Anda di halaman 1dari 10

INDONESIA GAWAT KASUS KEKERASAN ANAK

INDONESIA GAWAT KASUS KEKERASAN ANAK Disusun Oleh Nama : Dilla Rachmatul Khoir NIM : 201601008 AKADEMI

Disusun Oleh

Nama

: Dilla Rachmatul Khoir

NIM

: 201601008

AKADEMI KEPERAWATAN PASAR REBO

Jl. Tanah Merdeka No. 16,17,18 Jakarta 13570 Telp.(021) 840 4242, 840 3458, 877 90913.Fax. (021) 840 4242

2018

INDONESIA GAWAT KASUS KEKERASAN ANAK

Zaman sekarang saat ini semakin maju negara, maka semakin dirasakan pula pentingnya pendidikan bagi pertumbuhan anak maupun generasi muda. Mengingat begitu besarnya potensi anak dalam aspek kehidupan Negara saat ini. Maka dengan ini pemerintah berupaya meningkatkan kesejahteraan sosial anak-anak Indonesia, melalui tindakan-tindakan untuk membangun potensi anak yang maju. Dalam UU No. 23 tahun 2002 Anak adalah seseorang yang belum berusia 18(delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Anak juga merupakan generasi muda penerus cita-cita bangsa untuk membangun Negara yang lebih baik, maka dari itu hendaklah menyayangi dan memberi kasih sayang untuk menanamkan diri seperti akhlak, sikap hidup, budaya, dan sosial.

Namun, akhir-akhir ini banyak di media cetak dan media elektronik menyajikan berita tentang terjadinya kekerasan di dalam rumah tangga khususnya terhadap anak. Pada dasarnya keluarga adalah sebagai wadah untuk pembentuk mental, dan diharapkan untuk menjalankan fungsinya yaitu, membina, melindungi serta mendidik anak dengan cara yang baik. Dalam UU No. 23 tahun 2002 menyebutkan bahwa Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

Walaupun telah diberlakukan UU No. 23 tahun 2002 dalam kenyataannya masih banyak tindakan kekerasan pada anak dan pelanggaran hak-hak anak dalam segala aspek fisik, mental, dan sosial. Jika persoalan ini terus menerus dibiarkan maka akan semakin banyak

korban kekerasan anak, jumlah angka kekerasan anak akan meningkat, dan runtuhnya sistem perlindungan anak di Indonesia.

Namun apakah kalian tau, apa itu pengertian kekerasan? Siapa saja yang bisa menjadi sasaran tindakan kekerasan? Apa yang melatarbelakangi pelaku tindakan kekerasan melakukan hal tesebut? Apa pengertian kekerasan anak? Apa dampaknya bagi anak, jika orang tua melakukan kekerasan?

Kekerasan adalah semua bentuk perilaku verbal, non verbal yang dilakukan oleh seseorang terhadap orang lain sehingga menyebabkan efek negatif secara fisik maupun psikologis pada orang yang menjadi sasarannya. (Erfaniah Zuhriah, dalam Susanto, 2006: 13). Kekerasan adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau sejumlah orang yang berposisi kuat (atau yang tengah merasa kuat) terhadap seseorang atau sejumlah orang yang berposisi lebih lemah (atau dipandang berada didalam keadaan lebih lemah), bersaranakan kekuatannya-entah fisik maupun non fisik yang superior dengan kesengajaan untuk dapat ditimbulkan rasa derita dipihak yang tengah obyek kekerasan. (Mufidah dalam Susanto, 2006: 13). Berdasarkan beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa kekerasan adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok yang dapat menimbulkan efek negative berupa fisik, psikologis pada seseorang lainnya. Efek negative dari kekerasan juga dapat menciderai fisik (anggota tubuh) dan merubah psikologis (mental) seseorang yang dilukai/menjadi korban kekerasan.

Korban yang menjadi tindakan kekerasan umumnya terjadi pada orang-orang yang lemah, seperti anak, perempuan, dan orang tua (lansia). Di dalam keluarga anak adalah anggota keluarga yang paling lemah dibanding anggota keluarga lainnya. Dalam tindak kekerasan pada anak dilakukan oleh seorang, keluarga, atau orang yang ada disekitar anak. Sebab tindak kekerasan kepada anak sebenarnya dimulai dari hal sepeleseperti perilaku anak yang dapat menjengkelkan orang tua sehingga orang tua tersebut melakukan tindakan kekerasan seperti mencubit, memukul, bahkan mengurung anak di kamar mandi hingga berjam-jam.

Hal-hal pelaku kekerasan melakukan tindakan kekerasan anak bervariasi, menurut Edi Soeharto factor tindakan kekerasan disebabkan oleh factor internal dari dalam diri anaknya sendiri dan bisa dari factor eksternal dari kondisi keluarganya, seperti: perceraian, kondisi lingkungan yang buruk, anak mengalami cacat tubuh, kemiskinan keluarga, penyakit gangguan mental dari salah satu keluarga, dan pengulangan sejarah kekerasan.

Kekerasan anak adalah Secara teoritis, kekerasan terhadap anak dapat didefinisikan sebagai peristiwa pelukaan fisik, mental, atau seksual yang umumnya dilakukan oleh orang orang yang memiliki tanggung jawab terhadap kesejahteraan anak, yang mana itu semua diindikasikan dengan kerugian dan ancaman terhadap kesehatan dan kesejahteraan anak (Suyanto, 2010:28). Kekerasan terhadap anak (child abuse) adalah semua bentuk perlakuan menyakitkan secara fisik ataupun emosional, penyalahgunaan seksual, pelalaian, eksploitasi komersial atau eksploitasi lain, yang mengakibatkan cedera/kerugian nyata ataupun potensial terhadap kesehatan anak, kelangsungan hidup anak, tumbuh kembang anak, atau martabat anak, yang dilakukan dalam konteks hubungan tanggung jawab, kepercayaan, atau kekuasaan. (Faqih dalam Daisy Widiastuti dan Rini Sekartini, 2005: 106). Dari dua pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa kekerasan anak adalah suatu tindakan kekerasan yang obyeknya adalah anak yang dapat menimbulkan pelukaan aspek fisik, psikis, dan seksual dan dapat mengakibatkan cedera kesehatan anak.

Dampak yang ditimbulkan dari tindakan kekerasan pada anak penelitian yang dilakukan oleh Ratna Dewi Anggraini (2013: 3-4) adalah dampak fisik yaitu dampak kekerasan yang dialami oleh anak, dimana dampak yang dirasakan oleh anak bisa berupa sakit secara fisik yaitu luka- luka, benjolan di tubuhnya, dan memar, dampak fisik ini dapat mengakibatkan jangka panjang seperti komplikasi atau perubahan anggota tubuh seperti cacat, patah tulang, dan lain-lain. Lalu yang kedua dampak psikis yaitu anak dapat menarik diri dalam lingkup rumahnya, dengan ini dapat menghambat pembentukan mental serta tidak dapat

bersosialisasi dengan baik. Dan dampak yang terkakhir adalah dampak kekerasan yang bersifat sosial yaitu akibat dari penelantaran yang dilakukan oleh orangtua terhadap anak

Indonesia telah membentuk Komisi Perlindungan Anak Indonesia, berdasarkan amanat UU No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. UU No. 23 tahun 2002 tentang perlindugan anak ini menyatakan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia menjamin kesejahteraan tiap warga negaranya, termasuk perlindungan terhadap hak anak yang merupakan hak asasi manusia. Bahwa setiap anak berhak atas kelangsungan hidup tumbuh dan kembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Bahwa anak sebagai tunas, potensi, dan generasi muda penerus cita-cita perjuangan bangsa memiliki peran strategis, ciri, dan sifat khusus sehingga wajib dilindungi dari segala bentuk perlakuan tidak manusiawi yang mengakibatkan terjadinya pelanggaran hak asasi manusia. Dengan adanya undang- undang ini mengemukakan bahwa setiap anak memiliki hak asasi manusia dan juga mempunyai hak perlindungan dari kekearasan dan diskriminasi.

Undang-undang RI nomor 23 tahun 2002 menyebutkan tentang tujuan Perlindungan Anak, yaitu sebagai berikut: “Perlindungan anak bertujuan untuk menjamin terpenuhinya hak-hak anak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”. Namun ironisnya telah ditetapkan undang-undang masih banyak kasus kekerasan anak di Indonesia. Berdasarkan data dari KPAI kasus kekerasan di Indonesia dari tahun 2011 hingga 2014 mengalami peningkatan yaitu:

kasus kekerasan anak di Indonesia

2178 3581 5066 3512 4311 4309 6000 5000 4000 3000 2000 1000 Series 2
2178
3581
5066
3512
4311
4309
6000
5000
4000
3000
2000
1000
Series 2

0

  • 2011 2012

  • 2013 2014

2015

2016

(Update data 01 januari 2011- 24 oktober 2016).

pada tahun 2011 kasus kekerasan terjadi 2178 kasus, 2012 terjadi 3512 kasus, tahun 2013 terjadi 4311 kasus, dan tahun 2014 5066 kasus, namun pada tahun 2015 hingga 2016 mengalami penurunan yaitu tahun 2015 terjadi 4309 kasus, dan tahun 2016 3581 (Update data 01 januari 2011- 24 oktober 2016). Berdasarkan data tersebut dimana kasus kekerasan anak di Indonesia masih dibilang cukup mengkhawatirkan atau cukup tinggi. Banyak kasus- kasus yang dapat kita buktikkan, untuk menggambarkan Indonesia gawat kasus kekerasan Anak, diantaranya baru-baru ini dilansir di Tribunnews.com Bocah 4 Tahun Disekap 3 Hari di Hotel dengan Tangan Diikat dan Mulut Dilakban Bocah laki-laki berusia 4 tahun, P, diduga menjadi korban penganiayaan oleh ayah tirinya, Dedi alias Leo Wie Wie (32). Dia disekap selama tiga hari di kamar nomor 11 Hotel Wismantara, Jalan RM Said Kelurahan Punggawan, Kecamatan Banjarsari, Solo, Jawa Tengah. "Korban disekap selama tiga hari di hotel dengan mulut dilakban dan tangan diikat tali rafia," kata Kapolsek Banjarsari Kompol I Komang Sarjana di Mapolsek Banjarsari, Solo, Jawa Tengah, Sabtu (17/2/2018). Kasus penyekapan itu terungkap ketika seorang petugas hotel mendengar ada keributan di kamar hotel nomor 11. Merasa curiga, saksi kemudian melaporkan kejadian itu kepada kepolisian.

"Anggota kita terjunkan ke lokasi (hotel). Setelah kita cek ternyata benar di kamar nomor 11 ada seorang laki-laki disekap. Mulut korban dilakban dan tangan diikat tali rafia," terang Komang. Saat penggerebekan, polisi mengamankan seorang laki-laki diduga pelaku penganiayaan terhadap korban bernama Iwan Winardi alias Iwan bin Loe Wie Wie (22). Dari pemeriksaan Iwan, Polsek Banjarsari kemudian mengamankan Dedi. "Dedi ini kakaknya Iwan. Dedi berperan menyuruh Iwan untuk menyekap korban di hotel selama tiga hari. Pengakuan sementara dari para pelaku penganiayaan ini katanya korban nakal," jelas dia. Komang menerangkan, pelaku merupakan warga Kampung Krendang RT 001/ RW 007, Kelurahan Duri Utara, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat (Jakbar). Mereka sudah dua bulan tinggal di Solo dengan menyewa tempat kost. "Kita akan terus kembangkan kasus penganiayaan kemungkinan masih ada pelaku lain yang ikut terlibat dalam perkara ini," terang dia. Korban saat ini dibawa ke rumah sakit untuk menjalani perawatan medis. Sebab, korban mengalami luka di beberapa bagian tubuhnya akibat dianiaya selama disekap di hotel oleh para pelaku. "Pelaku dijerat Pasal 77 Jo Pasal 80 ayat (2) Undang-Undang RI No 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman pidana penjara paling lama 5 tahun dan atau denda paling banyak Rp 100 juta," paparnya. Sementara itu, Dedi menyangkal kalau dirinya telah menganiaya korban. Dia mengaku menyuruh adiknya, Iwan untuk membawa korban ke sebuah hotel. "Tidak menyiksa, saya mau Imlekan. Saya titipin sama adik saya (Iwan). Karena nakal sama adik saya diikat tangannya," jelas dia.(Kontributor Solo, Labib Zamani)

"Anggota kita terjunkan ke lokasi (hotel). Setelah kita cek ternyata benar di kamar nomor 11 ada

Kasus kekerasan anak Indonesia kedua Kisah Siswi SD di Garut yang Disetrika Ibu Kandungnya. Malang sekali nasib MR (7) bocah kelas dua sekolah dasar (SD) yang tinggal di Desa Lebakagung, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut ini disiksa oleh ibu kandungnya, NS (32) dengan cara disetrika. Luka bakas bekas setrika panas terdapat di hampir sekujur tubuh kecil MR.

Informasi yang diperoleh menyebutkan, aksi kejam terhadap MR yang diduga dilakukan ibu kandungnya NS itu terkuak pada Senin 19 Februari 2018, kemarin. Saat itu, korban tidak mau mengikuti upacara bendera di sekolahnya dengan alasan sedang sakit. Guru SD tempat korban menimba ilmu kemudian memeriksa kondisi MR.

Betapa terkejutnya aang guru saat mendapati sejumlah luka bakar di sekujur tubuh korban. Sang guru lantas menanyakan penyebab luka bakar tersebut. Korban MR mengaku disetrika oleh ibu kandunganya.

Kemudian, guru menghubungi Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A). Kasus itu berlanjut dengan prnindakan oleh Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Garut.

Kapolres Garut AKBP Budi Satria Wiguna mengatakan, setelah menerima laporan, amggota Unit PPA melakukan penyelidikan dan mengamankan ibu korban, NS pada Selasa siang (20/2/2018). Saat ini pelaku diperiksa intensif oleh anggota Unit PPA Polres Garut.

"Sedangkan korban MR saat ini dirawat di RSUD Dr Slamet," kata Budi via telepon. Ditanya tentang motif pelaku NS menyiksa MR menggunakan strika panas, Budi mengemukakan, pihaknya sulit mendapat keterangan karena pelaku sulit diajak berkomunikasi.

Saat diinterogasi oleh petugas dia hanya menangis dan tiduran. "Pelaku tidak mengalami gangguan jiwa. Mungkin dia syok setelah kami amankan. Ke depan kami akan meminta bantuan psikiater untuk memeiksa kondisi kejiwaan pelaku," ujar Budi.

Disinggung motif yang memicu penyiksaan terhadap MR terkait persoalan rumah tangga, Kapolres menyatakan, saat ini masih diselidiki. Yang pasti antara NS dengan ayah korban telah bercerai. "Mungkin perceraian itu yang memicu perbuatan tersangka. Bisa jadi," ujar dia.

Akibat perbuatan tersebut, pelaku NS dijerat Pasal 76C Undang-undang Nomor 35/2014 tentang Perlindungan Anak. Tersangka terancam hukuman 10 tahun penjara.

Saat diinterogasi oleh petugas dia hanya menangis dan tiduran. "Pelaku tidak mengalami gangguan jiwa. Mungkin dia

Dari sekian kasus kekerasan anak di Indonesia, dua kasus diatas dapat disimpulkan bahwa kasus kekerasan anak di Indonesia masih sangat mengkhawatirkan. Keduanya sama-sama dilakukan tindakan kekerasan fisik pada anak, dan mirisnya pelaku yang melakukan adalah dari anggota keluarganya sendiri dan korban kekerasan anak adalah anak kandungnya sendiri. Dengan ini kita perlu melakukan upaya-upaya dan tindakan-tindakan untuk mencegah kasus kekerasan anak di Indonesia.

Upaya yang dapat dilakukan masyarakat Indonesia untuk pencegahan kasus kekerasan anak adalah memberikan upaya promotif dan preventif. Upaya promotif seperti rangakain kegiatan pelayanan kesehatan yang bersifat promosi kesehatan untuk mebangun kesadaran dan menumbuhkan perilaku positif bagi para calon orang tua dan orang tua yang sudah memiliki anak. Dengan adanya upaya promotif dapat membangun kesadaran dan membukan mata bagi para orang tua bahwa sesungguhnya anak merupakan karunia yang diberikan oleh Tuhan maka dari itu kita sebagai para calon orang tua atau orang tua yang sudah memiliki anak, harus merawat, mendidik, membina, memberikan kasih sayang, dan menasihati anak dalam hal wajar, orang tua pun berhak juga memberikan nasihat kepada anaknya namun, memberikan nasihat dengan cara yang bijaksana dan tidak melukai perasaan dan fisik anak tersebut, karena anak juga mempunyai hak yang sama seperti manusia, atau orang dewasa pada umunya. Lalu selain memberikan promosi kesehatan dengan cara membangun kesadaran untuk menumbuhkan berfikir positif, dengan cara penyuluhan ditatanan keluarga, memberikan pendidikan kesehatan mengenai kekerasan dan cara pencegahan. Lalu upaya preventif (pencegahan) suatu upaya pencegahan untuk masalah dari kekerasan anak, optimalisasi lembaga-lembaga pemerintah seperti, KPAI, sekolah maupun pelayanan kesehatan untuk terus mengingatkan atau memberikan arahan mengenai pencegahan kekerasan anak serta cara memberikan kasih sayang kepada anak secara benar.