Anda di halaman 1dari 614

Prakata

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Tiada kata-kata yang pantas disampaikan kecuali puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah
melimpahkan rahmat dan ridhonya kepada saya untuk dapat menyelesaikan buku ini. Salawat serta salam
kita sampaikan kepada nabi Muhammad SAW teriring doa semoga kita dapat digolongkan sebagai
umatnya yang taat segala aturan dan tutunannya sampai akhir zaman. Amin, amin ya robbal alamin.
Perkembangan Lembaga Keuangan Syariah di Indonesia seperti Bank Syariah, Asuransi Syariah,
Lembaga Pembiayaan Syariah, Pegadaian Syariah, Koperasi Syariah, Lembaga Keuangan Mikro Syariah
dan lembaga keuangan syariah lainnya menuntut akuntansi harus mampu untuk mengikuti perkembangan
Lembaga Keuangan Syariah tersebut. Akuntansi syariah di Indonesia berkembang dengan cukup pesat
dimana tahun 2001 sampai dengan 2007 hanya ada satu ketentuan akuntansi syariah yaitu PSAK 59
tentang Akuntansi Perbankan Syariah yang hanya dipergunakan untuk bank syariah, maka mulai tahun
buku 2008 sudah dapat dikembangkan dan disempurnakan menjadi beberapa PSAK Syariah, yaitu PSAK
101 sampai dengan PSAK 108, yang dipergunakan oleh seluruh lembaga keuangan syariah dan pihak-pihak
terkait, termasuk Kerangka Dasar Penyajian Penyusunan Laporan Keuangan Syariah (KDPPLKS) yang
terpisah dari akuntansi umum. Dengan adanya perubahan dan penyempurnaan akuntansi syariah tersebut
sangat diperlukan pemahaman semua pihak, khususnya pelakasana lembaga keuangan syariah termasuk
para akademi. Pada tingkatan akademisi hambatan yang dialami adalah keterbatasan buku-buku leteratur
aplikatif tanpa mengabaikan konseptual, yang dapat dipergunakan sebagai bahan bacaan.
Dengan adanya perubahan dan penyempurnaan PSAK 59 tentang Akuntansi Perbankan Syariah
menjadi PSAK Syariah (saat ini nomor 101 sampai dengan 108) tersebut, terdapat perbedaan yang sangat
mendasar dalam memahami akuntansi syariah untuk Lembaga Keuangan Syariah. Pada PSAK syariah yang
baru terdapat PSAK Syariah yang berlaku umum dan berlaku atau diterapkan untuk seluruh lembaga
keuangan syariah dan pihak-pihak terkait dalam melaksanakan transaksi syariah (tidak membedakan
entitas) dan juga terdapat PSAK yang dipergunakan industri khusus, misalnya khusus untuk asuransi
syariah, pengelola zakat dsb. Oleh karena itu pemahaman akuntansi lembaga keuangan syariah secara
menyeluruhpun perlu disesuaikan dengan pola pemahaman sebagai berikut:
1 ”Akuntansi Transaksi Syariah” dengan cakupan bahasan PSAK 101 sampai dengan PSAK 107
(PSAK Syariah yang berlaku umum), yaitu Akuntansi Murabahah, Akuntansi Salam, Akuntansi
Istishna’, Akuntansi Mudharabah, Akuntansi Musyarakah dan Akuntansi Ijarah serta Penyajian
Penyusunan Laporan Keuangan Syariah yang dilakukan dan diterapkan pada Lembaga Keuangan
Syariahnya maupun pihak-pihak yang terkait (nasabahnya) tanpa membedakan entitas syariahnya.
2. ”Akuntansi Industri Khusus” dengan cakupan bahasan PSAK 101 sampai dengan PSAK 107 yang
berlaku umum, dengan fokus pembahasan hanya dari segi industri atas akuntansi pelaksanaan
transaksi yang dilakukan industri tersebut dan dengan memperhatikan ketentuan instansi yang
terkait, misalnya ”Akuntansi Asuransi Syariah” dengan cakupan PSAK 101 sampai dengan PSAK
107 atas akuntansi yang dilaksanakan oleh asuransi syariah (hanya dari titik pandang asuransi syariah
saja) dalam melaksanakan transaksi syariah ditambah dengan PSAK 108 tentang Akuntansi Asuransi
Syariah dan ketentuan dari Departemen Keuangan tentang Asuransi Syariah. Begitu juga dengan
”Akuntansi Bank Syariah” dengan cakupan PSAK 101 sampai dengan Pak 107 dari segi bank
syariah atas transaksi yang dilaksanakannya dengan memperhatikan Peraturan Bank Indonesia yang
berlaku.
Selain itu dalam pelaksanaan akuntansi Lembaga Keuangan Syariah tersebut harus memperhatikan
ketentuan-ketentuan PSAK untuk transaksi non syariah (PSAK 1 sampai dengan PSAK 99) sepanjang
tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah, seperti misalnya PSAK tentang persediaan, PSAK
tentang pendapatan, PSAK tentang Aktiva Tetap, PSAK tentang Aktiva Tidak Berwujud dan sebagainya
Dengan adanya pola pemikiran di atas, buku yang diberi judul “Akuntansi Transaksi Syariah” ini
merupakan salah satu buku yang dapat dipergunakan untuk memahami Lembaga Keuangan Syariah secara
umum dan khususnya Akuntansi Syariah, buku ini merupakan pelengkap dan saling mengisi dengan buku
penyusun yang berjudul “Produk Perbankan Syariah” yaitu suatu buku dengan cakupan bahasan kegiatan
usaha yang dilakukan oleh Lembaga Keuangan Syariah, khususnya Perbankan Syariah yang meliputi
perbedaan Bank Syariah dan Konvensional, penghimpunan dana Bank Syariah, penyaluran dana Bank
Syariah, jasa layanan Bank Syariah, perhitungan pembagian hasil usaha yang dilakukan oleh Bank Syariah
dan sekilas Akuntansi Syariah. Buku Akuntansi Transaksi Syariah ini memberikan gambaran Akuntansi
Syariah atas transaksi yang dilakukan oleh Lembaga Keuangan Syariah secara umum serta akuntansi yang
dilakukan pihak-pihak terkait (nasabahnya), yang sebelumnya tidak diatur dalam PSAK 59 tentang
Akuntansi Perbankan Syariah seperti misalnya dalam Akuntansi Murabahah dibahas akuntansi yang
dilakukan oleh Lembaga Keuangan Syariah sebagai penjual dan akuntansi yang harus dilakukan oleh
nasabannya sebagai pembeli. Pola pemikiran dalam pembahasan Akuntansi Syariah dalam buku ini
didasarkan pada prinsip syariah yang dipergunakan oleh Lembaga Keuangan Syariah dan sesuai PSAK
Syariahnya yaitu Murabahah, Salam, Istishna’, Mudharabah, Musyarakah dan Ijarah tanpa memperhatikan
aplikasi produk yang dilakukan karena nama produk industri yang satu dapat berbeda dengan nama
produk industri yang lain. Dalam buku ini juga dilengkapi dengan beberapa soal kasus yang dapat
dipergunakan sebagai sarana untuk memperdalam pemahaman akuntansi syariah Lembaga Keuangan
Syariah tersebut. Buku ini juga ditulis dengan pendekatan aplikatif tanpa harus mengabaikan konsepnya
sehingga diharapkan dapat dipergunakan oleh pelaksana Lembaga Keuangan Syariah, nasabah sebagai
pihak yang terkait, kantor akuntan saat melakukan pemeriksaan baik pada Lembaga Keuangan Syariah
maupun nasabahnya, akademisi dan sebagainya. Buku ini diharapkan dapat membantu semua pihak yang
menginginkan pemahaman Lembaga Keuangan Syariah, khususnya Akuntansi Syariah. Perkembangan
industri syariah di Indonesia sangat dibutuhkan kualitas Sumber Daya Insani yang memadai dan
berkualitas serta mempunyai wawasan kedepan yang luas, memahami ketentuan-ketentuan yang berlaku,
memahami Akuntansi Syariah secara utuh dan menyeluruh, memiliki komitmen untuk mengedepankan
prinsip syariah dari kepentingan yang lain serta selalu melakukan kajian-kajian kearah postif untuk
mendukung perkembangan industri syariah tersebut. Di bidang pendidikan sangat diperlukan sarana
pengajaran yang aplikatif tanpa harus meninggalkan kajian-kajian teoritis, folosifnya dan konsep yang
berlaku secara umum serta tidak melanggar ketentuan syariah.
Sangat disadari bahwa buku ini tersusun atas dorongan dan saran semua pihak, oleh karena itu
sudah sepantasnyalah penyusun ucapan terima kasih kepada:
1. Dekan Fakultas Ekonomi Trisakti – Prof Dr. Hj. Farida Jasfar, ME, PhD Ketua Jurusan akuntansi
FE Usakti – Dra. Hj. Etty M. Nasser, Ak MM , Sekretaris Jurusan Akuntansi FE Usakti - H.
Murtanto SE, MSi, tim dosen pengajar akuntansi perbankan syariah FE Usakti.
2. Ketua program Magister Akuntansi (Maksi) Fakultas Ekonomi Universitas Trisaksi dan direktur
program IEF Universitas Trisakti - Prof Dr.Sofyan Safri Harahap, MSAc, S.E., BSc, Akuntan
3. Teman-teman Komite Akuntansi Syariah, Ikatan Akuntansi Indonesia – pak Yusuf Wibisana, mas
Sriyanto, Eka, Yakub, Widodo, Dewi Astuti, mas Agus Siregar, Cecep Makanul Hakim, Setiawan
Budiutomo, mas Ikhwan Abidin, mas Hasanudin, mas Kany Hudaya, Amin Musa, Dwiyanto, mas
arief.
5. Teman-teman di lembaga pendidikan - ICDIF LPPI, Bagian Diklat Bank Mega Syariah Indonesia,
Bagian Diklat Bank BRI Syariah, Bagian PPL IAI dan IAPI, dan teman-teman dibidang pendidikan
dan pelatihan lainnya yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
6. Serta semua pihak yang telah membantu dan mendukung penyelesian buku ini yang tidak dapat
disebutkan satu persatu tetapi tidak mengurangi menghargaan penulis kepada yang bersangkutan.
7. Ucapan terima kasih dan penghargaan khusus penulis sampaikan kepada istriku Wahyu Winarti dan
kedua anakku Adhitya Hapsoro SH dan Ajeng Anindita SE, yang dengan penuh kesabaran dan
tolerensi serta memberikan dorongan untuk menyelesaikan buku ini
Akhirnya ucapan terima kasih juga disampaikan kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan
satu persatu tetapi tidak mengurangi rasa hormat penulis, yang telah memberikan dorongan dan masukkan
atas penulisan buku ini.
Sangat disadari bahwa buku ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu semua saran, komentar
dan kritik yang bersifat membangun untuk penyempurnaan buku ini dengan senang hati dan terbuka
sangat diharapkan.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Jagakarsa, Nopember 2010-

penyusun
Kata Pengantar
Perkembangan akuntansi syariah di Indonesia selaras dengan perkembangan perbankan syariah. Berbagai
tulisan tentang perbankan syariah dan akuntansi syariah baik berupa buku teks maupun hasil kajian ilmiah
yang beredar dimasyarakat mencerminkan semakin diminatinya bidang perbankan syariah dan akuntansi
syariah. Penduduk Indonesia yang mayoritas beragama Islam merupakan lahan subur yang menunggu
digarap untuk mengembangkan perbankan dan akuntansi syariah lebih lanjut.
Dalam buku yang berjudul Akuntansi Transaksi Syariah ini, penulis ingin memenuhi kebutuhan berbagai
pihak yang menginginkan pemahaman tentang Transaksi Syariah dan Lembaga Keuangan Syariah,
khususnya Akuntansi Syariah. Pola pemikiran pembahasan akuntansi syariah dalam buku ini didasarkan
pada prinsip syariah yang sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) Syariah. Selain
pembahasan, buku ini juga dilengkapi dengan beberapa pertanyaan dan soal kasus yang dapat
dipergunakan untuk lebih memahami Akuntansi Transaksi Syariah dan Lembaga Keuangan Syariah.
Kami merasa bangga dan berterima kasih kepada Bapak Wiroso yang merupakan anggota Dewan Standar
Akuntansi Syariah dan Dewan Penguji Ujian Sertifikasi Akuntansi Syariah Ikatan Akuntan Indonesia yang
telah meluangkan waktu untuk menulis buku ini. Saya yakin berbagai pihak akan memetik manfaat dari
keberadaan buku ini.

Jakarta, Nopember 2010

M. Jusuf Wibisana
Ketua Dewan Standar Akuntansi Syariah
Ikatan Akuntan Indonesia
Daftar Isi
BAB I : PENDAHULUAN Hal
1.1. Lembaga Keuangan di Indonesia 1
1.2. Imbalan Pemodal Lembaga Keuangan Syariah 3
1.3. Fungsi Lembaga Keuangan Syariah 5
1.4. Titik Pandang Uang Lembaga Keuangan Syariah 8
1.5. Alur Operasional Lembaga Keuangan Syariah 10
1.6. Pertanyaan dan Soal 12

BAB II : SEKILAS AKUNTANSI SYARIAH DI INDONESIA Hal


2.1. Pendahuluan 13
2.2. Perkembangan Akuntansi Syariah di Indonesia 15
2.3. Bangun Prinsip Akuntansi Syariah 18
2.4. Pemakai dan Kebutuhan Informasi Akuntansi Syariah 20
2.5. Asumsi Dasar Akuntansi Syariah 21
A. Kelangsungan Usaha
B. Dasar Akrual
2.6. Proses (siklus) Akuntansi Syariah 23
2.7. Transaksi Syariah 24
A. Paradigma Transaksi Syariah 24
B. Asas Transaksi Syariah 25
C. Karakteristik Transaksi Syariah 27
2.8. Akun-akun Akuntansi Syariah 27
A. Akun Riil (akun Laporan Posisi Keuangan/neraca) 27
B. Akun Nominal (akun laporan laba rugi) 30
C. Akun Ekstra Komtabel 32
2.9. Laporan Keuangan Entitas Syariah 32
2.10 Pertanyaan dan Soal 33

BAB III : LAPORAN KEUANGAN ENTITAS SYARIAH Hal


3.1. Tujuan Laporan Keuangan 35
3.2. Karakteristik Kualitas Laporan Keuangan 40
3.3. Unsur Laporan Keuangan Entitas Syariah 47
3.3.1. Laporan Posisi Keuangan (neraca) 47
3.3.2. Laporan Laba Rugi (Laporan Kinerja) 56
3.3.3. Laporan Arus Kas 61
3.3.4. Laporan Perubahan Ekuitas 65
3.3.5. Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Zakat 66
3.3.6. Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Kebajikan 67
3.3.7. Laporan Perubahan Dana Investasi Terikat 69
3.3.8. Laporan Rekonsiliasi Pendapatan dan Bagi Hasil 70
3.4. Pertanyaan 72
BAB IV : AKUNTANSI MURABAHAH Hal
4.1. Pengertian dan Karakteristik Murabahah 73
4.1.1. Pengertian dan Istilah dalam transaksi Murabahah 73
4.1.2. Karakteristik Murabahah 74
4.1.3. Jenis dan Alur Murabahah 77
A. Murabahah Tanpa Pesanan 77
B. Murabahah Berdasarkan Pesanan 78
4.2. Cakupan Akuntansi Murabahah 79
4.3. Akuntansi Penjual 80
4.3.1. Akun-akun untuk Akuntansi Penjual 81
A. Akun Laporan Posisi Keuangan (Neraca) 81
B. Akun Laporan Laba Rugi 82
4.3.2. Uang muka Murabahah 85
A. Penerimaan Uang Muka dari Pembeli 86
B. Pembayaran Uang Muka LKS kepada Pemasok 87
C. Pembatalan Murabahah oleh Pembeli 88
4.3.3. Pengadaan Aset (barang) Murabahah 91
A. Aset Murabahah 92
B. Penerimaan Diskon Murabahah 94
C. Pengukuran Aset murabahah Setelah Diperoleh 97
D. Pengadaan Barang oleh LKS Sebagai Penjual Diwakilkan kepada Pihak Lain 99
(Nasabah atau Pihak Ketiga)
4.3.4. Penjualan Barang dan Pembayaran Harga Barang 100
A. Persediaan (harga perolehan) 102
B. Piutang Murabahah 102
C. Keuntungan yang Disepakati 103
4.3.5. Penjualan dengan Pengakuan Keuntungan Saat Penyerahan Barang 106
A. Penerimaan Uang Muka dari Pembeli 106
B. Penyerahan Barang kepada Pembeli 107
C. Penerimaan Pembayaran Angsuran dari Pembeli 109
D. Angsuran Jatuh Tempo Belum Membayar (tertunggak) 110
E. Penerimaan Pembayaran Angsuran yang Tertunggak 112
F. Pembayaran Angsuran Lebih Kecil dari Kewajiban 113
G Potongan Angsuran Murabahah 114
H. Potongan Pelunasan Piutang Murabahah Sebelum Jatuh Tempo 117
4.3.6. Penjualan Dengan Pengakuan Keuntungan Proporsional 118
A. Penerimaan Uang Muka dari Pembeli 120
B. Penyerahan Barang Kepada Pembeli 120
C. Penerimaan Pembayaran Angsuran dari Pembeli 122
D. Angsuran Jatuh Tempo Belum Dibayar (Tertunggak) 123
E. Penerimaan Pembayaran Angsuran Tertunggak 124
F. Pembayaran Angsuran Lebih Kecil dari Kewajiban 125
G. Potongan Angsuran Murabahah 127
H. Potongan Pelunasan Piutang Murabahah Sebelum Jatuh Tempo 130
4.3.7 Penjualan dengan Pengakuan Keuntungan Setelah Pelunasan Pokok 132
4.3.8. Denda Kepada Pembeli 134
4.3.9. Pembentukan Cadangan Kerugian Piutang Murabahah 135
4.3.10 Piutang Murabahah Bermasalah 135
A. Penundaan / Penjadwalan kembali Pembayaran Murabahah 137
B. Konversi Akad Murabahah oleh Penjual (Kreditur) 138
C. Potongan Tagihan Murabahah oleh Penjual (Kreditur) 139
D. Debitur Tidak Mampu Bayar 139
4.4. Akuntansi Pembeli Akhir 141
4.4.1. Akun-akun pada Pembukuan Pembeli 141
A. Akun dalam Laporan Posisi Keuangan (Neraca) 141
B. Akun dalam Laporan Laba Rugi 142
4.4.2. Pembayaran Uang Muka Kepada Penjual 143
4.4.3. Penerimaan Barang dan Pengakuan Hutang Harga Barang 147
4.4.4. Penerimaan Diskon Harga Barang 149
4.4.5. Pembayaran Harga Barang 150
4.4.6. Pembayaran Angsuran 150
A. Angsuran Telah Jatuh Tempo Belum Dibayar 151
B. Pembayaran Sebagian Angsuran JatuhTempo 152
C. Potongan Angsuran Hutang Murabahah 153
4.4.7. Penerimaan Potongan Pelunasan Harga Barang 153
4.4.8 Pembayaran Denda 155
4.4.9. Wakil LKS untuk Membeli Barang 155
4410 Akuntansi Utang Piutang Murabahah Bermasalah 156
4.5. Penyajian dan Pengungkapan Murabahah 156
4.6. Pertanyaan dan Soal 157

BAB V : AKUNTANSI SALAM Hal


5.1. Pengertian dan Karakteristik Salam 163
5.1.1 Pengertian dan Istilah dalam Transaksi Salam 163
5.1.2. Karakteristik Salam 164
5.1.3. Jenis dan Alur Transaksi Salam 165
A. Transksi Salam Lembaga Keuangan Syariah sebagai Pembuat 166
B. Transaksi Salam Lembaga Keuangan Syariah sebagai Pembeli 166
C. Salam Paralel (Entitas Syariah sebagai Pembuat dan Pembeli) 167
5.2. Cakupan Akuntansi Salam 168
5.3. Akuntansi Pembeli 169
5.3.1. Akun-akun Pada Pembeli 169
A. Akun-akun Laporan Posisi Keuangan (Neraca) 169
B. Akun-akun Laporan Laba Rugi 170
5.3.2. Penyerahan Modal Salam Kepada Produsen (Pembuat) 171
A. Jika Penyerahan Modal Salam dalam Bentuk Uang Tunai (Kas) 171
B. Jika Penyerahan Modal Salam dalam Bentuk Non Kas (Barang) 172
5.3.3. Penerimaan Barang Pesanan dari Produsen (Pembuat) 174
A. Penerimaan Barang Salam dengan Kualitas Sama dengan Kontrak 176
B. Penerimaan Barang Salam dengan Kualitas Berbeda dengan Kontrak 176
5.3.4. Pada Saat Jatuh Tempo Tidak Ada Penerimaan Barang 179
A. Memperpanjang Jangka Waktu Pengiriman Barang Kepada Pembeli 180
B. Pembatalan Pesanan dan Penjual Tidak Dapat Melunasi Hutangnya 180
C. Pembatalan Pesanan dan Penjual Melunasi Kewajibannya dari Hasil 181
Penjualan Jaminan Salam
5.3.5. Denda 183
5.4. Akuntansi Penjual (Produsen/Pembuat) 183
5.4.1. Akun-akun Pada Penjual 183
A. Akun-akun Laporan Posisi Keuangan (Neraca) 183
B. Akun-akun Laporan Laba Rugi 184
5.4.2. Penerimaan Modal Salam dari Pembeli/Pemesan 185
A. Penerimaan Modal Salam Dalam Bentuk Kas/Tunai 185
B. Penerimaan Modal Salam Dalam Bentuk Non Kas (Barang) 186
5.4.3. Penyerahan Barang Salam Kepada Pembeli/Pemesan 186
A Penyerahan Barang dengan Kualitas yang Sama Dalam Akad 187
B. Penyerahan Barang dengan Kualitas yang Berbeda 187
5.5. Akuntansi Salam Paralel 188
5.5.1. Ilustrasi Contoh Pertama 188
A. Penerimaan Modal dari Bulog (Sebagai Pemesan Akhir) 189
B. Penyerahan Modal Kepada KUD Berkah (Sebagai Pembuat) 190
C. Penerimaan Barang Salam dari KUD Berkah Sukabumi 191
D. Penyerahan Barang Salam Kepada Bulog (Pemesan Akhir) 194
5.5.2. Ilustrasi Contoh Kedua 195
5.6. Penyajian dan Pengungkapan 197
5.7. Pertanyaan dan Soal 197

BAB VI : AKUNTANSI ISTISHNA’ Hal


6.1. Pengertian dan Karakteristik Istishna’ 203
6.1.1. Pengertian 203
6.1.2. Karakteristik Istishna’ 204
6.1.3. Jenis dan Alur Transaksi Istishna’ 205
A. Istishna’ Lembaga Keuangan Syariah sebagai Pembuat 205
B. Istishna’ Lembaga Keuangan Syariah sebagai Pemesan 206
C. Istishna’ Paralel 207
6.2. Cakupan Akuntansi Istishna’ 208
6.3. Akuntansi Penjual 209
6.3.1. Akun-akun untuk Akuntansi Penjual 210
A. Akun-akun Laporan Posisi Keuangan/Neraca 210
B. Akun Laporan Laba Rugi 210
6.3.2. Penyatuan dan Segmentasi Akad 211
6.3.3. Memproduksi Aset Istishna’ dan Pengakuan Pendapatan Istishna’ 213
A. Pengakuan Pendapatan Istishna’ Metode Prosentase Penyelesaian 213
B. Pengakuan Pendapatan Istishna’ Metode Penyelesaian (Completed Method) 220
6.3.4. Penyerahan Aset Istishna’ dan Cara Pembayaran oleh Pemesan 222
A. Pembayaran Dimuka Seluruh Harga Aset Istishna’ 222
B. Pembayaran Dilakukan Selama Dalam Proses Penyelesaian Aset Istishna’ 223
(Jangka Waktu Pembayaran dan Penyelesaian Aset Istishna’ Sama)
C. Pembayaran dengan Jangka Waktu Tidak Sama Dengan Jangka Waktu 224
Penyelesaian Aset Istishna’
D. Pembayaran Dilakukan Secara Tangguh Setelah Penyerahan Aset Istishna’ 224
6.3.5. Ilustrasi Contoh Lain LKS Sebagai Produsen/Penjual Dalam Transaksi Istishna’ 225
6.3.6. Istishna’ Dengan Pembayaran Tangguh 230
A. Istishna’ Pembayaran Tangguh LKS Sebagai Produsen (Kontraktor) dengan 231
Setelah Barang Diterima
B Istishna’ Pembayaran Tangguh LKS Sebagai Produsen dengan Secara 240
Angsuran Selama Proses Pembuatan Aset Istishna’
C. Istishna’ Paralel dengan Pembayaran Tangguh 262
6.3.7. Penyelesaian Awal 273
6.3.8. Perubahan Pesanan dan Tagihan Tambahan 274
6.3.9. Pengakuan Taksiran Rugi 275
6.4. Akuntansi Pembeli 276
6.4.1. Akun-akun Dalam Akuntansi Pembeli 276
A. Akun untuk Laporan Posisi Keuangan (Neraca) 276
B. Akun untuk Laporan Laba Rugi 277
6.4.2. Pembayaran Harga Barang 277
A Pembayaran Harga Barang Seluruhnya Dimuka 278
B Pembayaran Harga Barang Selama Dalam Proses Produksi 278
C Pembayaran Harga Barang Secara Tangguh Setelah Barang Diterima 280
6.4.3. Penerimaan Barang Pesanan 280
6.5. Akuntansi Istishna’ Paralel 280
6.5.1. Istishna’ Paralel - Biaya Sub Kontraktor Sama Dengan Nilai Tunai Penyerahan 281
6.5.2. Istishna’ Paralel – Biaya Sub Kontraktor Tidak Sama Nilai Tunai Saat Penyerahan 298
A. Pengakuan Pendapatan Istishna’ Metode Prosentase Penyelesaian 299
B. Pengakuan Pendapatan Istishna’ Metode Penyelesaian (Completed Method) 317
6.5.3. Istishna’ Paralel – Jangka Waktu Produksi Aset Istishna’ Sama Dengan Jangka 320
Waktu Pembayaran
6.6. Penyajian dan Pengungkapan 326
6.7. Pertanyaan dan Soal 327

BAB VII : AKUNTANSI MUDHARABAH Hal


7.1. Pengertian dan Karakteristik Mudharabah 333
7.1.1. Pengertian 333
7.1.2. Karakteristik Mudharabah 335
7.1.3. Jenis dan Alur Transaksi Mudharabah 340
7.2. Cakupan Akuntansi Mudharabah 342
7.3. Akuntansi Pemilik Dana (Shahibul Maall) 343
7.3.1. Akun-akun Dalam Akuntansi Pemilik Dana Mudharabah 343
A. Akun-akun Untuk Laporan Posisi Keuangan (Neraca) 343
B. Akun-akun Untuk Laporan Laba Rugi 344
7.3.2. Persetujuan Investasi Mudharabah oleh Pemilik Dana 346
7.3.3. Modal Mudharabah 346
A. Pembelian Aset Mudharabah 348
B. Penyerahan Modal Kas 349
C. Penyerahan Modal Non Kas (Barang) 350
D. Modal Mudharabah Hilang dan Penurunan Modal Non Kas (Barang) 354
E. Penurunan dan Hilang Setelah Usaha Dimulai 355
7.3.4. Bagi Hasil Mudharabah 359
A. Penerimaan dan Pengakuan Bagi Hasil Mudharabah 361
B. Kerugian Mudharabah 362
7.3.5. Penerimaan Kembali Modal Mudharabah 364
7.4. Akuntansi Pengelola Dana (Mudharib) 369
7.4.1. Akun-akun Dalam Akuntansi Pengelola Dana (Mudharib) 369
A. Akun-akun untuk Laporan Posisi Keuangan (Neraca) 369
B. Akun-akun untuk Laporan Laba Rugi 370
7.4.2. Modal Mudharabah 370
A. Penerimaan Modal Mudharabah Kas 371
B. Penerimaan Modal Mudharabah Non Kas (Barang) 371
7.4.3. Pembagian Hasil Usaha 372
7.4.4. Pengembalian Modal Mudharabah 374
7.4.5. Akuntansi Pengelolaan Dana Bagi Lembaga Keuangan Syariah 377
A. Penerimaan Modal Mudharabah 377
B. Pembayaran Kembali Modal Mudharabah 379
C. Pembagian Hasil Usaha 380
7.5 Akuntansi Mudharabah Musytarakah 382
7.6 Akuntansi Mudharabah Muqayyadah 384
7.6.1 LKS Sebagai Pemilik Dana Mudharabah Muqayyadah 386
7.6.2. LKS Sebagai Pengelola Dana Mudharabah Muqayyadah 387
7.7. Penyajian dan Pengungkapan 395
7.8. Pertanyaan dan Soal 396

BAB VIII : AKUNTANSI MUSYARAKAH Hal


8.1. Pengertian dan Karakteristik Musyarakah 405
8.1.1. Pengertian Musyarakah 405
8.1.2. Karakteristik Musyarakah 407
8.1.3. Jenis dan Alur Transaksi Musyarakah 409
8.2. Cakupan Akuntansi Musyarakah 410
8.3. Akuntansi Mitra Pasif 413
8.3.1 Akun-akun Pada Mitra Pasif 413
A. Akun-akun Untuk Laporan Posisi Keuangan (Neraca) 413
B. Akun-akun Untuk Laporan Laba Rugi 414
8.3.2. Pada Saat Akad 415
A. Biaya musyarakah 415
B. Penyerahan Modal Musyarakah 416
8.3.3. Selama Akad 426
A. Musyarakah Permanen 426
B. Musyarakah Menurun 429
8.3.4. Pengakuan Hasil Usaha 431
A. Perlakuan Hasil Usaha Musyarakah 431
B. Perlakuan Rugi Investasi Musyarakah 432
8.3.5. Akhir Akad 432
8.4. Akuntansi Mitra Aktif (Penyetor Modal Musyarakah) 434
8.4.1. Akun-akun Mitra Aktif (Sebagai Pemilik Modal Musyarakah) 434
A. Akun-akun Untuk Laporan Posisi Keuangan (Neraca) 434
B. Akun-akun Untuk Laporan Laba Rugi 435
8.4.2. Pada Saat Akad Musyarakah 436
A. Biaya Akad Musyarakah 436
B. Penyisihan Modal Musyarakah oleh Mitra Aktif 437
8.4.3. Selama Akad Musyarakah 443
A. Penerimaan Hasil Usaha Musyarakah 443
B. Pengembalian Modal 444
8.4.4. Pada Akhir Akad Musyarakah 449
8.5. Akuntansi Mitra Aktif (Sebagai Pengelola Musyarakah) 449
8.5.1 Akun-akun Pada Mitra Aktif (Sebagai pengelola musyarakah) 449
A. Akun-akun untuk Laporan Posisi Keuangan (Neraca) 449
B. Akun-akun untuk Laporan Laba Rugi 450
8.5.2. Penerimaan Penyertaan Modal (Pada Saat Awal Akad) 451
A. Penyertaan Modal Musyarakah oleh Mitra Aktif 451
B. Penerimaan Modal Musyarakah dari Mitra pasif 453
8.5.3. Selama Akad Musyarakah 456
A. Hasil Usaha Musyarakah 456
B. Pengalihan Modal Musyarakah dari Mitra pasif ke Mitra Aktif 457
8.5.4 Akhir Akad 459
8.6. Penyajian dan Pengungkapan 460
8.7. Pertanyaan dan Soal 460

BAB IX : AKUNTANSI IJARAH Hal


9.1. Pengertian dan Karakteristik Ijarah 469
9.1.1. Pengertian dan Rukun 469
9.1.2. Karakteristik Ijarah 470
9.2. Cakupan Akuntansi Ijarah 472
9.3. Akuntansi Pemilik Obyek Ijarah (Mu’jir) 474
9.3.1. Akun-akun Dalam Transaksi Ijarah 474
A. Akun-akun Laporan Posisi Keuangan (Neraca) 474
B. Akun-akun Laporan Laba Rugi 474
9.3.2. Obyek Ijarah 476
A. Pengadaan aset Ijarah 476
B. Pengeluaran biaya lain aset Ijarah 477
9.3.3. Harga Sewa 478
A. Perhitungan Harga Sewa 479
B. Pelaksanaan Akad Ijarah 479
C. Penyusutan Obyek Ijarah 483
D Pemeliharaan dan Perbaikan Obyek Ijarah 494
E. Pendapatan Ijarah 495
9.3.4. Perpindahan Kepemilikan 497
A. Pemindahan Kepemilikan dengan Cara ”Hibah” 498
B. Perpindahan Kepemilikan dengan Cara Penjualan 499
9.3.5. Penurunan Kualitas Obyek Sewa 502
9.4. Akuntansi Penyewa (Musta’jir) 502
9.4.1. Akun dalam Akuntansi Penyewa 502
A. Akun dalam Laporan Posisi Keuangan 503
B. Akun dalam Laporan Laba Rugi 503
9.4.2. Beban Sewa 504
A. Akuntansi Penyewa Ijarah 504
B. Akuntansi Penyewa Ijarah Muntahia Bittamlik (IMBT) 505
9.4.3. Beban Pemeliharaan dan Perbaikan 506
9.4.4. Pemindahan Kepemilikan 506
9.5. Akuntansi Jual dan Ijarah 509
9.6 Akuntansi Ijarah Lanjut 510
9.7 Penyajian dan Pengungkapan 513
9.8 Pertanyaan dan Soal 513
Lampiran
1 Daftar Akun (Chart of Account)
A. Daftar Akun Aktiva
B. Daftar Akun Kewajiban
C. Daftar Akun Dana Syirkah Temporer
D Daftar Akun Equity
E Daftar Akun Pendapatan Usaha Utama
F Daftar Akun Hak Pihak Ketiga Atas Bagi Hasil
G. Daftar Akun Pendapatan Operasi Lainnya
H Daftar Akun Beban Operasi
I. Daftar Akun Komitmen dan Kontijen

2 Komparasi Akuntansi LKS dan Pihak Terkait


A. Akuntansi Penjual dan Pembeli (PSAK 102)
B Akuntansi Pemesan dan Produsen (PSAK 103)
C Akuntansi Pemesan dan Produsen (PSAK 104)
D. Akuntansi Pemilik Dana dan Pengelola Dana (PSAK 105)
E. Akuntansi Mitra Pasif dan Mitra Aktif (PSAK 106)
F. Akuntansi Penyewa dan Pemilik Obyek Sewa (PSAK 107)
Daftar Gambar
Bab I - Pendahuluan
Gambar 1-1 : Sistem Keuangan Indonesia
Gambar 1-2 : Imbalan Kepada Pemodal
Gambar 1-3 : Perbedaan Transaksi Bank Konvensional, Multi Finance dan Bank Syariah
Gambar 1-4 : Alur Operasional Lembaga Keuangan Syariah

Bab II – Sekilas Bank Syariah


Gambar 2-1 : Kedudukan KAS
Gambar 2-2 : Pola Pemahaman Akuntansi Syariah
Gambar 2-3 : Bangun Prinsip Akuntansi Syariah
Gambar 2-4 : Asumsi Dasar Akrual
Gambar 2-5 : Pos-pos Neraca Akrual Sebelum PSAK 59
Gambar 2-6 : Alur Akuntansi
Gambar 2-7 : Alur Akuntansi Komputerisasi
Gambar 2-8 : Hubungan Akun Neraca dengan Prinsip Syariah
Gambar 2-9 : Akun dalam Laporan Laba Rugi
Gambar 2-10 : Hubungan Laporan Keuangan dan Fungsi LKS

Bab IV - Akuntansi Murabahah


Gambar 4-1 : Jenis Murabahah
Gambar 4-2 : Alur Murabahah Tanpa Pesanan
Gambar 4-3 : Alur Murabahah Tanpa Pesanan
Gambar 4-4 : Penggunaan Akuntansi Murabahah
Gambar 4-5 : Alur Transaksi Murabahah (1)
Gambar 4-6 : Pembelian Barang Diwakilkan
Gambar 4-7 : Harga Jual dan Hutang Nasabah

Bab V – Akuntansi Salam


Gambar 5-1 : Alur Transaksi Salam LKS sebagai Pembuat
Gambar 5-2 : Alur Transaksi Salam LKS sebagai Pemesan
Gambar 5-3 : Alur Transaksi Salam LKS sebagai Pemesan
Gambar 5-4 : Penggunaan Akuntansi Salam
Gambar 5-5 : Alur Transaksi Salam Paralel

Bab VI – Akuntansi Istishna’


Gambar 6-1 : Alur Istishna’ LK Syariah sebagai Pembuat
Gambar 6-2 : Alur Istishna’ Lembaga Keuangan Syariah sebagai Pemesan
Gambar 6-3 : Alur Istishna’ Paralel
Gambar 6-4 : Penggunaan Akuntansi Istishna’
Gambar 6-5 : Skema Transaksi Istishna’
Gambar 6-6 : Skema Istishna’ Produksi Sendiri
Gambar 6-7 : Skema Istishna’ Pembayaran Tangguh
Gambar 6-8 : Ilustrasi Istishna’ Pembayaran Tangguh
Gambar 6-9 : Skema Istishna’ Penyelesaian 25% (Produksi Sendiri)
Gambar 6-10 : Skema Penyelesaian Proyek 60% (Produksi Sendiri)
Gambar 6-11 : Skema Penyelesaian Proyek 100% (Produksi Sendiri)
Gambar 6-12 : Skema Istishna’ Paralel Pembayaran Tangguh
Gambar 6-13 : Ilustrasi Istishna’ Paralel Pembayaran Tangguh
Gambar 6-14 : Skema Istishna’ Penyelesaian 25% (Paralel Biaya Subkon Sama Dengan Nilai Tunai)
Gambar 6-15 : Skema Penyelesaian Proyek 60% (Paralel Biaya Subkon Sama Dengan Nilai Tunai)
Gambar 6-16 : Skema Penyelesaian Proyek 100% (Paralel Biaya Subkon Sama Dengan Nilai Tunai)
Gambar 6 -17: Skema Istishna’ Penyelesaian 25% (Biaya Subkon Tidak Sama Dengan Nilai Tunai)
Gambar 6-18 : Skema Penyelesaian Proyek 60% (Biaya Subkon Tidak Sama Dengan Nilai Tunai)
Gambar 6-19 : Skema Penyelesaian Proyek 100% (Biaya Subkon Tidak Sama Dengan Nilai Tunai)
Gambar 6-20 : Istishna’ Paralel (Jangka Waktu Produksi Sama Dengan Pembayaran)

Bab VII – Akuntansi Mudharabah


Gambar 7-1 : Pihak-pihak Terkait dalam Mudharabah
Gambar 7-2 : Alur Transaksi Mudharabah Mutlaqah
Gambar 7-3 : Penggunaan Akuntansi Mudharabah
Gambar 7-4 : Penggunaan Akun
Gambar 7-5 : Laba Kotor Transaksi (Gross Profit)
Gambar 7-6 : Pembagian Hasil Mudharabah Musyatarak 1
Gambar 7-7 : Pembagian Hasil Mudharabah Musyatarak 2
Gambar 7-8 : Mudharabah Muqayyadah, LKS Sebagai Pemilik Dana
Gambar 7-9 : Skema Transaksi Mudharabah Muqayyadah

Bab VIII – Akuntansi Musyarakah


Gambar 8 – 1 : Alur transaksi Musyarakah
Gambar 8 – 2 : Penggunaan Akuntansi Musyarakah
Gambar 8 – 3 : Skema Ilustrasi Transaksi Musyarakah

Bab IX – Akuntansi Ijarah


Gambar 9-1: Penentuan Harga Sewa
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Lembaga Keuangan di Indonesia

Lembaga Keuangan Syariah di Indonesia khususnya perbankan syariah mulai berkembang dengan
pesat sejak tahun 1999 yaitu setelah berlakunya Undang-undang nomor 10 tahun 1998 yang merupakan
penyempurnaan dari Undang-undang nomor 7 tahun 1992 tentang perbankan. Dengan berkembangnya
perbankan syariah di Indonesia tersebut mendorong perkembangan Lembaga Keuangan Syariah lainnnya
seperti antara lain Asuransi Syariah, Lembaga Pembiayaan Syariah, Pegadaian Syariah, Koperasi Syariah
dan juga Lembaga Keuangan Mikro Syariah yang sering disebut dengan Baitul Maal wat Tamwil (BMT)
yaitu lembaga keuangan mikro yang berbadan hukum Koperasi Syariah atau Koperasi Jasa Keuangan
Syariah (KJKS). Sering timbul pertanyaan adalah apa bedanya Bank Syariah dengan Bank Konvensional,
apa bedanya kegiatan usaha yang dilakukan Bank Syariah dengan kegiatan usaha yang dilakukan oleh
bank konvensional. Untuk mengetahui hal tersebut perlu dibahas terlebih dahulu tatanan Lembaga
Keuangan di Indonesia. Sistem keuangan Indonesia yang secara umum membedakan antara Lembaga
Keuangan Bukan Bank yang banyak bergerak pada sektor riil seperti Lembaga Pembiayaan,
Perasuransian, Modal Ventura, Dana Pensiun, Pegadaian, Penjaminan dan Lembaga Keuangan Bank
yang bergerak pada sektor moneter seperti Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat. Sistem keuangan
yang ada di Indonesia dan implikasi pada akuntansi syariah dapat dilihat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 1-1 : Sistem Keuangan Indonesia

BAB I. Pendahuluan | 1
Dari gambar tersebut di atas, berikut dibahas secara singkat dari masing-masing Lembaga
Keuangan yang ada yaitu (a) Lembaga Keuangan Bukan Bank (b) Lembaga Keuangan Bank.

A. Lembaga Keuangan Bukan Bank


Kelompok Lembaga Keuangan Bukan Bank yaitu (1) Lembaga Pembiayaan yang meliputi antara
lain Leasing, Factoring (anjak piutang), Consumer Financing, (2) Perasuransian, (3) Modal Ventura, (4) Dana
Pensiun, (5) Pegadaian, (6) Penjaminan. Lembaga Keuangan Bukan Bank ini di bawah pembinaan dan
pengawasan dari Departemen Keuangan dan sesuai perudangan-undangan yang berlaku. Lembaga ini
tidak diperkenankan untuk menghimpun dana secara langsung dari masyarakat sehingga sumber dana
Lembaga ini umumnya berasal dari Bank atau Pemodal lainya. Pada umumnya lembaga ini dikatakan
bergerak pada sektor riil karena dalam penyaluran yang dilakukan dalam bentuk barang dan tidak
diperkenankan menyalurkan dana (uang) kepada masyarakat secara langsung.

B. Lembaga Keuangan Bank


Kelompok Lembaga Keuangan Bank adalah Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR).
Lembaga Keuangan Bank saat ini di bawah pembinaan dan pengawasan Bank Indonesia. Secara umum
Lembaga Keuangan Bank bergerak dalam bidang keuangan (sektor moneter) karena lembaga ini
diperkenankan untuk menghimpun dana dan menyalurkan dana berupa kredit langsung kepada
masyarakat. Sesuai ketentuan Bank Indonesia yang berlaku, perbankan (Bank Konvensional) tidak
diperkenankan untuk menjalankan kegiatan usaha diluar dari kegiatan utamanya (core business) yaitu bidang
keuangan, seperti yang dilaksanakan oleh Lembaga Keuangan Bukan Bank di atas.
Sering timbul pertanyaan dimana kelompok Bank Syariah itu? Sesuai perundang-undangan yang berlaku,
Bank Syariah diketagorikan sebagai Lembaga Keuangan Bank dan di bawah pembinaan dan pengawasan
Bank Indonesia, namun dalam melaksanakan kegiatan usahanya bank syariah sudah merambah pada
kegiatan yang dilaksanakan oleh Lembaga Keuangan Bukan Bank, karena Bank Syariah diperkenankan
melaksanakan kegiatan usaha leasing yang setara dengan ijarah, anjak piutang (factoring) setara dengan
hawalah atau hiwalah, consumer financing setara dengan murabahah, modal ventura setara dengan
musyarakah, pegadaian setara dengan rahn dan penjaminan setara dengan kafalah. Berikut diberikan
kupasan yang lebih rinci dari kesetaraan tersebut.
1 Leasing - Ijarah
Seperti dijelaskan di atas, Bank tidak diperkenankan untuk menjalankan kegiatan usaha di luar
kegiatan usaha utamanya, yaitu bidang keuangan. Oleh karana itu Bank Konvensional tidak
diperkenankan melaksanakan kegiatan usaha penyewaan barang (leasing) karena transaksi leasing
merupakan transaksi bukan bidang keuangan karena di dalam transaksi leasing perusahaan leasing
menyediakan barang untuk dilakukan beli sewa. Namun berbeda dengan Bank Syariah yang dapat
menyewakan barang dengan mempergunakan akad Ijarah. Untuk memberikan gambaran diberikan
ilustrasi contoh sebagai berikut:
Bank Mega (konvensional) memiliki Gedung Menara Mega setinggi 25 lantai. Untuk
keperluan operasional Bank Mega mempergunakan 5 lantai. Sisanya disewakan sendiri oleh Bank
Mega. Sesuai ketentuan Bank Indonesia hal ini tidak diperkenankan karena penyewaan gedung
bukan merupakan kegiatan utama Bank, penyewaan gedung merupakan kegiatan usaha perusahaan
leasing. Oleh karena itu biasanya Bank mendirikan perusahaan (anak perusahaan) yang melakukan
pengurusan penyewaan gedung, karena Bank diperkenankan untuk melakukan penyertaan pada
anak perusahaan. Lain halnya misalnya jika yang memiliki Gedung Menara Mega tersebut adalah
Bank Mega Syariah dan untuk kepentingan operasional 5 lantai dipergunakan sendiri oleh Bank
Mega Syariah dan sisanya disewakan sendiri juga oleh Bank Mega Syariah, maka hal ini tidak
melanggar ketentuan kegiatan usaha Bank Syariah, karena menyewakan gedung mempergunakan
akad Ijarah.

2 |Akuntansi Transaksi Syariah (Wiroso, IAI, 2011)


Sekilas perbedaan mendasar antara Leasing dengan Ijarah adalah dalam akuntansi leasing
pencatatan aset dilakukan oleh lessee sehingga lessee yang melakukan pemeliharaan dan melakukan
penyusutan. Sedangkan dalam Ijarah pencatatan obyek ijarah tetap dilakukan oleh lessor, oleh karenanya
lessor yang melakukan pemeliharaan dan melakukan penyusutan.
2 Anjak Piutang – Hawalah / Hiwalah
Hal ini tidak berbeda dengan leasing di atas. Bank Konvensional tidak diperkenankan untuk
melakukan transaksi-transaksi anjak piutang karena transaksi tersebut merupakan kegiatan usaha
perusahaan anjak piutang. Bank Syariah diperkenankan untuk melakukan transaksi anjak piutang dengan
akad Hawalah atau Hiwalah dengan tujuan tolong menolong. Dalam perusahaan anjak piutang umum
dilakukan dengan sistem diskonto, sedangkan pada Bank Syariah transaksi Hawalah atau Hiwalah sifatnya
tolong menolong dan tidak diperkenankan menggunakan sistem diskonto.
3) Consumer Financing - Murabahah
Beberapa contoh perusahaan consumer financing adalah Adira, FIF, Colombia, Sumber Kredit
dimana dalam melakukan transaksi dari perusahaan ini konsumennya menerima barang yang
pembayarannya dapat dilakukan dengan tunai atau dengan tangguh/cicilan. Bank konvensional tidak
diperkenankan menjalankan transaksi ini, tetapi dalam Lembaga Keuangan Syariah diperkenankan
dengan akad Murabahah. Sesuai ketentuan syariah yang ada Murabahah merupakan transaksi jual beli
barang (bukan uang), nasabah sebagai pembeli menerima barang bukan menerima uang. Oleh karena
Lembaga Keuangan Syariah sebagai penjual maka Lembaga Keuangan Syariah diperkenankan untuk
menentukan dan melakukan negosiasi keuntungan dan harga jual barang. Hal ini sama dengan consumer
financing dimana nasabahnya menerima barang (bukan uang).
Banyak yang mengatakan murabahah yang dilakukan oleh Lembaga Keuangan Syariah sama
dengan Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) yang dilakukan oleh bank konvensional. Murabahah dan
Kredit Kendaraan Bermotor dua hal yang berbeda, jika Kredit Kendaraan Bermotor yang dilakukan oleh
bank konvensional - bank menyediakan uang untuk nasabah untuk membeli kendaraan bermotor (yang
disediakan bank adalah uang), sedangkan dalam murabahah yang dilakukan oleh Lembaga Keuangan
Syariah - bank menyediakan kendaraan bermotor untuk dilakukan jual beli dengan nasabah (yang
disediakan bank adalah kendaraan bermotor)
4) Pegadaian - Rahn
Jelas Bank Konvensional tidak diperkenankan untuk menjalankan transaksi pegadaian karena ini
merupakan kegiatan usaha perusahaan pegadaian, tetapi dalam Lembaga Keuangan Syariah
diperkenakkan untuk melaksanakan kegiatan usaha pedagaian dengan akad Rahn.

Masih banyak kegiatan usaha Bank Syariah yang tidak boleh dilaksanakan oleh Bank Konvesional.
Kegiatan usaha Lembaga Keuangan Syariah jauh lebih luas dibandingkan dengan Bank konvensional,
sehingga sangat disayangkan jika selalu disetarakan dengan Bank Konvensional. Titik pandang ”adanya
perbedaan terdapat peluang” itulah seharusnya dipergunakan sebagai motivasi, kreativitas dan pendorong
kemajuan Bank Syariah. Jika selalu membandingkan dan menyetarakan Bank Syariah dan Bank
Konvensional maka memerlukan ratusan tahun untuk bisa mencapai kebesarannya seperti bank
konvensioal sekarang. Sesuai karakteristiknya Bank Syariah tidak membedakan secara tegas pada sektor
keuangan seperti yang dilaksanakan oleh perbankan atau pada sektor riil seperti yang dilaksanakan oleh
Lembaga Keuangan Bukan Bank. Dengan adanya karakter tersebut membawa implikasi pada akuntansi
yang dipergunakan oleh bank syariah. Akuntansi Bank Syariah dan Akuntansi Lembaga Keuangan
Syariah pada umumnya merupakan gabungan dari akuntansi perbankan, akuntansi sewa beli, akuntansi
perdagangan, akuntansi kontruksi dan sebagainya.

BAB I. Pendahuluan | 3
1.2. Imbalan Pemodal Lembaga Keuangan Syariah
Untuk memberikan gambaran yang jelas dan lengkap mengenai imbalan yang diterima oleh
pemodal dapat dilihat dalam perbankan syariah. Pembayaran imbalan kepada pemilik dana yang
dihimpun (shahibul maal) Bank Syariah tidak sama dengan pembayaran imbalan kepada pemilik dana bank
konvensional (yang lazim disebut dengan deposan atau penabung). Bank konvensional memberikan
imbalan kepada para deposannya dalam bentuk bunga dalam jumlah tetap dan ditentukan dimuka, tidak
dipengaruhi oleh risiko atau masalah yang dihadapi oleh bank konvensional, sedangkan imbalan pemilik
dana (shahibul maal) Bank Syariah sangat tergantung pada pendapatan yang diperoleh oleh Bank Syariah
sebagai mudharib dalam pengelolaan dana mudharah, Bank Syariah tidak diperkenankan memberikan
imbalan dalam jumlah yang telah ditentukan di depan. Untuk memberikan gambaran perbedaan
pemberikan imbalan bank konvensional dengan Bank Syariah dalam diperhatikan gambar dan beberapa
uraian sebagai berikut:

Gambar 1-2 : Imbalan kepada Pemodal


Pada Bank Konvensional dalam penghimpunan dana yang dilakukan, misalnya dalam bentuk
deposito berjangka disepakati diberikan bunga sebesar 6% per tahun, dengan sifat tetap ditetapkan di
depan. Hal ini sesuai dengan karakter sistem ekonomi kapitalis dimana pemodal tidak mau menanggung
riisko, apapun permasalahan yang dihadapi oleh bank konvensional deposan diberikan bunga 6% per
tahun. Untuk dapat membayar bunga deposito kepada deposan, uang tersebut oleh bank konvensional
dijual kepada debitur dalam bentuk kredit dengan perhitungan suku bunga minimal angka tertentu yang
didasarkan perhitungan dasar bunga kredit (base lending rate) dengan rumus umum cost of money ditambah
risk cost ditambah spread misalnya 13% per tahun. Artinya dengan dikenakan bunga 13% tersebut dapat
membayar bunga deposan 6%, dapat membayar seluruh beban overhead bank, dapat menutup risiko
khususnya pembentukan cadangan umum kerugian kredit dan sebagian keuntungan bank. Pada bank
konvensional besarnya bunga kredit yang dikenakan kepada debitur tidak mempengaruhi besarnya bunga
deposito kepada deposan. Misalnya bank konvensional dapat menyalurkan kredit dengan bunga 20%,
maka bank konvensional tetap membayar bunga deposito sebesar 6% kepada deposan (pemodal),
sebaliknya bank konvensional menyalurkan kredit dengan bunga 10% bank konvensional tetap
membayar bunga deposito 6%, bahkan bank konvensional tidak dapat menyalurkan dana dalam bentuk
kredit pun bank konvensional tetap harus membayar bunga deposito sebesar 6%. Disinilah sering

4 |Akuntansi Transaksi Syariah (Wiroso, IAI, 2011)


dikatakan para ahli timbulnya ketidakadilan antara pemodal (deposan) dan pekerja (bank), dimana salah
satu dirugikan. Pada saat bank konvensional dapat mengenakan bunga kredit 20%, yang dirugikan adalah
deposan sebagai pemodal, sebaliknya jika bank konvensional mengenakan kredit 10% yang dirugikan
adalah bank sebagai pekerja. Pada bank konvensional dapat terjadi membayar bunga deposito (bunga atas
dana pihak ketiga) lebih besar dari pendapatan penyaluran dana atau kredit, disebut dengan “negative
spread”. Hal ini yang dialami oleh bank konvensional pada krisis moneter beberapa waktu yang lalu, dalam
penghimpunan dana bank konvensional memberikan bunga 56% pertahun dan dalam penyaluran dana
tidak ada nasabah yang mau mengambil kredit, karena tingginya bunga kredit.
Dalam Bank Syariah, imbalan yang diberikan kepada para deposan sebagai pemodal (shahibul maal)
sangat tergantung pada hasil usaha yang diperoleh atas pengelolaan atau penyaluran dana yang dilakukan
oleh Bank Syariah, khususnya hasil usaha yang telah diikuti dengan aliran kas masuk (cash basis), sehingga
dari bulan ke bulan berikutnya penghasilannya tidak selalu sama. Secara konsep/ketentuan syariah, Bank
Syariah tidak pernah memberikan atau menjanjikan imbalan jumlah tetap kepada pemilik dana atau
pemodal, yang disepakati pada saat awal akad antara pemodal dan pekerja adalah porsi pembagian hasil
usaha yang sering disebut dengan ”nisbah”. Misalnya Bank Syariah menerima sejumlah dana mudharabah
dari pemilik dana/(shahibul maal) dengan akad mudharabah dalam jumlah tertentu dengan pembagian
hasil usaha untuk Bank Syariah 40 dan untuk pemilik dana 60. Dana tersebut oleh Bank Syariah
disalurkan pada investasi sesuai syariah seperti jual beli (murabahah, salam dan istishna’), ujroh (ijarah,
IMBT, multijasa) dan investasi (mudharabah, musyarakah). Dari hasil investasi diperoleh disebut dengan
pendapatan usaha utama yaitu pendapatan milik bersama bank syariah sebagai pengelola dana dan
pemodal (shahibul maal). Jika misalnya dalam pengelolaan dana tersebut memperoleh hasil usaha sebesar
Rp1 Milyar (cash basis), maka pembagian hasil usaha didasarkan pada jumlah Rp1 Milyar, sehingga
imbalan yang diberikan kepada nasabah sebagai pemilik dana (shahibul maal) sebesar 60% dari Rp1 Milyar
yaitu Rp600 juta sedangkan untuk Bank Syariah sebagai pengelola dana (mudharib) sebesar 40% dari Rp1
Milyar yaitu Rp400 juta. Sebaliknya jika hasil usaha yang diperoleh Bank Syariah tersebut hanya Rp10,00
(cash basis) maka perhitungan pembagian hasil usaha didasarkan jumlah Rp10,00 sehingga imbalan yang
diberikan kepada nasabah sebagai pemilik dana sebesar 60% dari Rp10,00 yaitu Rp6,00 dan untuk
Lembaga Keuangan Syariah sebesar 40% dari Rp10,00 yaitu Rp4 .
Dalam prinsip berbagi hasil yang dilakukan oleh Bank Syariah, pembagian keuntungan tidak boleh
hanya untuk satu pihak (kedua pihak harus mendapat bagian dari hasil usaha), sehingga dapat
disimpulkan bahwa Bank Syariah tidak pernah mengalami negative spread, karena Bank Syariah tidak
pernah membayarkan imbalan kepada pemilik dana yang lebih besar dari pendapatan yang diperoleh dari
penyaluran dana. Disini timbulnya keadilan antara pemodal dan pekerja, hasil usaha besar masing-masing
mendapat imbalan besar dan hasil usaha kecil masing-masing mendapat imbalan kecil. Bagi hasil yang
dibayarkan kepada pemilik dana (shahibul maal) merupakan bagian dari pendapatan usahan utama. Oleh
karena itu bagi hasil yang dibayarkan kepada pemilik dana bukan merupakan beban operasional bank
syariah.

1.3. Fungsi Lembaga Keuangan Syariah


Lembaga Keuangan Syariah memiliki kegiatan usaha yang lebih luas dari bank konvensional,
Lembaga Keuangan Syariah yang tidak membedakan bergerak dibidang sektor keuangan atau sektor riil
sebagaimana yang telah dibahas dimuka yaitu dapat melaksanakan kegiatan usaha leasing (ijarah), anjak
piutang (hawalah/Hiwalah), consumer financing (murabahah), modal ventura (musyarakah), pegadaian
(rahn) yang dibagian besar secara konsep berkaitan langsung dengan sektor riil maka Lembaga Keuangan
Syariah memiliki fungsi sebagai manajer investasi, investor, jasa layanan dan sosial. Untuk memberikan
gambaran yang lengkap dan rinci mengenai fungsi-fungsi tersebut berikut dilakukan pembahasan satu
persatu fungsi itu.

BAB I. Pendahuluan | 5
A. Fungsi Manager Investasi
Salah satu fungsi Lembaga Keuangan Syariah yang sangat penting adalah manager Investasi.
Lembaga Keuangan Syariah merupakan manager investasi dari pemilik dana (shahibul maal) dari dana yang
dihimpun dengan prinsip mudharabah (dalam perbankan lazim disebut dengan deposan atau penabung),
karena besar-kecilnya imbalan (bagi hasil) yang diterima oleh pemilik dana, sangat tergantung pada hasil
usaha yang diperoleh (dihasilkan) oleh Lembaga Keuangan Syariah dalam mengelola dana (khususnya
dana mudharabah). Hal ini sangat dipengaruhi oleh keahlian, kehati-hatian, dan profesionalisme dari
Lembaga Keuangan Syariah sebagai manajer investasi (pihak yang mengelola dana).
Lembaga Keuangan Syariah dapat menghimpun dana yang besar, kemudian dalam penyaluran
dana dilakukan tidak efektif, kurang memperhatikan prinsip-prinsip kehati-hatian, sembarangan sehingga
banyak yang macet atau banyak yang diketagorikan bermasalah (non performing financing), banyaknya
penyaluran dana yang tidak melakukan pembayaran angsuran, maka membawa dampak hasil usaha yang
diikuti aliran kas masuk (cash basis) hanya kecil atau sedikit yang diterima. Dengan adanya hasil usaha yang
cash basis kecil maka pendapatan yang akan dibagi antara Lembaga Keuangan Syariah dan Shahibul Maal
juga kecil, yang akhirnya membawa dampak kecilnya bagi hasil yang diterima oleh pemilik dana (shahibul
maal). Begitu sebaliknya penyaluran dana yang tidak besar, namun dilakukan dengan efektif, efesien dan
produktif, dan kualitas penyaluran dana yang baik sehingga banyak debitur yang melakukan pembayaran
angsuran atau pembayaran bagi hasil yang diterima dari nasabah pengelola dana (mudharib) banyak, akan
membawa dampak pada hasil usaha yang akan dibagi antara Lembaga Keuangan Syariah sebagai
pengelola dana dan pemilik dana juga besar, yang mengakibatkan pendapatan bagi hasil diterima pemilik
dana besar juga.
Dana yang dihimpun oleh Lembaga Keuangan Syariah, hendaknya ditanamkan pada sektor yang
produktif dan tidak melanggar syariah, karena sesuai konsep syariah apa yang dilakukan oleh Lembaga
Keuangan Syariah dalam penyaluran dana akan membawa dampak atau risiko kepada pemilik dana
(shahibul maal) dari dana yang dihimpun (deposan atau penabung). Hal ini sangat berbeda dengan Bank
Konvensional, begitu deposan memberikan dana kepada Bank Konvensional dan dijanjikan bunga
tertentu, deposan tidak menananggung risiko. Bank bisa menyalurkan dana atau tidak, mendapatkan
pendapatan besar atau kecil bahkan tidak memperoleh pendapatan sama sekali, deposan sebagai pemodal
akan menerima bunga tetap yang diperjanjikan, dengan kata lain pemodal dalam aliran kapitalis tidak
bersedia untuk menanggung risiko.
Besarnya penyaluran dana atau investasi yang dilakukan oleh Lembaga Keuangan Syariah bukanlah
suatu indikasi imbalan atau bagi hasil yang diterima oleh pemilik dana (deposan atau penabung) besar,
tetapi kualitas dari penyaluran dana atau investasi yang dilakukan oleh Lembaga Keuangan Syariah itulah
yang mempunyai pengaruh terhadap imbalan atau bagi hasil yang diterima oleh pemilik dana yang
dihimpun. Besarnya porsi pembagian hasil usaha (nisbah) tidak menjamin besarnya bagi hasil yang akan
diterima oleh pemilik dana, karena bagi hasil tersebut sangat dipengaruhi oleh hasil usaha yang akan
dibagikan (pendapatan operasi utama), hasil usaha yang akan dibagikan sangat dipengaruhi oleh
pendapatan penyaluran dana yang diterima secara tunai (cash basis) oleh Lembaga Keuangan Syariah
sebagai pengelola dana (mudharib), pendapatan penyaluran dana dipengaruhi oleh kualitas aktiva produktif
(penyaluran dana), kualitas aktiva produktif dipengaruhi oleh proses dan prinsip-prinsip penyaluran dana.
Secara umum dikatakan bahwa indikasi keberhatian Lembaga Keuangan Syariah sebagai manajer
investasi adalah adanya trend kenaikan return bagi hasil dari waktu ke waktu dan adanya trend penurunan
pembiayaan bermasalah (Non Performing Financing) dari waktu ke waktu. Kedua hal ini pemodal berhak
untuk memperoleh informasinya sebagai salah satu bentuk transparansi Lembaga Keuangan Syariah.
B. Fungsi Investor.
Dalam penyaluran dana, baik dalam prinsip bagi hasil (mudharabah dan musyarakah), prinsip
ujroh( ijarah) dan prinsip jual beli (murabahah, salam dan istishna’), Lembaga Keuangan Syariah
berfungsi sebagai investor (sebagai pemilik dana). Oleh karena sebagai pemilik dana maka dalam
menanamkan dana dilakukan dengan prinsip-prinsip yang telah ditetapkan dan tidak melanggar syariah,
ditanamkan pada sektor-sektor produktif dan mempunyai risiko yang sangat minim. Keahlian,
profesionalisme sangat diperlukan dalam menangani penyaluran dana ini, penerimaan pendapatan dan

6 |Akuntansi Transaksi Syariah (Wiroso, IAI, 2011)


kualitas aktiva produktif yang sangat baik menjadi tujuan yang penting dalam penyaluran dana, karena
pendapatan yang diterima dalam penyaluran dana inilah yang akan dibagikan kepada pemilik dana
(deposan atau penabung mudharabah). Jadi fungsi ini sangat terkait dengan fungsi Lembaga Keuangan
Syariah sebagai manajer investasi.
Bank-Lembaga Keuangan Syariah menginvestasikan dana yang disimpan pada bank tersebut (dana
pemilik bank maupun dana rekening investasi) dengan menggunakan alat investasi yang sesuai dengan
Syariah. Investasi yang sesuai dengan Syariah tersebut meliputi akad Murabahah, akad Ijarah, akad
Musyarakah, akad Mudharabah, akad Salam atau Istishna’, pembentukan perusahaan atau akuisisi
pengendalian atau kepentingan lain dalam rangka mendirikan perusahaan, memperdagangkan produk.
Hasil usaha yang diperoleh dibagikan kepada pihak yang memberikan kontribusi dana (shahibul maal), dan
Lembaga Keuangan Syariah menerima bagian keuntungan sebagai Mudharib sesuai yang disepakati antara
pemilik dana dan bank sebagai pengelola, sebelum pelaksanaan akad.
Fungsi investor ini dapat dilihat dalam hal penyaluran dana yang dilakukan oleh Lembaga
Keuangan Syariah, baik yang dilakukan dengan mempergunakan prinsip jual beli maupun dengan
menggunakan prinsip bagi hasil sendiri. Karena Lembaga Keuangan Syariah melaksanakan fungsi sebagai
investor maka Lembaga Keuangan Syariah penyedia dana bersedia untuk menanggung risiko dari
investasinya. Hal ini dapat dilihat dengan jelas pada saat Lembaga Keuangan Syariah melakukan
pengelolaan dana dengan prinsip bagi hasil, pendapatan dari hasil usaha sangat tergantung pada hasil
usaha yang diperoleh nasabah sebagai pengelola dana. Untuk memberikan gambaran berikut diberikan
ilustrasi.
Lembaga Keuangan Syariah melakukan pembiayaan (investasi) mudharabah kepada Debitur
sebesar Rp250 milyar. Nisbah (pembagian hasil usaha) untuk Lembaga Keuangan Syariah 60 dan
untuk debitur 40. Berdasarkan Nisbah Lembaga Keuangan Syariah, proyeksi keuntungan
(ekspektasi keuntungan) yang diharapkan sebesar Rp50 juta per bulan. Dengan berjalannya
pelaksanaan akad mudharabah, ternyata dalam bulan yang bersangkutan debitur hanya
memperoleh hasil usaha sebesar Rp75 juta, sehingga hasil usaha untuk Lembaga Keuangan Syariah
sebesar 60% x Rp75 juta = Rp45 juta. Sesuai ketentuan yang ada Lembaga Keuangan Syariah
hanya diperkenankan untuk mengakuan pendapatan bagi hasil sebesar Rp45 juta. Sisanya sebesar
Rp5 juta tidak diperkenankan untuk ditagih.
Hal ini sangat berbeda dengan bank konvensional dimana sisa bunga yang belum dibayar
merupakan hutang bunga. Misalnya bank memberikan modal sebesar Rp250 milyar, bunga yang
harus dibayar sebesar Rp50 juta per bulan. Pada bulan yang bersangkutan nasabah hanya mampu
membayar Rp45 juta maka sisanya sebesar Rp5 juta, diakui sebagai piutang bungan (hutang bunga
bagi nasabah).
Contoh lain dalam transaksi Murabahah yang pembayarannya dilakukan dengan tangguh dan atas
hutangnya tersebut nasabah tidak mampu untuk membayar sesuai waktunya, kemudian dilakukan
penangguhan pembayaran (re-schedule) tidak diperkenankan untuk menambah kewajiban yang
ditangguhkan jangka waktunya.
C. Fungsi Jasa perbankan
Dalam menjalankan fungsi ini, Lembaga Keuangan Syariah tidak jauh berbeda dengan bank non
syariah, seperti misalnya memberikan layanan kliring, transfer, inkaso, pembayaran gaji dan sebagainya,
hanya saja yang sangat diperhatikan adalah adalah prinsip-prinsip syariah yang tidak boleh dilanggar.
Lembaga Keuangan Syariah memberikan jasa transfer, inkaso, kliring dengan prinsip wakalah;
menyediakan tempat untuk menyimpan barang dan surat-surat berharga berdasarkan prinsip wadi’ah yad
amanah; memberikan layanan letter of credit (L/C) dengan prinsip wakalah, memberikan layanan bank
garansi dengan prinsip kafalah; melakukan kegiatan wali amanat dengan prinsip wakalah, memberikan
layanan penukaran uang asing dengan prinsip sharf dan sebagainya. Bank Lembaga Keuangan Syariah
juga menawarkan berbagai jasa-jasa keuangan lainnya untuk memperoleh imbalan atas dasar agency contract
atau sewa dan pendapatan yang diperolah atas jasa keuangan tersebut merupakan pendapatan operasi
lainnya dan tidak termasuk dalam perhitungan pembagian hasil usaha.

BAB I. Pendahuluan | 7
Pada awal berkembangnya Lembaga Keuangan Syariah, banyak masyarakat yang beranggapan
bahwa Lembaga Keuangan Syariah hanya Bank Sosial, Bank yang melayani kegiatan sosial saja, tidak ada
kliring, tidak ada transfer, tidak mengeluarkan cek atau bilyet giro dan sebagainya, namun dengan
pemahaman dan penjelasan tentang Lembaga Keuangan Syariah anggapan tersebut sudah tidak ada lagi.
D. Fungsi sosial
Dalam konsep perbankan syariah mengharuskan bank-Lembaga Keuangan Syariah memberikan
pelayanan sosial apakah melalui dana Qardh (pinjaman kebajikan) atau Zakat dan dana sumbangan sesuai
dengan prinsip-prinsip Islam. Disamping itu, konsep perbankan Islam juga mengharuskan bank-
Lembaga Keuangan Syariah untuk memainkan peran penting di dalam pengembangan sumber daya
manusianya dan memberikan kontribusi bagi perlindungan dan pengembangan lingkungan. Fungsi ini
juga yang membedakan fungsi Lembaga Keuangan Syariah dengan bank konvensional, walaupun hal ini
ada dalam bank konvensional biasanya dilakukan oleh individu-individu yang mempunyai perhatian
dengan hal sosial tersebut, tetapi dalam Lembaga Keuangan Syariah fungsi sosial merupakan salah satu
fungsi yang tidak dapat dipisahkan dengan fungsi-fungsi yang lain. Lembaga Keuangan Syariah harus
memegang amanah dalam menerima ZIS atau dana kebajikan lainnya dan menyalurkan kepada pihak-
pihak yang berhak untuk menerimanya dan atas semua itu haruslah dibuatkan laporan sebagai
pertanggunganjawab dalam pemegang amanah tersebut.

1.4. Titik Pandang Uang Lembaga Keuangan Syariah


Perubahan paradigma tentang uang dalam Lembaga Keuangan Syariah khususnya perbankan
syariah bukanlah hal yang mudah, karena sudah beratus-ratus tahun paradigma yang terjadi diperbankan
bahwa uang sebagai komoditi, karena kegiatan usahanya dilakukan di bidang keuangan. Dalam
perbankan syariah, khususnya dalam konsep ekonomi Islam, uang hanya sebagai ”alat tukar” dan ”satuan
pengukur nilai” bukan sebagai komoditas. Kenaikan uang harus diikuti dengan kegiatan ekonomi yang
nyata seperti jual beli, menyewakan barang, investasi dan sebagainya. Untuk memperoleh hasil Lembaga
Keuangan Syariah harus nyata-nyata kerja seperti melakukan jual beli (murabahah, salam dan istishna’)
menyewakan suatu obyek sewa (ijarah, IMBT, multijasa) dan melakukan investasi kepada pihak yang
memiliki usaha (mudharabah, musyarakah). Secara konsep Lembaga Keuangan Syariah tidak
diperkenankan memperoleh hasil akibat penggunaan uang sebagaimana dilakukan oleh Bank
Konvensional.
Untuk memberikan gambaran titik pandang uang pada Lembaga Keuangan Syariah dan Lembaga
Keuangan Konvensional berikut diberikan beberapa ilustrasi:
A. Seseorang datang ke Bank Konvensional untuk meminjam uang sebesar Rp10 juta dan akan
dikembalikan satu tahun kemudian. Berapa yang harus dibayar satu tahun kemudian? Yang
dibayar adalah sebesar Rp12 juta, yaitu Rp10 juta uang awal ditambah dengan bunga Rp2 juta.
Bank Konvensional memperoleh hasil dari uang yang dipinjamkan.
B. Seseorang datang ke Bank Syariah untuk meminjam uang sebesar Rp10 juta dan akan
dikembalikan satu tahun kemudian. Berapa yang harus dikembalikan satu tahun kemudian? Yang
harus dibayar atau dikembalikan satu tahun kemudian tetap sebesar Rp10 juta, dan tidak
diperkenankan untuk mengenakan tambahan kepada peminjam. Inilah yang akadnya disebut
akah Qardh. Bagaimana jika akadnya sesuai ketentuan syariah yaitu akad Qardh, tetapi pada saat
peminjam menandatangani akad, pelaksana Lembaga Keuangan Syariah mengharuskan
mengembalikan sebesar Rp12 juta (akad hanya sebagai formalitas saja). Jika hal demikian terjadi
maka dari segi hubungan horisontal aman-aman saja, audit intern tidak akan menemukan
pelanggarannya, DPS tidak akan menemukan pelanggarannya, pengawasan lain tidak akan
menemukan pelanggarannya. Kejadian ini yang terlanggar adalah hubungan vertikal dan hanya
Audit Yang Maha Kuasa yang mengetahui hal ini. Dengan demikian hal ini sudah berada di luar
area muamalah.
Ilustrasi lain dapat diberikan gambaran perbedaan kredit yang dilakukan oleh Bank Konvensional
dengan jual beli yang dilakukan oleh Bank Syariah dapat dilihat dalam ilustrasi sebagai berikut:

8 |Akuntansi Transaksi Syariah (Wiroso, IAI, 2011)


Harga mobil sebesar Rp100.000.000,00 (seratus juta), return yang diharapkan sebesar 20%
dan pembayaran dilakukan selama satu tahun. Bagaimana paradigma nasabah jika yang
melakukan adalah Bank Konvensional, bagaimana paradigma nasabah jika yang melakukan
adalah lembaga pembiayaan (multi finance) dan bagaimana paradigma nasabah jika yang melakukan
adalah Bank Syariah.
Untuk memberikan jawaban atas paradigma nasabah tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 1-3 : Perbedaan transaksi bank konvensional, multi finance dan bank syariah
Dari gambar tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Jika yang melakukan adalah bank konvensional, nasabah diberikan uang sebesar Rp100.000.000,00
(seratus juta) dan selama jangka waktu satu tahun menjadi Rp120.000.000,00 (seratus dua puluh
juta), sejak awal nasabah mengakui memiliki hutang pokok sebesar Rp100.000.000,00 dan hutang
bunga sebesar Rp20.000.000,00. Oleh karena itu jika ia melunasi sebelum jatuh tempo, paradigma
nasabah adalah berapa sisa hutang pokok dan berapa harga yang harus dibayar?
2. Jika yang melakukan adalah Lembaga Pembiayaan (multi finance), yang diberikan adalah mobil dan
sejak awal sudah disepakati harga mobil sebesar Rp100.000.000,00 ditambah keuntungan sebesar
Rp20.000.000,00 sehingga harga jual sebesar Rp120.000.000,00. Sejak awal nasabah telah
mengakui memiliki hutang pada Lembaga Pembiayaan sebesar Rp120.000.000,00. Oleh karena itu
jika ia melunasi sebelum jatuh tempo paradigma nasabah adalah berapa hutangnya yang tidak
membedakan pokok dan bunganya?
3. Jika yang melakukan adalah bank syariah :
a) Jika yang diberikan kepada nasabah adalah uang sebesar Rp100.000.000,00 maka sampai
akhir pembayaran (setahun kemudian) nasabah tetap memiliki hutang sebesar
Rp100.000.000,00 karena uang tidak diperkenankan untuk beranak.
b) jika yang diberikan kepada nasabah adalah mobil maka sejak awal nasabah mengakui
memiliki hutang sebesar Rp120.000.000,00 sebagaimana yang dilakukan oleh Lembaga
Pembiayaan.
Untuk memberikan gambaran yang lebih lengkap diberikan contoh yang dialami dalam praktek
yang alami pejabat bank konvensional yang sedang mendalami perbankan syariah dan mengikuti cara
kerja Lembaga Keuangan Mikro Syariah dalam melakukan penjualan produknya, dan berikut petikannya:
Jika Bapak pinjam uang kepada kami (BMT) sebesar Rp10.000.000,00 (sepuluh juta)
diminta untuk dikembalikan Rp10.020.000,00 selama setahun (return sebesar 0.02%), hukumnya

BAB I. Pendahuluan | 9
haram. Tetapi jika melakukan jual beli dengan kami harga pokok Rp10.000.000,00 (sepuluh juta)
dengan harga jual disepakati Rp12.000.000,00 (dua belas juta) dibayar setahun (return sebesar
20%) hukumnya halal.
Dari permasalahan tersebut timbul pertanyaan kenapa yang kecil diharamkan sedangkan yang
besar dihalalkan? Bukankah hal ini tidak adil?. Halal dan haramnya hal tersebut bukan terletak pada besar
kecilnya return yang diperoleh, tetapi obyek yang dilakukan. Sekecil apapun jika meminjamkan uang minta
tambahan dalam pengembaliannya hukumya adalah haram, karena uang tidak diperkenankan untuk
bertambah jika tidak diikuti dengan kegiatan ekonomi yang nyata, uang dalam ekonomi syariah hanya
sebagai ”alat tukar” dan ”satuan pengukur nilai” bukan sebagai komoditas. Sedangkan dalam jual beli
selama harga perolehan diberitahukan, keuntungan dilakukan negosiasi hingga disepakati dan harga jual
nya disepakati maka hukumnya dalah halal. Dalam menentukan keuntungan dalam jual belu hendaknaya
mempergunakan azas ” mengambil keuntungan tidak di atas kerugian orang lain” arti sama-sama
menerima manfaat.

1.5. Alur Operasional Lembaga Keuangan Syariah


Dilihat dari aspek syariah, kegiatan usaha Lembaga Keuangan Syariah yang satu tidak beda dengan
yang lain. Besarnya kegiatan usaha sangat dipengaruhi oleh segmentasi yang dilakukan, misalnya pada
Lembaga Keuangan Syariah perbankan, bank umum syariah dalam menghimpun dana dan menyalurkan
dana dalam jumlah yang besar-besar, BPRS pada jumlah yang sedang-sedang saja, serta BMT pada
jumlah-jumlah yang kecil dan mikro. Begitu juga pada Lembaga Keuangan Syariah non bank seperti multi
finance, leasing, pegadaian dan sebagainya Secara umum alur operasional Lembaga Keuangan Syariah,
sebagaimana tercermin dalam gambar berikut:

Gambar 1-4 : Alur operasional Lembaga Keuangan Syariah

10 |Akuntansi Transaksi Syariah (Wiroso, IAI, 2011)


Dari gambar tersebut di atas dapat dijabarkan sebagai berikut:
A. Dalam sumber dana Lembaga Keuangan Syariah, saat ini mempergunakan dua prinsip yaitu :
1) prinsip wadiah yad dhamanah yang diaplikasikan pada giro wadiah dan tabungan wadiah
dan
2) prinsip mudharabah mutlaqah yang diaplikasikan pada produk deposito mudharabah dan
tabungan mudharabah.
Selain itu Lembaga Keuangan Syariah juga mempunyai sumber dana lain yang berasal dari
modal sendiri. Semua sumber dana tersebut dicampur menjadi satu, dalam bentuk pooling dana.
Dalam sumber dana inilah Lembaga Keuangan Syariah sangat berperan sebagai manager
investasi dari pemilik dana yang dihimpun, khususnya pemilik dana mudharabah, karena hasil
pemilik dana mudharabah tergantung pada hasil usaha pengelolaan dana yang dilakukan oleh
Lembaga Keuangan Syariah.
B. Dana Lembaga Keuangan Syariah yang dihimpun, disalurkan atau dikelola dengan pola-pola
penyaluran dana yang dibenarkan syariah. Secara garis besar pengelolaan dana Lembaga
Keuangan Syariah dilakukan dengan tiga pola yaitu :
1) prinsip jual beli yang meliputi Murabahah, Salam dan Salam Paralel, Istishna’ dan Istishna’
paralel,
2 prinsip bagi hasil yang meliputi Mudharabah dan Musyarakah, dan
c) prinsip ujroh yaitu ijarah dan ijarah muntahiayah bittamlik.
Oleh karena dana Lembaga Keuangan Syariah dicampur menjadi satu dalam bentuk pooling
dana, maka dalam pengelolaan dana tersebut tidak diketahui dengan jelas sumber dananya dari
prinsip sumber dana yang mana, dari prinsip wadiah atau dari prinsip mudharabah atau dari
sumber dana modal sendiri.
C. Atas penyaluran dana akan diperoleh pendapatan yaitu dalam prinsip jual beli lazim disebut
dengan margin atau keuntungan dan prinsip bagi hasil akan menghasilkan bagi hasil usaha serta
dalam dalam prinsip ujroh akan memperoleh upah (sewa). Pendapatan dari penyaluran dana ini
disebut dengan pendapatan operasi utama, merupakan pendapatan usaha bersama yang akan
dibagihasilkan, pendapatan yang merupakan unsur pembagian hasil usaha (profit distribution).
D. Dari pendapatan operasi utama yang penerimaannya benar-benar terjadi (cash basis) inilah yang
akan dibagihasilkan antara pemilik dana dan pengelola dana. Secara prinsip pendapatan yang
akan dibagi hasilkan antara pemilik dana dengan pengelola dana adalah pendapatan dari
penyaluran dana yang sumber dananya berasal dari Mudharabah Mutlaqah.
Pada dasarnya perhitungan distribusi hasil usaha, hanya dilakukan oleh mudharib karena
sesuai dengan prinsip Mudharabah, mudharib diberi kekuasan penuh dalam mengelola dana tanpa
adanya campur tangan shaibul maal (pemilik dana), sehingga yang mengetahui besaran hasil usaha
tersebut adalah mudharib. Dalam akad Mudharabah yang dilakukan antara pemodal (shahibul
maal) dengan Lembaga Keuangan Syariah sebagai mudharib – penghimpunan dana yang dilakukan
oleh Lembaga Keuangan Syariah – perhitungan distribusi hasil usaha dilakukan oleh Lembaga
Keuangan Syariah, sedangkan dalam akad mudharabah yang dilakukan antara nasabah debitur
dengan Lembaga Keuangan Syariah sebagai shahibul maal – penyaluran dana yang dilakukan oleh
Lembaga Keuangan Syariah – perhitungan distribusi hasil usaha dilakukan oleh debitur sebagai
mudharib.
E. Pendapatan Lembaga Keuangan Syariah tidak hanya dari bagian pendapatan pengelolaan dana
Mudharabah saja tetapi ada pendapatan-pendapatan yang lain yang menjadi hak sepenuhnya
Lembaga Keuangan Syariah, dimana pendapatan-pendapatan tersebut tidak dibagihasilkan antara
pemilik dan pengelola dana (LKS). Pendapatan-pendapatan tersebut antara lain pendapatan yang
berasal dari fee base income, misalnya pendapatan atas fee kliring, fee transfer, fee inkaso, fee pembayaran
payroll dan fee lain dari jasa layanan yang diberikan oleh Lembaga Keuangan Syariah. Disamping
itu pendapatan yang menjadi milik Lembaga Keuangan Syariah sepenuhnya adalah pendapatan
dari mudharabah muqayyadah dimana Lembaga Keuangan Syariah bertindak sebagai agen.
Pendapatan berbasis imbalan sepenuhnya menjadi milik LKS.

BAB I. Pendahuluan | 11
Sebagai keunikan Lembaga Keuangan Syariah adalah dalam hal pembagian hasil usaha (distribusi
hasil usaha) yang tidak pernah ada dalam Lembaga Keuangan Konvensional. Dalam Fatwa Dewan
Syariah Nasional No. 15/DSN-MUI/IX/2000 Tentang Prinsip Distribusi Hasil Usaha Dalam Lembaga
Keuangan Syariah, dijelaskan:
Menimbang : (a). bahwa pembagian hasil usaha di antara para pihak (mitra) dalam suatu bentuk
usaha kerjasama boleh didasarkan pada prinsip Bagi Untung (Profit Sharing), yakni
bagi hasil yang dihitung dari pendapatan setelah dikurangi modal (ra’su al-mal) dan
biaya-biaya, dan boleh pula didasarkan pada prinsip Bagi Hasil (Net Revenue Sharing),
yakni bagi hasil yang dihitung dari pendapatan setelah dikurangi modal (ra’su al-mal);
dan masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan;
Pertema : Ketentuan Umum
1. Pada dasarnya, LKS boleh menggunakan prinsip Bagi Hasil (Net Revenue Sharing)
maupun Bagi Untung (Profit Sharing) dalam pembagian hasil usaha dengan mitra
(nasabah)nya.
2. Dilihat dari segi kemaslahatan (al-ashlah), saat ini, pembagian hasil usaha sebaiknya
digunakan prinsip Bagi Hasil (Net Revenue Sharing).
3. Penetapan prinsip pembagian hasil usaha yang dipilih harus disepakati dalam akad.
Sesuai ketentuan dalam fatwa tersebut Akuntansi syariah menjelaskan sesuai pengertian akuntansi,
dalam PSAK 105 tentang akuntansi mudharabah (paragraf 11) sebagai berikut:
11. Pembagian hasil usaha mudharabah dapat dilakukan berdasarkan prinsip bagi hasil atau bagi
laba. Dalam prinsip bagi hasil usaha berdasarkan bagi hasil, dasar pembagian hasil usaha
adalah laba bruto (gross profit) bukan total pendapatan usaha (omset). Sedangkan dalam
prinsip bagi laba, dasar pembagian adalah laba bersih (net profit) yaitu laba bruto dikurangi
beban yang berkaitan dengan pengelolaan dana mudharabah.
Contoh
Uraian Jumlah Metode bagi hasil
Penjualan 100
Harga Pokok Penjualan (65)
Laba Kotor 35 Net Revenue Sharing
Beban (25)
Laba rugi bersih 10 Profit Sharing
Dalam praktek prinsip bagi hasil yang diterapkan oleh Lembaga Keuangan Syariah baik dengan
pemilik dana (shahibul maal) – untuk produk sumber dana, maupun dengan pengelola dana
(mudharibnya) – untuk produk penyaluran dana / pembiayaan, seluruh Lembaga Keuangan syariah di
Indonesia masih menerapkan prinsip Net Revenue Sharing dan belum ada yang menerapkan prinsip Profit
Sharing. Akibat kurang pemahaman pengertian dalam akuntansi mengakibatkan ada yang berpendapat
bahwa prinsip pembagian hasil usaha dalam akuntansi syariah tidak sesuai dengan ketentuan dalam
Dewan Syariah Nasional, yang mengakibatkan atau menjadi salah satu sebab tidak banyaknya transaksi
bagi hasil dilaksanakan oleh bank syariah.
Dalam akuntansi memiliki istilah yang sudah lazim dipergunakan dalam kalangan akuntansi
misalnya Harga Pokok Penjualan (Cost of Good Sold) yaitu merupakan modal dari barang yang dijual,
bukan modal dalam pengertian “ekuiti” (modal saham disetor dan sebagainya) yang merupakan selisih
kenaikan dan atau penurunan aset dan kewajiban. Begitu juga pengertian biaya (cost) yaitu suatu
pengeluaran yang belum selesai tujuannya, misalnya biaya tenaga kerja pabrik yang dapat dikategorikan
sebagai unsur perhitungan harga pokok penjualan produksi, dengan beban (expense) yaitu suatu
pengeluaran yang sudah jelas atau selesai tujuannya, misalnya beban tenaga kerja bagian administrasi yang
merupakan beban operasional. Pendapatan yang meliputi keuntungan dan penghasilan, sehingga
pendapatan berbeda dengan penghasilan dan berbeda pula dengan keuntungan.

12 |Akuntansi Transaksi Syariah (Wiroso, IAI, 2011)


1.6. Pertanyaan dan Soal
1. Lembaga Keuangan Syariah, khususnya perbankan syariah banyak bermunculan di Indonesia.
a. Jelaskan perbedaan kegiatan usaha Lembaga Keuangan Syariah dan Lembaga Keuangan
konvensional?
b. Jelaskan perbedaan fungsi Lembaga Keuangan dan Lembaga Keuangan Syariah
2. Lembaga keuangan Syariah memiliki titik pandang ”uang” yang berbeda dengan Lembaga
Keuangan konvensional, khususnya perbankan.
a. Jelaskan perbedaan titik pandang terhadap uang yang dimaksud?
b. Berikan contoh yang dapat menggambarkan perbedaan titik pandang terhadap uang
tersebut?
3. Dalam Lembaga Keuangan sangat erat dengan pemodal atau sumber dana dari entitas tersebut.
a. Jelaskan perbedaan pemberian imbalan kepada pemodal pada Lembaga Keuangan Syariah
dan Konvenional?
b. Jelaskan mengapa Lembaga Keuangan Syariah tidak pernah mengalami negative spread?
4. Lembaga Keuangan Syariah tidak membedakan secara tegas bergerak pada sektor keuangan atau
sektor riil?
a. Sebutkan dan jelaskan hal-hal yang boleh dilakukan oleh Lembaga Keuangan Syariah dan
tidak pernah dilaksanakan oleh Lembaga Keuangan Konvensional, khususnya perbankan?
b. Apa pengaruhnya terhadap akuntansi, jika Lembaga Keuangan Syariah tidak membedakan
sektor keuangan dan sektor riil?
5. Dalam melaksanakan kegiatan usaha Lembaga Keuangan Syariah hendaknya diperhatikan prinsip
syariah yang dipergunakan.
a. Jelaskan secara rinci prinsip-prinsip syariah yang dipergunakan dalam kegiatan usaha
Lembaga Keuangan Syariah?
b. Jelaskan pengaruhnya dari prinsip syariah terhadap akuntansi dari Lembaga Keuangan
Syariah?

BAB I. Pendahuluan | 13
14 |Akuntansi Transaksi Syariah (Wiroso, IAI, 2011)
BAB II
SEKILAS AKUNTANSI SYARIAH
DI INDONESIA

2.1. Pendahuluan

Perkembangan Lembaga Keuangan Syariah membawa dampak untuk perkembangan akuntansi


syariah. Saat ini yang sangat diperlukan untuk mendukung perkembangan Lembaga Keuangan Syariah
adalah akuntansi syariah yang aplikatif, sedangkan akuntansi syariah pada tataran normatif, tataran
akademik perlu terus dikembangkan untuk penyempurnaan akuntansi syariah yang saat ini ada. Dalam
buku ini lebih difokuskan pada pembahasan Akuntansi Transaksi Syariah yang dilakukan oleh Lembaga
Keuangan Syariah.
Komite Terminologi AICPA (The Committee on Terminology of the American Institute of Certified Public
Accountants) mendefinisikan akuntansi sebagai berikut:
Akuntansi adalah seni pencatatan, penggolongan, dan peringkasan transaksi dan kejadian yang
bersifat keuangan dengan cara yang berdayaguna dan dalam bentuk satuan uang, dan
penginterpretasian hasil proses tersebut.
Cakupan akuntansi dari definisi di atas nampak terbatas. Perspektif yang lebih luas ditawarkan oleh
definisi akuntansi berikut ini :
Proses pengindentifikasian, pengukuran, dan pengkomunikasian informasi ekonomik untuk
memungkinkan pembuatan pertimbangan dan keputusan berinformasi oleh pengguna informasi.
Yang terbaru, akuntansi telah didefinisikan dengan mengacu pada konsep informasi kuantitaif:
Akuntansi adalah aktivitas jasa. Fungsinya adalah menyediakan informasi kuantitatif, terutama
yang bersifat keuangan tentang entitas ekonomik yang diperkirakan bermanfaat dalam pembuatan
keputusan-keputusan ekonomis dalam membuat pilihan diantara alternatif tindakan yang ada.
Definisi-definisi tersebut merujuk akuntansi sebagai ”seni” atau sebagai ”aktivitas jasa” dan
implikasinya adalah bahwa akuntansi mempunyai seperangkat tehnik yang dianggap berguna bagi bidang-
bidang tertentu.
Akuntansi syariah antara lain berhubungan dengan pengakuan, pengukuran dan pencatatan
transaksi dan pengungkapan hak-hak dan kewajiban- kewajibannya secara adil. Allah berfirman:
“ Hai, orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan,
hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis diantara kamu menuliskannya dengan benar”
(Surah 2 ayat 282).
Allah juga berfirman:
“ Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan (Surah 4: ayat
135).
Allah juga berfirman:

BAB II. Sekilas Akuntansi Syariah di Indonesia | 15


“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain
mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi,
(Surah 83: ayat 1-3).
Allah juga berfirman di dalam hadist yang suci :
“Hai, hambaKu, Aku telah haramkan bagiku kezaliman dan telah mengharamkannya diantara kamu, jadilah
janganlah saling menindas satu sama lain”.
Tidak diragukan bahwa berkurang atau berlebihnya hak-hak dan kewajiban adalah tidak adil dan tidak bisa
diterima di dalam Islam. Allah telah menyatakan bahwa seorang Muslim harus adil dan jujur di dalam
urusan-urusannya. Dia berfirman:
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan (Surah 16: ayat 90).
Akuntansi keuangan di dalam Islam harus memfokuskan pada pelaporan yang jujur mengenai posisi
keuangan entitas dan hasil-hasil operasinya, dengan cara yang akan mengungkapkan apa yang halal dan apa
yang haram. Ini sesuai dengan perintah Allah untuk saling tolong menolong di dalam mengerjakan
kebaikan. Allah berfirman:
“ Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan janganlah tolong-menolong
dalam berbuat dosa dan pelanggaran” (Surah 5: ayat 2).
Ini berarti bahwa akuntansi keuangan di dalam Islam mempunyai sasaran-sasaran yang harus
disadari dan dipatuhi oleh akuntan keuangan di dalam Islam. Dia tidak boleh memasuki bidang ini tanpa
kesadaran dan pemahaman yang jelas mengenai sasaran akuntansi keuangan. Ini sesuai dengan firman
Allah:
”Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan,
hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar.
Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah ia
menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan akan ditulis itu), dan
hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun dari pada hutangnya.
Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri yang tidak mampu
mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang
saksi dari orang-orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu
ridhai, supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya. Dan janganlah saksi-saksi itu menolak
apabila dipanggil. Dan janganlah kamu bosan menuliskannya, untuk batas waktunya baik (utang itu) kecil
maupun besar. Yang demikian itu; lebih adil di sisi Allah, lebih menguatkan kesaksian, dan lebih mendekatkan
kamu kepada ketidakraguan, kecuali jika hal itu merupakan perdagangan tunai yang kami jalankan di antara
kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu jika kamu tidak menuliskannya. Dan ambillah saksi apabila kamu
berjual beli, dan janganlah penulis dipersulit dan begitu juga saksi. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka
sungguh, hal itu suatu kefasikan pada kamu. Dan bertakwalah kepada Allah, Allah memberikan pengajaran
kepadamu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Surah Baqarah : 282).
Khalifah Umar Bin Al-Khattab (Radhiallahu‘anhu) meminta kepada para pedagang di pasar untuk
mengetahui halal dan haram. Dia mengatakan “Tidak seorangpun yang diperbolehkan berjualan di pasar
kami kecuali dia mempunyai pengetahuan agama, jika tidak mau dia akan melakukan transaksi yang ribawi”.
Sehingga, oleh karena itu orang-orang yang bertugas harus menetapkan bagi akuntansi keuangan aturan-
aturan yang diperlukan yang melindungi hak-hak dan kewajiban perorangan, dan menjamin pengungkapan
yang memadai.

16 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


2.2. Perkembangan Akuntansi Syariah di Indonesia
Perkembangan Akuntansi Syariah di Indonesia tidak lepas dari perkembangan Lembaga Keuangan
Syariah yang tumbuh di Indonesia. Untuk mengetahui perjalanan akuntansi perbankan syariah dapat dilihat
dari beberapa periode yaitu (a) sebelum tahun 2002, (b) tahun 2002 sampai dengan tahun 2007 dan (c)
setelah tahun 2007.

A. Periode sebelum tahun 2002


Pada periode ini Lembaga Keuangan Syariah, khususnya Bank Umum Syariah, cabang syariah, Bank
Konvensional maupun BPR-Syariah, tidak memiliki acuan akuntansi. Pada periode ini Dewan Standar
Akuntansi Keuangan (DSAK), sebagai otoritas bidang akuntansi belum mengeluarkan ketentuan (PSAK)
Akuntansi Syariah. Pada peiode ini masih mempergunakan acuan PSAK 31 tentang Akuntansi Perbankan,
namun PSAK tersebut tidak sepenuhnya dapat dipergunakan terutama paragraf-paragraf yang
bertentangan dengan prinsip syariah misalnya paragraf tentang pengakuan, pengukuran dan penyajian
kredit.
Perkembangan Akuntansi Bank Syariah secara konkrit baru dikembangkan pada tahun 1999, Bank
Indonesia sebagai pemrakarsa, membentuk tim penyusunan PSAK Bank Syariah, yang tertuang dalam
Surat Keputusan Gubernur Bank Indonesia Nomor 1/16/KEP/DGB/1999, yang meliputi unsur-unsur
komponen dari Bank Indonesia, Ikatan Akuntan Indonesia, Bank Muamalat Indonesia dan Departemen
Keuangan, hal ini seiring dengan pesatnya perkembangan Perbankan Syariah yang merupakan
implementasi dari Undang-undang nomor 10 tahun 1998. Pembahasan draft PSAK dilakukan oleh Tim
Penyusun PSAK di bawah tanggung jawab Ikatan Akuntan Indonesia (Dewan Standar Akuntansi
Keuangan) namun jika terkait dengan masalah syariah dikonsultasikan dengan Dewan Syariah Nasional
karena sangat disadari kedua bidang ini dimiliki oleh masing-masing. Ikatan Akuntan Indonesia (IAI)
memiliki keahlian terhadap pengukuran, pengakuan dan penyajian atau hal-hal lain yang berkaitan dengan
akuntansi, dengan memerhatikan fatwa dari Dewan Syariah Nasional, sedangkan Dewan Syariah Nasional
memiliki keahlian terhadap syariah.
Tim Penyusun PSAK telah membuahkan hasil sebagaimana telah diterbitkannya Exposure Draft
Kerangka Dasar Penyusunan Laporan Keuangan Perbankan Syariah dan Exposure Draft tentang PSAK
No. 59 tentang Akuntansi Perbankan Syariah pada bulan Maret 2000. Dari hasil Exposure Draft tersebut
juga menghasilkan masukan-masukan yang sangat berarti, yang menuntut tim untuk mencermati lebih
hati-hati, khususnya yang berkaitan dengan aspek syariah. Diskusi, pertemuan dengan Dewan Syariah
Nasional secara terus-menerus dilakukan, termasuk permintaan Dewan Standar Akuntasi Keuangan
(DSAK) Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) kepada Dewan Syariah Nasional untuk mereview hasil akhir
draft PSAK Perbankan Syariah. Dewan Syariah Nasional juga memberikan opini bahwa PSAK Bank
Syariah tersebut secara umum tidak bertentangan dengan aspek syariah. PSAK 59 tentang Akuntansi
Perbankan Syariah disahkan pada tanggal 1 Mei 2002 dan secara efektif mulai berlaku tanggal 1 Januari
2003.
Sebelum diterbitkannya PSAK 59 tentang Akuntansi Perbankan Syariah, Bank Indonesia mengatur
acuan akuntansi Bank Syariah yaitu:
1. PSAK 31 tentang Akuntansi Perbankan
2. Accounting Auditing Standar for Islamic Financial Institution (terbit tahun 1998) yang dikeluarkan oleh
Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institutions. Accounting and Auditing Organization
for Islamic Financial Institutions, suatu badan usaha nirlaba yang otonom, yang didirikan pada pada 1
Safar 1410 H bertepatan dengan tanggal 27 Maret 1991 di Negara Bahrain. Pada tahun 1999 buku
tersebut dirubah namanya menjadi “Accounting, Auditing and Governance Standar for Islamic Financial
Institutions” yang membahas Accounting, Auditing dan Governance serta perubahan cakupannya.

BAB II. Sekilas Akuntansi Syariah di Indonesia | 17


B. Periode tahun 2002 sampai dengan tahun 2007
Pada periode ini, Akuntansi Syariah di Indonesia telah memiliki acuan yaitu PSAK 59 tentang
Akuntansi Perbankan Syariah. Sebagaimana tercantum dalam ruang lingkup PSAK 59 hanya diterapkan
untuk Bank Umum Syariah (BUS), Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS), dan kantor cabang syariah
Bank Konvensional. Jadi PSAK 59 tentang Akuntansi Perbankan Syariah hanya untuk Bank Syariah,
sehingga Lembaga Keuangan Syariah Non Bank yang didirikan seperti Asuransi Syariah, Pegadaian Syariah,
Lembaga Pembiayaan Syariah dan sebagainya, tidak mengikat dan tunduk pada Pernyataan Standar
Akuntansi Keuangan Nomor 59 (PSAK 59).

C. Periode setelah tahun 2008


Oleh karena PSAK 59 hanya untuk Perbankan Syariah saja sedangkan Lembaga Keuangan Syariah
Non Bank banyak berkembang maka Dewan Standar Akuntansi Keuangan – Ikatan Akuntansi Indonesia
(DSAK–IAI), merasa perlu untuk menerbitkan PSAK Syariah yang dapat dipergunakan oleh Entitas
Syariah atau entitas yang melaksanakan transaksi syariah.
Dalam pertemuan DSAK di Malang, maka Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) Ikatan
Akuntan Indonesia merasa perlu membentuk ”Komite Akuntansi Syariah” (KAS) yaitu tim khusus yang
melakukan pembahasan akuntansi syariah dan membahas tanggung jawab DSAK. Organisasi Komite
Akuntansi Syariah adalah sebagai berikut:

Komponen anggota KAS


1. DSAK (Dewan Standar Akuntansi Keuangan)
2. DSN (Dewan Syariah Nasional)
3. Regulator (Bank Indonesia, Pasar Modal)
4. Unsur Industri (Perbankan, Asuransi)
5. Praktisi dan akademisi
Pada awalnya KAS beranggotakan 12 orang, dan
dengan perkembangnya transaksi syariah di Indonesia
maka anggota KAS ditambah sesuai keahliannya.

Gambar 2-1: Kedudukan KAS

Pada periode ini, PSAK Syariah yang merupakan perubahan PSAK 59 tentang Akuntansi
Perbankan Syariah sudah dapat disahkan oleh DSAK dan dapat diterapkan suatu keharusan melaksanakan
mulai tahun buku 2008. PSAK Syariah yang disahkan tahun 2007 dan berlaku tahun buku 2008 adalah:
PSAK 101 – Penyajian Penyusunan Laporan keuangan Syariah
PSAK 102 – Akuntansi Murabahah
PSAK 103 – Akuntansi Salam
PSAK 104 – Akuntansi Istishna’
PSAK 105 – Akuntansi Mudharabah
PSAK 106 – Akuntansi Musyarakah
Jadi pada periode ini acuan akuntansi pada Lembaga Keuangan Syariah, khususnya Perbankan
Syariah mempergunakan PSAK 59 tentang akuntansi syariah dan PSAK yang berlaku umum sepanjang
tidak bertentangan dengan prinsip syariah. Sedangkan untuk Lembaga Keuangan Syariah selain perbankan
masih mempergunakan PSAK industri masing-masing. Mulai tahun buku 2008 akuntansi menunjukkan
kemajuan yang luar biasa, karena Dewan Standar Akuntansi Keuangan – Ikatan Akuntan Indonesia
(DSAK – IAI) dapat mengesahkan PSAK Syariah yaitu PSAK 101 sampai dengan PSAK 106 dan

18 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan keuangan Syariah (KDPPLKS) yang terpisah dengan
PSAK dan Kerangka Dasar Akuntansi Non Syariah.
Mulai tahun buku 2008 acuan akuntansi dipisahkan menjadi PSAK Syariah dan PSAK non Syariah,
sebagai berikut:
Akuntansi non syariah Akuntansi syariah
Kerangka dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian
keuangan (KDPPLK) Laporan keuangan Syariah (KDPPLKS)
PSAK 01 s/d PSAK 99 – untuk Transaksi Non PSAK 101 s/d PSAK 199 – untuk Transaksi
Syariah Syariah
Dalam PSAK Syariah yang baru pada dasarnya dilakukan mengacu pada prinsip syariah yang
dipergunakan, seperti 102 tentang Akuntansi Murabahah, 103 tentang Akuntansi Salam, 104 tentang
Akuntansi Istishna’, 105 tentang Akuntansi Mudharabah dan seterusnya.
Pada periode ini telah terbit PSAK Syariah lain (Exposure Draft) yang diharapkan dapat
dilaksanakan mulai tahun buku 2009 seperti:
PSAK 107-ED – Akuntansi Ijarah (disahkan 2009 dengan nomor PSAK 107)
PSAK 108-ED – Akuntansi Penyelesaian Utang Piutang Murabahah Bermasalah
PSAK 109-ED – Akuntansi Zakat, Infaq dan Shadaqah
PSAK 110-ED – Akuntansi Asuransi Hawalah
PSAK 111-ED – Akuntansi Asuransi Syariah (disahkan 2009 dengan nomor PSAK 108)
Dari PSAK yang telah diserahkan bahwa PSAK 101 sampai dengan PSAK 107 dipergunakan secara
umum oleh seluruh entitas yang melaksanakan transaksi syariah, seperti Bank Syariah, Asuransi Syariah,
Lembaga Pembiayaan Syariah, Koperasi Syariah dan sejenisnya termasuk pihak-pihak yang terkait. Disisi
lain terdapat PSAK yang hanya dipergunakan oleh industri khusus, karena memiliki karakter khusus yang
tidak dapat disampaikan dengan entitas yang lain seperti misalnya asuransi syariah, oleh karena itu dalam
melaksanakan akuntansinya industri khusus ini harus menerapkan PSAK yang berlaku umum dan juga
PSAK khusus tersebut.
Oleh karena cakupan yang sangat luas, maka pembahasan akuntansi syariah dapat dilakukan dengan
pola pemikiran sebagaimana dalam gambar sebagai berikut:

Gambar 2-2 : Pola pemahaman akuntansi syariah

BAB II. Sekilas Akuntansi Syariah di Indonesia | 19


Dari gambar tersebut di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Akuntansi Transaksi Syariah, dengan cakupan pembahasan akuntansi transaksi yang dilakukan
secara umum oleh Lembaga Keuangan Syariah dan pihak terkait sebagaimana diatur dalam PSAK
101 sampai dengan PSAK 107.
2. Akuntansi Industri Khusus seperti misalnya:
a. Akuntansi Perbankan Syariah, dengan cakupan pembahasan (hanya dari segi Perbankan
Syariah saja) akuntansi transaksi yang berlaku umum (PSAK 101 sampai dengan PSAK 107)
yang dilakukan oleh Perbankan Syariah dengan memerhatikan ketentuan Perbankan Syariah
yang berlaku antara lain Peraturan Bank Indonesia.
b. Akuntansi Asuransi Syariah, dengan cakupan pembahasan (hanya dari segi asuransi syariah
saja) akuntansi transaksi yang berlaku umum (PSAK 101 sampai dengan PSAK 107) yang
dilakukan oleh asuransi syariah ditambah dengan PSAK 108 tentang Akuntansi Asuransi
Syariah dan peraturan yang terkait dengan Asuransi Syariah antara lain Peraturan Departemen
Keuangan.
c. Akuntansi Koperasi Syariah, dengan cakupan pembahasan (hanya dari segi koperasi syariah
saja) akuntansi transaksi yang berlaku umum (PSAK 101 sampai dengan PSAK 107) yang
dilakukan oleh Koperasi Syariah ditambah dengan PSAK 27 tentang Akuntansi Koperasi
yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah dan peraturan yang terkait dengan Koperasi
Syariah antara lain Peraturan Departemen Koperasi.
d. Akuntansi Syariah Lainnya (Industri Khusus Syariah lainnya)

Mulai awal tahun 2010 dibentuk Dewan Standar Akuntansi Syariah (DSAS), dimana anggotanya
merupakan anggota ”Komite Akuntansi Syariah” dengan ditambah beberapa orang anggota. Dengan
dibentuknya Dewan Standar Akuntansi Syariah (DSAS) maka dengan demikian sudah tidak ada
lagi ”Komite Akuntansi Syariah” dan terhitung dari tahun 2010 maka yang mengesahkan PSAK Syariah
adalah Dewan Standar Akuntansi Syariah (DSAS).

2.3. Bangun Prinsip Akuntansi Syariah


Proses perlakuan akuntansi atas suatu transaksi yang terjadi harus dilakukan sesuai dengan prinsip
akuntansi yang berlaku umum. Bangun prinsip akuntansi syariah yang berlaku umum di Indonesia adalah
sebagai berikut:

Gambar 2-3 : Bangun Prinsip Akuntansi Syariah

20 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


Rerangka ini digambarkan seperti suatu bangunan rumah ‘Prinsip Akuntansi Syariah yang Berlaku
Umum di Indonesia’. Setiap lapisan di bawahnya menjadi landasan bagi lapisan yang berada di atasnya.
Dalam hal terjadi pertentangan antara prinsip akuntansi dari berbagai sumber tersebut, (para) auditor harus
mengikuti perlakukan akuntansi yang diatur di dalam kelompok yang posisinya menjadi landasan atau pada
lapisan yang terletak lebih di bawah.
Pedoman ini merupakan bagian dari pedoman atau kodifikasi praktik akuntansi industri dalam
struktur bangun prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
Dalam akuntansi syariah memiliki landasan utama, yaitu landasan syariah yang bersumber pada Al
Quran, Al Hadist dan Fatwa Syariah yang dikeluarkan oleh lembaga yang berhak (Dewan Syariah
Nasional). Oleh karena itu seluruh ketentuan akuntansi yang bertentangan dengan prinsip syariah
(landasan syariah) tidak boleh dipergunakan. Hal ini dapat dilihat dalam Kerangka Dasar Penyusunan
Penyajian Laporan keuangan Syariah (KDPPLKS) paragraf 128 yang menjelaskan sebagai berikut:
128. Sejumlah dasar pengukuran yang berbeda digunakan dalam derajat dan kombinasi yang berbeda
dalam laporan keuangan. Berbagai dasar pengukuran tersebut adalah sebagai berikut:
(a) Biaya historis. Aset dicatat sebesar pengeluaran kas (atau setara kas) yang dibayar atau
sebesar nilai wajar dari imbalan (consideration) yang diberikan untuk memperoleh aset
tersebut pada saat perolehan. Kewajiban dicatat sebesar jumlah yang diterima sebagai
penukar dari kewajiban (obligation), atau dalam keadaan tertentu (misalnya, pajak
penghasilan), dalam jumlah kas (atau setara kas) yang diharapkan akan dibayarkan untuk
memenuhi kewajiban dalam pelaksanaan usaha yang normal.
(b) Biaya kini (current cost). Aset dinilai dalam jumlah kas (atau setara kas) yang seharusnya
dibayar bila aset yang sama atau setara aset diperoleh sekarang. Kewajiban dinyatakan
dalam jumlah kas (atau setara kas) yang tidak didiskontokan (undiscounted) yang mungkin
akan diperlukan untuk menyelesaikan kewajiban (obligation) sekarang.
(c) Nilai realisasi/penyelesaian (realisable/settlement value). Aset dinyatakan dalam jumlah kas
(atau setara kas) yang dapat diperoleh sekarang dengan menjual aset dalam pelepasan
normal (orderly disposal). Kewajiban dinyatakan sebesar nilai penyelesaian; yaitu, jumlah kas
(atau setara kas) yang tidak didiskontokan yang diharapkan akan dibayarkan untuk
memenuhi kewajiban dalam pelaksanaan usaha normal.
Dari ketentuan tersebut di atas terdapat satu pengukuran yang dilakukan untuk laporan keuangan
konvensional tidak diperkenankan untuk dipergunakan pada Laporan keuangan Syariah yaitu “present
value”. Hal ini didasarkan Surah Lukman 34 yang berbunyi:
“ Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang
menurunkan hujan, dan mengetahui pada yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui
(dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tidak seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana
dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”
Segala sesuatu ke depan mutlak milik Allah SWT, sehingga tidak diperkenankan untuk mencampuri
urusan Allah SWT. Hal ini juga dapat dilihat dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional yang menetapkan
bahwa hasil usaha yang dibagikan kepada pemodal sebagai pemilik dana adalah hasil usaha yang nyata-
nyata diterima, artinya hasil usaha yang masih dalam pengakuan (akrual) tidak diperkenankan untuk
dibagikan, karena pendapatan akrual tersebut belum diketahui diterima atau tidak.
Dalam Kerangka Dasar Penyajian Pengungkapan Laporan keuangan (KDPPLK) dalam akuntansi umum
paragraf 100 butir d menjelaskan bahwa nilai sekarang (Present Value). Aset dinyatakan sebesar arus kas
masuk bersih dimasa depan yang didiskontokan ke nilai sekarang dari pos yang diharapkan dapat
memberikan hasil dalam pelaksanaan usaha normal. Kewajiban dinyatakan sebesar arus kas keluar bersih
dimasa depan yang didiskontokan ke nilai sekarang yang diharapkan akan diperlukan untuk menyelesaikan
kewajiban dalam pelaksanaan usaha normal.

BAB II. Sekilas Akuntansi Syariah di Indonesia | 21


2.4. Pemakai dan Kebutuhan Informasi Akuntansi Syariah
Pemakai laporan keuangan meliputi investor sekarang dan investor potensial; pemilik dana qardh;
pemilik dana investasi mudharabah; pemilik dana titipan; pembayar dan penerima zakat, infak, sedekah dan
wakaf; pengawas syariah; karyawan; pemasok dan mitra usaha lainnya; pelanggan; pemerintah serta
lembaga-lembaganya; dan masyarakat. Mereka menggunakan laporan keuangan untuk memenuhi beberapa
kebutuhan informasi yang berbeda. Beberapa kebutuhan ini meliputi:
(a) Investor dan penasehat berkepentingan dengan risiko yang melekat serta hasil pengembangan dari
investasi yang mereka lakukan. Mereka membutuhkan informasi untuk membantu menentukan
apakah harus membeli, menahan atau menjual investasi tersebut. Pemegang saham juga tertarik pada
informasi yang memungkinkan mereka untuk menilai kemampuan entitas syariah untuk membayar
dividen.
(b) Pemberi dana qardh tertarik dengan informasi keuangan yang memungkinkan mereka untuk
memutuskan apakah dana qardh dapat dibayar pada saat jatuh tempo.
(c) Pemilik dana syirkah temporer yang berkepentingan akan informasi keuangan yang memungkinkan
mereka untuk mengambil keputusan investasi dengan tingkat keuntungan yang bersaing dan aman.
(d) Pemilik dana titipan tertarik dengan informasi keuangan yang memungkinkan mereka untuk
memutuskan apakah dana titipan dapat diambil setiap saat.
(e) Pembayar dan penerima zakat, infak, sedekah dan wakaf, serta mereka yang berkepentingan akan
informasi mengenai sumber dan penyaluran dana tersebut.
(f) Pengawas syariah yang berkepentingan dengan informasi tentang kepatuhan pengelola bank akan
prinsip syariah.
(g) Karyawan dan kelompok-kelompok yang mewakili mereka tertarik pada informasi mengenai
stabilitas dan profitabilitas entitas syariah. Mereka juga tertarik dengan informasi yang
memungkinkan mereka untuk menilai kemampuan entitas syariah dalam memberikan balas jasa,
manfaat pensiun dan kesempatan kerja.
(h) Pemasok dan mitra usaha lainnya tertarik dengan informasi yang memungkinkan mereka untuk
memutuskan apakah jumlah yang terhutang akan dibayar pada saat jatuh tempo. Mitra usaha
berkepentingan pada entitas syariah dalam tenggang waktu yang lebih pendek daripada pemberi
pinjaman qardh kecuali kalau sebagai pelanggan utama mereka tergantung pada kelangsungan hidup
entitas syariah.
(i) Para pelanggan berkepentingan dengan informasi mengenai kelangsungan hidup entitas syariah,
terutama kalau mereka terlibat dalam perjanjian jangka panjang dengan, atau tergantung pada, entitas
syariah.
(j) Pemerintah. Pemerintah dan berbagai lembaga yang berada di bawah kekuasaannya berkepentingan
dengan alokasi sumber daya dan karena itu berkepentingan dengan aktivitas entitas syariah. Mereka
juga membutuhkan informasi untuk mengatur aktivitas entitas syariah, menetapkan kebijakan pajak
dan sebagai dasar untuk menyusun statistik pendapatan nasional dan statistik lainnya.
(k) Entitas syariah memengaruhi anggota masyarakat dalam berbagai cara. Misalnya, entitas syariah
dapat memberikan kontribusi berarti pada perekonomian nasional, termasuk jumlah orang yang
dipekerjakan dan perlindungan kepada penanam modal domestik. Laporan keuangan dapat
membantu masyarakat dengan menyediakan informasi kecenderungan (trend) dan perkembangan
terakhir kemakmuran entitas syariah serta rangkaian aktivitasnya.
Informasi akuntansi yang disajikan dalam Laporan keuangan bersifat umum. Dengan demikian tidak
sepenuhnya dapat memenuhi kebutuhan informasi setiap pemakai. Berhubung para investor saham dan
pemilik dana syirkah temporer merupakan penanam modal/dana berisiko ke entitas syariah, maka
ketentuan laporan keuangan yang memenuhi kebutuhan mereka juga akan memenuhi sebagian besar
kebutuhan pemakai lain.

22 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


Manajemen entitas syariah memikul tanggung jawab utama dalam Penyusunan dan Penyajian
Laporan keuangan Entitas Syariah. Manajemen juga berkepentingan dengan informasi yang disajikan
dalam Laporan keuangan meskipun memiliki akses terhadap informasi manajemen dan keuangan
tambahan yang membantu dalam melaksanakan tanggung jawab perencanaan, pengendalian dan
pengambilan keputusan. Manajemen memiliki kemampuan untuk menentukan bentuk dan isi informasi
tambahan tersebut untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Namun demikian, pelaporan informasi
semacam itu berada di luar ruang lingkup kerangka dasar ini. Bagaimanapun juga, laporan keuangan yang
diterbitkan didasarkan pada informasi yang digunakan manajemen tentang posisi keuangan, kinerja serta
perubahan posisi keuangan.

2.5. Asumsi Dasar Akuntansi Syariah


Asumsi dasar yang dipergunakan dalam akuntansi syariah tidak beda dengan asumsi dasar pada
akuntansi umum yaitu asumsi kelangsungan usaha (going concern) dan dasar akrual (accrual basis).

A. Kelangsungan Usaha
Laporan keuangan biasanya disusun atas dasar asumsi kelangsungan usaha entitas syariah dan akan
melanjutkan usahanya di masa depan. Karena itu, entitas syariah diasumsikan tidak bermaksud atau
berkeinginan melikuidasi atau mengurangi secara material skala usahanya. Jika maksud atau keinginan
tersebut timbul, Laporan keuangan mungkin harus disusun dengan dasar yang berbeda dan dasar yang
digunakan harus diungkapkan.
Manajemen bertanggung jawab untuk mempertimbangkan apakah asumsi kelangsungan usaha
masih layak dipergunakan dalam menyiapkan laporan keuangan. Dalam mempertimbangkan apakah
asumsi dasar kelangsungan usaha dapat digunakan, manajemen mempertimbangkan semua informasi masa
depan yang relevan paling sedikit untuk jangka waktu 12 bulan dari tanggal Neraca. Tingkat pertimbangan
bergantung pada kasus demi kasus. Apabila selama ini perusahaan menghasilkan laba dan mempunyai
akses ke sumber pembiayaan, maka asumsi kelangsungan usaha mungkin dapat disimpulkan tanpa melalui
analisis rinci. Dalam kasus lain, manajemen perlu memperhatikan faktor yang mempengaruhi profitabilitas
masa kini maupun masa depan, jadwal pembayaran utang, dan sumber potensial pembiayaan pengganti
sebelum dapat menyimpulkan bahwa asumsi kelangsungan usaha dapat digunakan.

B. Dasar Akrual
Dalam asumsi dasar akrual, aset, kewajiban, ekuitas, penghasilan, dan beban diakui pada saat
kejadian bukan saat kas atau setara kas diterima dan dicatat serta disajikan dalam laporan keuangan pada
periode terjadinya. Beban diakui dalam laporan laba rugi atas dasar hubungan langsung antara biaya yang
timbul dengan pos penghasilan tertentu yang diperoleh. Proses yang biasanya disebut pengaitan biaya
dengan pendapatan (matching concept) melibatkan secara bersamaan atau gabungan penghasilan dan beban
yang dihasilkan secara langsung dan bersama-sama dari transaksi atau peristiwa lain yang sama. Misalnya,
berbagai komponen beban yang membentuk harga pokok penjualan diakui pada saat yang sama dengan
pengakuan penghasilan yang diperoleh dari penjualan barang yang bersangkutan. Namun demikian
penggunaan konsep “matching” tidak diperkenankan pengakuan pos dalam neraca yang tidak memenuhi
kriteria pengakuan aset dan kewajiban. Beban segera diakui dalam laporan laba rugi jika pengeluaran tidak
menghasilkan manfaat ekonomi masa depan atau sepanjang manfaat ekonomi masa depan tidak lagi
memenuhi syarat untuk diakui dalam neraca sebagai aset.
Untuk mencapai tujuannya, laporan keuangan disusun atas dasar akrual. Dengan dasar ini, pengaruh
transaksi dan peristiwa lain diakui pada saat kejadian (dan bukan pada saat kas atau setara kas diterima atau
dibayar) dan diungkapkan dalam catatan akuntansi serta dilaporkan dalam laporan keuangan pada periode
yang bersangkutan. Laporan keuangan yang disusun atas dasar akrual memberikan informasi kepada

BAB II. Sekilas Akuntansi Syariah di Indonesia | 23


pemakai tidak hanya transaksi masa lalu yang melibatkan penerimaan dan pembayaran kas tetapi juga
kewajiban pembayaran kas di masa depan serta sumber daya yang merepresentasikan kas yang akan
diterima di masa depan. Oleh karena itu, laporan keuangan menyediakan jenis informasi transaksi masa
lalu dan peristiwa lainnya yang paling berguna bagi pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi.
Penghitungan pendapatan untuk tujuan pembagian hasil usaha menggunakan dasar kas. Dalam hal
prinsip pembagian hasil usaha berdasarkan bagi hasil, pendapatan atau hasil yang dimaksud adalah
keuntungan bruto (gross profit).
Jadi asumsi dasar akrual dipergunakan dalam penyusunan laporan keuangan syariah, sedangkan
pendapatan yang dipergunakan sebagai dasar perhitungan pembagian hasil usaha kepada pemilik modal
mudharabah (dalam perbankan sering disebut dengan Dana Pihak Ketiga Mudharabah) adalah pendapatan
yang nyata-nyata diterima (cash basis). Lembaga Keuangan Syariah dalam Laporan keuangannya harus
mengungkapkan (disclosure) pendapatan atas dasar akrual dan pendapatan cash basisnya. Dalam Lembaga
Keuangan Syariah sebagian dari pendapatan pengelolaan dana mudharabah yang nyata-nyata diterima (cash
basis) merupakan pendapatan hak pemilik dana mudharabah. Tujuannya untuk memberikan informasi yang
lengkap kepada pengguna laporan keuangan dalam melakukan analisa/telaan kinerja yang dilakukan oleh
Lembaga Keuangan Syariah dan kebutuhan analisa laporan keuangan syariah lainnya. Oleh karena itu
transparansi, kejujuran, amanah merupakan prinsip yang harus dipegang oleh Lembaga Keuangan Syariah
sebagai pengelola modal (mudharib).
Pendapatan dalam Laporan Laba Rugi Lembaga Keuangan Syariah dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 2-4 : asumsi dasar akrual


Dalam gambar tersebut di atas dapat dilihat bahwa pendapatan yang ada pada Laporan Laba Rugi
Lembaga Keuangan Syariah, merupakan pendapatan yang diakui secara akrual dan pendapatan yang nyata-
nyata diterima (cash basis). Pendapatan yang nyata-nyata diterima merupakan dasar yang dipergunakan
dalam perhitungan pembagian hasil usaha (profit distribution). Dalam laporan keuangan LKS
mempergunakan asumsi dasar akrual, sehingga baik pendapatan cash basis maupun pendapatan akrual
tercantum dalam laporan keuangan, namun untuk kepentingan pembagian hasil usaha (profit distribusi)
harus mempergunakan pendapatan cash basis, oleh karenanya LKS harus dapat memisahkan pendapatan
akrual dan pendapatan cash basis.
Sebelum PSAK 59 tentang Akuntansi Perbankan Syariah dan PSAK Syariah diterbitkan banyak
yang mengatakan Bank Syariah mempergunakan dasar kas (cash basis). Betulkah demikian? Untuk
mengetahui hal tersebut dapat digambarkan secara sederhana neraca Bank Syariah sebagai berikut:

24 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


Gambar 2-5 : Pos-pos neraca akrual sebelum PSAK 59
Jika dilihat dari gambar tersebut di atas aktiva Bank Syariah dapat dikategorikan dalam kelompok (1)
aktiva produktif, yaitu aktiva yang diharapkan menghasilkan dan atau mengandung risiko seperti misalnya
aktiva yang dicatat dari jual beli (murabahah salam dan istishna’), dari ujroh (ijarah dan ijarah muntahia
bittamlik) dan dari bagi hasil ( mudharabah dan musyarakah), (2) aktiva tetap adalah aktiva yang
dipergunakan sendiri oleh Bank Syariah untuk mendukung kegiatan usaha Bank Syariah misalnya gedung,
inventaris kantor, komputer dan sebagainya, (3) aktiva lain yaitu aktiva yang tidak dapat diketegorikan
dalam kelompok tersebut di atas. Sebelum PSAK Syariah diterbitkan yang dilakukan untuk pengakuan
dengan cash basis adalah pengakuan pendapatan yang terkait dengan aktiva produktif. Untuk aktiva tetap
dilakukan penyusutan (depresiasi) dan aktiva lainnya dilakukan pengurangan nilai dengan amortisasi. Baik
depresiasi maupun amortisasi merupakan salah satu metode akrual. Oleh karena itu sebelum PSAK
Syariah diterbitkan Bank Syariah tidak murni melaksanakan cash basis dan juga tidak murni melakukan
akrual basis, yang lebih tepat adalah dasar kas modifikasi (cash basis modified), dimana motode ini tidak
dikenal dalam sistem akuntansi di Indonesia.

2.6. Proses (siklus) Akuntansi Syariah


Proses/siklus akuntansi perbankan syariah, mulai bukti transaksi sampai dengan laporan keuangan
sama dengan proses/siklus akuntansi umum, (Sofyan Safri, Teori Akuntansi, hal 9) yaitu:

Gambar 2-6 : alur akuntansi

BAB II. Sekilas Akuntansi Syariah di Indonesia | 25


Proses akuntansi syariah tidak berbeda dengan alur atau proses akuntansi umum yaitu dimulai dari
adanya transaksi yang dilakukan, dibuat jurnal kemudian dibukukan dalam ledger atau buku besar,
diterbitkan neraca percobaan, jurnal penyesuaian hingga diterbitkan laporan keuangan. Dalam praktik,
terutama apabila Bank Syariah dalam penataan akuntansinya telah menggunakan komputer, alurnya
dimulai dari bukti transaksi yang merupakan input dengan mempergunakan kode debet dan kode kredit,
kemudian setelah transaksi dalam hari tersebut selesai, beberapa kegiatan proses akuntansi ditangani oleh
komputer sebagai proses yaitu jurnal, pembukuan dalam buku besar sampai dengan neraca percobaan atau
neraca saldo, dan akhirnya pada setiap akhir tanggal transaksi diterbitkan seperangkat laporan keuangan
Bank Syariah yang merupakan output. Apabila Bank Syariah telah menggunakan komputer dalam penataan
akuntansinya, yang diketahui oleh pada pelaksana hanya kode transaksi debet dan kode transaksi kredit,
bahkan terdapat beberapa transaksi yang jurnalnya dilakukan secara otomasi oleh komputer, dan akhirnya
pelaksana hanya mengetahui cetakan seperangkat laporan keuangan. Proses atau siklus akuntansi yang
penataan akuntansinya dilakukan komputer dapat digambarkan sebagai berikut:
SISTEM EKONOMI KAPITALIS

SISTEM EKONOMI ISLAM


Ditangani komputer

Gambar 2-7 : alur akuntansi komputerisasi


Jurnal penyesuaian, jurnal penutup dan jurnal koreksi (jika diperlukan) dilakukan pada hari kerja
berikutnya atau dilakukan oleh kantor akuntan yang melakukan pemeriksaan atas laporan keuangan
tersebut. Jika akuntansi konvensional dilandasi pada pemikiran-pemikiran sistem ekonomi kapitalis, maka
dalam akuntansi syariah dilandasi pada sistem ekonomi Islam, sehingga perlu kesamaan persepsi tentang
transaksi syariah, akun-akun dan akuntansi syariah dan laporan keuangan syariah.

2.7. Transaksi Syariah


Informasi akuntansi yang diperoleh oleh penggunanya sangat dipengaruhi oleh ketepatan,
kebenaran dan keakuratan data pada laporan keuangan entitas yang bersangkutan. Laporan keuangan
Entitas Syariah ini sangat dipengaruhi oleh transaksi yang dilakukan oleh Lembaga Keuangan Syariah.
Banyak pelaksana Lembaga Keuangan Syariah memiliki paradigma yang sama dengan paradigma yang
dilakukan oleh Lembaga Keuangan Non Syariah lainnya. Dalam Kerangka dasar Penyajian Penyusunan
Laporan keuangan Syariah (KDPPLK) telah dijelaskan secara rinci dan panjang lebar tentang paradigma
transaksi syariah, azas transaksi syariah, karakteristik transaksi syariah.

26 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


A. Paradigma Transaksi Syariah
Proses awal akuntansi syariah adalah adanya data dasar yang berupa dokumen pembukuan yang
berisikan informasi transaksi yang dilakukan oleh entitas syariah. Transaksi syariah berlandaskan pada
paradigma dasar bahwa alam semesta dicipta oleh Tuhan sebagai amanah (kepercayaan Ilahi) dan sarana
kebahagiaan hidup bagi seluruh umat manusia untuk mencapai kesejahteraan hakiki secara material dan
spiritual (al-falah). Paradigma dasar ini menekankan setiap aktivitas umat manusia memiliki akuntabilitas
dan nilai illahiah yang menempatkan perangkat syariah dan akhlak sebagai parameter baik dan buruk, benar
dan salahnya aktivitas usaha. Paradigma ini akan membentuk integritas yang membantu terbentuknya
karakter tata kelola yang baik (good governance) dan disiplin pasar (market discipline) yang baik. Syariah
merupakan ketentuan hukum Islam yang mengatur aktivitas umat manusia yang berisi perintah dan
larangan, baik yang menyangkut hubungan interaksi vertikal dengan Tuhan maupun interaksi horisontal
dengan sesama makhluk. Prinsip Syariah yang berlaku umum dalam kegiatan muamalah (Transaksi
Syariah) mengikat secara hukum bagi semua pelaku dan stakeholder entitas yang melakukan transaksi syariah.
Akhlak merupakan norma dan etika yang berisi nilai-nilai moral dalam interaksi sesama makhluk agar
hubungan tersebut menjadi saling menguntungkan, sinergis dan harmonis.

B. Asas Transaksi Syariah


Transaksi yang dilakukan oleh Entitas Syariah berasaskan pada prinsip paradigma sebagai berikut:
1) Persaudaraan (ukhuwah);
Prinsip persaudaraan (ukhuwah) esensinya merupakan nilai universal yang menata interaksi
sosial dan harmonisasi kepentingan para pihak untuk kemanfaatan secara umum dengan semangat
saling tolong menolong. Transaksi Syariah menjunjung tinggi nilai kebersamaan dalam memperoleh
manfaat (sharing economics) sehingga seseorang tidak boleh mendapat keuntungan di atas kerugian
orang lain. Ukhuwah dalam transaksi syariah berdasarkan prinsip saling mengenal (ta’aruf), saling
memahami (tafahum), saling menolong (ta’awun), saling menjamin (takaful), saling bersinergi dan
beraliansi (tahaluf).
2) Keadilan (‘adalah);
Prinsip keadilan (‘adalah) esensinya menempatkan sesuatu hanya pada tempatnya dan
memberikan sesuatu hanya pada yang berhak serta memperlakukan sesuatu sesuai posisinya.
Implementasi keadilan dalam kegiatan usaha berupa aturan prinsip muamalah yang melarang adanya
unsur:
(a) Riba (unsur bunga dalam segala bentuk dan jenisnya, baik riba nasiah maupun fadhl);
Esensi riba adalah setiap tambahan pada pokok piutang yang dipersyaratkan dalam
transaksi pinjam-meminjam serta derivasinya dan transaksi tidak tunai lainnya, dan setiap
tambahan yang disyaratkan dalam transaksi pertukaran antar barang-barang ribawi termasuk
pertukaran uang (money exchange) yang sejenis secara tunai maupun tangguh dan yang tidak
sejenis secara tidak tunai.
(b) Kezaliman (unsur yang merugikan diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan);
Esensi kezaliman (dzulm) adalah menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya,
memberikan sesuatu tidak sesuai ukuran, kualitas dan temponya, mengambil sesuatu yang
bukan haknya dan memperlakukan sesuatu tidak sesuai posisinya. Kezaliman dapat
menimbulkan kemudharatan bagi masyarakat secara keseluruhan, bukan hanya sebagian; atau
membawa kemudharatan bagi salah satu pihak atau pihak-pihak yang melakukan transaksi.
(c) Maysir (unsur judi dan sikap spekulatif);
Esensi maysir adalah setiap transaksi yang bersifat spekulatif dan tidak berkaitan
dengan produktivitas serta bersifat perjudian (gambling).
(d) Gharar (unsur ketidakjelasan); dan

BAB II. Sekilas Akuntansi Syariah di Indonesia | 27


Esensi gharar adalah setiap transaksi yang berpotensi merugikan salah satu pihak
karena mengandung unsur ketidakjelasan, manipulasi dan eksploitasi informasi serta tidak
adanya kepastian pelaksanaan akad. Bentuk-bentuk gharar antara lain:
(1) tidak adanya kepastian penjual untuk menyerahkan obyek akad pada waktu terjadi
akad, baik obyek akad itu sudah ada maupun belum ada;
(2) menjual sesuatu yang belum berada di bawah penguasaan penjual;
(3) tidak adanya kepastian kriteria kualitas dan kuantitas barang/jasa;
(4) tidak adanya kepastian jumlah harga yang harus dibayar dan alat pembayaran;
(5) tidak adanya ketegasan jenis dan obyek akad;
(6) kondisi obyek akad tidak dapat dijamin kesesuaiannya dengan yang ditentukan dalam
transaksi;
(7) adanya unsur eksploitasi salah satu pihak karena informasi yang kurang atau
dimanipulasi dan ketidaktahuan atau ketidakpahaman yang ditransaksikan.
(e) Haram (unsur haram baik dalam barang maupun jasa serta aktivitas operasional yang terkait).
Esensi haram adalah segala unsur yang dilarang secara tegas dalam Al-Quran dan As-Sunah.
3) Kemaslahatan (mashlahah);
Prinsip kemaslahatan (mashlahah) esensinya merupakan segala bentuk kebaikan dan manfaat
yang berdimensi duniawi dan ukhrawi, material dan spiritual, serta individual dan kolektif.
Kemaslahatan yang diakui harus memenuhi dua unsur yakni kepatuhan syariah (halal) serta
bermanfaat dan membawa kebaikan (thayib) dalam semua aspek secara keseluruhan yang tidak
menimbulkan kemudharatan. Transaksi syariah yang dianggap bermaslahat harus memenuhi secara
keseluruhan unsur-unsur yang menjadi tujuan ketetapan syariah (maqasid syariah) yaitu berupa
pemeliharaan terhadap:
(a) akidah, keimanan dan ketakwaan (dien);
(b) intelek (‘aql);
(c) keturunan (nasl);
(d) jiwa dan keselamatan (nafs); dan
(e) harta benda (mal).
4) Keseimbangan (tawazun); dan
Prinsip keseimbangan (tawazun) esensinya meliputi keseimbangan aspek material dan
spiritual, aspek privat dan publik, sektor keuangan dan sektor riil, bisnis dan sosial, dan
keseimbangan aspek pemanfaatan dan pelestarian. Transaksi syariah tidak hanya menekankan pada
maksimalisasi keuntungan perusahaan semata untuk kepentingan pemilik (shareholder). Sehingga
manfaat yang didapatkan tidak hanya difokuskan pada pemegang saham, akan tetapi pada semua
pihak yang dapat merasakan manfaat adanya suatu kegiatan ekonomi.
5) Universalisme (syumuliyah)
Prinsip universalisme (syumuliyah) esensinya dapat dilakukan oleh, dengan, dan untuk semua
pihak yang berkepentingan (stakeholder) tanpa membedakan suku, agama, ras dan golongan, sesuai
dengan semangat kerahmatan semesta (rahmatan lil alamin).
Banyak Lembaga Keuangan Syariah yang melaksanakan usahanya secara eksklusif, sedangkan seperti
diketahui bahwa sektor ekonomi tidak bisa dilaksanakan oleh pihak-pihak tertentu, bahkan ekonomi
dikendalikan oleh pihak-pihak yang diluar eksklusifme yang diciptakan. Banyak pihak yang beranggapan
bahwa pelaksanakan ekonomi syariah hanya untuk muslim atau nasabah yang beragama Islam. Hal yang
demikian tidak tepat, memang betul seluruh ketentuan dalam Lembaga Keuangan Syariah berasal dari
hukum Islam, namun pelaksana dan pihak-pihak yang melakukan (nasabah) dapat dilaksanakan oleh non
Islam, karena dalam melaksanakan transaksi Lembaga Keuangan Syariah mempergunakan azas universal
dan hal demikian telah dicontohkan oleh Rasul yang dijelaskan dalam hadist yang mengatakan Rasul
membeli gandum dari Yahudi dan Beliau menggadaikan baju besinya. Transaksi syariah terikat dengan
nilai-nilai etis meliputi aktivitas sektor keuangan dan sektor riil yang dilakukan secara koheren tanpa
dikotomi sehingga keberadaan dan nilai uang merupakan cerminan aktivitas investasi dan perdagangan.

28 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


C. Karakteristik Transaksi Syariah
Implementasi transaksi yang sesuai dengan paradigma dan azas transaksi syariah harus memenuhi
karakteristik dan persyaratan sebagai berikut:
1) transaksi hanya dilakukan berdasarkan prinsip saling paham dan saling ridha;
2) prinsip kebebasan bertransaksi diakui sepanjang objeknya halal dan baik (thayib);
3) uang hanya berfungsi sebagai alat tukar dan satuan pengukur nilai, bukan sebagai komoditas;
4) tidak mengandung unsur riba; kezaliman; maysir; gharar; haram;
5) tidak menganut prinsip nilai waktu dari uang (time value of money) karena keuntungan yang didapat
dalam kegiatan usaha terkait dengan risiko yang melekat pada kegiatan usaha tersebut sesuai dengan
prinsip al-ghunmu bil ghurmi (no gain without accompanying risk);
6) transaksi dilakukan berdasarkan suatu perjanjian yang jelas dan benar serta untuk keuntungan semua
pihak tanpa merugikan pihak lain sehingga tidak diperkenankan menggunakan standar ganda harga
untuk satu akad serta tidak menggunakan dua transaksi bersamaan yang berkaitan (ta’alluq) dalam
satu akad;
7) tidak ada distorsi harga melalui rekayasa permintaan (najasy), maupun melalui rekayasa penawaran
(ihtikar); dan
8) tidak mengandung unsur kolusi dengan suap menyuap (risywah).
Transaksi syariah dapat berupa aktivitas bisnis yang bersifat komersial maupun aktivitas sosial yang
bersifat nonkomersial. Transaksi syariah komersial dilakukan antara lain berupa: investasi untuk
mendapatkan bagi hasil; jual beli barang untuk mendapatkan laba; dan atau pemberian layanan jasa untuk
mendapatkan imbalan. Transaksi syariah non komersial dilakukan antara lain berupa: pemberian dana
pinjaman atau talangan (qardh); penghimpunan dan penyaluran dana sosial seperti zakat, infak, sedekah,
wakaf dan hibah.

2.8. Akun-akun Akuntansi Syariah


Akun yang dipergunakan dalam akuntansi syariah pada Lembaga Keuangan Syariah lebih banyak
dibandingkan dengan akun-akun yang umumnya dipergunakan oleh Lembaga Keuangan Konvensional,
karena masing-masing prinsip syariah pada Lembaga Keuangan Syariah memiliki perlakuan akuntansi
masing-masing yang mengakibatkan adanya akun masing-masing. Penyajian dari akun dalam akuntansi
syariah telah diatur pada masing-masing PSAK yang terkait dan secara rinci akun-akun yang dipergunakan
sehubungan dengan akuntansi syariah dibahas dalam bab yang terkait.
Pembagian akun dalam Akuntansi Syariah dapat dikelompokkan menjadi beberapa kelompok, yaitu
akun riil (neraca), akun nominal (laba rugi) dan ekstra komtabel yang masing-masing memiliki karakteristik
berbeda-beda.

A. Akun riil (akun Laporan Posisi Keuangan/neraca)


Akun ini akan menghasilkan Laporan Posisi Keuangan (Neraca) dan memiliki karakteristik bahwa
saldo akhir tutup buku akan dipindahkan sebagai saldo awal tahun buku berikutnya. Akun riil pada
Lembaga Keuangan Syariah harus mencerminkan transaksi Lembaga Keuangan Syariah yang tidak
membedakan sektor riil atau sektor keuangan, oleh karena itu akun-akun yang dipergunakan oleh Lembaga
keuangan Syariah merupakan gabungan dari beberapa akun yaitu akun-akun yang dipergunakan oleh
Lembaga Keuangan yang bergerak di sektor keuangan seperti perbankan, akun-akun yang dipergunakan
oleh Lembaga Pembiayaan seperti leasing, consumer financing, akun-akun yang dipergunakan oleh kontruksi
dan juga perdagangan. Secara garis besar akun-akun riil dalam akuntansi syariah dapat digambarkan
sebagai berikut:

BAB II. Sekilas Akuntansi Syariah di Indonesia | 29


Gambar 2-8 : hubungan akun neraca dengan prinsip syariah
Dari gambar tersebut beberapa akun pada akuntansi syariah yang terkait prinsip syariah yang
dilaksanakan oleh Lembaga Keuangan Syariah adalah sebagai berikut:
1) Kelompok Aktiva
Kelompok ini dipergunakan salah satunya untuk mencatat pengelolaan dana yang dilakukan oleh
Lembaga Keuangan Syariah, baik yang dilakukan dengan prinsip jual beli, prinsip ujroh maupun
prinsip bagi hasil, dimana masing-masing prinsip memiliki karakteristik akun sendiri-sendiri.
a) Akun untuk Prinsip Jual Beli
Jika Lembaga Keuangan Syariah menyalurkan dana dengan prinsip jual beli, yang
meliputi murabahah, salam dan istishna’, maka akun yang dipergunakan adalah “Piutang”.
Oleh karena itu dalam penyajian Laporan Posisi Keuangan (Neraca) Lembaga Keuangan
Syariah terdapat akun piutang murabahah, piutang salam dan piutang istishna’. Jika seseorang
melakukan jual beli dan pembayarannya dilakukan dengan tanggung maka pada penjual timbul
akun “piutang”. Sedangkan pada pihak terkait (pembeli) akun yang dipergunakan adalah
“hutang” sehingga dalam Laporan Posisi Keuangan (Neraca) pembeli timbul akun hutang
murabahah, hutang salam dan hutang istishna’. Dalam perbankan syariah akun piutang
merupakan salah satu aktiva produktif.
b) Akun untuk Prinsip Ujroh
Kelompok lain dari penyaluran dana yang dilakukan oleh Lembaga Keuangan Syariah
adalah prinsip ujroh (upah) yang meliputi Ijarah, Ijarah Muntahia Bittamllik (IMBT), Sewa
Berlanjut dan sejenisnya. Akun yang dipergunakan dalam transaksi Ijarah ini adalah “Aktiva
Ijarah”. Aktiva Ijarah bukan merupakan aktiva tetap tetapi merupakan aktiva produktif yaitu
aktiva yang diharapkan menghasilkan. Jika dalam akuntansi leasing, pencatatan aset yang
disewakan dilakukan oleh lessee, tetapi dalam transaksi Ijarah pencatatan aset atau obyek sewa
yang disewakan tetap dilakukan pada lessor. Oleh karena aktiva tersebut dicatat pada lessor maka
lessor juga melakukan penyusutan dan pemeliharaan dari aktiva tersebut.
c) Akun untuk Prinsip Bagi Hasil
Prinsip lain yang dilakukan dalam penyaluran dana yang dilakukan oleh Lembaga
Keuangan Syariah adalah “prinsip bagi hasil” yang terdiri dari Mudharabah dan Musyarakah.
Akun yang dipergunakan dalam prinsip bagi hasil oleh pemilik dana adalah “Investasi” (dalam
PSAK 59 disebut pembiayaan). Dalam transaksi ini dapat dilakukan secara bertahap oleh
karena itu dipihak lain prinsip bagi hasil ini memiliki akun pada Kewajiban Komitmen.
Sedangkan akun yang dipergunakan pada akuntansi pengelolaan dana adalah “Dana Syirkah
Temporer” yang akan dibahas lebih lanjut pada butir berikutnya.

30 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


2) Kelompok Pasiva
Kelompok ini dipergunakan untuk mencatat sumber dana yang diterima oleh Lembaga Keuangan
Syariah, baik dalam bentuk prinsip wadiah maupun dalam bentuk prinsip mudharabah.
a). Akun untuk Prinsip Wadiah (sumber dana)
Salah satu prinsip yang dipergunakan dalam penghimpunan dana (sumber dana) yang
dilakukan oleh Lembaga Keuangan Syariah dalah “prinsip wadiah”. Tanpa membedakan
produk jika prinsipnya adalah wadiah maka akun yang dipergunakan adalah “Titipan” pada
unsur “Kewajiban”. Sebagai unsur kewajiban karena prinsip wadiah yang dilaksanakan oleh
Lembaga Keuangan Syariah adalah “wadiah yad dhamanah’” yaitu penerima titipan atas seijin
penitip diperkenankan mengambil manfaat barang yang dititipkan, tetapi penerima titipan
harus menjamin (dhaman) dikembalikan barang tersebut apabila sewaktu-waktu penitip
memintanya kembali.
b) Akun untuk prinsip mudharabah (sumber dana)
Prinsip lain yang dipergunakan dalam penghimpunan dana yang dilaksakan Lembaga
Keuangan Syariah adalah “Mudharabah Mutlaqah”. Tanpa memperhatikan produknya jika
prinsip yang dilaksanakan adalah Mudharabah Mutlaqah maka akun yang dipergunakan
dikelompokkan pada “Dana Syirkah Temporer” (dalam PSAK 59 diberi istilah Investasi Tidak
Terikat). Dalam Penyajiannya Dana Syirkah Temporer disajikan antara kewajiban dan equity
(tidak diperkenankan dikelompokkan sebagai kewajiban atau equity). Jadi dalam Laporan Posisi
Keuangan Syariah (Neraca Syariah) pada posisi pasiva terdapat unsur atau kelompok baru yang
disebut dengan Dana Syirkah Temporer. Harus dibuat kelompok baru (tidak sebagai kewajiban
atau equity) karena dalam prinsip mudharabah terdapat ketentuan yang menyatakan “jika dalam
pengelolaan dana mudharabah terdapat kerugian dan bukan kesalahan pengelola, maka
kerugian ditanggung oleh pemilik dana” dengan kata lain bahwa modal mudharabah tidak ada
jaminan untuk dikembalikan seratus persen oleh pengelola karena ada kemungkinan terjadi
kerugian yang bukan kelalaian pengelola akan ditanggung oleh pemilik dana. Jika Lembaga
Keuangan Syariah memperoleh sumber dana mudharabah mutlaqah, kemudian dalam
pengelolaan dana tersebut LKS sudah jujur, transparan, amanah tidak melanggar ketentuan
syariah, tidak melanggar ketentuan regulator dan sebagainya tetapi rugi, maka kerugian tersebut
secara prinsip ditanggung oleh pemilik modal mudharabah. Di Indonesia hal ini tidak terjadi
karena di Indonesia, prinsip pembagian hasil usaha yang dilaksanakan oleh LKS
mempergunakan prinsip “revenue sharing”, yang dibagi adalah revenue dimana dalam teori tidak
mengalami negatif atau kerugian. Hal terburuk yang terjadi adalah tidak diterima revenue sama
sekali, jika hal ini terjadi maka LKS tersebut dalam posisi tidak untung dan tidak rugi (pada
titik impas) sehingga modal mudharabah tetap dikembalikan seluruhnya kepada pemilik dana.
Jika prinsip pembagian hasil usaha LKS mempergunakan revenue sharing, pemilik modal
mudharabah baru menanggung kerugian jika LKS tersebut dilikuidasi dan total aset lebih kecil
dari kewajibannya. Oleh karena itu tahapan pembayaran kewajiban dalam likuidasi LKS adalah
(1) kewajiban (2) dana syirkah temporer dan terakhir (3) modal.
Dari hal tersebut di atas dapat dilihat bahwa dalam bidang akuntansi, adanya akuntansi syariah,
merupakan kemajuan yang luar biasa, apabila selama ini pada akuntansi secara umum mempunyai
persamaan yang sudah baku, maka dengan adanya akuntansi Bank Syariah, persamaan akuntansi tersebut
terpaksa harus mengalami perubahan yang mendasar, yang mana persamaan tersebut belum dapat
diperoleh pada literatur akuntansi umum.
Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa Lembaga Keuangan Syariah mempunyai karakteristik
tersendiri, dimana hal ini juga membawa implikasi dalam akuntansi Lembaga Keuangan Syariah itu sendiri.
Oleh karena itu apabila dalam akuntansi umum terdapat persamaan akuntansi syariah pada unsur neraca
adalah sebagai berikut :
Aktiva = Kewajiban + Modal

BAB II. Sekilas Akuntansi Syariah di Indonesia | 31


Karena karakteristiknya akuntansi Lembaga Keuangan Syariah mempunyai persamaan akuntansi
yang berbeda dengan persamaan akuntansi umum atau akuntansi konvensional, persamaan akuntansi pada
unsur neraca Lembaga Keuangan Syariah adalah :
Aktiva = Kewajiban + Dana Syirkah Temporer + Modal
Apabila dalam unsur laporan laba rugi akuntansi umum diperoleh persamaan akuntansi sebagai
berikut :
Laba / Rugi = Pendapatan - Jumlah Beban
Ada unsur dalam Laporan Laba Rugi yang membedakan dengan laporan laba rugi secara umum
adalah “Hak pihak ketiga atas bagi hasil Investasi Tidak Terikat” yang mana unsur ini tidak dapat
dikategorikan sebagai unsur beban bagi bank (mudharib), dan disajikan setelah pendapatan utama
operasional sebelum pendapatan operasi lainnya, sehingga persamaan akuntansinya adalah:
Laba/Rugi Pendapatan Hak pihak ketiga Pendapatan Beban
= Usaha Utama -/- atas bagi hasil + Usaha lain -/- Operasional
Untuk memberikan gambaran yang lengkap dan rinci dalam akuntansi Lembaga Keuangan syariah,
perlu dijelaskan beberapa hal yang berbeda dengan akuntansi konvensional dan hal-hal yang mendasari hal
tersebut. Secara ini penjelasan tentang ini dibahas pada unsur-unsur laporan keuangan pokok bahasan
berikut.
B. Akun Nominal (Akun Laporan Laba Rugi)
Akun nominal merupakan akun untuk mendukung pembuatan Laporan Laba Rugi. Akun ini
memiliki karakteristik saldo akhir tutup buku periode akuntansi dipindahkan akun Laba Rugi Berjalan,
sehingga pada awal periode tahun berikutnya saldonya dimulai dengan nihil. Inilah salah satu
pertimbangan penggantian (konversi) akun lama ke akun baru dalam sistem akuntansi entitas umumnya
dilakukan pada akhir periode akuntansi, sehingga pada saat penggantian akun perlu dikonversi adalah
akun-akun yang terkait dengan akun riil atau akun-akun dalam posisi laporan keuangan (neraca). Dalam
menyiapkan akun-akun nominal ini perlu dipahami dengan betul penyajian dan kerakteristik atau filosofi
dari transaksinya, karena terdapat akun-akun yang menurut kaedah akuntansi umum dikategorikan sebagai
beban operasional dalam akuntansi syariah tidak diperkenankan sebagai beban melainkan harus
diperlakukan sebagai pengurang dari pendapatan, misalnya biaya penyusutan aktiva ijarah dan biaya
pemeliharaan aktiva ijarah dalam akuntansi syariah dikategorikan sebagai pengurang pendapatan sewa.
Akun nominal secara umum untuk Lembaga Keuangan Syariah secara umum dapat digambarkan sebagai
berikut:

Bukan kelompok
beban atau
pendapatan
(KDPPLK pr
108)

Gambar 2-9 : akun dalam laporan laba rugi

32 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


Atas gambar tersebut di atas dapat diberikan penjelasan akun-akun khusus, sedangkan akun yang bersifat
umum penggunaannya sebagaimana lazimnya. Akun-akun yang perlu dijelaskan lebih lanjut adalah:
1) Pendapatan Usaha Utama
Yang dikategorikan sebagai pendapatan usaha utama dalam Lembaga Keuangan Syariah
adalah pendapatan yang diperoleh dari pengelolaan dana yang berasal dari (1) prinsip jual beli -
pendapatan margin murabahah, pendapatan keuntungan salam dan pendapatan keuntungan
istishna’, (2) prinsip ujroh - pendapatan neto ijarah, pendapatan neto ijarah muntahia bittamllik,
pendapatan neto Ijarah berlanjut, (3) prinsip bagi hasil – pendapatan bagi hasil mudharabah,
pendapatan bagi hasil musyarakah, (4) pendapatan prinsip syariah lainnya – pendapatan Sertifikat
Invetasi Mudharabah Antar Bank (SIMA) dan pendapatan bonus Sertifikat Wadiah Bank Indonesia
(SWBI). Pendapatan usaha utama ini merupakan pendapatan yang akan dibagi hasil dengan pemilik
dana mudharabah.
Pendapatan Usaha Utama yang diperoleh Lembaga Keuangan Syariah tersebut merupakan
pendapatan milik bersama antara Lembaga Keuangan Syariah sebagai pengelola (mudharib) dana
dan pemodal sebagai pemilik dana (shahibul maal), sehingga belum dapat dikategorikan sebagai
pendapatan Lembaga Keuangan Syariah sepenuhnya sebagaimana lazimnya pendapatan dalam
pengertian akuntansi umum. Disamping itu pendapatan usaha utama merupakan unsur pokok
dalam perhitungan pembagian hasil usaha (profit distribution), yaitu pendapatan yang akan dibagi
antara Lembaga Keuangan Syariah sebagai pengelola modal dengan pemodal sebagai pemilik dana.
2) Hak Pihak Ketiga atas Bagi Hasil
Lembaga Keuangan Syariah tidak pernah membayar imbalan kepada pemodal dalam jumlah
yang ditetapkan di depan. Imbalan yang diberikan Lembaga Keuangan Syariah kepada pemodal
dalam bentuk bagian hasil usaha yang diperoleh pengelola usaha (yang sering disebut bagi hasil)
yang besarnya tergantung pada hasil usaha yang diperoleh oleh Lembaga Keuangan Syariah sebagai
pengelola dana (mudharib). Akun yang dipergunakan untuk mencatat bagi hasil yang menjadi hak
pemilik dana adalah “Hak pihak ketiga atas bagi hasil”. Dalam akuntansi syariah akun ini harus
disajikan tersendiri tidak boleh diketegorikan sebagai pendapatan dan tidak boleh dikategorikan
sebagai beban operasional Lembaga Keuangan Syariah. Tidak dikategorikan sebagai beban
operasional karena (1) besarnya bagi hasil sangat tergantung pada hasil usaha yang nyata-nyata
diterima oleh Lembaga Keuangan Syariah. Jika pendapatan usaha utama (hasil usaha utama) yang
diterima cash basis besar maka bagi hasil menjadi besar, begitu sebaliknya jika pendapatan usaha
utama (hasil usaha utama) yang diterima cash basis kecil maka bagi hasil menjadi kecil, (2)
merupakan bagian dari pendapatan usaha utama yang diperoleh pengelola dana yang menjadi hak
pemilik modal sesuai porsi pembagian hasil usaha yang disepakati diawal akad. Terkait dengan
pendapatan dan hak pihak ketiga atas bagi hasil adalah adanya paradigma bahwa sebagian dari hasil
usaha yang nyata-nyata diterima oleh Lembaga Keuangan Syariah atas pengelolaan dana
mudharabah merupakan hak dari pemilik dana mudharabah. Dalam Lembaga Keuangan
Konvensional hal ini tidak pernah terjadi, karena besarnya imbalan yang dibayarkan kepada
pemodal tidak terkait atau dipengaruhi oleh pendapatan yang diterima.
3) Pendapatan Usaha Lainnya
Yang dikategorikan sebagai pendapatan usaha lainnya adalah seluruh pendapatan atau upah
yang diperoleh Lembaga Keuangan Syariah dari kegiatan usaha yang dilakukan atas dasar imbalan
(fee base income). Oleh karena pendapatan ini bukan hasil dari pengelolaan dana mudharabah yang
dilakukan oleh LKS sebagai mudharib maka pendapatan ini tidak dibagikan kepada pemilik modal
mudharabah. Pendapatan ini sepenuhnya menjadi hak Lembaga Keuangan Syariah, yaitu merupakan
upah Lembaga Keuangan Syariah dalam melaksanakan pekerjaan.

BAB II. Sekilas Akuntansi Syariah di Indonesia | 33


4) Beban Usaha
A. Jika menggunakan prinsip revenue sharing, maka seluruh beban usaha menjadi tanggung jawab
pengelola dana (karena yang dibagikan adalah dari laba kotor/gross profit), yaitu pendapatan
sebelum dikurangi dengan beban-beban.
B. Jika menggunakan Profit Sharing, beban dikategorikan menjadi:
1) beban usaha yang menjadi tanggungan Lembaga Keuangan Syariah.
2) beban usaha yang menjadi beban pengelola dana Mudharabah
C. Akun ekstra komtabel
Unsur lain dari Laporan Keuangan Syariah adalah Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Zakat,
Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Kebajikan dan laporan yang mencerminkan kegiatan usaha entitas
syariah tertentu (dalam Perbankan Syariah - Laporan Perubahan Dana Investasi Terikat). Laporan-laporan
ini merupakan laporan tambahan khusus yang harus dibuat oleh LKS. Laporan ini sering disebut sebagai
“off balance sheet” yaitu laporan diluar neraca, oleh karena itu tidak dapat menggunakan akun-akun yang
digunakan untuk kepentingan Laporan Posisi Keuangan (neraca) dan Laporan Laba Rugi. Untuk
kepentingan pembuatan laporan tersebut perlu disiapkan akun-akun yang tidak mempunyai pengaruh
terhadap posisi keuangan (neraca) dan laba rugi.

2.9. Laporan keuangan Entitas Syariah

Laporan keuangan Lembaga Keuangan Syariah akan dibahas tersendiri dalam bab lain.
Dalam bab ini hanya disampaikan pokok-pokok laporan keuangan Lembaga Keuangan Syariah
saja. Salah satu tujuan dari laporan keuangan dari Lembaga Keuangan Syariah adalah memberikan
informasi yang lengkap kepada penggunanya dan sebagai laporan pertanggungjawaban fungsi
yang dilaksanakan oleh entitas syariah. Oleh karena Lembaga Keuangan Syariah memiliki fungsi
yang berbeda dengan Lembaga Keuangan Konvensional, maka Laporan keuangan Lembaga
Keuangan Syariah memiliki unsur yang berbeda dengan unsur Laporan keuangan Lembaga
Keuangan Konvensional. Perbedaan unsur Laporan keuangan tersebut dapat digambarkan dalam
tabel berikut:
Unsur Laporan keuangan Konvensional Unsur Laporan keuangan Syariah
1 Laporan Posisi Keuangan (Neraca) 1 Laporan Posisi Keuangan (Neraca)
2 Laporan Laba Rugi 2 Laporan Laba Rugi
3 Laporan Arus Kas 3 Laporan Arus Kas
4 Laporan Perubahan Ekuitas 4 Laporan Perubahan Ekuitas
5 Catatan Laporan keuangan 5 Laporan Sumber dan Penggunanaan Dana Zakat
6 Laporan Sumber dan Penggunaan Dana
Kebajikan
7 Laporan Khusus yang mencerminkan kegiatan
Entitas Syariah tertentu
8 Catatan Laporan keuangan

Laporan khusus yang mencerminkan kegiatan khusus dari entitas syariah yang dimaksud adalah:
a. Pada Bank Syariah dikenal Laporan Perubahan Dana Investasi Terikat
b. Pada Asuransi Syariah dikenal laporan surplus (defisit), underwriting dana tabarru’ dan laporan
perubahan dana tabarru’;

34 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


Laporan ini juga merupakan unsur dari laporan keuangan entitas syariah yang tidak dapat dipisahkan
dengan unsur laporan keuangan lainnya. Oleh karena entitas syariah tertentu memiliki karakteristik khusus
yang tidak dapat disamakan dengan entitas syariah yang lain maka perlu dibuat laporan yang sesuai dengan
karakteristik kegiatan usaha yang dilakukan.
Salah satu tujuan dari laporan keuangan dari Lembaga Keuangan Syariah merupakan laporan
pertanggungjawaban fungsi yang dilakukan oleh manajemen. Sehubungan dengan keterkaitan pelaksanaan
fungsi dan pertanggungjawaban yang harus dilaporkan dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 2-10 : hubungan laporan keuangan dan fungsi LKS

Dari gambar tersebut di atas dapat dilihat bahwa sebagai pertanggungjawaban fungsi manajer
investasi, fungsi investor dan fungsi jasa keuangan, Lembaga Keuangan Syariah membuat Laporan Posisi
Keuangan (Neraca), Laporan Laba Rugi, Laporan Arus Kas dan Laporan Perubahan Ekuitas. Sedangkan
sebagai pertanggung jawaban fungsi sosial atau pemegang amanah, Lembaga Keuangan Syariah harus
membuat laporan sumber dan penggunaan dana Zakat, Laporan sumber dan Penggunaan Dana Kebajikan
dan Laporan Perubahan Dana Investasi Terikat (untuk Bank Syariah) atau Laporan Surplus (defisit)
underwriting dana tabarru’ dan Laporan Perubahan Dana Tabarru’ (untuk asuransi syariah). Laporan
keuangan entitas syariah ini akan dibahas secara rinci dan lengkap pada bab berikutnya.

2.10. Pertanyaan dan Soal


1. Akuntansi Syariah mulai berkembang di Indonesia seiring berkembangnya Lembaga Keuangan Syariah
di Indonesia.
a. Jelaskan pengertian akuntansi dan Landasan Syariah Akuntansi Syariah?
b. Jelaskan perkembangan akuntansi syariah di Indonesia?
2. Dalam melaksanakan akuntansi dikenal “Prinsip Akuntansi yang Berlaku Umum/General Accepted
Accounting Principle / GAAP”. Pada akuntansi syariah memiliki Prinsip Akuntansi Syariah yang
Berlaku Umum/General Accepted Sharia Accounting Principle/GASAP.

BAB II. Sekilas Akuntansi Syariah di Indonesia | 35


a. Jelaskan perbedaan GAAP dengan GASAP!
b. Berikan contoh prinsip yang berlaku di akuntansi umum tidak dilaksanakan di akuntansi
syariah?
3. Banyak pihak yang membutuhkan informasi akuntansi, dan laporan keuangan hendaknya dapat
disajikan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
a. Jelaskan pihak-pihak yang membutuhkan informasi akuntansi syariah?
b. Jelaskan asumsi yang dipergunakan dalam akuntansi syariah ?
4. Akuntansi syariah sangat dipengaruhi oleh transaksi yang dilaksanakan oleh Lembaga Keuangan
Syariah.
a. Jelaskan dengan rinci dan jelas paradigma tentang transaksi syariah?
b. Jelaskan dengan rinci dan jelas karakteristik transaksi syariah?
5. Dalam perkembangan awal, akuntansi syariah berpedoman PSAK 59 tentang Akuntansi Perbankan
Syariah.
a. Jelaskan dengan rinci dan jelas cakupan akuntansi perbankan syariah ?
b. Jelaskan dengan rinci dan jelas mengapa PSAK 59 harus direvisi?
6. Akun-akun yang dipergunakan dalam akuntansi syariah disesuaikan dengan karakteristik kegiatan usaha
yang dilakukan oleh Lembaga Keuangan Syariah?
a. Jelaskan pokok-pokok akun yang dipergunakan dalam laporan keuangan syariah?
b. Jelaskan persamaan akuntansi syariah dan jelaskan perbedaannya dengan persamaan akuntansi
umum?
7. Tujuan akhir penyusunan akuntansi adalah diterbitkannya laporan keuangan?
a. Jelaskan unsur laporan keuangan pada Lembaga Keuangan Syariah?
b. Jelakan perbedaan laporan keuangan syariah dan laporan keuangan umum?

36 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


BAB III
LAPORAN KEUANGAN
ENTITAS SYARIAH

3.1. Tujuan Laporan Keuangan


Tujuan Laporan Keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan,
kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu entitas syariah yang bermanfaat bagi sejumlah besar
pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi. Disamping itu, tujuan lainnya adalah:
(a) meningkatkan kepatuhan terhadap prinsip syariah dalam semua transaksi dan kegiatan usaha;
(b) informasi kepatuhan entitas syariah terhadap prinsip syariah, serta informasi aset, kewajiban,
pendapatan dan beban yang tidak sesuai dengan prinsip syariah bila ada dan bagaimana perolehan
dan penggunaannya;
(c) informasi untuk membantu mengevaluasi pemenuhan tanggung jawab entitas syariah terhadap
amanah dalam mengamankan dana, menginvestasikannya pada tingkat keuntungan yang layak; dan
(d) informasi mengenai tingkat keuntungan investasi yang diperoleh penanam modal dan pemilik dana
syirkah temporer; dan informasi mengenai pemenuhan kewajiban (obligation) fungsi sosial entitas
syariah, termasuk pengelolaan dan penyaluran zakat, infak, sedekah, dan wakaf.
Laporan keuangan yang disusun untuk tujuan ini memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar
pemakai. Namun demikian, laporan keuangan tidak menyediakan semua informasi yang mungkin
dibutuhkan pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi karena secara umum menggambarkan
pengaruh keuangan dari kejadian di masa lalu, dan tidak diwajibkan untuk menyediakan informasi
nonkeuangan.
Laporan keuangan juga menunjukkan apa yang telah dilakukan manajemen (stewardship), atau
pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya. Pemakai yang ingin
menilai apa yang telah dilakukan atau pertanggungjawaban manajemen berbuat demikian agar mereka
dapat membuat keputusan ekonomi; keputusan ini mungkin mencakup, misalnya, keputusan untuk
menahan atau menjual investasi mereka dalam entitas syariah atau keputusan untuk mengangkat kembali
atau mengganti manajemen.
Berkaitan dengan Laporan Keuangan Entitas Syariah, dalam PSAK 101 tentang Penyajian Laporan
Keuangan Syariah dijelaskan sebagai berikut:
1. Tujuan Laporan Keuangan
a. Laporan keuangan bertujuan untuk menyediakan informasi yang bermanfaat bagi pihak-pihak
yang berkepentingan (pengguna laporan keuangan) dalam pengambilan keputusan ekonomi
yang rasional, seperti:
1) investor (pemegang saham);
2) pemberi dana qardh;
3) pemilik dana syirkah temporer;
4) pemilik dana titipan;

BAB III. Laporan Keuangan Entitas Syariah| 37


5) pembayar dan penerima zakat, infak, sedekah, dan wakaf;
6) pengawas syariah;
7) karyawan;
8) pemasok dan mitra usaha lainnya;
9) pelanggan (nasabah)
10) otoritas pengawasan;
11) Bank Indonesia;
12) pemerintah;
13) lembaga penjamin simpanan; dan
14) masyarakat.
b. Informasi bermanfaat yang disajikan dalam Laporan Keuangan, antara lain, meliputi:
1) posisi keuangan, kinerja, dan perubahan posisi keuangan bank;
2) peningkatan kepatuhan terhadap prinsip syariah dalam semua transaksi dan kegiatan
usaha;
3) tingkat kepatuhan bank syariah terhadap prinsip syariah, serta informasi aset, kewajiban,
pendapatan dan beban yang tidak sesuai dengan prinsip syariah, bila ada, dan bagaimana
perolehan dan penggunaannya;
4) pemenuhan tanggung jawab bank terhadap amanah dalam mengamankan dana,
menginvestasikannya pada tingkat keuntungan yang layak;
5) tingkat keuntungan investasi yang diperoleh penanam modal dan pemilik dana syirkah
temporer; dan
6) pemenuhan kewajiban (obligation) fungsi sosial bank, termasuk pengelolaan dan penyaluran
zakat, infak, sedekah, dan wakaf.
c. Laporan keuangan juga merupakan sarana pertanggungjawaban manajemen atas penggunaan
sumber daya yang dipercayakan kepada mereka.
2. Tanggung jawab atas Laporan Keuangan
Manajemen bertanggung jawab atas penyusunan dan penyajian Laporan Keuangan.
3. Komponen Laporan Keuangan
Laporan Keuangan yang lengkap terdiri dari komponen-komponen: Neraca, Laporan Laba Rugi,
Laporan Arus Kas, Laporan Perubahan Ekuitas, Laporan Perubahan Dana Investasi Terikat,
Laporan Rekonsiliasi Pendapatan dan Bagi Hasil, Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Zakat,
Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Kebajikan, dan Catatan Atas Laporan Keuangan.
4. Bahasa Laporan Keuangan
Laporan keuangan harus disusun dalam Bahasa Indonesia. Jika laporan keuangan juga
disusun dalam bahasa lain selain dari Bahasa Indonesia, maka laporan keuangan dalam bahasa lain
tersebut harus memuat informasi yang sama dan waktu yang sama (tanggal posisi dan cakupan
periode). Selanjutnya, laporan keuangan dalam bahasa lain tersebut harus diterbitkan dalam waktu
yang sama seperti laporan keuangan dalam Bahasa Indonesia. Dalam hal terjadi inkonsistensi dalam
penyajian laporan, maka yang dipergunakan sebagai rujukan adalah dalam Bahasa Indonesia.
5. Mata Uang Pelaporan
Mata uang pelaporan harus dalam rupiah. Apabila transaksi Bank menggunakan mata uang
selain rupiah, maka harus dijabarkan dalam mata uang rupiah dengan menggunakan kurs laporan
yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Keuntungan atau kerugian dalam periode berjalan yang
terkait dengan transaksi dalam mata uang asing dinilai dengan menggunakan kurs laporan yang
ditetapkan oleh Bank Indonesia.

38 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


6. Kebijakan Akuntansi
Kebijakan tersebut harus mencerminkan prinsip kehati-hatian dan mencakup semua
informasi yang material dan sesuai dengan ketentuan dalam PSAK. Apabila PSAK belum mengatur
masalah pengakuan, pengukuran, penyajian atau pengungkapan dari suatu transaksi atau peristiwa,
harus ditetapkan kebijakan agar laporan keuangan yang disajikan memuat informasi yang dapat
diandalkan dan relevan dengan kebutuhan para pengguna laporan keuangan untuk pengambilan
keputusan.
7. Penyajian
a. Laporan Keuangan harus menyajikan secara wajar Posisi Keuangan, Kinerja Keuangan, Arus
Kas, Perubahan Ekuitas, Perubahan Dana Investasi Terikat, Pendapatan dan Bagi Hasil,
Sumber dan Penggunaan Dana Zakat, Sumber dan Penggunaan Dana Kebajikan, disertai
pengungkapan yang diharuskan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
b. Aset disajikan berdasarkan karakteristiknya menurut urutan likuiditas, kewajiban disajikan
menurut urutan jatuh temponya, dan Dana Syirkah Temporer dalam unsur tersendiri.
c. Saldo transaksi sehubungan dengan kegiatan operasi normal bank disajikan dan diungkapkan
secara terpisah antara pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa dengan pihak-pihak
yang tidak mempunyai hubungan istimewa. Dalam hal ini yang dimaksud dengan pihak yang
mempunyai hubungan istimewa termasuk pihak-pihak terkait sesuai dengan ketentuan Bank
Indonesia.
d. Laporan Laba Rugi menggambarkan pendapatan dan beban menurut karakteristiknya yang
dikelompokkan secara berjenjang (multiple step) dari kegiatan utama Bank dan kegiatan lainnya.
e. Catatan atas Laporan Keuangan harus disajikan secara sistematis dengan urutan penyajian
sesuai dengan komponen utamanya. Setiap pos dalam komponen Laporan Keuangan harus
berkaitan dengan informasi yang terdapat dalam catatan atas Laporan Keuangan. Catatan atas
Laporan Keuangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Laporan Keuangan, yang
sifatnya memberikan penjelasan baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif terhadap
Laporan Keuangan Pokok, sehingga Laporan Keuangan secara keseluruhan tidak akan
menyesatkan pembaca. Informasi yang diungkapkan dalam catatan atas Laporan Keuangan,
antara lain, mengenai:
1) gambaran umum bank syariah;
2) ikhtisar kebijakan akuntansi yang digunakan dalam penyusunan Laporan Keuangan;
3) penjelasan atas pos-pos yang terdapat dalam setiap komponen Laporan Keuangan; dan
4) pengungkapan hal-hal penting lainnya yang berguna untuk pengambilan keputusan.
Dalam catatan atas Laporan Keuangan tidak diperkenankan menggunakan kata "sebagian
besar" untuk menggambarkan bagian dari suatu jumlah tetapi harus dinyatakan dalam jumlah
nominal atau persentase.
f. Perubahan akuntansi wajib memperhatikan ha!-hal sebagai berikut:
1) Perubahan estimasi akuntansi
Estimasi akuntansi dapat diubah apabila terdapat perubahan kondisi yang mendasarinya.
Selaian itu, juga wajib diungkapkan pengaruh material dari perubahan yang terjadi baik
pada periode berjalan maupun periode-periode berikutnya.
2) Perubahan kebijakan akuntansi
a) Kebijakan akuntansi dapat diubah apabila:
(1) terdapat peraturan perundangan atau standar akuntansi yang berbeda
penerapannya; atau
(2) diperkirakan bahwa perubahan tersebut akan menghasilkan penyajian
kejadian atau transaksi yang lebih sesuai dalam Laporan Keuangan.

BAB III. Laporan Keuangan Entitas Syariah| 39


b) Dampak perubahan kebijakan akuntansi harus diperlakukan secara retrospektif
dengan melakukan penyajian ulang untuk seluruh periode sajian dan melaporkan
dampaknya terhadap masa sebelum periode sajian.
c) Dalam hal perlakuan secara retrospektif dianggap tidak praktis maka cukup
diungkapkan alasannya atau mengikuti ketentuan dalam PSAK yang berlaku
apabila terdapat aturan lain dalam ketentuan masa transisi pada Standar
Akuntansi Keuangan baru.
3) Terdapat kesalahan mendasar
Koreksi kesalahan mendasar dilakukan secara retrospektif dengan melakukan
penyajian ulang untuk seluruh periode sajian dan melaporkan dampaknya terhadap
masa sebelum periode sajian.
g. Pada setiap lembar Neraca, Laporan Laba Rugi, Laporan Perubahan Ekuitas, Laporan Arus
Kas, Laporan Perubahan Dana Investasi Terikat, Laporan Rekonsiliasi Pendapatan dan Bagi
Hasil, Laporan Sumber dan Penggunaan Zakat, Laporan Sumber dan Penggunaan Dana
Kebajikan harus diberi pernyataan bahwa "Catatan atas Laporan Keuangan merupakan bagian
tak terpisahkan dari Laporan Keuangan".
h. Disamping hal-hal di atas, penyajian Laporan Keuangan bagi Bank wajib mengikuti ketentuan
yang dikeluarkan Bank Indonesia, sedangkan bagi Bank yang telah go public wajib pula
mengikuti ketentuan yang dikeluarkan oleh otoritas pasar modal.
8. Konsistensi penyajian
a. Penyajian dan klasifikasi pos-pos dalam laporan keuangan antar periode harus konsisten,
kecuali:
1) terjadi perubahan yang signifikan terhadap sifat operasi perbankan; atau
2) perubahan tersebut diperkenankan oleh PSAK.
b. Apabila penyajian atau klasifikasi pos-pos dalam laporan keuangan diubah, maka penyajian
periode sebelumnya direklasifikasi untuk memastikan daya banding, sifat, jumlah dan alasan
reklasifikasi tersebut juga harus diungkapkan. Dalam hal reklasifikasi dianggap tidak praktis
maka cukup diungkapkan alasannya.
9. Materialitas dan Agregasi
a. Penyajian laporan keuangan didasarkan pada konsep materialitas.
b. Pos-pos yang jumlahnya material disajikan tersendiri dalam laporan keuangan, sedangkan yang
jumlahnya tidak material dapat digabungkan sepanjang memiliki sifat atau fungsi yang sejenis.
c. Informasi dianggap material apabila kelalaian dalam mencantumkan (ommission) atau kesalahan
mencatat (misstatement) informasi tersebut dapat mempengaruhi pengguna laporan dalam
pengambilan keputusan ekonomi.
10. Saling hapus (offsetting)
a. Jumlah aset dan kewajiban yang disajikan pada neraca tidak boleh saling hapus dengan
kewajiban atau aset lain kecuali secara hukum dibenarkan dan saling hapus tersebut
mencerminkan perkiraan realisasi atau penyelesaian aset atau kewajiban.
b. Pos-pos pendapatan dan beban tidak boleh saling hapus kecuali yang berhubungan dengan
aset dan kewajiban yang saling hapus sebagaimana dimaksud pada 10.a.
11. Periode Pelaporan
Laporan keuangan wajib disajikan secara tahunan berdasarkan tahun takwim. Dalam hal Bank
baru berdiri, merger atau akuisisi atau konsolidasi, laporan keuangan dapat disajikan untuk periode
yang lebih pendek dari satu tahun takwim. Selain itu, untuk kepentingan pihak lainnya, Bank dapat
membuat dua laporan yaitu dalam tahun takwim dan periode efektif dengan mencantumkan:

40 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


a. Alasan penggunaan periode pelaporan selain periode satu tahunan.
b. Fakta bahwa jumlah komparatif dalam Laporan Laba Rugi, Laporan Perubahan Ekuitas,
Laporan Arus Kas, Laporan Perubahan Dana Investasi Terikat, Laporan Rekonsiliasi
Pendapatan dan Bagi Hasil, Laporan Sumber dan Penggunaan Zakat, Laporan Sumber dan
Penggunaan Dana Kebajikan, dan Catatan atas Laporan Keuangan Tidak Dapat
Diperbandingkan.
12. Informasi Komparatif
a. Laporan keuangan tahunan dan interim harus disajikan secara komparatif dengan periode yang
sama pada tahun sebelumnya. Sedangkan untuk laporan laba rugi interim harus mencakup
periode sejak awal tahun buku sampai dengan akhir periode interim yang dilaporkan.
b. Informasi komparatif yang bersifat naratif dan deskriptif dari laporan keuangan periode
sebelumnya wajib diungkapkan kembali apabila relevan untuk pemahaman laporan keuangan
periode berjalan.
13. Laporan Keuangan Interim
a. Laporan Keuangan Interim adalah laporan keuangan yang diterbitkan di antara dua laporan
tahunan dan harus dipandang sebagai bagian integral dari laporan periode tahunan.
Penyusunan laporan keuangan interim dapat dilakukan secara bulanan, triwulan atau periode
yang lain yang kurang dari satu tahun.
b. Laporan keuangan interim memuat komponen yang sama seperti laporan keuangan tahunan
yang terdiri dari Neraca, Laporan Laba Rugi, Laporan Perubahan Ekuitas, Laporan Arus Kas,
Laporan Perubahan Dana Investasi Terikat, Laporan Rekonsiliasi Pendapatan dan Bagi Hasil,
Laporan Sumber dan Penggunaan Zakat, Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Kebajikan,
dan Catatan atas Laporan Keuangan.
14. Laporan Keuangan Konsolidasi
Dalam menyusun Laporan Keuangan Konsolidasi, laporan keuangan dan anak perusahaan
digabungkan satu persatu dengan menjumlahkan unsur-unsur yang sejenis dari aset, kewajiban, dana
syirkah temporer, ekuitas, pendapatan dan beban. Agar laporan keuangan konsolidasi dapat
menyajikan informasi keuangan dari kelompok perusahaan tersebut sebagai satu kesatuan ekonomi,
maka perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Transaksi dan saldo resiprokal antara induk perusahaan dan anak perusahaan, harus dieliminasi.
b. Keuntungan dan kerugian yang belum direalisasi, yang timbul dari transaksi antara induk
perusahaan dan anak perusahaan, harus dieliminasi.
c. Untuk tujuan konsolidasi, tanggal pelaporan, keuangan anak perusahaan pada dasarnya harus
sama dengan tanggal pelaporan keuangan perusahaan induk. Apabila tanggal laporan keuangan
tersebut berbeda maka laporan keuangan konsolidasi per tanggal laporan keuangan Bank
masih dapat dilakukan sepanjang:
1) perbedaan tanggal pelaporan tersebut tidak lebih dari 3 (tiga) bulan; dan
2) peristiwa atau transaksi material yang terjadi di antara tanggal pelaporan tersebut
diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan konsolidasi.
Jika kondisi tersebut tidak terpenuhi maka penyesuaian yang diperlukan harus dilakukan.
d. Laporan keuangan konsolidasi disusun dengan menggunakan kebijakan akuntansi yang sama
untuk transaksi, peristiwa, dan keadaan yang sama atau sejenis.
e. Hak minoritas (minority interest) harus disajikan tersendiri dalam neraca konsolidasi antara
kewajiban dan modal. Sedangkan hak minoritas dalam laba disajikan dalam laporan laba rugi
konsolidasi.
Keputusan ekonomi yang diambil pemakai laporan keuangan memerlukan evaluasi atas kemampuan
entitas syariah dalam menghasilkan kas (dan setara kas), dan waktu serta kepastian dari hasil tersebut.
Kemampuan ini akhirnya menentukan, misalnya, kemampuan pembayaran kepada para karyawan dan para
pemasok, pembayaran kewajiban dan pembagian penghasilan kepada para pemilik. Para pemakai dapat

BAB III. Laporan Keuangan Entitas Syariah| 41


mengevaluasi kemampuan entitas syariah dalam menghasilkan kas (dan setara kas) dengan lebih baik kalau
mereka mendapat informasi yang difokuskan pada posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi
keuangan entitas syariah.
Posisi keuangan entitas syariah dipengaruhi oleh sumber daya yang dikendalikan, struktur keuangan,
likuiditas dan solvabilitas, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan. Informasi
sumber daya ekonomi yang dikendalikan dan kemampuan entitas syariah dalam memodifikasi sumber daya
ini di masa lalu berguna untuk memprediksi kemampuan entitas syariah dalam menghasilkan kas (dan
setara kas) di masa depan. Informasi struktur keuangan berguna untuk memprediksi kebutuhan pinjaman
di masa depan dan bagaimana penghasilan bersih (laba) dan arus kas di masa depan akan didistribusikan
kepada mereka yang memiliki hak di dalam entitas syariah; informasi tersebut juga berguna untuk
memprediksi seberapa jauh entitas syariah akan berhasil meningkatkan lebih lanjut sumber keuangannya.
Informasi likuiditas dan solvabilitas berguna untuk memprediksi kemampuan entitas syariah dalam
pemenuhan komitmen keuangannya pada saat jatuh tempo. Likuiditas merupakan ketersediaan kas jangka
pendek di masa depan setelah memperhitungkan komitmen yang ada. Solvabilitas merupakan ketersediaan
kas jangka panjang untuk memenuhi komitmen pada saat jatuh tempo.
Informasi kinerja entitas syariah, terutama profitabilitas, diperlukan untuk menilai perubahan
potensial sumber daya ekonomi yang mungkin dikendalikan di masa depan. Informasi fluktuasi kinerja
adalah penting dalam hubungan ini. Informasi kinerja bermanfaat untuk memprediksi kapasitas entitas
syariah dalam menghasilkan arus kas dari sumber daya yang ada. Disamping itu, informasi tersebut juga
berguna dalam perumusan pertimbangan tentang efektivitas entitas syariah dalam memanfaatkan
tambahan sumber daya.
Informasi perubahan posisi keuangan entitas syariah bermanfaat untuk menilai aktivitas investasi,
pendanaan dan operasi selama periode pelaporan. Informasi ini berguna bagi pemakai sebagai dasar untuk
menilai kemampuan entitas syariah dalam menghasilkan kas (dan setara kas) serta kebutuhan entitas
syariah untuk memanfaatkan arus kas tersebut. Dalam penyusunan laporan perubahan posisi keuangan,
dana dapat didefinisikan dalam berbagai cara, seperti, seluruh sumber daya keuangan, modal kerja, aktiva
likuid atau kas. Kerangka dasar ini tidak mendefinisikan dana secara spesifik.
Informasi posisi keuangan terutama disediakan dalam neraca. Informasi kinerja terutama disediakan
dalam laporan laba rugi. Dalam laporan keuangan, informasi perubahan posisi keuangan dan laporan yang
menjelaskan pemenuhan fungsi sosial entitas syariah disajikan dalam laporan tersendiri.
Informasi lain yang tidak diatur secara khusus tetapi relevan bagi pengambilan keputusan sebagian
besar pengguna laporan keuangan hendaknya disajikan dalam laporan keuangan.
Komponen-komponen laporan keuangan saling terkait karena mencerminkan aspek-aspek yang
berbeda dari transaksi transaksi atau peristiwa lain yang sama. Meskipun setiap laporan menyediakan
informasi yang berbeda satu sama lain, tidak ada yang hanya dimaksudkan untuk memenuhi tujuan tunggal
atau menyediakan semua informasi yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan khusus pemakai.
Misalnya, laporan laba rugi menyediakan gambaran yang tidak lengkap tentang kinerja kecuali kalau
digunakan dalam hubungannya dengan neraca dan laporan arus kas.
Laporan keuangan juga menampung catatan dan skedul tambahan serta informasi lainnya. Misalnya,
laporan tersebut mungkin menampung informasi tambahan yang relevan dengan kebutuhan pemakai
neraca dan laporan laba rugi. Mungkin pula mencakupi pengungkapan tentang risiko dan ketidakpastian
yang mempengaruhi entitas syariah dan setiap sumber daya dan kewajiban (obligation) yang tidak
dicantumkan dalam neraca (seperti cadangan mineral). Informasi segmen-segmen industri dan geografi
serta pengaruhnya pada entitas syariah akibat perubahan harga dapat juga disediakan dalam bentuk
informasi tambahan.

42 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


3.2. Karakteristik Kualitas Laporan Keuangan

Karakteristik kualitatif merupakan ciri khas yang membuat informasi dalam Laporan Keuangan berguna
bagi pemakai. Terdapat empat karateristik kualitatif pokok yaitu: dapat dipahami, relevan, keandalan, dan
dapat diperbandingkan (KDPPLK, 2008).

A. Dapat Dipahami
Kualitas penting informasi yang ditampung dalam laporan keuangan adalah kemudahannya untuk
segera dapat dipahami oleh pemakai. Untuk maksud ini, pemakai diasumsikan memiliki pengetahuan yang
memadai tentang aktivitas ekonomi dan bisnis, akuntansi, serta kemauan untuk mempelajari informasi
dengan ketekunan yang wajar. Namun demikian, informasi kompleks yang seharusnya dimasukkan dalam
laporan keuangan tidak dapat dikeluarkan hanya atas dasar pertimbangan bahwa informasi tersebut terlalu
sulit untuk dapat dipahami oleh pemakai tertentu.

B. Relevan
Agar bermanfaat, informasi harus relevan untuk memenuhi kebutuhan pemakai dalam proses
pengambilan keputusan. Informasi memiliki kualitas relevan kalau dapat mempengaruhi keputusan
ekonomi pemakai dengan membantu mereka mengevaluasi peristiwa masa lalu, masa kini atau masa
depan, menegaskan, atau mengkoreksi, hasil evaluasi mereka di masa lalu.
Peran informasi dalam peramalan (predictive) dan penegasan (confirmatory) berkaitan satu sama lain.
Misalnya, informasi struktur dan besarnya aset-aset yang dimiliki bermanfaat bagi pemakai ketika mereka
berusaha meramalkan kemampuan entitas syariah dalam memanfaatkan peluang dan bereaksi terhadap
situasi yang merugikan. Informasi yang sama juga berperan dalam memberikan penegasan (confirmatory role)
terhadap prediksi yang lalu, misalnya, tentang bagaimana struktur keuangan entitas syariah diharapkan
tersusun atau tentang hasil dari operasi yang direncanakan.
Informasi posisi keuangan dan kinerja di masa lalu seringkali digunakan sebagai dasar untuk
memprediksi posisi keuangan dan kinerja masa depan dan hal-hal lain yang langsung menarik perhatian
pemakai, seperti pembayaran dividen dan upah, pergerakan harga sekuritas dan kemampuan entitas syariah
untuk memenuhi komitmennya ketika jatuh tempo. Untuk memiliki nilai prediktif, informasi tidak perlu
harus dalam bentuk ramalan eksplisit. Namun demikian, kemampuan laporan keuangan untuk membuat
prediksi dapat ditingkatkan dengan menampilkan informasi tentang transaksi dan peristiwa masa lalu.
Misalnya, nilai prediktif laporan laba rugi dapat ditingkatkan kalau pos-pos penghasilan atau beban yang
tidak biasa, abnormal dan jarang terjadi diungkapkan secara terpisah.
(1) Materialitas
Relevansi informasi dipengaruhi oleh hakekat dan materialitasnya. Dalam beberapa kasus,
hakekat informasi saja sudah cukup untuk menentukan relevansinya. Misalnya, pelaporan suatu
segmen baru dapat mempengaruhi penilaian risiko dan peluang yang dihadapi entitas syariah tanpa
mempertimbangkan materialitas dari hasil yang dicapai segmen baru tersebut dalam periode
pelaporan. Dalam kasus lain, baik hakekat maupun materialitas dipandang penting, misalnya jumlah
serta kategori persediaan yang sesuai dengan kebutuhan entitas syariah.
Informasi dipandang material kalau kelalaian untuk mencantumkan atau kesalahan dalam
mencatat informasi tersebut dapat mempengaruhi keputusan ekonomi pemakai yang diambil atas
dasar laporan keuangan. Materialitas tergantung pada besarnya pos atau kesalahan yang dinilai sesuai
dengan situasi khusus dari kelalaian dalam mencantumkan (omission) atau kesalahan dalam mencatat
(misstatement). Karenanya, materialitas lebih merupakan suatu ambang batas atau titik pemisah dari
pada suatu karakteristik kualitatif pokok yang harus dimiliki agar informasi dipandang berguna.

BAB III. Laporan Keuangan Entitas Syariah| 43


Dalam hal bagi hasil, dasar yang dibagi hasilkan harus mencerminkan jumlah yang
sebenarnya tanpa mempertimbangkan pelaksanaan konsep materialitas.
(2) Keandalan
Agar bermanfaat, informasi juga harus andal (reliable). Informasi memiliki kualitas andal jika
bebas dari pengertian yang menyesatkan, kesalahan material, dan dapat diandalkan pemakainya
sebagai penyajian yang tulus atau jujur (faithful representation) dari yang seharusnya disajikan atau yang
secara wajar diharapkan dapat disajikan.
Informasi mungkin relevan tetapi jika hakekat atau penyajiannya tidak dapat diandalkan maka
penggunaan informasi tersebut secara potensial dapat menyesatkan. Misalnya, jika keabsahan dan
jumlah tuntutan atas kerugian dalam suatu tindakan hukum masih dipersengketakan, mungkin tidak
tepat bagi entitas syariah untuk mengakui jumlah seluruh tuntutan tersebut dalam neraca, meskipun
mungkin tepat untuk mengungkapkan jumlah serta keadaan dari tuntutan tersebut.
(3) Penyajian Jujur
Agar dapat diandalkan, informasi harus menggambarkan dengan jujur transaksi serta
peristiwa lainnya yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar dapat diharapkan untuk disajikan.
Jadi, misalnya, neraca harus menggambarkan dengan jujur transaksi serta peristiwa lainnya dalam
bentuk aset, kewajiban, dana syirkah temporer, dan ekuitas entitas syariah pada tanggal pelaporan
yang memenuhi kriteria pengakuan.
Informasi keuangan pada umumnya tidak luput dari risiko penyajian yang dianggap kurang
jujur dari apa yang seharusnya digambarkan. Hal tersebut bukan disebabkan karena kesengajaan
untuk menyesatkan, tetapi lebih merupakan kesulitan yang melekat dalam mengidentifikasikan
transaksi serta peristiwa lainnya yang dilaporkan, atau dalam menyusun atau menerapkan ukuran
dan teknik penyajian yang sesuai dengan makna transaksi dan peristiwa tersebut. Dalam kasus
tertentu, pengukuran dampak keuangan dari suatu pos sangat tidak pasti sehingga entitas syariah
pada umumnya tidak mengakuinya dalam laporan keuangan. Misalnya, meskipun dalam kegiatan
usahanya entitas syariah dapat menghasilkan goodwill, tetapi lazimnya sulit untuk mengidentifikasi
atau mengukur goodwill secara andal. Namun, dalam kasus lain, pengakuan suatu pos tertentu tetap
dianggap relevan dengan mengungkapkan risiko kesalahan sehubungan dengan pengakuan dan
pengukurannya.
(4) Substansi Mengungguli Bentuk
Jika informasi dimaksudkan untuk menyajikan dengan jujur transaksi serta peristiwa lain yang
seharusnya disajikan, maka peristiwa tersebut perlu dicatat dan disajikan sesuai dengan substansi
dan realitas ekonomi dan bukan hanya bentuk hukumnya. Substansi transaksi atau peristiwa lain
tidak selalu konsisten dengan apa yang tampak dari bentuk hukum. Substansi transaksi tersebut
harus mengacu kepada substansi transaksi sesuai prinsip syariah dan dalam kondisi tertentu, prinsip
syariah menentukan substansi ekonomi dalam transaksi syariah. Contohnya ijarah dengan hak opsi
untuk pengalihan kepemilikan aset ijarah kepada penyewa (ijarah muntahiyah bittamlik) secara
substansi ekonomi aset ijarah tidak diakui sebagai aset oleh penyewa.
(5) Netralitas
Informasi harus diarahkan pada kebutuhan umum pemakai, dan tidak bergantung pada
kebutuhan dan keinginan pihak tertentu. Tidak boleh ada usaha untuk menyajikan informasi yang
menguntungkan beberapa pihak, sementara hal tersebut akan merugikan pihak lain yang
mempunyai kepentingan yang berlawanan.
(6) Pertimbangan Sehat
Penyusun laporan keuangan adakalanya menghadapi ketidakpastian peristiwa dan keadaan
tertentu, seperti ketertagihan piutang yang diragukan, prakiraan masa manfaat pabrik serta peralatan,
dan tuntutan atas jaminan garansi yang mungkin timbul. Ketidakpastian semacam itu diakui dengan
mengungkapkan hakekat serta tingkatnya dan dengan menggunakan pertimbangan sehat (prudence)

44 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


dalam penyusunan laporan keuangan. Pertimbangan sehat mengandung unsur kehati-hatian pada
saat melakukan prakiraan dalam kondisi ketidakpastian, sehingga aset atau penghasilan tidak
dinyatakan terlalu tinggi dan kewajiban atau beban tidak dinyatakan terlalu rendah. Namun
demikian penggunaan pertimbangan sehat tidak memperkenankan, misalnya, pembentukan
cadangan tersembunyi atau penyisihan (provision) berlebihan, dan sengaja menetapkan aset atau
penghasilan yang lebih rendah atau pencatatan kewajiban atau beban yang lebih tinggi, sehingga
laporan keuangan menjadi tak netral, dan karena itu, tidak memiliki kualitas andal.
(7) Kelengkapan
Agar dapat diandalkan, informasi dalam laporan keuangan harus lengkap dalam batasan
materialitas dan biaya. Kesengajaan untuk tidak mengungkapkan (omission) mengakibatkan informasi
menjadi tidak benar atau menyesatkan dan karena itu tidak dapat diandalkan dan tidak sempurna
ditinjau dari segi relevansi.
C. Dapat Dibandingkan
Pemakai harus dapat memperbandingkan laporan keuangan entitas syariah antar periode untuk
mengidentifikasi kecenderungan (trend) posisi dan kinerja keuangan. Pemakai juga harus dapat
memperbandingkan laporan keuangan antar entitas syariah untuk mengevaluasi posisi keuangan, kinerja
serta perubahan posisi keuangan secara relatif. Oleh karena itu, pengukuran dan penyajian dampak
keuangan dari transaksi dan peristiwa lain yang serupa harus dilakukan secara konsisten untuk entitas
syariah tersebut, antar periode entitas syariah yang sama, untuk entitas syariah yang berbeda, maupun
dengan entitas lain.
Implikasi penting dari karakteristik kualitatif dapat diperbandingkan adalah bahwa pemakai harus
mendapat informasi tentang kebijakan akuntansi yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan dan
perubahan kebijakan serta pengaruh perubahan tersebut. Para pemakai harus dimungkinkan untuk dapat
mengidentifikasi perbedaan kebijakan akuntansi yang diberlakukan untuk transaksi serta peristiwa lain yang
sama dalam sebuah entitas syariah dari satu periode ke periode dan dalam entitas syariah yang berbeda.
Ketaatan pada standar akuntansi keuangan syariah, termasuk pengungkapan kebijakan akuntansi yang
digunakan oleh entitas syariah, membantu pencapaian daya banding.
Kebutuhan terhadap daya banding jangan dikacaukan dengan keseragaman semata-mata dan tidak
seharusnya menjadi hambatan dalam memperkenalkan standar akuntansi keuangan syariah yang lebih baik.
Entitas syariah tidak perlu meneruskan kebijakan akuntansi yang tidak lagi selaras dengan karakteristik
kualitatif relevansi dan keandalan. Entitas syariah juga tidak perlu mempertahankan suatu kebijakan
akuntansi kalau ada alternatif lain yang lebih relevan dan lebih andal.
Berhubung pemakai ingin membandingkan posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi
keuangan antar periode, maka entitas syariah perlu menyajikan informasi periode sebelumnya dalam
laporan keuangan.
D. Kendala Informasi yang Relevan dan Andal
(1) Tepat Waktu
Jika terdapat penundaan yang tidak semestinya dalam pelaporan, maka informasi yang dihasilkan
akan kehilangan relevansinya. Manajemen mungkin perlu menyeimbangkan manfaat relatif antara
pelaporan tepat waktu dan ketentuan informasi andal. Untuk menyediakan informasi tepat waktu,
seringkali perlu melaporkan sebelum seluruh aspek transaksi atau peristiwa lainnya diketahui, sehingga
mengurangi keandalan informasi. Sebaliknya, jika pelaporan ditunda sampai seluruh aspek diketahui,
informasi yang dihasilkan mungkin sangat andal tetapi kurang bermanfaat bagi pengambil keputusan.
Dalam usaha mencapai keseimbangan antara relevansi dan keandalan, kebutuhan pengambil keputusan
merupakan pertimbangan yang menentukan.
(2) Keseimbangan antara Biaya dan Manfaat
Keseimbangan antara biaya dan manfaat lebih merupakan suatu kendala yang dapat terjadi (pervasive)
daripada suatu karakteristik kualitatif. Manfaat yang dihasilkan informasi seharusnya melebihi biaya

BAB III. Laporan Keuangan Entitas Syariah| 45


penyusunannya. Namun demikian, secara substansi evaluasi biaya dan manfaat merupakan suatu proses
pertimbangan (judgement process). Biaya tidak harus dipikul oleh mereka yang menikmati manfaat. Manfaat
mungkin juga dinikmati oleh pemakai lain disamping mereka yang menjadi tujuan penyampaian informasi.
Karena alasan inilah maka sulit untuk mengaplikasikan uji biaya-manfaat pada kasus tertentu. Namun
demikian, dewan penyusun standar akuntansi syariah, seperti juga para penyusun dan pemakai laporan
keuangan, harus menyadari kendala ini.
(3) Keseimbangan di antara Karakteristik Kualitatif
Dalam praktek, keseimbangan atau trade-off di antara berbagai karakteristik kualitatif sering
diperlukan. Pada umumnya tujuannya adalah untuk mencapai suatu keseimbangan yang tepat di antara
berbagai karakteristik untuk memenuhi tujuan laporan keuangan. Kepentingan relatif dari berbagai
karakteristik dalam berbagai kasus yang berbeda merupakan masalah pertimbangan profesional.

E. Penyajian Wajar
Laporan keuangan sering dianggap menggambarkan pandangan yang wajar dari, atau menyajikan
dengan wajar, posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu entitas syariah. Meskipun
kerangka dasar ini tidak menangani secara langsung konsep tersebut, penerapan karakteristik kualitatif
pokok dan standar akuntansi keuangan yang sesuai biasanya menghasilkan laporan keuangan yang
menggambarkan apa yang pada umumnya dipahami sebagai suatu pandangan yang wajar dari, atau
menyajikan dengan wajar, informasi semacam itu.

F. Pengakuan Unsur Laporan Keuangan


Dalam Kerangka Dasar Penyusunan Penyajian Laporan Keuangan Syariah (KDPPLKS) pengakuan
unsur Laporan Keuangan (paragraf 109 sd 126) dijelaskan bahwa Pengakuan (recognition) merupakan proses
pembentukan suatu pos yang memenuhi definisi unsur serta kriteria pengakuan yang dikemukakan dalam
paragraf 110 dalam neraca atau laporan laba rugi. Pengakuan dilakukan dengan menyatakan pos tersebut
baik dalam kata-kata maupun dalam jumlah uang dan mencantumkannya ke dalam neraca atau laporan
laba rugi. Pos yang memenuhi kriteria tersebut harus diakui dalam neraca atau laporan laba rugi. Kelalaian
untuk mengakui pos semacam itu tidak dapat diralat melalui pengungkapan kebijakan akuntansi yang
digunakan maupun melalui catatan atau materi penjelasan (paragraf 109)
Pos yang memenuhi definisi suatu unsur harus diakui kalau: (paragraf 110)
(a) ada kemungkinan bahwa manfaat ekonomi yang berkaitan dengan pos tersebut akan mengalir dari
atau ke dalam entitas syariah; dan
(b) pos tersebut mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur dengan andal.
Dalam mengkaji apakah suatu pos memenuhi kriteria ini dan karenanya memenuhi syarat untuk
diakui dalam laporan laba rugi, perhatian perlu ditujukan pada pertimbangan materialitas yang dibahas
dalam paragraf 49 sampai dengan 51. Hubungan antara unsur berarti bahwa suatu pos yang memenuhi
definisi dan kriteria pengakuan untuk unsur tertentu, misalnya, suatu aset, secara otomatis memerlukan
pengakuan unsur lain, misalnya, penghasilan atau kewajiban. (paragraf 111)
(1) Probabilitas Manfaat Ekonomi Masa Depan
Dalam kriteria pengakuan penghasilan, konsep probabilitas digunakan dalam pengertian
derajat ketidakpastian bahwa manfaat ekonomi masa depan yang berkaitan dengan pos tersebut
akan mengalir dari atau ke dalam entitas syariah. Konsep tersebut dimaksudkan untuk
menghadapi ketidakpastian lingkungan operasi entitas syariah. Pengkajian derajat ketidakpastian
yang melekat dalam arus manfaat ekonomi masa depan dilakukan atas dasar bukti yang tersedia
pada saat penyusunan Laporan Keuangan. Misalnya, kalau pembayaran suatu piutang besar
kemungkinan terjadi (probable) dan tidak ada bukti lain yang bertentangan, maka dapat dibenarkan
untuk mengakui piutang tersebut sebagai aset. Namun demikian, jika populasi piutang banyak

46 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


jumlahnya, maka besar kemungkinan ada yang tidak tertagih; karena itu suatu beban yang
merepresentasikan pengurangan manfaat ekonomi yang diharapkan harus diakui. (paragraf 112)
(2) Keandalan Pengukuran
Kriteria pengakuan suatu pos yang kedua adalah ada tidaknya biaya atau nilai yang dapat
diukur dengan tingkat keandalan tertentu (reliable) seperti yang dibahas pada paragraf 52 sampai
dengan paragraf 59 kerangka dasar ini. Pada banyak kasus, biaya atau nilai harus diestimasi;
penggunaan estimasi yang layak merupakan bagian esensial dalam penyusunan Laporan Keuangan
tanpa mengurangi tingkat keandalan. Namun demikian, kalau estimasi yang layak tak mungkin
dilakukan, pos tersebut tidak diakui dalam neraca atau laporan laba rugi. Misalnya, hasil yang
diharapkan dari suatu tuntutan hukum dapat memenuhi definisi baik aset dan penghasilan
maupun kriteria probabilitas untuk dapat diakui; namun demikian, kalau tidak mungkin diukur
dengan tingkat keandalan tertentu, tuntutan tersebut tidak dapat diakui sebagai aset atau sebagai
penghasilan; namun demikian, eksistensi tuntutan harus diungkapkan dalam catatan, materi
penjelasan atau skedul tambahan. (paragraf 113) Suatu pos yang pada saat tertentu tidak dapat
memenuhi kriteria pengakuan dalam paragraf 110 dapat memenuhi syarat untuk diakui di masa
depan sebagai akibat dari peristiwa atau keadaan yang terjadi kemudian. (paragraf 114) Suatu pos
yang memiliki karakteristik esensial suatu unsur tetapi tidak dapat memenuhi kriteria pengakuan
tetap perlu diungkapkan dalam catatan, materi penjelasan atau skedul tambahan. Pengungkapan
ini dapat dibenarkan kalau pengetahuan mengenai pos tersebut dipandang relevan untuk
mengevaluasi posisi keuangan, kinerja dan perubahan posisi keuangan suatu entitas syariah oleh
pemakai laporan keuangan. (paragraf 115)
(3) Pengakuan Aset
Aset diakui dalam neraca kalau besar kemungkinan bahwa manfaat ekonominya di masa
depan diperoleh entitas syariah dan aset tersebut mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur
dengan andal (paragraf 116). Aset tidak diakui dalam neraca kalau pengeluaran telah terjadi dan
manfaat ekonominya dipandang tidak mungkin mengalir ke dalam entitas syariah setelah periode
akuntansi berjalan. Sebagai alternatif transaksi semacam itu menimbulkan pengakuan beban dalam
laporan laba rugi. Dengan perlakuan ini tidak berarti pengeluaran yang dilakukan manajemen
mempunyai maksud yang lain daripada menghasilkan manfaat ekonomi bagi entitas syariah di
masa depan atau bahwa manajemen salah arah. Implikasi satu-satunya adalah bahwa tingkat
kepastian dari manfaat ekonomi yang diterima entitas syariah setelah periode akuntansi berjalan
tidak mencukupi untuk membenarkan pengakuan aset (paragraf 117).
(4) Pengakuan Kewajiban
Kewajiban diakui dalam neraca kalau besar kemungkinan bahwa pengeluaran sumber daya
yang mengandung manfaat ekonomi akan dilakukan untuk menyelesaikan kewajiban (obligation)
sekarang dan jumlah yang harus diselesaikan dapat diukur dengan andal. Dalam praktek,
kewajiban (obligations) menurut kontrak yang belum dilaksanakan oleh kedua belah pihak
(misalnya, kewajiban atas pesanan persediaan yang belum diterima) pada umumnya tidak diakui
sebagai kewajiban dalam Laporan Keuangan. Namun demikian, kewajiban (obligation) semacam itu
dapat memenuhi definisi kewajiban dan, kalau dalam keadaan tertentu kriteria pengakuan
terpenuhi, maka kewajiban (obligation) tersebut dapat dianggap memenuhi syarat pengakuan.
Dalam kasus ini, pengakuan kewajiban mengakibatkan pengakuan aset atau beban yang
bersangkutan (paragraf 118).
(5) Pengakuan Dana Syirkah Temporer
Pengakuan dana syirkah temporer dalam neraca hanya dapat dilakukan jika entitas syariah
memiliki kewajiban untuk mengembalikan dana yang diterima melalui pengeluaran sumber daya
yang mengandung manfaat ekonomi dan jumlah yang harus diselesaikan dapat diukur dengan
andal. Jumlah dana syirkah temporer dapat berubah sesuai dengan hasil dari investasinya (paragraf
119).

BAB III. Laporan Keuangan Entitas Syariah| 47


(6) Pengakuan Penghasilan
Penghasilan diakui dalam laporan laba rugi kalau kenaikan manfaat ekonomi di masa depan
yang berkaitan dengan peningkatan aset atau penurunan kewajiban telah terjadi dan dapat diukur
dengan andal. Ini berarti pengakuan penghasilan terjadi bersamaan dengan pengakuan kenaikan
aset atau penurunan kewajiban (misalnya, kenaikan bersih aset yang timbul dari penjualan barang
atau jasa atau penurunan kewajiban yang timbul dari pembebasan pinjaman yang masih harus
dibayar). (paragraf 120). Prosedur yang biasanya dianut dalam praktek untuk mengakui
penghasilan, seperti misalnya ketentuan bahwa penghasilan telah diperoleh, merupakan penerapan
kriteria pengakuan dalam kerangka dasar ini. Prosedur semacam ini pada umumnya dimaksudkan
untuk membatasi pengakuan penghasilan pada pos-pos yang dapat diukur dengan andal dan
memiliki derajat kepastian yang cukup (paragraf 121).
(7) Pengakuan Beban
Beban diakui dalam laporan laba rugi kalau penurunan manfaat ekonomi masa depan yang
berkaitan dengan penurunan aset atau peningkatan kewajiban telah terjadi dan dapat diukur
dengan andal. Ini berarti pengakuan beban terjadi bersamaan dengan pengakuan kenaikan
kewajiban atau penurunan aset (misalnya, akrual hak karyawan atau penyusutan aset tetap)
(paragraf 122). Beban diakui dalam laporan laba rugi atas dasar hubungan langsung antara biaya
yang timbul dan pos penghasilan tertentu yang diperoleh. Proses yang biasanya disebut pengaitan
biaya dengan pendapatan (matching of costs with revenues) ini melibatkan pengakuan penghasilan dan
beban secara gabungan atau bersamaan yang dihasilkan secara langsung dan bersama-sama dari
transaksi atau peristiwa lain yang sama; misalnya, berbagai komponen beban yang membentuk
beban pokok penjualan (cost or expense of goods sold) diakui pada saat yang sama sebagai penghasilan
yang diperoleh dari penjualan barang. Namun demikian, penerapan konsep matching dalam
kerangka dasar ini tidak memperkenankan pengakuan pos dalam neraca yang tidak memenuhi
definisi aset atau kewajiban (paragraf 123).
Kalau manfaat ekonomi diharapkan timbul selama beberapa periode akuntansi dan
hubungannya dengan penghasilan hanya dapat ditentukan secara luas atau tak langsung, beban
diakui dalam laporan laba rugi atas dasar prosedur alokasi yang rasional dan sistematis. Hal ini
sering diperlukan dalam pengakuan beban yang berkaitan dengan penggunaan aset, seperti aset
tetap, goodwill, paten dan merek dagang. Dalam kasus semacam itu, beban ini disebut penyusutan
atau amortisasi. Prosedur alokasi ini dimaksudkan untuk mengakui beban dalam periode akuntansi
yang menikmati manfaat ekonomi aset yang bersangkutan (paragraf 124). Beban segera diakui
dalam laporan laba rugi kalau pengeluaran tidak menghasilkan manfaat ekonomi masa depan atau
kalau sepanjang manfaat ekonomi masa depan tidak memenuhi syarat, atau tidak lagi memenuhi
syarat, untuk diakui dalam neraca sebagai aset (paragraf 125). Beban juga diakui dalam laporan
laba rugi pada saat timbul kewajiban tanpa adanya pengakuan aset, seperti apabila timbul
kewajiban akibat garansi produk (paragraf 126).

G. Pengakuan Unsur Laporan Keuangan Syariah


Pengukuran adalah proses penetapan jumlah uang untuk mengakui dan memasukkan setiap unsur
Laporan Keuangan dalam neraca dan laporan laba rugi. Proses ini menyangkut pemilihan dasar
pengukuran tertentu. (paragraf 127). Sejumlah dasar pengukuran yang berbeda digunakan dalam derajat
dan kombinasi yang berbeda dalam Laporan Keuangan. Berbagai dasar pengukuran tersebut adalah
sebagai berikut (paragraf 128):
(a) Biaya historis. Aset dicatat sebesar pengeluaran kas (atau setara kas) yang dibayar atau sebesar nilai
wajar dari imbalan (consideration) yang diberikan untuk memperoleh aset tersebut pada saat perolehan.
Kewajiban dicatat sebesar jumlah yang diterima sebagai penukar dari kewajiban (obligation), atau dalam
keadaan tertentu (misalnya, pajak penghasilan), dalam jumlah kas (atau setara kas)yang diharapkan akan
dibayarkan untuk memenuhi kewajiban dalam pelaksanaan usaha yang normal.

48 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


(b) Biaya kini (current cost). Aset dinilai dalam jumlah kas (atau setara kas) yang seharusnya dibayar bila aset
yang sama atau setara aset diperoleh sekarang. Kewajiban dinyatakan dalam jumlah kas (atau setara
kas) yang tidak didiskontokan (undiscounted) yang mungkin akan diperlukan untuk menyelesaikan
kewajiban (obligation) sekarang.
(c) Nilai realisasi/penyelesaian (realisable/settlement value). Aset dinyatakan dalam jumlah kas (atau setara
kas) yang dapat diperoleh sekarang dengan menjual aset dalam pelepasan normal (orderly disposal).
Kewajiban dinyatakan sebesar nilai penyelesaian; yaitu, jumlah kas (atau setara kas) yang tidak
didiskontokan yang diharapkan akan dibayarkan untuk memenuhi kewajiban dalam pelaksanaan usaha
normal.
Dasar pengukuran yang lazimnya digunakan entitas syariah dalam penyusunan Laporan Keuangan
adalah biaya historis. Ini biasanya digabungkan dengan dasar pengukuran yang lain. Misalnya, persediaan
biasanya dinyatakan sebesar nilai terendah dari biaya historis atau nilai realisasi bersih (lower of cost or net
realizable value), atau akuntansi dana pensiun menilai aset tertentu berdasarkan nilai wajar (fair value)
(paragraf 129).
Penggunaan pengukuran nilai realisasi/penyelesaian untuk menghasilkan nilai kas (atau setara kas)
memerlukan revaluasi secara periodik atas aset, kewajiban dan dana syirkah temporer. Untuk itu, maka
informasi yang dihasilkan harus andal dan dapat dibandingkan. Untuk menjamin keandalan serta dapat
dibandingkan, manajemen harus menggunakan seluruh prinsip-prinsip berikut selama merevaluasi aset,
kewajiban dan dana syirkah temporer (paragraf 130):
(a) Adanya indikator eksternal, seperti harga pasar, yang tersedia secara luas.
(b) Utilisasi seluruh informasi yang relevan baik positif atau negatif.
(c) Utilisasi metode-metode penilaian yang logis dan relevan.
(d) Konsistensi penggunaan metode-metode penilaian yang digunakan.
(e) Utilisasi penggunaan ahli-ahli penilai yang tersedia secara luas.
(f) Konservatisme dalam proses penilaian sesuai objektivitas dan netralitas dalam pemilihan nilai-nilai.
Meskipun relevan untuk merevaluasi nilai aset, kewajiban dan dana syirkah temporer, namun
penggunaan konsep pengukuran nilai realisasi / penyelesaian tidak mudah diterapkan dalam kondisi
sekarang. Penggunaan konsep nilai realisasi/penyelesaian dapat diterapkan untuk tujuan penyajian
informasi tambahan yang relevan dengan suatu akun investasi yang telah ada atau yang prospektif. Namun,
penyajian informasi tambahan tersebut tidak mewajibkan entitas syariah untuk mendistribusikan hasil
investasi yang belum terealisasi (paragraf 131).

3.3. Unsur Laporan Keuangan Entitas Syariah


Laporan keuangan menggambarkan dampak keuangan dari transaksi dan peristiwa lain yang
diklasifikasikan dalam beberapa kelompok besar menurut karakteristik ekonominya. Kelompok besar ini
merupakan unsur laporan keuangan. Unsur yang berkaitan secara langsung dengan pengukuran posisi
keuangan adalah aset, kewajiban, dana syirkah temporer, dan ekuitas. Sedang unsur yang berkaitan dengan
pengukuran kinerja dalam laporan laba rugi adalah penghasilan dan beban. Laporan perubahan posisi
keuangan biasanya mencerminkan berbagai unsur laporan laba rugi dan perubahan dalam berbagai unsur
neraca; dengan demikian, kerangka dasar ini tidak mengidentifikasikan unsur laporan perubahan posisi
keuangan secara khusus.
Penyajian berbagai unsur ini dalam neraca dan laporan laba rugi memerlukan proses subklasifikasi.
Misalnya, aset dan kewajiban dapat diklasifikasikan menurut hakekat atau fungsinya dalam bisnis entitas
syariah dengan maksud untuk menyajikan informasi dengan cara yang paling berguna bagi pemakai untuk
tujuan pengambilan keputusan ekonomi.
Sesuai karakteristik maka laporan keuangan entitas syariah antara lain meliputi:
1 komponen laporan keuangan yang mencerminkan kegiatan komersial:
(a) laporan posisi keuangan;
(b) laporan laba rugi;

BAB III. Laporan Keuangan Entitas Syariah| 49


(c) laporan arus kas; dan
(d) laporan perubahan ekuitas.
2 komponen laporan keuangan yang mencerminkan kegiatan sosial:
(a) laporan sumber dan penggunaan dana zakat; dan
(b) laporan sumber dan penggunaan dana kebajikan.
3 komponen laporan keuangan lainnya yang mencerminkan kegiatan dan tanggung jawab khusus
entitas syariah tersebut.

3.3.1 Laporan Posisi Keuangan (Neraca)


Dalam KDPPLK syariah dijelaskan tentang Laporan Posisi Keuangan (Neraca) Entitas Syariah
sebagai berikut:
A. Unsur yang berkaitan secara langsung dengan pengukuran posisi keuangan adalah aset, kewajiban,
dana syirkah temporer dan ekuitas. Pos-pos ini didefinisikan sebagai berikut: (paragraf 71)
(a) Aset adalah sumber daya yang dikuasai oleh entitas syariah sebagai akibat dari peristiwa masa lalu
dan dari mana manfaat ekonomi di masa depan diharapkan akan diperoleh entitas syariah.
(b) Kewajiban merupakan hutang entitas syariah masa kini yang timbul dari peristiwa masa lalu,
penyelesaiannya diharapkan mengakibatkan arus keluar dari sumber daya entitas syariah yang
mengandung manfaat ekonomi.
(c) Dana syirkah temporer adalah dana yang diterima sebagai investasi dengan jangka waktu tertentu
dari individu dan pihak lainnya dimana entitas syariah mempunyai hak untuk mengelola dan
menginvestasikan dana tersebut dengan pembagian hasil investasi berdasarkan kesepakatan.
(d) Ekuitas adalah hak residual atas aset entitas syariah setelah dikurangi semua kewajiban dan dana
syirkah temporer.
B. Definisi aset dan kewajiban mengidentifikasikan ciri esensialnya tetapi tidak mencoba untuk
menspesifikasikan kriteria yang perlu dipenuhi sebelum diakui di dalam neraca. Jadi, definisi tersebut
mencakup pos-pos yang tidak diakui sebagai aset atau kewajiban di dalam neraca karena tidak
memenuhi kriteria untuk diakui seperti yang dibahas dalam paragraf 109 sampai 126. Khususnya,
harapan bahwa manfaat ekonomi di masa depan akan mengalir dari atau ke dalam entitas syariah
harus cukup pasti untuk memenuhi kriteria probabilitas dalam paragraf 112 sebelum suatu aset atau
kewajiban diakui (paragraf 72).
C. Dalam penilaian apakah suatu pos memenuhi definisi aset, kewajiban, dana syirkah temporer atau
ekuitas, perhatian perlu ditujukan pada substansi yang mendasari, serta realitas ekonomi dan bukan
hanya bentuk hukumnya (paragraf 73).
D. Neraca yang disusun menurut standar akuntansi keuangan syariah yang berlaku dapat meliputi pos
yang tidak memenuhi definisi aset atau kewajiban dan tidak disajikan sebagai bagian dari dana syirkah
temporer atau ekuitas. Namun demikian, definisi yang dirumuskan dalam paragraf 71 akan mendasari
peninjauan kembali terhadap standar akuntansi keuangan syariah yang berlaku di masa depan dan
perumusan standar selanjutnya (paragraf 74).
Komponen Laporan Posisi Keuangan (neraca) seperti Aset, Kewajiban, Dana Syirkah Temporer
dan Ekuitas dijelaskan dalam ketentuan yang lebih rinci seperti dibawah ini:
1. Aset
a. Manfaat ekonomi masa depan yang terwujud dalam aset adalah potensi dari aset tersebut untuk
memberikan sumbangan, baik langsung maupun tidak langsung, arus kas dan setara kas kepada
entitas syariah. Potensi tersebut dapat berbentuk sesuatu yang produktif dan merupakan bagian
dari aktivitas operasional entitas syariah. Mungkin pula berbentuk sesuatu yang dapat diubah
menjadi kas atau setara kas atau berbentuk kemampuan untuk mengurangi pengeluaran kas,
seperti penurunan biaya akibat penggunaan proses produksi alternatif (paragraf 75).

50 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


b. Entitas syariah biasanya menggunakan aset untuk memproduksi barang atau jasa yang dapat
memuaskan kebutuhan dan keperluan pelanggan; berhubung barang atau jasa ini dapat
memuaskan kebutuhan dan keperluan ini, pelanggan bersedia membayar sehingga memberikan
sumbangan kepada arus kas entitas syariah. Kas sendiri memberikan jasa kepada entitas syariah
karena kekuasaannya terhadap sumber daya yang lain (paragraf 76).
c. Manfaat ekonomi masa depan yang terwujud dalam aset dapat mengalir ke dalam entitas syariah
dengan beberapa cara. Misalnya dalam paragraf 77, aset dapat:
(a) digunakan baik sendiri maupun bersama aset lain dalam produksi barang dan jasa yang
dijual oleh entitas syariah;
(b) dipertukarkan dengan aset lain;
(c) digunakan untuk menyelesaikan kewajiban; atau
(d) dibagikan kepada para pemilik entitas syariah.
d. Banyak aset, misalnya, aset tetap memiliki bentuk fisik. Namun demikian, bentuk fisik tersebut
tidak esensial untuk menentukan eksistensi aset; karena itu, paten dan hak cipta, misalnya,
merupakan aset kalau manfaat ekonomi yang diperoleh entitas syariah di masa depan dan kalau
masing-masing aset tersebut dikuasai entitas syariah (paragraf 78).
e. Banyak aset, misalnya, piutang dan properti, dihubungkan dengan hak menurut hukum, termasuk
hak milik. Dalam menentukan eksistensi aset, hak milik tidak esensial; jadi, misalnya, properti yang
diperoleh melalui sewa guna usaha adalah aset jika entitas syariah mengendalikan manfaat yang
diharapkan dari properti tersebut. Meskipun kemampuan entitas syariah untuk mengendalikan
manfaat biasanya berasal dari hak menurut hukum suatu barang atau jasa dapat memenuhi definisi
aset meskipun tidak dikuasai berdasarkan hukum. Misalnya, pengetahuan yang diperoleh melalui
aktivitas pengembangan dapat memenuhi definisi aset jika, dengan merahasiakan pengetahuan
tersebut, entitas syariah menikmati manfaat yang diharapkan dari pengetahuan tersebut (paragraf
79).
f. Aset entitas syariah berasal dari transaksi atau peristiwa lain yang terjadi di masa lalu. Entitas
syariah biasanya memperoleh aset melalui pembelian atau produksi sendiri, tetapi transaksi atau
peristiwa lain juga dapat menghasilkan aset; misalnya properti yang diterima entitas syariah dari
pemerintah sebagai bagian dari program untuk merangsang pertumbuhan ekonomi dalam suatu
wilayah. Transaksi atau peristiwa yang diharapkan terjadi di masa depan tidak dengan sendirinya
memunculkan aset; oleh karena itu, misalnya, maksud untuk membeli persediaan tidak dengan
sendirinya memenuhi definisi aset (paragraf 80).
g. Ada hubungan erat antara terjadinya pengeluaran dan timbulnya aset, tetapi kedua peristiwa ini
tidak perlu harus terjadi bersamaan. Oleh karena itu, kalau entitas syariah melakukan pengeluaran,
peristiwa ini memberikan bukti bahwa entitas syariah tersebut mengejar manfaat ekonomi tetapi
belum merupakan bukti konklusif bahwa suatu barang atau jasa yang memenuhi definisi aset telah
diperoleh. Sama halnya dengan tidak adanya pengeluaran yang bersangkutan tidak mengecualikan
suatu barang atau jasa memenuhi definisi aset dan dengan demikian terdapat kemungkinan untuk
diakui pencantumannya dalam neraca; misalnya, barang atau jasa yang telah didonasikan kepada
entitas syariah memenuhi definisi aset (paragraf 81).

2. Kewajiban
a. Karakteristik esensial kewajiban (liabilities) adalah bahwa entitas syariah mempunyai kewajiban
(obligation) masa kini. Kewajiban adalah suatu tugas atau tanggung jawab untuk bertindak atau
untuk melaksanakan sesuatu dengan cara tertentu. Kewajiban dapat dipaksakan menurut hukum
sebagai konsekuensi dari kontrak mengikat atau peraturan perundangan. Ini biasanya memang
demikian, misalnya, dengan disertai jumlah yang terhutang dari barang dan jasa yang telah
diterima. Namun, kewajiban juga timbul dari praktek bisnis yang lazim, kebiasaan dan keinginan
untuk memelihara hubungan bisnis yang baik atau bertindak dengan cara yang adil. Kalau,

BAB III. Laporan Keuangan Entitas Syariah| 51


misalnya, sebagai suatu kebijakan, entitas syariah memutuskan untuk menarik kembali produknya
yang cacat meskipun masa garansi sebenarnya telah lewat, jumlah yang diharapkan akan
dibayarkan tersebut merupakan kewajiban (paragraf 82).
b. Suatu perbedaan perlu dilakukan antara kewajiban sekarang dan komitmen di masa depan.
Keputusan manajemen entitas syariah untuk membeli aset di masa depan tidak dengan sendirinya
menimbulkan kewajiban sekarang. Kewajiban biasanya timbul hanya kalau aset telah diserahkan
atau entitas syariah telah membuat perjanjian yang tidak dapat dibatalkan untuk membeli aset.
Pada kasus yang terakhir, hakekat perjanjian yang tak dapat dibatalkan berarti bahwa konsekuensi
ekonomi dari kegagalan untuk memenuhi kewajiban, misalnya, karena adanya hukuman yang
substansial, membuat entitas syariah memiliki sedikit pilihan, itu pun kalau ada, untuk mencegah
pengeluaran sumber daya kepada pihak lain (paragraf 83).
c. Penyelesaian kewajiban masa kini biasanya melibatkan entitas syariah untuk mengorbankan
sumber daya yang memiliki manfaat masa depan demi untuk memenuhi tuntutan pihak lain.
Penyelesaian kewajiban yang ada sekarang dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya,
dengan: (paragraf 84)
(a) pembayaran kas;
(b) penyerahan aset lain;
(c) pemberian jasa;
(d) penggantian kewajiban tersebut dengan kewajiban lain; atau
(e) konversi kewajiban menjadi ekuitas.
Kewajiban juga dapat dihapuskan dengan cara lain, seperti kreditur membebaskan atau
membatalkan haknya.
d. Kewajiban timbul dari transaksi atau peristiwa masa lalu. Jadi, misalnya, pembelian barang atau
penggunaan jasa menimbulkan hutang usaha (kecuali kalau dibayar di muka atau pada saat
penyerahan) dan penerimaan pinjaman bank syariah menimbulkan kewajiban untuk membayar
kembali pinjaman tersebut. Entitas syariah juga dapat mengakui sebagai kewajiban jumlah rabat
masa depan yang didasarkan pada jumlah pembelian tahunan para pelanggan; dalam kasus ini,
penjualan barang masa lalu merupakan transaksi yang menimbulkan kewajiban (paragraf 85).
e. Beberapa jenis kewajiban hanya dapat diukur dengan menggunakan estimasi dalam derajat yang
substansial. Beberapa entitas syariah menyebut kewajiban ini sebagai penyisihan (provision).
Dalam pengertian sempit, penyisihan semacam itu tidak dipandang sebagai kewajiban karena
hanya mencakupi jumlah yang dapat ditentukan tanpa perlu membuat estimasi. Definisi kewajiban
dalam paragraf 71 mengikuti pendekatan luas. Jadi, kalau penyisihan menyangkut kewajiban masa
kini dan memenuhi ketentuan lain dalam definisi tersebut, maka pos yang bersangkutan
merupakan kewajiban meskipun jumlahnya harus diestimasi. Contohnya adalah penyisihan untuk
pembayaran yang akan dilakukan terhadap garansi berjalan dan penyisihan untuk menutup
kewajiban manfaat pensiun (paragraf 86).
3. Dana Syirkah Temporer
a. Dana syirkah temporer adalah dana yang diterima oleh entitas syariah dimana entitas syariah
mempunyai hak untuk mengelola dan menginvestasikan dana, baik sesuai dengan kebijakan entitas
syariah atau kebijakan pembatasan dari pemilik dana, dengan keuntungan dibagikan sesuai dengan
kesepakatan; sedangkan dalam hal dana syirkah temporer berkurang disebabkan kerugian normal
yang bukan akibat dari unsur kesalahan yang disengaja, kelalaian, atau pelanggaran kesepakatan,
entitas syariah tidak berkewajiban mengembalikan atau menutup kerugian atau kekurangan dana
tersebut. Contoh dari dana syirkah temporer adalah penerimaan dana dari investasi mudharabah
muthlaqah, mudharabah muqayyadah, musyarakah, dan akun lain yang sejenis (paragraf 87).
b. Dana syirkah temporer tidak dapat digolongkan sebagai kewajiban. Hal ini karena entitas syariah
tidak berkewajiban, ketika mengalami kerugian, untuk mengembalikan jumlah dana awal dari
pemilik dana kecuali akibat kelalaian atau wanprestasi entitas syariah. Di sisi lain, dana syirkah

52 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


temporer tidak dapat digolongkan sebagai ekuitas karena mempunyai waktu jatuh tempo dan
pemilik dana tidak mempunyai hak kepemilikan yang sama dengan pemegang saham, seperti hak
voting dan hak atas realisasi keuntungan yang berasal dari aset lancar dan aset noninvestasi (current
and other non investment accounts) (paragraf 88).
c. Hubungan antara entitas syariah dan pemilik dana syirkah temporer merupakan hubungan
kemitraan berdasarkan akad mudharabah muthlaqah, mudharabah muqayyadah atau musyarakah.
Entitas syariah mempunyai hak untuk mengelola dan menginvestasikan dana yang diterima
dengan atau tanpa batasan seperti mengenai tempat, cara, atau obyek investasi (paragraf 89).
d. Dana syirkah temporer merupakan salah satu unsur neraca dimana hal tersebut sesuai dengan
prinsip syariah yang memberikan hak kepada entitas syariah untuk mengelola dan
menginvestasikan dana, termasuk untuk mencampur dana dimaksud dengan dana lainnya
(paragraf 90).
e. Pemilik dana syirkah temporer memperoleh bagian atas keuntungan sesuai kesepakatan dan
menerima kerugian berdasarkan jumlah dana dari masing-masing pihak. Pembagian hasil dana
syirkah temporer dapat dengan konsep bagi hasil atau bagi untung (paragraf 91).
4. Ekuitas
a. Meskipun dalam paragraf 71, didefinisikan sebagai residual, ekuitas dapat disubklasifikasikan
dalam neraca. Misalnya, dalam perseroan terbatas, setoran modal oleh para pemegang saham,
saldo laba (retained earnings), penyisihan saldo laba dan penyisihan penyesuaian pemeliharaan modal
masing-masing disajikan secara terpisah. Klasifikasi semacam itu dapat menjadi relevan untuk
kebutuhan pengambilan keputusan pemakai laporan keuangan apabila pos tersebut
mengindikasikan pembatasan hukum atau pembatasan lainnya terhadap kemampuan entitas
syariah untuk membagikan atau menggunakan ekuitas. Klasifikasi tersebut juga dapat
merefleksikan fakta bahwa pihak-pihak dengan hak kepemilikannya masing-masing dalam entitas
syariah mempunyai hak yang berbeda dalam hubungannya dengan penerimaan dividen atau
pembayaran kembali modal (paragraf 92).
b. Pembentukan cadangan kadang-kadang diharuskan oleh suatu peraturan perundangan yang
berlaku untuk memberikan perlindungan tambahan kepada entitas syariah dan para krediturnya
terhadap kerugian yang ditimbulkan. Cadangan yang lain dapat dibentuk kalau hukum pajak
memberikan pembebasan dari, atau pengurangan dalam kewajiban pajak pada waktu dilakukan
pemindahan ke cadangan semacam itu. Eksistensi serta besarnya cadangan menurut peraturan
perundangan yang berlaku ini merupakan informasi yang relevan untuk kebutuhan pengambilan
keputusan bagi para pemakai laporan keuangan. Pemindahan ke cadangan tersebut lebih
merupakan penyisihan saldo laba daripada beban (paragraf 93).
c. Jumlah ekuitas yang ditampilkan dalam neraca tergantung pada pengukuran aset, kewajiban dan
dana syirkah temporer. Biasanya hanya karena faktor kebetulan kalau jumlah ekuitas agregat sama
dengan jumlah nilai pasar keseluruhan (aggregate market value) dari saham entitas syariah atau jumlah
yang dapat diperoleh dengan melepaskan seluruh aset bersih entitas syariah baik satu persatu
(liquidating value) atau secara keseluruhan dalam kondisi kelangsungan usaha (going concern value).
(paragraf 94)
d. Aktivitas bisnis sering dilakukan melalui beberapa bentuk entitas syariah seperti entitas
perseorangan, persekutuan dan trust, serta badan usaha milik negara. Kerangka hukum bagi
berbagai entitas syariah semacam itu seringkali berbeda dengan yang berlaku bagi perseroan
terbatas. Misalnya, mungkin hanya sedikit saja, kalaupun ada, pembatasan-pembatasan terhadap
pembagian jumlah yang tergolong dalam ekuitas kepada para pemilik atau pihak lain. Namun
demikian, definisi ekuitas dan aspek-aspek lain dalam kerangka dasar yang mengatur ekuitas
berlaku untuk entitas syariah semacam itu (paragraf 95).
Sedangkan dalam PSAK 101 tentang Penyajian Laporan Keuangan Entitas Syariah dijelaskan
Pembagian Lancar dengan Tidak Lancar dan Jangka Pendek dengan Jangka Panjang sebagai berikut:

BAB III. Laporan Keuangan Entitas Syariah| 53


1. Entitas syariah menyajikan aset lancar terpisah dari aset tidak lancar dan kewajiban jangka pendek
terpisah dari kewajiban jangka panjang kecuali untuk industri tertentu yang diatur dalam Standar
Akuntansi Keuangan khusus. Aset lancar disajikan menurut ukuran likuiditas sedangkan kewajiban
disajikan menurut urutan jatuh temponya (paragraf 44).
2. Entitas syariah harus mengungkapkan informasi mengenai jumlah setiap aset yang akan diterima dan
kewajiban yang akan dibayarkan sebelum dan sesudah 12 (dua belas) bulan dari tanggal neraca (prg
45).
3. Apabila entitas syariah menyediakan barang atau jasa dalam siklus operasi entitas syariah yang dapat
diidentifikasi dengan jelas, maka klasifikasi aset lancar dan tidak lancar serta kewajiban jangka
pendek dan jangka panjang dalam neraca memberikan informasi yang bermanfaat dengan
membedakan aset bersih sebagai modal kerja dengan aset yang digunakan untuk operasi jangka
panjang. Pengklasifikasian tersebut juga menonjolkan aset yang diharapkan akan direalisasi dalam
siklus operasi berjalan dan kewajiban yang akan jatuh tempo pada periode yang sama. Informasi
tentang tanggal jatuh tempo aset dan kewajiban bermanfaat dalam menilai likuiditas dan solvabilitas
entitas syariah (paragraf 46).
Sedangkan dalam PSAK 101 tentang Penyajian Laporan Keuangan Entitas Syariah dijelaskan karakteristik
aset lancar dan kewajiban lancar sebagai berikut:
1. Aset Lancar
a. Dalam paragraf 47 disebutkan bahwa suatu aset diklasifikasikan sebagai aset lancar, jika aset
tersebut:
(a) diperkirakan akan direalisasi atau dimiliki untuk dijual atau digunakan dalam jangka waktu
siklus operasi normal entitas syariah; atau
(b) dimiliki untuk diperdagangkan atau untuk tujuan jangka pendek dan diharapkan akan direalisir
dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan dari tanggal neraca; atau
(c) berupa kas atau setara kas yang penggunaannya tidak dibatasi.
Aset yang tidak termasuk kategori tersebut diatas diklasifikasikan sebagai aset tidak lancar.
c. Siklus operasi entitas syariah merupakan rata-rata jangka waktu antara perolehan bahan baku
memasuki proses dan realisasinya menjadi kas atau instrumen yang siap dijadikan kas. Aset lancar
termasuk persediaan dan piutang dagang yang dijual, dikonsumsi dan direalisasi sebagai bagian
dari siklus normal operasi entitas syariah walaupun aset tersebut tidak diharapkan akan direalisasi
dalam jangka waktu dua belas bulan dari tanggal neraca. Surat berharga diklasifikasikan sebagai
aset lancar apabila surat berharga tersebut diharapkan akan direalisasi dalam jangka waktu dua
belas bulan dari tanggal neraca dan jika lebih dari dua belas bulan diklasifikasikan sebagai aset
tidak lancar. Untuk tujuan pengklasifikasian ini, siklus operasi diasumsikan satu tahun, kecuali
untuk kegiatan atau industri tertentu dimana jangka waktu yang lebih panjang jelas lebih layak
(paragraf 48).
2. Kewajiban Jangka Pendek
a. Dalam paragraf 49, suatu kewajiban diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka pendek, jika:
(a) diperkirakan akan diselesaikan dalam jangka waktu siklus normal operasi entitas syariah;
atau
(b) jatuh tempo dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan dari tanggal neraca.
Semua kewajiban lainnya harus diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka panjang.
b. Kewajiban jangka pendek dapat diklasifikasikan dengan cara yang serupa dengan aset lancar.
Beberapa kewajiban jangka pendek seperti hutang dagang dan biaya pegawai serta biaya operasi
lainnya membentuk sebagian modal kerja yang digunakan dalam siklus operasi normal entitas
syariah. Pos-pos operasi seperti tersebut di atas diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka pendek
walaupun pos-pos tersebut diselesaikan dalam jangka waktu lebih dari dua belas bulan dari
tanggal neraca. (paragraf 50)

54 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


c. Kewajiban jangka pendek lainnya lebih sulit untuk dikaitkan dengan siklus operasi berjalan
meskipun akan jatuh tempo dalam jangka waktu dua belas bulan sejak tanggal neraca, misalnya,
utang dividen, pajak penghasilan dan utang selain utang dagang. (paragraf 51 )
Sedangkan dalam PSAK 101 tentang Penyajian Laporan Keuangan Entitas Syariah dijelaskan
Informasi yang disajikan dalam Neraca adalah sebagai berikut:
1. Neraca entitas syariah disajikan sedemikian rupa yang menonjolkan berbagai unsur posisi
keuangan yang diperlukan bagi penyajian secara wajar. Neraca, minimal mencakup pos-pos
berikut: (paragraf 52)
(a) kas dan setara kas;
(b) piutang usaha dan piutang lainnya;
(c) aset keuangan;
(d) persediaan;
(e) investasi yang diperlakukan menggunakan metode ekuitas;
(f) aset tetap;
(g) Paset tak berwujud;
(h) hutang usaha dan hutang lainnya;
(i) hutang pajak;
(j) dana syirkah temporer;
(k) hak minoritas; dan
(l) modal saham dan pos ekuitas lainnya.
Pos, judul, dan sub-jumlah lain disajikan dalam neraca apabila diwajibkan oleh Pernyataan
Standar Akuntansi Keuangan atau apabila penyajian tersebut diperlukan untuk menyajikan
posisi keuangan entitas syariah secara wajar.
2. Pernyataan ini tidak mengatur susunan atau format mengenai pos-pos yang harus disajikan
dalam neraca. Paragraf 52 merupakan suatu daftar pos-pos yang berbeda dalam sifat maupun
fungsinya sehingga layak disajikan di neraca secara terpisah. Penyesuaian terhadap pos-pos
tersebut di atas meliputi: (paragraf 53 )
(a) penambahan pos-pos dilakukan jika Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan mewajibkan
penyajian secara terpisah dalam neraca, atau apabila suatu pos sangat material sehingga penyajian
yang terpisah akan membantu penyajian posisi keuangan secara wajar;
(b) istilah yang digunakan dan urutan pos-pos dapat diubah sesuai dengan sifat entitas syariah dan
transaksinya guna memberikan informasi yang diperlukan bagi pemahaman posisi keuangan
entitas syariah secara menyeluruh.
3. Pertimbangan apakah pos-pos tambahan disajikan secara terpisah didasarkan atas penilaian dari (prgf
54):
(a) sifat, likuiditas dan materialitas aset;
(b) fungsi pos-pos tersebut dalam entitas syariah;
(c) jumlah, sifat dan jangka waktu kewajiban.
4. Aset dan kewajiban yang berbeda dalam sifat dan fungsi kadang-kadang diukur dengan dasar
pengukuran yang berbeda. Misalnya aset tertentu dicatat atas dasar biaya perolehan atau penilaian
kembali, maka penggunaan dasar pengukuran yang berbeda untuk setiap aset mengindikasikan bahwa
sifat dan fungsi aset tersebut juga berbeda sehingga aset tersebut harus disajikan secara terpisah
(paragraf 55).
Sedangkan dalam PSAK 101 tentang Penyajian Laporan Keuangan Entitas Syariah dijelaskan
informasi disajikan di neraca atau di catatan atas Laporan Keuangan sebagai berikut:
1. Entitas syariah harus mengungkapkan, di Neraca atau di Catatan atas Laporan Keuangan,
subklasifikasi pos-pos yang disajikan, diklasifikasikan dengan cara yang tepat sesuai dengan operasi
entitas syariah. Setiap pos disubklasifikasikan, jika memungkinkan, sesuai dengan sifatnya; dan
jumlah terutang atau piutang pada entitas syariah induk, anak entitas syariah, entitas syariah asosiasi
dan pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa lainnya diungkapkan secara terpisah (paragraf
56).

BAB III. Laporan Keuangan Entitas Syariah| 55


2. Rincian yang tercakup dalam subklasifikasi, di Neraca atau di Catatan atas Laporan Keuangan,
tergantung pada persyaratan dari PSAK dan materialitas jumlah pos yang bersangkutan. Faktor-
faktor yang diuraikan pada paragraf 54 dapat digunakan dalam menentukan dasar bagi subklasifikasi
(prgf 57).
3. Entitas syariah mengungkapkan hal-hal berikut di Neraca atau di Catatan atas Laporan Keuangan
(paragraf 58):
(a) untuk setiap jenis saham:
(b) jumlah saham modal dasar;
(c) jumlah saham yang diterbitkan dan disetor penuh;
(d) nilai nominal saham;
(e) ikhtisar perubahan jumlah saham beredar;
(f) hak, keistimewaan dan pembatasan yang melekat pada setiap jenis saham, termasuk
pembatasan atas dividen dan pembayaran kembali atas modal;
(g) saham entitas syariah yang dikuasai oleh entitas syariah itu sendiri atau oleh anak entitas
syariah atau entitas syariah asosiasi; dan
(h) saham yang dicadangkan untuk hak opsi dan kontrak penjualan, termasuk nilai dan
persyaratannya;
(i) penjelasan mengenai sifat dan tujuan pos cadangan dalam ekuitas; dan
(j) penjelasan apakah dividen yang diusulkan tapi secara resmi belum disetujui untuk dibayarkan
telah diakui atau tidak sebagai kewajiban.
4. Entitas syariah yang modalnya tidak terbagi dalam saham, seperti persekutuan, mengungkapkan
informasi yang setara dengan persyaratan di atas, yang memperlihatkan perubahan dalam suatu
periode dari setiap jenis penyertaan serta hak, keistimewaan dan pembatasan yang melekat pada
setiap jenis penyertaan (paragraf 59):

56 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


Ilustrasi Neraca Untuk Perbankan Syariah
PT Bank Syariah “X”
Laporan Posisi Keuangan (Neraca)
Per 31 Desember 200-A dan 200-B
ASET 200-B 200-A
Kas xxx xxx
Penempatan pada Bank Indonesia xxx xxx
Giro pada bank lain xxx xxx
Penempatan pada bank lain xxx xxx
Investasi pada efek/surat berharga xxx xxx
Piutang:
Murabahah xxx xxx
Salam xxx xxx
Istishna' xxx xxx
Ijarah xxx xxx
Jumlah Piutang xxx xxx
Pembiayaan:
Mudharabah xxx xxx
Musyarakah xxx xxx
Jumlah Pembiayaan xxx xxx
Persediaan xxx xxx
Tagihan dan kewajiban akseptasi xxx xxx
Aset Ijarah xxx xxx
Aset Istishna dalam penyelesaian xxx xxx
Penyertaan pada entitas lain xxx xxx
Aset tetap dan akumulasi penyusutan xxx xxx
Aset lainnya xxx xxx
Jumlah Aset xxx xxx
KEWAJIBAN
Kewajiban segera xxx xxx
Bagi hasil yang belum dibagikan xxx xxx
Simpanan xxx xxx
Simpanan dari bank lain xxx xxx
Uutang:
Salam xxx xxx
Istishna’ xxx xxx
Jumlah utang xxx
Kewajiban kepada bank lain xxx xxx
Pembiayaan yang diterima xxx xxx
Hutang pajak xxx xxx
Estimasi kerugian komitmen dan kontinjensi xxx xxx
Pinjaman yang diterima xxx xxx
Pinjaman subordinasi xxx xxx
Jumlah Kewajiban xxx xxx

BAB III. Laporan Keuangan Entitas Syariah| 57


DANA SYIRKAH TEMPORER (DST)
Dana syirkah temporer dari bukan bank:
Tabungan mudharabah xxx xxx
Deposito mudharabah xxx xxx
Jumlah DST bukan bank xxx xxx
Dana syirkah temporer dari bank:
Tabungan mudharabah xxx xxx
Deposito mudharabah xxx xxx
Jumlah DST dari bank xxx xxx
Musyarakah xxx xxx
Jumlah Dana Syirkah Temporer xxx xxx
EKUITAS
Modal disetor xxx xxx
Tambahan modal disetor xxx xxx
Saldo laba (rugi) xxx xxx
Jumlah Ekuitas xxx xxx
Jumlah Kewajiban, DST dan Ekuitas xxx xxx

3.3.2 Laporan Laba Rugi (Laporan Kinerja)


Salah satu unsur Laporan Keuangan Lembaga Keuangan Syariah adalah laporan tentang kinerja
yang dilakukan dalam periode tertentu yaitu “Laporan Laba Rugi”. Dalam Kerangka Dasar Penyusunan
Penyajian Laporan Keuangan Syariah dijelaskan tentang Kinerja sebagai berikut:
1. Penghasilan bersih (laba) seringkali digunakan sebagai ukuran kinerja atau sebagai dasar bagi ukuran
yang lain seperti imbalan investasi (return on investment) atau penghasilan per saham (earnings per share).
Unsur yang langsung berkaitan dengan pengukuran penghasilan bersih (laba) adalah penghasilan dan
beban (paragraf 96).
2. Unsur penghasilan dan beban didefinisikan sebagai berikut (paragraf 97):
(a) Penghasilan (income) adalah kenaikan manfaat ekonomi selama suatu periode akuntansi dalam
bentuk pemasukan atau penambahan aset atau penurunan kewajiban yang mengakibatkan
kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi penanam modal.
(b) Beban (expenses) adalah penurunan manfaat ekonomi selama suatu periode akuntansi dalam
bentuk arus keluar atau berkurangnya aset atau terjadinya kewajiban yang mengakibatkan
penurunan ekuitas yang tidak menyangkut pembagian kepada penanam modal.
3. Definisi penghasilan dan beban mengidentifikasikan ciri-ciri esensial namun tidak mencoba untuk
mengidentifikasikan kriteria yang perlu dipenuhi sebelum diakui dalam laporan laba rugi. Kriteria
pengakuan penghasilan dan beban dibahas dalam paragraf 109 sampai dengan 126 (paragraf 98).
4. Penghasilan dan beban dapat disajikan dalam laporan laba rugi dengan beberapa cara yang
berbeda demi untuk menyediakan informasi yang relevan untuk pengambilan keputusan ekonomi.
Misalnya, pembedaan antara pos penghasilan dan beban yang berasal dan tidak berasal dari
pelaksanaan aktivitas entitas syariah yang biasa (ordinary) merupakan praktek yang lazim.
Pembedaan ini dilakukan berdasarkan argumentasi bahwa sumber suatu pos adalah relevan dalam
mengevaluasi kemampuan entitas syariah untuk menghasilkan kas (dan setara kas) di masa depan;
misalnya, aktivitas insidental seperti pengalihan investasi jangka panjang tampaknya tidak akan

58 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


terjadi secara reguler. Pada waktu membedakan pos dengan cara ini perlu dipertimbangkan
hakekat entitas syariah dan operasinya. Pos yang timbul dari aktivitas yang biasa bagi suatu entitas
syariah mungkin tidak biasa bagi entitas syariah dan entitas lain (paragraf 99).
5. Pembedaan antara pos penghasilan dan beban dan penggabungan pos tersebut dengan cara
berbeda juga memungkinkan penyajian beberapa ukuran kinerja entitas syariah, masing-masing
dengan derajat cakupan yang berbeda. Misalnya, laporan laba rugi dapat menyajikan laba kotor,
laba bersih dari aktivitas biasa sebelum pajak, laba bersih dari aktivitas biasa setelah pajak, dan laba
bersih (paragraf 100).
Sedangkan dari kompenen-komponen yang ada dalam laporan tentang kinerja tersebut yang meliputi
penghasilan, beban, hak pihak ketiga atas bagi hasil diatur secara rinci sebagai berikut:
1. Penghasilan
a. Definisi penghasilan (income) meliputi baik pendapatan (revenues) maupun keuntungan (gains).
Pendapatan timbul dalam pelaksanaan aktivitas entitas syariah yang biasa dan dikenal dengan
sebutan yang berbeda seperti penjualan, penghasilan jasa (fees), bagi hasil, dividen, royalti dan sewa
(paragraf 101).
b. Keuntungan mencerminkan pos lainnya yang memenuhi definisi penghasilan dan mungkin timbul
atau mungkin tidak timbul dalam pelaksanaan aktivitas entitas syariah yang biasa. Keuntungan
mencerminkan kenaikan manfaat ekonomi dan dengan demikian pada hakekatnya tidak berbeda
dengan pendapatan. Oleh karena itu, pos tersebut tidak dipandang sebagai unsur terpisah dalam
kerangka dasar ini (paragraf 102 ).
c. Keuntungan meliputi, misalnya, pos yang timbul dalam pengalihan aset tak lancar. Definisi
penghasilan juga mencakupi keuntungan yang belum direalisasi; misalnya, yang timbul dari
revaluasi sekuritas yang dapat dipasarkan (marketable) dan dari kenaikan jumlah aset jangka
panjang. Kalau diakui dalam laporan laba rugi, keuntungan biasanya dicantumkan terpisah karena
informasi mengenai pos tersebut berguna dalam pengambilan keputusan ekonomi. Keuntungan
biasanya dilaporkan dalam jumlah bersih setelah dikurangi dengan beban yang bersangkutan
(paragraf 103).
d. Berbagai jenis aset dapat diterima atau bertambah karena penghasilan; misalnya kas, piutang serta
barang dan jasa yang diterima sebagai penukar dari barang dan jasa yang dipasok. Penghasilan
dapat juga berasal dari penyelesaian kewajiban. Misalnya, entitas syariah dapat memberikan barang
dan jasa kepada kreditur untuk melunasi pinjaman (paragraf 104).
2. Beban
a. Definisi beban mencakupi baik kerugian maupun beban yang timbul dalam pelaksanaan aktivitas
entitas syariah yang biasa. Beban yang timbul dalam pelaksanaan aktivitas entitas syariah yang
biasa meliputi, misalnya, beban pokok penjualan, gaji dan penyusutan. Beban tersebut biasanya
berbentuk arus keluar atau berkurangnya aset seperti kas (dan setara kas), persediaan dan aset
tetap (paragraf 105).
b. Kerugian mencerminkan pos lain yang memenuhi definisi beban yang mungkin timbul atau
mungkin tidak timbul dari aktivitas entitas syariah yang biasa. Kerugian tersebut mencerminkan
berkurangnya manfaat ekonomi, dan pada hakekatnya tidak berbeda dari beban lain. Oleh karena
itu, kerugian tidak dipandang sebagai unsur terpisah dalam kerangka dasar ini (paragraf 106).
c. Kerugian dapat timbul, misalnya dari bencana kebakaran, banjir, seperti juga yang timbul dari
pelepasan aset tidak lancar. Definisi beban juga mencakupi kerugian yang belum direalisasi,
misalnya, kerugian yang timbul dari pengaruh peningkatan kurs valuta asing dalam hubungannya
dengan pinjaman entitas syariah dalam mata uang tersebut. Kalau kerugian diakui dalam laporan
laba rugi, biasanya disajikan secara terpisah karena pengetahuan mengenai pos tersebut berguna
untuk tujuan pengambilan keputusan ekonomi. Kerugian seringkali dilaporkan dalam jumlah
bersih setelah dikurangi dengan penghasilan yang bersangkutan (paragraf 107).

BAB III. Laporan Keuangan Entitas Syariah| 59


3. Hak Pihak Ketiga atas Bagi Hasil
108. Hak pihak ketiga atas bagi hasil dana syirkah temporer adalah bagian bagi hasil pemilik
dana atas keuntungan dan kerugian hasil investasi bersama entitas syariah dalam suatu periode
Laporan Keuangan. Hak pihak ketiga atas bagi hasil tidak bisa dikelompokan sebagai beban (ketika
untung) atau pendapatan (ketika rugi). Namun, hak pihak ketiga atas bagi hasil merupakan alokasi
keuntungan dan kerugian kepada pemilik dana atas investasi yang dilakukan bersama dengan entitas
syariah (paragraf 108).
Dalam PSAK 101 tentang Penyajikan Laporan Keuangan Syariah diatur informasi disajikan dalam
Laporan Laba Rugi sebagai berikut:
1. Laporan Laba Rugi entitas syariah disajikan sedemikian rupa yang menonjolkan berbagai unsur
kinerja keuangan yang diperlukan bagi penyajian secara wajar. Dalam paragraf 60, Laporan laba rugi
minimal mencakup pos-pos berikut:
(a) pendapatan usaha;
(b) bagi hasil untuk pemilik dana;
(c) beban usaha;
(d) laba atau rugi usaha;
(e) pendapatan dan beban nonusaha;
(f) laba atau rugi dari aktivitas normal;
(g) beban pajak; dan
(h) laba atau rugi bersih untuk periode berjalan.
Pos, judul dan sub-jumlah lainnya disajikan dalam laporan laba rugi apabila diwajibkan oleh
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan atau apabila penyajian tersebut diperlukan untuk
menyajikan kinerja keuangan entitas syariah secara wajar.
2. Berbagai kegiatan, transaksi, dan peristiwa menghasilkan pengaruh berbeda terhadap stabilitas, risiko,
dan prediksi. Pengungkapan unsur-unsur kinerja membantu dalam memahami hasil yang dicapai dan
dalam menilai hasil yang akan diperoleh pada masa akan datang. Dalam rangka menyajikan laporan
laba rugi secara wajar maka dapat dilakukan penambahan pos-pos dan perubahan istilah-istilah yang
dipakai serta perubahan urut-urutan dari pos-pos yang terdapat dalam laporan laba rugi. Faktor-faktor
yang harus diperhatikan dalam melakukan penambahan dan perubahan tersebut meliputi materialitas,
hakekat dan fungsi dari berbagai komponen pendapatan dan beban (paragraf 61).
3 Jika terdapat pendapatan non-halal maka pendapatan tersebut tidak boleh disajikan di dalam laporan
laba rugi entitas syariah maupun laba rugi konsolidasian entitas konvensional yang
mengkonsolidasikan entitas syariah. Informasi pendapatan non-halal tersebut disajikan dalam laporan
sumber dan penggunaan dana kebajikan (paragraf 62).
Disamping itu dalam PSAK 101 tentang Penyajikan Laporan Keuangan Syariah diatur Informasi
Disajikan di Laporan Laba Rugi atau di Catatan Atas Laporan Keuangan sebagai berikut:
1. Entitas syariah menyajikan, di Laporan Laba Rugi atau di Catatan atas Laporan Keuangan, rincian
beban dengan menggunakan klasifikasi yang didasarkan pada sifat atau fungsi beban di dalam entitas
syariah (paragraf 63).
2. Entitas syariah disarankan untuk menyajikan rincian seperti tersebut dalam paragraf 63 di atas pada
Laporan Laba Rugi. Pos-pos beban di subklasifikasikan lebih lanjut dalam rangka menonjolkan
cakupan komponen-komponen kinerja keuangan yang mungkin berbeda dalam hal stabilitas, potensi
menghasilkan laba atau rugi dan prediksi (paragraf 64).
3. Entitas syariah yang mengklasifikasikan beban menurut fungsinya harus mengungkapkan informasi
tambahan mengenai sifat beban, termasuk beban penyusutan dan amortisasi serta beban pegawai
(paragraf 65).
4. Entitas syariah mengungkapkan dalam Laporan Laba Rugi atau dalam Catatan atas Laporan
Keuangan, jumlah dividen per saham yang diumumkan (paragraf 66).

60 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


Ilustrasi Laporan Laba Rugi Bank Syariah

PT Bank Syariah “X”


Laporan Laba Rugi dan Saldo Laba
Periode 1 Januari s.d. 31 Desember 200-B dan 200-A
200-B 200-A
Pendapatan Pengelolaan Dana oleh Bank sebagai Mudharib
Pendapatan dari jual beli:
Pendapatan marjin murabahah xxx xxx
Pendapatan bersih salam paralel xxx xxx
Pendapatan bersih istishna paralel xxx xxx
Jumlah pendapatan jual beli xxx xxx
Pendapatan dari sewa:
Pendapatan bersih ijarah xxx xxx
Pendapatan dari bagi hasil:
Pendapatan bagi hasil mudharabah xxx xxx
Pendapatan bagi hasil musyarakah xxx xxx
Jumlah pendapatan bagi hasil xxx xxx
Pendapatan usaha utama lainnya xxx xxx
Jumlah Pendapatan Pengelolaan Dana oleh Bank sbg Mudharib xxx xxx
Hak pihak ketiga atas bagi hasil (xxx) (xxx)
Hak bagi hasil milik Bank (xxx) (xxx)
Pendapatan Usaha Lainnya
Pendapatan imbalan jasa perbankan xxx xxx
Pendapatan imbalan investasi terikat xxx xxx
Jumlah Pendapatan Usaha Lainnya xxx xxx
Beban Usaha
Beban kepegawaian (xxx) (xxx)
Beban administrasi (xxx) (xxx)
Beban penyusutan dan amortisasi (xxx) (xxx)
Beban usaha lain (xxx) (xxx)
Jumlah Beban Usaha (xxx) (xxx)
Laba (Rugi) Usaha xxx xxx
Pendapatan dan Beban Non-usaha
Pendapatan nonusaha xxx xxx
Beban nonusaha xxx xxx
Jumlah Pendapatan (Beban) Nonusaha xxx xxx
Laba (Rugi) sebelum Pajak xxx xxx
Beban Pajak xxx xxx
Laba (Rugi) Bersih Periode Berjalan xxx xxx

BAB III. Laporan Keuangan Entitas Syariah| 61


3.3.3 Laporan Arus Kas
Laporan arus kas disusun berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan dalam Pernyataan Standar
Akuntansi Keuangan terkait yaitu PSAK 2 tentang Laporan Arus Kas. Laporan arus kas harus melaporkan
arus kas selama periode tertentu dan diklasifikasi menurut aktivitas operasi, investasi dan pendanaan
(paragraf 9).
A. Aktivitas Operasi
Arus kas dari aktivitas operasi terutama diperoleh dari aktivitas penghasilan utama pendapatan
perusahaan. Oleh karena itu, arus kas tersebut pada umumnya berasal dari transaksi dan peristiwa lain yang
mempengaruhi penetapan laba aau rugi bersih. Beberapa contoh arus kas dari aktivitas operasi adalah:
(1) Penerimaan kas dari penjualan barang dan jasa
(2) Penerimaan kas dari royalty, fees, komisi, dan pendapatan lain
(3) Pembayaran kas kepada pemasok barang dan jasa
(4) Pembayaran kas kepada karyawan
(5) Penerimaan dan pembayaran kas oleh perusahaan asuransi sehubungan dengan premi, klaim,
anuitas, dan manfaat asuransi lainnya
(6) Pembayaran kas atau penerimaan kembali (restitusi) pajak penghasilan kecuali jika dapat
diidentifikasikan secara khusus sebagai bagian dari aktivitas pendanaan dan investasi
(7) Penerimaan dan pembayaran kas dari kontrak yang diadakan untuk tujuan transaksi usaha dan
perdagangan
B. Aktivitas Investasi
Pengungkapan terpisah arus kas yang berasal dari aktivitas investasi perlu dilakukan sebab arus kas
tersebut mencerminkan penerimaan dan pengeluaran kas sehubungan dengan sumber daya yang bertujuan
menghasilkan pendapatan dan arus kas masa depan. Beberapa contoh arus kas yang berasal dari aktivitas
investasi adalah
(1) Pembayaran kas untuk membeli aset tetap, aset tidak berwujud, dan aset jangka penjang lain,
termasuk biaya pengembangan yang dikapitalisasi dan aset tetap yang dibangun sendiri.
(2) Penerimaan dari penjualan tanah, bangunan, dan peralatan, serta aset tidak berwujud dan aset
jangka panjang lain;
(3) Perolehan saham atau instrumen keuangan perusahaan lain
(4) Uang muka dan pinjaman yang diberikan kepada pihak lain serta pelunasannya (kecuali yang
dilakukan oleh lembaga keuangan)
(5) Pembayaran kas sehubungan dengan future contracts, forward contracts, option contracts, dan swap contracts
kecuali apabila kontrak tersebut dilakukan untuk tujuan perdagangan (dealing or trading), atau
apabila pembayaran tersebut diklasifikasikan sebagai aktivitas pendanaan.
Jika suatu kontrak dimaksudkan untuk melindung nilai (hedge) suatu posisi yang dapat diidentifikasi,
maka arus kas dari kontrak tersebut diklasifikasikan dengan cara yang sama seperti arus kas dari posisi yang
dilindung nilainya.
C. Aktivitas Pendanaan
Pengungkapan terpisah arus kas yang timbul dari aktivitas pendanaan perlu dilakukan sebab berguna
untuk memprediksi klaim terhadap arus kas masa depan oleh pemasok modal perusahaan. Beberapa
contoh arus kas yang berasal dari aktivitas pendanaan adalah:
(1) Penerimaan kas dari emisi seham atau instrumen modal lainnya
(2) Pembayaran kas kepada para pemegang saham untuk menarik atau menebus saham perusahaan.
(3) Penerimaan kas dari emisi obligasi, pinjaman, wesel, hipotek, dan pinjaman lainnya
(4) Pelunasan pinjaman

62 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


(5) Pembayaran kas oleh penyewa (lessee) untuk mengurangi saldo kewajiban yang berkaitan dengan
sewa pembiayaan (finance lease)
Perusahaan harus melaporkan arus kas dari aktivitas operasi dengan menggunakan salah satu dari
metode berikut (paragraf 17):
a. Metode langsung : dengan metode ini kelompok utama dari penerimaan kas bruto dan pengeluaran
kas bruto diungkapkan; atau
b. Metode tidak langsung: dengan metode ini laba atau rugi bersih disesuaikan dengan mengkoreksi
pengaruh dari transaksi bukan kas, penangguhan (deferral) atau akrual dari penerimaan atau
pembayaran kas untuk operasi di masa lalu dan masa depan, dan unsur penghasilan atau pembayaran
kas untuk operasi di masa lalu dan masa depan, dan unsur penghasilan atau beban yang berkaitan
dengan arus kas investasi atau pendanaan.
Arus kas yang berasal dari aktivitas operasi, investasi dan pendanaan berikut ini disajikan menurut arus kas
bersih.
a. Penerimaan dan pengeluaran kas untuk kepentingan para pelanggan apabila arus kas tersebut lebih
mencerminan aktivitas pelanggan dari pada aktivitas perusahaan.
Beberapa contoh penerimaan dan pengeluaran kas dimaksud di atas adalah:
(1) Penerimaan dan pembayaran rekening giro.
(2) Dana pelanggan yang dikelola oleh perusahaan investasi dan,
(3) Sewa yang ditagih oleh pengelola dan selanjutnya disetor kepada pemilik properti.
b. Penerimaan dan pengeluaran kas untuk pos-pos dengan perputaran cepat, volume transaksi yang
besar dan dengan jangka waktu singkat (maturity short).
Beberapa contoh penerimaan dan pengeluaran kas yang dimaksud di atas adalah pembayaran dan
penerimaan untuk :
(1) Transaksi kartu kredit para nasabah
(2) Pembelian dan penjualan surat-surat berharga; dan
(3) Pinjaman jangka pendek lain dengan jangka waktu 3 (tiga) bulan atau kurang
Arus kas yang berasal dari aktivitas suatu lembaga keuangan berikut ini dapat dilaporkan dengan
dasar arus kas bersih:
a. Penerimaan dan pembayaran kas sehubungan dengan deposito berjangka waktu tetap.
b. Penempatan dan penarikan deposit pada lembaga keuangan lainnya; dan
c. Pemberian dan pelunasan kredit.

BAB III. Laporan Keuangan Entitas Syariah| 63


Ilustrasi Laporan Arus Kas Bank Syariah

PT BANK MUAMALAT INDONESIA


LAPORAN ARUS KAS
UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR
PADA 31 DESEMBER 2008 DAN 2007
2008 2007
ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI
Penerimaan pendapatan pengelolaan 1.325.426.321 1.145.026.616
Pembayaran bagi hasil dana syirkah temporer (513.376.205) (498.722.137)
Penerimaan pendapatan usaha lainnya 164.961.543 107.792.296
Penerimaan kembali piutang dan pembiayaan yg telah
dihapusbukukan 8.910.694 3.404.417
Pembayaran beban kepegawaian (108.040.191) (89.889.734)
Pembayaran beban lainnya (611.215.871) (339.708.151)
Pembayaran pajak penghasilan (96.628.241) (49.283.351)
Penerimaan pendapatan non usaha 3.639.502 1.073.111
Pembayaran beban non usaha (16.897.269) (11.188.828)
Arus kas dari aktivitas operasi aset dan pasiva 156.780.283 268.504.239
Penurunan (kenaikan) Aktiva operasi
Penempatan pada Bank Indonesia 445.000.000 260.000.000
Penempatan pada Bank Lain 13.251.004 (41.000.000)
Piutang (774.289.740) (909.658.674)
Pinjaman Qardh (63.252.495) (88.805.112)
Pembiayaan Mudharabah 434.099.112 11.360.516
Pembiayaan Musyarakah (1.264.294.437) (950.572.894)
Penyertaan (320.796) (34.560.986)
Aktiva Ijarah (213.554.467) (39.443.003)
Aktiva lain-lain (124.025.303) (215.111.420)
Kenaikan (penurunan) kewajiban operasi
Kewajiban segera 66.012.495 26.846.674
Simpanan (180.035.225) 281.721.250
Simpanan dari bank lain (7.429.669) (3.264.641)
Hutang pajak 1.321.738 (7.220.233)
Kewajiban lain-lain (32.053.584) (164.748.573)
Kas Bersih Dipergunakan untuk Aktivitas Operasi (1.542.791.084) (1.276.455.711)

64 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI
Penjualan (pembelian) efek tersedia untuk dijual dan dimiliki
hingga jatuh tempo (15.000.000) 00
Hasil penjualan aktiva tetap 277.061 613.478
Pembelian aktiva tetap (34.976.911) (24.664.170)
Kas bersih Digunakan untuk Aktivitas Investasi (49.699.850) (24.050.692)
ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN
Kenaikan dana syirkah temporer 1.796.719.948 1.680.452.772
Pembayaran deviden tunai (87.194.958) (85.602.217)
Pembayaran pinjaman (53.767.962) (25.568.950)
Penerimaan sukuk mudharabah subordinasi 312.436.175 00
Arus Kas Bersih Diperoleh dari aktivita pendanaan 1.968.193.203 1.569.281.605
KENAIKAN BERSIH KAS DAN SETARA KAS 375.702.269 268.775.202
KAS DAN SETARA KAS PADA AWAL TAHUN 897.963.411 629.188.209
KAS DAN SETARA KAS PADA AKHIR THN 1.273.665.680 897.963.411

Kas dan Setara Kas Akhir Tahun terdiri dari:


Kas 227.098.427 173.671.330
Giro pada Bank Indonesia 789.382.515 612.651.614
Giro pada Bank Lain 175.757.271 47.110.141
Giro pada bank PT Pos Indonesia (persero) 81.427.467 64.530.326
Jumlah 1.273.665.680 897.963.411
Sumber : Laporan Keuangan PT Bank Muamalat Indonesia, Tbk- (RUPS -2008)

3.3.4 Laporan Perubahan Ekuitas


Dalam PSAK 101 tentang Penyajian Laporan Keuangan Syariah dijelaskan bahwa entitas syariah
harus menyajikan laporan perubahan ekuitas sebagai komponen utama Laporan Keuangan, yang
menunjukkan: (paragraf 61 -62)
(a) Laba atau rugi bersih periode yang bersangkutan;
(b) Setiap pos pendapatan dan beban, keuntungan atau kerugian beserta jumlahnya yang berdasarkan
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan terkait diakui secara langsung dalam ekuitas;
(c) Pengaruh kumulatif dari perubahan kebijakan akuntansi dan perbaikan terhadap kesalahan
mendasar sebagaimana diatur dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan terkait;
(d) Transaksi modal dengan pemilik dan distribusi kepada pemilik;
(e) Saldo akumulasi laba atau rugi pada awal dan akhir periode serta perubahannya; dan
(f) Rekonsiliasi antara nilai tercatat dari masing-masing jenis modal saham, agio dan cadangan pada
awal dan akhir periode yang mengungkapkan secara terpisah setiap perubahan.
Perubahan ekuitas entitas syariah menggambarkan peningkatan atau penurunan aset bersih atau
kekayaan selama periode bersangkutan berdasarkan prinsip pengukuran tertentu yang dianut dan harus
diungkapkan dalam laporan keuangan. Laporan perubahan ekuitas, kecuali untuk perubahan yang berasal
dari transaksi dengan pemegang saham seperti setoran modal dan pembayaran dividen, menggambarkan
jumlah keuntungan dan kerugian yang berasal dari kegiatan entitas syariah selama periode yang
bersangkutan

BAB III. Laporan Keuangan Entitas Syariah| 65


Ilustrasi Laporan Perubahan Ekuitas Bank Syariah

PT BANK MUAMALAT INDONESIA , Tbk


LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS
UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR
PADA TANGGAL 31 DESEMBER 2008 DAN 2007
Modal Saham Tambahan Modal Saldo Laba Jumlah Ekuitas
Ditempatkan dan Disetor Bersih Telah Ditentukan Belum Ditentukan
Disetor Penuh Penggunaan nya Penggunaan nya
Saldo per 31 Des 2006 492.790.792 132.498.258 45.559.662 115.592.280 786.440.991
Pembentukan Cad umum 22.755.020 (22.755.020) 0
Deviden Kas (85.602.216) (85.602.216)
Laba bersih tahun 2007 145.324.930 145.324.930
Saldo per 31 Des 2007 492.790.792 132.498.258 68.314.682 152.559.974 846.163.706
Pembentukan Cad umum 58.129.972 (58.129.972) 0
Deviden Kas (87.194.958) (87.194.958)
Laba bersih tahun 2008 207.210.886 207.210.886
Saldo per Des 2008 492.790.792 132.498.258 126.444.654 214.445.930 966.179.634

Sumber : Laporan Keuangan PT Bank Muamalat Indonesia, Tbk- (RUPS -2008)

3.3.5 Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Zakat


Dalam PSAK 101 tentang Penyajian Laporan Keuangan Syariah dijelaskan (paragraf 64 – 68) bahwa
entitas syariah menyajikan Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Zakat sebagai komponen utama
Laporan Keuangan, yang menunjukkan:
(a) Dana zakat berasal dari wajib zakat (muzakki):
(i) Zakat dari dalam entitas syariah;
(ii) Zakat dari pihak luar entitas syariah;
(b) Penggunaan dana zakat melalui lembaga amil zakat untuk:
(i) Fakir;
(ii) Miskin;
(iii) Riqab;
(iv) Orang yang terlilit hutang (gharim);
(v) Muallaf;
(vi) Fiisabilillah;
(vii) Orang yang dalam perjalanan (ibnu sabil); dan
(viii) Amil;
(c) Kenaikan atau penurunan dana zakat;
(d) Saldo awal dana zakat; dan
(e) Saldo akhir dana zakat.
Zakat adalah sebagian dari harta yang wajib dikeluarkan oleh wajib zakat (muzakki) untuk
diserahkan kepada penerima zakat (mustahiq). Pembayaran zakat dilakukan apabila nisab dan haulnya
terpenuhi dari harta yang memenuhi kriteria wajib zakat. Unsur dasar Laporan Sumber dan Penggunaan
Dana Zakat meliputi sumber dana, penggunaan dana selama suatu jangka waktu, serta saldo dana zakat
yang menunjukkan dana zakat yang belum disalurkan pada tanggal tertentu. Dana zakat tidak

66 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


diperkenankan untuk menutup penyisihan kerugian aset produktif. Entitas syariah harus mengungkapkan
dalam catatan atas Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Zakat, tetapi tidak terbatas pada:
(a) Sumber dana zakat yang berasal dari internal entitas syariah;
(b) Sumber dana zakat yang berasal dari eksternal entitas syariah;
(c) Kebijakan penyaluran zakat terhadap masing-masing asnaf;dan
(d) Proporsi dana yang disalurkan untuk masing-masing penerima zakat diklasifikasikan atas pihak
terkait, sesuai dengan yang diatur dalam PSAK 7: Pengungkapan Pihak-pihak yang Mempunyai
Hubungan Istimewa, dan pihak ketiga.

Ilustrasi Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Zakat Bank Syariah

PT Bank Syariah “X”


Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Zakat
Periode yang berakhir pada 31 Desember 200-A dan 200-B
200-B 200-A
Sumber Dana Zakat
Zakat dari dalam bank syariah xxx xxx
Zakat dari pihak luar bank syariah xxx xxx
Jumlah sumber dana zakat xxx xxx
Penggunaan Dana Zakat
Fakir (xxx) (xxx)
Miskin (xxx) (xxx)
Amil (xxx) (xxx)
Muallaf (xxx) (xxx)
Orang yang terlilit hutang (gharim) (xxx) (xxx)
Riqab (xxx) (xxx)
Fisabilillah (xxx) (xxx)
Orang yang dalam perjalanan (ibnu sabil) (xxx) (xxx)
Jumlah penggunaan dana zakat (xxx) (xxx)
Kenaikan (penurunan) dana zakat xxx xxx
Saldo awal dana zakat xxx xxx
Saldo akhir dana zakat xxx xxx

3.3.6 Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Kebajikan


Dalam PSAK 101 tentang Penyajian Laporan Keuangan Syariah dijelaskan (paragraf 69 -73) bahwa
entitas syariah menyajikan Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Kebajikan sebagai komponen utama
Laporan Keuangan, yang menunjukkan:
(a) Sumber dana kebajikan berasal dari penerimaan:
(i) Infak;
(ii) Sedekah;
(iii) Hasil pengelolaan wakaf sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku;
(iv) Pengembalian dana kebajikan produktif;

BAB III. Laporan Keuangan Entitas Syariah| 67


(v) Denda; dan
(vi) Pendapatan nonhalal.
(b) Penggunaan dana kebajikan untuk:
(i) Dana kebajikan produktif;
(ii) Sumbangan; dan
(iii) Penggunaan lainnya untuk kepentingan umum.
(c) Kenaikan atau penurunan sumber dana kebajikan;
(d) Saldo awal dana penggunaan dana kebajikan; dan
(e) Saldo akhir dana penggunaan dana kebajikan.
Unsur dasar laporan sumber dan penggunaan dana kebajikan meliputi sumber dan penggunaan
dana selama jangka waktu tertentu, serta saldo dana kebajikan yang menunjukkan dana kebajikan yang
belum disalurkan pada tanggal tertentu. Entitas syariah mengungkapkan dalam catatan atas Laporan
Sumber dan Penggunaan Dana Kebajikan, tetapi tidak terbatas, pada:
(a) Sumber dana kebajikan;
(b) Kebijakan penyaluran dana kebajikan kepada masing-masing penerima;dan
(c) Proporsi dana yang disalurkan untuk masing-masing penerima dana kebajikan diklasifikasikan
atas pihak terkait, sesuai dengan yang diatur dalam PSAK 7: Pengungkapan Pihak-pihak yang
Mempunyai Hubungan Istimewa, dan pihak ketiga.
Ilustrasi Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Kebajikan Bank Syariah

PT Bank Syariah “X”


Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Kebajikan
Periode yang berakhir pada 31 Desember 200-B dan 200-A
200-B 200-A
Sumber Dana Kebajikan
Infak dari dalam bank syariah xxx xxx
Sedekah xxx xxx
Hasil pengelolaan wakaf xxx xxx
Pengembalian dana kebajikan produktif xxx xxx
Denda xxx xxx
Pendapatan nonhalal xxx xxx
Jumlah Sumber Dana Kebajikan xxx xxx

Penggunaan Dana Kebajikan


Dana kebajikan produktif (xxx) (xxx)
Sumbangan (xxx) (xxx)
Penggunaan lainnya untuk kepentingan umum (xxx) (xxx)
Jumlah Penggunaan Dana Kebajikan (xxx) (xxx)

Kenaikan (penurunan) dana kebajikan xxx xxx


Saldo awal dana kebajikan xxx xxx
Saldo akhir dana kebajikan xxx xxx

68 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


3.3.7 Laporan Perubahan Dana Investasi Terikat
Laporan Perubahan Dana Investasi Terikat ini dibuat oleh Lembaga Keuangan Syariah sebagai
laporan dalam menjalankan amanah dalam menjalankan pengelolaan dana. Beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam pembuatan Laporan Perubahan Dana Investasi Terikat antara lain:
1. Laporan Perubahan Dana Investasi Terikat memisahkan dana investasi terikat berdasarkan sumber
dana dan memisahkan investasi berdasarkan jenisnya.
2. Bank syariah menyajikan Laporan Perubahan Dana Investasi Terikat sebagai komponen utama
Laporan Keuangan, yang menunjukkan:
(a) Saldo awal dana investasi terikat;
(b) Jumlah kelompok investasi pada setiap jenis investasi dan nilai per kelompok pada awal periode;
(c) Dana investasi yang diterima dan kelompok investasi yang diterbitkan bank syariah selama periode
laporan;
(d) Penarikan atau pembelian kembali kelompok investasi selama periode laporan;
(e) Keuntungan atau kerugian dana investasi terikat;
(f) Imbalan bank syariah sebagai agen investasi;
(g) Beban administrasi dan beban tidak langsung lainnya yang dialokasikan oleh bank syariah ke dana
investasi terikat;
(h) Saldo akhir dana investasi terikat; dan
(i) Jumlah kelompok investasi pada setiap jenis investasi dan nilai per kelompok pada akhir periode.
3. Investasi terikat adalah investasi yang bersumber dari pemilik dana investasi terikat dan sejenisnya yang
dikelola oleh bank syariah sebagai agen investasi. Investasi terikat bukan merupakan aset maupun
kewajiban karena bank syariah tidak mempunyai hak untuk menggunakan atau mengeluarkan investasi
tersebut, serta bank syariah tidak memiliki kewajiban mengembalikan atau menanggung risiko investasi.
4. Dana yang diserahkan oleh pemilik investasi terikat dan sejenisnya adalah dana yang diterima bank
syariah sebagai agen investasi. Dana yang ditarik oleh pemilik dana investasi terikat adalah dana yang
diambil atau dipindahkan sesuai dengan permintaan pemilik dana.
5. Keuntungan atau kerugian investasi terikat adalah jumlah kenaikan atau penurunan bersih nilai
investasi terikat, selain kenaikan yang berasal dari penyetoran atau penurunan yang berasal dari
penarikan.
6. Dalam hal bank syariah bertindak sebagai agen investasi, imbalan yang diterima adalah sebesar jumlah
yang disepakati tanpa memperhatikan hasil investasi.
7. Catatan atas Laporan Perubahan Dana Investasi Terikat harus mengungkapkan:
(a) sifat hubungan antara entitas syariah dan pemilik dana investasi terikat;
(b) hak dan kewajiban yang terkait dengan setiap jenis dana investasi terikat atau unit investasi.

BAB III. Laporan Keuangan Entitas Syariah| 69


Ilustrasi Laporan Perubahan Dana Investasi Terikat Bank Syariah

PT Bank Syariah “X”


Laporan Perubahan Dana Investasi Terikat
Periode yang berakhir pada 31 Desember 200-B dan 200-A
200-B 200-A
Saldo awal xxx xxx
Jumlah kelompok investasi awal periode xxx xxx
Nilai per kelompok investasi xxx xxx
Penerimaan dana xxx xxx
Penarikan dana (xxx) (xxx)
Keuntungan (kerugian) investasi xxx xxx
Biaya administrasi (xxx) (xxx)
Imbalan bank sebagai agen investasi (xxx) (xxx)
Saldo investasi pada akhir periode xxx xxx
Jumlah kelompok investasi pada akhir periode xxx xxx
Nilai kelompok investasi pada akhir periode xxx xxx

3.3.8 Laporan Rekonsiliasi Pendapatan dan Bagi Hasil


Tujuan pembuatan laporan rekonsilasi pendapatan dan bagi hasil ini antara lain untuk mengetahui
kebenaran pendapatan yang nyata-nyata diterima (cash basis) yang diterima oleh Lembaga Keuangan
Syariah yang merupakan pendapatan yang dibagi hasilkan dengan pemilik dana. Beberapa hal yang perlu
diketahui dalam membuat laporan rekonsiliasi pendapatan dan bagi hasil antara lain:
1 Bank syariah menyajikan Laporan Rekonsiliasi Pendapatan dan Bagi Hasil yang merupakan
rekonsiliasi antara pendapatan bank syariah yang menggunakan dasar akrual dengan pendapatan
yang dibagihasilkan kepada pemilik dana yang menggunakan dasar kas.
2. Perbedaan dasar pengakuan tersebut mengharuskan bank syariah menyajikan Laporan Rekonsiliasi
Pendapatan dan Bagi Hasil sebagai bagian komponen utama Laporan Keuangan.
3. Dalam Laporan Rekonsiliasi Pendapatan dan Bagi Hasil, bank syariah menyajikan:
(a) Pendapatan pengelolaan dana oleh bank sebagai mudharib;
(b) Penyesuaian atas:
(i) pendapatan pengelolaan dana oleh bank sebagai mudharib periode berjalan yang kas atau
setara kasnya belum diterima;
(ii) pendapatan pengelolaan dana oleh bank sebagai mudharib periode sebelumnya yang kas
atau setara kasnya diterima di periode berjalan;
(c) Pendapatan yang tersedia untuk bagi hasil;
(d) Bagian bank syariah atas pendapatan yang tersedia untuk bagi hasil;
(e) Bagian pemilik dana atas pendapatan yang tersedia untuk bagi hasil:
(i) Bagi hasil yang sudah didistribusikan ke pemilik dana;
(ii) Bagi hasil yang belum didistribusikan ke pemilik dana.

70 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


Ilustrasi Laporan Rekonsiliasi Pendapatan dan Bagi Hasil Bank Syariah

PT Bank Syariah “X”


Laporan Rekonsiliasi Pendapatan dan Bagi Hasil
Periode yang berakhir pada 31 Desember 200-B dan 200-A
200-B 200-A
Pendapatan Usaha Utama (Akrual) xxx xxx
Pengurang:
Pendapatan periode berjalan yang kas atau setara kasnya belum
diterima:
Pendapatan margin murabahah (xxx) (xxx)
Pendapatan istishna’ (xxx) (xxx)
Hak bagi hasil:
Pembiayaan mudharabah (xxx) (xxx)
Pembiayaan musyarakah (xxx) (xxx)
Pendapatan sewa (xxx) (xxx)
Jumlah pengurang (xxx) (xxx)
Penambah:
Pendapatan periode sebelumnya yg kasnya diterima pada periode
berjalan:
Penerimaan pelunasan piutang:
Margin murabahah xxx xxx
Istishna’ xxx xxx
Pendapatan sewa xxx xxx
Penerimaan piutang bagi hasil:
Pembiayaan mudharabah xxx xxx
Pembiayaan musyarakah xxx xxx
Jumlah penambah xxx xxx

Pendapatan yang tersedia untuk bagi hasil


Bagi hasil yang menjadi hak bank syariah xxx xxx
Bagi hasil yang menjadi hak pemilik dana xxx xxx
Dirinci atas:
Hak pemilik dana atas bagi hasil yang sudah didistribusikan xxx xxx
Hak pemilik dana atas bagi hasil yang belum didistribusikan xxx xxx

BAB III. Laporan Keuangan Entitas Syariah| 71


3.4 Pertanyaan
1. Hasil akhir proses akuntansi adalah Laporan Keuangan.
a. Jelaskan tujuan pembuatan laporan keuangan syariah?
b. Sebutkan unsur-unsur laporan keuangan untuk entitas syariah?
2. Laporan keuangan hendaknya disajikan sedemikian rupa sehingga dapat diterima semua pihak.
a. Jelaskan hal-hal yang perlu diketahui dalam penyajian laporan keuangan syariah?
b. Jelakan hal-hal yang perlu diketahu dalam laporan keuangan syariah?
3. Laporan Keuangan memiliki karakter tertentu.
a. Jelaskan dengan rinci dan jelas karakter laporan keuangan syariah ?
b. Jelaskan dengan rinci dan jelas pengungkapan unsur laporan keuangan syariah?
4. Unsur Laporan Keuangan syariah berbeda dengan unsur laporan keuangan secara umum.
a. Sebutkan dan jelaskan unsur laporan keuangan syariah secara umum?
b. Jelaskan perbedaan kelompok-kelompok dalam unsur laporan keuangan syariah?
5. Entitas syariah tertentu memiliki karakteristik yang tidak sama dengan yang lain, yang
mengakibatkan harus dibuat unsur laporan keuangan khusus untuk industri yang bersangkutan
a. Jelaskan unsur laporan khusus untuk Lembaga Keuangan Syariah perbankan dan asuransi
syariah?
b. Jelaskan laporan rekonsiliasi pendapatan kas basis untuk kepentingan pembagian hasil usaha?
6. Jelaskan pengakuan unsur-unsur Laporan Keuangan Syariah yang diperkenankan. Jelaskan
perbedaan dengan pengakuan unsur Laporan Keuangan akuntansi umum.

72 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


BAB IV
AKUNTANSI MURABAHAH

4.1. Pengertian dan Karakteristik Murabahah

Murabahah merupakan salah satu prinsip dalam jual beli, selain Salam dan Istishna’. Prinsip
murabahah sebenarnya sudah dilaksanakan jauh sebelum Lembaga Keuangan Syariah tumbuh di Indonesia.
Murabahah telah dilaksanakan pada pasar, toko dan sejenisnya yang dikenal dengan jual beli barang.
Dalam bab ini dibahas akuntansi murabahah, baik akuntansi pada Lembaga Keuangan Syariah (baik
sebagai pembeli dan sebagai penjual) maupun akuntansi pada pihak terkait (nasabah sebagai pembeli). Bab
ini tidak dibahas akuntansi pada pemasok sebagai penjual, karena banyak cara yang dilakukan pemasok
dalam pengadaan barang seperti antara lain membuat sendiri sebagai pabrikan sehingga akuntansi yang
tepat dipergunakan adalah akuntansi pabrik.
Untuk memberikan pemahaman secara lengkap dari masing-masing pembahasan disampaikan
aturan syariah sebagaimana tercantum dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional. Selain dibahas pengertian
istilah-istilah yang ada dalam akuntansi murabahah ini, juga dibahas tentang rukun murabahah dan
karakteristik murabahah secara garis besar. Dalam akuntansi penjual, dibahas akuntansi yang terkait
dengan uang muka, pengadaan barang, penjualan barang, pembayaran harga barang, potongan angsuran
atau pelunasan murabahah, denda dan sebagainya.

4.1.1. Pengertian dan Istilah dalam Transaksi Murabahah


Dalam Kamus Istilah Keuangan dan Perbankan Syariah yang diterbitkan oleh Direktorat Perbankan
Syariah, Bank Indonesia mengemukakan :
Murabahah (bai’ murabahah), jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan
yang disepakati. Dalam bai’ murabahah, penjual harus memberitahu harga produk yang ia beli dan
menentukan suatu tingkat keuntungan sebagai tambahannya.
Dalam Himpunan Fatwa Dewan Syariah Nasional dijelaskan:
Murabahah adalah menjual suatu barang dengan menegaskan harga belinya kepada pembeli dan
pembeli membayarnya dengan harga yang lebih tinggi sebagai laba.
Dalam beberapa istilah yang terkait dengan akuntansi Murabahah yang tercantum dalam Dalam
PSAK 102 tentang Akuntansi Murabahah dijelaskan beberapa pengertian yang berkaitan dengan transaksi
Murabahah sebagai berikut:
Murabahah adalah menjual barang dengan harga jual sebesar harga perolehan ditambah
keuntungan yang disepakati dan penjual harus mengungkapkan harga perolehan barang tersebut
kepada pembeli.
Biaya perolehan adalah jumlah kas atau setara kas yang dibayarkan untuk memperoleh suatu aset
sampai dengan aset tersebut dalam kondisi dan tempat yang siap untuk dijual atau digunakan.
Aset murabahah adalah aset yang diperoleh dengan tujuan untuk dijual kembali dengan
menggunakan akad murabahah.
Uang muka adalah jumlah yang dibayar oleh pembeli kepada penjual sebagai bukti komitmen
untuk membeli barang dari penjual.

BAB IV. Akuntansi Murabahah | 73


Diskon murabahah adalah pengurangan harga atau penerimaan dalam bentuk apapun yang
diperoleh lembaga keuangan syariah sebagai pihak pembeli dari pemasok.
Potongan murabahah adalah pengurangan kewajiban pembeli akhir yang diberikan oleh lembaga
keuangan syariah sebagai pihak penjual.
Dalam Murabahah, rukun-rukunnya terdiri dari :
1. Ba’i = penjual (pihak yang memiliki barang)
2. Musytari = pembeli (pihak yang akan membeli barang)
3. Mabi’ = barang yang akan diperjualbelikan
4. Tsaman = harga, dan
5. Ijab Qabul = pernyataan timbang terima.
Syarat Murabahah (Syafi’i Antonio, h.102) adalah :
1. Penjual memberitahu biaya barang kepada nasabah
2. Kontrak pertama harus sah sesuai dengan rukun yang ditetapkan
3. Kontrak harus bebas dari riba
4. Penjual harus menjelaskan kepada pembeli bila terjadi cacat atas barang sesudah pembelian
5. Penjual harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian, misalnya jika pembelian
dilakukan secara utang

4.1.2. Karakteristik Murabahah


Transaksi Murabahah dalam Lembaga Keuangan Syariah, khususnya perbankan menempati porsi
yang paling besar, bahkan pada Bank Pembiayaan Rakyat Syariah hampir seluruh transaksi penyaluran
dananya mempergunakan prinsip jual beli Murabahah. Salah satu penyebabnya adalah paradigma para
pelaksana Bank Syariah yang menyamakan atau membandingkan dengan Bank Konvensional. Murabahah
dianalogkan dengan Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) adanya Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang
dilaksanakan oleh Bank Konvensional, dimana secara konsep keduanya memiliki perbedaan yang
mendasar. Dalam Bank Konvensional dalam melaksanakan kedua transaksi tersebut tidak pernah
memberikan barang, Bank Konvensional hanya menyediakan “uang” kebutuhan nasabah untuk membeli
barang, sehingga Bank Konvensional memperhitungkan keuntungan dalam bentuk bunga atas dasar uang
yang diberikan (uang sebagai komoditi) termasuk apabila terjadi penurunan uang yang diberikan,
sedangkan dalam murabahah yang diberikan “barang” (dalam syariah uang hanya sebagai alat ukur) dan
keuntungan didasarkan pada kesepakatan yang tidak merugikan kedua pihak, sehingga tidak dapat
dikaitkan uang yang dikeluarkan dengan keuntungan yang diperoleh.
Dalam murabahah barang yang diperjualbelikan harus ada pada saat akad, sedangkan
pembayarannya dapat dilakukkan secara tunai atau secara tangguh atau cicilan.
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (selanjutnya disebut PSAK) nomor 102 tentang Akuntansi
Murabahah (paragraf 6 sd 17) menjelaskan karakteristik Murabahah sebagai berikut:
6. Murabahah dapat dilakukan berdasarkan pesanan atau tanpa pesanan. Dalam murabahah
berdasarkan pesanan, penjual melakukan pembelian barang setelah ada pemesanan dari
pembeli.
7. Murabahah berdasarkan pesanan dapat bersifat mengikat atau tidak mengikat pembeli untuk
membeli barang yang dipesannya. Dalam murabahah pesanan mengikat pembeli tidak dapat
membatalkan pesanannya. Jika aset murabahah yang telah dibeli oleh penjual, mengalami
penurunan nilai sebelum diserahkan kepada pembeli maka penurunan nilai tersebut menjadi
beban penjual dan akan mengurangi nilai akad.
8. Pembayaran murabahah dapat dilakukan secara tunai atau tangguh. Pembayaran tangguh
adalah pembayaran yang dilakukan tidak pada saat barang diserahkan kepada pembeli tetapi
pembayaran dilakukan dalam bentuk angsuran atau sekaligus pada waktu tertentu.

74 |Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


9. Akad murabahah memperkenankan penawaran harga yang berbeda untuk cara pembayaran
yang berbeda sebelum akad murabahah dilakukan. Namun jika akad tersebut telah disepakati
maka hanya ada satu harga (harga dalam akad) yang digunakan.
10. Harga yang disepakati dalam murabahah adalah harga jual, sedangkan biaya perolehan harus
diberitahukan. Jika penjual mendapatkan diskon sebelum akad murabahah maka potongan itu
merupakan hak pembeli. Sedangkan diskon yang diterima setelah akad murabahah disepakati
maka sesuai dengan yang diatur dalam akad, dan jika tidak diatur dalam akad maka potongan
tersebut adalah hak penjual.
11. Diskon yang terkait dengan pembelian barang, antara lain, meliputi:
(a) Diskon dalam bentuk apapun dari pemasok atas pembelian barang;
(b) Diskon biaya asuransi dari perusahaan asuransi dalam rangka pembelian barang; dan
(c) Komisi dalam bentuk apapun yang diterima terkait dengan pembelian barang.
12. Diskon atas pembelian barang yang diterima setelah akad murabahah disepakati diperlakukan
sesuai dengan kesepakatan dalam akad tersebut. Jika akad tidak mengatur maka diskon
tersebut menjadi hak penjual.
13. Penjual dapat meminta pembeli menyediakan agunan atas piutang murabahah, antara lain,
dalam bentuk barang yang telah dibeli dari penjual.
14. Penjual dapat meminta uang muka kepada pembeli sebagai bukti komitmen pembelian
sebelum akad disepakati. Uang muka menjadi bagian pelunasan piutang murabahah jika akad
murabahah disepakati. Jika akad murabahah batal, uang muka dikembalikan kepada pembeli
setelah dikurangi dengan kerugian sesuai dengan kesepakatan. Jika uang muka itu lebih kecil
dari kerugian maka penjual dapat meminta tambahan dari pembeli.
15. Jika pembeli tidak dapat menyelesaikan piutang murabahah sesuai dengan yang diperjanjikan,
penjual berhak mengenakan denda kecuali jika dapat dibuktikan bahwa pembeli tidak atau
belum mampu melunasi disebabkan oleh force majeur. Denda tersebut didasarkan pada
pendekatan ta’zir yaitu untuk membuat pembeli lebih disiplin terhadap kewajibannya.
Besarnya denda sesuai dengan yang diperjanjikan dalam akad dan dana yang berasal dari
denda diperuntukkan sebagai dana kebajikan.
16. Penjual boleh memberikan potongan pada saat pelunasan piutang murabahah jika pembeli:
(a) Melakukan pelunasan pembayaran tepat waktu; atau
(b) Melakukan pelunasan pembayaran lebih cepat dari waktu yang telah disepakati.
17. Penjual boleh memberikan potongan dari total piutang murabahah yang belum dilunasi jika
pembeli:
(a) Melakukan pembayaran cicilan tepat waktu; dan atau
(b) Mengalami penurunan kemampuan pembayaran.
Sedangkan dalam Fatwa Dewan Syarian Nasional nomor 4/DSN-MUI/IX/2000 menjelaskan
ketentuan Murabahah (Fatwa. 2006) sebagai berikut
Pertama : Ketentuan Umum Murabahah dalam Bank Syari’ah:
1. Bank dan nasabah harus melakukan akad murabahah yang bebas riba.
2. Barang yang diperjualbelikan tidak diharamkan oleh syari’ah Islam.
3. Bank membiayai sebagian atau seluruh harga pembelian barang yang telah disepakati
kualifikasinya.
4. Bank membeli barang yang diperlukan nasabah atas nama bank sendiri, dan pembelian ini
harus sah dan bebas riba.
5. Bank harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian, misalnya jika
pembelian dilakukan secara hutang.
6. Bank kemudian menjual barang tersebut kepada nasabah (pemesan) dengan harga jual senilai
harga beli plus keuntungannya. Dalam kaitan ini Bank harus memberitahu secara jujur harga
pokok barang kepada nasabah berikut biaya yang diperlukan.

BAB IV. Akuntansi Murabahah | 75


7. Nasabah membayar harga barang yang telah disepakati tersebut pada jangka waktu tertentu
yang telah disepakati.
8. Untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan atau kerusakan akad tersebut, pihak bank dapat
mengadakan perjanjian khusus dengan nasabah.
9. Jika bank hendak mewakilkan kepada nasabah untuk membeli barang dari pihak ketiga, akad
jual beli murabahah harus dilakukan setelah barang, secara prinsip, menjadi milik bank.
Kedua : Ketentuan Murabahah kepada Nasabah:
1. Nasabah mengajukan permohonan dan janji pembelian suatu barang atau aset kepada bank.
2. Jika bank menerima permohonan tersebut, ia harus membeli terlebih dahulu aset yang
dipesannya secara sah dengan pedagang.
3. Bank kemudian menawarkan aset tersebut kepada nasabah dan nasabah harus menerima
(membeli)-nya sesuai dengan janji yang telah disepakatinya, karena secara hukum janji
tersebut mengikat; kemudian kedua belah pihak harus membuat kontrak jual beli.
4. Dalam jual beli ini bank dibolehkan meminta nasabah untuk membayar uang muka saat
menandatangani kesepakatan awal pemesanan.
5. Jika nasabah kemudian menolak membeli barang tersebut, biaya riil bank harus dibayar dari
uang muka tersebut.
6. Jika nilai uang muka kurang dari kerugian yang harus ditanggung oleh bank, bank dapat
meminta kembali sisa kerugiannya kepada nasabah.
7. Jika uang muka memakai kontrak ‘urbun sebagai alternatif dari uang muka, maka:
a. jika nasabah memutuskan untuk membeli barang tersebut, ia tinggal membayar sisa
harga.
b. jika nasabah batal membeli, uang muka menjadi milik bank maksimal sebesar kerugian
yang ditanggung oleh bank akibat pembatalan tersebut; dan jika uang muka tidak
mencukupi, nasabah wajib melunasi kekurangannya.
Ketiga : Jaminan dalam Murabahah:
1. Jaminan dalam murabahah dibolehkan, agar nasabah serius dengan pesanannya.
2. Bank dapat meminta nasabah untuk menyediakan jaminan yang dapat dipegang.
Keempat : Hutang dalam Murabahah:
1. Secara prinsip, penyelesaian hutang nasabah dalam transaksi murabahah tidak ada kaitannya
dengan transaksi lain yang dilakukan nasabah dengan pihak ketiga atas barang tersebut. Jika
nasabah menjual kembali barang tersebut dengan keuntungan atau kerugian, ia tetap
berkewajiban untuk menyelesaikan hutangnya kepada bank.
2. Jika nasabah menjual barang tersebut sebelum masa angsuran berakhir, ia tidak wajib segera
melunasi seluruh angsurannya.
3. Jika penjualan barang tersebut menyebabkan kerugian, nasabah tetap harus menyelesaikan
hutangnya sesuai kesepakatan awal. Ia tidak boleh memperlambat pembayaran angsuran atau
meminta kerugian itu diperhitungkan.
Kelima : Penundaan Pembayaran dalam Murabahah:
1. Nasabah yang memiliki kemampuan tidak dibenarkan menunda penyelesaian hutangnya.
2. Jika nasabah menunda-nunda pembayaran dengan sengaja, atau jika salah satu pihak tidak
menunaikan kewajibannya, maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrasi Syari’ah
setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah.
Ketujuh : Bangkrut dalam Murabahah:
Jika nasabah telah dinyatakan pailit dan gagal menyelesaikan hutangnya, Bank harus menunda
tagihan hutang sampai ia menjadi sanggup kembali, atau berdasarkan kesepakatan.

76 |Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


4.1.3. Jenis dan Alur Murabahah
Transaksi jual beli dapat dilakukan dengan beberapa cara penyerahan barang dan dengan beberapa
cara pembayarannya juga. Murabahah dapat dikelompokkan dalam beberapa jenis murabahah sebagaimana
diilustrasikan pada gambar berikut:

Gambar 4-1 : jenis murabahah

Dilihat dari proses pengadaan barang murabahah dapat dibagi menjadi:

A. Murabahah tanpa pesanan


Dalam jenis ini pengadaan barang yang merupakan obyek jual beli dilakukan tanpa memperhatikan
ada yang pesan atau tidak, ada yang akan membeli atau tidak. Pengadaan barang dilakukan atas dasar
persediaan minimum yang harus dipelihara. Sebagai contoh pada supermaket, ada yang beli atau tidak,
begitu persediaan sudah sampai pada jumlah persediaan minimum yang harus diperlihara, maka langsung
dilakukan pengadaan barang sehingga proses jual beli dengan proses pengadaan barang tidaklah tekait.
Untuk memberikan gambaran yang lebih lengkap dapat diberikan ilustrasi sebagai berikut:

Gambar 4-2 : Alur Murabahah tanpa pesanan

BAB IV. Akuntansi Murabahah | 77


Dalam Murabahah tanpa pesanan ada dua tahapan yang terpisah yaitu tahapan pengadaan barang
dan tahapan alur pembelian barang.
A. Alur pengadaan barang
Dalam alur ini tidak memperhatikan ada yang membeli atau tidak, yang diperhatikan adalah
pemenuhan ketentuan penyediaan persediaan minimum, dengan memperhatikan jangka waktu
pengiriman, kelangkaan barang dan sebagainya. Umumnya proses ini dilakukan oleh pedagang
grosir dan retail yang menjual kebutuhan masyarakat seperti supermaket, toko dan sebagainya.
B. Alur proses jual beli dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:
1. Abdullah melakukan negosiasi dan menyepakati persyaratan yang terkait dengan jual beli
tersebut.
2. Pembeli (Abdullah) melakukan negosiasi jual beli dengan LKS Ridho Gusti tentang barang,
syarat pembayaran dan sebagainya, sampai diperoleh kesepakatan kedua belah pihak dan
dilakukan akad jual beli Murabahah.
3. Berdasarkan akad Murabahah tersebut LKS Ridho Gusti mengirimkan barang yang telah
disepakati kedua belah pihak.
4. Tahap terakhir dilakukan pembayaran harga barang sesuai kesepakatan yang dilakukan oleh
kedua belah pihak, baik dengan tunai, tangguh maupun dengan cicilan.

B. Murabahah berdasarkan pesanan


Dalam jenis ini pengadaan barang yang merupakan obyek jual beli, dilakukan atas dasar pesanan
yang diterima. Apabila tidak ada yang pesan maka tidak dilakukan pengadaan barang. Pengadaan barang
sangat tergantung pada proses jual belinya. Hal ini dilakukan untuk menghindari persediaan barang yang
menumpuk dan tidak efesien, sehingga proses pengadaan barang sangat dipengaruhi oleh proses jual
belinya.
Untuk memberikan gambaran atas murabahah berdasarkan pesanan ini dapat diberikan
ilustrasi sebagai berikut :

Gambar 4-3 : Alur Murabahah tanpa pesanan


Urutan transaksi Murabahah berdasarkan pesanan dijelaskan dengan contoh :
1. Aminah sebagai pembeli memesan barang yang dikehendaki kepada LKS Ridho Gusti dan
dilakukan juga negosiasi harga jual, syarat pembayaran yang dilakukan dan syarat lainnya. Sebagai
tanda keseriusan Aminah dapat memberikan uang muka kepada LKS Ridho Gusti yang besarnya
sesuai kesepakatan.
2. Berdasarkan pesanan Aminah tersebut LKS Ridho Gusti melakukan pengadaan atau pemesanan
kepada PT Barakah sebagai pemasok atas barang yang sesuai pesanan Aminah dan syarat-syarat

78 |Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


pembayarannya. Sebagai tanda keseriusan LKS Ridho Gusti memberikan uang muka kepada
Barakah, yang besarnya sesuai kesepakatan.
3. Tahap berikutnya adalah PT Barakah menyerahkan barang pesanan kepada LKS Ridho Gusti,
sehingga barang tersebut menjadi penguasaan LKS Ridho Gusti. Atas pembelian barang tersebut,
Barakah dapat memberikan diskon kepada LKS Ridho Gusti.
4. Oleh karena barangnya telah ada dan telah disetujui oleh Aminah, termasuk keuntungan dan harga
jualnya, maka dilakukan akad Jual Beli Murabahah.
5. Berdasarkan akad Jual Beli Murabahah, LKS Ridho Gusti menyerahkan barang yang dibeli oleh
Aminah.
6. Tahap terakhir adalah Aminah melakukan pembayaran atas harga jual barang. Pembayarannya
dapat dilakukan dengan tunai atau dengan tangguh/cicilan sebesar harga jual yang disepakati.
Dilihat dari cara pembayaran, murabahah dibagi menjadi:
a. Pembayaran Tunai, yaitu pembayaran dilakukan secara tunai saat barang diterima.
b. Pembayaran Tangguh atau Cicilan, yaitu pembayaran dilakukan kemudian setelah penyerahan
barang baik secara tangguh sekaligus dibelakang atau secara angsuran.
Dalam praktik, khususnya pada Bank Syariah, baik Bank Umum Syariah, cabang syariah dari Bank
Konvensional, maupun BPR Syariah, saat ini banyak yang menjalankan murabahah berdasarkan pesanan,
sifatnya mengikat dan pembayarannya dilakukan secara tangguh atau cicilan. Pada saat ini belum ada
perbankan yang melaksanakan murabahah tanpa pesanan dengan pembayaran tunai atau tangguh seperti
supermaket. Murabahah tanpa pesanan baik dengan pembayaran tunai dan atau tangguh/cicilan banyak
dilaksanakan oleh Lembaga Keuangan Mikro Syariah (BMT) dan Koperasi Syariah, Lembaga Keuangan
Syariah lainnya.

4.2. Cakupan Akuntansi Murabahah


Pengakuan, pengukuran, penyajian dan pengungkapan transaksi murabahah yang sebelumnya diatur
dalam PSAK 59 tentang Akuntansi Perbankan Syariah, diganti dengan PSAK 102 tentang Akuntansi
Murabahah. Dalam PSAK 102 menjelaskan cakupan ketentuan akuntansi yang diatur dalam akuntansi
murabahah (paragraf 2 s/d 4) sebagai berikut :
2. Pernyataan ini diterapkan untuk:
(a) lembaga keuangan syariah dan koperasi syariah yang melakukan transaksi murabahah
baik sebagai penjual maupun pembeli; dan
(b) pihak-pihak yang melakukan transaksi murabahah dengan lembaga keuangan syariah atau
koperasi syariah.
3. Lembaga Keuangan Syariah yang dimaksud, antara lain, adalah:
(a) perbankan syariah sebagaimana yang dimaksud dalam peraturan perundang-
undangan yang berlaku;
(b) lembaga keuangan syariah nonbank seperti asuransi, lembaga pembiayaan, dan
dana pensiun; dan
(c) lembaga keuangan lain yang diizinkan oleh peraturan perundang-undangan yang
berlaku untuk menjalankan transaksi murabahah.
4. Pernyataan ini tidak mencakup pengaturan perlakuan akuntansi atas obligasi syariah (sukuk) yang
menggunakan akad murabahah.
Perbedaan cakupan akuntansi Murabahah dalam PSAK 102 dengan Akuntansi Murabahah dalam
PSAK 59 adalah dalam PSAK 59 hanya membahas akuntansi murabahah dari pihak Bank Syariah sebagai
penjual dan akuntansi pada pihak pembeli (nasabah) tidak dibahas dalam PSAK 59 tersebut. Sedangkan
dalam PSAK 102 diatur akuntansi murabahah dari pihak penjual dan akuntansi murabahah dari pembeli.
PSAK 102 tentang akuntansi murabahah hanya membahas akuntansi dari penjual dan pembeli atas barang
dagangan yang siap untuk dijual (bukan barang yang dalam proses pembuatan) oleh karena itu dalam
PSAK 102 tidak membahas akuntansi pada sisi pemasok yang pengadaan barang dilakukan dengan proses
dibuat sendiri.

BAB IV. Akuntansi Murabahah | 79


Jika dilihat dari proses terjadinya transaksi murabahah, khususnya murabahah berdasarkan pesanan,
maka penggunaan akuntansi penjual dan akuntansi pembeli dalam transaksi murabahah dapat dilihat dalam
gambar sebagai berikut:

Gambar 4-4 : penggunaan akuntansi murabahah


Dari gambar di atas dapat dijelaskan bahwa:
1. Pada saat Lembaga Keuangan Syariah melaksanakan proses pengadaan barang, maka kedudukan
Lembaga Keungan Syariah sebagai pembeli sedangkan pemasok sebagai penjual. Oleh karena itu
Lembaga Keuangan Syariah menerapkan Akuntansi Pembeli dan pemasok menerapkan Akuntansi
Penjual (kecuali jika pemasok memproduksi sendiri barang dagangannya yang menerapkan
akuntansi pabrikan bukan akuntansi penjual sebagaimana dalam PSAK tersebut.
2. Pada saat Lembaga Keuangan Syariah melakukan proses jual beli murabahah dengan nasabah, maka
kedudukan Lembaga Keuangan Syariah sebagai penjual dan nasabah sebagai pembeli. Oleh karena
itu Lembaga Keuangan Syariah menerapkan Akuntansi Penjual dan Nasabah menerapkan Akuntansi
Pembeli.
Sesuai dengan judul buku ini pembahasan akuntansi murabahah yang akan dilakukan difokuskan
pada akuntansi yang dilakukan oleh Lembaga Keuangan Syariah, namun demikian juga dibahas akuntansi
yang dilakukan oleh pembeli atau pihak-pihak terkait yaitu nasabah sebagai pembeli.

4.3. Akuntansi Penjual


Cakupan akuntansi yang tercantum dalam PSAK 102 tentang Akuntansi Murabahah dibahas
akuntansi penjual dan akuntansi pembeli. Penjual yang dimaksud disini adalah Entitas Syariah yang
melakukan penjualan kepada pembeli akhir. Dalam PSAK tersebut tidak dilakukan pembahasan tentang
akuntansi pada pihak pemasok atau pembuat, yang pengadaan barang dilakukan dengan membuat sendiri
sehingga disini perlu akuntansi pabrikan. Namun demikian jika pemasok tidak memproduksi sendiri tetapi
membeli barang jadi dari pihak lain (pabrikan) maka akuntansi penjual dapat diterapkan pada yang
bersangkutan. Untuk memberikan gambaran yang jelas dan rinci akuntansi penjual dalam transaksi
murabahah, perlu dibahas terlebih dahulu akun-akun yang terkait atau yang dipergunakan untuk
membukukan transaksi tersebut

80 |Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


4.3.1 Akun-akun untuk akuntansi penjual
Dalam melakukan pencatatan transaksi murabahah banyak akun-akun yang dipergunakan dalam
akuntansi penjual ini antara lain dan tidak terdapat pada:

A. Akun Laporan Posisi Keuangan (Neraca)


Beberapa akun-akun yang dipergunakan untuk mencatat transaksi murabahah pada akuntansi penjual
untuk kepentingan Laporan posisi Keuangan (neraca) antara lain :
1. Persediaan/Aset Murabahah
Akun ini dipergunakan untuk mencatat aktiva yang dimiliki untuk dijual dalam transaksi Murabahah.
Akun ini didebet pada saat perolehan aktiva untuk dijual, biaya-biaya yang harus dikeluarkan supaya
aktiva tersebut memiliki nilai ekonomis misalnya biaya kelengkapan surat-surat, uji coba dan
sabagainya. Akun ini dikredit pada saat aktiva tersebut dijual atau memperoleh diskon harga
(mengurangi nilai aktiva untuk dijual).
2. Piutang Murabahah
Akun ini dipergunakan untuk mencatat harga jual (harga pokok ditambah keuntungan) yang
disepakati dalam murabahah dan belum dibayar oleh pembeli. Akun ini didebet pada saat terjadi jual
beli murabahah yang pembayaran dilakukan secara tangguh atau cicilan, sebesar harga jual (harga
pokok ditambah keuntungan). Akun ini dikredit pada saat pembayaran harga barang (baik secara
keseluruhan maupun secara angsuran) dan pengurangan uang muka yang dibayar oleh pembeli.
3. Margin Murabahah Tangguhan (Cr)
Akun ini dipergunakan untuk mencatat Keuntungan Murabahah yang telah disepakati dan belum
dibayar oleh pembeli. Akun ini disajikan sabagai pengurang (offseting account) dari akun Piutang
Murabahah. Akun ini dikredit pada saat terjadi akad murabahah dengan pembayaran tangguh atau
cicilan, sebesar keuntungan yang disepakati antara penjual dan pembeli.
4. Piutang Murabahah Jatuh Tempo
Akun ini dipergunakan untuk mencatat angsuran murabahah yang telah jatuh tempo dan belum
dibayar oleh pembeli. Akun ini dapat dipergunakan sebagai alat kontrol untuk memantau angsuran
murabahah yang belum dibayar oleh pembeli. Akun ini didebet pada saat angsuran pembayaran
murabahah telah jatuh tempo dan belum dibayar oleh pembeli sebesar angsuran yang harus dibayar
(atau pada saat pengakuan pendapatan atas angsuran yang belum dibayar oleh pembeli). Akun ini
dikredit pada saat diterima pembayaran dari pembeli sebesar jumlah pembayaran yang diterima.
5. Margin Murabahah Tangguhan Jatuh Tempo ( Cr)
Dalam pengakuan pendapatan (akrual) pada umum diberikan batasan tertentu, hal ini dimaksudkan
agar tidak ada over pendapatan yang sebenarnya tidak mungkin diterima lagi. Apabila melebihi
batasan yang telah ditentukan, maka pendapatan yang telah diakui (pendapatan akrual) dilakukan
jurnal balik. Akun ini dipergunakan untuk mencatat pengakuan pendapatan margin murabahah
yang diberhentikan pengakuannya (stop akrual). Akun ini disajikan sebagai pengurang (offseting
aacont) dari akun Piutang Murabahah Jatuh Tempo. Akun ini dikredit pada saat pemberhentian
pengakuan pendapatan sebesar pendapatan yang telah diakui. Akun ini didebet pada saat
penerimaan pembayaran angsuran (termasuk margin) yang telah jatuh tempo.
6. Hutang Diskon Murabahah (Kewajiban kepada Pembeli)
Akun ini dipergunakan untuk mencatat diskon dari pemasok yang diperoleh setelah akad
murabahah ditandatangani dan telah diperjanjikan dalam akad yang merupakan hak pembeli sebesar
porsi diskon sesuai dalam akad. Akun ini dikredit pada saat diterima diskon dari pemasok sebesar
hak pembeli dan didebet pada saat pembayaran kewajiban tersebut.

BAB IV. Akuntansi Murabahah | 81


7. Piutang Uang Muka Murabahah
Akun ini dipergunakan untuk mencatat pembayaran uang muka oleh LKS kepada pemasok. Akun
ini didebet pada saat pembayaran uang muka kepada pemasok sebesar jumlah yang dibayarkan.
Akun ini dikredit pada saat pelunasan harga barang kepada pemasok sebesar uang muka yang telah
dibayar
8. Hutang Uang Muka Murabahah
Akun ini dipergunakan untuk membukukan penerimaan uang muka LKS dari pembeli. Akun in di
kredit pada saat penerimaan uang muka dari pembeli sebesar uang yang diterima. Akun ini didebet
pada saat (1) akad murabahah jadi dilaksanakan sebagai pengurang piutang murabahah (2)
pengembalian uang muka setelah dikurangi kerugian LKS, jika akad dibatalkan dan LKS mengalami
kerugian
9. Cadangan Kerugian Murabahah (Cr)
Akun ini dipergunakan untuk mecatat penyisihan kerugian yang dibentuk oleh Lembaga Keuangan
Syariah atas kemungkinan tidak tertagihnya tagihan murabahah dan kerugian lain transaksi
murabahah. Akun ini dikredit pada saat pembentukkan penyisihan kerugian sebesar yang dibentuk
dan didebet pada saat dilakukan penghapusan piutang murabahah sebesar piutang murabahah yang
diharuskan.
10. Piutang pada Nasabah (calon pembeli)
Akun ini dipergunakan untuk mencatat kerugian yang timbul akibat pesanan murabahah dibatalkan
dan Lembaga Keuangan Syariah mengalami kerugian lebih besar dari uang muka yang diterima dari
pembeli.
B. Akun Laporan Laba Rugi
Berikut akun-akun yang dipergunakan dalam transaksi murabahah yang dipergunakan untuk
penyusunan laporan laba rugi:
1. Pendapatan Margin Murabahah
Akun ini dipergunakan untuk mencatat pendapatan margin Murabahah, baik yang telah dibayar
maupun yang masih dalam pengakuan. Akun ini kredit pada saat (1) diterima pembayaran angsuran
sebesar porsi margin (2) pengakuan pendapatan atas angsuran murabahah yang telah jatuh tempo
sebesar porsi margin. Akun ini didebet pada saat (1) pemberhentian pengakuan pendapatan (akrual)
sebesar pendapatan akrual yang telah diakui (2) dipindahkan ke akun pendapatan operasi atau usaha
utama.
2. Potongan Pelunasan (muqasah) Murabahah
Akun ini dipergunakan untuk mencatat pemberian potongan pelunasan pembayaran angsuran
murabahah atau pemberian potongan angsuran murabahah atas permintaan nasabah (bukan atas
pemberian LKS). Akun ini disajikan sebagai pengurang akun “Pendapatan Margin Murabahah”,
tidak dikategorikan sebagai beban Lembaga Keuangan Syariah. Akun ini didebet pada pemberian
potongan sebesar jumlah potongan yang diberikan. Akun ini dikredit pada saat dipindahkan atau
diperhitungkan sebagai pendapatan operasi atau usaha utama.
3. Potongan Angsuran Murabahah - Prestasi
Akun ini dipergunakan untuk mencatat potongan angsuran yang diberikan oleh Lembaga Keuangan
Syariah sebagai penjual, atas prestasi pembayaran angsuran oleh pembeli karena tepat waktu dalam
melakukan pembayaran. Akun ini merupakan pengurang pendapatan margin murabahah (tidak
dikategorikan sebagai beban Lembaga Keuangan Syariah). Akun ini didebet pada saat pemberian
potongan angsuran sebesar angsuran dan dikredit pada saat dipindahkan atau diperhitungkan ke
pendapatan operasi atau usaha utama.
4. Potongan Angsuran Murabahah – Beban operasi
Akun ini dipergunakan untuk mencatat potongan angsuran yang diberikan oleh Lembaga Keuangan
Syariah sebagai penjual, atas pembayaran angsuran oleh pembeli sebagai akibat penurunan
kemampuan pembeli. Akun ini merupakan beban Lembaga Keuangan Syariah (tidak diperkenankan

82 |Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


sebagai penguran pendapatan margin murabahah). Akun ini didebet pada saat pemberian potongan
sebesar potongan yang diberikan dan dikredit pada saat dipindahkan ke Laba Rugi pada akhir tahun.
5. Diskon Murabahah
Akun ini dipergunakan untuk mencatat diskon dari pemasok yang diperoleh setelah akad
murabahah ditandatangani dan telah diperjanjiakan dalam akad, yang merupakan bagian Lembaga
Keuangan Syariah sebagai penjual sebesar porsi diskon yang telah diperjanjikan dalam akad. Akun
ini merupakan penambah pendapatan margin murabahah yang merupakan pendapatan milik
bersama antara Lembaga Keuangan Syariah sebagai pengelola dana dan pemodal sebagai pemilik
dana. Akun ini dikredit pada saat diterima sebesar diskon yang menjadi hak Lembaga Keuangan
Syariah sebagai penjual dan dikredit pada saat dpindahkan atau diperhitungkan ke pendapatan usaha
utama.
6. Pendapatan non operasi lainnya
Akun ini dipergunakan untuk mencatat diskon dari pemasok yang diterima oleh Lembaga
Keuangan syariah, dimana diskon tersebut tidak diperjanjikan sebelumnya dengan pembeli. Akun
ini dikredit pada saat diterima diskon dari pemasok sebesar penerimaan diskon dan dikredit pada
saat dipindahkan ke Laba Rugi pada akhir tahun..
7. Beban kerugian Murabahah
Akun ini dipergunakan untuk mencatat beban kerugian yang timbul dari transaksi murabahah yang
dialami oleh pejual akibat kemungkinan tidak tertagihnya piutang murabahah. Juga dipergunakan
untuk mencatat kerugian yang timbul akibat pengadaan barang yang menjadi tanggung jawab
Lembaga Keuangan Syariah sebagai penjual. Akun ini didebet pada saat pembentukan penyisihan
kerugian dan dikredit pada saat dipindahkan kelaba rugi pada akhir tahun.
8. Kerugian penurunan aset murabahah
Akun ini dipergunakan untuk mencatat kerugian penurunan aset murabahah atau persediaan aset
murabahah yang dimiliki oleh Lembaga Keuangan Syariah sebagai penjual sebelum dilakukan
penjualan kepada pembeli akhir. Akun ini didebet pada saat nilai bersih aset murabahah lebih kecil
dari nilai tercatat atau perolehan dan dikredit pada saat dipindahkan ke laba rugi pada akhir tahun.
Untuk memberikan gambaran secara lengkap dan menyeluruh akuntansi Murabahah pada
Lembaga Keuangan Syariah sebagai penjual dapat diberikan ilustrasi contoh umum sebagai berikut:
Contoh : 4-1 (ilustrasi umum)
Aminah dan LKS Ridho Gusti sepakat melakukan jual beli Mobil Kijang dengan data sebagai
berikut:
1. Harga barang:
a. harga pokok Mobil Kijang pokok sebesar Rp140.000.000,00.
b. keuntungan sebesar Rp24.000.000,00.
c. harga jual yang disepakati sebesar Rp164.000.000,00.
2. Sebagai tanda keriusan atas jual beli tersebut Aminah memberikan uang muka kepada LKS
Ridho Gusti sebesar Rp20.000.000,00.
3. Pembayaran disepakati dengan cara angsuran sesuai kesepakatan antara penjual dan pembeli.
4. Keterlambatan dalam membayar angsuran Aminah dikenakan denda sebesar Rp500.000,00
dan akan disetorkan oleh LKS Ridho Gusti ke Dana Kabijakan (sosial) atas nama Aminah.
Atas jual beli dengan Aminah tersebut LKS Ridho Gusti melakukan pembelian Mobil Kijang ke
PT Barakah dengan data-data sebagai berikut:
1. Harga on the road yang disepakati sebesar Rp140.000.000,00.
2. Untuk tanda keseriusan LKS Ridho Gusti memberikan uang muka sebesar Rp30.000.000,00
dengan kesepakatan jika dibatalkan dipotong sebesar 50%.

BAB IV. Akuntansi Murabahah | 83


3. Sisa harga jual mobil jika dibayar lunas ke rekening PT Barakah yang ada di LKS Ridho Gusti,
setelah barang diterima.
Dari contoh tersebut di atas dapat digambarkan alur transaksi dalam gambar/skema transaksi sebagai
berikut:

Gambar 4-5 : alur transaksi murabahah (1)


Dalam ilustrasi contoh di atas akan dibahas terlebih dahulu akuntansi yang dilakukan oleh Lembaga
Keuangan Syariah sebagai penjual (Akuntansi Penjual) dan juga sekilas akuntansi pembeli yang dilakukan
oleh Lembaga Keuangan Syariah pada saat pengadaan barang dari PT Barakah. Sedangkan pembahasan
akuntansi yang dilakukan oleh Aminah sebagai pembeli (Akuntansi Pembeli) akan dibahas dalam
pembahasan berikutnya (lihat butir 4.4)
Dari ilustrasi di atas beberapa hal yang terkait dengan akuntansi pada LKS Ridho Gusti sebagai
penjual yang akan dibahas yaitu:
1. Uang Muka Murabahah, akan dibahas uang muka yang diterima oleh LKS Ridho Gusti sebagai
penjual dari Aminah sebagai pembeli. Disamping itu dibahas juga uang muka yang dibayar LKS
sebagai pembeli kepada PT Barakah serta pengaruh uang muka jika pesanan dibatalkan.
2. Pengadaan barang yang dilakukan oleh LKS Ridho Gusti sebagai penjual, penerimaan Diskon
Murabahah, Pengukuran aset murabahah setelah diperoleh, Pengadaan barang oleh LKS sebagai
penjual diwakilkan kepada pihak lain (nasabah atau pihak ketiga).
3. Penjualan barang dari LKS Ridho Gusti kepada Aminah, dengan pengakuan keuntungan saat
penyerahan barang, keuntungan secara proporsional dan keuntungan setelah seluruh piutang
diterima termasuk potongan pelunasan.
4. Pengenaan Denda.

84 |Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


4.3.2 Uang muka Murabahah
Dalam murabahah, yang dimaksud dengan uang muka adalah jumlah yang dibayar oleh pembeli
kepada penjual sebagai bukti komitmen untuk membeli barang dari penjual. Dalam transaksi murabahah
terdapat dua pengertian yang terkait dengan pembayaran dimuka ini yaitu :
1. Hamish Gedyyah
Ini adalah jumlah yang dibayar oleh pemesan pembelian atas permintaan pembeli untuk
memastikan bahwa si pemesan adalah serius di dalam pesanannya. Tetapi, apabila janji mengikat
dan pemesan pembelian menolak membeli aset, maka kerugian sebenarnya bagi pembeli harus
dipenuhi dari jumlah ini.
2. Urboun
Ini adalah jumlah yang dibayar oleh nasabah (pemesan) kepada penjual (yaitu pembeli mula-mula)
pada saat pemesan membeli sebuah aset dari penjual. Jika nasabah atau pelanggan meneruskan
penjualan dan mengambil aset, maka urboun akan menjadi bagian dari harga dan jika tidak
meneruskan penjualan maka urboun akan menjadi hak penjual.
Jika memerhatikan ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam fatwa DSN, maka yang dimaksud
uang muka dalam akuntansi murabahah ini adalah sebagai Hamish Gedyyah, bukan sebagai Urboun. Jadi
sesuai dengan pengertian tersebut yang dimaksud dengan uang muka adalah sebagaimana yang dijelaskan
pada pengertian Hamish Gedyyah walaupuan banyak yang memberikan istilah urboun.
Dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional nomor 4/DSN-MUI/IX/2000 (fatwa, 2006), tentang Murabahah
mengatur uang muka sebagai berikut:
4. Dalam jual beli ini Bank dibolehkan meminta nasabah untuk membayar uang muka saat
menandatangani kesepakatan awal pemesanan.
5. Jika nasabah kemudian menolak membeli barang tersebut, biaya riil Bank harus dibayar dari uang
muka tersebut.
6. Jika nilai uang muka kurang dari kerugian yang harus ditanggung oleh Bank, Bank dapat
meminta kembali sisa kerugiannya kepada nasabah.
7. Jika uang muka memakai kontrak ‘urbun sebagai alternatif dari uang muka, maka :
a. Jika nasabah memutuskan untuk membeli barang tersebut, ia tinggal membayar sisa harga.
b. Jika nasabah batal membeli, uang muka menjadi milik Bank maksimal sebesar kerugian
yang ditanggung oleh Bank akibat pembatalan tersebut; dan jika uang muka tidak
mencukupi, nasabah wajib melunasi kekurangannya.
Selain ketentuan dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional tersebut di atas, dalam Fatwa Dewan
Syariah Nasional nomor: 13/DSN-MUI/IX/2000 tentang Uang Muka Dalam Murabahah menjelaskan
sebagai berikut:
1. Dalam akad pembiayaan murabahah, Lembaga Keuangan Syariah (LKS) dibolehkan untuk
meminta uang muka apabila kedua belah pihak bersepakat.
2. Besar jumlah uang muka ditentukan berdasarkan kesepakatan.
3. Jika nasabah membatalkan akad murabahah, nasabah harus memberikan ganti rugi kepada LKS
dari uang muka tersebut.
4. Jika jumlah uang muka lebih kecil dari kerugian, LKS dapat meminta tambahan kepada nasabah.
5. Jika jumlah uang muka lebih besar dari kerugian, LKS harus mengembalikan kelebihannya
kepada nasabah.
Berdasarkan ketentuan Fatwa tersebut di atas, maka dalam PSAK 102 tentang Akuntansi
Murabahah (paragraf 30) menjelaskan pengakuan dan pengukuran uang muka adalah sebagai berikut:

BAB IV. Akuntansi Murabahah | 85


30 Pengakuan dan pengukuran uang muka adalah sebagai berikut:
(a) Uang muka diakui sebagai uang muka pembelian sebesar jumlah yang diterima;
(b) Pada saat barang jadi dibeli oleh pembeli maka uang muka diakui sebagai pembayaran piutang
(merupakan bagian pokok); dan
(c) Jika barang batal dibeli oleh pembeli maka uang muka dikembalikan kepada pembeli setelah
diperhitungkan dengan biaya-biaya yang telah dikeluarkan oleh penjual .
Bagi Lembaga Keuangan Syariah, uang muka murabahah dapat dilihat dari dua sudut yaitu:
1. Penerimaan Uang Muka dari pembeli (kedudukan LKS sebagai penjual)
Dalam contoh di atas, yaitu uang muka dari Aminah sebagai pembeli kepada LKS Ridho
Gusti sebagai penjual, yang merupakan tanda keseriusan atas pemesanan pembelian barang
yang besarnya sesuai kesepakatan antara Aminah sebagai pembeli dan LKS Ridho Gusti
sebagai penjual. Dalam catatan akuntansi LKS sebagai penjual akun yang dipergunakan untuk
mencatat transaksi ini adalah “Hutang Uang Muka Murabahah”.
2. Pembayaran Uang muka kepada pemasok (kedudukan LKS sebagai pembeli)
Dalam contoh di atas, yaitu uang muka yang dibayar oleh LKS Ridho Gusti sebagai
pembeli kepada PT Barakah sebagai pemasok, yang besarnya sesuai kesepakatan sebagai tanda
keseriusan atas pemesanan pembelian barang yang dilakukan oleh LKS Ridho Gusti kepada
PT Barakah. Dalam catatan akuntansi LKS sebagai penjual akun yang dipergunakan adalah
“Piutang Uang Muka Murabahah”.
Kedua akun (Hutang Uang Muka dan Piutang Uang Muka) tidak boleh dieliminir (saling hapus),
karena hutang Uang Muka sebagai kewajiban Lembaga Keuangan Syariah dan Piutang Uang Muka sebagai
harta Lembaga Keuangan Syariah.
A. Penerimaan uang muka dari pembeli
Sebagai tanda keseriusan pembeli untuk membeli barang yang dipesan, LKS sebagai penjual dapat
meminta kepada pembeli untuk memberikan uang muka yang besarnya sesuai kesepakatan. Hal tersebut
sesuai ketentuan berikut:
1. Fatwa DSN nomor 4/DSN-MUI/IX/2000, kedua, butir 4 tentang Murabahah menjelaskan
“Dalam jual beli ini Bank dibolehkan meminta nasabah untuk membayar uang muka saat
menandatangani kesepakatan awal pemesanan.”
2. Fatwa DSN No: 13/DSN-MUI/IX/2000 tentang Uang Muka Dalam Murabahah
menjelaskan sebagai berikut:
1. Dalam akad pembiayaan murabahah, Lembaga Keuangan Syariah (LKS) dibolehkan untuk
meminta uang muka apabila kedua belah pihak bersepakat.
2. Besar jumlah uang muka ditentukan berdasarkan kesepakatan.
3. PSAK 102 tentang Akuntansi Murabahah, paragraf 30 butir (a) menjelaskan pengakuan dan
pengukuran uang muka adalah sebagai berikut:
30 Pengakuan dan pengukuran uang muka adalah sebagai berikut:
(a) uang muka diakui sebagai uang muka pembelian sebesar jumlah yang diterima;
Akun yang dipergunakan untuk mencatat penerimaan uang muka oleh LKS sebagai penjual dari
pembeli adalah “Hutang Uang Muka “ sebesar uang muka yang diterima.
Dalam PerBankan Syariah, Bank Indonesia mengatur uang muka dalam Pedoman Akuntansi
Perbankan Syariah Indonesia (selanjutnya disebut PAPSI) sebagai berikut:
a. Bank dapat meminta uang muka pembelian kepada nasabah.
b. Dalam murabahah, uang muka harus dibayarkan oleh nasabah kepada Bank, bukan kepada
pemasok.

86 |Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


c. Uang muka menjadi bagian pelunasan piutang murabahah apabila murabahah jadi dilaksanakan
(tidak diperkenankan sebagai pembayaran angsuran).
d. Tetapi apabila murabahah batal, uang muka dikembalikan kepada nasabah setelah dikurangi
dengan kerugian sesuai dengan kesepakatan, antara lain:
1) Potongan uang muka oleh pemasok;
2) Biaya administrasi;
3) Biaya yang dikeluarkan dalam proses pengadaan lainnya.
Dalam ketentuan Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia (PAPSI) tersebut hanya dapat
diakui sebagai uang muka jika uang muka yang dibayar kepada LKS sebagai penjual (bukan kepada
pemasok). Hal ini didasarkan pada prinsip bahwa pengadaan barang adalah tanggung jawab LKS sebagai
penjual, karena dalam fatwa DSN disebutkan bahwa “Bank membeli barang yang diperlukan nasabah atas
nama Bank sendiri, dan pembelian ini harus sah dan bebas riba”. Hal ini sebagai bukti bahwa dalam
transaksi murabahah prinsip pengadaan barang menjadi tanggung jawab LKS sebagai penjual. Oleh karena
itu yang memberikan uang muka kepada pemasok adalah LKS sebagai penjual terkait dengan pengadaan
barang.
Contoh: 4-2
Tanggal 5 Januari 2007 LKS Ridho Gusti sebagai penjual menerima pembayaran uang muka dari
Aminah sebagai pembeli, sebagai tanda keseriusannya dalam memesan untuk membeli barang sesuai
kesepakatan sebesar Rp20.000.000,00.
Atas penerimaan uang muka dari Aminah oleh LKS Ridho Gusti melakukan jurnal:
Dr. Kas Rp20.000.000
Cr. Hutang Uang Muka Murabahah Rp20.000.000,00

Sehingga atas penerimaan uang muka dari Aminah tersebut mutasi akun dan neraca dalam
pembukuan LKS Ridho Gusti adalah sebagai berikut:

HUTANG UANG MUKA MURABAHAH


Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
Saldo 20.000.000 05/01 Aminah 20.000.000
20.000.000
20.000.000

NERACA
Per 05 Januari 2007
Aktiva Pasiva
Uraian Jumlah Uraian Jumlah
Hutang Uang Muka Murabahah 20.000.000

B. Pembayaran uang muka LKS kepada pemasok


Untuk memenuhi kebutuhan barang yang dipesan atau dibeli oleh pembeli, LKS melakukan juga
pengadaan barang. Sebagai tanda keseriusan LKS dalam melakukan pembelian, LKS dapat menyerahkan
uang muka kepada pemasok (produsen). Akun yang dipergunakan untuk mencatat pembayaran uang muka
oleh LKS sebagai pembeli kepada pemasok adalah “Piutang Uang Muka”. Akun Hutang Uang Muka dan
Piutang Uang Muka tidak diperkenankan untuk dieliminasi (saling menghapus).

BAB IV. Akuntansi Murabahah | 87


Contoh : 4-3
Tanggal 6 Januari 2007 LKS Ridho Gusti membayar uang muka atas pemesanan barang kepada PT
Barakah (pemasok) uang muka sebesar Rp30.000.000,00. Uang muka tersebut sebagai tanda
keseriusan atas pembelian barang yang dilakukan oleh LKS Ridho Gusti. Disepakati LKS Ridho
Gusti dan PT Barakah bahwa jika LKS Ridho Gusti membatalkan pesanannya, maka uang muka
dipotong sebesar 50% (lima puluh perseratus).
Atas pembayaran uang muka yang dilakukan oleh LKS Ridho Gusti kepada PT Barakah
(pemasok/produsen) tersebut, LKS Ridho Gusti melakukan jurnal sebagai berikut:
Dr. Piutang Uang Muka Murabahah Rp30.000.000,00
Cr. Kas / Rekening PT Barakah Rp30.000.000,00
Atas transaksi itu, mutasi akun-akun dan Posisi Keuangan (Neraca) LKS Ridho Gusti adalah sebagai
berikut:

PIUTANG UANG MUKA MURABAHAH


Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
06/01 PT Barakah 30.000.000
Saldo 30.000.000
30.000.000 30.000.000

NERACA
Per 06 Januari 2007
Aktiva Pasiva
Uraian Jumlah Uraian Jumlah
Piutang Uang Muka Murabahah 30.000.000 Hutang Uang Muka Murabahah 20.000.000

C. Pembatalan Murabahah oleh pembeli


Dalam transaksi murabahah berdasarkan pesanan, dapat terjadi pembatalan pesanan murabahah
oleh pembeli karena alasan tertentu atas keinginan pembeli. Oleh karena Lembaga Keuangan Syariah
sudah melakukan proses pengadaan barang, maka jika murabahah dibatalkan kemungkinan yang terjadi
bagi LKS sebagai penjual adalah:
1. LKS mengalami kerugian
2. LKS tidak mengalami kerugian
3. Pembatalan dilakukan LKS sebagai penjual sendiri, karena kesalahannya.

1) Pembatalan Murabahah dan LKS sebagai penjual mengalami kerugian


Jika dalam pembatalan pesanan murabahah dilakukan oleh pembeli dan atas pembatalan tersebut
LKS sebagai penjual mengalami kerugian, seperti misalnya terhadap biaya-biaya yang telah dikeluarkan
terkait dengan pengadaan barang, potongan dari pemasok dan sebagainya, maka kerugian riil yang dialami
oleh LKS sebagai penjual diganti dari uang muka yang diterima dari pembeli, sehingga uang muka yang
dikembalikan kepada nasabah sebagai pembeli adalah sebesar uang muka yang diterima dikurangi dengan
kerugian riil yang dialami oleh LKS. Dalam Fatwa DSN nomor 4/DSN-MUI/IX/2000, tentang
Murabahah ketentuan kedua butir 5 sampai dengan butir 7 menjelaskan sebagai berikut:
5. Jika nasabah kemudian menolak membeli barang tersebut, biaya riil Bank harus dibayar dari uang
muka tersebut.
6. Jika nilai uang muka kurang dari kerugian yang harus ditanggung oleh Bank, Bank dapat meminta
kembali sisa kerugiannya kepada nasabah.
7. Jika uang muka memakai kontrak ‘urbun sebagai alternatif dari uang muka, maka:
a. jika nasabah memutuskan untuk membeli barang tersebut, ia tinggal membayar sisa harga.

88 |Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


b. jika nasabah batal membeli, uang muka menjadi milik Bank maksimal sebesar kerugian yang
ditanggung oleh Bank akibat pembatalan tersebut; dan jika uang muka tidak mencukupi,
nasabah wajib melunasi kekurangannya.
Sesuai ketentuan dalam butir 6 dalam Fatwa tersebut di atas, jika uang muka lebih kecil dari
kerugian riil yang dialami oleh LKS, maka LKS dapat meminta tambahan sisa kerugian riil kepada nasabah,
sehingga tidak dapat langsung diperlakukan sebagai kerugian tetapi sebagai piutang kepada nasabah. Selain
ketentuan dalam Fatwa DSN nomor 4/DSN-MUI/IX/2000 di atas, dalam Fatwa DSN nomor 13/DSN-
MUI/IX/2000 tentang Uang Muka Dalam Murabahah butir 3 sampai dengan butir 5 mengatur sebagai
berikut:
3. Jika nasabah membatalkan akad murabahah, nasabah harus memberikan ganti rugi kepada
LKS dari uang muka tersebut.
4. Jika jumlah uang muka lebih kecil dari kerugian, LKS dapat meminta tambahan kepada
nasabah.
5. Jika jumlah uang muka lebih besar dari kerugian, LKS harus mengembalikan kelebihannya
kepada nasabah.
Sehubungan dengan hal tersebut, maka dalam PSAK 102 tentang Akuntansi Murabahah,
menjelaskan pengakuan dan pengukuran uang muka (paragraf 30) adalah sebagai berikut:
30 Pengakuan dan pengukuran uang muka adalah sebagai berikut:
(c) jika barang batal dibeli oleh pembeli maka uang muka dikembalikan kepada pembeli setelah
diperhitungkan dengan biaya-biaya yang telah dikeluarkan oleh penjual.
Yang perlu dipahami bahwa kerugian Lembaga Keuangan Syariah yang diperkenankan dimintakan
ganti kepada nasabah (pembeli) adalah kerugian riil atas transaksi Murabahah Berdasarkan Pesanan
Bersifat Mengikat. Sedangkan untuk Murabahah yang tanpa pesanan atau murabahah berdasarkan pesanan
yang sifatnya tidak mengikat, nasabah diberi hak untuk menentukan pilihan untuk membeli atau tidak
membeli, sehingga Lembaga Keuangan Syariah tidak dapat meminta ganti rugi atas pembatalan pembelian
atau pesanan tersebut. Kerugian yang dialami oleh LKS penjual, kemungkinan yang terjadi adalah:
1. Kerugian riil yang dialami oleh LKS sebagai penjual lebih kecil dari uang muka yang diterima
dari pembeli
2. Kerugian riil yang dialami oleh LKS sebagai penjual lebih besar dari yang muka yang diterima
dari pembeli.
(a) Kerugian LKS lebih kecil dari uang muka pembeli
Jika kerugian yang diderita oleh LKS sebagai penjual atas pembatalan pesanan murabahah oleh
pembeli jumlahnya lebih kecil dari uang muka yang diterima, maka uang muka setelah dikurangi dengan
kerugian riil LKS sebagai penjual dikembalikan kepada pembeli.
Contoh : 4-4
Tgl 8 Januari 2007 Aminah membatalkan pesanan pembelian mobil kijang. Atas pembatalan
pesanan oleh Aminah tersebut, LKS Ridho Gusti membatalkan juga pesanan Mobil Kijang pada PT
Barakah. Atas pembatalan yang dilakukan oleh LKS Ridho Gusti tersebut, sesuai kesepakatan PT
Barakah melakukan pemotongan uang muka sebesar 50% dari uang muka yang dibayar, sehingga
LKS Ridho Gusti mengalami kerugian sebesar Rp15.000.000,00 (50% x Rp30.000.000,00) – lihat
contoh 4 – 3.
Atas pembatalan pesanan tersebut LKS Ridho Gusti akan menerima sisa uang muka dari PT
Barakah sebesar Rp15.000.000,00, dilakukan jurnal sebagai berikut :
Dr. Kas Rp15.000.000,00
Dr. Kerugian Pemesanan Murabahah Rp15.000.000,00
Cr. Piutang Uang muka Rp30.000.000,00

BAB IV. Akuntansi Murabahah | 89


Dalam Transakasi Murabahah Berdasarkan Pesanan kerugian yang dialami oleh LKS Ridho Gusti
sebesar Rp15.000.000,00 harus diganti oleh Aminah sebagai pembeli dari uang muka yang telah diserahkan
kepada LKS Ridho Gusti. Oleh karena itu jurnal yang dilakukan oleh LKS Rdho Gusti adalah sebagai
berikut:
Dr. Hutang uang muka (Titipan Uang Muka) Rp20.000.000,00
Cr. Kerugian Pemesanan Murabahah (penggantian) Rp15.000.000,00
Cr. Kas/rekening pembeli ( Aminah) Rp 5.000.000,00
(b) Kerugian LKS lebih besar dari uang muka pembeli
Jika kerugian riil pembatalan murabahah yang diderita oleh LKS sebagai penjual lebih besar dari
uang muka yang diterima dari pembeli, maka LKS dapat meminta kekurangan kerugian kepada pembeli.
Oleh karena itu atas kekurangan tersebut harus diperlakukan sebagai piutang kepada pembeli tidak dapat
diperlakukan sebagai kerugian.
Contoh : 4-5
Selain kerugian atas pemotongan uang muka oleh PT Barakah sebesar Rp15.000.000,00 (50% dari
uang muka), atas pembatalan tersebut LKS Ridho Gusti juga dibeBankan beban lain yang tidak
dapat dihindari (riil cost) oleh PT Barakah sebesar Rp7.500.000,00 sehingga jumlah kerugian yang
ditanggung oleh LKS Ridho Gusti sebesar Rp22.500.000,00.
Pada saat PT Barakah mengenakan denda kepada LKS Ridho Gusti dilakukan jurnal:
Dr. Kas Rp 7.500.000,00
Dr. Kerugian Pesanan Murabahah Rp22.500.000,00
Cr. Piutang Uang Muka Rp30.000.000,00
Pada saat pembebanan kerugian riil LKS kepada Aminah, maka LKS Ridho Gusti melakukan jurnal:
Dr. Hutang Uang muka Rp20.000.000,00
Dr. Piutang Nasabah (Aminah) Rp 2.500.000,00
Cr. Kerugian Pesanan Murabahah (penggantian) Rp22.500.000,00
(c) Kekurangan kerugian dilakukan hapus buku
Jika atas kekurangan penggantian kerugian pembatalan murabahah tidak dibayar oleh nasabah, dan
kekurangan tersebut dilakukan hapus buku, maka diakui sebagai kerugian pesanan murabahah.
Contoh : 4-5
Karena sesuatu hal, Aminah tidak mau membayar kekurangan kerugian yang dialami oleh Lembaga
Keuangan Syariah sebesar Rp2.500.000,00, dan atas kebijakan intern LKS Ridho Gusti piutang
tersebut dihapuskan.
Oleh karena itu atas penghapusan piutang tersebut, LKS Ridho Gusti melakukan jurnal sebagai berikut:
Dr. Beban Kerugian pesanan Murabahah Rp2.500.000,00
Cr. Piutang Murabahah Rp2.500.000,00
2) Pembatalan Murabahah dan LKS tidak mengalami kerugian
Hal yang berbeda jika atas pembatalan pesanan oleh pembeli (Aminah) tersebut, LKS Ridho Gusti
sebagai penjual tidak mengalami kerugian, misalnya dalam contoh 4 -3 di atas tidak dibatalkan pesanan
kepada pemasok sehingga oleh pemasok (PT Barakah) tidak melakukan pemotongan uang muka dan LKS
Ridho Gusti tidak mengalami kerugian. Jika LKS tidak mengalami kerugian maka seluruh uang muka yang
diterima LKS dari pembeli, dikembalikan seluruhnya kepada pembeli.
Contoh: 4-6
Tgl 8 Januari 2007 Aminah membatalkan pesanan pembelian mobil kijang. Setelah menerima
pemberitahuan dari Aminah LKS Ridho Gusti tidak membatalkan pesananannya ke PT Barakah,
karena pada saat yang sama diterima pesanan barang yang serupa dari pihak lain.

90 |Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


Pengadaan barang yang dilakukan oleh LKS Baitul Ridho dalam rangka pesanan pembeli (Aminah).
Walaupun pesanan barang tersebut dibatalkan oleh Aminah sebagai pembeli, karena LKS melihat potensi
lain, maka pesanan pengadaan barang ke PT Barakah sebagai pemasok tidak dibatalkan, oleh karena itu
LKS Ridho Gusti tidak mengalami kerugian apapun (tidak dipotong oleh PT Barakah). Untuk itu uang
muka pembeli (Aminah) yang diterima sebesar Rp20.000.000,00 harus dikembalinya seluruhnya kepada
Aminah. Oleh karena itu jurnal yang dilakukan oleh LKS Ridho Gusti adalah sebagai berikut:
Dr. Hutang Uang Muka Murabahah Rp20.000.000,00
Cr. Kas / Rekening Aminah Rp20.000.000,00
3) Pembatalan pesanan karena kesalahan LKS sebagai penjual
Pembatalan pesanan murabahah tidak selalu dilakukan oleh pembeli, tetapi dapat pula dilakukan
oleh LKS sebagai penjual karena kesalahan yang dilakukan oleh LKS. Jika pembatalan murabahah
berdasarkan pesanan akibat kesalahan LKS sebagai penjual, maka segala risiko yang timbul termasuk
kerugian yang diderita atas pembatalan tersebut ditanggung oleh LKS sebagai penjual. Oleh karena itu
uang muka pembeli tidak diperkenankan untuk dipotong.
Contoh : 4-7
Karena mendapat penawaran yang lebih menjanjikan LKS Ridho Gusti membatalkan pemesanan
mobil antik kepada PT Barakah (bukan atas kesalahan atau permintaan Aminah). Sesuai
kesepakatan atas pembatalan tersebut PT Barakah memotong uang muka yang telah dibayar
sebanyak Rp15.000.000,00 (50% x Rp30.000.000,00).
Atas transaksi tersebut, LKS Ridho Gusti melakukan jurnal sebagai berikut:
Dr. Beban Kerugian Pesanan Murabahah Rp15.000.000,00
Dr. Kas Rp15.000.000,00
Cr. Piutang Uang Muka Rp30.000.000,00

4.3.3 Pengadaan aset (barang) Murabahah


Ketentuan syariah jelas sekali menerangkan bahwa jual beli Murabahah adalah jual beli atas barang
(bukan jual beli uang). Oleh karena dalam jual beli murabahah penjual harus memiliki barang, maka
pengadaan barang menjadi tanggung jawab penjual, bukan menyediakan uang untuk membeli barang.
Disini perbedaan yang mendasar antara LKS dengan Lembaga Keuangan Non Syariah, khususnya
perbankan.
Baik Murabahah berdasarkan pesanan maupun tanpa pesanan, pengadaan barang prinsipnya
menjadi tanggung jawab Lembaga Keuangan Syariah sebagai penjual. Hal ini dinyatakan dalam fatwa DSN
nomor 4/DSN-MUI/IX/2000, tentang Murabahah pada ketentuan pertama butir-2 dibawah dijelaskan
sebagai berikut :
4. Bank membeli barang yang diperlukan nasabah atas nama Bank sendiri, dan pembelian ini
harus sah dan bebas riba.
5. Bank harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian, misalnya jika
pembelian dilakukan secara hutang.
6. Bank kemudian menjual barang tersebut kepada nasabah (pemesan) dengan harga jual senilai
harga beli plus keuntungannya. Dalam kaitan ini Bank harus memberitahu secara jujur harga
pokok barang kepada nasabah berikut biaya yang diperlukan.
9. Jika Bank hendak mewakilkan kepada nasabah untuk membeli barang dari pihak ketiga, akad
jual beli murabahah harus dilakukan setelah barang, secara prinsip, menjadi milik Bank.
Adapun yang disyariatkan pada barang yang diakadkan (barang yang dijualbelikan) ada empat syarat:
1. Barangnya harus ada
Maka tidak boleh mengadakan akad jual beli barang yang tidak ada sebelum ditemukan barang itu,
dan barang terancam tidak ada. Contoh pertama, jual beli anaknya anak onta, dan jual beli buah sebelum
ada pada pohonnya. Contoh kedua, jual beli janin, dan jual beli air susu yang masih di dalam teteknya.

BAB IV. Akuntansi Murabahah | 91


Keduanya meragukan antara ada dan tidak ada. Keduanya terancam tidak ada. Dalilnya secara garis besar
adalah bahwa rasulullah saw mencegah jual beli buah-buahan yang belum jelas matangnya. Dan disamakan
juga jual beli permata yakut, ternyata kaca. Dalam hal ini ada kesalahan dalam jenis, maka tidak boleh
beraqad jual beli. Karena barangnya tidak ada. Namun dikecualikan dari ketentuan tersebut di atas adalah
jual beli salam, istishna’’.
2. Barangnya berupa harta yang jelas harganya
Harta menurut ulama Hanafiyah adalah sesuatu yang cenderung bisa dicetak dan mungkin bisa
disimpan untuk waktu butuh. Dengan kata lain setiap barang yang mungkin dimiliki oleh manusia dan ia
mengambil manfaat darinya dengan cara/jalan yang sudah biasa. Yang lebih benar adalah setiap benda
yang bernilai materi di kalangan manusia. Sedangkan harta yang jelas harganya adalah sesuatu yang
mungkin disimpan beserta dibolehkan secara syara’. Dengan kata lain sesuatu yang pasti bisa disimpan dan
boleh dimanfaatkan sewaktu bisa dipilih. Maka tidak boleh diadakan aqad jual beli untuk barang yang tidak
berupa harta, seperti manusia yang merdeka, bangkai dan darah. Dan tidak boleh berjual beli harta yang
tidak ada harganya, seperti cecak dan babi bagi seorang muslim. Menurut Abu Hanafi boleh berjual beli
alat-alat musik karena mungkin bisa diambil manfaat dari alat-alat musik yang tersusun darinya. Menurut
dua sahabatnya dan imam-imam lainnya, tidak boleh jual beli barang-barang ini karena mempersiapkan
pada kerusakan.
3. Barangnya dimiliki sendiri, artinya terjaga
Yaitu apa-apa yang termasuk di bawah halaman pemiliknya yang khusus. Maka tidak boleh jual beli
barang yang tidak dimiliki oleh seseorang seperti jual beli ilalang walaupun di tanah yang telah dimiliki, air
yang tidak dijaga, kayu, rumput, hewan-hewan buruan yang masih di tempat-tempat liar, debu sahara dan
logamnya, sinar matahari dan udara, barang-barang temuan dari laut dan hewan-hewan darat yang masih di
tanah liar. Adapun barang yang tidak dimiliki oleh si penjual maka bukan merupakan syarat beraqad tapi
syarat pelaksanaan seperti keterangan yang akan datang.
4. Barang itu dapat diserahkan sewaktu aqad
Tidak boleh beraqad jual beli barang yang sulit diserahkan meskipun dimiliki oleh si penjual, seperti
hewan yang lari, burung yang terbang di udara, dan ikan di air kecuali setelah berada di tangan pemiliknya.
Dalam akuntansinya, hal-hal yang berkaitan dengan pengadaan barang yang dilakukan oleh
Lembaga Keuangan Syariah sebagai penjual adalah:
1. Aset Murabahah yang meliputi harga perolehan dan biaya tambahan yang berkaitan dengan
pengadaan barang.
2. Diskon Murabahah yang diperoleh dari pemasok baik yang diperoleh sebelum akad maupun
setelah akad murabahah.
3. Pengukuran aset murabahah.

A. Aset Murabahah
Dalam transaksi murabahah yang diperjualbelikan adalah barang, oleh karena itu pengadaan barang
merupakan tanggung jawab penjual sehingga penjual harus melakukan pencatatan penerimaan barang
(dagangan) tersebut. Sehubungan dengan penerimaan barang murabahah dari pemasok, PSAK 102
(paragraf 18) menetapkan ketentuan sebagai berikut:
18. Pada saat perolehan, aset murabahah diakui sebagai persediaan sebesar biaya perolehan.
Dari ketentuan tersebut aset murabahah yang diperoleh dicatat sebagai persediaan, sehingga dalam
pelaksanaan akuntansi aset murabahah harus juga diperhatikan ketentuan dalam PSAK 14 tentang
persediaan misalnya:
1. Dalam PSAK 14 tentang persediaan paragraf 03 dijelaskan yang maksud persediaan adalah aset:
a. Tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal
b. Dalam proses produksi dan atau dalam perjalanan; atau

92 |Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


c. Dalam bentuk bahan atau perlengkapan (supplies) untuk dipergunakan dalam proses
produksi atau pemberian jasa
2. Persediaan tersebut termasuk pula persediaan dalam perjalanan yang memenuhi kriteria berikut:
a. Dalam transaksi pembelian dengan syarat penyerahan FOB Shipping Point (Franco gudang
penjual).
b. Dalam transaksi penjualan dengan syarat penyerahan FOB Destination Point (Franco
gudang pembeli).
3. Dalam PSAK 14 (paragraf 6 sd 7) dijelaskan sebagai berikut:
a. Biaya perolehan meliputi semua biaya pembelian, biaya konversi dan biaya lain yang
timbul sampai persediaan berada dalam kondisi dan tempat yang siap untuk dijual atau
dipakai.
b. Biaya pembelian persediaan meliputi harga pembelian, bea masuk, dan pajak lainnya
(kecuali yang kemudian dapat ditagih kembali oleh perusahaan kepada kantor pajak),
biaya pengangkutan, pengamanan, dan biaya lainnya yang secara langsung dapat
diartibusikan pada perolehan barang jadi, bahan dan jasa. Diskon dagang (trade discount),
rabat dan pos lain yang serupa dikurangkan dalam menentukan biaya pembelian.
Walaupun pengertian persediaan di atas meliputi juga aset yang masih dalam proses produksi,
namun dalam transaksi murabahah persediaan yang dimaksud adalah persediaan untuk barang jadi yang
akan dijual kembali, karena dalam jual beli murabahah barangnya harus ada saat dilakukan transaksi. Untuk
aset yang masih dalam proses produksi dapat dipergunakan pada transaksi salam dan istishna’, karena
kedua prinsip tersebut penyerahan barang dilakukan kemudian.
1) Pembelian barang
Pada prinsipnya pengadaan barang menjadi tanggung jawab LKS sebagai penjual, sebelum
dilakukan transaksi murabahah. Akun yang dipergunakan oleh LKS sebagai penjual untuk mencatat barang
yang dibeli adalah “persediaan” diakui sebesar harga perolehan barang tersebut.
Contoh : 4-8
Tanggal 10 Januari 2007 atas pesanan pembelian barang dari Aminah, LKS Ridho Gusti membeli
sebuah mobil kijang dari PT Barakah, seharga Rp140.000.000,00 (seratus tujuh belas juta rupiah).
LKS Ridho Gusti telah membayar uang muka sebesar Rp30.000.000.
Atas pembelian mobil kijang tersebut jurnal yang dilakukan oleh LKS Ridho Gusti adalah sebagai berikut:
Dr. Persediaan / Aset Murabahah Rp140.000.000,00
Cr. Kas / Rekening PT Barakah Rp110.000.000,00
Cr. Piutang Uang Muka Rp 30.000.000,00
Atas transaksi dan jurnal di atas, akun dan posisi keuangan LKS Ridho Gusti adalah sebagai berikut:

PERSEDIAAN / ASET MURABAHAH


Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
10/01 Mobil kijang 140.000.000
Saldo 140.000.000
140.000.000 140.000.000

PIUTANG UANG MUKA MURABAHAH


Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
06/01 PT Barakah 30.000.000 10/01 Pelunasan pembayaran 30.000.000
Saldo 00
30.000.000 30.000.000

BAB IV. Akuntansi Murabahah | 93


NERACA
Per 10 Januari 2007
Aktiva Pasiva
Uraian Jumlah Uraian Jumlah

Persediaan/Aset Murabahah 140.000.000


Piutang Uang Muka Murabahah 0 Hutang Uang Muka Murabahah 20.000.000

2) Pengeluaran biaya tambahan


Harga perolehan adalah kas atau setara kas yang dikeluarkan atas pengadaan barang, sampai barang
tersebut dapat dipergunakan atau dapat dijual. Jadi komponen harga perolehan barang adalah harga barang
ditambah dengan biaya-biaya tambahan yang dikeluarkan hingga barang tersebut dapat diperjual atau
dipergunakan. Khusus biaya pengangkutan yang dapat ditambahkan sebagai unsur harga perolehan, sangat
tergantung pada syarat penyerahan barang. Jika penyerahan barang dilakukan ditempat atau gudang
penjual maka biaya pengangkutan dapat ditambahkan sebagai harga perolehan, sebaliknya jika penyerahan
barang dilakukan digudang pembeli (LKS) maka biaya pengangkutan yang dikeluarkan tidak dapat
ditambahkan pada harga perolehan. Biaya yang dikeluarkan oleh LKS sebagai penjual berkaitan dengan
pengadaan barang dapat ditambahkan dalam harga perolehan :
Contoh : 4-9
Pada tanggal 10 Januari 2007, sebelum dijual kepada Aminah, LKS Ridho Gusti membayar uang
balik nama dan biaya uji coba, biaya perbaikan lainnya atas mobil antik tersebut sebesar
Rp5.000.000,00, sehingga mobil dapat dipergunakan atau jual.
Atas pengeluaran biaya balik nama dan biaya perbaikan mobil antik tersebut, jurnal yang dilakukan
oleh LKS Ridho Gusti adalah sebagai berikut :
Dr. Persediaan/Aset Murabahah Rp5.000.000,00
Cr. Kas Rp5.000.000,00
Atas transaksi itu dalam perkiraan Aset/Persediaan dan posisi neraca LKS Ridho Gusti dapat
diperlihatkan sebagai berikut:
PERSEDIAAN/ASET MURABAHAH
Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
10/01 Mobil kijang 140.000.000
10/01 Biaya balik nama dan lain-lain 5.000.000
Saldo 145.000.000
145.000.000 145.000.000

NERACA
Per 10 Januari 2007
Aktiva Pasiva
Uraian Jumlah Uraian Jumlah

Persediaan/Aset Murabahah 145.000.000

B. Penerimaan Diskon Murabahah


Pengadaan barang menjadi tanggung jawab LKS sebagai penjual. Jika dalam pengadaan barang
yang dilakukan oleh LKS sebagai penjual memperoleh diskon dari pemasok, maka diskon tersebut tidak
dapat langsung diakui sebagai pendapatan LKS sebagai penjual. PSAK 102 tentang Akuntansi Murabahah,
paragraf 20 dan 21 mengatur pengakuan dan pengukuran diskon sebagai berikut:

94 |Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


20 Diskon pembelian aset murabahah diakui sebagai:
(a) pengurang biaya perolehan aset murabahah, jika terjadi sebelum akad murabahah.
(b) kewajiban kepada pembeli, jika terjadi setelah akad murabahah dan sesuai akad yang
disepakati maka bagian yang menjadi hak pembeli.
(c) tambahan keuntungan murabahah, jika terjadi setelah akad murabahah dan sesuai akad
yang menjadi bagian hak penjual.
(d) pendapatan operasi lain jika terjadi setelah akad murabahah dan tidak diperjanjikan dalam
akad.
21 Kewajiban penjual kepada pembeli atas pengembalian diskon pembelian akan tereliminasi pada saat:
(a) dilakukan pembayaran kepada pembeli sebesar jumlah potongan setelah dikurangi dengan
biaya pengembalian; atau
(b) dipindahkan sebagai dana kebajikan jika pembeli sudah tidak dapat dijangkau oleh penjual.
Fatwa DSN nomor 16/DSN-MUI/IX/2000 tentang Diskon Dalam Murabahah mengatur diskon
sebagai berikut:
3. Jika dalam jual beli murabahah LKS mendapat diskon dari supplier, harga sebenarnya adalah
harga setelah diskon; karena itu, diskon adalah hak nasabah.
4. Jika pemberian diskon terjadi setelah akad, pembagian diskon tersebut dilakukan berdasarkan
perjanjian (persetujuan) yang dimuat dalam akad.
5. Dalam akad, pembagian diskon setelah akad hendaklah diperjanjikan dan ditandatangani.
Jadi berkaitan dengan diskon murabahah ini dapat dikategorikan dalam:
1. Diskon sebelum akad murabahah.
2. Diskon setelah akad murabahah dan diperjanjikan dalam akad.
(1) Hak penjual (Lembaga Keuangan Syariah).
(2) Hak Pembeli (nasabah).
3. Diskon setelah akad dan tidak diperjanjikan.
1) Diskon dari pemasok yang diterima LKS sebagai penjual, sebelum akad murabahah
dengan pembeli akhir
Dalam transaksi murabahah mengadaan barang dilakukan sebelum akad murabahah dilaksanakan.
Pada saat pengadaan barang dilakukan oleh LKS sebagai penjual, sebelum akad murabahah dilakukan
dicatat pada persediaan. Oleh karena itu jika memperoleh diskon sebelum akad murabahah dilaksanakan
akan mengurangi nilai persediaan LKS sebagai penjual. Dalam PSAK 14 tentang Persediaan (paragraf 7)
dijelaskan bahwa diskon dagang (trade discount), rabat dan pos lain yang serupa dikurangkan dalam
menentukan biaya pembelian.Ini berarti harga perolehan barang tersebut berkurang saat diperoleh diskon
dari pemasok. PSAK 102 tentang Akuntansi Murabahah, paragraf 20 huruf a mengatur pengakuan dan
pengukuran diskon sebagai berikut:
20 Diskon pembelian aset murabahah diakui sebagai:
(a) pengurang biaya perolehan aset murabahah, jika terjadi sebelum akad murabahah.
Jadi diskon yang diterima oleh LKS sebagai penjual sebelum akad murabahah dengan pembeli
dilaksanakan, diakui sebagai pengurang harga perolehan (atau hak pembeli).
Contoh : 4-10
Pada tanggal 10 Januari 2007 LKS Ridho Gusti menerima diskon harga atas pembelian mobil kijang
dari PT Barakah harga perolehan sebesar Rp145.000.000,00 (harga barang ditambah dengan beban
lain).
Pada tanggal 15 Januari 2007 LKS Ridho Gusti mendapatkan diskon dari PT Barakah sebesar
Rp3.000.000,00 atas pembelian mobil kijang yang dilakukan pada tanggal 10 Januari 2007.
Oleh karena diskon tersebut diperoleh sebelum dilakukan akad murabahah, maka atas diskon yang
diterima tanggal 15 Januari 2007 tersebut dilakukan jurnal :

BAB IV. Akuntansi Murabahah | 95


Dr. Rekening PT Barakah Rp3.000.000,00
Cr. Persediaan / Aset Murabahah Rp3.000.000,00
Atas transaksi tersebut perkiraan Aset/Persediaan Murabahah dan posisi neraca LKS Ridho Gusti sebagai
berikut :
PERSEDIAAN/ASET MURABAHAH
Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
10/01 Harga barang 140.000.000 Penurunan Nilai 3.000.000
10/01 Biaya balik nama 5.000.000 Saldo 142.000.000
145.000.000 145.000.000

NERACA
Per 30 Januari 2007
Aktiva Pasiva
Uraian Jumlah Uraian Jumlah

Persediaan/Aset Murabahah 142.000.000

Misalnya pada tanggal 16 Januari 2007 LKS Ridho Gusti melakukan transaksi jual beli murabahah
kepada Aminah, berapa harga perolehan yang harus diberitahukan oleh LKS Ridho Gusti kepada Aminah?
LKS Ridho Gusti harus memberitahukan harga perolehan barang kepada nasabah berikut biaya yang
diperlukan, sehingga harga perolehan yang harus disampaikan LKS Ridho Gusti kepada Aminah adalah
sebesar Rp142.000.000,00 (yang tercatat sebagai persediaan sebesar Rp142.000.000,00). Hal ini sesuai
dengan ketentuan dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional nomor 4/DSN-MUI/IX/2000 tentang
Murabahah bagian pertama butir 6 dijelaskan sebagai berikut:
Bank kemudian menjual barang tersebut kepada nasabah (pemesan) dengan harga jual senilai harga
beli plus keuntungannya. Dalam kaitan ini Bank harus memberitahu secara jujur harga pokok
barang kepada nasabah berikut biaya yang diperlukan.
Oleh karena itu kejujuran Lembaga Keuangan Syariah sangat diperlukan untuk dapat melaksanakan
transaksi Murabahah sesuai ketentuan syariah yang berlaku.

2) Diskon dari pemasok diterima oleh LKS sebagai penjual, setelah akad murabahah
ditandatangani oleh pembeli (nasabah)
Jika LKS sebagai penjual memperoleh diskon dari pemasok setelah akad ditanda tangani maka
diskon tersebut dibagi sebagai kesepakatan dalam akad. Pembagian diskon setelah akan harus tercantum
dalam akad dan ditanda tangani antara penjual dan pembeli.
Fatwa DSN nomor 16/DSN-MUI/IX/2000 tentang Diskon Dalam Murabahah mengatur diskon
sebagai berikut:
4. Jika pemberian diskon terjadi setelah akad, pembagian diskon tersebut dilakukan berdasarkan
perjanjian (per-setujuan) yang dimuat dalam akad.
5. Dalam akad, pembagian diskon setelah akad hendaklah diperjanjikan dan ditandatangani.
PSAK 102 tentang Akuntansi Murabahah, paragraf 20 huruf c mengatur pengakuan dan
pengukuran diskon sebagai berikut:
20 Diskon pembelian aset murabahah diakui sebagai:
(c) tambahan keuntungan murabahah, jika terjadi setelah akad murabahah dan sesuai akad yang
menjadi bagian hak penjual.
Karena diskon setelah diperjanjikan dalam akad maka sebagian merupakan hak penjual dan sebagai
merupakan hak pembeli.

96 |Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


Contoh : 4-11
Atas transaksi jual beli Murabahah atas mobil Kijang yang dilakukan oleh LKS Ridho Gusti dengan
Aminah diperoleh diskon dari pemasok sebesar Rp5.000.000,00 (setelah akad ditanda tangani
antara LKS Ridho Gusti dan Aminah). Dalam akad murabahah yang ditandatangani sepakati bahwa
atas diskon yang diperoleh setelah akad ditandatangani dibagi untuk LKS Ridho Gusti 40% dan
untuk Aminah sebesar 60%.
Perhitungan yang dilakukan LKS sebagai penjual dan jurnal yang dilakukan atas penerimaan diskon
dari pemasok adalah sebagai berikut:
a. Diskon yang menjadi hak LKS sebagai penjual yaitu sebesar 40% x Rp5.000.000,00=
Rp2.000.000,00.
Jurnal yang dilakukan adalah sebagai berikut:
Dr. Kas / Rekening Pemasok Rp2.000.000,00
Cr. Diskon Murabahah Rp2.000.000,00
Diskon murabahah yang diperoleh Lembaga Keuangan Syariah sebagai penambah
keuntungan / margin murabahah, sehingga menambah porsi pendapatan yang akan dibagikan
kepada investor dalam pembagian hasil usaha.
b. Diskon yang menjadi hak nasabah sebagai pembeli yaitu sebesar 60% x Rp5.000.000,00=
Rp3.000.000,00.
Jurnal yang dilakukan adalah sebagai berikut:
Dr. Kas / Rekening Pemasok Rp3.000.000,00
Cr. Hutang diskon Murabahah Rp3.000.000,00
Pada saat dilakukan pembayaran diskon dari pemasok kepada pembeli, jurnal yang dilakukan oleh
LKS Ridho Gusti adalah sebagai berikut:
Dr. Hutang diskon Murabahah Rp3.000.000,00
Cr. Kas / Rek pembeli (Aminah) Rp3.000.000,00

3) Apabila diskon tidak diperjanjikan dalam akad


Apabila dalam akad murabahah yang dilakukan oleh LKS Ridho Gusti dengan Aminah tidak
mencantumkan ketentuan pembagian diskon (karena diskon tersebut diberikan oleh pemasok atas
kebijakan pemasok yang tidak diperjanjikan sebelumnya. Jika tidak diperjanjikan diskon yang diterima LKS
sebagai penjual diakui sebagai pendapatan operasi lain. PSAK 102 tentang Akuntansi Murabahah,
(paragraf 20 dan 21) mengatur pengakuan dan pengukuran diskon sebagai berikut:
20 Diskon pembelian aset murabahah diakui sebagai:
(d) pendapatan operasi lain jika terjadi setelah akad murabahah dan tidak diperjanjikan
dalam akad
Jika atas transaksi murabahah yang dilakukan oleh LKS dan nasabah tidak diperjanjikan diskon yang
diterima dari pemasok oleh LKS Ridho Gusti melakukan jurnal sebagai berikut:
Dr. Kas/Rekening pemasok Rp5.000.000,00
Cr. Pendapatan Operasi Lainnya Rp5.000.000,00

C. Pengukuran aset murabahah setelah diperoleh


Barang yang diperoleh untuk dijual dicatat dalam “persediaan”, oleh karena itu dalam melakukan
pencatatan barang murabahah sebagai persediaan juga harus memperhatikan ketentuan-ketentuan dalam
PSAK 14 tentang persediaan sepanjang tidak bertentangan dengan syariah. Beberapa ketentuan dalam
PSAK 14 tentang Persediaan, misalnya paragraf 6 dan 7 menjelaskan bahwa Biaya Persediaan harus
meliputi semua pembelian, biaya konversi, dan biaya lain yang timbul sampai persediaan berada dalam

BAB IV. Akuntansi Murabahah | 97


kondisi dan tempat yang siap untuk dijual atau dipakai (present location and condition). Biaya pembelian
persediaan meliputi harga pembelian, bea masuk, dan pajak (kecuali yang kemudian dapat ditagihkan
kembali oleh perusahaan kepada kantor pajak), biaya pengangkutan, penanganan dan biaya lainnya yang
secara langsung dapat diartribusikan pada perolehan barang jadi, bahan dan jasa. Diskon (trade discount),
rabat, dan pos lain yang serupa dikurangkan dalam menentukan biaya perolehan. Sedangkan dalam
paragraf 5 dalam PSAK yang sama dijelaskan bahwa persediaan harus diukur berdasarkan biaya atau nilai
realisasi bersih, yang lebih rendah (the lower of cost and net realizable value).Yang dimaksud dengan “nilai
realisasi bersih” adalah taksiran harga penjualan dalam kegiatan usaha normal dikurangi taksiran biaya
penyelesaian dan taksiran biaya yang diperlukan untuk melaksanakan penjualan.
Dalam PSAK 102 tentang Akuntansi Murabahah, (paragraf 19) menjelaskan pengakuan dan
pengukuran aset murabahah sebagai berikut:
19 Pengukuran aset murabahah setelah perolehan adalah sebagai berikut:
(a) jika murabahah pesanan mengikat:
(i) dinilai sebesar biaya perolehan; dan
(ii) jika terjadi penurunan nilai aset karena usang, rusak atau kondisi lainnya sebelum
diserahkan ke nasabah, penurunan nilai tersebut diakui sebagai beban dan mengurangi nilai
aset:
(b) jika murabahah tanpa pesanan atau murabahah pesanan tidak mengikat:
(i) dinilai berdasarkan biaya perolehan atau nilai bersih yang dapat direalisasi, mana yang
lebih rendah; dan
(ii) jika nilai bersih yang dapat direalisasi lebih rendah dari biaya perolehan, maka selisihnya
diakui sebagai kerugian.
Dalam “murabahah pesanan mengikat”, jika terjadi penurunan nilai aktiva tersebut diakui sebagai
beban dan mengurangi nilai aktiva. Sedangkan dalam “murabahah tanpa pesanan” atau “murabahah
pesanan mengikat dan terdapat indikasi kuat batal” maka Aset Murabahah dinilai berdasarkan nilai mana
yang lebih rendah, antara biaya perolehan dan nilai bersih yang dapat direaliasai dan apabila nilai bersih
yang dapat direalisasi lebih rendah dari biaya perolehan, maka selisihnya diakui sebagai kerugian Bank. Hal
ini disebabkan karena pada murabahah ini barang adalah milik Bank (masih dalam penguasaan Bank).
Dari ketentuan PSAK 102 tersebut dapat dikategorikan beberapa hal yang terkait dengan aset murabahah
adalah:
a. Penilaian persediaan sebesar biaya perolehan (hal ini telah dibahas dalam butir sebelumnya).
b. Penurunan nilai aset sebelum diserahkan pada murabahah berdasarkan pesanan yang mengikat.
c. pengukuran aset untuk murabahah tanpa pesanan atau murabahah berdasarkan pesanan yang
tidak mengikat.

1) Penurunan nilai aset sebelum diserahkan pada murabahah berdasarkan pesanan yang
mengikat
Jika aset murabahah dalam murabahah berdasarkan pesanan mengikat terjadi penurunan nilai
sebelum diserahkan kepada nasabah karena karena usang, rusak atau kondisi lainnya, penurunan nilai
tersebut diakui sebagai beban dan mengurangi nilai aset.
Contoh : 4-12
Pada tanggal 30 Januari 2007, pada akhir periode (tanggal pelaporan) dilakukan penilaian persediaan
sebuah mobil kijang yang telah dibeli dari PT Barakah, sebelum diserahkan kepada Aminah
mengalami penurunan nilai sebesar Rp2.000.000,00
Atas penurunan nilai aktiva karena usang (sebelum jual beli) tersebut, jurnal yang dilakukan oleh
LKS Ridho Gusti adalah sebagai berikut:
Dr. Kerugian penurunan nilai aset murabahah Rp2.000.000,00
Cr. Persediaan/Aset murabahah Rp2.000.000,00
Atas transaksi tersebut perkiraan Persediaan / Aset Murabahah dan posisi neraca LKS Ridho Gusti
sebagai berikut:

98 |Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


ASET / PERSEDIAAN MURABAHAH
Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
10/01 Mobil kijang 140.000.000 15/01 Potongan harga 3.000.000
10/01 Biaya balik nama 5.000.000 30/01 Penurunan nilai 2.000.000
Saldo 140.000.000
145.000.000 145.000.000

NERACA
Per 30 Januari 2007
Aktiva Pasiva
Uraian Jumlah Uraian Jumlah

Persd/Asets Murabahah 140.000.000

Catatan : penilaian aktiva Murabahah ini dapat dilakukan pada akhir bulan/akhir periode pelaporan, atas
Aset Murabahah yang masih menjadi persediaan (belum diserahkan kepada pemesan).

2) Pengukuran aset untuk murabahah tanpa pesanan atau murabahah berdasarkan pesanan
yang tidak mengikat
Dalam PSAk 102 tentang Akuntansi Murabahah dijelaskan pengukuran aset murabahah tanpa
pesanan dan tidak mengikat sebagai berikut:
(b) jika murabahah tanpa pesanan atau murabahah pesanan tidak mengikat:
(i) dinilai berdasarkan biaya perolehan atau nilai bersih yang dapat direalisasi, mana yang lebih rendah;
dan
(ii) jika nilai bersih yang dapat direalisasi lebih rendah dari biaya perolehan, maka selisihnya diakui
sebagai kerugian.

D. Pengadaan barang oleh LKS sebagai penjual diwakilkan kepada pihak lain (nasabah atau
pihak ketiga)
Secara prinsip tanggung jawab pengadaan barang adalah tanggung jawab Lembaga Keuangan
Syariah sebagai penjual, namun menurut ketentuan Fatwa Dewan Syariah Nasional nomor 4/DSN-
MUI/IX/2000 dimungkinkan Lembaga Keuangan Syariah mewakilkan kepada nasabah atau pihak ketiga
untuk mengadakan barang. Dalam fatwa tersebut dijelaskan sebagai berikut:
Jika Bank hendak mewakilkan kepada nasabah untuk membeli barang dari pihak ketiga, akad jual
beli murabahah harus dilakukan setelah barang, secara prinsip, menjadi milik Bank.
Apabila ditelaah lebih dalam dalam ketentuan tersebut dapat disimpulkan bahwa akad murabahah
harus dilakukan setelah barang secara prinsip menjadi milik Bank, sehingga akad murabahah tidak dapat
dilaksanakan apabila barangnya tidak ada. Pada saat Lembaga Keuangan Syariah mewakilkan kepada pihak
ketiga atau nasabah untuk membeli barang dengan penyerahkan uang untuk membeli barang, maka
barangnya belum ada, sehingga atas transaksi tersebut akad yang dipergunakan adalah akad wakalah
(bukan akad murabahah). Jika akad yang dipergunakan adalah akad wakalah, maka hutang nasabah atau
pihak ketiga sebesar uang yang diterima dan diakui sebagai piutang wakalah dan nasabah atau pihak ketiga
berhutang untuk menyerahkan barangnya.

BAB IV. Akuntansi Murabahah | 99


Contoh: 4-13
LKS Ridho Gusti dan Aminah sepakat melakukan transaksi jual beli dengan Aminah atas mobil
Inova dengan harga pokok Rp120.000.000,00 ditambah keuntungan yang disepakati sebesar
Rp25.200.000,00 sehingga harga jual disepakati Rp145.200.000,00. Atas transaksi tersebut LKS
Ridho Gusti mewakilkan Aminah untuk membeli mobil Inova tersebut dan LKS menyerahkan uang
tunai sebesar Rp120.000.000 kepada Aminah untuk pembelian mobil tersebut.
Dari contoh tersebut dapat digambarkan alur transaksi murabahah yang dilakukan dengan
mewakilkan kepada nasabah sebagai berikut:

Gambar 4-6 : pembelian barang diwakilkan


Dari ilustrasi di atas dilakukan beberapa jurnal yang terkait dengan tahapan transaksi tersebut sebagai
berikut:
1. Pada saat LKS Ridho Gusti menyerahkan uang tunai kepada Aminah sebesar Rp120.000.000,00
akad yang dipergunakan adalah akad wakalah. LKS Ridho Gusti melakukan jurnal adalah sebagai
berikut:
Dr. Piutang Wakalah Rp120.000.000,00
Cr. Kas / Rekening Aminah Rp120.000.000,00
2. Setelah Aminah melaksanakan tugasnya untuk membeli barang dan menyerahkan barang tersebut
kepada LKS Ridho Gusti, maka LKS Ridho Gusti melakukan jurnal sebagai berikut:
Dr. Persediaan/Aset Murabahah Rp120.000.000,00
Cr. Piutang Wakalah Rp120.000.000,00
3. Setelah barang menjadi milik LKS Ridho Gusti, selanjutnya LKS Ridho Gusti melakukan akad
Murabahah dengan Aminah. LKS Ridho Gusti melakukan jurnal sebagai berikut (dengan asumsi
pembayaran dilakukan secara tangguh untuk jangka waktu lebih dari satu tahun dengan risiko cukup
besar) dengan pengakuan keuntungan secara proporsional.
Dr. Piutang Murabahah (Aminah) Rp145.200.000,00
Cr. Margin Murabahah Tangguhan Rp 25.200.000,00
Cr. Persediaan / Aset Murabahah Rp120.000.000,00
Jurnal tersebut berlaku juga apabila sebagai wakil Lembaga Keuangan Syaiah untuk membeli barang
adalah nasabah atau pembeli akhir (Aminah). Jadi pada saat akad wakalah hutang pemegang wakil adalah
sebesar uang yang diterima. Hal ini sangat berbeda jika akad murabahah, hutang pembeli adalah sebesar
harga jual yaitu harga perolehan barang ditambahan keuntungan yang disepakati.

100 |Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


4.3.4 Penjualan Barang dan Pembayaran Harga Barang
Sebelum dilakukan pembahasan yang rinci mengenai penjualan barang dan pembayarannya, perlu
dibahas sekilas perbedaan antara murabahah dengan kredit kendaraan bermotor atau kredit pemilikan
rumah yang dilakukan oleh Bank Konvensional.
Jika pada Bank Konvensional, Kredit Kendaraan Bermotor Bank menyediakan uang kepada
nasabah untuk membeli kendaraan bermtor, Kredit Pemilikan Rumah Bank menyediakan uang kepada
nasabah untuk membeli rumah. Hutang nasabah adalah hutang uang untuk membeli barang ditambah
dengan bunga yang diperhitungkan berdasarkan persentase tertentu dari sisa uang yang belum dibayar
(pokok setelah dikurangi angsuran). Oleh karena itu hutang nasabah dikategorikan menjadi hutang pokok
dan hutang bunga (yang diperhitungakan dari sisa pokoknya tadi).
Berbeda dengan murabahah yang dilakukan oleh Lembaga Keuangan Syariah, baik untuk pembelian
kendaraan bermotor atau pembeliaan rumah, LKS menyediakan barang untuk diperjualbelikan. Jika
murabahah pembayaran dilakukan dengan tangguh maka yang terhutang bagi pembeli adalah sebesar harga
jual barang yaitu pokok ditambah keuntungan sebagai hutang nasabah dan tidak membedakan hutang
pokok dan hutang margin. Berapapun yang dibayarkan oleh pembeli merupakan pengurang dari hutang
nasabah. Pembagian porsi pokok dan margin hanya dilakukan oleh LKS karena sebagian dari pendapatan
margin yang nyata-nyata diterima merupakan haknya pemodal.
Dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional nomor 4/DSN-MUI/IX/2000 tentang Murabahah,
dijelaskan proses penjualan dalam jual beli murabahah sebagai berikut:
Ketentuan pertama:
6. Bank kemudian menjual barang tersebut kepada nasabah (pemesan) dengan harga jual senilai
harga beli plus keuntungannya. Dalam kaitan ini Bank harus memberitahu secara jujur harga
pokok barang kepada nasabah berikut biaya yang diperlukan.
7. Nasabah membayar harga barang yang telah disepakati tersebut pada jangka waktu tertentu
yang telah disepakati.
8. Untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan atau kerusakan akad tersebut, pihak Bank dapat
mengadakan perjanjian khusus dengan nasabah.
9. Jika Bank hendak mewakilkan kepada nasabah untuk membeli barang dari pihak ketiga, akad
jual beli murabahah harus dilakukan setelah barang, secara prinsip, menjadi milik Bank.
Ketentuan kedua:
1. Nasabah mengajukan permohonan dan janji pembelian suatu barang atau aset kepada Bank.
2. Jika Bank menerima permohonan tersebut, ia harus membeli terlebih dahulu aset yang
dipesannya secara sah dengan pedagang.
3. Bank kemudian menawarkan aset tersebut kepada nasabah dan nasabah harus menerima
(membeli)-nya sesuai dengan janji yang telah disepakatinya, karena secara hukum janji
tersebut mengikat; kemudian kedua belah pihak harus membuat kontrak jual beli.
Ketentuan Keempat : Hutang dalam Murabahah:
1. Secara prinsip, penyelesaian hutang nasabah dalam transaksi murabahah tidak ada kaitannya
dengan transaksi lain yang dilakukan nasabah dengan pihak ketiga atas barang tersebut. Jika
nasabah menjual kembali barang tersebut dengan keuntungan atau kerugian, ia tetap
berkewajiban untuk menyelesaikan hutangnya kepada Bank.
2. Jika nasabah menjual barang tersebut sebelum masa angsuran berakhir, ia tidak wajib segera
melunasi seluruh angsurannya.
3. Jika penjualan barang tersebut menyebabkan kerugian, nasabah tetap harus menyelesaikan
hutangnya sesuai kesepakatan awal. Ia tidak boleh memperlambat pemba-yaran angsuran atau
meminta kerugian itu diperhitungkan.

BAB IV. Akuntansi Murabahah | 101


Dari ketentuan tersebut di atas dapat ditelaah bahwa penjualan barang kepada pembeli adalah
sebesar harga jual yaitu harga beli (harga perolehan) ditambah keuntungan. Oleh karena itu dalam
melakukan penjualan barang dalam transaksi murabahah berkaitan erat dengan :
a. Harga peroleh, yang sebelumnya dicatat dalam akun persediaan.
b. Keuntungan dilakukan negosiasi hingga disepakati kedua pihak dan dicatat dalam akun
Margin Murabahah Tangguhan.
c. Harga jual disepakati tercatat dalam akun Piutang Murabahah.
Akun-akun ini tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain, setiap pembayaran hutang oleh
pembeli (penerimaan piutang murabahah), bagi LKS sebagai penjual terkandung sebagian penerimaan
margin murabahah.
A. Harga Perolehan Aset Murabahah
Hal yang terkait dengan murabahah adalah harga perolehan barang yang diperjual belikan yang harus
diberitahukan dengan jujur oleh penjual kepada pembeli. Harga perolehan barang tersebut telah dibahas
dalam butir terdahulu tentang Pengadaan Aset Murabahah di atas (lihat butir 4.3.3).
B. Piutang Murabahah
Jika murabahah pembayarannya dilakukan dengan tangguh oleh pembeli, maka oleh LKS sebagai
penjual diakui sebagai piutang kepada pembeli sebesar harga jual barang, yaitu harga perolehan ditambah
dengan keuntungan yang disepakati dan akun yang dipergunakan adalah “Piutang Murabahah”. Hal ini
sejalan dengan kentuan dalam PSAK 102 tentang Murabahah, yang mengatur pengakuan dan pengukuran
piutang murabahah (paragraf 22) sebagai berikut:
22 Pada saat akad murabahah, piutang murabahah diakui sebesar biaya perolehan aset murabahah ditambah
keuntungan yang disepakati. Pada akhir periode laporan keuangan, piutang murabahah dinilai sebesar nilai
bersih yang dapat direalisasi, yaitu saldo piutang dikurangi penyisihan kerugian piutang.
Dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional nomor 4/DSN-MUI/IX/2000 tentang Murabahah,
dijelaskan proses penjualan dalam jual beli murabahah sebagai berikut:
Ketentuan Keempat: Hutang dalam Murabahah
1. Secara prinsip, penyelesaian hutang nasabah dalam transaksi murabahah tidak ada kaitannya
dengan transaksi lain yang dilakukan nasabah dengan pihak ketiga atas barang tersebut. Jika
nasabah menjual kembali barang tersebut dengan keuntungan atau kerugian, ia tetap
berkewajiban untuk menyelesaikan hutangnya kepada Bank.
2. Jika nasabah menjual barang tersebut sebelum masa angsuran berakhir, ia tidak wajib segera
melunasi seluruh angsurannya.
3. Jika penjualan barang tersebut menyebabkan kerugian, nasabah tetap harus menyelesaikan
hutangnya sesuai kesepakatan awal. Ia tidak boleh memperlambat pemba-yaran angsuran atau
meminta kerugian itu diperhitungkan.
Penentuan harga jual yang terdiri dari harga perolehan diberitahukan oleh penjual ditambah
keuntungan murabahah yang dilakukan dengan negosiasi antara penjual dan pembeli terjadi sebelum akad
murabahah dilakukan. Jika harga jual telah disepakati, akad murabahah ditandatangani dan pembayaran
harga barang dilakukan dengan tangguh, maka harga jual berubah menjadi hutang yang memiliki karakter
“tetap” sampai kapanpun kecuali dibayar. Hal ini dapat dilihat pada saat hutang tersebut diperpanjang,
tidak diperkenankan untuk menambah sisa kewajiban (lihat fatwa tentang penyelesaian piutang
murabahah).
Dalam OOIFI Ada beberapa alternatif yang telah dikaji dalam pengukuran piutang Murabahah pada
akhir periode laporan keuangan, yaitu:
a. Piutang Murabahah (Murabahah Receivables) harus diukur setara dengan nilai kasnya, sebagai
contoh jumlah utang yang jatuh tempo (kewajiban nasabah) pada akhir periode laporan
keuangan mengurangi cadangan untuk piutang ragu-ragu.

102 |Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


b. Piutang Murabahah (Murabahah Receivables) harus diukur pada nilai buku (jumlah yang diminta
dari nasabah pada akhir periode), tidak ada cadangan yang dilakukan untuk piutang ragu-ragu.
Kerugian yang berasal dari tidak tertagihnya piutang diakui pada waktu terjadinya dan setelah
mengecek kepastian tidak tertagihnya piutang tersebut.
c. Piutang Murabahah (Murabahah Receivables) harus diukur pada nilai bukunya dan piutang ragu-
ragu harus diperlakukan sebagai cadangan umum resiko investasi.
d. Piutang Murarabah (Murabahah Receivables) harus diukur pada nilai bukunya mengurangi
cadangan untuk piutang ragu-ragu. Bank Islam juga harus membuat cadangan umum untuk
resiko-resiko investasi untuk menutup piutang Murabahah yang gagal, tetapi tidak akan
diidentifikasi seperti itu sampai suatu waktu di masa yang akan datang.
e. Piutang Murabahah harus diukur pada nilai bukunya dan Bank Islam menentukan metode
penilaian, asalkan Bank Islam mengungkapkan metode tersebut di dalam kebijakan
akuntansinya.
Yang dipilih adalah alternatif pertama yaitu Piutang Murabahah harus diukur pada akhir periode
laporan keuangan pada nilai setara kasnya, karena alternatif ini mengarah kepada aplikasi konsep keyakinan
yang memadai dan konsep matching pendapatan dengan biaya-biaya. Pengukuran piutang Murabahah pada
nilai setara kasnya harus memberikan informasi yang lebih relevan di dalam laporan keuangan Bank-Bank
Syariah. Jika Bank Syariah (atau Dewan Pengawas) merasa perlu untuk membuat cadangan umum untuk
resiko-resiko investasi disamping cadangan khusus untuk piutang ragu-ragu ini merupakan pilihan yang
tersedia bagi Bank syariah atau Dewan Pengawas. Penggunaan nilai setara kas merupakan implementasi
dari persyaratan minimum menjadikan laporan keuangan Bank-Bank Syariah comparable (bisa
dibandingkan). Ini juga merupakan implementasi dari konsep kemampuan untuk dibandingkan.
C. Keuntungan yang disepakati
Penentuan keuntungan dalam murabahah dilakukan dengan cara negosiasi antara penjual dan
pembeli. Bagaimana cara menghitung keuntungan, dengan metode apa yang dipergunakan dalam
menghitung keuntungan, sepenuhnya hak penjual dengan kata lain pembeli tidak perlu tahu hal tersebut
karena yang dilakukan negosiasi pembeli adalah hasil akhir dari perhitungan keuntungan tersebut. Dalam
butir sebelumnya telah dibahas, bahwa transaksi murabahah yang disepakati adalah harga jual dan harga
perolehan harus diberitahukan oleh penjual kepada pembeli. Dengan harga perolehan diberitahukan dan
harga jual disepakati, maka keuntungan murabahah pun disepakati, karena harga jual merupakan harga
perolehan ditambah dengan keuntungan. Harga jual yang terdiri dari harga beli ditambah keuntungan
tersebut diatur dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional nomor 4/DSN-MUI/IX/2000 tentang Murabahah,
dijelaskan proses penjualan dalam jual beli murabahah sebagai berikut:
Ketentuan pertama:
6. Bank kemudian menjual barang tersebut kepada nasabah (pemesan) dengan harga jual senilai
harga beli plus keuntungannya.
PSAK 102 tentang murabahah tidak pengatur bagaimana cara penjual menghitung keuntungan.
PSAK 102 hanya mengatur “cara pengakuan keuntungan murabahah”. Keuntungan murabahah tidak
terkait dengan penurunan atau sisa modal. Dalam PSAK 102 tentang Murabahah, paragraf 23 sampai
dengan paragraf 25 mengatur pengakuan dan pengukuran keuntungan murabahah sebagai berikut:
23 Keuntungan murabahah diakui:
(a) pada saat terjadinya penyerahan barang jika dilakukan secara tunai atau secara tangguh yang tidak melebihi
satu tahun; atau
(b) selama periode akad sesuai dengan tingkat risiko dan upaya untuk merealisasikan keuntungan tersebut
untuk transaksi tangguh lebih dari satu tahun. Metode-metode berikut ini digunakan, dan dipilih yang paling
sesuai dengan karakteristik risiko dan upaya transaksi murabahah-nya:
(i) Keuntungan diakui saat penyerahan aset murabahah. Metode ini terapan untuk murabahah
tangguh dimana risiko penagihan kas dari piutang murabahah dan beban pengelolaan piutang serta
penagihannya relatif kecil.

BAB IV. Akuntansi Murabahah | 103


(ii) Keuntungan diakui proporsional dengan besaran kas yang berhasil ditagih dari piutang murabahah.
Metode ini terapan untuk transaksi murabahah tangguh dimana risiko piutang tidak tertagih relatif
besar dan/atau beban untuk mengelola dan menagih piutang tersebut relatif besar juga.
(iii) Keuntungan diakui saat seluruh piutang murabahah berhasil ditagih. Metode ini terapan untuk
transaksi murabahah tangguh dimana risiko piutang tidak tertagih dan beban pengelolaan piutang
serta penagihannya cukup besar. Dalam praktek, metode ini jarang dipakai, karena transaksi
murabahah tangguh mungkin tidak terjadi bila tidak ada kepastian yang memadai akan penagihan
kasnya.
24 Pengakuan keuntungan, dalam paragraf 23 (b) (ii), dilakukan secara proporsional atas jumlah
piutang yang jatuh tempo dalam setiap periode dengan mengalikan persentase keuntungan
terhadap jumlah piutang yang jatuh tempo pada periode yang bersangkutan. Persentase
keuntungan dihitung dengan perbandingan antara margin dan biaya perolehan aset
murabahah.
25 Berikut ini contoh perhitungan keuntungan secara proporsional untuk suatu transaksi
murabahah dengan biaya perolehan aset (pokok) Rp800,00 dan keuntungan Rp200,00; serta
pembayaran dilakukan secara angsuran selama 3 tahun; dimana jumlah angsuran, pokok dan
keuntungan yang diakui setiap tahun adalah sebagai berikut:
Thn Angsuran (Rp) Pokok (Rp) Keuntungan (Rp)
1 500,00 400,00 100,00
2 300,00 240,00 60,00
3 200,00 160,00 40,00
Jadi dalam PSAK tidak diatur cara atau metode perhitungan margin atau keuntungan murabahah,
dipersilakan untuk menggunakan metode apapun yang sesuai. Yang diatur dalam PSAK 102 adalah
pengakuan dan pengukuran keuntungan sebagaimana diatur dalam paragraf 23 sampai dengan paragraf 25
tersebut di atas. Dari ketentuan PSAK 102 tentang Akuntansi Murabahah, paragraf 23 sampai dengan 25
tersebut pengakuan dan pengukuran keuntungan murabahah dapat dikategorikan sebagai berikut:

Pengakuan keuntungan Pembayaran harga barang


1 Saat Penyerahan Barang • Tunai atau jangka waktu kurang dari satu tahun
• Lebih dari satu tahun dengan risiko relatif kecil
2 Proporsional Lebih dari satu tahun dan beban relatif besar
3 Seluruh Piutang Tertagih Tangguh dengan risiko dan beban cukup besar
Penggunaan cara pengakuan keuntungan di atas sangat mempengaruhi perlakuan akuntansi yang
harus dilakukan yaitu berkaitan dengan pengakuan keuntungan sendiri, pembayaran angsuran (khususnya
dalam pencatatan yang dilakukan oleh LKS sebagai penjual)
PSAK 23 tentang Pendapatan, paragraf 06 menjelaskan pendapatan adalah arus kas masuk bruto
dari manfaat ekonomi yang timbul dari aktivitas normal perusahaan selama suatu periode bila arus masuk
tersebut mengakibatkan kenaikan ekuitas, yang tidak berasal dari kontribusi penanam modal.
Dalam PSAK 23 tentang pendapatan (paragraf 13 sd 18), mengatur pengukuran dan pengakuan
pendapatan dari penjualan barang sebagai berikut:
1. Pendapatan dari penjualan barang harus diakui bila seluruh kondisi berikut dipenuhi (paragraf 13) :
a. perusahaan telah memindahkan risiko secara signifikan dan memindahkan manfaat kepemilikan
barang kepada pembeli.
b. perushaan tidak lagi mengelola atau melakukan pengendalian afektif atas barang yang dijual
c. Jumlah pendapatan tersebut dapat diukur dengan andal.
d. besar kemungkinan manfaat ekonomi yang dihubungkan dengan transaksi akan mengalir
kepada perusahaan tersebut; dan
e. biaya yang terjadi atau yang akan terjadi sehubungan transaksi penjualan dapat diukur dengan
andal.

104 |Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


2. Penentuan kapan suatu perusahaan telah memindahkan risiko signifikan dan manfaat kepemilikan
kepada pembeli memerlukan pengujian keadaan transaksi tersebut. Pada umumnya, pemindahan
risiko dan manfaat kepemilikan bersamaan waktunya dengan pemindahan hak milik atau penguasaan
atas barang tersebut kepada pembeli. Hal ini terjadi pada kebanyakan penjualan eceran. Dalam hal
lain, pemindahan risiko dan manfaat kepemilikan terjadi pada saat yang berbeda dengan pemindahan
hak miliki atau penguasaan atas barang tersebut (paragraf 14).
3. Jika perusahaan tersebut menahan risiko signifikan dari kepemilikan, transaksi tersebut bukanlah
suatu penjualan dan pendapatan tidak diakui. Suatu perusahaan dapat menahan risiko kepemilkan
yang signifikan dengan berbagai cara, misalnya: (paragraf 15)
a. bila perusahaan manahan kewajiban sehubungan dengan pelaksanaan suatu hal yang tidak
memuaskan yang tidak dijamin sebagaimana lazimnya;
b. bila penerimaan pendapatan dari suatu penjualan bergantung pada pendapatan pembeli yang
bersumber dari penjualan barang yang bersangkutan.
c. bila pengiriman barang bergantung pada instalasinya, dan istalasi tersebut merupakan bagian
signifikan dari kontrak yang belum diselesaikan oleh perusahaan; dan
d. bila pembeli berhak membatalkan pembelian berdasarkan alasan yang ditentukan dalam kontrak
dan perusahaan tidak dapat memastikan apakah akan terjadi retur.
4. Jika perusahaan hanya penahan risiko tidak signifikan atas kepemilikan, transaksi tersebut adalah
suatu penjualan dan pendapatan diakui. Misalnya, penjual mungkin menahan hak milik atas barang
semata-mata untuk melindungi kolektibilitas dari jumlah yang jatuh tempo. Dalam hal seperti itu, jika
perusahaan telah memindahkan manfaat kepemilikan dan risiko yang signifikan, transaksi tersebut
adalah suatu penjualan dan pendapatan harus diakui. Contoh lain perusahaan yang hanya menahan
risiko tidak signifikan dari kepemilikan adalah dalam penjualan eceran dengan syarat dapat
dikembalikan bila pelanggan tidak puas. Pendapatan dalam hal ini diakui pada waktu penjualan
dilakukan jika penjual dapat mengestimasi secara andal retur yang akan terjadi dan mengakui suatu
kewajiban untuk retur berdasarkan pengalaman sebelumnya dan faktor-faktor lain yang relevan
(paragraf 16).
5. Pendapatan diakui hanya bila besar kemungkinan manfaat ekonomi sehubungan dengan transaksi
tersebut akan mengalir kepada perusahaan. Kadang-kadang, kemungkinan hal tersebut terjadi sangat
kecil, sampai imbalan diterima atau suatu ketidakpastian dihilangkan. Misalnya, belum ada kepastian
bahwa pemerintahan asing akan memberikan izin pengiriman imbalan untuk suatu penjualan di
negara asing. Namun, bila suatu ketidakpastian timbul tentang kolektibilitas sejumlah tertentu yang
telah termasuk dalam pendapatan, jumlah yang tidak tertagih atau jumlah yang pemulihannya tidak
lagi besar kemungkinannya, diakui sebagai beban, menggantikan penyesuaian jumlah pendapatan
yang diakui semula (paragraf 17).
6. Pendapatan dan beban sehubungan dengan suatu transaksi atau peristiwa tertentu diakui secara
bersamaan; proses ini biasanya mengacu pada pengaitan pendapatan dengan beban (matching revenue
and expense). Beban, termasuk jaminan dan biaya lain yang terjadi setelah pengiriman barang, biasanya
dapat diukur dengan andal jika kondisi lain untuk pengakuan pendapatan yang berkaitan dapat
dipenuhi. Tetapi, pendapatan tidak dapat diakui bila beban yang berkaitan tidak dapat diukur dengan
andal. Dalam keadaan demikian, setiap imbalan yang telah diterima untuk penjualan barang tersebut
diakui sebagai suatu kewajiban (paragraf 18).
Oleh karena unsur murabahah yaitu harga perolehan, keuntungan dan harga jual merupakan satu
kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu dengan unsur lainnya maka akuntansi yang terkait dengan
penjualan dan pembayaran harga barang dilakukan sesuai dengan pengakuan keuntungan dalam
murabahah yaitu:
1. Penjualan dengan pengakuan keuntungan saat penyerahan barang
2. Penjualan dengan pengakuan keuntungan secara proporsional
3. Pengakuan keuntungan setelah pelunasan piutang

BAB IV. Akuntansi Murabahah | 105


4.3.5 Penjualan dengan pengakuan keuntungan saat penyerahan barang
Salah satu perbedaan akuntansi Murabahah yang tercantum dalam PSAK 59 tentang Akuntansi
Perbankan Syariah dengan PSAK 102 tentang Akuntansi Murabahah adalah ketentuan yang jelas dan
gamblang tentang pengakuan dan pengukuran pendapatan keuntungan murabahah. Salah satu pengakuan
dan pengukuran keuntungan murabahah dilakukan pada saat penyerahan barang. Murabahah merupakan
transaksi jual beli barang sehingga pengakuan keuntungan dilakukan pada saat penyerahan barang tidak
terkait dengan pembayaran harga barang yang dilakukan.
Pengakuan keuntungan saat penyerahan barang dijelaskan dalam PSAK 102 tentang Akuntansi
Murabahah sebagai berikut:
23 Keuntungan murabahah diakui:
(a) Pada saat terjadinya penyerahan barang jika dilakukan secara tunai atau secara tangguh yang tidak
melebihi satu tahun; atau
(b) Selama periode akad sesuai dengan tingkat risiko dan upaya untuk merealisasikan keuntungan tersebut
untuk transaksi tangguh lebih dari satu tahun. Metode-metode berikut ini digunakan, dan dipilih yang
paling sesuai dengan karakteristik risiko dan upaya transaksi murabahah-nya:
(i) Keuntungan diakui saat penyerahan aset murabahah. Metode ini terapan untuk murabahah tangguh
dimana risiko penagihan kas dari piutang murabahah dan beban pengelolaan piutang serta penagihannya
relatif kecil.
Jadi pengakuan keuntungan saat penyerahan dilakukan untuk murabahah dengan pembayaran
tangguh yang tidak lebih dari satu tahun, tanpa membedakan risiko yang akan timbul. Disamping itu dapat
dilakukan untuk murabahah dengan pembayaran tangguh lebih dari satu tahun dengan risiko yang relatif
kecil. Pengertian risiko relatif kecil dimaksud adalah antara lain jika murabahah tersebut dijamin dengan
jaminan kas (cash collateral) dengan pencairan tanpa syarat.
Untuk memberikan gambaran yang lengkap pengaruh pengakuan keuntungan murabahah terhadap
akuntansi yang dilakukan oleh penjual dapat diberikan ilustrasi contoh berikut:
Pada tanggal 16 Februari 2007 dilakukan dan disepakati transaksi jual beli antara LKS Ridho Gusti
dengan Aminah, dengan harga jual sebesar Rp164.000.000,00 dengan keuntungan yang disepakati
sebesar Rp24.000.000,00. Sesuai dengan catatan yang ada pada LKS Ridho Gusti nilai persediaan
(harga perolehan) mobil kijang yang dipesanan oleh Aminah sebesar Rp140.000.000,00 (lihat
contoh sebelumnya). Atas jual beli tersebut Aminah telah menyerahkan uang muka sebesar
Rp20.000.000,00 . Aminah sepakat pembayaran harga barang dilakukan secara tangguh dalam
jangka waktu 10 bulan, yaitu sampai dengan 16 Desember 2007 dengan pembayaran angsuran
sebagai berikut:
1. 15 Maret 2007 sebesar Rp60.000.000,00
2. 15 Juni 2007 sebesar Rp48.000.000,00
3. 15 September 2007 sebesar Rp30.000.000
4. 15 Desember 2007 sebesar Rp6.000.000,00
Atas transaksi tersebut di atas dapat dilakukan tahapan-tahapan jurnal akuntansi yang terkait dengan
(1) penerimaan uang muka dri pembeli, (2) penyerahan barang kepada pembeli, (3) penerimaan
pembayaran angsuran, (4) angsuran yang telah jatuh tempo belum dibayar oleh pembeli, (5) penerimaan
pembayaran angsuran yang tertunggak, (6) penerimaan pembayaran lebih kecil dari kewajiban, (7)
potongan kewajiban pembeli baik potongan angsuran maupun potongan pelunasan piutang sebelum jatuh
tempo.
A. Penerimaan Uang Muka dari pembeli
Sebagaimana telah dijelaskan dimuka, jika nasabah memberikan uang muka sebagai tanda keseriusan
untuk membeli barang, maka uang muka diperlakukan sebagai berikut:
1. Uang muka yang diterima diakui sebagai ”Hutang Uang Muka” sebesar uang muka yang diterima
2. Jika akad dilaksanakan uang muka sebagai pengurang ”Piutang Murabahah” (tidak
diperkenankan sebagai pembayaran angsuran.

106 |Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


Contoh : 4-14
Tanggal 01 Februari 2007 diterima uang muka sebesar Rp20.000.000,00 dari Aminah sebagai tanda
keseriusan pembelian barang yang dilakukan dari LKS Ridho Gusti.
Atas penerimaan pembayaran uang muka dari Aminah. LKS Ridho Gusti melakukan jurnal sebagai
berikut:
Dr. Kas/Rekening Aminah Rp20.000.000,00
Cr. Hutang Uang Muka Murabahah Rp20.000.000,00
Atas jurnal dari transaksi tersebut akun dan penyajian neraca pada LKS Ridho Gusti adalah sbb:
HUTANG UANG MUKA
Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
Saldo 20.000.000 01/02 Aminah 20.000.000

20.000.000 20.000.000

NERACA
Per 01 Februari 2007
Aktiva Pasiva
Uraian Jumlah Uraian Jumlah
Hutang Uang Muka 20.000.000
B. Penyerahan barang kepada pembeli
Dalam transaksi murabahah, yang dilakukan oleh LKS sebagai penjual adalah menyerahkan barang
bukan menyerahkan uang. Untuk murabahah dengan pengakuan pendapatan keuntungan saat penyerahan
barang, akun-akun yang berkaitan barang adalah (1) Persediaan sebesar harga perolehan barang, (2)
Pendapatan Keuntungan Murabahah sebesar keuntungan murabahah yang disepakati, dan (3) Piutang
Murabahah sebesar harga jual barang yang disepakati yaitu harga perolehan ditambah dengan keuntungan
yang disepakati.
Contoh : 4-15
Tanggal 15 februari 2007 dilakukan akad Murabahah dan penyerahan barang oleh LKS Ridho Gusti
kepada Aminah dengan data sebagai berikut:
Harga perolehan barang Rp140.000.000,00
Keuntungan disepakati Rp 24.000.000,00
------------------------
Harga jual disepakati Rp164.000.000,00
Atas transaksi tersebut jurnal yang dilakukan oleh LKS Ridho Gusti sebagai penjual adalah sebagai berikut:
(1) Dr. Piutang Murabahah Rp164.000.000,00
Cr. Pendapatan Margin Murabahah Rp24.000.000,00
Cr. Persediaan Rp140.000.000,00
(2) Dr. Hutang Uang Muka Murabahah Rp20.000.000,00
Cr. Piutang Murabahah Rp20.000.000,00
Atas penyerahan barang tersebut, LKS sebagai penjual langsung pengakui keuntungan sebesar
keuntungan yang disepakati walaupun pembayaran harga barang akan dilakuka kemudian. Oleh karena itu
atas jurnal transaksi tersebut di atas, posisi akun-akun yang terkait dan neraca pada LKS Ridho Gusti
adalah sebagai berikut:
PERSEDIAAN / ASET MURABAHAH
Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
10/01 Mobil kijang 140.000.000 15/01 Potongan harga 3.000.000
10/01 Biaya balik nama 5.000.000 30/01 Penurunan nilai 2.000.000
15/02 Penjualan 140.000.000
Saldo 00
145.000.000 145.000.000

BAB IV. Akuntansi Murabahah | 107


PIUTANG MURABAHAH
Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
15/02 Aminah 164.00.000 15/02 UM Aminah 20.000.000
Saldo 144.000.000
164.000.000 164.000.000

PENDAPATAN MARGIN MURABAHAH


Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
15/02 Aminah 24.000.000
Saldo 24.000.000
24.000.000 24.000.000

HUTANG UANG MUKA (Titipan Uang Muka Pembeli)


Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
15/02 Mobil kijang 20.000.000 01/02 Aminah 20.000.000

Saldo 0
20.000.000 20.000.000

NERACA
Per 15 Februari 2007
Aktiva Pasiva
Uraian Jumlah Uraian Jumlah
Piutang Murabahah 144.000.000 Hutang Uang Muka 0
Persediaan (Aset Murabahah) (140.000.000) Laba Rugi Berjalan
Pendapatan 24.000.000

Sesuai ketentuan dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional nomor 15, pendapatan yang dibagikan oleh
LKS kepada pemilik dana (investor) dalam pembagian hasil usaha adalah pendapatan yang nyata-nyata
diterima (cash basis). Oleh karena pengakuan pendapatan keuntungan murabahah sebesar Rp24.000.000,00
belum terjadi aliran kas masuk (belum nyata-nyata diterima) atau hanya dalam pengakuan saja, maka
pendapatan tersebut tidak dapat dibagikan kepada pemilik dana (investor) dalam pembagian hasil usaha.
Pendapatan tersebut hanya sebatas pencatatan untuk kepentingan laporan keuangan saja.

C. Penerimaan pembayaran angsuran dari pembeli


Dalam PSAK 102 tentang Akuntansi Murabahah, besarnya angsuran atas pembayaran harga barang
didasarkan pada kesepatan yang dilakukan antara LKS (Ridho Gusti) sebagai penjual dengan nasabah
(Aminah) sebagai pembeli. Secara umum besarnya pembayaran angsuran tersebut dipengaruhi oleh faktor
kemampuan pembeli dalam melakukan pembayaran.
Contoh : 4-16
Tanggal 15 maret 2007 diterima pembayaran angsuran dari Aminah atas harga barang sebesar
Rp60.000.000,00 .
Atas penerimaan angsuran tersebut LKS Ridho Gusti melakukan jurnal sebagai berikut:
Dr. Kas / Rekening Aminah Rp60.000.000,00
Cr. Piutang Murabahah Rp60.000.000,00
Dari jurnal tersebut di atas LKS tidak ada pengakuan keuntungan (pendapatan) dari transaksi
murabahah karena pengakuan pendapatan telah dilakukan pada saat jatuh tempo angsuran (contoh 4-15).
Namun dalam angsuran terkandung unsur keuntungan yang benar-benar diterima (terjadi aliran kas masuk
atas pendapatan atau keuntungan). Oleh karena itu untuk kepentingan perhitungan pembagian hasil usaha

108 |Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


yang dilakukan oleh Lembaga Keuangan Syariah sebagai pengelola dana (mudharib) dengan investor
sebagai pemilik modal (shaibul maal) porsi keuntungan dari angsuran yang diterima harus diperhitungkan
dalam pembagian hasil usaha (profit distribution). Inilah perbedaan mendasar dengan Lembaga Keuangan
non Syariah yang tidak pernah memperhitungkan hal ini. Besarnya porsi keuntungan yang diperhitungan
dalam pembagian hasil usaha (walau tidak ada pengakuan keuntungan dalam laporan laba rugi) adalah
sebagai berikut:
24.000.000
Keuntungan : ---------------- X Rp60.000.000 = Rp10.000.000
144.000.000
Jadi keuntungan Rp10.000.000,00 tersebut di atas hanya untuk kepentingan perhitungan pembagian
hasil usaha, tidak untuk laporan laga rugi, karena pengakuan pendapatan untuk kepentingan laporan laba
rugi telah dilakukan pada saat penyerahan barang.
Dari hal tersebut di atas dapat dilihat bahwa:
1. Dalam akuntansi syariah harus dapat dibedakan dengan jelas dan transparan pendapatan untuk
kepentingan Laporan Keuangan (Laporan Laba Rugi) dan pendapatan untuk kepentingan
pembagian hasil usaha.
2. Diperlukan ada kejujuran, transparansi dan keakuratan data oleh Lembaga Keuangan Syariah,
khususnya yang terkait dengan data-data untuk keperluan pembagian hasil usaha.
Untuk mendukung keperluan tersebut di atas dalam PSAK 101 tentang Penyajian Laporan Keuangan
Syariah, dalam lampirannya yang merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan PSAK diberikan
contoh “Laporan Rekonsiliasi Pendapatan dan Bagi Hasil”. Atas jurnal transaksi tersebut di atas, posisi
akun-akun yang terkait dan neraca pada LKS Ridho Gusti adalah sebagai berikut:

PIUTANG MURABAHAH
Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
15/02 Aminah 164.00.000 15/02 UM Aminah 20.000.000
15/03 Angsuran ke-1 60.000.000
Saldo 84.000.000
164.000.000 164.000.000

NERACA
Per 15 Maret 2007
Aktiva Pasiva
Uraian Jumlah Uraian Jumlah
Kas 60.000.000 Hutang Uang Muka 0
Persediaan (Aset Murabahah) (140.000.000) Laba Rugi Berjalan
Piutang Murabahah 84.000.000 (pendapatan) 24.000.000

D. Angsuran jatuh tempo belum membayar (angsuran tertunggak)


Akuntansi syariah mempergunakan asumsi dasar akrual, dengan kata lain Lembaga Keuangan
Syariah dapat mengakui pendapatan dari angsuran yang telah jatuh tempo, walaupun nasabah belum
melakukan pembayaran angsuran. Hal ini dimaksudkan memberikan informasi dari Laporan Keuangan
dari Lembaga Keuangan Syariah tersebut secara lengkap.
Contoh: 4-17
Angsuran kedua sebesar Rp48.000.000,00 sampai dengan tanggal 15 Juni 2007 (jatuh tempo
angsuran) belum melakukan pembayaran oleh Aminah.
Atas angsuran yang telah jatuh tempo dan pembeli belum melakukan pembayaran. LKS Ridho
Gusti melakukan jurnal sebagai berikut:

BAB IV. Akuntansi Murabahah | 109


Dr. Piutang Murabahah jatuh Tempo Rp48.000.000,00
Cr. Piutang Murabahah Rp48.000.000,00
Dalam metode pengakuan pendapatan saat penyerahan barang ini, pada saat angsuran menunggak
tidak ada pengakuan pendapatan, karena pengakuan pendapatan telah dilakukan pada saat penyerahan
barang. Atas jurnal transaksi tersebut di atas, posisi akun-akun yang terkait dan neraca pada LKS Ridho
Gusti adalah sebagai berikut:
PIUTANG MURABAHAH
Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
15/02 Aminah 164.00.000 15/02 UM Aminah 20.000.000
15/03 Angsuran ke-1 60.000.000
15/06 Angsuran ke-2 JT 48.000.000
Saldo 36.000.000
164.000.000 164.000.000

PIUTANG MURABAHAH JATUH TEMPO


Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
15/06 Angs ke-2 Jt 48.00.000
Saldo 48.000.000
48.000.000 48.000.000

NERACA
Per 15 Juni 2007
Aktiva Pasiva
Uraian Jumlah Uraian Jumlah
Kas 60.000.000 Hutang Uang Muka 0
Persediaan (Aset Murabahah) (140.000.000) Laba Rugi Berjalan
Piutang Murabahah 36.000.000 (pendapatan) 24.000.000
Piutang Murabahah Jatuh Tempo 48.000.000

Jika atas angsuran yang tertunggak tersebut nasabah hanya membayar sebagian dari jumlah angsuran,
maka hutang nasabah berkurang sebesar angsuran yang dibayar dan tidak mempengaruhi pengakuan
keuntungan murabahah.
Contoh : 4-18
Tanggal 25 Juni 2007 Aminah melakukan pembayaran sebagian angsuran murabahah yang telah
jatuh tempo tanggal 15 Juni 2007 sebesar Rp30.000.000,00 (angsuran kedua sebesar
Rp48.000.000,00).
Atas pembayaran sebagian angsuran tersebut, LKS Ridho Gusti melakukan jurnal sebagai berikut:
Dr. Kas / Rekening Aminah Rp30.000.000,00
Cr. Piutang Murabahah Jatuh Tempo Rp30.000.000,00
Dalam jurnal tersebut tidak dilakukan jurnal untuk pengakuan pendapatan atas keuntungan
murabahah, karena pengakuan pendapatan atas keuntungan murabahah telah dilakukan pada saat
penyerahan barang. Walaupun tidak ada pengakuan pendapatan yang dilakukan oleh Lembaga Keuangan
Syariah, namun dalam dari angsuran tersebut terkandung aliran kas atas keuntungan, maka untuk porsi
keuntungan dari angsuran tersebut harus diperhitungan dalam pembagian hasil usaha yang dilakukan oleh
Lembaga Keuangan Syariah. Porsi keuntungan yang dipergunakan sebagai dasar perhitungan pembagian
hasil usaha (bukan untuk kepentingan laporan laba rugi) adalah sebagai berikut:
24.000.000
Keuntungan = ---------------- X 30.000.000 = Rp5.000.000
144.000.000

110 |Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


Jadi perhitungan keuntungan Rp5.000.000,00 tersebut di atas hanya untuk keperluan pembagian hasil
usaha, bukan untuk kepentingan Laporan keuangan (laporan laba rugi) karena pengakuan pendapatan
untuk kepentingan Laporan Laba Rugi telah dilakukan pada awal saat penyerahan barang. Atas jurnal
transaksi tersebut di atas, posisi akun-akun yang terkait dan neraca pada LKS Ridho Gusti adalah sebagai
berikut:
PIUTANG MURABAHAH JATUH TEMPO
Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
15/06 Angs ke-2 jatuh tempo 48.00.000 25/06 Pembayaran 30.000.000
Saldo 18.000.000
48.000.000 48.000.000

NERACA
Per 25 Juni 2007
Aktiva Pasiva
Uraian Jumlah Uraian Jumlah
Kas 90.000.000 Hutang Uang Muka 0
Persediaan (Aset Murabahah) (140.000.000) Laba Rugi Berjalan
Piutang Murabahah 36.000.000 (pendapatan) 24.000.000
Piutang Murabahah Jatuh Tempo 18.000.000

E. Penerimaan pembayaran angsuran yang tertunggak


Pembayaran angsuran murabahah yang tertunggak sebesar jumlah angsuran, tidak membedakan
pokok dan margin. Jika LKS mengakui keuntungan murabahahan seluruhnya saat penyerahan barang,
maka angsuran yang tertunggak dipindahkan dari piutang murabahah ke Piutang Murabahah Jatuh Tempo
sebesar angsuran. Dalam angsuran tertunggak ini tidak ada pengakuan keuntungan murabahah (tidak ada
pengakuan pendapatan murabahah akrual), karena pengakuan keuntungan telah dilakukan seluruhnya pada
saat penyerahan barang (lihat contoh 4-18). Oleh karena itu jika diterima pembayaran angsuran hanya
mengakui berkurangnya hutang nasabah (piutang murabahah jatuh tempo).
Contoh : 4-19
Tanggal 30 Juni 2007 diterima dari Aminah pembayaran sisa angsuran yang tertunggak sebesar
Rp18.000.000,00 (angsuran tertunggak Rp48.000.000,00 - lihat contoh 4-17, dibayar sebagian
sebesar Rp20.000.000,00 – lihat contoh 4-18).
Atas pembayaran sisa angsuran tersebut, LKS Ridho Gusti melakukan jurnal sebagai berikut:
Dr. Kas / Rekening Aminah Rp18.000.000,00
Cr. Piutang Murabahah Jatuh Tempo Rp18.000.000,00
Dalam jurnal tersebut tidak dilakukan jurnal untuk pengakuan pendapatan atas keuntungan
murabahah, karena pengakuan pendapatan atas keuntungan murabahah telah dilakukan pada saat
penyerahan barang. Walaupun tidak ada pengakuan pendapatan yang dilakukan oleh Lembaga Keuangan
Syariah, porsi pendapatan dari angsuran tersebut harus diperhitungan dalam pembagian hasil usaha yang
dilakukan oleh Lembaga Keuangan Syariah. Porsi keuntungan yang dipergunakan sebagai dasar
perhitungan pembagian hasil usaha (bukan untuk kepentingan laporan laba rugi) adalah sebagai berikut:
24.000.000
Keuntungan = ---------------- X 18.000.000 = Rp3.000.000
144.000.000
Jadi perhitungan keuntungan Rp3.000.000,00 tersebut di atas hanya untuk keperluan pembagian
hasil usaha, bukan untuk kepentingan Laporan keuangan (laporan laba rugi) karena pengakuan pendapatan
untuk kepentingan Laporan Laba Rugi telah dilakukan pada awal saat penyerahan barang. Atas jurnal
transaksi tersebut di atas, posisi akun-akun yang terkait dan neraca pada LKS Ridho Gusti adalah sebagai
berikut:

BAB IV. Akuntansi Murabahah | 111


PIUTANG MURABAHAH JATUH TEMPO
Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
15/06 Angsuran ke-2 jatuh tempo 48.00.000 25/06 Pembayaran 30.000.000
30/06 Pelunasan 18.000.000
Saldo 00
48.000.000 48.000.000

NERACA
Per 30 Juni 2007
Aktiva Pasiva
Uraian Jumlah Uraian Jumlah
Kas 108.000.000 Hutang Uang Muka 00
Persediaan (Aset Murabahah) (140.000.000) Laba Rugi Berjalan
Piutang Murabahah 36.000.000 (pendapatan) 24.000.000
Piutang Murabahah Jatuh Tempo 00

F. Pembayaran angsuran lebih kecil dari kewajiban


Dalam penerimaan pembayaran angsuran dapat terjadi lebih kecil dari jumlah angsuran yang
disepakati di awal. Bagi pembeli berapapun besarnya angsuran yang dibayar akan mengurangi hutangnya
kepada LKS sebagai penjual, tetapi bagi LKS sebagai penjual memiliki dampak terhadap penentuan berapa
besarnya porsi pendapatan keuntungan murabahah yang akan dipergunakan sebagai komponen
perhitungan pembagian hasil usaha. Sebagian pendapatan keuntungan murabahah yang nyata-nyata
diterima (cash basis) merupakan hak pemilik modal (shahibul maal) berupa bagi hasil
Contoh : 4-20
Tanggal 15 September 2007 Aminah sebagai pembeli melakukan pembayaran angsuran ketiga
sebesar Rp15.000.000 (jumlah kewajiban angusan pada tanggal tersebut sebesar Rp30.000.000,00).
Atas transaksi tersebut jurnal yang dilakukan oleh LKS Ridho Gusti sebagai penjual adalah sebagai
berikut :
Dr. Kas/rekening pembeli Rp15.000.000,00
Cr. Piutang Murabahah Rp15.000.000,00
Porsi keuntungan yang dipergunakan sebagai dasar perhitungan pembagian hasil usaha (bukan
untuk kepentingan laporan laba rugi) adalah sebagai berikut:
24.000.000
Keuntungan = ---------------- X 15.000.000 = Rp2.500.000
144.000.000
Atas jurnal transaksi tersebut di atas, posisi akun-akun yang terkait dan neraca pada LKS Ridho Gusti
adalah sebagai berikut:
PIUTANG MURABAHAH
Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
15/02 Aminah 164.00.000 15/02 UM Aminah 20.000.000
15/03 Angsuran ke-1 60.000.000
15/06 Angs ke-2 JT 48.000.000
15/09 Pembayaran sebagian 15.000.000
Saldo 21.000.000
164.000.000 164.000.000

112 |Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


NERACA
Per 30 Juni 2007
Aktiva Pasiva
Uraian Jumlah Uraian Jumlah
Kas 123.000.000 Hutang Uang Muka 00
Persediaan (Aset Murabahah) (140.000.000) Laba Rugi Berjalan
Piutang Murabahah 21.000.000 (pendapatan) 24.000.000
Piutang Murabahah Jatuh Tempo 00

G Potongan Angsuran Murabahah


Dalam pelaksanaan murabahah, LKS sebagai penjual dapat memberikan potongan kewajiban pembeli
berupa:
1. Potongan angsuran murabahah.
2. Potongan pelunasan piutang murabahah sebelum jatuh tempo.
Potongan kewajiban pembeli atas pembayaran angsuran, LKS sebagai penjual harus memperhatikan
dasar pemberian potongan angsuran yaitu:
1. Merupakan akibat prestasi yang dilakukan oleh pembeli dalam melakukan pembayaran
angsuran seperti misalnya ketepatan waktu membayar, pembayaran angsuran lebih banyak dan
lebih dahulu dari yang ditetapkan. Potongan angsuran akibat hal ini diakui sebagai pengurang
pendapatan keuntungan (margin) murabahah sehingga akan membawa dampak
berkurangannya pendapatan yang akan dibagikan kepada pemodal (shahibul maal).
2. Merupakan akibat dari ketidak mampuan pembeli dalam melakukan pembayaran angsuran.
Potongan angsuran akibat hal ini diakui sebagai beban operasi lain.
Fatwa Dewan Syariah Nasional nomor 46/DSN-MUI/II/2005 Tentang Potongan Tagihan
Murabahah (Al-Khashm FI AL-Murabahah) yang mengatur potongan kewajiban sebagai berikut:
1. LKS boleh memberikan potongan dari total kewajiban pembayaran kepada nasabah dalam
transaksi (akad) murabahah yang telah melakukan kewajiban pembayaran cicilannya dengan
tepat waktu dan/atau nasabah yang mengalami penurunan kemampuan pembayaran
2. Besar potongan sebagaimana dimaksud di atas diserahkan pada kebijakan LKS
3. Pemberian potongan tidak boleh diperjanjikan dalam akad.
Sedangkan dalam PASK 102 tentang Akuntansi Murabahah, paragraf 27 diatur ketentuan potongan
angsuran murabahah sebagai berikut:
28 Potongan angsuran murabahah diakui sebagai berikut:
(a) jika disebabkan oleh pembeli yang membayar secara tepat waktu diakui sebagai pengurang
keuntungan murabahah;
(b) jika disebabkan oleh penurunan kemampuan pembayaran pembeli diakui sebagai beban.

Contoh : 4-21
Tanggal 30 September 2007 Aminah melakukan pembayaran sisa angsuran ketiga sebesar
Rp15.000.000 dan atas pembayaran angsuran tersebut LKS Ridho Gusti memberikan potongan
angsuran kepada Aminah sebesar Rp1.000.000,00.
Potongan angsuran tersebut dikategorikan dalam dua kategori. Hal ini memerlukan kejujuran,
transparansi dan pemikiran yang bijak dari Lembaga Keuangan Syariah, karena akibat penentuan kategori
ini akan membawa dampak terhadap pendapatan atau beban, yang akhirnya membawa dampak pada
besarnya pembagian keuangan yang akan dilakukan oleh Lembaga Keuangan Syariah.

BAB IV. Akuntansi Murabahah | 113


1. Potongan angsuran akibat dari ketepatan waktu atau prestasi pembeli
Sesuai ketentuan dalam PSAK 102 tentang Akuntansi Murabahah (paragraf 28) di atas
potongan angsuran sebagai akibat ketepatan waktu atau prestasi dari pembeli murabahah
dalam melakukan pembayaran angsuran murabahah, diakui sebagai pengurang dari
keuntungan murabahah. Prestasi nasabah dimaksud antara lain pembayaran angsuran
dilakukan sebelum tanggal jatuh tempo angsuran, membayar beberapa angsuran tanpa ada
tunggakan dan sebagainya. Potongan angsuran yang diberikan oleh Lembaga Keuangan
Syariah kepada nasabah sebagai pembeli atas prestasi yang dilakukan diakui sebagai
pengurang keuntungan murabahah, sehingga Lembaga Keuangan Syariah melakukan jurnal
sebagai berikut:
(a) Dr. Kas Rp15.000.000,00
Cr. Piutang Murabahah Rp15.000.000,00
(b) Dr. Potongan Angsuran Murabahah Prestasi Rp1.000.000,00
Cr. Kas/Rekening pembeli (Aminah) Rp1.000.000,00
Atas jurnal transaksi tersebut di atas, posisi akun-akun yang terkait dan neraca pada LKS Ridho
Gusti adalah sebagai berikut:
PIUTANG MURABAHAH
Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
15/02 Aminah 164.00.000 15/02 UM Aminah 20.000.000
15/03 Angsuran ke-1 60.000.000
15/06 Angsuran ke-2 48.000.000
15/09 Pembyaran sebagian 15.000.000
30/09 Pelunasan angsuran ke-3 15.000.000
Saldo 6.000.000
164.000.000 164.000.000

PENDAPATAN MARGIN MURABAHAH


Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
15/02 Aminah 24.000.000
30/09 Potongan angsuran (1.000.000)
Saldo 23.000.000
23.000.000 23.000.000

POTONGAN ANGSURAN MURABAHAH PRESTASI


Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
30/09 Potongan angsuran 1.000.000
Saldo 1.000.000
1.000.000 1.000.000

NERACA
Per 30 September 2007
Aktiva Pasiva
Uraian Jumlah Uraian Jumlah
Kas 138.000.000 Hutang Uang Muka 00
Persediaan (Aset Murabahah) (140.000.000) Laba Rugi Berjalan
Piutang Murabahah 6.000.000 Pendapatan 23.000.000
Piutang Murabahah Jatuh Tempo 00 (24.000.000–1.000.000)

114 |Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


2. Potongan angsuran akibat penurunan kemampuan membayar pembeli.
Yang dimaksud penurunan kemampuan membayar pembeli antara lain potongan diberikan
untuk penyesuaian bunga pasar konvensional atau inisiatif lain dari Lembaga Keuangan Syariah
untuk nasabahnya. Sesuai ketantuan dalam PSAK 102 tentang Akuntansi Murabahah (paragraf 28)
di atas potongan angsuran sebagai akibat penurunan kemampuan nasabah dalam melakukan
pembayaran, diakui sebagai beban Lembaga Keuangan Syariah sendiri (tidak diperkenankan sebagai
pengurang keuntungan murabahah yang mengakibatnya berkurangnya pendapatan yang akan
dibagikan ke pemodal). Oleh karena itu atas potongan angsuran murabahah tersebut, Lembaga
Keuangan Syariah melakukan jurnal sebagai berikut :
(1) Dr. Kas Rp15.000.000,00
Cr. Piutang Murabahah Rp15.000.000,00
(2) Dr. Beban Potongan angsuran Murabahah Rp1.000.000,00
Cr. Kas/Rekening pembeli (Aminah) Rp1.000.000,00
Atas jurnal transaksi tersebut di atas, posisi akun-akun yang terkait dan neraca pada LKS Ridho
Gusti adalah sebagai berikut:
PIUTANG MURABAHAH
Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
15/02 Aminah 164.00.000 15/02 UM Aminah 20.000.000
15/03 Angsuran ke-1 60.000.000
15/06 Angsuran ke-2 48.000.000
15/09 Pembayaran sebagian 15.000.000
30/09 Pelunasan angsuran ke-3 15.000.000
Saldo 6.000.000
164.000.000 164.000.000

BEBAN POTONGAN ANGSURAN MURABAHAH


Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
30/09 Beban Angs 1.000.000
Saldo 1.000.000
1.000.000 1.000.000

NERACA
Per 30 September 2007
Aktiva pasiva
Uraian Jumlah Uraian Jumlah
Kas 138.000.000 Hutang Uang Muka 00
Persediaan (Aset Murabahah) (140.000.000) Laba Rugi Berjalan
Piutang Murabahah 6.000.000 Pendapatan 24.000.000
Piutang Mrbh Jatuh Tempo 00 Beban ops lain (1.000.000)

Porsi keuntungan yang dipergunakan sebagai dasar perhitungan pembagian hasil usaha (bukan
untuk kepentingan laporan laba rugi) adalah sebagai berikut:
24.000.000
Keuntungan = ---------------- X 15.000.000 = Rp2.500.000
144.000.000

BAB IV. Akuntansi Murabahah | 115


H. Potongan pelunasan piutang murabahah sebelum jatuh tempo
Dalam melakukan pembayaran angsuran dimungkinkan pembeli melakukan pelunasan sebelum
jatuh tempo angsurannya. Yang menjadi kewajiban bagi pembeli dalam melakukan pembayaran sebelum
jatuh tempo adalah sebesar sisa kewajibannya, tidak dikenal pembayaran hanya dilakukan atas porsi
pokoknya saja. Jika LKS sebagai penjual memberikan potongan atas pelunasan sebelum jatuh tempo,
besarnya potongan merupakan kebijakan LKS sebagai penjual dan tidak diperkenankan diperjanjikan.
Potongan pelunasan sebelum jatuh tempo akan mengurangi pendapatan keuntungan murabahah, sehingga
akan mengurangi juga pendapatan yang akan dibagikan kepada pemilik modal, dalam perhitungan
pembagian hasil usaha.
Dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional nomor 23/DSN-MUI/III/2002 tentang Potongan
Pelunasan Dalam Murabahah diatur sebagai berikut :
1. Jika nasabah dalam transaksi murabahah melakukan pelunasan pembayaran tepat waktu atau
lebih cepat dari waktu yang telah disepakati, LKS boleh memberikan potongan dari kewajiban
pembayaran tersebut, dengan syarat tidak diperjanjikan dalam akad.
2. Besar potongan sebagaimana dimaksud di atas diserahkan pada kebijakan dan pertimbangan
LKS.
Sedangkan dalam PSAK 102 tentang Akuntansi Murabahah, (paragraf 26 dan 27) diatur sebagai berikut:
26. Potongan pelunasan piutang murabahah yang diberikan kepada pembeli yang melunasi tepat waktu atau
lebih cepat dari waktu yang disepakati diakui sebagai pengurang keuntungan murabahah.
27 Pemberian potongan pelunasan piutang murabahah dapat dilakukan dengan menggunakan
salah satu metode berikut:
(a) diberikan pada saat pelunasan, yaitu penjual mengurangi piutang murabahah dan
keuntungan murabahah; atau
(b) diberikan setelah pelunasan, yaitu penjual menerima pelunasan piutang dari pembeli dan
kemudian membayarkan potongan pelunasannya kepada pembeli.
Contoh : 4- 22
Tanggal 30 Oktober 2007 (sebelum jatuh tempo 15 Desember 2007) Aminah melakukan pelunasan
seluruh sisa hutangnya pada LKS Ridho Gusti sebesar Rp6.000.000,00 Atas pelunasan tersebut
LKS Ridho Gusti memberikan potongan pelunasan sebesar Rp500.000,00.
Atas transaksi tersebut jurnal yang dilakukan oleh LKS sebagai penjual adalah sebagai berikut:
(1) Dr. Kas/Rekening Aminah Rp6.000.000,00
Cr. Piutang Murabahah Rp6.000.000,00
(2) Dr. Beban potongan Pelunasan Murabahah Rp500.000,00
Cr. Kas / Rekening Aminah Rp500.000,00
Sesuai ketentuan dalam PSAK 102 tentang Akuntansi Murabahah (paragraf 26) di atas Beban
Potongan Pelunasan Murabahah merupakan pengurang keuntungan murabahah (bukan sebagai beban
operasional Lembaga Keuangan Syariah), sehingga memiliki dampak berkurangnya pendapatan yang akan
dibagikan kepada pimilik modal (investor) dalam perhitungan pembagian hasil usaha.
Porsi keuntungan yang dipergunakan sebagai dasar perhitungan pembagian hasil usaha (bukan
untuk kepentingan laporan laba rugi) adalah sebagai berikut:
24.000.000
Keuntungan = ---------------- X 6.000.000,00 = Rp1.000.000,00
144.000.000
Atas jurnal transaksi tersebut di atas, posisi akun-akun yang terkait dan neraca pada LKS Ridho
Gusti adalah sebagai berikut:

116 |Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


PIUTANG MURABAHAH
Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
15/02 Aminah 164.000.000 15/02 UM Aminah 20.000.000
15/03 Angsuran ke-1 60.000.000
15/06 Angsuran ke-2 48.000.000
15/09 Pembayaran sebagian 20.000.000
30/09 Pelunasan angsuran ke-3 10.000.000
30/10 Pelunasan piutang 6.000.000
Saldo 00
164.000.000 164.000.000

PENDAPATAN MARGIN MURABAHAH


Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
15/02 Aminah 24.000.000
30/09 Potongan angsuran (1.000.000)
30/10 Potongan pelunasan (500.000)
Saldo 22.500.000
22.500.000 22.500.000

NERACA
Per 30 Oktober 2007
Aktiva Pasiva
Uraian Jumlah Uraian Jumlah
Kas 144.000.000 Hutang Uang Muka 00
Persediaan (Aset Murabahah) (140.000.000) Laba Rugi Berjalan
Piutang Murabahah 00 Pendapatan 22.500.000
Piutang Mrbh Jatuh Tempo 00

4.3.6 Penjualan Dengan Pengakuan Keuntungan Proporsional


Metode lain pengakuan pendapatan keuntungan murabahah yang diatur dalam PSAK 102 tentang
Akuntansi Murabahah adalah dilakukan secara proposional. Yang dimaksud proporsional disini adalah
proporsional atau selalu sebanding terhadap pokok dan margin, bukan proporsional waktu sebagaimana
yang selama ini dipahami. Besarnya angsuran ditentukan berdasarkan kesepakatan antara penjual dan
pembeli, namun perlakukan pada LKS sebagai penjual setiap angsuran terkandung unsur pokok dan unsur
keuntungan yang proporsional dengan perbandingan pokok dan keuntungan yang telah disepakati dalam
akad murabahah.
PSAK 102 tentang Murabahah, paragraf 23 huruf b butir (ii), paragraf 24 dan 25 menjelaskan pengakuan
dan pengukuran pendapatan secara proporsional sebagai berikut:
23 Keuntungan murabahah diakui:
(b) selama periode akad sesuai dengan tingkat risiko dan upaya untuk merealisasikan
keuntungan tersebut untuk transaksi tangguh lebih dari satu tahun. Metode-metode berikut
ini digunakan, dan dipilih yang paling sesuai dengan karakteristik risiko dan upaya
transaksi murabahah-nya:
(ii) Keuntungan diakui proporsional dengan besaran kas yang berhasil ditagih dari
piutang murabahah. Metode ini terapan untuk transaksi murabahah tangguh
dimana risiko piutang tidak tertagih relatif besar dan/atau beban untuk mengelola
dan menagih piutang tersebut relatif besar juga.
24 Pengakuan keuntungan, dalam paragraf 23 (b) (ii), dilakukan secara proporsional atas jumlah
piutang yang jatuh tempo dalam setiap periode dengan mengalikan persentase keuntungan
terhadap jumlah piutang yang jatuh tempo pada periode yang bersangkutan. Persentase

BAB IV. Akuntansi Murabahah | 117


keuntungan dihitung dengan perbandingan antara margin dan biaya perolehan aset murabahah.
25 Berikut ini contoh perhitungan keuntungan secara proporsional untuk suatu transaksi
murabahah dengan biaya perolehan aset (pokok) Rp800,00 dan keuntungan Rp200,00; serta
pembayaran dilakukan secara angsuran selama 3 tahun; dimana jumlah angsuran, pokok dan
keuntungan yang diakui setiap tahun adalah sebagai berikut:
Thn Angsuran (Rp) Pokok (Rp) Keuntungan (Rp)
1 500,00 400,00 100,00
2 300,00 240,00 60,00
3 200,00 160,00 40,00
Pengakuan pendapatan ini memiliki dampak pada akun dan jurnal yang akan dilakukan. dengan
adanya pengakuan pendapatan secara proporsional, maka keuntungan yang telah disepakati sebelum diakui
sebagai pendapatan keuntungan murabahah dicatat dalam akun “Margin Murabahah Tangguhan”. Dan ini
akan membawa pengaruh pada saat terjadi pembayaran angsuran dan dilakukan pengakuan pendapatan
keuntungan murabahah, angsuran yang telah jatuh tempo tetapi nasabah belum melakukan pembayaran,
dilakukan pengakuan pendapatan keuntungan murabahah akrual. Juga akan membawa dampak jika
Lembaga Keuangan Syariah memberikan potongan pelunasan yang dilakukan nasabah sebelum jatuh
tempo pelunasan dan sebagainya.
Untuk memberikan gambaran yang lengkap perlakukan akuntansi atas penjualan barang dengan
pembayaran tangguh dan pengakuan pendapatan keuntungan murabahah dilakukan secara proporsional
dapat diberikan ilustrasi contoh sebagai berikut:
Pada tanggal 16 Februari 2007 dilakukan dan disepakati transaksi jual beli antara LKS Ridho Gusti
dengan Aminah, dengan harga jual sebesar Rp164.000.000,00 dengan keuntungan yang disepakati
sebesar Rp24.000.000,00. Sesuai dengan catatan yang ada pada LKS Ridho Gusti nilai persediaan
(harga perolehan) mobil kijang yang dipesanan oleh Aminah sebesar Rp140.000.000,00(lihat contoh
sebelumnya). Atas jual beli tersebut Aminah telah menyerahkan uang muka sebesar
Rp20.000.000,00
Aminah sepakat pembayaran harga barang dilakukan secara tangguh dalam jangka waktu 14 bulan,
yaitu sampai dengan 15 April 2008 dengan pembayaran angsuran sebagai berikut:
No Tanggal Jumlah (rp)
1 15 maret 2007 60.000.000
2 15 Juli 2007 48.000.000
3 15 Nopember 2007 30.000.000
4 15 April 2008 6.000.000
Dalam adminitrasi LKS Ridho Gusti sebagai penjual, pembayaran angsuran tersebut terdiri dari
kompenen sebagai berikut:
Tanggal Angsuran Porsi Pokok Porsi Keuntungan Total Angsuran
15 Maret 2007 50.000.000 10.000.000 60.000.000
15 Juli 2007 40.000.000 8.000.000 48.000.000
15 Nop 2007 25.000.000 5.000.000 30.000.000
15 April 2008 5.000.000 1.000.000 6.000.000
Total 120.000.000 24.000.000 144.000.000
Supaya dapat membandingkan dengan perlakukan jurnal dari pengakuan saat penyerahan barang,
maka dalam transaksi ini dilakukan tahapan-tahapan jurnal akuntansi yang sama terkait dengan (1)
penerimaan uang muka dari pembeli, (2) penyerahan barang kepada pembeli, (3) penerimaan pembayaran
angsuran, (4) angsuran yang telah jatuh tempo belum dibayar oleh pembeli, (5) penerimaan pembayaran
angsuran yang tertunggak, (6) penerimaan pembayaran lebih kecil dari kewajiban, (7) potongan kewajiban
pembeli baik potongan angsuran maupun potongan pelunasan piutang sebelum jatuh tempo.

118 |Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


A. Penerimaan uang muka dari pembeli
Sebagaimana telah dijelaskan dimuka, jika nasabah memberikan uang muka sebagai tanda keseriusan
untuk membeli barang, maka uang muka diperlakukan sebagai berikut:
1. Uang muka yang diterima diakui sebagai ”Hutang Uang Muka” sebesar uang muka yang diterima.
2. Jika akad dilaksanakan uang muka sebagai pengurang ”Piutang Murabahah” (tidak
diperkenankan sebagai pembayaran angsuran).
Contoh : 4-23
Tanggal 01 Februari 2007 diterima uang muka sebesar Rp20.000.000,00 dari Aminah sebaga tanda
keseriusan pembelian barang yang dilakukan dari LKS Ridho Gusti
Atas penerimaan pembayaran uang muka dari Aminah. LKS Ridho Gusti melakukan jurnal sebagai
berikut:
Dr. Kas/Rekening Aminah Rp20.000.000,00
Cr. Hutang Uang Muka Murabahah Rp20.000.000,00
Atas jurnal dari transaksi tersebut akun dan penyajian neraca pada LKS Ridho Gusti adalah sebagai
berikut:

HUTANG UANG MUKA (Titipan Uang Muka Pembeli)


Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
01/02 Aminah 20.000.000
Saldo 20.000.000
20.000.000 20.000.000

NERACA
Per 01 Februari 2007
Aktiva Pasiva
Uraian Jumlah Uraian Jumlah

Hutang Uang Muka 20.000.000

B. Penyerahan barang kepada pembeli


Dalam transaksi murabahah, yang dilakukan oleh LKS sebagai penjual adalah menyerahkan barang
bukan menyerahkan uang, oleh karena itu pengadaan barang dilakukan sendiri oleh LKS sebagai penjual.
Untuk murabahah dengan pengakuan pendapatan keuntungan secara proporsional, akun-akun yang
berkaitan barang adalah:
(1) Persediaan sebesar harga perolehan barang,
(2) Margin Murabahah Tangguhan sebesar keuntungan murabahah yang disepakati yang ditangguhkan
penerimaannya. Akun Margin Murabahah Tangguhan disajikan sebagai pengurang Piutang
Murabahah.
(3) Piutang Murabahah sebesar harga jual barang yang disepakati yaitu harga perolehan ditambah
dengan keuntungan yang disepakati.
Contoh : 4-24
Tanggal 15 februari 2007 dilakukan akad Murabahah dan penyerahan barang oleh LKS Ridho Gusti
kepada Aminah dengan data sebagai berikut:
Harga perolehan barang Rp140.000.000,00
Keuntungan disepakati Rp 24.000.000,00
-------------------------
Harga jual disepakati Rp164.000.000,00
Atas transaksi murabahah dan penyerahan mobil antik kepada Tuan Abdullah, Bank Syariah
Amanah Ummat melakukan jurnal :

BAB IV. Akuntansi Murabahah | 119


Dr. Piutang Murabahah Rp164.000.000,00
Cr. Persediaan / Aset Murabahah Rp140.000.000,00
Cr. Margin Murabahah Tangguhan Rp 24.000.000,00
Atas uang muka yang diserahkan Aminah kepada LKS Ridho Gusti sebesar Rp20.000.000,00
dilakukan jurnal sebagai berikut:
Dr. Hutang Uang Muka Rp20.000.000,00
Cr. Piutang Murabahah Rp20.000.000,00
Atas transaksi jual beli tersebut tampak pada perkiraan “Piutang Murabahah” dan perkiraan
“Margin Murbahah Tangguhan” serta posisi neraca LKS Ridho Gusti adalah:

PERSEDIAAN / ASET MURABAHAH


Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
10/01 Mobil kijang 140.000.000 15/01 Potongan harga 3.000.000
10/01 Biaya balik nama 5.000.000 30/01 Penurunan nilai 2.000.000
15/02 Penjualan 140.000.000
Saldo 00
145.000.000 145.000.000

PIUTANG MURABAHAH
Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
15/02 Aminah 164.000.000 15/02 UM Aminah 20.000.000
Saldo 144.000.000
164.000.000 164.000.000

MARGIN MURABAHAH TANGGUHAN


Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
15/02 Aminah 24.000.000
Saldo 24.000.000
24.000.000 24.000.000

HUTANG UANG MUKA (Titipan Uang Muka Pembeli)


Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
15/02 Mobil kijang 20.000.000 01/02 Aminah 20.000.000

Saldo 0
20.000.000 20.000.000

NERACA
Per 15 Februari 2007
Aktiva Pasiva
Uraian Jumlah Uraian Jumlah
Piutang Murabahah 144.000.000 Hutang Uang Muka 0
Margin Murabahah Tangguhan (24.000.000) Laba Rugi Berjalan
Persediaan (Aset Murabahah) (140.000.000) (pendapatan) 00

120 |Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


C. Penerimaan Pembayaran Angsuran dari Pembeli
Cara pembayaran transaksi murabahah dapat dilakukan dengan cara tunai maupun dengan cara
angsuran, sesuai kesepakatan yang dilakukan antara Bank syariah dengan pembeli. Dalam pembahasan
berikut hanya diberikan berkaitan dengan cara pembayaran yang dilakukan secara angsuran saja.
Contoh : 4-25
Tanggal 15 maret 2007 diterima pembayaran angsuran dari Aminah atas harga barang sebesar
Rp60.000.000,00.
Dalam catatan LKS Ridho Gusti sebagai penjual, pembayaran angsuran tersebut terdiri dari kompenen
sebagai berikut:
Tanggal Angsuran Porsi Pokok Porsi Keuntungan Total Angsuran
15 Maret 2007 50.000.000 10.000.000 60.000.000
Atas pembayaran angsuran tersebut dilakukan jurnal sebagai berikut:
Dr. Kas/Rekening Aminah Rp60.000.000,00
Dr. Margin Murabahah Tangguhan Rp10.000.000,00
Cr. Pendapatan Margin Murabahah Rp10.000.000,00
Cr. Piutang Murabahah Rp60.000.000,00
Atas pembayaran angsuran tersebut tampak pada perkiraan “Piutang Murabahah” dan perkiraan
“Margin Murbahah Tangguhan” serta posisi neraca Bank syariah adalah:

PIUTANG MURABAHAH
Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
15/02 Aminah 164.000.000 15/02 UM Aminah 20.000.000
15/03 Pembayaran angsuran ke-1 60.000.000
Saldo 84.000.000
164.000.000 164.000.000

MARGIN MURABAHAH TANGGUHAN


Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
15/03 Pemby angs ke 1 10.000.000 15/02 Aminah 24.000.000
Saldo 14.000.000
24.000.000 24.000.000

PENDAPATAN MARGIN MURABAHAH


Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
05/03 Angsuran ke-1 Aminah 10.000.000

Saldo 10.000.000
10.000.000 10.000.000

NERACA
Per 15 Februari 2007
Aktiva pasiva
Uraian Jumlah Uraian Jumlah
Kas 60.000.000 Hutang Uang Muka 0
Piutang Murabahah 84.000.000 Laba Rugi Berjalan
Margin Murabahah Tangguhan (14.000.000) (pendapatan) 10.000.000
Persediaan (Aset Murabahah) (140.000.000)

BAB IV. Akuntansi Murabahah | 121


D. Angsuran jatuh tempo belum dibayar (Angsuran tertunggak)
Dalam metode pengakukan pendapatan keuntungan murabahah secara proporsional, saat angsuran
jatuh tempo dan belum dibayar maka LKS sebagai penjual harus melakukan jurnal yang terkait dengan
pengakuan pendapatan keuntungan murabahah yang telah menjadi haknya. (pengakuan pendapatan
keuntungan murabahah akrual), sebesar porsi keuntungan dalam angsuran tersebut. LKS sebagai penjual
melakukan pengakuan pendapatan keuntungan murabahah, namun atas pengakuan pendapatan
keuntungan murabahah tersebut LKS tidak diperkenankan untuk membagikan kepada pemilik modal
(shahibul maal) dalam perhitungan pembagian hasil usaha yang dilakukan oleh LKS, karena pendapatan
tersebut hanya dalam pengakuan saja bukan pendapatan yang nyata-nyata diterima.
Contoh: 4-26
Angsuran kedua sebesar Rp48.000.000,00 sampai dengan tanggal 15 Juli 2007 (jatuh tempo
angsuran) belum melakukan pembayaran oleh Aminah.
Dalam adminitrasi LKS Ridho Gusti sebagai penjual, pembayaran angsuran tersebut terdiri dari komponen
sebagai berikut:
Tanggal Angsuran Porsi Pokok Porsi Keuntungan Total Angsuran
15 Juli 2007 40.000.000 8.000.000 48.000.000
Atas tertunggaknya angsuran murabahah dari Aminah, LKS Ridho Gusti dapat pengakuan
pendapatan murabahah (biasanya dilakukan pada akhir bulan). Dalam catatan LKS Ridho Gusti angsuran
tersebut terdiri dari porsi pokok sebesar Rp40.000.000,00 dan porsi keuntungan sebesar Rp8.000.000,00.
Atas tertunggaknya angsuran Aminah tersebut LKS Ridho Gusti melakukan jurnal sebagai berikut:
(1) Dr. Piutang Murabahah Jatuh Tempo Rp48.000.000,00
Cr. Piutang Murabahah Rp48.000.000,00
(2) Dr. Margin Murabahah Tangguhan Rp8.000.000,00
Cr. Pendapatan Margin Murabahah Rp8.000.000,00
Apabila angsuran murabahah tertunggak, LKS dapat melakukan pengakuan pendapatan, karena
dalam akuntansi entitas syariah menpergunakan asumsi dasar akrual. Namum atas margin murabahah
tertunggak yang telah diakui sebagai pendapatan yaitu sebesar Rp8.000.000,00 tidak diperkenankan
dibagikan kepada pemilik dana mudharabah yang dihimpun (tidak diperkenankan sebagai unsur
pendapatan yang dibagikan dalam profit distribution), karena dalam Fatwa DSN nomor 15/DSN-
MUI/IX/2000 dinyatakan:
(2). Dilihat dari segi kemaslahatan (al-ashlah), dalam pencatatan sebaiknya digunakan sistem
Accrual Basis; akan tetapi, dalam distribusi hasil usaha hendaknya ditentukan atas dasar
penerimaan yang benar-benar terjadi (Cash Basis).
Dengan adanya transaksi tersebut saldo akun-akun dan posisi keuangan pada LKS Ridho Gusti
adalah sebagai berikut:
PIUTANG MURABAHAH
Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
15/02 Aminah 164.000.000 15/02 UM Aminah 20.000.000
15/03 Pembayaran angsuran ke-1 60.000.000
15/07 Angsuran ke-2 48.000.000
Saldo 36.000.000
164.000.000 164.000.000

PIUTANG MURABAHAH JATUH TEMPO


Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
15/07 Angsuran ke-2 jth tempo 48.000.000
Saldo 48.000.000
48.000.000 48.000.000

122 |Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


MARGIN MURABAHAH TANGGUHAN
Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
15/03 Pemby angs ke 1 10.000.000 15/02 Aminah 24.000.000
15/07 Angsuran ke 2 8.000.000
Saldo 6.000.000
24.000.000 24.000.000

PENDAPATAN MARGIN MURABAHAH


Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
15/03 Angsuran 1 Aminah 10.000.000
15/07 Angsuran ke 2 8.000.000
Saldo 18.000.000
18.000.000 18.000.000

NERACA
Per 15 Juli 2007
Aktiva Pasiva
Uraian Jumlah Uraian Jumlah
Kas 60.000.000 Hutang Uang Muka 0
Piutang Murabahah 36.000.000 Laba Rugi Berjalan
Margin Murabahah Tangguhan (6.000.000) (pendapatan) 18.000.000
Piutang Murabahah JT 48.000.000
Margin Murabahah Tangguhan JT
Persediaan (Aset Murabahah) (140.000.000)

E. Penerimaan pembayaran angsuran tertunggak


Jika LKS sebagai penjual menerima pembayaran angsuran murabahah yang tertunggak dan
sebelumnya telah dilakukan pengakuan pendapatan keuntungan murabahah (akrual), maka LKS sebagai
penjual harus memperhitungan besarnya porsi pendapatan keuntungan murabahah yang akan
dipergunakan dalam perhitungan pembagian hasil usaha yang dilakukan LKS, karena dengan diterima
pembayaran angsuran berarti telah terjadi aliran kas atas pendapatan keuntungan murabahah (walaupun
pada saat penerimaan pembayaran angsuran LKS tidak melakukan jurnal pengakuan pendapatan
keuntungan murabahah).
Contoh : 4-27
Tanggal 30 Juni 2007 diterima dari Aminah pembayaran sisa angsuran yang tertunggak sebesar
Rp48.000.000,00 (lihat contoh 4-26).
Jurnal atas penerimaan pembayaran angsuran tanggal 30 Juni 2007, LKS Ridho Gusti sebagai penjual
melakukan jurnal sebagai berikut:
Dr. Kas / Rekening Aminah Rp48.000.000,00
Cr. Piutang Murabahah Jatuh Tempo Rp48.000.000,00
Dalam jurnal penerimaan pembayaran angsuran tertunggak ini tidak ada pengakuan pendapatan,
karena LKS Ridho Gusti telah melakukan jurnal pengakuan pendapatan pada saat angsuran murabahah
jatuh tempo dan Aminah belum melakukan pembayara. Namun dalam pembayaran Piutang Murabahah
Jatuh Tempo sebesar Rp48.000.000,00 tersebut terkandung aliran kas masuk atas pendapatan (margin)
murabahah sebesar Rp8.000.000,00 (24.000.000/144.000.000 x 48.000.000 = 8.000.000). Oleh karena itu
walaupun LKS Ridho Gusti tidak melakukan jurnal pendapatan margin murabahah tetapi dalam
pembagian hasil usaha, pendapatan Rp8.000.000,00 tersebut harus dimasukkan dalam unsur pendapatan
yang dibagikan (sebagai pendapatan yang dibagikan dalam profit distribution).
Dengan adanya transaksi tersebut saldo akun-akun dan posisi keuangan pada LKS Ridho Gusti
adalah sebagai berikut:

BAB IV. Akuntansi Murabahah | 123


PIUTANG MURABAHAH JATUH TEMPO
Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
15/07 Angs ke 2 jth tempo 48.000.000 30/07 Pembayaran 48.000.000
Saldo 00
48.000.000 48.000.000

NERACA
Per 30 Juli 2007
Aktiva pasiva
Uraian Jumlah Uraian Jumlah
Kas 108.000.000 Hutang Uang Muka 00
Piutang Murabahah 36.000.000 Laba Rugi Berjalan
Margin Mrbh Tangguhan (6.000.000) (pendapatan) 18.000.000
Piutang Murabahah JT 00
Margin Mrbh Tangguhan JT (00)
Persediaan (Aset Murabahah) (140.000.000)

F. Pembayaran angsuran lebih kecil dari kewajiban


Dalam akuntansi murabahah apabila pembeli membayar lebih kecil dari kewajibannya harus dibagi
antara porsi pokok dan porsi marginnya, tidak dikenal pembayaran pokok dulu atau pembayaran margin
dulu. Dalam transaksi jual beli murabahah yang terhutang adalah harga jual barang, tidak dikenal adanya
hutang pokok atau hutang margin. Pembagian porsi pokok dan porsi margin hanya dilakukan oleh LKS,
karena pembagian pendapatan (margin) terkait dengan pembagian hasil usaha yang akan dilakukan dengan
pemilik dana yang dihimpun dengan prinsip mudharabah. Dalam pembayaran angsuran murabahah
terkandung hak para pemilik dana mudharabah yang dihimpun.

Contoh: 4-28
Tanggal 15 Nopember 2007 Aminah sebagai pembeli melakukan pembayaran angsuran ketiga
sebesar Rp15.000.000,00 Jumlah kewajiban angsuran pada tanggal tersebut sebesar
Rp30.000.000,00dan dalam administrasi LKS Ridho Gusti sebagai penjual, pembayaran angsuran
tersebut terdiri dari kompenen sebagai berikut:
Tanggal Angsuran Porsi Pokok Porsi Keuntungan Total Angsuran
15 Nopember 2007 25.000.000 5.000.000 30.000.000
Jurnal yang dilakukan oleh LKS Ridho Gusti adalah sebagai berikut:
(1) Dr. Kas / Rekening Aminah Rp15.000.000
Cr. Piutang Murabahah Rp15.000.000
(2) Dr. Margin Murabahah Tangguhan Rp2.500.000
Cr. Pendapatan Margin Murabahah Rp2.500.000,00
Perhitungan:
120.000.000
Porsi pokok : --------------- x 15.000.000 = 12.500.000
144.000.000

24.000.000
Porsi margin : -------------- x 15.000.000 = 2.500.000
144.000.000
Pada tanggal 15 Nopember 2007 (dapat juga dilakukan pada saat tutup buku akhir bulan) sisa
angsuran yang belum dibayar dilakukan pengakuan pendapatan, sehingga LKS Ridho Gusti melakukan
jurnal sebagai berikut:
(1) Dr. Piutang Murabahah Jatuh Tempo Rp15.000.000,00
Cr. Piutang Murabahah Rp15.000.000,00

124 |Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


(2) Dr. Pendapatan Margin Murabahah Rp2.500.000,00
Cr. Margin Murabahah Tangguhan Rp2.500.000,00
Perhitungan:
120.000.000
a. Porsi pokok : --------------- x (30.000.000 - 15.000.000)
144.000.000
= 12.500.000
24.000.000
b. Porsi margin : ---------------- x (30.000.000 - 15.000.000)
144.000.000
= 2.500.000
Oleh karena angsuran yang tersisa belum dibayar, sehingga belum terjadi aliran kas masuk, maka
pendapatan sebesar Rp2.500.000 (porsi pendapatan keuntungan murabahah dari sisa angsuran yang belum
dibayar) tidak diperkenankan untuk dibagikan kepada pemodal (tidak termasuk komponen perhitungan
pembagian hasil usaha). Dengan adanya transaksi tersebut saldo akun-akun dan posisi keuangan pada LKS
Ridho Gusti adalah sebagai berikut:
PIUTANG MURABAHAH
Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
15/02 Aminah 164.000.000 15/02 UM Aminah 20.000.000
15/03 Pemby angsuran ke-1 60.000.000
15/07 Angsuran ke-2 JT 48.000.000
15/11 Pembayaran tunai 15.000.000
15/11 Angsuran jatuh tempo 15.000.000
Saldo 6.000.000
164.000.000 164.000.000

PIUTANG MURABAHAH JATUH TEMPO


Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
15/07 Angs ke-2 jatuh tempo 48.000.000 30/07 Pembayaran 48.000.000
15/11 Sebagian angsuran JT 15.000.000 Saldo 15.000.000
63.000.000 63.000.000

MARGIN MURABAHAH TANGGUHAN


Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
15/03 Pembayaran angs ke 1 10.000.000 15/02 Aminah 24.000.000
15/07 Angsuran ke 2 8.000.000
15/11 Pembayaran tunai 2.500.000
15/11 Angsuran jth tempo 2.500.000
Saldo 1.000.000
24.000.000 24.000.000

PENDAPATAN MARGIN MURABAHAH


Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
15/03 Angsuran ke-1 Aminah 10.000.000
15/07 Angsuran ke-2 8.000.000
15/11 Pembayaran tunai 2.500.000
Saldo 23.000.000 15/11 Angsuran Jt 2.500.000
23.000.000 23.000.000

BAB IV. Akuntansi Murabahah | 125


NERACA
Per 15 Nopember 2007
Aktiva pasiva
Uraian Jumlah Uraian Jumlah
Kas 123.000.000 Hutang Uang Muka
Piutang Murabahah 6.000.000 Laba Rugi Berjalan
Margin Mrbh Tangguhan (1.000.000) (pendapatan) 23.000.000
Piutang Murabahah JT 15.000.000
Margin Mrbh Tangguhan JT
Persediaan (Aset Murabahah) (140.000.000)

G. Potongan angsuran murabahah


Dalam praktek banyak LKS yang memberikan potongan terhadap angsuran murabahah yang
dilakukan oleh pembeli. Hal ini diberikan karena pembeli melakukan pembayaran angsuran tepat waktu
atau lebih awal dari yang ditentukan (mempunyai etikat yang sangat baik). Dalam PSAK 102 tentang
Akuntansi Murabahah (paragraf 28) diatur pemberian potongan angsuran murabahah diakui sebagai
berikut:
28 Potongan angsuran murabahah diakui sebagai berikut:
(a) jika disebabkan oleh pembeli yang membayar secara tepat waktu diakui sebagai pengurang keuntungan
murabahah;
(b) jika disebabkan oleh penurunan kemampuan pembayaran pembeli diakui sebagai beban.
Hal tersebut sejalan dengan Fatwa DSN Nomor: 46/DSN-MUI/II/2005 Tentang Potongan
Tagihan Murabahah (Al-Khashm Fi Al-Murabahah).
1 LKS boleh memberikan potongan dari total kewajiban pembayaran kepada nasabah dalam
transaksi (akad) murabahah yang telah melakukan kewajiban pembayaran cicilannya dengan
tepat waktu dan/atau nasabah yang mengalami penurunan kemampuan pembayaran.
2. Besar potongan sebagaimana dimaksud di atas diserahkan pada kebijakan LKS.
3 Pemberian potongan tidak boleh diperjanjikan dalam akad.
Contoh : 4-29
Tanggal 30 Nopember 2007 Aminah melakukan pembayaran sisa angsuran ketiga sebesar
Rp15.000.000 dan atas pembayaran angsuran tersebut LKS Ridho Gusti memberikan potongan
angsuran kepada Aminah sebesar Rp1.000.000,00
Sesuai ketentuan dalam PSAK 102 di atas bahwa potongan angsuran tersebut merupakan akibat dari
prestasi nasabah atau ketidak mampuan nasabah. Oleh karena itu atas transaksi tersebut jurnal yang
dilakukan oleh LKS Ridho Gusti adalah sebagai berikut:
(1). Potongan angsuran akibat prestasi nasabah.
Pemberian potongan disebabkan karena pembayaran angsuran sebelumnya dilakukan selalu tepat
waktu (diberikan apresiasi). Yang dimaksud disini adalah nasabah memiliki prestasi lebih, misalnya
melakukan pembayaran angsuran tepat waktu, melakukan pembayarang angsuran dua kali sekaligus dan
berikutnya tetap melakukan pembayaran angsuran, dan sebagainya maka atas pemberian potongan
angsuran tersebut dilakukan jurnal:
(1) Dr. Kas/Rekening Aminah Rp15.000.000,00
Cr. Piutang Murabahah Jatuh tempo Rp15.000.000,00
(2) Dr. Potongan Angs Murabahah – Prestasi Nasabah Rp1.000.000,00
Cr. Kas/Rekening Aminah Rp1.000.000,00

126 |Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


Dengan adanya transaksi tersebut saldo akun-akun dan posisi keuangan pada LKS Ridho Gusti
adalah sebagai berikut:
PIUTANG MURABAHAH JATUH TEMPO
Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
15/07 Angs ke-2 jth tempo 48.000.000 30/07 Pembayaran 48.000.000
15/11 Sebagian angsuran Jt 15.000.000 30/11 Pembayaran 15.000.000
Saldo 00
63.000.000 63.000.000

POTONGAN ANGSURAN MURABAHAH – PRESTASI NASABAH


Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
30/11 Pot prestasi nsb 1.000.000
Saldo 1.000.000
1.000.000 1.000.000

NERACA
Per 15 Nopember 2007
Aktiva Pasiva
Uraian Jumlah Uraian Jumlah
Kas 138.000.000 Hutang Uang Muka 0
Piutang Murabahah 6.000.000 Laba Rugi Berjalan
Margin Mrbh Tangguhan (1.000.000) Pendapatan 22.000.000
Piutang Murabahah JT 00
Margin Mrbh Tangguhan JT
Persediaan (Aset Murabahah) (140.000.000)

(2). Potongan angsuran akibat ketidak mampuan nasabah melakukan pembayaran


Dikategorikan sebagai ketidak mampuan nasabah antara lain karena potongan angsuran tersebut
dipergunakan untuk penyesuaian harga pasar. Oleh karena itu jika contoh 4-29 di atas, potongan diberikan
akibat ketidak mampunan nasabah, maka jurnal yang dilakukan adalah sebagai berikut:
(1) Dr. Kas / Rekening Aminah Rp15.000.000,00
Cr. Piutang Murabahah Jatuh Tempo Rp15.000.000,00
(2) Dr. Potongan Angs Mbh – Beban Operasi Rp1.000.000,00
Cr. Kas / Rekening Aminah Rp1.000.000,00
Dengan adanya transaksi tersebut saldo akun-akun dan posisi keuangan pada LKS Ridho Gusti
adalah sebagai berikut:
PIUTANG MURABAHAH JATUH TEMPO
Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
15/07 Angs ke 2 jth tempo 48.000.000 30/07 Pembayaran 48.000.000
15/11 Sebagian angsuran Jt 15.000.000 30/11 Pembayaran 15.000.000
Saldo 00
63.000.000 63.000.000

POTONGAN ANGS MURABAHAH – BEBAN OPERASI


Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
30/11 Pot prestasi nsb 1.000.000
Saldo 1.000.000
1.000.000 1.000.000

BAB IV. Akuntansi Murabahah | 127


NERACA
Per 30 Nopember 2007
Aktiva Pasiva
Uraian Jumlah Uraian Jumlah
Kas 138.000.000 Hutang Uang Muka 0
Piutang Murabahah 6.000.000 Laba Rugi Berjalan
Margin Mrbh Tangguhan (1.000.000) Pendapatan 23.000.000
Piutang Murabahah JT 00 (Beban) (1.000.000)
Margin Mrbh Tangguhan JT
Persediaan (Aset Murabahah) (140.000.000)

Tidak dilakukan jurnal atas pengakuan pendapatan karena pembayaran angsuran tersebut di atas
merupakan pembayaran angsuran yang tertunggak, jurnal pengakuan pendapatan keuntungan murabahah
telah dilakukan pada saat tanggal jatuh tempo angsuran. Dalam pembayaran angsuran tersebut terkandung
aliran kas atas pendapatan keuntungan murabahah sebesar Rp2.500.000,00 (sebesar saat pengakuan
pendapatan), sehingga jumlah Rp2.500.000,00 merupakan komponen pembagian hasil usaha.
Sesuai ketentuan dalam PSAK 102 tentang Akuntansi Murabahah, bahwa potongan angsuran
karena prestasi pembeli dalam melakukan pembayaran angsuran diakui sebagai “Potongan Angsuran
Murabahah – Prestasi nasabah” dan sebagai pengurang “pendapatan margin murbahaah”. Sedangkan
potongan angsuran karena ketidak mampuan pembeli dalam melakukan pembayaran angsuran diakui
sebagai “Beban Murabahah – Potongan angsuran” dan sebagai Beban Operasi Lain.

H. Potongan pelunasan piutang Murabahah sebelum jatuh tempo


Dalam transaksi murabahah, yang mejadi hutang pembeli/nasabah adalah harga jual barang
dikurangi dengan pembayaran uang muka dan pembayaran angsuran yang telah dilakukan. Hutang
nasabah tidak ada pembedaan antara hutang pokok atau hutang margin sebagaimana dilakukan di
konvensional. Oleh karena itu apabila pembeli melakukan pelunasan seluruh hutang sebelum jatuh tempo,
yang harus dibayar adalah sebesar kewajibannya (sisa hutangnya yang didalamnya juga terkandung unsur
pokok dan margin) tidak dikenal hanya hutang pokok saja. Pembeli yang melakukan pelunasan hutangnya
sebelum jatuh tempo, pemberian potongan merupakan hak dari LKS.
Dalam Fatwa DSN Nomor: 23/DSN-MUI/III/2002 Tentang Potongan Pelunasan Dalam
Murabahah dijelaskan
1. Jika nasabah dalam transaksi murabahah melakukan pelunasan pembayaran tepat waktu atau
lebih cepat dari waktu yang telah disepakati, LKS boleh memberikan potongan dari kewajiban
pembayaran tersebut, dengan syarat tidak diperjanjikan dalam akad
2. Besar potongan sebagaimana dimaksud di atas diserahkan pada kebijakan dan pertimbangan
LKS
Sehubungan dengan akuntansinya, PSAK 102 tentang Akuntansi Murabahah (paragraf 26-27)
menjelaskan sebagai berikut:
26. Potongan pelunasan piutang murabahah yang diberikan kepada pembeli yang melunasi tepat waktu atau
lebih cepat dari waktu yang disepakati diakui sebagai pengurang keuntungan murabahah.
27. Pemberian potongan pelunasan piutang murabahah dapat dilakukan dengan menggunakan salah
satu metode berikut:
(a) diberikan pada saat pelunasan, yaitu penjual mengurangi piutang murabahah dan
keuntungan murabahah; atau
(b) diberikan setelah pelunasan, yaitu penjual menerima pelunasan piutang dari pembeli dan
kemudian membayarkan potongan pelunasannya kepada pembeli.
Contoh: 4-30
Tanggal 30 Desember 2007 (sebelum jatuh tempo 15 April 2008) Aminah melakukan pelunasan
seluruh sisa hutangnya pada LKS Ridho Gusti sebesar Rp6.000.000,00 Dalam adminitrasi LKS
Ridho Gusti sebagai penjual, pembayaran angsuran tersebut terdiri dari kompenen sebagai berikut:

128 |Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


Tanggal Angsuran Porsi Pokok Porsi Keuntungan Total Angsuran
15 April 2008 5.000.000 1.000.000 6.000.000
Atas pelunasan tersebut LKS Ridho Gusti memberikan potongan pelunasan sebesar Rp500.000,00.
Jurnal yang dilakukan oleh LKS Ridho Gusti sehubungan dengan pelunasan dipercepat atau
pelunasan sebelum jatuh tempo seluruh piutang murabahah dapat mempergunakan salah satu alternatif
berikut:
A. Alternatif pertama
(1) Dr. Kas / Rekening Aminah Rp6.000.000,00
Cr. Piutang Murabahah Rp6.000.000,00
(2) Dr. Margin Murabahah Tangguhan Rp1.000.000
Cr. Pendapatan Margin Murabahah Rp1.000.000,00
(3) Dr. Potongan Pelunasan Piutang Murabahah Rp500.000,00
Cr. Kas / Rekening Aminah Rp500.000,00
Alternatif pertama ini dapat diketahui langsung dalam laporan laba rugi (pembukuan) Lembaga
Keuangan Syariah, besarnya potongan pelunasan yang diberikan kepada nasabah
B. Alternatif kedua
Dr. Kas / Rekening Aminah Rp5.500.000,00
Dr. Margin Murabahah Tangguhan Rp1.000.000,00
Cr. Piutang Murabahah Rp6.000.000,00
Cr. Pendapatan Margin Murabahah Rp 500.000,00
LKS dapat memilih salah satu dari kedua alternatif tersebut dan dengan adanya jurnal transaksi di
atas mengakibatkan saldo akun-akun dan posisi keuangan pada LKS Ridho Gusti adalah sebagai berikut:
PIUTANG MURABAHAH
Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
15/02 Aminah 164.000.000 15/02 UM Aminah 20.000.000
15/03 Pembayaran angs ke1 60.000.000
15/07 Angsuran ke 2 48.000.000
15/11 Pembayaran tunai 15.000.000
15/11 Angsuran jth tempo 15.000.000
30/12 Pelunasan 6.000.000
Saldo 00
164.000.000 164.000.000

PIUTANG MURABAHAH JATUH TEMPO


Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
15/07 Angs ke 2 jth tempo 48.000.000 30/07 Pembayaran 48.000.000
15/11 Sebagian angsuran Jt 15.000.000 30/11 Pembayaran 15.000.000
Saldo 00
63.000.000 63.000.000

MARGIN MURABAHAH TANGGUHAN


Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
15/03 Pembayaran angs ke 1 10.000.000 15/02 Aminah 24.000.000
15/07 Angsuran ke 2 8.000.000
15/11 Pembayaran tunai 2.500.000
15/11 Angsuran jth tempo 2.500.000
30/12 Pelunasan angs 1.000.000
Saldo 00
24.000.000 24.000.000

BAB IV. Akuntansi Murabahah | 129


PENDAPATAN MARGIN MURABAHAH
Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
15/03 Angsuran ke-1Aminah 10.000.000
15/07 Angsuran ke 2 8.000.000
15/11 Pembayaran tunai 2.500.000
15/11 Angsuran Jauh Tempo 2.500.000
30/12 Pelunasan angsuran 1.000.000
Saldo 24.000.000
24.000.000 24.000.000

POTONGAN ANGS MURABAHAH – BEBAN OPERASI


Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
30/11 Potongan prestasi nasabah 1.000.000
Saldo 1.000.000
1.000.000 1.000.000

NERACA
Per 30 Desember 2007
Aktiva Pasiva
Uraian Jumlah Uraian Jumlah
Kas 144.000.000 Hutang Uang Muka 0
Piutang Murabahah 00 Laba Rugi Berjalan
Margin Murabahah Tangguhan (00) Pendapatan 24.000.000
Piutang Murabahah JT 00 (Beban Ops Lain) (1.000.000)
Margin Murabahah Tangguhan JT
Persediaan (Aset Murabahah) (140.000.000)

4.3.7 Penjualan dengan pengakuan keuntungan setelah pelunasan pokok


Alternatif ketiga pengakuan keuntungan murabahah dalam PSAK 102 tentang akuntansi murabahah
adalah dilakukan setelah pelunasan pokoknya. Pengakuan pendapatan setelah pelunasan ini dipergunakan
jika penagihan harga barang memiliki risiko yang sangat besar dalam arti kemungkinan tidak dibayarnya
cukup besar. Pada dasarnya pada awal melakukan transaksi murabahah, penggunaan metode ini tidak
terjadi karena tidak mungkin terjadi transaksi jika telah diketahui risiko tidak dibayarnya harga barang
sangat tinggi..
Dalam PSAK 102 tentang Murabahah, paragraf 23 huruf b, iii dijelaskan pengakuan keuntungan
metode ini sebagai berikut:
23 Keuntungan murabahah diakui:
(b) selama periode akad sesuai dengan tingkat risiko dan upaya untuk merealisasikan keuntungan tersebut untuk
transaksi tangguh lebih dari satu tahun. Metode-metode berikut ini digunakan, dan dipilih yang paling sesuai
dengan karakteristik risiko dan upaya transaksi murabahah-nya:
(iii) Keuntungan diakui saat seluruh piutang murabahah berhasil ditagih. Metode ini terapan untuk
transaksi murabahah tangguh dimana risiko piutang tidak tertagih dan beban pengelolaan piutang serta
penagihannya cukup besar. Dalam praktek, metode ini jarang dipakai, karena transaksi murabahah
tangguh mungkin tidak terjadi bila tidak ada kepastian yang memadai akan penagihan kasnya.
Untuk Lembaga Keuangan Bank Syariah, Bank Indonesia mengatur dalam PAPSI ketentuan
pengakuan dan pengukuran keuntungan murabahah saat seluruh piutang murabahah berhasil ditagih
sebagai berikut:
Pengakuan keuntungan diakui saat seluruh piutang murabahah berhasil ditagih. Metode ini terapan
untuk transaksi murabahah tangguh dimana risiko piutang tidak tertagih dan beban pengelolaan
piutang serta penagihannya cukup besar. Dalam praktik, hal ini terjadi bila tidak ada kepastian yang
memadai akan penagihan kasnya misalnya untuk piutang murabahah dalam kualitas macet. Contoh

130 |Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


perhitungan keuntungan dengan pengakuan keuntungan diakhir untuk suatu transaksi murabahah
dengan biaya perolehan aset (pokok) Rp800,00 dan keuntungan Rp200,00; serta pembayaran
dilakukan secara angsuran selama 3 tahun; dimana jumlah angsuran, pelunasan terhadap pokok
diakui terlebih dahulu dan setelah pokok lunas angsuran berikutnya diakui sebagai keuntungan
adalah sebagai berikut:
Tahun Angsuran (Rp) Pokok (Rp) Keuntungan (Rp)
1 500,00 500,00 0
2 300,00 300,00 0
3 200,00 0 200,00
Pada prinsipnya ketentuan di atas dilaksanakan untuk piutang murabahah yang bermasalah atau macet.
Contoh : 4-31
Dalam catatan Lembaga Keuangan Syariah, terdapat hutang nasabah bermasalah (macet) sebesar
Rp1.000.000,00 yang terdiri saldo pokok murabahah sebesar Rp800.000,00 dan saldo margin
murabahah tangguhan sebesar Rp200.000,00. Atas hutang tersebut nasabah melakukan pembayaran
sebagai berikut:
Tanggal 2 Nopember 2009 melakukan pembayaran sebesar Rp500.000,00
Tanggal 15 Nopember 2009 melakukan pembayaran sebesar Rp300.000,00
Tanggal 25 Nopember 209 melakukan pembayaran sebesar Rp200.000,00
Atas transaksi tersebut Lembaga Keuangan Syariah melakukan jurnal sebagai berikut:
1. Tanggal 2 Nopember 2009 menerima pembayaran sebesar Rp500.000,00 jurnal yang dilakukan
adalah:
Dr. Kas / Rekening Nasabah Rp500.000,00
Cr. Piutang Murabahah (pokok) Rp500.000,00
2. Tanggal 15 Nopember 2009 menerima pembayaran sebesar Rp300.000,00 jurnal yang
dilakukan adalah:
Dr. Kas / Rekening Nasabah Rp300.000,00
Cr. Piutang Murabahah (pokok) Rp300.000,00
3. Tanggal 25 Nopember 2009 menerima pembayaran sebesar Rp200.000,00 jurnal yang
dilakukan adalah:
(a) Dr. Kas Rp200.000,00
Cr. Piutang Murabahah Rp200.000,00
(b) Dr. Margin Murabahah Tangguhan Rp200.000,00
Cr. Pendapatan Margin Murabahah Rp200.000,00
Dengan adanya penerimaan pembayaran kedua ini maka seluruh saldo pokok murabahah telah
terbayar semua, sehingga sisanya dipergunakan untuk pembayaran margin murabahah yang belum dibayar.

Contoh : 4-32
Dalam catatan Lembaga Keuangan Syariah, hutang Aminah sebesar Rp1.200.000,00 yang terdiri
saldo pokok murabahah sebesar Rp1.000.000,00 dan saldo margin murabahah tangguhan sebesar
Rp200.000,00. Setelah dilakukan negosiasi Hj. Aminah sepakat untuk melakukan pembayaran
hutangnya dalam dua tahap yaitu masing-masing sebesar Rp600.000,00.
Dengan adanya transaksi tersebut Lembaga Keuangan Syariah melakukan jurnal sebagai berikut;
1. Penerimaan pembayaran tahap pertama sebesar Rp600.000,00 jurnal yang dilakukan adalah
sebagai berikut:
Dr Kas Rp600.000,00
Cr. Piutang Murbahah (porsi pokok) Rp600.000,00

BAB IV. Akuntansi Murabahah | 131


2. Penerimaan pembayaran tahap kedua sebesar Rp600.000,00 jurnal yang dilakukan adalah sebagai
berikut:
(a) Dr. Kas / Rekening Nasabah Rp600.000,00
Dr. Piutang Murabahah Rp600.000,00
(b) Dr. Margin Murabahah Tangguhan Rp200.000
Cr. Pendapatan Margin Murabahah Rp200.000
4.3.8 Denda Kepada Pembeli
Dalam transaksi murabahah, jika pembeli yang mampun tetapi tidak memenuhi kewajibannya dapat
dikenakan denda sedangkan untuk nasabah yang tidak mampu tidak diperkenankan untuk dikenakan
denda. Dana yang diterima dari denda diakui sebagai dana kebajikan tidak diperkenankan diakui sebagai
pendapatan.
Pengenaan denda kepada pembeli atas tidak dipenuhi kewajiban pembeli dalam melakukan
pembayaran ansguran harga barang dimaksudkan untuk memberikan kedisiplinan, karena dengan tidak
dipenuhinya pembayaran angsuran maka sebagian dari hak investor atas bagi hasil juga tertahan.
Jadi pengenaan denda tidak dapat dilakukan kepada nasabah yang tidak memenuhi kewajiban,
sebagaimana yang dilakukan pada Lembaga Keuangan Konvensional, tetapi hanya kepada nasabah yang
mampu tetapi tidak mau. Untuk mengetahui hal ini LKS harus memahami kondisi dari pembeli yang
bersangkutan. Hal ini yang membuktikan bahwa hubungan LKS dengan nasabahnya adalah hubungan
kemitraan, bukan hubungan pinjam meminjam.
Dalam PSAK 102 tentang Akuntansi Murabahah, paragraf 29 dinyatakan ketentuan tentang denda
sebagai berikut:
29 Denda dikenakan jika pembeli lalai dalam melakukan kewajibannya sesuai dengan akad, dan denda yang
diterima diakui sebagai bagian dana kebajikan.
Fatwa DSN Nomor : 17/DSN-MUI/IX/2000 Tentang Sanksi Nasabah Mampu Yang Menunda-
nunda Pembayaran
1. Sanksi yang disebut dalam fatwa ini adalah sanksi yang dikenakan LKS kepada nasabah yang
mampu membayar, tetapi menunda-nunda pembayaran dengan disengaja.
2. Nasabah yang tidak/belum mampu membayar disebabkan force majeur tidak boleh dikenakan
sanksi.
3. Nasabah mampu yang menunda-nunda pembayaran dan/atau tidak mempunyai kemauan dan
itikad baik untuk membayar hutangnya boleh dikenakan sanksi.
4. Sanksi didasarkan pada prinsip ta'zir, yaitu bertujuan agar nasabah lebih disiplin dalam
melaksanakan kewajibannya.
5. Sanksi dapat berupa denda sejumlah uang yang besarnya ditentukan atas dasar kesepakatan dan
dibuat saat akad ditandatangani.
6. Dana yang berasal dari denda diperuntukkan sebagai dana sosial.
Jika memperhatikan ketentuan di atas, maka denda yang dikenakan oleh Lembaga Keuangan
Syariah bukan sebagai kewajiban yang harus dibayar nasabah karena pengenaan denda tersebut sangat
dipengaruhi oleh kondisi nasabah dan dana yang diterima tidak diakui sebagai pendapatan tetapi
diserahkan sebagai dana sosial. Hal ini berbeda dengan pengenaan denda pada Lembaga Keuangan non
Syariah yang dikategorikan sebagai kewajiban yang harus dibayar nasabah dan diakui sebagai pendapatan
non operasi lainnya
Contoh : 4-33
Pada tanggal 25 Maret 2007, atas keterlambatan pembayaran angsuran tanggal 15 Maret 2007, LKS
Ridho Gusti mengenakan denda keterlambatan kepada Aminah sebesar Rp500.000,00.
Atas penerimaan dana denda dari Aminah tersebut LKS Ridho Gusti menlakukan jurnal sebagai berikut:
Dr. Kas / Rekening Aminah Rp500.000,00
Cr. Rekening Dana Kebajikan (giro / tabungan) Rp500.000,00

132 |Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


4.3.9 Pembentukan Cadangan Kerugian Piutang Murabahah
Dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor: 18/DSN-MUI/IX/2000 Tentang Pencadangan
Penghapusan Aktiva Produktif Dalam Lembaga Keuangan Syariah :
1. Pencadangan boleh dilakukan oleh LKS.
2. Dana yang digunakan untuk pencadangan diambil dari bagian keuntungan yang menjadi hak
LKS sehingga tidak merugikan nasabah.
3. Dalam perhitungan pajak, LKS boleh mencadangkan dari seluruh keuntungan.
4. Dalam kaitan dengan pembagian keuntungan, pencadangan hanya boleh berasal dari bagian
keuntungan yang menjadi hak LKS.
Sedangkan dalam PSAK 102 tentang Akuntansi Murabahah (paragraf 22) dijelaskan bahwa :
22. Pada saat akad murabahah, piutang murabahah diakui sebesar biaya perolehan aset murabahah
ditambah keuntungan yang disepakati. Pada akhir periode laporan keuangan, piutang murabahah dinilai
sebesar nilai bersih yang dapat direalisasi, yaitu saldo piutang dikurangi penyisihan kerugian piutang.
Jadi pada akhir periode laporan keuangan, piutang murabahah dinilai sebesar nilai bersih yang dapat
direalisasi, yaitu saldo peiutang murabahah dikurangi dengan penyisihan kerugian piutang.
Baik dalam Bank Syariah maupun Lembaga Keuangan Syariah lainnya, dalam Laporan
Keuangannya piutang murabahah disajikan secara neto, yaitu saldo piutang murabahah setelah dikurangi
dengan cadangan kerugian (allowance for bad debt) yang dibentuk. Masing-masing industri dapat membuat
ketentuan sendiri besarnya cadangan kerugian piutang yang harus dibentuk. Dalam PerBankan Syariah,
pembentukan penyisihan kerugian atas aktiva produktif diatur dalam Peraturan Bank Indonesia.
Contoh : 4-34
Lembaga Keuangan Syariah harus membentuk cadangan kerugian atas piutang murabahah sebesar
Rp1.000.000,00.
Atas pembentukan cadangan kerugian piutag murabahah tersebut Lembaga Keuangan Syariah
melakukan jurnal sebagai berikut:
Dr. Beban Kerugian Piutang Rp1.000.000,00
Cr. Cadangan Kerugian Piutang Rp1 000.000,00
4.3.10 Piutang Murabahah Bermasalah
Sebelum dilakukan pembahasan hal-hal tersebut di atas, terlebih dahulu akan dibahas pengakuan
keuntungan murabahah atas piutang murabahah yang macet. Berkaitan dengan hal tersebut dalam PSAK
102 tentang Murabahah, paragraf 23 huruf b, iii dijelaskan pengakuan keuntungan metode ini sebagai
berikut:
23 Keuntungan murabahah diakui:
(b) selama periode akad sesuai dengan tingkat risiko dan upaya untuk merealisasikan keuntungan tersebut
untuk transaksi tangguh lebih dari satu tahun. Metode-metode berikut ini digunakan, dan dipilih yang
paling sesuai dengan karakteristik risiko dan upaya transaksi murabahah-nya:
(iii) Keuntungan diakui saat seluruh piutang murabahah berhasil ditagih. Metode ini terapan
untuk transaksi murabahah tangguh dimana risiko piutang tidak tertagih dan beban
pengelolaan piutang serta penagihannya cukup besar. Dalam praktek, metode ini jarang
dipakai, karena transaksi murabahah tangguh mungkin tidak terjadi bila tidak ada
kepastian yang memadai akan penagihan kasnya.
Jadi untuk piutang murabahah, dimana risiko tidak tertagih dan beban pengelolaan piutang serta
penagihannya cukup besar, maka pengakuan keuntungan baru dilakukan setelah porsi pokok murabahah
telah diterima. Hal ini dilakukan karena LKS telah menanggung risiko pembentukan beban kerugian
piutang murabahah. Untuk memberikan gambaran yang lengkap mengenai hal tersebut dapat diberikan
contoh sebagai berikut:

BAB IV. Akuntansi Murabahah | 133


Contoh : 4-35
Dalam catatan administrasi LKS Ridho Gusti menunjukkan hutang Aminah sebesar
Rp72.600.000,00 yang terdiri dari porsi pokok sebesar Rp60.000.000,00 dan porsi keuntungan
murabahah sebesar Rp12.600.000,00. Berdasarkan data-data yang ada dalam LKS Ridho Gusti
Aminah dikategorikan macet.
a. Dalam perbankan syariah, jika piutang murabahah dikategorikan macet, LKS harus
membentuk cadangan kerugian sebesar porsi pokok murabahah. Dalam conroh di atas LKS
membentuk cadangan kerugian (Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif / PPAP) Piutang
murabahah sebesar Rp60.000.000,00 sehingga LKS Ridho Gusti melakukan jurnal :
Dr. Beban PPAP Mbh Rp60.000.000,00
Cr. Cad PPAP Mbh Rp60.000.000,00
b. Nasabah melakukan pembayaran atas piutang murabahah yang telah dikategorikan macet
(1) Aminah membayar sebagian hutang murabahah kepada LKS Ridho Gusti sebesar
Rp30.000.000,00 maka LKS Ridho Gusti melakukan jurnal:
Dr. Kas Rp30.000.000,00
Cr. Piutang murabahah Rp30.000.000,00
Pembayaran hutang murabahah oleh nasabah diakui oleh LKS Ridho Gusti sebagai
pengembalian pokok murabahah terlebih dahulu, sehingga dalam catatan Bank porsi
pokok murabahah menunjukkan saldo awal Rp60.000.000,00 dikurangi pembayaran
Rp30.000.000,00 sisa pokok murabahah Rp30.000.000,00 dan saldo margin murabahah
tangguhan tetap Rp12.600.000,00.
(2) Aminah membayar sebagian lagi hutang murabahah kepada LKS Ridho Gusti sebesar
Rp35.000.000,00 dari sisa hutangnya sebesar Rp42.600.000,00 maka LKS Ridho Gusti
melakukan jurnal:
(a) Dr. Kas Rp35.000.000,00
Cr. Piutang Murabahah Rp35.000.000,00
(b) Dr. Margin Murabahah Tangguhan Rp5.000.000,00
Cr. Pendapatan Margin Murabahah Rp5.000.000,00
Pembayaran hutang murabahah oleh nasabah diakui oleh LKS Ridho Gusti sebagai
pengembalian pokok murabahah terlebih dahulu, sehingga dalam catatan Bank porsi
pokok murabahah menunjukkan saldo awal Rp30.000.000,00 dikurangi pembayaran
Rp30.000.000,00 sisa pokok murabahah RpNihil dan saldo margin murabahah
tangguhan awal Rp12.600.000,00 dikurangi Rp5.000.000,00 sisa margin tangguhan
sebesar Rp7.200.000,00 Pembayaran hutang oleh nasabah sebesar Rp35.000.000,00
diakui oleh LKS Ridho Gusti porsi pengembalian pokok murabahah sebesar
Rp30.000.000,00 dan pembayaran margin murabahah sebesar Rp5.000.000,00.
Pendapatan Margin Murabahah sebesar Rp5.000.000,00 diperhitungkan dalam profit
distribusi.
(3) Aminah melakukan pelunasan hutang murabahah kepada LKS Ridho Gusti sebesar
Rp7.600.000,00 maka LKS Ridho Gusti melakukan jurnal :
(a) Dr. Kas Rp7.600.000,00
Cr. Piutang Murabahah Rp7.600.000,00
(b) Dr. Margin Murabahah Tangguhan Rp7.600.000,00
Cr. Pendapatan Margin Murabahah Rp7.600.000,00
Oleh karena porsi pokok murabahah dalam catatan LKS Ridho Gusti telah menunjukan nihil,
maka seluruh pembayaran yang dilakukan oleh nasabah diakui oleh LKS Ridho Gusti sebagai
pendapatan margin murabahah, yaitu sebesar Rp7.600.000,00. Pendapatan Margin Murabahah
sebesar Rp7.600.000,00 merupakan pendapatan operasi utama dan diperhitungkan dalam Profit
Distribusi.

134 |Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


Dari contoh di atas dapat dilihat bahwa berapapun nasabah membayar yang berkurang adalah
piutang murabahah yang berarti sama dengan hutang murabahah bagi nasabah. Pembagian pokok dan
margin hanya dilakukan oleh Lembaga Keuangan Syariah karena sebagian dari margin murabahah yang
nyata-nyata diterima adalah haknya pemilik dana mudharabah.
Dalam melakukan transaksi murabahah dengan pembayaran tangguh tidak selamanya pembayaran
angsuran harga barang berjalan dengan lancar, dalam arti tidak selamanya pembeli dapat membayar
angsuran harga barang sampai pelunasan.Jika sampai periode tertentu dan kondisi-kondisi tertentu
pembeli tidak mampu untuk membayar kewajibannya ke Lembaga Keuangan Syariah sebagai penjual, ini
yang disebut dengan piutang murabahah bermasalah. Jika terdapat piutang murabahah bermasalah maka
LKS sebagai penjual dapat melakukan langkah-langkah antara lain :
a. Memberikan perpanjangan jangka waktu pembayaran
b. Memberikan potongan tagihan murabahah
c. Melakukan konversi akad murabahah
d. Pembeli tidak mampu melakukan pembayaran.
A. Penundaan/penjadwalan kembali Pembayaran Murabahah
Salah satu cara dalam menangani Piutang Bermasalah adalah dengan cara memberikan kelonggaran
atau penundaan atau perpanjangan jangka waktu pembayaran piutang murabahah atau hutang nasabah.
Dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional No 4 tentang Murabahah dijelaskan tentang penundaan
pembayaran dalam murabahah sebagai berikut:
Kelima : Penundaan Pembayaran dalam Murabahah:
1. Nasabah yang memiliki kemampuan tidak dibenarkan menunda penyelesaian hutangnya.
2. Jika nasabah menunda-nunda pembayaran dengan sengaja, atau jika salah satu pihak tidak
menunaikan kewajibannya, maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrasi Syariah
setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah.
Ketujuh : Bangkrut dalam Murabahah:
Jika nasabah telah dinyatakan pailit dan gagal menyelesaikan hutangnya, Bank harus menunda
tagihan hutang sampai ia menjadi sanggup kembali, atau berdasarkan kesepakatan.
Sedangkan dalam Fatwa DSN Nomor: 48/DSN-MUI/II/2005 Tentang Penjadwalan Kembali
Tagihan Murabahah dijelaskan sebagai berikut:
LKS boleh melakukan penjadwalan kembali (rescheduling) tagihan murabahah bagi nasabah yang
tidak bisa menyelesaikan/melunasi pembiayaannya sesuai jumlah dan waktu yang telah disepakati, dengan
ketentuan:
1. Tidak menambah jumlah tagihan yang tersisa;
2. Pembebanan biaya dalam proses penjadualan kembali adalah biaya riil;
3. Perpanjangan masa pembayaran harus berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak
Sesuai karakteristik hutang yaitu tetap kecuali dibayar, maka jika Lembaga Keuangan Syariah
melakukan perpanjangan jangka waktu pembayaran berapapun lamanya tidak diperkenankan untuk
menambah hutang nasabah, sehingga tidak perlu dilakukan jurnal.
Contoh : 4 - 36
Dalam catatan LKS menunjukan hutang nasabah (aminah) sebesar Rp72.600.000 yang terdiri dari
sisa pokok sebesar Rp60.000.000,00 dan sisa keuntungan sebesar Rp12.600.000. Atas hutang
nasabah tersebut dilakukan perpanjangan jangka waktu pembayaran selama 6 bulan dan atas
perpanjangan tersebut nasabah harus membayar biaya adminitrasi sebesar Rp50.000,00.
Atas perpanjangan hutang nasabah tersebut dilakukan jurnal sebagai berikut:
1. Untuk perpanjangan hutang nasabah selama 6 bulan
Tidak ada jurnal
2. Penerimaan biaya administrasi dari nasabah sebesar Rp50.000,00.
Dr. Kas/Rekening nasabah Rp50.000,00
Cr. Pendapatan fee murabahah Rp50.000,00

BAB IV. Akuntansi Murabahah | 135


B. Konversi Akad Murabahah oleh penjual (kreditur)
Cara lain dalam menangani piutang bermasalah dalan transaksi murabahah adalah melakukan
konversi akad murabahah kepada akad yang lain. Dalam Fatwa DSN Nomor: 49/DSN-MUI/II/2005
Tentang Konversi Akad Murabahah dijelaskan sebagai berikut:
LKS boleh melakukan konversi dengan membuat akad baru bagi nasabah yang tidak bisa
menyelesaikan/melunasi pembiayaan murabahahnya sesuai jumlah dan waktu yang telah disepakati, tetapi
ia masih prospektif, dengan ketentuan:
a. Akad murabahah dihentikan dengan cara:
i. Obyek murabahah dijual oleh nasabah kepada LKS dengan harga pasar;
ii. Nasabah melunasi sisa hutangnya kepada LKS dari hasil penjualan;
iii. Apabila hasil penjualan melebihi sisa hutang maka kelebihan itu dapat dijadikan uang muka
untuk akad ijarah atau bagian modal dari mudharabah dan musyarakah;
iv. Apabila hasil penjualan lebih kecil dari sisa hutang maka sisa hutang tetap menjadi hutang
nasabah yang cara pelunasannya disepakati antara LKS dan nasabah.
b. LKS dan nasabah eks-murabahah tersebut dapat membuat akad baru dengan akad:
i. Ijarah Muntahiyah Bit Tamlik atas barang tersebut di atas dengan merujuk kepada fatwa
DSN No. 27/DSN-MUI/III/2002 tentang Al Ijarah Al-Muntahiyah Bi Al-Tamlik;
ii. Mudharabah dengan merujuk kepada fatwa DSN No. 07/DSN-MUI/IV/2000 tentang
Pembiayaan Mudharabah (Qiradh); atau
iii. Musyarakah dengan merujuk kepada fatwa DSN No. 08/DSN-MUI/IV/2000 tentang
Pembiayaan Musyarakah.
Dari ketentuan tersebut dapat dilihat bahwa konversi akad murabahah dilakukan dengan cara
menjual barang murabahah dari nasabah ke LKS sebesar harga wajar dan hasil penjualan dipergunakan
untuk melunasi hutang nasabah (piutang murabahah). Barang yang telah dimiliki oleh LKS disertakan
kembali kepada nasabah dalam akad musyarakah, mudharabah dan ijarah.
Contoh : 4 - 37
Dalam catatan administrasi LKS Ridho Gusti menunjukkan hutang Aminah sebesar Rp72.600.000
yang terdiri dari porsi pokok sebesar Rp60.000.000,00 dan porsi keuntungan murabahah sebesar
Rp12.600.000,00 Berdasarkan data-data yang ada dalam LKS Ridho Gusti Aminah dikategorikan
macet. Atas hutang nasabah tersebut karena bermasalah dilakukan konversi akad musyarakah
(dilakukan restruktur)
Atas transaksi tersebut, jurnal yang dilakukan oleh LKS sebagai penjual (kreditur) adalah sebagai berikut:
1. LKS membeli barang murabahah sebesar Rp72.600.000,00 (sebesar hutang nasabah, yaitu
harga barang yg belum dibayar oleh nasabah), sehingga LKS Ridho Gusti melakukan jurnal :
Dr. Persediaan Rp72.600.000,00
Cr. Kas/Rekening nasabah Rp72.600.000,00
2. Atas pembelian barang murabahah yang dilakukan oleh LKS tersebut, hasil penjualan
dipergunakan oleh nasabah untuk melakukan pelunasan hutangnya kepada LKS Ridho Gusti
sebesar Rp72.600.000,00 sehingga LKS Ridho Gusti melakukan jurnal:
(a) Dr. Kas/rekening nasabah Rp72.600.000,00
Cr. Piutang Murabahah Rp72.600.000,00
(b) Dr. Margin Murabahah Tangguhan Rp12.600.000,00
Cr. Pendapatan Margin Murabahah Rp12.600.000,00
3. Dengan dibelinya barang nasabah oleh LKS Ridho Gusti maka barang tersebut menjadi milik
LKS Ridho Gusti. Barang tersebut oleh LKS Ridho Gusti diserahkan kembali kepada
nasabah dalam bentuk modal musyarakah sebesar Rp72.600.000 (modal musyarakah dapat
berupa barang dan atau uang). Oleh karena itu LKS Ridho Gusti melakukan jurnal:
Dr. Investasi Musyarakah Rp72.600.000
Cr. Persediaan/Aset Musyarakah Rp72.600.000
Selanjutnya mengikuti jurnal musyarakah.

136 |Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


C. Potongan Tagihan Murabahah oleh penjual (kreditur)
Memberikan potongan tagihan murabahah oleh penjual juga merupakan salah satu upaya dalam
menangani piutang murabahah bermasalah.
Contoh : 4 - 38
Dalam catatan LKS menunjukan hutang nasabah (aminah) sebesar Rp1.200.000,00 yang terdiri dari
sisa pokok sebesar Rp1.000.000,00 dan sisa keuntungan sebesar Rp200.000. Karena sesuatu hal
LKS memberikan potongan tagihan kepada nasabah.
1. Jika Aminah melunasi hutangnya dan LKS memberikan potongan tagihan sebesar Rp100.000,00
(potongan diberikan lebih kecil dari margin tangguhan) maka atas transaksi tersebut, LKS melakukan
jurnal:
(a) Dr. Kas Rp1.200.000,00
Cr. Piutang Murabahah Rp1.200.000,00
(b) Dr. Margin Murabahah Tangguhan Rp200.000,00
Cr. Pendapatan Margin Murabahah Rp200.000,00
(c) Dr. Potongan pelunasan Rp100.000,00
Cr. Kas Rp100.000,00
Potongan pelunasan sebagai pengurang dari pendapatan margin murabahah, atau LKS dapat
melakukan jurnal sebagai berikut :
Dr. Kas Rp1.100.000,00
Dr. Margin Murabahah Tangguhan Rp 200.000,00
Cr. Piutang Murabahah Rp1.200.000,00
Cr. Pendapatan Margin Murabahah Rp 100.000,00
2. Jika Aminah melunasi hutangnya dan LKS memberikan potongan tagihan sebesar Rp250.000,00
(potongan diberikan lebih besar dari margin tangguhan) maka atas transaksi tersebut, LKS
melakukan jurnal :
Dr. Kas Rp1.050.000,00
Dr. Kerugian potongan tagihan Rp 50.000,00
Dr. Margin Murabahah Tangguhan Rp 200.000,00
Cr. Piutang Murabahah Rp1.200.000,00
D. Debitur Tidak Mampu Bayar
Salah satu permasalahan yang dihadapi dalam menangani piutang murabahah yang bermasalah
adalah jika nasabah sudah tidak mampu membayar hutangnya. Upaya yang dilakukan adalah menjual
(bukan mengambil-alih) agunan miliki nasabah. Hasil penjual dipergunakan untuk membayar hutangnya.
Jadi atas pembebasan hutang nasabah yang tidak mampu diakui sebagai kerugian dan atas
pembebasan hutang ini dapat dilakukan dengan cara langsung sebagai kerugian atau dengan cara melalui
pencadangan kerugian yang telah dibentuk sebelumnya.
Contoh : 4 - 39
Dalam catatan administrasi LKS Ridho Gusti menunjukkan hutang Aminah sebesar
Rp72.600.000,00 yang terdiri dari porsi pokok sebesar Rp60.000.000,00 dan porsi keuntungan
murabahah sebesar Rp12.600.000,00 Berdasarkan data-data yang ada dalam LKS Ridho Gusti
Aminah dikategorikan macet. Karena nasabah sudah tidak mampu untuk membayar maka LKS
membebaskan hutang nasabah.
1. Pada saat hutang aminah dilakukan hapus buku oleh LKS Ridho Gusti.
(a). Jika LKS Ridho Gusti melakukan hapus buku seluruh hutang nasabah sebesar
Rp72.600.000,00 maka LKS Ridho Gusti melakukan jurnal:
Dr. Cad PPAP Rp60.000.000,00
Dr. Margin Mbh Tangguhan Rp12.600.000,00
Cr. Piutang Murabahah Rp72.600.000,00

BAB IV. Akuntansi Murabahah | 137


(b) Jika LKS Ridho Gusti melakukan hapus buku sebagian dari hutangnya, misalnya hanya porsi
margin yang belum dibayar saja sebesar Rp12.600.000,00 maka LKS melakukan jurnal:
Dr. Margin Murabahah Tangguhan Rp12.600.000,00
Cr. Piutang Murabahah Rp12.600.000,00
Atas penghapusan porsi margin saja maka tidak mengurangi pembentukan cadangan
kerugian piutang murabahah karena cadangan kerugian piutang murabahah hanya untuk
menutup risiko porsi pokok murabahah saja.
(c). Jika LKS Ridho Gusti melakukan hapus buku porsi pokok yang tersisa yaitu sebesar
Rp60.000.000,00 maka LKS Ridho Gusti melakukan jurnal:
Dr. Cad PPAP Rp60.000.000,00
Cr. Piutang Murabahah Rp60.000.000,00
Penghapusan porsi pokok murabahah mempengaruhi besarnya cadangan kerugian
piutang murabahah karena pembentukan ppap sebesar pokoknya saja, oleh karena itu
penghapusan pokok harus telah dipenuhi kecukupan PPAP/Cadangan PPAP.
2. Aminah, nasabah murabahah yang telah dilakukan hapus buku oleh LKS Ridho Gusti melakukan
pembayaran atas hutangnya.
(a) Jika Aminah melakukan pembayaran seluruh hutangnya sebesar Rp72.600.000,00 maka LKS
Ridho Gusti melakukan jurnal:
Dr. Kas Rp72.600.000,00
Cr. Cad PPAP Mbh Rp60.000.000,00
Cr. Pendapatan Margin Mbh Rp12.600.000,00
(b) Jika Aminah melakukan pembayaran sebagian dari hutangnya (misalnya Rp50.000.000) maka
LKS Ridho Gusti melakukan jurnal:
Dr. Kas Rp50.000.000,00
Cr. Cad PPAP Rp50.000.000,00
(c) Jika nasabah membayar sisa hutangnya sebesar Rp22.600.000,00 maka LKS Ridho Gusti
melakukan jurnal:
Dr. Kas/Rek. Nasabah Rp22.600.000,00
Cr. Cad PPAP Rp10.000.000,00
Cr. Pendapatan Margin Mbh Rp12.600.000,00
Pembayaran hutang nasabah oleh LKS Ridho Gusti diakui sebagai pengembalian porsi
pokok terlebih dahulu (pembentukan cadangan kerugian piutang murabahah), dan jika seluruh
pokok telah dilunasi sisa pembayaran diakui sebagai pendapatan margin murabahah yang harus
diperhitungkan dalam pembagian hasil usaha dengan pemilik dana.
3. Penjualan kepada pihak ketiga
Upaya terakhir yang dilakukan oleh LKS dalam menangani piutang bermasalah adalah
melakukan penjualan agunan milik nasabah, baik kepada pihak ketiga / pihak lain atau dibeli sendiri
oleh LKS.
(a) Jika hasil penjualan lebih besar dari kewajiban (kewajiban Rp72.600.000,00 hasil penjualan
agunan sebesar Rp100.000.000,00).
(1) Saat LKS menerima hasil penjualan agunan, maka LKS melakukan jurnal:
Dr. Kas Rp100.000.000,00
Cr. Titipan Nasabah Rp100.000.000,00
(2) Saat hasil penjualan dipergunakan untuk pelunasan hutang nasabah sebesar
Rp72.600.000,00 maka LKS Ridho Gusti melakukan jurnal:
Dr. Titipan Nasabah Rp100.000.000,00
Dr. Margin Murabahah Tangguhan Rp 12.600.000,00
Cr. Piutang Murabahah Rp 72.600.000,00
Cr. Pendapatan Margin Murabahah Rp 12.600.000,00
Cr. Kas / Rekening Nasabah Rp 28.400.000,00

138 |Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


(b) Jika hasil penjualan lebih kecil dari kewajiban (misalnya hasil penjualan sebesar
Rp50.000.000,00).
(1) Saat LKS menerima hasil penjualan agunan, maka LKS melakukan jurnal:
Dr. Kas Rp50.000.000,00
Cr. Titipan Nasabah Rp50.000.000,00
(2) Saat hasil penjualan dipergunakan untuk pelunasan hutang nasabah sebesar
Rp72.600.000,00 maka LKS Ridho Gusti melakukan jurnal:
Dr. Titipan Nasabah Rp50.000.000,00
Dr. Piutang Nasabah Rp22.600.000,00 *)
Cr. Piutang Murabahah Rp 72.600.000,00
Daalam catatan LKS hutang nasabah sebesar Rp22.600.00,00 tersebut merupakan sisa
pokok sebesar Rp10.000.000,-- dan sisa margin sebesar Rp12.600.000,00. Pengakuan
margin dilakukan setelah seluruh sisa pokok terbayar
4. Jika agunan murabahah dibeli sendiri oleh Bank syariah seharga Rp100.000.000,00.
(a). Pada saat LKS melakukan pembelian agunan oleh LKS sebesar Rp100.000.000 maka LKS
melakukan jurnal:
Dr. Persediaan Rp100.000.000,00
Cr. Kas / Titipan Nasabah Rp100.000.000,00
(b). Hasil penjualan dipergunakan untuk pelunasan hutang nasabah, maka LKS melakukan jurnal
sebagaimana tersebut di atas.

4.4. Akuntansi Pembeli Akhir


Perbedaan akuntansi Murabahah dalam PSAK 102 tentang Akuntansi Murabahah dengan PSAK 59
tentang Akuntansi PerBankan Syariah, adalah dalam PSAK 102 dibahas ketentuan-ketentuan akuntansi
pada pembeli akhir, dimana hal ini tidak pernah dibahas pada PSAK 59.
Pembahasan ketentuan akuntansi pada pembeli akhir ini dimaksudkan untuk memberikan aturan
akuntansi syariah pada sisi pembeli sehingga mempunyai presepsi yang sama pada penjual maupun
pembeli. Misalnya dalam PSAK 59 tentang akuntansi perBankan syariah, LKS sebagai penjual mencatat
sebagai “piutang murabahah” namun dalam catatan nasabah sebagai pembeli dicatat sebagai “hutang
Bank” (karena dilakukan dengan Bank syariah). Namun dalam PSAK 102 tentang akuntandi Murabahah,
LKS sebagai penjual mencatat sebagai “piutang murabahah” dan nasabah sebagai pembeli mencatat
sebagai “hutang murabahah”.
Transaksi yang ada pada pembeli akhir ini merupakan transaksi balik dari penjual, artinya transaksi
yang sama terjadi pada penjual, hanya dari segi pencatatan yang dilakukan antara penjual dan pembeli yang
berbeda.
4.4.1. Akun-akun pada pembukuan pembeli
Dalam PSAK 59 tentang Akuntansi PerBankan Syariah tidak diatur akuntansi pada pihak terkait
(nasabah sebagai pembeli). Sedangkan dalam PSAK 102 tentang Akuntansi Murabahah telah diatur
akuntansi pihak terkait (nasabah sebagai pembeli) dan sebagai akibatnya banyak akun-akun yang harus
dipergunakan oleh nasabah sebagai pembeli baik untuk kepentingan penyusunan laporan posisi keuangan
(neraca) dan laporan laba rugi.
A. Akun dalam Laporan Posisi Keuangan (Neraca)
Akun-akun berikut dipergunakan untuk mencatat transaksi murabahah pada akuntansi pembeli
untuk kepentingan penyusunan laporan posisi keuangan (neraca).
1. Hutang Murabahah
Akun ini dipergunakan untuk mencatat harga beli yang disepakati dengan penjual, yang
pembayarannya dilakukan dengan tangguh atau cicilan. Akun ini dikredit pada saat akad murabahah
dilaksanakan sebesar harga beli barang. Akun ini didebet pada saat melakukan pembayaran angsuran
harga barang kepada penjual.

BAB IV. Akuntansi Murabahah | 139


2. Hutang Murabahah Jatuh Tempo
Akun ini dipergunakan untuk mencatat pembayaran angsuran murabahah yang telah jatuh tempo
tetapi belum dilakukan pembayaran, sebesar angsuran yang telah jatuh tempo. Akun ini dikredit
pada saat angsuran jatuh tempo dan belum dibayar dan didebet pada saat dilakukan pembayaran
angusan yang telah jatuh tempo.
3. Piutang Uang Muka Murabahah
Akun ini dipergunakan untuk mencatat pembayaran uang muka yang dilakukan kepada Lembaga
Keuangan Syariah sebagai penjual sebagai tanda keseriusan dalam melakukan transaksi murabahah.
Akun ini didebet saat pembayaran uang muka dilakukan dan dikredit pada saat transaksi
dilaksanakan, sebagai pengurang hutang kepada penjual.
4. Aktiva Tetap
Akun ini dipergunakan untuk mencatat barang untuk dipergunakan sendiri yang diperoleh dari
transaksi jual beli murabahah, sebesar harga perolehan barang tersebut. Akun ini didebet pada saat
diperoleh barang sebesar harg perolehan dan dikredit pada saat dijual.
5. Hutang kepada LKS
Akun ini dipergunakan untuk mencatat atas angsuran yang telah jatuh tempo namun belum dibayar
oleh pembeli. Akun ini dikredit saat jatuh tempo angsuran sebesar jumlah angsuran yang belum
dibayar dan di debet pada saat dilakukan pembayaran.

B. Akun dalam Laporan Laba Rugi


Akun-akun berikut dipergunakan untuk mencatat transaksi murabahah dalam akuntansi pembeli
untuk kepentingan penyusunan laporan laba rugi.
1. Beban Murabahah Ditangguhkan
Akun ini dipergunakan untuk mencatat keuntungan yang disepakati dengan penjual, yang
pembayarannya dilakukan secara angsuran atau cicilan. Akun ini sebagai pengurang dari hutang
murabahah. Akun ini disajikan sebagai pengurang hutang murabahah. Akun ini dikredit pada saat
akad murabahah dilaksanakan sebesar keuntungan yang disepakati dengan penjual, dan didebet pada
saat pembayaran angsuran pembayaran atau pelunasan sebesar porsi keuntungan periode tersebut.
2. Diskon Murabahah
Akun ini dipergunakan untuk mencatat diskon dari pemasok yang diperoleh setalah akad
ditandatangani, sebesar porsi diskon yang menjadi hak pembeli sesuai kesepakatan dalam akad.
Akun ini merupakan pengurang beban murabahah (tidak dikelompokkan sebagai pendapatan dari
pembeli). Akun ini di kredit pada saat diperoleh diskon sebesar porsi hak pembeli dan didebet pada
saar dipindahkan ke laba rugi pada akhir tahun.
7.. Potongan pelunasan hutang murabahah
Akun ini dipergunakan untuk mencatat potongan yang diterima dari LKS atas pelunasan yang
dilakukan sebelum jatuh tempo. Akun ini tidak diperkenankan sebagai pendapatan tetapi
diperlakukan sebagai pengurang beban murabahah atas transaksi jual beli murabahah tersebut.
8. Potongan angsuran murabahah
Akun ini dipergunakan untuk mencatat potongan angsuran yang diterima dari LKS atas pembayaran
angsuran yang dilakukan. Akun ini diperlakukan sebagai pengurang beban murabahah.
9. Kerugian Pesanan Murabahah
Akun ini dipergunakan untuk mencatat kerugian yang terjadi akibat pembatalan transaksi
murabahah, antara lain beban penggantian kerugian penjual yang menjadi tanggungan pembeli.
Akun ini didebet pada saat terjadi kerugian yang menjadi beban pembeli dan di kredit saat tutup
buku akhir tahun untuk dipindahkan ke Akun Laba Rugi Tahun Berjalan.

140 |Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


10. Beban denda Murabahah
Akun ini dipergunakan untuk mencatat beban denda yang dikenakan oleh penjual dan harus dibayar
oleh pembeli. Akun ini di debet pada saat terjadi beban denda dan di kredit asat tutup buku akhir
tahun untuk dipindahkan ke akun Laba Rugi Tahun Berjalan.
Untuk memberikan gambaran yang jelas dan lengkap akuntansi pembeli akhir berikut diberikan
ilustrasi contoh secara umum sebagai berikut:
Aminah dan LKS Ridho Gusti sepakat melakukan jual beli Mobil Kijang dengan data sbb:
1. Harga barang:
a. Harga pokok Mobil Kijang pokok sebesar Rp140.000.000,00.
b. keuntungan sebesar Rp24.000.000,00.
c. harga jual yang disepakati sebesar Rp164.000.000,00.
2. Sebagai tanda keriusan atas jual beli tersebut Aminah memberikan uang muka kepada LKS
Ridho Gusti sebesar Rp20.000.000,00.
3. Pembayaran disepakati dengan cara angsuran sesuai kesepakatan antara penjual dan pembeli
4. Jika terlambat dalam membayar angsuran Aminah dikenakan denda sebesar Rp500.000,00.
Dana yang diterima atas denda tersebut yang dananya akan disetorkan oleh LKS Ridho Gusti
ke Dana Kebijakan (sosial) atas nama Aminah.
Dalam ilustrasi di atas akan dibahas akuntani yang akan dilakukan oleh Aminah sebagai pembeli
akhir, sedangkan akuntansi LKS sebagai penjual telah dibahas pada butir di atas.
Dalam PSAK 102 tentang akuntansi murabahah, dijelaskan pengakuan dan pengukuran yang
dilakukan pembeli dalam transaksi murabahah (paragraf 31 s/d 36) sebagai berikut:
31. Hutang yang timbul dari transaksi murabahah tangguh diakui sebagai hutang murabahah sebesar harga
beli yang disepakati (jumlah yang wajib dibayarkan).
32. Aset yang diperoleh melalui transaksi murabahah diakui sebesar biaya perolehan murabahah tunai.
Selisih antara harga beli yang disepakati dengan biaya perolehan tunai diakui sebagai beban murabahah
tangguhan.
33. Beban murabahah tangguhan diamortisasi secara proporsional dengan porsi hutang murabahah.
34. Diskon pembelian yang diterima setelah akad murabahah, potongan pelunasan dan potongan hutang
murabahah sebagai pengurang beban murabahah tangguhan.
35. Denda yang dikenakan akibat kelalaian dalam melakukan kewajiban sesuai dengan akad diakui sebagai
kerugian.
36. Potongan uang muka akibat pembeli akhir batal membeli barang diakui sebagai kerugian.
Oleh karena itu beberapa hal yang berkaitan dengan transaksi Murabahah yang dilakukan oleh
pembeli adalah:
1. Pembayaran uang muka kepada LKS
2. Penerimaan barang dan pengakuan hutang harga barang
3. Penerimaan diskon harga barang
4. Pembayaran harga barang
5. Penerimaan potongan pelunasan harga barang
6. Pembayaran denda
4.4.2. Pembayaran uang muka kepada Penjual
Uang muka yang dibayar oleh pembeli merupakan bukti keseriusan dalam melakukan transaksi
murabahah, khususnya murabahah berdasarkan pesanan dan sifatnya mengikat. Besarnya uang muka
didasarkan pada kesepakatan antara penjual dan pembeli.
Dalam Fatwa DSN nomor 04/DSN-MUI/IV/2000 tentang Murabahah, ketentuan kedua butir 4
sampai dengan 7 menjelaskan uang muka murabahah sebagai berikut:
4. Dalam jual beli ini Bank dibolehkan meminta nasabah untuk membayar uang muka saat
menandatangani kesepakatan awal pemesanan.
5. Jika nasabah kemudian menolak membeli barang tersebut, biaya riil Bank harus dibayar dari
uang muka tersebut.

BAB IV. Akuntansi Murabahah | 141


6. Jika nilai uang muka kurang dari kerugian yang harus ditanggung oleh Bank, Bank dapat
meminta kembali sisa kerugiannya kepada nasabah.
7. Jika uang muka memakai kontrak ‘urbun sebagai alternatif dari uang muka, maka:
a. jika nasabah memutuskan untuk membeli barang tersebut, ia tinggal membayar sisa harga.
b. jika nasabah batal membeli, uang muka menjadi milik Bank maksimal sebesar kerugian
yang ditanggung oleh Bank akibat pembatalan tersebut; dan jika uang muka tidak
mencukupi, nasabah wajib melunasi kekurangannya.
Fatwa Dewan Syariah Nasional nomor 13/DSN-MUI/IX/2000 tentang Uang Muka Murabahah,
mengatur ketentuan uang muka sebagai berikut:
Pertama : Ketentuan Umum Uang Muka:
1. Dalam akad pembiayaan murabahah, Lembaga Keuangan Syariah (LKS)
dibolehkan untuk meminta uang muka apabila kedua belah pihak bersepakat.
2. Besar jumlah uang muka ditentukan berdasarkan kesepakatan.
3. Jika nasabah membatalkan akad murabahah, nasabah harus memberikan ganti rugi
kepada LKS dari uang muka tersebut.
4. Jika jumlah uang muka lebih kecil dari kerugian, LKS dapat meminta tambahan
kepada nasabah.
5. Jika jumlah uang muka lebih besar dari kerugian, LKS harus mengembalikan
kelebihannya kepada nasabah.
Dalam PSAK 102 tentang Akuntansi Murabahah, paragraf 36 mengatur tentang pengakuan dan
pengukuran uang muka seebagai berikut:
36. Potongan uang muka akibat pembeli akhir batal membeli barang diakui sebagai kerugian.
Jika pembeli akhir memberikan uang muka, kemudian atas pesanannya tersebut dibatalkan oleh
nasabah dan atas pembatalan tersebut LKS sebagai penjual mengalami kerugian, maka timbul beberapa
akibat yaitu:
a. Uang muka pembeli lebih besar dari kerugian riil yang dialami oleh LKS sebagai penjual
b. Uang muka pembeli lebih kecil dari kerugian riil yang dialami oleh LKS sebagai penjual
c. Atas pembatalan tersebut LKS sebagai penjual tidak mengalami kerugian riil
Untuk memberikan gambaran yang lengkap tentang uang muka ini dapat diberikan contoh sebagai berikut:
Contoh : 4-39
Tanggal 5 Januari 2007 Aminah membayar uang muka atas pembelian barang, sebagai tanda
keseriusannya dalam memesan untuk membeli barang kepada LKS Ridho Gusti sesuai kesepakatan
sebesar Rp20.000.000,00.
Atas pembayaran uang muka kepada LKS tersebut, Aminah sebagai pembeli melakukan jurnal
sebagai berikut:
Dr. Piutang Uang Muka Rp20.000.000,00
Cr. Kas / Rekening Bank Rp20.000.000,00
Atas jurnal tersebut akun-akun dan posisi keuangan (neraca) Aminah menjadi sebagai berikut:

PIUTANG UANG MUKA MURABAHAH


Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
05/01 LKS Ridho Gusti 20.000.000
Saldo 20.000.000
20.000.000 20.000.000

142 |Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


NERACA
Per 5 Januari 2007
Aktiva Pasiva
Uraian Jumlah Uraian Jumlah

Piutang Uang Muka Murabahah 20.000.000

1. Uang muka lebih besar dari kerugian yang dialami LKS sebagai penjual
Jika pesanan murabahah dibatalkan oleh pembeli dan atas pembatalan tersebut LKS sebagai penjual
mengalami kerugian, maka pembeli harus mengganti kerugian riil tersebut dai uang muka yang telah
dibayarkan. Hal tersebut ditentukan dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional nomor 13/DSN-
MUI/IX/2000 tentang Uang Muka Murabahah, mengatur ketentuan uang muka sebagai berikut:
Pertama: Ketentuan Umum Uang Muka:
3. Jika nasabah membatalkan akad murabahah, nasabah harus memberikan
ganti rugi kepada LKS dari uang muka tersebut.
5. Jika jumlah uang muka lebih besar dari kerugian, LKS harus mengembalikan
kelebihannya kepada nasabah.
PSAK 102 tentang Akuntansi Murabahah, paragraf 36 mengatur pengakuan dan pengukuran potongan
uang muka sebagai berikut:
36. Potongan uang muka akibat pembeli akhir batal membeli barang diakui sebagai kerugian.
Jadi jika potongan uang muka yang dilakukan oleh LKS sebagai penjual akibat kerugian riil yang
dialami, maka potongan tersebut oleh pembeli diakui sebagai kerugian. Kerugian riil yang dialami oleh
LKS sebagai penjual yang dipotongkan dari uang muka hendaknya dibuktikan dengan bukti-bukti yang
dapat dipertanggung jawabkan, sehingga tidak ada yang dirugikan.
Contoh: 4-40
Atas pembatalan pesanan murabahah yang dilakukan Aminah, LKS sebagai penjual mengalami
kerugian riil sebanyak Rp10.000.000,00 Kerugian tersebut dipotongkan dari uang muka dan sisanya
dikembalikan kepada Aminah pada tanggal 10 Januari 2007.
Atas pembatalan pesanan dan LKS mengalami kerugian tersebut, Aminah sebagai pembeli
melakukan jurnal sebagai berikut:
Dr. Kas / Rekening Bank Rp10.000.000,00
Dr. Kerugian Pesanan Murabahah Rp10.000.000,00
Cr. Piutang Uang Muka Rp20.000.000,00
Atas jurnal tersebut akun-akun dan posisi keuangan (neraca) Aminah menjadi sebagai berikut:
PIUTANG UANG MUKA MURABAHAH
Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
05/01 LKS Ridho Gusti 20.000.000 10/01 Pembatalan pesanan 20.000.00
Saldo 00
20.000.000 20.000.000

BEBAN KERUGIAN PESANAN MURABAHAH


Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
10/01 Pembatalan pesanan 10.000.000
Saldo 10.000.000
10.000.000 10.000.000

BAB IV. Akuntansi Murabahah | 143


NERACA
Per 10 Januari 2007
Aktiva Pasiva
Uraian Jumlah Uraian Jumlah
Kas 10.000.000 Laba Rugi Berjalan
Piutang Uang Muka Mrbh 00 Beban operasi lainnya (10.000.000)

2. Uang muka lebih kecil dari kerugian yang dialami oleh LKS sebagai penjual
Jika atas pembatalan yang dilakukan oleh pembeli, LKS sebagai penjual mengalami kerugian yang
lebih besar dari uang muka yang dibayar pembeli kepada penjual, maka pembeli harus membayar
kekurangan kerugian yang dialami oleh penjual.
Fatwa Dewan Syariah Nasional nomor 13/DSN-MUI/IX/2000 tentang Uang Muka Murabahah,
mengatur ketentuan uang muka sebagai berikut:
Pertama : Ketentuan Umum Uang Muka:
3. Jika nasabah membatalkan akad murabahah, nasabah harus memberikan ganti rugi
kepada LKS dari uang muka tersebut.
4. Jika jumlah uang muka lebih kecil dari kerugian, LKS dapat meminta tambahan
kepada nasabah.
Sesuai ketentuan tersebut di atas, jika uang muka yang telah diberikan kepada LKS sebagai penjual
lebih kecil dari kerugian riil yang dialami oleh LKS, maka pembeli dapat diminta untuk menambah
kekurangannya tersebut. Oleh karena itu kekurangan uang muka tersebut diakui sebagai kerugian oleh
pembeli.
Contoh: 4-41
Tanggal 10 Januarii 2007 LKS sebagai penjual menyampaikan bahwa stas pembatalan pesanan
murabahah yang dilakukan Aminah, LKS sebagai penjual mengalami kerugian riil sebanyak
Rp25.000.000,00. Kekurangan kerugian menjadi tanggung jawab Aminah sebagai pembeli untuk
melunasinya.
Atas transaksi tersebut, Aminah sebagai pembeli melakukan jurnal sebagai berikut:
Dr. Kerugian Pesanan Murabahah Rp25.000.000,00
Dr. Hutang LKS Rp 5.000.000,00
Cr. Piutang Uang Muka Rp20.000.000,00
Atas jurnal tersebut akun-akun dan posisi keuangan (neraca) Aminah menjadi sebagai berikut:

PIUTANG UANG MUKA MURABAHAH


Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
05/01 LKS Ridho Gusti 20.000.000 10/01 Pembatalan pesanan 20.000.00
Saldo 00
20.000.000 20.000.000

HUTANG KEPADA LKS


Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
10/01 Pembatalan pesanan 5.000.00
Saldo 5.000.000
5.000.000 5.000.000

144 |Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


BEBAN KERUGIAN PESANAN MURABAHAH
Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
10/01 Pembatalan pesanan 25.000.000
Saldo 25.000.000
25.000.000 25.000.000

NERACA
Per 10 Januari 2007
Aktiva Pasiva
Uraian Jumlah Uraian Jumlah

Kas Hutang LKS Ridho Gusti 5.000.000

Piutang Uang Muka Mrbh 00 Laba Rugi Berjalan


Beban operasi lainnya (25.000.000)
Jika atas kekurangannya dilakukan pembayaran oleh Aminah sebagai pembeli kepada LKS Ridho
Gusti sebagai penjual maka jurnal yang dilakukan oleh Aminah sebagai pembeli adalah sebagai berikut:
Dr. Hutang LKS Ridho Gusti Rp5.000.000,00
Cr. Kas/ Rek Bank Rp5.000.000,00
Jika atas kekurangan uang muka tersebut Aminah tidak bersedia untuk membayar kekurangannya
dan LKS Ridho Gusti menyetujui, maka jurnal yang dilakukan oleh Aminah sebagai penjual adalah
sebagai berikut :
Dr. Hutang LKS Ridho Gusti Rp5.000.000,00
Cr. Kerugian Pesanan Murabahah Rp5.000.000,00

4.4.3. Penerimaan barang dan pengakuan hutang harga barang


Dalam transaksi murabahah yang diperjual belikan adalah barang (bukan uang). LKS sebagai
penjual menyediakan barang untuk dilakukan jual beli. Dalam transaksi murabahah, bagi nsaabah sebagai
pembeli menerima barang yang diperjualbelikan (bukan uang untuk membeli barang). Oleh karena itu
dalam murabahah dengan pembayaran tangguh hutang nasabah sebagai pembeli kepada LKS sebagai
penjual adalah hutang atas harga barang yang diperjual belikan (bukan hutang uang). Dalam Lembaga
Keuangan perbankan konvensional dikenal adalanya hutang pokok dan hutang bunga, oleh karena yang
diterima nasabah adalah uang untuk membeli barang dan atas uang tersebut diperhitungkan bunga seiring
dengan sisa uang yang dipergunakan oleh nasabah.
Dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional dijelaskan hutang pembeli kepada LKS sebagai penjual tidak
mengenal hutang pokok dan hutang margin. Pada saat akad murabahah ditandatangani hutang pembeli
adalah sebesar harga jual yang telah disepakati dari barang yang diperjual belikan. Hutang pembeli tidak
terkait dengan transaksi lain, artinya begitu akad ditandatangani kemudian beberapa hari kemudian dilunasi
maka yang terhutang (yang harus dilunasi) oleh pembeli tetap sebesar hutang pembeli (sebesar harga jual
barang). Bahkan selesai akad ditandatangani pembeli menjual barang yang dibeli, maka bagi pembeli tidak
ada kewajiban untuk segera melunasi hutangnya.
Hal ini diatur secara rinci dan tegas dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor 04/DSN-
MUI/IV/2000 tentang Murabahah, menjelaskan hutang dalam murabahah sebagai berikut:
Keempat : Hutang dalam Murabahah:
1. Secara prinsip, penyelesaian hutang nasabah dalam transaksi murabahah tidak ada
kaitannya dengan transaksi lain yang dilakukan nasabah dengan pihak ketiga atas
barang tersebut. Jika nasabah menjual kembali barang tersebut dengan keuntungan
atau kerugian, ia tetap berkewajiban untuk menyelesaikan hutangnya kepada Bank.

BAB IV. Akuntansi Murabahah | 145


2. Jika nasabah menjual barang tersebut sebelum masa angsuran berakhir, ia tidak
wajib segera melunasi seluruh angsurannya.
3. Jika penjualan barang tersebut menyebabkan kerugian, nasabah tetap harus
menyelesaikan hutangnya sesuai kesepakatan awal. Ia tidak boleh memperlambat
pembayaran angsuran atau meminta kerugian itu diperhitungkan.
Berkaitan dengan penerimaan barang dan pengakuan hutang harga barang, diatur dalam PSAK 102
tentang Akuntansi Murabahah, paragraf 31 sampai dengan 33, sebagai berikut:
31. Hutang yang timbul dari transaksi murabahah tangguh diakui sebagai hutang murabahah sebesar harga
beli yang disepakati (jumlah yang wajib dibayarkan).
32. Aset yang diperoleh melalui transaksi murabahah diakui sebesar biaya perolehan murabahah tunai.
Selisih antara harga beli yang disepakati dengan biaya perolehan tunai diakui sebagai beban murabahah
tangguhan.
33. Beban murabahah tangguhan diamortisasi secara proporsional dengan porsi hutang murabahah.
Harga jual barang yang dibeli dan pembayarannya dilakukan dengan tangguh dicatat sebagai
“hutang Murabahah” sebesar harga jual barang, dan harga peroleh barang yang dibeli dicatat dalam “Aset
(persediaan atau aktiva tetap)” sedangkan selisihnya dicatat dalam “Beban Murabahah Tangguhan” dan
diamortisir selama jangka waktu akad. Beben Murabahah Tangguhan disajikan sebagai pengurang Hutang
Murabahah.
Bagi nasabah sebagai pembeli hutang tersebut merupakan hutang atas harga barang atau harga jual
barang yang belum dibayar, oleh karena itu tidak ada pembagian hutang pokok atau hutang margin dan
sifat dari hutang tersebut adalah tetap kecuali dibayar. Untuk memberikan gambaran hubungan harga jual
dengan hutang dapat dilihat dalam gambar berikut:

Gambar 4-7 : harga jual dan hutang nasabah


Dari ilustrasi gambar di atas jelas bahwa negosiasi harga jual dilakukan sebelum akad ditanda
tangani, dan jika harga jual disepakati dan akan murabahah ditanda tangani serta pembayaran harga
barangnya dilakukan setelah akad ditandatangani maka timbulnya adalah hutang yang memiliki sifat tetap
kecuali dibayar.
Contoh : 4-42
Pada tanggal 16 Pebruari 2007 Aminah dan LKS Ridho Gusti melakukan jual beli Mobil Kijang
dengan harga jual yang disepakati sebesar Rp164.000.000,00 dan keuntungan sebesar
Rp24.000.000,00. LKS Ridho Gusti memberitahukan harga pokok Mobil Kijang pokok sebesar
Rp140.000.000,00. Sebagai tanda keriusan atas jual beli tersebut Aminah memberikan uang muka
kepada LKS Ridho Gusti sebesar Rp20.000.000,00 Pembayaran disepakati dengan cara angsuran
sesuai kesepakatan antara penjual dan pembeli.

146 |Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


Atas jual beli murabahah tersebut Aminah melakukan jurnal sebagai berikut:
Dr. Aset/Persediaan Rp140.000.000,00
Dr. Beban Tangguhan Murabahah Rp 24.000.000,00
Cr. Hutang Murabahah Rp164.000.000,00
Uang muka sebagai pengurang hutang pembeli, sehingga oleh Aminah sebagai pembeli melakukan
jurnal sebagai berikut:
Dr. Hutang Murabahah Rp20.000.000,00
Cr. Piutang Uang Muka Murabahah Rp20.000.000,00
Atas transaksi dan jurnal-jurnal tersebut di atas, posisi akun dan neraca Aminah adalah sebagai berikut:
ASET/PERSEDIAAN
Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
16/02 Pembelian 140.000.000
Saldo 140.000.000
140.000.000 140.000.000

HUTANG MURABAHAH
Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
16/02 Uang muka Mrbh 20.000.000 16/02 Bank Syariah “x” 164.000.000
Saldo 144.000.000
164.000.000 164.000.000

BEBAN MURABAHAH TANGGUHAN


Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
16/02 Bank Syariah “X” 24.000.000
Saldo 24.000.000
24.000.000 24.000.000

PIUTANG UANG MUKA MURABAHAH


Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
05/01 Bank Syariah X 20.000.000 16/02 Bank Syariah “X” 20.000.000
Saldo 0
20.000.000 20.000.000

NERACA
Per 16 Februari 2007
Aktiva Pasiva
Uraian Jumlah Uraian Jumlah
Aktva (aktiva Tetap) 140.000.000 Hutang Murabahah 144.000.000
Piutang Uang Muka Mrbh 0 Beban Tangguhan Murabahah (24.000.000)

BAB IV. Akuntansi Murabahah | 147


4.4.4 Penerimaan diskon harga barang
Dalam pembelian barang yang dilakukan oleh LKS dimungkinkan untuk memperoleh diskon
pemasok atas pembelian barang tersebut. Jika Lembaga Keuangan Syariah memperoleh diskon dari
pemasok maka sangat diperlukan kejujuran dari LKS untuk menyampaikan diskon tersebut kepada
nasabah sebagai pembeli, khususnya diskon yang diperoleh sebelum akad murabahah disepakati antara
LKS sebagai penjual dan nasabah sebagai pembeli. Jika diskon diperoleh sebelum akad ditanda tangani
oleh LKS sebagai penjual harus diakui sebagai pengurang harga perolehan barang dan LKS harus
memberitahukan dengan jujur harga perolehan barang. Jadi kalau tidak ada kejujuran oleh LKS sebagai
penjual tentang hal ini, nasabah sebagai pembeli tidak akan mengetahui diskon tersebut Jika nasabah
sebagai pembeli memperoleh diskon setelah akad murabahah disepakati, dan pembayaran harga barang
dilakukan dengan tangguh, maka diskon tersebut diakui sebagai pengurang beban tangguhan murabahah
(tidak diperkenankan diakui sebagai pendapatan).
Dalam PSAK102 tentang Akuntansi Murabahah, paragraf 34 dijelaskan ketentuan tentang diskon
yang diperoleh setalah akad murabahah, diatur sebagai berikut :
34. Diskon pembelian yang diterima setelah akad murabahah, potongan pelunasan dan potongan hutang
murabahah sebagai pengurang beban murabahah tangguhan.
Contoh : 4-43
Atas transaksi jual beli Murabahah atas mobil Kijang yang dilakukan oleh LKS Ridho Gusti dengan
Aminah diperoleh diskon dari pemasok sebesar Rp5.000.000,00 (setelah akad ditanda tangani antara
LKS Ridho Gusti dan Aminah).
Dr. Kas / Rekening Bank Rp5.000.000,00
Cr. Diskon Murabahah Rp5.000.000,00
Sesuai ketentuan dalam paragraf 33 PSAK 102 tentang Akuntansi Murabahah, diskon murabahah
sebesar Rp5.000.000,00 yang diperoleh oleh Aminah setelah akad murabahah ditandatangani merupakan
pengurang beban tangguhan murabahah (tidak dikategorikan sebagai pendapatan).

4.4.5 Pembayaran harga barang


Jika akad murabahah disepakati, maka pada dasarnya hutang nasabah sebagai pembeli adalah
sebesar harga jual barang yaitu harga perolehan ditambah dengan keuntungan yang disepakati. Jika
nasabah sebagai pembeli memberikan uang muka maka uang muka tersebut diakui sebagai pengurang
hutang nasabah sebagai pembeli kepada LKS sebagai penjual.
Aminah sepakat pembayaran harga barang dilakukan secara tangguh dalam jangka waktu 10 bulan,
yaitu sampai dengan 16 Desember 2007 dengan pembayaran angsuran sebagai berikut:
1. 16 Maret 2007 sebesar Rp60.000.000,00
2. 15 Agustus 2007 sebesar Rp45.000.000,00
3. 15 Desember 2007 sebesar Rp39.000.000,00

4.4.6 Pembayaran Angsuran


Pembayaran angsuran hutang murabahah besarnya dan dilakukan sesuai kesepakatan antara
Lembaga Keuangan Syariah (LKS Ridho Gusti) dengan pembeli (Aminah) yang secara umum didasarkan
pada kemampuan membayar hutang oleh pembeli. Bagi pembeli dalam pembayaran hutang adalah
pembayaran hutang atas harga jual barang, oleh karena itu tidak dikenal hutang pokok atau hutang margin.
Berapapun besarnya pembayaran yang dilakukan merupakan penguran dari hutang murabahah.
Contoh : 4-44
Pada tanggal 16 Maret 2007 Aminah melakukan pembayaran hutang Murabahah yang telah jatuh
tempo pada tanggal tersebut sebesar Rp60.000.000,00.

148 |Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


Atas pembayaran hutang murabahah tersebut Aminah sebagai pembeli melakukan jurnal sebagai berikut:
(1) Dr. Hutang Murabahah Rp60.000.000,00
Cr. Kas / Rekening Bank Rp60.000.000,00
(2) Dr. Beban Murabahah Rp10.000.000,00
Cr. Beban Murabahah Tangguhan Rp10.000.000,00
Sesuai ketentuan dalamPSAK 102 tentang Akuntansi Murabahah, paragraf 32 menyatakan bahwa
beban murabahah tangguhan diamortisasi secara proporsional dengan porsi hutang murabahah. Oleh
karena itu Dengan telah dilakukannya pembayaran angsuran hutang murabahah, maka beban tangguhan
diamortisasi sebesar :
24.000.000
Beban Murabahah = --------------- X Rp60.000.000 = Rp10.000.000
144.000.000
Atas transakis dan jurnal tersebut di atas posisi akun dan neraca Aminah adalah sebagai berikut:

HUTANG MURABAHAH
Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
15/02 Uang muka Mrbh 20.000.000 16/02 LKS Ridho Gusti 164.000.000
16/03 Angsuran ke-1 60.000.000
Saldo 84.000.000
164.000.000 164.000.000

BEBAN MURABAHAH TANGGUHAN


Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
16/02 LKS Ridho Gusti 24.000.000 16/03 Angsuran ke-1 10.000.000
Saldo 14.000.000
24.000.000 24.000.000

NERACA
Per 16 Maret 2007
Aktiva Pasiva
Uraian Jumlah Uraian Jumlah
Aktva (aktiva Tetap) 140.000.000 Hutang Murabahah 84.000.000
Piutang Uang Muka Mrbh 0 Beban Tangguhan Murabahah (14.000.000)

A. Angsuran telah jatuh tempo belum dibayar


Dalam akuntansi syariah mempergunakan asumsi akrual, sehingga pada saat jatuh tempo dan belum
dilakukan pembayaran harus dicatat beban yang menjadi tanggungan pada periode tersebut.
Contoh: 4-45
Atas hutang murabahah pada LKS Ridho Gusti, karena sesuatu hal Hj.Aminah tidak dapat
membayar angsuran kedua yang telah jatuh tempo pada tanggal 15 Agustus 2007 sebesar
Rp45.000.000,00.
Atas transaksi tersebut Hj.Aminah melakukan jurnal sebagai berikut:
(1) Dr. Hutang Murabahah Jatuh Tempo Rp45.000.000,00
Cr. Hutang Murabahah Rp45.000.000,00
(2) Dr. Beban Murabahah Rp7.500.000,00
Cr. Beban Murabahah Tangguhan Rp7.500.000,00

BAB IV. Akuntansi Murabahah | 149


Dalam angsuran hutang yang telah jatuh tempo terkandung beban murabahah yang harus dicatat
dan disajikan dalam Laporan Laba Rugi sebagai beban Murabahah. Besarnya beban murabahah yang
diakui dari angsuran hutang murabahah yang telah jatuh tempo adalah:
24.000.000
Beban Murabahah = -------------- X Rp45.000.000 = Rp7.500.000
144.000.000
Atas transaksi dan jurnal tersebut di atas, posisi akun dan neraca Aminah adalah sebagai berikut:

HUTANG MURABAHAH
Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
15/02 Uang muka Mrbh 20.000.000 16/02 LKS Ridho Gusti 164.000.000
16/03 Angsuran ke-1 60.000.000
15/08 Angsuran ke-2 JT 45.000.000
Saldo 39.000.000
164.000.000 164.000.000

HUTANG MURABAHAH JATUH TEMPO.


Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
15/08 Angsuran ke-2 45.000.000

Saldo 45.000.000
45.000.000 45.000.000

BEBAN MURABAHAH TANGGUHAN


Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
16/02 LKS Ridho Gusti 24.000.000 16/03 Angsuran ke-1 10.000.000
15/08 Angsuran ke-2 7.500.000
Saldo 6.500.000
24.000.000 24.000.000

NERACA
Per 15 Agustus 2007
Aktiva Pasiva
Uraian Jumlah Uraian Jumlah
Aktva (aktiva Tetap) 140.000.000 Hutang Murabahah 39.000.000
Piutang Uang Muka Mrbh 0 Beban Tangguhan Murabahah (6.500.000)
Hutang Murabahah Jatuh Tempo 45.000.000

B. Pembayaran sebagian Angsuran Jatuh Tempo


Walaupun jadwal angsuran telah ditetapkan, tidak menutup kemungkinan pembayaran hutang
murabahah hanya dapat dilakukan sebagian oleh pembeli. Hal ini didasarkan pada kemampuan riil pada
saat itu dalam melakukan pembayaran.
Contoh.: 4-46
Atas angsuran kedua yang telah jatuh tempo tanggal 15 Agustus 2007 sebesar Rp45.000.000,00
Aminah pada tanggal 25 Agustus 2007 melakukan pembayaran angsuran sebagian hutang
murabahah dengan LKS Ridho Gusti sebesar Rp30.000.000,00.
Atas transaksi tersebut di atas Aminah melakukan jurnal sebagai berikut :
Dr. Hutang Murabahah Jatuh Tempo Rp30.000.000,00
Cr. Kas / Rekening Bank Rp30.000.000,00

150 |Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


Atas transaksi dan jurnal tersebut di atas, posisi akun dan neraca Aminah adalah sebagai berikut :

HUTANG MURABAHAH JATUH TEMPO


Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
25/08 Sebagian angs ke-2 30.000.000 15/08 Angsuran ke-2 45.000.000
Saldo 15.000.000
45.000.000 45.000.000

NERACA
Per 25 Agustus 2007
Aktiva pasiva
Uraian Jumlah Uraian Jumlah
Aktva (aktiva Tetap) 140.000.000 Hutang Murabahah 39.000.000
Piutang Uang Muka Mrbh 0 Beban Tangguhan Murabahah (6.500.000)
Hutang Mrbh Jatuh Tempo 15.000.000

Jika pada tanggal 30 Agustus Aminah melunasi sisa kewajibannya keduanya, maka jurnal yang
dilakukan sama dengan di atas.

C. Potongan angsuran hutang murabahah


Lembaga Keuangan syariah sebagai penjual dapat memberikan potongan angsuran hutang nasabah,
bagi nasabah yang berprestasi atau ketidak memampuan. Bagi nasabah sebagai pembeli potongan angsuran
yang diterima akui sebagai pengurang beban murabahan.
Contoh : 4-47
Misalnya atas pembayaran hutang murabahah (angsuran murabahah) kepada LKS Ridho Gusti,
tanggal 15 Agustus 2007 sebesar Rp45.000.000,00 oleh LKS Ridho Gusti memberikan potongan
sebesar Rp1.000.000,00.
Atas pemberian potongan angsuran oleh LKS Ridho Gusti tersebut, Aminah melakukan jurnal
sebagai berikut:
1. Jurnal alternatif pertama:
(a) Dr. utang Murabahah Rp45.000.000
Cr. Kas Rp45.000.000
(b) Dr. Beban Murabahah Rp7.500.000
Cr. Beban Murabahah Tangguhan Rp7.500.000
(c) Dr. Kas Rp1.000.000
Cr. Beban Murabahah Rp1.000.000
2. Jurnal Alternatif kedua:
Dr. Hutang Murabahah Rp45.000.000
Dr. Beban Murabahah Rp 6.500.000
Cr. Beban Murabahah Tanggungan Rp 7.500.000
Cr. Kas Rp44.000.000

4.4.7. Penerimaan potongan pelunasan harga barang


Pada dasarnya kewajiban pembeli dalam melakukan pembayaran hutang murabahah adalah sebesar
sisa kewajibannya. Apabila pembeli melakukan pelunasan sebelum jatuh tempo, yang harus dibayar
pembeli (Hj.Aminah) kepada Lembaga Keuangan Syariah (LKS Ridho Gusti) adalah sebesar sisa
kewajibannya. Lembaga Keuangan Syariah dapat memberikan potongan atas pelunasan hutang

BAB IV. Akuntansi Murabahah | 151


murabahah. Hal ini dimungkinan karena dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional nomor 23/DSN-
MUI/III/2002 tentang Potongan Pelunasan Dalam Murabahah mengatur hal tersebut sebagai berikut:
1. Jika nasabah dalam transaksi murabahah melakukan pelunasan pembayaran tepat waktu atau
lebih cepat dari waktu yang telah disepakati, LKS boleh memberikan potongan dari kewajiban
pembayaran tersebut, dengan syarat tidak diperjanjikan dalam akad
2. Besar potongan sebagaimana dimaksud di atas diserahkan pada kebijakan dan pertimbangan
LKS.
Contoh : 4-48
Aminah tanggal 30 Oktober 2007 (sebelum jatuh tempo 15 Desember 2007) melakukan pelunasan
seluruh sisa hutangnya pada LKS Ridho Gusti sebesar Rp54.000.000,00 yaitu sisa angsuran kedua
sebesar Rp15.000.000,00 dan angsuran ketiga sebesar Rp39.000.000,00. Atas pelunasan tersebut
LKS Ridho Gusti memberikan potongan pelunasan sebesar Rp2.000.000,00.
Atas transaksi tersebut di atas jurnal yang dilakukan oleh Aminah sebagai pembeli adalah sebagai berikut:
(1) Dr. Hutang Murabahah Rp39.000.000,00
Dr. Hutang Murabahah jatuh Tempo Rp15.000.000,00
Cr. Kas / Rekening Bank Rp54.000.000,00
(2) Dr. Beban Murabahah Rp6.500.000,00
Cr. Beban Murabahah Tangguhan Rp6.500.000,00
(3) Dr. Kas/ rekening Bank Rp2.000.000,00
Cr. Potongan Pelunasan Hutang Murabahah Rp2.000.000,00
Atas transaksi dan jurnal tersebut di atas, posisi akun dan neraca Aminah adalah sebagai berikut:

HUTANG MURABAHAH
Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
15/02 Uang muka Mrbh 20.000.000 16/02 Bank Syariah “x” 164.000.000
16/03 Angsuran ke-1 60.000.000
15/08 Angsuran ke-2 JT 45.000.000
30/10 Pelunasan 39.000.000
Saldo 0
164.000.000 164.000.000

HUTANG MURABAHAH JATUH TEMPO


Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
25/08 Sebagian angs ke-2 30.000.000 15/08 Angsuran ke-2 45.000.000
30/10 Pelunasan 15.000.000
Saldo 0
45.000.000 45.000.000

BEBAN MURABAHAH TANGGUHAN


Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
16/02 Bank Syariah “X” 24.000.000 16/03 Angsuran ke-1 10.000.000
15/08 Angsuran ke-2 7.500.000
30/10 Pelunasan 6.500.000
Saldo 0
24.000.000 24.000.000

152 |Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


NERACA
Per 30 Oktober 2007
Aktiva Pasiva
Uraian Jumlah Uraian Jumlah
Aktva (aktiva Tetap) 140.000.000 Hutang Murabahah 0
Piutang Uang Muka Murabahah 0 Beban Tangguhan Murabahah 0
Hutang Murabahah Jatuh Tempo 0

4.4.8 Pembayaran denda


Denda dalam transaksi murbahah dikenakan kepada nasabah yang mampu tetapi tidak mau untuk
melaksanakan kewajibannya dan dana yang diterima dari denda tersebut akan diserahkan sebagai dana
kebajikan. Dalam PSAK 102 tentang Akuntansi Murabahah, paragraf 35 diatur tentang denda sebagai
berikut:
35. Denda yang dikenakan akibat kelalaian dalam melakukan kewajiban sesuai dengan akad diakui
sebagai kerugian.
Contoh : 4-49
Aminah dan Ridho Gusti sepakat apabila terlambat dalam membayar angsuran akan dikenakan
denda sebesar Rp500.000,00 . Dana yang diterima atas denda tersebut yang dananya akan
disetorkan oleh LKS Ridho Gusti ke Dana Kabijakan (sosial) atas nama Aminah.
Atas pengenaan dengan oleh LKS tersebut, Aminah sebagai pembeli melakukan jurnal sebagai berikut:
Dr. Beban denda Murabahah Rp500.000
Cr. Kas / Rekening Bank Rp500.000

4.4.9 Wakil LKS untuk membeli barang


Dalam praktek banyak Lembaga Keuangan Syariah yang tidak terlibat dalam pengadaan barang,
Bank menyediakan uang atau memberikan uang kepada nasabah, dengan alasan nasabah sebagai wakil
Bank syariah untuk membeli barang kebutuhannya sendiri. Berkaitan dengan hal ini Fatwa DSN :
04/DSN-MUI/IV/2000 tentang Murabahah menyatakan sebagai berikut:
Jika Bank mewakilkan kepada nasabah untuk membeli barang dari pihak ketiga, akad jual beli
murabahah harus dilakukan setelah barang, secara prinsip, menjadi milik Bank
Dari fatwa ini jelas bahwa Bank syariah tidak diperkenankan untuk melakukan akad murabahah
kalau barangnya tidak ada, karena timbul gharar (ketidak jelasan barang yang diperjualbelikan). Hal ini jelas
haditsnya yang mengatakan tidak diperkenankan untuk menjual burung yang masih terbang, menjual ikan
dalam lautan dan menjual akan binatang dalam kandungan. Saat Bank syariah menyerahkan uang sebagai
wakil Bank syariah, maka akad yang dipergunakan adalah akad wakalah. Setelah barang ada, baru dilakukan
akad murabahah. Untuk memberikan ilustrasi murabahah yang diwakilkan kepada nasabah, diberikan
ilustrasi contoh berikut:
Contoh :4:50
Bank Syariah melakukan transaksi murabahah dengan Aminah atas Mobil Inova dengan harga
mobil Rp120.000.000,00. Keuntungan disepakati sebesar Rp25.200.000,00. Pembayaran dilakukan
secara tangguh selama satu tahun. Bank Syariah menyerahkan uang ke Aminah sebesar
Rp120.000.000,00 sbg wakil Bank Syariah untuk membeli mobil Inova untuknya.
Dari contoh di atas Aminah sebagai pihak yang mewakili untuk membeli aset murabahah dalam
melakukan jurnal sebagai berikut:
1. Pada saat diterima uang dari Lembaga Keuangan Syariah sebesar Rp120.000.000,00 sebagai wakil
Lembaga Keuangan Syariah untuk membeli barang dilakukan jurnal sebagai berikut:

BAB IV. Akuntansi Murabahah | 153


Dr. Kas/Rekening Bank Rp120.000.000,00
Cr. Hutang Wakalah Rp120.000.000,00
2. Pada saat dilaksanakan pembelian barang sebesar Rp120.000.000,00 dilakukan jurnal sebagi berikut:
Dr. Barang Konsinyasi Rp120.000.000,00
Cr. Kas / Rekening Bank Rp120.000.000,00
Barang yang telah dibeli tersebut dicatat dalam ”Barang Konsinyasi” karena barang tersebut belum
menjadi milik nasabah, karena belum dilakukan akad murabahah, sehingga jika sampai dengan
tutup buku barang tersebut belum diserahkan dicatat sebagai aktiva lainnya.
3. Pada saat dilakukan penyerahan barang kepada Lembaga Keuangan Syariah dilakukan jurnal sebagai
berikut:
Dr. Hutang wakalah Rp120.000.000
Cr. Barang Konsinyasi Rp120.000.000

4.4.10 Akuntansi utang piutang murabahah bermasalah


Bagi nasabah sebagai pihak yang memiliki hutang kepada Lembaga Keuangan Syariah, maka
diperlakukan akuntansi sebagaimana melakukan pembayaran angsuran atau harga barang yang
diperjualbelikan, karena dapa prinsipnya berapapun yang dibayar oleh nasabah sebagai pembeli atau pihak
yang berhutang adalah melakkukan pembayaran hutang tanpa membedakan pembayaran pokok atau
margin.

4.5. Penyajian dan Pengungkapan Murabahah

Dalam PSAK 102 tentang Akuntansi Murabahah telah dijelaskan hal-hal yang terkait dengan
penyajian dan pengungkapan transaksi murabahah, dan dalam bab ini telah disajikan dalam butir yang
dibahas untuk memberikan gambaran yang lengkap atas transaksi tersebut.
Dalam PSAk 102 tentang akuntansi Murabahah dijelaskan hal-hal yang perlu disajikan dalam
transaksi murabahah sebagai berikut:
27. Piutang murabahah disajikan sebesar nilai bersih yang dapat direalisasikan, yaitu saldo piutang
murabahah dikurangi penyisihan kerugian piutang.
28. Margin murabahah tangguhan disajikan sebagai pengurang (contra account) piutang murabahah.
29. Beban murabahah tangguhan disajikan sebagai pengurang (contra account) hutang murabahah.
Dalam PSAk 102 tentang akuntnsi Murabahah dijelaskan hal-hal yang perlu diungkapkan atas
transaksi murabahah sebagai berikut:
30. Penjual mengungkapkan hal-hal yang terkait dengan transaksi murabahah, tetapi tidak terbatas pada:
(a) harga perolehan aset murabahah;
(b) janji pemesanan dalam murabahah berdasarkan pesanan sebagai kewajiban atau bukan; dan
(c) pengungkapan yang diperlukan sesuai PSAK 101: Penyajian Laporan Keuangan Syariah.
31. Pembeli mengungkapkan hal-hal yang terkait dengan transaksi murabahah, tetapi tidak terbatas pada:
(a) nilai tunai aset yang diperoleh dari transaksi murabahah;
(b) jangka waktu murabahah tangguh.
(c) pengungkapan yang diperlukan sesuai PSAK 101: Penyajian Laporan Keuangan Syariah.

154 |Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


4.6. Pertanyaan dan Soal

4.6.1 Pertanyaan
1. Sebagian besar penyaluran dana yang dilakukan oleh Lembaga Keuangan Syariah, khususnya
perBankan mempergunakan prinsip jual beli murabahah.
a. Jelaskan dengan rinci dan lengkap pengertian, jenis murabahah?
b. Jelaskan karakteritik murabahah sebagaimana dimaksud dalam Fatwa DSN dan PSAK 102
tentang Akuntansi Murabahah
2. PSAK 102 mengatur tentang Akuntansi Murabahah, baik untuk penjual maupun untuk pembeli.
a. Jelaskan cakupan PSAK 102 tentang Akuntansi Murabahah?
b. Jelaskan kapan mempergunakan akuntansi penjual dan akuntansi pembeli?
3. Lembaga Keuangan Syariah sebagai penjual bertanggung jawab untuk pengadakan barang yang akan
diperjual belikan.
a. Jelaskan aturan dan pengakuan serta pengukuran diskon yang diterima dari pemasok ?
b. Jelaskan aturan dan pengakuan serta pengukuran uang muka murabahah yang diterima dari
pembeli?
4. Dalam murabahah dengan pembayaran tangguh, hutang nasabah sebesar harga jual.
a. Jelaskan karakteristik hutang dalam murabahah?
b. Jelaskan mengapa selama jangka waktu akad harga jual murabahah tidak boleh berubah?
5. Dalam transaksi murabahah tidak selalu pembayaran dilakukan dengan lancar sesuai dengan yang
disepakati.
a. Jelaskan aturan tentang langkah-langkah dalam menangani piutang bermasalah?
b. Jelaskan aturan penanganan agunan murabahah atas piutang bermasalah?
6. Dalam transaksi murabahah metode perhitungan dan pengakuan keuntungan murabahah tidak sama.
a. Jelaskan metode perhitungan keuntungan murabahah yang anda ketahui?
b. Jelaskan metode pengakuan keuntungan murabahah sebagaimana diatur dalam PSAK 102
tentang akuntansi murabahah?

5.6.2 Soal
Soal satu
Tanggal (2008) Transaksi
15 Juli Bank Syariah membeli mobil atas pesanan Tuan Abdullah dari PT Toyota Motor
dengan harga mobil Rp182.490.000,00 dan atas pembelian mobil tersebut PT
Toyota Motor memberikan potongan harga Rp15.000.000,00
15 Juli Bank Syariah menjual kembali mobil tersebut kepada Abdullah seharga
Rp227.167.090 yang pembayarannya dilakukan secara angsuran selama 36 bulan
sebesar Rp6.310.220
15 Oktober Abdullah tidak melakukan pembayaran angsuran bulan Nopermber dan baru
melakukan pembayaran angsuran tanggal 05 Nopember
15 Nopember Abdullah melakukan pembayaran angsuran bulan tersebut sebesar Rp6.310.200
dan dilakukan dengan memdebet rekening yang bersangkutan
15 Desember Abdullah tidak melakukan pembayaran angsurannya dan tanggal 10 Januari 2009
dilakukan pelunasannya hutangnya dan atas pelunasan tersebut Bank
memberikan muqasah Rp20.000.000,00
Pertanyaan :
1. Buatlah jurnal atas transaksi tersebut dengan metode konsep dasar kas (cash basis) dan konsep
dasar akrual (accrual basis).

BAB IV. Akuntansi Murabahah | 155


Soal kedua
Tuan Zakaria mengajukan permohonan kepada Bank Syariah untuk dapat membelikan mobil
Kijang LGX tahun 2000. Setelah mendapat pesanan tersebut Bank syariah membeli mobil kijang
tersebut ke Toyota Auto 2000 dengan harga Rp120 juta on the road dan harganya telah disampaikan
kepada Tuan Zakaria. Atas pembelian mobil itu Tuan Zakaria akan melakukan pembayaran secara
cicilan untuk jangka waktu 12 bulan dan telah disepakati keuntungan Bank Syariah sebesar Rp30 juta.
Pertanyaan buatlah jurnal atas :
1. Pembelian mobil dari dealer
2. Jual beli mobil kepada nasabah dengan Bank Syariah
3. Pembayaran angsuran oleh nasabah
4. Pembayaran denda (jika nasabah melakukan kelalaian – misalnya Rp10.000,00)
5. Pembayaran pelunasan jual beli pada angsuran ke 7 dan nasabah mendapatkan muqasah sebesar
Rp7.000.000,00
Soal ketiga
Bank syariah Amanah melakukan transaksi dengan nasabahnya yaitu menjual mobil dengan
harga barang Rp250.000.000,00 Atas transaksi tersebut nasabah memberikan uang muka sebesar
Rp150.000.000,00. Bank dan nasabah sepakat keuntungan Bank sebesar Rp20.000.000,00 dan Bank
mengenakan beban administrasi sebesar Rp100.000,00 Atas jual beli tersebut nasabah melakukan
pembayaran secara angsuran sebanyak sepuluh kali.
Atas pesanan dari nasabah tersebut Bank syariah melakukan pemesanan kepada delaer dengan
uang muka sebesar Rp1.000.000,00 dengan ketentuan jika batal uang muka hangus.
Pada angusuran ke 6 nasabah melakukan pelunasan dan Bank syariah memberikan potongan
sebesar Rp5.000.000,00.
Diminta:
a. Buatkan jurnal transaksi mulai dari penerimaan uang muka hingga pelunasan
b. Buatlah jurnal transaksi pembatalan pemesanan oleh nasabah
- jika Bank syariah membatalkan pemesanan kepada delaer
- jika Bank syariah tidak membatalkan pemesanan ke dealer
c. Buatlah jurnal pelunasan dipercepat, jika nasabah melakukan pelunasan keseluruhan hutangnya
pada angsuran ke 6
Soal keempat
Dari catatan administrasi Bank Syariah diketahui data-data sebagai berikut:
Tanggal Keterangan
02 April Bank Syariah melakukan pembelian dengan tunai sebuah sepeda seharga Rp7.500.000,00
Atas pembelian tersebut toko sepeda memberikan rabat sebesar Rp500.000,00
05 April Bank Syariah melakukan transaksi jual beli sepeda dengan akad murabahah, dan
disepakati keuntungan sebesar Rp1.000.000,00 Nasabah telah menyerahkan uang muka
kepada Bank sebesar Rp2.000.000,00. Nasabah akan melakukan pembayaran secara
cicilan selama 10 bulan dan pembayaran angsuran dilakukan setiap tanggal 5
05 Juli Karena kelalaiannya nasabah tidak melakukan pembayaran angsuran dan atas
kelalaiannya tersebut Bank syariah mengenakan denda sebesar Rp50.000.,00
Sept Nasabah melunasi seluruh hutangnya dan atas pelunasan tersebut Bank syariah
memberikan potongan pelunasan sebesar Rp100.000,00
Pertanyaan
Buatlah perhitungan dan jurnal seluruh transaksi murabahah tersebut di atas.

156 |Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


Soal kelima
Bank Syariah Baitul Ummah melakukan transaksi jual beli alat-alat kedokteran dengan dr.
Achmad Fajri penyerahan dilakukan di rumah dokter, dengan data-data sebagai berikut:
Harga alat-alat kedokteran sebesar Rp137,5 juta dan atas pembelian tersebut suplier
memberikan potongan sebesar Rp2,5 juta, ongkos angkut yang harus dibayar oleh Bank syariah
sebesar Rp5 juta. Sebgaai tanda keseriusan dokter Achmad Fajri memberikan uang muka sebesar
Rp40 juta dan atas jual beli alat kedokteran tersebut disepakati keuantungan sebesar Rp20 juta.
Pembayaran yang dilakukan oleh dr Achmad Fajri dilakukan secara cicilan selama 10 kali angsuran.
Pada angsuran yang ke 6 dr Achmad Fajri melakukan pelunasan seluruh hutangnya dan atas
pelunasan tersebut Bank Syariah Baitul Ummah memberikan potongan sebesar Rp5 juta.
Pertanyaan.
Buatlah perhitungan dan jurnal atas transaksi tersebut.
Soal ke-enam
LKS Baitul Ridho menerima pesanan barang H. Sualiman berupa mesin penggilingan gabah
merk Kubota 70 PK. Atas pesanan tersebut LKS Baitul Rdiho pada tanggal 05 April 2008 membeli
barang tersebut dengan harga barang sebesar Rp120.000.000,00 (seratus juta rupiah) dan atas
pembelian itu LKS Baitul Ridho mendapat diskon 5% dari harga barang. Beban lain yang dikeluarkan
sehubungan dengan pembelian barang tersebut sebesar Rp5.000.000,00 Atas pembelian tersebut
Baitul Ridho membayaran uang muka kepada pemasok sebesar Rp20.000.000,00.
Tanggal 10 April 2008 Baitul Ridho melakukan akad murabahah dengan H. Sualiman dengan
data-data sebagai berikut:
1. H. Sualiman membayar uang muka kepada LKS Baitul Rdho sebesar Rp19.000
2. Keuntungan yang disepakati 20%
3. Pembayaran dilakukan secara angsuran merata selama 5 kali.
Diminta : Buatlah jurnal dan perhitungan
a. Pembayaran uang muka yang dilakukan oleh Baitul Ridho
b. Penerimaan barang dan diskon yang diterima dari pemasok
c. Penerimaan uang muka dari H Sualiman oleh LKS Baitul Ridho
d. Transaksi jual beli murabahah antara LKS Baitul Ridho dengan H Sualiman
e. Penerimaan angsuran dari H. Sulaiman oleh LKS Baitul Ridho sampai penulasan.
f. Jurnal pengakuan pendapatan jika Angsuran H Sulaiman telah jatuh tempo tetapi belum
dilakukan pembayaran.
Soal ke tujuh
Untuk memperlancar usaha pengangkutan yang dimilikinya, Ismail membutuhkan tambahan
sebuah mobil Toyota Inova seharga harga Rp250.000.000,00 Untuk memenuhi keingingannya
tersebut tanggal 10 April 2008 Ismail mendatangani Bank Syariah Amanah Ummat untuk meminta
pembiayaan dengan pembayaran selama setahun, secara merata selama jangka waktu angsuran.
Bank Syariah Amanah Ummat tanggal 15 April 2008 mensepakati pembiayaan Ismail dengan
data data sebagai berikut:
Nama barang : Toyota Inova
Harga barang : Rp250.000.000 (dua ratus lima puluh juta). Bank Syariah sepakat
untuk membiayai 80% dan sisanya harus dibayar sendiri oleh Ismail
melalui Bank Syariah sebagai uang muka.
Keuntungan disepakati : Sesuai keputusan ALCO Bank Syariah Amanah Ummat yaitu setara
dengan 20% / pa
Penyerahan : Dealer Toyota Indah, Jl Sudirman 30, Jakarta

BAB IV. Akuntansi Murabahah | 157


Biaya administrasi : Rp2.000.000 – (dua juta rupiah)
Pembayaran : Secara tangguh dengan angsuran 10 kali selama setahun, secara
merata selama jangka waktu angsuran, setiap tanggal 15
Pengikatan : Intern di Bank Syariah Amanah Ummat
Agunan : Rumah di atas tanah seluas 1000 M2, di Jl. Merdeka 30 Jakarta, SHM
atas nama Ismail.
Denda : sebesar Rp100.000 per hari keterlambatan
Diminta :
1. Menentukan prinsip syariah yang dipergunakan dalam transaksi tersebut
2. Perhitungan dan jurnal Bank Syariah yang terkaitan, mulai awal sampai dengan pelunasan
transaksi tersebut antara lain:
a. Penerimaan uang muka dari Nasabah
b. Pembelian Toyota dan penerimaan uang muka dari nasabah
c. Akad murabahah dan pembayaran angsuran sampai bln ke 5
d. Penerimaan fee administrasi
e. Bulan ke enam tidak dapat dilakukan pembayaran angsuran dan pembayaran
dilakukan sekaligus diperhitungkan dengan angsuran ketujuh.
f. Penerimaan denda dari nasabah
g. Pelunasan sisa hutang nasabah.
h. Pembentukan cadangan KAP
i. Perubahan Performing ke Non Performing
Soal ke delapan
Untuk pengembangan usahanya dibidang pertanian bawang merah, Abdullah seorang petani
bawang di Brebes memerlukan alat-alat pertanian dengan data sebagai berikut:
Nama barang : Alat pertanian (traktor dan cangkul)
Harga barang : Rp270.000.000,00
Penyerahan barang : Di Brebes (tempat Abdullah)
Untuk keperluan tersebut Abdullah mendatangi Bank Syariah Amanah Ummat Cabang Brebes
dan telah menyiapkan uang tunai sebesar Rp30 juta sebagai uang muka dan bersedia untuk
mengangsur selama setahun (12 kali) secara merata dan akan melakukan pelunasan segera setelah
panen bawang
Sesuai permohonan Abdullah, Bank Syariah Amanah Ummat menyetujui permohonan Abdullah
dengan kesepakatan sebagai berikut:
Nama Barang : Alat pertanian (traktor 2 buah, cangkul 100 buah)
Uang muka : Rp30.000.000 ( tiga puluh juta rupiah)
Harga pokok barang : Rp270.000.000 (dua ratus tujuh puluh juta rupiah)
Keuntungan : Rp36.000.000 (tiga puluh enam juta rupiah)
Biaya adminitrasi : Rp2.700.000 (dua juta tujuh ratus ribu rupiah)
Denda keterlambatan : 2% per hari dari angsuran yang tertunggak
Penyerahan barang : Di kantor Bank Syariah Amanah Ummat Brebes
Pembayaran : secara tangguh / angsuran secara merata selama setahun dan
dilakukan setiap tanggal 10
Pengikatan : Notariil
Biaya notaris : Rp5.000.000 (lima juta rupiah)

158 |Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


Berkat keberhasilannya dalam mengolah bawang merah, bulan ke 7 Abdullah melunasi sisa
kewajibannya kepada Bank Syariah Amanah Ummat. Atas pelunasan tersebut Bank Syariah Amanah
Ummat memberikan potongan sebesar 50% dari keuntungan yang belum diterima.
Diminta :
1. Menentukan prinsip syariah yang dipergunakan dalam transaksi tersebut
2. Perhitungan dan jurnal Bank Syariah yang terkaitan, mulai awal sampai dengan pelunasan
transaksi tersebut antara lain
a. Penerimaan uang muka dari nasabah
b. Akad Murabahah dilaksanakan
c. Fee administrasi Murabahah
d. Biaya Notaris
e. Pembayaran angsuran
f Penerimaan denda
g. Pelunasan dan Bank memberikan potongan kewajiban sebesar 50% dari margin yang
belum dibayar
Soal kesembilan
Amirudin seorang pedagang bahan material bangan bangunan di komplek perumahan
Muslim Mandiri Jakarta. Untuk menunjang kemajuan usahanya Amirudin menghubungi Bank
Syariah Artha Pamenang supaya dapat membantu untuk :
1. Membeli bermacam kayu bangunan dengan Wahyudin seorang pengusaha kayu di Kalimantan,
sebanyak 100 M3 dengan harga sebesar Rp8.000.000,00.per -M3. Disepakati penyerahan
barang di gudang Amirudin. Biaya pengangkutan Kalimantan – Jakarta atas barang tersebut
sebesar Rp15.000.000,00 Bank Syariah Artha Pamenang hanya membiayai 70% dari
kebutuhan dan 30% dibayar sendiri oleh Amirudin melalui Bank Syariah Artha Pemenang
sebagai uang muka.
2. Membeli sebuah truk Fuso seharga Rp875.000.000,00. Macam-macam Biaya yang dikeluarkan
sehubungan dengan pembelian truk tersebut sebesar Rp25.000.000,00 Setelah mobil
diserahkan mendapat kabar dari Bank Syariah Artha Pamenang bahwa dealer memberikan
potongan harga sebesar Rp10.000.000,00 dan sepenuhnya diserahkan kepada Amirudin.
Dalam menetapkan keutungan Bank Syariah menawarkan tingkat keuntungan sebagai berikut
Jangka waktu tunai 1 tahun 2 tahun 3 tahun
Setara (%) 10 % 15% 20% 25%
Amirudin sepakat membayar harga jual barang dengan tingkat keuntungan yang dikenakan
oleh Bank Syariah Artha Pamenang dan kewajibannya dibayar selama 2 tahun setiap tanggal 15
dimulai tanggal 15 Maret 2009. Untuk keperlukan pemenuhan transaksi ini Amirudin membayar
dengan tunai seluruh biaya administrasi yang dikenakan oleh Bank Syariah Artha Pamenang sebesar
Rp2.500.000,00 Karena sesuatu hal kewajiban pada bulan Agustus 2009 tertunggak dan dibayar
sekaligus pada bulan berikunya.
Bulan Maret 2010 Amirudin melunasi kewajibannya dan Bank Artha Pamenang memberikan
potongan sebesar 50% dari sisa keuntungan yang disepakati.
Diminta:
1. Prinsip syariah dan dapat dipergunakan dan perhitungan yang harus dilakukan.
2. Seluruh jurnal dari tahapan-tahapan transaksi tersebut

BAB IV. Akuntansi Murabahah | 159


Soal kesepuluh
Bank Syariah Bhakti Makmur awal Januari 2008 menerima pesanan jual beli alat-alat
kedokteran dengan Rumah Sakit ”Berkah Sehat” dengan sifatnya mengikat. Untuk memenuhi
kebutuhan tersebut Bank Syariah Bhakti Makmur melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Tanggal 7 Januari 208 Bank Syariah Bhakti Makmur menerima uang muka sebagai tanda
keseriusan RS Berkah Sehat sebesar Rp52.500.000,00 (lima puluh dua juta lima ratus ribu
rupiah).
2. Tanggal 10 Januari 2008 melakukan pembelian alat-alat kedokteran seharga
Rp1.000.000.000,00 (satu milyard rupiah) dan atas pembelian tersebut mendapatkan diskon
dari pemasok sebesar 5% dari harga barang. Penyerahan dilakukan di gudang penjual
Tanjungpriok.
3. Tanggal 12 Januari Bank Syariah Bhakti Makmur membayar ongkos angkut dan beban lainnya
dari gudang penjual di Tanjungpriok ke RS Berkah Sehat sebesar Rp50.000.000,00 (lima
puluh juta rupiah).
4. Tanggal 15 Januari 2008 Bank Syariah Bhakti Makmur melakukan akad jual beli dengan RS
Berkah Sehat dan disepakati hal-hal sebagai berikut:
a. Sesuai kesepakatan keuntungan yang dikenakan Bank Syariah Bhakti Makmur sebesar
setara dengan 20% dari harga perolehan barang.
b. Sisa kewajiban RS Berkah Sehat diangsur selama 10 kali setiap bulan pada tanggal 15,
terhitung mulai tanggal 15 Februari 2008
5. Tanggal 15 Juli 2008 RS Berkah Sehat melakukan pelunasan sisa kewajibannya dan atas
pelunasan tersebut Bank Syariah Bhakti Makmur memberikan potongan sebesar
Rp25.000.000,00 (dua puluh lima juta rupiah).
Dalam kebijakan akuntansinya Bank Syariah Bhakti Makmur menetapkan pengakuan
kauntungan murabahah yang pembayarannya dilakukan secara tangguh dilakukan secara proporsional.
Diminta :
Buatlah jurnal dan perhitungan yang dilakukan oleh Bank Syariah Bhakti Makmur atas:
1. Perhitungan harga pokok penjualan alat-alat kedokteran.
2. Pehitungan harga jual dan sisa kewajiban yang harus diangsur oleh RS Berkah Sehat ?
3. Perhitungan sisa kewajiban yang harus dibayar pada saat pelunasan sebelu jatuh tempo ( 15
Juli 2008)
4. Buatlah jurnal sehubungan transaksi tersebut antara lain:
a. Penerimaa uang muka dari RS Berkah Sehat ?
b. Pembayaran ongkos angkut yang dilakukan oleh Bank Syariah Bhkati Makmur?
c. Pembelian alat-alat kedokteran ?
d. Jual beli murabahah pada saat akad murabahah ditangan tangani ?
e. Pembayaran angsuran dari RS Berkah Sehat setiap tanggal 15 ?
f. Pelunasan piutang murabahah tanggal 17 Juli 2008 ?

160 |Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


BAB V
AKUNTANSI SALAM

5.1 Pengertian dan Karakteristik Salam


Transaksi salam banyak dipergunakan untuk bidang pertanian, dimana pada awal musim tanam
petani membutuhkan modal untuk memproduksi hasil pertanian, baik modal dalam bentuk kas maupun
modal dalam non kas atau barang yang berhubungan dengan produksi pertanian seperti misalnya bibit,
pupuk, alat pertanian dan sebagainya untuk membantu petani. Beberapa waktu yang lalu pemerintah
memberikan fasilitas kepada petani dalam bentuk Kredit Program berupa Kredit Usaha Tani (KUT),
Kredit Tebu Intersifikasi Rakyat (TIR) dan sejenisnya yang disalurkan oleh Bank Konvensional. Dalam
Kredit progran tersebut, bank memberikan fasilitas dalam bentuk uang untuk kebutuhan petani seperti
untuk pembelian bibit, pupuk, alat pertanian dan sejenisnya termasuk modal uang. Dalam program ini
rawan terhadap penyalahgunaan dana, apabila harga barang kebutuhan petani dipermainkan oleh para
pemasok barang sehingga uang yang diberikan kepada petani tidak sesuai harapan atau tujuan kredit
program tersebut. Jika yang melaksanakan progran tersebut Lembaga Keuangan Syariah, maka dapat
diterapkan dengan prinsip salam, dalam hal ini Lembaga Keuangan Syariah sebagai kepanjangan tangan
dari pemerintah, diperkenankan memberikan modal kas untuk modal kerja dan modal dalam bentuk non
kas (barang) langsung seperti bibit, pupuk, alat pertanian dan sebagainya sehingga dapat dihindari
kekurangan modal atau penyalahgunaan modal.
Bagi Lembaga Keuangan Syariah khusus perbankan syariah, saat ini transaksi salam tidaklah menjadi
menarik karena bagi pelaksanan perbankan syariah masih banyak paradigma yang tidak lepas dari
paradigma bank konvensional, yaitu saat memberikan modal dalam bentuk uang harus segera
menghasilkan, sedangkan dalam transaksi salam ini LKS memberikan modal terlebih dahulu dan
pendapatannya baru diperoleh saat penyerahan barang yang dilakukan kemudian.

5.1.1 Pengertian dan istilah dalam transaksi Salam


Salam adalah akad jual beli muslam fiih (barang pesanan) dengan penangguhan pengiriman oleh
muslam ilaihi (penjual) dan pelunasannya dilakukan segera oleh pembeli sebelum barang pesanan tersebut
diterima sesuai dengan syarat-syarat tertentu. Bank dapat bertindak sebagai pembeli atau penjual dalam
suatu transaksi salam. Jika bank bertindak sebagai penjual kemudian memesan kepada pihak lain untuk
menyediakan barang pesanan dengan cara salam maka hal ini disebut salam paralel.
Dalam Kamus Istilah Keuangan dan Perbankan Syariah yang diterbitkan oleh Direktorat Perbankan
Syariah, Bank Indonesia mengemukakan :
Salaf dalam fiqh mu’amalah merupakan istilah lain untuk akad bai’ as-salam. Bai’ as-salam adalah
jual beli barang yang diserahkan di kemudian hari sementara pembayaran dilakukan di muka.
Salam adalah jual beli barang dengan cara pemesanan dan pembayaran dilakukan di muka, dengan
syarat-syarat tertentu
Salam Paralel adalah dua transaksi bai’ as-salam yang dilakukan oleh para pihak secara simultan.

BAB V. Akuntansi Salam | 161


Beberapa istilah dan pengertian yang dikait dengan Akuntansi Salam, dinyatakan dalan PSAK 103
tentang akuntansi salam sebagai berikut :
Salam adalah akad jual beli muslam fiih (barang pesanan) dengan pengiriman di kemudian hari
oleh muslam illaihi (penjual) dan pelunasannya dilakukan oleh pembeli pada saat akad disepakati
sesuai dengan syarat-syarat tertentu.
Nilai wajar adalah suatu jumlah yang dapat digunakan untuk mengukur aset yang dapat
dipertukarkan melalui suatu transaksi yang wajar (arm’s length transaction) yang melibatkan pihak-
pihak yang berkeinginan dan memiliki pengetahuan memadai.
Dari pengertian dan karakteristik tersebut dapat dilihat bahwa sebelum barang diserahkan kepada
pemesan (karena masih dalam proses produksi) harga barang harus dibayar lunas oleh pemesan atau
pembeli. Harga barang yang dibayar seluruhnya diawal merupakan bantuan modal kepada produsen untuk
memproduksi barang, oleh karena itu trasaksi salam terkandung unsur tolong menolong. Modal salam
yang diberikan oleh pemesan kepada produsen dapat berbentuk uang tunai (kas) atau non kas (barang)
yang bermanfaat untuk memproduksi barang tersebut.
Rukun salam adalah:
1. Muslam/pembeli
2. Muslam ilaih/penjual
3. Muslam fiihi/barang atau hasil produksi
4. Modal atau uang
5. Shighat/Ijab Qabul
Syarat-syarat Salam (Muamalat Institute, Perbankan Syariah, hal 51) adalah :
1. Pihak yang berakad
2. Ridha dua belah pihak dan tidak ingkar janji
3. Cakap hukum

5.1.2 Karakteristik Salam


Untuk memahami akuntansi salam secara tepat, perlu diketahui karakteristik prinsip salam dengan
benar. Dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional nomor: 05/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Jual Beli Salam
dijelaskan ketentuan salam sebagai berikut:
Pertama - Ketentuan tentang Pembayaran
1. Alat bayar harus diketahui jumlah dan bentuknya, baik berupa uang, barang, atau
manfaat.
2. Pembayaran harus dilakukan pada saat kontrak disepakati.
3. Pembayaran tidak boleh dalam bentuk pembebasan hutang.
Kedua - Ketentuan tentang Barang
1. Harus jelas ciri-cirinya dan dapat diakui sebagai hutang.
2. Harus dapat dijelaskan spesifikasinya.
3. Penyerahannya dilakukan kemudian.
4. Waktu dan tempat penyerahan barang harus ditetapkan berdasarkan kesepakatan.
5. Pembeli tidak boleh menjual barang sebelum menerimanya.
6. Tidak boleh menukar barang, kecuali dengan barang sejenis sesuai kesepakatan.
Ketiga - Ketentuan tentang Salam Paralel (‫)ا
 اازي‬
Dibolehkan melakukan salam paralel dengan syarat akad kedua terpisah dari dan tidak
berkaitan dengan akad pertama

162 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


Keempat - Penyerahan Barang Sebelum atau pada Waktunya
1. Penjual harus menyerahkan barang tepat pada waktunya dengan kualitas dan jumlah yang
telah disepakati.
2. Jika penjual menyerahkan barang dengan kualitas yang lebih tinggi, penjual tidak boleh
meminta tambahan harga.
3. Jika penjual menyerahkan barang dengan kualitas yang lebih rendah, dan pembeli rela
menerimanya, maka ia tidak boleh menuntut pengurangan harga (diskon).
4. Penjual dapat menyerahkan barang lebih cepat dari waktu yang disepakati dengan syarat
kualitas dan jumlah barang sesuai dengan kesepakatan, dan ia tidak boleh menuntut
tambahan harga.
5. Jika semua atau sebagian barang tidak tersedia pada waktu penyerahan, atau kualitasnya
lebih rendah dan pembeli tidak rela menerimanya, maka ia memiliki dua pilihan:
a. membatalkan kontrak dan meminta kembali uangnya,
b. menunggu sampai barang tersedia.
Kelima - Pembatalan Kontrak
Pada dasarnya pembatalan salam boleh dilakukan, selama tidak merugikan kedua belah pihak.
Sedangkan dalam PSAK 103 tentang Akuntansi Salam, dijelaskan karakteristik salam (prgf 6 s/d 11)
sebagai berikut:
6. Lembaga keuangan syariah dapat bertindak sebagai pembeli dan atau penjual dalam suatu
transaksi salam. Jika lembaga keuangan syariah bertindak sebagai penjual kemudian memesan
kepada pihak lain untuk menyediakan barang pesanan dengan cara salam maka hal ini disebut
salam paralel.
7. Salam paralel dapat dilakukan dengan syarat:
(a) akad antara lembaga keuangan syariah (pembeli) dan produsen (penjual) terpisah dari
akad antara lembaga keuangan syariah (penjual) dan pembeli akhir; dan
(b) kedua akad tidak saling bergantung (ta’alluq).
8. Spesifikasi dan harga barang pesanan disepakati oleh pembeli dan penjual di awal akad.
Ketentuan harga barang pesanan tidak dapat berubah selama jangka waktu akad. Dalam hal
bertindak sebagai pembeli, lembaga keuangan syariah dapat meminta jaminan kepada penjual
untuk menghindari risiko yang merugikan.
9. Barang pesanan harus diketahui karakteristiknya secara umum yang meliputi: jenis, spesifikasi
teknis, kualitas dan kuantitasnya. Barang pesanan harus sesuai dengan karakteristik yang telah
disepakati antara pembeli dan penjual. Jika barang pesanan yang dikirimkan salah atau cacat
maka penjual harus bertanggungjawab atas kelalaiannya.
10. Alat pembayaran harus diketahui jumlah dan bentuknya, baik berupa kas, barang atau manfaat.
Pelunasan harus dilakukan pada saat akad disepakati dan tidak boleh dalam bentuk pembebasan
hutang penjual atau penyerahan piutang pembeli dari pihak lain.
11. Transaksi salam dilakukan karena pembeli berniat memberikan modal kerja terlebih dahulu untuk
memungkinkan penjual (produsen) memproduksi barangnya, barang yang dipesan memiliki
spesifikasi khusus, atau pembeli ingin mendapatkan kepastian dari penjual. Transaksi salam
diselesaikan pada saat penjual menyerahkan barang kepada pembeli.
5.1.3 Jenis dan Alur Transaksi Salam
Dalam transaksi salam entitas syariah dapat bertindak sebagai penjual (pembuat atau pabrikan),
yaitu jika entitas syariah menerima pesanan untuk membuat suatu barang dari pemesan, dan entitas syariah
dapat bertindak sebagai penjual (pabrikan atau pemesan), yaitu jika entitas syariah melakukan pemesanan
untuk dibuatkan barang oleh pabrikan atau produsen. Jika transaksi salam, dimana entitas syariah
menerima pesanan dari pembeli (entitas syariah sebagai pembuat) kemudian atas pesanan tersebut entitas
syariah melakukan pemesanan kembali kepada produsen (entitas syariah sebagai pemesan), sehingga

BAB V. Akuntansi Salam | 163


kedudukan entitas syariah sebagai pembuat sekaligus sebagai pemesan pada pihak lain, maka transaksi
tersebut merupakan salam paralel.

A. Transaksi salam Lembaga Keuangan Syariah sebagai pembuat


Transaksi salam dimana Lembaga Keuangan Syariah sebagai pembuat atau produsen dapat
digambarkan sebagai berikut:

Gambar 5-Gambar 5-1 : Alur transaksi salam LKS sebagai pembuat


Dalam transaksi ini LKS Amanah Gusti menerima pesanan barang dari pembeli akhir. Dalam
contoh di atas, untuk memebuhi kebutuhan persediaan beras Bulog (sebagai pemesan/pembeli) memesan
kepada Lembaga Keuangan Syariah sebagai pembuat atas gabah beras Pandanwangi type A kadar air 12%.
Atas pesanan tersebut Bulog membayar keseluruhan harga gabah tersebut dimuka pada saat akad kepada
LKS Amanah Gusti sebagai pembuat. Dalam transaksi salam ini kedudukan LKS Amanah Gusti sebagai
pembuat, LKS Amanah Gusti menerima pesanan dari Bulog sebagai pembeli akhir dan menerima
pembayaran harga seluruhnya dimuka pada saat akad. Berkaitan dengan itu akuntansi yang harus
dipergunakan Lembaga Keuangan Syariah adalah Akuntansi Salam sebagai penjual (pembuat), sedangkan
Bulog mempergunakan Akuntansi Pembeli.

B. Transaksi salam Lembaga Keuangan Syariah sebagai pembeli


Transaksi salam dimana Lembaga Keuangan Syariah bertindak sebagai pemesan atau pembeli dapat
digambarkan sebagai berikut:

Gambar 5-2 : Alur transaksi salam LKS sebagai pemesan


Dilain sisi dalam transaksi ini LKS Amanah Gusti juga bisa sebagai pembeli, dalam transaksi ini
LKS Amanah Gusti melakukan pemesanan barang kepada pembuat atas barang yang spesifikasinya telah
ditetapkan, dengan pembayaran harga dilakukan oleh Entitas Syariah secara keseluruhan pada saat akad.
Dalam ilutrasi di atas Entitas Syariah melakukan pemesanan gabah beras Pandanwangi kadar air 12%

164 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


kepada “KUD Berkah” (sebagai pembuat/produsen) dengan pembayaran harga gabah keseluruhan pada
saat akad. Sehubungan dengan hal tersebut ketentuan akuntansi yang dipergunakan oleh LKS Amanah
Gusti adalah ketentuan akuntansi salam sebagai pembeli”, sedangkan KUD Berkah menerapkan
Akuntansi Penjual.

C. Salam paralel (Entitas Syariah sebagai pembuat dan sebagai pembeli)


Transaksi salam paralel dimana Lembaga Keuangan Syariah sebagai pembuat/produsen menerima
pesanan dari pembeli akhir, kemudian secara simultan pekerjaan tersebut diserahkan pada pihak lain untuk
membuatnya (LKS sebagai pemesan) dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 5-3 : Alur transaksi salam LKS sebagai pemesan

Dalam ilutrasi tersebut di atas, Bulog sebagai pembeli akhir, untuk memenuhi kebutuhan persediaan
beras, melakukan pemesanan gabah Pandanwangi kadar air 12% kepada LKS Amanah Gusti sebagai
penjual. Atas pesanan tersebut LKS Amanah Gusti melakukan pemesanan barang yang sama kepada KUD
Berkah. Jadi dalam transakai salam paralel ini LKS Amanah Gusti mempunyai kedudukan sebagai penjual
dan juga sebagai pembeli dengan akad yang terpisah. Dalam transaksi ini terdapat dua akad, yaitu akad
pertama antara Bulog dengan LKS Amanah Gusti sebagai penjual dan akad kedua antara LKS Amanah
Gusti sebagai pembeli kepada KUD Berkah sebagai produsen atau pembuat akhir. Dalam Fatwa DSN
dijelaskan bahwa akad pertama tidak boleh terpengaruh dengan akad kedua, artinya bahwa apabila akad
kedua mengalami kegagalan, misalnya KUD Berkah tidak dapat menyerahkan gabah yang dipesan, tidak
boleh membawa dampak pada proses atau pelaksanaan akad pertama, tidak boleh membawa dampak
penundaan penyerahan barang LKS Amanah Gusti kepada Bulog sebagai pembeli akhir. Jika Lembaga
Keuangan Syariah sebagai pembuat kemudian meneruskan kepada pihak lain untuk membuatkan barang
pesanan pembeli akhir, maka transaksi tersebut disebut dengan Salam Paralel. Sehubungan dengan hal ini
akuntansi yang dipergunakan adalah ketentuan akuntansi salam sebagai penjual dan sebagai pembeli.

BAB V. Akuntansi Salam | 165


5.2 Cakupan Akuntansi Salam
Pengakuan, pengukuran, penyajian dan pengungkapan transaksi salam dan salam paralel yang
sebelumnya diatur dalam PSAK 59 tentang Akuntansi Perbankan Syariah, diganti dengan PSAK 103
tentang Akuntansi Salam. Dalam PSAK 103 tentang Akuntansi Salam memberikan batasan ketentuan yang
dicakup dalam PSAK tersebut. Dan agar tidak salam dalam mempergunakan akun yang dipergunakan
dalam transaksi salam berikut dibahas tentang cakupan akuntansi salam dan akun yang dipergunakan
dalam transaksi salam.
Cakupan akuntansi salam dalam PSAK 103 tentang akuntansi salam adalah sebagai berikut:
2. Pernyataan ini diterapkan untuk:
(a) lembaga keuangan syariah yang melakukan transaksi salam baik sebagai penjual maupun
pembeli; dan
(b) pihak-pihak yang melakukan transaksi salam dengan lembaga keuangan syariah.
3. Pernyataan ini tidak mencakup pengaturan perlakuan akuntansi atas obligasi syariah (sukuk) yang
menggunakan akad salam.
4. Lembaga keuangan syariah yang dimaksud, antara lain, adalah:
(a) perbankan syariah sebagaimana yang dimaksud dalam peraturan perundang-undangan
yang berlaku;
(b) lembaga keuangan syariah non-bank seperti asuransi, lembaga pembiayaan, dan dana
pensiun; dan
(c) lembaga keuangan lain yang diizinkan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku
untuk menjalankan transaksi salam.
Yang harus menerapkan akuntansi Salam dalam PSAK 103 ini lebih luas dibandingkan dengan
PSAK 59 yang hanya diperuntukkan perbankan saja. Dalam PSAK 103 tersebut harus diterapkan
Lembaga Keuangan Syariah dalam arti luas seperti perbankan syariah, asuransi syariah, lembaga
pembiayaan syariah dan lainnya. Disisi lain ketentuan PSAK 103 membahas ketentuan akuntansi dari
penjual dan akuntansi pembeli tidak membedakan siapa pelakunya, sedangkan dalam PSAK 59 dibahas
ketentuan akuntansi tentang Bank Syariah sebagai penjual dan Bank Syariah sebagai pembeli..
Penggunaan akuntansi penjual atau akuntansi pembeli dalam akuntansi salam dapat dilihat dapat
gambar sebagai berikut:

Gambar 5-4 : penggunaan akuntansi salam

166 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


Dalam gambar di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Dalam transaksi salam, Lembaga Keuangan Syariah dapat bertindak sebagai pembuat atau produsen
atau penjual dan pemesan sebagai pembeli. Oleh karena itu dalam transaksi salam ini Lembaga
Keungan Syariah menerapkan Akuntansi Penjual dan pemesan sebagai pembeli menerapkan
Akuntansi Pembeli
2. Transaksi salam yang lain Lembaga Keuangan Syariah dapat bertindak sebagai pemesan atau
pembeli sedangkan nasabah sebagai pembuat atau produsen atau penjual. Oleh karena itu dalam
transaksi salam ini Lembaga Keuangan Syariah menerapkan Akuntansi Pembeli dan Nasabah
sebagai produsen menerapkan Akuntansi Penjual.
3. Jika Lembaga Keuangan Syariah melaksanakan transaksi Salam Paralel, maka Lembaga Keuangan
Syariah menerapkan Akuntansi Penjual (akad salam pertama) dan juga menerapkan Akuntansi
Pembeli (akad salam kedua)

5.3 Akuntansi Pembeli


Dalam PSAK 103 tentang Akuntansi Salam mengatur akuntansi untuk pembeli dan akuntansi untuk
penjual. Dalam butir ini dibahas akuntansi pembeli, khususnya Lembaga Keuangan Syariah sebagai
pembeli sedangkan akuntansi penjual akan dibahas dalam butir berikutnya dalam bab ini. Yang dimaksud
pembeli dalam transaksi salam ini adalah pihak yang melakukan pemesanan barang, baik pembeli akhir
maupun LKS sebagai pembeli dalam transaksi salam paralel. Dalam akuntansi untuk penjual tidak dibahas
secara rinci akuntansi proses pembuatan barang. Beberapa hal yang terkait dengan akuntansi pembeli ini
adalah (1) penyerahan modal kepada pembuat (2) penerimaan barang pesanan, dimana dalam penerimaan
barang ini dapat dengan kualitas yang sama dengan kontrak tetapi dapat juga dengan kualitas yang berbeda
dengan kontrak.

5.3.1 Akun-akun pada pembeli


Dalam transaksi salam dan salam paralel, akun-akun yang dipergunakan dalam akuntansi pembeli
berbeda dengan akun yang dipergunakan dalam akuntansi pembeli. Akun-akun yang dipergunakan akan
akuntansi pembeli mencerminkan transaksi yang dilakukan oleh pembeli atau pemesan, untuk kepentingan
penyusunan laporan posisi keuangan (neraca) atau laporan laba rugi.
A. Akun-akun Laporan Posisi Keuangan (Neraca)
Akun-akun yang dipergunakan dalam akuntansi pembeli untuk kepentingan penyusunan laporan
posisi keuangan (neraca) antara lain dan tidak terbatas pada :
1. Piutang Salam
Akun ini dipergunakan untuk mencatat pembayaan harga barang kepada pembuat sebesar jumlah
seluruh harga barang yang disepakati dalam akad. Sama seperti hutang salam, prinsipnya piutang
salam ini merupakan piutang atas barang sebesar yang telah disepakati (bukan piutang uang sebesar
harga barang), sehingga segala perubahan harga barang menjadi tanggung jawab penjual (pembuat).
Akun ini didebet pada saat dilakukan pembayaran harga barang dan dikredit pada saat pelunasan
piutang atau penyerahan barang yang dipesan.
2. Persediaan (Aset Salam)
Akun ini dipergunakan untuk mencatat barang dalam transaksi salam. Akun ini didebet pada saat
penerimaan barang dan dikredit pada sat penyerhan barang kepada pemesan
3. Piutang kepada Petani
Akun ini dipergunakan untuk mecatat kewajiban produsen yang telah akhir akad tidak dapat
menyerahkan barang yang dipesan. Akun ini bukan merupakan piutang atas barang tetapi piutang

BAB V. Akuntansi Salam | 167


dalam bentuk uang. Akun ini didebet saat akhir akad dan produsen tidak dapat menyerahkan barang
dan dikredit pada saat dilakukan pembayaran

B. Akun-akun Laporan Laba Rugi


Akun-akun yang dipergunakan dalam akuntansi pembeli untuk kepentingan penyusunan laporan
laba rugi antara lain dan tidak terbatas pada:
1. Keuntungan Penyerahan Aset Salam
Akun ini dipergunakan untuk mecatat keuntungan yang diperoleh akibat penyerahan modal non kas
(barang) dimana nilai tercatat lebih kecil dari nilai wajar saat penyerahan. Akun ini dikredit saat
terjadi penyerahan modal non kas dan didebet saat pada tutup buku dipindahkan atau
diperhitungkan ke Pendapatan Usaha Utama.
2. Kerugian Penyerahan Aset Salam
Akun ini dipergunakan untuk mencatat kerugian yang terjadi saat penyerahan modal non kas
(barang) dimana nilai tercatat lebih tinggi dari nilai wajar saat penyerahan. Akun ini didebet pada
saat terjadi penyerahan modal non kas dan dikredit pada saat tutup buku dipindahkan atau
diperhitungkan ke Pendapatan Usaha Utama.
Untuk dapat memberikan gambaran atas transaksi Salam secara utuh berikut diberikkan ilutrasi
contoh secara umum transaksi salam yang akan dilakukan jurnal sesuai tahapan yang dilakukan dalam
tranaksi salam tersebut:
Contoh : 5-1 (ilustrasi umum)
Pada tanggal 15 April 2007, LKS “Amanah Gusti” melakukan pesanan “Jagung Hibrida” kepada
Kelompok Petani “Ngudi Rejeki” dengan kualifikasi sebagai berikut:
Nama Barang pesanan : Jagung
Jenis barang pesanan : Hibrida, Bisi-16 Super type A
Jumlah barang : 100 ton
Jumlah modal/harga : Rp800.000,00 per ton
Jk waktu penyerahan : 4 bulan
Penyerahan modal : Uang tunai sejumlah Rp60.000.000,00
Bibit jagung hibrida Bisi-16 Super type A sebanyak 500 kg dan 5
ton pupuk dengan nilai wajar saat penyerahan sebesar
Rp20.000.000,00
Agunan : Sebidang sawah seluas 2 ha.
Cara penyerahan : Secara bertahap yaitu:
Tahap 1 – tgl 15 Agustus sebesar 25 ton
Tahap 2 – tgl 20 Agustus sebesar 25 ton
Tahap 3 – tgl 25 Agustus sebesar 25 ton
Tahap 4 – tgl 30 Agustus sebesar 25 ton
Syarat pembayaran : Dilunasi pada saat akad ditanda tangani kedua belah pihak
Dari ilutrasi tersebut LKS Amanah Gusti sebagai pemesan (pembeli) dan Kelompok Petani ngudi
Rejeki sebagai pembuat/produsen/penjual . Beberapa hal yang terkait dengan perlakukan akuntansi yang
harus dilakukan oleh LKS Amanah Gusti sebagai pembeli dalam transaksi salam tersebut adalah:
a. Penyerahan modal salam baik dalam bentuk modal kas dan modal non kas yang dilakukan oleh LKS
Amanah Gusti kepada Kelompok Petani Ngudi Rejeki
b. Penerimaan barang baik dengan kualitas yang sama dengan akad, maupun dengan kualitas yang
berbeda dari kualitas dalam akad oleh LKS Amanah Gusti dari Kelompok Petani Ngudi Rejeki.
c. Jika sampai dengan jangka waktu berakhir penyerahan barang LKS Amanah Gusti tidak menerima
barang dan sepakat untuk melakukan penjualan jaminan salam.

168 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


5.3.2 Penyerahan modal salam kepada produsen (pembuat)
Karakteristik salam adalah pembayaran harga barang sebagai modal pembuat (modal salam) harus
diserahkan seluruhnya pada saat akad ditanda tangani. Modal salam yang diserahkan kepada pembuat tidak
hanya dalam bentuk tunai (kas) tetapi dapat juga dalam bentuk barang (non kas) yang berkaitan dengan
pembuatan barang yang dipesan. Misalnya jika yang dipesan gabah, modal salam selain uang tunai dapat
diberikan juga dalam bentu bibit, pupuk dan obat-obat untuk pertanian.
Dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional nomor 05/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Jual Beli Salam
telah dijelaskan ketentuan pembayaran transaksi salam sebagai berikut:
Pertama : Ketentuan tentang Pembayaran:
1. Alat bayar harus diketahui jumlah dan bentuknya, baik berupa uang, barang, atau manfaat.
2. Pembayaran harus dilakukan pada saat kontrak disepakati.
3. Pembayaran tidak boleh dalam bentuk pembebasan hutang.
PSAK 103 tentang Akuntansi Salam (prgf 11 dan 12) mengatur pengakuan dan pengukuran modal
salam sebagai berikut:
11 Piutang salam diakui pada saat modal usaha salam dibayarkan atau dialihkan kepada penjual.
12 Modal usaha salam dapat berupa kas dan aset nonkas. Modal usaha salam dalam bentuk kas diukur
sebesar jumlah yang dibayarkan, sedangkan modal usaha salam dalam bentuk aset nonkas diukur sebesar
nilai wajar. Selisih antara nilai wajar dan nilai tercatat modal usaha nonkas yang diserahkan diakui
sebagai keuntungan atau kerugian pada saat penyerahan modal usaha tersebut.
Sesuai karakteristik transaksi salam, bahwa penyerahan barang dilakukan kemudian (tangguh) tetapi
pembayaran harga barang (modal) dilakukan seluruhnya pada saat akad (segera). Modal salam dapat berupa
kas tetapi dapat berupa non kas (barang) yang manfaat dalam pembuatan barang pesanan tersebut. Akun
yang dipergunakan oleh LKS Amanah Gusti sebagai pembeli adalah “ Piutang Salam” yang dipergunakan
untuk mencatat peneryarahan modal salam baik modal kas dan modal non kas yang diserahkan kepada
Kelompok Petani Ngudi Rejeki sebagai pembuat. Sesuai karakteristik salam yang diterima adalah barang,
oleh karena itu piutang salam LKS Amanah Gusti kepada Kelompok Petani Ngudi Rejeki merupakan
piutang atas barang yang dipesan bukan piutang uang (harga barang). Sehingga Piutang Salam akan
terselesaikan pada saat diterima barang yang dipesan sesuai dalam akad atau dipindahkan ke Piutang
Pembuat karena pembuat tidak dapat memenuhi kewajibannya.

A. Jika penyerahan modal salam dalam bentuk uang tunai (kas)


Yang dimaksud modal dalam bentuk kas adalah penyerahan modal salam oleh penjual kepada
pembeli dalam bentuk kas (uang tunai) atau setara kas. Jika penyerahan modal dalam bentuk kas diukur
sebesar jumlah uang yang diserahkan dan diakui saat pembayaran. Hal tersebut diatur dalam PSAK 103
tentang Akuntansi Salam (prgf 11) yang mengatur pengakuan dan pengukuran modal salam dalam bentuk
kas sebagai berikut:
11 Piutang salam diakui pada saat modal usaha salam dibayarkan atau dialihkan kepada penjual.
12 Modal usaha salam dapat berupa kas dan aset nonkas. Modal usaha salam dalam bentuk kas diukur
sebesar jumlah yang dibayarkan, sedangkan modal usaha salam dalam bentuk aset nonkas diukur sebesar
nilai wajar. Selisih antara nilai wajar dan nilai tercatat modal usaha nonkas yang diserahkan diakui
sebagai keuntungan atau kerugian pada saat penyerahan modal usaha tersebut.
Jika modal salam menyerahannya dalam bentuk kas, maka diakui sebagai Piutang Salam saat modal
kas dibayarkan atau dialihkan dari pembeli (LKS Amanah Gusti) kepada penjual (Kelompok Petani Ngudi
Rejeki) sebesar jumlah modal kas yang dibayarkan.

BAB V. Akuntansi Salam | 169


Contoh: 5- 2
Dari ilustrasi contoh umum di atas, tanggal 15 April 2007 Lembaga Keuangan Syariah Amanah
Gusti penyerahan modal salam atas harga barang salam yang dipesan kepada Kelompok Petani
“Ngudi Rejeki” , yaitu “jagung hibrida bisi-16 super type A” dalam bentuk uang tunai sebesar
Rp80.000.000,00
Atas penyerahan modal kas tersebut jurnal yang dilakukan oleh LKS Amanah Gusti sebagai pembeli
adalah sebagai berikut:
Dr. Piutang salam Rp80.000.000,00
(100 ton Jagung Hibrida Bisi-16 Super type A)
Cr. Kas/rekening petani Rp80.000.000,00
Dalam transaksi salam tersebut di atas “piutang salam” yang dimiliki LKS Amanah Gusti Amanah
kepada Kelompok Petani Ngudi Rejeki adalah piutang barang, yaitu 100 ton jagung Hibrida Bisi-16 Super
type A, (bukan piutang uang sebesar Rp80.000.000,00). Jika saat penyerahan terjadi perubahan harga pasar,
tidak boleh membawa dampak terhadap penyerahan barang. Misalnya dengan kualitas yang sama harga
pasar saat penyerahan lebih tinggi dari harga dalam akad, tidak diperkenankan pembuat (Kelompok Petani
Ngudi Rejeki) mengurangi jumlah barang yang diserahkan atau menuntut tambahan harga. Sebaliknya jika
dengan kualitas yang sama harga pasar saat penyerahan lebih rendah dari harga kontrak, pembeli (LKS
Amanah Gusti) tidak diperkenankan untuk meminta tambahan jumlah barang atau menuntut pengurangan
harga barang.
Berdasarkan transaksi tersebut di atas, mengakibatkan perubahan posisi buku besar dan laporan
posisi keuangan (neraca) bank syariah sebagai berikut:
PIUTANG SALAM
Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
15/04 Modal kas 80.000.000
Saldo 80.000.000
80.000.000 80.000.000

NERACA
Per 15 April 2007
Aktiva Pasiva
Uraian Jumlah Uraian Jumlah

Piutang Salam 80.000.000

B. Jika penyerahan modal salam dalam bentuk non kas (barang)


Modal modal salam yang diserahkan tidak harus dalam bentuk kas tetapi dalam bentuk non kas
(barang) yang berkaitan dengan kebutuhan pembuatan barang yang dipesan tersebut. Jika modal salam
diserahkan dalam bentuk non kas (barang) harus dilakukan penilaian harga wajar atau harga pasar saat
penyerahan. Selisih nilai wajar dengan nilai tercatat diakui sebagai keuntungan atau kerugian.
PSAK 103 tentang Akuntansi Salam, (prgf 12) mengatur pengakuan dan pengukuran modal salam
dalam bentuk non kas sebagai berikut:
12 Modal usaha salam dapat berupa kas dan aset nonkas. Modal usaha salam dalam bentuk kas
diukur sebesar jumlah yang dibayarkan, sedangkan modal usaha salam dalam bentuk aset nonkas
diukur sebesar nilai wajar. Selisih antara nilai wajar dan nilai tercatat modal usaha nonkas yang
diserahkan diakui sebagai keuntungan atau kerugian pada saat penyerahan modal usaha tersebut.

170 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


Pengukuran modal dalam bentuk non kas dilakukan sebesar nilai wajar atau nilai pasar saat
penyerahan. Selisih nilai tercatat atau nilai buku dengan nilai wajar atau nilai pasar diakui sebagai
keuntungan atau kerugian. Jika yang diserahkan modal salam dalam bentuk non kas diukur sebesar nilai
wajar sedangkan modal non kas (barang) memiliki nilai buku (nilai tercatat), maka akan timbul
kemungkinan:
a. modal salam dalam bentuk non kas memiliki nilai wajar lebih tinggi dari nilai tercatatnya
b. Modal salam dalam bentuk non kas memiliki nilai wajar lebih rendah dari nilai tercatatnya
Sesuai ketentuan dalam paragraf 12 tersebut di atas, selisih nilai wajar modal dalam dalam bentuk
non kas dengan nilai tercatatnya diakui sebagai keuntungan atau kerugian penyerahan modal usaha.
1) Nilai wajar saat penyerahan lebih tinggi dari nilai tercatatnya
Jika penyerahan modal salam non kas, yaitu barang yang bermanfaat dalam usaha salam ,
memiliki nilai wajar saat penyerahan lebih tinggi dari nilai tercatatnya, maka timbul keuntungan dan
diakui saat penyerahan modal non kas.
Contoh : 5-3
Misalnya tanggal 15 April 2007 LKS Amanah Gusti penyerahan modal salam oleh LKS Amanah
Gusti kepada Kelompok Petani “Ngudi Rejeki” atas pesanan jagung hibrida bisi-16 super type A,
seharga Rp80.000.000 yang terdiri dari :
a. uang kas sebesar Rp60.000.000,00 dan
b modal non kas (bibit dan pupuk) sebesar Rp20.000.000,00 yang dibeli dengan harga
perolehan sebesar Rp18.000.000,00
Jurnal yang dilakukan oleh Lembaga Keuangan Syariah adalah sebagai berikut:
a). Pada saat Lembaga Keuangan Syariah membeli barang keperluan modal salam sebesar
Rp18.000.000,00 dilakukan jurnal :
Dr. Persediaan/Aset Salam Rp18.000.000,00
Cr. Kas/Rekening suplier Rp18.000.000,00
b). Pada saat LKS Amanah Gusti penyerahan modal kas dan non kas kepada Kelompok Petani
“Ngudi Rejeki” dilakukan jurnal sebagai berikut:
Dr. Piutang salam Rp80.000.000,00
(100 ton Jagung Hibrida Bisi-16 Super type A)
Cr. Kas/ rekening petani Rp60.000.000,00
Cr. Persediaan/Aset Salam Rp18.000.000,00
Cr. Keuntungan penyerahan aset salam Rp 2.000.000,00
Untuk memberikan modal salam dalam bentuk non kas (barang yang bermanfaat untuk
memproduksi barang pesanan), Lembaga Keuangan Syariah dapat mengadakan sendiri dengan cara
yang halal.
2) Nilai wajar saat penyerahan lebih rendah dari nilai tercatatnya
Jika modal salam dalam bentuk non kas (barang) memiliki nilai wajar saat penyerahan lebih
rendah dari nilai tercatatnya, maka timbul kerugian dan diakui saat penyerahan modal non kas
(barang).
Contoh : 5-4
Misalnya harga perolehan modal non kas (bibit dan pupuk) yang diserahkan kepada Kelompok
Petani “Ngudi Rejeki” tersebut oleh LKS Amanah Gusti membeli sebesar Rp25.000.000,00.
Atas transaksi tersebut jurnal yang dilakukan oleh LKS Amanah Gusti adalah sebagai berikut:

BAB V. Akuntansi Salam | 171


a). Pada saat pembeli barang modal salam jurnal yang dilakukan adalah:
Dr. Persediaan/Aset Salam Rp25.000.000,00
Cr. Kas/Rekening pemilik brg Rp25.000.000,00
b). Pada saat penyerahan modal salam kepada Kelompok Petani ”Ngudi Rejeki” jurnal yang
dilakukan adalah:
Dr. Piutang salam Rp80.000.000,00
(100 ton Jagung Hibrida Bisi-16 Super type A)
Dr. Kerugian penyerahan Aset salam Rp 5.000.000,00
Cr. Kas/ rekening petani Rp60.000.000,00
Cr. Persediaan /Aset Salam Rp25.000.000,00
Berdasarkan penyerahan modal salam non kas tersebut di atas, mengakibatkan perubahan posisi
buku besar dan laporan posisi keuangan (neraca) bank syariah sebagai berikut:
PIUTANG SALAM
Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
15/04 Modal kas 60.000.000
15/04 Bibit jagung 20.000.000
Saldo 80.000.000
80.000.000 80.000.000

NERACA
Per 15 April 2007
Aktiva Pasiva
Uraian Jumlah Uraian Jumlah

Piutang Salam 80.000.000

5.3.3 Penerimaan barang pesanan dari produsen (pembuat)


Karakteristik salam adalah penyerahan barang dilakukan kemudian. Oleh karena itu transaksi salam
akan selesai jika pembeli atau pemesan telah menerima seluruh barang yang dipesan sesuai spesifikasi yang
disepakati dalam akad. Pada prinsipnya barang salam (al muslam fihi) yang diterima harus sesuai
spesifikasinya yang tercantum dalam akad, tetapi pembeli dapat juga menerima barang pesanan dengan
kualitas yang berbeda dengan akad. Dalam salam paralel, risiko yang timbul jika menerima barang dengan
kualitas berbeda adalah dapat ditolaknya oleh pemesan (pembeli akhir) yaitu penyerahan barang oleh LKS
sebagai penjual, karena akad antara pemesan (pembeli akhir) dengan LKS sebagai pembuat tidak boleh
terpengaruh atau terkait dengan akad antara LKS sebagai pembeli dengan pembuat.
Jika barang salam diterima oleh LKS sebagai pemesan (pembeli akhir) sesuai dengan jumlah yang
disepakati dalam akad, maka digunakan nilai historis sebagai dasar pengukuran dan pencatatan asset pada
saat perolehan asset tersebut. Sehubungan dengan hal tersebut, barang pesanan yang diperoleh LKS
melalui transaksi salam, diukur pada saat penerimaannya dengan menggunakan nilai historis yang ekuivalen
dengan modal salam yang dibayar oleh LKS. Dalam hal barang salam diterima dalam jenis yang sama
namun dengan kualitas yang berbeda, apabila nilai pasar (atau nilai wajarnya bila nilai pasar tidak diketahui)
barang tersebut sama dengan nilainya dalam akad, maka penerimaan tersebut dicatat pada harga bukunya.
Namun demikian, bila nilai pasarnya lebih rendah maka diukur dan dicatat pada harga pasar pada saat
pengiriman dan perbedaannya diakui sebagai kerugian. Hal ini dilakukan karena untuk mencerminkan nilai
ekuivalen kasnya, penurunan nilai komoditi tersebut harus dimasukkan ke dalam perkiraan asset dengan
jalan mencatatkannya pada harga buku asset. Sifat pengukuran ini diharapkan dapat membantu para
pengguna informasi untuk mendapatkan informasi yang relevan dalam pengambilan keputusan nya.
Pernyataan Konsep juga memberikan arahan mengenai kapan keuntungan dan kerugian yang menjadi

172 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


dasar laporan laba/rugi harus diakui. Suatu kerugian diakui pada saat terjadi transfer resiprokal antara LKS
dan penjual (al muslam ileihi) pada saat penerimaan substansi barang salam. Berkaitan dengan hal tersebut,
pada saat bank syariah menerima barang salam dengan nilai pasar yang lebih rendah dari harga buku
barang salam yang diakadkan, maka selisih yang terjadi harus diakui oleh LKS tersebut.Standar ini
membedakan antara kegagalan penjual dalam mengirim barang salam dengan kelalaian atau salah urus dan
kesalah lain nya, pada tanggal jatuh tempo pengiriman. Perlakuan ini sesuai dengan salah satu sasaran
laporan keuangan yang menyebutkan “ Penentuan hak dan kewajiban dari semua pihak yang terlibat,
termasuk semua hak yang terjadi dari transaksi dan aktifitas yang belum selesai, sesuai dengan syariah
Islam dan prinsip-prinsipnya mengenai keadilan, kejujuran dan taat kepada etika dalam bermuamalat. Pada
akhir periode laporan keuangan, barang salam dicatat pada nilai historis atau pada nilai ekuivalen kasnya,
mana yang lebih rendah. Hal ini memberikan informasi yang lebih relevan yang merupakan salah satu
karakteristik informasi yang harus dimiliki oleh LKS.
Fatwa Dewan Syariah Nasional nomor 05/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Jual Beli Salam
menjelaskan penyerahan barang oleh pembuat sebagai berikut:
Keempat : Penyerahan Barang Sebelum atau pada Waktunya:
1. Penjual harus menyerahkan barang tepat pada waktunya dengan kualitas dan jumlah yang
telah disepakati.
2. Jika penjual menyerahkan barang dengan kualitas yang lebih tinggi, penjual tidak boleh
meminta tambahan harga.
3. Jika penjual menyerahkan barang dengan kualitas yang lebih rendah, dan pembeli rela
menerimanya, maka ia tidak boleh menuntut pengurangan harga (diskon).
4. Penjual dapat menyerahkan barang lebih cepat dari waktu yang disepakati dengan syarat
kualitas dan jumlah barang sesuai dengan kesepakatan, dan ia tidak boleh menuntut
tambahan harga.
5. Jika semua atau sebagian barang tidak tersedia pada waktu penyerahan, atau kualitasnya
lebih rendah dan pembeli tidak rela menerimanya, maka ia memiliki dua pilihan:
a. membatalkan kontrak dan meminta kembali uangnya,
b. menunggu sampai barang tersedia.
PSAK 103 tentang Akuntansi Salam, paragraf 13 dan paragraf 16 mengatur pengakuan dan
pengukuran barang pesanan sebagai berikut:
13 Penerimaan barang pesanan diakui dan diukur sebagai berikut:
(a) jika barang pesanan sesuai dengan akad dinilai sesuai nilai yang disepakati;
(b) jika barang pesanan berbeda kualitasnya, maka:
(i) barang pesanan yang diterima diukur sesuai dengan nilai akad, jika nilai wajar dari barang
pesanan yang diterima nilainya sama atau lebih tinggi dari nilai barang pesanan yang
tercantum dalam akad;
(ii) barang pesanan yang diterima diukur sesuai nilai wajar pada saat diterima dan selisihnya
diakui sebagai kerugian, jika nilai wajar dari barang pesanan yang diterima lebih rendah dari
nilai barang pesanan yang tercantum dalam akad;
(c) jika pembeli tidak menerima sebagian atau seluruh barang pesanan pada tanggal jatuh tempo
pengiriman, maka:
(i) jika tanggal pengiriman diperpanjang, nilai tercatat piutang salam sebesar bagian yang belum
dipenuhi sesuai dengan nilai yang tercantum dalam akad;
(ii) jika akad salam dibatalkan sebagian atau seluruhnya, maka piutang salam berubah
menjadi piutang yang harus dilunasi oleh penjual sebesar bagian yang tidak dapat dipenuhi;
dan
(iii) jika akad salam dibatalkan sebagian atau seluruhnya dan pembeli mempunyai jaminan atas
barang pesanan serta hasil penjualan jaminan tersebut lebih kecil dari nilai piutang salam,
maka selisih antara nilai tercatat piutang salam dan hasil penjualan jaminan tersebut diakui

BAB V. Akuntansi Salam | 173


sebagai piutang kepada penjual yang telah jatuh tempo. Sebaliknya, jika hasil penjualan
jaminan tersebut lebih besar dari nilai tercatat piutang salam maka selisihnya menjadi hak
penjual.
16. Barang pesanan yang telah diterima diakui sebagai persediaan. Pada akhir periode pelaporan
keuangan, persediaan yang diperoleh melalui transaksi salam diukur sebesar nilai terendah
biaya perolehan atau nilai bersih yang dapat direalisasi. Apabila nilai bersih yang dapat
direalisasi lebih rendah dari biaya perolehan, maka selisihnya diakui sebagai kerugian.
Dari penjelasan tersebut di atas, terkait dengan penerimaan barang salam oleh pembeli (LKS
Amanah Gusti) dari pembuat (Kelompok Petani Ngudi Rejeki), dapat terjadi beberapa kemungkinan yaitu:
a. Barang yang diterima sesuai dengan yang tercantum dalam akad.
b. Barang yang diterima tidak sesuai dengan spesifikasi dan kualitas yang tercantum dalam akad

A. Penerimaan barang salam dengan kualitas sama dengan kontrak


Pada prinsipnya kewajiban pembuat atau produsen adalah menyerahkan barang sesuai spesifikasi
yang telah disepakati dalam akad. Oleh karena itu yang diterima oleh pemesan atau pembeli adalah barang
yang sesuai dengan kualitas yang telah disepakati dalam akad, sehingga jika terjadi penurunan harga
pemesan tidak diperkenankan untuk minta tambahan jumlah dan sebaliknya jika terjadi kenaikan harga
pembuat tidak diperkenankan untuk minta tambahan harga. Fatwa Dewan Syariah Nasional nomor
05/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Jual Beli Salam menjelaskan penyerahan barang oleh pembuat sebagai
berikut:
Keempat : Penyerahan Barang Sebelum atau pada Waktunya:
1. Penjual harus menyerahkan barang tepat pada waktunya dengan kualitas dan jumlah
yang telah disepakati.
PSAK 103 tentang Akuntansi Salam, paragraf 13 huruf a dan paragraf 16 mengatur pengakuan dan
pengukuran barang pesanan sebagai berikut:
13 Penerimaan barang pesanan diakui dan diukur sebagai berikut:
(a) jika barang pesanan sesuai dengan akad dinilai sesuai nilai yang disepakati;
16. Barang pesanan yang telah diterima diakui sebagai persediaan. Pada akhir periode pelaporan
keuangan, persediaan yang diperoleh melalui transaksi salam diukur sebesar nilai terendah
biaya perolehan atau nilai bersih yang dapat direalisasi. Apabila nilai bersih yang dapat
direalisasi lebih rendah dari biaya perolehan, maka selisihnya diakui sebagai kerugian.
Karena hutang produsen tersebut adalah barang yang sesuai dengan spesifikasi yang telah disepakati
dalam akad, sehingga kewajiban produsen selesai setelah penyerahan barang tanpa memperhatikan harga
barang saat penyerahan.
Contoh : 5-5
Tanggal 15 Agustus 2007 diterima barang pesanan salam sebanyak 25 ton jagung hibrida sesuai
dengan kualitikasi yang telah disepakati dalam akad, yaitu jagung hibrida Bisi-16 Super type A
dengan harga kontrak sebesar Rp20.000.000,-
Atas penerimaan barang salam LKS Amanah Gusti melakukan jurnal sebagai berikut:
Dr. Persediaan/Aset Salam Rp20.000.000,00
Cr. Piutang Salam Rp20.000.000,00
(25 ton Jagung Hibrida Bisi-16 Super type A)
Jika pada saat jatuh tempo Kelompok Petani sebagai produsen atau pembuat menyerahkan seluruh
barang yang dipesan dengan kualitas sesuai dengan kesepakatan dalam akad, maka jurnal yang dilakukan
oleh LKS Amanah Gusti juga seperti tersebut di atas.

174 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


B. Penerimaan barang salam dengan kualitas berbeda dengan kontrak
Walaupun pada prinsipnya yang harus diterima oleh pemesan adalah barang sesuai dengan
spesifikasi yang telah disepakati dalam akad, tetapi tidak menutup kemungkinan karena sesuatu hal barang
yang dihasilkan oleh pembuat tidak sesuai dengan spesifikasi yang disepakati. Hal ini sangat dimungkinkan
karena produksi pada pertanian sangat dipengaruhi oleh sistem dan kondisi alam, misalnya curah hujan,
hama, keterbatasan pupuk dan sebagainya.Dalam transaksi salam tunggal (bukan salam paralel) kebijakan
penerimaan barang dengan spesifikasi berbeda dengan yang tercantum dalam akad merupakan keputusan
pemesan (pembeli) sendiri dengan naluri bisnisnya, karena barang yang diterima dapat dijual pada pihak
lain. Namun dalam salam paralel penerimaan barang dengan spesifikasi yang berbeda dapat membawa
dampak dalam penyerahan yang dilakukan oleh LKS sebagai pemesan kepada pembeli akhir, ditolak oleh
pembeli akhir. Jika barang tersebut diterima oleh LKS sebagai pemesan (akad kedua ), kemudian ditolak
oleh pembeli akhir (LKS sebagai pembuat – akad pertama), maka LKS bertanggung jawab untuk
memenuhi penyerahan barang sesuai spesifikasi yang disepakati dalam akad.
Berkenaan dengan penerimaan barang dengan spesifikasi yang berbeda dengan akad, harus
dilakukan penilaian nilai wajar atau nilai pasar saat penyerahan sehingga timbul perbedaan antara nilai
wajar dengan nilai akad. Sebagai akibat dari perbedaan tersebut adalah nilai wajar sama dengan nilai akad,
nilai wajar lebih rendah dari nilai akad, nilai wajar lebih tinggi dari nalai akad. Dalam hal LKS sebagai
pembeli menerima barang pesanan dengan kualitas berbeda, maka barang tersebut diakui sebesar harga
pasar atau nilai wajar saat penyerahan. Terkait dengan akuntansiya yang dipergunakan adalah mana yang
lebih rendah antara nilai kontrak dengan nilai atau harga wajar.
Dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional nomor 05/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Jual Beli Salam
menjelaskan penyerahan barang oleh pembuat sebagai berikut:
Keempat : Penyerahan Barang Sebelum atau pada Waktunya:
2. Jika penjual menyerahkan barang dengan kualitas yang lebih tinggi, penjual tidak
boleh meminta tambahan harga.
3. Jika penjual menyerahkan barang dengan kualitas yang lebih rendah, dan pembeli
rela menerimanya, maka ia tidak boleh menuntut pengurangan harga (diskon).
5. Jika semua atau sebagian barang tidak tersedia pada waktu penyerahan, atau
kualitasnya lebih rendah dan pembeli tidak rela menerimanya, maka ia memiliki dua
pilihan:
a. membatalkan kontrak dan meminta kembali uangnya,
b. menunggu sampai barang tersedia.
Dalam PSAK 103 tentang akuntansi Salam, paragraf 13 huruf b mengatur pengakuan dan
pengukuran barang pesanan kualitas berbeda sebagai berikut:
13 Penerimaan barang pesanan diakui dan diukur sebagai berikut:
(b) jika barang pesanan berbeda kualitasnya, maka:
(i) barang pesanan yang diterima diukur sesuai dengan nilai akad, jika nilai wajar dari barang
pesanan yang diterima nilainya sama atau lebih tinggi dari nilai barang pesanan yang tercantum
dalam akad;
(ii) barang pesanan yang diterima diukur sesuai nilai wajar pada saat diterima dan selisihnya
diakui sebagai kerugian, jika nilai wajar dari barang pesanan yang diterima lebih rendah dari
nilai barang pesanan yang tercantum dalam akad;
Sesuai ketentuan tersebut di atas bahwa penyerahan barang dengan kualitas yang berbeda dalam
akad, harus dilakukan penilaian nilai wajar saat penyerahan dari barang yang diserahkan tersebut. Akibat
penilaian tersebut akan terjadi beberapa kemungkinan yaitu:
a. Nilai wajar sama dengan nilai yang tercantum dalam akad
b. Nilai wajar lebih tinggi dari nilai yang tercantum dalam akad

BAB V. Akuntansi Salam | 175


c. Nilai wajar lebih rendah dari nilai yang tercantum dalam akad
Untuk memberikan gambaran penyerahan barang, dapat diberikan ilustrasi lanjutan dari contoh
tersebut di atas, dimana penyerahan barang yang dilakukan oleh Kelompok Petani Ngudi Rejeki kepada
LKS Amanah Gusti sebagai berikut :
a. Penyerahan tahap pertama sebanyak 25 ton Jagung Hibrida Bisi-16 Super B (kualitas berbeda)
dengan nilai wajar/pasar Rp20.000.000,00 (Rp800.000,00 per ton, harga pasar sama dengan
harga dalam kontrak)
b. Penyerahan tahap kedua sebanyak 25 ton Jagung Hibrida Bisi-16 Super B (kualitas berbeda)
dengan nilai wajar/pasar Rp25.000.000,00 (Rp1.000.000,00 per ton, harga pasar lebih tinggi dari
harga dalam kontrak)
c. Penyerahan tahap ketiga sebanyak 25 ton Jagung Hibrida Bisi-16 Super B (berbeda kualitas)
dengan nilai wajar/pasar Rp16.000.000,00 (Rp640.000 per ton, harga pasar lebih rendah dari
harga dalam kontrak)

1). Penerimaan barang dengan kualitas yang berbeda dengan akad dan nilai wajar sama dengan
nilai akad.
Jika barang yang diterima tersebut dengan kualitas yang berbeda, maka saat penyerahan barang
diakui sebesar nilai wajar atau nilai pasar saat penyerahan. Salah satu kemungkinan yang terjadi adalah nilai
wajar atau nilai pasar sama dengan nilai akad, pengakuan aset sebesar nilai wajarnya.
Contoh : 5-6
Pada tahap pertama diterima barang pesanan sesuai dengan akad dinilai sesuai nilai yang disepakati
yaitu sebanyak 25 ton Jagung Hibrida Bisi-16 Super B (kualitas berbeda) dengan nilai wajar/harga
pasar Rp20.000.000,00 (harga pasar Rp800.000,00 per ton, sama dengan harga dalam kontrak)
Atas transaksi tersebut LKS Amanah Gusti sebagai pembeli melakukan jurnal sebagai berikut:
Dr. Persediaan/Aset Salam Rp20.000.000,00
Cr. Piutang salam Rp20.000.000,00
(25 ton Jagung Hibrida Bisi-16 Super type A)

2). Penerimaan barang salam dengan kualitas yang berbeda dengan akad dan nilai wajar lebih
tinggi dari nilai akad.
Barang pesanan yang diterima berbeda kualitasnya dan diakui sebesar nilai wajar atau nilai pasar saat
penyerahan, maka kemungkinan lain adalah barang pesanan yang diterima mempunyai nilai pasar (nilai
wajar jika nilai pasar tidak tersedia) lebih tinggi dari nilai yang tercantum dalam akad. Jika barang yang
diterima mempunyai nilai wajar lebih tinggi dari nilai akad maka pengukuran barang yang diterima sebesar
nilai akadnya, karena nilai akad yang lebih rendah dari nilai wajarnya. Hal ini sesuai dengan ketentuan
dalam PSAK 103 tentang Akuntansi Salam paragraf 13 huruf b butir (i) di atas
Contoh : 5-7
Dalam ilustrasi contoh di atas misalnya penyerahan tahap kedua sebanyak 25 ton Jagung Hibrida
Bisi-16 Super B (kualitas berbeda) dengan nilai wajar/pasar Rp25.000.000,00(harga pasar
Rp1.000.000,00 per ton, sedangkan harga dalam kontrak Rp800.000,00)
Atas penerimaan barang dengan kualitas berbeda tersebut, LKS sebagai pemesan melakukan jurnal
sebagai berikut:
Dr. Persediaan/Aset Salam Rp20.000.000,00
Cr. Piutang salam Rp20.000.000,00
(25 ton Jagung Hibrida Bisi-16 Super B)

176 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


3). Penerimaan barang salam dengan kualitas yang berbeda dengan akad dan nilai wajar lebih
rendah dari nilai akad.
Kemungkinan lain yang terjadi barang yang terima oleh pemesan dengan kualitas berbeda dan
barang pesanan yang diterima mempunyai nilai wajat atau pasar lebih rendah dari nilai dalam akad. Jika
terjadi demikian maka barang yang diterima diukur sesuai nilai pasar (nilai wajar jika nilai pasar tidak
tersedia) pada saat diterima karena nilai wajar atau nilai pasar lebih rendah dari nilai akad dan selisihnya
diakui sebagai kerugian. Hal ini sesuai PSAK 103 tentang Akuntansi Salam paragraf 12 huruf b butir (ii) di
atas
Contoh : 5-8
Dalam contoh di atas penyerahan tahap ketiga sebanyak 25 ton Jagung Hibrida, Bisi-16 Super B
dengan nilai wajar/pasar Rp16.000.000,00 (harga pasar Rp640.000,00 per ton, sedangkan harga
dalam kontrak sebesar Rp800.000,00).
Dalam melakukan jurnal yang dipergunakan adalah harga pasar (yang terendah) yaitu sebesar
Rp16.000.000,00 sedangkan selisih harga pasar dengan harga kontrak sebesar Rp4.000.000,00 diakui
sebagai kerugian. Sehingga atas transaksi tersebut jurnal yang dilakukan oleh LKS Amanah Gusti sebagai
pemesan adalah sebagai berikut:
Dr. Persediaan/Aset Salam Rp16.000.000,00
Dr. Kerugian penyerahan brg salam Rp 4.000.000,00
Cr. Piutang salam Rp20.000.000,00
(25 ton Jagung Hibrida Bisi-16 Super B)
Dari jurnal tersebut di atas, akan mengakibatkan perubahan posisi perkiraan sampai dengan
penyerahan barang tahap ketiga adalah sebagai berikut:
PIUTANG SALAM
Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
15/04 Modal kas 60.000.000 15/08 Penyerahan tahap 1 20.000.000
15/04 Bibit Jagung 20.000.000 20/08 Penyerahan tahap 2 20.000.000
25/08 Penyerahan tahap 3 20.000.000
Saldo 20.000.000
80.000.000 80.000.000

NERACA
Per 25 Agustus 2007
Aktiva pasiva
Uraian Jumlah Uraian Jumlah

Piutang Salam 20.000.000

Persediaan Salam 60.000.000

5.3.4 Pada saat jatuh tempo tidak ada penerimaan barang


Dalam transaksi salam dimungkinkan pembuat atau produsen gagal produksi, sehingga pada saat
jatuh waktu penyerahan pembuat atau produsen tidak dapat penyerahkan barang, baik seluruhnya atau
sebagian dari jumlah barang yang harus diserahkan. Jika sampai dengan tanggal jatuh tempo pemesan tidak
menerima barang dan dilakukan beberapa alternatif, maka dalam PSAK 103 tentang Akuntansi Salam,
paragraf 13 huruf c diatur sebagai berikut:
13 Penerimaan barang pesanan diakui dan diukur sebagai berikut:
(c) jika pembeli tidak menerima sebagian atau seluruh barang pesanan pada tanggal jatuh tempo
pengiriman, maka:
(i) jika tanggal pengiriman diperpanjang, nilai tercatat piutang salam sebesar bagian yang belum
dipenuhi sesuai dengan nilai yang tercantum dalam akad;

BAB V. Akuntansi Salam | 177


(ii)jika akad salam dibatalkan sebagian atau seluruhnya, maka piutang salam berubah
menjadi piutang yang harus dilunasi oleh penjual sebesar bagian yang tidak dapat dipenuhi;
dan
(iii) jika akad salam dibatalkan sebagian atau seluruhnya dan pembeli mempunyai jaminan atas
barang pesanan serta hasil penjualan jaminan tersebut lebih kecil dari nilai piutang salam,
maka selisih antara nilai tercatat piutang salam dan hasil penjualan jaminan tersebut diakui
sebagai piutang kepada penjual yang telah jatuh tempo. Sebaliknya, jika hasil penjualan
jaminan tersebut lebih besar dari nilai tercatat piutang salam maka selisihnya menjadi hak
penjual.
Untuk memberikan gambaran jika pada saat tanggal jatuh tempo tidak diterima barang sebagai atau
seluruhnya diberikan ilustrasi contoh sebagai berikut:
Penyerahan tahap ke-empat sebanyak 25 ton jagung Hibrida Bisi-16 Super type A seharga
Rp20.000.000,00 tidak dapat diserahkan saat tanggal jatuh tempo, sehingga perlu diambil alternatif:
a. Kontrak diperpanjang
b. Kontrak dibatalkan
c. Jaminan dijual dengan misalnya
(1) seharga Rp15.000.000,00
(2) seharga Rp30.000.000,00
Dari ilutrasi tersebut di atas jika sampai dengan jatuh tempo belum diterima barang yang dipesan,
dapat dilakukan beberapa alternatif yaitu:
a. memperpanjang jangka waktu pengiriman barang
b. membatalkan pesanan dan penjual tidak dapat mengembalikan hutangnya sehingga berubah
menjadi piutang kepada penjual (hutang uang)
c. membatalkan pesanan dan penjual melunasi hutang dari hasil penjualan jaminan.
A. Memperpanjang jangka waktu pengiriman barang kepada Pembeli
Jika LKS tidak menerima sebagian atau seluruh barang pesanan pada tanggal jatuh tempo
pengiriman, alternatif pertama yang terjadi adalah memperpanjang jangka waktu penyerahan barang
kepada pembeli (Kelompok Petani Ngudi Rejeki). Jika tanggal pengiriman diperpanjang, nilai tercatat
piutang salam sebesar bagian yang belum dipenuhi tetap sesuai dengan nilai yang tercantum dalam akad.
Dalam hal ini tidak ada jurnal yang perlu dilakukan oleh LKS.
Contoh : 5-9
Tanggal 30 Agustus 2007 Kelompok Tani ”Ngudi Rejeki” tidak dapat penyerahakan barang pesana
tahap ke 4, yaitu 25 ton jagung hibrida Bisi-16 Super type A seharga Rp20.000.000,00. Sesuai
kesepakatan atas hal tersebut dilakukan perpanjangan jangka waktu penyerahan sampai dengan
tanggal 30 September 2007
Atas perpanjangan jangka waktu penyerahan barang tersebut, maka LKS Amanah Gusti sebagai
pemesan tidak melakukan jurnal.
B. Pembatalan pesanan dan penjual tidak dapat melunasi hutangnya
Jika LKS tidak menerima sebagian atau seluruh barang pesanan pada tanggal jatuh tempo
pengiriman dan akad salam dibatalkan sebagian atau seluruhnya, maka piutang salam berubah menjadi
piutang uang (bukan piutang barang lagi) yang harus dilunasi oleh penjual sebesar bagian yang tidak dapat
dipenuhi;
Contoh : 5-10
Tanggal 30 Agustus 2007, Kelompok Tani “Ngudi Rejeki” tidak dapat memenuhi kewajibannya
untuk menyerahkan barang pesanan tahap ke empat, yaitu sebanyak 25 ton Jagung Bisi-16 Super
type A seharga Rp20.000.000,00 . Atas hal tersebut LKS Amanah Gusti membatalkan akad salam
dengan Kelompok Tani ”Ngudi Rejeki”.

178 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


Atas pembatalakan yang dilakukan maka LKS Amanah Gusti melakukan jurnal sebagai berikut:
Dr. Piutang Petani “Ngudi Rejeki” Rp20.000.000,00
Cr. Piutang salam Rp20.000.000,00
(25 ton Jagung Hibrida Bisi-16 Super type A)

C. Pembatalan pesanan dan penjual melunasi kewajibannya dari hasil penjualan jaminan
salam
Jika LKS tidak menerima sebagian atau seluruh barang pesanan pada tanggal jatuh tempo
pengiriman dan penjual menyerahankan jaminan atas barang pesanan, maka atas tidak dipenuhi kewajiban
penjual tersebut dapat dilakukan penjualan jaminan.
Jika dilakukan penjualan jaminan, maka kemungkinan yang terjadi adalah (1) hasil penjualan sama
dengan hutang penjual, (2) hasil penjualan jaminan lebih kecil dari hutang penjual (piutang salam) maka
selisih antara nilai tercatat piutang salam dan hasil penjualan jaminan tersebut diakui sebagai piutang
kepada nasabah yang telah jatuh tempo dan (3) hasil penjualan jaminan lebih tinggi dari hutang penjual
(piutang salam) maka selisihnya menjadi hak nasabah;
1). Hasil penjualan jaminan sama dengan hutang penjual
Kemungkinan pertama yang mungkin terjadi dalam penjualan jaminan adalah hasil penjualan sama
dengan hutang penjual, sehingga seluruh hasil penjualan barang jaminan tersebut dipergunakan untuk
melunasi hutang penjual.
Contoh: 5-11
Misalnya pada tanggal 05 September 2007 LKS Amanah Gusti bersama-sama dengan Kelompok
Petani ”Ngudi Rejeki” melakukan penjualan sebidang sawah milik petani yang dipergunakan sebagai
jaminan dalam transaksi salam, dengan nilai pasar (nilai wajar) sebesar Rp20.000.000. Hutang
Kelmpok Petani ”Ngudi Rejeki” kepada LKS Amanah Gusti atas tidak diserahkannya barang
pesanan tahap keempat yaitu 25 ton jagung hibrida, Bisi-16 Super type A seharga Rp20.000.000,00
Atas penjualan jaminan tersebut dan pembayaran kewajiban penjual. LKS Amanah Gusti
melakukan jurnal sebagai berikut:
Dr. Kas Rp20.000.000,00
Cr. Piutang Salam Rp20.000.000,00
(25 ton Jagung Hibrida Bisi-16 Super type A)
Dari jurnal tersebut di atas, akan mengakibatkan perubahan posisi perkiraan sampai dengan
penyerahan barang tahap ketiga adalah sebagai berikut:
PIUTANG SALAM
Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
15/04 Modal kas 60.000.000 15/08 Penyerahan tahap 1 20.000.000
15/04 Bibit Jagung 20.000.000 20/08 Penyerahan tahap 2 20.000.000
25/08 Penyerahan tahap 3 20.000.000
05/09 Pelunasan 20.000.000
Saldo 0
80.000.000 80.000.000

NERACA
Per 30Agustus 2007
Aktiva pasiva
Uraian Jumlah Uraian Jumlah

Piutang Salam 0

BAB V. Akuntansi Salam | 179


2) Hasil penjualan jaminan lebih kecil dari hutang penjual
Kemungkinan yang lain dalam melakukan penjualan barang jaminan adalah hasil penjualan lebih
kecil dari hutang penjual, sehingga untuk melakukan pembayaran hutang penjual masih kurang. Atas
kekurangan tersebut diakui sebagai hutang penjual (piutang kepada penjual) dalam bentuk piutang
uang/modal (bukan piutang barang lagi)
Contoh: 5-12
Misalnya pada tanggal 05 September 2007 LKS Amanah Gusti bersama-sama dengan Kelompok
Petani ”Ngudi Rejeki” melakukan penjualan sebidang sawah milik petani yang dipergunakan sebagai
jaminan dalam transaksi salam, dengan nilai pasar (nilai wajar) sebesar Rp15.000.000. Hutang
Kelmpok Petani ”Ngudi Rejeki” kepada LKS Amanah Gusti atas tidak diserahkannya barang
pesanan tahap keempat yaitu 25 ton jagung hibrida, Bisi-16 Super type A seharga Rp20.000.000,00
Atas penjualan barang jaminan tersebut dan pelunasan sebagai hutang penjual, maka LKS Amanah
Gusti melakukan jurnal sebagai berikut:
Dr. Kas Rp15.000.000,00
Dr. Piutang Petani “Ngudi Rejeki” Rp 5.000.000,00
Cr. Piutang salam Rp20.000.000,00
(25 ton Jagung Hibrida Bisi-16 Super type A)
Dari jurnal tersebut di atas, akan mengakibatkan perubahan posisi perkiraan sampai dengan
penyerahan barang tahap ketiga adalah sebagai berikut:
PIUTANG SALAM
Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
15/04 Modal kas 60.000.000 15/08 Penyerahan tahap 1 20.000.000
15/04 Bibit Jagung 20.000.000 20/08 Penyerahan tahap 2 20.000.000
25/08 Penyerahan tahap 3 20.000.000
05/09 Pelunasan 20.000.000
Saldo 0
80.000.000 80.000.000

PIUTANG KEL PETANI NGUDI REJEKI


Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
05/09 Kewajiban tahap 4 5.000.000
Saldo 5.000.000
5.000.000 5.000.000

NERACA
Per 05 September 2007
Aktiva pasiva
Uraian Jumlah Uraian Jumlah

Piutang Salam 0

Piutang Lainnya 5.000.000

3). Hasil penjualan jaminan lebih tinggi dari hutang penjual


Kemungkinan lainnya dari penjualan barang jaminan adalah hasil penjualan barang jaminan lebih
tinggi dari hutang penjual, sehingga dari hasil penjualan barang tersebut setelah dilakukan pembayaran
hutang penjual masih terdapat kelebihan atau sisa. Atas kelebihan hasil penjualan barang jaminan tersebut
harus dikembalikan kepada penjual (Kelompok Petani ”Ngudi Rejeki”)

180 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


Contoh: 5-13
Misalnya pada tanggal 05 September 2007 LKS Amanah Gusti bersama-sama dengan Kelompok
Petani ”Ngudi Rejeki” melakukan penjualan sebidang sawah milik petani yang dipergunakan sebagai
jaminan dalam transaksi salam, dengan nilai pasar (nilai wajar) sebesar Rp30.000.000,00. Hutang
Kelmpok Petani ”Ngudi Rejeki” kepada LKS Amanah Gusti atas tidak diserahkannya barang
pesanan tahap keempat yaitu 25 ton jagung hibrida, Bisi-16 Super type A seharga Rp20.000.000,00
Atas penjualan barang jaminan dan pembayaran hutang penjual serta pembayaran kelebihan hasil
penjualan barang jaminan, makal LKS melakukan jurnal sebagai berikut:
Dr. Kas Rp30.000.000,00
Cr. Piutang salam Rp20.000.000,00
Cr. Rekening Petani “Ngudi Rejeki”/kas Rp10.000.000,00

5.3.5 Denda
Agar supaya penjual tidak menyalahi kesepakatan dalam akad, dan untuk mendidik kedisiplinan,
maka kedua pihak dapat melakukan kesepakatan dalam pengenaan denda. Dana yang diterima atas denda
tidak diakui sebagai pendapatan LKS sebagai penjual tetapi harus diserahkan sebagai dana sosial atau dana
kebajikan. Dalam PSAK 103 tentang Akuntansi Salam diatur mengenai denda dalam paragraf 15, sebagai
berikut:
15. Pembeli dapat mengenakan denda kepada penjual, denda hanya boleh dikenakan kepada
penjual yang mampu menyelesaikan kewajibannya, tetapi sengaja tidak melakukannya. Hal ini
tidak berlaku bagi penjual yang tidak mampu menunaikan kewajibannya karena force majeur.
Denda dikenakan jika penjual lalai dalam melakukan kewajibannya sesuai dengan akad, dan
denda yang diterima diakui sebagai bagian dana kebajikan.
Jadi denda dikenakan kepada penjual yang tidak memenuhi kewajibannya dan dana yang diterima
dari denda diserahkan sebagai dana kebajikan
Contoh: 5-14
Sesuai kesepakatan dalam akad yang dilakukan antara LKS Amanah Gusti sebagai pemesan dan
Kelompok Petani ”Ngudi Rejeki” sebagai penjual, atas kelalaian Kelompok Petani “Ngudi Rejeki”
dikenakan denda sebesar Rp1.000.000
Atas pengenaan dengan yang dilakukan LKS Amanah Gusti, jurnal yang dilakukan adalah sebagai berikut:
Dr. Rekening Petani “Ngudi Rejeki” Rp1.000.000,00
Cr. Rekening Dana Kebajikan Rp1.000.000,00

5.4 Akuntansi Penjual (produsen/pembuat)

Sebagaimana diatur dalam ruang lingkup PSAK 103 tentang Akuntansi Salam, bahwa yang dibahas
dalam PSAK tersebut selain mengatur akuntansi dari pihak pembeli, diatur juga akuntansi salam dari sisi
penjual. Jika diperhatikan hanya sedikit ketentuan yang membahas akuntansi salam untuk penjual, yaitu
paragraf 17 sampai dengan paragraf 19. Ketentuan akuntansi salam pada penjual hanya membahas tentang
penerimaan modal dan penyerahan barang.

5.4.1 Akun-akun pada penjual


Akun-akun yang dipergunakan dalam akuntansi salam ini mencerminkan transaksi salam dan salam
paralel yang disajikan dalam laporan posisi keuangan (neraca) atau laporan laba rugi.

BAB V. Akuntansi Salam | 181


A. Akun-akun Laporan Posisi Keuangan (neraca)
Akun-akun yang dipergunakan dalam transaksi salam untuk kepentingan pembuatan laporan posisi
keuangan (neraca) antara lain dan tidak terbatas pada:
1. Hutang Salam (kewajiban salam)
Akun ini dipergunakan untuk mencatat pembayaran harga barang yang disepakati oleh pembeli.
Prinsipnya hutang salam tersebut merupakan hutang atas barang yang telah dipesan (bukan hutang
uang sebesar harga barang), sehingga segala perubahan harga atas barang menjadi tanggung jawab
bank sebagai penjual. Akun ini dikredit pada saat penerimaan pembayaran harga barang sebesar
seluruh harga barang yang diterima dan di debet pada saat penyerahan barang yang dipesan kepada
pembeli atau pada saat jatuh tempo pembuat tidak mampu untuk menyerahkan barangnya
(dipindahkan kepada kewajiban/hutang kepada pemesan)
2. Persediaan (Aset Salam)
Akun ini dipergunakan untuk memcatat barang salam yang diterima (selesai dibuat) kemudian
diserahkan kepada pembeli akhir. Akun ini di debet pada saat diterima barang salam yang dipesan
dan dikredit pada saat penjualan atau penyerahan barang kepada pemesan akhir
3. Hutang kepada LKS
Akun ini dipergunakan untuk mencatat hutang produsen atas tidak dapat diserahkannya barang
yang dipesan pada saat jatuh tempo. Akun ini dikredit saat dipindahkan dari hutang salam ke hutang
LKS yaitu saat jatuh tempo akad dan tidak dapat menyerahkan barang yang dipesan. Akun ini
didebet saat dilakukan pembayaran.

B. Akun-akun Laporan Laba Rugi


Akun-akun dalam akuntansi salam dan salam paralel yang dipergunakan untuk penyusunan laporan
laba rugi antara lain dan tidak terbatas pada:
1. Keuntungan Penyerahan Aktiva
Akun ini dipergunakan untuk mencatat keuntungan penyerahan modal salam dalam bentuk non kas
(barang) dimana nilai wajar atau nilai pasar lebih besar dari nilai perolehan. Akun ini dikredit pada
saat diakui keuntungan atas penyerahan baran sebesar selisih harga pasar dan harga perolehan dan
didebet pada saat dipindahkan ke akun Laba Rugi.
2. Kerugian Penyerahan Aktiva
Akun ini dipergunakan untuk mencatat kerugian penyerahan modal salam dalam bentuk non kas
(barang) dimana nilai wajar atau nilai pasar lebih kecil dari nilai perolehan. Akun ini didebet pada
saat diakui kerugian atas penyerahan barang sebesar selisih harga pasar dan harga perolehan dan
dikredit pada saat dipindahkan ke akun Laba Rugi.
3. Kerugian salam
Akun ini dipergunakan untuk mencatat kerugian yang timbul dalam transaksi salam. Akun ini
didebet pada saat timbul kerugian salam dan dikredit pada saat dipindahkan ke Laba Rugi tutup
buku akhir tahun
4. Keuntungan salam
Akun ini dipergunakan untuk mencatat keuntungan yang terjadi dalam transaksi salam. Keuntungan
atau pendapatan hanya dapat dibukukan apabila telah terjadi penyerahan barang atau perubahan
risiko yang signifikan dari penjual ke pembeli. Akun ini dikredit pada saat timbul keuntungan salam
dan didebet pada saat dipindahkan ke Laba Rugi tutup buku akhir tahun
Untuk memberi gambaran akuntansi Entitas Syariah sebagai penjual dapat diberikan ilutrasi contoh
secara umum sebagai berikut:

182 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


Pada tanggal 12 Maret 2007, LKS Amanah Gusti menerima pesanan dari Pabrik Tepung “Rasapati”
untuk mengadaan Patioka Ketela Pohon dengan data-data sebagai berikut:
Nama barang pesanan : Patioka (Tepung ketela pohon)
Jenis barang pesanan : Ketela Pohon, kualitas A
Jumlah : 100 ton
Harga : Rp5.000.000,00 per ton
Jangka waktu penyerahan : 3 bulan
Syarat pembayaran : Pada saat akad ditanda tangani seluruh harga barang
Dari ilutrasi transaksi tersebut di atas, akuntansi yang dilakukan oleh LKS Amanah Gusti sebagai
pembuat adalah
a. Penerimaan modal salam dari pembeli (Pabrik Tepung Rasapati) baik modal kas maupun modal
non kas
b. Penyerahan barang salam kepada pembeli (Pabrik Tepung Rasapati) dengan kualitas yang sama
dengan akad atau dengan kualitas yang berbeda dengan akad.

5.4.2 Penerimaan modal salam dari pembeli/pemesan


Karakteristik salam penyerahan barang dilakukan kemudian dan harga barang dilakukan segera pada
saat akad ditanda tangani. Jadi pada prinsipnya modal salam harus diserahkan segera secara keseluruhan
setelah akan ditandatangani. Modal salam yang diterima dapat berupa kas dan aset non kas (barang) sperti
misalnya bibit, pupuk, alat-alat pertanian dan sebagainya. Penerimaan modal salam oleh penjual (LKS
Amanah Gusti) dari pembeli (Pabrik Tepung Rasapati) dicatat sebagai ”Kewajiban Salam” atau ”Hutang
Salam”. Kewajiban salam ini merupakan kewajiban pembuat untuk menyerahkan barang bukan kewajiban
atas uang yang diterima. Kewajiban salam akan berakhir setelah penyerahan atau dipindahkan sebagai
kewajiban lain pada penjual tidak dapat menyerahkan barang
PSAK 103 tentang Akuntansi Salam paragraf 17 sampai dengan 18 mengatur tentang pengakuan
dan pengukuran modal salam yang diterim oleh penjual sebagai berikut:
17. Kewajiban salam diakui pada saat penjual menerima modal usaha salam sebesar modal usaha salam yang
diterima.
18. Modal usaha salam yang diterima dapat berupa kas dan aset nonkas. Modal usaha salam dalam bentuk
kas diukur sebesar jumlah yang diterima, sedangkan modal usaha salam dalam bentuk aset nonkas diukur
sebesar nilai wajar.
19 Kewajiban salam dihentikan-pengakuannya (derecognation) pada saat penyerahan barang kepada
pembeli. Jika penjual melakukan transaksi salam paralel, selisih antara jumlah yang dibayar oleh pembeli
akhir dan biaya perolehan barang pesanan diakui sebagai keuntungan atau kerugian pada saat penyerahan
barang pesanan oleh penjual ke pembeli akhir.
Sesuai karakteristik harga barang salam harus dibayar lunas saat akad ditanda tangani. Dengan
dibayar harga barang salam terlebih dahulu oleh pembeli kepada produsen sebagai penjual, maka hal
tersebut merupakan modal bagi produsen untuk memproduksi barang salam tersebut. Pemberian modal
dari pembeli kepada produsen dapat diberikan dalam bentuk uang tunai (kas) dan /atau dalam bentuk
barang (non kas).

A. Penerimaan modal salam dalam bentuk kas/tunai


Jika penjual menerima modal salam dalam bentuk kas, diakui sebagai kewajiban salam sebesar
jumlah yang diterima. Kewajiban salam ini merupakan kewajiban untuk menyerahkan barang salam kepada
pembeli, sehingga kewajiban salam ini akan berakhir setelah penyerahan barang.
Contoh : 5-15
Pada tanggal 12 Maret 2007 LKS Amanah Gusti penerimaan dana dari Pabrik Tepung “Rasapati”
sebesar Rp500.000.000,00 atas pesanan tepung patioka (tepung ketela pohon) sebanyak 100 ton

BAB V. Akuntansi Salam | 183


Atas pelunasan pembayaran harga barang, dijurnal sebagai berikut:
Dr. Kas/Rekening Pabrik Tepung Rp500.000.000,00
Cr. Hutang salam Rp500.000.000,00
(100 ton Patioka, ketela pohon kualitas A)
Dalam transaksi salam ini, kewajiban salam atau Hutang Salam adalah “jumlah barang dengan
specifikasi yang telah disepakati” yang dalam pembukukan diadministrasikan nilai rupiahnya. Dari jurnal
tersebut perubahan dalam buku besar dan peruabahan laporan posisi keuangan (neraca) LKS adalah :

HUTANG SALAM
Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
12/03 10.000 ton Patioka 500.000.000
Saldo 500.000.000
500.000;000 500.000.000

NERACA
Per 12 Agustus 2004
Aktiva pasiva
Uraian Jumlah Uraian Jumlah

Hutang Salam 500.000.000

B. Penerimaan modal salam dalam bentuk non kas (barang)


Dalam transaksi salam, penyerahan modal salam oleh pembeli kepada penjual (pembuat) tidak
hanya dalam bentuk kas, tetapi diperkenankan juga untuk menyerahkan modal salam dalam bentuk barang
(non kas). Disinilah perbedaan yang mendasar dengan Lembaga Keuangan Konvensional (khususnya bank
syariah) karena dalam Lembaga keuangan Perbankan (Bank) hanya diperkenankan untuk menyerahkan
uang, karena Lembaga Keuangan Perbankan hanya diperkenankan menjalankan kegiatan usahanya di
bidang keuangan.
Contoh : 5-16
Pada tanggal 12 Maret 2007 LKS sebagai penjual menerima pembayaran harga salam sebesar
Rp500.000.000,- yang terdiri dari :
a. Uang tunai (kas) Rp100.000.000,00
b. Modal non kas (barang berupa):
Nama barang harga wajar
Alat pertanian Rp200.000.000,00
5 ton Pupuk Rp100.000.000,00
100 lt obat-obatan Rp100.000.000,00
-------------------------
Jumlah modal non kas (barang) Rp400.000.000,00
--------------------
Jumlah modal salam (kas dan non kas) Rp500.000.000,00
Dengan penerimaan harga barang salam yang merupakan modal LKS dalam memproduksi barang maka
dilakukan jurnal sebagai berikut:
Dr. Persediaan /Aset Salam Rp400.000.000,00
Dr. Kas Rp100.000.000,00
Cr. Kewajiban salam Rp500.000.000,00

184 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


5.4.3 Penyerahan barang salam kepada pembeli/pemesan
Penyerahan barang berkaitan dengan “Kewajiban Salam’ karena dalam transaksi salam yang
terhutang atau yang menjadi kewajiban dari pembuat adalah penyerahkan barang sesuai dengan spesifikasi
yang telah disepakati dalam akad. DalamPSAK 103 tentang Akuntansi Salam menjelaskan :
19. Kewajiban salam dihentikan-pengakuannya (derecognation) pada saat penyerahan barang kepada
pembeli. Jika penjual melakukan transaksi salam paralel, selisih antara jumlah yang dibayar oleh pembeli
akhir dan biaya perolehan barang pesanan diakui sebagai keuntungan atau kerugian pada saat penyerahan
barang pesanan oleh penjual ke pembeli akhir.
Jadi bagi penjual atau produsen kewajibannya selesai dengan penyerahan barang sesuai spesifikasi
yang telah disepakati diawal, tanpa memperhatikan harga barang saat penyerahan.
A Penyerahan barang dengan kualitas yang sama dalam akad
Dengan diserahkan barang (walaupun dengan kualitas yang berbeda), maka kewajiban penjual
kepada pembeli sudah selesai.
Contoh : 5-17
Pada tanggal 10 Juni 2007 diserahkan barang salam berupa 100 ton patioka, kualitas A (sesuai
kualitas dalam akad) seharga Rp500.000.000
Pada saat penyerahan barang pesanan kepada Pabrik Tepung “Rasapati” pada tanggal 12 Juni 2007
jurnal yang dilakukan oleh Entitas Syariah adalah sebagai berikut:
Dr. Hutang salam Rp500.000.000,00
(100 ton Patioka, ketela pohon kualitas A)
Cr. Persediaan Rp500.000.000,00
Dari jurnal tersebut perubahan posisi buku besar, dan perubahan laporan posisi keuangan (neraca)
bank syariah adalah sebagai berikut:
HUTANG SALAM
Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
12/06 10.000 ton patioka ketela 500.000.000 12/03 10.000 ton patioka ketela 500.000.000
pohon pohon
Saldo 00
500.000;000 500.000.000

NERACA
Per 15 September 2004
Aktiva Pasiva
Uraian Jumlah Uraian Jumlah

Hutang Salam 00

B. Penyerahan barang dengan kualitas yang berbeda


Kewajiban penjual sebagai produsen adalah kewajiban untuk menyerahkan barang (bukan
kewajiban uang). Oleh karena itu kewajiban tersebut selesai jika telah dilakukan penyerahan barangnya,
baik dengan kualiatas yang sama dengan akad atau dengan kualitas yang berbeda dengan akad (jika pembeli
menyetujui dan berkenan untuk menerimanya). Pengakuan akuntansi dengan kualitas berbeda ini sangat
berbeda dengan akuntansi pada pembeli yang mengakui mana yang lebih rendah antara nilai akad dengan
nilai wajarnya.
Contoh : 5-18 (kualitas berbeda dengan nilai wajar lebih rendah)
Diserahkan pembeli barang salam berupa 100 ton patoka ketela pohon kualitas B (tidak sesuai
dengan kualitas dalam akad) sebanyak 100 ton dengan harga wajar Rp475.000.000,00 (nilai akad
sebesar Rp500.000.000,00)

BAB V. Akuntansi Salam | 185


Dengan diserahkan barang salam tersebut oleh penjual kepada pembeli, maka kewajiban penjual
telah selesai, oleh karena itu dilakukan jurnal sebagai berikut:
Dr. Hutang salam Rp500.000.000,00
Cr. Persediaan Rp500.000.000,00
Dalam penyerahan barang dengan kualitas berbeda, baik dengan nilai wajar lebih rendah maupun
nilai wajarnya lebih tinggi, dan pembeli menyetujui, maka kewajiban pembeli telah selesai. Jika nilai wajar
lebih rendah dari nilai akad maka pembeli tidak diperkenankan untuk meminta tambahan jumlah barang,
sebaliknya jika nilai wajar lebih tinggi dari nilai akadnya maka pembeli juga tidak diperkenankan untuk
minta tambahan harga. Sekali lagi kewajiban penjual adalah kewajiban penyerahan barang bukan
kewajiban atas uang. Oleh karena itu jurnal yang dilakukan oleh pembeli, baik dengan kualitas sama
dengan akad maupun dengan kualitas yang berbeda dengan akad dengan nilai wajar lebih rendah maupun
lebih tinggi, maka jurnal yang dilakukan adalah sama di atas.

5.5 Akuntansi Salam Paralel


LKS dapat bertindak sebagai pembeli atau penjual dalam suatu transaksi salam. Jika LKS bertindak
sebagai penjual kemudian memesan kepada pihak lain untuk menyediakan barang pesanan dengan cara
salam maka hal ini disebut salam paralel.
Salam Paralel dapat dilakukan dengan syarat:
1. akad kedua antara bank dan pembuat terpisah dari akad pertama antara bank dan pembeli akhir; dan
2. akad kedua dilakukan setelah akad pertama sah.

5.5.1 Ilustrasi contoh pertama


Untuk memberikan gambaran yang lengkap terhadap perlakukan akuntansi salam paralel dapat
diberikan ilutrasi contoh sebagai berikut:
Lembaga Keuangan Syariah Amanah Gusti memperoleh kepercayaan dari Bulog untuk
melakukan pembelian beras (akad pertama), dengan data-data sebagai berikut :
Nama barang pesanan : Gabah padi
Jenis barang pesanan : Pandanwangi kadar air 12%
Jumlah : 100 ton
Harga : Rp50.000.000,00 (Rp500.000,00 per ton)
Jangka waktu penyerahan : 6 bulan
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut bank syariah melakukan pemesanan beras kepada KUD
Berkah Sukabumi (akad kedua dan terpisah dengan akad pertama), dengan data-data sebagai
berikut:
Nama Barang pesanan : Gabah padi
Jenis barang pesanan : Pandanwangi kadar air 12%
Jumlah barang : 100 ton
Jumlah modal/harga : Rp40.000.000,00 (Rp400.000,00 per ton)
Jangka waktu penyerahan : 4 bulan
Penyerahan modal : Uang tunai sejumlah Rp10.000.000,00
Alat pertanian sejumlah Rp30.000.000,00 (harga perolehan
barang tersebut sebesar Rp29.500.000,00)
Agunan : Sebidang sawah senilai Rp50.000.000,00
Cara penyerahan : Secara bertahap masing-masing 25 ton setiap bulan

186 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


Dari contoh tersebut di atas dapat alur transaksi salam dapat dilihat dari gambar sebagai berikut:

Gambar 5-5 : alur transaksi salam paralel


Oleh karena itu jurnal yang dilakukan oleh LKS Amanah Gusti dengan tahapan yang sesuai dengan
alur transaksi salam paralel yaitu:
a. Penerimaan modal salam dari Bulog sebagai pemesan akhir
b. Penyerahan modal kepada KUD Berkah sebagai pembuat
c. Penerimaan barang dari KUD Berkah sebagai pembuat
d. Penyerahan barang kepada Bulog sebagai pemesan akhir

A. Penerimaan Modal dari Bulog (sebagai pemesan akhir)


Sesuai karakteristik salam, harga barang yang dipesan (modal salam) diterima keseluruhan segera
setelah akad ditandatangan. Jadi setelah akad disepakati LKS Amanah Gusti yang bertindak sebagai
pembuat akan menerima seluruh harga barang setelah akad ditandatangani, sehingga atas penerimaan
harga barang salam tersebut LKS mengakui sebagai ”Hutang Salam”
Contoh: 5-18
Tanggal 01 Februari 2007 LKS Amanah Gusti menerima dari Bulog modal salam (harga barang)
yang dipesan 100 ton Gabah padi Pandanwangi kadar air 12% seharga Rp50.000.000,00 Harga
barang diterima segera setelah akad ditanda tangani kedua belah pihak.
Atas penerimaan modal salam (harga barang salam) dari bulog oleh LKS Amanah Gusti dilakukan
jurnal sebagai berikut :
Dr. Kas Rp50.000.000,00
Cr. Hutang salam Rp50.000.000,00
(100 ton gabah padi Pandanwangi kadar air 12%)
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya ”hutang salam” LKS Amanah Gusti kepada Bulog adalah
hutang barang, yaitu 100 ton gabah padi Pandanwangi kadar air 12%, bukan hutang uang Rp50.000.000,00.
Oleh karena akuntansi harus menganut ”satuan nilai” maka yang tercatat dalam akuntansinya adalah uang
Rp50.000.000,00
Atas transaksi tersebut akan mengakibatkan perubahan posisi buku besar dan laporan posisi
keuangan (neraca) bank syariah sebagai berikut:

BAB V. Akuntansi Salam | 187


HUTANG SALAM
Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
01/02 100 ton gabah padi 50.000.000
Pandanwangi ka 12%
Saldo 50.000.000
50.000;000 50.000.000
NERACA
Per 01 Februari 2007
Aktiva pasiva
Uraian Jumlah Uraian Jumlah

Hutang Salam 50.000.000

B. Penyerahan modal kepada KUD Berkah (sebagai pembuat)


Dalam ilutrasi contoh tersebut di atas modal salam yang diserahkan kepada KUD Berkah
Sukabumi berupa modal kas dan modal non kas. Untuk dapat melakukan penyerahan modal
salam dalam non kas, maka LKS Amanah Gusti harus mengadakan barangnya dengan cara
membeli, membuat sendiri dan sebagainya
Contoh : 5-19 (Penyerahan modal kas dan non kas)
05 Februari 2007 LKS Amanah Gusti menyerahkan modal salam (membayar harga barang
salam) kepada KUD Berkah Sukabumi sebesar Rp40.000.000,00 atas pesanan barang yang
dilakukan yaitu 100 ton gabah padi Pandanwangi kadar air 12%. Modal salam yang
diserahkan terdiri dari alat pertanian dengan harga wajar (harga pasar) saat penyerahan
sebesar Rp30.000.000,00 dan uang tunai sebesar Rp10.000.000,00 Tercatat harga perolehan
alat pertanian yang diserahkan sebesar Rp29.500.000,00
Jurnal pada saat pembelian alat pertanian sebesar Rp29.500.000,00 dengan tunai adalah:
Dr. Persediaan /Aktiva Rp29.500.000,00
Cr. Kas Rp29.500.000,00
Atas penyerahan modal kas dan non kas tersebut, LKS Amanah Gusti melakukan jurnal
sebagai berikut:
Dr. Piutang Salam (barang ) Rp40.000.000,00
(100 ton gabah padi Pandanwangi kadar air 12%)
Cr. Kas Rp10.000.000,00
Cr. Persediaan /Aktiva Rp29.500.000,00
Cr. Pendapatan penyerahan aktiva Rp 500.000,00
Transaksi penyerahan modal salam dari bank syariah kepada petani, akan mengakibatkan
perubahan posisi buku besar dan laporan posisi keuangan (neraca) bank syariah sebagai berikut:
PIUTANG SALAM
Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
05/02 Modal kas 10.000.000
05/02 Alat pertanian 30.000.000
Saldo 40.000.000
40.000.000 40.000.000

188 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


NERACA
Per 05 Februari 2007
Aktiva pasiva
Uraian Jumlah Uraian Jumlah

Piutang Salam 40.000.000 Hutang salam 50.000.000


C. Penerimaan barang salam dari KUD Berkah Sukabumi.
Dalam salam paralel barang yang diterima oleh LKS sebagai pembeli (akad kedua) harus sama
kualitas atau spesifikasi yang tercant13um dalam akad untuk mengurangi risko ditolak oleh pembeli akhir,
saat barang tersebut diserahkan kepada pembeli akhir. Umumnya dalam menjalankan salam paralel kualitas
atau spesifikasi barang yang diterima dari pembeli akhir (akad pertama) sama dengan kualitas atau
spesifikasi barang yang dipesan kepada pembuat (akad kedua). Risiko lain jika ditolak adalah LKS sebagai
pembuat (akad pertama) bertanggung jawab untuk memenuhi kewajibannya untuk mengadakan barang
yang dipesan.
Jika barang yang diterima kualitas atau spesifikasi sama dengan yang tercantum dalam akad, maka
nilai barang diakui sebesar harga yang tercantum dalam akad, walaupun nilai pasar lebih rendah atau lebih
tinggi dari harga kontrak. Perlu diingat bahwa Piutang salam adalah piutang atas barang bukan piutang atas
uang.
Contoh : 5-20 (Penerimaan barang dengan spesifikasi sama dengan akad)
Tanggal 05 Juni 2007 diterima oleh LKS Amanah Gusti barang salam yang dipesan dari KUD
Berkah Sukabumi, 100 ton gabah padi Pandanwangi kadar air 12% (sesuai dengan spesifikasi yang
disepakati) seharga Rp40.000.000,00
Ataspenerimaan barang salam tersebut LKS Amanah Gusti sebagai pembeli melakukan jurnal sebagai
berikut:
Dr. Persediaan Rp40.000.000,00
(100 ton gabah padi Pandanwangi kadar air 12%)
Cr. Piutang Salam Rp40.000.000,00
(100 ton gabah padi Pandanwangi kadar air 12%)
Atas transaksi tersebut akan mengakibatkan perubahan posisi buku besar dan laporan posisi
keuangan (neraca) bank syariah sebagai berikut:
PIUTANG SALAM
Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
05/02 Modal kas 10.000.000 05/06 Penyerahan barang 40.00.000
05/02 Alat pertanian 30.000.000 Saldo 0
40.000.000 40.000.000

NERACA
Per 05 Juni 2007
Aktiva pasiva
Uraian Jumlah Uraian Jumlah

Piutang Salam 0 Hutang salam 50.000.000

Sebagaimana telah diuraikan pada bab sebelumnya dalam Akuntansi untuk Pembeli bahwa pembeli
dimungkinkan untuk menerima barang dengan kualitas yang berbeda dengan kualitas yang disepakati
dalam akad.
Jika LKS sebagai pembeli tetap menerima barang yang dipesan berbeda kualitas dengan yang
tercantum dalam akad, harus dilakukan penilaian nilain wajar atau nilai pasar saat penyerahan. Atas hal ini
kemungkinan yang timbul adalah:

BAB V. Akuntansi Salam | 189


a. Nilai wajar atau nilai pasar sama dengan nilai akad
b. Nilai wajar atau nilai pasar lebih tinggi dari nilai akad
c. Nilai wajar atau nilai pasar lebih rendah dari nilai akad
Sesuai ketentuan dalam PSAK 103 tentang akuntansi salam, jika pembeli menerima barang dengan
kualitas yang berbeda, diukur mana yang lebih rendah antara nilai wajar atau nilai pasar saat penyerahan
dengan nilai akadnya
a. Jika pemesan bersedia untuk menerima barang pesanan dengan kualitas yang berbeda dan nilai
wajar saat penyerahan sama dengan nilai kontrak, maka tidak menimbulkan keuntungan atau
kerugian.
Contoh 5-21 (Penerimaan barang berbeda spesifikasi dengan nilai wajar sama dengan harga
dalam akad)
LKS Amanh Gusti sebagai pembeli menerima 25 ton gabah padi Pandanwangi kadar air 15%
(kualitas yang berbeda dengan akad) dengan nilai wajar atau nilai pasar sebesar
Rp10.000.000,00
Atas penerimaan barang dengan kualitas berbeda tersebut, LKS Amanah Gusti melakukan jurnal sebagai
berikut:
Dr. Persediaan salam Rp10.000.000,00
(25 ton gabah padi Pandanwangi kadar air 15%)
Cr. Piutang salam Rp10.000.000,00b. Jika pemesan
bersedia untuk menerima barang pesanan dengan kualitas yang berbeda dengan harga wajar atau
harga pasar saat penyerahan lebih tinggi dari nilai kontrak, maka atas barang pesanan tersebut dalam
persediaan diakui sebesar harga kontrak, karena harga yang lebih rendah adalah harga kontrak.
Contoh : 5-22 (Penerimaan barang berbeda spesifikasi dengan nilai wajar lebih tinggi dari harga
dalam akad)
LKS Amanah Gusti sebagai pembeli menerima 25 ton gabah padi Pandanwangi kadar air
15% dengan harga pasar/nilai pasar Rp12.500.000,00. Dalam akad sepakati kualitas barang
yang harus diserahkan adalah 25 ton gabah padi Pandanwangi kadar air 12% dengan harga
Rp10.000.000,00
Atas penerimaan barang dengan kualitas berbeda tersebut, LKS Amanah Gusti melakukan jurnal
sebagai berikut:
Dr. Persediaan salam Rp10.000.000,00
(25 ton gabah padi Pandanwangi kadar air 15%)
Cr. Piutang salam Rp10.000.000,00
c. Jika pemesan bersedian untuk menerima barang pesanan dengan kualitas yang berbeda dengan nilai
wajar atau harga pasar saat penyerahan lebih rendah dari nilai kontrak. maka barang pesanan
tersebut diakui sebagai persediaan sebesar nilai nilai wajarnya, karena harga yang lebih rendah adalah
nilai wajar. Selisih antara nilai kontrak dengan nilai wajar diakui sebagai kerugian saat terjadinya.
Contoh : 5-23 (Penerimaan barang berbeda spesifikasi dengan nilai wajar lebih rendah dari harga
dalam akad)
LKS Amanah Gusti sebagai pembeli menerima 25 ton gabah padi Pandanwangi kadar air 15%
dengan harga pasar/nilai pasar Rp8.000.000,00. Dalam akad sepakati kualitas barang yang harus
diserahkan adalah 25 ton gabah padi Pandanwangi kadar air 12% dengan harga Rp10.000.000,00
Atas penerimaan barang dengan kualitas berbeda tersebut, LKS Amanah Gusti melakukan jurnal
sebagai berikut:

190 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


Dr. Persediaan salam Rp8.000.000,00
(25 ton gabah padi Pandanwangi kadar air 15%)
Dr. Kerugian salam Rp2.000.000,00
Cr. Piutang salam Rp10.000.000,00
Kemungkinan lain yang terjadi berkaitan dengan penerimaan barang adalah sampai dengan jatuh
waktu penyerahan pembuat (KUD Berkah Sukabumi) tidak dapat menyerahkan barang yang dipesan oleh
LKS Amanah Gusti sebagai pembeli. Sehingga perlu diambil beberapa alternatif yaitu:
a. Dilakukan perpanjangan jangka waktu penyerahan barang yang dipesan.
b. Akad salam dibatalkan dan petani tidak dapat mengembalikan modal salam sehingga piutang
salam berubah menjadi piutang kepada pembuat (KUD Berkah Sukabumi)
c. Piutang salam dilunasi dari hasil penjualan jaminan yang diserahkan oleh petani kepada pembeli
(LKS Amanah Gusti). Atas hal ini kemungkinan yang terjadi adalah:
(1) Hasil penjualan jaminan sama dengan piutang salam
(2) Hasil penjualan jaminan lebih rendah dari piutang salam
(3) Hasil penjualan jaminan lebih tinggi dari piutang salam
a. Jika pada saat jatuh tempo penyerahan barang pesanan, produsen atau pembuat tidak dapat
penyerahkan barang dan atas kegagalan tersebut dilakukan perpanjangan jangka waktu penyerahan
barang pesanan, maka tidak mengakibatkan perubahan transaksi.
Contoh : 5-24 (Barang tidak diterima – akad dibatalkan)
Pada saat jatuh tempo tahap ke-4 barang pesanan sebanyak 25 ton gabah padi Pandanwangi kadar
air 12 % seharga Rp10.000.000,00 KUD Berkah Sukabumi tidak dapat diserahkan. Sesuai
kesapakatan LKS Amanah Gusti memberikan perpanjangan waktu penyerahan selama 2 bulan lagi
Atas perpanjangan waktu yang diberikan, maka LKS Amanah Gusti tidak melakukan jurnal
apapun yang terkait dengan nilai piutang salam.
b. Jika pada saat jatuh tempo penyerahan barang produsen atau pembuat tidak mampu penyerahkan
barang pesan dan atas kegagalan tersebut akad salam dibatalkan, maka piutang salam pemesan
kepada produsen atau pembuat perubah dari piutang salam (piutang barang) menjadi piutang kepada
produsen (piutang uang)
Contoh : 5-25 (Barang tidak diterima – KUD Berkah tidak mampu menyerahkan)
Saat jatuh waktu penyerahan barang KUD Berkah Sukabumi tidak dapat menyerahkan barang
pesanan yaitu 25 ton gabah padi Pandanwangi kadar air 12% seharga Rp, 10.000.000,00.
Atas transaksi tersebut LKS Amanah Gusti melakukan jurnal sebagai berikut:
Dr. Piutang petani Rp10.000.000,00
Cr. Piutang Salam Rp10.000.000,00
(25 ton gabah padi Pandanwangi kadar air 12%)
c. Jika atas kegagalan penyerahan barang pesanan, produsen bersedia untuk menjual agunan untuk
membayar hutangnya dan hasil penjualan jaminan sama dengan jumlah hutangnya, maka seluru hasil
penjualan jaminan dipergunakan untuk melunasi hutang produsen
Contoh: 5-26 (Barang tidak diterima – hasil penjualan jaminan sama dengan piutang salam)
Saat jatuh waktu penyerahan barang KUD Berkah Sukabumi tidak dapat menyerahkan barang
pesanan yaitu 25 ton gabah padi Pandanwangi kadar air 12% seharga Rp, 10.000.000,00.. Atas
kegagalan tersebut KUD Berkah sepakat untuk menjual jaminan yang diserahkan kepada LKS
Amanah Gusti. Hasil penjualan jaminan sesuai nilai pasarnya adalah sebesar Rp10.000.000,-
Atas penjualan jaminan tersebut dan hasil penjualan jaminan dipergunakan untuk melunasi
kewajiban petani, maka LKS melakukan jurnal sebagai berikut:

BAB V. Akuntansi Salam | 191


Dr. Kas Rp10.000.000,00
Cr. Piutang Salam Rp10.000.000,00
(25 ton gabah padi Pandanwangi kadar air 12%)
d. Jika atas kegagalan penyerahan barang pesanan tersebut pembuat bersedia untuk menjual jaminan
dan hasil penjualan jaminan lebih rendah dari seluruh hutangnya, maka hasil penjualan jaminan
dipergunakan untuk melunasi hutangnya dan selisihnya masih menjadi hutang pembuat.
Contoh : 5-27 (Barang tdk diterima – hasil penjualan jaminan lebih rendah dari piutang salam)
Saat jatuh waktu penyerahan barang KUD Berkah Sukabumi tidak dapat menyerahkan barang
pesanan yaitu 25 ton gabah padi Pandanwangi kadar air 12% seharga Rp, 10.000.000,00.. Atas
kegagalan tersebut KUD Berkah sepakat untuk menjual jaminan yang diserahkan kepada LKS
Amanah Gusti. Hasil penjualan jaminan sesuai nilai pasarnya adalah sebesar Rp7.500.000,00
Atas penjualan jaminan tersebut dan hasil penjualan jaminan dipergunakan untuk melunasi
kewajiban petani, maka LKS melakukan jurnal sebagai berikut:
Dr. Kas Rp 7.500.000,00
Dr. Piutang petani Rp 2.500.000,00
Cr. Piutang salam Rp10.000.000,00
(25 ton gabah padi Pandanwangi kadar air 12%)
e. Jika atas kegagalan penyerahan barang pesanan pembuat bersedia untuk menjual jaminan dan hasil
penjualan jaminan lebih tinggi dari hutangnya, maka hasil penjualan jaminan dipergunakan untuk
membayar seluruh hutangnya dan sisakan kembalikan kepada pembuat atau produsen
Contoh : 5-28 (Barang tidak diterima – hasil penjualan jaminan lebih tinggi dari piutang salam)
Saat jatuh waktu penyerahan barang KUD Berkah Sukabumi tidak dapat menyerahkan barang
pesanan yaitu 25 ton gabah padi Pandanwangi kadar air 12% seharga Rp, 10.000.000,00. Atas
kegagalan tersebut KUD Berkah sepakat untuk menjual jaminan yang diserahkan kepada LKS
Amanah Gusti. Hasil penjualan jaminan sesuai nilai pasarnya adalah sebesar Rp15.000.000,00
Dr. Kas Rp15.000.000,00
Cr. Piutang salam Rp 10.000.000,00
(25 ton gabah padi Pandanwangi kadar air 12%)
Cr. Kas/Rekening Petani Rp 5.000.000,00

D. Penyerahan barang salam kepada Bulog (pemesan akhir)


Transaksi salam paralel berakhir jika masing-masing pihak telah menyelesaikan kewajibannya yaitu
petani menyerahkan barang yang dipesan (akad kedua) dan LKS menyerahkan barang pesanan kepada
pembeli akhir (akad pertama). Penyerahan barang yang dipesan pada prinsipnya harus sama kualitasnya
dengan yang tercantum dalam akad.
Contoh: 5-29
Tanggal 01 Agustus 2007 LKS Amanah Gusti menyerahkan barang salam kepada Bulog sesuai
dengan kualitas yang disepakati yaitu 100 ton gabah padi Pandanwangi kadar air 12% seharga
Rp50.000.000,00
Atas penyerahan barang salam kepada Bulog tersebut, LKSamanah Gusti melakukan jurnal sebagai
berikut:
Dr. Kewajiban salam Rp50.000.000,00
(100 ton gabah padi Pandanwangi kadar air 12%)
Cr. Persediaan salam Rp40.000.000,00
(100 ton gabah padi Pandanwangi kadar air 12%)
Cr. Keuntungan salam Rp10.000.000,00
Atas transaksi tersebut akan mengakibatkan perubahan posisi buku besar dan laporan posisi
keuangan (neraca) bank syariah sebagai berikut :

192 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


HUTANG SALAM
Debet Kredit
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
01/08 Penyerahan barang salam 50.000.000 01/02 100 ton gabah padi 50.000.000
Pandanwangi ka 12%
Saldo 0
50.000;000 50.000.000

NERACA
Per 01 Agustus 2007
Aktiva pasiva
Uraian Jumlah Uraian Jumlah

Piutang Salam 0 Hutang salam 0

5.5.2 Ilustrasi contoh kedua


Untuk memberikan gambaran yang lebih lengkap dan rinci mengenai akuntansi salam diberikan
ilustrasi contoh kedua sebagai berikut:
Untuk meningkatkan usaha petani, Departemen Pertanian memiliki program ”Petani Mandiri”
dengan ketentuan bahwa setiap satu ha sawah diberikan :
Bibit padi INTANI-2 5 kg
Pupuk Urea 300 kg
Obat-obatan 1 lt
Modal kerja Rp5 juta
Dari hasil penelitian dan kajian yang mendalam dengan batuan tersebut, dapat meningkatkan
produktiftitas petani yaitu setiap satu ha sawah dapat menghasilkan 2,5 ton gabah INTANI-2 kadar
air 12%. Untuk melaksanakan program tersebut Departemen Pertanian membutuhkan 200 ton
Gabah INTANI-2 kadar air 12% untuk mengisi gudang BULOG dan telah menunjuk LKS
Amanah Ummat sebagai pelaksana program dan disepakati setiap satu ha sawah petani diminta
untuk menyerahkan gabah INTANI-2 kadar air 12% sebanyak 2 ton seharga Rp 10 juta.
Untuk keperluan tersebut LKS Amanah Ummat memesan kepada Kelompok Tani Usaha Mandiri
200 ton gabah INTANI-2 kadar air 12% sebagai koordinator dari petani anggotanya yang memiliki
sawah sebanyak 100 ha yang harus diserahkan paling lambat enam bulan setelah ditanda tangani
akad. Atas pemesanan tersebut LKS Amanah Ummat menyerahkan kepada Kelompok Tani Usaha
Mandiri untuk setiap satu ha sawah (sesuai ketentuan Deptan):
Nama barang jumlah
Bibit padi INTANI-2 5 kg
Pupuk Urea 300 kg
Obat-obatan 1 lt
Modal kerja Rp5 juta
Barang-barang kebutuhan petani tersebut di atas dibeli oleh bank syariah dan memiliki nilai wajar
saat penyerahan sebagai berikut:
Nama barang Kwtas harga wajar nilai tercatat
Bibit padi INTANI-2 5 kg Rp0,5 juta Rp0,5 juta
Pupuk Urea 300 kg Rp2 juta Rp1,5 juta
Obat-obatan 1 lt Rp1 juta Rp1 juta
Jumlah Rp3,5 juta Rp3 juta
Dari ilustrasi tersebut di atas Lembaga Keuangan Syariah melakukan jurnal atas transaksi itu sebagai
berikut:
1. Penerimaan harga barang (modal) dai Bulog sebesar : 200 ton/2 x Rp10.000.000,00 =
Rp1.000.000.000,00

BAB V. Akuntansi Salam | 193


Atas penerimaan modal salam sebesar Rp1 milyard tersebut Lembaga Keuangan melakukan
jurnal sebagai berikut:
Dr. Kas Rp1.000.000.000,00
Cr. Hutang Salam Rp1.000.000.000,00
(200 ton gabah INTANI-2 k.a. 12%)
Hutang Lembaga Keuangan Syariah kepada Bulog adalah gabah Intani-2 kadar arir 12%
sebanyak 200 ton, bukan uang sebesar Rp1 milyard. Oleh karena itu kewajiban Lembaga Keuangan
Syariah ini selesai setelah LKS menyerahkan barang sesuai pesanan.
2. Pembelian barang untuk modal non kas oleh Lembaga Keuangan Syariah untuk keperluan pertanian
sebanyak 100 ha sawah, dan setiap satu ha dibutuhkan:
Nama barang kwtas nilai tercatat
Bibit padi INTANI-2 5 kg Rp0,5 juta
Pupuk Urea 300 kg Rp1,5 juta
Obat-obatan 1 lt Rp1 juta
Jumlah Rp3 juta
Atas pembelian modal non kas (barang) tersebut Lembaga Keuangan Syariah melakukan jurnal
sebagai berikut:
Dr. Persediaan Rp300.000.000,00
Cr. Kas/Rekening suplier Rp300.000.000,00
3. Penyerahan modal oleh Lembaga Keuangan Syariah kepada KUD untuk 100 ha sawah dalam
bentuk kas sebesar Rp5.000.000,00 dan modal non kas dengan nilai wajar saat penyerahan sebesar
Rp3.500.000,00 setiap ha sawah dengan rincian sebagai berikut:
Nama barang kwtas harga wajar nilai tercatat
Bibit padi INTANI-2 5 kg Rp0,5 juta Rp0,5 juta
Pupuk Urea 300 kg Rp2 juta Rp1,5 juta
Obat-obatan 1 lt Rp1 juta Rp1 juta
Jumlah modal non kas Rp3,5 juta Rp3 juta
Modal kas (uang tunai) Rp5 juta
Jumlah modal Rp8,5 juta
Atas penyerahan modal kas dan non kas tersebut Lembaga Keuangan Syariah melakukan
jurnal sebagai berikut:
Dr. Piutang salam Rp850.000.000,00
(200 ton gabah INTANI 2 ka 12%)
Cr. Kas Rp500.000.000,00
Cr. Persediaan Rp300.000.000,00
Cr. Keuntungan penyerahan aktiva Rp 50.000.000,00
d. Penerimaan gabah dengan kadar air 12% sebanyak 200 ton dari KUD oleh Lembaga Keuangan
Syariah (sesuai pesanan) dengan nilai kontrak sebesar Rp850.000.000,00
Atas penerimaan barang salam sesuai pesanan tersebut Lembaga Keuangan Syariah
melakukan jurnal sebagai berikut:
Dr. Persediaan Rp850.000.000,00
Cr. Piutang salam Rp850.000.000,00
(200 ton gabah INTANI 2 ka 12%)
e. Dilakukan penyerahan barang pesanan Bulog gabah INTANI-2 kadar air 12% sebanyak 200 ton
(sesuai spesifikasi dalam kontrak) oleh Lembaga Keuangan Syariah dengan nilai kontrak sebesar Rp1
milyard
Atas penyerahan barang pesanan tersebut kepada Bulog maka Lembaga Keuangan Syariah
melakukan jurnal sebagai berikut:

194 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


Dr. Hutang salam Rp1.000.000.000,00
(200 ton gabah INTANI 2 ka 12%)
Cr. Persediaan Rp850.000.000,00
Cr. Keuntungan salam Rp150.000.000,00
Dengan penyerahan barang yang dipesan sesuai spesifikasi dalam kontrak tersebut kewajiban
Lembaga Keuangan Syariah terhadap Bulog telah selesai, tanpa dipengaruhi oleh harga barang pada
saat penyerahan. Dan karena terjadi penyerahan barang dari penjual kepada pembeli (Bulog), maka
Lembaga keuangan Syariah sebagai penjual melakukan pengakuan keuntungan atas transaksi salam
tersebut.

5.6 Penyajian dan Pengungkapan


Dalam PSAk 103 tentang Akuntansi salam telah diatur hal-hal yang terkait dengan penyajian
transaksi salam dalam laporan keuangan syariah sebagai berikut:
1. Pembeli menyajikan modal usaha salam yang diberikan sebagai piutang salam.
2 Piutang yang harus dilunasi oleh penjual karena tidak dapat memenuhi kewajibannya dalam transaksi salam
disajikan secara terpisah dari piutang salam.
3. Penjual menyajikan modal usaha salam yang diterima sebagai kewajiban salam.
Dalam PSAk 103 tentang Akuntansi salam telah diatur hal-hal yang terkait dengan pengungkapan
transaksi salam dalam laporan keuangan syariah sebagai berikut:
1. Penjual dalam transaksi salam mengungkapkan:
(a) Piutang salam kepada supplier (dalam salam paralel) yang memiliki hubungan istimewa;
(b) Jenis dan kuantitas barang pesanan; dan
(c) Pengungkapan lain sesuai dengan PSAK 101: Penyajian Laporan Keuangan Syariah.
2. Pembeli dalam transaksi salam mengungkapkan:
(a) Besarnya modal usaha salam, baik yang dibiayai sendiri maupun yang dibiayai secara bersama-sama
dengan pihak lain;
(d) Jenis dan kuantitas barang pesanan; dan
(e) Pengungkapan lain sesuai dengan PSAK 101: Penyajian Laporan Keuangan Syariah.

5.7 Pertanyaan dan Soal


5.7.1 Pertanyaan
1. Salah satu penyaluran dana yang dilakukan oleh Lembaga Keuangan Syariah dengan
mempergunakan prinsip salam.
a. Jelaskan dengan lengkap dan rinci pengertian dan jenis salam yang dilakukan oleh lembaga
keuangan syariah?
b. Jelaskan dengan lengkap dan rinci karakteritstik salam menurut Fatwa DSN dan PSAK 103
tentang Akuntansi Salam
2. PSAK 103 mengatur tentang Akuntansi salam baik pada penjual maupun yang dilakukan oleh
pembeli.
a. Jelaskan cakupan PSAK 103 tentang Akuntansi Salam ?
b. Jelaskan penggunaan akuntansi penjual dan akuntansi pembeli sesuai dengan PSAK 103 ?
3. Pada dasarnya penyerahan barang yang dilakukan produsen kepada pembeli harus sesuai dengan
spesifikasi yang disepakati dalam kontrak.
a. Jelaskan pengakuan dan pengukuran penerimaan barang dengan kualitas yang berbeda dengan
kontrak?
b. Jelaskan pengakuan dan pengukuran penerimaan barang yang sesuai dengan sesifikasi dalam
kontrak?

BAB V. Akuntansi Salam | 195


c.Jelakan risiko yang terjadi penerimaan barang dengan kualitas yang berbeda dengan kontrak,
jika yang dilakukan adalah salam paralel?
4. Salah satu penyaluran dana Bank Syariah mempergunakan pola jual beli
a. Jelaskan prinsip salam dan salam paralel
b. Jelaskan perbedaan salam dan istishna
5. Salah satu penyaluran dana Bank Syariah mempergunakan pola jual beli
a. Jelaskan prinsip-prinsip syariah yang dikategorikan dalam kelompok jual beli
a. Jelaskan prinsip salam dan salam paralel
6. Salah satu penyaluran dana Bank Syariah mempergunakan pola jual beli
a. Jelaskan secra rinci dan lengkap prinsip salam dan salam paralel
b. Jelaskan perbedaan salam dan murabahah

5.7.2 Soal study kasus


Soal pertama
Bank syariah melakukan transaksi salam dengan kelompok petani di Sukabumi dengan data-data
sebagai berikut:
Nama Barang pesanan : Kedelai
Jenis barang pesanan : Biji kedelai kualitas A
Jumlah barang : 20 ton
Jumlah modal/harga : Rp30.000.000,00 ( Rp1.500.000,00 per ton)
Jangka waktu penyerahan : 3 bulan sampai gudang bank syariah
Penyerahan modal : Dalam bentuk uang tunai dan dibayar dimuka pada saat kontrak
ditanda tangani.
Diminta :
Buatlah perhitungan dan jurnal dari siklus transaksi tersebut.

Soal kedua
Bank syariah memperoleh kepercayaan dari Bulog untuk melakukan pembelian beras, dengan data-
data sebagai berikut :
Nama barang pesanan : Gabah padi IR 38
Jenis barang pesanan : IR 38 kadar air 15%
Jumlah : 100 ton
Harga : Rp500.000.000,00 (Rp5.000.000,00 per ton)
Jangka waktu penyerahan : 6 bulan
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut bank syariah melakukan pemesanan beras kepada KUD
Sejahtera, dengan data-data sebagai berikut:
Nama Barang pesanan : Gabah padi IR 38
Jenis barang pesanan : IR 38 kadar air 15%
Jumlah barang : 100 ton
Jumlah modal/harga : Rp400.000.000,00 (Rp4.000.000,00 per ton)
Jangka waktu penyerahan : 4 bulan
Penyerahan modal : Uang tunai sejumlah Rp300.000.000,00
Alat pertanian sejumlah Rp100.000.000,00
Agunan : Sebidang sawah senilai Rp500.000.000,00
Cara penyerahan : Secara bertahap masing-masing 25 ton setiap bulan
Penjelasan lain berkaitan dengan pesanan kepada KUD Sejahtera:
1. Harga perolehan alat pertanian sebesar Rp95.000.000,00
2. Data-data saat penyerahan barang dari KUD Sejahtera adalah sebagai berikut:

196 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


a. Tahap kesatu sebanyak 25 ton gabah padi IR 38 kadar air 15% dan nilai wajar saat
penyerahan sebesar Rp100.000.000,00 (atau Rp4.juta per ton)
b. Tahap kedua sebanyak 25 ton gabah padi IR 38 kadar air 25% dan nilai wajar saat
penyerahan sebesar Rp125.000.000,00 (atau Rp5 juta per ton )
c. Tahap ketiga sebanyak 25 ton gabah padi IR 38 kadar air 20% dan nilai wajar saat
penyerahan sebesar Rp8.000.000,00 (atau Rp3, 2 juta per ton)
3. Penyerahan tahap ke-4 sisa barang pesanan sebesar 25 ton gabah padi IR 38 kadar air 15%
seharga Rp10.000.000,00 tidak lancar, sehingga perlu diambil alternatif:
a. Bank Syariah melakukan perpanjangan kontrak pemesanan barang kepada KUD
Sejahtera
b. Bank Syariah membatalkan Kontrak dengan KUD Sejahtera
d. Bank Syariah dengan persetujuan KUD Sejahtera, menjual jaminan dengan asumsi
(1) harga jual jaminan seharga Rp7.500.000,00
(2) harga jaminan seharga Rp15.000.000,00
Diminta :
Buatlah perhitungan dan jurnal sehubungan dengan transaksi tersebut

Soal ketiga
Bank syariah melakukan pemesanan beras kepada kelompok petani Suka Makmur, dengan data-data
sebagai berikut:
Nama Barang pesanan : Beras IR 38
Jenis barang pesanan : IR 38 kering gudang
Jumlah barang : 100 ton
Jumlah modal/harga : Rp40.000.000,00
Jangka waktu penyerahan : 4 bulan
Penyerahan modal : Uang tunai sejumlah Rp30.000.000,00
Alat pertanian sejumlah Rp10.000.000,00
Agunan : Sebidang sawah senilai Rp50.000.000,00
Cara penyerahan : Secara bertahap masing-masing 25 ton setiap bulan
Penjelasan lain berkaitan dengan pesanan kepada petani Suka Makmur:
1. Harga perolehan alat pertanian sebesar Rp9.500.000,00
2. Penyerahan barang pesanan dilakukan 3 tahap sbb:
a. Ke-1 : 25 ton beras IR 38 kering dengan nilai wajar Rp10.000.000,00
b. Ke-2 : 25 ton beras IR 38 kering dengan nilai wajar Rp12.500.000,00
c. ke-3 : 25 ton beras IR 38 kering dengan nilai wajar Rp8.000.000,00
Diminta:
Buatlah jurnal dan perhitungan atas transaksi tersebut sesuai tahapan transaksinya

Soal keempat
Lembaga Keuangan Mikro Syariah Mitra Umat (LKMS Mitra Umat) melakukan pemesanan
kepada Kelompok Petani Gula Sekar Madu (KPG Sekar Madu) berupa gula merah kualitas A
sebanyak 100 ton dengan harga Rp100 juta. Penyerahan dilakukan dengan dua tahap masing-masing
50 ton gula merah paling lambat selama 6 bulan setelah akad ditandatangani.
Atas pemesanan tersebut disepakati penyerahan modal dalam bentuk :
a. Peralatan penyadap gula dan peralatan pembuatan gula merah senilai Rp75 juta saat
penyerahan. Peralatan tersebut dibeli oleh LKMS Mitra Umat seharga Rp70 juta.
b. Uang tunai sebesar Rp25 juta untuk keperluan pembayaran upah tenaga kerja dan biaya
lainnya.

BAB V. Akuntansi Salam | 197


Mengingat bahwa terdapat masalah pengadaan bahan baku mengakibatkan hasil tidak sesuai yang
disepakati dan penyerahan tahap kedua LKSM Mitra Umat bersedia dan sepakat menerima gula
merah dengan kualitas yang berbeda dalam akad, dimana harga pasar gula merah hanya senilai Rp40
juta
Diminta:
Buatlah perhitungan dan jurnal atas transaksi tersebut sesuai dengan tahapan transaksinya.

Soal kelima
Departemen pertanian bersama-sama dengan Bulog memiliki program untuk memenuhi kebutuhan
pangan tahun anggaran 2008. Untuk itu Departemen Pertanian melakukan pemesanan kepada
KUD dengan data-data sbb:
Barang yang dipesan : 100 ton gabah padi IR 78 kadar air 12% dengan harga
Rp8.000.000,00/ton
Waktu Penyerahan : Tahap ke-1 sebesar 50 ton dilakukan 3 bulan setelah akad ditanda
tangani
Tahap ke-2 sebesar 30 ton dilakukan 4 bulan setelah akad ditanda
tangani
Tahap ke-3 sebesar 20 ton dilakukan 5 bulan setelah akad ditanda
tangani
Modal diberkan : uang tunai sebesar Rp300.000.000,00 sbg modal kerja
Alat pertanian dengan harga pasar sebesar Rp300.000.000,00 yang
sebelumnya dibeli dengan harga sebesar Rp350.000.000,00
Bibit, pupuk dan sejenisnya dengan harga wajar sebesar
Rp200.000.000,00 yang sebelumnya dibeli dengan harga
Rp175.000.000,00
Keterangan lain : Saat penyerahan barang langsung diserahkan ke Bulog.
Diminta : Buatlahjurnal dan perhitungan atas
a. Pembayaran modal dari Departemen Pertanian kepada KUD
b. Penerimaan barang dari KUD oleh Departemen Pertanian tahap pertama dan kedua
c. Jurnal penyerahan barang tahap ketiga jika barang yang diserahkan kualitasnya tidak sama
dengan akad dan Departemen Pertanian sepakat. Gabah yang diserahkan nilai pasarnya
sebesar Rp7.5 juta per ton.

Soal keenam
Dalam rangka membantu program pemerintah dalam penguatan pangan Bank Syariah pada tanggal
15 Januari 2008 melakukan pemesanan dengan KUD Usaha Tani Kerawang dan disepakati hal-hal
sbb:
1. Modal yang diberikan Bank Syariah kepada KUD untuk 200 ha sawah berupa
a. modal non kas berupa :
No Nama kwantitas Nilai tercatat (Rp) Nilai wajar (Rp)
(1) Bibit Intani-2 2.000 kg 90.000.000 100.000.000
(2) Pupuk Urea 300 ton 575.000.000 600.000.000
(3) Obat-obatan 200 lt 310.000.000 300.000.000
Jumlah 1.000.000.000
(terbilang : satu milyar rupiah)
b. Modal kas sebesar Rp500.000.000 (lima ratus juta rupiah)

198 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


2. Penyerahan barang yang dilakukan oleh KUD Usaha Tani kepada Bank Syariah berupa 200
ton gabah Intansi 2 kadar air 12% seharga Rp7,5 juta per ton
3. Penyerahan barang dilakukan paling lambat enam bulan setelah akad ditanda tangani, yaitu
pada tanggal 20 Januari 2008.
4. KUD Usaha Tani menyerahkan agunan 10 ha sawah
Diminta : Buatlah perhitungan dan jurnal atas trasaksi
a. Pembelian barang-barang untuk modal non kas (Bibit, Pupuk, Obat-obatan)
b. Penyerahan modal non kas dan modal non kas secara rinci
c. Penerimaan barang salam pada tanggal 20 Juli 2008, jika
(1). penerimaan dengan kualitas sesuai akad dibanyak 100 ton gabah
(2). sisa barang diperpanjang sampai dengan tanggal 30 Agustus 2008
d. Penerimaan barang pada tanggal 30 Agustus, jika
(1). barang sebanyak 50 ton gabah terpaksa diterima dengan kualitas yang berbeda
dan nilai wajar saat penyerahan sebesar Rp400.000.000,- (empat ratus juta rupiah)
(2). sisa barang salam KUD Usaha Tani tidak dapat memenuhi kewajibannya,
sehingga akadnya dibatalkan.
e. Untuk melunasi hutangnya, agunan KUD Usaha Tani sebanyak 2 ha sawah dijual
dengan harga jual secara wajar sebesar Rp500.000.000 (lima ratus juta rupiah)

Soal ketujuh
Bank syariah menerima pasana dari Bulog Tepung Ketela kualitas A sebanyak 200 ton seharga Rp
100.000.000,00
Atas pesana tersebut bank syariah lakukan pemesanan beras kepada kelompok petani Suka Makmur,
dengan data-data sebagai berikut:
Nama Barang pesanan : Tepung ketela type A
Jenis barang pesanan : Kadar air 5%
Jumlah barang : 200 ton
Jumlah modal/harga : Rp80.000.000,00
Jangka waktu penyerahan : 4 bulan
Penyerahan modal : Uang tunai sejumlah Rp60.000.000,00
Alat pertanian sejumlah Rp20.000.000,00
Agunan : Empat bidang sawah senilai Rp100.000.000,00
Cara penyerahan : Secara bertahap masing-masing 50 ton setiap bulan
Penjelasan lain berkaitan dengan pesanan kepada petani Suka Makmur:
1. Harga perolehan alat pertanian sebesar Rp19.000.000,00
2. Penyerahan barang pesanan
a. Tahap kesatu sebanyak 50 ton tepung ketela kualitas A dengan nilai wajar sebesar
Rp20.000.000,00
b. Tahap kedua sebanyak 50 ton tepung ketela kualitas B dengan nilai wajar sebesar
Rp25.000.000,00
c. Tahap ketiga sebanyak 50 ton tepung ketela kualitas B dengan nilai wajar sebesar
Rp16.000.000,00

BAB V. Akuntansi Salam | 199


d. Tahap keempat sebanyak 50 ton tepung ketela kualitas A tidak dapat diserahkan oleh
kelompok tani Suka Makmur
Diminta :
1. Menentukan prinsip syariah yang dipergunakan dalam transaksi tersebut
2. Perhitungan dan jurnal Bank Syariah yang terkaitan, mulai awal sampai dengan pelunasan
transaksi tersebut
a. Penyerahan modal Bulog ke Bank Syariah
b. Penyerahan modal Bank Syariah ke Kelompok Tani Suka Makmur
c. Penerimaan barang pesanan Bank Syariah dari Kelompok Tani Suka Makmur (tahap
d. Penerimaan barang tahap ke empat jika:
(i) akad dibatalkan
(ii) diperpanjang
(iii) penjualan agunan seharga Rp10.000.000,00
(iv) penjualan agunan seharga Rp30.000.000,00
e. Penyerahan barang dari bank Syariah ke Bulog

200 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


BAB VI
AKUNTANSI ISTISHNA’

6.1 Pengertian dan Karakteristik Istishna’

Kegiatan usaha yang dilakukan oleh Lembaga Keuangan Syariah dalam penyaluran atau pengelolaan
modal atau dana adalah dengan menggunakan prinsip istishna’. Sebelum dilakukan pembahasan tentang
akuntansi istishna’, perlu diketahui pengertian, jenis dan karakteristik istishna’, karena hal ini sangat
memengaruhi pemahaman akuntansi istishna’

6.1.1 Pengertian
Istishna’ adalah akad jual beli antara al-mustashni’ (pembeli) dan as-shani’ (produsen yang juga
bertindak sebagai penjual), penyerahan dilakukan kemudian dengan pembayaran sesuai kesepakatan.
Berdasarkan akad tersebut, pembeli menugasi produsen untuk menyediakan al-mashnu’ (barang pesanan)
sesuai spesifikasi yang disyaratkan pembeli dan menjualnya dengan harga yang disepakati. Cara
pembayaran dapat berupa pembayaran dimuka, cicilan, atau ditangguhkan sampai jangka waktu tertentu.
Dalam PSAK 104 tentang Akuntansi Istishna’ diperoleh beberapa pengertian yang terkait dengan
transaksi Istishna’ adalah sebagai berikut:
Istishna' adalah akad jual beli dalam bentuk pemesanan pembuatan barang tertentu dengan kriteria
dan persyaratan tertentu yang disepakati antara pemesan (pembeli, mustashni') dan penjual
(pembuat, shani').
Istishna' paralel adalah suatu bentuk akad istishna' antara pemesan (pembeli, mustashni') dengan
penjual (pembuat, shani'), kemudian untuk memenuhi kewajibannya kepada mustashni', penjual
memerlukan pihak lain sebagai shani'.
Pembayaran tangguh adalah pembayaran yang dilakukan tidak pada saat barang diserahkan
kepada pembeli tetapi pembayaran dilakukan dalam bentuk angsuran atau sekaligus pada waktu
tertentu.
Dalam Kamus Istilah Keuangan dan Perbankan Syariah, Direktorat Perbankan Syariah Bank
Indonesia menjelaskan sebagai berikut:
Istishna’ adalah akad jual beli dalam bentuk pemesanan pembuatan barang tertentu dengan kriteria
dan persyaratan tertentu yang disepakati antara pemesan/pembeli (mustashni’) dan
penjual/pembuat (shani’)
Istishna’ Paralel adalah dua transaksi bai’ al-istishna’ yang dilakukan oleh para pihak secara
simultan.
Bai’ istishna’ adalah kontrak penjualan antara pembeli dan pembuat barang, menurut spesifikasi
yang telah disepakati dan menjualnya kepada pembeli akhir. Kedua belah pihak sepakat atas harga
serta sistem pembayaran, apakah pembayaran dilakukan dimuka, melalui cicilan, atau ditangguhkan
sampai suatu waktu pada masa yang akan datang.

BAB VI. Akuntansi Istishna’ | 201


Rukun Istishna’ adalah:
1. Produsen/pembuat barang (shaani’) dan juga menyediakan bahan bakunya
2. Pemesan/pembeli barang (Mustashni’)
3. Proyek/usaha barang/jasa yang dipesan (mashnu’)
4. Harga (Tsaman)
5. Shighat/Ijab Qabul
Syarat-syarat Istishna’ (Muamalat Institute, Perbankan Syariah, hal 59) adalah :
1. Pihak yang berakal cakap hukum dan mempunyai kekuasaan untuk melakukan jual beli
2. Ridha/kerelaan dua belah pihak dan tidak ingkar janji
3. Apabila isi akad disyaratkan Shani’ hanya bekerja saja, maka akad ini bukan lagi istishna’, tetapi
berubah menjadi akad ijarah
4. Pihak yang membuat menyatakan kesanggupan untuk mengadakan/membuat barang itu
5. Mashnu’ (barang/obyek pesanan) mempunyai kriteria yang jelas seperti jenis, ukuran (tipe), mutu
dan jumlahnya
6. Barang tersebut tidak termasuk dalam kategori yang dilarang syara’ (najis, haram, samar/tidak jelas)
atau menimbulkan kemudharatan (menimbulkan maksiat).

6.1.2 Karakteristik Istishna’


Dari definisi di atas dapat dilihat bahwa istishna’ merupakan jual beli dimana penyerahan barang
dilakukan kemudian dengan pembayaran sesuai kesepakatan, yaitu pembayaran dilakukan dimuka
seluruhnya sebelum proses produksi dilakukan, atau pembayaran dilakukan selama proses produksi atau
pembayaran dilakukan setelah barang pesanan diterima. Dewan Syariah Nasional menetapkan aturan
tentang Jual Beli Istishna’ sebagaimana tercantum dalam fatwa Dewan Syariah Nasional nomor 06/DSN-
MUI/IV/2000 tertanggal 4 April 2000 (Fatwa, 2006) sebagai berikut:
Pertama : Ketentuan tentang pembayaran
1. Alat bayar harus diketahui jumlah dan bentuknya, baik berupa uang, barang, atau manfaat
2. Pembayaran dilakukan sesuai dengan manfaat
3. Pembayaran tidak boleh dalam bentuk pembebasan hutang.
Kedua : Ketentuan tentang barang
1. Harus jelas ciri-cirinya dan dapat diakui sebagai hutang
2. Harus dapat dijelaskan spesifikasinya
3. Penyerahnnya dilakukan kemudian
4. Waktu dan tempat penyerahan barang harus ditetapkan berdasarkan kesepakatan
5. Pembeli (mustashni’) tidak boleh menjual barang sebelum menerimanya.
6. Tidak boleh menukar barang kecuali dengan barang sejenis sesuai kesepakatan
7. Dalam hal terdapat cacat atau barang tidak sesuai dengan kesepakatan, pemesan memiliki
hak khiyar (hak memilih) untuk melanjutkan atau membatalkan akad
Ketiga : Ketentuan lain
1. Dalam hal pesanan sudah dikerjakan sesuai dengan kesepakatan, hukumnya mengikat.
2. Semua ketentuan dalam jual beli salam yang tidak disebutkan di atas berlaku pula pada
jual beli isthisna’
3. Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan diantara
kedua belah pihak maka penyelesaiannya dilakukan melalui badan arbitrasi syariah setelah
tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah.

202 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


Sedangkan Fatwa yang berkaitan dengan Istishna’ Paralel sebagaimana tercantum dalam Fatwa
DSN no 22/DSN-MUI/III/2004 tanggal 28 Maret 2004 (Fatwa, 2006) sbb:
1. Jika LKS melakukan transaksi Istishna’ untuk memenuhi kewajibannya kepada nasabah ia dapat
melakukan istishna’ lagi dengan pihak lain pada obyek yang sama, dengan syarat istishna’
pertama tidak bergantung (mu’allaq) pada istishna’ kedua.
2. Semua rukun dan syarat yang berlaku dalam akad istishna’ (Fatwa DSN No. 06/DSN-
MUI/IV/200) berlaku pula dalam Istishna’ Paralel.
Dalam PSAK 104 tentang Akuntansi Istishna’ dijelaskan karakteristik Istishna’ sebagai berikut:
5. Berdasarkan akad istishna’', pembeli menugaskan penjual untuk menyediakan barang pesanan
(mashnu') sesuai spesifikasi yang disyaratkan untuk diserahkan kepada pembeli, dengan cara
pembayaran dimuka atau tangguh.
6. Spesifikasi dan harga barang pesanan disepakati oleh pembeli dan penjual di awal akad.
Ketentuan harga barang pesanan tidak dapat berubah selama jangka waktu akad.
7. Barang pesanan harus memenuhi kriteria:
(a) memerlukan proses pembuatan setelah akad disepakati;
(b) sesuai dengan spesifikasi pemesan (customized) bukan produk massal; dan
(c) harus diketahui karakteristiknya secara umum yang meliputi jenis, spesifikasi teknis,
kualitas, dan kuantitasnya.
8. Barang pesanan harus sesuai dengan karakteristik yang telah disepakati antara pembeli dan
penjual. Jika barang pesanan yang dikirimkan salah atau cacat maka penjual harus bertanggung
jawab atas kelalaiannya.
9. Entitas dapat bertindak sebagai pembeli atau penjual dalam suatu transaksi istishna’'. Jika entitas
bertindak sebagai penjual kemudian memesan kepada pihak lain (produsen atau kontraktor)
untuk membuat barang pesanan juga dengan cara istishna’' maka hal ini disebut istishna’' paralel.
10. Istishna’' paralel dapat dilakukan dengan syarat akad pertama, antara entitas dan pembeli akhir,
tidak bergantung (mu'allaq) dari akad kedua, antara entitas dan pihak lain.
11. Pada dasarnya istishna’' tidak dapat dibatalkan, kecuali memenuhi kondisi:
(a) kedua belah pihak setuju untuk menghentikannya; atau
(b) akad batal demi hukum karena timbul kondisi hukum yang dapat menghalangi
pelaksanaan atau penyelesaian akad.
12. Pembeli mempunyai hak untuk memperoleh jaminan dari penjual atas:
(a) jumlah yang telah dibayarkan; dan
(b) penyerahan barang pesanan sesuai dengan spesifikasi dan tepat waktu.

6.1.3 Jenis dan Alur Transaksi Istishna’


Dalam transaksi kedudukan Lembaga Keuangan Syariah dapat bertindak sebagai
produsen/pembuat/kontraktor. Disamping itu Lembaga Keuangan Syariah juga dapat bertindak sebagai
pemesan/pembeli, atau bertindak sebagai produsen sekaligus yang dilakukan secara simultan. Untuk
memberikan gambaran masing-masing kedudukan Lembaga Keuangan Syariah, berikut diberikan
penjelasan dan uraian yang lebih lengkap.
A. Istishna’ Lembaga Keuangan Syariah sebagai pembuat (produsen)
Lembaga Keuangan Syariah sebagai produsen dalam transaksi istishna’ ini dapat dilakukan untuk
pengelolaan dana seperti renovasi rumah, pembuatan perkebunan kelapa sawit dan sebagainya. Alur
transaksi Lembaga Keuangan Syariah sebagai produsen adalah sebagai berikut:

BAB VI. Akuntansi Istishna’ | 203


Gambar 6-1 : Alur Istishna’ LK Syariah sebagai pembuat
Dalam gambar di atas kedudukan Lembaga Keuangan Syariah sebagai pembuat atau produsen atau
kontraktor dan Lembaga Keuangan Syariah dapat menerima pesanan atas barang-barang yang masih
memerlukan proses pembuatan. Gambar tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Lembaga Keuangan Syariah sebagai produsen dan Nasabah sebagai pemesan melakukan negosiasi
terutama tentang spesifikasi barang termasuk cara penyerahannya dan cara pembayaran atas
barang tersebut, hingga disepakati dan dituangkan dalam akad Istishna’
2) Lembaga Keuangan Syariah menerima pembayaran harga (modal istishna’) dari Nasabah sesuai
kesepakatan (misalnya pembayaran dilakukan dimuka atau sebagian dari modal selama dalam
proses pembuatan barang).
3) Barang pesanan dari hasil produksi Lembaga Keuangan Syariah diserahkan kepada Nasabah
sebagai pembeli atau pemesan. Dengan diserahkannya barang tersebut kewajiban bank syariah
sebagai pembuat telah selesai

B. Istishna’ Lembaga Keuangan Syariah sebagai pemesan


Transaksi istishna’ Lembaga Keuangan Syariah sebagai pemesan dilakukan oleh Lembaga Keuangan
Syariah dalam hal Lembaga Keuangan Syariah melakukan renovasi kantor atau gedung, pembangunan
kantor dan sebagainya. Alur transaksi istishna’, Lembaga Keuangan Syariah sebagai pemesan dapat dilihat
dalam gambar berikut ini:

Gambar : 6-2 : Alur Istishna’ Lembaga Keuangan Syariah sebagai pemesan

204 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


Dalam gambar tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Lembaga Keuangan Syariah sebagai pemesan dan Nasabah sebagai kontraktor atau produsen
melakukan negosiasi terutama tentang spesifikasi barang termasuk cara penyerahannya dan cara
pembayaran atas barang tersebut, hingga disepakati dan dituangkan dalam akad Istishna’
2) Lembaga Keuangan Syariah sebagai pemesan membayar harga (modal istishna’) kepada Nasabah
sebagai produsen sesuai kesepakatan (misalnya pembayaran dilakukan dimuka atau sebagian dari
modal selama dalam proses pembuatan barang).
3) Barang pesanan dari hasil produksi Nasabah sebagai produsen diserahkan kepada Lembaga
Keuangan Syariah sebagai pembeli atau pemesan. Dengan diserahkannya barang tersebut kewajiban
Lembaga Keuangan Syariah sebagai pembuat telah selesai

C. Istishna’ Paralel
Istishna’ Paralel merupakan dua transaksi istishna’ yang dilakukan secara simultan. Hal ini dilakukan
kalau Lembaga Keuangan Syariah sebagai produsen tidak dapat mengerjakan sendiri dan menyerahkan
kepada pihak lain untuk membuatkan. Dalam istishna’ paralel ini merupakan gabungan transaksi istishna’
Lembaga Keuangan Syariah sebagai pembuat atau produsen dan Lembaga Keuangan Syariah sebagai
pemesan. Alur transaksi istishna’ paralel dapat dilihat dalam gambar berikut ini.

Gambar 6-3 : Alur Istishna’ Paralel


Dalam gambar di atas kedudukan Lembaga Keuangan Syariah sebagai
pembuat/produsen/kontraktor sekaligus sebagai pemesan/pembeli yang dilakukan secara simultan.
Dalam transaksi istishna’ paralel ini dapat dilakukan mana yang lebih dahulu, Lembaga Keuangan Syariah
sebagai produsen atau Lembaga Keuangan Syariah sebagai pemesan. Gambar tersebut dapat dijelaskan
sebagai berikut:
1) Dalam alur 1a, Nasabah (Syaifullah) sebagai pembeli akhir melakukan negosiasi kepada LKS Berkah
Gusti sebagai kontraktor atas pembagunan gedung, khususnya hal-hal yang berkaitan dengan
spesifikasi gedung dan cara pembayarannya hingga diperoleh kesepakatan dan dituangkan dalam
akad istishna’ (akad istishna’ pertama)
2) Dalam alur 1b, oleh karena LKS Berkah Gusti tidak memiliki kemampuan untuk menyelesaikan
gedung tersebut ia menyerahkan kepada Nasabah (PT Anugrah) sebagai pelaksana pembagunan
gedung/sub kontraktor karena kontraktor aslinya adalah LKS Berkah Gusti. Untuk itu dilakukan
negosiasi, khususnya spesifikasi barang (sama dengan yang dipesan oleh Nasabah/Syaifullah sebagai
pembeli akhir) dan cara pembayaran hingga kesepakatan dan dituangkan dalam akad istishna’ (akad
istishna’ kedua). Sesuai ketentuan Fatwa Dewan Syariah Nasional dijelaskan bahwa kedua akad

BAB VI. Akuntansi Istishna’ | 205


tersebut tidak boleh saling terkait, sehingga jika salah satu gagal tidak boleh membawa dampak pada
pihak lain.
3) Dalam alur 2a, Nasabah (Syaifullah) pembeli akhir melakukan pembayaran harga barang kepada
LKS Berkah Gusti dan begitu juga dalam alur 2b, LKS Berkah Gusti menyerahkan modal pada
Nasabah (PT Anugrah) sebagai subkontraktor sesuai kesepakatan. (ini jika pembayaran dilakukan
dimuka atau dilakukan sebagian selama dalam proses produksi)
4) Nasabah (PT Anugrah) sebagai sub kontraktor setelah gedung selesai dibangun diserahkan kepada
LKS Berkah Gusti sebagai pemesan (alur 3a). Jika gedung tidak sesuai spesifikasi yang disepakati
LKS Berkah Gusti dapat menolak. dan seterusnya LKS Berkah Gusti menyerahkan gedung kepada
Nasabah (Syaifullah) pembeli akhir (alur 3b). Misalnya atas keteledoran LKS Berkah Gusti dalam
menentukan spesifikasi barang atau penerimaan yang tidak sesuai dengan spesifikasi dan Nasabah
(Syaifullah) pembeli akhir menolak gedung tersebut, maka LKS Berkah Gusti harus bertanggung
jawab hingga barang sesuai spesifikasi yang disepakati. Kewajiban produsen adalah kewajiban
penyerahan barang sesuai spesifikasi yang telah disepakati (bukan penyerahan kembali uang)
Jika di dalam sebuah kontrak Istisna`a Pemesan/pembeli mengizinkan penjual/produsen (al-sani)
untuk menggunakan subkontraktor untuk melaksanakan kontrak tersebut, maka penjual/produsen (al-sani)
bisa memulai kontrak baru Istisna`a dengan pandangan melaksanakan kewajibannya pada kontrak pertama.
Kontrak baru ini dikenal sebagai Istisna` Paralel., yang sebenarnya merupakan subkontrak dimana
kewajiban al-sani pada kontrak pertama dilaksanakan (aaoifi,2000). Meskipun demikian:
1) Lembaga Keuangan Syariah sebagai penjual/produsen pada kontrak pertama tetap satu-satunya
yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan kewajibannya seolah-olah tidak ada Istisna` Paralel.
Sehingga, penjual/produsen pada kontrak pertama tetap bertanggung jawab atas setiap
kesalahan, kelalaian atau pelanggaran kontrak yang berasal dari kontrak paralel.
2) Penjual/produsen pada Istisna` Paralel bertanggung jawab terhadap Pemesan/pembeli (Lembaga
Keuangan Syariah) sebagaimana dia melaksanakan kewajibannya. Dia tidak mempunyai
hubungan legal secara langsung dengan Pemesan/pembeli pada kontrak pertama. Istisna`a
kedua merupakan kontrak paralel, tetapi bukan transaksi bersyarat pada kontrak pertama. Secara
legal keduanya merupakan kontrak yang berbeda dilihat dari hak dan kewajiban.
3) Lembaga Keuangan Syariah sebagai penjual/produsen berkewajiban kepada Pemesan/pembeli
terhadap kesalahan pelaksanaan subkontraktor dan jaminan yang timbul darinya. Kewajiban
inilah yang membenarkan keabsahan Istisna` Paralel dan yang juga membenarkan
membebabankan keuntungan oleh Lembaga Keuangan Syariah, jika ada.

6.2 Cakupan Akuntansi Istishna’

Pengukuran, pengakuan, penyajian dan pengungkapan transaksi Istishna’ dan Istishna’ Paralel yang
sebelumnya diatur dalam PSAK 59 tentang Akuntansi Perbankan Syariah diganti dengan PSAK 104
tentang Akuntansi Istishna’. Dalam PSAK 104 dijelaskan cakupan penerapan akuntansi istishna’ sebagai
berikut:
2. Pernyataan ini diterapkan unt