Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNIK PENGAMATAN PENYAKIT TUMBUHAN

ACARA 1

SIMULASI PENENTUAN INTENSITAS PENYAKIT DENGAN METODE SKORING

Disusun oleh:
Nama : Olivia Mutiara Larasati
NIM : 15/383452/PN/14283
Golongan : C1.2
Asisten :

SUB LABORATORIUM KLINIK TUMBUHAN


DEPARTEMEN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2018
ACARA 1

SIMULASI PENENTUAN INTENSITAS PENYAKIT DENGAN METODE SKORING

I. TUJUAN
1. Memahami dan mempelajari pengamatan penyakit tanaman dengan metode scoring.
2. Dapat melakukan skoring dengan cepat dan tepat.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Penyakit hawar daun pada tanaman kentang (Solanum tuberosum L.) yang disebabkan
oleh Phytophthora infestans (P. infestans) (Mönt.) de Bary merupakan penyakit utama dan
sangat merugikan pada tanaman kentang. Di Indonesia, kerugian yang disebabkan oleh penyakit
hawar daun berkisar antara 10 sampai 100%. Meskipun begitu, serangan patogen ini sangat
dipengaruhi oleh tingkat infeksi, kelembaban udara diatas 95% dengan temperatur udara antara
12 -20oC, dan kultivar yang digunakan (Listanto et al., 2013). P. infestans merupakan patogen
utama dari tanaman tomat maupun kentang yang dibudidayakan. Bahkan sampai saat ini
dampaknya dapat menyebabkan kehilangan hasil yang sangat besar hinggaa mencapai 100%
(Nowickiet et al., 2012 cit Vries et al., (2018).
Pengendalian penyakit ini dalam pertanian memiliki input tinggi sebagian besar melalui
aplikasi fungisida, yang di Eropa Barat setara dengan >10 aplikasi per tanaman. Namun,
efektivitas dan ketersediaan fungisida ini semakin dirusak oleh perkembangan resistensi
fungisida dalam populasi P. infestans (Cooke et al., 2011 cit Stellingwerf et al., 2018).
Penyakit hawar daun pada kentang umumnya disebabkan oleh serangan jamur
Phytopthora infestans dari kelompok oomycetes. Kentang yang terserang jamur ini ditandai
dengan bercak kebasah-basahan pada tepi daun yang tidak rata. Bercak tersebut kemudian
melebar dan membentuk daerah nekrotik yang berwarna coklat. Selain menyerang pada daun dan
batang, penyakit ini juga dapat menyebabkan busuknya umbi kentang yang dapat mengundang
infeksi organisme sekunder (Suwari, 2002).
Penyakit busuk daun dapat berkembang dengan cepat pada kondisi yang ideal dan
menyebabkan kematian tanaman tomat pada lahan dalam waktu dua minggu (Cerkauskas, 2005).
Kehilangan hasil produksi dapat mencapai 60–100% pada varietas rentan yang ditanam pada
lahan dengan kelembaban udara antara 80 – 100% dengan suhu rata-rata 12–230 oC.
III. METODOLOGI

Praktikum Teknik Pengamatan Hama dan Penyakit Tumbuhan bagian penyakit acara 1
yang berjudul Simulasi Penentuan Intensitas Penyakit dengan Moetode Skoring ini dilaksanakan
pada hari Senin, 17 September 2018 di Laboratorium Klinik Tumbuhan, Jurusan Ilmu Hama dan
Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Bahan yang
digunakan pada acara praktikum kali ini yaitu alat tulis, gambaran simulasi mengenai tingkat
kerusakan daun.
Pertama-tama, gambar visual simulasi diperhatikan dan dilakukan pengamatan secaara
visual. Kemudian skoring kerusakan tanaman pada gambar tersebut ditentukan dengan waktu
yang sudah ditentukan juga. Kemudian diamati 60 penyakit pada gambar dan dihitung
intensitasnya dengan rumus :

∑(𝒎 𝒙 𝒗)
IP = 𝒙 𝟏𝟎𝟎%
𝑵𝒙𝒁

m : jumlah tanaman dengan skor penyakit v

v : skor penyakit

N : jumlah tanaman sampel

Z : skor penyakit tertinggi

Tabel 1. Skoring Keparahan Penyakit


Skor Tingkat Keparahan Penyakit
0 Tanaman Sehat
1 > 0-20% sakit
2 >20-40% sakit
3 >40-60% sakit
4 >60-80% sakit
5 >80% sakit

Presentase kerusakan yang ditentukan berdasarkan nilai skoring gejala dikategorikan ke


dalam tidak ada serangan, serangan ringan sedang, agak berat dan berat.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan
Tabel 2. Hasil pengamatan Gambar Simulasi Skoring Tingkat Kerusakan Daun Kentang
oleh Phytophthora infestans

No. Kelompok Intensitas Penyakit


1 I 53,33%
2 II 49,3%
3 III 53,33%
4 IV 45,3%
Rata-rata 50,32%

B. Pembahasan
Penilaian penyakit atau phytopathometry menurut Large (1966), melibatkan pengukuran
dan penjumlahan penyakit tanaman, oleh karena itu sangat penting dalam studi dan analisis
epidemi penyakit tanaman. Nutter et al. (2006) membedakan antara penilaian penyakit dan
phytopathometry. Penilaian penyakit didefinisikan sebagai proses mengukur intensitas penyakit
secara kuantitaif sedangkan phytopathometry sebagai teori dan praktek penilaian penyakit
Pentingnya metode penilaian penyakit secara akurat diidentifikasi dalam review phytopathometry
dan penilaian kerugian tanaman oleh Chester (1950) dan Large (1966).
Setiap metode sampling yang digunakan dalam penilaian penyakit harus acak,
representatif, dan obyektif, dan -tergantung pada penyakit yang terlibat- dapat merusak atau
non-destruktif (Jones dan Clifford, 1978).
Penyakit dapat diukur dengan menggunakan metode langsung (yaitu menilai penyakit di
dalam atau pada tanaman) atau metode tidak langsung (misalnya pemantauan populasi spora
menggunakan perangkap spora). Jelas metode langsung cenderung lebih berkorelasi kuat dengan
hasil kerugian pada tanaman dan oleh karena itu lebih sering digunakan. Namun, baru-baru ini
metode remote sensing dan deteksi stres tanaman akibat penyakit cenderung meningkatkan
akurasi pengukuran penyakit tidak langsung. Metode langsung digunakan untuk estimasi
kuantitatif dan kualitatif dari penyakit (Cooke et al., 2006).
Pengukuran penyakit di lapangan sering menggunakan pengamatan secara visual
sehingga bersifat subjektif. Oleh karena itu, untuk menghindari bias, perlu dibuat standar yang
spesifik dalam pengelompokan jenis tanaman, patogen, penyakit, lokasi, dan bagian tanaman
yang terserang (daun, akar, batang, dan lain-lain) (Sinaga, 2006).
Diseases severity atau intensitas penyakit adalah proporsi area tanaman yang rusak atau
dikenai gejala penyakit karena serangan patogen dalam satu tanaman. Intensitas penyakit
merupakan ukuran berat-ringannya tingkat kerusakan tanaman oleh suatu penyakit, baik pada
populasi atau individu tanaman (Adnan, 2009).
Pengukuran intensitas penyakit dilakukan untuk mengetahui seberapa parah serangan
penyakit di suatu area budidaya tanaman tertentu. Oleh karena itu terdapat beberapa metode
untuk menghitung tingkat intensitas atau keparahan penyakit. Salah satunya adalah metode
skoring. Metode ini cocok digunakan untuk penyakit-penyakit yang menunjukkan gejala parsial
(tidak sistemik), contohnya bercak daun.
Penentuan skoring merupakan teknik mengurutkan tingkatan penyakit dalam bentuk
gradiasi (menaik atau menurun). Teknik gradiasi untuk menentukan skor sangat penting artinya
bagi pengamat dan peneliti epidemi penyakit tanaman. Penentuan skoring biasanya didasari oleh
karena ketidak puasan atribut tingkat penyakit yang kurang kuantitatif, misalnya : parah, sedang,
dan sehat atau yang hanya memberikan atribut sangat merugikan, merugikan, dan kurang
merugikan, dan sejenisnya (Purnomo, 2007).
Cara menentukan skor, perlu ditentukan dulu titik awal dan titik akhirnya dengan angka
mutlak yang bersifat kontinyu, misalnya: titik awal angka nol dan titik akhir angka sepuluh.
Titik-titik tersebut dideskrpsi kriterianya yang juga bersifat kontinyu, misalnya untuk penyakit
bercak : kriteria nol adalah bahwa pertanaman tidak menunjukan gejala bercak sama sekali dan
pertumbuhan tanaman sesuai dengan fasenya sedangkan kriteria sepuluh adalah bahwa seluruh
daun sudah tidak ada warna hijau. Kata pertumbuhan tanaman sesuai dengan fasenya disesuaikan
dengan criteria fase pertumbuhan tanaman yang bersangkutan. Dari titik awal sampai titik akhir
tersebut pembuat skor menilai pertanaman dengan skor diantara dua titik yang sudah ditentukan,
kemudian dibuat kriterianya yang sesuai (Purnomo, 2007).
Menurut Yasa et al., (2012), keparahan penyakit merupakan proporsi luas permukaan
inang yang terinfeksi terhadap total luas permukaan inang yang diamati. Pengamatan keparahan
penyakit dilakukan insitu secara visual. Pada praktikum acara ini, dilakukan simulasi pengukuran
intensitas penyakit dari 60 tanaman yang daunnya terserang penyakit. Pertama-tama, dilakukan
pengamatan terhadap luasan penyakit tanaman pada daun-daunnya, kemudian ditentukan skoring
0-5 dengan persen luasan penyakit dari a% hingga b% (misalnya skor 1 :1%-4% luasan hawar
pada daun dan seterusnya). Setelah ditentukan, kemudian dilakukan perhitungan intensitas
serangan dengan rumus yang telah ditentukan yang bermaksud menentukan tingkat keparahan
suatu penyakit di lahan. Hasil pengamatan dari simulasi penentuan intensitas penyakit hawar
daun kentang (Phytophthora infestans) dengan metode skoring dari pengukuran 60 tanaman
yang daunnya terserang penyakit didapatkan hasil rata-rata intensitas penyakit sebesar 50,32%.
Menurut penelitian yang telah dilakukan Mubarok (2006), P. infestans menyerang
pertanaman tomat pada varietas Marta untuk Musim Kemarau sebesar 75,7% pada perlakuan
konvensional. Serangan P. infestans pada MK mulai terlihat sejak tanaman berumur 14 hst
kemudian intensitas serangan meningkat seiring dengan bertambahnya umur tanaman. Pada
kondisi ini, tanaman tomat masih dapat berproduksi karena P. infestans menyerang sebagian
besar pada daun sedangkan serangan pada buah masih sedikit. Menurut penelitian yang telah
dilakukan Stellingwerf et al., (2018), P. infestans daun yang terinfeksi diambil sampelnya di
setiap plot (16 daun per plot) dan ditempatkan dalam kantong plastik bening ketika tingkat
penyakit telah mencapai 50-75% pada kontrol yang tidak diberi perlakuan.
Menurut Zauhari et al., (1997) dalam Suwari (2002) bahwa serangan penyakit hawar
daun terjadi bila ada sumber inokulum dan inokulasi spora pada daun-daun serta lingkungan
yang mendukung. Intensitas serangan penyakit hawar daun pada tanaman kentang yang berumur
37 hari setelah tanam (hst) yang tidak diberi perlakuan jauh lebih tinggi jika dibandingkan
dengan yang diberikan perlakuan. Ratarata intensitas serangan pada kontrol sebesar 40,3%,
sedangkan yang diberi perlakuan terjadi penurunan tingkat serangan mencapai 4% pada
perlakuan dengan konsentrasi 4%. Kecendrungan peningkatan serangan terjadi terus mengalami
peningkatan, bahkan pada kontrol (0%) tingkat serangan sampai mencapai 100% pada umur 61
hst. Faktor lingkungan seperti kelembaban yang tinggi juga merupakan faktor pendukung untuk
berkembangnya jamur P. infestans lebih cepat.
Menurut Wiguna et al., (2015), setiap galur atau kultivar mempunyai tingkat ketahanan
yang berbeda-beda. Ketahanan ini disebabkan karena tiga (3) faktor yaitu; (1) Cendawan
terhambat penetrasinya, (2) Cendawan tidak dapat meluas secara sistemik, dan (3) Tanaman
bereaksi terhadap cendawan (hiper-sensitif). Penyakit tanaman muncul sebagai hasil interaksi
antara inang rentan, pathogen dan kondisi lingkungan yang sesuai. Apabila salah satu dari ketiga
faktor tersebut tidak ada, maka penyakit tidak akan muncul. Pengendalian penyakit busuk daun
didasarkan pada pemahaman segitiga penyakit, eliminasi salah satu faktor tersebut dapat
mencegah penyakit busuk daun muncul
Kondisi curah hujan dan kelembaban yang tinggi memacu perkembangan P. infestans.
Selanjutnya serangan pada perlakuan organik diperparah karena posisi petak organik yang
kurang terkena sinar matahari (terlindung oleh pohon bambu). Menurut Agrios (2004) bahwa
apabila suhu tetap dingin (10oC-24oC) kelembaban diatas 75%, minimal selama 48 jam maka
akan terjadi serangan late blight 2-3 minggu kemudian.
Metode skoring termasuk metode pengukuran tidak langsung yang kurang efetif
dibanding metode pengukuran langsung. Hal ini dikarenakan metode skoring memiliki ukuran
yang lebih luas (kurang spesifik) dibandingkan dengan pengamatan dengan metode pengukuran
langsung yang contohnya adalah metode proporsi langsung.

V. KESIMPULAN
1. Metode pengukuran intensitas penyakit dapat dilakukan dengan metode skoring
2. Intensitas penyakit yang menyerang daun sebesar 50,32%.
DAFTAR PUSTAKA

Adnan, Abdul Muin. 2009. Ilmu Penyakit Tumbuhan Dasar. Departemen Proteksi Tanaman IPB.
Bogor.
Agrios, G.N. 2004. Plant Pathology 5th Edition. New York : Elsevier Academic Press.
Cerkauskas, Ray. 2005. Tomato diseases : Late Blight. AVRDC publication. pp. 05- 633.
Chester, K.S. 1950. Plant disease losses: their appraisal and interpretation. Plant Disease
Reporter Supplement 193: 189-362.
Cooke, B.M. Jones, G.D., Kaye, B. 2006. The Epidemiology of Plant Disease. Springer.
Netherlands.
Jones, D.G. and Clifford, B.C. (1978) Pathological techniques, in cereal diseases, their pathology
and control. BASF. Ipswich. UK. pp. 52-94.
Large, E.C. (1966) Measuring plant disease. Annual Review of Phytopathology 4: 9-28.
Listanto, E., M. Herman dan E. Sofari. 2013. Uji Ketahanan Galur-Galur Kentang Transgenik
Hasil Transformasi Dengan Gen RB Terhadap Penyakit Hawar Daun (Phytophthora
infestans) di KP Pasirsarongge, Cianjur. J. HPT Tropika. Vol. 13(2): 141–150
Mubarok, A. 2006. Perkembangan Hama dan Penyakit Tanaman Kubis Pada Tiga Sistem
Budidaya. Tesis. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Nutter, F.W., Esker, P.D. and Netto, R.A.C. (2006) Disease assessment concepts and the role of
psychophysics in phytopathology. European Journal of Plant Pathology. (in press).
Purnomo, Bambang. 2007. Epidemiologi Penyakit Tanaman : Teori Pendekatan
Epidemi.<http://www.geocities.ws/bpurnomo51/epi_files/epi2.pdf>. Diakses tanggal 24
September 2018.
Sinaga, Meity Suradji. 2006. Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Tumbuhan. Penebar Swadaya. Jakarta.
Stellingwerf, J. S., S. Phelan., F. M. Doohan., D. Griffin., A. Bourke., R.C.B. Hutten., D. E. L.
Cooke., S. Kildea., and E. Mullins. 2018. Evidence for selection pressure from resistant
potato genotypes but not from fungicide application within a clonal Phytophthora
infestans population. Plant Pathology, 67(7), 1528–1538.
Suwari, I.G.A.A. 2002. Aktivitas Fungisida Ekstrak Daun Matoa (Pometia pinnata (Forst))
terhadap Phytopthora infestans Penyebab Penyakit Hawar Daun Pada Tanaman Kentang.
Tesis Program Studi Bioteknologi Pertanian. Program Pascasarjana Universitas Udayana.
Denpasar.
Vries, S. D., J. K. V. Dahlen., A. Schnake., S. Ginschel., B. Schulz and L. E. Rose. 2018 Broad-
spectrum inhibition of Phytophthora infestans by fungal endophytes. FEMS
Microbiology Ecology, Vol. 94(4): 1-15
Wiguna, G., R. Sutarya dan Y. Mulaini. 2015. RESPON Beberapa Galur Tomat (Lycopersicum
esculentum Mill.) Terhadap Penyakit Busuk Daun (Phytophthora infestans (Mont.) de
Bary). MEDIAGRO. Vol.11(2): 1-10.
Yasa, I. N. D., I P. Sudiarta., I G. N. A. S. Wirya., K. Sumiartha., I. M. S. Utama., G. Luther dan
J. Mariyono. 2012. E-Jurnal Agroekoteknologi Tropika Vol. 1(2): 154-161.