Anda di halaman 1dari 17

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan “Makalah Kasus
Perpajakan di Indonesia: Dugaan Penggelapan Pajak Oleh IM3 (Analisis
Penyebab dan Solusi)” untuk memenuhi tugas mata kuliah Perpajakan I. Penulis
juga mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dan
mendukung penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa pada penyusunan makalah ini masih terdapat
kekurangan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang
sifatnya membangun. Dan semoga paper ini bermanfaat bagi para pembaca.

Denpasar, 07 Mei 2017

Penulis

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR…………………………………………………………….. i
DAFTAR ISI………………………………………………………………………ii
ARTIKEL …………………………………………………………………………1
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................... ……..4
1.1 Latar Belakang……………………………………………………. 4
1.2 Rumusan Masalah………………………………………………… 4
1.3 Tujuan…………………………………………………………….. 5
BAB II LANDASAN TEORI................................................................. ……..6
2.1 Pengertian Good Corporate Governance…………………………. 6
BAB III PEMBAHASAN ........................................................................ .…….8
3.1 Profil IM3………………………………………………………… 8
3.2 Kronologi Kasus Dugaan Penggelapan Pajak oleh IM3…………. 8
3.3 Analisis Penyebab Kasus Dugaan Penggelapan Pajak oleh IM3….9
3.4 Solusi kasus Dugaan Penggelapan Pajak oleh IM3……………... 11
BAB IV PENUTUP .................................................................................. ……14
4.1 Simpulan ............................................................................... ……14
4.2 Saran ...................................................................................... ……14
DAFTAR PUSTAKA…...……………………………………………………… 15

ii
KASUS – KASUS DALAM PERPAJAKAN DI INDONESIA
DUGAAN PENGGELAPAN PAJAK OLEH IM3
Artikel :
Ditjen Pajak Akan Usut Dugaan Penggelapan Pajak IM3

Selasa, 04 November 2003 | 14:06 WIB


TEMPO Interaktif, Jakarta: Tenaga Pengkaji Bidang Pembinaan dan
Penertiban Sumber Daya Manusia Direktorat Jenderal Pajak, Djangkung
Sudjarwadi, menyatakan bahwa Ditjen Pajak akan mengusut laporan adanya
penggelapan pajak yang dilakukan PT Indosat Multimedia (IM3). “Jelas akan
diusut,” katanya ketika dihubungi Tempo News Room, Selasa (04/11) siang.
Menurut master hukum dari Harvard Law School tersebut, adanya laporan
dari Wakil Ketua Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat, M Rosyid Hidayat,
bahwa IM3 telah menggelapkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar Rp 174
miliar, merupakan informasi yang harus ditindaklanjuti aparat Ditjen Pajak.
Dalam pandangan Djangkung, informasi apapun yang berkaitan tentang
penyimpangan pajak, baik yang dilakukan wajib pajak maupun aparat pajak
sendiri akan ditindaklanjuti secara serius oleh pihak Ditjen Pajak. “Dan kami tidak
memandang darimana sumbernya. Apakah itu dari anggota DPR, pengusaha,
wartawan, karyawan biasa dan lain sebagainya,” ujarnya.
Adanya bantahan dari Direktur Utama IM3, Yudi Rulianto, kata
Djangkung, tidak menyebabkan permasalahan menjadi selesai. Pengusutan tetap
diperlukan untuk mencari tahu duduk permasalahan yang sebenarnya dengan
memeriksa wajib pajak yang bersangkutan dan memeriksa kebenaran laporan atau
pengaduan yang diterima.
Hal ini sesuai dengan amanah Undang-Undang No 16 Tahun 2000 tentang
Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan yang menyatakan bahwa Ditjen Pajak
berwenang melakukan pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan
kewajiban wajib pajak. “Salah satu alasannya adalah adanya informasi dari pihak
ketiga mengenai penyimpangan yang dilakukan wajib pajak,” kata Djangkung.
Proses pengusutan tersebut, ujar Djangkung, saat ini sudah dilimpahkan ke
Kantor Wilayah VII Direktorat Jenderal Pajak. Hal ini dikarenakan kantor pusat

1
IM3 berada di wilayah kerja Kanwil VII. “Karena wajib pajak terdaftar disana,
maka menjadi tugas dan wewenang Kanwil VII,” katanya.
Tapi, Kepala Kanwil VII, Amiruzaman, ketika dihubungi di kantornya,
tidak sedang berada ditempat.
Seperti diketahui, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, M Rosyid Hidayat
mengungkapkan kecurigaan adanya dugaan korupsi pajak atau penggelapan pajak
yang dilakukan PT Indosat Multimedia (IM3).
Rosyid mengungkapkan, IM3 melakukan penggelapan pajak dengan cara
memanipulasi Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai (SPT Masa
PPN) ke kantor Pajak untuk tahun buku Desember 2001 dan Desember 2002.
Untuk SPT masa PPN 2001 yang dilaporkan ke kantor pajak pada Februari
2002 dilaporkan bahwa total pajak keluaran tahun 2001 sebesar Rp 846,43 juta.
Sedangkan total pajak masukan sebesar Rp 66,62 miliar sehingga selisih pajak
keluaran dan masukan sebesar Rp 65,77 miliar.
Sesuai aturan, kata Rosyid, jika pajak masukan lebih besar dari pajak
keluaran, maka selisihnya dapat direstitusi atau ditarik kembali. Karena itu, IM3
melakukan restitusi sebesar Rp 65,7 miliar.
Menurut Rasyid, selintas memang tidak terjadi kejanggalan dari hal
tersebut. Namun, jika lampiran pajak masukan dicermati, IM3 menyebut adanya
pajak masukan ke PT Indosat sebesar Rp 65,07 miliar. Namun setelah dicek
ulang, dalam SPT Masa PPN PT Indosat, ternyata tidak ditemukan angka pajak
masukan yang diklaim IM3.
Padahal, kata dia, seharusnya angka Pajak Masukan IM3 tersebut muncul
pada laporan pajak keluaran PT Indosat untuk tahun buku yang sama. Bahkan, PT
Indosat hanya melaporkan pajak keluaran sebesar Rp 19,41 miliar yang sebagian
besar berasal dari transaksi dengan PT Telkom bukan dengan IM3.
Hal serupa juga dilakukan pada 2002, bahkan nilainya lebih besar. Untuk
SPT Masa PPN 2002 per Desember 2002, IM3 melaporkan kelebihan pajak
masukan sebesar Rp 109 miliar. Berdasarkan Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar
(SKPLB) nomor 00008/407/02/051/03 uang tersebut sudah ditransfer oleh kantor
pajak ke IM3.

2
"Jika pada 2001 mereka berhasil menggondol uang negara Rp 65 miliar
dan pada 2002 Rp 109 miliar, berarti uang negara yang berhasil diambil sebesar
Rp 174 miliar dan itu menyangkut unsur pidana," kata Rosyid.
Menanggapi hal ini, Direktur Utama IM3, Yudi Rulianto mengatakan,
dugaan Rosyid Hidayat bahwa IM3 telah melakukan penggelapan pajak, tidak
benar. Sebab, semua proses pajak IM3 dilakukan secara transparan dan telah
melalui pemeriksaan yang dilakukan langsung oleh Kantor Pajak.
Yudi menjelaskan, investasi yang dilakukan IM3 lebih besar dibandingkan
pendapatannya karena IM3 merupakan perusahaan baru. Akibatnya, pajak
masukan IM3 menjadi lebih besar daripada pajak keluarannya, sehingga pada
2001, posisi laporan pajak IM3 menyebutkan adanya kelebihan pembayaran pajak
PPN sebesar Rp 65,77 miliar. IM3 kemudian mengajukan permohonan restitusi
atas kelebihan tersebut kepada Kantor Pajak.
Menurut Yudi, atas permintaan restitusi tersebut, Kantor Pajak
menerbitkan surat perintah pemeriksaan pajak. Dari pemeriksaan pajak itu,
muncul Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) sebesar Rp 65,70 miliar.
IM3 kemudian mengajukan permohonan transfer atas SKPLB tersebut dan uang
restitusi PPN sebesar Rp 65,7 miliar efektif diterima di rekening IM3 pada 5 Juni
2003. Hal ini, kata Yudi, juga dilakukan pada tahun berikutnya ketika ada
kelebihan pembayaran pajak PPN. IM3 mengajukan permohonan restitusi atas
kelebihan tersebut, yakni sebesar Rp 109,03 milyar.

Amal Ihsan — Tempo News Room

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Di era masa sekarang ini, lapangan pekerjaan berkembang luas.
Akibat kemajuan jaman, tuntutan terhadap pemenuhan kebutuhan dalam
jasa serta tenaga kerja meningkat. Beragam profesi menjadikannya suatu
keahlian yang dituntut terpenuhi dalam dunia kerja. Macam-macam profesi
yang beragam ini perlu adanya batasan-batasan khusus sehingga fokus dan
pencapaian optimal dalam suatu bidang dapat terlaksanan. Salah satu hal
utama yang dapat teratasi adalah pengurangan hal-hal penyimpangan dalam
suatu profesi, maka perlu adanya etika sebagai dasar moral yang harus
dijaga.
Etika sendiri mengandung arti Ilmu yang membahas perbuatan baik
dan perbuatan buruk manusia sejauh yang dapat dipahami oleh pikiran
manusia. Sedangkan profesi itu sendiri mengandunmg arti suatu bidang
yang sedang dijalankan oleh seseorang. Sebuah etika profesi mengambil
peranan penting dalam kebenaran dan kejujuran atas kegiatan yang
dilakukan. Hal ini mencetuskan adanya perbuatan kode etik dalam suatu
profesi, sehingga cakupannya dapat diterima secara luas oleh semua yang
menggeluti profesi tersebut.
Tetapi karena jaman yang semakin maju, hal ini memberikan dampak
yang negatif pula. Banyak kasus-kasus penyimpangan kode etik profesi
yang kian sering terjadi. Padahal telah dijabarkan secara jelas mengenai
kode etik dalam suatu profesi yang telah disepakati. Sehingga kami tertarik
untuk mengulas mengenai salah satu kasus pelanggaran etika dan profesi
dalam bidang manajemen, yaitu kasus dugaan penggelapan pajak oleh IM3.

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah yang akan kami bahas dalam makalah ini adalah:
1. Bagaimana profil IM3?
2. Bagaimana kronologi dari kasus Dugaan Penggelapan Pajak oleh IM3?

4
3. Apakah penyebab kasus Dugaan Penggelapan Pajak oleh IM3?
4. Bagaimanakah solusi untuk kasus Dugaan Penggelapan Pajak oleh IM3?

1.3 Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah:
1. Menjelaskan tentang profil dan kronologi dari kasus Dugaan
Penggelapan Pajak oleh IM3.
2. Menganalisis penyebab dan solusi dari kasus Dugaan Penggelapan Pajak
oleh IM3.

5
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Good Corporate Governance
Good Corporate Governance pada dasarnya merupakan suatu sistem
(input, Proses, output) dan seperangkat peraturan yang mengatur hubungan
antara berbagai pihak yang kepentingan (stakeholders) terutama dalam arti
sempit hubungan antara pemegang saham, dewan komisaris, dan dewan
direksi demi tercapainya tujuan perusahaan. Good Corporate Gorvernance
dimasukkan untuk mengatur hubungan-hubungan ini dan mencegah
terjadinya kesalahan-kesalahan signifikan dalam strategi perusahaan dan
untuk memastikan bahwa kesalahan-kesalahan yang terjadi dapat diperbaiki
dengan segera. Pengertian ini dikutip dari buku Good Corporate
Governance pada badan usaha manufaktur, perbankan dan jasa keuangan
lainnya (2008:36).
Rogers W’ O Okot Uma dari common wealt secertariat london
(ndraha 2003:629) mendefinisikan Good Governance sebagai, “compressing
the prossesing and structure guides political and sosial economic
relationship, with patricular reference to commitment to democratic values,
norms and honest business” atau mempersingkat proses struktur yang
mengatur hubungan ekonomi, sosial dan politis dengan acuan tertentu untuk
memenuhi nilai-nilai demokratis, norma-norma dan bisnis yang sehat.
Tim GCG BPKP mendefinisikan Good Corporate Governance sebagai
suatu komitmen, aturan main serta praktik penyelenggaraan bisnis secara
sehat dan beretika. Dalam Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara
nomor: Kep-117/M-Mbu/2002 tentang penerapan praktek Good Corporate
Governance pada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dijelaskan bahwa,
Corporate Governance adalah suatu proses dan struktur yang digunakan
oleh organ BUMN untuk meningkatkan keberhasilan usaha dan
akuntabilitas perusahaan guna mewujudkan nilai pemegang saham dalam
jangka penjang dengan memperhatikan stakeholder lainnya berlandaskan
peraturan,perundangan dan etika. Dari pengertian diatas terdapat berapa hal

6
penting yang terkandung dalam Good Corporate Governance, antaralain
adalah:
1. Efektivitas yang bersumber dari budaya perusahaan, etika, nilai, sistem,
proses bisnis, kebijakan dan struktur organisasi perusahaan yang
bertujuan untuk mendukung dan mendorong pengembangan perusahaan,
pengelolaan sumber daya dan resiko secara lebih efektif dan efisien,
pertanggungjawaban perusahaan kepada pemegang saham dan
stakeholder lainnya.
2. Seperangkat prinsip, kebijakan manajemen perusahaan yang diterapkan
bagi terwujudnya operasional perusahaan yang efisien, efektif dan
profitable dalam menjalakan organisasi dan bisnis perusahaan untuk
mencapai sasaran strategis yang memenuhi prinsip-prinsip praktek
bisnis yang baik dan penerapannya sesuai dengan peraturanyang
berlaku, peduli terhadap lingkungan dan dilandasi oleh nila-nilai sosial
budaya yang tinggi.
3. Seperangkat peraturan dan sistem yang mengarah kepada pengendalian
perusahaan bagi penciptaan pertambahan nilai bagi pihak pemegang
kepentingan (pemerintah, pemegang saham, pimpinan perusahaan dan
karyawan) dan bagi perusahaan itu sendiri.
Menurut Kartiwa (2004:7.8) terdapat dua prespektif tentang Good
Corporate Governance yaitu:
1. Prespektif yang memandang Corporate Governance sebagai suatu proses
dan struktur yang digunakan untuk mengarahkan dan mengelola bisnis
dalam rangka meningkatkan kemakmuran bisnis dan akuntabilitas
perusahaan.
2. Prespektif yang lain Good Corporate Governance menekankan
pentingnya pemenuhan tanggung jawab badan usaha sebagai entinitas
bisnis dalam masyarakat dan stakeholders.
Prinsip GCG c. Responsibilitas
a. Transparansi d. Independensi
b. Akuntabilitas e. Kesetaraan

7
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Profil IM3


IM3 merupakan salah satu merk jual sebuah perusahaan penyedia jasa
dan jaringan telekomunikasi di Indonesia, yaitu PT Indosat Tbk. Perusahaan
ini menawarkan saluran komunikasi untuk pengguna telepon genggam
dengan pilihan pra bayar maupun pascabayar dan IM3 merupakan salah satu
merk jual yang memiliki banyak pelanggan.

3.2 Kronologi Kasus Dugaan Penggelapan Pajak oleh IM3


IM3 diduga melakukan penggelapan pajak dengan cara memanipulasi
Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai ( SPT Masa PPN) ke
kantor pajak untuk tahun buku Desember 2001 dan Desember 2002. Jika
pajak masukan lebih besar dari pajak keluaran, dapat direstitusi atau ditarik
kembali. Karena itu, IM3 melakukan restitusi sebesar Rp 65,7 miliar. 750
penanam modal asing (PMA) terindikasi tidak membayar pajak dengan cara
melaporkan rugi selama lima tahun terakhir secara berturut-turut.
Dalam kasus ini terungkap bahwa pihak manajemen berkonspirasi
dengan para pejabat tinggi negara dan otoritas terkait dalam melakukan
penipuan akuntansi. Manajemen juga melakukan konspirasi dengan auditor
dari kantor akuntan publik dalam melakukan manipulasi laba yang
menguntungkan dirinya dan korporasi, sehingga merugikan banyak pihak
dan pemerintah. Kemungkinan telah terjadi mekanisme penyuapan (bribery)
dalam kasus tersebut.
Secara rinci berita yang dikutip dalam suatu media tertentu, dijabarkan
sebagai berikut:
 Tenaga Pengkaji Bidang Pembinaan dan Penertiban Sumber Daya
Manusia Direktorat Jenderal Pajak, Djangkung Sudjarwadi, menyatakan
bahwa Ditjen Pajak akan mengusut laporan adanya penggelapan pajak
yang dilakukan PT Indosat Multimedia (IM3). Menurut master hukum

8
dari Harvard Law School tersebut, adanya laporan dari Wakil Ketua
Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat, M Rosyid Hidayat, bahwa IM3
telah menggelapkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar Rp 174
miliar, merupakan informasi yang harus ditindaklanjuti aparat Ditjen
Pajak. Dalam pandangan Djangkung, informasi apapun yang berkaitan
tentang penyimpangan pajak, baik yang dilakukan wajib pajak maupun
aparat pajak sendiri akan ditindaklanjuti secara serius oleh pihak Ditjen
Pajak.
 Adanya bantahan dari Direktur Utama IM3, Yudi Rulianto, kata
Djangkung, tidak menyebabkan permasalahan menjadi selesai.
Pengusutan tetap diperlukan untuk mencari tahu duduk permasalahan
yang sebenarnya dengan memeriksa wajib pajak yang bersangkutan dan
memeriksa kebenaran laporan atau pengaduan yang diterima. Hal ini
sesuai dengan amanah Undang-Undang No 16 Tahun 2000 tentang
Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan yang menyatakan bahwa
Ditjen Pajak berwenang melakukan pemeriksaan untuk menguji
kepatuhan pemenuhan kewajiban wajib pajak
 Proses pengusutan tersebut, menurut Djangkung, saat ini sudah
dilimpahkan ke Kantor Wilayah VII Direktorat Jenderal Pajak. Hal ini
dikarenakan kantor pusat IM3 berada di wilayah kerja Kanwil VII. Wakil
Ketua Komisi IV DPR RI, M Rosyid Hidayat mengungkapkan
kecurigaan adanya dugaan korupsi pajak atau penggelapan pajak yang
dilakukan PT Indosat Multimedia (IM3). Rosyid mengungkapkan, IM3
melakukan penggelapan pajak dengan cara memanipulasi Surat
Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai (SPT Masa PPN) ke
kantor Pajak untuk tahun buku Desember 2001 dan Desember 2002.
Untuk SPT masa PPN 2001 yang dilaporkan ke kantor pajak pada
Februari 2002 dilaporkan bahwa total pajak keluaran tahun 2001 sebesar
Rp 846,43 juta. Sedangkan total pajak masukan sebesar Rp 66,62 miliar
sehingga selisih pajak keluaran dan masukan sebesar Rp 65,77 miliar.
Sesuai aturan, jika pajak masukan lebih besar dari pajak keluaran, maka

9
selisihnya dapat direstitusi atau ditarik kembali. Karena itu, IM3
melakukan restitusi sebesar Rp 65,7 miliar.
 Menurut Rasyid, selintas memang tidak terjadi kejanggalan dari hal
tersebut. Namun, jika lampiran pajak masukan dicermati, IM3 menyebut
adanya pajak masukan ke PT Indosat sebesar Rp 65,07 miliar. Namun
setelah dicek ulang, dalam SPT Masa PPN PT Indosat, ternyata tidak
ditemukan angka pajak masukan yang diklaim IM3. Padahalseharusnya
angka Pajak Masukan IM3 tersebut muncul pada laporan pajak keluaran
PT Indosat untuk tahun buku yang sama. Bahkan, PT Indosat hanya
melaporkan pajak keluaran sebesar Rp 19,41 miliar yang sebagian besar
berasal dari transaksi dengan PT Telkom bukan dengan IM3.
 Hal serupa juga dilakukan pada 2002, bahkan nilainya lebih besar. Untuk
SPT Masa PPN 2002 per Desember 2002, IM3 melaporkan kelebihan
pajak masukan sebesar Rp 109 miliar. Berdasarkan Surat Ketetapan
Pajak Lebih Bayar (SKPLB) nomor 00008/407/02/051/03 uang tersebut.

3.3 Analisis Penyebab Kasus Dugaan Penggelapan Pajak oleh IM3


Penyebab/faktor pemicu pelanggaran dibedakan atas 3 hal yaitu:
a. Tekanan (Unshareable pressure/ incentive) yang merupakan motivasi
seseorang untuk melakukan fraud. Motivasi melakukan fraud, antara
lain motivasi ekonomi, alasan emosional (iri/cemburu, balas dendam,
kekuasaan, gengsi) dan nilai (values).
b. Adanya kesempatan/peluang (Preceived Oppotrunity) yaitu kondisi atau
situasi yang memungkinkan seseorang melakukan atau menutupi
tindakan tidak jujur.
c. Rasionalisasi (Rationalization) atau sikap (Attitude), yang paling banyak
digunakan adalah hanya meminjam (borrowing) asset yang dicuri.

Dalam kasus penggelapan pajak oleh IM3 dapat disebabkan oleh beberapa
hal, antara lain:
a. Faktor kompetensi bukan menjadi penyebab utama terjadinya
kecurangan.

10
Para akuntan yang terlibat dalam kasus kecurangan di atas tidak
diragukan lagi kemampuannya karena akuntan di perusahaan besar yang
sudah go public. Kecurangan tersebut terjadi karena akuntan tidak
mampu mempertahankan profesionalitasnya dan lebih memilih untuk
melanggar etika profesi. Alasannya bisa beragam, bisa karena faktor
materi, faktor tekanan dari pihak manajemen, maupun buruknya sistem
dan prosedur yang diterapkan .
b. Dilema etika dapatmenjadi faktor munculnya kecurangan dalam
pekerjaan.
Dilema etika yang dialami oleh akuntan publik muncul
dikarenakan adanya saling ketergantungan antara klien dan KAP (klien
yang membayar fee auditor). Begitu pula dilema etika yang dihadapi
akuntan internal perusahaan.

3.4 Solusi kasus Dugaan Penggelapan Pajak oleh IM3


Dalam kasus IM3 tersebut dijelaskan bahwa IM3 diduga melakukan
penggelapan pajak dengan cara memanipulasi Surat Pemberitahuan Masa
Pajak Pertambahan Nilai (SPT Masa PPN) dan Manajemen juga melakukan
konspirasi dengan auditor dari kantor akuntan publik dalam melakukan
manipulasi laba yang menguntungkan dirinya dan korporasi. Jika memang
terbukti melakukan hal tersebut jelas IM3 telah melanggar prinsip-prinsip
Good Corporate Governence (CGC-suatu komitmen, aturan main serta
praktik penyelenggaraan bisnis secara sehat dan beretika: Transparasi,
Akuntabilitas, Responsibilitas, Independensi, dan Kesetaraan). IM3
melanggar diantaranya prinsip transaparasi, yang mana terdapat kewajiban
bagi para pengelola untuk menjalankan prinsip keterbukaan dalam proses
keputusan dan penyampaian informasi secara lengkap, benar, dan tepat
waktu kepada semua pemangku kepentingan. Selain itu, IM3 juga
melanggar prinsip akuntabilitas yang mana para pengelola berkewajiban
untuk membina sistem akuntansi yang efektif untuk menghasilkan laporan
keuangan yang dapat dipercaya.

11
Terkait dengan masalah pihak manajemen berkonspirasi dengan para
pejabat tinggi negara dan otoritas terkait dalam melakukan penipuan
akuntansi, 1 lagi prinsip GCG yang dilanggar yaitu prinsip kemandirian
yaitu keadaan dimana para pengelola dalam mengabil suatu keputusan
bersifat professional, mandiri, bebas dari konflik kepentingan dan bebas dari
tekanan/pengaruh darimanapun yang bertentangan dengan perundang-
undangan yang berlaku dan prinsip pengelolaan yang sehat. Dan berbicara
tentang prinsip, prinsip terakhir yang di langgar adalah prinsip responsibility
(pertanggungjawaban), dan tanggung jawab ini mempunyai 5 dimensi yaitu
dimensi ekonomi,hukum, moral, social, dan spiritual.
Solusi yang dapat diterapkan pada kasus penggelapan pajak oleh IM3
antara lain:
1) Pelaku
 Para pelaku bisnis dan pihak yang terkait mampu mengendalikan diri
mereka masing-masing untuk tidak memperoleh keuntungan secara
ilegal.
 Seharusnya akuntan internal perusahaan maupun akuntan publik
tetap bersikap objektif dan independen serta tidak terpengaruh oleh
manajemen. Akuntan internal sebaiknya bertanggung jawab secara
langsung kepada pemilik dan bukan pada manajemen perusahaan,
karena hal ini dapat mengurangi tekanan yang dihadapi oleh akuntan
internal.
 Pengembangan tanggung jawab sosial.
Pelaku bisnis ini dituntut untuk peduli dengan keadaan
masyarakat. Jadi, dalam keadaan apapun para pelaku bisnis harus
mampu mengembangkan dan memanifestasikan sikap tanggung
jawab terhadap masyarakat sekitar di lingkungan usaha mereka.
 Pentingnya pendidikan etika bagi para akuntan sebagi bekal dalam
menghadapi potensi kecurangan.
Pelanggaran etika akan terus terjadi jika tidak ada pemahaman
yang mendalam dari akuntan terhadap pentingnya untuk memegang
teguh etika profesi. Bisa jadi mereka tidak mengetahui dampak yang

12
ditimbulkan oleh kecurangan yang mereka lakukan. Salah satu cara
untuk menekan jumlah akuntan yang menyimpang serta
menanamkan kesadaran akan pentingnya menerapkan kode etik
profesi adalah dengan melakukan sosialisasi intensif tentang
profisionalitas dan kode etik akuntan dalam lingkungan kerja.
Misalnya, secara rutin IAI sebagai lembaga akuntan terbesar di
Indonesia menyelenggarakan pelatihan dan seminar untuk
meningkatkan kompetensi dan kesadaran terhadap kode etik profesi
kepada anggotanya.
2) Pemerintah
Sebaiknya pemerintah lebih mengetatkan pengawasan pajak
kepada perusahaan-perusahaan besar dan tidak tebang pilih dalam
menyelesaikan penggelapan pajak. Pemerintah Indonesia masih sangat
lemah dalam memberantas penggelapan pajak-pajak. Ditambah lagi
maraknya oknum-oknum pemerintah yang mudahnya menerima suap
dari perusahaan-perusahaan yang ingin menggelapkan uang pajak
mereka. Pemerintah seharusnya menerapkan hukuman yang berat untuk
perusahaan yang menggelapkan pajaknya dan menghukum berat oknum
yang menerima suap, serta perusahaan harusnya sadar akan
kewajibannya membayar pajak.
Dalam kasus ini, pihak pemerintah dan DPR juga perlu segara
membentuk tim auditor independen yang kompeten dan kredibel untuk
melakukan audit investigatif atau audit forensik untuk membedah
laporan keuangan dari 750 PMA yang tidak membayar pajak. Korporasi
multinasional yang secara sengaja terbukti tidak memenuhi kewajiban
ekonomi, hukum, dan sosialnya bisa dicabut izin operasinya dan
dilarang beroperasi di negara berkembang.

13
BAB IV
PENUTUP

4.1 Simpulan
IM3 diduga melakukan penggelapan pajak dengan cara memanipulasi
Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai (SPT Masa PPN) dan
Manajemen juga melakukan konspirasi dengan auditor dari kantor akuntan
publik dalam melakukan manipulasi laba yang menguntungkan dirinya dan
korporasi. Jika memang terbukti melakukan hal tersebut jelas IM3 telah
melanggar prinsip-prinsip Good Corporate Governence. Prinsip-prinsip yang
dilanggar IM3 antara lain: prinsip transaparasi, prinsip akuntabilitas, prinsip
kemandirian, prinsip responsibility (pertanggungjawaban).

4.2 Saran
 Akuntan internal sebaiknya bertanggung jawab secara langsung kepada
pemilik dan bukan pada manajemen perusahaan, karena hal ini dapat
mengurangi tekanan yang dihadapi oleh akuntan internal.
 Semuapihak yang terkaitseharusnyamampu mengendalikan diri mereka
masing-masing untuk tidak memperoleh keuntungan secara ilegal.
 secara rutin IAI sebagai lembaga akuntan terbesar di Indonesia
menyelenggarakan pelatihan dan seminar untuk meningkatkan
kompetensi dan kesadaran terhadap kode etik profesi kepada anggotanya.
 pemerintah lebih mengetatkan pengawasan pajak kepada perusahaan-
perusahaan besar dan tidak tebang pilih dalam menyelesaikan
penggelapan pajak

14
DAFTAR PUSTAKA

https://m.tempo.co/read/news/2003/11/04/05627427/ditjen-pajak-akan-usut
dugaan-penggelapan-pajak-im3 (Diakses pada tanggal 7 Mei 2017)

http://desiastuti2112.blogspot.co.id/2016/10/kasus-pelanggaran-pajak-pt-
indosat.html?m=1 (Diakses pada tanggal 7 Mei 2017)

http://lianlobay.blogspot.co.id/2014/11/penggelapan-pajak-pt-indosat-multi.html
(Diakses pada tanggal 7 Mei 2017)

15