Anda di halaman 1dari 7

Rezza Fauzi Muhammad Fahmi

180720140506
Magister Kajian Budaya
Fakultas Ilmu Budaya

PERBEDAAN SEKS DAN GENDER

Dalam esai ini saya akan membahas Perbedaan Seks dan Gender. Pada akhir abad ke-20 isu
persoalan gender mulai bermunculan, bahasan gender ini semakin meluas ke berbagai aspek
sosial. Isu gender ini bukanlah persoalan kecil, hal tersebut yang menarik perhatian saya dan
muncul rasa penasaran yang tinggi untuk mengetahui lebih jelas terhadap seks dan gender. Selain
itu, untuk memperkaya tulisan tentang gender yang masih sedikit. Dalam esai ini, saya akan
mencoba memaparkan perbedaan seks dan gender. Esai ini akan menjelaskan bagaimana
pentingnya pembahasan perbedaan seks dan gender. Ada dua tokoh feminis mengenai seks dan
gender.

Pertama adalah Simone de Bauvoir. Simone de Beauvoir adalah tokoh feminisme modern dan ahli
filsafat Perancis yang terkenal pada awal abad ke-20, dan juga merupakan pengarang novel, esai,
dan drama dalam bidang politik dan ilmu sosial. Simone de Beauvoir merupakan salah satu tokoh
kunci yang pemikirannya tak bisa dilewatkan untuk ditelaah. Bukunya yang berjudul dalam bahasa
Perancis, Le Deuxième Sexe (1949), dicatat sebagai karya klasik yang memberikan uraian cukup
komprehensif tentang kondisi (ketertindasan) perempuan dan telah memberikan pengaruh yang
cukup signifikan dalam menginspirasi dan memotivasi gerakan-gerakan pembebasan perempuan.
Beauvoir bekerja dalam sejarah penindasan perempuan, mengungkapkan perempuan sebagai
“liyan” seperti yang didefinisikan oleh patriarki, dan mengklaim bahwa "seseorang tidak
dilahirkan seorang perempuan, perempuan berbeda bahkan terpisah dari laki-laki. Khususnya
dalam masalah reproduksi, Liyan condong lebih jauh terhadap Diri apalagi ketika sudah
mempunyai anak. Tetapi faktor biologis, psikologis dan psikoanalisis terutama tidak cukup untuk
menjelaskan mengenai ke-Liyaan. Beauvoir menjadi inspirasi para pemikir-pemikir feminis
lainnya, diantaranya Judith Butler.

Kedua, adalah Judith Butler. Dalam bukunya Gender Trouble (1990), Butler berpendapat bahwa
feminisme telah membuat kesalahan dengan mencoba untuk menegaskan bahwa 'perempuan'
adalah kelompok dengan karakteristik dan kepentingan bersama. Judith Butler mengatakan,
dilakukan 'regulasi tanpa disadari dan reifikasi hubungan gender', memperkuat pandangan biner
gender di mana manusia dibagi menjadi dua kelompok yang jelas, perempuan dan lak-laki. Judith
Butler mencatat bahwa pemikir feminis menolak bahwa hal biologis adalah takdir, namun dalam
perkembangan patriarki maskulin dan feminin menjadi satu dalam jenis kelamin, sedangkan
keduanya adalah apa yang ‘dibangun’ pada tubuh laki-laki dan perempuan yang dianggap sebagai
nasib yang tidak dapat ditolak dan tak dapat dihindari. Argumen yang memungkinkan ada ruang
untuk pilihan, perbedaan atau perlawanan.

Istilah gender pada awalnya dikembangkan sebagai suatu analisis ilmu sosial oleh Aan Oakley
(1972), dan sejak saat itu menurutnya gender lantas dianggap sebagai alat analisis yang baik
untuk memahami persoalan diskriminasi terhadap kaum perempuan secara umum. Gender
berbeda dengan jenis kelamin (seks). Konsep seks atau jenis kelamin mengacu pada perbedaan
biologis pada perempuan dan laki-laki; pada perbedaan antara tubuh laki-laki dan perempuan.
Dengan demikian yang saya pahami tentang perbedaan jenis kelamin maka kita akan membahas
perbedaan biologis yang umumnya dijumpai antara kaum laki-laki dan perempuan, seperti
perbedaan pada bentuk, tinggi serta berat badan, pada struktur organ reproduksi dan fungsinya,
pada suara, dan sebagainya. Sedangkan gender adalah suatu istilah yang digunakan untuk
menggambarkan perbedaan antara laki-laki dan perempuan secara sosial. Gender adalah konsep
hubungan sosial yang membedakan fungsi dan peran antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan
fungsi dan peran antara laki-laki dan perempuan itu tidak ditentukan karena keduanya terdapat
perbedaan biologis dan kodrat, melainkan dibedakan menurut kedudukan, fungsi, dan peranan
masing-masing dalam berbagai bidang kehidupan dan pembangunan.

Menurut Butler (1990) gender dikonstruksi secara daripada bawaan dan pengertian konvensional
gender dan seksualitas berfungsi untuk mengabadikan dominasi tradisional perempuan oleh laki-
laki dan untuk membenarkan penindasan kaum homoseksual dan transgender. Dalam Gender
Trouble, Butler (1990) mempertanyakan validitas teori politik banyak feminis dengan
menyarankan bahwa subjek yang penindasan teori-teori berusaha untuk menjelaskan perempuan
adalah sebuah konstruk eksklusif yang "mencapai stabilitas dan koherensi hanya dalam konteks
heteroseksual matrik. Kecurigaannya dari kategori menuntunnya untuk meragukan kebijaksanaan
aktifitas politik konvensional yang ditujukan untuk melindungi hak-hak dan kepentingan
perempuan. Dia menekankan bukan destabilisasi subversif "perempuan" dan kategori lainnya
melalui perilaku gender secara sadar menyimpang yang akan mengekspos kesemuan peran
gender konvensional dan kesewenang-wenangan korespondensi tradisional antara gender dan
seksualitas.

Konsep seks atau jenis kelamin mengacu pada perbedaan biologis antara perempuan dan laki-laki,
pada perbedaan tubuh antara laki-laki dan perempuan. Sebagaimana dikemukakan oleh Moore
dan Sinclair (1995:117) “ Sex reffers to biological deferencer between man and woman, the result
of differences in the chromosomes of the embryo”. Definisi konsep seks tersebut menekankan
pada perbedaan yang disebabkan perbedaan kromosom pada janin. Jadi, pada dasarnya
persoalan seks dan gender tidak hanya berbicara jenis kelamin laki-laki dan perempuan sebagai
hal yang alamiah. Seks dan gender menjadi penting dikaji ketika perbedaan tersebut
menimbulkan permasalahan, bahkan masalah ini memang ada di lingkungan sekitar kita. Butler
(1990) berpendapat bahwa seks (laki-laki, perempuan) dipandang menyebabkan jenis kelamin
(maskulin, feminin) yang, pada gilirannya, dipandang menyebabkan keinginan (terhadap jenis
kelamin lainnya). Judith Butler dalam bukunya yang berjudul Gender Trouble: Feminism and The
Subversion of Identity (1990) menyebutkan bahwa bagaimana kita berpikir dan berbicara tentang
gender dan jenis kelamin, selalu berdasarkan konfigurasi secara sosial dan Budaya. Menurut
Butler, dalam pandangan heteronormatif, kita terikat oleh wacana maskulin dan feminin yang
sudah terbentuk sebelumnya. Misalnya, perempuan harus berperilaku secara feminin, lalu laki-
laki harus berperilaku secara maskulin, perempuan harus menyukai laki-laki (dan sebaliknya),
maka dari itu, seyogyanya perempuan akan menyukai kisah percintaan antara perempuan dan
laki-laki.
Ann Oakley sebagaimana dikutip oleh Prabasmoro (2006) “Seks adalah istilah biologis; ‘gender’
adalah istilah psikologis dan kultural “. Tanda-tanda biologis dan fisik tertentu pada seseorang
menentukan dan membangun identitas seks pada orang tersebut. Menurut Butler dalam
bukunya Gender Trouble (1990) yang saya pahami, gender adalah performativitas, gender adalah
identitas yang dikontruksi melalui sikap. Misalnya ketika organ genital sebagai laki-laki, maka akan
bersikap seperti seorang laki-laki pada umumnya. Gender adalah proses tiruan, berulang-ulang,
dan performativitas tidak stabil, dan gender tidak hanya dipahami sebagai hal biologis. Kebenaran
tentang gender, identitas, dan seksualitas dikontruksi dengan sikap, gestur, dan hasrat.

Menurut Butler (1990) gender bersifat cair, karena gender tidak bisa dibakukan dalam
pemaknaannya. Begitu juga dengan heteroseksualitas bukanlah konstruk alamiah, melainkan
dinaturalkan dengan peniruan yang diulang-ulang, yang beroperasi melalui devaluasi dan
abnormalisasi praktik seksual lainnya. Gender menurut sudut pandang Butler juga termasuk
bagaimana peran gender dan seksualitas itu sendiri. Selain berbicara performativitas, Butler
(1990) juga membicarakan tentang heteroseksual matriks, dalam pemahaman saya mengenai ka
heterosexual matrix adalah jenis kelamin yang sudah ditentukan secara biologis. Dengan kata lain,
jenis kelamin kita baik perempuan atau laki-laki berdasarkan konvensi budaya dan bahasa yaitu
feminin dan maskulin. Jadi, yang menentukan apakah seseorang itu feminin atau maskulin adalah
konstruksi sosial dan budaya berdasarkan jenis kelamin kita pada saat kita dilahirkan. Gender
tidak dibawa sejak lahir melainkan dipelajari melalui sosialisasi. Oleh sebab itu menurutnya
gender dapat berubah. Sebagaimana halnya dalam sosialisasi pada umumnya, sosialisasi
merupakan salah satu proses belajar kebudayaan dari anggota masyarakat dan hubungannya
dengan sistem sosial. Sosialisasi menitikberatkan pada masalah individu dalam kelompok. Oleh
karena itu proses sosialisasi melahirkan kedirian dan kepribadian seseorang (Soelaeman,
1998:109). Maka dalam sosialisasi gender agen penting yang berperan pun terdiri dari: (1).
Keluarga, (2). Kelompok bermain, (3). Sekolah, (4). Media massa

Sebagaimana bentuk-bentuk sosialisasi yang lain, maka sosialisasi gender pun berawal dari
keluarga. Melalui proses pembelajaran gender (gender learning), seseorang mempelajari peran
gender (gender role) yang oleh masyarakat dianggap sesuai dengan jenis kelaminnya. Jadi proses
sosialisasi ke dalam peran perempuan dan laki-laki sudah dimulai semenjak seorang bayi
dilahirkan. Sejak lahir bayi perempuan sering sudah diberi busana yang jenis dan warnanya (pink
biasanya) berbeda dengan jenis dan warna busana yang dikenakan oleh bayi laki-laki. Perlakuan
yang diterima pun sering cenderung berbeda. Salah satu media yang digunakan orang tua untuk
memperkuat identitas gender adalah mainan yaitu dengan memberikan mainan berbeda untuk
setiap jenis kelamin. Meskipun sewaktu masih bayi seorang anak diberi mainan berupa boneka,
namun boneka yang diberikan kepada bayi laki-laki cenderung berbeda dengan boneka yang
diberikan kepada bayi perempuan. Dengan semakin meningkatnya usia anak, jenis mainan yang
diberikan pun semakin mengarah ke peranan gender. Anak perempuan diberi mainan yang
berbentuk peralatan rumah tangga seperti perlengkapan memasak, sedangkan anak laki-laki
diberi mainan yang berbentuk kendaraan bermotor, alat berat, alat pertukangan atau senjata.

Kelompok bermain merupakan agen sosialisasi yang telah sejak dini membentuk perilaku dan
sikap kanak-kanak. Dikala berada dalam kelompok bermain laki-laki cenderung memainkan jenis
permainanan yang lebih menekankan pada segi persaingan, kekuatan fisik dan keberanian
sedangkan dalam kelompok bermain perempuan, anak perempuan cenderung memainkan
permainan yang lebih menekankan pada segi kerja sama. Setelah anak-anak berusia remaja dan
mulai belajar berbagai tehnik untuk menghadapi lawan jenis mereka. Remaja laki-laki belajar dari
teman-temannya bahwa laki-laki harus senantiasa berani dan agresif terhadap perempuan serta
mampu menerapkan berbagai cara untuk dapat “merebut” dan “menaklukkan” mereka. Anak
perempuan dipihak lain dididik oleh sesamanya bahwa perempuan cenderung pasif, bertahan
mampu mempertahankan kehormatannya mempertahankan haknya untuk memilih siapa
diantara laki-laki yang mendekatinya pantas mendapat perhatiannya. Kelompok bermain pun
menerapkan kontrol sosial bagi anggota yang tidak menaati peraturannya. Seorang anak laki-laki
memilih untuk bermain dengan mainan anak perempuan dan berkumpul dengan mereka,
misalnya cenderung dicap banci dan menghadapi risiko dikucilkan. Hal serupa dihadapi anak
perempuan yang berorientasi pada permainan anak laki-laki dan bermain dengan mereka yang
dapat dicap sebagai tomboy.

Sekolah menerapkan pembelajaran gender melalui media utamanya, yaitu kurikulum formal.
Dalam mata pelajaran prakarya misalnya ada sekolah yang memisahkan sisiwa dengan siswi agar
masing-masing dapat diberi pelajaran berbeda. Pembelajaran gender disekolah dapat pula
berlangsung melalui buku teks yang digunakan. Misalnya buku teks ilmu pengetahuan alam yang
cenderung mengabaikan kontribusi ilmuwan perempuan terhadap perkembangan ilmu
pengetahuan serta kesenian. Media massa baik berupa media cetak maupun media elektronik
sering memuat iklan yang menunjang stereotipe gender. Iklan yang mempromosikan berbagai
produk keperluan rumah tangga misalnya cenderung menampilkan perempuan dalam peran
sebagai ibu rumah tangga maupun sebagai ibu, sedangkan iklan yang mempromosikan produk
mewah yang merupakan simbol status dan kesuksesan di bidang pekerjaan cenderung
menampilkan model laki-laki. Meskipun iklan yang menampilkan perempuan di ranah publik
berjumlah banyak, namun iklan demikian sering menekankan pekerjaan yang cenderung
diperankan oleh perempuan dan menempati posisi rendah dalam organisasi, seperti misalnya
peran sebagai resepsionis, pramugari, sekretaris dan bukan pada jabatan berstatus tinggi seperti
misalnya presiden direktur atau kapten penerbangan. Gerakan sosial kaum perempuan untuk
memperjuangkan persamaan gender telah membawa dampak pada dunia periklanan. Berbagai
iklan dimedia massa kini sudah mulai menampilkan kepekaan dengan jalan menghindari
stereotipe gender dan menonjolkan persamaan peran gender. Meskipun demikian, gerakan
tersebut hingga kini masih belum mampu menanggulangi praktik pembuatan iklan yang
mengandung stereotipe gender.

Menurut Giddens (1989:158) konsep gender dalam bukunya yang berjudul “Psycological, social
and cultural differences between males and females“, yaitu perbedaan psikologis, sosial dan
budaya antara laki-laki dan perempuan. Macionis (1996:240) mendefinisikan gender sebagai “the
significance a society attaches to biological cathegories of female and male”, yaitu arti penting
yang diberikan masyarakat pada kategori biologis laki-laki dan perempuan. Laswell and Laswell
(1987:51) menafsirkan gender sebagai “The knowledge and awareness, whether concious pr
unconcious, that one belong to one seks and not to the other”, yaitu pada pengetahuan dan
kesadaran, baik secara sadar ataupun tidak bahwa seseorang tergolong dalam suatu jenis kelamin
tertentu dan bukan dalam jenis kelamin lain. Dalam pengertian saya, gender sering diidentikkan
dengan jenis kelamin (seks), padahal gender berbeda dengan jenis kelamin. Gender sering juga
dipahami sebagai pemberian dari Tuhan atau kodrat Ilahi, padahal gender tidak semata-mata
demikian.

Dari beberapa definisi di atas dapat dipahami bahwa gender adalah suatu sifat yang dijadikan
dasar untuk mengidentifikasi perbedaan antara laki-laki dan perempuan dilihat dari konstruksi
sosial dan budaya, nilai dan perilaku, mentalitas, dan emosi, serta faktor-faktor nonbiologis
lainnya. Moore (Abdullah, 2003: 19) mengemukakan bahwa gender berbeda dari seks dan jenis
kelamin laki-laki dan perempuan yang bersifat biologis. Gender adalah perbedaan peran, fungsi,
dan tanggungjawab antara laki-laki dan perempuan yang merupakan hasil konstruksi sosial dan
dapat berubah sesuai dengan perkembangan jaman.
Dalam esai ini saya akan membahas sedikit film tentang gender, dan bagaimana begitu
pentingnya masalah gender untuk dibahas, dalam film Boys Don’t Cry isu permasalahan gender ini
bisa berakibat fatal. Film ini berdasarkan kisah nyata tentang seorang perempuan yang menyamar
jadi “laki-laki”. Dia mengubah namanya menjadi Brandon dengan rambut cepak, memakai
kemeja, celana jeans. Film ini bercerita tentang kerasnya kehidupan seorang yang berjuang agar
dirinya diterima di masyarakat dsebagai laki-laki yang bernama Brandon Teena atau Teena
Brandon (nama asli menurut akta kelahiran). Sempat berkencan dengan beberapa perempuan di
masa lalunya, sehingga orang-orang terdekat yang dikencaninya reaksinya berbeda-beda. Ada
yang cuma ngelabrak bahkan mau membunuhnya. Akhirnya dia pindah Falls City dan berteman
dengan mantan napi dan Lana Tisdel yang akhirnya jatuh cinta oleh Lana. Karena ketahuan
Brandon ini memalsukan dokumen identitas, dia di penjara lalu bebas bersyarat karena dijamin
oleh Lana dan ketahuan kalau dia perempuan karena dia ditempatkan di sel perempuan. Tapi
Brandon berkilah kalau dia hermaprodit dan lagi mengumpulkan uang untuk operasi. Tapi teman-
teman mantan napi dari Lana ini tidak terima, mereka memaksa Brandon telanjang di depan
keluarga dan kerabat Lana, tapi Lana juga udah jatuh cinta, tidak hanya disitu saja penderitaan
Brandon, dia diajak ke tempat sepi lalu disiksa dan diperkosa dengan sadis oleh teman-teman ini
tadi dan diancam kalau Brandon lapor ke polisi. Tapi Brandon kabur waktu dia di bawa ke rumah
salah satu temannya tadi.

Frustasi dan depresi, namun mendapat dorongan dari Lana untuk melapor. Karena takut di
penjara lagi, teman-temannya ini tadi berniat membunuh Brandon yang lagi sembunyi di kandang
peternakan salah satu temannya. Karena lagi kalap, mereka membunuh Brandon dan yang punya
rumah. Lana juga mau dibunuh, tapi dicegah oleh salah satu diantara mereka karena sebenarnya
dia juga suka sama Lana. Brandon di tembak di leher dan Lana tertidur sambil memeluk Brandon.
Sampai akhirnya dibangunin sama ibunya Lana keesokan paginya. Dalam kasus ini Brandon tidak
merasa sebagai perempuan, makanya dia memakai pakaian laki-laki. Dia berusaha
memperjuangkan supaya dianggap sebagai laki-laki. Namun kodratnya ia mempunyai organ
genitalia perempuan, yang mempunyai alat kelaminnya perempuan. Hal ini alamiah, tidak bisa
diubah terkecuali menjadi transeksual.

Simpulan
Seks adalah karakteristik biologis seseorang yang melekat sejak lahir dan tidak bisa diubah kecuali
dengan operasi. Alat-alat tersebut menjadi dasar seseorang dikenali jenis kelaminnya sebagai
perempuan atau laki-laki. Gender berbeda dengan jenis kelamin (seks). Konsep seks atau jenis
kelamin mengacu pada perbedaan biologis pada perempuan dan laki-laki; pada perbedaan antara
tubuh laki-laki dan perempuan. Sedangkan gender adalah suatu istilah yang digunakan untuk
menggambarkan perbedaan antara laki-laki dan perempuan secara sosial. Seks adalah pembagian
jenis kelamin yang secara biologis dan melekat pada jenis kelamin tertentu. Oleh karena itu,
konsep jenis kelamin digunakan untuk membedakan laki-laki dan perempuan berdasarkan unsur
biologis dan anatomi tubuh. Misalnya, laki-laki memiliki penis, testis, jakun, memproduksi sperma
dan cir-ciri biologis lainnya yang berbeda dengan biologis perempuan. Sementara perempuan
mempunyai alat reproduksi seperti rahim, dan saluran-saluran untuk melahirkan, memproduksi
telur (indung telur), vagina, mempunyai payudara dan air susu dan alat biologis perempuan
lainnya sehingga bisa haid, hamil dan menyusui atau yang disebut dengan fungsi reproduksi.
Gender adalah konsep hubungan sosial yang membedakan fungsi dan peran antara laki-laki dan
perempuan. Gender bersifat dinamis, dapat berbeda karena perbedaan adat istiadat, budaya,
agama, dan sistem nilai dari bangsa, masyarakat dan suku bangsa tertentu. Selain itu gender
dapat berubah karena perjalanan sejarah, perubahan politik, ekonomi, dan sosial budaya, atau
karena kemajuan pembangunan.
Dengan demikian gender tidak bersifat universal atau tidak berlaku secara umum, akan tetapi
bersifat situasional masyarakatnya. Gender adalah perbedaan peran, fungsi, dan tanggungjawab
antara laki-laki dan perempuan yang merupakan hasil konstruksi sosial dan dapat berubah sesuai
dengan perkembangan jaman. Sementara seks adalah perbedaan jenis kelamin secara biologis.
Dan seksualitas adalah Seksualitas diekspresikan melalui interaksi dan hubungan dengan individu
dari jenis kelamin yang berbeda dan mencakup pikiran, pengalaman, pelajaran, ideal, nilai,
fantasi, dan emosi. Faktor-faktor yang mempengaruhi gender adalah faktor fisiologis dan faktor
psikologis. Perbedaannya Seks adalah perbedaan jenis kelamin secara biologis sedangkan gender
perbedaan jenis kelamin berdasarkan konstruksi sosial atau konstruksi masyarakat. Oleh karena
itu, dapat dikatakan bahwa gender dapat diartikan sebagai konsep sosial yang membedakan
peran antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan fungsi dan peran antara laki-laki dan
perempuan itu tidak ditentukan karena antara keduanya terdapat perbedaan biologis atau kodrat,
tapi dibedakan atau dipilah-pilah menurut kedudukan, fungsi dan peranan masing-masing dalam
berbagai bidang kehidupan dan pembangunan. Gender tidak bersifat biologis melainkan
dikonstruksikan secara sosial. Gender tidak dibawa sejak lahir melainkan melalui sosialisasi. Oleh
sebab itu gender dapat berubah. Proses sosialisasi yang membentuk persepsi diri dan aspirasi
dalam sosiologi dinamakan sosialisasi gender. Sosialisasi gender berawal pada keluarga. Melalui
proses pembelajaran gender seseorang mempelajari peran gender yang oleh masyarakat
dianggap sesuai dengan jenis kelaminnya. Salah satu media yang digunakan orang tua untuk
memperkuat identitas gender ialah mainan, yaitu dengan menggunakan mainan berbeda untuk
tiap jenis kelamin. Buku cerita anak-anak merupakan media lain untuk melakukan sosialisasi
gender.
Daftar Pustaka

Al-hafizh, Mushlihin. 2012. Definisi seks dan seksualitas.

Butler, Judith. (1990). Gender trouble: feminism and the subversion of identity, Routledge.

Budiman, Arief, Pembagian Kerja Secara Seksual, Sebuah Pembahasan Sosiologis tentang Peran
Wanita di dalam Masyarakat. Jakarta, Gramedia,1985

Gender, kesehatan dan pelayanan kesehatan, mata kuliah ilmu sosial dan kesehatan masyarakat
oleh Ratna Siwi Fatmawati, 6/5/2010

Fakih, Mansour, DR. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997

Ibrahim, Idi Subandy dan Hanif Suranto, (ed). Wanita dan Media. Bandung: Remaja Rosdakarya,
1998

Illich, Ivan. Matinya Gender. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998

Kawaghuci, Hasan. 2012. Peran Gender.

Mosse, Julia Cleves. Gender dan Pembangunan. Yogyakarta: Rifka Annisa Women’s Crisis Center
dan Pustaka Pelajar, 1996

Munir, Lily Zakiyah, (ed). Memposisikan Kodrat. Bandung: Mizan, 1999

Noor, H. M. Arifin, Drs. Ilmu Sosial Dasar. Bandung: Pustaka Setia, 1997

Prabasmoro, Aquarini Priyatna. (2006). Kajian Budaya Feminis. Yogyakarta: Jalasutra.

Prabasmoro, Aquarini Priyatna. (2010). Feminist Throught. Yogyakarta: Jalasutra.


Salih, Sara. (2006). On Judith Butler and Performativity, Lovaas.

Psychologymania. 2012. Pengertian seksualitas.

Saptari, Ratna dan Brigitte Holzner. Perempuan Kerja dan Perubahan Sosial. Sebuah Pengantar
Studi Perempuan. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1997

Soelaeman, M. Munandar. Ir. MS. Ilmu Sosial Dasar, Teori dan Konsep Ilmu Sosial. Bandung: Refika
Aditama, 1998

Nama Pengoreksi
Juwariyah (180720140503)
Fathurrahman (180720140501)