Anda di halaman 1dari 6

Nama : Marzhya Azalea Vhilliany

NIM : 03031381621065
Shift : Kamis, (08.00-11.00 WIB)
Kelompok :4
DIRECT FIRED HEATER

Direct fired heater adalah sebuah alat yang digunakan untuk memanaskan
suatu material serta mengubah bentuknya seperti rolling maupun penempaan.
Direct fired heater yang lebih sering dikenal dengan sebutan furnace juga mampu
merubah sifat-sifat dari suatu material karena perlakuan panas yang diberikannya.
Kata furnace berasal dari bahasa latin yaitu fornax yang memiliki arti pemanas.
Furnace pertama kali ditemukan di Balakot, pada peradaban lembah Indus (2500
– 1900 SM), dan pada saat itu furnace digunakan untuk memanaskan keramik.
Saat ini perkembangan teknologi direct fired heater sudah semakin pesat
seiring dengan bertambahnya waktu. Penggunaan direct fired heater sebagai alat
untuk pemanas tidak lagi menggunakan sistem konvensional. Saat ini telah
ditemukan serta dikembangkan penggunaan dari alat direct fired heater dengan
menggunakan sistem elektris dengan berbagai kelebihan yang dimiliki. Seperti
penggunaan temperatur yang tinggi dalam waktu singkat, pengaturan temperatur
yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan, kerugian akibat penguapan udara
panas sangat kecil, serta pengaturan kestabilan temperatur yang lebih baik.
Direct fired heater memiliki tingkat derajat temperatur yang tinggi, seperti
dalam pemanasan cetakan emas yaitu sekitar 1200°C. Karakteristik dari direct
fired heater yaitu jika digunakan dalam jangka waktu yang lama, kestabilan dari
temperatur operasionalnya harus selalu dijaga. Namun, sistem elektris yang ada
pada direct fired heater saat ini masih belum mampu untuk menjaga kestabilan
temperatur tersebut dan hal ini menyebabkan terlambatnya respon keluaran dari
direct fired heater terhadap masukannya berdasarkan fungsi waktu. Oleh karena
itu, diperlukannya suatu sistem kontrol yang mampu mengatur serta menjaga
kestabilan dari temperatur direct fired heater agar kinerjanya dapat maksimal.

1. Klasifikasi Direct Fired Heater

Direct fired heater adalah alat yang digunakan yang digunakan untuk
menaikkan temperatur dari fluida dengan menggunakan panas yang berasal dari
hasil pembakaran bahan bakar. Bahan bakar yang biasa digunakan pada direct
fired heater adalah bahan bakar cair dan bahan bakar gas yang menyala di dalam
burner. Proses pemanasan dilakukan dengan mengalirkan fluida kedalam tube
yang tersusun sedemikian rupa di dalam direct fired heater, dan perpindahan
panas pada direct fired heater terjadi dengan cara konveksi, konduksi, dan radiasi.
Direct fired heater dibedakan dalam beberapa jenis yaitu tipe silinder vertikal, tipe
box, tipe Visbreaker Charge Furnace, dan tipe High Pressure Box.
Direct fired heater dengan tipe silinder vertical memiliki bentuk berupa
silinder tegak yang terbuat dari steel, tube yang berfungsi untuk menerima panas
secara radiasi yang disusun sedemikian rupa secara vertikal dan setiap sambungan
pada pipanya digunakan U bend. Tempat pembakaran bahan bakar untuk direct
fired heater tipe silinder vertikal terletak pada bagian bawah sehingga nyala api
akan sejajar dengan susunan tube yang dipasang di dalam dapur. Direct fired
heater jenis ini dapat dirancang tanpa adanya area konveksi, yang sesuai dengan
kebutuhan pemanasan. Apabila jenis ini dirancang denagan area konveksi maka
tube yang dapat digunakan ialah bare tube dan finned tube tetapi pada umumnya
digunakan bare tube untuk mempercepat perpindahan panas secara konveksi.
Direct fired heater dengan tipe box ini memiliki bentuk yang sesuai
dengan namanya yaitu berbentuk box atau sering juga disebut tipe kabin, dengan
area pemanasan secara radiasi dan konveksi yang dipisahkan oleh dinding. Pada
umunya tipe ini digunakan pada pemanasan destilasi minyak bumi dan destilasi
vakum. Tube pada area radiasi tersusun horizontal sepanjang sisi vertikal wall,
burner dipasang pada sisi direct fired heater. Pemanas jenis ini terdiri dari ruang
pembakaran dan ruang konveksi yang dipisahkan oleh dinding penyekat yang
disebut dengan bridge wall. Tube yang digunakan pada direct fired heater ini ialah
tube yang terbuat dari material high chorme content alloy dengan kandungan Cr
sebesar 25% yang tahan terhadap temperatur tinggi, akan tetapi harga dari direct
fired heater jenis ini memiliki harga yang tinggi di banding jenis lainnya.
Direct fired heater dengan tipe visbreaker charge furnace juga memiliki
bentuk berupa box, tetapi perbedaannya dengan tipe box terletak pada posisi dari
burnernya yang terletak pada lantai heater dan biasanya menggunakan aliran
single pass serta ada juga yang menggunakan multi pass. Area radiasi terdiri dari
hip section dan wall tube section dan biasanya pada tipe ini tidak dilengkapi
dengan area konveksi karena area burner terletak di bagian bawah lantai direct
fired heater sehingga lantai furnace didesain setinggi 6 feet dari lantai dasarnya.
Pada tipe visbreaker charge furnace untuk mendapatkan hasil yang maksimal
serta proses pengontrolan yang mudah maka direct fired heater tipe ini dilengkapi
dengan stack damper, snuffing steam, draft gauge, indikator temperatur dan
thermocouple. Pengoperasian direct fired heater tipe visbreaker charge furnace
biasanya dilakukan untuk pemanasan dengan temperatur tinggi misal pemanasan
minyak fraksi berat seperti minyak bumi dengan temperatur operasi sekitar 930°F.
Direct fired heater dengan tipe high pressure box ini biasanya digunakan
pada bagian pengolahan lanjutan dari fraksi minyak bumi seperti pada proses
Reforming dan Hyrdocracking unit. Direct fired heater jenis high pressure box
dapat beroperasi pada tekanan dan temperatur yang tinggi yaitu sekitar pada
tekanan 2200 psig dengan temperatur 700°F. Tube pada tipe high pressure box
dipasang secara bergantung dari atap direct fired heater secara vertikal ke lantai.
Area burner terletak pada dasar lantai direct fired heater. Pembakaran terletak
pada dua tempat yaitu pembakaran yang besar terletak pada bagian tengah,
sedangkan pembakaran yang kecil terletak di area pinggir dan untuk mencegah
terjadi kehilangan panas maka digunakan isolasi berjenis high duty fire brick.

2. Karakteristik Direct Fired Heater

Direct fired heater harus dirancang sedemikian rupa sehingga dalam suatu
rentang waktu tertentu, sebanyak mungkin material yang akan digunakan dapat
dipanaskan sampai temperatur yang merata dengan bahan bakar paling mungkin
serta kerja yang efisien. Tujuan tersebut dapat dicapai jika parameter berikut
dipertimbangkan seperti penentuan jumlah panas yang akan didistribusikan
kepada material, pelepasan panas yang cukup dalam direct fired heater untuk
memanaskan bahan, mengatasi semua kerugian panas yang terjadi, transfer panas
dari direct fired heater ke permukaan material, persamaan temperatur dalam
material, dan pengurangan kerugian panas dari tungku seminimal mungkin.
Prinsip kerja pada alat direct fired heater adalah dengan cara memanaskan
material sampel dengan cara memasukkannya ke dalam ruang pemanas. Panas
yang terdapat pada thermocouple berasal dari filament yang diberi tegangan
sehingga akan menimbulkan panas. Filament yang digunakan terbuat dari nikel
karena memiliki titik leleh tinggi. Panas akan merambat secara radiasi menuju
sampel. Beberapa direct fired heater memiliki kontrol waktu yang dimanfaatkan
untuk mengubah temperatur pemanasan secara otomatis. Dinding bagian dalam
direct fired heater didesain tahan terhadap suhu tinggi dengan menggunakan
bahan alumina dan di bagian dalamnya terdapat sensor suhu berupa thermocouple.
Pengoprasian direct fired heater harus hati-hati agar direct fired heater
tidak cepat rusak. Setelah direct fired heater selesai digunakan tidak dibenarkan
untuk mematikan langsung alat ketika suhu masih sangat tinggi, karena hal ini
akan mengakibatkan putusnya filament-filament pemanas pada direct fired heater
akibat di shutdown secara tiba-tiba. Penggunaan yang tepat adalah ketika direct
fired heater selesai di gunakan, suhu direct fired heater dibiarkan turun secara
alami sampai mencapai suhu kamar baru kemudian alat dapat dimatikan.

3. Komponen pada Direct Fired Heater

Pada umumnya direct fired heater terdiri beberapa komponen penyusun


utama untuk memungkinkan terjadinya proses pemanasan. Dan setiap komponen
yang terdapat pada direct fired heater memiliki fungsi masing-masing untuk
memaksimalkan terjadinya proses perpindahan panas terhadap liquid. Komponen
utama dari direct fired heater terdiri dari instrumentasi, cerobong, scoot blower,
dinding furnace dan insulation, tubes, dan yang terakhir burner.
Fungsi dari instrumentasi ialah untuk mengatur proses yang sedang terjadi
di dalam furnace seperti mengetahui temperatur minyak yang sedang dipanaskan.
Terdapat beberapa alat instrumentasi pada direct fired heater yaitu, alat deteksi
temperatur yang biasanya dipasang untuk memperlihatkan jumlah suhu di dalam
ruang pembakaran serta area konveksi dan jalur gas hasil dari pembakaran, draft
yang berfungsi untuk mengetahui beda tekanan yang terjadi di dalam ruang
pembakaran dengan tekanan yang berada diluar., sampling connection yang
berfungsi untuk mengetahui kesempurnaan proses pembakaran dengan cara
menganalisa kandungan oksigen, karbon dioksida dan karbon monoksida. Setelah
hasil dari sampel telah diketahui maka kita dapat mengetahui tingkat
kesempurnaan dari proses pembakaran yang terjadi pada alat direct fired heater.
Cerobong atau stack pada alat direct fired heater memiliki fungsi sebagai
tempat pembuangan dari gas hasil pembakaran. Tinggi dari cerobong biasanya
akan ditentukan berdasarkan pada pengitungan draft yang terdapat di dalam ruang
pembakaran sehingga gas dari hasil pembuangan tidak mencemari udara yang
terdapat di lingkungan sekitar alat direct fired heater. Material yang digunakan
dalam struktur cerobong biasanya terbuat dari pelat baja karbon dan bagian
dalamnya dilapisi dengan insulation refractory dari jenis fire brick atau castable.
Scoot blower yang terdapat pada alat direct fired heater memiliki fungsi
untuk meniup dan juga mengeluarkan jelaga atau senyawa logam yang tidak
diinginkan serta pengotor-pengotor lainnya yang menempel pada permukaan pipa,
dikarenakan jika kotoran ini dibiarkan begitu saja dapat menghambat proses
perpindahan panas yang terjadi. Dengan melakukan cara ini, pengotor-pengotor
tersebut akan terbuang melalui cerobong berasama dengan gas hasil pembakaran.
Dinding furnace dan insulation yang terdapat pada direct fired heater
diketahui bahwa dinding furnace dibuat dari berbagai macam lapisan dan pada
lapisan bagian luarnya dibuat dengan material pelat baja dan lapisan bagian
dalamnya akan dilapisi dengan insulation yang tahan terhadap panas dan juga
tahan terhadap api. Fungsi dari insulation pada direct fired heater adalah untuk
meminimalisir adanya kehilangan panas (heat loss) melalui dinding furnace.
Pada direct fired heater terdapat bagian yang bernama tubes dan burner.
Tubes merupakan bagian yang paling penting dalam struktur direct fired heater
karena, komponen ini berfungsi sebagai tempat mengalirnya fluida yang akan
dipanaskan. Tube disusun sedemikian rupa dan dihubungkan satu sama lain
dengan sambungan U bend. Fluida yang akan dipanaskan dialirkan di dalam tube
selanjutnya menuju area panas konveksi dan akan turun ke area radiasi kemudian
akan keluar sebagai fluida yang panas. Sesuai dengan namanya, burner berfungsi
untuk melaksanakan pembakaran pada bahan bakar yang terdiri dari campuran
gas dan udara. Gas dan udara harus bercampur dengan baik pada jumlah tertentu
di burner sehingga proses pembakaran dapat terjadi dengan baik. Apabila bahan
bakarnya berbentuk cair (fuel oil) maka terlebih dahulu dipanaskan agar uapnya
dapat mengalami kontak dengan udara sehingga akan lebih mudah terbakar.
DAFTAR PUSTAKA

Aresandi, R. 2015. Makalah Furnace. (Online). https://dokumen.tips/documents/


rizky-aresandi-makalah-furnace.html. (Diakses pada 22 September 2018)
Boeckermann, T., dkk. 2015. Direct-Fired Technology. ASHRAE Journal.
Chapman, A.J. 1972. Heat Transfer. New York: MacMillan Publishing Co.
Sams, G.W., dan Hunter, J.D. 1988. Performance Improvement of Direct and In-
direct-Fired Heaters. SPE Production Engineering Journal.