Anda di halaman 1dari 14

ISLAMIC ENTERPREANUR

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah

KWIRAUSAHAAN

DOSEN PEMBIMBING : TITIEK

DISUSUN OLEH:

Erik Arya Saputra 201710160311120

Hasna Khoirunnisa 201710160311175

Indah Puspita Sari 201710160311186

Fera Dwi Afiriya 201710160311195

Fauzan Triadi 201710160311206

MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami haturkan kepada Allah SWT. Karena rahmat dan hidayahnya sehingga
kami bisa menyelesaikan tugas mata kuliah kewirausaha an dengan tepat waktu meskipun kurang
sempurna dalam sisi penulisan maupun dalam isi yang terkandung didalamnya dan masih banyak
lagi yang lain.

Tidak lupa kami ucapkan shalawat beserta salam kami sanjungkan kepada junjungan kita
Nabi Muhammad SAW. Nabi yang membawa rahmatul lil’alamin bagi seluruh umatnya di
dunia. Dimana kelak nanti di hari akhir semoga kita semua mendapatkan pertolongan serta
inayahnya. Aamiin.

Semoga dengan tersusunnya makalah ini dapat menambah ilmu serta wawasan kita
khususnya dalam hal kesehatan dan keselamatan kerja. Penulis sangat menyadari bahwa baik
dalam penyampaian maupun penulisan masih banyak kekurangan oleh karena itu kritik dan saran
yang konstruktif dari berbagai pihak sangat diharapkan guna kesempurnaan makalah ini.
Akhirnya penulis berharap, semoga makalah ini dapat bermanfaat.

Malang, 2 oktober 2018

Penyusun

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar................................................................................................... i

Daftar Isi.............................................................................................................. ii

Bab I Pendahuluan

1.1 Latar Belakang............................................................................................... 4


1.2 Rumusan Masalah.......................................................................................... 4
1.3 Tujuan............................................................................................................ 4

Bab II Pembahasan

2.1 Program K3 berjalan baik di Indonesia................................................... ..... 2


2.2 Besar pengaruhnya K3 dan tujuan dibentuknya............................................ 4
2.3 Penghambat penerapan berjalannya program K3.......................................... 5
2.4 Pengaruh terbesar dalam masalah K3............................................................ 8

Bab III Penutup

3.1 Kesimpulan................................................................................................... 10
3.2 Saran............................................................................................................. 10

Daftar Pustaka................................................................................................. 11

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Entrepreneurship merupakan karakter yang dimiliki oleh seseorang yang dapat


menghasilkan sesuatu yang sumber asalnya berada atau tersebar di berbagai pihak. Ia
menjadikannya suatu hal yang baru yang bermanfaat melalui suatu proses inovasi. Ia
juga menjadi bagian praktek atau perilaku baru dalam masyarakat yang dibicarakan.
Individu yang melakukan hal tersebut dinamakan entrepreneur. Jadi kata kuncinya
adalah inovasi. Dan inovasi tersebut hasilnya diterima oleh masyarakat. Kata masyarakat
inilah yang berkaitan dengan istilah civic. Karena itu, inovasi tersebut harus memberikan
keuntungan bagi seluruh masyarakat, bukan hanya memberikan keuntungan bagi sang
inovator atau seorang entrepreneur saja. Karena itu seorang entrepreneur sejak awal
harus memiliki jiwa atau semangat kemasyarakatan. Seorang civic entrepreneur dapat
berasal dari LSM, dunia usaha, pemerintah atau kalangan lainnya yang memiliki
motivasi untuk mengembangkan inovasi demi kepentingan umum. Metoda atau teknik
untuk mencapai hal tersebut serta skalanya bermacam-macam tergantung masalah yang
dihadapi dan tujuan yang ingin dicapai.

1.2 Rumusan Masalah


1. bagaimana jika dalam sebuah perusahaan menerapkan islamic enterpreneurship, tetapi
staffnya ada yang non islam ?
2. Apa landasan yang digunakan dalam penerapan islamic enterpreneurship ?
3. bagaimana penerepan islamic enterpreanurship pada perusahaan di indonesia?

1.2 Tujuan
1. Memenuhi tugas matakuliah kewirausahaan
2. Mengetahui seberapa berperannya islamic enterpreneurship di indonesia
3. Mengetahui keunggulan penerapan islamic enterpreneurship

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Penerapan Islamic Enterpreanur

Kewirausahaan dan Perdagangandalam pandangan islammerupakan aspek kehidupan


yang dikelompokkan kedalam masalah mu’amalah, yaitu masalah yang berkenaan dengan
hubungan yang bersifat horizontal antar manusia dan tetap akan di pertanggungjawabkan kelak
di akhirat. Manusia diperintahkan untuk memakmurkan bumi dan membawanya ke arah yang
lebih baik serta diperintahkan untuk berusaha mencari rizki. Semangat kewirausahaan
diantaranya terdapat dalam QS. Hud:61, QS.Al-Mulk:15 dan QS.Al-Jumuh:10, dimana manusia
diperintahkan untuk memakmurkan bumi dan membawanya ke arah yang lebih baik serta
diperintahkan untuk berusaha mencari rizki. Semangat kewirausahaan terdapat dalam Al-Qur’an
yang akan di uraikan sebagai berikut, QS.Hud:61, yang artinya :
“Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu Dan kepada
Tsamud (Kami utus) saudara mereka shaleh. shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah,
sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah)
dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah
kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa
hamba-Nya)."
QS.Al-Mulk:15, yang artinya :
“Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala
penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu
(kembali setelah) dibangkitkan.“
QS. Al-Jummuah 10 yang artinya : “Apabila telah ditunaikan shalat, maka
bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak
supaya kamu beruntung.” QS. Al-Baqarah: 275 yang artinya : “...Allah telah menghalalkan jual
beli dan mengharamkan riba“. Konsep kewirausahaan telah diajarkan oleh Nabi Muhammad
SAW, jauh sebelum beliau menjadi Rasul. Rosulullah telah memulai bisnis kecil-kecilan pada
usia kurang dari 12 tahun dengan cara membeli barang dari suatu pasar, kemudian menjualnya
kepada orang lain untuk mendapatkan keuntungan agar dapat meringankan beban pamannya.
Bersama pamannya, Rosulullah melakukan perjalanan dagang ke Syiria. Bisnis Rosulullah terus

9
berkembang sampai kemudai Khadijah menawarkan kemitraan bisnis dengan
sistem profit sharing. Selama bermitra dengan Khadijah, Rosulullah telah melakukan perjalanan
ke pusat bisnis di Hbasyah, Syiria dan Jorash (Ermawati, n.d.).
Islam sangat menganjurkan umatnya untuk melakukan wirausaha. Banyak ditemukan
ayat atau hadits yang mendorong umat Islam untuk berwirausaha, misalnya keutamaan
berdagang seperti disebutkan dalam hadits yang artinya: “Perhatikan olehmu sekalian
perdagangan, sesungguhnya di dunia perdagangan itu ada 9 dari 10 pintu rizki (HR. Ahmad).
Kemudian Pernah Nabi ditanya Oleh para sahabat: ”pekerjaan apa yang paling baik ya
Rasulullah ?”beliau menjawab “Seorang bekerja dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli
yang bersih.”(HR. Al Bazzar). Oleh karena itu, “..apabila shalat telah ditunaikan maka
bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia (rizki) Allah” (QS. al-Jumu’ah: 10).
Perjalanan bisnis Rosulullah selama bertahun-tahun memberikan hikmah tentang
bagaimana unsur-unsur manajemen usaha Rosulullah SAW. Bahkan dalam aktifitas
penggembalaan kambing yang dilakukan oleh Rosulullah terdapat nilai-nilai luhur yang
terkandung yaitu: pendidikan rohani, latihan merasakan kasih sayang kepada kaum lemah, serta
kemampuan mengendalikan pekerjaan berat dan besar. Antonio (2007) mengungkapkan hikmah
dari kegiatan menggembala kambing terhadap unsur-unsur manajemen adalah sebagai berikut:
1. Pathfinding (mencari) Mencari padang gembalaan yang subur,

2. Directing(mengarahkan) Mencari padang gembalaan yang subur,

3. Controlling (mengawasi) kambing Agar tidak tersesat atau terpisah dari kelompok,

4. Protecting (melindungi) kambing gembalaan Dari hewan pemangsa dan pencuri,

5. Reflecting (perenungan) Alam, manusia dan TuhanTrim (2009) mengungkapkan

bahwa kredibilitas dan kapabilitas Nabi Muhammad SAW terdapat dalam empat
karakter unggulnya, yaitu FAST (Fathonah, Amanah, Shiddiq dan Tabligh) ditambah
faktor I, yaitu Istiqomah. Sifat Fathonah (cerdas) dalam diri Nabi Muhammad SAW
dituliskan oleh Roziah Sidik, seorang penulis asal Malaysia menyebutkan bahwa

i
Rosulullah adalah seorang jenius dengan bukti kepakaran sebagai 1)ahli politik; 2)ahli
strategi peran; 3) ahli diplomasi; 4) ahli hubungan antar kaum; 5) ahli strategi; 6)
negarawan; 7) pengambil keputusan; 8) ahli perlembagaan; 9) ahli pembangunan SDM;
10) ahli pembangunan masyarakat; 11) ahli tata keluarga; 12) ahli dakwah.

Sifat amanah (komitmen) tercermin dalam sikap Rosulullah yang senantiasa


menggunakan akad, kesepakatan atau perjanjian bisnis dengan sistem kesepakatan bersama.
Seseorang dianggap melalaikan komitmen apabila tidak melaksanakan hal-hal yang telah
disepakati bersama. Rosulullah SAW bersabda : “Allah Azza wa jalla berfirman: “Aku adalah
pihak ketiga dari kedua belah pihak yang berserikat selama salah seorang dari keduanya tidak
mengkhianati temannya. Jika salah satu dari keduanya telah mengkhianati temannya, Aku
terlepas dari keduanya.” (HR Abu Dawud).
Shiddiq (benar dan jujur) dapat tercermin dari beberapa sikap Rosulullah. Pertama,
Rosulullah bersikap baik dan jujur kepada perusahaan atau pemegang saham. Terbukti, setelah
membantu bisnis pamannya, Rosulullah mampu mengelola bisnis Khadijah ra dengan baik.
Kedua, Rosulullah bersikap baik dan jujur kepada pegawai. Rosulullah pernah menasehati untuk
membayar upah seorang pegawai sebelum keringatnya kering. Hal tersebut menunjukkan bahwa
perusahaan tidak boleh menunda-nunda hak seorang pegawai apabila perusahaan sedang tidak
mengalami kesulitan untuk membayar gaji tersebut.
Sifat Tabligh (Komunikatif). Sifat Rosulullah untuk senantiasa bersikap tabligh sejalan dengan
firman Allah SWT dalam QS. An-Nisa ayat 9 yaitu : “ .........oleh karena itu, hendaklah mereka
bertakwa kepada Allah SWT dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”.
Terakhir adalah sifat Istiqomah (keteguhan hati yang konsisten). Rosulullah senantiasa istiqomah
dalam menjalankan nilai-nilai bisnis Islam (FAST) untuk dapat menjaga kepercayaan bisnis dari
orang lain.

2.2 landasan yang digunakan dalam penerapan islamic enterpreneurship

Al-Qur'an merupakan sumber pedoman dalam berperilaku yang di dalamnya memuat


berbagai aspek kehidupan manusia mulai dari sosial, politik, teologi, sains, serta ekonomi. Agar
bisa berperilaku qurani dalam berbagai aspek tersebut, umat Islam dituntut untuk berdialog
dengan al- Qur'an. Dialog tersebut dapat berupa proses pembacaan, pemahaman, dan

ii
internalisasi nilai-nilai yang terkandung dalam ayat-ayatnya. Meski begitu, al-Qur'an juga bukan
merupakan ensiklopedi yang tersusun secara rinci dan sistematis sesuai kaidah ilmiah pada
umumnya. Hal ini karena ia hanya membahas berbagai aspek dalam ulasan global serta terpencar
dalam berbagai ayat yang berbeda. Oleh sebab itu, penggunaan metode tafsir merupakan suatu
keniscayaan ketika ingin memperoleh pemahaman yang sebenarnya dari aya-ayat al-Qur'an.
Secara garis besar ada (4) metode tafsir yang digunakan sejak dahulu hingga sekarang, yaitu
tahlili, ijmali, muqaran, dan maudhu’i. Tahlili merupakan metode penafsiran al-Qur'an sesuai
tertib ayatnya dengan sedikit- banyak melakukan analisis. Ijmali merupakan metode penafsiran
al-Qur'an melalui pembahasan yang bersifat umum (global). Muqaran adalah metode penafsiran
dengan membanding-bandingkan ayat-ayat al-Qur'an. Sedangkan maudhu’i merupakan mertode
penafsiran al-Qur'an yang menghimpun berbagai ayat dalam kesatuan tema tertentu.14 Di antara
keempatnya, metode maudhu’i adalah metode yang akan penulis gunakan untuk membahas ayat-
ayat yang berkaitan dengan entrepreneurship dalam penelitian ini. 1. Pengertian Tafsir Maudhu’i
Kata maudhu’i berasal dari bahasa Arab (‫( موضوع‬yang merupakan isim maf’ul dari fi’il madzi
(‫( وضع‬yang berarti meletakkan, menjadikan, menghina, mendustakan, dan membuat-buat.15 Al-
Jurjany dalam alta’rifaat menyatakan bahwa ‫ وضع‬berarti menjadikan sesuatu lafal sesuai
pemaknaannya.16 Menurut Abdul Hayy al Farmawi, tafsir maudhu’i merupakan metode tafsir
yang cara kerjanya dengan menghimpun ayat-ayat al-Qur'an yang mempunyai maksud yang
sama, dalam arti sama-sama membicarakan satu tema, yang penyusunannya berdasarkan 22 serta
sebab turunnya ayat tersebut, kemudian penafsir mulai memberikan keterangan dan penjelasan
serta mengambil kesimpulan.17 Sedangkan menurut pakar tafsir Indonesia, Quraish Shihab,
metode tafsir maudhu’i adalah suatu metode yang mengarahkan pandangan kepada satu tema
tertentu, lalu mencari pandangan al-Qur’an tentang tema tersebut dengan jalan menghimpun
semua ayat yang membicarakannya, menganalisis, dan memahaminya ayat demi ayat,
menghimpunnya dalam benak ayat yang bersifat masih umum dengan yang khusus, yang
muthlak digandengkan dengan yang muqayyad, dan lain-lain, sambil memperkaya uraian dengan
hadis-hadis yang berkaitan untuk kemudian disimpulkan dalam satu tulisan pandangan
menyeluruh dan tuntas menyangkut tema yang dibahas itu.18 Dalam praktiknya, metode tafsir
maudhu’i sesungguhnya telah cukup lama bahkan disinyalir sejak masa-masa awal Islam, tetapi
istilah tafsir maudhu’i itu sendiri diperkirakan baru lahir pada abad ke-14 H. Tafsir maudhu’i ini
juga ditengarai sebagai metode alternatif yang paling sesuai dengan kebutuhan umat saat ini.

i
Selain diharapakan dapat memberi jawaban atas pelbagai problematika umat, metode maudhu’i
dipandang sebagai yang paling obyektif. Sebab melalui metode ini seolah penafsir
mempersilahkan al-Qur'an berbicara sendiri menyangkut berbagai permasalahan. Istanthiq al-
Qur'an (ajaklah al-Qur'an berbicara), demikian ungkapan yang sering dikumandangkan para
pendukung metode ini. Dalam metode ini, penafsir yang hidup di tengah realita kehidupan
dengan sejumlah pengalaman manusia duduk bersimpuh di hadapan al-Qur'an untuk berdialog;
mengajukan persoalan dan berusaha menemukan jawabannya dari al-Qur'an.

2.3 penerepan islamic enterpreanurship pada perusahaan di indonesia

Keberadaan Islam di Indonesia juga disebarkan oleh para pedagang. Di samping menyebarkan
ilmu agama, para pedagang ini juga mewariskan keahlian berdagang khususnya kepada
masyarakat pesisir. Di wilayah Pantura, misalnya, sebagian besar masyarakatnya memiliki basis
keagamaan yang kuat, kegiatan mengaji dan berbisnis sudah menjadi satu istilah yang sangat
akrab dan menyatu sehingga muncul istilah yang sangat terkenal jigang (ngaji dan dagang).

Sejarah juga mencatat sejumlah tokoh Islam terkenal yang juga sebagai pengusaha tangguh,
Abdul Ghani Aziz, Agus Dasaad, Djohan Soetan, Perpatih, Jhohan Soelaiman, Haji Samanhudi,
Haji Syamsuddin, Niti Semito, dan Rahman Tamin.

Apa yang tergambar di atas, setidaknya dapat menjadi bukti nyata bahwa etos bisnis yang
dimiliki oleh umat Islam sangatlah tinggi, atau dengan kata lain Islam dan berdagang ibarat dua
sisi dari satu keping mata uang. Benarlah apa yang disabdakan oleh Nabi, “Hendaklah kamu
berdagang karena di dalamnya terdapat 90 persen pintu rizki” (HR. Ahmad).

Adapun Motif Berwirausaha Dalam Bidang Perdagangan menurut ajaran agama Islam,
yaitu:

1. Berdagang buat Cari Untung?

Pekerjaan berdagang adalah sebagian dari pekerjaan bisnis yang sebagian besar bertujuan untuk
mencari laba sehingga seringkali untuk mencapainya dilakukan hal-hal yang tidak baik. Padahal
ini sangat dilarang dalam agama Islam. Seperti diungkapkan dalam hadis : “ Allah mengasihi
orang yang bermurah hati waktu menjual, waktu membeli, dan waktu menagih piutang.”

Pekerjaan berdagang masih dianggap sebagai suatu pekerjaan yang rendahan karena biasanya
berdagang dilakukan dengan penuh trik, penipuan, ketidakjujuran, dll.

2. Berdagang adalah Hobi

Konsep berdagang adalah hobi banyak dianut oleh para pedagang dari Cina. Mereka menekuni
kegiatan berdagang ini dengan sebaik-baiknya dengan melakukan berbagai macam

ii
terobosan.Yaitu dengan open display (melakukan pajangan di halaman terbuka untuk menarik
minat orang), window display (melakukan pajangan di depan toko), interior display (pajangan
yang disusun didalam toko), dan close display (pajangan khusus barang-barang berharga agar
tidak dicuri oleh orang yang jahat).

3. Berdagang Adalah Ibadah

Bagi umat Islam berdagang lebih kepada bentuk Ibadah kepada Allah swt. Karena apapun
yang kita lakukan harus memiliki niat untuk beribadah agar mendapat berkah. Berdagang dengan
niat ini akan mempermudah jalan kita mendapatkan rezeki. Para pedagang dapat mengambil
barang dari tempat grosir dan menjual ditempatnya. Dengan demikian masyarakat yang ada
disekitarnya tidak perlu jauh untuk membeli barang yang sama. Sehingga nantinya akan
terbentuk patronage buying motive yaitu suatu motif berbelanja ketoko tertentu saja.

Berwirausaha memberi peluang kepada orang lain untuk berbuat baik dengan cara memberikan
pelayanan yang cepat, membantu kemudahan bagi orang yang berbelanja, memberi potongan,
dll. Perbuatan baik akan selalu menenangkan pikiran yang kemudian akan turut membantu
kesehatan jasmani. Hal ini seperti yang diungkapkan dalam buku The Healing Brain yang
menyatakan bahwa fungsi utama otak bukanlah untuk berfikir, tetapi untuk mengembaliakn
kesehatan tubuh. Vitalitas otak dalam menjaga kesehatan banyak dipengaruhi oleh frekwensi
perbuatan baik. Dan aspek kerja otak yang paling utama adalah bergaul, bermuamalah, bekerja
sama, tolong menolong, dan kegiatan komunikasi dengan orang lain.

4. Perintah Kerja Keras

Kemauan yang keras dapat menggerakkan motivasi untuk bekerja dengan sungguh-sungguh.
Orang akan berhasil apabila mau bekerja keras, tahan menderita, dan mampu berjuang untuk
memperbaiki nasibnya. Menurut Murphy dan Peck, untuk mencapai sukses dalam karir
seseorang, maka harus dimulai dengan kerja keras. Kemudian diikuti dengan mencapai tujuan
dengan orang lain, penampilan yang baik, keyakinan diri, membuat keputusan, pendidikan,
dorongan ambisi, dan pintar berkomunikasi. Allah memerintahkan kita untuk tawakkal dan
bekerja keras untuk dapat mengubah nasib. Jadi intinya adalah inisiatif, motivasi, kreatif yang
akan menumbuhkan kreativitas untuk perbaikan hidup. Selain itu kita juga dianjurkan untuk
tetap berdoa dan memohon perlindungan kepada Allah swt sesibuk apapun kita berusaha karena
Dialah yang menentukan akhir dari setiap usaha.

5. Perdagangan/ Berwirausaha Pekerjaan Mulia Dalam Islam

Pekerjaan berdagang ini mendapat tempat terhormat dalam ajaran Islam, seperti disabdakan
Rasul :

“ Mata pencarian apakah yang paling baik, Ya Rasulullah?”Jawab beliau: Ialah seseorang yang
bekerja dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang bersih.” (HR. Al-Bazzar).

Dalam QS.Al-Baqarah:275 dijelaskan bahwa Allah swt telah menghalalkan kegiatan jual beli
dan mengharamkan riba. Kegiatan riba ini sangat merugikan karena membuat kegiatan

i
perdagangan tidak berkembang. Hal ini disebabkan karena uang dan modal hanya berputar pada
satu pihak saja yang akhirnya dapat mengeksploitasi masyarakat yang terdesak kebutuhan hidup.

v Perilaku Terpuji dalam Perdagangan/ Berwirausaha

Menurut Imam Ghazali, ada 6 sifat perilaku yang terpuji dalam perdagangan, yaitu :
Tidak mengambil laba lebih banyak.

Membayar harga yang sedikit lebih mahal kepada pedagang yang miskin. Memurahkan harga
dan memberi potongan kepada pembeli yang miskin sehingga akan melipatgandakan pahala. Bila
membayar hutang, maka bayarlah lebih cepat dari waktu yang telah ditetapkan. Membatalkan
jual beli bila pihak pembeli menginginkannya. Bila menjual bahan pangan kepada orang miskin
secara cicilan, maka jangan ditagih apabila orang tersebut tidak mampu membayarnya dan
membebaskan ia dari hutang apabila meninggal dunia.

2. Manajemen Utang Piutang

Hutang ini sudah melekat pada kehidupan masyarakat kita. Dosa hutang tidak akan hilang
apabila tidak dibayarkan. Bahkan orang yang mati syahidpun dosa utangnya tidak berampun.
Jadi jika seseorang meninggal, maka ahli warisnya wajib melunasi hutang tersebut. Tapi jika
orang tersebut telah berusaha membayarnya, tetapi memang betul-betul tidak mampu, dan ia
kemudian meninggal dunia, maka Rasul saw menjadi penjaminnya. Seperti dalam hadis berikut :

“ Barang siapa dari umatku yang punya hutang, kemudian ia berusaha keras untuk
membayarnya, lalu ia meninggal dunia sebelum lunas hutangnya, maka aku sebagai walinya.”
(HR. Ahmad).

3. Demonstration Effect Menyebabkan Faktor Modal Menjadi Beku

Demonstration Effect atau pamer kekayaan akan dapat mengundang kecemburuan social, orang
lain menjadi iri, mengundang pencuri/perampok, membuat modal masyarakat menjadi beku dan
membuat masyarakat tidak produktif. Nabi saw menganjurkan agar kita menggunakan uang
untuk kepentingan yang di ridhoi Allah, terutama untuk tujuan pengembangan produktivitas
yang digunakan untuk kepentingan umat. Dalam sebuah hadist disebutkan :

“ Barang siapa mengurus anak yatim yang mempunyai harta, maka hendaklah ia
memperdagangkan harta ini untuknya, jangan biarkan harta itu habis termakan sedekah (zakat).”
(HR. At-Tarmidzi dan Ad-Daruquthni).

Dalam hadist tersebut dapat disimpulkan bahwa apabila kita memiliki modal, maka janganlah
disimpan begitu saja, tetapi harus digunakan untuk sesuatu yang menghasilkan.

ii
4. Membina Tenaga Kerja Bawahan

Hubungan antara pengusaha dan pekerja harus dilandasi oleh rasa kasih sayang, saling
membutuhkan, dan tolong menolong. Hal ini dapat dilihat dari hubungan dalam bidang
pekerjaan. Pengusaha menyadiakan lapangan kerja dan pekerja menerima rezeki berupa upah
dari pengusaha. Pekerja menyediakan tenaga dan kemampuannya untuk membantu pengusaha
untuk menyelesaikan pekerjaan yang diperintahkan. Majikan mempunyai hak untuk memerintah
bawahan dan mendapat keuntungan. Majikan juga mnemiliki kewajiban yaitu membayar upah
karyawan sesegera mungkin dan melindungi karyawannya. Seperi dalam hadist berikut :

“ Berikanlah kepada karyawanmu upahnya sebelum kering keringatnya.” (HR. Ibnu Majah)

Sebagai majikan kita juga harus menyayangi dan memperlakukan bawahan dengan baik karena
itu bertentangan dengan ajaran islam.

i
BAB III
PENUTUP

3.1 kesimpulan

Sebagai Makhluk Tuhan Yang Maha Esa kami menyadari bahwa masih banyak hal-hal
yang kami lakukan sebagai kesalahan .Hendaknya kesalahan tersebut dapat kami perbaiki
melalui saran dan kritik yang kami harapkan dari pembaca dan peserta diskusi .Dan kami
ucapkan terima kasih atas partisipasi yang telah di berikan ,semoga makalah ini dapat
memberikan manfaan bagi kita semua

10
Daftar Pustaka

http://islamicentrepreneurship.blogspot.com

www.kompasiana.com

http://azizmudzakir90.blogspot.com

http://mutiaairen.blogspot.com

11