Anda di halaman 1dari 19

Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-Nya
sehingga karya makalah ini dapat tersusun hingga selesai . Tidak lupa kami juga
mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi
dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.

Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, Untuk kedepannya dapat memperbaiki bentuk
maupun menambah isi makalah ini agar menjadi lebih baik lagi.

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin


masih banyak kekurangan dalam makalah ini, oleh karena itu kami sangat
mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi
kesempurnaan makalah ini.

Penulis
BAB I

TINJAUAN TEORI

1.1 Definisi
Glomerulonefritis adalah gangguan pada ginjal yang di tandai
dengan peradangan pada kapiler glomerulus yang fungsinyasebagai filtrasi
cairan tubuh dan sisa-sisa pembuangan.
Glomerylo nefritis akut (GNA) adalah suatu reaksi imunologis
pada ginjal terhadap bakteri atau virus tertentu. Yang sering terjadi ialah
akibat infeksi kuman Streptococcus.
Glomerulo Nefritis adalah gangguan pada ginjal yang ditandai
dengan peradangan pada kapiler glomerulus yang fungsinya sebagai filtrasi
cairan tubuh dan sisa-sisa pembuangan (Suriadi, dkk, 2001). Menurut
Ngastiyah (2005) GNA adalah suatu reaksi imunologis ginjal terhadap bakteri
/ virus tertentu.GNA adalah istilah yang secara luas digunakan yang mengacu
pada sekelompok penyakit ginjal dimana inflamasi terjadi di
glomerulus(Brunner & Suddarth, 2001).

1.2 Etiologi

Penyakit ini sering ditemukan pada anak berumur antara 3-7 tahun dan
lebih sering mengenai anak pria dibandingkan anak wanita.
Timbulnya GNA didahului oelh infeksi ekstra-renal, terutama di traktus
respiratoriusnbagian atas dan kulit oleh kuman streptococcus beta hemolyticus
golongan A, tipe 12, 4, 16, 25, dan 49.
Hubungan antara GNA dan infeksi Streptococcus ini dikemukakan
pertama kali oleh Lohlein pada tahun 1907 dengan alas an bahwa :
1. Timbulnya GNA setelah infeksi skarlatini
2. Diisolasinya kuman Streptococcus beta hemolyticus golongan A
3. Meningkatnya titer anti-streptolisin pada serum penderita
Antara infeksi bakteri dan timbulnya GNA terdapat masa laten selama
lebih kurang dari 10 hari. Daripada tipe tersebut di atas tipe 12 dan 25 lebih
bersifat nefritogen daripada yang lain tidaklah diketahui.

2
Mungkin faktor iklim, keadaan gizi, keadaan umum dan faktor alergi
mempengaruhi terjadinya GNA setelah infeksi dengan kuman Streptococcus.
GNA dapat juga disebabkan oleh sifilis, keracunan (timah hitam, tridion),
penyakit amilod, thrombosis vena renalis, purpura anafilaktoid dan lupus
eritamatosus.
1.2 Tanda dan Gejala
Menurut Jordan dan Lemire, (1982) lebih dari 50 % kasus GNA adalah
asimtomatik.Kasus klasik atau tipikal diawali dengan infeksi saluran napas
atas dengan nyeri tenggorok dua minggu mendahului timbulnya sembab
(Travis, 1994).Periode laten rata-rata 10 atau 21 hari setelah infeksi tenggorok
ataukulit (Nelson, 2000).
1. Hematuria (urine berwarna merah kecoklat-coklatan)
2. Proteinuria (protein dalam urine)
3. Oliguria (keluaran urine berkurang)
4. Nyeri panggul
5. Edema, ini cenderung lebih nyata pada wajah dipagi hari, kemudian
menyebar ke abdomen dan ekstremitas di siang hari (edema sedang
mungkin tidak terlihat oleh seorang yang tidak mengenal anak dengan
baik).
6. Suhu badan umumnya tidak seberapa tinggi, tetapi dapat terjadi tinggi
sekali pada hari pertama.
7. Hipertensi terdapat pada 60-70 % anak dengan GNA pada hari pertama
dan akan kembali normal pada akhir minggu pertama juga. Namun jika
terdapat kerusakan jaringan ginjal, tekanan darah akan tetap tinggi selama
beberapa minggu dan menjadi permanen jika keadaan penyakitnya
menjadi kronik (Sekarwana, 2001).
8. Dapat timbul gejala gastrointestinal seperti muntah, tidak nafsu makan,
dan diare.
9. Bila terdapat ensefalopati hipertensif dapat timbul sakit kepala, kejang dan
kesadaran menurun.
10. Fatigue (keletihan atau kelelahan)

3
1.3 Fisiologis
Menurut Evelyn (2005) Ginjal adalah suatu organ yang terletak dibagian
belakang cavum abdominalis di belakang peritoneum pada kedua sisi vertebra
lumbalis III, melekat langsung pada dinding belakang abdomen.Bentuk ginjal
seperti biji kacang, jumlahnya ada dua buah yaitu kanan dan kiri. Ginjal kiri
lebih besar dari pada ginjal kanan dan umumnya ginjal laki–laki lebih panjang
ketimbang ginjal perempuan. Fungsi ginjal :
1. Memegang peranan paling penting dalam pengeluaran zat – zat toksik atau
racun.
2. Mempertahankan suasana keseimbangan cairan.
3. Mempertahankan keseimbangan kadar asam dan basa dari cairan tubuh.
4. Mempertahankan keseimbangan garam–garam dan zat lain dalam tubuh.
5. Mengeluarkan sisa–sisa metabolisme hasil akhir dari proteinureum,
kreatinin, dan amoniak.

Uji fungsi ginjal terdiri dari :

1. Uji protein (albumin) Bila ada kerusakan pada glomerulus atau tubulus
maka protein dapat masuk dalam urine.
2. Uji konsentrasi ureum darah, bila ginjal tidak cukup mengeluarkan ureum
maka ureum darah naik diatas kadar normal 20 – 40 mg %.
3. Uji konsentrasi, pada uji ini dilarang makan minum selama 12, melihat
berat jenis urine.
1.4 Patofisiologi
Suatu reaksi radang pada glomerulus dengan sebutan lekosit dan
proliferasi sel, serta eksudasi eritrosit, lekosit dan protein plasma dalam ruang
Bowman.
Gangguan pada glomerulus ginjal dipertimbangkan sebagai suatu respon
imunologi yang terjadi dengan adanya perlawanan antibodi dengan
mikroorganisme yaitu streptokokus A.
Reaksi antigen dan antibodi tersebut membentuk imun kompleks yang
menimbulkan respon peradangan yang menyebabkan kerusakan dinding
kapiler dan menjadikan lumen pembuluh darah menjadi mengecil yang mana

4
akan menurunkan filtrasi glomerulus, insuffisiensi renal dan perubahan
permeabilitas kapiler sehingga molekul yang besar seperti protein dieskresikan
dalam urine (proteinuria).
Pathway

Luka jaringan muskuloskeletal

Peredaran darah kapiler

Sampai pada ginjal

Bakteri streptococcus hidup

Reaksi antigen-antibodi ginjal

Poliferasi sel dan kerusakan glomerulus

GFR menurun Kerusakan membrane


kapiler

Retensi Na+Air
Proteinuria dan hematuria

Ketidak seimbangan nutrisi


Vasospasme Edema kurang dari kebutuhan tubuh
pembuluh darah

Bet rest
Ensefalopati hipertensi Kelebihan
volume Decubitus
cairan
Nyeri akut, sakit kepala/
pusing Kerusakan integritas kulit

5
1.5 Pemeriksaan Penunjang
a. Laju Endap Darah (LED) meningkat
b. Kadar Hb menurun sebagai akibat hipervolemia (retensi garam dan air)
c. Nitrogen urea darah (BUN) dan kreatinin darah meningkat bila fungsi
ginjal mulai menurun.
d. Jumlah urine berkurang
e. Berat jenis meninggi
f. Hematuria makroskopis ditemukan pada 50 % pasien.
g. Ditemukan pula albumin (+), eritrosit (++), leukosit (+), silinder leukosit
dan hialin.
h. Titer antistreptolisin O (ASO) umumnya meningkat jika ditemukan infeksi
tenggorok, kecuali kalau infeksi streptokokus yang mendahului hanya
mengenai kulit saja.
i. Kultur sampel atau asupan alat pernapasan bagian atas untuk identifikasi
mikroorganisme.
j. Biopsi ginjal dapat diindikasikan jika dilakukan kemungkinan temuan
adalah meningkatnya jumlah sel dalam setiap glomerulus dan tonjolan
subepitel yang mengandung imunoglobulin dan komplemen.

1.6 Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan medis
Tidak ada pengobatan yag khusus yang memengaruhi
penyembuhan kelainan di glomerulus.
1) Istirahat mutlak selama 3-4 minggu. Dahulu dianjurkan selama
6-8 minggu. Tetapi penyelidikan terakhir dengan hanya
istirahat 3-4 minggu tidak berakibat buruk bagi perjalanan
penyakitnya.
2) Pemberian penisilin pada fase akut. Pemberian antibiotic ini
tidak memengaruhi beratnya glomerulonefritis, melainkan
mengurangi menyebarnya infeksi streptococcuk yang mungkin
masih ada. Pemberian penisilin dianjurkan hanya untuk 10
hari. Pemberian profilaksi yang lama sesudah nefritisnya

6
sembuh terhadap kuman penyebab tidak dianjurkan karena
terdapat imunitas yang menetap. Secara teoretis anak dapat
terinfeksi lagi dengan kuman neritogen lain, tetapi
kemungkinan ini sangat kecil.
3) Makanan pada fase akut diberikan makanan rendah protein (1
g/kg BB/hari) dan rendah garam (1g/hari). Makanan lunak
diberikan pada pasien dengan suhu tinggi dan makanan biasa
bila suhu normal kembali. Bila ada anuria atau muntah,
diberikan IVFD dengan larutan glukosa 10%. Pada pasien
dengan tanpa komplikasi pemberian cairan disesuaikan dengan
kebutuhan, sedangkan bila ada komplikasi seperti ada gagal
jantung, edema, hipertensi dan oliguria, maka jumlah cairan
yang diberikan harus dibatasi.
4) Pengobatan terhadap hipertensi. Pemberian cairan dikurangi,
pemberian sedative untuk menenangkan pasien sehingga dapat
cukup beristirahat. Pada hipertensi dengan gejala serebral
diberikan reserpin dan hidralazin. Mula-mula diberikan
reserpin sebanyak 0,07 mg/kg BB secara intramuscular. Bila
terjadi dieresis 5-10 jam kemudian, selanjutnya pemberian
sulfat parenteral tidak dianjurkan lagi karena member efek
toksis.
5) Bila anuria berlangsung lama (5-7hari), maka ureum harus
dikeluarkan dari dalam darah. Dapat dengan cara peritoneum
dialysis, hemodialisisi, tranfusi tukar dan sebagainya.
6) Diuretikum dulu tidak diberikan pada glomerulonefritis akut,
tetapi akhir-akhir ini pemberian furosamid (Lasix) secara
intravena (1mg/kg BB/kali) dalam 5-10 menit tidak berakibat
buruk pada hemodinamika ginjal dan filtrasi glomerulus.
7) Bila timbul gagal jantung, diberikan digitalis, sedativum dan
oksigen

7
2. Penatalaksanaan keperawatan
Pasien GNA perlu dirawat dirumah sakit karena memerlukan
pengobatan/pengawasan perkembangan penyakitnya untuk mencegah
penyakit menjadi lebih buruk. Hanya pasien GNA yang tidak terdapat
tekanan darah tinggi, jumlah urine satu hari paling sedikit 400ml dan
keluarga sanggup setra mengerti boleh dirawat diruah di bawah
pengawasan dokter. Masalah pasien yang perlu diperhatikan adalah
gangguan faal ginjal, resiko terjadi komplikasi, diet, gangguan rasa aman
dan nyaman, dan kurangnya pengetahuan orang tua mengenai penyakit.
Gangguan faal ginjal. Ginjal diketahui sebagai alat yang salah
satu dari fungsinya adalah mengeluarkan sisa metabolism terutama protein
sebagai ureum, juga kalium, fosfat, asam urat, dan sebagainya. Karena
terjadi kerusakan pada glumerolus (yang merupakan reaksi autoimun
terhadap adanya infeksi streptococcus ekstrarenal) menyebabkan
gangguan filtrasi glomerulus dan mengakibatkan sisa-sia metabolism tidak
dapat diekskresikan maka di dalam darah terdapat ureum, dan lainnya lagi
yang disebutkan di atass meninggi. Tetapi tubulus karena tidak terganggu
maka terjadi penyerapan kembali air dan ion natrium yang mengakibatkan
banyaknya urine berkurang, dan terjadilah oliguria sampai anuria.
Untuk mengetahui keadaan ginjal, pasien GNA perlu dilakukan
pemeriksaan darah untuk fungsi ginjal, laju endp darah (LED), urine, dan
foto radiologi ginjal. Urine perlu ditampung selama 24 jam, diukur
banyaknya dan berat jenisnya (BJ) dicatat pada catatan khusus (catatan
pemasukan/pengeluaran cairan). Bila dalam 24 jam jumlah urine kurang
dari 400 ml supaya memberitahukan dokter. Tempat penampung urine
sebaiknya tidak dibawah tempat tidur pasien karena selain tidak sedap
dipandang juga menyebabkan bau urine didalam ruangan. Penampung
urine harus ada tutpnya yang cocok, diberi etiket selain “nama” juga jam
dan tanggal mulai urine ditampung. Hati-hati jika ada nama yang sama
jangan tertukar; tuliskan juga nomor tempat tidur atau nomor register
pasien. Tempat penampung urine harus dicuci bersih setiap hari; bila
terdapat endapan yang sukar digosok pergunakan asam cuka, caranya

8
merendamkan dahulu beberapa saat baru kemudian digosok pakai sikat.
Untuk mebantu lancarnya dieresis di samping obat-obatan pasin diberikan
minum air putih dan dianjurkan agar anak banyak minum (ad libitum)
kecuali jika banyaknya urine kurang dari 200 ml. berapa banyak pasien
dapat menghabiskan minum air supaya dicatat pada catatan khusus dan
dijimlahkan selama 24 jam. Kepada pasien yang sudah mengerti sbelum
mulai pencatatan pengeluaran/pemasukan cairan tersebut harus
diterangkaan dahulu mengapa ia harus banyak minum air putih dan
mengapa air kemih harus ditampung. Jika anak akan buang air besar
supaya sebelumnya berkemih dahulu ditempat penampungan urine baru ke
WC atau sebelumnya gunakan pot lainnya. Dengan demikian bahwa
banyaknya urine adalah benar-benar dari keseluruhan urine pada hari itu.
Resiko terjadi komplikasi. Akibat fungsi ginjal tidak fisiologis
menyebabkan produksi urine berkurang, sisa metabolisme tidak dapat
dikeluarkan sehingga terjadi uremia, hiperfosfatemia, hiperkalemia,
hidremia, dan sebagainya. Keadaan ini akan menjadi penyebab gagal
ginjal akut atau kronik (GGA/GGK) jika tidak secepatnya mendapatkan
pertolongan. Karena adanya rretensi air dan natrium dapat menyebabkan
kongesti sirkulasi yang kemudian menyebabkan terjadinya efusi ke dalam
perikard dan menjadikan pembesaran jantung. Jika keadaan tersebut
berlanjut akan terjadi gagal jantung. Keadaan uremia yang makin
menngkat akan menimbulkan keracunan pada otak yang biasanya ditandai
dengan adanya gejala hipertensif ensefalopati, yaitu pasien merasa pusing,
mual, muntah, kesadaran menurun atau bahkan lebih parah atau untuk
mengenal gejala komplikasi sedini mungkin pasien memerlukan:
1) Istirahat
2) Pengawasan tanda-tanda vital bila terdapat keluhan pusing
3) Jika mendadak terjadi penurunan haluaran urine periksalah
dahulu apakah pasien berkemih di tempat lain dan keadaan
umumnya.
4) Jika pasien mendapat obat-obatan berikanlah pada waktunya
dan tunggu sampai obat tersebut betul-betul telah diminum

9
(sering terjadi obat tidak diminum dan disimpan di bawah
bantal pasien). Jika hal itu terjadi penyembuhan tidak seperti
yang diharapkan.
5) Diet. Bila ureum darah melebihi 60 mg % di berikan protein 1
g/kg BB/hari dan garam 1 g/hari (rendah garam). Bila ureum
antara 40-60 mg% protein diberikan 2 g/kg BB/hari dan masih
rendah garam. Jika pasien tidak mau makan karena merasa
mual atau ingin muntah atau muntah-muntah segera hubungi
dokter, siapkan keperluan infuse dengan cairan yang biasa
dipergunakan ialah glukosa 5-10% dan selanjutnya atas
petunjuk dokter. Jika infuse diberikan pada pasien yang
tersangka ada kelainan jantung atau tekanan darahnya tinggi,
perhatikan agar tetesan tidak melebihi yang telah dipergunakan
dokter, bahayanya memperberat kerja jantung.
6) Gangguan rasa aman dan nyaman.
Untuk memberikan rasa nyaman kepada pasien disarankan agar
sering kontak dan berkomunikasi dengan pasien akan
menyenangkan pasien.. agar pasien tidak bosan pasien
dibolehkan duduk dan melakukan kegiatan ringan misalnya
membaca buku (anak yang sudah sekolah), melihat buku
gambar atau bermain dengan teman yang telah dapat berjalan.
Sebagai perawat kita juga harus mendampingi/mengajak
bermain dengan pasien yang memerlukan hiburan agar tidak
bosan.
7) Kuarng pengetahuan orang tua mengenai penyakit
Penjelasan yang perlu disampaikan kepada orang tua pasien
adalah:
a) Bila ada anak yang sakit demam tinggi disertai rasa sakit
menelan atau batuk dan demam tinggi hendaknya berobat
ke dokter/pelayanan kesehatan supaya anak mendapatkan
pengobatan yang tepat dan cepat.

10
b) Jika anak sudah terlanjur menderita GNA selama dirawat
dirumah sakit, orang tua diharapkan dapat membantu usaha
pengobatannya misalnya untuk pemeriksaan atau tindakan,
sering memerlukan biaya yang cukup banyak sedangkan
rumah sakit tidak tersedia keperluan tersebut. (sebelumnya
orang tua diberi penjelasan mengenai perlunya
pengumpulan urine dan mencatat minum anak selama 24
jam, untuk keperluan pengamatan perkembangan penyakit
anaknya)
c) Bila pasien sudah boleh pulang, dirumah masih harus
istirahat cukup. Walaupun anak sudah diperbolehkan
sekolah tetapi belum boleh mengikuti kegiatan olahraga.
Makanan, garam masih perlu dikurangi sampai keadaan
urine benar-benar normal kembali (kelainan urine, adanya
eritrosit dan sedikit protein akanmasih diketemukan kira-
kira 4 bulan lamanya). Jika makanan dan istirahatnya tidak
diperhatikan ada kemungkinan penyakit kambuh kembali.
Hindarkan terjadinya infeksi saluran pernapasan terutama
mengenai tenggorokan untuk mencegah penyakit berulang.
Kebersihan lingkungan perlu dianjurkan agar selalu
diperhatikan khususnya streptococcus yang menjadi
penyebab timbulnya GNA. Pasien harus control secara
teratur untuk mencegah timbulnya komplikasi yang
mungkin terjadi seperti glomerulus kronik atau bahkan
sudah terjadi gagal ginjal akut. Juga petunjuk mengenai
kegiatan anak yang telah boleh dilakukan.

11
BAB II

TINJAUAN ASUHAN KEPERAWATAN

2.1 Pengkajian
1. Genitourinaria
Urine berwarna coklat keruh
Proteinuria
Peningkatan berat jenis urine
Penurunan haluaran urine
Hematuria
2. Kardiovaskular
Hipertensi ringan
3. Neurologis
1) Letargi
2) Iritabilitas
3) Kejang
4. Gastro Intestinal
1) Anoreksia
2) Muntah
3) Diare
5. Mata, Telinga, hidung dan tenggorokan
Edema periorbital sedang
6. Hematologis
1) Anemia sementara
2) Azotemia
3) Hiperkalemia
7. Integumen
1) Pucat
2) Edema menyeluruh

2.2 Anamnesa
1) Identitas
Meliputi nama pasien, umur, tanggal lahir, alamat, jenis kelamin, dan
sebagainya.
2) Riwayat penyakit dahulu
Riwayat penyakit peradangan, gangguan konggenital, penyakit metabolic,
neropati toksi dan neropati obs truksi, penyakit peradangan, dan lain-lain.

12
3) Riwayat kesehatan keluarga
Riwayat penyakit vaskuler hipertensif, penyakit metabolic, riwayat
menderita penyakit gagal ginjal.
4) Pola kesehatan fungsional
1. Pemeliharaan kesehatan
2. Pola nutrisi dan metabolic
3. Pola eliminasi
4. Pola aktivitas dalam kesehatan
5. Pola istirahat tidur
6. Pola persepsi sensori dan kognitif
7. Persepsi diri dan konsep diri
8. Pola reproduksi dan seksual
2.3 Pemeriksaan Fisisk
1. Keluhan umum: lemas, nyeri pinggang.
2. Tingkat kesadaran komposmetis.
3. Pengukuran antrometri : berat badan menurun, lingkar lengan atas
(LILA) menurun.
4. Tanda-tanda vital : tekanan darah menurun dalam minggu ke 2, suhu
meningkat
5. Kepala
a. Mata : odem sekitar mata
b. Rambut: rambut mudah rontok, tipis dan kasar.
c. Hidung: pernafasan caping hidung.
d. Mulut: ulserasi dan perdarahan, nafas berbau ammonia, mual,
muntah, serta cegukan, peradangan gusi.
6. Leher: pembesaran vana leher.
7. Dada dan toraks : jantung membesar kelainan di miokardum dan
hipertensi yang menetap. Paru irama nafas dispneu, ortopneu, terdapat
ronchi basah.
8. Abdomen : nyeri area pinggang,asites
9. Genital : atropi testikuler, amenore
10. Ekstremitas : edema dipergelangan kaki pada malam hari.

13
11. Kulit : ecimosis, kulit kering, warna kulit abu-abu, mengkilat atau
hiperpigmentasi, gatal (pruritus), kuku tipis, dan rapuh, memar
(purpura), edema.
2.4 Rencana Asuhan Keperawatan
1. Diagnosa Keperawatan
a. Kelebihan volume cairan yang berhubungan dengan oliguria
b. Gangguan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh yang
berhubungan dengan anoreksia
c. Intoleran aktivitas yang berhubungan dengan kelelahan
d. Resiko kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan
imobilitas dan edema
2. Batasan Karakteristik
3. Tujuan
4. Kriteria Hasil
5. Intervensi dan Rasional
a. Diagnosa 1: Kelebihan volume cairan yang berhubungan
dengan oliguria
Hasil yang diharapkan: anak dapat mempertahankan volume
cairan normal yang ditandai oleh haluaran urin rata-rata
sebanyak 1-2 ml/kg/jam
intervensi:
1) Timbang berat badan anak setiap hari, dan pantau haluaran
urine setiap 4 jam.
Rasional: menimbang berat badan setiap hari dan
pemantauan haluaran urine yang sering, memungkinkan
deteksi dini dan terapi yang tepat terhadap perubahan yang
terjadi pada status cairan anak.
2) Kaji anak untuk deteksi edema, ukur lingkar abdomen
setiap 8 jam, dan (untuk anak laki-laki periksa
pembengkakan pada skrotum.

14
Rasional: pengkajian dan pengukuran yang sering,
memungkinkan deteksi dini dan pemberian terapi yang
tepat terhadap setiap perubahan kondisi anak.
3) Pantau anak dengan cermat untuk melihat efek samping
pemberian terapi diuretic, khususnya ketika menggunakan
hidroklorotizid atau furosemid.
Rasional: obat-obatan diuretic dapat menyebabkan
hipokalemia sehingga membutuhkan pemberian suplemen
kalium per intravena.
4) Pantau dan catat asupan cairan anak.
R/: anak membutuhkan pembatasan asupan cairan akibat
retensi cairan dan penurunan laju filtrasi glomerulus; ia
juga membutuhkan retriksi asupan natrium.
5) Kaji warna, konsistensi dan berat jenis urine anak.
Rasional: urine yang berbusa mengindikasikan peningkatan
deplesi protein, suatu tanda kerusakan fungsi ginjal.
6) Pantau semua hasil uji laboratorium yang di programkan.
Rasional: peningkatan kadar nitrogen urea darah dan
kreatinin dapat mengindikasikan kerusakan fungsi ginjal.
b. Diagnosa 2: Gangguan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh
yang berhubungan dengan anoreksia
Hasil yang diharapkan: anak akan mengalami peningkatan
asupan nutrisi yang ditandai oleh makan sekuran-kurangnya
80% porsi setiap kali makan.
Intervensi:
1) Beri diet tinggi karbohiodrat.
Rasional: diet tinggi karbihidrat biasanya terasa lebih lesat
dan member kalori esensial bagi anak.
2) Beri makanan porsi kecil dalam frekuensi sering, yang
mencakup beberapa makanan favorit anak.
Rasional: menyediakan makanan dalam porsi yang lebih
kecil, untuk satu kali makan tidak akan membebani anak

15
sehingga mendorongnya makan lebih banyak setiap kali
anak duduk.
3) Batasi asupan natrium dan protein anak sesuai program.
Rasional: karena natrium dapat menyebabkan retensi
cairan, biasanya natrium dibatasi dengan gangguan ini.
c. Diagnosa 3: Intoleran aktivitas yang berhubungan dengan
kelelahan
Hasil yang diharapkan: anak akan mengalami peningkatan
toleransi beraktivitas yang ditandai oleh kemampuan bermain
dalam waktu yang lama.
Intervensi:
1) Jadwalkan periode istirahat untuk setiap kali beraktivitas.
Rasional: periode istirahat yang sering dapat menyimpan
energy dan mengurangi produksi sisa metabolic yang dapat
membebani kerja ginjal lebih lanjut.
2) Sediakan permainan yang tenang, menantang dan sesuai
usia.
Rasional: permainan yang demikian dapat menyimpan
energy tetapi mencegah kebosanan.
3) Kelompokan asuhan keperawatan anak untuk
memungkinkan anak tidur tanpa gangguan dimalam hari.
Rasional: mengelompokkan pemberian asuhan
keperawatan, membantu anak tidur sesuai dengan
kebutuhan.
d. Diagnosa 4: Resiko kerusakan integritas kulit yang
berhubungan dengan imobilitas dan edema.
Hasil yang diharapkan: anak akan mempertahankan integritas
kulit normal, yang ditandai oleh warna kulit kemerah mudaan,
dan tidak ada kemerahan, edema, serta kerusakan kulit.
Intervensi:
1) Beri matras busa berlekuk sebagai tempat tidur anak.

16
Rasional: matras busa berlekuk mengatasi bagian-bagian
tulang yang menonjol sehingga mengurangi resiko
kerusakan kulit.
2) Bantu anak mengubah posisi setiap 2 jam.
Rasional: mengganti posisi dengan sering dapat
mengurangi tekanan pada area kapiler dan meningkatkan
sirkulasi sehingga mengurangi resiko kerusakan kulit.
3) Mandikan anak setiap hari, menggunakan sabun yang
mengandung lemak tinggi
Rasional: deodorant dan sabun yang mengandung parfum
dapat mengeringkan kulit sehingga mengakibatkan
kerusakan kulit.
4) Topang dan tinggikan ekstremitas yang mengalami edema.
Rasional: menopang dan meninggikan ekstremitas dapat
meningkatkan aliran balik vena dan dapat mengurangi
pembengkakan.
5) Pada anak laki-laki, letakkan bantalan sekitar skrotumnya.
Rasional: pemberian bantalan dapat mencegah kerusakan
kulit.

2.5 Evaluasi
Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses kerawatan
yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan rencana tindakan dan
pelaksanaannya sudah berhasil dicapai kemungkinan terjadi pada tahap
evaluasi adalah masalah dapat diatasi, masalah teratasi sebagian, masalah
belum teratasi atau timbul masalah yang baru. Evaluasi dilakukan yaitu
evaluasi proses dan evaluasi hasil.
Evaluasi proses adalah yang dilaksanakan untuk membantu keefektifan
terhadap tindakan. Sedangkan evaluasi hasil adalah evaluasi yang dilakukan
pada akhir tindakan keperawatan secara keseluruhan sesuai dengan waktu
yang ada pada tujuan. Evaluasi disesuaikan dengan kriteria hasil yang telah
ditentukan:

17
a. Anak memiliki perfusi jaringan normal yang ditandai oleh TD
normal, penurunan retensi cairan, dan tidak ada tanda
hipernatremia.
b. Anak dapat mempertahankan volume cairan normal yang ditandai
oleh haluaran urin rata-rata sebanyak 1-2 ml/kg/jam
c. Anak akan mengalami peningkatan asupan nutrisi yang ditandai
oleh makan sekuran-kurangnya 80% porsi setiap kali makan.
d. Anak akan mengalami peningkatan toleransi beraktivitas yang
ditandai oleh kemampuan bermain dalam waktu yang lama.
e. Anak akan mempertahankan integritas kulit normal, yang ditandai
oleh warna kulit kemerah mudaan, dan tidak ada kemerahan,
edema, serta kerusakan kulit.
f. Orang tua akan mengalami penurunan rasa cemasyang ditandai
oleh pengungkapan ketakutan mereka, dan pemahaman tentang
kondisi anak.
g. Orang tua akan mengekspresikan pemahaman tentang instruksi
perawatan dirumah.

18
Daftar Pustaka

19