Anda di halaman 1dari 37

BAB I

PENDAHULUAN

1. 1 Latar Belakang

Rumah merupakan kebutuhan dasar manusia yang tidak bisa dipisahkan dari
kehidupan setelah pangan dan pakaian. Fungsi utama rumah adalah sebagai tempat tinggal
atau hunian dan sebagai tempat untuk pembinaan keluarga. Rumah juga berfungsi sebagai
tempat berlindung dari iklim dan tampat menjaga kesehatan keluarga.

Seiring dengan terus meningkatnya jumlah penduduk, kebutuhan rumah tempat


tinggal juga meningkat. Banyaknya pembangunan rumah saat ini, baik yang dibangun
sendiri, pemerintah, maupun swasta harus diperhitungkan dengan baik, seperti dampak
terhadap lingkungan, dampak terhadap kesehatan, sehingga memberi kenyamanan bagi
penghuninya.

Selain perencanaan rumah yang memenuhi standar teknis, hal lain yang penting
dalam pembangunan rumah tinggal yaitu Perencanaan Anggaran Biaya (RAB). Dengan
adanya perencanaan anggaran biaya, dapat mengatur biaya yang keluar sehingga dapat
menghemat biaya, dengan tidak membeli bahan dan material secara berlebihan.

Pada tugas desain ini penulis ingin menghitung Rencana Anggaran Biaya ( RAB )
rumah tempat tinggal lantai satu.

1.2 Perumusan dan Batasan Masalah

Banyaknya pembangunan rumah pada saat ini hendaknya ada ketelitian dalam
perencanaan dan pembangunannya sehingga dapat lebih menghemat biaya yang
dibutuhkan. Karena itu, maka perlu untuk merencanakan rumah tinggal yang sesuai dengan
persyaratan teknis serta menghitung berapa biaya yang dibutuhkan untuk
pembangunannya.

Batasan masalah antara lain sebagai berikut:

1. Membuat rencana kerja dan syarat-syarat teknis


2. Menghitung volume pekerjaan

Roza Wahyuni (1507121999)


Tina Andriani (1507123619)
3. Membuat Rencana Anggaran Biaya (RAB)

1.3 Tujuan Perencanaan

Adapun tujuan dari estimasi biaya adalah:

1. Merencanakan rumah tempat tinggal luas bangunan 144,5 m², luas lahan 187,5 m2
yang merupakan bangunan berlantai dua.
2. Membuat Rencana Anggaran Biaya (RAB) rumah tinggal luas bangunan 144,5 m2, luas
lahan 187,5 m2.

1.4 Manfaat Perencanaan

Manfaat yang dapat diperoleh dalam menghitung estimasi biaya adalah:

1. Untuk memperdalam teori tentang perhitungan anggaran biaya suatu rumah


tinggal, yang diperoleh selama di bangku kuliah.
2. Sebagai sumbangan pemikiran terhadap barbagai pihak untuk menghitung
anggaran biaya suatu rumah tinggal.

1.5 Sistematika Penulisan

Bab I Pendahuluan

Terdiri dari latar belakang, perumusan dan batasan masalah, tujuan


penelitian, manfaat penelitian, batasan masalah dan sistematika penulisan.

Bab II Landasan Teori

Berisikan tentang uraian-urian teori, perencanaan rumah tinggal,


persyaratan teknis pekerjaan, yang dijadikan dasar dalam pembahasan dan
penganalisaan masalah.

Bab III Data Perencanaan

Berisikan data – data perencanaan dan gambar denah

Roza Wahyuni (1507121999)


Tina Andriani (1507123619)
Bab IV Perencanaan dan Perhitungan Anggaran Biaya Rumah Tinggal

Berisikan tentang rencana kerja teknis dan perencanaan anggaran biaya


meliputi, volume/ kubikasi pekerjaan, daftar analisa, dan perhitungan
anggaran biaya.

Bab V Penutup

Berisikan kesimpulan dan saran yang diperoleh dari hasil penelitian dan
pembahasan.

LAMPIRAN

Roza Wahyuni (1507121999)


Tina Andriani (1507123619)
BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Umum dan Unsur-unsur Perencanaan Rumah Tinggal


2.1.1 Pengertian Rumah

Rumah adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan
sarana pembinaan keluarga, tempat berlindung dari iklim dan tempat menjaga kesehatan
keluarga.

2.1.2 Fungsi Bangunan/ Rumah

Menurut (Surowiyono Tutu TW, 2002) fungsi rumah tinggal adalah sebagai tempat
berlindung dari kepanasan dan tempat berlindung dari binatang buas. Selain untuk hal
tersebut, juga sebagai tempat beristirahat, membina individu atau keluarga, tempat bekerja,
dan lambang sosial.

2.1.3 Persyaratan-persyaratan Ruangan

Pada dasarnya suatu rumah tinggal merupakan kesatuan yang terpadu berbagai
ruang dengan fungsi dan sifat yang berbeda-beda. Dalam penyusunan rangkaian ruangan
yang memiliki fungsi dan sifat yang berbeda-beda, sehingga menjadi suatu kesatuan yang
terpadu, diperlukan organisasi ruang yang baik.
Menyusun struktur organisasi ruang yang baik dan benar tidak terlepas dari faktor-
faktor berikut :
2.1.3.1 Fungsi dan Sifat Dasar Setiap Ruangan
Dari segi fungsi, sebuah rumah tinggal mempunyai tiga fungsi umum, yang
selanjutnya dibagi atas beberapa bagian:

1) Bagian yang dipakai bersama


Pada rumah yang besar, setiap ruangan dapat dibuat secara terpisah satu
persatu menurut fungsi dan sifat khususnya. Tetapi pada rumah kecil, satu ruang
dapat berfungsi ganda, asalkan kombinasi fungsi ruang tersebut masih merupakan

Roza Wahyuni (1507121999)


Tina Andriani (1507123619)
satu kelompok ruang (area) sejenis dan sifat dasar masing-masing ruang tidak
terlampau berbeda.

Yang termasuk bagian yang dipakai bersama diantaranya adalah :


a. Ruang tamu
Fungsi ruang tamu adalah sebagai tempat untuk menerima tamu. Kerena
fungsinya untuk menerima tamu, maka ruang tamu direncanakan mampu
menampung interor tamu, seperti kursi tamu, almari dan sebagainya.
b. Teras
Teras merupakan ruang transisi antara ruang luar dan ruang dalam. Fungsi
teras depan lebih ditekankan pada segi estetika dan lebih ditujukan sebagai
welcome area bagi tamu. Sedangkan teras samping atau belakang lebih bersifat
privat dan fungsional, karena lebih diarahkan untuk dapat menampung kegiatan
keluarga atau sebagai media menyalurkan hobi
c. Ruang makan
Fungsi pokok ruang makan adalah tempat makan pemilik rumah yang
digunakan secara rutin setiap hari. Bentuk dan ukuran ruang makan sedapat
mungkin direncanakan dapat menampung minimal seluruh jumlah anggota
keluarga dan direncanakan dekat dengan dapur.
d. Ruang keluarga
Ruang keluarga berfungsi sebagai ruang santai keluarga, misalnya untuk
menonton TV, mendengarkan musik, dan lain-lain.

1. Bagian pribadi (privacy area)


Yang dimaksud area pribadi adalah area yang digunakan untuk beristirahat
penuh (tidur) dan melakukan kegiatan yang bersifat tertutup. Area pribadi terdiri
dari kamar tidur, ruang belajar/ruang kerja.

Roza Wahyuni (1507121999)


Tina Andriani (1507123619)
2. Area pelayanan (serving area)
Area pelayanan adalah area pelengkap untuk pelayanan yang dibutuhkan
dalam suatu rumah. Ruang-ruang yang termasuk dalam kelompok area pelayanan
adalah:
a. Ruang dapur
Fungsi pokok dapur adalah sebagai tempat untuk mempersiapkan makanan dan
minuman.
b. Garasi
Fungsi utama garasi adalah sebagai tempat penyimpanan kendaraan bermotor.
c. Tempat jemur dan cuci
Tempat jemur dan cuci merupakan kebutuhan ruang yang harus
dimiliki oleh setiap rumah, karena kedua ruang tersebut tidak terlepas
dengan rutinitas yang dilakukan oleh pemilik rumah untuk mencuci
pakaian maupun peralatan rumah tangga lainnya. Ruang cuci sedapat
mungkin diletakkan dekat dengan ruang jemur dan sebagai ruang transisi
antara ruang dalam dan ruang luar sehingga menghindari basah pada
permukaan dapur dan ruangan lainnya saat mengangkut pakaian dan
peralatan rumah tangga lainnya sesudah dicuci.

2.1.3.2 Prinsip Penetapan Jumlah dan Ukuran Ruangan

Dalam menetapkan jumlah dan ukuran ruang terlebih dahulu dilakukan


inventarisasi atas hal-hal berikut ini :

1. Jumlah anggota keluarga


Jumlah anggota keluarga dapat digunakan untuk menetapkan jumlah
dan ukuran ruang. Akan tetapi untuk menetapkan jumlah dan ukuran ruang
yang tepat (efisien), perlu dilihat susunan keluarga itu sendiri. Misalnya
jumlah anak laki-laki, jumlah anak perempuan, orang tua dan lain-lain.
Sebab masing-masing memerlukan bentuk/ukuran tertentu.

Roza Wahyuni (1507121999)


Tina Andriani (1507123619)
2. Adat dan kebiasaan
Jika adat kebiasaan keluarga tidak terpenuhi, maka rumah kurang
lengkap dan menyenangkan. Kadang-kadang kebiasaan bertalian erat
dengan profesi kepala keluarga yang bersangkutan.
3. Hobi dan selera
Hobi bukanlah kebutuhan pokok. Maka itu tidak mutlak harus dibuat
ruangan untuk kegiatan hobi. Tetapi jika mungkin dibuat ruang untuk
menampung hobi tentu lebih baik.
4. Ukuran tanah dan dana yang tersedia
Ukuran tanah dan dana yang tersedia merupakan unsur yang sangat
mempengaruhi bentuk, ukuran, dan jumlah ruang yang dapat dibangun.
Dengan ukuran tanah dan dana yang besar tentu saja memungkinkan
perencanaan ruang lebih luas, baik dalam bentuk, ukuran dan jumlah
ruangan.
Jika ukuran tanah dan dana terbatas, tidak berarti bangunan yang
direncanakan pasti kurang baik, kurang indah, dan kurang menyenangkan,
walaupun ukuran tanah dan dana terbatas, akan tetapi jika perencanaan
dilaksanakan dengan benar, akan terwujud rumah yang cukup baik dan
memenuhi persyaratan.
5. Teknis Penyusunan Organisasi Ruang
Organisasi ruangan adalah hal yang penting untuk menjalin
hubungan ruangan yang serasi/terpadu, mengingat bahwa rumah
merupakan suatu kesatuan dari berbagai jenis, bentuk dan ukuran ruang,
dengan fungsi dan sifat yang berbeda-beda.

2.2 Rencana Anggaran Biaya


Perencanaan bangunan adalah merencanakan sesuatu bangunan dalam bentuk dan
faedah dalam penggunaannya ( J. A. Mukomoko, 1982).

Rencana Anggaran Biaya (RAB) suatu bangunan adalah perhitungan banyaknya


biaya yang diperlukan untuk bahan dan upah, serta biaya-biaya lainnya yang berhubungan

Roza Wahyuni (1507121999)


Tina Andriani (1507123619)
dengan pelaksanaan bangunan atau proyek tersebut. Anggaran biaya merupakan harga dari
bangunan yang harus dihitung dengan teliti, cermat dan memenuhi syarat. Anggaran biaya
pada bangunan yang sama akan berbeda-beda di masing-masing daerah, disebabkan karena
perbedaan harga bahan dan upah tenaga kerja.

Biaya (Anggaran) adalah jumlah dari masing-masing hasil perkalian volume


dengan harga satuan pekerjaan yang bersangkutan.
Dapat disimpulkan sebagai berikut :
RAB = ∑ (volume x harga satuan pekerjaan)
Dalam menyusun anggaran biaya dapat dilakukan dengan dua cara sebagai berikut:

2.2.1 Anggaran Biaya Sementara


Anggaran biaya sementara juga dinamakan sebagai rencana anggaran biaya kasar/
taksiran. Sebagai pedoman dalam menyusun anggaran biaya kasar digunakan harga satuan
tiap meter persegi (m²) luas lantai. Anggaran biaya kasar dipakai sebagai pedoman
terhadap anggaran biaya yang dihitung secara teliti. Walaupun namanya anggaran biaya
kasar, namun tiap m² luas lantai tidak terlalu jauh berbeda dengan harga yang di hitung
secara teliti.

2.2.2 Anggaran Biaya Teliti

Anggaran biaya teliti ialah anggaran biaya bangunan atau proyek yang dihitung
dengan teliti dan cermat, sesuai dengan ketentuan dan syarat- syarat penyusunan anggaran
biaya. Pada anggaran biaya, harga satuan di hitung berdasarkan harga taksiran setiap lantai
(m²). Sedangkan penyusunan anggaran biaya yang dihitung dengan teliti, didasarkan atau
didukung oleh:
1) Bestek
Gunanya untuk menentukan spesifikasi bahan dan syarat-syarat teknis.
2) Gambar bestek
Gunanya untuk menentukan/ menghitung besarnya masing-masing volume
pekerjaan.

Roza Wahyuni (1507121999)


Tina Andriani (1507123619)
3) Harga Satuan Pekerjaan
Didapat dari harga satuan bahan dan harga satuan upah berdasarkan perhitungan
analisa SK.SNI.

2.3 Langkah-langkah Perhitungan Biaya Rumah Tinggal


2.3.1 Daftar analisa
Daftar analisa merupakan perumusan atau pedoman untuk menetapkan harga dan
upah dari masing-masing bagian pekerjaan dalam bentuk satuan, juga dapat dipakai untuk
menghitung kebutuhan bahan bangunan yang akan digunakan untuk keperluan pekerjaan.
Harga satuan pekerjaan dapat dibagi dalam harga satuan bahan dan harga satuan upah,
sehingga dalam anggaran biaya dapat dilihat perbandingannya.
Kuantitas atau koefisien yang terdapat dalam daftar analisa terdiri dari dua
kelompok, yaitu :
a. Kuantitas satuan untuk bahan. Kegunaan untuk kalkulasi biaya bahan yang diperlukan.
b. Kuantitas satuan untuk pekerja. Kegunaannya untuk menghitung jumlah upah yang
mengerjakan.

Cara penggunaannya adalah angka analisa/ koefisien dikalikan dengan harga bahan
atau harga upah setempat, maka didapatlah harga satuan pekerjaan.

Yang dimaksud dengan analisa bahan suatu pekerjaan ialah menghitung


banyaknya/ volume masing-masing bahan serta besarnya biaya yang dibutuhkan.
Sedangkan yang dimaksud dengan analisa upah suatu pekerjaan ialah menghitung
banyaknya tenaga kerja yang diperlukan, serta besarnya biaya yang dibutuhkan untuk
pekerjan tersebut.

2.3.2 Volume atau Kubikasi Pekerjaan

Volume suatu pekerjaan adalah menghitung jumlah banyaknya volume pekerjaan


dalam satu satuan. Volume disebut juga sebagai kubikasi pekerjaan. Dengan kata lain
volume suatu pekerjaan bukanlah merupakan volume (isi sesungguhnya) melainkan jumlah
volume bagian pekerjaan dalam satu kesatuan.

Roza Wahyuni (1507121999)


Tina Andriani (1507123619)
Sedangkan yang dimaksud dengan uraian volume pekerjaan ialah menguraikan
secara rinci besar volume atau kubikasi suatu pekerjaan, menguraikan berarti menghitung
besar volume masing-masing pekerjaan sesuai dengan gambar bestek dan gambar detail.
Cara menghitung volume tiap-tiap pekerjaan adalah sebagai berikut:
a. Pekerjaan persiapan
1. Menyiapkan tanah untuk bangunan termasuk menebang pohon, membersihkan dan
meratakan tanah dihitung dalam m².
2. Pembuatan bouwplank diukur dalam satuan m¹.

b. Pekerjaan tanah
1. Galian tanah untuk pondasi dihitung dalam satuan m³.
Cara menghitung yaitu penampang galian x jumlah panjang pondasi (as ke as).
2. Pekerjaan timbunan, satuan m³.
Cara menghitung : 2/3 galian tanah.

c. Pekerjaan pasangan dan plesteran


1. Pondasi batu bata, satuan m³
Cara menghitung : luas penampang dikali panjang pondasi (p x l x t ).
2. Tembok/ dinding, satuan m³.
Cara menghitung : Luas bidang tembok dikali tebal. Untuk luas bidang tembok :
jumlah panjang dikali tinggi tembok dikurangi jumlah luas kusen pintu/ jendela/
ventilasi.
3. Pekerjaan beton dan beton bertulang, satuan m³.
Cara menghitung : panjang x lebar x tinggi.
4. Plesteran, satuan m².
Cara menghitung : 2 x panjang x lebar. ( 2 disini adalah bidang plesteran luar dan
dalam).

d. Pekerjaan kayu
1. Kozen pintu dan jendela, dihitung dalam satuan m³.
Cara menghitung : luas penampang kayu x jumlah panjang

Roza Wahyuni (1507121999)


Tina Andriani (1507123619)
2. Daun pintu dan jendela dihitung dalam m².
Cara menghitung : lebar x tinggi jendela/ daun pintu.
4. Kuda-kuda dihitung dalam satuan m³.
Cara menghitung penampang x jumlah panjang. Sebuah kuda-kuda terdiri dari
makelar, kaki kuda-kuda, balok tarik, gapit, skor tegak/ miring, dan sebagainya.
5. Rangka plafond dihitung dalam satuan m2 dan piri-piri dihitung dalam satuan m².

e. Pekerjaan atap, satuan digunakan m².


Cara menghitung : Sesuai dengan bentuk atap.
Bidang segi empat = panjang x lebar, bidang segitiga = ½ alas x tinggi, bidang
trapesium = ½ jumlah sisi sejajar x tinggi.

f. Pekerjaan lantai
1. Urugan pasir bawah pondasi setebal yang telah ditentukan dalam gambar bestek
dihitung dalam satuan m³.
Cara menghitung : panjang x lebar x tebal pasir.
2. Lantai keramik dihitung dalam satuan m².
Cara menghitung : panjang x lebar.

g. Pekerjaan pengecetan
Pekerjaan pengecetan adalah mengecet segala kayu yang terlihat/terketam dihitung
berdasarkan satuan luas. Untuk kozen = ketiga sisi/empat sisi penampang dikali
panjang kozen. Untuk dinding dihitung berdasarkan satuan luas, panjang x tinggi
dinding.

h. Pekerjaan gantungan dan kunci


1. Pemasangan kaca jendela dan pintu dihitung dalam m².
Volume = panjang x lebar, dihitung kaca yang masuk kedalam kozen atau
rangkanya.
2. Engsel pintu dan jendela dihitung jumlah pemakaian yang dibutuhkan dengan
satuan buah.

Roza Wahyuni (1507121999)


Tina Andriani (1507123619)
3. Kunci tanam dihitung pemakian dan merek yang digunakan.
4. Grendel dan hak angin dihitung berapa kebutuhannya

i. Pekerjaan instalasi listrik dan air


Pada instalasi listrik biaya dihitung jumlah titik lampu ditambah stop kontak yang
dipakai dan dikalikan dengan biaya pertitik, tidak termasuk biaya bola lampu.
Pada instalasi air biaya dihitung jumlah panjang pipa air bersih, pipa air kotor dan pipa
ke septictank ditambah dengan jumlah klosed, kran air dan alat sanitasi lainnya yang
digunakan.

j. Pekerjaan lain-lain
1. Besi angker, baut mur dihitung dan ditaksir dalam satuan kilogram atau buah.
2. Pembersihan lokasi ditaksir.

2.3.3 Harga Satuan Pekerjaan


Yang dimaksud dengan harga satuan pekerjaan adalah jumlah harga bahan dan
upah tenaga kerja berdasarkan perhitungan analisis. Harga bahan didapat dipasaran dibuat
dalam satu daftar yang dinamakan daftar harga satuan bahan. Harga upah didapat dilokasi
proyek yang dibangun yaitu upah setempat, dan dibuat dalam satu daftar yang dinamakan
daftar harga satuan upah.
Ada tiga istilah yang harus dibedakan dalam menyusun anggaran biaya bangunan
yaitu, harga satuan bahan, harga satuan upah, dan harga satuan pekerjaan.

Yang dimaksud dengan analisa bahan suatu pekerjaan adalah manghitung


banyaknya/ volume masing-masing bahan, serta besarnya biaya yang dibutuhkan.
Sedangkan yang dimaksud dengan analisa upah suatu pekerjaan adalah menghitung
banyaknya tenaga yang diperlukan, serta besarnya biaya yang dibutuhkan untuk pekerjaan
tersebut.

Roza Wahyuni (1507121999)


Tina Andriani (1507123619)
Berikut skema dari harga satuan pekerjaan :

Harga Satuan Bahan

Bahan
Analisa Bahan

Harga Satuan Pekerjaan

Harga Satuan Upah

Upah

Analisa Upah

2.3.4 Estimate Real of Cost


Susunan estimasi real of cost dapat dilihat bahwa biaya (anggaran) adalah jumlah
dari masing-masing hasil perkalian volume dengan harga satuan pekerjaan yang
bersangkutan.
Secara umum dapat disimpulkan sebagai berikut:
RAB = Ʃ (VOLUME x HARGA SATUAN PEKERJAAN)

Dalam Estimasi Real Of Cost atau anggaran sesumgguhnya biaya-biaya lain yang
berhubungan dengan pelaksanaan pekerjaan sengaja tidak dimasukkan. Biaya-biaya
tersebut akan dibahas dalam buku dokumen pelelangan.
Biaya-biaya lain tersebut antara lain adalah sebagai berikut:
 Keuntungan
 Biaya Perencanaan (Design Cost)
 Biaya Pengawasan (Direksi Furing)
 Izin Mendirikan Bangunan (IMB)
 Dll

Roza Wahyuni (1507121999)


Tina Andriani (1507123619)
2.3.5 Persentase Bobot Pekerjaan
Yang dimaksud dengan persen bobot pekerjaan adalah besarnya persen pekerjaan
siap, dibanding dengan pekerjaan siap seluruhnya. Pekerjaan siap seluruhnya dinilai 100%.
Sebagai contoh misalnya pekerjaan:
1. 1a. Pemebersihan Lapangan.
Volume = 225,45 m²
Harga satuan = Rp. 196,25
Harga bangunan = Rp. 19.855.467
Persentase bobot pekerjaan pembersihan lapangan
𝐕𝐨𝐥𝐮𝐦𝐞 𝐱 𝐇𝐚𝐫𝐠𝐚 𝐒𝐚𝐭𝐮𝐚𝐧
𝐏𝐁𝐏 = 𝐱 𝟏𝟎𝟎%
𝐇𝐚𝐫𝐠𝐚 𝐁𝐚𝐧𝐠𝐮𝐧𝐚𝐧
𝟐𝟐𝟓, 𝟒𝟓 𝐱 𝟏𝟗𝟔, 𝟐𝟓
= 𝐱 𝟏𝟎𝟎%
𝟏𝟗. 𝟖𝟓𝟓. 𝟒𝟔𝟕
= 0,22%
Jadi seandainya pekerjaan pembersihan lapangan telah siap seluruhnya maka
persentase bobot pekerjaannya = 0,22 % terhadap pekerjaan seluruhnya. Dari uraian
persentase bobot pekerjaan di atas dapat digambarkan dengan skema,

𝑉 𝑥 𝐻. 𝑆. 𝑃 Ket : V : Volume
𝑥100% = 𝑃. 𝐵. 𝑃
𝐻. 𝐵 H.S.P : Harga Satuan Pekerjaan
H.B : Harga Bamgunan
P.B.P : Persentase Bobot Bangunan
2.3.6 Tenaga Kerja
Yang dimaksud dengan tenaga kerja adalah besarnya jumlah tenaga kerja yang
dibutuhkan untuk menyelasikan bagian pekerjaan dalam satu kesatuan pekerjaan. Sebagai
contoh: besarnya jumlah tenaga kerja yang diperlukan untuk menggali 1 m³ tanah.
Analisis 1 diperlukan tenaga:
0,75 pekerja
0,025 Mandor
Indeks (indek) di atas mempunyai pengertian bahwa, 0,75 P bekerja besama-sama
dengan 0,025 M akan menghasilkan 1 m³ galian tanah dalam satu hari.

Roza Wahyuni (1507121999)


Tina Andriani (1507123619)
Perbandingan antara tenaga pekerja dan mandor adalah sebagai berikut:
𝟕𝟓𝟎 𝑷 𝟑𝟎𝑷
=
𝟐𝟓 𝑴 𝟏𝑴
Dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa 1 mandor dapat mengepalai 30 orang
pekerja. Seandainya volume galian tanah 130 m³, maka tenaga yang diperlukan adalah
sebagai berikut:
Pekerja = 130 x 0,75 = 97,50
Mandor = 130 x 0,025 = 3,25
Dengan tenaga 97,5 pekerja 3,25 mandor akan menghasilkan galian tanah 130 m³
Dalam jangka waktu 1 hari.
Dari contoh diatas dapat di ketahui bahwa pengertian tenaga kerja adalah jumlah
tenaga yang dibutuhkan untuk menyelesaikan satu kesatuan pekerjaan.
2.3.7 Bahan/Material
Yang dimaksudkan dengan bahan atau material adalah besarnya jumlah bahan yang
dibutuhkan utnuk menyelesaikan bagian pekerjaan dalam satu kesatuan pekerjaan. Sebagai
contoh: 1 m³ pasangan batu kali dengan campuran 1 semen, 4 pasir diperlukan bahan :
 1,2 m³ batu kali
 0,9 tong semen = 4,0715 sak
 0,522 m³ pasir
Apabila volume pasangan batu kali bukan 1 m³ melainkan sejumlah 37,65 m³, maka
jumlah bahan yang dibutuhkan sebagai berikut:
 Batu kali = 37,65 x 12 m³ = 45,18 m³
 Semen = 37,65 x 4,0715 sak = 153,29 sak
 Pasir = 37,65 x 0,522 = 19,65 m³
Dari contoh dan pekerjaan di atas, dapat disimpulkan bahwa jumlah bahan yang
dibutuhkan untuk satu unit/bagian pekerjaan = volume x indeks analisis bahan.
2.4 Pedoman Pelaksanaan
2.4.1 Bestek
Bestek berasal dari bahasa Belanda yang berarti peraturan dan syarat-syarat
pelaksanaan suatu pekerjaan bangunan atau proyek. Jadi, bestek adalah suatu peraturan

Roza Wahyuni (1507121999)


Tina Andriani (1507123619)
yang mengikat, diuraikan sedemikian rupa, terinci cukup jelas dan mudah dipahami. Pada
umumnya bestek dibagi tiga bagian antara lain:
a. Peraturan umum.
b. Peraturan administrasi.
c. Peraturan dan syarat-syarat teknis.

2.4.2 Gambar bestek


Gambar bestek adalah lanjutan dari uraian gambar pra rencana, dan gambar detail
dasar dengan skala (PU =Perbandingan Ukuran) yang lebih besar. Gambar bestek berguna
untuk menentukan/ menghitung besarnya masing-masing volume pekerjaan dan juga
merupakan lampiran dari uraian dan syarat-syarat (bestek) pekerjaan:

Gambar bestek dan bestek merupakan kunci pokok atau tolak ukur baik dalam
menentukan kualitas dan skop pekerjaan, maupun dalam menyusun rencana anggaran
biaya. Gambar bestek terdiri dari:
1) Gambar situasi, PU 1 : 200 atau 1 : 500, terdiri dari:
a. Rencana letak bangunan
b. Rencana halaman
c. Rencana jalan dan pagar
d. Rencana saluran pembungan air hujan
e. Rencana garis batas tanah
2) Gambar denah, PU 1 : 100
Gambar denah melukiskan gambar tapak setinggi ± 1,00 m dari lantai, hingga gambar
pintu dan jendela terlihat dengan jelas, sedangkan gambar penerangan atas (bovenlich)
digambar dengan garis putus-putus. Pada denah juga digambar garis atap dengan garis
putus-putus lebih awal dan jelas sesuai dengan bentuk atap. Lantai gedung induk
dengan duga (peil) ditandai dengan ± 0.00. Gambar kolom (tiang) dan beton dibedakan
dari pasangan tembok.
3) Gambar potongan, PU 1 : 100
Gambar potongan terdiri dari potongan melintang dan membujur menurut
keperluannya. Untuk menjelaskan letak atau kedudukan suatu konstruksi, pada gambar

Roza Wahyuni (1507121999)


Tina Andriani (1507123619)
potongan harus tercantum duga (peil) dari lantai, misalnya, dasar pondasi, letak tinggi
jendela dan pintu, tinggi langit-langit, tinggi bangunan, nok reng balok/ muurplat.
4) Gambar tampak (pandangan), PU 1 : 100
Pada gambar tampak tidak dicantumkan ukuran-ukuran lebar maupun tinggi bangunan.
Gambar tampak lengkap dengan dekorasi yang disesuaikan dengan perencanaan.
5) Gambar konstruksi, PU 1 : 20 atau 1 : 50
Gambar konstruksi lengkap dengan ukuran-ukuran, terdiri dari:
a. Gambar rencana pondasi.
b. Gambar konstruksi beton bertulang.
c. Gambar konstruksi kayu.
6) Gambar rencana atap, PU 1 : 100
Gambar rencana atap menggambarkan bentuk konstruksi rencana atap lengkap dengan
kuda-kuda, nok gording, muurplat/ reng balok, talang air, usuk/kasau dan konstruksi
penahan dengan jelas.
7) Gambar rencana plafond, PU 1:100
Gambar rencana plafond menggambarkan bentuk plafond, rangka plafond, dan tinggi
plafond dari permukaan lantai yang diberi tanda (+).
8) Gambar Pelengkap
Gambar pelengkap terdiri dari:
a. Gambar instalasi listrik.
b. Gambar sanitasi.
c. Gambar saluran pembuangan air kotor.
d. Gambar saluran pembuangan air hujan.

2.4.3 Rencana Kerja Syarat-syarat Teknis


Rencana kerja dan syarat-syarat teknis merupakan bagian dari bestek. Disini penulis akan
membatasi pada pembuatan rencana kerja dan syarat-syarat teknis, yaitu menjelaskan hal
yang berkaitan pada teknisnya saja. Rencana kerja dan syarat-syarat teknis akan penulis
bahas pada bab IV kertas karya ini.

Roza Wahyuni (1507121999)


Tina Andriani (1507123619)
BAB III

DATA PERENCANAAN

Rumah tinggal yang terdiri dari 2 lantai dengan luas lantai 127.75 m2. Untuk data
lebih lanjut dapat dilihat pada lampiran.

Gambar 3.1 Tampak depan

Proyek : Estimasi biaya perencanaan rumah tinggal luas lantai 225 m2.
Lokasi : Jalan Srikandi Pekanbaru

Roza Wahyuni (1507121999)


Tina Andriani (1507123619)
Gambar 3.2 Denah Lantai 1

Roza Wahyuni (1507121999)


Tina Andriani (1507123619)
Gambar 3.3 Denah Lantai 2

Roza Wahyuni (1507121999)


Tina Andriani (1507123619)
BAB IV

PERENCANAAN DAN PERHITUNGAN ANGGARAN BIAYA


RUMAH TEMPAT TINGGAL LUAS LANTAI 127.75 M2

4.1 Perencanaan Rumah

Perencanaan rumah tempat tinggal pada tugas akhir ini merupakan bangunan
berlantai dua, yang memiliki beberapa ruangan diantaranya: teras, ruang tamu, ruang
keluarga, ruang/ruang baca, ruang tidur utama, ruang tidur anak, ruang tidur tamu, ruang
tidur pembantu, dapur, ruang makan KM/CW, tempat cuci.

Keistimewaan dari bangunan ini adalah dapur dan ruang makan yang sengaja
didesain sedikit penyekat antara kedua ruangan tersebut, untuk memberi kemudahan dalam
berlalu lintas, keistimewaan berikutnya adalah ruang tidur utama didesain luas dan
memiliki KM/WC di dalamnya, tujuannya untuk memberi kenyaman bagi penghuninya
jika beraktifitas di dalamnya, dengan demikian ruang tidur bisa menjadi tempat beraktifitas
yang menyenangkan dan bisa dimamfaatkan sebagai ruang kerja.

Pada bagian depan lantai I rumah terdapat teras yang berfungsi sebagai tempat
santai keluarga, pada lantai II terdapat balkon yang juga berfungsi sebagai tempat santai
keluarga. Bentuk atap bangunan rumah ini berbentuk trapesium yang menggunakan bahan
atap genteng metal super steel berkualis baik. Rumah ini dilengkapi dengan sanitair yang
cukup baik, semua kamar mandi terdapat closed duduk. Sumber air bersih pada rumah ini
berasal dari sumur bor, yang direncanakan dengan jarak 10 m dari septicktank. Rumah ini
juga dilengkapi dengan saluran keliling sebagai tempat pembuangan air kotor dan air
hujan.

Gambar rencana teras, ruang tamu, ruang keluarga, ruang/ruang baca, ruang tidur
utama, ruang tidur anak, ruang tidur tamu, ruang tidur pembantu, dapur, ruang makan
KM/CW, tempat cuci dapat dilihat pada lampiran.

Perhitungan luas lantai berdasarkan gambar rencana terlihat pada tabel 4.1 di
bawah ini.

Roza Wahyuni (1507121999)


Tina Andriani (1507123619)
Tabel 4.1 Perhitungan luas lantai

No Jenis Ruang Ukuran Ruangan Luas Ruangan


Lantai I
1 Teras depan 3m x 1.5 m 4.5 m ²
2 Ruang tamu 3m x 3m 9m²
3 Ruang makan 2m x 3m 6m²
4 Dapur 2m x 3m 6m²
5 Ruang tidur anak 4m x 3.5m 14 m ²
6 Ruang tamu 3m x 2.5m 7.5 m ²
7 KM/WC 2.5 x 1m 2.5 m ²
8 Garasi 3m x 5.5m 16.5 m ²
9 KM/tempat cuci 1.5m x 1.5m 2.25m ²
10 KM/WC 2m x 2m 4 m²
11 Gudang 2m x 3m 6m²
TOTAL 78.25 m ²
Lantai II
1 Kamar tidur anak 3.5m x 4m 14 m ²
2 Kamar tidur utama 3m x 4.5m 13.5 m ²
3 KM/WC 1.5m x 1.5m 2.25 m ²
4 KM/wc 1.5m x 1.5m 2.25 m ²
5 Ruang keluarga 2.5m x3m 7.5 m ²
6 Perpustakaan 2m x3m 6 m²
7 Balkon 2m x 2m 4 m²
TOTAL 49.5 m ²

4.2 Rencana Kerja dan Syarat-Syarat Teknis

1. Pekerjaan Persiapan

a. Sebelum melaksanakan pekerjaan fisik, harus dipersiapkan jalan ke lokasi proyek


untuk mempermudah pemasukan bahan bangunan ke lokasi proyek/pekerjaan.

b. Sebelum dimulainya pekerjaan fisik, terlebih dahulu lokasi harus dibersihkan dari
semak-semak dan pohon-pohon yang akan mengganggu kelancaran pekerjaan.

Roza Wahyuni (1507121999)


Tina Andriani (1507123619)
c. Pembersihan lokasi dilaksanakan sesuai dengan ukuran areal yang ditetapkan
dalam gambar atau ditentukan oleh pengawas, semua lokasi proyek harus bersih
dari bekas-bekas pembuangan/sampah

d. Sebelum memulai pelaksanakan pekerjaan, maka pemborong/pemilik bangunan


harus terlebih dahulu merundingkan pembagian halaman kerja untuk tempat
mendirikan gudang dan los kerja tempat penimbunan bahan-bahan dan lain
sebagainya.

e. Untuk keperluan pelaksanaan pekerjaan di lokasi, maka pemborong/pemilik


bangunan dengan biaya sendiri harus menyediakan gudang tempat penyimpanan
bahan-bahan dan alat-alat kerja serta los kerja.

f. Gudang dan los kerja dapat di bongkar setelah pekerjaan selesai 100% dan
pembongkaran mendapat izin dari pemilik bangunan tersebut.

g. Pekerjaan Pemasangan Bouwplank :

- Pemasangan bouwplank (pematokan) dilaksanakan bersama-sama pemilik


proyek dan pengawas serta kepala tukang.

- Pematokan harus dilaksanakan dengan memakai alat ukur yang sesuai dengan
kebutuhan, peil lantai + 0.00 adalah 30 cm dari muka halaman yang tertinggi
dari bangunan.

- Pasang bouwplank dilaksanakan 150 cm dari as bangunan.

- Peil + 0.00 dibuat dari patok kayu 5/7 yang ditanam dalam tanah, telah
ditentukan pada waktu pematokan .

2. Pekerjaan Pondasi

a. Sebelum dimulai pekerjaan pondasi, maka semua lubang-lubang untuk pondasi


harus mendapat persetujuan dari pemilik bangunan, mengenai ketepatan ukuran dan
bentuknya.

Roza Wahyuni (1507121999)


Tina Andriani (1507123619)
b. Dasar galian pondasi diberi lapisan pasir setebal 5 cm padat, memadatkanya tidak
boleh disiram dengan air.

c. Cor lantai kerja 1 pc : 3 ps : 5 kr, tebal 5 cm.

d. Sistem pondasi yang digunakan pada bangunan ini adalah :

- Pondasi telapak beton bertulang, bentuk dan ukuran sesuai dengan gambar
rencana.

- Pondasi menerus dari batu-bata campuran 1 pc : 4 ps, ukuran harus sesuai


gambar rencana

- Balok sloof beton bertulang yang menghubungkan antara dua pondasi telapak,
bentuk dan ukuran sesuai dengan gambar rencana.

3. Pekerjaan Struktur Beton

a. Rangka bangunan dipakai kolom induk dan kolom praktis dimensi sesui gambar,
untuk ukuran dan bentuk pembesian sesuai gambar dan terpasang baik pada waktu
pengecoran.

b. Balok lantai terdiri dari balok induk, yaitu balok yang membentang diantara dua
kolom, bentuk serta ukuran maupum pembesianya sesuai gambar.

c. Plat lantai II merupakan plat lantai beton bertulang, bentuk serta ukuran sesuai
dengan gambar .

d. Pekerjaan ring balok

- Diameter besi dan bentuk penulangan harus sesuai dengan gambar


rencana/detail.

- Tinggi dan lebar ring balok sesui dengan ukuran pada gambar rencana.

- Cor ring balok dengan perbandingan 1 pc : 3 ps : 5 kr.

Roza Wahyuni (1507121999)


Tina Andriani (1507123619)
4. Pekerjaan Dinding

a. Batu bata yang digunakan batu bata dari daerah Kulim dengan kualitas baik.

b. Pasangan batu bata seluruh dinding di atas sloff setinggi 30 cm dipasang dengan
adukan spesi 1 pc : 2 ps (trasram). Untuk kamar mandi, tinggi trasram 1.5 m.

c. Pasangan batu bata diatas ketingian 30 cm sampai ring balok menggunakan adukan
spesi 1 pc : 4 ps

d. Pasangan batu bata pada dinding harus dipasang dengan sebaik-baiknya, pasangan
harus rapi, pasangan dinding batu bata yang tidak rata harus dibongkar

5. Pekerjaan Kusen Pintu dan Jendela

a. Jenis kayu yang digunakan adalah kayu kemper/sejenisnya dengan ukuran yang
disesuaikan dengan gambar rencana.

b. Pemasangan kusen harus benar-benar waterpass dan tegak lurus.

c. Pemasangan yang tidak waterpass, tidak tegak lurus harus dibongkar dan
diperbaiki.

d. Pekerjaan ventilasi/lubang angin yang digunakan adalah dari kayu kemper/


sejenisnya.

e. Ukuran dan bentuk di sesuaikan dengan gambar rencana.

f. Kaca jendela dan kaca mati menggunakan kaca tebal 5 mm.

6. Pekerjaan Plesteran

a. Sebelum memulai pekerjaan plesteran, semua pipa untuk instalasi listrik atau
instalasi air, yang akan terpasang/tertanam dalam dinding harus sudah tertanam
dengan baik.

b. Permukaan dinding batu bata yang akan diplaster disiram dengan air sampai jenuh.

c. Pondasi menerus batu bata diplaster campuran 1 pc : 4 Ps.

Roza Wahyuni (1507121999)


Tina Andriani (1507123619)
d. Dinding batu bata luar dan dalam ketinggian kurang dari 30 cm di plaster dengan
adukan 1 pc : 2 ps (trasram)

e. Dinding batu bata luar dan dalam ketinggian di atas 30 cm di plaster dengan adukan
1 pc : 4 ps.

f Dinding kamar KM/WC setinggi 150 cm dari lantai dipasang keramik ukuran 20 x
20 dengan merek masterina/sejenisnya.

7. Pekerjaan Tangga

a. Tangga penghubung antara lantai I dan lantai II digunakan tangga beton bertulang,
bentuk serta ukuran sesuai sengan gambar rencana.

b. Tangga dilapisi lantai keramik 30x30 cm dengan merek masterina/sejenisnya dan


dipasang dengan rapi.

c. Bagian samping tangga diberi pengaman atau railing tangga yang terbuat dari besi
bulat diameter 2” yang telah dilapisi stenless, bentuk dan ukuran sesuai gambar
rencana.

8. Pekerjaan Rangka Atap

a. Rangka atap berupa kuda-kuda, balok gording, kasau, reng dan lain-lain, dibuat
dari kayu meranti/kayu kelas II berkulitas baik, tua dan kering.

b. Pembuatan kuda-kuda untuk ketepatan bentuk ukuran harus memperhatikan


gambar detail kuda-kuda.

c. Hubungan antara kuda-kuda diperkuat dengan menggunakan skor angin sebanyak


dua batang, dipasang secara bersilang.

d. Perletakan gording harus diperkuat dengan menggunakan klos dan jarak antara
gording disesuaikan dengan gambar detail.

e. Diatas gording dipasang kasau kayu, diatas kasau dipasang kayu reng sebagai
tempat perletakan atap. Ukuran dan jarak kayu disesuaikan dengan gambar rencana.

Roza Wahyuni (1507121999)


Tina Andriani (1507123619)
g. Pada pucuk kuda-kuda diberi nok gording dan kemudian dipasang papan
reuiter/.papan perabung ukuran 2/20 cm sebagai lapisan pemasangan perabung.

h. Pekerjaan lisplank

- Lisplank menggunakan lisplank beton campuran 1 pc : 2 ps : 3kr

- Pemasangan lisplank harus benar-benar lurus dan rapi.

j. Seluruh permukaan kayu kuda-kuda, gording dan skor angin, balok bubungan, kayu
kasau, kayu reng diberi residu dengan baik dan rata terlebih dahulu sebelum ditutup
dengan atap.

k. Sambungan diberi baut penguat dan plat

9. Pekerjaan Penutup Atap

a. Atap yang digunakan adalah atap genteng metal super steel setara multi roof tebal
0.2 mm

b. Pemasangan atap genteng metal, harus dilaksanakan dengan baik dan rapi, dipasang
dengan menggunakan paku atap berkualitas baik.

c. Rabung/jurai atap dipasang rabung/jurai genteng metal.

d. Atap, rabung dan nok pinggir merupakan genteng metal setera multi roof dengan
ketebalan 0,2 mm.

10. Pekerjaan Plafond

a. Untuk rangka dipakai kayu sejenis meranti, balok induk ukuran 5x10 cm dipasang
menurut lebar ruangan dan keliling ruangan untuk balok pembagi menggunakan
balok ukuran 5x7 cm, pertemuan balok pembagi harus diperkuat dengan
menggunakan klos ukuran 3x4 cm.

b. Pemasangan rangka plafond sesuai dengan pembagi plafond dan bagian bawah
rangka harus diketam rata.

Roza Wahyuni (1507121999)


Tina Andriani (1507123619)
c. Ketinggian pemasangan rangka plafond sesuai dengan gambar rencana,
pemasangan digantungkan pada balok kuda-kuda dengan menggunakan balok
penggantung 5/7 cm yang kuat.

d. Penutup plafond dalam ruangan dan selasar dipakai plafond gypsum tebal 5 mm
dan pertemuan plafond dengan dinding dipasang list plafond gypsum sesuai
dengan gambar rencana.

e. Pentup plafond pada talang lisplank menggunakan piri-piri, dipakai kayu 2/10 cm
sejenis meranti.

f. Bentuk dan motif sesuai gambar rencana.

11. Pekerjaan Lantai

a. Sebelum pemasangan lantai dasar dimulai terlebih dahulu dilakukan penimbunan


tanah urug padat pada seluruh luasan lantai ruangan, pemadatan tidak boleh disiram
dengan air. Pemadatan dilakukan dengan cara menumbuk memakai alat penumbuk
manual atau memakai alat penumbuk mekanik atau stemper.

b. Diatas tanah timbun yang telah dipadatkan diberi laipisan pasir setembel 5 cm,
pemadatan pasir disiram dengan air.

c. Setelah urugan pasir diberi coran beton campuran 1 pc : 3 ps : 5 kr setebal 10 cm

d. Bahan lantai yang digunakan adalah :

- Untuk seluruh lantai ruangan lantai dasar dan lantai II dipakai keramik 30 x 30
cm setara masterina.

- Untuk lantai KM/WC dipakai keramik 20 x 20 cm setara masterina.

12. Pekerjaan Kunci dan Alat Penggantung

a. Pemasangan kunci tanam harus dikerjakan dengan teliti, sehingga menghasilkan


suatu pekerjaan yang baik dan memuaskan

Roza Wahyuni (1507121999)


Tina Andriani (1507123619)
b. Setiap daun pintu dipasang 3 buah engsel, 2 buah grendel, sedangkan pada jendela
kaca setiap daunnya dipasang 2 buah engsel, 2 buah grendel, 2 buah hak angin dan
1 buah tangan-tangan.

13. Pekerjaan Sanitasi dan Septic Tank

a. Pemasangan pipa air bersih, instalasi air kotor harus disesuaikan dengan gambar
rencana

b. Instalasi air bersih :

- Saluran air bersih untuk di luar bangunan dipakai pipa PVC Ø 3/4” pemasangan
tertanam didalam tanah.

- Saluran air bersih untuk didalam ruangan dipakai pipa PVC Ø 3/4”,
pemasangan tertanam pada dinding.

- Penyambungan pipa menggunakan soket untuk sambungan lurus dan elbow


untuk pembelokan, penyambungannya harus kuat dan tidak bocor.

- Titik instalasi air bersih dianggap selesai setelah diadakan pengujian seluruh
instalasi.

c. Instalasi air kotor

- Air kotor dari klosed dialirikan ke bak kontrol dengan menggunakan pipa PVC
Ø 4”, tebal 3 mm, dan dari bak kontrol ke septic tank dengan menggunakan
pipa yang sama.

- Baik pipa air kotor maupun air bersih yang lewat dari lantai II kelantai dasar
ditempatkan pada jalur pipa berupa saf dari pasangan bata dan bagian luarnya
diplaster seperti pasangan dinding.

d. Instalasi air buangan/air hujan

- Air hujan dari atap dialirkan menggunakan pipa PVC Ø 2.5”, yang ditanamkan
didalam kolom .

Roza Wahyuni (1507121999)


Tina Andriani (1507123619)
- Air buangan dari dapur dialirkan menggunakan pipa PVC Ø 2.5”, yang
dipasang dinding bagian luar.

- Air baungan dari kamar mandi dialirkan menggunakan pipa PVC Ø 2.5”, yang
dipasang sesuai dengan gambar rencana.

- Semua air buangan dan air hujan dilirkan ke parit.

e. Septic tank :

- Ukuran dan bentuknya disesuaikan dengan gambar detail.

- Adukan untuk batu bata, raben dan plasteran dinding menggunakan adukan 1 :
2 (kedap air)

f. Peresapan :

- Ukuran dan bentuk dan lapisan-lapisan sesuai gambar detail peresapan.

- Air kotor dari septic tank dialirkan ke peresapan, dengan menggunakan pipa
PVC Ø 4” tebal 3 mm

g. Alat-alat sanitasi yang digunakan antara lain :

- Klosed duduk porselin - Bak air fiber

- Wastafel porselin - Floor drain

14. Pekerjaan Instalasi Listrik

a. Instalasi listrik dipersiapkan dengan tegangan 220 volt, pemasangan harus memakai
Biro Instalator yang sudah diakui/mendapat izin dari Perusahaan Listrik Negara
setempat

b. Jumlah titik lampu dan stop kontak maupun perletakannya sesuai dengan gambar
rencana.

Roza Wahyuni (1507121999)


Tina Andriani (1507123619)
c. Saklar dan stop kontak ditanamkan dalam tembok setinggi 150 cm dari lantai

d. Semua armateur lampu dipasang menempel diluar plafond

e. Pipa intalasi dan kabel listrik dipakai harus memenuhi standar PLN

f. Pada lantai dasar diberi panel box yang berfungsi sebagai panel penghubung dan
pembagi atau pendistribusian arus

g. Pada lantai II diberi panel box yang befungsi sebagai panel pembagi atau
pendistribusian arus.

h. Bentuk letak disesuai dengan gamber rencana.

15. Pekerjaan Pengecatan dan Sejenisnya

a. Pengecatan tembok

- Sebelum pengecatan dimulai tembok yang akan dicat harus benar-benar kering.

- Tembok yang akan dicat terlebih dahulu diberi lapisan pelamir hingga merata
dan kering kemudian dihaluskan dengan amplas.

- Setelah lapisan plamir dihaluskan, permukaan tembok diberi lapisan cat dasar.

- Setelah cat dasar mengering dilanjutkan dengan pengecatan kedua.

- Semua bata dan pertisi gypsum dicat dengan cat air berkualitas baik.

b. Pengecatan kayu

- Komponen-komponen bangunan yang dicat untuk pekerjaan kayu :

- Semua kayu kuda-kuda, rangka atap, rangka plafond diawetkan dengan residu
minimum dengan tiga kali sapuan merata pada seluruh permukaan kayu.

- Piri-piri dicat dengan cat minyak tiga kali sapu

c. Proses pekerjaan pengecatan adalah sebagai berikut :

Roza Wahyuni (1507121999)


Tina Andriani (1507123619)
- Diratakan hingga lubang-lubang yang ada dan pertemuan kayu tertutup dengan
rata dan dogosok sampai halus dengan amplas.

- Diberi cat finishing minimal tiga kali sapuan hingga merata dengan platone, dan
warna disesuai dengan keinginan pemilik/gambar rencanas

16. Pekerjaan Pembersihan

a. Sesudah bagian-bagian dari gedung lengkap sesuai spesifikasi gambar-gambar


rencana dan memenuhi syarat-syarat rencana teknis

b. Lantai, cat-cat, pekerjaan atap, parit, perataan tanah/halaman dan seluruh kotoran
telah dibersihkan.

c. Setiap pintu dan jendela sudah dapat dibuka dengan baik

d. Pekerjaan cat sudah selesai secara garis besar, yang tinggal hanya untuk
penyempurnaannya saja.

17. Pekerjaan Penutup

a. Meskipun dalam bestek ini pada uraian pekerjaan dan uraian bahan-bahan tidak
dinyatakan dengan kata-kata yang harus disediakan oleh pemilik tetapi disebutkan
dalam penjelasan pekerjaan ini, pekerjaan tersebut diatas tetap dianggap ada dan
dimuat dalam bestek

b. Pekerjaan yang akan nyata-nyata menjadi bagian dari pekerjaan pembangunan ini
tetapi tidak diuraikan atau dimuat dalam bestek ini tetapi diselenggarakan dan
dilaksanakan, harus dianggap seakan-akan pekerjaan itu diuraikan dan dimuat
dalam bestek.

c. Pekerjaan penggantian terhadap item jenis pekerjaan dilakukan setelah mendapat


persetujuan dari pemilik atau pengawas.

Roza Wahyuni (1507121999)


Tina Andriani (1507123619)
Untuk mendapatkan harga bahan bangunan dengan perhitungan anggaran biaya
teliti, maka yang perlu diketahui adalah :

1. Bestek dan gambar bestek

Dari bestek dapat diketahui mangenai peraturan-peraturan yang mengikat pada poryek
tersebut. Sedangkan gambar bestek dibutuhkan untuk dapat menghitung
volume/kubikasi pekerjaan.

2. Volume kubikasi pekerjaan

Dari perhitungan volume dapat diketahui berapa banyak kebutuhan bahan untuk
pelaksanaan pekerjaan tersebut.

3. Daftar harga bahan dan upah

Daftar harga bahan dan upah yang diperoleh dari menanyakan langsung/survey pasar
pada toko-toko yang menjualnya.

4. Analisa harga satuan pekerjaan diperoleh dengan cara mengalikan daftar analisa
pekerjaan dengan harga bahan dan upah.

5. Rencana anggaran biaya

Rencana anggaran biaya diperoleh dengan cara mengalikan volume/kubikasi pekerjaan


dengan harga satuan pekerjaan

6. Rekapitulasi pekerjaan

Merupakan rekapitulasi dari rencana anggaran baiya tersebut.

7. Persentase bobot pekerjaan

Yaitu persentase pekerjaan yang diperoleh dengan cara

VxHSPx100%
 PBP
HB

Keterangan V = Volume

Roza Wahyuni (1507121999)


Tina Andriani (1507123619)
HSP = Harga Satuan Pekerjaan

HB = Harga bangunan

PBP = Persentase bobot pekerjaan

Roza Wahyuni (1507121999)


Tina Andriani (1507123619)
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Dari pembahasan dan perencanaan yang didapat pada BAB IV, penulis dapat
mengemukakan beberapa kesimpulan pada tugas desain ini, sebagai berikut:

1. Perencanaan rumah tinggal luas lantai 225 m2 di jalan Srikandi, Pekanbaru ini,
sudah cukup efisien, dengan perencanaan ruangan yang disesuaikan dengan
kebutuhan anggota keluarga, seperti memiliki ruangan yang dipakai bersama, ruang
pribadi dan ruang servis dan direncanakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga
dan mengikuti syarat rumah sehat.
2. Hasil perhitungan anggaran biaya adalah sebesar Rp. 4.073.700.00 (empat ratus
tujuh juta tiga ratus tujuh puluh ribu rupiah)
3. Dari hasil perhitugan secara teliti didapat anggaran biaya untuk 1 m2 adalah Rp.
3.233.095 : luas bangunan (144,5 m2) = Rp. 22.374.00 (dua puluh dua ribu tiga
ratus tujuh puluh empat rupiah)

5.2. Saran
Untuk mengakhiri tulisan pada tugas desain ini, penulis kemukakan beberapa saran
yang berguna nantinya, yaitu sebagai berikut:

1. Bestek (RKS) dan gambar bestek hendaknya dibuat dengan teliti dan sedetail mungkin,
sehingga nantinya tidak ada pekerjaan yang ditaksir harga satuannya. Pekerjaan yang
tidak mempunyai gambar bestek dan bestek yang tidak jelas dapat menimbulkan
keraguan dalam perhitungan anggaran biaya.
2. Perencanaan suatu bangunan hendaknya melibatkan penggunanya, sehingga tidak ada
pekerjaan yang harus ditinjau ulang.

Roza Wahyuni (1507121999)


Tina Andriani (1507123619)
SCHEDULE PEMBANGUNAN RUMAH TEMPAT TINGGAL DENGAN LUAS 225 M2 DUA LANTAI

LOKASI: JALAN SRIKANDI, KECAMATAN TAMPAN KOTA PEKANBARU


JUMLAH HARGA MINGGU
NO. URAIAN PEKERJAAN BOBOT (%) ORDINAT
(Rp) AWAL PROYEK I II III IV V VI VII VIII IX X XI XII
I PEKERJAAN PENDAHULUAN 9,704,595.00 3.09320 3.09 100
II PEKERJAAN PONDASI SETEMPAT 10,030,817.56 3.19718 1.60 1.60
PEKERJAAN PONDASI MENERUS
90

Tina Andriani (1507123619)


III 10,486,056.54 3.34228 1.11 1.11 1.11

Roza Wahyuni (1507121999)


IV PEKERJAAN BETON STRUKTUR 156,804,893.47 49.97938 24.99 24.99 80
V PEKERJAAN KUZEN PINTU, JENDELA DAN VENTILASI 7,963,952.00 2.53840 1.27 1.27
VI PEKERJAAN DINDING DAN PLESTERAN 55,368,898.64 17.64807 17.65 70
VII PEKERJAAN RANGKA ATAP 11,306,058.50 3.60365 3.60 60
VIII PEKERJAAN PENUTUP ATAP 0.00 - 0.00
IX PEKERJAAN LANTAI 7,525,293.75 2.39858 2.40 50
X PEKERJAAN PLAFON DAN PIRI - PIRI 18,742,584.88 5.97394 5.97 40
XI PEKERJAAN PINTU DAN JENDELA 176,300.00 0.05619 0.06
XII PEK.KUNCI & ALAT PENGGANTUNG 0.00 - 0.00
30
XIII PEKERJAAN SANITAIR 5,041,385.30 1.60687 0.80 0.80 20
XIV PEKERJAAN INSTALASI LISTRIK 5,111,900.00 1.62935 1.63
XV PEKERJAAN TANGGA 15,476,451.00 4.93290 2.47 2.47
10
PEKERJAAN PENGECATAN 0.00 - 0
PEKERJAAN LAIN - LAIN 7,920,000.00 2.52439
JUMLAH 313,739,186.64 100.00000
JUMLAH BOBOT 0 4.69 1.60 1.11 1.11 26.10 26.26 18.92 3.60 8.37 0.86 4.90 2.47
PROGRESS RENCANA 0 4.69 6.29 7.40 8.52 34.62 60.88 79.80 83.40 91.77 92.63 97.53 100.00
REAL PROGRESS
DEVIASI
KURVA S

Roza Wahyuni (1507121999)


Tina Andriani (1507123619)