Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM

MANAJEMEN KESEHATAN IKAN

Oleh :
Hemi Trifani

NIM. L1B015040

KEMENTRIAN RISET TEKNOLOGI & PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO

2017
ACARA I

VAKSINASI IKAN

Oleh :
Hemi Trifani

NIM. L1B015040

KEMENTRIAN RISET TEKNOLOGI & PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO

2017
I. PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Seiring dengan berjalannya waktu, usaha budidaya perikanan pada umumnya selalu
menggunakan sistem yang terbatas dalam meningkatkan hasil produksi dengan
kepadatan yang cukup tinggi, sehingga berdampak terhadap kesehatan ikan yang
dibudidaya serta meningkatkan kerentanan ikan terhadap infeksi (Noerbaeti et al.,
2009). Bermacam usaha pengendalian infeksi pun dilakukan, termasuk diantaranya
adalah pengembangan beragam jenis vaksin. Vaksin itu sendiri merupakan suatu produk
biologis yang terbuat dari pathogen, komponen pathogen maupun racun pathogen yang
telah dilemahkan atau dimatikan dan dapat merangsang timbulnya kekebalan tubuh
spesifik secara aktif terhadap serangan penyakit tertentu (Roza et al., 2010). Adapun
secara umum manfaat vaksinasi diantaranya adalah untuk meningkatkan daya tahan
ikan, pencegahan efek samping kemoterapeutika, proteksi terhadap serangan penyakit
infeksi tertentu, keamanan lingkungan budidaya dari pencemaran bahan kemoterapeutik
dan keamanan konsumen dari residu antibiotic (Alifuddin, 2002).

Salah satu agen pathogen yang dapat mengakibatkan sakit pada ikan adalah bakteri,
terutama bakteri A. hydrophila. Bakteri patogen oportunistik Aeromonas hydrophila
hampir selalu ada di air terutama pada spesies ikan air tawar (Robert, 2001). Serangan
bakteri ini dapat mengakibatkan gejala penyakit hemoragi septisemia atau motile
aeromonas septicaemia yang mempunyai ciri antara lain luka di permukaan tubuh, luka
di insang, ulcer, abses, exophthalmia, dan perut asites (Austin dan Austin, 2007).
Bakteri tersebut menyebabkan tingkat kematian tinggi (80-100%) dalam waktu singkat
(1-2 minggu) dan pengendalian bakteri ini sangat sulit dilakukan karena hampir selalu
ada di air dan dapat menjadi resisten terhadap obat antibiotik (Robert, 2001).
Pengendalian A. hydrophila dapat dilakukan dengan antibiotic melalui penyuntikan,
perendaman, atau dicampur dengan pakan (Rukyani, 1993 dalam Amanu et al., 2014).

Dalam tubuh ikan, vaksin akan mempersiapkan sistem kekebalan manusia atau
hewan untuk bertahan terhadap serangan patogen tertentu, terutama bakteri, virus, atau
toksin. Vaksin juga bisa membantu sistem kekebalan untuk melawan sel-sel degeneratif
(kanker). Vaksin merupakan suatu bahan yang dapat melindungi orang terhadap
penyakit. Vaksin dibuat dari virus dan bakteri pathogen yang di siapkan untuk di
suntikan kedalam tubuh sehingga dapat membantu memerangi penyakit yang lebih
ganas atau di dapat secara alami (Akoso. 2003). Vaksin berfungsi sebagai antigen
stimulan untuk memacu sel-sel terspesialisasi untuk memproduksi antibodi dan sel-sel
tersebut umumnya adalah limfosit (Zainun, 2007).

1.2.Tujuan
Tujuan dilaksnakannya acara praktikum pembuatan vaksin ikan ini diantaranya
adalah praktikan mampu :
1. Menjelaskan fungsi dan peran vaksinasi dalam pencegahan penyakit infeksi
pada ikan
2. Menjelakan jenis-jenis vaksin pada ikan
3. Menjelaskan metode vaksinasi pada ikan
4. Menuraikan cara pembuatan vaksin whole cell dari bakteri pathogen
5. Menguraikan cara pemberian vaksin pada ikan
6. Mengetahui keberhasilan vaksinasi pada ikan
II. MATERI DAN METODE

2.1.Materi
2.1.1. Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum ini diantaranya meliputi cawan petri,
tabung reaksi, jarum ose, lampu Bunsen, Erlenmeyer, mikro titer plate, tabung
eppendorf, jarum suntik dan mikropipet serta alat dokumentasi.
2.1.2. Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini meliputi isolate bakteri Aeromonas
hydrophila, Trypticase Soy Agar (TSA), Trypticase Soy Broth (TSB), ikan lele (Clarias
batrachus), dan formalin.
2.2.Metode
2.2.1. Kultur bakteri
Alat dan bahan yang dibutuhkan disiapkan dan disterilisasi di dalam autoklaf
hingga steril. Permukaan meja kerja disterilisasi dengan menyemprotkan desinfektan
serta menyiapkan lampu Bunsen. Isolate bakteri dari kultur diambil menggunakan jarum
ose dan diinokulasikan pada TSA dalam cawan petri untuk selanjutnya diinkubasi
selama 18 jam pada suhu 28ᵒC. Setelah inkubasi, kultur bakteri dri TSA diambil
menggunakan jarum ose dan diinokulasikan pada 5 mL TSB dalam tabung reaksi untuk
diinkubasikan kembali selama 18 jam pada suhu 28ᵒC.
2.2.2. Pembuatan vaksin
Kultur bakteri dalam TSB ditambahkan dengan formalin hingga konsentrasi 4%
(digunakan formalin sebanyak 0.606 mL), lalu diinkubasikan selama semalam pada
suhu 28ᵒC di dalam incubator shaker. Sejumlah volume bakteri lalu dipindahkan ke
dalam tabung sentrifuge, dihomogenkan dengan menggunakan vortex lalu disentrifugasi
dengan kecepatan penuh selama 3 menit.
2.2.3. Pencucian vaksin
Bakteri diresuspensi dengan menambahkan larutan PBS atau fisiologis sebanyak
5 mL, lalu dihomogenkan dengan menggunakan vortex untuk kemudian disentrifugasi
selama 3 menit. Bagian supernatant dibuang, lalu tahapan resuspensi hingga sentrifugasi
tadi diulang sebanyak 3 kali. Vaksin lalu disimpan paa suhu 4ᵒC hingga siap digunakan.
2.2.4. Pemberian vaksin
Vaksin diencerkan dengan menyiapkan tabung 1.5 mL yang diisi dengan 0.9 mL
larutan fisiologis. Vaksin ditambahkan sebanyak 0.1 mL lalu dihomogenkan. Vaksin
hasil pengenceran diambil dengan menggunakan alat suntik sebanyak 1 mL. ikan yang
sudah dibius lalu diinjeksi dengan vaksin sebanyak 0.1 mL/ekor secara intramuscular
pada jaringan otot di posisi antara sirip dorsal dan linea lateralis antara pangkal kepala
dan ujung posterior sirip punggung dengan jarum suntik dimiringkan 30ᵒ kea rah kepala.
Kelompok ikan kontrol diinjeksikan dengan PBS 0.1 mL/ekor. Ikan yan sudah diinjeksi
dipelihara selama 7 hari dengan tetap diberi makan secara at satiasi sebanyak 1 kali
dalam sehari.
2.2.5. Sampling Darah Ikan Uji
Ikan sampel dibius, lalu diambil sampel darahnya dengan cara memotong
pangkal ekor. Darah ditampung pada tabung eppendorf 1.5 mL dan didiamkan pada
suhu ruang hingga terpisah antara sel dan serumnya. Sampel darah disentrifugasi selama
lima menit, lalu diambil bagian serum yang jernih untuk dipindahkan pada tabungn lain.
2.2.6. Uji Titer Antibodi
Mikro titer plate yang sudah disiapkan ditambahkan dengan 0.25 mL PBS ke
dalam sumuran nomer 2-12. Serum darah ikan lalu dimasukkan sebanyak 0.25 mL ke
dalam sumuran nomer 1 dan 2. Larutan di dalam sumuran nomer 2 dihomogenkan
dengan cara pipetting 5 kali. Sebanyak 0.05 mL larutan dari sumuran nomer 2 diambil
lalu dimasukkan ke dalam sumuran nomer 3, lalu dihomogenkan. Prosedur yang sama
dilakukan hingga sumuran nomer 11, lalu buang 0.25 mL dari sumuran nomer 11.
Kemudian, sebanyak 0.25 mL suspense vaksin dimasukkan ke dalam setiap
sumuran.Mikrotuter plate ditutup dengan plastic dan diinkubasikan semalam di suhu
4ᵒC. Aglutinasi yang terjadi diamati dan nilai titer antibody ditentukan sebesae 2n.
Aglutinasi dapat diamati dengan membandingkan endapan pada sumuran nomer 12
(tanpa serum).
III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Hasil
Tabel 1. Hasil Uji Titer Antibodi
Perlakuan Aglutinasi Gambar

Sumuran (1-11) :
Kontrol (PBS)
Negatif

3.2. Pembahasan
Vaksinasi merupakan suatu upaya untuk menimbulkan ketahanan tubuh yang
bersifat spesifik melalui pemberian vaksin. Secara umum aktivitas ini dikenal sebagai
imunisasi aktif dan pasif. Imunisasi pasif diperoleh dengan pemberian serum kebal
maupun dengan cara diturunkan oleh induk ikan yang dikenal sebagai imunitas
maternal; sedangkan imunisasi aktif dilakukan melalui tindak vaksinasi. Induk-induk
ikan yang divaksin dapat menurunkan respon imunitas tersebut pada turunannya. Ellis
(1988) dalam Alifuddin (2002) telah menguraikan tentang vaksinasi terutama untuk
ikan. Ikan akan merespon imunostimulasi—vaksinasi dengan mensintesis antibodi,
dikenal sebagai imunoglobulin (Corbel 1975 dalam Alifuddin, 2002). Karena itu,
antibodi hanya akan bereaksi terhadap agen penginduksinya dan berfungsi sebagai
aglutinin, presipitin, opsonin dan antitoksin. Imunoglobulin ikan dapat ditemukan dalam
plasma darah, mukus dan cairan tubuh.
Adapun, berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan dengan injeksi larutan
fisiologis berupa PBS (Phosphate Buffered Saline) sebagai kontrol secara
intramuskular pada ikan lele menghasilkan interpretasi hasil negatif pada uji titer
antibodi yang ditandai dengan tidak terjadinya aglutinasi antigen pada sumuran. Hal ini
mengindikasikan bahwa larutan fisiologis yang diinjeksikan pada ikan yang mengalami
masa pemeliharaan tidak terdeteksi oleh antibodi di dalam serum sebagai antigen.
Terdapat perbedaan nyata antara hasil titer antibodi ikan yang diberi perlakuan injeksi
vaksin dengan ikan kontrol. Pada baris sumuran ikan yang diberi perlakuan vaksinasi,
terdapat aglutinasi yang dapat dengan jelas dibedakan dengan endapan pada sumuran
nomor 12 sebagai kontrol negatif. Perbedaan itu disebabkan karena dalam tubuh ikan
yang telah divaksin telah terbentuk respon imun humoral terhadap antigen bakteri
Aeromonas hydrophila, sedangkan pada ikan yang tidak divaksin respon itu tidak
timbul (Wibowo, 2010). Sebagaimana pendapat Anderson (1974) dalam Wibowo
(2010), bahwa vaksin dapat digunakan untuk menimbulkan antibodi spesifik pada tubuh
ikan karena vaksin biasanya berisi antigen penyakit yang dapat merangsang ikan untuk
memproduksi antibody yang aktif melawan penyakit tersebut. Adapun menurut
pendapat Tizard (1988) dalam Alifuddin (2002), tingginya antibodi pada ikan yang
divaksin adalah karena rangsangan antigen yang dimulai dengan masuknya antigen ke
dalam tubuh ikan, kemudian difagosit oleh makrofag. Makrofag ini akan mengirim
sinyal kepada limfosit sehingga memberikan respon. Limfosit tersebut akan membesar
dan berproliferasi yang kemudian membentuk antibody spesifik sesuai dengan antigen
yang memberikan rangsangan.
IV. KESIMPULAN DAN SARAN

4.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilaksanakan, dapat diuraikan kesimpulan
sebagai berikut :
1. Vaksin merupakan suatu produk biologis yang terbuat dari pathogen, komponen
pathogen maupun racun pathogen yang telah dilemahkan atau dimatikan dan dapat
merangsang timbulnya kekebalan tubuh spesifik secara aktif terhadap serangan
penyakit tertentu.
2. Vaksin berperan sebagai antigen stimulan untuk memacu sel-sel terspesialisasi
untuk memproduksi antibodi sehingga terjadi respon kekebalan yang dapat
membantu ikan terhindar dari serangan pathogen.
3. Hasil uji titer menunjukkan hasil negatif, dimana aglutinasi yang terjadi tidak
terlalu nampak dari sumuran 1-11.
4.2. Saran
Selama proses interpretasi hasil, akan lebih baik jika didahului dengan briefing
lengkap mengenai fungsi atau peran setiap bahan dan prinsip dasar dari uji yang
dilakukan. Hal ini dapat dilakukan untuk meminimalisir kebingungan diantara
praktikan. Selain itu, pendampingan dari tim pengampu akan sangat membantu untuk
menginterpretasikan hasil uji yang dilakukan oleh praktikan.
DAFTAR PUSTAKA

Akoso. 2003. Manual Kesehatan Unggas. Kanisius. Yogyakarta.


Alifuddin, M. 2002. Imunostimulasi Hewan Akuatik. Jurnal Akuakultur Indonesia 1 (2)
: 87-92.
Amanu, S., Kurniasih, Soedarmanto I., 2014. Identifikasi Penyakit Aeromonas pada
Budi Daya Ikan Air Tawar di Bali. Jurnal Veteriner 15 (4): 474-486.
Noerbaeti, E., Lutfi, H. M., Istiana dan Syaripuddin. 2009. Pembuatan Vaksin
Sederhana dalam Mengatasi Serangan Bakteri Vibrio. Dirjen Perikanan
Budidaya BBL Ambon : Ambon.
Austin B, Austin DA. 2007. Aeromonadaceae representatives (Aeromonas
salmonicida). In: Bacterial Fish Pathogens: Diseases In Farmed and Wild Fish,
4th Ed. Chichester. Praxis Publishing : UK.
Robert J,R,. 2001. Fish Pathology .Baillere Tyndall : England
Roza, D., Fris J., dan Zafran. 2010. Pengembangan Vaksin Bakteri Untuk
Meningkatkan Imunitas Ikan Kerapu Macan (Epinephelus fluscoguttatus)
terhadap Penyakit Infeksi. Prosiding Semnas Inovasi Teknologi Akuakultur :
939-944.

Wibowo, B. M., 2010. Uji Efisiensi dan Efektivitas Vaksin HydroVac untuk
Penanggulangan Infeksi Aeromonas hydrophila Pada Ikan Lele Dumbo (Clarias
gariepinus). Skripsi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas
Airlangga P: Surabaya.

Zainun. 2007. Pengamatan Parameter Hematologis pada Ikan Mas yang Diberi
Immunostimulan. Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar, Sukabumi.
ACARA II

PENGAMATAN JENIS LEUKOSIT

Oleh :
Hemi Trifani

NIM. L1B015040

KEMENTRIAN RISET TEKNOLOGI & PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO

2017
I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Darah merupakan komponen seluler tubuh yang memiliki banyak peranan dan
fungsi penting. Darah mengandung berbagai komponen seperti air, protein, mineral,
dan garam. Selain itu darah juga dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu sel darah
merah, sel darah putih, dan keping darah. Leukosit adalah sel darah yang mengandung
inti, disebut juga sel darah putih, yang memiliki peranan penting dalam hal sistem daya
tahan tubuh, terutama untuk membunuh kuman dan bibit penyakit yang ikut masuk ke
dalam aliran darah (Khasanah, 2016).
Leukosit terdiri dari dua golongan utama, yaitu agranular dan granular. Leukosit
agranular mempunyai sitoplasma yang tampak homogen, dan intinya berbentuk bulat
atau berbentuk ginjal. Leukosit granular mengandung granula spesifik (yang dalam
keadaan hidup berupa tetesan setengah cair) dalam sitoplasmanya dan mempunyai inti
yang memperlihatkan banyak variasi dalam bentuknya. Terdapat 2 jenis leukosit
agranular yaitu; limfosit yang terdiri dari sel-sel kecil dengan sitoplasma sedikit, dan
monosit yang terdiri dari sel-sel yang agak besar dan mengandung sitoplasma lebih
banyak. Terdapat 3 jenis leukosit granular yaitu neutrofil, basofil, dan asidofil
(eosinofil). (Effendi, 2003). Adapun, sel-sel trombosit merupakan jenis sel darah yang
paling banyak jumlahnya, hampir sebanyak setengah dari jumlah sel leukosit itu sendiri
(Lagler et al., 1977 dalam Wibowo, 2010).
Leukosit mempunyai peranan dalam pertahanan seluler dan humoral organisme
terhadap zat-zat asing. Leukosit dapat melakukan gerakan amoeboid dan melalui proses
diapedesis leukosit dapat meninggalkan kapiler dengan menerobos antara sel-sel indotel
dan menembus ke dalam jaringan penyambung. Di saat tubuh terluka maka leukosit
akan berkumpul di bagian tubuh yang terkena luka agar tidak ada pathogen yang masuk
melalui luka tersebut. Bila ada pathogen yang masuk maka sel darah putih akan
melawan pathogen tersebut. Timbulnya nanah pada luka merupakan gabungan dari sel
darah putih yang mati, pathogen, dan sel-sel serta cairan tubuh. (Effendi, 2003).
1.2. Tujuan
Tujuan dari dilaksanakannya praktikum acara ini diantaranya adalah agar praktikan
dapat :
1. Menjelaskan cara mengamati jenis-jenis leukosit pada ikan
2. Menunjukkan jenis-jenis leukosit pada ikan
II. MATERI DAN METODE

2.1. Materi
2.1.1. Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum in meliputi kaca preparat dan cover glass,
mikroskopm, serta pipet tetes dan alat dokumentasi.
2.1.2. Bahan
Bahan yang digunakan diantaranya adalah sampel darah ikan, methanol dan
larutan giemsa 10%.
2.2. Metode
Pertama, ikan dibius dan kaca preparat dibersihkan menggunakan ethanol. Darah
ikan diambil dari vena caudalis dengan cara memotong pangkal ekor. Sampel darah
diletakkan sedikit pada permukaan kaca preparat di salah satu bagian ujungnya. Satu
sisi cover diletakkan di tengah kaca preparat dengan kemiringan 30ᵒ, lalu ditarik kea rah
sampel darah hingga sampel darah merata di sepanjang sisi cover, cover di dorong
sepanjang kaca preparat. Sampel darah dibiarkan dalam suhu ruang hingga mongering,
lalu difiksasi dengan cara menggenanginya dengan methanol atau ethanol 95% dan
dibiarkan selama 3-5 menit dan dibiarkan hingga mongering dalam suhu ruang. Sampel
laluy digenangi dengan larutan Giemsa 10% selama 15-30 menit. Sampel lalu dibilas
dengan menggunakan air mengalir dan dibiarkan mongering dalam suhu ruang. Sampel
diamati dengan menggunakan mikroskop pada perbesaran 400 dan atau 1000x
(menggunakan minyak imersi). Jenis-jenis sel darah yang ditemukan diamati.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Hasil

Gambar 1. Sel darah ikan lele (Clarias batrachus)


3.2. Pembahasan
Berdasarkan sampel yang kami peroleh, jenis sel darah yang kami dapatkan adalah
sebagai berikut :
3.2.1. Limfosit

Gambar 2. Limfosit

Sebagian besar limfosit yang terdapat dalam darah tepi merupakan sel kecil yang
berdiameter kecil dari 10μm. Intinya yang gelap berbentuk bundar atau agak berlekuk
dengan kelompok kromatin kasar dan tidak berbatas tegas. Nukleoli normal terlihat.
Sitoplasmanya berwarna biru-langit dan dalam kebanyakan sel, terlihat seperti bingkai
halus sekitar inti (Taukhid, 2008). Limfosit berbentuk oval, biasanya lebih kecil
daripada trombosit (Lagler et al., 1977). Menurut Chinabut et al., (1991) dalam
Wibowo (2010), inti sel limfosit hampir memenuhi ruangan sel, berwarna gelap dengan
sedikit tersisa sitoplasma, dan tidak bergranula yang mengelilingi inti (Gambar 6).
Diameter limfosit berkisar antara 4,5-12 μm (Moyle and Cech 1988 dalam Wibowo,
2010).

Limfosit dalam darah dibagi menjadi dua golongan populasi yaitu populasi
limfosit “B” yang diduga berasal dari ginjal dan populasi limfosit “T” diduga berasal
dari kelenjar thimus (Guyton and Hall 1996 dalam Setiawan 2002). Limfosit “B”
berperan dalam pembentukan antibodi dan sel-sel memori, sedangkan limfosit “T”
berperan mengatur kekebalan melalui pembentukan limfosit yang peka terhadap
patogen dan merangsang produksi limfosit “B” (Guyton and Hall 1996 dalam Setiawan
2002, Fujaya 2004). Moyle and Cech (1988) dalam Fujaya (2004) menegaskan bahwa
limfosit merupakan pemeran utama dalam mekanisme imun spesifik dengan
memproduksi antibodi. Antibodi dibentuk dari suatu proses yang terjadi dalam limfosit
sebagai reaksi dari kehadiran antigen.

3.2.2. Monosit

Gambar 3. Monosit
Menurut Chinabut et al., (2001), monosit berbentuk tidak beraturan dan sering
dikarakteristikan dengan keberadaan pseudopod, dan sitoplasma berwarna biru-hijau
(Gambar 3). Ukuran monosit lebih luas dibandingkan neutrofil atau limfosit yaitu 10-14
μm (Watson et al 1963 dalam Chinabut et al., 2001). Proporsi monosit jumlahnya
paling sedikit bila dibandingkan dengan populasi sel lain dalam leukosit namun
berperan penting dalam memfagosit mikroorganisme pathogen. Monosit lebih kuat
dibanding neutrofil dalam memfagositosit bakteri, bahkan dapat memfagositosit partikel
yang lebih besar. Monosit matang disebut makrofag dan mampu memfagosit 100
bakteri (Fujaya, 2004).
IV. KESIMPULAN DAN SARAN

4.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan yang tela dilakukan, dapat diuraikan kesimpulan
sebagai berikut :
1. Jenis leukosit yang ditemukan berupa sel limfosit dan monosit yang termasuk
sebagai sel agranulosit.
2. Leukosit memegang peranan penting dalam kekebalan humoral dan seluler ikan,
karena mekanisme kerjanya mampu mengatasi pathogen yang masuk ke dalam
tubuh ikan
4.2. Saran
Agar dapat menginterpretasikan hasil ulasan sampel darah yang lebih baik, akan
lebih baik jika demonstrasi dilakukan terlebih dahulu oleh asisten secara lengkap serta
dilakukan pendampingan oleh tim dosen maupun asisten, mengingat keterbatasan alat
yang dimiliki laboratorium pun menjadikan praktikan sulit untuk mengamati hasil
praktikum.
DAFTAR PUSTAKA

Chinabut, S., C. Limsuwan., and P. Kitsawat. 2001. Histology of The Walking Catfish,
Clarias batracus. Departement of Fisheries Thailand, Thailand. 96 p.

Fujaya, Y. 2004. Fisiologi Ikan. Rineka Cipta : Jakarta.

Effendi, Z. 2003. Peranan Leukosit sebagai Anti Inflamasi Alergik dalam Tubuh.
Sumatera Utara : Bagian Histologi Fakultas Kedokteran Hewan
Universitas Sumatera Utara.

Taukhid. 2008. Aplikasi Vaksin HydroVac Pada Perikanan Budidaya Air Tawar. Balai
Riset Perikanan Budidaya Air Tawar. Bogor.

Khasanah, Mizan Nur., Agus Harjoko., Ika Candradewi. 2016. Klasifikasi Sel Darah
Putih Berdasarkan Ciri Warna dan Bentuk dengan Metode K-Nearest Neighbor
(K-NN). Indonesian Journal of Electronics and Instrumentation System. 6 (2):
151-162.

Wibowo, B. M., 2010. Uji Efisiensi dan Efektivitas Vaksin HydroVac untuk
Penanggulangan Infeksi Aeromonas hydrophila Pada Ikan Lele Dumbo (Clarias
gariepinus). Skripsi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas
Airlangga P: Surabaya.