Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA

KELARUTAN DAN KOEFISIEN AKTIVITAS ELEKTROLIT KUAT


Candratama Indar Septianto, Nindya Ayu Lestari
Lab. Kimia Fisika Jurusan Kimia Universitas Negeri Semarang
Gedung D8 Lt 2 Sekaran Gunungpati Semarang 50229, Indonesia
Candratama902@yahoo.com, 089671595727

A. PENDAHULUAN
Latar Belakang

Permasalahan dalam menyatakan aktivitas yaitu agak lebih rumit dalam larutan
elektrolit daripada dalam larutan nonelektrolit. Larutan elektrolit kuat menunjukkan
penyimpangan berarti dari perilaku ideal bahkan pada konsentrasi rendah yang disitu
larutan nonelektrolit berkelakuan seperti larutan ideal. Penentuan aktivitas dan
koefisien aktivitas berkaitan dengan kepentingan yang lebih besar untuk larutan
elektrolit kuat (Castellan, 1983). Berdasarkan dari teori Debye-Huckle dimana suatu
diasumsikan bahwa suatu elektrolit kuat akan berdissosiasi secara sempurna menjadi
ion-ionnya. Selain itu juga diasumsikan bahwa pada konsentrasi yang sangat encer
interaksi yang terjadi antara ion-ion yang terdapat dalam larutan hanya gaya tarik-
menarik atau gaya tolak-menolak. Salah satu cara untuk melihat bagaimana
ketergantungan aktivitas ion pada kekuatan ion adalah dengan jalan mempelajari
perubahan kelarutan elektrolit yang sedikit larut, dimana pada percobaan ini
digunakan larutan barium iodat, sebagai akibat adanya penambahan elektrolit lain.
Elektrolit yang ditambahkan disini bukanlah suatu elektrolit dengan ion senama
dengan bariun iodat, tapi pada percobaan ini digunakan larutan KCl. Agar hukum
Debye-Huckle konsentrasi barium iodat yang digunakan harus berada dalam
konsentrasi yang rendah,yaitu kelarutan ion < 0,01

Landasan Teori

Salah satu cara untuk menunjukkan hubungan antara kekuatan ion dan aktvitas
ion adalah mempelajari perubahan kelarutan elektrolit yang sedikit larut (misalnya Ba
(IO3)2) sebagai aikbat adanya penambahan elektrolit lain (bukan ion senama, misalnya
KCl). Agar hukum Debye-Huckel dapat diterapkan, konsentrasi larutan elektrolit
sedikit larut tersebut harus diukur dengan tepat walaupun konsentrasinya rendah.
Selain itu kelarutannya dalam air harus berada dalam batas kisaran hukum Debye-
Huckel, yaitu kelarutan ion<0,01 M untuk elektrolit 1-1 (uni-univalen).
(Budi Santosa, 2006).
Salah satu elektrolit yang memenuhi kriteria di atas adalah Ba(IO 3)2 yang
konsentrasinya dapat di tentukan dengan menggunakan metode volumetrik yang
sederhana. Dengan menganalisis data yang diperoleh akan didapat koefisien ativitas
rata-rata (γ±).
Aktivitas atau koefisien aktivitas suatu individu ion secara percobaan tidak dapat
ditentukan, karena itu di definisikan aktivitas rata-rata a±, dan koefisien aktivitas rata
–rata y ± yang untuk elektrolit 1-2 (uni-bivalen) didefinisikan sebagai berikut:
a± = (a+ a-2)1/3………………………………………..(1)
γ ± = (γ + γ -2)1/3 ……………………………………..(2)
c± = (c+ c-2)1/3 ……………………………………….(3)
Bila nilai konsentrasi (c) dinyatakan dalam mol/liter, maka berdasarkan definisi diatas
di peroleh:
a± = γ ±.c± = Ka1/3 = konstan……………………………….(4)
Dalam hal ini, a adalah hasil kali aktivitas kelarutan yang dapat di turunkan sebagai
berikut:
Ba(IO3)2 Ba2+ + 2IO3-
Ka  aBa2 .aIO
2

(5)
3 ……………………………..

Misalnya dalam larutan terdapat elektrolit lain yang tidak mengandung ion senama
dengan Ba(IO3)2 (misal KCl) dan anggap kelarutan Ba(IO3)2 dalam air adalah s
mol/liter, maka c+ (konsentrasi ion Ba2+ dalam larutan) = s mol/liter dan c-
(konsentrasi ion IO3- dalam larutan)= 2s mol/liter.
Dari persamaan (3) akan diperoleh:
c± = 1,59 s …………………………………..(6)
Dengan menggabungkan persamaan (6) dengan persamaan (4) diperoleh
s γ ± = (Ka1/3/1,5) = konstanta = so…………………(7)
Dalam hal ini so adalah kelarutan teoritis bila y± mendekati 1 satu (=1) yaitu pada
keadaan dimana kekuatan ion sama dengan nol (I=0). Karena y± selalu menurun
dengan meningkatnya kekuatan ion, maka baik kelarutan dan hasil kali kelarutan, Ksp
(dinyatakan dalam konsentrasi, bukan dalam aktivitas) dari elektrolit yang sedikit larut
akan meningkat dengan adanya penambahan elektrolit lain yang tidak mengandung
ion senama. Jika nilai so dapat ditentukan dengan jalan ekstrapolasi ke kekuatan ion
sama dengan nol, maka y± pada berbagai konsentrasi akan dapat dihitung (γ± = so/s).
Pada larutan elektrolit, s bergantung pada kekuatan ion yang didefinisikan sebagai:
I  1 / 2 ci Z i2 (8)
………………………….
Keterangan:
ci = konsentrasi ion ke-i dalam mol/liter
zi = muatan ion ke-i
Kekuatan ion (I) harus dihitung berdasarkan semua ion yang berada di dalam larutan.
Nilai I terendah yang dapat digunakan untuk mengukur kelarutan dibatasi oleh
kelarutan elektrolit dalam air. Ekstrapolasi ke kekuatan ion sama dengan nol,
dilakukan berdasarkan teori Debye-Huckle untuk elektrolit kuat.
Teori Debye-Huckle menyatakan bahwa untuk larutan dengan kekuatan ion yang
rendah (I<0,01) untuk eletrolit univalen (1-1), koefisien aktivitas rata-rata suatu
elektrolit yang berdisosiasi menjadi ion bermuatan Z+ dan Z- dapat dihitung dengan
menggunakan persamaan:
Log γ ± = -A|Z+.Z-| I )…………………..…(9)
A = tetapan dan untuk larutan dengan pelarut air pada suhu 25°C nilainya adalah
0,509. Gabungan persamaan (7) dan (9) untuk Ba(IO3)3 diperoleh:
Log s = log so + 2A I ……………………..(10)
Jadi, pada kekuatan ion yang rendah kurva log s sebagai fungsi I akan berupa garis
lurus.(Tim Dosen Kimia Fisika.2012).
Tujuan dari Praktikum ini yaitu mengukur kelarutan barium iodat dalam larutan KCl
dengan berbagai kekuatan ion,menghitung kelarutan barium iodat ada I = 0 dengan
jalan ekstrapolasi,menghitung koefisien aktivitas rata-rata barium iodat pada berbagai
nilai I dan menguji penggunaan hukum Debye-Huckle.

B. METODE
1) Alat dan Bahan.
Alat – alat yang digunakan dalam praktikum kelarutan dan koefisien aktivitas
elektrolit kuat yaitu Labu erlenmeyer 250 ml sebanyak 8 buah yang digunakan untuk
tempat KCl, Labu takar 250 ml dan labu takar 100 ml digunakan untukmengencerkan
bahan –bahan yang perlu diencerkan, Buret 25 ml dan Statif digunakan untuk
menitrasi Na Tiosulfat dan KCl, Pipet Volume 25 ml dan ball pipet digunakan untuk
mengambil pencampuran larutan antara KCl dan endapan Barium Iodat sebesar 25 ml,
yang terakhir adalah alat pendukung seperti plastik, tisue, karet, kertas dan bon alat.
Bahan – bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu KCl 0,1 M, Ba(IO 3)2 (dapat
disiapkan dari pencampuran KIO3 dan BaCl2), Na2S2O3 0,01 M, HCl 1 M, KI 0,5 g/L,
Larutan pati/Kanji. Semua bahan di atas di buat secara kelompok pada saat persiapan.
2) Cara Kerja
Pertama-tama disiapkan 7 labu erlemeyer. Labu pertama diisi dengan KCl 0,1 M, labu
kedua dengan KCl 0,05 M, labu ketiga dengan KCl 0,02 M, labu keempat dengan
KCL 0,01 M, labu kelima dengan KCl 0,005, labu keenam dengan KCl 0,002 M, dan
labu tekahir diisi dengan aquades masing-masing 100 ml. Endapan barium iodat yang
telah dibuat dimasukkan ke dalam labu erlemeyer secukupnya hingga jenuh ,
kemuadian labu erlemeyer ditutup untuk mencegah penguapan.
Selanjutnya, labu erlemeyer dipanaskan pada penangas bersuhu 50⁰ C selama kurang
lebih 1 menit dan didinginkan pada suhu ruang kembali selama 1 jam. Setelah kurang
lebih 1 jam, pipet larutan bening pada erlemeyer 1 dan pindahkan pada labu erlemeyer
lain yang bersih dan kering. Untuk mencegah masuknya Ba(IO3)2 yang tidak larut,
bisa digunakan kertas saring yang dipasang pada ujung pipet. Sebelum dilakukan
titrasi, tambahkan 1 ml KI 0,5gram/L dan 2 ml HCl 1 M ke dalam larutan bening
tersebut. Larutan dititrasi dengan menggunakan natrium tiosulfat 0,01 M sampai
larutan berubah dari warna coklat menjadi kuning muda. Seelah berwarna kuning
muda, tambahkan beberapa tetes amilum 1%, dan dititasi lagi hingga warna biru
hilang. Untuk laruan pada labu erlemeyer lainpun dilakukan treatmen yang sama
seperi pada labu erlemeyer 1.

3) Variabel Percobaan
Variabel - Variabel yang termuat dalam praktikum ini, pertama yaitu Variabel control
merupakan pusat perhatian dalam praktikum ini, akan tetapi berpengaruh terhadap
keragaman variabel tergantung dan pengaruh tersebut dapat dikendalikan,Variabel
kontrol pada praktikum ini adalah suhu kamar 250C. Selanjutnya adalah Variabel
bebas, ini merupakan variabel yang bila ia berubah akan mengakibatkan perubahan
variabel lain, dalam praktikum ini yaitu Konsentrasi larutan KCl (M).Yang terakhir
ada Variabel terikat, yaitu variabel yang ditentukan atau tergantung pada variabel
lainnya, pada praktikum ini misalnya Volume Na Tiosulfat untuk titrasi, Konsentrasi
larutan jenuh IO3-, kelarutan Barium Iodat, Ketiganya di pengaruhi oleh besarnya
konsentrasi KCl.

C. HASIL DAN PEMBAHASAN


Dari hasil percobaan diperoleh data pengamatan sehingga diperoleh kurva sebagai
berikut.
Tabel 1. Data volume titrasi tiosulfat

No. Labu Konsentrasi Volume Konsentrasi Kelarutan (s) Log s


Erlenmeyer larutan KCl tiosulfat larutan jenuh Ba(IO3)2 (M)
(M) untuk titrasi IO3- (M)
(mL)
1 0,1 7.2 0.350 0.175 -0,75
2 0,05 8.4 0.148 0.074 -1,128
3 0,02 9.7 0.051 0.025 -1,588
4 0,01 10.5 0.023 0.011 -1,924
5 0,005 12.4 0.0100 0.005 -2,297
6 0,002 13.6 0.0036 0.0018 -2,735
7 0.001 8.1 - - -

Suhu larutan dalam erlenmeyer = 28 oC


Standarisasi tiosulfat = 3.5 ml larutan KIO3 (0,0769gram dalam 100 ml)
Memerlukan 2 ml tiosulfat untuk netralisasi.

Tabel 2. Data koefisien rata-rata (γ±) barium iodat pada berbagai nilai I

No. Labu Kekuatan ion


I1/2 So/S (γ±) Log γ±
Erlenmeyer (I)
1 0.362 0,601 0.242 -0,616
2 0.161 0,401 0.393 -0,405
3 0.0582 0,241 0.5871 -0,2312
4 0.0272 0,165 0.7355 -0,133
5 0.0125 0,111 0.7780 -0,108
6 0.0047 0,0605 0.8709 -0,060
7 - - - -

Analisis data, menurut Platto (1980:268), adalah proses mengatur data,


mengorganisasikannya kedalam suatu pola, kategoridan satuan uraian dasar.Dibawah
ini merupakan salah satu percobaan yang pertama dengan Konsentrasi KCl 0.1 M
yang akan di analisis.
Erlenmeyer 1
1. Konsentrasi larutan jenuh IO3-
V lar dlm Erleneyer = V1 = 25 ml
[ KCl ] = M1 = 0,1 M
V tiosulfat = V2 = 7,5 ml
V1.M1 = V2.M2
25 ml x 0.1 M = 7,1 ml x M2
M2 = 0,352 M
Jadi, konsentrasi larutan jenuh IO3- = 0,352 M
2. Kelarutan Ba(IO3)2
Ba(IO3)2  Ba2+ + 2 IO3-
s s 2s
[ IO3- ] = 0.352 M = 2s
s = 0.352/2 = 0,176 M
)
Jadi, Kelarutan Ba(IO3 2 = s = 0.176 M
3. Log s
Log s = Log 0.176 = -0,754
4. Kekuatan ion (I)
KCl  K+ + Cl-
Ba(IO3)2  Ba2+ + 2 IO3-
I = ½ {[K ] + [Cl ] + [IO3 ] +[Ba2+]}
+ - -

= ½ ( 0.1 + 0.1 + 0.352 + 0.176 )


= 0,364
5. I = 0.3641/2 = 0,603
1/2

6. log so = log s - |2A- I |


= - 0,754 – ( 2 x 0.509 x 0.603)
= - 1,369
so = antilog -1,369
= 0,043
7. so/s = y± = 0,043 /0.176
= 0,243
8. log y± = log 0,26 = - 0,614

Untuk melihat dan mengukur kelarutan barium iodat (Ba(IO3)2 dalam larutan KCl
dilakukan dalam prcobaan diamati kelarutan 7 buah labu barium iodat pada
penambahan KCl dengan konsentrasi 0,1; 0,05; 0,02; 0,01; 0,005; dan 0,002 masing-
masing 25mL. Dan sebagai perbandingan diamati kelarutan barium iodat jika larutan
barium iodat tidak ditambahkan elektrolit lain,yaitu pada labu ketujuh hanya
ditambahkan air sebanyak 25mL. Kemudian pada masing masing labu ini ditambahkan
Barium Iodat secukupnya,yaitu penambahan dilakukan sedikit demi sedikit dan
penambahan dihentikan jika diamati larutan sudah tepat jenuh,dengan catatan sealama
penambahan larutan terus diaduk agar Barium Iodat yang ditambahkan dapat larut
dengan segera. Agar barium iodat tidak menguap maka setelah penambahan barium
iodat,labu harus segera ditutup. Setelah larutan dipanaskan selama kurang lebih satu
menit larutan kemudian didiamkan selama satu hari dan setelah itu larutan disaring
sehingga barium iodat yang tidak larut tersaring oleh kertas saring. Kemudian masing
masing labu diambil masing masing 5ml larutan dan dilakukan titrasi terhadap laruatan
tersebut menggunakan larutan Natrium tiosulfat,Na2S2O3. Dan digunakan indikator kanji
1%, dan titik akhir titrasi tercapai setelah warna biru hitam menghilang.
Dari percobaan yang telah dilakukan didapat hasil volume tiosulfat yang digunakan
untuk titrasi sebanyak 7,1; 8,3; 9,5; 10,0; 12,0; 13,8 dan 21 ml. Dari data yang diperoleh
ini dapat ditentukan konsentrasi dari ion IO3- , kelarutan dari barium iodat(sebagaimana
yang telah disebutkan), logaritma dari kelarutan (log S),kurva log S, intensitas rata-
rata,koefisien aktivitas rata-rata dan log dari koefisien aktivitas rata-rata yang kemudian
dapat dibuat kurva log γ+- sebagai fungsi dari I ½
Dari data yang didapat ini dapat diketahui bahwa kelarutan barium iodat dipengaruhi
oleh banyaknya KCl yang ditambahkan, semakin besar konsentrasi KCl yang
dimasukkan maka semakin kecil kelarutan dari barium iodat. Dan didapat kelarutan
barium iodat yang paling besar adalah terdapat pada labu nomor tujuh, yaitu pada labu
dimana hanya barium iodat yang terdapat di dalam larutan tanpa ada penambahan dari
KCl.Setelah dilakkan analisis dan perhitungan pada tersebut diperoleh hail seperti
dalam table data pengamatan. Dari hasil tersebut dapat diperoleh Kekuatan Ion dan
Aktivitas Ion serta kelarutannya. Reaksi yang terjadi pada saat titrasi adalah sebagai
berikut.
IO3- + 8H+ + 6 H+ → 3 I3- + 3H2O
I3- + 2 S2O3- → S4O6- + 3 I-
Sebagai akibat penambahan elektrolit lain bukan senama KCl, dari hasil perhitungan
diperoleh grafik hubungan I terhadap kelarutan. Dapat dilihat bahwa kelarutan akan
naik dengan naiknya konsentrasi. Demikian juga sebaliknya, dari grafik plot log s
terhadap I diperoleh persamaan regresi linear y = 3,4697x – 2,6504 yang sebanding
dengan persamaan log s = 2A I + log so. Dengan jalan ekstrapolasi (x = 0) diperoleh
log s = - 2,65045 dan kelarutan (s) = 0,0010.
Dari percobaaan yang telah dilakukan diperoleh grafik sebagai berikut:

Gambar 1. Grafik Log S vs

Gambar 2. Grafik Log (So/s) vs

Kelarutan pada larutan elektrolit bergantung pada kekuatan ion, dimana kelarutan
semakin meningkat dengan meningkatnya kekuatan ion. Teori Debye-Huckle
memprediksi bahwa logaritma koefisien ionik rata-rata adalah fungsi linear dari akar
pangkat dua kekuatan ionik dan slopenya bernilai negatif. Koefisien aktivitas ionik
hanya bergantung pada muatan ion dan konsentrasinya. Hubungan antara keduanya
dapat dilihat dari grafik yang diperoleh dari hasil perhitungan. Sesuai grafik dapat
dilihat bahwa koefisien aktivitas ionik rata-rata naik dengan turunnya kekuatan ion.

D. SIMPULAN

Ketergantungan aktivitas ion pada kekuatan ion dengan jalan mempelajari


perubahan kelarutan elektrolit yang sedikit larut, digunakan larutan barium iodat,
sebagai akibat adanya penambahan elektrolit lain. Elektrolit yang ditambahkan disini
bukanlah suatu elektrolit dengan ion senama dengan bariun iodat, yaitu larutan KCl.
Agar hukum Debye-Huckle konsentrasi barium iodat yang digunakan harus berada
dalam konsentrasi yang rendah,yaitu kelarutan ion < 0,01. Dari hasil yang diperoleh
dari data percobaan, setelah dianalisis, diperoleh simpulan bahwa, kelarutan barium
iodat semakin meningkat dalam larutan KCl yang konsentrasinya semakin tinggi
dengan kekuatan ion yang semakin meningkat. Dari grafik plot s terhadap I
diperoleh persamaan regresi linear y = 3,4697x – 2,6504, Dengan jalan ekstrapolasi (x
= 0) diperoleh log s = - 2,65045 dan kelarutan (s) = 0,0010.Selain itu diketahui
kelarutan pada larutan elektrolit bergantung pada kekuatan ion, dan koefisien aktivitas
ionik hanya bergantung pada muatan ion dan konsentrasinya. Dari hubungan tersebut
diperoleh koefisien aktivitas ionik rata-rata semakin meningkat dengan turunnya
konsentrasi.

E. DAFTAR PUSTAKA
Budi Santosa, Nurwachid. 2006. KIMIA FISIKA II. Semarang: Jurusan Kimia FMIPA
UNNES
Tim Dosen Kimia Fisika. 2012. Petunjuk Praktikum Kimia Fisik. Semarang. Jurusan
Kimia FMIPA UNNES.
Tony Bird. 1993. Praktikum Kimia Fisik, Jakarta : Gramedia
Shoemaker. 1974. Experimental in Physical Chemistry.
W. Castellan, Gilbert. 1983. Physical Chemistry Third Edition. USA : Addison-
Wesley Publishing Company, Inc.
Wahyuni, Sri. 2011. Diktat Petunjuk Praktikum Kimia Fisik. Semarang : Jurusan Kimia
FMIPA Unnes.

Semarang, 30 September 2013

Mengetahui,
Dosen Pengampu Praktikan

Ir. Sri Wahyuni, M.Si Candratama Indar Septianto


NIM 4301411055

LAMPIRAN

A. Erlenmeyer 1
1. Konsentrasi larutan jenuh IO3-
V lar dlm Erleneyer = V1 = 25 ml
[ KCl ] = M1 = 0,1 M
V tiosulfat = V2 = 7,2 ml
V1.M1 = V2.M2
25 ml x 0.1 M = 7,2 ml x M2
M2 = 0,350 M
Jadi, konsentrasi larutan jenuh IO3- = 0,350 M
2. Kelarutan Ba(IO3)2
Ba(IO3)2  Ba2+ + 2 IO3-
s s 2s
[ IO3- ] = 0.350 M = 2s
s = 0.350/2 = 0,175 M
Jadi, Kelarutan Ba(IO3)2 = s = 0.175 M
3. Log s
Log s = Log 0.175 = -0,750
4. Kekuatan ion (I)
KCl  K+ + Cl-
+
Ba(IO3)2  Ba2 + 2 IO3-
I = ½ {[K+] + [Cl-] + [IO3-] +[Ba2+]}
= ½ ( 0.1 + 0.1 + 0.350 + 0.175 )
= 0,362
5. I1/2 = 0.3621/2 = 0,601
6. log so = log s - |2A- I |
= - 0,750 – ( 2 x 0.509 x 0.601)
= - 1,369
so = antilog -1,369
= 0,043
7. so/s = y± = 0,043 /0.176
= 0,242
8. log y± = log 0,26 = - 0,616

Erlenmeyer 2
1.Konsentrasi larutan jenuh IO3-
V lar dlm Erleneyer = V1 = 25 ml
[ KCl ] = M1 = 0.05 M
V tiosulfat = V2 = 8,4 ml
V1.M1 = V2.M2
25 ml x 0.05 M = 8,4 ml x M2
M2 = 0,148 M
Jadi, konsentrasi larutan jenuh IO3- = 0,148 M
2. Kelarutan Ba(IO3)2
Ba(IO3)2  Ba2+ + 2 IO3-
s s 2s
-
[ IO3 ] = 0,148 M = 2s
s = 0,148/2 = 0,074 M
)
Jadi, Kelarutan Ba(IO3 2 = s = 0,074 M
3. Log s
Log s = Log 0,074 = -1,128
4. Kekuatan ion (I)
KCl  K+ + Cl-
Ba(IO3)2  Ba2+ + 2 IO3-
I = ½ {[K ] + [Cl ] + [IO3 ] +[Ba2+]}
+ - -

= ½ ( 0,05 + 0,05 + 0,148+ 0,074 )


= 0,161
5. I1/2 = 0,1611/2 = 0,401
6. log so = log s - |2A- I |
= - 1,12 – ( 2 x 0,509 x 0,401)
= -1,531
so = antilog -1,531
= 0,0292
7. so/s = y± = 0,0292 / 0,074
= 0,393
8. log y± = log 0,388 = - 0,405

Erlenmeyer 3
1.Konsentrasi larutan jenuh IO3-
V lar dlm Erleneyer = V1 = 25 ml
[ KCl ] = M1 = 0,02 M
V tiosulfat = V2 = 9.7 ml
V1.M1 = V2.M2
25 ml x 0.02 M = 9. 7ml x M2
M2 = 0,051 M
Jadi, konsentrasi larutan jenuh IO3- = 0,051 M
2. Kelarutan Ba(IO3)2
Ba(IO3)2  Ba2+ + 2 IO3-
s s 2s
-
[ IO3 ] = 0,051 M = 2s
s = 0,051/2 = 0,025 M
)2
Jadi, Kelarutan Ba(IO3 = s = 0,025 M
3. Log s
Log s = Log 0,025 = - 1,588
4. Kekuatan ion (I)
KCl  K+ + Cl-
Ba(IO3)2  Ba2+ + 2 IO3-
I = ½ {[K ] + [Cl ] + [IO3 ] +[Ba2+]}
+ - -

= ½ ( 0,02 + 0,02 + 0,051 + 0,025 )


= 0,0582
5. I1/2 = 0,05821/2 = 0,241
6. log so = log s - |2A- I |
= - 1,580 – ( 2 x 0.0582 x 0,241)
= - 1,820
so = antilog -1,820
= 0,015
7. so/s = y± = 0,015/ 0,025
= 0,5871
8. log y± = log 0,5871= - 0,2312
Erlenmeyer 4
1. Konsentrasi larutan jenuh IO3-
V lar dlm Erleneyer = V1 = 25 ml
[ KCl ] = M1 = 0.01 M
V tiosulfat = V2 = 10,5 ml
V1.M1 = V2.M2
25 ml x 0,01 M = 10,5 ml x M2
M2 = 0,023 M
Jadi, konsentrasi larutan jenuh IO3- = 0,023 M
2. Kelarutan Ba(IO3)2
Ba(IO3)2  Ba2+ + 2 IO3-
s s 2s
-
[ IO3 ] = 0,023 M = 2s
s = 0,023/2 = 0,011 M
)
Jadi, Kelarutan Ba(IO3 2 = s = 0,011 M
3. Log s
Log s = Log 0,011 = -1.924
4. Kekuatan ion (I)
KCl  K+ + Cl-
Ba(IO3)2  Ba2+ + 2 IO3-
I = ½ {[K ] + [Cl ] + [IO3 ] +[Ba2+]}
+ - -

= ½ ( 0,01 + 0,01 + 0,023 + 0,011 )


= 0,0272
5. I1/2 = 0,02721/2 = 0,165
6. log so = log s - |2A- I |
= - 2 – ( 2 x 0,509 x 0,165)
= - 2,076
so = antilog -2,076
= 0,008
7. so/s = y± =0,008/ 0,011
= 0,7355
8. log y± = log 0,7355= - 0,133

Erlenmeyer 5
1. Konsentrasi larutan jenuh IO3-
V lar dlm Erleneyer = V1 = 25 ml
[ KCl ] = M1 = 0.005 M
V tiosulfat = V2 = 12,4 ml
V1.M1 = V2.M2
25 ml x 0,005 M = 12 ,4ml x M2
M2 = 0,0100 M
Jadi, konsentrasi larutan jenuh IO3- = 0,0100 M
2. Kelarutan Ba(IO3)2
Ba(IO3)2  Ba2+ + 2 IO3-
s s 2s
-
[ IO3 ] = 0,01 M = 2s
s = 0,01/2 = 0,005 M
)
Jadi, Kelarutan Ba(IO3 2 = s = 0,005 M
3. Log s
Log s = Log 0,005 = -2,297
4. Kekuatan ion (I)
KCl  K+ + Cl-
Ba(IO3)2  Ba2+ + 2 IO3-
I = ½ {[K ] + [Cl ] + [IO3 ] +[Ba2+]}
+ - -

= ½ ( 0,005 + 0,005 + 0,01 + 0,005 )


= 0,0125
5. I1/2 = 0,01251/2 = 0,111
6. log so = log s - |2A- I |
= - 2,283 – ( 2 x 0,509 x 0,113)
= -2,399
so = antilog -2,399
= 0,004
7. so/s = y± =0,004 /0,005
= 0,7780
8. log y± = log 0,7780= - 0,108

Erlenmeyer 6
1. Konsentrasi larutan jenuh IO3-
V lar dlm Erleneyer = V1 = 25 ml
[ KCl ] = M1 = 0.002 M
V tiosulfat = V2 = 13,6ml
V1.M1 = V2.M2
25 ml x 0,002 M = 13,6 ml x M2
M2 = 0,0036 M
Jadi, konsentrasi larutan jenuh IO3- = 0,0036 M
2. Kelarutan Ba(IO3)2
Ba(IO3)2  Ba2+ + 2 IO3-
s s 2s
-
[ IO3 ] = 0,0036 M = 2s
s = 0,0036/2 = 0,0018 M
)
Jadi, Kelarutan Ba(IO3 2 = s = 0,0018 M
3. Log s
Log s = Log 0,0018= - 2,735
4. Kekuatan ion (I)
KCl  K+ + Cl-
+
Ba(IO3)2  Ba2 + 2 IO3-
I = ½ {[K+] + [Cl-] + [IO3-] +[Ba2+]}
= ½ ( 0,002 + 0,002 + 0,0036 + 0,0018)
= 0,0047
5. I1/2 = 0,00471/2 = 0,0605
6. log so = log s - |2A- I |
= - 2,8 – ( 2 x 0,509 x 0,069)
= - 2,812
so = antilog -2,812
= 0,0015
7. so/s = y± = 0,002 / 0,0015
= 0,8709
8. log y± = log 0,8709 = - 0,06

Erlenmeyer 7
Air
Standarisasi Na.tiosulfat
5 ml larutan KIO3 ( 0.0769 gram dalam 100ml )
M = gr.1000/(Mr.V)
= 0.0769x1000/ (214x100)
= 0.00359 mol/lt
Titrasi dengan Na.tiosulfat
V1 = V KIO3 = 5ml
M1 = M KIO3 = 0.00359 mol/lt
V2 = V Na.tiosulfat = 2.1 ml ( dari titrasi )
M1 x V1 = M2 x V2
0.00359 M x 5 ml = M2 x 2.1 ml
M2 = 0.00855 mol/lt = konsentrasi Na.tiosulfat
F. HASIL DAN PEMBAHASAN
Percobaan Kelarutan Dan Koefisien Aktivitas Elektrolit Kuat ini memiliki
tujuan untuk mengukur kelarutan barium iodat dalam larutan KCl dengan berbagai
kekuatan ion, menghitung kelarutan barium iodat pada I = 0 dan menghitung koefisien
aktivitas rata-rata barium iodat pada berbagai I serta menguji penggunakan hukum
Debye-Huckle.
Berdasarkan dari teori Debye-Huckle Untuk menunjukkan antara kekuatan ion
dan aktivitas ion dapat dilihat dari perubahan kelarutan elektrolit yang sedikit larut
dalam air, dalam hal ini Ba(IO3)2., dimana suatu diasumsikan bahwa suatu electrolit
kuat akan berdisosiasi secara sempurna mejadi ion-ionnya. Selain itu juga diasumsikan
bahwa pada konsenntrasi yang sangat encer interaksi yang terjadi antara ion-ion yang
terdapat dalam larutan hanya gaya tarik-menarik atau gaya tolak-menolak.
Salah satu cara untuk melihat bagaimana ketergantungan aktivitas ion pada
kekuatan ion adalah dengan jalan mempelajari perubahan kelarutan elektrolit yang
sedikit larut,dimana pada percobaan ini digunakan larutan barium iodat,sebagai akibat
adanya penamabahn elektrolit lain. Elektrolit yang ditambahkan disini bukanlah suatu
elektrolit dengan ion senama dengan baiun iodat, tapi pada percobaan ini digunakan
larutan KCl. Agar hukum Debye-Huckle konsentrasi barium iodat yang digunakan
harus berada dalam konsentrasi yang rendah,yaitu kelarutan ion < 0,01.
Untuk melihat dan mengukur kelarutan barium iodat (Ba(IO 3)2 dalam larutan
KCl dilakukan dalam prcobaan diamati kelarutan 7 buah labu barium iodat pada
penambahan KCl dengan konsentrasi 0,1; 0,05; 0,02; 0,01; 0,005; dan 0,002 masing-
masing 25mL. Dan sebagai perbandingan diamati kelarutan barium iodat jika larutan
barium iodat tidak ditambahkan elektrolit lain,yaitu pada labu ketujuh hanya
ditambahkan air sebanyak 25mL. Kemudian pada masing masing labu ini
ditambahkan Barium Iodat secukupnya,yaitu penambahan dilakukan sedikit demi
sedikit dan penambahan dihentikan jika diamati larutan sudah tepat jenuh,dengan
catatan sealama penambahan larutan terus diaduk agar Barium Iodat yang
ditambahkan dapat larut dengan segera. Agar barium iodat tidak menguap maka
setelah penambahan barium iodat,labu harus segera ditutup. Setelah larutan
dipanaskan selama kurang lebih satu menit larutan kemudian didiamkan selama satu
hari dan setelah itu larutan disaring sehingga barium iodat yang tidak larut tersaring
oleh kertas saring. Kemudian masing masing labu diambil masing masing 5ml larutan
dan dilakukan titrasi terhadap laruatan tersebut menggunakan larutan Natrium
tiosulfat,Na2S2O3. Dan digunakan indikator kanji 1%, dan titik akhir titrasi tercapai
setelah warna biru hitam menghilang.
Dari percobaan yang telah dilakukan didapat hasil volume tiosulfat yang
digunakan untuk titrasi sebanyak 7,1; 8,3; 9,5; 10,0; 12,0; 13,8 dan 21 ml. Dari data
yang diperoleh ini dapat ditentukan konsentrasi dari ion IO3- , kelarutan dari barium
iodat(sebagaimana yang telah disebutkan), logaritma dari kelarutan (log S),kurva log
S, intensitas rata-rata,koefisien aktivitas rata-rata dan log dari koefisien aktivitas rata-
rata yang kemudian dapat dibuat kurva log γ+- sebagai fungsi dari I ½ .
Nomor Konsentrasi Volume Konsentrasi Kelarutan Log s
Labu larutan KCl tiosulfat larutan (s)
Erlenmeyer (M) untuk jenuh IO3- Ba(IO3)2
titrasi (M) (M)
(mL)
1 0,1 7.2 0.350 0.175 -0.75
2 0,05 8.3 0.150 0.075 -1.12
3 0,02 9.7 0.050 0.025 -1.60
4 0,01 10.5 0.026 0.013 -1.8
5 0,005 12.2 0.0099 0.045 -1.346
6 0,002 13.5 0.003 0.001 -3
7 0.001 8 - - -
Nomor Kekuatan Ion so/s = γ± Log γ±
Labu (I)
Erlenmeyer
1 0.362 0.601 0.242 -0.616
2 0.160 0.4 0.386 -0.4134
3 0.057 0.238 0.562 -0.25
4 0.029 0.170 0.670 -0.17
5 0.010 0.1 0.764 -0.116
6 0.004 0.006 0.851 -0.070
7 - - - -
Dari data yang didapat ini dapat diketahui bahwa kelarutan barium iodat
dipengaruhi oleh banyaknya KCl yang ditambahkan, semakin besar konsentrasi KCl
yang dimasukkan maka semakin kecil kelarutan dari barium iodat. Dan didapat
kelarutan barium iodat yang paling besar adalah terdapat pada labu nomor tujuh, yaitu
pada labu dimana hanya barium iodat yang terdapat di dalam larutan tanpa ada
penambahan dari KCl.Setelah dilakkan analisis dan perhitungan pada tersebut
diperoleh hail seperti dalam table data pengamatan. Dari hasil tersebut dapat diperoleh
Kekuatan Ion dan Aktivitas Ion serta kelarutannya. Reaksi yang terjadi pada saat titrasi
adalah sebagai berikut.
IO3- + 8H+ + 6 H+ → 3 I3- + 3H2O
I3- + 2 S2O3- → S4O6- + 3 I-
Sebagai akibat penambahan elektrolit lain bukan senama KCl, dari hasil
perhitungan diperoleh grafik hubungan I terhadap kelarutan. Dapat dilihat bahwa
kelarutan akan naik dengan naiknya konsentrasi. Demikian juga sebaliknya, dari
grafik plot log s terhadap I diperoleh persamaan regresi linear y = 1.650x – 1,125
yang sebanding dengan persamaan log s = 2A I + log so. Dengan jalan ekstrapolasi
(x = 0) diperoleh log s = 1,125 dan kelarutan (s) = 0,0749
Dari percobaaan yang telah dilakukan diperoleh grafik sebagai berikut:

Gambar 1. Grafik Log S vs

Gambar 2. Grafik Log (So/s) vs

Kelarutan pada larutan elektrolit bergantung pada kekuatan ion, dimana


kelarutan semakin meningkat dengan meningkatnya kekuatan ion. Teori Debye-Huckle
memprediksi bahwa logaritma koefisien ionik rata-rata adalah fungsi linear dari akar
pangkat dua kekuatan ionik dan slopenya bernilai negatif. Koefisien aktivitas ionik
hanya bergantung pada muatan ion dan konsentrasinya. Hubungan antara keduanya
dapat dilihat dari grafik yang diperoleh dari hasil perhitungan. Sesuai grafik dapat
dilihat bahwa koefisien aktivitas ionik rata-rata naik dengan turunnya kekuatan ion.

G. KESIMPULAN DAN SARAN


1. Kesimpulan
a. Semakin kecil konsentrasi KCl akan semakin besar volume larutan Na2S2O3
yang dibutuhkan
b. Semakin besar konsentrasi KCl, semakin besar pula kekuatan ion.
c. Harga koefisien aktifitas rata-rata cenderung menurun dengan meningkatnya
kekuatan ion

2. Saran
a.Praktikan hendaknya melakukan persiapan secara matang.
b. Praktikan lebih teliti dalam melakukan pengamatam
c. Alat yang digunakan sesuai dengan standar.
d. Pada percobaan setelah dilakukan pelarutan barium iodat kedalam labu
erlenmeyer,maka labu erlenmeyer harus segera ditutup agar barium iodat tidak
menguap.

H. DAFTAR PUSTAKA
Budi Santosa, Nurwachid. 2006. KIMIA FISIKA II. Semarang: Jurusan Kimia FMIPA
UNNES
Tim Dosen Kimia Fisika. 2012. Petunjuk Praktikum Kimia Fisik. Semarang. Jurusan
Kimia FMIPA UNNES.

Mengetahui, Semarang, 30 September 2013


Dosen Pengampu Praktikan

Ir. Sri Wahyuni, M.Si Candratama Indar Septianto


NIM 4301411055
I. JAWABAN PERTANYAAN
1. T = 25°C
Konstanta dielektrik = 78,5
e = 1,6. 10-19
NA = 6,02.10-23 mol
k = 1,381.10-23 J/mol
A = ......?
H2O H+ + OH-
I = ½ (10 + 10 ) = 10-7
-7 -7

1/ 2
e 3 Z 1  Z 2  2 πN A 1 
ln γ ± =  
 KT  3 / 2  100 
=
= 9,5387.10-56.

2. I= ½ [ c+ ] [ c- ]2
0.01 = ½ c2
0.02 = c2
C = 0.141
c± = ( c+c-2)1/3
= ( 0.141x0.1412)1/3
= 0.141
Log γ ±= -A|Z+.Z-| I )
= -0.509| +1.-2|0.011/2)
= -0.1018
γ ± = 0.791
a± = γ ±.c± = 0.791x0.141 = 0.11153
J. JAWABAN PERTANYAAN
1. T = 25°C
Konstanta dielektrik = 78,5
e = 1,6. 10-19
NA = 6,02.10-23 mol
k = 1,381.10-23 J/mol
A = ......?
H2O H+ + OH-
I = ½ (10 + 10 ) = 10-7
-7 -7

1/ 2
e 3 Z 1  Z 2  2 πN A 1 
ln γ ± =  
 KT  3 / 2  100 
=
= 9,5387.10-56.

2. I= ½ [ c+ ] [ c- ]2
0.01 = ½ c2
0.02 = c2
C = 0.141
c± = ( c+c-2)1/3
= ( 0.141x0.1412)1/3
= 0.141
Log γ ±= -A|Z+.Z-| I )
= -0.509| +1.-2|0.011/2)
= -0.1018
γ ± = 0.791
a± = γ ±.c± = 0.791x0.141 = 0.11153

LAMPIRAN

9. Erlenmeyer 1
10. Konsentrasi larutan jenuh IO3-
V lar dlm Erleneyer = V1 = 25 ml
[ KCl ] = M1 = 0,1 M
V tiosulfat = V2 = 7,5 ml
V1.M1 = V2.M2
25 ml x 0.1 M = 7,1 ml x M2
M2 = 0,352 M
Jadi, konsentrasi larutan jenuh IO3- = 0,352 M
11. Kelarutan Ba(IO3)2
Ba(IO3)2  Ba2+ + 2 IO3-
s s 2s
[ IO3- ] = 0.352 M = 2s
s = 0.352/2 = 0,176 M
Jadi, Kelarutan Ba(IO3)2 = s = 0.176 M
12. Log s
Log s = Log 0.176 = -0,754
13. Kekuatan ion (I)
KCl  K+ + Cl-
+
Ba(IO3)2  Ba2 + 2 IO3-
I = ½ {[K+] + [Cl-] + [IO3-] +[Ba2+]}
= ½ ( 0.1 + 0.1 + 0.352 + 0.176 )
= 0,364
14. I1/2 = 0.3641/2 = 0,603
15. log so = log s - |2A- I |
= - 0,754 – ( 2 x 0.509 x 0.603)
= - 1,369
so = antilog -1,369
= 0,043
16. so/s = y± = 0,043 /0.176
= 0,243
17. log y± = log 0,26 = - 0,614
18. Erlenmeyer 2
1.Konsentrasi larutan jenuh IO3-
V lar dlm Erleneyer = V1 = 25 ml
[ KCl ] = M1 = 0.05 M
V tiosulfat = V2 = 8,3 ml
V1.M1 = V2.M2
25 ml x 0.05 M = 8,3 ml x M2
M2 = 0,151 M
Jadi, konsentrasi larutan jenuh IO3- = 0,151 M
2. Kelarutan Ba(IO3)2
Ba(IO3)2  Ba2+ + 2 IO3-
s s 2s
-
[ IO3 ] = 0,151 M = 2s
s = 0,151/2 = 0,075 M
)
Jadi, Kelarutan Ba(IO3 2 = s = 0,075 M
3. Log s
Log s = Log 0,075 = -1,123
4. Kekuatan ion (I)
KCl  K+ + Cl-
Ba(IO3)2  Ba2+ + 2 IO3-
I = ½ {[K ] + [Cl ] + [IO3 ] +[Ba2+]}
+ - -

= ½ ( 0,05 + 0,05 + 0,151+ 0,075 )


= 0,163
5. I1/2 = 0,161/2 = 0,404
6. log so = log s - |2A- I |
= - 1,12 – ( 2 x 0,509 x 0,404)
= -1,534
so = antilog -1,534
= 0,029
7. so/s = y± = 0,0292 / 0,075
= 0,388
8. log y± = log 0,388 = - 0,411
19. Erlenmeyer 3
1.Konsentrasi larutan jenuh IO3-
V lar dlm Erleneyer = V1 = 25 ml
[ KCl ] = M1 = 0,02 M
V tiosulfat = V2 = 9.5 ml
V1.M1 = V2.M2
25 ml x 0.02 M = 9. 5ml x M2
M2 = 0,053 M
Jadi, konsentrasi larutan jenuh IO3- = 0,053 M
2. Kelarutan Ba(IO3)2
Ba(IO3)2  Ba2+ + 2 IO3-
s s 2s
[ IO3- ] = 0,053 M = 2s
s = 0,053/2 = 0,026 M
Jadi, Kelarutan Ba(IO3)2 = s = 0,026 M
3. Log s
Log s = Log 0,026 = - 1,580
4. Kekuatan ion (I)
KCl  K+ + Cl-
+
Ba(IO3)2  Ba2 + 2 IO3-
I = ½ {[K ] + [Cl ] + [IO3 ] +[Ba2+]}
+ - -

= ½ ( 0,02 + 0,02 + 0,053 + 0,026 )


= 0,059
5. I1/2 = 0,051/2 = 0,244
6. log so = log s - |2A- I |
= - 1,580 – ( 2 x 0.509 x 0,244)
= - 1,828
so = antilog -1,828
= 0,015
7. so/s = y± = 0,015/ 0,026
= 0,565
8. log y± = log 0,565= - 0,248
20. Erlenmeyer 4
1. Konsentrasi larutan jenuh IO3-
V lar dlm Erleneyer = V1 = 25 ml
[ KCl ] = M1 = 0.01 M
V tiosulfat = V2 = 10 ml
V1.M1 = V2.M2
25 ml x 0,01 M = 10 ml x M2
M2 = 0,025 M
Jadi, konsentrasi larutan jenuh IO3- = 0,025 M
2. Kelarutan Ba(IO3)2
Ba(IO3)2  Ba2+ + 2 IO3-
s s 2s
-
[ IO3 ] = 0,025 M = 2s
s = 0,025/2 = 0,013 M
)
Jadi, Kelarutan Ba(IO3 2 = s = 0,013 M
3. Log s
Log s = Log 0,013 = -1.903
4. Kekuatan ion (I)
KCl  K+ + Cl-
Ba(IO3)2  Ba2+ + 2 IO3-
I = ½ {[K ] + [Cl ] + [IO3 ] +[Ba2+]}
+ - -

= ½ ( 0,01 + 0,01 + 0,025 + 0,013 )


= 0,029
5. I1/2 = 0,0291/2 = 0,170
6. log so = log s - |2A- I |
= - 2 – ( 2 x 0,509 x 0,170)
= - 2,076
so = antilog -2,076
= 0,008
7. so/s = y± =0,008/ 0,013
= 0,672
8. log y± = log 0,672= - 0,173
21. Erlenmeyer 5
1. Konsentrasi larutan jenuh IO3-
V lar dlm Erleneyer = V1 = 25 ml
[ KCl ] = M1 = 0.005 M
V tiosulfat = V2 = 12 ml
V1.M1 = V2.M2
25 ml x 0,005 M = 12 ml x M2
M2 = 0,010 M
Jadi, konsentrasi larutan jenuh IO3- = 0,010 M
2. Kelarutan Ba(IO3)2
Ba(IO3)2  Ba2+ + 2 IO3-
s s 2s
[ IO3- ] = 0,01 M = 2s
s = 0,01/2 = 0,005 M
)
Jadi, Kelarutan Ba(IO3 2 = s = 0,005 M
3. Log s
Log s = Log 0,005 = -2,283
4. Kekuatan ion (I)
KCl  K+ + Cl-
Ba(IO3)2  Ba2+ + 2 IO3-
I = ½ {[K ] + [Cl ] + [IO3 ] +[Ba2+]}
+ - -

= ½ ( 0,005 + 0,005 + 0,01 + 0,005 )


= 0,013
5. I1/2 = 0,0131/2 = 0,113
6. log so = log s - |2A- I |
= - 2,283 – ( 2 x 0,509 x 0,113)
= -2,399
so = antilog -2,399
= 0,004
7. so/s = y± =0,004 /0,005
= 0,767
8. log y± = log 0,767= - 0,115
22. Erlenmeyer 6
1. Konsentrasi larutan jenuh IO3-
V lar dlm Erleneyer = V1 = 25 ml
[ KCl ] = M1 = 0.002 M
V tiosulfat = V2 = 13,8ml
V1.M1 = V2.M2
25 ml x 0,002 M = 13,8 ml x M2
M2 = 0,004 M
Jadi, konsentrasi larutan jenuh IO3- = 0,004 M
2. Kelarutan Ba(IO3)2
Ba(IO3)2  Ba2+ + 2 IO3-
s s 2s
-
[ IO3 ] = 0,004 M = 2s
s = 0,004/2 = 0,002 M
)
Jadi, Kelarutan Ba(IO3 2 = s = 0,002 M
3. Log s
Log s = Log 0,002= - 2,83
4. Kekuatan ion (I)
KCl  K+ + Cl-
+
Ba(IO3)2  Ba2 + 2 IO3-
I = ½ {[K+] + [Cl-] + [IO3-] +[Ba2+]}
= ½ ( 0,002 + 0,002 + 0,004 + 0,002)
= 0,005
5. I1/2 = 0,0051/2 = 0,069
6. log so = log s - |2A- I |
= - 2,8 – ( 2 x 0,509 x 0,069)
= - 2,812
so = antilog -2,812
= 0,0015
7. so/s = y± = 0,002 / 0,0015
= 0,851
8. log y± = log 0,851 = - 0,070
23. Erlenmeyer 7
Air
Standarisasi Na.tiosulfat
5 ml larutan KIO3 ( 0.0769 gram dalam 100ml )
M = gr.1000/(Mr.V)
= 0.0769x1000/ (214x100)
= 0.00359 mol/lt
Titrasi dengan Na.tiosulfat
V1 = V KIO3 = 5ml
M1 = M KIO3 = 0.00359 mol/lt
V2 = V Na.tiosulfat = 2.1 ml ( dari titrasi )
M1 x V1 = M2 x V2
0.00359 M x 5 ml = M2 x 2.1 ml
M2 = 0.00855 mol/lt = konsentrasi Na.tiosulfat