Anda di halaman 1dari 15

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sumber daya alam hayati (SDHA) menjadi semakin menarik ketika mendapat
pengakuan masyarakat dan dunia sebagai bahan baku obat- obatan tradisional
(jamu) (Sukara, 2002). Perkembangan yang cukup pesat ini perlu didukung oleh
pembuktian secara ilmiah, terutama mengenai mutu, keamanan, dan kemanfaatan
obat tradisional tersebut. Pemakaian obat tradisional untuk pengobatan telah lama
dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Hasil dan manfaatnya telah dirasakan
secara langsung, sehingga penggunaan obat tradisional ini ada kecenderungan
semakin meningkat. Hal ini tampak dengan semakin meningkatnya pemakaian
jamu dan industri obat tradisional yang terus berkembang dari tahun ke tahun.
Pada saat ini, dorongan kembali ke alam semakin menguasai masyarakat.
Pengobatan secara sintetis dirasakan terlalu mahal dengan efek samping yang
cukup serius. Meningkatnya pemakaian obat tradisional mengakibatkan
peningkatan penggunaan tanaman obat, namun hal ini tidak diimbangi dengan
pembudidayaan dan pelestarian plasma nutfahnya. Sampai saat ini, bahan baku
obat tradisional masih berasal dari tumbuhan liar atau dari petani kecil. Umumnya
tanaman obat belum dibudidayakan dengan baik, sehingga kualitas simplisia yang
dihasilkan tidak seragam. Keterbatasan kemampuan para petani dan pengumpul
dalam menangani simplisia juga menyebabkan simplisia yang dihasilkan bermutu
rendah. Kegiatan yang berkaitan dengan upaya pengembangan tanaman obat
meliputi: pemetaan ekonomis flora alami, seleksi dan pembuktian keaslian spesies
tanaman, pengumpulan data etnobotanik, percobaan pemuliaan untuk
pengembangan varietas dengan hasil tinggi, budi daya tanaman skala menengah,
penelitian kimia kandungan bahan aktif, penelitian farmakologi dan toksikologi,
pembuatan ekstrak tanaman skala pilot plan, standardisasi ekstrak, formulasi
ekstrak ke bentuk sediaan tablet, penelitian toksisitas terhadap formulasi,
penelitian analitis produk formulasi (Yuliani, 2001).
2

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI No : 55/Menkes/SK/1/ 2000,


obat tradisional yang beredar di Indonesia harus memenuhi persyaratan mutu,
keamanan, dan kemanfaatannya (anonim, 2000), dan Undang-undang kesehatan
mengamanatkan bahwa pengobatan tradisional yang sudah dapat
dipertanggungjawabkan manfaat dan keamanannya perlu terus ditingkatkan dan
dikembangkan, untuk digunakan dalam mewujudkan derajat kesehatan yang
optimal bagi masyarakat (sukara, 2002). Dalam upaya standarisasi ekstrak, maka
pentingnya dilakukan uji parameter spesifik dan non spesifik agar memenuhi
persyaratan mutu yang diinginkan.

1.2 Tujuan

Berdasarkan latar belakang diatas maka tujuan dari praktimum ini adalah
Untuk mengetahui dan menerapkan mutu spesifik dan non spesifik ekstrak kering
rimpang kencur (Kaempferia galanga) sesuai standar yang telah ditetapkan

1.3 Manfaat

Berdasarkan tujuan di atas maka manfaat yang diperoleh yaitu mahasiswa


dapat mengetahui parameter-parameter yang menetukan mutu serta prosedur
penentuan mutu ekstrak rimpang kencur ( Kamferia galanga L.)
3

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Taksonomi

Sistematika tanaman kencur menurut para ahli botani adalah sebagai berikut:
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberceae
Genus : Kaempferia
Spesies : Kaempferia galanga L. (Nurhayati, 2008).

Nama lain kencur :


Nama daerah : Sumatera : ceuku (Aceh), tekur (Gayo), kaciwer (Karo), cakue
(Minangkabau), cokur (Lampung). Jawa: kencur (Jawa), cikur (Sunda), kencor
(Madura). Sulawesi :batako (Manado), watan (Minahsa), cakuru (Makasar), ceku
(Bugis). Nusa Tenggara: cekuh (Bali), cekur (Sasak), cekur (Sumba), sokus (Roti),
sukung (Timor). Maluku: suha (Seram), assuli (Ambon), one gai (Buru). Irian:
ukap (Irian) (Nurhayati, 2008).
Nama Asing : humala (Benggala), kamung (Burma), prao (Vietnam), shan nai
(Cina), herbe a kemfer (Perancis) (Nurhayati, 2008).

2.2 Deskripsi Tanaman

Daun kencur berbentuk bulat lebar, tumbuh mendatar diatas permukaan


tanah dengan jumlah daun tiga sampai empat helai. Permukaan daun sebelah atas
berwarna hijau sedangkan sebelah bawah berwarna hijau pucat. Panjang daun
berukuran 10–12 cm dengan lebar 8–10 cm mempunyai sirip daun yang tipis dari
pangkal daun tanpa tulang tulang induk daun yang nyata (Miranti, 2009).
Rimpang kencur terdapat didalam tanah bergerombol dan bercabang
4

cabang dengan induk rimpang ditengah. Kulit ari berwarna coklat dan bagian
dalam putih berair dengan aroma yang tajam. Rimpang yang masih muda
berwarna putih kekuningan dengan kandungan air yang lebih banyak dan rimpang
yang lebih tua ditumbuhi akar pada ruas ruas rimpang berwarna putih kekuningan
(Miranti,2009). Bunga kencur berwarna putih berbau harum terdiri dari empat
helai daun mahkota. Tangkai bunga berdaun kecil sepanjang 2–3 cm, tidak
bercabang, dapat tumbuh lebih dari satiu tangkai, panjang tangkai 5–7 cm
berbentuk bulat dan beruas ruas. Putik menonjol keatas berukuran 1–1,5 cm,
tangkai sari berbentk corong pendek (Miranti, 2009).

2.3 Kandungan Kimia

Rimpang kencur diketahui mengandung minyak atsiri yang tersusun dari


α–pinene (1,28%), kampen (2,47%), benzene (1,33%), borneol (2,87%),
pentadecane (6,41%), eucaliptol (9,59%), karvon (11,13%), metilsinamat
(23,23%), dan etil p-metoksisinamat (31,77%), dan
juga polifenol, kuinon, triterpenoid, saponin, tanin, dan flavonoid (Hasanah,
2011). Diantara kandungan kimia ini, etil p-metoksisinamat merupakan
komponen utama dari ekstrak kencur (Tewtrakul & Fameera, 2011). Tanaman
kencur mengandung minyak atsiri. Zat-zat yang banyak diteliti
adalah pada rimpangnya yaitu mengandung minyak atsiri 2,4%- 3,9%, juga
cinnamal, aldehide, asam motil p-cumarik, asam annamat, etil asetat dan
pentadekan. Dalam literatur lain disebutkan bahwa rimpang kencur mengandung
sineol, paraumarin, asam anisic, gom, pati 4,14% dan mineral 13,73%
(Rukmana,1994).
Ekstrak kental rimpang kencur mengandung minyak atsiri tidak kurang
dari 7,93% v/b dan etil p-metoksisinamat tidak kurang dari 4,30%. Bentuk ekstra
kental, berwarna coklat tua, bau khas, rasa pedas serta dapat menimbulkan rasa
tebal di lidah (Departemen Kesehatan RI, 2008).
Kencur merupakan salah satu bahan alami yang berpotensi sebagai tabir
surya. Menurut Kumar (2014), minyak atsiri kencur diketahui mengandung etil
sinamat (29,48%), etil p-metoksisinamat (EPMS) (18,42%), γ- kadinen (9,81%),
5

1,8-sineol (6,54%), δ-karen (6,19%), borneol (5,21%), etil-m-metoksinamat


(2,15%), kamfen (1,58%), linoleoil klorida (1,35%) dan α-pinen (1,32%). EPMS
merupakan turunan sinamat yang memiliki aktivitas tabir surya kimia
(Taufikkurohmah, 2005). Selain sebagai tabir surya, minyak kencur juga memiliki
aktivitas antioksidan. Minyak kencur yang diperoleh dari kultur rimpang kencur
secara in vitro memiliki aktivitas antioksidan terhadap radikal DPPH 0,1 mM.
Ekstrak kental rimpang kencur terbukti memiliki efek antiinflamasi,
analgesik, nematicidal, pengusir nyamuk, larvasida, vasorelaksan, obat penenang,
antineoplastik, antimikroba, antioksidan, anti alergi dan mempercepat
penyembuhan luka (Umar, et al., 2011).

2.4 Manfaat Kaempferia galanga

Zingebraceae telah ditemukan sebagai sumber yang diperlukan sekali


untuk agen pencegah kanker sejak tumbuhan dari famili Zingeberaceae
didemonstrasikan kemungkinan efek hambatnya pada pertumbuhan kanker
payudara (MCF-7), kanker kolon (HT- 29 dan Col2), kanker paru- paru (A549),
kanker perut (SNU- 638), dan kanker servic (CaSki). Dilaporkan juga pada
skrining ekstrak atau minyak esensial dari sejumlah anggota famili Zingiberaceae
yaitu dapat melawan strain bakteri, jamur, dan ragi. Kebanyakan rizoma ginger
banyak yang bisa dimakan yang telah lama digunakan sebagai bahan untuk
pengobatan tradisional selama berabad- abad tetapi ridak sepenuhnya telah
dilakukan indentifikasi terhadap aktivitas bioaktifnya. Ekstrak dari Kaempfreia
galanga L. memiliki aktivitas antiinflamasi, analgesik, nematasida, penolak
nyamuk, larvisida, vasorelaksan, sedatif, antineoplastik, antimikroba, antioksidan,
antialergidan penyembuh luka (Umar et al., 2011). Etil p- metoksisinamat dan etil
sinamat ditemukan sebagai senyawa vital yang berperan dalam kebanyakan sifat
farmakologi. Efek aktinosiseptik dari ekstrak Kaempferia galanga L. sebanding
dengan aspirin, mengingat efek nematisida Kaempferia galanga L. bahkan lebih
poten dari pada Carbofuran dan Nametan (Umar et al., 2011).

2.5 Standarisasi Ekstrak


6

Standardisasi ekstrak adalah penentuan parameter kualitatif dan kuantitatif


baik terhadap senyawa aktif maupun senyawa khas lainnya dan sifat kimianya.
Mutu ekstrak dipengaruhi oleh bahan asal/simplisia, karenanya sebelum diproses
menjadi ekstrak, simplisia/bahan awal yang akan diekstraksi harus pula
distandarisasi. Dua faktor yang mempengaruhi mutu simplisia adalah faktor
biologi dan kimia.
Faktor biologi meliputi beberapa hal, yaitu:
1. Identitas jenis (spesies), jenis tumbuhan dari sudut keragaman hayati dapat
dikonfirmasikan sampai informasi genetika sebagai faktor internal untuk
validasi jenis.
2. Lokasi tumbuhan asal. Lokasi merupakan faktor eksternal, yaitu lingkungan
dimana tumbuhan bereaksi bisa berupa energi (cuaca, temperatur, cahaya) dan
materi (air, senyawa organik dan anorganik)
3. Periode pemanenan hasil tumbuhan. Pemanenan yang dilakukan tidak pada
waktunya bisa mempengaruhi kendungan senyawa.
4. Penyimpanan bahan tumbuhan. Ruang atau wadah yang digunakan untuk
menyimpan bisa mempengaruhi mutu senyawa tanaman.
5. Umur tanaman dan bagian yang digunakan. Hal ini sangat menentukan
keberadaan senyawa kimia seperti klorofil yang terdapat di daun.
Faktor kimia meliputi beberapa hal, yaitu:
Faktor internal seperti jenis, komposisi, kualitatif dan kuantitatif serta
kadar total rerata senyawa aktif dalam bahan. Faktor eksternal seperti metode
ekstraksi, perbandinga ukuran alat ekstraksi, kekerasan dan kekeringan bahan,
pelarut yang digunakan dalam ekstraksi, kandungan logam berat dan kandungan
pestisida.
Standarisasi adalah serangkaian parameter, prosedur dan cara pengukuran
yang hasilnya merupakan unsur-unsur terkait paradigma untuk kefarmasian, mutu
dalam artian memenuhi syarat standar (kimia, biologi, dan farmasi). Termasuk
jaminan (batas-batas) stabilitas sebagai produk kefarmasian pada umumnya.
Persyaratan mutu ekstrak terdiri dari berbagai parameter standar umum dan
parameter standar spesifik.
7

Standardisasi secara normatif ditujukan untuk memberikan efikasi yang


terukur secara farmakologis dan menjamin keamanan konsumen. Standardisasi
obat herbal meliputi dua aspek:
1. Aspek parameter spesifik: berfokus pada senyawa atau golongan senyawa yang
bertanggung jawab terhadap aktivitas farmakologis. Analisis kimia yang
dilibatkan ditujukan untuk analisa kualitatif dan kuantitatif terhadap senyawa
aktif.
2. Aspek parameter non spesifik: berfokus pada aspek kimia, mikrobiologi dan
fisis yang akan mempengaruhi keamanan konsumen dan stabilitas misal kadar
logam berat, aflatoksin, kadar air dan lain- lain

2.6 Standardisasi Obat Herbal


Standardisasi obat herbal merupakan rangkaian proses melibatkan
berbagai metode analisis kimiawi berdasarkan data farmakologis, melibatkan
analisis fisik dan mikrobiologi berdasarkan kriteria umum keamanan (toksikologi)
terhadap suatu ekstrak alam atau tumbuhan obat herbal (Saifudin et al ., 2011).
Standardisasi dalam kefarmasian tidak lain adalah serangkaian parameter,
prosedur dan cara pengukuran yang hasilnya merupakan unsur- unsur terkait
pradigma mutu kefarmasian, mutu dalam artian memenuhi syarat standar (kimia,
biologi dan farmasi), termasuk jaminan (batas- batas) stabilitas sebagai produk
kefarmasian umumnya. Dengan kata lain, pengertian standardisasi juga berarti
proses menjamin bahwa produk akhir obat (obat, ekstrak atau produk ekstrak)
mempunyai nilai parameter tertentu yang konstan dan ditetapkan terlebih dahulu.
Terdapat dua faktor yang mempengaruhi mutu ekstrak yaitu faktor biologi dari
bahan asal tumbuhan obat dan faktor kandungan kimia bahan obat tersebut.
Standardisasi ekstrak terdiri dari parameter standar spesifik dan parameter standar
non spesifik (Depkes RI, 2000).
a. Parameter-parameter Standar Ekstrak
Parameter- parameter standar ekstrak terdiri dari parameter spesifik dan
parameter non spesifik.
1. Parameter Spesifik Ekstrak
8

Penentuan parameter spesifik adalah aspek kandungan kimia


kualitatif dan aspek kuantitatif kadar senyawa kimia yang bertanggung
jawab langsung terhadap aktivitas farmakologis tertentu. Parameter
spesifik ekstrak meliputi:
a. Identitas
Parameter identitas esktrak meliputi: deskripsi tata nama, nama
ekstrak (generik, dagang, paten), nama lain tumbuhan (sistematika
botani), bagian tumbuhan yang digunakan (rimpang, daun, dsb) dan
nama Indonesia tumbuhan.
b. Organoleptis:
Parameter organoleptik ekstrak meliputi penggunaan panca indera
mendeskripsikan bentuk, warna, bau, rasa guna pengenalan awal yang
sederhana se- objektif mungkin.
c. Senyawa terlarut dalam pelarut tertentu
Melarutkan ekstrak dengan pelarut (alkohol/ air) untuk ditentukan
jumlah larutan yang identik dengan jumlah senyawa kandungan secara
gravimetrik. Dalam hal tertentu dapat diukur senyawa terlarut dalam
pelarut lain misalnya heksana, diklorometan, metanol. Tujuannya untuk
memberikan gambaran awal jumlah senyawa kandungan.
Nilai : - Nilai minimal atau rentang yang ditetapkan terlebih dahulu
(BPOM, 2000).
- Sari larut air, tidak kurang dari 14,2 % (FHI, 2008)
- Sari larut etanol, tidak kurang dari 4,2 % (FHI, 2008)
d. Uji kandungan kimia ekstrak
 Pola kromatogram
Pola kromatogram dilakukan sebagai analisis kromatografi sehingga
memberikan pola kromatogram yang khas. Bertujuan untuk
memberikan gambaran awal komposisi kandungan kimia berdasarkan
pola kromatogram (KLT, KCKT) (Depkes RI, 2000).
Nilai : - Kesamaan pola dengan data baku yang ditetapkan terlebih dahulu
(BPOM, 2000).
9

 Kadar kandungan kimia tertentu


Suatu kandungan kimia yang berupa senyawa identitas atau senyawa kimia
utama ataupun kandungan kimia lainnya, maka secara kromatografi
instrumental dapat dilakukan penetapan kadar kandungan kimia
tersebut. Instrumen yang dapat digunakan adalah densitometri,
kromatografi gas, KCKT atau instrumen yang sesuai. Tujuannya
memberikan data kadar kandungan kimia tertentu sebagai senyawa
identitas atau senyawa yang diduga bertanggung jawab pada efek
farmakologi (Depkes RI, 2000).
Nilai : - Minimal atau rentang kadar yang telah ditetapkan (BPOM, 2000).
 Kadar Total Golongan Kandungan Kimia
Dengan penerapan metode spektrofotometri, titrimetri, volumetri,
gravimetri atau lainnya dapat ditetapkan kadar golongan kandungan
kimia. Metode harus sudah teruji validitasnya, terutama selektivitas dan
batas linieritas. Tujuannya adalah memberikan informasi kadar
golongan kandungan kimia sebagai parameter mutu ekstrak dalam
kaitannya dengan efek farmakologis.
Nilai : - Minimal atau rentang yang telah ditetapkan (BPOM, 2000).
- Kadar simplisia minyak atsiri : tidak kurang dari 2,40 % v/b
- Kadar simplisia etil p-metoksisinamat : tidak kurang dari 1,80 % v/b
- Kadar ektrak minyak atsiri : tidak kurang dari 7,93 % v/b
- Kadar ekstrak etil p-metoksisinamat : tidak kurang dari 4,30 % v/b
(FHI, 2008).

2. Parameter Non Spesifik Ekstrak


Parameter non spesifik ekstrak meliputi (Depkes RI, 2000):
a) Susut Pengeringan
Pengukuran sisa zat setelah pengeringan pada temperatur 105 oC
selama 30 menit atau sampai berat konstan yang dinyatakan dalam
persen. Tujuannya adalah untuk memberikan batas maksimal (rentang)
1
0

tentang besarnya senyawa yang hilang pada proses pengeringan


(BPOM, 2000).
Nilai : - Susut pengeringan simplisia : tidak lebih dari 10 % (FHI,
2008).
b) Bobot jenis
Parameter bobot jenis adalah massa per satuan volume yang
diukur pada suhu kamar tertentu (25C) yang menggunakan alat khusus
piknometer atau alat lainnya. Tujuannya adalah memberikan batasan
tentang besarnya massa persatuan volume yang merupakan parameter
khusus ekstrak cair sampai ekstrak pekat (kental) yang masih dapat
dituang, bobot jenis juga terkait dengan kemurnian dari ekstrak dan
kontaminasi.
Nilai : Minimal atau rentang yang diperbolehkan terkait dengan
kemurnian dan kontaminasi.
c) Kadar air
Parameter kadar air adalah pengukuran kandungan air yang
berada didalam bahan yang bertujuan untuk memberikan batasan
minimal atau rentang tentang besarnya kandungan air dalam bahan
(Depkes RI,2000) Persyaratan berdasarkan Farmakope Herbal adalah
kadar air dalam ekstrak tidak lebih dari 10% (FHI, 2008)
Nilai : - Maksimal atau rentang yang diperbolehkan terkait dengan
kemurnian dan kontaminasi (BPOM, 2000).
- Kadar air tidak lebih dari 10 % (FHI, 2008)
d) Kadar abu
Parameter kadar abu adalah bahan dipanaskan pada temperatur
dimana senyawa organik dan turunannya terdestruksi dan menguap.
Sehingga tinggal unsur mineral dan anorganik, yang memberikan
gambaran kandungan mineral internal dan eksternal yang berasal dari
proses awal sampai terbentuknya esktrak. Parameter kadar abu ini
terkait dengan kemurnian dan kontaminasi suatu ekstrak.
1
1

Nilai : - Maksimal atau rentang yang diperbolehkan terkait dengan


kemurnian dan kontaminasi.
- Kadar abu total simplisia : tidak lebih dari 8,7 %
- Kadar abu tidak larut asam simplisia : tidak lebih dari 2,5 %
- Kadar abu total ekstrak : tidak lebih dari 0,5 %
- Kadar abu tidak larut asam ekstrak : tidak lebih dari 0,2 %
e) Sisa pelarut
Parameter sisa pelarut adalah penentuan kandungan sisa pelarut
tertentu yang mungkin terdapat dalam ekstrak. Tujuannya adalah
memberikan jaminan bahwa selama proses tidak meninggalkan sisa
pelarut yang memang seharusnya tidak boleh ada. Pengujian sisa
pelarut berguna dalam penyimpanan ekstrak dan kelayakan ekstrak
untuk formulasi (Putri et al., 2012).
Nilai : - Maksimal yang diperbolehkan. Namun dalam hal pelarut
berbahaya seperti kloroform nilai harus negatif sesuai
deteksi instrumen. Terkait dengan kemurnian dan
kontaminasi.
f) Cemaran mikroba
Parameter cemaran mikroba adalah penentuan adanya mikroba
yang patogen secara analisis mikrobiologis. Tujuannya adalah
memberikan jaminan bahwa ekstrak tidak boleh mengandung mikroba
patogen dan tidak mengandung mikroba non patogen melebihi batas
yang ditetapkan karena berpengaruh pada stabilitas ekstrak dan bahaya
(toksik) bagi kesehatan.
Nilai : - Pemeriksaan kuman boleh positif tetapi harus mempunyai
batas serta tidak boleh mengandung bakteri patogen,
misalnya Salmonella sp, Escherichia coli, Staphylococcus sp,
Stretococcus sp, vibrio cholera, Bacillus sp, Pseudomonas
sp, Shigella sp, Priteus sp.
-
ALT : <106
-
Angka kapang khamir : <106
1
2

- E. coli : -/9
- Salmonella : -/9
- P. Aeruginosa : -/9
- S. aureus : -/9
g) Cemaran aflatoksin
Aflatoksin merupakan metabolit sekunder yang dihasilkan oleh
jamur. Aflatoksin sangat berbahaya karena dapat menyebabkan
toksigenik (menimbulkan keracunan), mutagenik (mutagi gen),
teratogenik (penghambatan dan pertumbuhan janin) dan karsinogenik
(menimbulkan kanker pada jaringan) (Rustian, 1993). Tujuannya adalah
untuk memberikan jaminan bahwa ekstraksi tidak mengandung
cemaran jamur melebihi batas yang telah ditetapkan karena
berpengaruh pada stabilitas ekstrak dan aflatoksin berbahaya bagi
kesehatan (BPOM, 2008). Jika ekstrak positif mengandung aflatoksin
maka pada media pertumbuhan akan menghasilkan koloni berwarna
hijau kekuningan sangat cerah (Saifudin et al., 2011).
Nilai : - Menjadi persyaratan tapi tidak harus nol
- AKK : <106
- Aflatoksin : <20 µg/kg
h) Cemaran logam berat
Parameter cemaran logam berat adalah penentuan kandungan
logam berat dalam suatu ekstrak, sehingga dapat memberikan jaminan
bahwa ekstrak tidak mengandung logam berat tertentu (Hg, Pb, Cd, dll)
melebihi batas yang telah ditetapkan karena berbahaya bagi kesehatan
(Depkes RI, 2000).
Nilai : - Pd : ≤ 10 mg/kg atau mg/l atau ppm
- Cd : ≤ 0,3 mg/kg atau mg/l atau ppm
- As : ≤ 5 mg/kg atau mg/l atau ppm
- Hg : ≤ 0,5 mg/kg atau mg/l atau ppm (BPOM, 2014)
1
3

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2000. Parameter standar umum ekstrak tumbuhan obat cetakan pertama.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta: 2, 13, 17, 21, 35 – 36.

Departemen Kesehatan RI., 2001. Inventaris Tanaman Obat Indonesia (I) Jilid 2.
Jakarta: Depkes RI
Departemen Kesehatan Republik Indonesia., 1995.Farmakope Indonesia, Edisi
IV. Jakarta : Derektoral Jenderal Pengawasan Obat Dan Makanan.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2008, Farmakope Herbal Indonesia,
113-115, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

Ditjen POM, Depkes RI , 2000, Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan


Obat, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta, 9-11,16.
1
4

Ditjen POM, (1986), Sediaan Galenik, Departemen Kesehatan Republik


Indonesia, Jakarta.

Dijten POM, 1990, Cara Pembuatan Simplisia. Departemen Kesehatan Republik


Indonesia: Jakarta.

Ditjen POM, 1992, Cara Pembuatan Obat Tradisional Yang Baik. Departemen
Kesehatan Republik Indonesia: Jakarta.
Miranti, L. (2009). Pengaruh konsentrasi minyak atsiri kencur (kaempferia
galanga l.) dengan basis salep larut air terhadap sifat fisik salep dan daya
hambat bakteri staphylococcus aureus secara in vitro.(Skripsi). Surakarta:
Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta
Nurhayati, Tutik. (2008). Uji efek sediaan serbuk instan rimpang kencur
(Kaempferia galanga L) sebagai tonikum terhadap mencit jantan galur
Swiss webster. (Skripsi). Surakarta: Fakultas Farmasi Universitas
Muhammadiyah Surakarta.
Rukmana, R. (1994). Kencur. Penerbit PT Kanisius. Yogyakarta Tobo,
Fachruddin, (2001), Buku Pegangan Laboratorium Fitokimia,
Laboratorium Fitokimia Jurusan Farmasi Unhas, Makassar.
Sukara, E. 2002. Sumber daya alam hayati dan pencarian bahan baku obat
(bioprospecting). Prosiding simposium nasional II tumbuhan obat dan
aromatik.

Saifudin, A., Rahayu, A., & Teruna, H. Y., 2011,Standarisasi Bahan Obat Alam,
Graha ILmu, Yogyakarta

Yuliani, S. 2001. Prospek pengembangan obat tradisional menjadi obat


fitofarmaka. J. Litbang Pertanian. 20(3): 103-104

Umar, M. I., Mohammad Z. B. A., Amirin S., Rabia A., &Muhammad A. I.


(2011). Phytochemistry and medicinal properties of Kaempferia Galanga L.
1
5

(zingiberaceae) extracts. African Journal of Pharmacy and Pharmacology,


5(14): 1638-1647