Anda di halaman 1dari 8

HIPERSENSITIVITAS TIPE 4

Hipersensitivitas (atau reaksi hipersensitivitas) adalah reaksi berlebihan, tidak diinginkan


karena terlalu senisitifnya respon imun (merusak, menghasilkan ketidaknyamanan, dan
terkadang berakibat fatal) yang dihasilkan oleh sistem imun.
Reaksi hipersensitivitas berdasarkan mekanisme dan waktu yang dibutuhkan untuk reaksi,
dibagi menjadi empat tipe: tipe I, tipe II, tipe III, dan tipe IV. Penyakit tertentu dapat
dikarenakan satu atau beberapa jenis reaksi hipersensitivitas.

Perbesaran biopsi paru-paru dari penderita hipersensitivitas pneumonitis menggunakan


mikrograf.
Hipersensitivitas tipe IV dikenal sebagai hipersensitivitas yang diperantarai sel atau tipe
lambat (delayed-type). Reaksi ini terjadi karena aktivitas perusakan jaringan oleh sel T dan
makrofag. Waktu cukup lama dibutuhkan dalam reaksi ini untuk aktivasi dan diferensiasi sel
T, sekresi sitokin dan kemokin, serta akumulasi makrofag dan leukosit lain pada daerah yang
terkena paparan. Beberapa contoh umum dari hipersensitivitas tipe IV adalah
hipersensitivitas pneumonitis, hipersensitivitas kontak (kontak dermatitis), dan reaksi
hipersensitivitas tipe lambat kronis (delayed type hipersensitivity, DTH).[5]
Hipersensitivitas tipe IV dapat dikelompokkan ke dalam tiga kategori berdasarkan waktu
awal timbulnya gejala, serta penampakan klinis dan histologis. Ketiga kategori tersebut dapat
dilihat pada tabel di bawah ini.
Wakt
Penampakan
Tipe u Histologi Antigen dan situs
klinis
reaksi
Limfosit, Epidermal (senyawa
48-72 Eksem (ekzema
Kontak diikuti makrofag; edema organik, jelatang atau poiso
jam )
epidermidis n ivy, logam berat , dll.)
48-72 Pengerasan Limfosit, monosit, Intraderma (tuberkulin,
Tuberkulin
jam (indurasi) lokal makrofag lepromin, dll.)
Antigen persisten atau
Granulom 21-28 Makrofag, epitheloid da
Pengerasan senyawa asing dalam tubuh
a hari n sel raksaksa, fibrosis
(tuberkulosis, kusta, etc.)

Referensi
a b c
(Inggris)Hypersensitivity Reactions. Abdul Ghaffar.

Inggris)Tak W. Mak, Mary E. Saunders, Maya R. Chaddah (2008). Primer to the immune response.
Academic Press. ISBN 978-0-12-374163-9. .

(Inggris)Hypersensitivity Douglas F. Fix

HIPERSENSITIVITAS TIPE 4
Hipersensitivitas adalah reaksi yang terjadi akibat terpajan antigen yang
berulang yang menyebabkan memicu reaksi patologi. Ada beberapa ciri-ciri yang umum
pada hipersensitivitas yaitu antigen dari eksogen atau endogen dapat memicu reaksi
hipersensitivitas, penyakit hipersensitivitas biasanya berhubungan dengan gen yang dimiliki
setiap orang, reaksi hipersensitivitas mencerminkan tidak kompaknya antara mekanisme
afektor dari respon imun dan mekanisme kontrolnya.
Hipersensitivitas dapat diklasifikasikan atas dasar mekanisme imunologis yang
memediasi penyakitnya. Klasifikasi ini juga membedakan antara respon imun yang
menyebabkan luka jaringan atau penyakit, patologinya, dan juga manifestasi klinisnya. Tipe-
tipe klasifikasi hipersensitivitas adalah:
 Hipersensitivitas immediate (tipe I) respon imun dimediasi oleh sel TH2, antibodi IgE, dan
sel mast; yang pada akhirnya akan mengeluarkan mediator inflamasi.
 Hipersensitivitas antibody-mediated (tipe II) antibodi IgG dan IgM dapat menginduksi
inflamasi dengan mempromosikan fagositosis atau lisis terhadap luka pada sel. Antibodi juga
mempengaruhi fungsi selular dan menyebabkan penyakit tanpatanpa ada luka jaringan.
 Hipersensitivitas kompleks imun (tipe III) antibodi IgG dan IgM mengikat antigen yang
biasanya ada di sirkulasi darah, dan kompleks antibodi-antigen mengendap di jaringan yang
pada akhirnya akan menginduksi proses inflamasi.
 Hipersensitivitas cell-mediated (tipe IV) luka seluler dan jaringan akan menyebabkan
tersintesisnya sel limfosit T (TH1, TH2, dan CTLs). Sel TH2 menginduksi lesi yang termasuk
kedalam hipersensitivitas tipe I, tidak termasuk hipersensitivitas tipe IV.

Yang akan dibahas disini hanyalah hipersensitivitas tipe IV


Hipersensitivitas T cell-mediated (tipe IV)
Hipersensitivitas tipe IV dikenal sebagai hipersensitivitas yang diperantarai
sel atau tipe lambat (delayed-type). Reaksi ini terjadi karena aktivitas perusakan
jaringan oleh sel T dan makrofag. Waktu cukup lama dibutuhkan dalam reaksi ini
untuk aktivasi dan diferensiasi sel T, sekresisitokin dan kemokin, serta akumulasi
makrofag dan leukosit lain pada daerah yang terkena paparan. Beberapa contoh
umum dari hipersensitivitas tipe IV adalah hipersensitivitas pneumonitis,
hipersensitivitas kontak (kontak dermatitis), dan reaksi hipersensitivitas tipe lambat
kronis (delayed type hipersensitivity, DTH).
Hipersensitivitas ini diinisiasi oleh antigen yang mengaktivasi limfosit T,
termasuk sel T CD4+ dan CD8+. Sel T CD4+ yang memediasi hipersensitivitas ini
dapat mengakibatkan inflamasi kronis. Banyak penyakit autoimun yang diketahui
terjadi akibat inflamasi kronis yang dimediasi oleh sel T CD4+ ini. Dalam
beberapa penyakit autoimun sel T CD8+ juga terlibat tetapi apabila terjadi juga
infeksi virus maka yang lebih dominan adalah sel T CD8+.
Reaksi inflamasi disebabkan oleh sel T CD4+ yang merupakan kategori
hipersensitivitas reaksi lambat terhadap antigen eksogen. Reaksi imunologis yang
sama juga terjadi akibat dari reaksi inflamasi kronis melawan jaringan sendiri. IL1
dan IL17 keduanya berkontribusi dalam terjadinya penyakit organ-spesifik yang
dimana inflamasi merupakan aspek utama dalam patologisnya. Reaksi inflamasi
yang berhubungan dengan sel TH1 akan didominasi oleh makrofag sedangkan
yang berhubungan dengan sel TH17 akan didominasi oleh neutrofil.
Reaksi yang terjadi di hipersensitivitas ini dapat dibagi menjadi beberapa 2
tahap: Proliferasi dan diferensiasi sel T CD4+ sel T CD4+ mengenali susunan
peptida yang ditunjukkan oleh sel dendritik dan mensekresikan IL2 yang berfungsi
sebagai autocrine growth factor untuk menstimulasi proliferasi antigen-responsive
sel T. Perbedaan antara antigen-stimulated sel T dengan TH1 atau Th17 adalah
terrlihat pada produksi sitokin oleh APC saat aktivasi sel T. APC (sel dendritik dan
makrofag) terkadang akan memproduksi IL12 yang menginduksi diferensiasi sel T
menjadi TH1. IFN-γ akan diproduksi oleh sel TH1 dalam perkembangannya. Jika
APC memproduksi sitokin seperti IL1, IL6, dan IL23; yang akan berkolaborasi
dengan membentuk TGF- β untuk menstimulasi diferensiasi sel T menjadi TH17.
Beberapa dari diferensiasi sel ini akan masuk kedalam sirkulasi dan menetap di
memory pool selama waktu yang lama.

Respon terhadap diferensiasi sel T efektor apabila terjadi pajanan antigen


yang berulang akan mengaktivasi sel T akibat dari antigen yang dipresentasikan
oleh APC. Sel TH1 akan mensekresikan sitokin (umumnya IFN-γ) yang
bertanggung jawab dalam banyak manifestasi dari hipersensitivitas tipe ini. IFN-γ
mengaktivasi makrofag yang akan memfagosit dan membunuh mikroorganisme
yang telah ditandai sebelumnya. Mikroorganisme tersebut mengekspresikan
molekul MHC II, yang memfasilitasi presentasi dari antigen tersebut. Makrofag
juga mensekresikan TNF, IL1 dan kemokin yang akan menyebabkan inflamasi.
Makrofag juga memproduksi IL12 yang akan memperkuat respon dari TH1.
Semua mekanisme tersebut akan mengaktivasi makrofag untuk mengeliminasi
antigen. Jika aktivasi tersebut berlangsung secara terus menerus maka inflamasi
kan berlanjut dan jaringan yang luka akan menjadi semakin luas.
TH17 diaktivasi oleh beberapa antigen mikrobial dan bisa juga oleh self-
antigen dalam penyakit autoimun. Sel TH17 akan mensekresikan IL17, IL22,
kemokin, dan beberapa sitokin lain. Kemokin ini akan merekrut neutrofil dan
monosit yang akan berlanjut menjadi proses inflamasi. TH17 juga memproduksi
IL12 yang akan memperkuat proses Th17 sendiri.
Reaksi sel T CD8+ sel T CD8+ akan membunuh sel yang membawa antigen.
Kerusakan jaringan oleh CTLs merupakan komponen penting dari banyak penyakit
yang dimediasi oleh sel T, sepert diabetes tipe I. CTLs langsung melawan
histocompatibilitas dari antigen tersebut yang merupakan masalah utama dalam
penolakan pencakokan. Mekanisme dari CTLs juga berperan penting untuk
melawan infeksi virus. Pada infeksi virus, peptida virus akan memperlihatkan
molekul MHC I dan kompleks yang akan diketahui oleh TCR dari sel T CD8+.
Pembunuhan sel yang telah terinfeksi akan berakibat eliminasinya infeksi tersebut
dan juga akan berakibat pada kerusakan sel.
Prinsip mekanisme pembunuhan sel yang terinfeksi yang dimediasi oleh sel
T melibatkan perforins dan granzymes yang merupakan granula seperti lisosom
dari CTLs. CTLs yang mengenali sel target akan mensekresikan kompleks yang
berisikan perforin , granzymes, dan protein yang disebut serglycin yang dimana
akan masuk ke sel target dengan endositosis. Di dalam sitoplasma sel target
perforin memfasilitasi pengeluaran granzymes dari kompleks. Granzymes adalah
enzim protease yang memecah dan mengaktivasi caspase, yang akan menginduksi
apoptosis dari sel target. Pengaktivasian CTLs juga mengekspresikan Fas Ligand,
molekul yang homolog denga TNF, yang dapat berikatan dengan Fas expressed
pada sel target dan memicu apoptosis.
Sel T CD8+ juga memproduksi sitokin (IFN-γ) yang terlibat dalam reaksi
inflamasi dalam DTH, khususnya terhadap infeksi virus dan terekspos oleh
beberapa agen kontak.

Referensi

Robbins and Cotran. 2004. Phatologic Basis of Disease 8th edition. Bab 6 Disease of the
imune system. Pg 197-208. SAUNDERS ELSEVIER: China
Abdul K Abbas, MBBS. 2004. Basic Immunology 2nd edition. Hypersensitivity Disease.
Pg 193-208. SAUNDERS: China