Anda di halaman 1dari 11

TUGAS MAKALAH PANCASILA

PANCASILA DAN PARADIGMA PEMBANGUNAN DALAM


BIDANG PERTAHANAN DAN KEAMANAN

Disusun Oleh :
Dewo Pinta W Febby
Endah Fitriasari Fiki
Faradilah Zahra Fitria

Dosen Pengampu :
Sarkadi

PENDIDIKAN TATA BOGA


ILMU KESEJAHTERAAN KELUARGA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2015
KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kita panjatkan kepada Allah Subhanahuwata’ala. Shalawat dan salam

kita kirimkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam, karena atas

hidayah-Nyalah paper ini dapat diselesaikan. Paper ini penulis sampaikan kepada pembina mata

kuliah Pancasila, Bapak Sarkadi, sebagai tugas dalam mata kuliah tersebut. Tidak lupa Penulis

ucapkan terima kasih kepada Bapak Sarkadi yang telah berjasa mencurahkan ilmu kepada penulis

tuk mengajar mata kuliah Pancasila. Penulis mengakui bahwa penulis adalah manusia yang

mempunyai keterbatasan. Oleh karena itu, tidak ada hal yang dapat diselesaikan dengan sangat

sempurna. Begitu pula dengan paper ini yang telah penulis selesaikan. Tidak semua hal dapat kami

deskripsikan dengan sempurna dalam paper ini.

Penulis memohon kepada Bapak/Ibu dosen khususnya, umumnya para pembaca apabila

menemukan kesalahan atau kekurangan dalam karya tulis ini, baik dari segi bahasa maupun isi,

penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun kepada semua pembaca demi

lebih baiknya karya-karya tulis yang akan datang. Dengan menyelesaikan paper ini, penulis

mengharapkan banyak manfaat yang dapat dipetik dan diambil dari paper ini. Sekian kata

pengantar dari penulis, mohon maaf bila ada kata yang salah.

Wassalammualaikum. Wr.Wb

Jakarta, Oktober 2015

Penulis

2
DAFTAR ISI

1. KATA PENGANTAR....................................................................................2

2. DAFTAR ISI..................................................................................................3

3. BAB I PENDAHULUAN .............................................................................4

1.1. Latar Belakang ...................................................................................4

1.2. Rumusan Masalah ..............................................................................4

4. BAB II PEMBAHASAN ..............................................................................5

2.1. Arti pancasila .....................................................................................5

2.2. Pengertian Paradigma .........................................................................

2.3. Penjabaran Pancasila sebagai Paradigma Pembangun dalam Bidang


Pembangunan dan Pertahanan..........................................................

2.4. Implementasi Pancasila sebagai Paradigma Pembangun dalam Bidang


Pembangunan dan Pertahanan................................................

5. BAB III PENUTUP..........................................................................................

3.1. Kesimpulan .......................................................................................

3.2. Saran……. ..........................................................................................

6. DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................

3
BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Istilah paradigma pada mulanya dipakai dalam bidang filsafat ilmu pengetahuan.
Paradigma adalah pandangan mendasar dari para ilmuwan tentang apa yang menjadi pokok
persoalan suatu cabang ilmu pengetahuan. Istilah paradigma makin lama makin berkembang tidak
hanya di bidang ilmu pengetahuan, tetapi pada bidang lain seperti bidang politik, hukum, sosial
dan ekonomi. Paradigma kemudian berkembang dalam pengertian sebagai kerangka pikir,
kerangka bertindak, acuan, orientasi, sumber, tolok ukur, parameter, arah dan tujuan. Sesuatu
dijadikan paradigma berarti sesuatu itu dijadikan sebagai kerangka, acuan, tolok ukur, parameter,
arah, dan tujuan dari sebuah kegiatan. Dengan demikian, paradigma menempati posisi tinggi dan
penting dalam melaksanakan segala hal dalam kehidupan manusia. Pancasila sebagai paradigma,
artinya nilai-nilai dasar pancasila secara normatif menjadi dasar, kerangka acuan, dan tolok ukur
segenap aspek pembangunan nasional yang dijalankan di Indonesia. Hal ini sebagai konsekuensi
atas pengakuan dan penerimaan bangsa Indonesia atas Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi
nasional.
Hal ini sesuai dengan kenyataan objektif bahwa Pancasila adalah dasar negara Indonesia,
sedangkan negara merupakan organisasi atau persekutuan hidup manusia maka tidak berlebihan
apabila pancasila menjadi landasan dan tolok ukur penyelenggaraan bernegara termasuk dalam
melaksanakan pembangunan.

1.2. Rumusan Masalah


1. Apa arti Pancasila?
2. Apa arti Paradigma?
3. Bagaimana penjabaran Pancasila sebagai Paradigma Pembangun dalam Bidang
Pembangunan dan Pertahanan?
4. Bagaimana implementasi Pancasila sebagai Paradigma Pembangun dalam Bidang
Pembangunan dan Pertahanan dikehidupan sehari-hari?

4
BAB II PEMBAHASAN

2.1. Arti Pancasila

Pancasila merupakan landasan dari segala keputusan bangsa dan menjadi ideologi tetap
pada bangsa serta mencerminkan kepribadian bangsa. Pancasila adalah ideologi bagi Republik
Indonesia. Pancasila dipergunakan sebagai dasar yang mengatur pemerintahan negara.1 Pengertian
Pancasila menurut para ahli adalah sebagai berikut:
1. Ir. Soekarno : Pancasila adalah isi dalam jiwa bangsa Indonesia yang turun-temurun
lamanya terpendam bisu oleh kebudayaan Barat. Dengan demikian, Pancasila tidak saja
falsafah negara, tetapi lebih luas lagi, yakni falsafah bangsa Indonesia.1
2. Muhammad Yamin : Pancasila berasal dari kata Panca yang berarti “lima” serta Sila
berarti “sendi, atas, dasar atau peraturan tingkah laku yang penting serta baik”.1
3. Notonegoro : Pancasila adalah dasar falsafah dari negara indonesia, sehingga dapat
diambil kesimpulan bahwasanya Pancasila adalah dasar falsafah serta ideologi negara
yang dapat diharapkan menjadi pandangan hidup bangsa Indonesia sebagai dasar
kesatuan.1
Lahirnya Intruksi Presiden RI Nomor 12 Tahun 1968 telah menguatkan keberadaan
Pancasila yang isinya menyebutkan bahwa Pancasila yang resi adalah Pancasila yang tata urutan
atau rumusan sila-silanya ada apada alinea ke-4 Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Adapun
yang dimaksud Pancasila adalah :
1. Ketuhanan Yang Maha Esa,
2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab,
3. Persatuan Indonesia,
4. Kerayatan yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan/Perwakilan, dan
5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.2

2.2. Pengertian Paradigma

Secara terminologis tokoh yang mengembangkan istilah tersebut dalam dunia ilmu
pengetahuan adalah Thomas S. Khun dalam bukunya yang berjudul “The Structure Of Scientific

1
Parta Setiawan, Pengertian Pancasila Menurut Para Ahli, http://www. gurupendidikan.com/pengertian-pancasila-
menuru-para-ahli/, 2015, diakses tanggal 18 Oktober 2015
2
Pandji Setijo, Pendidikan Pancasila Perspektif Sejarah Perjuangan Bangsa, Grasindo, Jakarta, 2005 hlm. 7

5
Revolution”, paradigma adalah suatu asumsi-asumsi dasar dan teoritis yang umum (merupakan suatu
sumber nilai) sehingga merupakan suatu sumber hukum, metode serta penerapan dalam ilmu
pengetahuan sehingga sangat menentukan sifat, ciri serta karakter ilmu pengetahuan itu sendiri. Dalam
ilmu-ilmu sosial manakala suatu teori yang didasarkan pada suatu hasil penelitian ilmiah yang
mendasarkan pada metode kuantitatif yang mengkaji manusia dan masyarakat berdasarkan pada sifat-
sifat yang parsial, terukur, korelatif dan positivistik, maka hasil dari ilmu pengetahuan tersebut secara
epistemologis hanya mengkaji satu aspek saja dari obyek ilmu pengetahuan yaitu manusia.3
Dalam masalah yang populer istilah paradigma berkembang menjadi terminology yang
mengandung konotasi pengertian sumber nilai, kerangka pikir, orientasi dasar, sumber asas serta tujuan
dari suatu perkembangan, perubahan serta proses dari suatu bidang tertentu termasuk dalam bidang
pembangunan dan pendidikan. Paradigma adalah pandangan mendasar dari para ilmuwan tentang
apa yang menjadi pokok persoalan suatu cabang ilmu pengetahuan. Istilah paradigma makin lama
makin berkembang tidak hanya di bidang ilmu pengetahuan, tetapi pada bidang lain seperti bidang
politik, hukum, sosial dan ekonomi. Pancasila sebagai paradigma dimaksudkan bahwa Pancasila
sebagai sistem nilai acuan, kerangka-acuan berpikir, pola-acuan berpikir, atau jelasnya sebagai
sistem nilai yang dijadikan kerangka landasan, kerangka cara, dan sekaligus kerangka arah/tujuan
bagi „yang menyandangnya‟. Yang menyandangnya itu di antaranya bidang politik, bidang
ekonomi, bidang sosial budaya, bidang hukum, dan bidang pertahanan keamanan.1

2.3. Penjabaran Pancasila sebagai Paradigma Pembangun dalam


Bidang Pembangunan dan Pertahanan

Pancasila sebagai dasar negara dan landasan idil bangsa Indonesia, dewasa ini dalam
zaman reformasi telah menyelamatkan bangsa Indonesia dari ancaman disintegrasi selama lebih
dari lima puluh tahun. Namun sebaliknya sakralisasi dan penggunaan berlebihan dari ideologi
Negara dalam format politik orde baru banyak menuai kritik dan protes terhadap pancasila. Pada
zaman reformasi saat ini pengimplementasian pancasila sangat dibutuhkan oleh masyarakat,
karena di dalam pancasila terkandung nilai-nilai luhur bangsa Indonesia yang sesuai dengan
kepribadian bangsa.
Paradigma menempati posisi tinggi dan penting dalam melaksanakan segala hal dalam
kehidupan manusia. Pancasila sebagai paradigma, artinya nilai-nilai dasar pancasila secara
normatif menjadi dasar, kerangka acuan, dan tolok ukur segenap aspek pembangunan nasional

3
Merti Dina Nisa, Pancasila Sebagai Paradigma Pembangunan di Berbagai Bidang Kehidupan, STIMIK AMIKOM
Yogyakarta, Yogyakarta, 2011, hlm. 4

6
yang dijalankan di Indonesia. Hal ini sebagai konsekuensi atas pengakuan dan penerimaan bangsa
Indonesia atas
Pancasila sebagai paradigma dimaksudkan bahwa Pancasila sebagai sistemnilai acuan,
kerangka-acuan berpikir, pola-acuan berpikir; atau jelasnya sebagai sistem nilai yang dijadikan
kerangka landasan, kerangka cara, dan sekaligus kerangka arah/tujuan bagi ‘yang
menyandangnya’. Yang menyandangnya itu di antaranya: (1) pengembangan ilmu pengetahuan,
(2) pengembangan hukum, (3) supremasi hukum dalam perspektif pengembangan HAM, (4)
pengembangan sosial politik, (5) pengembangan ekonomi, (6) pengembangan kebudayaan bangsa,
(7) pembangunan pertahanan, dan (8) sejarah perjuangan bangsa Indonesia sebagai titik tolak
memahami asal mula Pancasila. 4

2.4. Implementasi Pancasila sebagai Paradigma Pembangun dalam Bidang


Pembangunan dan Pertahanan

Pokok-pokok pikiran persatuan, keadilan sosial, kedaulatan rakyat, dan Ketuhanan Yang
Maha Esa yang terkandung dalam Pembukaan UUD NRI tahun 1945 merupakan pancaran dari
Pancasila. Empat pokok pikiran tersebut mewujudkan cita-cita hukum yang menguasai hukum
dasar negara, yaitu Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. Penjabaran
keempat pokok pikiran Pembukaan ke dalam pasal-pasal UUD NRI tahun 1945 mencakup empat
aspek kehidupan bernegara, yaitu: politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan yang
disingkat menjadi POLEKSOSBUD HANKAM. Aspek politik dituangkan dalam pasal 26, pasal
27 ayat (1), dan pasal 28. Aspek ekonomi dituangkan dalam pasal 27 ayat (2), pasal 33, dan pasal
34. Aspek sosial budaya dituangkan dalam pasal 29, pasal 31, dan pasal 32. Aspek pertahanan
keamanan dituangkan dalam pasal 27 ayat (3) dan pasal 30.5
Pasal 27 ayat (3) menetapkan bahwa setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam
pembelaan negara.6 Dalam ketentuan ini, hak dan kewajiban warga negara merupakan satu
kesatuan, yaitu bahwa untuk turut serta dalam bela negara pada satu sisi merupakan hak asasi
manusia, namun pada sisi lain merupakan kewajiban asasi manusia.7
Pasal 30 ayat (1) menyatakan tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam
usaha pertahanan dan keamanan negara.8 Ketentuan ini menunjukkan bahwa usaha pertahanan dan

4
Pipin Hanapiah, Pancasila Sebagai Paradigma, Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP UNPAD, Bandung, 2001, hlm.1
5
Noor Ms. Bakry, Pendidikan Pancasila, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2010, hlm.276
6
Rizal Khadafi, Undang Undang Dasar 1945 & Perubahannya, Bukuné, Jakarta, 2010, hlm. 30
7
Departemen Pendidikan dan Kebudayan, Materi Ajar Mata Kuliah Pendidikan Pancasila, Depdikbud, Jakarta, 2013,
hlm. 48
8
Rizal Khadafi, Undang Undang Dasar 1945 & Perubahannya, Bukuné, Jakarta, 2010, hlm. 35

7
keamanan negara adalah hak dan kewajiban asasi manusia. Pada ayat (2) pasal 30 ini dinyatakan
bahwa usaha pertahanan dan keamanan negara dilaksanakan melalui sistem pertahanan dan
keamanan rakyat semesta oleh Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik
Indonesia, sebagai kekuatan utama, dan rakyat sebagai kekuatan pendukung.9 Selanjutnya pada
ayat (3) pasal 30 ini juga dijelaskan bahwa Tentara Nasional Indonesia terdiri atas Angkatan Darat,
Angkatan Laut, Angkatan Udara, sebagai alat negara bertugas mempertahankan, melindungi, dan
memelihara keutuhan dan kedaulatan negara.7 Dalam ayat (4) pasal 30 dinyatakan Kepolisian
Negara Republik Indonesia sebagai alat negara yang menjaga keamanan dan ketertiban
masyarakat bertugas melindungi, mengayomi, melayani masyarakat, serta menegakkan hukum.7
Ayat (5) pasal 30 menyatakan susunan dan kedudukan Tentara Nasional Indonesia, Kepolisian
Negara Republik Indonesia, hubungan kewenangan Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian
Negara Republik Indonesia di dalam menjalankan tugasnya, syarat-syarat keikutsertaan warga
negara dalam usaha pertahanan dan keamanan negara, serta hal-hal yang terkait dengan pertahanan
dan keamanan diatur dengan undang-undang7. Pasal 27 ayat (3) dan pasal 30 di atas adalah
penjabaran dari pokok pikiran persatuan yang merupakan pancaran dari sila pertama Pancasila.
Pokok pikiran ini adalah landasan bagi pembangunan bidang pertahanan keamanan nasional.10
Berdasarkan penjabaran pokok pikiran persatuan tersebut, maka implementasi Pancasila
dalam pembuatan kebijakan negara dalam bidang pertahanan keamanan harus diawali dengan
kesadaran bahwa Indonesia adalah negara hukum. Dengan demikian dan demi tegaknya hakhak
warga negara, diperlukan peraturan perundangundangan negara untuk mengatur ketertiban warga
negara dan dalam rangka melindungi hak-hak warga negara. Dalam hal ini, segala sesuatu yang
terkait dengan bidang pertahanan keamanan harus diatur dengan memperhatikan tujuan negara
untuk melindungi segenap wilayah dan bangsa Indonesia.11
Pertahanan dan keamanan negara diatur dan dikembangkan menurut dasar kemanusiaan,
bukan kekuasaan. Dengan kata lain, pertahanan dan keamanan Indonesia berbasis pada moralitas
kemanusiaan sehingga kebijakan yang terkait dengannya harus terhindar dari pelanggaran hak-hak
asasi manusia. Secara sistematis, pertahanan keamanan negara harus berdasar pada tujuan
tercapainya kesejahteraan hidup manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa (Sila pertama
dan kedua), berdasar pada tujuan untuk mewujudkan kepentingan seluruh warga sebagai warga
negara (Sila ketiga), harus mampu menjamin hak-hak dasar, persamaan derajat serta kebebasan
kemanusiaan (Sila keempat), dan ditujukan untuk terwujudnya keadilan dalam hidup masyarakat

9
Rizal Khadafi, Undang Undang Dasar 1945 & Perubahannya, Bukuné, Jakarta, 2010, hlm. 36
10
Departemen Pendidikan dan Kebudayan, Materi Ajar Mata Kuliah Pendidikan Pancasila, Depdikbud, Jakarta, 2013,
hlm. 48-49
11
Departemen Pendidikan dan Kebudayan, Materi Ajar Mata Kuliah Pendidikan Pancasila, Depdikud, Jakarta, 2013,
hlm. 49

8
(Sila kelima). Semua ini dimaksudkan agar pertahanan dan keamanan dapat ditempatkan dalam
konteks negara hukum, yang menghindari kesewenang-wenangan negara dalam melindungi dan
membela wilayah negara dan bangsa, serta dalam mengayomi masyarakat. Ketentuan mengenai
empat aspek kehidupan bernegara, sebagaimana tertuang ke dalam pasal-pasal UUD NRI tahun
1945 tersebut adalah bentuk nyata dari implementasi Pancasila sebagai paradigma pembangunan
atau kerangka dasar yang mengarahkan pembuatan kebijakan negara dalam pembangunan bidang
politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan di Indonesia. Berdasarkan kerangka
dasar inilah, pembuatan kebijakan negara ditujukan untuk mencapai cita-cita nasional kehidupan
bernegara di Indonesia.12

Pancasila sebagai Paradigma Pembangunan Pertahanan Paradigma-baru TNI


Dalam rangka menjadikan Pancasila (sila-sila Pancasila) sebagai paradigma pembangunan
pertahanan adalah berupa: (1) Tindakan TNI senantiasa: (a) melaksanakan tugas negara dalam
rangka pemberdayaan kelembagaan fungsional, (b) atas kesepakatan bangsa, (c) bersama-sama
komponen strategis bangsa lainnya, (d) sebagai bagian dari sistem nasional, (e) melalui pengaturan
konstitusional; dan (2) pada hakikatnya merupakan pemberdayaan bangsa.13
Esensi implementasi paradigma-baru itu—secara internal TNI—berupa: (1) tanggalkan
kegiatan sosial politik, (2) bertugas pokok pada pertahanan negara terhadap ancaman dari luar
negeri, (3) keamanan dalam negeri merupakan fungsi Polri, (4) melakukan penguatan dan
penajaman pada konsistensi doktrin gabungan (keseimbangan AD-AL-AU).14
Paradigma-lama TNI (ABRI) berupa: (1) pendekatan keamanan pada masalah kebangsaan,
(2) posisi ABRI dekat dengan pusat kekuasaan, (3) ABRI sebagai penjuru bagi penyelesaian
segenap masalah kebangsaan, (4) ABRI dapat ambil inisiatif bagi penyelesaian masalah
kebangsaan, (5) ABRI berperan dalam sistem politik nasional, (6) bermitra tetap dalam politik:
dukung mayoritas tunggal (ABG).12

12
Departemen Pendidikan dan Kebudayan, Materi Ajar Mata Kuliah Pendidikan Pancasila, Depdikbud, Jakarta, 2013,
hlm. 49-50
13
Pipin Hanapiah, Pancasila Sebagai Paradigma, Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP UNPAD, Bandung, 2001, hlm. 9-
10
14
Pipin Hanapiah, Pancasila Sebagai Paradigma, Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP UNPAD, Bandung, 2001, hlm. 10

9
BAB III PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Pancasila sebagai paradigma, artinya nilai-nilai dasar pancasila secara normatif menjadi
dasar, kerangka acuan, dan tolok ukur segenap aspek pembangunan nasional yang dijalankan di
Indonesia. Hal ini sesuai dengan kenyataan objektif bahwa Pancasila adalah dasar negara
Indonesia, sedangkan negara merupakan organisasi atau persekutuan hidup manusia maka tidak
berlebihan apabila pancasila menjadi landasan dan tolok ukur penyelenggaraan bernegara
termasuk dalam melaksanakan pembangunan.
Pembangunan tersebut juga harus mampu mengembangkan harkat dan martabat manusia
secara keseluruhan. Oleh karena itu, pembangunan dilaksanakan di berbagai bidang yang
mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Pembangunan, meliputi bidang politik, ekonomi,
sosial budaya, hukum dan pertahanan keamanan.
Selain itu implementasi pengamalan Pancasila harus dimulai dari setiap warga negara
Indonesia, setiap penyelenggara negara yang secara meluas akan berkembang menjadi
pengalaman Pancasila oleh setiap lembaga kenegaraan dan lembaga kemasyarakatan, baik dipusat
maupun di daerah.

3.2. Saran
Berdasarkan uraian di atas kiranya kita dapat menyadari bahwa Pancasila merupakan
paradigma pembangun bagi negara kita Republik Indonesia, maka kita harus menjungjung tinggi
dan mengamalkan sila-sila dari Pancasila tersebut dengan setulus hati dan penuh rasa tanggung
jawab.

10
DAFTAR PUSTAKA

Bakry, Noor Ms. 2010. Pendidikan Pancasila. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Departemen Pendidikan dan Kebudayan. 2013. Materi Ajar Mata Kuliah Pendidikan Pancasila.
Jakarta: Depdikbud.

Hanapiah, Pipin. 2001. Pancasila Sebagai Paradigma. Makalah perbaikan dari makalah yang
pernah disajikan pada kegiatan “Deseminasi MKPK Pendidikan Pancasila dan
Pendidikan Kewarganegaraan” bagi para Dosen Pendidikan Pancasila dan Pendidikan
Kewarganegaraan di lingkungan Unpad, tanggal 24 November 2000, Kampus Unpad,
Bandung.

Khadafi, Rizal. 2010. Undang Undang Dasar 1945 & Perubahannya. Jakarta: Bukuné.

Nisa, Merti Dina. 2011. Pancasila Sebagai Paradigma Pembangunan di Berbagai Bidang
Kehidupan. Yogyakarta: STIMIK AMIKOM Yogyakarta.

Setiawan, Parta. 2015. Pengertian Pancasila Menurut Para Ahli. (online). http://www.
gurupendidikan.com/pengertian-pancasila-menuru-para-ahli/. (diakses tanggal 18
Oktober 2015)

Setijo, Pandji. 2005. Pendidikan Pancasila Perspektif Sejarah Perjuangan Bangsa. Jakarta:
Grasindo.

11