Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN MODUL 6 BLOK 8

“SISTEM STOMATOGNASI”

Kelompok Insisivus 1

Tutor pembimbing : Drg. Arymbi Pujiastuty, M.Kes

Ketua : Rahma Fuaddiah


Sekretaris : Aisya Dalvi dan Marsha Nada Maghfira Pramadiaz

Nama anggota:
Fiyona Oksadela
M. Iqbal
Gian Ernesto
Kuntum Khaira Ummah
M. Reygan Caristo Anwar
Putri Amelia
Kinantya Putri Ridelfi

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS ANDALAS
2017/2018
MODUL 6

STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN PERIODONTAL

Skenario 6 :

Plaknya dibersihkan ya..

Seorang wanita ( 20 tahun ) datang ke praktek Drg. Tommy untuk memeriksakan


kesehatan gigi dan mulut yang rutin dilakukan setiap 6 bulan sekali. Wanita tersebut ingin
kelainan atau gangguan pada gigi dan mulutnya diketahui sedini mungki. Drg. Tommy
melakukan pemeriksaan intra oral, ada plak dan kalkulus sub gingiva pada regio belakang kiri
dan kanan rahang atas. Dokter menyarankan untuk dilakukan scalling guna menjaga jaringan
periodontal dan fungsi fisiologis jaringan periodontalnya.

Kesehatan jaringan periodontal, seperti gingival dan tulang alveolar sangat penting
untuk mendukung gigi agar tetap sehat dan juga dalam rangka mensuplai asupan zat gizi
untuk memberi kebutuhan nutrisi pada jaringan periodontal tersebut.

Mendengar saran dokter, sang pasien bertekad akan selalu menjaga kesehatan gigi
dan mulutnya terutama untuk menjaga jaringan periodontal giginya selalu tetap sehat.

Bagaimana saudara menjelaskan jaringan periodontal pada kasus diatas ?


Langkah Seven Jumps :
1. Mengklarifikasi terminologi yang tidak diketahui dan mendefinisikan hal-hal yang dapat
menimbulkan kesalahan interpretasi
2. Menentukan masalah
3. Menganalisa masalah melalui brain storming dengan menggunakan prior knowledge
4. Membuat skema atau diagram dari komponen-komponen permasalahan dan mencari korelasi
dan interaksi antar masing-masing komponen untuk membuat solusi secara terintegrasi
5. Memformulasikan tujuan pembelajaran/ learning objectives
6. Mengumpulkan informasi di perpustakaan, internet, dan lain-lain
7. Sintesa dan uji informasi yang telah diperoleh

URAIAN

Langkah I
Mengklarifikasi terminologi yang tidak diketahui dan mendefinisikan hal-hal yang dapat
menimbulkan kesalahan interpretasi.
1. Plak : Lapisan organik pada gigi yang timbul akibat aktivitas bakteri dan sisa-sisa makanan
2. Kalkulus : Plak yang sudah mengeras, biasanya bakteri sudah membentuk koloni, sudah
seperti lapisan
3. Scalling : Proses pembersihan karang gigi,merupakan perawatan di bidang periodonti

Langkah II
Menentukan masalah
1. Kenapa pemeriksaan gigi dan mulut rutinnya 6 bulan sekali ?
2. Apa yang menyebabkan terjadinya penumpukan plak dan kalkulus pada regio belakang ?
3. Apa hubungan plak dan kalkulus terhadap kesehatan jaringan periodontal?
4. Apa saja jaringan periodontal ?
5. Apa saja fungsi dari jaringan periodontal ?
6. Apa saja struktur dari gingiva ?
7. Apakah ada mekanisme pertahanan dari jaringan periodonti tersebut ?
8. Bagaimana ciri-ciri dari gingiva yang sehat ?
9. Bagaimana cara merawat jaringan perodontal ?
10. Apakah ada perbedaan fungsi fisiologis dari jaringan periodontal pada anak-anak, dewasa dan
lansia ?

Langkah III
Menganalisa masalah melalui brain storming dengan menggunakan prior knowledge
1. Agar plak dan klakulus yang tidak bisa dibersihkan dengan menggosok gigi bisa terdeketeksi
secara dini dan tidak berkembang lnajut menjadi caries
2. -. Karena pada regio belakang merupakan pusat pengunyahan, setelah makan sissa makanan
tertempel lalu ada kerja bakteri dan menjadi plak.
-. Karena pH yang tinggi sehingga daya alir rendah, sehingga plak dan kalkulus banyak
terbentuk
-. Dipengaruhi oleh bentuk anatomi yaitu adanya crowding atau scissor bite
3. Saat ada kalkulus dan plak yang parah, gingiva akan tertekan sehingga posisi gigi menjadi
longgar, dan terjadi goyang saat pengunyahan. Lalu gingiva yang biasanya mengeluarkan
cairan sulcus gingiva juga akan terhambat karena plak dan kalkulus tadi, sehingga
mengakibatkan dentin menjadi terkikis dan gigi menjadi sensistif.
4. Jaringan periodontal yaitu gingiva, ligamen periodontal, sementum, tulang alveolar
5. ●Fungsi Ligamen periodontal
- fiskal/ suportif : menahan dampak tekanan oklusi
melindungi pembuluh darah dan saraf dari cedera akibat tekanan makanan
mendukung dan menyangga gigi
- formatif/remodelling : perbaikan jaringan yang rusak karna ada sementoblas
- sensori : dapat meneruskan rangsangan
- nutritisi : elemen seluler, dapat mengalir ke pembuluh darah
●Fungsi sementum
- sebagai perlekatan gigi ke ligamen periodontal
- perlekatan colagen fiber pada ligamen periodontal
- perbaikan struktur dan fungsi
- perlindung dentin , ada hubungan dengan cemento enemel junction
- menyuplai makanan, terutama fosfor untuk gigi
●fungsi tulang alveolar
- penyangga dan tempat gigi tertanam
- tempat perlekatan ligamen
- mejaga homeostasis mineral
●fungsi gingiva
- pelindung, tersusun atas epitelium akan terjadi keratinasi
- pertahanan, akan menegluarkan cairan krevikular
- estetik
6. Struktur gingiva
- epitelium : keratin dan tidak keratin
Terbagi atas : epitel oral
epitel sulcular
epitel junctional
- lamina propria ( jaringan ikat )
Pembagian gingiva :
- free gingiva : gingiva yang dihitung dari marginal cress sampai culcus
- gingiva cekat : dihitung dari sulcus sampai ke mucogingiva junction
- interdental gingiva : gingiva yang msuk kesela gigi, mengikuti titik kontak pertemuan gigi
7. Pertahanan gingiva : cairan sulcus
leukosit ( 91,2% meutrofil )
saliva , menjadi sistem buffer
keratinasi, yaitu membentuk lapisan tebal dan keras
8. Ciri gingiva sehat :
- berwarna merah muda
- tepi tipis dan tidak bengkak
- permukaan stippling
- tidak mudah berdarah
- konsistensi kenyal
- menutupi tulang alveolar
- ketebalan free gingiva 1,5-1 mm menutupi leher gigi, meluas menjadi papila interdental,
bagian interdentalmembentuk piramid
- bertekstur halus dan bergelombang mengikuti gigi
9. Cara merawat jaringan periodontal :
- menjaga oral hygien, contohnya; mneyikat gigi yang baik dan benar, dan biasakan
menggunakan dental floss
- merawat sendi , misalnya dengan memakan vitamin
- jangan terlalu sering menggunanakan obat kumur
10. Ada perbedaan, contohnya pada orang tua banyak terjadi resesi gingiva

Langkah IV
Membuat skema atau diagram dari komponen-komponen permasalahan dan mencari korelasi dan
interaksi antar masing-masing komponen untuk membuat solusi secara terintegrasi.
Wanita (20 tahun) melakukan
pemeriksaan periodontal 6 bulan sekali

Pemeriksaan intraoral Plak dan kalkulus pada regio


belakang

Disarankan scalling

Untuk menjaga jaringan periodontal dan fungsi fisiologisnya

sementum ligamen Gingiva Tulang


periodontal alveolar

Pengaruh usia Struktur dan fungsi Mekanisme


terhadap jaringan pertahanan gingiva
periodontal

Langkah V
Memformulasikan tujuan pembelajaran/ learning objectives
1. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan struktur dan fungsi jaringan periodontal
2. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan mekanisme pertahanan gingiva
3. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan pengaruh usia terhadap jaringan perioodntal

Langkah VI
Mengumpulkan informasi di perpustakaan, internet, dan lain-lain
Langkah VII
Sintesa dan uji informasi yang telah diperoleh
URAIAN TUJUAN PEMBELAJARAN

1. STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN PERIODONTAL

A. Gingiva
Gingiva merupakan bagian dari jaringan periodontal yang melekat pada prosesus
alveolaris dan gigi. Fungsi gingiva adalah melindungi akar gigi, selaput periodontal dan
tulang alveolar terhadap rangsangan dari luar, khususnya dari bakteri-bakteri dalam
mulut (Itjiningsih, 1995). Dalam istilah awam disebut gusi (gum).Gingiva merupakan
bagian terluar dari jaringan periodontal yang nampak secara klinis.

 Klasifikasi Anatomi Gingiva


Pada orang dewasa, gingiva normal menutupi tulang alveolar dan akar gigi kearah
koronal dari hubungan sementum enamel. Secara anatomis, gingiva dibagi menjadi
marginal, attached, dan area interdental. Meskipun masing-masing gingiva memiliki
perbedaan kekerasan dan struktur histologi, tetapi secara umum gingiva berperan untuk
melindungi kerusakan mekanik maupun bacterial. Karena itu, spesifisitas dari struktur
gingiva menunjukkan efektivitasnya untuk menjadi tameng dari penetrasi mikroba
maupun agen berbahaya untuk masuk ke jaringan yang lebih dalam (Carranza, 2006).

Marginal Gingiva
Marginal gingiva merupakan bagian tepi gingiva yang menyelimuti gigi seperti
kerah pada baju. Pada 50% kasus, Lapisan ini terletak pada daerah koronal dari bagian
gingiva yang lain, batas marginal gingiva dengan attached gingiva ditandai dengan
adanya cerukan dangkal yang disebut free gingival groove. Marginal gingiva umumnya
memiliki lebar 1mm, membentuk dinding jaringan lunak dari sulkus gingiva. Marginal
gingiva dapat dipisahkan dengan permukaan gigi dengan menggunakan probe
periodontal.
Marginal gingiva berbatasan dengan gingiva cekat oleh suatu indentasi (lekukan)
yang dinamakan alur gusi bebas (free gingival groove). Alur gusi bebas berada pada
level yang setentang dengan tepi apikal epitel penyatu, tetapi tidak berarti bahwa level-
nya setentang dengan dasar sulkus gingiva. Alur gusi bebas hanya dijumpai pada 50%
individu, dan ada atau tidaknya alur tersebut pada individu tidak dapat dikaitkan dengan
terinflamasi atau tidaknya gingiva. (Carranza, 2006).

Attached gingiva
Attached gingiva merupakan kelanjutan dari marginal gingiva. Jaringan padat ini
terikat kuat dengan periosteum tulang alveolar dibawahnya. Permukaan luar dari
attached gingiva terus memanjang ke mukosa alveolar yang lebih kendur dan dapat
digerakkan, bagian tersebut disebut mucogingival junction (Carranza, 2006).

Interdental gingiva
Interdental gingiva mewakili gingiva embrasure, dimana terdapat ruang
interproksimal dibawah tempat berkontaknya gigi. Interdental gingiva dapat berbentuk
piramidal atau berbentuk seperti lembah. Gingiva interdental merupakan bagian gingival
yang mengisi daerah interdental, umumnya berbentuk konkaf, menghubungkan papilla
fasial dan papilla lingual. Bila gigi – geligi berkontak, struktur ini akan menyesuaikan
terhadap bentuk gigi – geligi di apical daerah kontak. Bila gigi – gigi yang berdekatan
tidak saling berkontak, tidak ada terlihat bentukan konkaf / “col” dan gingival interdental
kelihatan berbentuk datar atau konveks. Epithelium col biasanya sangat tipis, tidak
keratinisasi dan terbentuk hanya dari beberapa lapis sel. Strukturnya mungkin
merefleksikan posisinya yang terlindung. Pertukaran sel – sel epithelial sama seperti
pada daerah gingival lainnya. Region interdental berperan sangat penting karena
merupakan daerah stagnasi bakteri yang paling persisten dan strukturnya menyebabkan
daerah ini sangat peka. Di daerah inilah biasanya timbul lesi awal pada
gingivitis(Carranza, 2006).

 Struktur Mikroskopik Gingiva

a. Epitel gingiva
Sel epitel gingiva bersifat aktif secara metabolik dan dapat bereaksi terhadap
rangsangan eksternal dengan mensintesis sejumlah sitokin, molekul adhesi, faktor
pertumbuhan, dan enzim. Sel epitel juga bereaksi terhadap bakteri dengan meningkatkan
proliferasi, perubahan signal sel, perubahan dalam diferensiasi, dan kematian sel yang
merubah homeostasis jaringan. Guna mempertahankan integritas fungsional jaringan
gingiva dari infeksi bakteri, epitel gingiva dapat menebal dengan cara menambah
kecepatan pembelahan selnya atau disebut keratinisasi. Keratin mempunyai insolubilitas
yang tinggi dan resisten terhadap enzim. Terdapat cornified envelope (CE) pada setiap
sel yang mengalami keratinisasi, CE memiliki ketebalan 15 nm, tersusun dari ikatan
silang protein dan lipid yang bertemu saat diferensiasi terminal. Gabungan protein-lipid
dalam struktur CE menggantikan membrane plasma dan integritasnya sangat vital dalam
fungsi pertahanan (Carranza, 2006).
Gusi memiliki lapisan epitel yang merupakan epitel skuama berlapis (stratified
squamous epithelium) dinamakan lamina propria. Bagian tengah berupa jaringan ikat,
yang dinamakan lamina propria(Carranza, 2006).
Berdasarkan aspek morfologis dan fungsionalnya dibedakan atas tiga bagian, epitel
oral/luar (oral/outer epithelium), epitel sulkular/krevikular (sulcular/crevicular
epithelium), epitel penyatu/jungsional (junctional ephitelium) (Carranza, 2006).
Fungsi utama epitel gingival adalah melindungi struktur yang berada dibawahnya,
serta memungkinkan terjadinya perubahan selektif dengan lingkungan oral. Perubahan
tersebut dimungkinkan oleh adanya proses proliferasi dan diferensiasi(Carranza, 2006).
Epitel gingiva disatukan ke jaringan ikat oleh lamina basal. Lamina basal terdiri atas
lamina lamina basal. Lamina basal terdiri atas lamina lamina basal. Lamina basal terdiri
atas lamina lusida dan lamina densa. Hemidesmosom dari sel-sel epitel basal mengikat
lamina lusida. Komposisi utama dari lamina lusida adalah laminin glikoprotein,
sedangkan lamina densa adalah berupa kolagen tipe IV. Lamina basal berhubungan
dengan fibril-fibril jaringan ikat dengan bantuan fibril-fibril penjangkar (anchoring
fibrils) (Carranza, 2006).

Epitel oral
Epitel oral merupakan epitel skuama berlapis yang berkeratin (keratinized) atau
berparakeratin (parakeratinized) yang membalut permukaan vestibular dan oral gingiva.
Meluas dari batas mukogingival ke krista tepi gingiva (crest gingival margin), kecuali
pada permukaan palatal dimana epitel ini menyatu dengan epitel palatum. Lamina basal
yang menyatukan epitel gingiva ke jaringan ikat gingiva bersifat permeabel terhadap
cairan, namun dapat menjadi penghalang bagi bahan partikel tertentu. Mempunyai rete
peg yang menonjol ke arah lamina propria. (Carranza, 2006).

Epitel sulkular
Epitel sulkular mendindingi sulkus gingiva dan menghadap ke permukaan gigi tanpa
melekat padanya. Epitel ini merupakan epitel skuama berlapis yang tipis,tidak berkeratin,
tanpa rete peg dan perluasannya mulai dari batas koronal epitel penyatu sampai ke krista
tepi gingival. Selain itu juga memiliki peran penting karena bertindak sebagai membran
semipermeabel yang dapat dirembesi oleh produk bakteri masuk ke gingiva, dan oleh
cairan gingiva yang keluar ke sulkus gingival. (Carranza, 2006).

Epitel penyatu
Epitel penyatu membentuk perlekatan antara gingiva dengan permukaan gigi dan
berupa epitel skuama berlapis tidak berkeratin. Pada usia muda epitel penyatu terdiri atas
3 – 4 lapis, namun dengan bertambahnya usia lapisan epitelnya bertambah menjadi 10 –
20 lapis melekat ke permukaan gigi dengan bantuan lamina basal.panjang epitel penyatu
ini bervariasi antara 0,25 – 1,35 mm merentang dari dasar sulkus gingiva sampai 1,0 mm
koronal dari batas semento-enamel pada gigi yang belum mengalami resesi(Carranza,
2006).
Bila gigi telah mengalami resesi, epitel penyatu berada pada sementum. Karena
perlekatannya ke permukaan gigi, epitel penyatu dan serat-serat gingiva dianggap
sebagai suatu unit fungsional yang dinamakan unit dentogingival(Carranza, 2006).
Pembaharuan gingiva. Epitel oral memgalami pembaharuan secara terus menerus.
Ketebalan epitel terpelihara oleh adanya keseimbangan antara pembentukan sel baru
pada lapisan basal dan lapisan spinosa dengan pengelupasan sel-sel tua pada permukaan.
Laju aktivitas mitotik tersebut paling tinggi pada pagi hari dan paling rendah pada sore
hari (Carranza, 2006).

b. Sulcus Gingiva
Sulkus ginggiva merupakan suatu celah dangkal disekeliling gigi dengan dinding
sebelah dalam adalah permukaan gigi dan dinding sebelah luar adalah epitel sebelah
dalam dari gingiva bebas. Sulkus ini membetuk seperti huruf V, dan kedalamnya dapat
diselipkan alat prob periodontal dalam keadaan yang sangat normal dan bebas kuman
(eksperimental) kedalamannya bisa 0 atau mendekati 0, namun secara klinis biasanya
dijumpai sulkus gingiva.
Dengan kedalaman tertentu. Secara histologis kedalamannya adalah 1,5 – 1,8 mm.
Kedalaman klinis diukur dengan alat prob (dinamakan kedalaman probing) adalah 2,0 –
3,0 mm.

c. Cairan sulcus gingiva


Cairan sulkus gingiva (CSG) adalah suatu produk filtrasi fisiologis dari pembuluh
darah yang termodifikasi. Cairan sulkus gingiva dapat berasal dari jaringan gingiva yang
sehat. Cairan sulkus gingiva berasal dari serum darah yang terdapat dalam sulkus gingiva
baik gingiva dalam keadaan sehat maupun meradang. Pada CSG dari gingival yang
meradang jumlah polimorfonuklear leukosit, makrofag, limfosit, monosit, ion elektrolit,
protein plasma dan endotoksin bakteri bertambah banyak, sedangkan jumlah urea
menurun. Komponen seluler dan humoral dari darah dapat melewati epitel perlekatan
yang terdapat pada celah gusi dalam bentuk CSG. Pada keadaan normal, CSG yang
banyak mengandung leukosit ini akan melewati epitel perlekatan menuju ke permukaan
gigi. Aliran cairan ini akan meningkat bila terjadi gingivitis atau periodontitis. Cairan
sulkus gingiva bersifat alkali sehingga dapat mencegah terjadinya karies pada permukaan
enamel dan sementum yang halus. Keadaan ini menunjang netralisasi asam yang dapat
ditemukan dalam proses karies di area tepi gingiva. Cairan sulkus gingiva juga dapat
digunakan sebagai indikator untuk menilai keadaan jaringan periodontal secara objektif
sebab aliran CSG sudah lebih banyak sebelum terlihatnya perubahan klinis radang
gingiva bila dibandingkan dengan keadaan normal (Carranza, 2006).

d. Jaringan konektif gingiva


1. Lapisan papillary
Berada dekat dengan epitel diantara rete pegs.

2. Lapisan Reticular
Berbatasan dengan periosteum tulang, terdiri dari bagian seluler dan interselular.
Bagian interseluler mengandung proteoglycan dan glicoprotein (terutama fibronectin
yang mengikat fibroblast-fiber) (Carranza, 2006).

e. Serat gingiva /serat kolagen


Jaringan ikat margin gusi dipadati oleh kolagen tebal disebut serat-serat gingival.
Jaringan ikat ini berfungsi menahan margin gusi dengan kuat pada gigi, menahan daya
kunyah, menyatukan margin gusi dengan sementum dan dengan gusi cekat. (Carranza,
2006).
Serat gingival dapat dikelompokkan sebagai kelompok gingivodental, kelompok
sirkular, dan kelompok transeptal (Carranza, 2006).

f. Vaskularisasi gingiva
Suplai darah pada gingiva melalui 3 jalan yaitu:
a. Arteri yang terletak lebih superfisial dari periosteum, mencapai gingiva pada
daerah yang berbeda di rongga mulut dari cabang arteri alveolar yaitu arteri infra orbital,
nasopalatina, palatal, bukal, mental dan lingual (Grossman, 1995).
b. Pada daerah interdental percabangan arteri intraseptal (Grossman, 1995).
c. Pembuluh darah pada ligamen periodontal bercabang ke luar ke arah gingival.
Suplai saraf pada periodontal mengikuti pola yang sama dengan distribusi suplai darah
(Grossman, 1995).

B. Sementum
Sementum adalah jaringan mengapur menyerupai tulang yang menutup akar gigi.
Sebagai yang telah diuraikan, sementum berasal dari sel mesenkimal folikel gigi yang
berkembang menjadi sementoblas. Sementoblas menimbun suatu matrik, disebut
sementoid, yang mengalami pertambahan pengapuran dan menghasilkan dua jenis
sementum: aselular pertama-tama ditimbun pada dentin membentuk pertemuan sementum-
dentin, dan biasanya, menutupi sepertiga servikal dan sepertiga tengah akar. Sementum
selular biasanya ditumpuk pada sementum aselular pada sepertiga apical akar dan
bergantian dengan lapisan sementum aselular. Sementum selular ditumpuk pada kecepatan
yang lebih besar daripada sementum aselular dan dengan demikian menjebak sementoblas
di dalam matriks. Sel-sel yang terjebak ini disebut sementosit. Sementosit terletak pada
kripta sementum dan dikenal sebagai lacuna. Dari lacuna, kanal-kanal, disebut kanalikuli,
yang berisi perpanjangan protoplasmic sementosit dan berfungsi sebagai jalan mengangkut
nutrient ke sementosit, menjalin dengan kanalikuli lain dari lakuna lain untuk membentuk
suatu sistem yang dapat dipersamakan dengan sistem Havers (haversian sistem) tulang.
Oleh sebab sementum adalah avaskular, nutrisinya berasal dari ligament periodontal.
Karena lapisan incremental sementum ditumpuk, ligamen periodontal dapat berpindah
tempat lebih jauh, dan akibatnya beberapa sementosit mungkin mati dan meninggalkan
lakuna kosong (Grossman, 1995).
Ketebalan sementum menggambarkan salah satu fungsinya. Tebal sementum sekitar
20 sampai 50 µm pada hubungan sementum-email dan tebal sementum adalah sekitar
akar. Sementum yang lebih tebal pada apeks disebabkan karena penumpukannya yang
terus menerus selama kehidupan eruptif gigi untuk mempertahankan tingginya pada
bidang oklusal. Penumpukan sementum yang terus-menerus juga memberi bentuk pada
foramen apical dewasa. Foramen bila menjadi dewasa, menjadi konis, dengan aspek
kerucut, disebut diameter minor (konstriktur), menghadap pulpa dan dasar, disebut
diameter mayor, menghadap ligament periodontal. Penumpukan sementum yang terus
menerus menaikkan diameter mayor dan menghasilkan suatu deviasi rata-rata foramen
apical sebesar 0,2 sampai 0,5 mm dari pusat apeks akar. Diameter minor menentukan
penghentian apical instrumentasi dan obturasi saluran akar dan rata-rata terletak 0,5 mm
dari permukaan semental pada gigi-gigi muda dan 0,75 mm dari permukaan pada gigi-gigi
dewasa. Meskipun hubungan sementum-sementum bertepatan dengan diameter minor,
sementum dapat tumbuh tidak rata dan dapat mengubah hubungan ini (Grossman, 1995).
Memperbaiki adalah fungsi lain sementum. Fraktur akar dan resorpsi biasanya
diperbaiki oleh sementum. Penutupan akar yang belum dewasa pada prosedur apeksifikasi
disempurnakan oleh deposisi sementum atau jaringan yang menyerupai sementum.
Sementum juga mempunyai fungsi protektif. Lebih resisten terhadap rasorpsi daripada
tulang. Mungkin disebabkan avaskularitasnya. Akibatnya, gerakan ortodontik akar
biasanya dapat dilakukan dengan kerusakan resorptif minimum. Fungsi-fungsi lain adalah
deposisi sementum yang terus menerus dan penyumbatan foramina aksesori dan apical
setelah perawatan saluran akar (Grossman, 1995).
Sementum berasal dari sel mesenkimal folikel gigi yang berkembang
menjadisementoblas. Sementoblas menimbun suatu matriks, disebut sementoid, yang
mengalami pertambahan pengapuran dan menghasilkan 2 jenis sementum, aselular dan
selular.Perbedaan bentuk dari sementum adalah sebagai berikut:
1) Acellular, extrinsic fiber cementum
(AEFC) ditemukan di bagian koronal dan bagiantengah dari akar dan kandungan
utamanya adalah bundel dari serat Sharpey. Tipesementum ini berperan penting dalam
melekatkan dan menghubungkan gigi dengantulang alveolar.
2) Cellular, mixed stratified cementum
(CMSC) yang terdapat pada sepertiga apikal akar dan pada furkasi. Sementum ini
terdiri dari serat ekstrinsik dan intrinsik, sertasementosit.
3) Cellular, intrinsic fiber cementum
(CIFC) yang ditemukan terutama pada resorpsilakuna dan mengandung serat intrinsik
dan sementosit.Gambar diatas menunjukan bagian dari akar yang berdekatan dengan
periodontal ligament (PDL). Terdapat lapisan tipis dari AEFC dengan serat ekstrinsik
yang padatmeliputi dentin perifer. Sementoblast dan fibroblast dapat diamati berdekatan
dengansementum. AEFC terbentuk bersamaan dengan pembentukan dentin akar. Pada
tahap tertentuselama pembentukan gigi, selubung epitel Hertwig yang baru terbentuk
predentin,terfragmentasi. Sel dari folikel gigi kemudian menembus selubung epitel
Hertwig danmenempati daerah disebelah predentin. Dalam posisi ini, sel ektomesenkimal
dari folikel gigi berdiferensiasi menjadi sementoblas dan mulai memproduksi serat
kolagen pada sudut kananke permukaan. Sementum pertama dideposit pada lapisan
superficial yang termineralisasidengan tinggi dari mantel dentin yang disebut “lapisan
hialin” yang mengandung proteinenamel matriks dan serat kolagen awal dari sementum.
Selanjutnya, sementoblast menjauhdari permukaan sehingga terjadi peningkatan ketebalan
sementum dan penggabungan serat pokok.

Fungsi utama dari sementum adalah sebagai perlekatan serabut ligament


periodontalyang menahan gigi untuk tetap pada posisinya dan berhubungan dengan
jaringan sekitarnya.Sementum, seperti dentin, dapat tumbuh secara terus menerus selama
kehidupan gigitersebut.Sementum yang pertama kali ada disebut sementum primer,
sedangkan sementum yang baru terbentuk mengacu kepada sementum sekunder.
Sementum sekunder biasanya terbentuk sebagai hasil dari perlukaan yang bersifat fisika,
kimiawi, maupun akibat bakteri, namun penyebab yang paling sering ditemukan adalah
akibat perlukaan secara fisikal atau tekanan.Beberapa fungsi sementum adalah sebagai
berikut:
a. Menahan gigi pada soket tulang dengan perantaraan serabut prinsipal ligamen
periodonsium.
b. Mengompensasi keausan struktur gigi karena pemakaian dengan
pembentukanterus menerus.
c. Memudahkan terjadinya pergeseran mesial fisiologis.
d. Memungkinkan penyusunan kembali serabut ligamen periodonsium secara terus

C. Ligamen periodontal
Yaitu struktur jaringan ikat fibrous yang mengelilingi akar gigi dan
menghubungkannya dengan tulang.
Fungsi:
a. physical function
 perlekatan gigi ke tulang
 menjaga hubungan gigi dengan gingiva
 transmisi tekanan oklusal ke tulang alveolar
 shock absorption
 menjaga saraf dan pembuluh darah terhadap perlukaan akibat trauma mekanis

b. formative function
 Pada ligamentum periodontal terdapat sel-sel yang berperan daiam
pembentukan maupun resorpsi jaringan ligamentum periodontal, sementum
dan tulang alveolar. Sel-sel ektomesenkim yang tidak mengalami diferensiasi
yang terletak di sekitar pembuluh darah dapat berdiferensiasi menjadi sel-sel
pembentuk tulang (osteoblas), sementum (sementoblas) dan serabut jaringan
ikat (fibroblas). Adapun sel-sel yang berperan dalam resorpsi tulang dan gigi
berasai dari set makrofag.
c. nutritional and sensory function
 ligamen periodontal kaya akan suplai pembuluh darah yang berasal dari arteri
dental yang masuk meialui foramen apikal dan dari pembuluh darah dari
tulang yang berdekatan. Hal ini memungkinkan suplai nutrisi ke sementum,
tulang alveolar dan gingiva.
 Inervasi ligamen periodontal memungkinkan peka terhadap sentuhan

Lebar ligamen periodontal dipengaruhi oleh umur, lokasi dan beban yang
diterima. Ligamen periodontal lebih lebar pada gigi yang berfungsi aktif
dibandingkan gigi yang tidak berfungsi.
Sel-sel yang terdapat pada ligamentum periodontal:
a. Fibroblas
Fibroblas adalah sel-sel berbentuk kumparan dengan nuklei oval dan prosesus
sitoplasmik yang panjang. Biasanya sejajar dengan serabut kolagen, dengan
prosesusnya terbungkus di sekitar bundel serabut. Fibroblas mensintesis kolagen
dan matriks dan terlibat dalam degradasi kolagen untuk pengubahan bentuknya.
Hasilnya adalah suatu pengubahan bentuk serabut utama yang konstan dan
pemeliharaan suatu ligamen periodontal yang sehat.
b. Sementoblas
Sementoblas terletak di garis pinggir ligamen periodontal berhadapan dengan
sementum. Sementoblas, dengan prosesus sitoplasmik, terlihat kuboidal bila pada
suatu lapisan tunggal, atau skuamous bila lebih dari satu lapisan.
c. Sementoklas
Sel ini tidak ditemukan pada ligamentum periodontal normal, karena pada
umumnya sementum tidak mengubah bentuk dan hanya ditemukan pada pasien
dengan kondisi patologik tertentu.
d. Osteoblas
Osteoblas ditemukan di pinggir ligamen periodontal melapisi soket tulang.
Biasanya terlihat dalam berbagai tingkat diferensiasi. Fungsi osteoblas adalah
deposisi kolagen dan matriks yang ditumpuk pada permukaan tulang dimana
terikat serabut Sharpey. Kalsifikasi osteoid menjangkar serabut-serabut Sharpey.
Pengubahan bentuk tulang yang konstan memberikan pembaharuan ikatan
ligamen periodontal pada tulang secara terus-menerus.
e. Osteokias
Sel ini ditemukan di pinggir tulang pada masa pengubahan bentuk tulang.
f. Sisa sel epitel Malassez
Sisa sel epitel Malassez adalah sisa selubung akar epitelial Hertwig. Sel-sel ini
berlokasi pada sisi sementum ligamentum periodontal. Fungsinya tidak diketahui,
tetapi dapat berkembang biak untuk membentuk kista pada stimuli noksius.
g. Sel mast
Sel-sel mast ditemukan dekat pembuluh darah, adalah sel-sel besar, bulat/oval
dengan nuklei bulat yang terletak di tengah. Sitoplasmanya mempunyai banyak
granula merah yang dapat mengaburkan nuklei. Granula ini mengandung heparin,
koagulan darah dan histamin, yang dapat meningkatkan permeabilitas kapiler.
Histamin, yang dilepaskan melalui degranulasi sel mast yang disebabkan oleh
reaksi inflamasi akut, mengerutkan sel endotelial pada dinding pembuluh yang
menghasilkan ruang interselular dan permeabilitas vaskular.
h. Sel makrofag Sel ini dijumpai di dekat pembuluh darah. Fungsi makrofag adalah
memfagositosis debris selular dan benda asing.
i. Sel-sel endothelial

Serat-serat utama dari jaringan ligament periodontal adalah :


1. Kelompok transversal atau transeptal
Merentang di daerah interproximal di atas crest alveolar, tertanam pada
cementum dangigi yang bertetangga. Serat-serta tersebut senantiasa sering
dijumpai sebab selaludirekonstruksi meskipun terjadi destruksi tulang alveolar.

2. Kelompok alveolar crest


Merentang miring (oblique) dari cementum persis dibawah junctional epitel ke
crestalveolar. Fungsi serat ini mengimbangi dorongan dari yang lebih apikal
sehinggamembantu, meski bila serta diincisi pada waktu pembedahan tidak secara
nyatameningkatkan mobilitas normal gigi setelah pembentukan kelompok
horizontal.

3. Kelompok horizontal
Merentang dalam arah tegak lurus terhadap as gigi dari sementum ke tulang
alveolar.Fungsinya sasma dengan alveolar crest yaitu mengimbangi dorongan dari
arah yang lebihapikal.

4. Kelompok oblique
Serat ini paling besar. Merentang miring dari sementum kearah koronal tulang
alveolar.Grup ini memiliki bagian terbesar dari tekanan vertikal pengunyahan dan
mengubahnyamenjadi tarikan pada tulang alveolar.

5. Kelompok apical
Merentang dari sementum ke arah tulang fundus dari soket. Kelompok ini
tidak dijumpai pada akar gigi yang belum sempurna terbentuk.Serat lain adalah
serat kolagen yang susunannya kurang teratur. Dijumpai pada jaringan ikat
intertisial diantara serat-serat utama. Serat – serat tersebut mengandung pembuluh
darah, limfatik dan saraf.
Serat- serat lain dalam ligamentum periodontal :
 Serat elastik jumlahnya sedikit
 Serat oksitalan, terutama yang berada di sekeliling daerah pembuluh darah,
tertanamdalam sementum pada 1/3 servical akar gigi. Serat oksitalan disebut juga
serta resistenfibers

D. Tulang Alveolar
Tulang alveolar merupakan struktur tulang yang menanam dan mendukung gigi.
Processus alveolaris membentuk soket gigi merupakan bagian dari tulang rahang.
Terbentuknya processus alveolaris tergantung pada erupsi gigi. Pada penderita anodontia,
processus alveolaris tidak terbentuk. Jika seluruh gigi dicabut, processus alveolaris secara
bertahap hilang akibat resorpsi tulang. Tulang alveolar mengalami remodeling, sehingga
memungkinkan terjadinya migrasi gigi ke arah mesial, pergerakan gigi pada perawatan
ortodontik serta penyembuhan luka. Fungsi tulang alveolar:
1. Proteksi
2. Tempat perlekatan ligamen periodontal
3. Menjaga homeostasis mineral

Tulang alveolar terdiri dari:


1. Cortical plate, terdiri dari tulang yang kompak, terletak pada permukaan tulang
rahang.
2. Cribriform plate atau alveolar bone proper atau disebut jugs lamina dura. Merupakan
tulang yang membentuk dinding sebelah dalam soket gigi. Pada daerah ini dilewati
pembuluh darah dan saraf.
3. Spongy bone, terletak antara cortical plate dan cribriform plate. Pada spongy bone
terdapat trabekula tulang yang tersebar, berisi sumsum tulang.

Sel-sel yang terdapat pada tulang alveolar:


1. Osteoklas
 Merupakan sel besar, dengan inti lebih dari satu
 Berasal dari monosit yang direkrut dari darah ke permukaan tulang,
berdiferensiasi dan berfusi menjadi sel multinukleus
 Terletak pada lakuna Howship's
 Berperan aktif dalam resorpsi tulang
 Memproduksi sejumlah enzim, antara lain asam fosfatase dan kolagenase
 Terdapat reseptor spesifik untuk hormon calcitonin, merupakan inhibitor
poten resorpsi tulang oleh osteokias
2. Osteoblas
 Merupakan sel besar dengan diameter 20-30 μm
 Berasal dari sel-sel osteogenik yang mengalami diferensiasi dalam
periosteum, jaringan yang melapisi permukaan luar tulang dan dalam
endosteum sumsum tulang
 Osteoblas bertanggung jawab dalam pembentukan tulang dengan
memproduksi suatu komponen tulang yang tidak terkalsifikasi yang disebut
osteoid.
 Terdapat reseptor spesifik untuk hormon parathyroid

3. Osteosit
 Merupakan tipe sel tulang yang paling banyak, sel utama pada tulang yang
matur
 Merupakan osteoblas yang terjebak dalam matriks terkalsifikasi

Fungsi tulang alveolar secara umum antara lain :

1. pembentuk dan penyokong gigi “tooth socket”


2. Tempat menempelnya otot
3. Membentuk kerangka sumsum tulang
4. Bertindak sebagai penyimpanan ion (khususnya kalsium)
5. Komponen biologi yang terpenting adalah plastisi, memungkinkan penyesuaian
bentuk sesuaituntutan fungsional. Komponen ini sangat penting untuk pergerakan
gigi orthodontik.

2. MEKANISME PERTAHANAN GINGIVA

1. Deskumasi Epitel dan Keratinisasi


Secara kontiniu pada epitel berlangsung proses pembaharuan epitel, yang dimulai
dari daerah basal menuju ke permukaan luar. Proses ini diikuti oleh deskuamasi epitel
yang paling superfisial. Di samping itu, dengan proses keratinisasi terjadi
pembentukan lapisan keratin atau parakeratin pada lapisan superfisial dari epitel
gingiva. Deskuamasi epitel dalam rangka pembaharuan sel dan pembentukan keratin
tersebut merupakan mekanisme pertahanan gingiva yang paling sederhana.

2. Cairan Sulkular
Keberadaan cairan sulkular atau cairan sulkus gingiva sebenarnya masih
dipertanyakan, apakah suatu transudat yang secara kontiniu diproduksi, atau
merupakan eksudat inflamasi.
Komposisi cairan sulkular adalah :
 Elemen seluler : bakteri, sel epitel deskuamasi, limfosit (leukosit
polimorfonuklear/LPN, limfosit dan monosit )
 Elektrolit : kalium, natrium, dan kalsium
 Bahan organik : karbohidrat dan protein
 Produk metabolik dan produk bakterial : asam laktat, urea, hidroksiprolin, endotoksin,
substansi sitotoksik, hidrogen sulfida, dan faktor antibakterial.
 Enzim : β glukuronidase, yang merupakan enzim lisosomal;dehidrogenase asam laktat
yang merupakan enzim sitoplasmik; kolagenase, yang bisa diproduksi oleh fibroblas
atau LPN, atau diekskresi oleh bakteri; posfolipas, suatu enzim lisosomal tetapi yang
bisa juga diproduksi oleh bakteri.
Peranan cairan sulkus sebagai mekanisme pertahanan ada 3 yaitu :
1. Aksi membilas
2. Kandungan sel protektif
3. Memproduksi enzim

3. Leukosit pada Daerah Dentogingival


Leukosit dijumpai dalam sulkus gingiva yang secara klinis sehat, meskipun dalam
jumlah yang sedikit. Leukosit tersebut berada ekstravaskular di jaringan dekat ke
dasar sulkus.
Komposisi leukosit pada sulkus gingiva yang sehat adalah :
 91,2 % LPN
 8,5-8,8 % sel mononukleus : terdiri dari 58 % limfosit B, 24 % limfosit T, dan 18 %
fagosit mononukleus
Leukosit yang dijumpai dalam keadaan hidup dan memiliki kemampuan
memfagositosa dan membunuh. Dengan demikian lekosit pada daerah dentogingival
tersebut merupskan mekanisme protektif utama melawan serangan plak ke sulkus
gingiva.

4. Saliva
Sekresi saliva bersifat protektif karena jaringan mulut dalam keadaan yang
fisiologis. Pengaruh saliva terhadap plak adalah :
 Aksi pembersihan mekanis terhadap permukaan oral
 Menjadi buffer bagi asam yang diproduksi bakteri
 Mengontrol aktivitas bacterial
Faktor – faktor antibakterial
Saliva mengandung berbagai bahan anorganik dan organic. Bahan – bahan
organicnya meliputi ; ion, gas, bikarbonat, natrium, kalium, posfat, kalsium, fluor,
ammonia, dan karbondioksida. Kandungan organiknya antara lain adalah lisosim,
laktoferin, mieloperoksidase, laktoperoksidase, aglutinin ( seperti glikoprotein, mucin,
β2-makroglobulin, fibronektin ) dan antibody.

Antibodi saliva
Saliva mengandung banyak antibody, terutama immunoglobulin A. antibody
saliva disintesis secara local terbukti dari tidak bereaksinya antibody saliva terhadap
strein bakteri yang khas pada usus. Banyak bakteri yang terdapat dalam saliva yang
dibalut oleh IgA, dan deposit bacterial pada permukaan gigi mengandung IgA dan
IgG. Diduga Ig yang ada pada saliva parotis dapat menghambat perlekatan spesies
Streptococcus ke sel-sel epitel. Beberapa peneliti melaporkan adanya peningkatan
konsentrasi enzim saliva pada waktu berjangkitnya penyakit periodontal. Enzim
dimaksud adalah hialuronidase, lipase, β-gluronidase, kondroitin sulfatase,
dekarboksilase asam amino, katalase, peroksidase, dan kolagenase.Enzim proteolitik
yang ada dalam saliva dihasilkan oleh pejamu maupun bakteri. Enzim-enzim tersebut
berperan dalam memulai dan berkembangnya penyakit periodontal. Untuk melawan
enzim tersebut, saliva mengandung :
 Antiprotease yang mengahambat protease sistein seperti katepsin
 Antileukoprotease yang mengahambat elastase

5. Lekosit
Kandungan lekosit saliva yang terutama adalah lekosit morfonukleus dengan
jumlah yang bervariasi antar individu, antar waktu dalam sehari, dan meningkat dalam
gingivitis. Lekosit mencapai rongga mulut dengan jalan migrasi menembus sulkus
gingiva. Lekosit saliva yang hidup dinamakan orogranulosit, dan laju migrasi ke
rongga mulut dinamakan laju migrasi orogranulosit.
3. PENGARUH USIA TERHADAP JARINGAN PERIODONTAL

1. Mukosa, Terjadi perubahan pada struktur, fungsi dan elastisitas jaringan mukosa
mulut.
Karakteristik penuaan mukosa mulut :
 Terlihat pucat dan kering
 hilangnya stippling
 terjadinya Oedema
 elastisitas jaringan berkurang
 jaringan mudah mengalami iritasi dan rapuh
 kemunduran lamina propria
 epitel mengalami penipisan
 keratinisasi berkurang
 vaskularisasi berkurang sehingga mudah atropi
 penebalan serabut kolagen pada lamina propia.

2. Kelenjar Saliva
 Kecepatan aliran saliva rendah
 Biosintesis protein menurun karena sel-sel asinus mengalami atropi sehingga jumlah
protein saliva menurun
 Xerostomia, aliran saliva berkurang karena menurunya jumlah jaringan asihan yang
sebanding dengan ductus dan connective tissue

Fungsi kelenjar saliva yang mengalami penurunan merupakan suatu keadaaan


normal pada proses penuaan manusia. Lansia mengeluarkan jumlah saliva yang lebih
sedikit pada keadaan istirahat, saat berbicara, maupun saat makan. Keluhan berupa
xerostomia atau mulut kering sering ditemukan pada orang tua daripada orang muda
yang disebabkan oleh perubahan karena usia pada kelenjar itu sendiri.

Berdasarkan penelitian terjadinya degenerasi epitel saliva, atrofi, hilangnya asini


dan fibrosis terjadi dengan frekuensi dan keparahan yang meningkat dengan
meningkatnya usia. Secara umum dapat dikatakan bahwa saliva nonstimulasi
(istirahat) secara keseluruhan berkurang volumenya pada usia tua.

3. Ligamen Periodontal

Perubahan pada ligamen periodontal yang berkaitan dengan lanjut usia yaitu

 berkurangnya fibroblas dan strukturnya lebih irregular,


 berkurangnya produksi matriks organik dan sisa sel epitel serta
 meningkatnya jumlah serat elastis.
 dalam referensi lain disebutkan adanya peningkatan fibrosis dan menurunnya
selularitas ligamen periodontal.
4. Gingiva
 Terjadinya penambahan papilla jaringan ikat dan menurunnya keratinisasi epitel.
Keratinisasi epitel gingiva yang menipis dan berkurang terjadi berkaitan
dengan usia. Keadaan ini berarti permeabilitas terhadap antigen bakteri meningkat,
resistensi terhadap trauma fungsional berkurang, atau keduanya. Karena itulah,
perubahan tersebut dapat mempengaruhi hasil perawatan periodontal jangka panjang.
 Pergerakkan dent gingival junction ke apical meluas ke Cemento Enamel Junction.
Migrasi epitel junction ke arah permukaan akar dapat disebabkan oleh erupsi
gigi melewati gingiva sebagai usaha untuk mengatur kontak oklusal dengan gigi
lawannya (erupsi pasif) akibat hilangnya permukaan gigi karena atrisi. Hal ini
kemudian berkaitan dengan resesi gingiva. Resesi gingiva yang terjadi pada lanjut
usia bukanlah merupakan proses fisiologis yang pasti, namun merupakan akibat
kumulatif dari inflamasi atau trauma yang terjadi pada periodontal (seperti menyikat
gigi yang terlalu keras).
DAFTAR PUSTAKA

Newman, Michael G., Takey, Henry, dkk. 2015. Carranza's Clinical Periodontology,
12th Edition. Expert Consult.com.

Makalah Bagian Prostodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran


Bandung 2009,dengan judul “Respon Jaringan terhadap Gigi Tiruan Lengkap pada Pasien
Usia Lanjut”,yang disusun oleh drg. Lisda Damayanti, sp. Pros

Mitchell, Laura, Mitchell, David A., McCaul, Lorna. 2014. Kedokteran Gigi Klinis,
edisi 5. Jakarta : EGC.

Manson, J.D, Eley, B.M. 2013. Buku Ajar Periodonti, Edisi 2. Jakarta : ECG

Anda mungkin juga menyukai