Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH HIGIENE INDUSTRI 2 “ Promosi Kesehatan di Tempat Kerja (Pencegahan Kanker di Tempat Kerja)”

di Tempat Kerja (Pencegahan Kanker di Tempat Kerja)” Disusun oleh : Mita Handayani 1511015030 Wanda

Disusun oleh :

Mita Handayani

1511015030

Wanda Aziizah Rahayu

1511015152

Rahmi Nabila

1511015090

Ramdana Aisyah Safitri A

1511015105

UNIVERSITAS MULAWARMAN

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

2018

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua, sehingga pada akhirnya Makalah Higiene Industri 2 Promosi kesehatan di Tempat Kerja (Pencegahan Penyakit Kanker Paru)” Studi ini dapat disusun dan disajikan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan.

Adapun maksud dan tujuan kami membuat makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Higiene Industri 2. Semoga pembuatan makalah ini juga dapat membantu rekan- rekan mahasiswa lain untuk dapat digunakan sebagai literatur tambahan.

Tidak

lupa

kami

mengucapkan

terima

kasih

kepada

membantu selama penyusunan makalah ini.

semua

pihak

yang

telah

Akhir kata jika dalam penyajian makalah ini masih ada kekurangan, kritik dan saran yang membangun dari pembaca sekalian sangat diharapkan. Harapan kami semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Samarinda, 27 September 2018

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

i

DAFTAR ISI

ii

BAB 1 PENDAHULUAN

1

1.1 Latar Belakang

1

1.2 Rumusan Masalah

2

1.3 Tujuan

2

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

3

2.1 Promosi

Kesehatan

3

2.2 Strategi Promosi Kesehatan menurut WHO

3

2.3 Strategi Promosi Kesehatan menurut Piagam Ottawa

5

2.4 Kunci efektivitas program promosi kesehatan di tempat kerja

7

2.5 Langkah mengembangkan promosi kesehatan di tempat kerja

7

BAB 3 PEMBAHASAN

9

3.1

Program Deteksi Dini Kanker Paru Di Tempat Kerja

9

3.2. Strategi Terbaik Untuk Promosi Kesehatan Di Tempat Kerja (Program Deteksi

Dini

Kanker Paru)

10

3.3 Kunci Efektivitas Program Deteksi Dini Kanker Paru Di Tempat Kerja

11

3.4 Langkah Mengembangkan Promosi Kesehatan Di Tempat Kerja. (Program Deteksi

Dini Kanker Paru)

12

4.1

Kesimpulan

14

DAFTAR PUSTAKA

15

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Promosi kesehatan merupakan upaya terkait memampukan, memberdayakan dan memandirikan masyarakat agar dapat meningkatkan taraf kesehatannya baik kesehatan diri sendiri maupun kesehatan lingkungan sekitar (Ottawa Charter, 1986). Menurut Green dan Kreuter, 2000 promosi kesehatan dapat tercapai dengan adanya kerja sama antara lembaga pendidikan serta lingkungan sekitar untuk meningkatkan kemandirian dan memberdayakan masyarakat dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Promosi kesehatan merupakan proses dalam memampukan individu maupun masyarakat untuk menyeimbangkan seluruh faktor yang berpengaruh pada kesehatannya sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatan dirinya (WHO, 2007). Jadi kesimpulan dari beberapa pengertian promosi kesehatan diatas adalah proses memampukan, memberdayakan dan memandirikan masyarakat maupun individu dalam meningkatkan derajat kesehatannya.

Promosi kesehatan di tempat kerja sangat penting karena setiap orang memiliki hak mendapatkan informasi kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatannya serta agar dapat memecahkan dan mendapat pengobatan terhadap penyakit yang dideritanya. Menurut UU RI no 36 tahun 2009 pasal 7 setiap orang berhak mendapatkan informasi dan edukasi tentang kesehatan yang seimbang dan bertanggung jawab. Pengobatan yang efektif yang merupakan tujuan dari pengobatan rumah sakit dipengaruhi pula oleh pola pelayanan termasuk promosi kesehatan.

Promosi kesehatan memiliki tiga komponen yaitu pencegahan, perlindungan dan pendidikan kesehatan. Pencegahan melingkupi pencegahan terjadi nya suatu penyakit. Hal tersebut dapat dilakukan dengan menentukan kebijakan untuk melindungi masyarakat atau kelompok berisiko. Fungsi dari promosi kesehatan dalam bidang pencegahan memiliki lima aspek yaitu health promotion, specific protection, early diagnosis and prompt treatment, disability limitation dan rehabilitation. Kelima aspek tersebut digolongkan menjadi tiga pencegahan dalam pelayanan kesehatan yaitu pencegahan primer, sekunder dan tersier. Tiga upaya pencegahan ini merupakan komponen dari pelayanan kesehatan preventif.

Jumlah penderita penyakit kanker di Indonesia belum diketahui secara pasti, tetapi peningkatan dari tahun ke tahun dapat dibuktikan sebagai salah satu penyebab kematian. Hanya beberapa penyakit kanker yang dapat diobati secara memuaskan, terutama jika diobati saat masih stadium dini. Salah satu penyakit kanker yang menyebabkan kematian tertinggi di dunia adalah kanker paru.

Tingginya angka kebiasaan merokok salah satunya di tempat kerja pada masyarakat Indonesia akan menjadikan kanker paru sebagai salah satu masalah kesehatan di Indonesia. Kanker paru merupakan salah satu jenis penyakit paru yang memerlukan penanganan dan tindakan yang cepat dan terarah. Penegakan diagnosis penyakit ini membutuhkan keterampilan dan sarana yang tidak sederhana dan memerlukan pendekatan.

1.2 Rumusan Masalah

1. Buatlah program promosi kesehatan di tempat kerja

2. Strategi terbaik untuk promosi kesehatan di tempat kerja (menurut WHO, program

Ottawa)

3. Kunci efektivitas program promosi kesehatan di tempat kerja

4. Langkah mengembangkan promosi kesehatan di tempat kerja

1.3 Tujuan

1. Mengetahui program promosi kesehatan di tempat kerja

2. Mengetahui strategi terbaik untuk promosi kesehatan di tempat kerja

3. Mengetahui kunci efektivitas program promosi kesehatan di tempat kerja

4. Mengetahui langkah mengembangkan promosi kesehatan di tempat kerja

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Promosi Kesehatan

2.1.1. Pengertian Promosi Kesehatan

Promosi kesehatan adalah upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat melalui pembelajaran diri oleh dan untuk masyarakat agar dapat menolong dirinya sendiri, serta mengembangkan kegiatan yang bersumber daya masyarakat sesuai sosial budaya setempat dan didukung oleh kebijakan publik yang berwawasan kesehatan (Kemenkes, 2011).

2.1.2. Tujuan Promosi kesehatan

Promosi kesehatan merupakan suatu proses yang bertujuan memungkinkan individu meningkatkan kontrol terhadap kesehatan dan meningkatkan kesehatannya berbasis filosofi yang jelas mengenai pemberdayaan diri sendiri. Proses pemberdayaan tersebut dilakukan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat serta sesuai dengan sosial budaya setempat. Demi mencapai derajat kesehatan yang sempurna, baik dari fisik, mental maupun sosial, masyarakat harus mampu mengenal dan mewujudkan aspirasi dan

kebutuhannya, serta mampu mengubah atau mengatasi lingkungannya (Kemenkes,

2011).

2.2 Strategi Promosi Kesehatan menurut WHO Berdasarkan rumusan WHO (1994) strategi promosi kesehatan secara global ini

terdirida ri 3 hal, yaitu :(Nur Iskandarsyah, 2016)

2.2.1 Advokasi (Advocacy)

Advokasi adalah kegiatan untuk meyakinkan orang lain agar orang lain tersebut membantu atau mendukung terhadap apa yang di inginkan. Dalam konteks promosi kesehatan, advokasi adalah pendekatan kepada para pembuat keputusan atau penentu kebijakan di berbagai sektor, dan di berbagai tingkat, sehingga para penjabat tersebut mau mendukung program kesehatan yang kita inginkan. Dukungan dari para pejabat pembuat keputusantersebut dapat berupa kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan dalam bentuk undang-undang, peraturan pemerintah, surat keputusan, surat instruksi, dan

sebagainya. Kegiatan advokasi ini ada bermacam-macam bentuk, baik secara formal maupuninformal. Secara formal misalnya, penyajian atau presentasi dan seminar tentang issu atau usulan program yang ingin dimintakan dukungan dari para pejabat yang terkait. Kegiatan advokasi secarainformal misalnya sowan kepada para pejabat yang relevan dengan program yang diusulkan, untuk secara informal meminta dukungan, baik dalam bentuk kebijakan, atau mungkin dalam bentuk dana atau fasilitaslain. Dari uraian dapat di simpulkan bahwa sasaran advokasi adalah para pejabat baik eksekutif maupun legislatif, di berbagai tingkat dan sektor, yang terkait dengan masalah kesehatan (sasaran tertier).

2.2.2 Dukungan Sosial (Social support)

Strategi dukunngan sosial ini adalah suatu kegiatan untuk mencari dukungan sosial melalui tokoh-tokoh masyarakat (toma), baik tokoh masyarakat formal maupun informal. Tujuan utama kegiatan ini adalah agar para tokoh masyarakat, sebagai jembatan antara sektor kesehatan sebagai pelaksana program kesehatan dengan masyarakat (penerima program) kesehatan. Dengan kegiatan mencari dukungan sosial melalui toma pada dasarnya adalah mensosialisasikan program-program kesehatan, agar masyarakat mau menerima dan mau berpartisipasi terhadap program-program tersebut. Oleh sebab itu, strategi ini juga dapat dikatakan sebagai upaya bina suasana, atau membina suasana yang kondusif terhadap kesehatan.Bentuk kegiatan dukungan sosial ini antara lain: pelatihan pelatihan paratoma, seminar,lokakarya, bimbingan kepadatoma, dan sebagainya. Dengan demikian maka sasaran utama dukungan sosial atau bina suasana adalah paratokoh masyarakat di berbagai tingkat. (sasaran sekunder)

2.2.3 PemberdayaanMasyarakat (Empowerment)

Pemberdayaan adalah strategi promosi kesehatan yang ditujukan pada Masyarakat langsung. Tujuan utama pemberdayaan adalah mewujudkan kemampuan masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka sendiri (visi promosi kesehatan).Bentuk kegiatan pemberdayaanini dapat diwujudkan dengan berbagai kegiatan, antaralain: penyuluhan kesehatan, pengorganisasian dan pengembangan masyarakat dalam bentuk misalnya: koperasi, pelatihan-pelatihan untuk kemampuan peningkatan pendapatan keluarga (income generating skill).

Dengan meningkatnya kemampuan ekonomi keluarga akan berdampak terhadap kemampuan dalam pemeliharaan kesehatan mereka, misalnya: terbentuknya dana sehat,terbentuknya pos obat desa, berdirinya polindes, dan sebagainya. Kegiatan- kegiatan semacamini di masyrakat sering disebut gerakan masyarakat´ untuk kesehatan. Dari uaraian tersebut dapat disimpulkan bahwa sasaran pemberdayaan masyarakat adalah masyarakat.

2.3 Strategi Promosi Kesehatan menurut Piagam Ottawa Konferensi Internasional Promosi Kesehatan di Ottawa ± Canada padatahun 1986 menghasilkan piagam Otawa (Ottawa Charter). Di dalam piagam Ottawa tersebut dirumuskan pula strategi baru promosi kesehatan, yang mencakup 5 butir, yaitu:

2.3.1 Kebijakan Berwawasan Kebijakan (Health Public Policy)

Adalah suatu strategi promosi kesehatan yang di tujukan kepada para penentu atau pembuat kebijakan, agar mereka mengeluarkan kebijakan-kebijakan publik yang mendukung atau menguntungkan kesehatan. Dengan perkataanlain, agar kebijakan- kebijakan dalam bentuk peraturan, perundangan, surat-surat keputusan dan sebagainya, selalu berwawasan atau berorientasi kepada kesahatan publik.Misalnya, ada peraturan atau undang-undang yang mengatur adanya analisis dampak lingkungan untuk mendirikan pabrik, perusahaan, rumah sakit, dan sebagainya. Dengan katalain, setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh pejabat publik, harus memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan (kesehatan masyarakat).

2.3.2 Lingkungan yang mendukung (Supportive Environment)

Strategi ini ditujukan kepada para pengelola tempat umum,termasuk pemerintah kota, agar mereka menyediakan sarana-prasarana atau fasilitas yang mendukung terciptanya perilaku sehat bagi masyarakat, atau sekurang-kurangnya pengunjung tempat-tempat umum tersebut. Lingkungan yang mendukung kesehatan berbagai tempat- tempat umum lainnya: tersedianya tempat samapah, tersedianya tempat buang air besar/kecil, tersedianya air bersih, tersedianya ruangan bagi perokok dan non-perokok, dan sebagainya. Dengan perkataan lain, para pengelola tempat-tempat umum, pasar, terminal, stasiun kereta api, bandara, pelabuhan, mall dan sebagainya, harus

menyediakan

sarana

dan

prasarana

untuk

mendukung

perilaku

sehat

bagi

pengunjungnya.

2.3.3 Reorientasi Pelayanan Kesehatan (Reorient Health Service)

Sudah menjadi pemahaman masyarakat pada umumnya bahwa dalam pelayanan kesehatanitu ada 3 provider´ dan 3 consumer. Penyelenggara (penyedia) pelayanan kesehatan adalah pemerintah dan swasta, dan masyarakat adalah sebagai pemakai atau pengguna pelayanan kesehatan. Pemahaman semacamini harus diubah, harus diorientasikan lagi, bahwa masyarakat bukan sekedar pengguna atau penerima pelayanan kesehatan,tetapi sekaligus juga sebagai penyelenggara, dalam batas-batas tertentu. Realisasida rireontitas pelayanan kesehatan ini, adalah para penyelenggara pelayanan kesehatan baik pemerintrah maupun swasta harus melibatkan, bahkan memberdayakan masyarakat agar mereka juga dapat berperan bukan hanya sebagai penerima pelayanan kesehatan,tetapi juga sekaligus sebagai penyelenggara pelayanan kesehatan. Dalam meorientasikan pelayanan kesehatan ini peran promosi kesehatan sangat penting.

2.3.4 Keterampilan Individu (Personnel Skill)

Kesehatan masyarakat adalah kesehatan agregat yangterdiri dari individu, keluarga, dan kelompok-kelompok. Oleh sebab itu, kesehatan masyarakat akan terwujud apabila kesehatan indivu-individu, keluarga-keluarga dan kelompok-kelompoktersebut terwujud. Oleh sebabitu, strategi untuk mewujudkan keterampilan individu-individu (personnels kill) dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan adalah sangat penting. Langkah awal dari peningkatan keterampilan dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan merekaini adalah memberikan pemahaman-pemahaman kepada anggota masyarakat tentang cara-cara memelihara kesehatan, mencegah penyakit, mengenal penyakit, mencari pengobatan ke fasilitas kesehatan profesional, meningkatkan kesehatan, dan sebagainya.Metode dan teknik pemberian pemahaman ini lebih bersifat individu daripada massa.

2.3.5

Gerakan masyarakat (Community Action)

Untuk mendukung perwujudan masyarakat yang mau dan mampu memelihara dan meningkatkan kesehatannya seperti tersebut dalam visi promosi kesehatan ini, maka di dalam masyarakat itu sendiri harus ad gerakan atau kegiatan-kegiatan untuk kesehatan. Oleh karena itu, promosi kesehatan harus mendorong dan memacu kegiatan-kegiatan di masyarakat dalam mewujudkan kesehatan mereka. Tanpa adanya kegiatan masyarakat di bidang kesehatan, niscayaterwujud perilaku yang kondusif untuk kesehatan atau masyarakat yang mau dan mampu memelihara serta meningkatkan kesehatan mereka.

2.4 Kunci efektivitas program promosi kesehatan di tempat kerja

a. Menunjukkan keterlibatan dan dukungan manajemen pada program kesehatan

b. Melibatkan karyawan dalam tahapan perencanaan program

c. Tawarkan program pada waktu dan tempat yang menyenangkan bagi karyawan

d. Membuat tujuan program dan identifikasi kebutuhan kesehatan karyawan

e. Berikan hadiah terhadap prestasi dan keikutsertaan dan pencapaian tujuan program

f. Meyakinkan karyawan bahwa status kesehatan mereka adalah sangat penting

g. Berikan program yang bervariasi untuk mempertemukan kebutuhan karyawan

h. Membuat lingkungan tempat kerja mendukung usaha perubahan gaya hidup

i. Membantu karyawan untuk mengerti dampak dari masalah kesehatan

2.5 Langkah mengembangkan promosi kesehatan di tempat kerja

a) Dukungan manajemen

Untuk

mengembangkan

promosi

kesehatan

di

tempat

kerja,

dukungan

dan

komitmen dari para pengambil keputusan dari semua pihak sangatpentingsekali.

b) Melaksanakan koordinasi

Membentuk kelompok kerja yang baik agar pelaksanaan berjalan dengan lancar.

c)

Penjajakan kebutuhan

Untuk mengumpulkan segala informasi yang berhubungan dengan kesehatan dan keselamatan kerja serta mengidentifikasi masalah yang mempengaruhi kesehatan dan menjadikan program.

d) Menyusun perencanaan

Mengembangkan perencanaan yaitu perencanaan jangka panjang dan jangka pendek lengkap dengan tujuan, strategi, aktifitas, biaya dan jadwal pelaksanaan.

e) Memprioritaskan kebutuhan Memprioritaskan masalah berdasarkan keinginan dan kebutuhan masalah-

masalah yang mempengaruhi kesehatan.

f) Monitoring dan evaluasi

Monitoring dan evaluasi merupakan hal yang sangat penting untuk melihat seberapa baiknya program tersebut terlaksana, untuk mengidentifikasi masalah-masalah yang ditemui dan umpan balik (feedback) untuk perbaikan.

g) Revisi dan perbaikan program

Setelah mendapatkan hasil dari evaluasi tentunya ada kekurangan dan masukan yang perlu untuk pertimbangan dalam melakukan perbaikan program.

BAB 3 PEMBAHASAN

3.1 Program Deteksi Dini Kanker Paru Di Tempat Kerja Deteksi dini Keluhan dan gejala penyakit ini tidak spesifik, seperti batuk darah, batuk kronik, berat badan menurun dan gejala lain yang juga dapat dijurnpai pada jenis penyakit paru lain. Penernuan dini penyakit ini berdasarkan keluhan saja jarang terjadi, biasanya keluhan yang ringan terjadi pada mereka yang telah memasuki stage II dan III. Di Indonesia kasus kanker paru terdiagnosis ketika penyakit telah berada pada staging lanjut. Dengan rneningkatnya kesadaran masyarakat tentang penyakit ini, disertai dengan meningkatnya pengetahuan dokter dan peralatan diagnostik maka

pendeteksian dini seharusnya dapat dilakukan. Sasaran untuk deteksi dini terutama ditujukan pada subyek dengan risiko tinggi yaitu:

Laki -laki, usia lebih dari 40 tahun, perokok

Paparan industri tertentu

Dengan satu atau lebih gejala: batuk darah, batuk kronik, sesak napas,nyeri dada dan berat badan menurun.(Dokter & Indonesia, 2003) Golongan lain yang perlu diwaspadai adalah perempuan perokok pasif dengan salah satu gejala di atas dan seseorang yang dengan gejala klinik : batuk darah, batuk kronik, sakit dada, penurunan berat badan tanpa penyakit yang jelas. Riwayat tentang anggota keluarga dekat yang menderita kanker paru juga perlu jadi faktor pertimbangan. Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk deteksi dini ini, selain pemeriksaan klinis adalah pemeriksaan radio toraks dan pemeriksaan sitologi sputum. Jika ada kecurigaan kanker paru, penderita sebaiknya segera dirujuk ke spesialis paru agar tindakan diagnostic lebih lanjut dapat dilakukan lebih cepat dan terarah.

Alur Deteksi Dini Kanker Paru

Alur Deteksi Dini Kanker Paru 3.2. Strategi Terbaik Untuk Promosi Kesehatan Di Tempat Kerja (Program Deteksi

3.2. Strategi Terbaik Untuk Promosi Kesehatan Di Tempat Kerja (Program Deteksi Dini Kanker Paru)

a.

Menurut WHO

Advokasi

Implementasi program deteksi dini kanker paru di tempat kerja dengan menggunakan APD saat bekerja yaitu Masker. Dalam pasal 2 Permenakertrans RI No. Per. 08/MEN/VII/2010 Tentang Alat Pelindung Diri menyatakan bahwa pengusaha wajib memberikan APD bagi pekerja.

Dukungan Sosial

Menunjukkan dukungan manajemen perusahaan terhadap program deteksi dini kanker paru dengan mengadakan skrining kanker paru pada setiap pekerja di perusahaan tersebut secara bertahap.

Pemberdayaan Masyarakat

Pemberian pengetahuan dan keterampilan melalui penyuluhan tentang kanker paru kepada tenaga kerja agar mereka mampu menjaga dan memelihara serta meningkatkan kesehatannya secara mandiri.

b. Menurut Ottawa

Menciptakan lingkungan yang mendukung

a. Pada setiap bagian perusahaan tersedia poster tentang pemakaian APD yang benar dan bahaya kanker paru.

b. Membuat dan memelihara fasilitas promosi kesehatan di perusahaan.

Keterampilan Individu

a. Program konsultasi dan penilaian resiko kesehatan di perusahaan untuk meningkatkan kesadaran tentang kesehatan dan meningkatkan derajat kesehatan

b. Peningkatan keterampilan yang dilakukan oleh perusahaan adala memberikan pengetahuan tentang cara memelihara kesehatan, mengenalai gejala awal kanker. Upaya peningkatan keterampilan juga dilakukan dengan bekerjasama dengan berbagai aspek daalam memberika health education.

3.3 Kunci Efektivitas Program Deteksi Dini Kanker Paru Di Tempat Kerja

a. Menunjukkan keterlibatan dan dukungan manajemen perusahan pada program deteksi dini kanker paru.

b. Melibatkan karyawan dalam tahapan perencanaan program deteksi dini kanker paru.

c. Tujuan program deteksi dini kanker paru untuk mengetahui gejala awal kanker agar dapat lebih awal ditangani oleh tenaga kesehatan

d. memberikan hadiah terhadap tenaga kerja yang rutin memeriksakan kesehatan terkait kanker paru di pelayanan kesehatan.

e. Meyakinkan karyawan bahwa status kesehatan mereka adalah sangat penting.

f. Membantu karyawan untuk mengerti dampak dari kanker paru melalui penyuluhan kesehatan.

3.4 Langkah Mengembangkan Promosi Kesehatan Di Tempat Kerja. (Program Deteksi Dini Kanker Paru)

a. Menggalang dukungan manajemen perusahaan .

Untuk mengembangkan program deteksi dini kanker paru di tempat kerja, dukungan dan komitmen dari perusahan sangat penting termasuk sponsor. Para manager hendaknya memberitahukan pelaksaaan program deteksi dini kanker paru yang diinformasikan keseluruh staf untuk di diskusikan.

b. Melaksanakan koordinasi.

Demi kelancaran proses pelaksanaan program deteksi dini kanker paru, para pengambil keputusan membentuk kelompok kerja (team) yang baik, contohnya panitia dari bagian kesehatan, bagian keselamatan, lingkungan dan ketenagaan. Kelompok kerja tersebut hendaknya mengikuti semua komponen yang terkait di semua tingkatan di tempat kerja maupun di sektor terkait.

c. Penjajakan Kebutuhan

Team hendaknya melakukan need assessmen. Hal ini untuk mengumpulkan segala informasi yang berhubungan dengan kesehatan dan keselamatan kerja. Tujuan dari need assessmen ini adalah mengidentifikasi masalah yang mempengaruhi kesehatan dan menjadikan nya program.

d. Memprioritaskan Kebutuhan .

Team memproiritaskan masalah berdasarkan keinginan dan kebutuhan masalah masalah yang mempengaruhi kesehatan.

e. Menyusun perencanaan.

Berdasarkan prioritas masalah dan kebutuhan, team mengembangkan perencanaan yaitu perencanaan jangka panjang dan jangka pendek terhadap program detesi dini kanker paru. Tujuan untuk mengurangi penyakit akibat kerja yang terjadi diperusahaan. Anggaran perencanaan hendaknya diajukan setiap tahun

f. Monitoring dan Evaluasi.

Monitoring dan Evaluasi dilakukan oleh pihak manager untuk melihat seberapa baiknya program deteksi dini kanker paru terlaksana, sehingga dapat mengidentifikasi kesuksesan dan masalah-masalah yang ditemui selama program berlangsung.

g. Revisi dan perbaikan program.

Setelah mendapatkan hasil dari evaluasi tentunya ada kekurangan dan masukan yang perlu untuk pertimbangan dalam melakukan perbaikan program, sekaligus merevisi hal yang sudah ada.

BAB 4

PENUTUP

4.1 Kesimpulan Upaya promosi kesehatan yang diselenggarakan di tempat kerja, selain untuk memberdayakan masyarakat di tempat kerja untuk mengenali masalah dan tingkat kesehatannya, serta mampu mengatasi, memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatannya sendiri juga memelihara dan meningkatkan tempat kerja yang sehat. Promosi kesehatan di tempat kerja merupakan kegiatan dari, oleh dan untuk pekerja dalam menanamkan perilaku hidup bersih dan sehat.

Keuntungan promosi kesehatan di tempat kerja, secara umum yaitu mendorong tempat kerja dan tenaga kerja yang sehat dan sangat penting bagi pertumbuhan ekonomi dan social.

DAFTAR PUSTAKA

Dokter, P., & Indonesia, P. (2003). Kanker Paru (Pedoman diagnosisi dan Penatalaksanaan di Indonesia), 1-39.

Nur Iskandarsyah, M. (2016). Pelaksanaan Strategi Promosi Kesehatan Dalam Program Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) Tatanan Rumah Tangga Di Puskesmas Puuwatu Kota Kendari Tahun 2015. Development.