Anda di halaman 1dari 17

ASUHAN KEPERAWATAN PERIOPERATIF PADA Tn.

AF
DENGAN TINDAKAN PLATING MANDIBULA DAN PASANG ACHBAR
ATAS INDIKASI FRAKTUR MANDIBULA DI OK. 7 RSSA MALANG

Oleh
EKO CAHYONO

PELATIHAN INSTRUMENTATOR KAMAR OPERASI


INSTALASI BEDAH SENTRAL
RSUD Dr. SAIFUL ANWAR MALANG
2015
TINJAUAN TEORI

A. ANATOMI

Mandibula merupakan tulang yang besar dan paling kuat pa da daerah muka.
Dibentuk oleh dua bagian simetris yang mengadakan fusi dalam tahun pertama
kehidupan. Tulang ini terdiri dari korpus, yaitu suatu lengkungan tapal kuda dan sepasang
ramus yang pipih dan lebar yang mengarah keatas pada bagian belakang dari korpus.
Pada ujung dari masing-masing ramus didapatkan dua buah penonjolan disebut prosesus
kondiloideus dan prosesus koronoideus. Prosessus kondiloideus terdiri dari kaput dan
kolum. Permukaan luar dari korpus mandibula pada garis median, didapatkan tonjolan
tulang halus yang disebut simfisis mentum yang merupakan tempat pertemuan
embriologis dari dua buah tulang.

Bagian korpus mandibula membentuk tonjolan disebut prosesus alveolaris yang


mempunyai 16 buah lubang untuk tempat gigi. Bagian bawah korpus mandibula
mempunyai tepi yang lengkung dan halus. Pada pertengahan korpus mandibula kurang
lebih 1 nchi dari simfisis didapatkan foramen mentalis yang dilalui oleh vasa dan nervus
mentalis. Permukaan dalam dari korpus mandibula cekung dan didapatkan linea
milohiodea yang merupakan origo m. Milohioid. Angulus mandibula adalah pertemuan
antara tepi belakang ramus mandibula dan tepi bawah korpus mandibula. Angulus
mandibula terletak subkutan dan mudah diraba pada 2-3 jari dibawah lobulus aurikularis.
Secara keseluruhan tulang mandibula ini berbentuk tapal kuda melebar di
belakang, memipih dan meninggi pada bagian ramus kanan dan kiri sehingga membentuk
pilar, ramus membentuk sudut 1200 terhadap korpus pada orang dewasa. Pada yang lebih
muda sudutnya lebih besar dan ramusnya nampak lebih divergens.
Dari aspek fungsinya, merupakan gabungan tulang berbentuk L bekerja untuk
mengunyah dengan dominasi (terkuat). Temporalis yang berinsersi disisi medial pada
ujung prosesus koronoideus dan m. Masseter yang berinsersi pada sisi lateral angulus dan
ramus mandibula. M. Pterigodeus medial berinsersi pada sisi medial bawah dari ramus
dan angulus mandibula. M masseter bersama m temporalis merupakan kekuatan untuk
menggerakkan mandibula dalam proses menutup mulut. M pterigoideus lateral berinsersi
pada bagian depan kapsul sendi temporo-mandibular, diskus artikularis berperan untuk
membuka mandibula. Fungsi m pterigoid sangat penting dalam proses penyembuhan pada
fraktur intrakapsuler.
Lebar kanalis mandibula tersebut sekitar 3 mm ( terbesar) dan ketebalan korteks
sisi bukal yang tertipis sekitar 2.7mm sedang pada potongan level gigi kaninus kanalnya
berdiameter sekitar 1mm dengan ketebalan korteks sekitar 2.5-3mm. Posisis jalur kanalis
mandibula ini perlu diingat dan dihindari saat melakukan instrumentasi waktu reposisi
dan memasang fiksasi interna pada fraktur mandibula.
Gb. 2.1 anatomi tulang mandibula

B. BAGIAN- BAGIAN TULANG MANDIBULA

Bagian – bagian mandibula, yaitu (Bajpai, 1991) :

1. Korpus

Korpus juga mempunyai dua permukaan, yaitu :

1) Permukaan eksternus

Permukaan eksternus kasar dan cembung. Pada bagian ini terdapat suatu linea oblikum
yang meluas dari ujung bawah pinggir anterior ramus menuju ke bawah dan ke muka
serta berakhir pada tuberkumum mentale di dekat garis tengah. Dan terdapat juga
foramen montale yang terletak di atas linea oblikum dan simpisis menti yang merupakan
rigi di garis tengah yang tidak nyata di bagian atas pada tengah pada tempat persatuan
dari kedua belahan foetalis dari korpus mandibula.

2) Permukaan internus

Permukaan internus agak cekung. Pada permukaan ini terletak sebuah linea milohyodea,
yang meluas oblik dari di bawah gigi molar ke tiga menuju ke bawah dan ke muka
mencapai garis tengah, linea milohyodea ini menjadi origo dari muskulus milohyodeus.
Linea milohyoidea membagi fossa sublingualis dari fossa submandibularis.

Korpus mempunyai dua buah pinggir, yaitu :

1) Pinggir atas (alveolaris)

Merupakan lekuk dari gigi geligi tetap. Terdapat delapan lekuk dari masing – masing
belahan mandibula ( dua untuk gigi seri, satu untuk gigi taring, dua untuk gigi premolar
dan tiga untuk gigi molar). Pada orang tua setelah gigi – gigi tanggal lekuk – lekuk ini
tidak tampak karena atropi tulang yang mengakibatkan berkurangnya lebar corpus
mandibula.

2) Pinggir bawah (basis)

Pinggir ini tebal dan melengkung yang melanjutkan diri ke posterior dengan pinggir
bawah ramus. Sambungan kedua pinggir bawah ini terletak pada batas gigi molar ke tiga,
di tempat ini basis disilang oleh arteri fasialis. Fossa digastrika yang merupakan lekukan
oval terletak pada masing – masing sisi dari garis tengah. Merupakan origo dari venter
anterior muskulus digastrikus. Sepanjang seluruh basis dilekatkan lapis dari fasia kolli
dan tepat di atasnya (superfasialis) dilekatkan platisma.

2. Ramus

Ramus terdiri dari dua permukaan, yaitu :

1) Permukaan eksternus (lateralis)

Permukaan ini kasar dan datar. Bagian posterior atas licin yang berhubungan dengan
glandula parotis. Sisa dari permukaan merupakan insersio dari muskulus masseter.

2) Permukaan internus (medialis)

Pada permukaan ini terletak foramen mandibulare yang merupakan awal dari kanalis
mandibularis serta dilalui oleh nervus dentalis dan pembuluh – pembuluh darahnya.

Pinggir – pinggir pada ramus, yaitu :

1) Pinggir superior, merupakan insisura – insisura tajam dan cekung mandibularis di


antara prosesus – prosesus koronoideus dan prosesus kondiloideus.
2) Pinggir anterior, melanjutkan diri ke bawah dengan garis oblik.
3) Pinggir posterior, tebal dan alur – alur merupakan permukaan medialis dari glandula
parotis.
4) Pinggir inferior, melanjutkan diri dengan pinggir inferior korpus dan bersama – sama
membentuk basis mandibula

C. FRAKTUR MANDIBULA

Fraktur didefinisikan sebagai deformitas linear atau terjadinya diskontinuitas


tulang yang disebabkan oleh rudapaksa. Fraktur dapat terjadi akibat trauma atau karena
proses patologis. Fraktur akibat trauma dapat terjadi akibat perkelahian, kecelakaan
lalulintas, kecelakaan kerja, luka tembak, jatuh ataupun trauma saat pencabutan gigi.
Fraktur patologis dapat terjadi karena kekuatan tulang berkurang akibat adanya kista,
tumor jinak atau ganas rahang, osteogenesis imperfecta, osteomyelitis, osteomalacia,
atrofi tulang secara menyeluruh atau osteoporosis nekrosis atau metabolic bone disease.
Akibat adanya proses patologis tersebut, fraktur dapat terjadi secara spontan seperti
waktu bicara, makan atau mengunyah.

Mandibula merupakan tulang yang kuat, tetapi pada beberapa tempat dijumpai
adanya bagian yang lemah. Daerah korpus mandibula terutama terdiri dari tulang kortikal
yang padat dengan sedikit substansi spongiosa sebagai tempat lewatnya pembuluh darah
dan pembuluh limfe. Daerah yang tipis pada mandibula adalah angulus dan sub condylus
sehingga bagian ini termasuk bagian yang lemah dari mandibula. Selain itu titik lemah
juga didapatkan pada foramen mentale, angulus mandibula tempat gigi molar III terutama
yang erupsinya sedikit, kolum kondilus mandibula terutama bila trauma dari depan
langsung mengenai dagu maka gayanya akan diteruskan kearah belakang.

Garis fraktur pada mandibula biasa terjadi pada area lemah dari mandibula
tergantung mekanisme trauma yang terjadi. Garis fraktur subkondilar umumnya dibawah
leher prosesus kondiloideus akibat perkelahian dan berbentuk hampir vertikal. Namun
pada kecelakaan lalu lintas garis fraktur terjadi dekat dengan kaput kondilus, garis fraktur
yang terjadi berbentuk oblique. Pada regio angulus garis fraktur umumnya dibawah atau
dibelakang regio mlaor III kearah angulus mandibula. Pada fraktur corpus mandibula
garis fraktur tidak selalu paralel dengan sumbu gigi, seringkali garis fraktur berbentuk
oblique. Garis fraktur dimulai pada regio alveolar kaninus dan insisivus berjalan oblique
ke arah midline. Pada fraktur mendibula, fragmen yang fraktur mengalami displaced
akibat tarikan otot-otot mastikasi, oleh karena itu maka reduksi dan fiksasi pada fraktur
mendibula harus menggunakan splinting untuk melawan tarikan dari otot-otot mastikasi.
Beberapa faktor yang mempengaruhi displacement fraktur mandibula antara lain ;
arah dan kekuatan trauma, arah dan sudut garis fraktur, ada atau tidaknya gigi pada
fragmen, arah lepasnya otot dan luasnya kerusakan jaringan lunak.

Pada daerah ramus mandibula jarang terjadi fraktur, karena daerah ini terfiksasi
oleh m masseter pada bagian lateral, dan medial oleh m pterigoideus medialis. Demikian
juga pada prosesus koronoideus yang terfiksasi oleh m masseter.

D. PENATALAKSANAAN FRAKTUR MANDIBULA

Prinsip dasar umum dalam perawatan fraktur mandibula ialah sebagai berikut.
Evaluasi klinis secara keseluruhan dengan teliti, pemeriksaan klinis fraktur dilakukan
secara benar, kerusakan gigi dievaluasi dan dirawat bersamaan dengan perawatan fraktur
mandibula, mengembalikan oklusi merupakan tujuan dari perawatan fraktur mandibula.

Apabila terjadi fraktur mulitple di wajah, fraktur mandibula lebih baik dilakukan
perawatan terlebih dahulu dengan prinsip dari dalam keluar, dari bawah keatas. Waktu
penggunaan fiksasi intermaksiler dapat bervariasi tergantung tipe, lokasi, jumlah dan
derajat keparahan fraktur mandibula serta usia dan kesehatan pasien maupun metode yang
akan digunakan untuk reduksi dan imobilisasi. Penggunaan antibiotik untuk kasus
compound fractures, monitor pemberian nutrisi pasca operasi.

Penanganan fraktur mandibula secara umum dibagi menjadi 2 metode yaitu


reposisi tertutup dan terbuka. Reposisi tertutup (closed reduction) patah tulang rahang
bawah ; penanganan konservatif dengan melukan reposisi tanpa operasi langsung pada
garis fraktur dan melakukan imobilisasi dengan interdental wiring atau eksternal pin
fixation.

Reposisi terbuka (open reduction) ; tindakan operasi untuk melakukan koreksi


defromitas-maloklusi yang terjadi pada patah tulang rahang bawah dengan melakukan
fiksasi dengan interosseus wiring serta imobilisasi dengan menggunakan interdental
wiring atau dengan mini plat+skrup.
Indikasi untuk closed reduction antara lain ;

a. Fraktur komunitif, selama periosteum masih intak masih dapat diharapkan


kesembuhan tulang
b. Fraktur dengan kerusakan soft tissue yang cukup berat, dimana rekonstruksi
soft tissue dapat digunakan rotation flap, free flap ataupun granulasi
persecundum bila luka tersebut tidak terlalu besar
c. Edentulous mandibula ; closed reduction dengan menggunakan protese
mandibula “gunning splint” dan sebaiknya dikombinasikan dengan kawat
circum mandibula- circumzygomaticum
d. Fraktur pada anak-anak ; karena open reduction dapat menyebabkan
kerusakan gigi yang sedang tumbuh. Apabila diperlukan open reduction
dengan fiksasi internal, maka digunakan kawat yang halus dan diletakkan
pada bagian paling inferior dari mandibula. Closed reduction dilakukan
dengan splint acrylic dan kawat circum-mandibular dan circumzygomaticum
bila memungkinkan
e. Fraktur condylus ; mobilisasi rahang bawah diperlukan untuk menghindari
ankylosis dari TMJ. Pada anak, moblisasi ini harus dilakukan tiap minggu,
sedangkan dewasa setiap 2 minggu.

Indikasi untuk reposisi terbuka (open reduction) :

a. Displaced unfavourable fracture melalui angulus


b. Displaced unfavourable fracture dari corpus atau parasymphysis. Bila
dikerjakan dengan reposisi tertutup, fraktur jenis ini cenderung untuk terbuka
pada batas inferior sehingg mengakibatkan maloklusi
c. Multiple fraktur tulang wajah ; tulang mandibula harus difiksasi terlebih
dahulu sehingga menghasilkan patokan yang stabil dan akurat untuk
rekonstruksi
d. Fraktur midface disertai displaced fraktur condylus bilateral. Salah satu
condylus harus di buka untuk menghasilkan dimensi vertical yang akurat dari
wajah
e. Malunions → diperlukan osteotomie

Tehnik operasi open reduction ; merupakan jenis operasi bersih kontaminasi,


memerlukan pembiusan umum dengan intubasi nasotrakeal, usahakan fiksasi pipa
nasotrakeal ke dahi. Posisi penderita telentang, kepala hiperekstensi denga
meletakkan bantal dibawah pundak penderita, meja operasi diatur head up 20-25
derajat. Desinfeksi dengan batas atas garis rambut pada dahi, bawah pada
klavikula,lateral tragus ke bawah menyusur tepi anterior m. trapesius kanan kiri.

E. KOMPLIKASI

Komplikasi yang dapat terjadi akibat fraktur mandibula antara lain adanya
infeksi, dengan kuman patogen yang umum adalah staphylococcus, streptococcus dan
bacterioides. Terjadi malunion dan delayed healing, biasanya disebabkan oleh infeksi,
reduksi yang inadekuat, nutrisi yang buruk, dan penyakit metabolik lainnya.
Parasthesia dari nervus alveolaris inferior, lesi r marginalis mandibulae n. fasialis bisa
terjadi akibat sayatan terlalu tinggi. Aplikasi vacuum drain dapat membantu untuk
mencegah timbulnya infeksi yang dapat terjadi oleh karena genangan darah yang
berlebihan ke daerah pembedahan. Fistel orokutan bisa terjadi pada kelanjutan infeksi
terutama pada penderita dengan gizi yang kurang sehingga penyembuhan luka kurang
baik dan terjadi dehisensi luka.
LAPORAN KASUS

A. PERSIAPAN LINGKUNGAN
 Suhu ruangan 18-20 derajat celcius
 Lampu operasi
 Mesin suction
 Tempat sampah medis dan non medis
 Meja operasi
 Meja linen
 Meja mayo
 Standart Waskom
 Sikat Gigi

B. PERSIAPAN ALAT
a. Di Meja Mayo
• Pinset anatomis (Tissue forceps) : 1 buah
• Pinset chirurgis (Dissecting forceps) : 1 buah
• Pinset Bebek Anatomis : 2 buah
• Pinset Bebek Cirrugis : 2 buah
• Gunting metzemboum (Metzemboum scissor) : 1 buah
• Gunting kasar lurus mini (Surgical scissor ) : 1 buah
• Desinfeksi klem (washing and dressing forcep) : 1 buah
• Doek klem (towel klem) : 5 buah
• Klem pean bengkok (Forcep pean curve) : 2 buah
• Klem pean manis : 1 buah
• Klem Kockher : 2 buah
• Langenbeck : 1 buah
• Retraktor Sunmiller : 2 buah
• Nald volder (Needle holder) : 2 buah
• Handle mess : 1 buah
• Canule Suction : 1 buah
• Bine Hak : 1 buah
• Tounge spatel : 1 buah
• Ding man : 1 buah
• Raspatorium : 2 buah
• Elevatorium : 1 buah
• Knable Tang : 1 buah
• Scaple apple : 1 buah
• Gunting Wire : 1 buah
• Twister : 1 buah
• Knef Tang : 1 buah
• Bender : 1 buah
• Screw Driver : 1 buah

b. Di Meja Instrumen

Gaun operasi : 5 buah


Duk Besar : 2 buah
Duk Sedang : 4 buah
Duk Kecil : 4 buah
Bengkok : 2 buah
Kom : 1 buah
Cucing : 1 buah
Slang suction : 1 buah
Couter Monopolar : 1 buah
Pegangan Lampu Operasi : 1 buah
Kotak implant (mini plate + screw) : 1 set
Bor, kepala bor, mata bor 1,6mm : 1/1/1
Chucky : 1 buah
Kotak Implan (K-Wire dan Suture Wire): 1 buah

c. Bahan habis pakai

Hand schoen 6,5 / 7 / 7 ½ / 8 : 3/2/2/2


Mess no. 15 : 1
Uderpad steril / on : 3/1
Kateter no. 16 : 1
Urobag : 1
Ns 0,9 % 1 liter : 1
Vicril 3.0 : 1
Ziede 2.0 cutting : 1
Spuit 10 cc / 3 cc : 4/1
Pehacaine : secukupnya
Methlin blue : secukupnya
Sofratulle : 1
Isodine / savlon 4 : secukupnya
Kassa / deppers : 30 buah /5 buah
Mini plate 6 hole / 3 hole : 1/1
Suture wire : secukupnya
Archbar : secukupnya
Towel : 1

C. PERSIAPAN PASIEN
- Surat Persetujuan Operasi dari dokter bedah dan anesthesi
- Penandaan Operasi (Site Marking)
- Puasa 6-8 jam sebelum operasi
- Sign In di Ruang Premedikasi, cek kelengkapan pasien (Foto rontgen, obat
untuk profilaksis dan tabur, alat yang dibawa pasien)

D. PELAKSANAAN
1. Menulis identitas pasien di buku register dan buku kegiatan
2. Bantu pasien memindahkan di meja operasi yang sudah diberi under pad on
dibawah kepala.
3. Posisikan pasien supine (kepala ekstensi), perawat sirkuler memaasang arde di
tungkai kaki sebelah kanan pasien.
4. Tim anasthesi melakukan induksi (general anesthesi).
5. Selanjutnya petugas anestesi memasang roll tampon / packing.
6. Berikan desinfeksi klem dan cucing berisi deppers dan bethadine 10% pada
asisten operator untuk desinfeksi daerah nasal.
7. Berikan nald voeder, ziede 2.0 cutting dan pinset cirurgis pada asisten operator
untuk fiksasi septum nasi.
8. Potong sisa benang ziede dengan gunting benang.
9. Perawat sirkuler melakukan pencucian area operasi / membersihkan gigi dan
mulut dengan menggosok menggunakan sikat gigi + cairan capucino ( NS 0,9 %
+ betadine + pehidrol, 1:1:1 ), sedangkan asisten mensuction cairan dalam mulut,
lalu dikeringkan.
10. Perawat sirkuler memasang kateter.
11. Perawat instrumen melakukan scrubbing (cuci tangan), gowning (memakai gaun
steril) dan gloving (memakai handscone steril). Kemudian membantu gowning
dan gloving pada operator dan asisten operator.
12. Berikan desinfeksi klem dan deppers dalam cucing yang berisi bethadine 10%
kepada operator atau asisten untuk mendesinfeksi area operasi. Lalu dibersihkan
dengan savlon 4 menggunakan deppers dalam bengkok kecil→ sampai semua
wajah di tampakkan (mata tidak boleh di plester).
13. Draping:
a) Berikan 2 duk kecil dibawah kepala untuk dibulatkan ke kepala lalu difiksasi
dengan duk klem (1).
b) Tambahkan (1) duk kecil di bawah dagu menutupi leher dan membungkus
ETT, lalu digabung dengan duk dibawah kepala dan difiksasi dengan duk
klem.
c) Kemudian berikan duk besar di atas duk kecil (dibawah dagu) menutupi
sampai kaki, (kalau kurang, bisa ditambah dengan duk sedang. Kemudian duk
sedang steril untuk menutupi bahu kanan dan kiri dan difiksasi dengan duk
klem agar lebih rapi).
14. Dekatkan meja mayo dan meja instrument, pasang selang couter, selang suction
dan kabel bor lalu diikat dan difiksasi dengan kasa dan duk klem. Cek kelayakan
alat
15. Time out breafing Operator memimpin do’a.
16. Berikan cairan metiline blue dan pada operator untuk menandai area operasi.
17. Berikan spuit 3 cc + pehacain yang dioplos dengan NS 0,9 %, 1 : 1 pada operator
untuk dilakukan injeksi agar tidak banyak perdarahan (lapor pada anesthesi
sebelum tindakan).
18. Tunggu selama 5 – 15 menit hingga pehacain bekerja.
19. Berikan operator hanvat mess no.3 dengan mess no.15 untuk menginsisi
mandibula melalui bagian dalam mulut (lapor kepada anesthesi terlebih dahulu
sebelum incisi dimulai).
20. Berikan kasa kering dan mosquito klem pada assisten untuk rawat perdarahan.
21. Kemudian insisi diperdalam sampai bagian tulang yang fraktur terlihat sambil
assisten melakukan spoeling dengan cairan NS 0,9 % + suction.
22. Kemudian berikan langen beck / sein miller kepada asisten untuk memperlebar
pandang area operasi.
23. Setelah tampak tulang berikan raspatorium pada operator untuk membersihkan
sisa muskulus yang menempel di tulang.
24. Berikan knable tang pada operator untuk membersihkan kalus yang menempel
pada tulang (jika ada).
25. Setelah tampak garis fraktur berikan bine hack pada operator.
26. Berikan pada operator scaple apple untuk membersihkan tulang dan disemprotkan
dengan NS 0,9 % dan disuction.
27. Setelah bersih, berikan dingman untuk memegang tulang dan mereposisi tulang.
28. Asisten sambil spoeling + mensuction cairan / perdarahan.
29. Berikan mini plate 6 hole ukuran 2.0 / sesuai kebutuhan, pada operator untuk
mengukur fraktur pada mandibula, (bila kepanjangan, bisa dipotong
menggunakan knife tang).
30. Berikan bor listrik yang sudah terpasang mata bor 1,6 mm pada operator untuk
membuat lubang sesuai hole pada plate ( 2 kortex).
31. Berikan pada asisten spolling NS 0,9% dengan spuit 10cc yang jarumnya sudah
dipotong, sambil disuction.
32. Berikan screw no 11 untuk dua korteks dan screw driver pada operator untuk
memfiksasi mini plate pada tulang yang patah bagian bawah.
33. Lakukan tindakan no.30 – 32 sampai semua lubang pada mini plate terisi screw
sampai penuh / sesuai kebutuhan hingga selesai.
34. Karena frakturnya agak panjang, maka platenya dipasang lagi untuk bagian
atasnya, berikan mini plate 3 hole ukuran 2.0 dan screw no.7.
35. Cek ulang dan pastikan bahwa semua hole telah terisi.
36. Berikan screw driver pada operator untuk memperkuat lagi fiksasi screw.
37. Cek kembali apa ada fraktur di tempat lain, (ex : maxila, temporal etc).
38. Setelah semua selesai, luka dicuci dengan NS 0,9% untuk membersihkan luka
operasi dan asisten mensuctionnya sampai bersih dan dikeringkan dengan
menggunakan kasa kering → sambil merawat perdarahan jika ada.
39. Sign out breafing, cek kelengkapan jumlah instrumen dan kassa sebelum dan
setelah operasi.
40. Berikan serbuk antibiotic pada operator, untuk ditaburkan pada luka operasi.
41. Kemudian berikan nald voeder dan vicryl 3.0 dan pinset chirurgis pada operator
untuk menjahit mukosa dalam mulut.
42. Berikan kasa kering pada asisten untuk rawat perdarahan dan gunting benang
untuk memotong benang.
43. Bersihkan luka operasi dengan kasa basah dan dikeringkan dengan kasa kering.

Tehnik instrumentasi pasang archbar


44. Berikan mouthgage untuk membuka mulut.
45. Berikan tongue spatel pada asisten operator untuk melindungi lidah.
46. Berikan klem pean + suture wire dipotong menggunakan gunting wire
secukupnya pada operator untuk dipasangkan pada celah gigi menembus gusi.
47. Pemasangan wire dilakukan pada gigi bawah sesuai kebutuhan secara menyilang.
48. Berikan archbar sepanjang sesuai kebutuhan pada operator.
49. Berikan klem pean untuk mengaitkan wire pada archar secara menyilang.
50. Berikan twister pada operator untuk memilin wire guna memfiksasi archbar pada
gigi bawah.
51. Berikan gunting wire untuk memendekkan wire yang telah dipilin.
52. Berikan pean untuk merapikan potongan wire dengan mengaitkan wire pada
archbar ke arah dalam.
53. Lakukan langkah 48 – 52 dilakukan pada gigi bagian atas (maxilla).
54. Cuci dan bersihkan area mulut dengan Ns 0,9% sambil dilakukan suction.
55. Kemudian roll tampon / packing dilepas oleh petugas anesthesi atau operator
yang sebelumnya memberitahukan ke petugas anestesi.
56. Berikan wire dengan klem pean pada operator untuk dilakukan penguncian (cye
lip) pada archbar mandibula dan maxilla kiri dan kanan.
57. Berikan twister untuk memilin wire cye lip.
58. Berikan gunting wire untuk merapikan wire cye lip ke arah dalam.
59. Berikan gunting benang dan pinset cirurgis pada operator untuk melepas jahitan
fiksasi septum nasi.
60. Perhatian, apabila pasien muntah-muntah, wire lover dibuka kembali, dan tidak
dipasang lagi. Pasien kemudian akan dipasang karet achbar di ruangan.
61. Rapikan pasien, cuci alat yang telah dipakai dan setting kembali instrument.
62. Bersihkan ruangan dan inventaris bahan habis pakai pada depo farmasi.
63. Operasi selesai.
E. PENYELESAIAN
Dekontaminasi Alat dan Pengepakan
1. Alat yang sudah dipergunakan dirapikan dan dibawa semua ke ruang
pencucian alat
2. Alat-alat yang kotor (terkontaminasi cairan tubuh pasien) direndam dengan
larutan precept dengan komposisi 9 tablet 2,5 gr didalam 5 liter air selama
10-15 menit, kemudian rendam dalam larutan Enzimatic Detergen selama 1
menit
3. Cuci alat dengan cara menyikat alat hingga bersih, lakukan penyemprotan
untuk alat berongga
4. Bilas alat dengan air mengalir kemudian di keringkan
5. Lakukan pengepakan alat kemudian diberi indicator dan keterangan isi dari
alat
6. Lakukan sterilisasi
7. Dokumentasi atau inventaris alat dan bahan habis pakai pada depo farmasi.

Mengetahui,
Pembimbing OK.7

( Sri Suprapti)
DAFTAR PUSTAKA

A.Price, Sylvia. 2006. Patofisiologi, kosep klinis proses-proses penyakit. Jakarta:


EGC.
Artawijaya, Ajung. 2013. Anatomi Tulang Mandibula.
http://catatanradiograf.blogspot.com/2011/07/anatomi-tulang-mandibula.html
Doenges M.E, 1999. Rencana Asuhan keperawtan : pedoman untuk perencanaan dan
pendokumentasian perawatan pasien. Jakarta: EGC.
Mansjoer, A. 2002. Asuhan Keperawatn Maternitas. Jakarta : Salemba Medika
Smeltzer, suzanene C,2001. Buku ajar keperawatan medikal bedal brunner and
suddarth. Alih bahasa :agung waluyo (et al).edisi 8 volume 2.jakarta:EGC
Virgiyanti, Sinta. 2015. Makalah Fraktur Mandibula. Makalah fraktur mandibula _
sinta virgiyanti - Academia.edu.html