Anda di halaman 1dari 19

1.

1 Judul: Pembuatan Ekstrak Rimpang Kaempferia galanga

1.2 Tujuan: Untuk mengetahui cara pembuatan ekstrak rimpang Kaempferia galanga
melalui berbagai macam metode.

1.3 Tinjauan Pustaka

a. Klasifikasi Tumbuhan (USDA)

Kingdom : Plantae

Subkingdom : Traecheobionta

Super Divisi : Spermatophyta

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Liliopsida

Sub Kelas : Commelinidae

Ordo : Zingiberales

Famili : Zingiberaceae

Genus : Kaempferia

Spesies : Kaempferia galanga Linn.

b. Deskripsi Tanaman

Kempferia merupakan genus herbal yang memiliki anggota lebih dari 50


spesies asli dari Asia Timur tropis yang masuk dalam famili Zingiberaceae.
Kaempferia merupakan rizoma herbal yang berukuran kecil yang biasanya berbentuk
akar tuberous aromatik yang tebal dan rizoma yang pendek (Tang et al., 2014).

Kencur (Kaempferia galanga L.) merupakan salah satu dari lima jenis
tumbuhan yang dikembangkan sebagai tanaman obat asli Indonesia.kencur
merupakan tanaman obat yang bernilai ekonomis cukup tinggi sehingga banyak
dibudidayakan. Bagian rimpangnya digunakan sebagai bahan baku industri obat
tradisioanl, bumbu dapur, bahan makanan, maupun penyengar minuman lainnya
(Rostiana et al., 2003).
c. Kandungan Kimia

Menurut Hargono (1995), bahwa kandungan senyawa Kaempferia galanga L.


yaitu :

1. Daun : alkaloid, borneol, dan eucaliptol.


2. Rimpang : tanin, saponin, kalsium oksalat, borneol, kamfen, sineol, etil
alkohol, minyak atsiri (2,4%- 3,9%) terdiri etil p- metoksisinamate, asam p-
metoksinamat, asam transinamat, p- metoksi stirena, p- asam kumarat, n-
pentadekana.
Kandungan senyawa yang terdapat secara melimpah yaitu asam popanoat,
pentadekana, etil p- metoksisinamat. Kandungan lainnya yaitu 1,8- sineol, undekanon,
isopropil sinama, disikloheksilpropandinitril, dipenten dioksida, 9- hidroksi, 2-
nonanon, 2,7- oktadien- 1- il asetat, etil sikloheksil asetat, cis 11- tetradesenil asetat,
2- heptadekanon, 4- metilnisopulegon, champidin, trans- trans- okta- 2,4- dietil asetat,
10- undesil-1- ol, ,7- dimetoksikumarin, delta-3carene, alfa pinen, champhene,
borneol, cymene, alpha gurjunene, germacrenes, cadinenes, caryophyllenes, luteolin,
dan apigenin (Umar et al., 2011).

d. Manfaat Kaempferia galanga

Zingebraceae telah ditemukan sebagai sumber yang diperlukan sekali untuk


agen pencegah kanker sejak tumbuhan dari famili Zingeberaceae didemonstrasikan
kemungkinan efek hambatnya pada pertumbuhan kanker payudara (MCF-7), kanker
kolon (HT- 29 dan Col2), kanker paru- paru (A549), kanker perut (SNU- 638), dan
kanker servic (CaSki). Dilaporkan juga pada skrining ekstrak atau minyak esensial
dari sejumlah anggota famili Zingiberaceae yaitu dapat melawan strain bakteri, jamur,
dan ragi (Tang et al.,2014).

Kebanyakan rizoma ginger banyak yang bisa dimakan yang telah lama
digunakan sebagai bahan untuk pengobatan tradisional selama berabad- abad tetapi
ridak sepenuhnya telah dilakukan indentifikasi terhadap aktivitas bioaktifnya (Tang et
al.,2014).

Ekstrak dari Kaempfreia galanga L. memiliki aktivitas antiinflamasi,


analgesik, nematasida, penolak nyamuk, larvisida, vasorelaksan, sedatif,
antineoplastik, antimikroba, antioksidan, antialergidan penyembuh luka (Umar et al.,
2011). Etil p- metoksisinamat dan etil sinamat ditemukan sebagai senyawa vital yang
berperan dalam kebanyakan sifat farmakologi. Efek aktinosiseptik dari ekstrak
Kaempferia galanga L. sebanding dengan aspirin, mengingat efek nematisida
Kaempferia galanga L. bahkan lebih poten dari pada Carbofuran dan Nametan (Umar
et al., 2011).

e. Ekstraksi

Menurut Tiwari et al.,(2011), keberagaman dari metode ekstraksi biasanya


berdasarkan pada:

a. Lamanya periode ekstraksi


b. Pelarut yang digunakan
c. pH dari pelarut
d. Suhu
e. Ukuran partikel dari jaringan tumbuhan
f. Perbandingan pelarut terhadap sampel
Ekstraksi dalam hal farmaseutik merupakan pemisahan bagian yang aktif
secara medisinal dari jaringan tumbuhan dan hewan menggunakan pelarut tertentu
melalui prosedur standart. Selama ekstraksi, pelarut berdifusi ke dalam material padat
tumbuhan dan melarutkan senyawa- senyawa dengan kepolaran yang sama (Tiwari et
al.,2011).
Parameter dasar yang mempengaruhi kualitas dari sebuah ekstrak adalah:
a. Bagian tumbuhan yang digunakan sebagai material awal
b. Pelarut yang digunakan dalam ekstraksi
c. Prosedur ekstraksi
Keberagaman dalam metode ekstraksi yang berbeda yaitu akan mempengaruhi
kuantitas dan komposisi metabolit sekunder pada sebuah ekstrak yang tergantung
pada:
a. Tipe ekstraksi
b. Waktu ekstraksi
c. Suhu
d. Sifat pelarut
e. Konsentrasi pelarut
f. Polaritas
Homogenasi jaringan tumbuhan dalam pelarut telah secara luas digunakan
oleh para peneliti. Kering atau basah, bagian tumbuhan digiling menggunakan blender
untuk mendapatkan ukuran partikel yang halus, diekstrak dalam pelarut tertentu dan
dikocok dengan kuat selama 5-10 menit atau dibiarkan selama 24 jam setelah selesai
kemudian ekstrak tersebut disaring. Filtrat kemudian diuapkan pelarutnya dan
dilarutkan kembali dalam pelarut untuk menentukan konsentrasi. Beberapa penelitian
melakukan sentrifugasi untuk menjernihkan ekstrak (Tiwari et al.,2011).
Matode ekstraksi yang telah berhasil yaitu dengan menggunakan kenaikan
kepolaran pelarut, dari mulai pelarut non polar (heksan) sampai pelarut yang lebih
polar (metanol) untuk menjamin bahwa rentang kepolaran yang luas menyebabkan
banyak senyawa yang dikandung dapat diektraksi (Tiwari et al.,2011).
 Metode Ekstraksi
Metode ekstraksi berdasarkan ada tidaknya proses pemanasan dapat dibagi
menjadi dua macam, yaitu ekstraksi cara dingin dan ekstraksi cara panas (Hamdani,
2009).
1) Ekstraksi cara dingin
Pada metode ini tidak dilakukan pemanasan selama proses ekstraksi
berlangsung dengan tujuan agar senyawa yang diinginkan tidak menjadi rusak.
Beberapa jenis metode ekstraksi cara dingin, yaitu :
1. Maserasi
Maserasi merupakan metode ekstraksi dengan menggunakan pelarut diam
atau dengan adanya pengadukan beberapa kali pada suhu ruangan. Metode ini
dapat dilakukan dengan cara merendam bahan dengan sekali- kali dilakukan
pengadukan. Pada umumnya perendaman dilakukan selama 24 jam, kemudian
pelarut diganti dengan pelarut baru. Maserasi juga dapat dilakukan dengan
pengadukan secara berkesinambungan (maserasi kinetik). Kelebihan dari metode
ini yaitu efektif untuk sneyawa yang tidak tahan panas (terdegradasi karena panas),
pelaratan yang digunakan relatif sederhana, murah, dan mudah didapat. Namun
metode ini juga memiliki beberapa kelemahan yaitu waktu ekstraksi yang lama,
membutuhkan pelarut dalam jumlah yang banyak dan adanya kemungkinan bahwa
senyawa tertentu tidak dapat diekstrak karena kelarutannya yang rendah pada suhu
ruang (Sarker et al., 2006).
Maserasi Ultrasonik
Sonikasi merupakan salah satu teknik ekstraksi yang menggunakan
energi tambahan berupa vibrasi ultrasonik untuk meningkatkan interaksi
antara zat yang akan diambil dengan pelarutnya. Penggunaan gelombang
ultrasonik dapat meningkatkan rendemen dan kualitas produk yang dihasilkan
(Supardan et al., 2011).
Penggunaan ultrasonik pada dasarnya menggunakan prinsip dasar yaitu
dengan mengamati sifat akustik gelombang ultrasonik yang dirambatkan
melalui medium yang dilewati. Pada saat gelombang merambat, medium yang
dilewatinya akan mengalami getaran. Getaran akan memberikan pengadukan
yang intensif terhadap proses ekstraksi. Pengadukan akan meningkatkan
osmosis antara bahan dengan pelarut sehingga akan meningkatkan proses
ekstraksi.
Cara kerja metode ultrasonik dalam mengekstraksi adalah sebagai
berikut:
 Gelombang ultrasonik terbentuk dari pembangkitan ultrason secara
lokal dari kavitasi mikro pada sekeliling bahan yang akan diekstraksi
sehingga akan terjadi pemanasan pada bahan tersebut dan melepaskan
senyawa ekstrak.
 Terdapat ekstrak ganda yang dihasilkan yaitu pengacauan dinding sel
sehingga membebaskan kandungan senyawa yang ada didalamnya dan
pemanasan lokal pada cairan dan meningkatkan difusi ekstrak.
 Energi kinetik dilewati keseluruhan bagian cairan diikuti dengan
munculnya gelembung kavitasi pada dinding atau permukaan sehingga
meningkatkan transfer massa anatara permukaan padat- cair.
 Efek mekanik yang ditimbulkan adalah meningkatkan penetrasi dari
cairan menuju dinding membran sel yang mendukung pelepasan
komponen sel dalam meningkatkan transfer massa (Kerl, 2007).
Liu et al., (2010), menyatakan bahwa kavitasi ultrasonik menghasilkan
daya patah yang akan memecah dinding sel secara mekanis dan meningkatkan
transfer material. Kavitasi adalah gejala menguapnya zat cair yang sedang
mengalir sehingga membentuk gelembung- gelembung uap yang disebabkan
karena berkurangnya tekanan cairan tersebut sampai dibawah titik jenuh
uapnya.
2. Perkolasi

Perkolasi merupakan metode ekstraksi dengan bahan yang disusun dengan


menggunakan pelarut yang selalu baru sampai prosesnya sempurna dan umumnya
dilakukan pada suhu ruang. Prosedur metode ini yaitu bahan direndam dengan
pelarut, kemudian pelarut baru dialirkan secara terus menerus sampai warna
pelarut tidak lagi berwarna atau tetap bening yang artinya sudah tidak ada lagi
senyawa yang terlarut. Kelebihan dari metode yaitu tidak diperlukan proses
tambahan untuk memisahkan padatan dengan ekstrak, sdangkan kelemahan
metode ini adalah jumlah pelarut yang dibutuhkan cukup banyak dan proses juga
memerlukan waktu yang cukup lama, serta tidak meratanya kontak antara padatan
dan pelarut (Sarker et al., 2006).

2) Ekstrasksi cara panas


Pada metode ini melibatkan pemanasan selama proses ekstraksi
berlangsung. Adanya panas secara otomatis akan mempercepat proses ekstraksi
dibandingkan dengan cara dingin. Beberapa jenis metode ekstraksi cara panas,
yaitu:
1. Ekstraksi refluks
Ekstraksi refluks merupakan metode ekstraksi yang dilakukan pada
titik didih pelarut tersebut selama waktu dan sejumlah pelarut tertentu dengan
adanya pendingin balik (kondesor). Pada umumnya dilakukan tiga sampai
lima kali pengulangan proses pada rafinat pertama. Kelebihan metode refluks
adalah padatan yang memiliki tekstur kasar dan tahan terhadap pemanasan
langsung dapat diekstrak dengan metode ini. Kelemahan metode ini adalah
membutuhkan jumlah pelarut yang banyak (Irawan, 2010).
2. Ekstraksi soxhletasi
Ekstraksi dengan alat soxhlet merupakan ekstraksi dengan pelarut yang
selalu baru, umumnya dilakukan menggunakan alat khusus sehingga terjadi
ekstraksi konstan dengan adanya pendingin balik (kondensor). Pada metode
ini, padatan disimpan dalam alat soxhlet dan dipanaskan, sedangkan yang
dipanaskan hanyalah pelarutnya. Pelarut terdinginkan dalam kondensor,
kemudian mengekstraksi padatan. Kelebihan metode soxhlet adalah proses
ekstraksi berlangsung kontinu, memerlukan waktu dnegan metode maserasi
atau perkolasi. Kelemahan dari metode ini adalah dapat menyebabkan
rusaknya solute atau komponen lainnya yang tidak tahan panas karena
pemanasan ekstrak yang dilakukan secara terus menerus (Sarket et al., 2006;
Tiwari et al., 2011).
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi proses ekstraksi yaitu
(KirkOthmer, 1998; Perry, R., et al, 1984):
1) Perlakuan pendahuluan
Perlakuan pendahuluan dapat berpengaruh terhadapat rendeman dan mutu
ekstrak yang dihasilkan. Perlakuan pendahuluan meliputi pengecilan ukuran dan
pengeringan bahan. Semakin kecil ukuran partikel, maka semakin besar luas kontak
antara padatan dengan pelarut, tahanan menjadi semakin berkurang, dan lintasan
kapiler dalam padatan menjadi semakin pendek (laju difusi berbanding lurus dengan
luas permukaan padatan dan berbanding terbalik dengan ketebalan padatan), sehingga
proses ekstraksi menjadi lebih cepat dan optimal. Teknik pengecilan ukuran dapat
dilakukan dengan cara pemotongan, penggilingan, maupun penghancuran.
Pengeringan bahan bertujuan untuk menguapkan sebagian air dalam bahan,
sehingga kadar air bahan menurun. Selain itu, kerusakan dinding sel bahan selama
pengeringan akan mempermudah pengeluaran solute dalam bahan. Pengeringan juga
dapat mempermudah proses pengecilan ukuran dan meningkatkan mutu ekstrak
dengan menghindari adanya air dalam ekstrak (Somaatmadja, 1985). Pada umumnya
pengeringan dilakukan pada suhu kamar atau oven dengan temperatur kuran dari 30
0C. Keuntungan pengeringan dengan menggunakan oven yaitu tidak tergantung
cuaca, kapasitas pengeringan dapat disesuaikan, tidak memerlukan tempat yang luas,
dan kondisi pengeringan dapat dikontrol. Faktor-faktor yang mempengaruhi
pengeringan yaitu udara pengering dan sifat bahan. Faktor yang berhubungan dengan
udara pengering yaitu suhu, kecepatan volumetrik aliran udara pengering, dan
kelembapan udara sedangkan faktor yang berhubungan dengan sifat bahan yaitu
ukuran, kadar air awal, dan tekanan parisal bahan.
2) Temperatur
Kelarutan bahan yang diekstraksi dan difusivitas akan meningkat dengan
meningkatnya temperatur. Namun temperatur yang terlalu tinggi dapat merusak bahan
yang diekstrak, sehingga perlu menentukan temperatur optimum.
3) Faktor pengadukan
Pengadukan dapat mempercepat pelarutan dan meningkatkan laju difusi
solute. Pergerakan pelarut di sekitar bahan akibat pengadukan dapat mempercepat
kontak bahan dengan pelarut dan memindahkan komponen dari permukaan bahan ke
dalam larutan dengan jalan membentuk suspensi serta melarutkan komponen tersebut
ke dalam media pelarut (Larian, 1959). Pengadukan dapat dilakukan dengan cara
mekanis, pengaliran udara atau dengan kombinasi keduanya.

f. Pemilihan Pelarut
Pemilihan pelarut merupakan salah satu faktor yang penting dalam proses
ekstraksi. Jenis pelarut yang digunakan dalam proses ekstraksi mempengaruhi jenis
komponen aktif bahan yang terekstrak karena masing-masing pelarut mempunyai
selektifitas yang berbeda untuk melarutkan komponen aktif dalam bahan. Menurut
Perry (1984), berbagai syarat pelarut yang digunakan dalam proses ekstraksi, yaitu
sebagai berikut:
a. Memiliki daya larut dan selektivitas terhadap solute yang tinggi. Pelarut harus
dapat melarutkan komponen yang diinginkan sebanyak mungkin dan sesedikit
mungkin melarutkan bahan pengotor.
b. Bersifat inert terhadap bahan baku, sehingga tidak bereaksi dengan komponen
yang akan diekstrak.
c. Reaktivitas. Pelarut tidak menyebabkan perubahan secara kimia pada
komponen bahan ekstraksi.
d. Tidak menyebabkan terbentuknya emulsi.
e. Tidak korosif.
f. Tidak beracun.
g. Tidak mudah terbakar.
h. Stabil secara kimia dan termal.
i. Tidak berbahaya bagi lingkungan.
j. Memiliki viskositas yang rendah, sehingga mudah untuk dialirkan.
k. Murah dan mudah didapat, serta tersedia dalam jumlah yang besar.
l. Memiliki titik didih yang cukup rendah agar mudah diuapkan.
m. Memiliki tegangan permukaan yang cukup rendah.
Berbagai jenis pelarut yang sering digunakan dalam proses ekstraksi seperti contoh
tabel dibawah ini :
Tabel 1.1 Beberapa jenis pelarut untuk ekstraksi (Stahl, 1969)

Pelarut Titik didih (oC, 1atm) Viskositas (cp, 20oC)

n-heksana 68,7 0,326

Heksana 98,4 0,409

Sikloheksana 81,4 1,020

Benzena 80,1 0,652

Kloroform 61,3 0,580

Dietil eter 34,6 0,233

Etil asetat 77,1 0,455

Aseton 56,5 0,316

Etanol 78,5 1,200

Metanol 64,6 0,597

Air 100 1,005

Setiap komponen pembentuk bahan mempunyai perbedaan kelarutan


yang berbeda dalam setiap pelarut, sehingga untuk mendapatkan sebanyak
mungkin komponen yang diinginkan, maka ekstraksi dilakukan dengan
menggunakan suatu pelarut yang secara selektif dapat melarutkan komponen
tersebut. Komponen yang terkandung dalam bahan akan dapat larut pada
pelarut yang relatif sama kepolarannya. Kriteria kepolaran suatu pelarut dapat
ditinjau dari konstanta dielektrik dan momen dipol. Pelarut polar memiliki
konstanta dielektrik yang besar, sedangkan non-polar memiliki konstanta
dielektrik yang kecil. Semakin besar nilai konstanta dielektriknya, maka
semakin polar senyawa tersebut. Nilai konstanta dielektrik pada berbagai jenis
pelarut disajikan pada Tabel 1.2 berikut:
Tabel 1.2 Nilai konstanta dielektrik pelarut organik pada 20C (Adnan, 1997)

Pelarut Konstanta dielektrik

Heptan 1,924

n-heksana 1,890

Sikloheksana 2,023

Karbon tetraklorida 2,238

Benzen 2,284

Kloroform 4,806

Etil eter 4,340

Etil asetat 6,020

Piridin 12,30

Aseton 20,70

Etanol 24,30

Metanol 33,62

Asetonitril 38,00

Air 80,37

Beberapa jenis pelarut yang sering digunakan dalam proses ekstraksi

a. Metanol

Metanol (CH3OH) juga dikenal dengan nama hidrat, alkohol kayu atau
spiritus merupakan alkohol alifatik paling sederhana. tekanan atmosfer, metanol
berbentuk cairan yang ringan tidak berwarna, mudah menguap, mudah terbakar,
bersifat racun dengan aroma yang khas, dan larut sempurna dalam air, alkohol,
serta eter. Metanol mempunyai berat molekul 32,04 gr/mol, titik didih 64,7 berat
jenis pada 20C sebesar 0,792 gr/cm sebesar 0,59 mPa.s. Metanol tergolong
pelarut polar dengan konstanta dielektrik sebesar 33,26 pada 25C dan momen
dipol sebesar 1,69 D (gas) (Merck, 1999; Mills B., 2009). Struktur molekul
methanol dapat dilihat pada gambar 2.1 berikut:

Gambar 1.1 Struktur Molekul Metanol

b. Etanol

Etanol (C2H5OH) memiliki nama lain yaitu etil alkohol, hidroksietana,


dan alkohol absolut. Etanol merupakan molekul yang sangat polar karena adanya
gugus hidroksil (OH) dengan keelektonegatifan oksigen yang sangat tinggi yang
menyebabkan terjadinya ikatan hidrogen dengan molekul lain, sehingga etanol
dapat ber molekul polar dan molekul ion. Gugus etil (C etanol dapat berikatan
juga dengan molekul non melarutkan baik senyawa polar maupun non gr/mol,
massa jenis 0,789 gr/ cm momen dipol sebesar 1,69 D (gas), konstanta dielektrik
24,3 pada 20C, dan tidak berwarna.

Etanol merupakan pelarut paling penting kedua setelah air pada industri.
Etanol merupakan alkohol yang paling tidak beracun (hanya beracun apabila
dalam jumlah yang sangat besar), umumnya digunakan sebagai pelarut, antiseptik,
perasa (sari vanila) atau pewarna makanan, dan bahan pada industri kosmetik
(parfum) maupun obat-obatan. Struktur molekul etanol dapat dilihat pada Gambar
2.2 berikut: (Schiller M., 2010; Cacycle, 2008)

Gambar 1.2 Struktur Molekul Etanol


c. Air

Gambar 1.3 Struktur Molekul Air

Air (H2O) merupakan senyawa yang tidak berbau, tidak berasa, dan tidak
berwarna dengan satu molekul air terdiri dari dua atom hidrogen yang terikat
secara kovalen (ikatan yang terjadi akibat adanya pemakaian bersama pasangan
elektron) pada satu atom oksigen. Atom oksigen memiliki keelektronegatifan yang
sangat besar sedangkan atom hidrogen memiliki keelektronegatifan yang paling
kecil diantara unsur-unsur bukan logam. Hal tersebut menyebatbkan sifat
kepolaran air yang sangat besar. Air merupakan pelarut universal karena air
mampu melarutkan banyak senyawa kimia lainnya.

Kelarutan suatu zat dalam air ditentukan oleh dapat tidaknya zat tersebut
menandingi kekuatan gaya tarik-menarik listrik (gaya intermolekul dipol-dipol)
antara molekulmolekul air. Jika suatu zat tidak mampu menandingi gaya tarik-
menarik antar molekul air, maka molekul-molekul zat tersebut tidak dapat larut
dalam air. Zat yang dapat bercampur dengan baik atau larut dalam air (misalnya
asam, alkohol, dan garam) disebut sebagai zat hidrofilik, sedangkan zat-zat yang
tidak mudah tercampur atau larut dalam air (misalnya lemak dan minyak), disebut
sebagai zat hidrofobik.

Senyawa polar dapat larut dalam air dan membentuk ikatan hidrogen
dengan air. Ikatan hidrogen dapat terjadi karena elektron bebas pada atom yang
memiliki elektronegatifan tinggi seperti N, O, F menarik proton yang dimiliki oleh
atom H. Air memiliki berat molekul 18 gr/mol, titik didih 100 oC, viskositas
1,005 cP, dan konstanta dielektrik sebesar 80,37 pada 2 0oC. Kelarutan beberapa
zat dalam air disajikan pada Tabel 2.3 dan stuktur molekul air dapat dilihat pada
Tabel 1.3 berikut (Anonim, 2008; Azizah U., 2011):
Tabel 2.3 Kelarutan zat dalam air pada temperatur kamar

Zat Kelarutan (per 100 gram)

Alkohol Tidak terbatas

Garam 36

Gula 211

Zat Kelarutan (per 100 gram)

Oksigen 0,0041

Karbondioksida 0,144

1.4 Bahan dan Alat

Bahan
 Serbuk rimpang kencur
 Etanol 96%
 Cab- o-sil
Alat
 Labu Erlenmeyer
 Beaker glass
 Batang pengaduk
 Corong Buchner
 Rotavapor
 Kertas saring
 Loyang
 Sudip
 Alumunium foil
 Wadah selai
 Analytical balance
 Toples
1.5 Prosedur Kerja

Metode Maserasi (Metode Perendaman)

Ditimbang 400 g (+) 1600 ml


Dimasukkan
serbuk rimpang
kedalam beaker etanol 96%
kencur
glass

didiamkan selama 24 Ditutup bagian Di diaduk ada


jam mulut beaker glass serbuk terbasahi

Residu dilakukan
Hasil maserasi Filtrat ditampung
remaserasi dengan 2400
disaring dengan dalam jurigen
ml etanol 96%

Filtrat ditampung Hasil remaserasi


dan dikumpulkan disaring dengan corong didiamkan selama 24
menjadi satu Burchner jam

Filtrat yang terkumpul hasilnya


Dikaliberasi labu pada dilakukan pemekatan dengan dipindahkan
rotavapor atau jurigen
rotavapor ad  400 ml
(berisi ekstrak) pada
tanda 400 ml
Ekstrak diratakan
Ditambahkan pada loyang
Cab-o-il ditaburkan cab- o-sil
sedikit demi sedikit

disimpan pada wadah


Kemudian Ekstrak kering
tertutup (botol selai).
diamkan dihomogenkan
Diberi label identitas
sampai kering pada wadah
1.6 Hasil Pengamatan

 Jumlah total ekstrak yang ditimbang : 400 g


 Jumlah ekstrak hasil ekstraksi : 63, 92 g
 Jumlah cab-o-sil yang ditimbang : 15,5 g
 Total rendemen hasil : 63,92 g – 15,5 g = 48,42 g
48,42 𝑔
% Rendemen hasil : 𝑥 100% = 12,11%
400 𝑔

 Hasil rendemen pada masing- masing kelompok


1. Kelompok 1 (maserasi kinetik) : 10,925%
2. Kelompok 2 (maserasi ultrasonik) : 11,46%
3. Kelompok 3 (maserasi/ perendaman) : 12,11%
4. Kelompok 4 (maserasi kinetik) : 11,46%
5. Kelompok 5 (maserasi/ perendaman) : 11,82%
6. Kelompok 6 (maserasi/ perendaman) : 11,26%
7. Kelompok 7 (maserasi/ perendaman) : 11,275%
8. Kelompok 8 (maserasi kinetik) : 12,19%
9. Kelompok 9 (maserasi ultrasonik) : 11,89%)
10. Kelompok 10 (maserasi ultrasonik) : 11,29%

1.7 Pembahasan

Pada praktikum kali ini digunakan percobaan pembuatan ekstrak Kaempfreia galanga
L. (kencur) dengan metode maserasi atau perendaman. Metode maserasi dilakukan dengan
cara merendam serbuk kencur yang ditambah pelarut etanol 96% selama 24 jam. Setelah
dilakukan perendaman selama 24 jam ekstrak disaring untuk memisahkan filtrat dan residu.
Filtrat ditampung dan residu ditambahkan pelarut etanol 96% untuk dilakukan proses
perendaman lagi (remaserasi) selama 24 jam. Maserasi serbuk kencur dilakukan dengan
menggunakan pelarut etanol 96% karena sifatnya yang mampu melarutkan hampir seluruh
zat, baik yang bersifat polar, semi polar, dan non polar (Arifin et al., 2006). Hasil seluruh
filtrat ditampung dan dilakukan pemekatan dengan rotavapor.

Setelah pekat, filtrat diletakkan diloyang dan ditaburi cab- o-sil perlahan dan merata
untuk mempercepat pengeringan. Setelah itu ditunggu sampai kering. Setelah kering ekstrak
dihomogenkan diatas motir dengan stamper, lalu ditimbang dan dimasukkan kedalam botol
selai. Didapatkan hasil berat ekstrak kering kencur adalah 48,42 g dengan % rendemen hasil
12,11%.

Dari hasil praktikum yang dilakukan dengan metode maserasi yang dimodifikasi,
yakni maserasi, maserasi kinetik, dan maserasi dengan ultrasonik. Hasil rendemen dari
beberapa metode ini cukup bervariasi. Diambil 3 hasil rendemen ekstrak yang tertinggi pada
setiap metode, didapatkan hasil maserasi kinetik (12,19%), maserasi (12,11%), dan maserasi
ultrasonik (11,89%). Hasil rendemen yang didapatkan dari tiap metode menunjukkan
perbedaan hasil yang tidak begitu signifikan. Dilihat dari hasil rendemen yang tertinggi di
peroleh dari metode maserasi kinetik (12,19%), hal ini dikarenakan pada metode ini adanya
faktor yang mempengaruhi saat berlangsungnya poses ekstraksi, yakni pengadukan.
Pengadukan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi proses ekstraksi. Dengan
adanya faktor pengadukan membuat interaksi yang terjadi antara pelarut dengan sampel
semakin maksimal sehingga akan semakin banyak pula senyawa yang tertarik kedalam etanol
sebagai pelarut. Dengan begitu rendemen hasil yang didapatkan juga lebih tinggi.

Hasil rendemen dari metode maserasi dengan ultrasonik lebih rendah yakni 11,89%
dibandingkan dengan metode perendaman (12,11%). Jika dilihat dari metode yang digunakan
seharusnya metode ultrasonik memberikan rendemen hasil yang lebih tinggi dibandingkan
dengan rendemen hasil perendaman. Hal ini dikarenakan metode maserasi dengan metode
ultrasonik memiliki pengaruh adanya faktor gelombang ultasonik yang dapat meningkatkan
interaksi pelarut dengan ekstrak. Sedangkan dibandingakan dengan perendaman yang
perlakuannya tidak dipengaruhi oleh apapun sehingga seharusnya rendemen hasilnya lebih
kecil. Ketidaksesuaian ini bisa diakibatkan oleh pelarut (etanol) mengalami kejenuhan
sehingga tidak dapat mengekstraksi seluruh komponen senyawa metabolit sekunder. Selain
itu juga lolosnya residu saat penyaringan.

Berdasarkan farmakope herbal bahwa persen hasil rendemen pada ekstrak kencur
tidak kurang dari 8,3%. Sehingga dapat disimpulkan dari hasil praktikum kali bahwa
ekstraksi kencur memiliki hasil yang baik. Hasil terbaik didapatkan dari metode maserasi
kinetik.
1.8 Kesimpulan

Dari hasil praktikum pembuatan ekstrak rimpang Kaempferia galanga L. dengan


tiga metode yang berbeda didpatkan kesimpulan sebagai berikut:

 Hasil rendemen tertinggi dari 3 metode didapatkan metode maserasi kinetika yakni sebesar
12,19%.
 Urutan hasil rendemen dari 3 metode yang diambil dari tiap- tiap metode tertinggi yakni
maserasi kinetika (12,19%), perendaman (12,11%), dan maserasi uktrasonik (11,89%).
 Berdasarkan farmakope herbal hasil rendemen ekstrak kencur tidak kurang dari 8,3%,
sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil rendemen ekstrak kencur dengan 3 metode yang
berbeda mendpaatkan hasil yang baik.
LAMPIRAN

Penimbangan serbuk Direndam selama 24 jam


kencur dengan pelarut etanol 96%

Dilakukan penyaringan Dilakukan penyaringan

Residu ditampung untuk Filtrat ditampung


dilakukan remaserasi

Filtrat hasil maserasi dan Dituang didalam loyang lalu diberikan


remaserasi dipekatkan dengan cab-o-sil untuk mempercepat
alat rotavapor pengeringan ekstrak kering