Anda di halaman 1dari 15

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN SKOLIOSIS

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Skoliosis adalah sebuah tipe deviasi postural dari tulang belakang dengan
penyebab apapun, yang dicirikan oleh adanya kurva lateral pada bidang frontal yang
dapat berhubungan atau tidak berhubungan dengan rotasi korpus vertebra pada bidang
aksial dan sagital (Iunes DH 2010). Definisi lain menyatakan bahwa skoliosis adalah
kelengkungan tulang belakang yang abnormal ke arah samping, yang dapat terjadi pada
segmen servikal (leher), torakal (dada) maupun lumbal (pinggang).Skolisis merupakan
penyakit tulang belakang yang menjadi bengkok ke samping kiri atau kanan sehingga
wujudnya merupakan bengkok benjolan yang dapat dilihat dengan jelas dari arah
belakang.Penyakit ini juga sulit untuk dikenali kecuali setelah penderita meningkat
menjadi dewasa (Mion, Rosmawati, 2007).
Skoliosis adalah kelainan tulang belakang yang berupa lengkungan ke samping/
lateral. Jika dilihat dari belakang, tulang belakang pada skoliosis akan berbentuk seperti
huruf “C” atau “S”.

2.2 Etiologi
Penyebab dan patogenesis skoliosis belum dapat ditentukan dengan pasti. Sekitar
80% skoliosis adalah idiopatik, Skoliosis idiopatik dengan kurva lebih dari 10 derajat
dilaporkan dengan prevalensi 0.5% sampai dengan 3% anak dan remaja.
Kemungkinan penyebab pertama ialah genetik. Banyak studi klinis yang mendu-
kung pola pewarisan dominan autosomal, multifaktorial, atau X-linked. Penyebab
congenital ini juga biasanya berhubungan dengan suatu kelainan dalam pembentukan
tulang belakang atau tulang rusuk yang menyatu.
Penyebab kedua ialah postur, yang mempengaruhi terjadinya skoliosis postural
kongenital.
Penyebab ketiga ialah abnormalitas anatomi vertebra dimana lempeng epifisis
pada sisi kurvatura yang cekung menerima tekanan tinggi yang abnormal sehingga
mengurangi pertumbuhan, sementara pada sisi yang cembung menerima tekanan lebih
sedikit, yang dapat menyebabkan pertumbuhan yang lebih cepat. Selain itu, arah rotasi
vertebra selalu menuju ke sisi cembung kurvatura, sehingga menyebab-kan kolumna
anterior vertebra secara relatif menjadi terlalu panjang jika dibandingkan dengan elemen-
elemen posterior.
Penyebab keempat ialah ketidakseimbangan dari kekuatan dan massa kelompok
otot di punggung. Abnormalitas yang ditemukan ialah peningkatan serat otot tipe I pada
sisi cembung dan penurunan jumlah serat otot tipe II pada sisi cekung kurvatura. Selain
itu, dari pemeriksaan EMG didapatkan peningkatan aktivitas pada otot sisi cembung
kurvatura

2.3 Klasifikasi
Skoliosis dibagi atas skoliosis fungsional dan struktural. Pada tipe scoliosis
fungsional, spine adalah normal, namun suatu lekukan abnormal berkembang karena
suatu persoalan ditempat lain didalam tubuh. Skoliosis fungsional disebabkan kerena
posisi yang salah atau tarikan otot paraspinal unilateral, yang dapat disebabkan karena
nyeri punggung dan spasme otot. Perbedaan panjang tungkai, herniasi diskus,
spondilolistesis, atau penyakit pada sendi panggul juga dapat menyebabkan terjadinya
skoliosis fungsional. Pada skoliosis fungsional, tidak terjadi rotasi vertebra yang
bermakna, dan biasanya reversible. Terapi terhadap penyebab skoliosis dapat
memperbaiki kurvatura yang terjadi.
Skoliosis struktural biasanya bersifat irreversible (tidak dapat diperbaiki) dan
dengan rotasi dari tulang punggung. Bentuk bentuk dari skoliosis structural :
a. Skoliosis Idiopatik. adalah bentuk yang paling umum terjadi dan diklasifikasikan
menjadi 3 kelompok :
- Infantile : dari lahir sampai usia 3 tahun.
- Anak-anak : 3 tahun – 10 tahun
- Remaja : Muncul setelah usia 10 tahun
b. Skoliosis Neuromuskuler. Pada tipe scoliosis ini, ada suatu persoalan ketika tulang-
tulang dari spine terbentuk. Baik tulang-tulang dari spine gagal untuk membentuk
sepenuhnya, atau mereka gagal untuk berpisah satu dari lainnya. Tipe scoliosis ini
berkembang pada orang-orang dengan menderita penyakit neuromuskuler (seperti
paralisis otak, spina bifida, atau distrofi muskuler) yang secara langsung menyebabkan
deformitas.
Selain tipe utama skoliosis yaitu fungsional dan structural, terdapat tipe skoliosis
degeneratif. Tidak seperti bentuk-bentuk lain dari skoliosis yang ditemukan pada anak-
anak dan remaja-remaja, degenerative scoliosis terjadi pada dewasa-dewasa yang lebih
tua. Ia disebabkan oleh perubahan-perubahan pada spine yang disebabkan oleh arthritis.
Pelemahan dari ligamen-ligamen dan jaringan-jaringan lunak lain yang normal dari spine
digabungkan dengan spur-spur tulang yang abnormal dapat menjurus pada suatu lekukan
dari spine yang abnormal.

2.4 Patofisiologi

Kelainan bentuk tulang punggung yang disebut skoliosis ini berawal dari adanya
syaraf yang lemah atau bahkan lumpuh yang menarik ruas2 tulang belakang. Tarikan ini
berfungsi untuk menjaga ruas tulang belakang berada pada garis yangnormal yang
bentuknya seperti penggaris atau lurus. Tetapi karena suatu hal, diantaranya kebiasaan
duduk yang miring, membuat sebagian syaraf yang bekerja menjadi lemah. Bila ini terus
berulang menjadi kebiasaan, maka syaraf itu bahkan akan mati. Ini berakibat pada
ketidakseimbangan tarikan pada ruas tulang belakang. Oleh karena itu, tulang belakang
penderita bengkok atau seperti huruf S atau huruf.
2.5 Manifestasi Klinis

Manifestasi yang ditimbulkan berupa:

1. Tulang belakang melengkung secara abnormal ke arah samping


2. Bahu dan atau pinggul kiri dan kanan tidak sama tingginya
3. Nyeri punggung
4. Kelelahan pada tulang belakang setelah duduk atau berdiri lama
5. Skoliosis yang berat (dengan kelengkungan yang lebih besar dari 60 ) bisa
menyebabkan gangguan pernafasan.

Kebanyakan pada punggung bagian atas, tulang belakang membengkok ke kanan


dan pada punggung bagian bawah, tulang belakang membengkok ke kiri; sehingga bahu
kanan lebih tinggi dari bahu kiri.Pinggul kanan juga mungkin lebih tinggi dari pinggul
kiri. Awalnya penderita mungkin tidak menyadari atau merasakan sakit pada tubuhnya
karena memang skoliosis tidak selalu memberikan gejala–gejala yang mudah
dikenali.Jika ada pun, gejala tersebut tidak terlalu dianggap serius karena kebanyakan
mereka hanya merasakan pegal–pegal di daerah punggung dan pinggang mereka saja.

Menurut Dr Siow dalam artikel yang ditulis oleh Norlaila H. Jamaluddin


(Jamaluddin, 2007), skoliosis tidak menunjukkan gejala awal.Kesannya hanya dapat
dilihat apabila tulang belakang mulai bengkok.Jika keadaan bertambah buruk, skoliosis
menyebabkan tulang rusuk tertonjol keluar dan penderita mungkin mengalami masalah
sakit belakang serta sukar bernafas.

Dalam kebanyakan kondisi, skoliosis hanya diberi perhatian apabila penderita


mulai menitik beratkan soal penampilan diri.Walaupun skoliosis tidak mendatangkan rasa
sakit, rata-rata penderita merasa malu dan rendah diri.

Skoliosis pada masyarakat indonesia dapat dijumpai mulai dari derajat yang
sangat ringan sampai pada derajat yang sangat berat.

Derajat pembengkokan biasanya diukur dengan cara Cobb dan disebut sudut
Cobb. Dari besarnya sudut skoliosis dapat dibagi menjadi (Kawiyana dalam
Soetjiningsih, 2004) :

1. Skoliosis ringan : sudut Cobb kurang dari 20 derajat


2. Skoliosis sedang : sudut Cobb antara 21 – 40 derajat
3. Skoliosis berat : sudut Cobb lebih dari 41 derajat

Pada skoliosis derajat berat (lebih dari 40 derajat), hanya dapat diluruskan melalui
operasi.

2.6 Komplikasi
Walaupun skoliosis tidak mendatangkan rasa sakit, penderita perlu dirawat seawal
mungkin. Tanpa perawatan, tulang belakang menjadi semakin bengkok dan menimbulkan
berbagai komplikasi seperti :

1) Kerusakan paru-paru dan jantung.

Ini boleh berlaku jika tulang belakang membengkok melebihi 60 derajat. Tulang
rusuk akan menekan paru-paru dan jantung, menyebabkan penderita sukar bernafas dan
cepat capai. Justru, jantung juga akan mengalami kesukaran memompa darah. Dalam
keadaan ini, penderita lebih mudah mengalami penyakit paru-paru dan pneumonia.

2) Sakit tulang belakang.

Semua penderita, baik dewasa atau kanak-kanak, berisiko tinggi mengalami


masalah sakit tulang belakang kronik. Jika tidak dirawat, penderita mungkin akan
menghidap masalah sakit sendi. Tulang belakang juga mengalami lebih banyak masalah
apabila penderita berumur 50 atau 60 tahun.

2.7 Penatalaksanaan

Yang penting pada skoliosis adalah deteksi dini kelainan yang terjadi . umumnya
lengkungan skoliosis dapat diobati tanpa tindakan bedah dimana penilaian
diambil/ditetapkan melalui pengukuran skoliosis yang terjadi .salah satu cara melakukan
deteksi dini adalah dengan skrining skoliosis di sekolah sekolah.

Skoliosis merupakan kelainan orthopedik yang memerlukan penanganan khusus.

Tujuan pengobatan :

1. Mencegah progresivitas skoliosis ringan sampai sedang

2. Melakukan koreksi dini dan stabilitasi pada skoliosis yang lebih berat.

Jenis pengobatan disesuaikan dengan penyebab, onset terjadinya, umur penderita,


besarnya kurva, dan progresivitas skoliosis.

1. Pengobatan konservatif (Non operatif)

a. Observasi

Dengan pemeriksaan yang teratur setiap 6 bulan untuk menilai progresivitas dari sudut
sehingga dapat diputuskan tindakan yang akan dilakukan.

b. Fisioterapis
Dapat dilakukan latihan sikap duduk, berdiri, berjalan, relaksasi otot yang tegang, latihan
pernafasan serta mobilisasi pada jaringan lunak yang memendek.

c. Orthosis (Brace).

Membantu mengurangi progresivitas kurva tetapi tidak mengurangi besarnya deformitas.


Seperti Milwaukee dan Boston. (Ilmu bedah orthopedi.2009)

2. Pengobatan operatif

Indikasi operasi:

a. Operasi dilakukan apabila terdapat sudut lebih dari 40° atau terjadi progresivitas dari
sudut sebelum usia penderita mencapai dewasa.

b. Apabila terdapat deformitas yang memberikan gangguan.

c. Pengobatan konservatif yang tidak berhasil.

d. Tujuan pengobatan adalah untuk mengurangi deformitas rotasional dan deviasi lateral
serta melakukan artrodesis pada seluruh kurva primer. (Ilmu bedah orthopedi.2009)

Adapun pilihan terapi yang dapat dipilih, dikenal sebagai “The three O’s” adalah :

a) Observasi

Pemantauan dilakukan jika derajat skoliosis tidak begitu berat, yaitu <25o pada tulang
yang masih tumbuh atau <50o pada tulang yang sudah berhenti pertumbuhannya. Rata-
rata tulang berhenti tumbuh pada saar usia 19 tahun.

Pada pemantauan ini, dilakukan kontrol foto polos tulang punggung pada waktu-waktu
tertentu. Foto kontrol pertama dilakukan 3 bulan setelah kunjungan pertama ke dokter.
Lalu sekitar 6-9 bulan berikutnya bagi yang derajat <20>20.

b) Orthosis

Orthosis dalam hal ini adalah pemakaian alat penyangga yang dikenal dengan nama
brace. Biasanya indikasi pemakaian alat ini adalah :

 Pada kunjungan pertama, ditemukan derajat pembengkokan sekitar 30-40 derajat


 Terdapat progresifitas peningkatan derajat sebanyak 25 derajat.

Jenis dari alat orthosis ini antara lain :

a. Milwaukee
b. Boston
c. Charleston bending brace

Alat ini dapat memberikan hasil yang cukup signifikan jika digunakan secara teratur
23 jam dalam sehari hingga 2 tahun setelah menarche.

c) Operasi

Tidak semua skoliosis dilakukan operasi. Indikasi dilakukannya operasi pada


skoliosis adalah :

 Terdapat derajat pembengkokan >50 derajat pada orang dewasa


 Terdapat progresifitas peningkatan derajat pembengkokan >40-45 derajat pada anak
yang sedang tumbuh
 Terdapat kegagalan setelah dilakukan pemakaian alat orthosis

2.7 Pemeriksaan Diagnostik

Pada pemeriksaan fisik penderita biasanya diminta untuk membungkuk ke depan


sehingga pemeriksa dapat menentukan kelengkungan yang terjadi.

Pemeriksaan neurologis (saraf) dilakukan untuk menilai kekuatan, sensasi atau refleks.

Pemeriksaan lainnya yang biasa dilakukan:

a. Rontgen tulang belakang

 Foto AP dan lateral ada posisi berdiri : foto ini bertujuan untuk menentukan
derajat pembengkokan skoliosis
 Foto AP telungkup
 Foto force bending R and L : foto ini bertujuan untuk menentukan derajat
pembengkokan setelah dilakukan bending
 Foto pelvik AP : Pada keadaan tertentu seperti adanya defisit neurologis,
kekakuan pada leher, atau sakit kepala

b. Pengukuran dengan skoliometer (alat untuk mengukur kelengkungan tulang belakang)

c. MRI (jika ditemukan kelainan saraf atau kelainan pada rontgen)


2.4.1 Asuhan Keperawatan Skoliosis
A. Pengkajian
a. Anamnesa
a. Data demografi : meliputi nama, usia, jenis kelamin, tempat tinggal, diagnosa
masuk, pekerjaan dll.
b. Keluhan utama : pasien biasanya merasakan nyeri punggung, tulang belakang
melengkung secara abnormal ke arah samping, dan kelelahan pada tulang
belakang setelah duduk/berdiri lama.
a. Riwayat penyakit sekarang : Pada pasien skoliosis, kebanyakan pada
punggung bagian atas tulang belakang membengkok ke kanan dan pada
punggung bagian bawah, tulang belakang membengkok ke kiri sehingga bahu
kanan lebih tinggi dari bahu kiri. Pinggung kanan juga mungkin lebih tinggi
dari pinggul kiri. Pada skoliosis yang berat (dengan kelengkungan >60)
perubahan progresif pada rongga toraks dapat menyebabkan perburukan
pernapasan dan kardiovaskular
b. Riwayat penyakit dahulu : hal yang perlu dikaji apakah pasien pernah
mengalami kondisi osteopatik, seperti fraktur, penyakit tulang, penyakit
arthritis dan infeksi.
c. Riwayat penyakit keluarga : karena skoliosis bisa disebabkan karena
kongenital (bawaan) yang dalam hal ini berhubungan dengan suatu kelainan
dalam pembentukan tulang belakang atau tulang rusuk yang menyatu maka
perlu dikaji adakah anggota keluarga pasien yang pernah/ mempunyai
kelainan yang sama.
b. (Review of System)
a. B1(Breathing) : secara umum pasien skoliosis tidak mengalami gangguan
pernapasan kecuali jika ia telah sampai pada skoliosis berat (>60 derajat).
Pada pasien dengan skoliosis berat akan didapatkan pasien tidak leluasa untuk
bernapas.
b. B2(Blood) : tidak ditemukan gangguan kecuali jika nyeri sudah tidak
bisa ditoleransi lagi.
c. B3(Brain) : tidak ditemukan masalah.
d. B4(Bladder) : tidak ditemukan masalah.
e. B5(Bowel) : tidak ditemukan masalah.
f. B6(Bone) :
- Mengkaji skelet tubuh

Adanya deformitas dan kesejajaran.Pertumbuhan tulang yang


abnormal akibat tumor tulang.Pemendekan ekstremitas, amputasi dan
bagian tubuh yang tidak dalam kesejajaran anatomis.Angulasi abnormal
pada tulang panjang atau gerakan pada titik selain sendi biasanya
menandakan adanya patah tulang.

- Mengkaji tulang belakang


Skoliosis (deviasi kurvatura lateral tulang belakang). Jika dilihat
dari belakang, tulang belakang pada skoliosis akan berbentuk seperti
huruf “C” atau “S”.
- Mengkaji sistem persendian
Luas gerakan dievaluasi baik aktif maupun pasif, deformitas,
stabilitas, dan adanya benjolan, adanya kekakuan sendi.
- Mengkaji system otot
Kemampuan mengubah posisi, kekuatan otot dan koordinasi, dan
ukuran masing-masing otot.Lingkar ekstremitas untuk mementau adanya
edema atau atropfi, nyeri otot.
- Mengkaji cara berjalan
Adanya gerakan yang tidak teratur dianggap tidak normal. Bila
salah satu ekstremitas lebih pendek dari yang lain. Berbagai kondisi
neurologist yang berhubungan dengan caraberjalan abnormal (mis.cara
berjalan spastic hemiparesis - stroke, cara berjalan selangkah-selangkah –
penyakit lower motor neuron, cara berjalan bergetar – penyakit
Parkinson).

B. Diagnosa keperawatan
a. Ketidakefektifan pola napas yang berhubungan dengan penekanan paru
b. Nyeri kronis pada punggung yang berhubungan dengan posisi tubuh miring ke
lateral
c. Hambatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan postur tubuh yang tidak
seimbang.
d. Gangguan citra tubuh atau konsep diri yang berhubungan dengan postur tubuh
yang miring ke lateral
e. Kelelahan berhubungan dengan ketidakseimbangan dan ketidakmampuan
menopang beban tubuh

C. Intervensi Keperawatan
Masalah Tujuan dan Kriteria
No. Intervensi
Keperawatan Hasil
1 Pola napas tidak NOC: NIC:
efektif
berhubungan Indicators (Respiratory Respiratory Monitoring
dengan kelainan Status)
tulang Monitor pola, irama, kedalaman serta
Tujuan: usaha klien saat respirasi.

Setelah dilakukan 1. Catat perubahan pergerakan


Domain tindakan keperawatan dada, perhatikan kesimetrisan,
pola nafas berangsur apakah menggunakan otot
Activity/Rest normal dengan kriteria: bantu napas.
2. Monitor pernapasan cuping
1. Status RR hidung.
(Respiratory rate) 3. Monitor kepatenan jalan napas.
normal(5) 4. Monitor saturasi oksigen.
Class 2. Irama napas norma 5. Auskultasi suara napas
(5) 6. Memantau pembacaan
Cardiovascular/ 3. Kemampuan dan ventilator mekanik, mencatat
pulmonary kedalaman inspirasi kenaikan tekanan inspirasi dan
Responses normal (5) penurunan volume tidal hingga
4. Tidak ada suara sesuai
napas tambahan (5) 7. Monitor adanya dispneu atau
5. Jalan napas paten(5) kejadian yang dapat
6. Saturasi oksigen memperburuk.
normal(5)

2 Gangguan NOC: NIC:


mobilitas fisik
Mobility Exercise Therapy : Balance :
Domain 4
Tujuan: 1. Tentukan kemampuan pasien
Class 2 untuk berpartisipasi dalam
Setelah dilakukan kegiatan yang membutuhkan
tindakan keperawatan keseimbangan
hambatan mobilitas 2. Anjurkan pasien tentang
fisik teratasi dengan pentingnya terapi latihan dalam
kriteria: menjaga dan meningkatkan
keseimbangan
1. Keseimbangan 3. Mendorong program latihan
(4) intensitas rendah dengan
2. Koordinasi (4) kesempatan untuk berbagi
3. Gaya berjalan perasaan
(4) 4. Pantau pasien untuk
menyeimbangkan latihan

3 Gangguan citra NOC: NIC:


tubuh
Body Image Coping Enhancement
Domain 6
Tujuan: 1. Nilai penyesuaian pasien
Class 3 terhadap perubahan citra
Setelah dilakukan tubuh, seperti yang
tindakan keperawatan ditunjukkan
Gangguan citra tubuh 2. Nilai dan diskus alternatif
teratasi dengan kriteria: respon terhadap situasi
3. Gunakan pendekatanyang
1. gambar internal tenang dan meyakinkan
diri 4. Berikan suasana penerimaan
2. Sikap terhadap 5. Bantu pasien dalam
menggunakan mengembangkan penilaian
strategi untuk acara yang obyektif
meningkatkan 6. Bantu pasien untuk
fungsi mengidentifikasi informasi
3. Kepuasan yang ia / dia paling tertarik
dengan fungsi 7. Berikan informasi faktual
tubuh mengenai diagnosis,
pengobatan, dan prognosis

Body Image Enhancement:

1. Tentukan apakah tidak suka


yang dirasakan untuk
karakteristik fisik tertentu
menciptakan kelumpuhan
sosial disfungsional untuk
remaja dan kelompok berisiko
tinggi lainnya
2. Bantu pasien menentukan
sejauh mana perubahan aktual
dalam tubuh atau tingkat
fungsi
3. Bantu pasien untuk membahas
stressor mempengaruhi citra
tubuh karena kondisi bawaan,
cedera, penyakit, atau operasi
4. Tentukan persepsi pasien dan
keluarga dari perubahan dalam
citra tubuh versus kenyataan
5. Membantu pasien dalam
mengidentifikasi bagian /
tubuhnya yang memiliki
persepsi positif terkait dengan
mereka
6. Bantu pasien untuk
mengidentifikasi tindakan yang
akan meningkatkan
penampilan

4 Kelelahan NOC: NIC:

Domain 4 Class Fatigue Level Exercise Therapy : Joint Mobility


3
Tujuan: 1. Tentukan keterbatasan gerakan
sendi dan berpengaruh pada
Setelah dilakukan fungsi
tindakan keperawatan 2. Berkolaborasi dengan terapi
Kelelahan teratasi fisik dalam mengembangkan
dan melaksanakan program
dengan kriteria: latihan
3. Tentukan tingkat motivasi
1. Keletihan (4) pasien untuk menjaga atau
2. Kelemahan (4) mengembalikan gerakan sendi
3. Stress level (4) 4. Jelaskan kepada pasien /
keluarga tujuan dan rencana
untuk latihan bersama
Fatigue: Disruptive 5. Pantau lokasi dan sifat
effectcs ketidaknyamanan atau nyeri
selama gerakan / aktivitas
1. Penurunan 6. Lakukan tindakan
energy (4) pengendalian nyeri sebelum
2. Gangguan memulai latihan bersama
rutinitas (4) 7. Mendorong rentang-of-gerak
3. Aktivitas fisik (ROM) latihan aktif, menurut
terganggu (4) teratur, jadwal terencana
4. Kinerja peran 8. Membantu dengan gerak sendi
terganggu (4) berirama teratur dalam batas
rasa sakit, daya tahan, dan
bergabung mobilitas
5 Domain 12 : NOC: NIC:
kenyamanan
Pain Control Domain 1 : Dasar fisiologik
Class 1 :
kenyamanan Tujuan: Class E : Promosi kesehatan fisik
fisik
Setelah dilakukan Pain Managemen
Diagnosa : tindakan keperawatan
nyeri akut selama lebih dari 1 hari 1. Ajarkan relaksasi kepada pasien
nyeri akut untuk mengurangi nyeri
teratasi/teratasi 2. Gunakan strategi komunikasi
sebagian dengan terapeutik untuk mengakui
kriteria hasil : pengalaman rasa sakit dan
menyapaikan penerimaan respn
Domain 4 : pasien terhadap nyeri
pengetahuan kesehatan 3. Pastikan pasien mendapatkan
dan prilaku perawatan analgesic
4. Tingkatkan istirahat
Kelas Q : kesehatan 5. Jelejahi pengetahuan dan
prilaku outcomes : keyakinan tentang nyeri pasien
kontrol nyeri (1605)

- 1. 160510 menganalisis
skala nyeri setiap 24
jam (2-3)
- 2. 160503 mengunakan
langkah-langkah
pencegahan nyeri akut
(2-3)

- 3. 160504
menggunakan langkah-
langkah bantuan nol
analgesic (2-3)

- 4. 160505
menggunakan analgesic
yang di anjurkan(2-3)

5. 160511
menggendalikan rasa
sakit (2-4)

Pain Level (2102)

1. Kegelisahan (4)
2. Mengeryit (4)
3. Ketegangan otot
(4)

Pain: Disruptive
Effects (2101)

1. Ketidaknyaman
an (4)
2. Gangguan
hubungan
interpersonal (4)
3. Gangguan
moibilitas fisik
(4)
4. Gangguan
kinerja peran
(4)
5. Kelemahan
aktifitas fisik
(4)
Sumber

David J Dandy MA MD FRCS Essential Othopaedics and Trauma, Second Edition. 1993

Nelson. Ilmu Kesehatan Anak, Edisi 15. 1996. 2360-2364, 689-692, EGC

Wim De Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 2; Editor R. Sjamsuhidayat, 832-834, EGC

Nelson. Ilmu Kesehatan Anak, Edisi 15. 1996. 2360-2364, 689-692, EGC

Price, Sylvia Anderson. 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses


Penyakit.Jakarta: EGC.

Nettina, Sandra, M. 2001. Pedoman Praktik Keperawatan. Jakarta : EGC.

Alpers, Ann. 2006.Buku Ajar Pediatri Rudolph Vol. 3.Jakarta : EGC.