Anda di halaman 1dari 2

TINDAKAN ANESTESI SPINAL

RSKB No. Dokumen No. Revisi Halaman


Banjarmasin A.04.III. 29 0 1/2
Siaga
Ditetapkan
Direktur RSKBB Siaga
Standar Prosedur Tanggal Terbit
Operasional 04 Mei 2016
(SPO)
dr. M. Noor Amrullah, SpB,FINACS,M.Kes

Pengertian Penggunaan obat analgetik local kedalam ruang sub arachnoid di


daerah antara vertebra L2 – L3 atau L3 – L4 untuk menghambat
hantaran saraf sensorik, sehingga impuls nyeri dari suatu bagian tubuh
diblokir untuk sementara (reversible) fungsi motorik dapat terpengaruh
sebagian atau seluruhnya penderita tetap sadar.

Tujuan Umum : Meningkatkan keselamatan pasien


Khusus :
1. Anestesi untuk operasi daerah ektremitas bawah
2. Anestesi untuk operasi daerah abdomen yang tidak memerlukan
relaxasi maximal
3. Sesuai indikasi operasi
Kebijakan Hal-hal yang perlu diperhatikan/harus dilakukan pada pelayanan pasien
untuk anestesi/sedasi moderat dan dalam :
1. Harus dilakukan asesmen pra anestesi/sedasi dan perencanaan
intervensi berdasarkan asesmen;
2. Dokumentasi seluruh proses sedasi dalam RM sebagai salah
satu bentuk komunikasi efektif;
3. Melaksanakan informed consent;
4. Monitoring pasien secara adekuat;
5. Dilaksanakan oleh staf yang kompeten;
6. Fasilitas memadai;
7. Ada kriteria sadar dari anestesi.
Prosedur Persiapan :
Meliputi persiapan
1. Pasien
2. Alat
3. Obat
1. PASIEN
Pasien diberitahu, terpasang infus dan alat monitor pasien
diposisikan sesuai kebutuhan (lateral decubitus atau duduk).
2. ALAT
 Bak instrumen steril
 Doek kecil lubang steril
 Hand schon steril sesuai ukuran
TINDAKAN ANESTESI SPINAL

RSKB No. Dokumen No. Revisi Halaman


Banjarmasin A.04.III. 29 0 2/2
Siaga
 Kasa steril
 Spuit 5cc 1
 Spuit 3cc 1
 Spinocan sesuai ukuran
 Handsaplast 1
 Betadin
 Alkohol
 Klem desinfeksi

3. OBAT
 Obat anestesi spinal (Bupivacain 5%)
 Obat anestesi local (lidocain 2%)

Langkah-langkah :
1. Dokter anestesi melakukan cuci tangan 6 langkah
2. Setelah pasien diposisikan duduk atau lateral decubitus daerah, dokter
anestesi menentukan tempat suntikan.
3. Buka sarung tangan steril dilanjutkan dengan desinfeksi daerah yang
sudah ditentukan dengan betadin
4. Sambil menunggu reaksi dari desinfeksi betadin, dokter anesteis
meminta kepada perawat anestesi untuk membuka spuit 3 cc dan obat
lidocain
5. Sebelum memasukkan obat lidocain ke dalam spuit 3 cc, dokter
anestesi mengecek labeling obat.
6. Desinfeksi daerah penyuntikan dengan alcohol.
7. Daerah yang sudah didesinfeksi dipersempit dengan doek lobang.
8. Dokter anestesi melakukan injeksi local anestesi dengan lidocain sesuai
dosis
9. Memasukkan obat anestesi spinal ke dalam Spuit 5 cc (sebelum
memasukkan obat, dokter anestesi dan perawat mengecek kembali
labeling obat)
10. Lakukan penyuntikan dengan jarum spinal terhadap bidang horizontal
ke arah kranial pada ruang vertebralumbalis yang sudah dipilih.
11. Jarum spinal akan menembus berturut-turut ligamen yang terakhir
ditembus adalah durameter sub arachoid.
12. Cabut stylet cairan liquor cerebro spinalis akan menetes.
13. Hubungkan ujung jarum spinal dengan spuitobat analgesia, lakukan
aspirasi.
14. Selanjutnya obat dimasukkan pelan-pelan(+ 3 detik per cc).
15. Daerah penyuntikan dilakukan penutupan dengan kassa atau hansaplast
16. Pasien diposisikan kembali sesuai posisi pembedahan dan alat
dirapikan
Unit Terkait 1. Unit Kamar bedah dan Anestesi
2. Instalasi Farmasi