Anda di halaman 1dari 2

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG

Pendidikan adalah kunci dari pembelajaran pada seseorang sebagai bekal dalam kehidupan
sekarang dan yang akan datang. Pendidikan mengajarkan manusia untuk berfikir, berinovasi
dan mempraktekkan apa yang telah didapat dalam proses pendidikan tersebut.
Berdasarkan Undang-UndangNomor20 Tahun 2003 pasal 3tujuan umum pendidikan nasional
adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Pendidikan ekonomi di Indonesia masih memerlukan pembenahan baik dari sisi UU maupun
pada tataran pelaksanaan di lapangan / di lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan pada
jenjang pendidikan dasar dan menengah maupun perguruan tinggi. Jika pemerintah
berkomitmen dengan masalah pendidikan , maka pendidikan harus mendapatkan prioritas
dalam pembangunan bangsa, karena pendidikan merupakan pembangunan fundamental
untuk mengembangkan sumber daya manusia. Dimana sumber daya manusia ini merupakan
sebagai salah satu tolok ukur kemajuan suatu bangsa. Anggaran pendidikan memang besar (
20 % )dari APBN dan tahun 2011 senilai Rp 50,3 trilliun. Angka ini turun bila dibandingkan
dengan tahun 2010 senilai lebih Rp 60 trilliun.
Hingga saat ini yang diajarkan di lembaga sekolah maupun perguruan tinggi, pendidikan
ekonomi yang diajarkan masih didominasi pada orientasi ke pasar tenaga kerja ( pasar Input
), dan bukannya pasar output atau berorientasi pada penciptaan / menghasilkan barang / jasa.
Sehingga tak ayal lagi output dunia pendidikan yang ada setelah kembali ke masyarakat
menjadi orang yang berstatus pencari kerja ( job seeker ) dan bukannya pencipta lapangan
kerja ( job creator ). Harapan menjadikan alumni lembaga pendidikan menjadi job creator
memang ideal, tetapi bukannya tidak dapat diwujudkan jikalau ada komitmen dari
Pemerintah dan masyarakat serta dibarengi dengan restrukturisasi di bidang pendidikan
termasuk anggaran pendidikan. Penulis juga sadar bahwasanya menjadi job seeker bukannya
suatu jalan pikiran yang naif alias tidak bermartabat, tetapi akan menjadikan masalah besar
seperti yang kita rasakan seperti saat ini dengan sulitnya mencari pekerjaan dan lowongan
kerja, atau adanya ketidak seimbangan antara pertumbuhan angkatan kerja dengan
pertumbuhan ekonomi/industri sebagai penyerap tenaga kerja. Kedua kalinya penulis juga
sangat sadar, bahwasanya di dalam kurikulum perguruan tinggi ada yang namanya mata
kuliah kewirausahaan. Namun menurut pandangan penulis tingkat keberhasilannya belum
sesuai dengan yang diharapkan. Karena kompetensi kewirausahaan yang dimiliki oleh
mahasiswa masih berada pada tataran cognitive dan belum menyentuh pada aspek perilaku
dan ketrampilan berwirausaha yang aplikatif. Belum berhasilnya kompetensi alumni
perguruan tinggi, khususnya terkait kompetensi kewirausahaan dikarenakan bayak faktor.
Faktor tersebut antara lain sarana dan prasaran kewirausahaan yang kurang memadai,
kualifikasi dan komitmen guru dan dosen, motivasi dan minat dari mahasiswa dsb.
Pemikiran diatas terkait dengan masalah kemampuan alumni perguruan tinggi untuk menjadi
job creator , penulis tidak menutup mata adanya keberhasilan alumni perguruan tinggi yang
menjadi wirausahawan handal dan berhasil. Namun kalau dihitung prosentasenya, walaupun
tidak melalui penelitian penulis yakin prosentasenya sangat – sangat rendah.
Pemikiran inilah menurut penulis katakan sebagai salah satu masalah yang dihadapi oleh
pendidikan ekonomi secara nasional, dan sebagai salah satu pemikiran alternatif untuk
menekan angka pengangguran yang masih relatif tinggi.

https://www.researchgate.net/publication/317184069_IDENTIFIKASI_PERMASALAHAN_
PENDIDIKAN_DI_INDONESIA_UNTUK_MENINGKATKAN_MUTU_DAN_PROFESI
ONALISME_GURU
https://www.kompasiana.com/windamooduto/564a600c747e6137048b4569/masalah-
ekonomi-dalam-pendidikan