Anda di halaman 1dari 14

1.

Definisi Ikterus Neonatorum


Ikterus adalah gambaran klinis berupa pewarnaan kuning pada kulit dan mukosa
karena adanya deposisi produk akhir katabolisme heme yaitu bilirubin. Secara klinis,
ikterus pada neonatus akan tampak bila konsentrasi bilirubin serum >5mg/dL (Cloherty,
2004). Pada orang dewasa, ikterus akan tampak apabila serum bilirubin >2mg/dL. Ikterus
lebih mengacu pada gambaran klinis berupa pewarnaan kuning pada kulit, sedangkan
hiperbilirubinemia lebih mengacu pada gambaran kadar bilirubin serum total.

2. Patofisiologi
Peningkatan kadar bilirubin tubuh dapat terjadi pada beberapa keadaan . Kejadian
yang sering ditemukan adalah apabila terdapat penambahan beban bilirubin pada sel
hepar yang berlebihan. Hal ini dapat ditemukan bila terdapat peningkatan penghancuran
eritrosit, polisitemia. Gangguan pemecahan bilirubin plasma juga dapat menimbulkan
peningkatan kadar bilirubin tubuh. Hal ini dapat terjadi apabila kadar protein Y dan Z
berkurang, atau pada bayi hipoksia, asidosis. Keadaan lain yang memperlihatkan
peningkatan kadar bilirubin adalah apabila ditemukan gangguan konjugasi hepar atau
neonatus yang mengalami gangguan ekskresi misalnya sumbatan saluran empedu. Pada
derajat tertentu bilirubin ini akan bersifat toksik dan merusak jaringan tubuh. Toksisitas
terutama ditemukan pada bilirubin indirek yang bersifat sukar larut dalam air tapi mudah
larut dalam lemak. Sifat ini memungkinkan terjadinya efek patologis pada sel otak
apabila bilirubin tadi dapat menembus sawar darah otak. Kelainan yang terjadi pada otak
disebut Kernikterus. Pada umumnya dianggap bahwa kelainan pada saraf pusat tersebut
mungkin akan timbul apabila kadar bilirubin indirek lebih dari 20 mg/dl. Bilirubin
indirek akan mudah melalui sawar darah otak apabila bayi terdapat keadaan berat badan
lahir rendah , hipoksia, dan hipoglikemia.

3. Diagnosis
1) Pendekatan menentukan kemungkinan penyebab
Menetapkan penyebab ikterus tidak selamanya mudah dan membutuhkan
pemeriksaan yang banyak dan mahal, sehingga dibutuhkan suatu pendekatan khusus
untuk dapat memperkirakan penyebabnya.
A. Ikterus yang timbul pada 24 jam pertama.
Penyebab ikterus yang terjadi pada 24 jam pertama menurut besarnya
kemungkinan dapat disusun sebagai berikut :
1. Inkompatibilitas darah Rh, AB0 atau golongan lain.
2. Infeksi intrauterin (oleh virus, toxoplasma, dan kadang-kadang bakteri).
3. Kadang-kadang oleh defisiensi G6PD.

B. Ikterus yang timbul 24-72 jam sesudah lahir


1. Biasanya ikterus fisiologis.
2. Masih ada kemungkinan inkompatibilitas darah ABO atau Rh atau
golongan lain. Hal ini dapat diduga kalau peningkatan kadar bilirubin
cepat, misalnya melebihi 5 mg% per 24 jam.
3. Defisiensi enzim G6PD juga mungkin.
4. Polisitemia
5. Hemolisis perdarahan tertutup (perdarahan subaponeurosis, perdarahan
hepar subkapsuler dan lain-lain).
6. Hipoksia
7. Sferositosis, elipsitosis, dan lain-lain.
8. Dehidrasi asidosis
9. Defisiensi enzim eritrosit lainnya.

C. Ikterus yang timbul sesudah 72 jam pertama sampai akhir minggu pertama
1. Biasanya karena infeksi (sepsis)
2. Dehidrasi asidosis
3. Defisiensi enzim G6PD
4. Pengaruh obat
5. Sindrom Crigler-Najjar
6. Sindrom Gilbert
D. Ikterus yang timbul pada akhir minggu pertama dan selanjutnya
1. Biasanya karena obstruksi
2. Hipotiroidisme
3. “Breast milk jaundice”
4. Infeksi
5. Neonatal hepatitis

Pemeriksaan yang perlu dilakukan :


a. Pemeriksaan bilirubin (direk dan indirek) berkala
b. Pemeriksaan darah tepi
c. Pemeriksaan penyaring G6PD
d. Pemeriksaan lainnya yang berkaitan dengan kemungkinan penyebab

2) Ikterus baru dapat dikatakan fisiologis sesudah observasi dan pemeriksaan


selanjutnya tidak menunjukkan dasar patologis dan tidak mempunyai potensi
berkembang menjadi kern icterus. WHO dalam panduannya menerangkan cara
menentukan ikterus dari inspeksi, sebagai berikut:
- Pemeriksaan dilakukan dengan pencahayaan yang cukup (di siang hari dengan
cahaya matahari) karena ikterus bisa terlihat lebih parah bila dilihat dengan
pencahayaan buatan dan bisa tidak terlihat pada pencahayaan yang kurang.
- Tekan kulit bayi dengan lembut dengan jari untuk mengetahui warna di bawah kulit
dan jaringan subkutan.
- Tentukan keparahan ikterus berdasarkan umur bayi dan bagian tubuh yang tampak
kuning.

3) Pemeriksaan bilirubin serum merupakan baku emas penegakan diagnosis ikterus


neonatorum serta untuk menentukan perlunya intervensi lebih lanjut. Beberapa hal
yang perlu dipertimbangkan dalam pelaksanaan pemeriksaan serum bilirubin adalah
tindakan ini merupakan tindakan invasif yang dianggap dapat meningkatkan
morbiditas neonatus. Umumnya yang diperiksa adalah bilirubin total. Beberapa
senter menyarankan pemeriksaan bilirubin direk, bila kadar bilirubin total > 20
mg/dL atau usia bayi > 2 minggu.
4. Penatalaksanaan
1) Ikterus Fisiologis
Bayi sehat, tanpa faktor risiko, tidak diterapi. Perlu diingat bahwa pada bayi sehat, aktif,
minum kuat, cukup bulan, pada kadar bilirubin tinggi, kemungkinan terjadinya
kernikterus sangat kecil. Untuk mengatasi ikterus pada bayi yang sehat, dapat dilakukan
beberapa cara berikut:
- Minum ASI dini dan sering
- Terapi sinar, sesuai dengan panduan WHO
- Pada bayi yang pulang sebelum 48 jam, diperlukan pemeriksaan ulang dan kontrol
lebih cepat (terutama bila tampak kuning).

Bilirubin serum total 24 jam pertama > 4,5 mg/dL dapat digunakan sebagai faktor
prediksi hiperbilirubinemia pada bayi cukup bulan sehat pada minggu pertama
kehidupannya. Hal ini kurang dapat diterapkan di Indonesia karena tidak praktis dan
membutuhkan biaya yang cukup besar.

A..Tata laksana Awal Ikterus Neonatorum (WHO):


- Mulai terapi sinar bila ikterus diklasifikasikan sebagai ikterus berat
- Tentukan apakah bayi memiliki faktor risiko berikut: berat lahir <2,5 kg, lahir
sebelum usia kehamilan 37 minggu, hemolisis atau sepsis
- Ambil contoh darah dan periksa kadar bilirubin serum dan hemoglobin, tentukan
golongan darah bayi dan lakukan tes Coombs:
i) Bila kadar bilirubin serum di bawah nilai dibutuhkannya terapi sinar, hentikan
terapi sinar.
ii) Bila kadar bilirubin serum berada pada atau di atas nilai dibutuhkannya terapi
sinar, lakukan terapi sinar

iii) Bila faktor Rhesus dan golongan darah ABO bukan merupakan penyebab
hemolisis atau bila ada riwayat defisiensi G6PD di keluarga, lakukan uji saring G6PD
bila memungkinkan.

B. Mengatasi hiperbilirubinemia
1. Mempercepat proses konjugasi, misalnya dengan pemberian fenobarbital. Obat ini
bekerja sebagai “enzyme inducer” sehingga konjugasi dapat dipercepat. Pengobatan
dengan cara ini tidak begitu efektif dan membutuhkan waktu 48 jam baru terjadi
penurunan bilirubin yang berarti. Mungkin lebih bermanfaat bila diberikan pada ibu
kira-kira 2 hari sebelum melahirkan bayi.
2. Memberikan substrat yang kurang toksik untuk transportasi atau konjugasi.
Contohnya ialah pemberian albumin untuk mengikat bilirubin yang bebas. Albumin
dapat diganti dengan plasma dengan dosis 15-20 mg/kgBB. Albumin biasanya
diberikan sebelum transfusi tukar dikerjakan oleh karena albumin akan mempercepat
keluarnya bilirubin dari
ekstravaskuler ke vaskuler sehingga bilirubin yang diikatnya lebih mudah dikeluarkan
dengan transfusi tukar. Pemberian glukosa perlu untuk konjugasi hepar sebagai
sumber energi.
3. Melakukan dekomposisi bilirubin dengan fototerapi. Walaupun fototerapi dapat
menurunkan kadar bilirubin dengan cepat, cara ini tidak dapat menggantikan transfusi
tukar pada proses hemolisis berat. Fototerapi dapat digunakan untuk pra dan pasca
transfusi tukar. Indikasi terapi sinar adalah:
a. bayi kurang bulan atau bayi berat lahir rendah dengan kadar bilirubin >10mg/dL.
b. bayi cukup bulan dengan kadar bilirubin >15 mg/dL.

Lama terapi sinar adalah selama 24 jam terus-menerus, istirahat 12 jam, bila perlu
dapat diberikan dosis kedua selama 24 jam.

4. Transfusi tukar pada umumnya dilakukan dengan indikasi sebagai berikut:


a. Kadar bilirubin tidak langsung >20mg/dL
b. Kadar bilirubin tali pusat >4mg/dL dan Hb <10mg/dL
c. Peningkatan bilirubin >1mg/dL

2) Monitoring
Monitoring yang dilakukan antara lain:
1. Bilirubin dapat menghilang dengan cepat dengan terapi sinar. Warna kulit tidak
dapat digunakan sebagai petunjuk untuk menentukan kadar bilirubin serum selama
bayi mendapat terapi sinar dan selama 24 jam setelah dihentikan.
2. Pulangkan bayi bila terapi sinar sudah tidak diperlukan, bayi minum dengan baik,
atau bila sudah tidak ditemukan masalah yang membutuhkan perawatan di RS.

5. Komplikasi dan Prognosis


Bahaya hiperbilirubinemia adalah kern icterus. Kern icterus atau ensefalopati
bilirubin adalah sindrom neurologis yang disebabkan oleh deposisi bilirubin tidak
terkonjugasi (bilirubin tidak langsung atau bilirubin indirek) di basal ganglia dan nuclei
batang otak. Patogenesis kern icterus bersifat multifaktorial dan melibatkan interaksi
antara kadar bilirubin indirek, pengikatan oleh albumin, kadar bilirubin yang tidak
terikat, kemungkinan melewati sawar darah otak, dan suseptibilitas saraf terhadap cedera.
Kerusakan sawar darah otak, asfiksia, dan perubahan permeabilitas sawar darah otak
mempengaruhi risiko terjadinya kern icterus (Richard E. et al, 2003).
Pada bayi sehat yang menyusu kern icterus terjadi saat kadar bilirubin >30 mg/dL
dengan rentang antara 21-50 mg/dL. Onset umumnya pada minggu pertama kelahiran
tapi dapat tertunda hingga umur 2-3 minggu.
Gambaran klinis kern icterus antara lain:
1. Bentuk akut :
a. Fase 1(hari 1-2): menetek tidak kuat, stupor, hipotonia, kejang.
b. Fase 2 (pertengahan minggu I): hipertoni otot ekstensor, opistotonus, retrocollis,
demam.
c. Fase 3 (setelah minggu I): hipertoni.
2. Bentuk kronis :
a. Tahun pertama : hipotoni, active deep tendon reflexes, obligatory tonic neck
reflexes, keterampilan motorik yang terlambat.
b. Setelah tahun pertama : gangguan gerakan (choreoathetosis, ballismus, tremor),
gangguan pendengaran.
Hiperbilirubinemia baru akan berpengaruh buruk apabila bilirubin indirek telah
melalui sawar darah otak. Pada keadaan ini penderita mungkin menderita kernikterus
atau ensefalopati biliaris. Gejala ensefalopati biliaris ini dapat segera terlihat pada masa
neonatus atau baru tampak setelah beberapa lama kemudian. Pada masa neonatus gejala
mungkin sangat ringan dan hanya memperlihatkan gangguan minum, latergi dan
hipotonia. Selanjutnya bayi mungkin kejang, spastik dan ditemukan epistotonus. Pada
stadium lanjut mungkin didapatkan adanya atetosis disertai gangguan pendengaran dan
retardasi mental di hari kemudian. Dengan memperhatikan hal di atas, maka sebaiknya
pada semua penderita hiperbilirubinemia dilakukan pemeriksaan berkala, baik dalam hal
pertumbuhan fisis dan motorik, ataupun perkembangan mental serta ketajaman
pendengarannya.

6. Gejala dan tanda klinis


Gejala utamanya adalah kuning di kulit, konjungtiva dan mukosa. Disamping itu dapat
pula disertai dengan gejala-gejala:
1. Dehidrasi
Asupan kalori tidak adekuat ( misalnya: kurang minum, muntah-muntah )
2. Pucat
Sering berkaitan dengan anemia hemolitik ( mis. Ketidakcocokan golongan darah
ABO, rhesus, defisiensi G6PD ) atau kehilangan darah ekstravaskular.
3. Trauma lahir
Bruising, sefalhematom ( peradarahn kepala ), perdarahan tertutup lainnya.
4. Pletorik ( penumpukan darah )
Polisitemia, yang dapat disebabkan oleh keterlambatan memotong tali pusat, bayi
KMK
5. Letargik dan gejala sepsis lainnya
6. Petekiae ( bintik merah di kulit )
Sering dikaitkan dengan infeksi congenital, sepsis atau eritroblastosis
7. Mikrosefali ( ukuran kepala lebih kecil dari normal )
Sering berkaitan dengan anemia hemolitik, infeksi kongenital, penyakit hati
8. Hepatosplenomegali ( pembesaran hati dan limpa )
9. Omfalitis ( peradangan umbilicus )
10. Hipotiroidisme ( defisiensi aktivitas tiroid )
11. Massa abdominal kanan ( sering berkaitan dengan duktus koledokus )
12. Feses dempul disertai urin warna coklat
Pikirkan ke arah ikterus obstruktif, selanjutnya konsultasikan ke bagian hepatologi

7. Derajat Ikterus Neonatorum


a. Derajat I :apabila warna kuning dari kepala sampai leher perkiraan kadar
bilirubin 5,0 mg%.
b. Derajat II :apabila warna kuning dari kepala, badan sampai dengan
umbilicus perkiraan kadar bilirubin 9,0 mg%.
c. Derajat III :apabila warna kuning dari kepala, badan, paha , sampai dengan
lutut bilirubin 11,4 mg%.
d. Derajat IV :apabila warna kuning dari kepala, badan, ekstremitas sampai
dengan pergelangan tangan dan kaki, 12,4 mg%.
e. Derajat V :apabila warna kuning dari kepala, badan, semua ekstremitas
sampai dengan ujung jari, 16,0 mg%.
8. Keutamaan ASI dibanding susu formula
ASI adalah satu jenis makanan yang mencukupi seluruh unsur kebutuhan bayi
baik fisik, psikologisosial maupun spiritual. ASI mengandung nutrisi, hormon, unsur
kekebalan pertumbuhan, anti alergi, serta anti inflamasi. Nutrisi dalam ASI mencakup
hampir 200 unsur zat makanan.
ASI adalah sebuah cairan tanpa tanding ciptaan Allah yang memenuhi
kebutuhan gizi bayi dan melindunginya dalam melawan kemungkinan serangan
penyakit. Keseimbangan zat-zat gizi dalam air susu ibu berada pada tingkat terbaik
dan air susunya memiliki bentuk paling baik bagi tubuh bayi yang masih muda. Pada
saat yang sama ASI juga sangat kaya akan sari-sari makanan yang mempercepat
pertumbuhan sel-sel otak dan perkembangan sistem saraf

1. Manfaat ASI
Komposisi ASI yang unik dan spesifik tidak dapat diimbangi oleh susu
formula. Pemberian ASI tidak hanya bermanfaat bagi bayi tetapi juga bagi ibu yang
menyusui.
Manfaat ASI bagi bayi:
1. ASI merupakan sumber gizi sempurna
ASI mengandung zat gizi berkualitas tinggi yang berguna untuk pertumbuhan
dan perkembangan kecerdasan bayi.faktor pembentukan sel-sel otak terutama
DHA dalam kadar tinggi. ASI juga mengandung whey (protein utama dari
susu yang berbentuk cair) lebih banyak dari casein (protein utama dari susu
yang berbentuk gumpalan).komposisi ini menyebabkan ASI mudah diserap
oleh bayi (Rulina, 2007).
2. ASI dapat meningkatkan daya tahan tubuh bayi
Bayi sudah dibekali immunoglobulin (zat kekebalan tubuh) yang didapat dari
ibunya melalui plasenta. Tapi, segera setelah bayi lahir kadar zat ini akan
turun cepat sekali. Tubuh bayi baru memproduksi immunoglobulin dalam
jumlah yang cukup pada usia 3 - 4 bulan. Saat kadar immunoglubolin bawaan
menurun, sementara produksi sendiri belum mencukupi, bisa muncul
kesenjangan immunoglobulin pada bayi. Di sinilah ASI berperan bisa
menghilangkan atau setidaknya mengurangi kesenjangan yang mungkin
timbul. ASI mengandung zat kekebalan tubuh yang mampu melindungi bayi
dari berbagai penyakit infeksi bakteri, virus, dan jamur. Colostrum (cairan
pertama yang mendahului ASI) mengandung zat immunoglobulin 10 - 17 kali
lebih banyak dari ASI (Cahyadi, 2007).
3. ASI eklusif meningkatkan kecerdasan dan kemandirian anak
Fakta-fakta ilmiah membuktikan, bayi dapat tumbuh lebih sehat dan cerdas
bila diberi air susu ibu (ASI) secara eksklusif pada 4 - 6 bulan pertama
kehidupannya. Di dalam ASI terdapat beberapa nutrien untuk pertumbuhan
otak bayi di antaranya taurin, yaitu suatu bentuk zat putih telur khusus, laktosa
atau hidrat arang utama dari ASI, dan asam lemak ikatan panjang - antara lain
DHA dan AA yang merupakan asam lemak utama dari ASI.
Hasil penelitian tahun 1993 terhadap 1.000 bayi prematur membuktikan, bayi-
bayi prematur yang mendapat ASI eksklusif mempunyai IQ lebih tinggi secara
bermakna yaitu 8,3 poin lebih tinggi dibanding bayi premature yang tidak
diberi ASI. Pada penelitian Dr. Riva dkk. menunjukkan anak-anak usia 9,5
tahun yang ketika bayi mendapat ASI eksklusif, ditemukan memiliki IQ
mencapai 12,9 poin lebih tinggi dibandingkan anak-anak yang ketika bayi
tidak mendapatkan ASI (Albert, 2007)
4. ASI meningkatkan jalinan kasih sayang
Jalinan kasih sayang yang baik adalah landasan terciptanya keadaan yang
disebut secure attachment. Anak yang tumbuh dalam suasana aman akan
menjadi anak yang berkepribadian tangguh, percaya diri, mandiri, peduli
lingkungan dan pandai menempatkan diri. Bayi yang mendapat ASI secara
eksklusif. akan sering dalam dekapan ibu saat menyusu, mendengar detak
jantung ibu, dan gerakan pernapasan ibu yang telah dikenalnya dan juga akan
sering merasakan situasi seperti saat dalam kandungan: terlindung, aman dan
tenteram.

Manfaat ASI bagi ibu:


1. Mengurangi resiko kanker payudara
Menyusui setidaknya sampai 6 bulan mengurangi kemungkinan ibu menderita
kanker payudara, kanker rahim, kanker indung telur. Perlindungan terhadap
kanker payudara sesuai dengan lama pemberian ASI. Ibu yang menyusui akan
terhindar dari kanker payudara sebanyak 20%-30%. Berdasarkan penelitian
dari 30 negara pada 50.000 ibu menyusui dan 97.000 tidak menyusui
kemungkinan kejadian kanker payudara lebih rendah pada ibu menyusui. Jika
menyusui lebih dari 2 tahun ibu akan lebih jarang menderita kanker payudara
sebanyak 50% (Roesli, 2007).
2. Metode KB paling aman
Kuisioner digunakan untuk memperoleh data dari para ibu di Nigeria untuk
mengetahuidampak menyusui dengan jarak kelahiran anak secara alami. Jarak
kelahiran anak lebih panjang pada ibu yang menyusui secara eklusif daripada
yang tidak (Roesli, 2007).
3. Kepraktisan dalam pemberian ASI
ASI dapat segera diberikan pada bayi, segar, siap pakai dan mudah
pemberiannya sehingga tidak terlalu merepotkan ibu (Krisna, 2007)
4. Ekonomis
Dengan memberikan ASI, ibu tidak memerlukan untuk makanan bayi sampai
berumur 4-6 bulan. Dengan demikian akan menghemat pengeluaran rumah
tangga untuk membeli susu formula dan peralatannya (Soetjiningsih, 1997).

9. Pemeriksaan Fisik pada Bayi Baru Lahir


Prosedur Pelaksanaan:
a. Penilaian Apgar score
Pemeriksaan ini bertujuan untuk menilai kemampuan laju jantung,
kemampuan bernafas, kekuatan tonus otot, kemampuan refleks dan warna
kulit. Caranya:
Lakukan penilaian apgar Score dengan cara menjumlahkan hasil penilaian
tanda, seperti laju jantung, kemampuan bernafas, kekuatan tonus otot,
kemampuan refleks dan warna kulit.
Tentukan hasil penilaian, sebagai berikut :
· Adaptasi baik : skor 7-10
· Asfiksia ringan-sedang : skor 4-6
· Asfiksia berat : skor 0-3
Tabel Penilaian Apgar Score
TANDA 0 1 2
Frekuensi jantung Tidak ada ≤100 ≥100
Usaha bernafas Tidak ada Lambat Menangis kuat
Tonus otot Lumpuh Ekstermitas fleksi sedikit Gerakan Aktif
Refleks Tidak bereaksi Gerakan sedikit Melawan
Seluruh tubuh Tubuh Kemerahan, Seluruh tubuh
Warna Kulit
biru / pucat Ekstermitas Atas Biru kemerahan
b. Pengukuran Antropometri
Lakukan Penimbangan berat badan
Letakkan kain atau kertas pelindung dan atur skala penimbangan ke titik nol
sebelum penimbangan. Hasil timbangan dikurangi berat alas dan pembungkus
bayi. Berat badan normal adalah 2500-3500 gram apabila BB kurang dari
2500 gram disebut bayi Premature dan apabila BB bayi lebih dari 3500 gram
maka bayi disebut Macrosomia.
 Lakukan Pengukuran panjang badan
Letakkan bayi di tempat yang datar. Ukur panjang badan dari kepala sampai
tumit dengan kaki/badan bayi diluruskan. Alat ukur harus terbuat dari bahan
yang tidak lentur. Panjang badan normal adalah 45-50 cm
 Ukur lingkar kepala
Pengukuran dilakukan dari dahi kemudian melingkari kepala kembali lagi ke
dahi. Lingkar kepala normal adalah 33-35 cm.
 Ukur lingkar dada
Ukur lingkar dada dari daerah dada ke punggung kembali ke dada
(pengukuran dilakukan melalui kedua puting susu). Lingkar dada normal
adalah 30 -33 cm. Apabila diameter kepala lebih besar 3 cm dari lingkar dada
maka bayi mengalami Hidrocephalus. Dan apabila diameter kepala lebih
kecil 3 cm dari dada maka bayi mengalami Microcephalus.
 Mengukur Lingkar Lengan atas (LILA)
Normalnya 11-15 cm. Untuk LILA pada BBL belum mencerminkan keadaan
tumbuh kembang bayi.
c. Pemeriksaan Fisik
i. Kepala
Lakukan Inspeksi pada daerah kepala. Raba sepanjang garis sutura
dan fontanel ,apakah ukuran dan tampilannya normal. Sutura yang
berjarak lebar mengindikasikan bayi preterm,moulding yang buruk
atau hidrosefalus. Pada kelahiran spontan letak kepala, sering terlihat
tulang kepala tumpang tindih yang disebut moulding/moulase.
Keadaan ini normal kembali setelah beberapa hari sehingga ubun-
ubun mudah diraba. Perhatikan ukuran dan ketegangannya. Fontanel
anterior harus diraba, fontanel yang besar dapat terjadi akibat
prematuritas atau hidrosefalus, sedangkan yang terlalu kecil terjadi
pada mikrosefali. Jika fontanel menonjol, hal ini diakibatkan
peningkatan tekanan intakranial, sedangkan yang cekung dapat tejadi
akibat deidrasi. Terkadang teraba fontanel ketiga antara fontanel
anterior dan posterior, hal ini terjadi karena adanya trisomi 21.
Periksa adanya tauma kelahiran misalnya; caput suksedaneum, sefal
hematoma, perdarahan subaponeurotik/fraktur tulang tengkorak.
Perhatikan adanya kelainan kongenital seperti ; anensefali,
mikrosefali, kraniotabes dan sebagainya.
ii. Wajah
Wajah harus tampak simetris. Terkadang wajah bayi tampak asimetris
hal ini dikarenakan posisi bayi di intrauteri. Perhatikan kelainan wajah
yang khas seperti sindrom down atau sindrom piere robin. Perhatikan
juga kelainan wajah akibat trauma lahir seperti laserasi, paresi
N.fasialis.
iii. Mata
Goyangkan kepala bayi secara perlahan-lahan supaya mata bayi
terbuka. Lakukan inspeksi daerah mata. Periksa jumlah, posisi atau
letak mataPerksa adanya strabismus yaitu koordinasi mata yang belum
sempurnaPeriksa adanya glaukoma kongenital, mulanya akan tampak
sebagai pembesaran kemudian sebagai kekeruhan pada korneaKatarak
kongenital akan mudah terlihat yaitu pupil berwarna putih. Pupil harus
tampak bulat. Terkadang ditemukan bentuk seperti lubang kunci
(kolobama) yang dapat mengindikasikan adanya defek retina Periksa
adanya trauma seperti palpebra, perdarahan konjungtiva atau
retinaPeriksa adanya sekret pada mata, konjungtivitis oleh kuman
gonokokus dapat menjadi panoftalmia dan menyebabkan kebutaan.
Apabila ditemukan epichantus melebar kemungkinan bayi mengalami
sindrom down.
iv. Hidung
Kaji bentuk dan lebar hidung, pada bayi cukup bulan lebarnya harus
lebih dari 2,5 cm. Bayi harus bernapas dengan hidung, jika melalui
mulut harus diperhatikan kemungkinan ada obstruksi jalan napas
akarena atresia koana bilateral, fraktur tulang hidung atau ensefalokel
yang menonjol ke nasofaring. Periksa adanya sekret yang
mukopurulen yang terkadang berdarah , hal ini kemungkinan adanya
sifilis congenital. Periksa adanya pernapasa cuping hidung, jika
cuping hidung mengembang menunjukkan adanya gangguan
pernapasan.
v. Mulut
Inspeksi apakah ada kista yang ada pada mukosa mulut. Perhatikan
mulut bayi, bibir harus berbentuk dan simetris. Ketidaksimetrisan
bibir menunjukkan adanya palsi wajah. Mulut yang kecil
menunjukkan mikrognatia. adanya bibir sumbing, adanya gigi atau
ranula (kista lunak yang berasal dari dasar mulut) Periksa keutuhan
langit-langit, terutama pada persambungan antara palatum keras dan
lunak. Perhatikan adanya bercak putih pada gusi atau palatum yang
biasanya terjadi akibat Epistein’s pearl atau gigi. Periksa lidah apakah
membesar atau sering bergerak. Bayi dengan edema otak atau tekanan
intrakranial meninggi seringkali lidahnya keluar masuk (tanda foote).
vi. Telinga
Periksa dan pastikan jumlah, bentuk dan posisinya. Pada bayi cukup
bulan, tulang rawan sudah matang. Daun telinga harus berbentuk
sempurna dengan lengkungan yang jelas dibagia atas. Perhatikan letak
daun telinga. Daun telinga yang letaknya rendah (low set ears)
terdapat pada bayi yangmengalami sindrom tertentu (Pierre-robin).
Perhatikan adanya kulit tambahan atau aurikel hal ini dapat
berhubungan dengan abnormalitas ginjal. Bunyikan bel atau suara.
Apabila terjadi refleks terkejut maka pendengarannya baik, kemudian
apabila tidak terjadi refleks maka kemungkinan terjadi gangguan
pendengaran.
vii. Leher
Leher bayi biasanya pendek dan harus diperiksa kesimetrisannya.
Pergerakannya harus baik. Jika terdapat keterbatasan pergerakan
kemungkinan ada kelainan tulang leher. Periksa adanya trauma leher
yang dapat menyebabkan kerusakan pad fleksus brakhialisLakukan
perabaan untuk mengidentifikasi adanya pembengkakan.periksa
adanya pembesaran kelenjar tyroid dan vena jugularisAdanya lipata
kulit yang berlebihan di bagian belakang leher menunjukkan adanya
kemungkinan trisomi 21. Raba seluruh klavikula untuk memastikan
keutuhannya terutama pada bayi yang lahir dengan presentasi bokong
atau distosia bahu. Periksa kemungkinan adanya fraktur.
viii. Dada, Paru dan Jantung kesimetrisan gerakan dada saat bernapas.
Apabila tidak simetris kemungkinan bayi mengalami pneumotoraks,
paresis diafragma atau hernia diafragmatika. Pernapasan bayi yang
normal dinding dada dan abdomen bergerak secara bersamaan.
Tarikan sternum atau interkostal pada saat bernapas perlu
diperhatikan. Frekuensi pernapasan bayi normal antara 40-60 kali
permenit. Perhitungannya harus satu menit penuh karena terdapat
periodic breathing, dimana pola pernapasan pada neonatus terutama
pada premature ada henti nafas yang berlangsung 20 detik dan terjadi
secara berkala. Pada bayi cukup bulan, puting susu sudah terbentuk
dengan baik dan tampak simetris. Payudara dapat tampak membesar
tetapi ini normal. Lakukan palpasi pada daerah dada, untuk
menentukan ada tidaknya fraktur klavikula dengan cara meraba ictus
cordis dengan menentukan posisi jantung. Lakukan Auskultasi paru
dan jantung dengan menggunakan stetoskop untuk menlai frekuensi
dan suara napa/jantung. Secara normal frekuensi denyut jantung antara
120-160 x / menit.
ix. Abdomen
harus tampak bulat dan bergerak secara bersamaan dengan gerakan
dada saat bernapas. Kaji adanya pembengkakanLakukan pemeriksaan
pada tali pusat bertujuan untuk menilai ada tidaknya kelainan pada tali
pusat seperti, ada tidaknya vena dan arteri, tali simpul pada tali pusat
dan lain-lain. Jika perut sangat cekung kemungkinan terdapat hernia
diafragmatika yang membuncit kemungkinan karena hepato-
splenomegali atau tumor lainnyaJika perut kembung kemungkinan
adanya enterokolitis vesikalis, omfalokel atau ductus omfaloentriskus
persisten. Lakukan Auskultasi adanya bising Usus. Lakukan perabaan
hati, umumnya teraba 2-3 cm di bawah arkus kosta kanan. Limpa
teraba 1 cm di bawah arkus kosta kiri. Lakukan palpasi ginjal, dengan
cara atur posisi terlentang dan tungkai bayidi lipat agar otot-otot
dinding perut dalam keadaan relaksasi, batas bawah ginjal dapat di
raba setinggi umbilikus di antara garis tengah dan tepi perut bagian
ginjal dapat di raba sekitar 2-3 cm. Adanya pembesaran pada ginjal
dapat di sebabkan oleh neoplasma, kelainan bawaan, atau trombosis
vena renalis
x. Ekstermitas Atas
Kedua lengan harus sama panjang, periksa dengan cara meluruskan
kedua lengan ke bawah Kedua lengan harus bebas bergerak, jika
gerakan kurang kemungkinan adanya kerusakan neurologis atau
fraktur Periksa jumlah jari. Perhatikan adanya polidaktili atau sidaktili
Telapak tangan harus dapat terbuka, garis tangan yang hanya satu
buah berkaitan dengan abnormaltas kromosom, seperti trisomi 21
Periksa adanya paronisia pada kuku yang dapat terinfeksi atau
tercabut sehingga menimbulkan luka dan perdarahan.
xi. Ekstermitas Bawah
Periksa kesimetrisan tungkai dan kaki. Periksa panjang kedua kaki
dengan meluruskan keduanya dan bandingkan Kedua tungkai harus
dapat bergerak bebas. Kuraknya gerakan berkaitan dengan adanya
trauma, misalnya fraktur, kerusakan neurologis. Periksa adanya
polidaktili atau sidaktili padajari kaki.
xii. Spinal
Periksa spina dengan cara menelungkupkan bayi, cari adanya tanda-
tanda abnormalitas seperti spina bifida, pembengkakan, lesung atau
bercak kecil berambut yang dapat menunjukkan adanya abdormalitas
medula spinalis atau kolumna vertebra
xiii. Genetalia
bayi laki-laki panjang penis 3-4 cm dan lebar 1-1,3 cm.Periksa posisi
lubang uretra. Prepusium tidak boleh ditarik karena akan
menyebabkan fimosis Periksa adanya hipospadia dan epispadia
Skrotum harus dipalpasi untuk memastikan jumlah testis ada dua
Pada bayi perempuan cukup bulan labia mayora menutupi labia
minoraLubang uretra terpisah dengan lubang vagina Terkadang
tampak adanya sekret yang berdarah dari vagina, hal ini disebabkan
oleh pengaruh hormon ibu (withdrawl bedding)
xiv. Anus dan Rectum
Periksa adanya kelainan atresia ani , kaji posisinya Mekonium secara
umum keluar pada 24 jam pertama, jika sampai 48 jam belum keluar
kemungkinan adanya mekonium plug syndrom, megakolon atau
obstruksi saluran pencernaan
xv. Kulit
Perhatikan kondisi kulit bayi. Periksa adanya ruam dan bercak atau
tanda lahir Periksa adanya pembekakan Perhatinan adanya vernik
kaseosa ( zat yang bersifat seperti lemak berfungsi sebagai pelumas
atau sebagai isolasi panas yang akan menutupi bayi cukup bulan).
Perhatikan adanya lanugo(rambut halus yang terdapat pada punggung
bayi) jumlah yang banyak terdapat pada bayi kurang bulan daripada
bayi cukup bulan.
xvi. Refleks-Refleks

Pemeriksaan
Cara Pengukuran Kondisi Normal Kondisi Patologis
Refleks
Berkedip Sorotkan cahaya ke Dijumpai pada tahun Jika tidak di jumpai
mata bayi. pertama menunjukkan
kebutaan.
Tanda babinski Gores telapak kaki Jari kaki mengembang Bila pengembangan
sepanjang tepi luar, di dan ibu jari kaki jari kaki dorsofleksi
ulai dari tumit dorsofleksi, di jumpai setelah umur 2 tahun
sampai umur 2 tahun. adanya tanda lesi
ekstrapiramidal.
Moro’s Ubah posisi dengan Lengan Ekstensi, jari- Refleks yang
tiba-tiba atau pukul jari mengembang menetap lebih 4
meja/tempat tidur. kepala terlempar ke bulan adanya
belakang, tungkai kerusakan otak,
sedikit ekstensi, respon tidak simetris
lengan kembali ke adanya hemiparesis,
tengah dengan tangan fraktur klavikula,
menggenggam tulang atau cidera fleksus
belakang dan brachialis. Tidak ada
ekstermitas bawah respons ekstermitas
ekstens. Lebih kuat bawah adanya
selama 2 bulan dislokasi pinggul
menghilang pada atau cidera medulla
umur 3-4 bulan. spinalis.
Mengenggam Letakkan jari di Jari-jari bayi Fleksi yang tidak
(palmar grap’s) telapak tangan bayi melengkung di sekitar simetris
dari sisi ulnar, jika jari yang di letakkan menunjukkan adanya
refleks lemah atau di telapak tangan bayi paralysis, refleks
tidak ada berikan bayi dari sisi ulnar, refleks menggenggam yang
botol atau dot, karena ini menghilang dari menetap
mengjisap akan umur 3-4 bulan. menunjukkan
mengeluarkan refleks. gangguan serebral
Rooting Gores sudut mulut Bayi memutar kea rah Tidak adanya reflek
bayi garis tengah pipi yang di gores, menunjukkan adanya
bibir. refleks ini menghilang gangguan neurology
pada umur 3-4 bulan. berat
Tetapi bias menetap
sampai umur 12 bulan
khususnya selama
tidur.
Kaget (startle) Bertepuk tangan Bayi mengekstensi Tidak adanya refleks
dengan keras. dan memfleksi lengan menunjkkan adanya
dalam berespon gangguan
terhadap suara yang pendengaran
keras tangan tetap
rapat, refleks ini akan
menghilang setelah
umur 4 bulan.
Menghisap Berikan bayi botol Bayi menghisap Reflek yang lemah
dan dot. dengan kuat dalam atau tidak ada
berespons terhadap menunjukkan
stimulasi, reflek ini kelambatan
menetap selama masa perkembangan atau
bayi dan mungkin keadaan neurologi
terjadi selama tidur yang abnormal
tanpa stimulasi

10. Kejang Pada Neonatus dan Penatalaksanaannya


Kejang pada neonatus ialah suatu gangguan terhadap fungsi neurologis seperti tingkah
laku, motorik, atau fungsi otonom. Periode bayi baru lahir (BBL) dibatasi sampai hari
ke-28 kehidupan pada bayi cukup bulan, dan untuk bayi prematur, batasan ini biasanya
digunakan sampai usia gestasi 42 minggu.Kebanyakan kejang pada BBL timbul selama
beberapa hari. Sebagian kecil dari bayi tersebut akan mengalami kejang lanjutan dalam
kehidupannya kelak. Kejang pada neonatus relatif sering dijumpai dengan manifestasi
klinis yang bervariasi. Timbulnya sering merupakan gejala awal dari gangguan neurologi
dan dapat terjadi gangguan pada kognitif dan perkembangan jangka panjang.
kejang pada bayi baru lahir adalah
a) kejang yang terjadi pada bayi sampai dengan usia 28 hari
b) Kejang pada BBL merupakan keadaan darurat karena kejang merupakan suatu tanda
adanya penyakit sistem sayarf pusat (SSP), kelainan metabolik atau penyakit lain.
c) Sering tidak dikenali karena berbeda dengan kejang pada anak
d) Kejang umum tonik klonik jarang terjadi pada BBL
e) Kejang berulang menyebabkan berkurangnya oksigenisasi, ventilasi dan nutrisi otak

Kejang pada bayi baru lahir ialah kejang yang timbul masa neonatus atau dalam
28 hari sesudah lahir (Buku Kesehatan Anak) Menurut Brown (1974) kejang adalah
suatu aritma serebral. Kejang adalah perubahan secara tiba-tiba fungsi neurology baik
fungsi motorik maupun fungsi otonomik karena kelebihan pancaran listrik pada otak
(Buku Pelayanan Obstetric Neonatal Emergensi Dasar). Kejang bukanlah suatu penyakit
tetapi merupakan gejala dari gangguan saraf pusat, lokal atau sistemik. Kejang ini
merupakan gejala gangguan syaraf dan tanda penting akan adanya penyakit lain sebagai
penyebab kejang tersebut, yang dapat mengakibatkan gejala sisa yang menetap di
kemudian hari. Bila penyebab tersebut diketahui harus segera di obati. Hal yang paling
penting dari kejang pada bayi baru lahir adalah mengenal kejangnya, mendiagnosis
penyakit penyebabnya dan memberikan pertolongan terarah, bukan hanya mencoba
menanggulangi kejang tersebut dengan obat antikonvulsan.
Kejang pada bayi baru lahir sering tidak dikenali karena bentuknya berbeda dengan
kejang pada anak atau orang dewasa.Hal ini disebabkan karena ketidakmatangan
organisasi korteks pada bayi baru lahir.Kejang umum tonikklonik jarang pada bayi baru
lahir.Manifestasi kejang pada bayi baru lahir dapat berupa tremor ,hiperaktif,kejang-
kejang,tiba-tiba menangis melengking,tonus otot hilang disertai aatau tidak dengan
hilangnyakesadaran, tidak menentu,i(nvoluntary movement),nistagmus,(fenomena oral
dan bukal),bahkan apnu oleh karena manifestasi klinik yang berbeda-bada dan
bervariasi,sering kali pada bayi baru lahir tidak dikenali oleh yang belum
berpengalaman .

Penatalaksanaan Kejang Pada BBL:


1. Prinsip tindakan untuk mengatasi kejang
Menjaga jalan nafas tetap bebas
Mengatasi kejang dengan memberikan obat anti kejang
Mengobati penyebab kejang
2. Penanganan kejang pada BBL
a. Bayi diletakan dalam tempat hangat, pastikan bayi tidak kedinginan, suhu
dipertahankan 36,5-37ᴼC
b. Jalan nafas dibersihkan dengan tindakan penghisapan lendir diseputar mulut,
hisung dan nasofaring
c. Pada bayi apnea, pertolongan agar bayi bernafas lagi dengan alat Bag to Mouth
Face Mask oksigen 2 liter/menit
d. Infus
e. Obat antispasmodik/anti kejang : diazepam 0,5 mg/kg/supp/im setiap 2 menit
sampai kejang teratasi dan luminal 30 mg im/iv
f. Nilai kondisi bayi tiap 15 menit
g. Bila kejang teratasi berikan cairan infus dextrose 10% dengan tetesan
60ml/kgBB/hr
h. Cari faktor penyebab:
- Apakah mungkin bayi dilahirkan dari ibu DM
- Apakah mungkin bayi premature
- Apakah mungkin bayi mengalami asfiksia
- Apakah mungkin ibu bayi emnghisap narkotika
- Kejang sudah teratasi, diambil bahan untuk pemeriksaan laboratorium untuk
mencari faktor penyebab, misalnya : darah tepi, elektrolit darah, gula darah,
kimia darah, kultur darah, pemeriksaan TORCH
- Kecurigaan kearah sepsis (pemeriksaan pungsi lumbal)
- Kejang berulang, diazepam dapat diberikan sampai 2 kali
- Masih kejang : dilantin 1,5 mg/kgBB sebagai bolus iv diteruskan dalam dosis
20 mg iv setiap 12 jam
- Belum teratasi : phenytoin 15 mg/kgBB iv dilanjutkan 2 mg/kg tiap 12 jam
- Hipokalsemia (hasil lab kalsium darah <8mg%) : diberi kalsium glukonas
10% 2 ml/kg dalam waktu 5-10 menit . apabila belum juga teratasi diberi
pyridoxin 25-50 mg.
- Hipoglikemia (hasil lab dextrosit/gula darah < 40 mg%) : diberi infus
dextrose 10%