Anda di halaman 1dari 15

PANDUAN CODE BLUE

DI RUMAH SAKIT KHUSUS BEDAH BANJARMASIN SIAGA

RUMAH SAKIT KHUSUS BEDAH BANJARMASIN SIAGA


JL. Jend. Achmad Yani No. 73 Banjarmasin - Kalsel
Telp. 0511 3267532 Fax. 0511 3267533
Email : rsbjmsiaga@yahoo.co.id

1
KEPUTUSAN DIREKTUR
RUMAH SAKIT KHUSUS BEDAH BANJARMASIN SIAGA
NOMOR : 506/SK/ST/1/2018
TENTANG
PANDUAN CODE BLUE
DI RUMAH SAKIT KHUSUS BEDAH BANJARMASIN SIAGA

DIREKTUR RUMAH SAKIT KHUSUS BEDAH BANJARMASIN SIAGA


Menimbang : a. Bahwa dalam mengarahkan kegiatan kegawatdaruratan di rumah sakit
perlu sebuah panduan dalam pelaksanaannya.
b. Bahwa sehubungan dengan butir a tersebut di atas perlu di buat
panduan code blue di RSKB Banjarmasin Siaga
Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
2. Undang-undang Republik Indonesia No. 44. Tahun 2009 tentang
Rumah Sakit.
3. Undang-undang Nomor 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran
(Lembaran Negara tahun 2004 Nomor 116, tambahan Lembar Negara
Nomor 4431)
4. Undang-undang 38 tahun 2014 tentang Keperawatan
5. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.
1691/MENKES/PER/VIII/2011 tentang Keselamatan Pasien Rumah
Sakit.

MEMUTUSKAN
Menetapkan
Pertama : Keputusan Panduan Code Blue Rumah Sakit Khusus Bedah Banjarmasin
Siaga
Kedua : Surat Keputusan ini agar disosialisasikan kepada Pelaksana untuk
diketahui dan dilaksanakan.
Ketiga : Keputusan ini berlaku tanggal 3 Januari 2018 dan akan dilakukan
perbaikan apabila ditemukan ketidaksesuaian dalam penetapannya .

Ditetapkan di Banjarmasin
Pada tanggal, 3 Januari 2018
Direktur Rumah Sakit Khusus Bedah Banjarmasin Siaga

Dr.M.Noor Amrullah,Sp.B,FINACS, M.Kes

2
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN 4
1.1. Latar belakang 4
BAB II GAMBARAN UMUM 5
2.1. Definisi 5
2.2. Tujuan Code Blue 6
2.3. Organisasi Tim Code Blue 6
2.4. Pendidikan, Pelatihan, dan Jaminan Kualitas Anggota Code Blue 7
BAB III RUANG LINGKUP 8
BAB IV TATA LAKSANA 9
4.1. Fase Code Blue 9
4.2. Komunikasi 13
Algoritma Code Blue 14

3
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 . Latar Belakang
Ketika berbicara tentang cardiac arrest, ingatan kita tidak bisa lepas dari penyakit
jantung dan pembuluh darah, karena penyebab tersering dari cardiac arrest adalah penyakit
jantung koroner. Serangan jantung dan problem seputarnya masih menjadi pembunuh
nomor satu.
Kematian jantung mendadak atau cardiac arrest adalah berhentinya fungsi jantung
,secara tiba- tiba pada seseorang yang telah atau belum diketahui menderita penyakit
jantung. Waktu dan kejadiannya tidak terduga, yakni segera setelah timbul keluhan
(American Heart Association, 2010).Kematian otak dan kematian permanen terjadi dalam
jangka waktu 8- 10 menit setelah seseorang mengalami cardiac arrest. Cardiac arrest dapat
dipulihkan jika ditangani segera dengan cardiopulmonary resusitation (CPR) dan defibrilasi
untuk mengembalikan denyut jantung normal.
Inti penanganan cardiac arrest adalah kemampuan untuk bisa mendeteksi dan
bereaksi secara cepat dan benar untuk sesegera mungkin mengembalikan denyut jantung ke
kondisi normal untuk mencegah terjadinya kematian otak dan kematian permanen.
Penanganan secara cepat dapat diwujudkan jika terdapat tenaga yang memiliki kemampuan
dalam melakukan chain of survival saat cardiac arrest terjadi. Keberadaan tenaga inilah yang
selama ini menjadi masalah dan pertanyaan besar, bahkan di rumah sakit yang notabene
banyak terdapat tenaga medis dan paramedis. Tenaga medis dan paramedis di rumah sakit
sebenarnya sudah memiliki kemampuan dasar dalam melakukan life saving, akan tetapi
belum semuanya dapat mengplikasikannya secara maksimal, dan seringkali belum terdapat
pengorganisasian yang baik dalam pelaksanaannya. Masalah itulah kemudian yang
memunculkan terbentuknya tim reaksi cepat dalam penanganan cardiac arrest segera, yang
disebut Code Blue.

4
BAB II
GAMBARAN UMUM

2.1. Definisi
2.1.1 Code Blue
Code Blue adalah stabilisasi kondisi darurat medis yang terjadi di dalam area rumah
sakit. Kondisi darurat medis ini membutuhkan perhatian segera . Sebuah Code Blue harus
segera dimulai setiap kali seseorang ditemukan dalam kondisi cardiac arrest (tidak ada
respon, nadi tidak teraba atau tidak bernafas) , pasien yang membutuhkan resusitasi
cardipolmunary (CPR).
2.1.2 Code Blue Team
Code Blue team adalah tim yang terdiri dari dokter dan paramedis yang ditunjuk
sebagai “Code Blue”, yang secara cepat ke pasien untuk melakukan tindakan penyelamatan.
Tim ini menggunakan crash- cart, kursi roda/ tandu, alat- alat penting seperti defibrillator,
peralatan intubasi, suction, oksigen, ambubag, obat- obat emergensi ( adrenalin, atropine,
lignocain) dan peralatan resusitasi lainnya.
2.1.3 BLS atau Bantuan Hidup Dasar
BLS atau Bantuan Hidup Dasar merupakan awal respon tindakan gawat darurat. BLS
dapat dilakukan oleh tenaga medis, paramedis maupun orang awam yang melihat pertama
kali korban. Skill BLS haruslah dikuasai oleh medis dan paramedis, dan sebaiknya orang
awam juga menguasainya karena seringkali korban justru ditemukan pertama kali bukan
oleh tenaga medis.
BLS adalah suatu cara memberikan bantuan/ pertolongan hidup dasar yang meliputi
bebasnya jalan nafas (Airway/A), pernafasan yang adekuat (Breathing/B), sirkulasi yang
adekuat (Circulation/ C).
2.1.4 Advanced Cardiac Life Support (ACLS)
Advanced Cardiac Life Support (ACLS) adalah bantuan hidup lanjut atau pertolongan
pertama pada penyakit jantung.
2.2. Tujuan Code Blue
Tujuan dari Code Blue adalah:
1. Untuk memberikan resusitasi dan stabilisasi yang cepat bagi korban yang mengalami
kondisi henti jantung dan henti nafas yang berada dalam kawasan rumah sakit.

5
2. Untuk membentuk suatu tim yang terlatih lengkap dengan peralatan medis darurat
yang dapat digunakan dengan cepat.
3. Untuk memulai pelatihan keterampilan BLS dan penggunaan defibrillator untuk
semua tim rumah sakit baik yang berbasis klinis maupun non klinis.
4. Untuk memulai penempatan peralatan BLS (emergency kit) di berbagai lokasi
strategis di dalam kawasan rumah sakit untuk memfasilitasi respon cepat bagi
keadaan darurat medis.
5. Agar rumah sakit memiliki sistem dalam penanganan kasus-kasus kegawatdaruratan
secara sistematis dan terkoordinasi.
2.3. Organisasi Tim Code Blue
1. Penolong awam terlatih adalah staf atau karyawan RSKB Banjarmasin Siaga yang
telah mendapatkan pelatihan Basic Life Support (BLS),
2. Tim Code Blue
a) Konsultan
Tugas Pokok
Dijabat oleh dokter spesialis anestesi yang sedang bertugas atau masuk jadwal
jaga di rumah sakit khusus bedah banjarmasin siaga, bertugas sebagai konsultan
yang memberikan instruksi kepada dokter jaga IGD untuk tindakan lanjutan dari
pasien yang mengalami kegawatdaruratan.
b) Ketua TIM
Tugas pokok :
Dijabat oleh seorang dokter umum atau dokter jaga IGD yang telah
mendaapatkan pelatihan dan memiliki sertifikat ACLS (Advanced Cardiac Life
Support) ATLS (Advanced Traumatic Life Support), bertugas sebagai leader atau
pemimpin dalam menangani kasus-kasus kegawatdaruratan.
Uraian tugas :
1) Mengidentifikasi awal/ triage pasien
2) Meminpin penanggulangan pasien saat terjadi kegawatdaruratan
3) Memimpin tim saat pelaksanaan resusitasi jantung paru
4) Menentukan sikap selanjutnya terhadap pasien yang mengalami
kegawatdaruratan.

6
5) Melakukan konsultasi kepada dokter spesialis terhadap penanganan kasus-
kasus kegawatdaruratan
c) Anggota Tim Resusitasi adalah perawat yang telah mendapatkan pelatihan dan
memiliki sertifikat tentang BTCLS (Basic Traumatic and Cardiac Life Support).
Anggota Tim Resusitasi
Tugas Pokok :
Berpartisipasi dalam membantu dokter dalam penanganan kasus-kasus
kegawatdaruratan
Uraian tugas :
1) Memberikan bantuan hidup dasar kepada pasien gawat atau gawat darurat
2) Melakukan resusitasi jantung paru kepada pasien gawat atau gawat darurat
3) Mengikuti kegiatan yang direncanakan oleh tim.
Setiap anggota tim Code Blue akan memiliki tanggung jawab yang ditunjuk
seperti pemimpin tim, manajer airway, kompresi dada, IV line, persiapan obat
dan defibrilasi. Setiap anggota tim yang ditunjuk harus membawa handphone
2.4 Pendidikan, Pelatihan dan Jaminan Kualitas Anggota Code Blue
1. Pendidikan dan pelatihan BLS diwajibkan bagi seluruh karyawan Rumah Sakit
Khusus Bedah Banjarmasin Siaga
2. Bagi anggota Tim Code Blue yang berprofesi sebagai perawat harus memiliki
sertifikat BTCLS atau PPGD dan BLS.
3. Bagi dokter umum yang menjadi tim Code Blue harus memiliki sertifikat ACLS
dan ATLS.
4. Meninjau semua kebijakan dan prosedur.
5. Melakukan review standar peraturan.
6. Melakukan pengukuran standar pelayanan ( jam pelayanan).
7. Audit
Program pendidikan dan pelatihan BLS, ACLS dan ATLS diberikan kepada tim rumah
sakit dan unit. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan standar perawatan dan hasil
respon Code Blue sebagai tim yang memainkan peran penting sebagai responden
pertama untuk situasi Code Blue.

7
BAB III
RUANG LINGKUP

Sistem respon cepat Code Blue dibentuk untuk memastikan bahwa semua kondisi
darurat medis kritis tertangani dengan resusitasi dan stabilisasi sesegera mungkin. Sistem
respon terbagi dalam 2 tahap.
1. Respon awal berasal staf RSKB Banjarmasin Siaga.
2. Respon kedua (Tim Sekunder) merupakan tim khusus dan terlatih yang berasal dari
unit yang ditunjuk oleh pihak rumah sakit.
Sistem respon dilakukan dengan waktu respon tertentu berdasarkan standar kualitas
pelayanan yang telah ditentukan oleh rumah sakit. Untuk menunjang hal tersebut yang
dilakukan adalah :
1. Semua personil di rumah sakit harus dilatih dengan keterampilan BLS untuk
menunjang kecepatan respon untuk BLS di lokasi kejadian.
2. Peralatan BLS (emergency kit) harus ditempatkan di lokasi yang strategis dalam
kawasan rumah sakit yaitu ruang rawat inap, dimana peralatan dapat dipindah atau
dibawa untuk memungkinkan respon yang cepat.

8
BAB IV
TATA LAKSANA

Kegiatan respon Code Blue untuk seluruh wilayah Rumah Sakit Khusus Bedah
Banjarmasin Siaga tidak dapat ditangani oleh Unit Gawat Darurat (UGD) sendiri karena
kesulitan jarak dan lokasi yang tidak terjangkau padahal idealnya waktu antara aktivasi Code
Blue sampai kedatangan Code Blue Team adalah 5 menit. Sehingga diharapkan setiap
wilayah rumah sakit mempunyai tim yang dapat melakukan BLS awal sambil menunggu
kedatangan tim Code Blue rumah sakit untuk meningkatkan harapan hidup hidup pasien.
Tim dibentuk dengan ketentuan tiap tim terdiri dari 3 sampai 5 anggota yang terlatih
dalam BLS. Peralatan resusitasi darurat yang mudah untuk dibawa, harus ditempatkan di
lokasi strategis di seluruh kawasan rumah sakit terutama di daerah di mana probabilitas
tinggi terjadi kondisi darurat medis atau dimana tim rumah sakit telah dilatih dalam
keterampilan BLS. Setidaknya satu kit resusitasi dasar harus ditempatkan disetiap area kerja
satu unit sehingga tim dapat dengan cepat memobilisasi dan memanfaatkan peralatan
resusitasi. Jika tersedia peralatan resusitasi yang lebih maka efektifitas dan waktu respon
dari tim Code Blue akan lebih baik dan harapan hidup pasien meningkat.
Hal ini sama pentingnya bahwa semua personil rumah sakit, terutama tenaga medis
dan non medis, dilatih BLS sehingga mereka juga dapat memberikan pertolongan pertama di
lokasi kejadian sambil menunggu respon primer atau Code Blue tiba. Dengan demikian juga
meningkatkan kemungkinan hasil yang baik bagi para korban darurat medis. Pelatihan tim
rumah sakit dalam keterampilam BLS dan penggunaan alat defibrilator juga perlu dilakukan.
4.1 Fase Code Blue
1. Alert system
Harus ada system yang baik dan terkoordinasi di tempat yang digunakan untuk
mengaktifkan peringatan terjadinya keadaan darurat medis dalam lingkup rumah sakit
kepada anggota tim Code Blue. Sistem telepon yang ada akan digunakan.
Jika terjadi keadaan darurat medis, personil rumah sakit di mana saja dalam lingkup
rumah sakit tersebut dapat mengaktifkan respon dari Code Blue lewat telepon untuk
bantuan dan pengaktifan. Adapun cara mengaktifkan sistem Code Blue adalah :
Hospital alert : Bila terjadi kasus-kasus kegawatdaruratan, penolong langsung
menelpon 118 untuk meminta bantuan kepada tim code blue. Tim code blue yang di

9
hubungi akan lansung menuju lokasi kejadian, dan perawat yang satu jaga dengan
anggota tim code blue akan menghubungi bagian informasi untuk minta
diinformasikan ke anggota tim code blue lain yang terdekat.
Anggota tim respon Code Blue primer yang telah ditentukan di sekitar tempat
terjadinya kegawatdaruratan medis akan menanggapi situasi tanda Code Blue sesegera
mungkin. Anggota tim akan memobilisasi alat resusitasi mereka dan bergegas ke lokasi
darurat medis. Tim Sekunder Code Blue juga akan menanggapi situasi Code Blue. Jika semua
tim tidak yakin apakah lokasi darurat medis tersebut tercakup di daerah cakupan mereka,
mereka tetap harus merespon alarm Code Blue.
Standar layanan untuk durasi waktu yang dibutuhkan antara menerima pesan “Code
Blue” (Code Blue aktivasi) dan kedatangan tim Code Blue di lokasi kejadian adalah < 5 menit.

Tanggung jawab bagian informasi dalam menyampaikan pesan kejadian code blue :
o Anggap setiap panggilan di Code Blue line adalah Code Blue kasus yang
sebenarnya (sampai bisa dibuktikan).
o Panggilan Code Blue harus dijawab secepatnya (<3 kali dering telpon)
o Informasi vital adalah:
 Sebutkan Code Blue...Code Blue....Code Blue
 Lokasi kejadian
 Dewasa atau anak-anak
o Tim Code Blue harus meninggalkan pekerjaannya dan berlari dengan
membawa emergency kit ke lokasi kejadian

2. Intervensi segera di Tempat Kejadian


Tim di tempat kejadian darurat medis (pasien tidak sadar atau dalam kondisi henti
nafas dan henti jantungt) telah terjadi memiliki tanggung jawab untuk meminta bantuan
lebih lanjut, memulai resusitasi menggunakan pedoman Basic Life Support (BLS) dan
keterampilan ALS dan peralatan jika cukup terlatih dan lengkap.

10
a. Nomor tim Code Blue Rumah Sakit akan ditempatkan di bangsal, divisi, unit, kantor,
lobi lift, koridor, kantin, taman, tempat parker, dll trotoar dan lokasi lain di dalam
halaman rumah sakit
b. Personil rumah sakit yang menemukan korban harus mengaktifkan pemberitahuan
lokal untuk tim Code Blue primer atau seseorang menginstruksikan mereka untuk
melakukannya, mereka juga harus meminta bantuan lebih lanjut dari tim terdekat
jika tersedia.
c. Pada saat yang sama, aktivasi pemberitahuan rumah sakit harus dilakukan dengan
menghubungi nomor Code Blue rumah sakit.
d. Pihak yang bertanggung jawab atau bertanggung jawab atas daerah tertentu
(misalnya dari ruangan lain) juga harus diberitahu untuk datang ke lokasi segera.
e. Sementara menunggu kedatangan tim utama menanggapi Code Blue, jika tersedia
tim yang terlatih untuk BLS, mereka harus memulai BLS (posisi airway, memberikan
bantuan pernapasan, kompresi dada dll).
f. Jika tidak ada tim yang terlatih BLS, tim yang ditempat kejadian harus menunggu
bantuan yang berpengalaman dan menjaga lokasi dari kerumunan orang.
g. Jika monitor jantung, defibrillator manual atau defibrillator eksternal otomatis (AED)
tersedia, maka peralatan ini harus melekat kepada pasien untuk menentukan
kebutuhan defibrilasi; fase ini dilakukan oleh tim yang berpengalaman atau tim
terlatih dalam Advanced Cardiac Life Support (ACLS).
h. Setiap departemen, divisi, atau unit bangsal harus berusaha untuk memastikan
bahwa tim mereka dilatih dalam setidaknya keterampilan BLS dan mereka dilengkapi
dengan resusitasi kit atau troli, setidaknya peralatan resusitasi dasar dan
ditempatkan di lokasi strategis.
i. Tim dari masing-masing ruangan akan bertanggung jawab untuk pemeliharaan
resusitasi kit mereka.
j. Jika korban berhasil disadarkan/dihidupkan kembali sambil menunggu kedatangan
tim respon Code Blue, tim dilokasi harus menempatkan pasien dalam posisi
pemulihan dan monitor tanda-tanda vital.
k. Semua kasus Code Blue harus mengirim ke ETD untuk evaluasi lebih lanjut dan
manajemen terlepas hasilnya.

11
3. Kedatangan Tim Code Blue
a. Setelah anggota tim Code Blue menerima aktivasi Code Blue, mereka harus
menghentikan tugas mereka saat itu, mengambil resusitasi kit (tas peralatan) mereka
dan bergegas ke lokasi darurat medis.
b. Mereka harus mengerahkan diri mereka sendiri dengan cepat dan lancar dan
menggunakan rute terpendek yang tersedia.
c. Waktu respon (layanan standar) dari waktu dari Code Blue call/ aktivasi kedatangan
tim Code Blue adalah < 5 menit
d. Jika korban masih dalam kondisi henti nafas dan henti jantung ketika tim respon
Code Blue tiba di lokasi, tim akan mengambil alih tugas resusitasi; tim di lokasi
kejadian harus tinggal di sekitar untuk memberikan bantuan tambahan jika
diperlukan.
e. Jika pasien membutuhkan tindakan penanganan lanjutan pasca henti nafas dan henti
jantung, maka penanganan dilakukan di ICU, dilakukan monitoring ketat terhadap
kondisi pasien.
4. Perawatan Definitif
a. Jika resusitasi tidak berhasil (korban meninggal di TKP), korban masih perlu
ditransfer ke instalasi kamar jenazah untuk dokumentasi lebih lanjut atau konfirmasi
kematian.
b. Jika resusitasi berhasil (RSOC), pasien akan ditransfer di ruang ICU untuk
mendapatkan penanganan lanjutan dan monitoring ketat.
5. Peralatan dan pelatihan
a. Semua tingkat tim rumah sakit harus cukup terlatih setidaknya dalam BLS dan
penggunaan Defibrilator.
b. Resusitasi kit dasar harus ditempatkan di berbagai daerah di dalam halaman rumah
sakit dan mudah diakses bagi tenaga medis dalam tim Code Blue untuk digunakan
c. Dasar peralatan resusitasi kit yang dibutuhkan oleh tim Code Blue Dasar di zona
risiko tinggi dan ETD/ sekunder tim tanggap :
1. Peralatan intubasi (intubasi Set)
2. Bag-valve mask
3. Sarung tangan non steril dan steril
4. NPA dan OPA sesuai ukuran

12
5. Saturasi Oksigen (pulse Oxymetri)
6. Laringeal Mask Airway (LMA/LT)
7. Stetoskop
8. Tensimeter/Sphygmomanometer
9. Perlengkapan Infus (termasuk I.V canula, plester, dll)
10. Penlight
11. Obat-obatan Emergensi : Ephineprin, Ephendrin, Sulfas atropin, , Lidocain,
Cairan-cairan infus : RL, NaCl 0,9%

Ketika muncul Code Blue, tim dokter dan paramedik yang ditunjuk sebagai “code-
team”, bergegas ke pasien untuk melakukan tindakan penyelematan. Tim ini membawa LSB,
brankar, dan emergency-kit. Tim akan melakukan BLS dan Advance Cardiac Life Support
(ACLS) untuk resusitasi pasien.
4.2 Komunikasi
Tersedia telpon kegawatdaruratan yaitu panggilan khusus yang mengaktifkan tim
Code Blue. Telpon kegawatdaruratan ini akan diaktifkan ketika penolong menelpon 118.
Kemudian bagian Informasi akan menginformasikan kejadian kegawatdaruratan kepada
dokter konsultan, dokter jaga IGD dan tim resusitasi lain yang terdekat dengan lokasi
kejadian.

13
Pengunjung/pasien mengalami Cek respon pasien Segera minta bantuan dan
kondisi tak sadarkan diri panggil tim code blue di
nomer telpon118

Evaluasi nadi
karotis pasien Pijat jantung 30x (-)
Bantuan nafas 2x Cek Nadi Karotis pasien <
Selama 5 siklus 5 Detik
Kedalaman pijatan 4-5 cm
Kecepatan pijatan
100x/menit

(+)

Nafas adekuat
Posisikan badan pasien dengan posisi mantap /
pemulihan

Evaluasi pernapasan
• Lihat Pergerakan
dinding dada
• Rasakan hembusan
Nafas Tidak ade kuat  beri bantuan nafas nafas
(rescue breathing sebanyak 10 kali dengan • Dengar suara nafas
interval 6 detik

14
ALUR PENANGANAN CODE BLUE

Bila ada kondisi “ code blue ” pasien dengan henti nafas / henti jantung

First resporder / penemu pertama memanggil bantuan

First resporder melakukan BHD awal


sesuai prosedur

Penolong kedua mengaktifkan Code Blue dengan menelpon nomer 118

Operator menerima telepon “kemudian:


1. Tim code blue yang mengangkat telpon langsung membawa tas
emergensi kit dan menuju lokasi
2. Tim code blue yang lain menyusul untuk menuju lokasi kejadian.

Tim Code Blue segera menuju lokasi yang ditentukan untuk melanjutkan
resusitasi yang telah dilakukan oleh First Responder (ADVANCED LIFE SUPPORT)

Perawat ruangan mendokumentasikan semua kegiatan

Kondisi baik (RSOC (+)) Kondisi buruk RSOC (-)

TRANSFER
Meninggal
ICU

kamar jenazah
TRANSFER RS LAIN

15