Mustasyar (Penasihat)
2. Syuriyah (Pimpinan tertinggi)
3. Tanfidziyah (Pelaksana Harian)

Untuk Ranting, setiap kepengurusan terdiri dari:

1. Syuriyah (Pimpinan tertinggi)


2. Tanfidziyah (Pelaksana harian)

Keanggotaan berbasis di ranting dan di cabang untuk cabang istimewa.

A’wan: Bagian dari syuriah yang bertugas membantu tugas rais, yang terdiri atas sejumlah
ulama terpandang. A’wan adalah bentuk jamak dari ‘awn yang secara bahasa berarti bantuan.

Hadhratusy Syaikh: Sebutan kepada seorang ulama sebagai pengakuan atas keluasan ilmunya,
kemuliaan akhlaqnya, dan keistiqamahannya dalam berdakwah. Istilah Hadhratusy Syaikh di NU
merujuk kepada K.H Mohammad Hasyim Asy’ari, pendiri NU.

Jam’iyyah: Perkumpulan yang memiliki ikatan dan aturan baku (organisasi). Berbeda dari
jama’ah yang merupakan perkumpulan yang bersifat lepas dan cair. Keduanya berakar dari kata
jama’a (berkumpul). Selain Nahdlatul Ulama sebagai jam’iyyah induk, ada beberapa badan
otonom NU yang juga memakai nama jam’iyyah, sepertiJam’iyyah Ahlith Thariqah Al-
Mu’tabarah An-Nahdhiyyah ( JATMAN) yang menaungi para pengikut thariqat yang
mu’tabar; dan Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffazh(JQH) yang mengurus pendidikan, pelatihan,
pembinaan, dan pengembangan tradisi penghafalan dan seni membaca Al-Qur’an.

Katib: Penulis atau juru catat, berasal dari kata ‘kataba’ (menulis). Dalam NU, istilah katib
hanya diperuntukkan bagi sekretaris syuriah. Sementara itu, dalam tanfidziah digunakan istilah
sekretaris.

Khittah: Visi dasar organisasi NU yang dirumuskan pada awal pendiriannya pada tahun 1926,
yakni sebagai organisasi sosial keagamaan yang berjuang di ranah dakwah, sosial, dan
pendidikan. Kata khiththah berasal dari kata ‘khaththa(menggaris).

Lajnah: Panitia, komisi, lembaga, atau komite yang secara struktural bertanggung jawab kepada
NU. Berasal dari kata ‘lajanah’ yang berarti mengaduk, merekatkan. Ada beberapa lajnah dalam
NU, yaitu: Lajnah Falakiyyah, bertugas menangani hal-hal yang berkaitan dengan bidang ilmu
falak (astronomi); Lajnah Bahtsul Masa’il(LBM), bertugas membahas, mengkaji, dan
memutuskan berbagai masalah keagamaan, dengan bersandar pada pandangan ulama dan kitab
yang mu’tabar;Lajnah At-Ta’lif wan Nasyr, menangani penerbitan karya dan fatwa ulama NU,
kegiatan muktamar, dan lain-lain; dan Lajnah Awqaf, yang menangani harta wakaf baik dari
anggota maupun simpatisan NU. Selain lajnah, ada juga lembaga, seperti Lakpesdam, LP
Ma’arif dan Lesbumi, dan badan otonom, seperti Anshor, Fatayat, Muslimat, IPNU, dan IPPNU,
yang secara struktural lebih mandiri.

(Al-)Muhafazhah ‘alal qadimish shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah: Prinsip dasar ulama
NU yang bermakna, “Berpegang teguh pada pendapat terdahulu yang baik, seraya mengambil
pendapat yang baru yang jauh lebih baik”. Dengan dasar kaidah itu, NU mempertahankan tradisi
salafiyyahnya, namun tidak alergi terhadap pendapat dan interpretasi keagamaan modern yang
tidak bertentangan dengan Al-Qur’an, hadits, dan ijma’ ulama salaf.

Mustasyar: Dewan penasihat syuriah yang terdiri atas ulama sepuh NU, seperti K.H M. Zen
Syukri, K.H Idris Marzuki Lirboyo, dan Tuan Guru Badruddin Turmudzi. Mustasyar berasal dari
kata ‘istasyara’ yang berarti meminta petunjuk.

Qanun Asasi: Garis-garis dasar ideologi NU yang disusun oleh Hadhratusy Syaikh Hasyim Asy’
ari. Intinya, jam’iyyah NU berpegang kepada madzhab Asy’ariyah (pengikut Syaikh Abul Hasan
Ali bin Ismail Al-Asy’ari) dan Maturidiyyah (pengikut Abu Manshur Muhammad bin
Muhammad Al-Maturidi) dalam beraqidah; pendapat ulama madzhab Maliki, Hanafi, Syafi’i,
dan Hanbali dalam berfiqih; dan pendapat Imam Junaid Al-Baghdadi dan Imam Al-Ghazali
dalam bertasawuf.

Rabithah Al-Ma’ahid Al-Islamiyyah (RMI): Perkumpulan pesantren NU adalah salah satu


badan pelaksana kebijakan NU dalam bidang kepesantrenan. Rabithah berasal dari kata
‘rabatha’ yang berarti mengikat, sedangkan Ma’ahid adalah jamak dari kata‘ma’had’ yang
bermakna pondok pesantren.

Rais Akbar: Secara bahasa bermakna pemimpin besar, jabatan tertinggi dalam struktur
kepengurusan Syuriyyah NU saat pertama kali didirikan. Jabatan ini hanya pernah diduduki oleh
Hadhratusy Syaikh Muhammad Hasyim Asy’ari. Sepeninggal Mbah Hasyim, istilah rais akbar
diganti dengan rais ‘am yang berarti ketua umum.

Syuriah: Berasal dari kata ‘syawara’ yang berarti bermusyawarah. Syuriah ialah badan
musyawarah pengambil keputusan tertinggi dalam NU, semacam dewan legislatif dalam negara.
Syuriah dipimpin oleh seorang rais ‘am.

Tanfidziah: Berasal dari kata ‘naffadza’ yang berarti melaksanakan. Tanfidziah ialah badan
pelaksana harian syuriah. Pemimpin tertinggi Tanfidziyyah tidak menggunakan istilah rais ‘am,
melainkan ketua umum.

Sejarah

Akibat penjajahan maupun akibat kungkungan tradisi, telah menggugah kesadaran kaum
terpelajar untuk memperjuangkan martabat bangsa ini, melalui jalan pendidikan dan organisasi.
Gerakan yang muncul 1908 tersebut dikenal dengan "Kebangkitan Nasional". Semangat
kebangkitan terus menyebar - setelah rakyat pribumi sadar terhadap penderitaan dan
ketertinggalannya dengan bangsa lain. Sebagai jawabannya, muncullah berbagai organisasi
pendidikan dan pembebasan.

Merespon kebangkitan nasional tersebut, Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) dibentuk
pada 1916. Kemudian pada tahun 1918 didirikan Taswirul Afkar atau dikenal juga dengan
"Nahdlatul Fikri" (kebangkitan pemikiran), sebagai wahana pendidikan sosial politik kaum dan
keagamaan kaum santri. Dari situ kemudian didirikan Nahdlatut Tujjar, (pergerakan kaum
saudagar).

Serikat itu dijadikan basis untuk memperbaiki perekonomian rakyat. Dengan adanya Nahdlatul
Tujjar itu, maka Taswirul Afkar, selain tampil sebagai kelompok studi juga menjadi lembaga
pendidikan yang berkembang sangat pesat dan memiliki cabang di beberapa kota.

Berangkat dari munculnya berbagai macam komite dan organisasi yang bersifat embrional dan
ad hoc, maka setelah itu dirasa perlu untuk membentuk organisasi yang lebih mencakup dan
lebih sistematis, untuk mengantisipasi perkembangan zaman. Maka setelah berkordinasi dengan
berbagai kyai, karena tidak terakomodir kyai dari kalangan tradisional untuk mengikuti
konperensi Islam Dunia yang ada di Indonesia dan Timur Tengah akhirnya muncul kesepakatan
dari para ulama pesantren untuk membentuk organisasi yang bernama Nahdlatul Ulama
(Kebangkitan Ulama) pada 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926) di Kota Surabaya. Organisasi ini
dipimpin oleh K.H. Hasjim Asy'ari sebagai Rais Akbar.

Ada banyak faktor yang melatar belakangi berdirinya NU. Di antara faktor itu adalah
perkembangan dan pembaharuan pemikiran Islam yang menghendaki pelarangan segala bentuk
amaliah kaum Sunni. Sebuah pemikiran agar umat Islam kembali pada ajaran Islam "murni",
yaitu dengan cara umat islam melepaskan diri dari sistem bermadzhab. Bagi para kiai pesantren,
pembaruan pemikiran keagamaan sejatinya tetap merupakan suatu keniscayaan, namun tetap
tidak dengan meninggalkan tradisi keilmuan para ulama terdahulu yang masih relevan. Untuk
itu, Jam'iyah Nahdlatul Ulama cukup mendesak untuk segera didirikan.

Untuk menegaskan prinsip dasar organisasi ini, maka K.H. Hasjim Asy'ari merumuskan kitab
Qanun Asasi (prinsip dasar), kemudian juga merumuskan kitab I'tiqad Ahlussunnah Wal Jamaah.
Kedua kitab tersebut kemudian diejawantahkan dalam khittah NU, yang dijadikan sebagai dasar
dan rujukan warga NU dalam berpikir dan bertindak dalam bidang sosial, keagamaan dan politik.

Anggaran Dasar Utama

Organisasi yang resmi tentu membutuhkan pijakan dan dasar yang kuat untuk melindungi
keberlangsungan pada masa yang akan datang. Menyadari hal-hal tersebut maka disusunlah
Anggaran Dasar Nahdlatul Ulama sebagai berikut.

BAB I NAMA DAN TEMPAT KEDUDUKAN

Pasal 1

Jam’iyah ini bernama Nahdlatul Ulama disingkat NU. Didirikan di Surabaya pada tanggal 16
Rajab 1344 H bertepatan dgn tanggal 31 Januari 1926 M untuk waktu yang tidak terbatas.

Pasal 2

Pengurus Besar Jam’iyah Nahdlatul Ulama berkedudukan di ibu kota Negara Republik
Indonesia.

BAB II

AQIDAH/ASAS

Pasal 3
Nahdlatul Ulama sebagai Jam’iyah Diniyah islamiah beraqidah/berasas Islam menurut paham
Ahli Sunnah wal-Jamaah dan menganut salah satu dari empat mashab empat Hanafi Maliki
Syafii dan Hambali. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Nahdlatul Ulama berpedoman
kepada Ketuhanan Yang Maha Esa kemanusiaan yg adil dan berdab persatuan Indonesia
kerakyatan yg dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan dan
keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

BAB III

LAMBANG

Pasal 4

Lambang Nahdlatul Ulama berupa gambar bola dunia yg dilingkari tali tersimpul dikitari oleh 9
bintang 5 bintang terletak melingkari di atas garis khatulistiwa yg tersebar di antaranya terletak
di tengah atas sedang 4 bintang lainnya terletak melingkar di bawah khatulistiwa dgn tulisan
NAHDLATUL ULAMA dalam huruf Arab yg melintang dari sebelah kanan bola dunia ke
sebelah kiri; semua terlukis dgn warna putih di atas dasar hijau.[4]

Nahdlatul 'Ulama
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari NU)

Nahdlatul 'Ulama

Lambang Jam'iyyah Nahdlatul 'Ulama


16 Rajab 1344 (31 Januari
Tanggal pembentukan
1926)
Jenis Organisasi
Tujuan Keagamaan dan sosial (Islam)
Kantor pusat DKI Jakarta, Indonesia
Wilayah layanan Indonesia
Jumlah anggota 90 juta (2015)[1][2]
Rais Aam Syuriah Dr.(HC).KH. Ma'ruf Amin
Ketua Umum
Dr. K.H. Said Aqil Siradj, MA
Tanfidziyah
Situs web Situs web resmi

Nahdlatul 'Ulama (Kebangkitan 'Ulama atau Kebangkitan Cendekiawan Islam), disingkat NU,
adalah sebuah organisasi Islam terbesar di Indonesia.[3] Organisasi ini berdiri pada 31 Januari
1926 dan bergerak di bidang keagamaan, pendidikan, sosial, dan ekonomi.
Paham Keagamaan

NU menganut paham Ahlussunah waljama'ah, merupakan sebuah pola pikir yang mengambil
jalan tengah antara ekstrem aqli (rasionalis) dengan kaum ekstrem naqli (skripturalis). Karena itu
sumber hukum Islam bagi NU tidak hanya al-Qur'an, sunnah, tetapi juga menggunakan
kemampuan akal ditambah dengan realitas empirik. Cara berpikir semacam itu dirujuk dari
pemikir terdahulu seperti Abu al-Hasan al-Asy'ari dan Abu Mansur Al Maturidi dalam bidang
teologi/ Tauhid/ketuhanan. Kemudian dalam bidang fiqih lebih cenderung mengikuti mazhab:
Imam Syafi'i dan mengakui tiga madzhab yang lain: Imam Hanafi, Imam Maliki,dan Imam
Hanbali sebagaimana yang tergambar dalam lambang NU berbintang 4 di bawah. Sementara
dalam bidang tasawuf, mengembangkan metode Al-Ghazali dan Syeikh Juneid al-Bagdadi, yang
mengintegrasikan antara tasawuf dengan syariat.

Gagasan kembali kekhittah pada tahun 1984, merupakan momentum penting untuk menafsirkan
kembali ajaran ahlussunnah wal jamaah, serta merumuskan kembali metode berpikir, baik dalam
bidang fikih maupun sosial. Serta merumuskan kembali hubungan NU dengan negara. Gerakan
tersebut berhasil kembali membangkitkan gairah pemikiran dan dinamika sosial dalam NU.

Daftar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama

Berikut ini adalah daftar Rais Am Syuriah (Dewan Penasehat) dan Ketua Umum Tanfidziyah
(Dewan Pelaksana) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama:

Rais Aam Syuriyah Ketua Umum Tanfidziyah


No Awal Akhir
Foto Nama Foto Nama

KH. Mohammad Hasyim


1 1926 1947
Asy'arie KH. Hasan Gipo

1947 1952

K.H. Abdul Wahab


2
Chasbullah 1952 1971

KH. Idham Chalid

3 KH. Bisri Syansuri 1972 1980


4 KH. Muhammad Ali Maksum 1980 1984

KH. Achmad Muhammad


5 1984 1991
Hasan Siddiq

Dr (HC). KH.
6 KH. Ali Yafie (pjs) Abdurrahman Wahid 1991 1992

7 KH. Mohammad Ilyas Ruhiat 1992 1999

Dr (HC).KH. Mohammad KH. Hasyim Muzadi 1999 2010


8
Ahmad Sahal Mahfudz

2010 2014
Prof. Dr. KH. Said Aqil
9 KH. Ahmad Mustofa Bisri 2014 2015
Siradj, M.A.
10 KH. Ma'ruf Amin 2015 Petahana

Organisasi

Tujuan

Menegakkan ajaran Islam menurut paham Ahlussunnah waljama'ah di tengah-tengah kehidupan


masyarakat, di dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Usaha

1. Di bidang agama, melaksanakan dakwah Islamiyah dan meningkatkan rasa persaudaraan yang
berpijak pada semangat persatuan dalam perbedaan.
2. Di bidang pendidikan, menyelenggarakan pendidikan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, untuk
membentuk muslim yang bertakwa, berbudi luhur, berpengetahuan luas.Hal ini terbukti dengan
lahirnya Lembaga-lembaga Pendidikan yang bernuansa NU dan sudah tersebar di berbagai
daerah khususnya di Pulau Jawa.
3. Di bidang sosial budaya, mengusahakan kesejahteraan rakyat serta kebudayaan yang sesuai
dengan nilai keislaman dan kemanusiaan.
4. Di bidang ekonomi, mengusahakan pemerataan kesempatan untuk menikmati hasil
pembangunan, dengan mengutamakan berkembangnya ekonomi rakyat.Hal ini ditandai dengan
lahirnya BMT dan Badan Keuangan lain yang yang telah terbukti membantu masyarakat.
5. Mengembangkan usaha lain yang bermanfaat bagi masyarakat luas. NU berusaha mengabdi dan
menjadi yang terbaik bagi masyrakat.

Struktur Pengurus

K.H. Hasyim Asyhari, Rais Akbar (ketua) pertama NU.

1. Pengurus Besar (tingkat Pusat).


2. Pengurus Wilayah (tingkat Provinsi), terdapat 33 Wilayah.
3. Pengurus Cabang (tingkat Kabupaten/Kota) atau Pengurus Cabang Istimewa untuk
kepengurusan di luar negeri, terdapat 439 Cabang dan 15 Cabang Istimewa.
4. Pengurus Majlis Wakil Cabang / MWC (tingkat Kecamatan), terdapat 5.450 Majelis Wakil
Cabang.
5. Pengurus Ranting (tingkat Desa / Kelurahan), terdapat 47.125 Ranting.

Untuk Pusat, Wilayah, Cabang, dan Majelis Wakil Cabang, setiap kepengurusan terdiri dari:

1. Mustasyar (Penasihat)
2. Syuriyah (Pimpinan tertinggi)
3. Tanfidziyah (Pelaksana Harian)

Untuk Ranting, setiap kepengurusan terdiri dari:

1. Syuriyah (Pimpinan tertinggi)


2. Tanfidziyah (Pelaksana harian)

Keanggotaan berbasis di ranting dan di cabang untuk cabang istimewa.

Lembaga[6]

Lembaga adalah perangkat departementasi organisasi Nahdlatul Ulama yang berfungsi sebagai
pelaksana kebijakan Nahdlatul Ulama, berkaitan dengan kelompok masyarakat tertentu dan/atau
yang memerlukan penanganan khusus. Lembaga ini meliputi:

1. Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LD-NU) [1]


2. Lembaga Pendidikan Ma'arif Nahdlatul Ulama (LP Ma'arif NU)
3. Rabithah Ma'ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI-NU)* (Indonesia) Lembaga Asosiasi
Pesantren Nahdlatul Ulama
4. Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LP-NU)
5. Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPP-NU)
6. Lembaga Pelayanan Kesehatan Nahdlatul Ulama (LPK-NU)
7. Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKK-NU)
8. Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Nahdlatul Ulama (LAKPESDAM-NU)
9. Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LPBH-NU)
10. Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia Nahdlatul Ulama (LESBUMI-NU)
11. Lembaga Zakat, Infaq, dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZIS-NU)
12. Lembaga Waqaf dan Pertanahan Nahdlatul Ulama (LWP-NU)
13. Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBM-NU)
14. Lembaga Ta'mir Masjid Nahdlatul Ulama (LTM-NU)
15. Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LK-NU)
16. Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LF-NU)
17. Lembaga Ta'lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN-NU)
18. Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI-NU)

Lajnah

Merupakan pelaksana program Nahdlatul Ulama (NU) yang memerlukan penanganan khusus.
Berdasarkan perubahan AD/ART hasil Muktamar 33 NU di Jombang, Lajnah Nahdlatul Ulama[7]
digantikan dengan lembaga. Semula ada 3 (tiga) Lajnah yaitu:

1. Lajnah Ta'lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN-NU) menjadi Lembaga Ta'lif wan Nasyr Nahdlatul
Ulama (LTNNU)
2. Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama (LF-NU) menjadi Lembaga Falakiya Nahdlatul Ulama (LFNU)
3. Lajnah Pendidikan tinggi (LPT-NU) menjadi Lembaga Pendidikan Nahdlatul Ulama (LPTNU)

Badan Otonom

Badan Otonom[8] adalah perangkat organisasi Nahdlatul Ulama yang berfungsi melaksanakan
kebijakan Nahdlatul Ulama yang berkaitan dengan kelompok masyarakat tertentu dan
beranggotakan perorangan.

Badan Otonom dikelompokkan dalam katagori Badan Otonom berbasis usia dan kelompok
masyarakat tertentu, dan Badan Otonom berbasis profesi dan kekhususan lainnya.

Jenis Badan Otonom berbasis usia dan kelompok masyarakat tertentu adalah:

1. Muslimat Nahdlatul Ulama (Muslimat NU)


2. Gerakan Pemuda Ansor Nahdlatul Ulama (GP Ansor NU)
3. Fatayat Nahdlatul Ulama (Fatayat NU)
4. Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU)
5. Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU)
6. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII)
7. Mahasiswa Ahlith Thoriqoh Al-Mu'tabaroh an-Nahdliyah (MATAN)

Badan Otonom berbasis profesi dan kekhususan lainnya:

1. Jam'iyyah Ahli Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyah (JATMAN)


2. Jami'iyyatul Qurro wal Huffadz Nahdlatul Ulama (JQH NU)
3. Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU)
4. Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (SARBUMUSI)
5. Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa (IPSNU Pagar Nusa)
6. Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU)
7. Serikat Nelayan Nahdlatul Ulama
8. Ikatan Seni Hadroh Indonesia (ISHARI)
NU dan Politik

Pertama kali NU terjun pada politik praktis pada saat menyatakan memisahkan diri dengan
Masyumi pada tahun 1952 dan kemudian mengikuti pemilu 1955. NU cukup berhasil dengan
meraih 45 kursi DPR dan 91 kursi Konstituante. Pada masa Demokrasi Terpimpin NU dikenal
sebagai partai yang mendukung Soekarno, dan bergabung dalam NASAKOM (Nasionalis,
Agama, Komunis) Nasionalis diwakili Partai Nasional Indonesia (PNI) Agama Partai Nahdhatul
Ulama dan Partai Komunis Indonesia (PKI).

NU kemudian menggabungkan diri dengan Partai Persatuan Pembangunan pada tanggal 5


Januari 1973 atas desakan penguasa orde baru. Mengikuti pemilu 1977 dan 1982 bersama PPP.
Pada muktamar NU di Situbondo, NU menyatakan diri untuk 'Kembali ke Khittah 1926' yaitu
untuk tidak berpolitik praktis lagi.

Namun setelah reformasi 1998, muncul partai-partai yang mengatasnamakan NU. Yang
terpenting adalah Partai Kebangkitan Bangsa yang dideklarasikan oleh Abdurrahman Wahid.
Pada pemilu 1999 PKB memperoleh 51 kursi DPR dan bahkan bisa mengantarkan Abdurrahman
Wahid sebagai Presiden RI. Pada pemilu 2004, PKB memperoleh 52 kursi DPR.

STRUKTUR KEPENGURUSAN
LEMBAGA AMIL ZAKAT INFAQ DAN SHODAQOH (LAZIS NU)
PENGURUS CABANG NAHDLATUL ULAMA’ (PCNU)
KOTA BOGOR

JOB DESCRIPTION PENGURUS

Rois Suriah
Penasehat
Ketua Tanfidziyah
Dr Aji Hermawan
Pembina H. A. Choliq Hafidz
M.A. Hasan Ali
Ketua Muhammad Zimamul Adli
Wakil Ketua Slamet Heri Kiswanto
Sekretaris Nurul Muhibbah
Wakil Sekretaris Bahriyatul Ma'rifah
Bendahara Latifah Nur Laila Istiqomah
Wakil Bendahara Fitri Afina Radityani
Koordinator Bidang
Adi Purnama
PSDM-Logistik
Hamdan Ubaidillah
Akhmad Nur Hijayat
Fundrising
M. Ardiyansah Ali Shahab
Program Muhamad Arifin
Media Komunikasi Muhammad Syarif
Koordinator Wilayah
Bogor Barat Nur Afifah
Bogor Tengah Amir Muzakki
M. Aldy Khusnul Khuluq
Bogor Timur
Shella R.F. Fitriani
Tanah Sareal Kiki Andri Aniatussolikhah
Bogor Selatan Achmad Mukhlis Hidayat
Bogor Utara Mohammad Fadholi

1. Ketua
o
Bertanggung jawab kepada PCNU Bogor
o Melaksanakan kebijakan organisasi, baik internal maupun eksternal secara umum
o Bersama dengan pengurus lain, merencanakan seluruh kegiatan yang menjadi program
lembaga selama periode kepengurusan
o Mengoordinir dan mengatur pembagian tugas (job description) pengurus sesuai dengan
bidangnya
o Menjaga keutuhan dan keseimbangan organisasi
2. Wakil Ketua
o Bertanggung jawab kepada ketua
o Membantu kinerja ketua dalam menjalankan tugasnya
3. Sekretaris
o Bertanggung jawab kepada ketua
o Wajib menghadiri undangan rapat kepengurusan yang diselenggarakan serta membuat
notulensi
o Mengoordinir administrasi dan manajemen kepengurusan
o Membantu ketua dalam mengadakan perencanaan dan evaluasi operasional
keorganisasian
o Memberikan laporan pelaksanaan program kerja secara rutin kepada anggota
4. Divisi Bidang
a. PSDM-Logistik
 Mengoordinir manajemen kapabilitas dan kinerja pengurus
 Menyiapkan dan mengiventaris kebutuhan sarana dan prasarana pelaksanaan
program
b. Fundrising
 Mencari dan menghimpun zakat, infaq dan shodaqoh
 Menjadi konsultan zakat, infaq dan shodaqoh
c. Program
 Manajemen penyaluran zakat, infaq dan shodaqoh
d. Media Komunikasi
 Sosialisasi dan publikasi program yang diselenggarakan LAZISNU melalui media
cetak dan elektronik

A. PENGURUS PUSAT:
Pengurus Pusat adalah Pengurus yang diangkat dan disyahkan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama
(PBNU) sebagai Pengurus Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama.

Fungsi dan Peran PP Lazisnu:


Menentukan arah, strategi dan kebijakan program Lembaga Amil Zakat Infaq danShadaqah secara
nasional.
Melakukan koordinasi dan konsolidasi kelembagaan secara nasional.
B.. PENGURUS WILAYAH.
Pengurus Wilayah Lazisnu adalah Pengurus Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama di
tingkat wilayah Provinsi dimana kepengurusan ini diangkat dan
disyahkan oleh Pengurus Wilayah NU setempat..

Fungsi dan Peran PW Lazisnu adalah :


Menjadi alat kepanjangan tangan Pengurus Pusat Lazisnu dalam melaksanakanfungsi dan perannya di
Wilayah Propinsi.
Menjadi kordinator operasional bagi cabang-cabang di wilayah provinsi.
Mendorong dibentuknya Pengurus Lazisnu tingkat cabang di wilayah dimaksud.
Melakukan pembinaan kepada Cabang – Cabang dalam lingkup provinsiSecara periodic (3 bulanan)
sehingga terbentuk cabang – cabang yang Amanahdan Professional sesuai dengan harapan.
Bersama – sama dengan Cabang-Cabang melakukan penyadaran ZIS kepadaMasyarakat.
Mengangkat Tim Menejemen (staf operasional) Tingkat Wilayah (Direktur Wilayah /Menejer Wilayah)

C. PENGURUS CABANG
Pengurus Cabang Lazisnu adalah Pengurus Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah
Nahdlatul Ulama di tingkat pemerintahan Kabupaten/Kota dimana kepengurusannya
diangkat dan disyahkan oleh Pengurus PC NU setempat.
Fungsi dan Peran PC Lazisnu adalah :
Membentuk UPZ-UPZ (unit pengumpul zakat) di wilayah MWC dan Ranting di tingkatpemerintahan
Kabupaten/Kota.
Bersama – sama dengan UPZ-UPZ (unit pengumpul zakat) di wilayah MWC (penguruswilayah Cabang)
melakukan penyadaran Zakat kepada masyarakat.
Melakukan fungsi dan tugas sebagai pengumpul, pengelola dan pendistribusi Zakat, Infaq dan
Shadaqah serta Bantuan kemanusiaan lainya di wilayah dimaksud.
Melakukan pembinaan kepada UPZ-UPZ (unit pengumpul zakat) di wilayah MWC(pengurus wilayah
Cabang) dalam lingkup Kabupaten/Kota secara periodic (1 bulanan)sehingga terbentuk Unit
Pengumpul Zakat yang Amanah dan Professional.
Menjadi alat kepanjangan tangan Pengurus Pusat dan Wilayah Lazisnu dalammelaksanakan fungsi dan
perannya di Wilayah Kabupaten/Kota
Mengangkat Tim Menejemen (staf operasional) Tingkat Cabang (Direktur Cabang /Manejer Cabang)

D. UNIT PENGUMPUL ZAKAT (UPZ) LAZISNU


Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Lazisnu adalah lembaga amil bentukan Lazisnu yang berbasis
pada yayasan, forum, paguyuban atau kewilayahan tertentu yang bertugas untuk
melakukan penghimpunan dan pendistribusian ZIS dikalangan tersebut dan melaporkan
seluruh kegiatannya kepada Lazisnu secara periodik.

Peran dan Fungsi UPZ Lazisnu adalah :


Melakukan fungsi dan tugas sebagai pengumpul, pengelola dan distribusi Zakat,Infaq dan Shadaqah
serta Bantuan sosial lainya di komunitas atau wilayahSetempat.
Menjadi alat kepanjangan tangan Pengurus Lazisnu dalam melaksanakan tugas danfungsinya di
wilayah atau komunitas tersebut.
Melaporkan tugas dan fungsinya kepada Lazisnu.

JENIS DAN PROSEDUR PEMBENTUKAN UNIT PENGUMPUL ZAKAT LAZISNU:


UPZ Lazisnu Struktural: yakni UPZ lazisnu yang berbasis pada Wilayah Kecamatan tertentu (MWC).
Prosedur pembentukan UPZ model ini adalah MWC NU setempat mengajukan permohonan
pengesahan kepada PC Lazisnu, atas nama-nama Menejemen UPZ di Wilayah Kecamatan dimaksud.
UPZ Lazisnu Kultural yakni UPZ lazisnu yang berbasis pada forum, paguyuban atau yayasan tertentu.
Jika satu yayasan, forum atau paguyuban ingin menjadi UPZ lazisnu maka yayasan, forum atau
paguyuban tersebut mengajukan surat secara resmi kepada PC/PW/PP Lazisnu untuk menjadi UPZ
lazisnu.
Kreteria menejemen UPZ Lazisnu • Amanah dan loyal • Aktifis NU • Umur 18 – 30 • Pendidikan
minimal Aliyah dan sederajat • Memahami dunia zaka • Bisa mengoperasikan minimal Ms Word,
Excel, Power Point, email dan web. (Giyarto, S.Pd)

Penasehat:
Ahmad Yubaidi, S.H., S.Pd., M.H., C.N.

Ketua:
Muftikhul Umam, S.Ag.

Sekretaris:
Ahmad Subari

Bendahara:
Syaikhona

Susunan Manajemen

Manajer:
Muhammad Syaiful Huda

Divisi Pengumpulan Dana:


Tirto Saputro, S.H.I.

Divisi Penyaluran Dana:


Moh. Nor Anam

Divisi Publikasi dan Kerjasama Lembaga:


M. Jamil, S.H.

Divisi Administrasi dan Keuangan:


Enik Maslahat

Anggota Amil:
1. Aris Santoso (Danurejan)
2. Nuryanto (Pakualaman)
3. Choirul Salim, S.H.I. (Umbulharjo)
4. Setyo Wibowo (Tegalrejo)
5. Ngajiko (Gondomanan)
6. Surajiono (Wirobrajan)