Anda di halaman 1dari 21

KATA PENGANTAR

Dengan Menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha


Penyayang., kami panjatkan puja dan puji syukur atas Rahmat,Hidayah, dan
Inayah-Nyakepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah analitik
kimia mengenai perhitungan akurasi dan presisi.

Adapun makalah anlitik tentang Pengukuran akurasi dan presisi ini telah
kami usahakan semaksimal mungkin dan tentunya dengan bantuan berbagai
pihak, sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Namun tidak lepas
dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa ada kekurangan baik dari segi
penyusun, bahasanya maupun segi lainnya. Oleh karena itu dengan lapang dada
dan tangan terbuka kami membuka selebar-lebarnya bagi pembaca yang ingin
member saran dan kriktik kepada kami sehingga dapat memperbaiki makalah
analitik ini

Akhir penyusun mengharapkan semoga dari makalah analitik ini kita dapat
mengambil hikmah dan manfaatnya sehingga dapat memberikan ifirasi terhadap
pembaca.

Gorontalo, 26 September 2017

Penysun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................


DAFTAR ISI ...........................................................................................................
BAB 1. PENDAHULUAN .....................................................................................
1.1 Latar Belakang .................................................................................................
1.2 Rumusan Masalah .............................................................................................
1.3 Tujuan ................................................................................................................
BAB 2. PEMBAHASAN ........................................................................................
2.1 Pengertian akurasi dan presisi ...........................................................................
2.1.1 Akurasi ...........................................................................................................
2 .1.2 Presisi ............................................................................................................
2.2 Perbedaan Akurasi dan Presisi ..........................................................................
2.3 Cara Menghitung Akurasi dan Presisi ..............................................................
2.3.1 Akurasi ...........................................................................................................
2.3.2 Presisi .............................................................................................................
2.4 Contoh Pengukuran Akurasi dan Presisi ...........................................................
2.5 Standar Akurasi dan Presisi ..............................................................................
2.5.1 Akurasi ...........................................................................................................
2.5.2 Presisi .............................................................................................................
BAB 3 PENUTUP ..................................................................................................
3.1 Kesimpulan .......................................................................................................
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penelitian eksperimen merupakan penelitian yang sistematis, logis, dan teliti
didalam melakukan kontrol terhadap kondisi. Dalam penelitian, dilakukan
pengukuran terhadap variabel-variabel terikat dan variabel bebas untuk
memecahkan masalah. Dalam melakukan pengukuran diperlukan suatu ketelitian
agar hasil yang diharapkan dapat maksimal dan tepat. Hal ini dapat dikatakan
Aqurasi.
Di setiap melakukan pengukuran, selalu saja terdapat error pada hasil
pengukuran tersebut, kita akan mendapatkan hasil yang tidak benar-benar sama
dari beberapa kali pengulangan. Hasil dari beberapa pengulangan akan
memberikan hasil yang mendekati angka sebenarnya. Hal tersebut dapat dikatakan
presisi. Ketepatan dan ketelitian dalam pendataan merupakan produser mutlak
dalam pengamatan untuk penelitian. Jenis dan jumlah data serta cara pengukuran
atau pengambilan sampel akan mempengaruhi hasil dan interpretasi data sekaligus
kesimpulan (inffrerence). Ketelitian akan mendukung akurasi data, dan
konsistensi dalam pengukuran menunjukan presisi data.
Setia pengukuran melibatkan kekeliruan dan kerena alasan ini adalah penting
sekali bahwa jumlah dan signifikansi kekeliruan ini diperhatikan. Masalah ini
harus dipecahkan dengan pengelolaan data statistic.
Metode-metode statistic yang digunakan secara luas dalam berbagai macam
penelitiannya karena manfaatnya, menghantarkan kepada ketepatan dan
kesimpulan yang benar. Dengan penerapan statistic yang sesuai, data yang rumit
dan membingungkan dapat diringkat untuk mendapatkan ketepatan pendugaan-
pendugaan yang dibuat.Karena itu, sangatlah penting mengetahui berapa banyak
pengematan yang akan dibutuhkan untuk mencapai kesimpulan yang dapat
dipercaya sampai seberapa jauh kesimpulan ini diandallkan
1.2 Rumusan Masalah
1) Bagaimana pengertian Akurasi dan Presisi
2) Apa Perbedaan Akurasi dan Presisi
3) Bagaimana perhitungan dalam Akurasi dan Presisi

1.3 Tujuan
1) Dapat mengetahui Pengertian Akurasi dan Presisi
2) Dapat mengetahui perbedaan akurasi dan presisi
3) Dapat megetahui cara menghitung akurasi dan presisi
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Akurasi dan Presisi

Beberapa istilah yang digunakan untuk menyatakan keandalan pengukuran


adalah presisi (precision) dan akurasi (accu acy). The precision of a measurement
describes the units you used to measure something. For example, you might
describe your height as 'about 6 feet'. That wouldn't be very precise. If however
you said that you were '74 inches tall', that would be more precise. The accuracy
of a measurement describes how close it is to the 'real' value. This real value need
not be very precise; it just needs to be the 'accepted correct value'.

Dalam pengolahan data sangat perlu dilakukan uji akurasi data. Akurasi yang
dimaksud disini adalah kecocokan antara suatu informasi standar yang dianggap
benar, dengan terklasifikasi yang belum diketahui kualitas informasinya.
Kesalahan dalam klasifikasi dapat disebabkan oleh kompleksnya interaksi yang
terjadi antar struktur special suatu bentang alam, resolusi sensor, algoritma
pengolahan, dan prosedur klasifikasi yang digunakan. Sumber yang paling
sederhana terjadi karena kekeliruan penetapan informasi dari kelas spectral yang
diadakan. Uji akurasi dengan membandingkan dua peta, satu peta bersumber dari
hasil analisis penginderaan jauh (peta yang akan diuji) dan satunya adalah peta
yang berasal dari sumber lainnya. Peta kedua dijadikan sebagai peta acuan, dan
diasumsikan memiliki informasi yang benar. Seringkali data acuan ini dikompilasi
dari informasi yang lebih detail dan akurat dari data yang akan diuji.

2.1.1 Akurasi (ketepatan)

Akurasi adalah derajat kedekatan pengukuran terhadap nilai sebenarnya.


Akurasi menyatakan seberapa dekat nilai hasil pengukuran dengan nilai
sebenarnya (true value) atau nilai yang dianggap benar (accepted value).
Jika tidak ada data bila sebenarnya atau nilai yang dianggap benar tersebut maka
tidak mungkin untuk menentukan berapa akurasipengukuran tersebut. Pada
dasarnya ada dua jenis akurasi, yaitu :
a) Akurasi Posisi
Akurasi posisi adalah penyimpangan diharapkan dalam lokasi
geografis dari objek posisi tanah yang sebanarnya. Ini adalah apa yang
biasanya yang kita pikirkan ketika membahas ketetapan. Ada dua
komponen untuk akurasi posisi yaitu akurasi relative dan absolute.
Akurasi mutlak menyangkut akurasi elemen data sehubungan dengan
skema koordinat, misalnya UTM akurasi relative. Menyangkut posisi
fitur peta relative terhadap suatu sama lain.
b) Akurasi atribut sama pentingnya dengan akurasi posisi. Hal ini juga
mencerminkan perkiraan kebenaran. Menafsirkan dan
menggambarakan batas-batas dan karakteristik untuk tegakan hutan
atau polygon tanahdapay sangat sulit dan subjektif. Spesial sumber
daya yang membuktikan fakta ini. Dengan demikian , derajat
homogenitas yang ditemukan dalam batas-batas dipetakan tersebut
tidak hamper sama tinggi dalam kenyataan karena akan tampak pada
peta.
 Langkah statistic akurasi
Terdapat 5 metode penentuan akurasi untuk penetapan kadar bahan
aktif obat dalam bahan baku dan produk obat, yaitu :
1) Menggunakan metode analisis untuk menetapkan kadar analit dalam
bahan baku berkhasiat yang diketahui kemurniannya (misalnya
bahan baku pembanding sekunder).
2) Bahan baku berkhasiat atau cemaran dalam jumlah yang diketahui
ditambahkan kedalam plasebo. Metode analisis ini akan digunakan
untuk penetapan kadar bahan baku berkhasiat/cemaran dalam produk
obat.
3) Bila plasebo tidak bisa diperoleh, verifikasi akurasi metode dapat
dilakukan dengan teknik standar adisi, yaitu dengan menambahkan
sejumlah tertentu analit kedalam produk obat yang telah diketahui
kadarnya. Metode analisis ini digunakan untuk penetapan kadar
bahan baku berkhasiat/cemaran dalam produk obat
4) Menambahkan cemaran dalam jumlah tertentu ke dalam bahan baku
berkhasiat/produk obat. Metode analisis ini digunakan untuk
penetapan kadar cemaran dalam bahan baku berkhasiat dan produk
obat
5) Membandingkan dua metode analisis untuk mengetahui
ekivalensinya, yaitu membandingkan hasil yang diperoleh dari
metode analisis yang divalidasi terhadap hasil yang diperoleh dari
metode analisis yang valid (akurasi metode analisis yang valid ini
telah diketahui). Metode analisis ini digunakan untuk penetapan
kadar bahan baku berkhasiat dalam bahan baku berkhasiat, produk
obat dan penetapan kadar cemaran.
 Akurasi dinyatakan sebagai prosentase (%) perolehan kembali
(recovery).
 Akurasi dinilai dengan menggunakan sedikitnya 9 penentuan dengan
sedikitnya 3 tingkat konsentrasi dalam rentang pengujian metode
analisis tersebut (misalnya 3 konsentrasi/3 replikasi untuk tiap
prosedur analisis lengkap).
 Ketepatan metode analisa dihitung dari besarnya rata-rata (mean, x)
kadar yang diperoleh dari serangkaian pengukuran dibandingkan
dengan kadar sebenarnya.

Hasil analisis

Recovery = —————– x 100%

Nilai sebenarnya

Syarat recovery : 98 – 102 %


2.1.2 Presisi (ketelitian)
Presisi adalah derajat kedekatan kesamaan pengukuran antara satu dengan
lainnya. Jika hasil pengukuran saling berdekatan (mengumpul) maka dikatakan
mempunyai presisi tinggi dan sebaliknya jika hasil pengukuran menyebar maka
dikatakan mempunyai presisi rendah. Presisi diindikasikan dengan penyebaran
distribusi probabilitas. Distribusi yang sempit mempunyai presisi tinggi dan
sebaliknya. Ukuran presisi yang sering digunakan adalah standar deviasi ( σ).
Presisi menunjukan tingkat reliablitas dari data yang diperoleh. Hal ini dapat
dilihat dari standar deviasi yang diperoleh dari pengukuran, presisi yang baik akan
memberikan standar deviasi yang kecil dan biasanya yang rendah. Jika diinginkan
hasil yang valid, maka dilakukan pengulangan, misalnya pengukuran berat badan
atau tinggi sebanyak n kali . Dari data tersebut dapat diperoleh ukuran harga nilai
terukur adalah rata-rata dari hasil yang diperoleh dan standar deviasi.
Terdapat 3 kategori pengujian presisi, yaitu :
1) Keterulangan (repeatability), dinilai dengan menggunakan minimum 9
penentuan dalam rentang penggunaan metode analisis tersebut (misalnya
3 konsentrasi/3 replikasi).
2) Presisi Antara, yaitu perbedaan antar operator/analis dengan sumber
reagensia dan hari yang berbeda.
3) Reprodusibilitas, dengan menggunakan beberapa laboratorium untuk
validasi metode analisis, agar diketahui pengaruh lingkungan yang
berbeda terhadap kinerja metode analisis.
Tabel 3.7 Tingkat presisi berdasarkan konsentrasi analit

Jumlah komponen terukur dalam sampel Tingkat Presisi


(x)

x ≥ 10,00 % y≤2%
1,00 % ≤ x ≤ 10,00 % y≤2%
0,10 % ≤ x ≤ 1,00 % y ≤ 10 %
x ≤ 0,10 % y ≤ 20 %

Uji presisi dilakukan untuk mengetahui kedekatanatau kesesuaian antara


hasil uji yang satu dengan yanglainnya pada serangkaian pengujian. Presisi hasil
pengukuran digambarkan dalam bentuk persentase Relative Standar Deviation
(%RSD). Uji presisi yang dilakukan termasuk jenis uji keterulangan
(repeatability). Uji presisi yang dilakukan termasuk jenis uji keterulangan
(repeatability). Hasil uji presisi untuk sampel natrium hidroksidadengan berbagai
konsentrasi yaitu, 32%; 48%; 98%

2.2 Perbedaan Akurasi & Presisi

a. Perbedaan antara akurasi dan presisi bisa digambarkan secara jelas seperti di
bawah ini :
1) Level kecocokkan antara pengukuran aktual dan pengukuran absolut
disebut akurasi. Tingkat keberagaman yang terletak pada nilai beberapa
pengukuran dari factor yang sma disebut presisi.
2) Akurasi menggambarkan kedekatan dari pengukuran dengan pengukuran
aktual. Di sisi lain, presisi menunjukan kedekatan dari masing-masing
pengukuran dengan yang lain.
3) Akurasi adalah derajat kesesuaian, yaitu tingkat yang mana pengukuran
adalah tepat ketika dibandingkan dengan nilai absolut. Sementara, presisi
adalah derajat reprodusibilitas, yang mana menjelaskan konsistensi dari
pengukuran.
4) Akurasi berdasar pada factor tunggal, sedangkan presisi berdasarkan pada
lebih dari satu factor.
5) Akurasi adalah pengukuran perkiraan statikal sementara presisi adalah
pengukuran keberagaman statistical.
6) Akurasi berfokus pada kesalahan sistematik, yakti kesalahan yang
diakibatkan oleh masalah pada peralatan. Sebaliknya, presisi terkait dengan
kesalahan acak, yang mana terjadi secara periodic tanpa pola yang dikenali.
Akurasi menyatakan seberapa dekat nilai pengukuran dengan nilai
sebenarnya. Presisi adalah ukuran seberapa baik hasilnya dapat ditentukan.
Perhatikan bahwa suatu pengukuran dapat presisi tetapi tidak akurat. Untuk
menjelaskan konsep akurasi dan presisi akan kita gunakan analogi olah raga golf.
Golf adalah permainan untuk konsistensi dan target. Seorang pemaian golf
harus berusaha memasukan bola ke dalam lubang atau menempatkan bola sedekat
mungkin dari lubang golf. Tiga pegolf menembakkan bola dengan dengan hasil
sebagai berikut

Gambar 1. Analogi Presisi dan Akurasi dalam Permainan Golf

Dalam analogi ini terdapat satu kelemahan yaitu dalam ilmu pengetahuan
(tidak seperti golf) yaitu peneliti tidak mengetahui secara pasti posisi targetnya.
Biasanya ilmuwan yakin hasil pengukuran/eksperimennya adalah akurat jika hasil
eksperimen bersesuaian dengan beberapa hasil percobaan yang dilakukan peneliti
lain.
Contoh 1
Seandainya Anda ingin mengukur masa suatu cincin emas yang akan dijual
kepada seorang teman sehingga kita dapat memberikan harga yang sesuai.
Perhatikan tiga cara menentukan masa cincin berikut:
1. Metode 1
Pegang cincin dengan tangan, Anda memperkirakan bahwa masa cincinya
berada diantara 10 g sampai 20 gram.
2. Metode 2
Anda memakai timbangan elektronik yang memberikan pembacaan hasil
17,43 g. Untuk memastikan bahwa timbangannya handal, Anda
menggunakan timbangan yang sama sehingga diperoleh beberapa nilai
pengukuran yaitu
17,46 , 17,42 dan 17,44 g sehingga masa rata-ratanya 17,44 ± 0.02 g.
3. Metode 3
Karena ingin jujur, Anda menggunakan timbangan lain, dengan
pengukuran berulang timbangan ini memberikan hasil 17,22 g, 17,21 g,
17,21 g dan 17,21 g.
Dari ketiga metode di atas yang menunjukkan hasil yang paling presisi
adalah metode 3. Kedua timbangan tersebut dapat memberikan pembacaan paling
dekat 0,01 g, timbangan pada metode ketiga juga memberikan hasil yang lebih
konsisten. Dari ketiga metode di atas agak susah menentukan hasil yang paling
akurat. Hanya ada satu cara untuk menilai akurasi suatu pengukuran yaitu dengan
membandingkannya dengan suatu nilai standar. Pada keadaan ini, adalah mungkin
untuk mengkalibrasi timbangan dengan masa standar yang akurat pada toleransi
kecil. Kalibrasi timbangan seharusnya mengeliminasi ketidaksesuaian diantara
pembacaan dan melengkapai masa pengukuran yang lebih akurat.

Catatan:
Ketidaktepatan metode 1 membuat akurasi pengukuran menjadi tidak
relevan, meskipun masa cincin berada di antara 10 g sampai 20 g namun metode 1
tidak cukup presisi untuk memperkirakan masa cincin.
Dalam hal ini juga terdapat perbandingan dari tingkat presisi, akurasi dan bias
dari suatu hasil pengukuran dapat dilustrasikan pada gambar di bawah ini:

Keterangan :
a. Gambar (1) menunjukan bahwa noktah-noktah merah memiliki presisi
tinggi tetapi akurasi rendah.
b.Gambar (2) menunjukan akurasi tinggi tetapi presisi renda
c. Gambar (3) menunjukan baik itu akurasi ataupun presisi sama-sama
rendah
d.Gambar (4) (paling kanan) memiliki aqurasi dan presisi yang tinggi
Jadi, jika pengukuran aktual tinggi pada akurasi dan presisi, hasilnya akan
bebas dari kesalahan. Jika Pengukuran aktual presisi tetapi tidak akurat,
makanhasilnya tidak cocok dengan yang diperkirakan. Jika hasil aktual akurat
tetapi ti presisi, makan ada keberagaman yang besar pada pengukuran. Dan
akhirnya, jika pengukuran aktual tidak akurat maupun presisi, makan hasil nya
akan kurang tepat dan pasti pada waktu yang bersamaan.
Memisahkan eror menjadi akurasi dan presisi sangat berguna untuk
identifikasi bias, yaitu perbedaan nilai prediksi/ model dengan nilai yang yang
diprediksi (nilai sebenarnya ). Jika suatu prediksi/ model memiliki presisi
tinggi namun akurasi rendah, maka terdapat kemungkinan prediksi/model
memiliki penyumbang eror yang sistemik.
2.3 Cara menghitung Akurasi dan Presisi
2.3.1 Akurasi
Accuracy menunjukkan derajat kedekatan hasil analis dengan kadar analit
yang sebenarnya. Accuracy dinyatakan sebagai persen perolehan kembali
(recovery) analit yang ditambahkan. Accuracy dapat ditentukan melalui dua cara,
yaitu metode simulasi (spiked-placebo recovery) atau metode penambahan baku
(standard addition method). Dalam kedua metode tersebut, recovery dinyatakan
sebagai rasio antara hasil yang diperoleh dengan hasil yang sebenarnya. Biasanya
persyaratan untuk recovery adalah tidak boleh lebih dari 5%.
Salah satu cara penilaian Akurasi yaitu dengan studi “Recovery” yaitu
dengan melakukan pemeriksaan bahan sampel yang telah ditambah analit murni,
kemudian hasil dihitung terhadap hasil yang diharapkan:

Akurasi metode yang lebih baik adalah yang memberikan nilai R yang mendekati
100%. Metode analisis yang mungkin digunakan untuk menetapkan akurasi yaitu
metode menggunakan CRM (Certified Refference Material) dan adisi standar.
CRM mempunyai nilai tertelusur ke SI dan dapat dijadikan sebagai nilai acuan
(refference value) untuk nilai yang sebenarnya. Syarat CRM yang digunakan
matriksnya cocok dengan contoh uji (mempunyai komposisi matriks yang mirip
matriks contoh uji). Apabila CRM tidak tersedia maka dapat menggunakan bahan
yang mirip contoh uji yang diperkaya dengan analit yang kemurniannya tinggi
atau disebut metode adisi standar, lalu diuji persen recovery-nya. Analit yang
terkait dalam matriks contoh harus dilarutkan atau dibebaskan sebelum dapat
diukur karena analit tidak boleh hilang selama proses agar hasil pengujian akurat
maka efisiensi pelarutan harus 100%. Akurasi dapat juga diartikan sebagai
kedekatan hasil analisis terhadap nilai sebenarnya atau seberapa jauh hasil
menyimpang dari harga yang sebenarnya (standar). Uji ini sangat baik dilakukan
bila menggunakan sertified reference material (CRM). Namun penetapan akurasi
dilakukan dengan cara uji perolehan kembali (recovery) karena tidak tesedianya
CRM. Analit yang ditambahkan ke dalam matriks contoh adalah sebesar 0,1ppm;
0,2ppm; 0,3ppm; 0,5ppm. Nilai recovery yang mendekati 100% menunjukkan
bahwa metode tersebut memiliki ketepatan yang baik dalam menunjukkan tingkat
kesesuaian dari suatu pengukuran yang sebanding dengan nilai sebenarnya.
Penentuan recovery dapat menggunakan Standard Reference Material
(SRM) dan sampel yang sudah diketahui konsentrasinya. NIST Standard
Reference Material (SRM) - Sebuah CRM yang dikeluarkan oleh NIST yang juga
memenuhi kriteria sertifikasi NIST khusus tambahan dan dikeluarkan dengan
sertifikat atau sertifikat analisis yang melaporkan hasil karakterisasi dan
menyediakan informasi mengenai penggunaan yang tepat (s) material (NIST SP
260- 136). SRM disiapkan dan digunakan untuk tiga tujuan utama: (1) untuk
membantu mengembangkan metode analisis akurat; (2) untuk mengkalibrasi
sistem pengukuran yang digunakan untuk memfasilitasi pertukaran barang,
kontrol kualitas lembaga, menentukan karakteristik kinerja (3) untuk menjamin
kecukupan jangka panjang dan integritas program jaminan kualitas pengukuran.
2.3.2 Presisi
Nilai presisi menunjukan seberapa dekat suatu hasil pemeriksaan bila
dilakukan berulang dengan sampel yang sama. Presisi biasanya dinyatakan dalam
nilai koefesien variasi(%KV atau % CV)

SD = Standar deviasi

Xbar=Rata-rata hasil pemeriksaan


Semakin kecil nilai KV(%) semakin teliti sistem/metode tersebut dan sebaliknya.
Menurut Bievre (1998), presisi dapat dinyatakan sebagai keterulangan
(repeatability), ketertiruan (reproducibility) dan presisi antara (intermediate
precision). Parameter presisi tersebut antara lain :
1. Keterulangan (Repeatability)
Keterulangan adalah ketelitian yang diperoleh dari hasil pengulangan dengan
menggunakan metode, operator, peralatan, laboratorium, dan dalam interval
pemeriksaan waktu yang singkat. Pemeriksaan keterulangan bertujuan untuk
mengetahui konsistensi analit, tingkat kesulitan metode dan kesesuaian
metode.
2. Presisi Antara (Intermediate Precision)
Presisi antara merupakan bagian dari presisi yang dilakukan dengan cara
mengulang pemeriksaan terhadap contoh uji dengan alat, waktu, analis yang
berbeda, namun dalam laboratorium yang sama.
3. Ketertiruan(Reproducibility)
Ketertiruan yaitu ketelitian yang dihitung dari hasil penetapan ulangan dengan
menggunakan metode yang sama, namun dilakukan oleh analis, peralatan,
laboratorium dan waktu yang berbeda.
2.4 Contoh pengukuran akurasi dan presisi
1. Dari sebuah pengujian menggunakan 100 ikan salmon dan 900 ikan lainnya
hanya memisahkan 1 ikan salmon. Pengujian ini dapat dituliskan sebagai
berikut :
Dari hasil perhitungan kita dapatkan prsisi sebesar 100% dan akurasi
90.1%. Sekilas tampak baik, namun perhatikan nilai rekal hanya sebesar
1% (rekal adalah tingkat keberhasilan system dalam menemukan kembali
sebuah informasi). Hal ini menunjukan bahwa system hanya dapat
memisahkan ikan salmon dalam jumlah yang sedikit sekali dan masih
banyak ikan-ikan salmon yang lolos dari pemisahan.
2. Sebuah voltmeter mempunyai akurasi sebesar 1% pada range 200 V
menunjukan hasil pengukuran100 V.
Dari akurasi dapat ditentukan kesalahan absolutnya : 1 x 200 2V
100
sehingga nilai sebenarnya dari pengukuran : (100±2) V
Atau antara 98 V sampai 102 V
Kesalah relative : 2 × 1𝑜𝑜% = 2%
100
nilai sebenarnya juga bias ditulis 100𝑉 ± 2%
3. Contoh akurasi buruk dan presisi buruk
Misalkan kulkas lab memegang suhu constant 38,0℉. 𝐴 sensor diuji 10
kali dalam lemari es. Suhu dari tes menghasilkan suhu : 38.0, 38.0, 38.1,
38.0, 37.9, 38.0, 38.2, 38.0, 37.9. Distribusi ini tidak menunujkan
kecenderungan niali tertentu (kurangnya prsisi) dan diterima sesuai dengan
suhu actual (kurangnya akurasi)
4. Contoh akurasi
Bila seseorang melakukan pengambilan contoh sebanyak 5 kali dan
masing-masing contoh dianalisis duplo maka jumlah pengamatannya (N)
menjadi 5 x 2 = 10. Kadang-kadang dalam menghitung simpangan baku
(S) penyebut N dapat diganti dengan (N-1) bila N < 30 sedangkan N >_ 30
menghitung simpangan baku seperti rumus di atas . Kecermatan seringkali
dinyatakan dalam batas kepercayaan 90% ; 95% atau 99% sebagai berikut
(Miller dkk, 1991). Nilai t diperoleh dari Tabel t dengan menggunakan
derajat bebas (DB). DB untuk parameter tunggal = N – 1, sedangkan untuk
seri analisis duplo = N/2. Kecermatan dapat dinyatakan sebagai koefisien
variasi (%CV) dengan batas kepercayaan seperti di atas. Maka nilai
pengamatan pengukuran menjadi (Miller dkk, 1991)
ξ ϙ t (%CV) di mana : CV = s x 100 %/ ξ
Keterangan : CV = koefisien variasi ; S =simpangan baku ; ξ = nilai rata-
rata pengukuran
Tidak ada ketentuan /patokan mengenai besarnya simpangan baku
yang diperkenankan, sangat tergantung pada jenis dan kebutuhan analisis .
Simpangan baku sampai 5 % dapat diterima, tetapi untuk kadar yang kecil
biasanya batas tersebut lebih tinggi .
5. Jika ada seorang analis menemukan nilai 20,44% besi dalam sebuah
contoh yang sebenarnya mengandung 20,34%, galat absolutnya adalah :
20,44 − 20,34 = 0,10%
Galat ini biasanya ditampilkan relative terhadap ukuran dari kuantitas
yang diukur, misalnya dalam persen atau bagian per seribu. Di sini galat
relatifnya adalah :
0,10
𝑥 100 = 0,5%
20,34
atau
0,10
𝑥 1000 = 5 𝑝𝑝𝑡
20,34
6. Contoh Presisi
Seorang peneliti ingin mengetahui kandungan protein jagung yang baru
dibelinya, untuk keperluan menyusun ransum ayam, kemudian di bawanya
ke laboratorium kurang lebih 250 gram, selanjutnya di analisis secara
berulang kali dari pakan yang sama hasilnya seperti pada Tabel 1 di bawah
ini .
Ulangan Nilai Pengukuran (%protein Kasar) (ξ-X)2
1 10,08 0,0004
2 10,11 0,0001
3 10,09 0,0001
4 10,10 0,0000
5 10,12 0,0004
Jumlah 50,10 0,0010
N = 5 ; ~ = 50,1015 = 10,10 % ; S = /0,0010/4 = 0,016 ; DB = 4

Dari Tabel t dengan selang kepercayaan 95% diperoleh nilai t5% = 2,78,
maka nilai taksir pengukuran dari contoh asalnya = 10,10 % ± 2,78 x
0,016 atau 10,10 % ± 0,04 % berarti kandungan protein kasar jagung
berkisar antara 10,06% - 10,14 % . Kemungkinannya 5 % akan di luar
kisaran tersebut . Pada kasus di atas analis mengerjakannya hanya satu kali
analisis protein karena analis mengetahui benar bahwa pakan yang di bawa
oleh peneliti itu berasal dari sumber yang sama . Pada kesempatan yang
berbeda analis mengerjakannya secara seri duplo, maka derajat bebasnya
(DB) = (5x 2) : 2 = 5 dan nilai ts% (selang kepercayaan 95%) = 2,58 .
Semakin banyak pengamatan /pengukuran nilai t semakin kecil pula.
Dengan cara yang sama dapat juga di hitung dengan koefisien variasi
(CV). Baik simpangan baku maupun CV menunjukkan variabilitas suatu
percobaan .

7. Contoh presisi Penentuan konsentrasi Fe dengan spektrofotometer UV-Vis


dintunjukkan pada Tabel 3.1.
Tabel 3.1 Penentuan kadar Fe dalam AMDK dengan spektrofotometer
UV-Vis
No Kadar Fe dalam AMDK (mg/L)
1 0,54
2 0,55
3 0,57
4 0,52
Karena RSD (%) lebih dari 2%, maka metode uji tersebut mempunyai
presisi yang tidak baik.
2.5 Standar Akurasi dan Presisi
2.5.1 Akurasi
Akurasi merupakan derajat ketepatan antara nilai yang diukur dengan
nilai sebenarnya yang diterima (Gary, 1996). Akurasi merupakan
kemampuan metode analisis untuk memperoleh nilai benar setelah dilakukan
secara berulang. Nilai replika analisis semakin dekat dengan sampel yang
sebenarnya maka semakin akurat metode tersebut (Khan, 1996). Rentang
kesalahan yang diijinkan pada setiap konsentrasi analit pada matriks dapat
dilihat pada Tabel.
Nilai persen recovery berdasarkan nilai konsentrasi sampel

2.5.2 Presisi
Presisi suatu metode uji
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kimiawan ataupun analis kimia yang sehari-harinya bergelut dengan salah
satuilmu yang paling banyak menggunakan unsur kuantitatif dan
menggunakan metode analitik, melakukan percobaan, kadang perlu
memodifikasi metode, untuk dapat menarik sebanyak mungkin informasi dari
hasil percobaannya secara tepat, akan memperoleh manfaat banyak dari ilmu
statistika . Oleh karena itu seorang analis perlu memahami ilmu statistika
walaupun yang sederhana .
DAFTAR PUSTAKA
Buckley.2008.Akurasi Data dan Kualitas. http://bgis.sanbi.org/gis-primer/page_
08.htm. (diakses tanggal 24 September 2017).
Campbell.1987.Introduction To Remote Sensing. New York : The Guilford Press.
Jasin.2002.Ilmu Alamiah Dasar.Jakarta: PT. Rajo Grafindo Persada.
Raharjo.2011.Akurasi dan Presisi.http//:beniraharjo.wordpress.com. (diakses
tanggal 25 September 2017).
Riyanto.2014. Validasi & Verifikasi Metode Uji.Yogyakarta: Deepublish.