Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Hidrologi adalah ilmu tentang kehadiran dan gerakan air di alam kita. Secara
khusus menurut SNI No. 1742-1989-F hidrologi didefinisikan sebagai ilmu yang
mempelajari sistem kejadian air, pada permukaan dan di dalam tanah. Definisis tersebut
terbatas pada rekayasa hidrologi. Ilmu hidrologi berhubungan dengan keterdapatan dan
pergerakan air dan melalui permukaan bumi. Ilmu itu berhubungan dengan berbagai
bentuk kelengasan yang ada, dan beralihnya wujud cair, zat padat dan bentuk gas itu di
udara dan di lapisan permukaan daratan. Ilmu itu pun menyangkut lautan sumbernya dan
kumpulan semua air yang memberi kehidupan di planet ini (Wilson.E.M, 1993:1)
Sehubungan dengan Hidrologi, maka reviewer tertarik untuk mereview dua buku
yang berhubungan dengan Hidrologi, dengan judul buku pertama “Rekayasa Hidrologi”
karya Dr. Ir. Rumilla Harahap, M.T. Dan buku kedua “Analisis Hidrologi” karya Sri
Harto Br

B. Tujuan dan Manfaat

1. Tujuan
a. Untuk menambah wawasan tentang Hidrologi
b. Untuk menambah wawasan tentang Bagian – Bagian dari Hidrologi

2. Manfaat
a. Untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Hidrologi
b. Untuk menambah pengetahuan bahasan – bahasan apa saja yang terdapat pada
Mata Kuliah Hidrologi

1
BAB II
RINGKASAN BUKU

A. Identitas Buku
Buku Pertama
Judul Buku : Rekayasa Hidrologi
No. ISBN 978-602-7938-28-1
Penerbit : Unimed Press
Tahun Terbit : 2013
Tebal Buku : 185 Halaman
Bahasa Teks : Bahasa Indonesia

Buku Kedua (Buku Pembanding)


Judul Buku : Analisis Hidrologi
Pengarang : Sri Harto Br
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 1993
Edisi/Cetakan : Pertama
Tebal Buku : 324 Halaman
Bahasa Teks : Bahasa Indonesia

2
B. Rangkuman Buku Utama (Rekayasa Hidrologi)

Hidrologi secara sederhana dapat diartikan sebagai ilmu air, Hidro : air
dan Logos : ilmu. Maka hidrologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang
gerakan air di permukaan bumi, hal ini bertujuan untuk mempelajari peristiwa
atau perilaku, sirkulasi, pergerakan, distribusi air, baik di atmosfir, di permukaan
maupun di dalam tanah, serta hubungannya dengan lingkungan.
Tahap pertama dari siklus hidrologi adalah penguapan air dari samudera.
Uap ini dibawa di atas daratan oleh masa udara yang bergerak. Bila didinginkan
hingga titik embunnya, maka uap tersebut akan membeku menjadi butiran air
yang dapat dilihat yang berbentuk awan atau kabut. Dalam kondisi metodologis
yang sesuai, butiran – butiran air kecil itu akan berkembang cukup besar untuk
dapat jatuh ke permukaan bumi sebagai hujan.

Air Tanah

Air tanah merupakan sumber air yang sangat penting bagi mahluk
hidup. Air tanah tersebut tersimpan dalam lapisan yang disebut akuifer. Akuifer
merupakan sumber air tanah yang sangat penting. Akuifer tersebut dapat dijumpai
pada dataran pantai, daerah kaki gunung, lembah antar pegunungan, dataran
aluvial dan daerah topografi karst.
Air merupakan faktor yang sangat penting dalam masalah-masalah seperti
: penurunan, stabilitas pondasi, stabilitas lereng, dan lain-lain. Pada lapisan tanah
terdapat 3 zone penting yaitu : zone jenuh air, zone kapiler, dan zone jenuh
sebagian. Pada zone jenuh atau zone dibawah muka air, air mengisi seluruh
rongga-rongga.
Air tanah adalah air yang tersimpan/terperangkap di dalam lapisan batuan
yang mengalami pengisian/penambahan secara terus menerus oleh alam. Dengan
defebisi tersebut, kondisi suatu lapisan tanah membuat suatu zona pembagian
zona air tanah menjadi 2 zona besar, yaitu:
a. Zona Air Berudara (Zone of Aeration)
Zona ini adalah suatu lapisan tanah yang mengandung air yang masih dapat
kontak dengan udara. Pada zona ini terdapat 3 lapisan tanah, yaitu lapisan air

3
tanah permukaan, lapisan intermediate yang berisi air gravitai dan lapisan
kapiler yang berisi air kapiler.

b. Zona Air Jenuh (Zone of Saturation)


Zona ini adalah suatu lapisan tanah yang mengandung air tanah yang relatif
tak terhubung dengan udara luar dan lapisan tanahnya atau aquifer bebas.
Pembentukan Air
Air tanah terbentuk dari air hujan dan air permukaan, yang meresap
(infiltrate) mula-mula ke zone tak jenuh dan kemudian meresap makin dalam
hingga mencapai zona jenuh air dan menjadi air tanah. Air tanah adalah suatu
faset dalam daur hidrologi, yakni suatu peristiwayang selalu berulang dari urutan
tahap yang dilalui air dari atmosfer kebumi dan kembali ke atmosfer; penguapan
dari darat atau laut atau air pedalaman, pengembunan membentuk awan,
pencurahan, pelonggokan dalam tanih atau badan air dan penguapan kembali.
Air tanah dan air permukaan saling berkaitan dan berinteraksi. Setiap aksi
(pemompaan, pencemaran, dan lain-lain) terhadap air tanah akan memberikan
reaksi terhadap air permukaan, demikian sebaliknya.
Wadah Air Tanah
Suatu formasi geologi yang mempunyai kemampuan untuk
menyimpan dan melakukan air tanah dalam jumlah berarti ke sumur-sumur atau
mata air-mata air disebut ekuifer. Wadah air tanah yang disebut ekuifer tersebut
dialasi oleh lapisan-lapisan batuan dengan daya meluluskan air yang rendah,
misalnya lempung. Semua ekuifer mempunyai sifat yang mendasar :
a. Kapasitas menyimpan air tanah.
b. Kapasitas mengalirkan air tanah.

Pengaliran dan Imbuhan Air Tanah


Air tanah dapat terbentuk atau mengalir (terutama secara horizontal),
dari titik/daerah imbuh (recharge), seketika itu juga pada saat turun hujan, hingga
membutuhkan waktu harian, mingguan, bulanan, tahunan, puluhan tahun, bahkan
ribuan tahun, tinggal didalam ekuifer sebelum muncul kembali secara alami

4
dititik/daerah luah, tergantung dengan kedudukan zona jenuh air, topografi,
kondisi iklim dan sifat-sifat hidrolika ekuifer.

Mutu Air Tanah


Sifat fisik dan komposisi kimia air tanah yang menentukan mutu air
tanah secara alami sangat dipengaruhi oleh jenis litologi penyusun ekuifer, jenis
tanah/batuan yang dilalui air tanah, serta jenis air asal air tanah. Mutu air tersebut
akan berubah manakala terjadi intervensi manusia terhadap air tanah, seperti
pengambilan air tanah yang berlebihan, pembuangan limbah, dan lain-lain.

Pemanfaatan Air Tanah


1. Sebagai sumber mata air.
2. Pembangkit listrik tenaga air kecil.
3. Pertambangan emas yaitu di Muara Siambak merupakan kampung terletak
dilereng bukit barisan yang menjulang tinggi.

Sifat-sifat Air Tanah


Air tanah secara umum mempunyai sifat-sifat yang menguntungkan dan
merugukan yaitu :
1. Keuntungan
a. Pada umunya bebas dari bakteri pathogen.
b. Dapat dipakai tanpa pengolahan lebih lanjut.
c. Paling praktis dan ekonomis untuk mendapatkan dan membagikannya.
d. Lapisan tanah yang menampung air biasanya merupakan tempat
pengumpulan air alami.
2. Kerugian
a. Air tanah sring kali mengandung banyak mineral-minerl sepeerti Fe, Mn,
Ca, dan lain-lain.
b. Biasanya membutuhkan pemompaan untuk menariknya ke permukaan.

5
Tekanan hidrostatis bergantung pada kedalaman suatu titik dibawah
muka air tanah. Untuk mengetahui tekanan air pori, Teorema Bernauli dapat
diterapkan. Menurut bernauli, tinggi energi total pada suatu titik dapat
dinyatakan oleh persamaan :
𝑝 𝑣2
ℎ = 𝛾𝑤 + + 𝑧
2𝑔

dengan :
h = tinggi energi total (m)
p/ 𝛾 𝑤 = tinggi energi tekanan (m)
p = tekanan air (t/m2, kN/m2)
v2/2g = tinggi energi kecepatan (m)
v = kecepatan air (m/det)
𝛾 𝑤 = berat volume air (t/m3, kN/m3)
g = perceparan gravitasi (m/dt2)
z = tinggi energi elevasi (m)

Karena kecepatan rembesan didalam tanah sangat kecil, maka tinggi


energi kecepatan dalam suku persamaan Bernouli dapat diabaikan.
Sehingga perseamaan tinggi energi total menjadi :
𝑝
ℎ= + 𝑧
𝛾𝑤
Hukum Darcy
Darcy (1956), mengusulkan hubungan antara kecepatan dan gradient
hidrolik sebagai berikut :
v = ki
dimana :
v = kecepatan air (cm/det)
i = Gradien hidrolik
k = koefisien permeabilitas (cm/det2)

Debit rembesan (q) dinyatakan dalam persamaan :


q = kiA

6
Koefisien permeabilitas (k) mempunyai satuan yang sama dengan
kecepatan cm/det atau mm/det. Yaitu menunjukkan ukuran tahanan tanah
terhadap air, bila pengaruh sifat-sifatnya dimasukkan, maka :
𝑘 𝜌𝑤 𝑔
k (cm/det) =
𝜇

dengan :
k = koefidien absolute (cm2), tergantung dari sifat butiran tanah.
𝜌𝑤 = rapat massa air (g/cm3)
µ = koefisien kekentalan air (g/cm.det)
𝑔 = percepatan gravitasi (cm/det3)

Aquifer
Air tanah merupakan sumber air yang sangat penting bagi mahluk
hidup. Air tanah tersebut tersimpan dalam lapisan yang disebut aquifer.
Aquifer merupakan sumber air tanah yang sangat penting. Aquifer tersebut
dapat dijumpai pada dataran pantai, daerah kaki gunung, lembah antar
pegunungan, dataran alifial dan daerah topografi carst.
Aquifer ditinjau dari sistemnya terdiri dari aquifer tak tertekan, aquifer
semi tertekan dan aquifer tertekan. Aquifer dataran pantai pada umunya
berkembang sebagai daerah pemukiman yang padat (misal Jakarta) hal ini
disebabkan karena aquifer daerah ini merupakan sumber air tanah yang sangat
penting bagi daerah kota daerah tersebut. Air tanah didaerah tersebut
disamping dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan kota juga digunakan
untuk pertanian.

Proses Pergerakannya
Air bergerak didalam tanah secara horizontal dan vertikal. Pergerakan
air secara horizontal disebut juga pergerakan air lateral. Pergerakan air vertikal
dapat berupa pergerakan air kebawah yang dipengaruhi oleh gerak gravitasi
melalui infiltrasi dan perkolasi serta pergerakan air keatas melalui grak
kapilaritas air tanah yang di pengaruhi oleh porositas tanah dan temperatur
tanah. Air tanah yang berada dibawah zona perakaran tanaman akan mengalir

7
menuju zona perakaran tanaman disebabkan oleh kemampuan kapiler yang
dimiliki oleh tanah.
Tanah yang alami dengan tetumbuhan diatasnya menyedeiakan pori-
pori, rongga-rongga dan celah tanah bagi air hujan sehingga air hujan lebih
leluasa merembes atau meresap kedalam tanah. Air itu akan turun hingga
kedalaman beberapa puluh meter.

Rangkuman Buku Pendukung (Analisis Hidrologi)

Bagian 1 Hidrologi di Indonesia

Secara umum analisis hidrologi merupakan satu bagian analisis awal dalam
perancangan bangunan – bangunan hidraulik. Pengertian yang terkandung di
dalamnya adalah bahwa informasi dan besaran – besaran yang diperoleh dalam
analisis hidrologi merupakan masukan penting dalam analisis selanjutnya.
Bangunan hidraulik dalam bidang teknik sipil dapat berupa gorong –
gorong, bendung, bangunan pelimpah, tanggul penahan banjir, dan sebagainya.
Ukuran, dan karakter bangunan – bangunan tersebut sangat tergantung dari tujuan
pembangunan dan informasi yang diperoleh dari analisis hidrologi. Hal ini perlu
disadari karena pada dasarnya di dalam perancangan bangunan hidraulik (dan juga
bangunan fisik pada umumnya) peranan faktor teknik dapat menjadi kecil, tetapi
faktor – faktor nonteknis menjadi peran penting. Faktor – faktor yang
dimaksudkan tersebut diantaranya :
1. Faktor ekonomi
2. Faktor sosial
3. Faktor politik
4. Faktor keamanan, dan
5. Faktor teknis

Ilmu hidrologi di dunia sebenarnya telah ada sejak orang mulai


mempertanyakan dari mana asal mula air yang berada di sekelilingnya, baik
dalam bentuk mata air, selokan, sungai, danau, rawa maupun air yang berada
dalam tanah dan dalam tumbuh – tumbuhan.

8
Munculnya beberapa organisasi profesi seperti Himpunan Ahli Teknik
Hidraulik Indonesia (HATHI) sangat mendukung perkembangan tersebut. Dalam
kaitan dengan keberadaan para konsultan asing tersebut, beberapa hl perlu dicatat.

1. Pada awalnya, karena berbagai kekurangan bekal pengetahuan dasar,


peran para konsultan asing menjadi terlalu dominan, sadangkan para
pendamping (counterpart) belum dapat mendampingi dalam arti yang
sebenarnya. Fungsi mereka (meskipun tidak semuanya) lebih banyak
merupakan “pengumpul data”, sedangkan analisis dan “kejaiban” di
belakang analisis tersebut sama sekali tidak dapat terungkap.
2. Sebagai akibat dari hal tersebut, kesalahan – kesalahan yang mungkin
terjadi dalam sesuatu kasus analisis, pada umumnya (jarang) yang
dapat diselesaikan oleh para pendamping. Lebih tidak disukai lagi
karena beberapa pendamping justru hampir tidak tahu sama sekali
masalah yang dihadapi. Akibatnya, bila terjadi penyimpangan –
penyimpangan dalam analisis yang diketahui kemudian hari, menjadi
sulit untuk dilacak.
3. Peran pendamping mulai awal 1980-an menjadi lebih baik dan dapat
berfungsi sebagaimana seharusnya. (Peran beberapa perguruan tinggi
baik dalam dan luar negeri cukup menonjol). Ditunjang oleh beberapa
kebijakan pemerintah, konsultan dalam negeri mulai mendapat
kepercayaan yang cukup besar.

Bagian 2 : Jaringan Pengukuran Hujan

Perkembangan perencanaan jaringan dapat melalui beberapa tahapan


sebagai berikut (Made, 1987)

1. Isolated station phase


Setasiun – setasiun yang terisolasi dipasang untuk memenuhi kebutuhan
setempat. Jumlah tersebut akan bertambah dengan meningkatnya
perkembangan sosio-ekonomi daerah yang bersangkutan.
2. Network phase I
Kerapatan setasiun sudah makin tinggi sedemikian sehingga pengukuran yang
dilakukan (meskipun tidak disengaja) telah menunjukkan keterikatan tertentu
3. Network phase 2 atau Consolidation phase

9
Tingkat keterikatan sudah sangat tinggi dan sering telah terdapat informasi
yang berlebihan.
4. Network phase 3 atau Reducation phase
Pada tahap ini mulai disadari bahwa informasi yang berlebihan hanya akan
mempertinggi biaya. Untuk itu tingkat keterikatan perlu ditetapkan untuk
dapat mulai mengurangi setasiun – setasiun yang kurang berfungsi.

Dalam peroses pengembangan jaringan hendaknya tetap dipahami bahwa


tingkat keterikatan antarstasiun merupakan dasar perencanaan jaringan.
Hubungan dan keterkaitan tersebut hanya dapat diuji apabila terdapat data hasil
pengukuran. Oleh sebab itu, dengan mengandaikan bahwa jaringan yang
dimaksudkan belum pernah ada dalam daerah yang ditinjau, maka perencanaan
harus dimulai dengan satu jaringan “sebarang”, yang dipasang dengan “common
sense” baik jumlah dan penempatannya (pilot network). Beberapa faktor yang
perlu mendapatkan perhatian untuk dipertimbangkan :

5. Faktor hidraulik
6. Faktor politik
7. Faktor sosio-ekonomi dan psikologik

Bagian 3 : Hujan

Hujan merupakan komponen masukan yang paling penting dalam proses


hidrologi, karena jumlah kedalaman hujan (rainfall depth) ini yang
dialihragamkan menjadi aliran di sungai, baik melalui limpasan permukaan
(surface runoff), aliran antar (interflow, sub surface flow) maupun sebagai aliran
air tanah (groundwater flow).

Agar terjadi proses pembentukan hujan, maka ada dua syarat yang harus dipenuhi

1. Tersedia udara sembab


2. Tersedia saran, keadaan yang dapat mengangkat udara tersebut ke atas,
sehingga terjadi kondensasi.

Terangkatnya udara ke atas dapat terjadi dengan tiga cara

1. Konvektif (convective), bila terjadinya kesetimbangan udara karena panas


setempat, dan udara bergerak ke atas dan berlaku proses adiabatik.

10
2. Hujan siklon (cyclonic), bila gerakan udara ke atas terjadi akibat adanya udara
panas yang bergerak di atas lapisan udar yang lebih padat dan lebih dingin.
Terjadi dengan intensitas sedang, mencakup daerah yang luas dan
berlangsung lama.
3. Hujan orografik (arographic rainfall), terjadi karena udara bergerak ke atas
akibat adanya pegunungan.

Bagian 4 : Penguapan

Penguapan adalah proses perubahan dari molekul air dalam bentuk zat cair ke
dalam bentuk gas. Pada saat yang sama akan terjadi pula perubahan molekul air
dari gas ke zat cair, dalam hal ini disebut pengembunan. Sehingga sebenarnya
laju penguapan adalah laju neto, yaitu perbedaan antara laju evaporasi dikurangi
dengan laju kondensasi. Penguapan hanya terjadi apabila terdapat perbedaan
tekanan uap air antara permukaan dan udara di atasnya. Berberapa faktor yang
berpengaruh terhadap laju penguapan, yaitu :

1. Temperatur
2. Angin
3. Kualitas air

Bagian 5 : Infiltrasi

Infiltrasi dimaksudkan sebagai proses masuknya air ke permukaan tanah.


Merupakan proses aliran air dalam tanah secara vertikal akibat gaya berat.
Terdapat dua pengertian tentang kuantitas infiltrasi, yaitu :

1. Kapasitas infiltrasi
Kapasitas infiltrasi adalah laju maksimum untuk suatu jenis tanah tertentu
2. Laju infiltrasi
Laju infiltrasi adalah laju infiltrasi nyata suatu jenis tanah tertentu.

Secara fisik terdapat beberapa faktor yang berpengaruh, yaitu :

a. Jenis tanah
b. Kepadatan tanah
c. Kelembapan tanah
d. Tutup tumbuhan

11
BAB III

KEUNGGULAN BUKU

A. Keterkaitan Antar Bab

- Membahas tentang Hidrologi


- Membahas tentang Pengukuran dan perkiraan hujan, penguapan, dan infiltrasi

B. Kemuktahiran isi Buku

Pada buku Utama (Rekayasa Hidrologi) pemaparan cukup muktahir dan tujuan
pengarang pada buku yang berjudul Rekayasa Hidrologi agar pembaca mengerti dan
paham tentang Hidrologi, Hujan, Air Tanah, dll.
Pada Buku Kedua (Analisis Hidrologi) tujuan pengarang pada buku yang berjudul
Pendukung Analisis Hidrologi sampai kepada pembaca agar pembaca tahu tentang
Hidrologi di Indonesia, Infiltrasi, Penguapan dan Hujan.

12
BAB IV

KELEMAHAN BUKU

C. Keterkaitan Antar Bab


Bahasa yang digunakan berbelit atau menggunakan kata yang berlebihan yang
seharusnya tidak perlu digunakan sehingga membuat bingung. Masih adanya huruf
yang salah dalam kalimat. Letak tanda baca yang digunakan tidak pas.

D. Kemuktahiran isi Buku


Kemutakhiran pada buku ini tiap bab tidak baru lagi karena isi pada buku ini terdapat
atau bisa dilihat di internet.

13
BAB V

IMPLIKASI

A. Teori
Semua teori yang tercantum dalam buku ini merupakan suatu ajaran, arahan dan
bimbingan yang sangat erat kaitannya untuk melakukan praktek dilapangan serta
dapat tahu faktor – faktor yang mempengaruhi pembuatan konstruksi.
B. Pemahaman Mahasiswa
Penulis cukup memahami isi dan tujuan dari pengarang buku yaitu menjelaskan
tentang Hidrologi dan bagian – bagian di dalamnya.
C. Analisis Mahasiswa
Gambar merupakan salah satu hal yang sangat penting dalam sebuah buku dimana
gambar berfungsi sebagai penguat teori yang terdapat pada buku dan bertujuan
untuk mempermudah pembaca mengetahui isi buku. Pada buku kedua Hidrologi
ini gambar yang ditampilkan masih kurang lengkap dan warna pada gambar
kurang menarik sehingga pembaca kurang tertarik untuk membaca kecuali
informasi atau tulisan yang terdapat di dalam buku.

14
BAB VI
PENUTUP
A. Kesimpulan
Secara umum analisis hidrologi merupakan satu bagian analisis awal dalam
perancangan bangunan – bangunan hidraulik. Pengertian yang terkandung di
dalamnya adalah bahwa informasi dan besaran – besaran yang diperoleh dalam
analisis hidrologi merupakan masukan penting dalam analisis selanjutnya.
Bangunan hidraulik dalam bidang teknik sipil dapat berupa gorong – gorong,
bendung, bangunan pelimpah, tanggul penahan banjir, dan sebagainya. Ukuran, dan
karakter bangunan – bangunan tersebut sangat tergantung dari tujuan pembangunan
dan informasi yang diperoleh dari analisis hidrologi. Hal ini perlu disadari karena pada
dasarnya di dalam perancangan bangunan hidraulik (dan juga bangunan fisik pada
umumnya) peranan faktor teknik dapat menjadi kecil, tetapi faktor – faktor nonteknis
menjadi peran penting.
B. Saran
1. Setiap unsur hidrologi perlu dipahami dan ditelaah secara mendalam untuk dapat
mengenali sifat – sifat umum dan sifat – sifat khususnya.
2. Semua cara yang dikembangkan untuk analisis hidrologi hendaknya diyakini
bahwa cara tersebut betul sesuai dengan DAS yang bersangkutan.
3. Ketajaman membaca keadaan lapangan merupakan sarana penting dalam
mendukung pemahaman untuk setiap kasus.
4. Dasar falsafah, konsep dan prinsip dasar ilmu hidrologi perlu dipahami dengan
baik, sebelum seseorang memberanikan diri melakukan analisis hidrologi.
5. Data dan informasi hidrologi perlu dipersiapkan dengan baik, sejak dari jaringan
pengamatan, pengumpulan data sampai pada pelayanan untuk analisis.

Pemahaman yang dimaksud tersebut hanya akan dapat diperoleh lewat adalah literatur,
pengalaman, dan ketajaman seseorang dalam mengembangkan prinsip dasar hidrologi ke
dalam masalah – masalah praktis.

15
DAFTAR PUSTAKA

Ir. Rumilla Harahap, M.T.2013.Rekayasa Hidrologi. Medan : Uni Press UNIMED

Harto Sri Br.2003.Analisis Hidrologi. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.

16