Anda di halaman 1dari 27

REFERAT ILMU PENYAKIT MATA

KONJUNGTIVITIS

Oleh:
Bella Septiani Br Turnip, S. Ked
17360040

Pembimbing:
dr. Rahmat Syuhada , Sp. M

DEPARTEMEN ILMU MATA


RUMAH SAKIT PERTAMINA BINTANG AMIN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MALAHAYATI
BANDAR LAMPUNG
2018

1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Konjungtivitis adalah peradangan selaput bening yang menutupi bagian putih
mata dan bagian dalam kelopak mata. Peradangan tersebut menyebabkan timbulnya
berbagai macam gejala, salah satunya adalah mata merah. Konjungtivitis dapat
disebabkan oleh virus, bakteri, alergi, atau kontak dengan benda asing, misalnya
kontak lensa. Konjungtivitis virus biasanya mengenai satu mata. Pada
konjungtivitis ini, mata sangat berair. Kotoran mata ada, namun biasanya sedikit.
Konjungtivitis bakteri biasanya mengenai kedua mata. Ciri khasnya adalah keluar
kotoran mata dalam jumlah banyak, berwarna kuning kehijauan. Konjungtivitis
alergi juga mengenai kedua mata.
Tandanya, selain mata berwarna merah, mata juga akan terasa gatal. Gatal
ini juga seringkali dirasakan dihidung. Produksi air mata juga berlebihan sehingga
mata sangat berair. Konjungtivitis papiler raksasa adalah konjungtivitis yang
disebabkan oleh intoleransi mata terhadap lensa kontak. Biasanya mengenai kedua
mata, terasa gatal, banyak kotoran mata, air mata berlebih, dan kadang muncul
benjolan di kelopak mata. Konjungtivitis virus biasanya tidak diobati, karena akan
sembuh sendiri dalam beberapa hari. Walaupun demikian, beberapa dokter tetap akan
memberikan larutan astringen agar mata senantiasa bersih sehingga infeksi sekunder
oleh bakteri tidak terjadi dan air mata buatan untuk mengatasi kekeringan dan rasa
tidak nyaman di mata. 1, 3
Obat tetes atau salep antibiotik biasanya digunakan untuk mengobati
konjungtivitis bakteri. Antibiotik sistemik juga sering digunakan jika ada infeksi di
bagian tubuh lain. Pada konjungtivitis bakteri atau virus, dapat dilakukan kompres

2
hangat di daerah mata untuk meringankan gejala. Tablet atau tetes mata antihistamin
cocok diberikan pada konjungtivitis alergi. Selain itu, air mata buatan juga dapat
diberikan agar mata terasa lebih nyaman, sekaligus melindungi mata dari paparan
alergen, atau mengencerkan alergen yang ada di lapisan air mata. Untuk
konjungtivitis papiler raksasa, pengobatan utama adalah menghentikan paparan
dengan benda yang diduga sebagai penyebab, misalnya berhenti menggunakan lensa
kontak. Selain itu dapat diberikan tetes mata yang berfungsi untuk mengurangi
3
peradangan dan rasa gatal di mata. Pada dasarnya konjungtivitis adalah penyakit
ringan, namun pada beberapa kasus dapat berlanjut menjadi penyakit yang serius.
Untuk itu tidak ada salahnya berkonsultasi dengan dokter mata jika terkena
konjungtivitis.

3
BAB I
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Konjungtiva

Konjungtiva merupakan lapisan terluar dari mata yang terdiri dari membran
mukosa tipis yang melapisi kelopak mata, kemudian melengkung melapisi
permukaan bola mata dan berakhir pada daerah transparan pada mata yaitu kornea.
Secara anatomi, konjungtiva dibagi atas 2 bagian yaitu konjungtiva palpebra dan
konjungtiva bulbaris. Namun, secara letak areanya, konjungtiva ibagi menjadi 6 area
yaitu area marginal, tarsal, orbital, forniks, bulbar dan limbal. Konjungtiva
bersambungan dengan kulit pada tepi kelopak (persambungan mukokutan) dan
dengan epitel kornea pada limbus.Pada konjungtiva palpebra, terdapat dua lapisan
epithelium dan menebal secara bertahap dari forniks ke limbus dengan membentuk
epithelium berlapis tanpa keratinisasi pada daerah marginal kornea. Konjungtiva
palpebralis terdiri dari epitel berlapis tanpa keratinisasi yang lebih tipis. Dibawah
epitel tersebut terdapat lapisan adenoid yang terdiri dari jaringan ikat longgar yang
terdiri dari leukosit. Konjungtiva palpebralis melekat kuat pada tarsus, sedangkan
bagian bulbar bergerak secara bebas pada sklera kecuali yang dekat pada daerah
kornea.3 Berikut adalah gambaran anatomi dari konjungtiva 5,6

Gambar 2.1. Anatomi Konjungtiva

4
Aliran darah konjungtiva berasal dari arteri siliaris anterior dan arteri
palpebralis. Kedua arteri ini beranastomosis bebas dan – bersama dengan banyak
vena konjungtiva yang umumnya mengikut i pola arterinya – membentuk jaringjaring
vaskuler konjungtiva yang banyak sekali. Pembuluh limfe konjungtiva tersusun
dalam lapisan superfisial dan lapisan profundus dan bersambung dengan pembuluh
1
limfe palpebra hingga membentuk pleksus limfatikus yang banyak. Konjungtiva
menerima persarafan dari percabangan pertama (oftalmik) nervus trigeminus.
1,3
Saraf ini hanya relatif sedikit mempunyai serat nyeri. Fungsi dari konjungtiva
adalah memproduksi air mata, menyediakan kebutuhan oksigen ke kornea
ketika mata sedang terbuka dan melindungi mata, dengan mekanisme pertahanan
nonspesifik yang berupa barier epitel, akt ivitas lakrimasi, dan menyuplai darah.
Selain itu, terdapat pertahanan spesifik berupa ekanisme imunologis seperti sel mast,
leukosit, adanya jaringan limfoid pada mukosa tersebut dan antibodi dalam bentuk
IgA 1,2
Pada konjungtiva terdapat beberapa jenis kelenjar yang dibagi menjadi dua
grup besar yaitu 3,4
1. Penghasil musin
a. Sel goblet; terletak dibawah epitel dan paling banyak ditemukan pada
daerah inferonasal.
b. Crypts of Henle; terletak sepanjang sepertiga atas dari konjungtiva
tarsalis superior dan sepanjang sepertiga bawah dari konjungtiva tarsalis
inferior.
c. Kelenjar Manz; mengelilingi daerah limbus.
2. Kelenjar asesoris lakrimalis. Kelenjar asesoris ini termasuk kelenjar Krause
dan kelenjar Wolfring. Kedua kelenjar ini terletak dalam dibawah substansi
propria.

5
Pada sakus konjungtiva tidak pernah bebas dari mikroorganisme namun
karena suhunya yang cukup rendah, evaporasi dari cairan lakrimal dan suplai darah
yang rendah menyebabkan bakteri kurang mampu berkembang biak. Selain itu, air
mata bukan merupakan medium yang baik. 1

2.2 Konjungtivitis
2.2.1 Definisi Konjungtivitis
Konjungtivitis adalah peradangan konjungtiva yang ditandai oleh dilatasi
vaskular, infiltrasi selular dan eksudasi, atau Radang pada selaput lendir yang
menutupi belakang kelopak dan bola mata.1 Konjungtivitis di bedakan menjadi
akut dan kronis yang disebabkan oleh mikro-organisme (virus, bakteri, jamur,
chlamidia), alergi, iritasi bahan-bahan kimia.2 Konjungtivitis adalah peradangan

pada konjungtiva. Penyakit ini merupakan penyakit yang paling umum didunia.
Karena lokasinya, konjungtiva terpapar oleh banyak mikroorganisme dan faktor-

faktor lingkungan lain yang mengganggu. Penyakit ini bervariasi mulai dari

hyperemia ringan dengan mata berair sampe dengan konjungtivitis berat dengan

banyak secret purulen kental.

6
2.2.2 Gejala dan Tanda klinis

Gejala penting konjungtivitis adalah sensasi benda asing, yaitu tergores atau
panas, sensasi penuh di sekitar mata, gatal dan fotofobia. Jika ada rasa sakit agaknya
kornea terkena. Sakit pada iris atau corpus siliaris mengesankan terkenanya kornea.
Tanda penting konjungtivitis adalah hiperemia, berair mata, eksudasi, pseudoptosis,
hipertrofi papiler, kemosis (edem stroma konjungtiva), folikel (hipertrofi lapis
limfoid stroma), pseudomembranosa dan membran, granuloma, dan adenopati pre-
aurikuler.¹ Hiperemia adalah tanda paling mencolok pada konjungtiva akut.
Kemerahan paling nyata pada forniks dan mengurang ke arah limbus disebabkan
dilatasi pembuluh- pembuluh konjungtiva posterior. Warna merah terang
mengesankan konjungtivitis bakteri dan keputihan mirip susu mengesankan
konjungtivitis alergika.
Berair mata (epiphora) sering mencolok, diakibatkan oleh adanya sensasi
benda asing, terbakar atau gatal. Kurangnya sekresi airmata yang abnormal
mengesankan keratokonjungtivitis sicca. Eksudasi adalah ciri semua jenis
konjungtivitis akut. Eksudat berlapis-lapis dan amorf pada konjungtivitis bacterial
dan dapat pula berserabut seperti pada konjungtivitis alergika,yang biasanya
menyebabkan tahi mata dan saling melengketnya palpebra saat bangun tdr pagi hari,
dan jika eksudat berlebihan agaknya disebabkan oleh bakteri atau klamidia.
Pseudoptosis adalah turunnya palpebra superior karena infiltrasi ke muskullus
muller (M. Tarsalis superior). Keadaan ini ddijumpai pada konjuntivitis berat. Mis.
Trachoma dan konjungtivitis epidemica. Pseudomembran dan membran adalah
hasil proses eksudatif dan berbeda derajatnya. Sebuah pseudomembran adalah
pengentalan di atas permukaan epitel. Bila diangkat, epitel tetap utuh. Sebuah
membran adalahpengentalan yang meliputi seluruh epitel dan jika diangkat akan
meninggalkan permukaan yang kasar dan berdarah.
2.2.3 Etiologi
Konjungtiva bisa mengalami peradangan akibat:
o Infeksi oleh virus atau bakteri
o Reaksi alergi terhadap debu, serbuk sari, bulu binatang

7
o Iritasi oleh angin, debu, asap dan polusi udara lainnya; sinar ultraviolet
dari las listrik atau sinar matahari. 3
2.2.4 Klasifikasi
Konjungtivitis, terdiri dari:
1. Konjungtivitis bakterial Akut
2. Konjungtivitis virus Akut
3. Konjungtivitis alergi
4. Konjungtivitis Neonatorum
5. Konjungtivitis iritasi atau kimia 1 3

2.2.4.1 Konjungtivitis Karena agen infeksi


1. Konjungtivitis Bakterial
Terdapat dua bentuk konjungtivitis bacterial: akut (dan subakut) dan
menahun. Penyebab konjungtivitis bakteri paling sering adalah Staphylococcus,
Pneumococcus, dan Haemophilus. Konjungtivitis bacterial akut dapat sembuh
sendiri bila disebabkan mikroorganisme seperti Haemophilus influenza. Lamanya
penyakit dapat mencapai 2 minggu jika tidak diobati dengan memadai.
Konjungtivitis akut dapat menjadi menahun. Pengobatan dengan salah satu dari
sekian antibacterial yang tersedia biasanya mengenai keadaan ini dalam beberapa
hari. Konjungtivitis purulen yang disebabkan Neisseria gonorroeae atau Neisseria
meningitides dapat menimbulkan komplikasi berat bila tidak diobati secara dini.
a) Tanda dan Gejala
- Iritasi mata,
- Mata merah,
- Sekret mata,
- Palpebra terasa lengket saat bangun tidur
- Kadang-kadang edema palpebra
- Infeksi biasanya mulai pada satu mata dan menular ke sebelah oleh tangan.
Infeksi dapat menyebar ke orang lain melalui bahan yang dapat menyebarkan
kuman seperti seprei, kain, dll.1,5
b) Pemeriksaan Laboratorium

8
Pada kebanyakan kasus konjungtivitis bacterial, organism dapat diketahui
dengan pemeriksaan mikroskopik terhadap kerokan konjungtiva yang dipulas
dengan pulasan Gram atau Giemsa; pemeriksaan ini mengungkapkan banyak
neutrofil polimorfonuklear.1,2,3 Kerokan konjungtiva untuk pemeriksaan
mikroskopik dan biakan disarankan untuk semua kasus dan diharuskan jika
penyakit itu purulen, bermembran atau berpseudomembran. Studi sensitivitas
antibiotika juga baik, namun sebaiknya harus dimulai terapi antibiotika empiric.
Bila hasil sensitifitas antibiotika telah ada, tetapi antibiotika spesifik dapat
diteruskan.
c) Komplikasi dan Sekuel
Blefaritis marginal menahun sering menyertai konjungtiva stafilokokus
kecuali pada pasien sangat muda yang bukan sasaran blefaritis. Parut konjungtiva
dapat terjadi pada konjungtivitis pseudomembranosa dan pada kasus tertentu
yang diikuti ulserasi kornea dan perforasi. Ulserasi kornea marginal dapat terjadi
pada infeksi N gonorroeae, N konchii, N meningitides, H aegyptus, S
gonorrhoeae berdifusi melalui kornea masuk camera anterior, dapat timbul iritis
toksik.1,3
d) Terapi
Terapi spesifik terhadap konjungtivitis bacterial tergantung temuan agen
mikrobiologiknya. Sambil menunggu hasil laboratorium, dokter dapat mulai
dengan terapi topical antimikroba. Pada setiap konjungtivitis purulen, harus
dipilih antibiotika yang cocok untuk mengobati infeksi N gonorroeae, dan N
meningitides. Terapi topical dan sistemik harus segera dilkasanakan setelah
materi untuk pemeriksaan laboratorium telah diperoleh. Pada konjungtivitis
purulen dan mukopurulen akut, saccus konjungtiva harus dibilas dengan larutan
garam agar dapat menghilangkan secret konjungtiva. Untuk mencegah
penyebaran penyakit ini, pasien dan keluarga diminta memperhatikan secara
khusus hygiene perorangan.
e) Perjalanan dan Prognosis

Konjungtivitis bakteri akut hampir selalu sembuh sendiri, infeksi dapat


berlangsung selama 10-14 hari; jika diobati dengan memadai, 1-3 hari, kecuali
konjungtivitis stafilokokus (yang dapat berlanjut menjadi blefarokonjungtivitis
9
dan memasuki tahap mnehun) dan konjungtivitis gonokokus (yang bila tidak
diobati dapat berakibat perforasi kornea dan endoftalmitis). Karena konjungtiva
dapat menjadi gerbang masuk bagi meningokokus ke dalam darah dan
meninges, hasil akhir konjungtivitis meningokokus adalah septicemia dan
meningitis.1,4 Konjungtivitis bacterial menahun mungkin tidak dapat sembuh
sendiri dan menjadi masalah pengobatan yang menyulitkan.

2. Konjungtivitis Bakterial Akut


a) Definisi
Peradangan pada konjungtiva yang disebabkan Oleh
Streptokokus, Corynebacterium diptherica, Pseudomonas, neisseria, dan
hemophilus. Terdapat dua bentuk konjungtivitis bacterial: akut (dan subakut) dan
menahun. Penyebab konjungtivitis bakteri paling sering adalah Staphylococcus,
Pneumococcus, dan Haemophilus. Konjungtivitis bacterial akut dapat sembuh
sendiri bila disebabkan mikroorganisme seperti Haemophilus influenza. Lamanya
3
penyakit dapat mencapai 2 minggu jika tidak diobati dengan memadai.
Konjungtivitis akut dapat menjadi menahun. Pengobatan dengan salah satu dari
sekian antibacterial yang tersedia biasanya mengenai keadaan ini dalam
beberapa hari. Konjungtivitis purulen yang disebabkan Neisseria gonorroeae
atau Neisseria meningitides dapat menimbulkan komplikasi berat bila tidak
diobati secara dini, 4
b) Diagnosis
Hiperemi Konjungtiva
Edema kelopak dengan kornea yang jernih
Kemosis : pembengkakan konjungtiva
Mukopurulen atau Purulen4
c) Pemeriksaan
 Pemeriksaan tajam penglihatan
 Pemeriksaan segmen anterior bola mata
 Sediaan langsung (swab konjungtiva untuk pewarnaan garam) untuk
mengindentifikasi bakteri, jamur dan sitologinya. 5

10
 Infeksi biasanya mulai pada satu mata dan menular ke sebelah oleh tangan.
Infeksi dapat menyebar ke orang lain melalui bahan yang dapat menyebarkan
kuman seperti seprei, kain, dll.1,5

d) Pemeriksaan Laboratorium
Pada kebanyakan kasus konjungtivitis bacterial, organism dapat diketahui
dengan pemeriksaan mikroskopik terhadap kerokan konjungtiva yang dipulas
dengan pulasan Gram atau Giemsa; pemeriksaan ini mengungkapkan banyak
neutrofil polimorfonuklear.1,2,3 Kerokan konjungtiva untuk pemeriksaan
mikroskopik dan biakan disarankan untuk semua kasus dan diharuskan jika
penyakit itu purulen, bermembran atau berpseudomembran. Studi sensitivitas
antibiotika juga baik, namun sebaiknya harus dimulai terapi antibiotika empiric.
Bila hasil sensitifitas antibiotika telah ada, tetapi antibiotika spesifik dapat
diteruskan. 6
e) Terapi

Prinsip terapi dengan obat topical spectrum luas. Pada 24 jam pertama
obat diteteskan tiap 2 jam kemudian pada hari berikutnya diberikan 4 kali sehari
selama 1 minggu. Pada malam harinya diberikan salep mata untuk mencegah
belekan di pagi hari dan mempercepat penyembuhan1, 3 Terapi spesifik terhadap
konjungtivitis bacterial tergantung temuan agen mikrobiologiknya. Sambil
menunggu hasil laboratorium, dokter dapat mulai dengan terapi topical
antimikroba. Pada setiap konjungtivitis purulen, harus dipilih antibiotika
yang cocok untuk mengobati infeksi N gonorroeae, dan N meningitides.
Terapi topical dan sistemik harus segera dilkasanakan setelah
4,6
materi untuk pemeriksaan laboratorium telah diperoleh. Pada konjungtivitis
purulen dan mukopurulen akut, saccus konjungtiva harus dibilas dengan larutan
garam agar dapat menghilangkan secret konjungtiva. Untuk mencegah
penyebaran penyakit ini, pasien dan keluarga diminta memperhatikan secara
khusus hygiene perorangan. 1,4
f) Perjalanan dan Prognosis
Konjungtivitis bakteri akut hampir selalu sembuh sendiri, infeksi dapat
berlangsung selama 10-14 hari; jika diobati dengan memadai, 1-3 hari, kecuali
11
konjungtivitis stafilokokus (yang dapat berlanjut menjadi blefarokonjungtivitis
dan memasuki tahap mnehun) dan konjungtivitis gonokokus (yang bila tidak
diobati dapat berakibat perforasi kornea dan endoftalmitis). Karena konjungtiva
dapat menjadi gerbang masuk bagi meningokokus ke dalam darah dan meninges,
hasil akhir konjungtivitis meningokokus adalah septicemia dan meningitis.1,4
Konjungtivitis bacterial menahun mungkin tidak dapat sembuh sendiri dan
menjadi masalah pengobatan yang menyulitkan.
g) Pencegahan
Konjungtivitis mudah menular, karena itu sebelum dan
sesudahmembersihkan atau mengoleskan obat, penderita harus mencuci
tangannya bersih-bersih. Usahakan untuk tidak menyentuh mata yang sehat
sesudah menangani mata yang sakit. Jangan menggunakan handuk atau lap
bersama-sama dengan penghuni rumah lainnya.8

3. Konjungtivitis Gonore
Merupakan radang konjungtiva akut dan hebat disertai dengan sekret
purulen. Gonokok merupakan kuman yang sangat patogen, virulen dan bersifat
3
invasif, sehingga reaksi radang terhadap kuman ini sangat berat. Infeksi pada
neonatus terjadi pada saat berada pada jalan kelahiran, sedang pada bayi penyakit
ini ditularkan oleh ibu yang menderita penyakit tersebut.
a) Gejala
Gejala Konjungtivitis Gonore antara lain :
1. Konjungtiva yang kaku, dan sakit saat perabaan
2. Kelopak mata membengkak dan kaku sehingga sukar di buka.
3. Terdapat pseudomembran pada konjungtiva tarsal superior, sedangkan
konjungtiva bulbi merah.
4. Pada stadium supuratif terdapat sekret yang kental.
b) Pemeriksaan dan diagnosis
Pemeriksaan sekret dan pewarnaan metilen blu diman dapat terlihat diplokok di
dalam sel leukosit.
c) Pengobatan
Penisilin Salep dn Suntikan pada bayi diberikan 50.000 U/kgBB selama 7hari.

12
4. Konjungtivitis Angular
Konjungtivitis Angular terutama didapatkan di daerah kantus interpalpebra.
Disebabkan oleh Basil Moraxella Axenfeld. 3
a) Gejala
Ekskoriasi kulit di sekitar daerah meradang, Sekret mukopurulen, Pasien sering
mengedip5,6
b) Pengobatan
Tetrasiklin dan basitrasin

5. Konjungtivitis mukopurulen
Konjungtivitis mukopurulen merupakan konjungtivitis dengan gejala
umum konjungtivitis kiataral mukoid yang disebabkan oleh Staphylococcus atau
basil Koch Weeks.3
Gejala

Hiperemi konjungtiva
Sekret berlendir yang mengakibatkan kedua kelopak mata melekat terutama saat
bangun pagi.

6. Konjungtivitis Virus
1. Konjungtivitis Folikuler Virus Akut
a) Demam Faringokonjungtival
1. Tanda dan gejala
Demam Faringokonjungtival ditandai oleh demam 38,3-40 °C, sakit
tenggorokan, dan konjungtivitis folikuler pada satu atau dua mata.
Folikuler sering sangat mencolok pada kedua konjungtiva dan pada
mukosa faring. Mata merah dan berair mata sering terjadi, dan kadang-
kadang sedikit kekeruhan daerah subepitel. Yang khas adalah
limfadenopati preaurikuler (tidak nyeri tekan).1
2. Laboratorium

13
Demam faringokonjungtival umumnya disebabkan oleh adenovirus tipe
3 dan kadang – kadang oleh tipe 4 dan 7. Virus itu dapat dibiakkan dalam sel
HeLa dan ditetapkan oleh tes netralisasi. Dengan berkembangnya
penyakit, virus ini dapat juga didiagnosis secara serologic dengan
meningkatnya titer antibody penetral virus. Diagnosis klinis adalah hal mudah
dan jelas lebih praktis. Kerokan konjungtiva terutama mengandung sel
mononuclear, dan tak ada bakteri yang tumbuh pada biakan. Keadaan ini
lebih sering pada anak-anak daripada orang dewasa dan sukar menular di
kolam renang berchlor. 1,3,6
3. Terapi
Tidak ada pengobatan spesifik. Konjungtivitisnya sembuh sendiri,
umumnya dalam sekitar 10 hari. 1

b) Keratokonjungtivitis Epidemika
1. Tanda dan gejala
Keratokonjungtivitis epidemika umumnya bilateral. Awalnya sering pada
satu mata saja, dan biasanya mata pertama lebih parah. Pada awalnya pasien
merasa ada infeksi dengan nyeri sedang dan berair mata, kemudian diikuti
dalam 5-14 hari oleh fotofobia, keratitis epitel, dan kekeruhan subepitel bulat.
Sensai kornea normal. Nodus preaurikuler yang nyeri tekan adalah khas.
Edema palpebra, kemosis, dan hyperemia konjungtiva menandai fase akut.
Folikel dan perdarahan konjungtiva sering muncul dalam 48 jam. Dapat
membentuk pseudomembran dan mungkin diikuti parut datar atau
pembentukan symblepharon. 1,3,4
Konjungtivitis berlangsung paling lama 3-4 minggu. Kekeruhan subepitel
terutama terdapat di pusat kornea, bukan di tepian, dan menetap berbulan-
bulan namun menyembuh tanpa meninggalkan parut. 1Keratokonjungtiva
epidemika pada orang dewasa terbatas pada bagian luar mata. Namun, pada
anak-anak mungkin terdapat gejala sistemik infeksi virus seperti demam,
sakit tenggorokan, otitis media, dan diare.
2. Laboratorium
Keratokonjungtiva epidemika disebabkan oleh adenovirus tipe 8, 19, 29,
dan 37 (subgroub D dari adenovirus manusia). Virus-virus ini dapat diisolasi
14
dalam biakan sel dan diidentifikasi dengan tes netralisasi. Kerokan
konjungtiva menampakkan reaksi radang mononuclear primer; bila terbentuk
pseudomembran, juga terdapat banyak neutrofil. 1
3. Penyebaran
Transmisi nosokomial selama pemeriksaan mata sangat sering terjadi
melalui jari-jari tangan dokter, alat-alat pemeriksaan mata yang kurang steril,
atau pemakaian larutan yang terkontaminasi. Larutan mata, terutama
anestetika topical, mungkin terkontaminasi saat ujung penetes obat menyedot
materi terinfeksi dari konjungtiva atau silia. Virus itu dapat bertahan dalam
larutan itu, yang menjadi sumber penyebaran. 1,3
4. Pencegahan
Bahaya kontaminasi botol larutan dapat dihindari dengan dengan
memakai penetes steril pribadi atau memakai tetes mata dengan kemasan unit-
dose. Cuci tangan secara teratur di antara pemeriksaan dan pembersihan serta
sterilisasi alat-alat yang menyentuh mata khususnya tonometer juga suatu
keharusan. Tonometer aplanasi harus dibersihkan dengan alcohol atau
hipoklorit, kemudian dibilas dengan air steril dan dikeringkan dengan hati-
hati.
5. Terapi
Sekarang ini belum ada terapi spesifik, namun kompres dingin akan
mengurangi beberapa gejala. Kortikosteroid selama konjungtivitis akut dapat
memperpanjang keterlibatan kornea sehingga harus dihindari. Agen
antibakteri harus diberikan jika terjadi superinfeksi bacterial. 1

7. Konjungtivitis Virus Herpes Simpleks


a. Tanda dan gejala
Konjungtivitis virus herpes simplex biasanya merupakan penyakit anak kecil,
adalah keadaan yang luar biasa yang ditandai pelebaran pembuluh darah
unilateral, iritasi, bertahi mata mukoid, sakit, dan fotofobia ringan. Pada kornea
tampak lesi-lesi epithelial tersendiri yang umumnya menyatu membentuk satu
ulkus atau ulkus-ulkus epithelial yang bercabang banyak (dendritik).
Konjungtivitisnya folikuler. Vesikel herpes kadang-kadang muncul di palpebra

15
dan tepian palpebra, disertai edema hebat pada palpebra. Khas terdapat sebuah
nodus preaurikuler yang terasa nyeri jika ditekan. 1,3

b. Laboratorium
Tidak ditemukan bakteri di dalam kerokan atau dalam biakan. Jika
konjungtivitisnya folikuler, reaksi radangnya terutama mononuclear,
namun jika pseudomembran, reaksinya terutama polimorfonuklear akibat
kemotaksis dari tempat nekrosis. Inklusi intranuklear tampak dalam sel
konjungtiva dan kornea, jika dipakai fiksasi Bouin dan pulasan Papanicolaou,
tetapi tidak terlihat dengan pulasan Giemsa. Ditemukannya sel – sel epithelial
raksasa multinuclear mempunyai nilai diagnostic.3 Virus mudah diisolasi dengan
mengusapkan sebuah aplikator berujung kain kering di atas konjungtiva dan
memindahkan sel-sel terinfeksi ke jaringan biakan.3
c. Terapi
Jika konjungtivitis terdapat pada anak di atas 1 tahun atau pada orang
dewasa, umunya sembuh sendiri dan mungkin tidak perlu terapi. Namun,
antivirus local maupun sistemik harus diberikan untuk mencegah terkenanya
kornea. Untuk ulkus kornea mungkin diperlukan debridemen kornea dengan
hati-hati yakni dengan mengusap ulkus dengan kain kering, meneteskan obat
antivirus, dan menutupkan mata selama 24 jam. Antivirus topical sendiri
harus diberikan 7 – 10 hari: trifluridine setiap 2 jam sewaktu bangun atau salep
vida rabine lima kali sehari, atau idoxuridine 0,1 %, 1 tetes setiap jam sewaktu
bangun dan 1 tetes setiap 2 jam di waktu malam. Keratitis herpes dapat pula
diobati dengan salep cyclovir 3% lima kali sehari selama 10 hari atau dengan
acyclovir oral, 400 mg lima kali sehari selama 7 hari.3
Untuk ulkus kornea, debridmen kornea dapat dilakukan. Lebih jarang adalah
pemakaian vidarabine atau idoxuridine. Antivirus topical harus dipakai 7-10
hari. Penggunaankortikosteroiddikontraindikasikan, karena makin memperburuk
infeksi herpes simplex dan mengkonversi penyakit dari proses sembuh sendiri
yang singkat menjadi infeksi yang sangat panjang dan berat. 1,3

8. Konjungtivitis Hemoragika Akut

16
a. Epidemiologi
Semua benua dan kebanyakan pulau di dunia pernah mengalami epidemic
besar konjungtivitis konjungtivitis hemoregika akut ini. Pertama kali diketahui
di Ghana dalam tahun 1969. Konjungtivitis ini disebabkan oleh coxackie virus
A24. Masa inkubasi virus ini pendek (8-48 jam) dan berlangsung singkat (5-7
hari). 5
b. Tanda dan Gejala
Mata terasa sakit, fotofobia, sensasi benda asing, banyak mengeluarkan air
mata, merah, edema palpebra, dan hemoragi subkonjungtival. Kadang- kadang
terjadi kemosis. Hemoragi subkonjungtiva umumnya difus, namun dapat
berupa bintik-bintik pada awalnya, dimulai di konjungtiva bulbi superior
dan menyebar ke bawah. Kebanyaka pasien mengalami limfadenopati
preaurikuler, folikel konjungtiva, dan keratitis epithelial. Uveitis anterior pernah
dilaporkan, demam, malaise, mialgia, umum pada 25% kasus. 1,5
c. Penyebaran
Virus ini ditularkan melalui kontak erat dari orang ke orang dan oleh fomite
seperti sprei, alat-alat optic yang terkontaminasi, dan air. Penyembuhan terjadi
dalam 5-7 hari
d. Terapi
Tidak ada pengobatan yang pasti.

2. Konjungtivitis Virus Menahun

a) Blefarokonjungtiviti Molluscum Contagiosum

Sebuah nodul molluscum pada tepian atau kulit palpebra dan alis mata dapat
menimbulkan konjungtivitis folikuler menahun unilateral, keratitis superior, dan
pannus superior, dan mungkin menyerupai trachoma. Reaksi radang yang
mononuclear (berbeda dengan reaksi pada trachoma), dengan lesi bulat,
berombak, putih mutiara, non-radang dengan bagian pusat, adalah khas
molluscum kontagiosum. Biopsy menampakkan inklusi sitoplasma eosinofilik,
yang memenuhi seluruh sitoplasma sel yang membesar, mendesak inti ke satu
sisi.3Eksisi, insisi sederhana nodul yang memungkinkan darah tepi memasukinya,
atau krioterapi akan menyembuhkan konjungtivitisnya.
17
b) Blefarokonjungtivitis Varicella-Zoster
1) Tanda dan gejala
Hyperemia dan konjungtivitis infiltrate disertai dengan erupsi vesikuler khas
sepanjang penyebaran dermatom nervus trigeminus cabang oftalmika adalah
khas herpes zoster. Konjungtivitisnya biasanya papiler, namun pernah ditemukan
folikel, pseudomembran, dan vesikel temporer, yang kemudian berulserasi.
Limfonodus preaurikuler yang nyeri tekan terdapat pada awal penyakit. parut
pada palpebra, entropion, dan bulu mata salah arah adalah sekuele. 1
2) Laboratorium
Pada zoster maupun varicella, kerokan dari vesikel palpebra mengandung sel
raksasa dan banyak leukosit polimorfonuklear; kerokan konjungtiva pada varicella
dan zoster mengandung sel raksasa dan monosit. Virus dapat diperoleh dari
biakan jaringan sel – sel embrio manusia. 1
3) Terapi
Acyclovir oral dosis tinggi (800 mg oral lima kali sehari selama 10 hari), jika
diberi pada awal perjalanan penyakit, agaknya akan mengurangi dan menghambat
penyakit. 1

c) Keratokonjungtivitis Morbilli
a. Tanda dan gejala
Pada awal penyakit, konjungtiva tampak mirip kaca yang aneh, yang dalam
beberapa hari diikuti pembengkakan lipatan semiluner. Beberapa hari sebelum
erupsi kulit, timbul konjungtivitis eksudatif dengan secret mukopurulen, dan saat
muncul erupsi kulit, timbul bercak-bercak Koplik pada konjungtiva dan kadang-
1,3
kadang pada carunculus. Pada pasien imunokompeten, keratokonjungtivitis
campak hanya meninggalkan sedikit atau sama sekali tanpa sekuel, namun pada
pasien kurang gizi atau imunokompeten, penyakit mata ini seringkali disertai
infeksi HSV atau infeksi bacterial sekunder oleh S pneumonia, H influenza, dan
organism lain.
Agen ini dapat menimbulkan konjungtivitis purulen yang disertai ulserasi kornea
dan penurunan penglihatan yang berat. Infeksi herpes dapat menimbulkan ulserasi
kornea berat dengan perforasi dan kehilangan penglihatan pada anak-anak kurang

18
gizi di Negara berkembang.Kerokan konjungtivitis menunjukkan reaksi sel
mononuclear, kecuali jika ada pseudomembran atau infeksi sekunder. Sedian
terpulas giemsa mengandung sel-sel raksasa. Karena tidak ada terapi spesifik, hanya
tindakan penunjang saja yang dilakukan, kecuali jika ada infeksi sekunder. 1
8. Konjungtivitis Klamidia
1) Trachoma
Tanda dan gejala
Trachoma mulanya adalah konjungtivitis folikuler menahun pada masa
kanak- kanak, yang berkembang sampai pembentukan parut konjungtiva. Pada
kasus berat , pembalikan bulu mata kedalam terjadi pada masa dewasa muda
sebagai akibat parut konjungtiva yang berat. Abrasi terus – menerus oleh bulu
mata yang membalik itu dan gangguan pada film air mata berakibat parut pada
kornea, ummnya setelah usia 50 tahun. Masa inkubasi trachoma rata – rata 7 hari,
namun bervariasi dari 5 sampai 14 hari .pada bayi atau anak biasanya timbulnya
diam – diam, dan penyakit itu dapat sembuh dengan sedikit atau tampa konplikasi.
Pada orang dewasa, timbulnya sering akut atau subakut, dan komplikasi cepat
berkembang. Pada saat timbulnya.trachoma sering mirip konjungtivitis bacteria,
tanda dan gejala biasanya berair mata, fotofobia, sakit, eksudasi, edema palpebra,
kemosis konjungtiva bulbi, hyperemia, hipertrofi papiler, folikel tarsal dan limbal,
keratititis superior, pembentukan pannus dan nodus preaurikuler kecil dan nyeri
tekan. Pada trachoma yang sudah terdiagnosis, mungkin juga terdapat keratitis
epitel superior, keratitis subepitel, panus, folikel limbus superior, dan akhirnya sisa
katriks patognomotik pada folikel- folikel ini, yang dikenal sebagai sumur – sumur
Herbert, depresi kecil dalam jaringan ikat di batas limbus – kornea ditutupi epitel.
Pannus terkait adalah membrane fibrovaskuler yang timbul dari limbus, dengan
lengkung – lengkung vaskuler meluas ke atas kornea. Semua tanda trachoma lebih
berat pada konjungtiva dan kornea bagian atas dari pada bagian bawah.
Untuk pengendalian, World Health Organization telah mengembangakn
cara sederhana untuk memeriksakan penyakit itu. Ini mencakup tanda – tanda
sebagai berikut :
TF : Lima atau lebih folikel pada konjungtiva tarsal atas.

19
TI : Infitrasi difus dan hipertrofi papil konjungtiva atas yang sekurang
kurangnya menutupi 50% pembuluh profunda normal.
TS : Parut konjungtiva trachomatosa.
TT : Trikiasis atau entropion ( bulu mata terbalik ke dalam ). CO :
Kekeruhan kornea.
Adanya TF dan Ti menunjukan trachoma infeksiosa aktif yang harus
diobati. TS adalah bukti cedera akibat penyakit ini. TT berpotensi membutakan
dan merupakan indikasi untuk tindakan operasi kokreasi palpebra. CO adalah
lesi yang terakhir membutakan dari trachoma.
2) Laboratorium
Inkulasi klamida dapat ditemukan pada kerokan konjungtiva yang di
pulas dengan Giemsa, namun tidak selalu ada. Inklusi ini pada sediaan dipulas
Giemsa tampak sebagai massa sitoplasma biru atau ungu gelap yang sangat
halus , yang menutupi inti dari sel epitel. Pulasan antibody fluorescein dan tes
immuno – assay enzim tersedia dipasaran dan banyak dipakai dilabotarium
klinik. Tes baru ini telah menggantikan pulasan Giemsa untuk sediaan hapus
konjungtiva dan isolasi agen klamidial dalam biakan sel.
Secara morfologik, agen trachoma mirip dengan agen konjungtivitis
inkulasi, namun keduanya dapat dibedakan secara serologic dengan
mikroimunofluorescence. Trachoma disebabkan oleh Chalmydia trachomatis
seroipe A,B,Ba atau C.

3) Komplikasi dan sequele


Parut di konjungtiva dalah komplikasi yang sering terjadi pada trachoma
dan dapat merusak duktuli kelenjar lakmal tambahan dan menutupi muara
kelejar lakrimal.hal ini secara drastis mengurangi komponen air dalam film air
mata pre- kornea, dan komponen mukus film mungkin berkurang karena
hilangnya sebagian sel goblet. Luka parut itu juga mengubah bentuk palpebra
superior dengan membalik bulu mata kedalam (trikiasis) atau seluruh tepian
palpebra (entropion), sehingga bulu mata terus –menerus menggesek kornea.ini
berakibat ulserasi pada kornea, infeksi bacterial kornea, dan parut pada kornea.
Ptosis, obstrusi doktus nasolakrimalis, dan dakriosistitis adalah komplikasi
umum lainnya pada trachoma.
20
4) Terapi
Perbaikan klinik mencolok umumnya dicapai dengan tetracycline,1-1,5
g/ hari per os dalam empat dosis selama 3-4 minggu ; doxycycline,100 mg per os
2 kali sehari selama 3 minggu; atau erythromycin, 1 g / hari per os dibagi dalam
empat dosis selama 3-4 minggu. Kadang-kadang diperlukan beberapa kali kur
( pengobatan) agar benar –benar sembuh. Tetracycline sistemik jangan diberi
pada anak dibawah umur 7 tahun atau untuk wanita hamil. Karena tetracycline
mengikat kalsium pada gigi yang berkembang dan tulang yang tumbuh dan dapat
berakibat gigi permanen menjadi kekuningan dan kelainan kerangkan (mis,
clavicula).
Salep atau tetes topikal, termasuk preparat sulfonamide, tetracycline,
erythromycin dan rifampin, empat kali sehari selama enam minggu, sama
efektifnya. Saat mulai terapi, efek maksimum biasanya belum dicapai selama
10 – 12 minggu. Karena itu, tetap adanya folikel pada trasesus superior selama
beberapa minggu setelah terapi berjalan jangan dipakai sebagai bukti kegagalan
terapi.Koreksi bulu mata yang membalik kedalam melalui bedah adalah
esensial untuk mencegah parut trachoma lanjut di Negara berkembang.
Tindakan bedah ini kadang –kadang dilakukan oleh dokter bukan ahli mata atau
orang yang dilatih kusus.

2.2.4.2 Konjungtivitis Imunologik (Alergik)


Reaksi Hipersensitivitas Humoral Langsung
1) Konjungtivitis Demam Jerami (Hay Fever)
a) Tanda dan gejala
Radang konjungtivitis non-spesifik ringan umumnya menyertai demam jerami
(rhinitis alergika). Bianya ada riwayat alergi terhadap tepung sari, rumput, bulu hewan,
dan lainnya. Pasien mengeluh tentang gatal-gatal, berair mata, mata merah, dan sering
mengatakan bahwa matanya seakan-akan “tenggelam dalam jaringan sekitarnya”.
Terdapat sedikit penambahan pembuluh pada palpebra dan konjungtiva bulbi, dan selama
serangan akut sering terdapat kemosis berat (yang menjadi sebab “tenggelamnya” tadi).
Mungkin terdapat sedikit tahi mata, khususnya jika pasien telah mengucek matanya.
b)Laboratorium
Sulit ditemukan eosinofil dalam kerokan konjungtiva.
21
c)Terapi

Meneteskan vasokonstriktor local pada tahap akut (epineprin, larutan 1:1000


yang diberikan secara topical, akan menghilangkan kemosis dan gejalanya dalam
30 menit). Kompres dingin membantu mengatasi gatal-gatal dan antihistamin hanya
sedikit manfaatnya. Respon langsung terhadap pengobatan cukup baik, namun
sering kambuh kecuali anti-gennya dapat dihilangkan.

2) Konjungtivitis Vernalis
a) Definisi
Penyakit ini, juga dikenal sebagai “catarrh musim semi” dan “konjungtivitis
musiman” atau “konjungtivitis musim kemarau”, adalah penyakit alergi bilateral yang
jarang.1,3 Penyakit ini lebih jarang di daerah beriklim sedang daripada di daerah
dingin. Penyakit ini hamper selalu lebih parah selama musim semi, musim panas dan
musim gugur daripada musim gugur.
a) Insiden
Biasanya mulai dalam tahun-tahun prapubertas dan berlangsung 5 – 10 tahun.
Penyakit ini lebih banyak pada anak laki-laki daripada perempuan. 5
b) Tanda dan gejala
Pasien mengeluh gatal-gatal yang sangat dan bertahi mata berserat-serat. Biasanya
terdapat riwayat keluarga alergi (demam jerami, eczema, dan lainnya). Konjungtiva
tampak putih seperti susu, dan terdapat banyak papilla halus di konjungtiva tarsalis
inferior. Konjungtiva palpebra superior sering memiliki papilla raksasa mirip batu kali.
Setiap papilla raksasa berbentuk polygonal, dengan atap rata, dan mengandung berkas
kapiler. 1,2,3
c) Laboratorium
Pada eksudat konjungtiva yang dipulas dengan Giemsa terdapat banyak eosinofil dan
granula eosinofilik bebas. 1
d) Terapi
Penyakit ini sembuh sendiri tetapi medikasi yang dipakai terhadap gejala hanya
member hasil jangka pendek, berbahaya jika dipakai untuk jangka panjang. steroid
sisremik, yang mengurangi rasa gatal, hanya sedikit mempengharuhi penyakit kornea ini,
dan efek sampingnya (glaucoma, katarak, dan komplikasi lain) dapat sangat merugikan.
22
Crmolyn topical adalah agen profilaktik yang baik untuk kasus sedang sampai berat.
Vasokonstriktor, kompres dingin dan kompres es ada manfaatnya, dan tidur di tempat
ber AC sangat menyamankan pasien. Agaknya yang paling baik adalah pindah ke
tempat beriklim sejuk dan lembab. Pasien yang melakukan ini sangat tertolong bahkan
dapat sembuh total. 1,3

3) Konjungtivitis Atopik
a) Tanda dan gejala
Sensasi terbakar, bertahi mata berlendir, merah, dan fotofobia. Tepian palpebra
eritemosa, dan konjungtiva tampak putih seperti susu. Terdapat papilla halus, namun
papilla raksasa tidak berkembang seperti pada keratokonjungtivitis vernal, dan lebih
sering terdapat di tarsus inferior. Berbeda dengan papilla raksasa pada
keratokonjungtivitis vernal, yang terdapat di tarsus superior. Tanda-tanda kornea yang
berat muncul pada perjalanan lanjut penyakit setelah eksaserbasi konjungtivitis terjadi
berulangkali. Timbul keratitis perifer superficial yang diikuti dengan vaskularisasi. Pada
kasus berat, seluruh kornea tampak kabur dan bervaskularisasi, dan ketajaman
penglihatan. 1,3
Biasanya ada riwayat alergi (demam jerami, asma, atau eczema) pada pasien atau
keluarganya. Kebanyakan pasien pernah menderita dermatitis atopic sejak bayi. Parut
pada lipatan-lipatan fleksura lipat siku dan pergelangan tangan dan lutut sering
ditemukan. Seperti dermatitisnya, keratokonjungtivitis atopic berlangsung berlarut-larut
dan sering mengalami eksaserbasi dan remisi. Seperti keratokonjungtivitis vernal,
penyakit ini cenderung kurang aktif bila pasien telah berusia 50 tahun.

b) Laboratorium

Kerokan konjungtiva menampakkan eosinofil, meski tidak sebanyak yang


terlihat sebanyak pada keratokonjungtivitis vernal. 1
c) Terapi
Atihistamin oral termasuk terfenadine (60-120 mg 2x sehari), astemizole (10 mg
empat kali sehari), atau hydroxyzine (50 mg waktu tidur, dinaikkan sampai 200 mg)
ternyata bermanfaat. Obat-obat antiradang non-steroid yang lebih baru, seperti
ketorolac dan iodoxamid, ternyata dapat mengatasi gejala pada pasien-pasien ini. Pada
kasus berat, plasmaferesis merupakan terapi tambahan. Pada kasus lanjut dengan
23
komplikasi kornea berat, mungkin diperlukan transplantasi kornea untuk
mengembalikan ketajaman penglihatannya. 1,3

Reaksi Hipersensitivitas Tipe Lambat


4) Phlyctenulosis
a) Definisi
Keratokonjungtivitis phlcytenularis adalah respon hipersensitivitas lambat terhadap
protein mikroba, termasuk protein dari basil tuberkel, Staphylococcus spp, Candida
albicans, Coccidioides immitis, Haemophilus aegyptus, dan Chlamydia trachomatis
serotype L1, L2, dan L3. 1
b) Tanda dan Gejala
Phlyctenule konjungtiva mulai berupa lesi kecil yang keras, merah, menimbul, dan
dikelilingi zona hyperemia. Di limbus sering berbentuk segitiga, dengan apeks mengarah
ke kornea. Di sini terbentuk pusat putih kelabu, yang segera menjadi ulkus dan
mereda dalam 10-12 hari. Phlyctenule pertama pada pasien dan pada kebanyakan kasus
kambuh terjadi di limbus, namun ada juga yang di kornea, bulbus, dan sangat jarang
di tarsus. 1Phlyctenule konjungtiva biasanya hanya menimbulkan iritasi dan air mata,
namun phlyctenule kornea dan limbus umumnya disertai fotofobia hebat. Phlyctenulosis
sering dipicu oleh blefaritis aktif, konjungtivitis bacterial akut, dan defisiensi diet.
c) Terapi
Phlyctenulosis yang diinduksi oleh tuberkuloprotein dan protein dari infeksi sistemik
lain berespon secara dramatis terhadap kortikosteroid topical. Terjadi reduksi sebagian
besar gejala dalam 24 jam dan lesi hilang dalam 24 jam berikutnya. Antibiotika
topical hendaknya ditambahkan untuk blefarikonjungtivitis stafilokokus aktif. Pengobatan
hendaknya ditujukan terhadap penyakit penyebab, dan steroid bila efektif, hendaknya
hanya dipakai untuk mengatasi gejala akut dan parut kornea yang menetap. Parut kornea
berat mungkin memerlukan tranplantasi. 1

2) Konjungtivitis Ringan Sekunder terhadap Blefaritis kontak


Blefaritis kontak yang disebabkan oleh atropine, neomycin, antibiotika spectrum
luas, dan medikasi topical lain sering diikuti oleh konjungtivitis infiltrate ringan yang
menimbukan hyperemia, hipertropi papiler ringan, bertahi mata mukoid ringan, dan

24
sedikit iritasi. Pemeriksaan kerokan berpulas giemsa sering hanya menampakkan sedikit
sel epitel matim, sedikit sel polimorfonuklear dan mononuclear tanpa eosinofil. 1
Pengobatan diarahkan pada penemuan agen penyebab dan menghilangkannya.
Blefaritis kontak dengan cepat membaik dengan kortikosteroid topical, namun
pemakaiannya harus dibatasi. Penggunaan steroid jangka panjang pada palpebra dapat
menimbulkan glaucoma steroid dan atropi kulit dengan telangiektasis yang menjelekkan.

2.2.4.3 Konjungtivitis Akibat Penyakit Autoimun


a. Keratokonjungtivitis Sicca
Berkaitan dgn. Sindrom Sjorgen (trias: keratokonj. sika, xerostomia, artritis).
Gejala:
- Khas: hiperemia konjungtivitis bulbi dan gejala iritasi yang tidak sebanding
dengan tanda-tanda radang.
- Dimulai dengan konjungtivitis kataralis
- Pada pagi hari tidak ada atau hampir tidak ada rasa sakit, tetapi menjelang siang
atau malam hari rasa sakit semakin hebat.
- Lapisan air mata berkurang (uji Schirmer: abnormal)
- Pewarnaan Rose bengal Ù uji diagnostik.
Pengobatan:
- air mata buatan
- obliterasi pungta lakrimal.

2.4.4 Konjungtivitis Kimia atau Iritatif


1) Konjungtivitis Iatrogenik Pemberian Obat Topikal
Konjungtivitis folikular toksik atau konjungtivitis non-spesifik infiltrate, yang
diikuti pembentukan parut, sering kali terjadi akibat pemberian lama dipivefrin,
miotika, idoxuridine, neomycin, dan obat-obat lain yang disiapkan dalam
bahanpengawet atau vehikel toksik atau yang menimbulakan iritasi. Perak nitrat yang
diteteskan ke dalam saccus conjingtiva saat lahir sering menjadi penyebab
konjungtivitis kimia ringan. Jika produksi air mata berkurang akibat iritasi yang
kontinyu, konjungtiva kemudian akan cedera karena tidak ada pengenceran
terhadap agen yang merusak saat diteteskan kedalam saccus conjungtivae.
Kerokan konjungtiva sering mengandung sel-sel epitel berkeratin, beberapa
25
neutrofil polimorfonuklear, dan sesekali ada sel berbentuk aneh. Pengobatan terdiri atas
menghentikan agen penyebab dan memakai tetesan yang lembut atau lunak, atau sama
sekali tanpa tetesan. Sering reaksi konjungtiva menetap sampai berminggu-minggu atau
berbulan-bulan lamanya setelah penyebabnya dihilangkan.
2) Konjungtivitis Pekerjaan oleh Bahan Kimia dan Iritans

Asam, alkali, asap, angin, dan hamper setiap substansi iritan yang masuk ke
saccus conjungtiva dapat menimbulkan konjungtivitis. Beberapa iritan umum adalah
pupuk, sabun, deodorant, spray rambut, tembakau, bahan-bahan make-up, dan berbagai
asam dan alkali. Di daerah tertentu,asbut (campuran asap dan kabut) menjadi penyebab
utama konjungtivitis kimia ringan. Iritan spesifik dalam asbut belum dapat ditetapkan
secara positif, dan pengobatannya non-spesifik. Tidak ada efek pada mata yang
permanen, namun mata yang terkena seringkali merah dan terasa mengganggu secara
menahun. Pada luka karena asam, asam itu mengubah sifat protein jaringan dan efek
langsung. Alkali tidak mengubah sifat protein dan cenderung cepat menyusup kedalam
jaringan dan menetap di dalam jaringan konjungtiva. Disini mereka terus menerus
merusak selama berjam-jam atau berhari-hari lamanya, tergantung konsentrasi molar
alkali tersebut dan jumlah yang masuk. Perlekatan antara konjungtiva bulbi dan
palpebra dan leokoma kornea lebih besar kemungkinan terjadi jika agen penyebabnya
adalah alkali. Pada kejadian manapun, gejala utama luka bahan kimia adalah sakit,
pelebaran pembuluh darah, fotofobia, dan blefarospasme. Riwayat kejadian pemicu
biasanya dapat diungkapkan.
Pembilasan segera dan menyeluruh saccus conjungtivae dengan air atau larutan
garam sangat penting, dan setiap materi padat harus disingkirkan secara mekanik.
Jangan memakai antidotum kimiawi. Tindakan simtomatik umum adalah kompres
dingin selama 20 menit setiap jam, teteskan atropine 1% dua kali sehari, dan beri
analgetika sistemik bila perlu. Konjungtivitis bacterial dapat diobati dengan agen
antibakteri yang cocok. Parut kornea mungkin memerlukan transplantasi kornea, dan
symblepharon mungkin memerlukan bedah plastic terhadap konjungtiva. Luka bakar
berat pada kojungtiva dan kornea prognosisnya buruk meskipun dibedah. Namun jika
pengobatan memadai dimulai segera, parut yang terbentuk akan minim dan
prognosisnya lebih baik.

26
DAFTAR PUSTAKA

1. Vaughan, Daniel G. dkk. Oftalmologi Umum. Widya Medika. Jakarta. 2000


2. James, Brus, dkk. Lecture Notes Oftalmologi. Erlangga. Jakarta. 2005
3. Ilyas DSM, Sidarta,. Ilmu Penyakit Mata. Fakultas Kedokteran
Universitas
Indonesia. Jakarta. 1998
4. www.dcmsonline.org, tentang conjunctivitis
5. www.eyepathologisyt.com/disease
6. www.aafp.org/afp//AFPprinter/980215ap/morrow.html

27