Anda di halaman 1dari 2

1.

Pengertian ilmu waris (Faraid) dalam islam


Menurut bahasa,istilah mewaris berasal dari bahasa arab “warasa-yarisu-warisan”yang artinya
berpindahnya harta seseorang yang sudah meninggal kepada orang lain. Pengertian dari segi
bahasa dimaknai bahwa sesuatu yang diwariskan dari orang yang wafat kepada yang lain tidak
hanya terbatas kepada harta benda yang bersifat material saja,melainkan termasuk
pengetahuan,kebesaran,kehormatan,seperti dijelaskan dalam surah An-Naml(27)ayat 16 yang
artinya:

“dan sulaiman telah mewarisi dawud,dan dia(sulaiman)berkata”wahai manusia kami telah


diajari bahasa burung dan kami diberi segala sesuatu.sungguh,(semua)ini benar-benar karunia
yang nyata.”

Ayat diatas menjelaskan bahwa Nabi Sulaiman telah menggantikan kenabian dan kerajaan
Nabi Daud a.s. serta mewarisi ilmu pengetahuannya.

Menurut istilah,pengertian waris memiliki kesamaan dengan ilmu faraid. Menurut para
fuqaha(ulama fiqih),yang dimaksud dengan ilmu waris(ilmu faraid)adalah “ilmu untuk
mengetahui orang yang berhak menerima warisan,orang yang tidak dapat menerima
warisan,kadar yang diterima oleh tiap tiap waris dan cara pembagiannya.”

Sedangkan faraid yaitu ilmu yang membahas pembagian waris yang harus dipelajari oleh
umat islam.

Dari pengertian tsb,dapat dipahami bahwa ada 3 unsur yang dipelajari di dalam ilmu waris
atau ilmu faraid,yaitu untuk mengetahui ahli waris,bagian setiap ahli waris dan untuk
mengetahui tata cara perhitungan untuk memperoleh besaran harta waris.

2. Tujuan pembagian harta waris menurut islam


islam mensyaratkan ilmu waris dengan tujuan yang sangat mulia.

a) Agar tidak terjadi perselisihan dan pertikaian antara ahli waris


b) Agar dapat terwujud keadilan yang berimbang dalam pembagian harta waris
c) Agar dapat memiliki harta secara halal
3. Dalil yang menjadi dasar pelaksanaan pembagian waris
Empat dalil atau dasar dalam pelaksanaan pembagian harta warus di dalam ajaran islam sbb:
A) Surah an nisa(4) ayat 11-12
B) Hadist riwayat imam bukhari dan musli
“abdullah bin abbas r.a. berkata, Nabi Muhammad saw. Bersabda”berikanlah harta
warisan kepada orang orang yang berhak sesudah itu,sisanya untuk orang laki laki yang
lebih utama.”
c) Ijma ulama
Ijma ulama memiliki peranan penting terhadap persoalan persoalan warisan yang secara
rinci belum diatur didalam al quran dan hadits. Sehingga ijma menjadi dasar
pelaksanaan ilmu waris setelah al quran dan hadits. Contoh dalam ijma adalah status
daudara yang mewarisi bersama sama dengan kakek.
Didalam al quran hal seperti ini tidak dijelaskan,yang dijelaskan adalah status saudara
ketika bersama sama dengan ayah atua anak laki laki.mereka tidak memperoleh bagian
warisan karena terhalang oleh anak laki laki.
d) Undang undang
Bagi umat islam di indonesia,pembagian harta waris dapat diserahkan kepada
pengadilan agalma islam berdasarkan undang undang nomor 7 tahun 1989. Undang
undang tersebut berisi ketentuan harta waris sesuai hukum islam yang pada hakekatnya
merupakan aturan yang bersumber dari al quran,hadits,dan ijma, diwujudkan dalam
bentuk perundang undangan yang terdiri dari 5 bab dan 37 pasal yaitu:
1) Bab 1 terdiri atas 1 pasal,ketentuan umum.
2) Bab II terdiri atas 5 pasal,berisi tentang ahli waris
3) Bab III terdiri atas 16 pasal berisi tentang besarnya bagian ahli waris
4) Bab IV terdiri atas 2 pasal berisi tentang aul dan rad
5) Bab V terdiri atas 13 pasal berisi masalah wasiat