Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Kebijakan deviden merupakan bagian yang tidak dapat dipisahan dengan keputusan
pendanaan perusahaan. Secara definisi, kebijakan deviden adalah keputusan apakah laba
yang diperoleh perusahaan pada akhir tahun akan dibagi kepada pemegang saham dalam
bentuk deviden atau akan ditahan untuk menambah modal guna pembiayaan investasi
dimasa yang akan datang.
Kebijakan deviden merupakan salah satu kebijakan dalam perusahaan yang harus
diperhatikan dan dipertimbangkan secara seksama. Dalam kebijakan deviden ditentukan
jumlah alokasi laba yang dapat dibagikan kepada para pemegang saham (deviden) dan
alokasi laba yang dapat ditahan perusahaan. Semakin besar laba yang ditahan, semakin
kecil laba yang akan dibagikan pada para pemegang saham. Dalam pengalokasian laba
tersebut timbul lah berbagai masalah yang dihadapi.
Keuntungan perusahaan merupakan faktor pertama yang biasanya menjadi
pertimbangan direksi, walaupun untuk membayar deviden perusahaan rugipun dapat
melaksanakannya, karena adanya cadangan dalam bentuk laba ditahan. Namun demikian
hubungan antara keuntungan perseroan dengan keputusan deviden masih merupakan
suatu hubungan yang vital (Robert, 1997). Perusahaan selalu berusaha meningkatkan
citranya dengan cara setiap peningkatan laba akan diikuti dengan peningkatan porsi laba
yang dibagi sebagai deviden dan juga dapat mendorong peningkatan nilai saham

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Bagimana prosedur pembayaran deviden?
1.2.2 Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan deviden?
1.2.3 Apa saja dana yang bisa dibagikan sebagai deviden?
1.2.4 Apa saja Jenis-jenis pembayaran deviden?
1.2.5 Apa saja teori kebijakan deviden?
1.2.6 Apa itu information Content Hypothesis?
1.2.7 Apa itu Clintile Effect?
1.2.8 Apa itu stock devidend dan stock split?
1.2.9 Apa itu Repurchase of stock?
1.2.10 Bagaimana Kebijakan deviden dalam praktek?
1.2.11 Bagaimana contoh-contoh perhitungan didalam kebijakan deviden?

1.3 Tujuan Penulisan


1.3.1 Untuk mengetahui bagimana prosedur pembayran deviden
1.3.2 Untuk mengtahui faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan deviden
1.3.3 Untuk mengetahui dana apa saja yang dapat dibagikan sebagai deviden
1.3.4 Untuk mengeahui jenis-jenis pembayaran deviden

1
1.3.5 Untuk mengetahui teori kebijakan deviden
1.3.6 Untuk mengetahui apa itu information Content Hypothesis
1.3.7 Untuk mengetahui apa itu Clintile Effect
1.3.8 Untuk mrngetahui apa itu stock devidend dan stock split
1.3.9 Untuk mengetahui apa itu Repurchase of stock
1.3.10 Untuk mengetahui bagaimana kebijakan deviden dalam praktek
1.3.11 Untuk mengetahui bagiamana contoh-contoh perhitungan di dalam kebijakan deviden

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Prosedur Pembayaran Dividen


Pada umumnya pembayaran deviden dilakukan secara tunai. Keputusan pembayaran
deviden di indonesia berbeda dengan di negara Amerika Serikat yang menyatakan
bahwa keputusan pembagian deviden berada di tangan board of directors. Di indonesia
keputusan pembagian deviden melalui RUPS berdasarkan UU No 1 tahun 1995, pasal

2
62 ayat 1 dan 2. Apabila RUPS telah memutuskan untuk membagikan deviden, maka
tanggal tersebut merupakan declaration date.
Besarnya dividen yang dibayarkan kepada pemegang saham diputuskan dalam RUPS.
Menurut Sundjaja dan Barlian (2003 : 574) prosedur pembayaran dividen adalah
sebagai berikut :
1. Tanggal tercatatnya pemegang saham (holder of record date)
Perusahaan menutup buku mengenai transfer saham dan menyusun daftar tentang
nama-nama para pemegang saham menurut keadaan itu.
2. Tanggal tanpa dividen (ex_dividend date)
Untuk mencegah terjadinya kekacauan maka para pemegang pialang sudah
mempunyai suatu peraturan yang menyatakan bahwa pemegang saham berhak atas
dividen sampai empat hari sebelum tanggal terdaftarnya pemegang saham, hak atas
dividen itu sudah terlepas dari sahamnya.
3. Tanggal pembayaran dividen (payment date)
Merupakan tanggal nyata dimana perusahaan dalam kenyataannya mengirimkan
cek kepada nama-nama yang tercatat itu pada tanggal pembayaran.

2.2 Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen

Pada saat perusahaan menetapkan kebijakan dividen, terdapat faktor- faktor yang
harus dipertimbangkan. Menurut Sundjaja dan Barlian (2003 : 387) faktor-faktor yang
mempengaruhi dividen adalah :

1. Peraturan Hukum
a) Mengenai laba bersih menentukan bahwa dividen dapat dibayar dari laba tahun-tahun
yang lalu dan laba tahun berjalan.
b) Peraturan mengenai tindakan yang merugikan modal. Melindungi para direktur,
dengan melarang pembayaran dividen yang berasal dari modal (membagikan
investasinya bukan membagikan dividennya)
c) Peraturan mengenai tidak mampu bayar. Perusahaan tidak boleh membayar jika tidak
mampu (bangkrut).

2. Posisi Likuiditas
Laba ditahan biasanya diinvestasikan dalam bentuk aktiva yang diperlukan untuk
menjalankan usaha. Laba ditahan dari tahun ke tahun terdahulu sudah diinvestasikan dalam
bentuk mesin dan peralatan, persediaan serta barang-barang lainnya, bukan disimpan dalam
bentuk uang tunai. Oleh karena itu suatu perusahaan yang keuntungannya luar biasa mungkin
saja tidak dapat membayar dividen karena keadaan likuiditasnya. Memang perusahaan yang
sedang tumbuh biasanya betul-betul kurang dana dalam situasi seperti ini mungkin
perusahaan memutuskan untuk tidak membayar dividen dalam bentuk tunai.
3
3. Membayar Pinjaman
Jika perusahaan telah melakukan pinjaman untuk memperluas usahanya atau untuk
pembiayaan lainnya maka ia dapat melunasi pinjamannya pada saat jatuh tempo atau ia dapat
menyisihkan cadangan-cadangan untuk melunasi pinjaman itu nantinya. Jika diputusakan
bahwa pinjaman itu akan dilunasi, maka biasanya harus ada laba ditahan.

4. Kontrak Pinjaman
Kontrak pinjaman apabila menyangkut pinjaman jangka panjang, seringkali
membatasi kemampuan perusahaan untuk membayar dividen tunai. Pembatasan yang
dimaksudkan untuk melindungi para kreditur yaitu dividen yang akan datang hanya akan
boleh dibayar dari keuntungan yang diperoleh sesuai ditandatanganinya kontrak pinjaman
(artinya tidak boleh dibayarkan pada laba tahun yang ditahan).

5. Pengembalian Aktiva
Semakin cepat pertumbuhan perusahaan, semakin besar kebutuhannya untuk
membiayai pengembangan aktiva perusahaan, semakin banyak dana yang dibutuhkan
dikemudian hari, semakin banyak laba apabila ingin menambah modal dari luar maka sumber
alami yang tersedia adalah para pemegang saham sekarang yang sudah mengenal perusahaan.
Jika keuntungannya dibayarkan kepada mereka sebagai dividen dan terkena tarif pajak
perorangan yang tinggi, maka hanya sebagian laba saja yang dapat ditanam kembali.

6. Tingkat Pengembalian
Tingkat pengembalian atas asset menentukan laba pembentukan dividen yang dapat
digunakan oleh pemegang saham baik ditanamkan kembali di dalam perusahaan maupun di
tempat lain.

7. Stabilitas Keuntungan
Perusahaan yang keuntungannya relatif teratur seringkali dapat memperkirakan
bagaimana keuntungan di kemudian hari, maka keuntungan seperti itu kemungkian besar
akan membagikan keuntungan dalam bentuk dividen dengan persentase yang lebih besar
dibandingkan dengan perusahaan yang keuntungannya yang berfluktuasi.

8. Pasar Modal
Perusahaan besar yang sudah mantap dengan profitabilitas yang tinggi dan
keuntungan yang teratur dapat dengan mudah dapat masuk ke pasar modal atau memperoleh
4
macam-macam dana dari luar untuk pembiayaannya. Perusahaan yang sudah mantap akan
mempunyai tingkat dividen yang lebih tinggi dibandingkan perusahaan kecil atau yang masih
baru.

9. Kendali Perusahaan
Jika perusahaan hanya memperkuat usahanya dari pembiayaan intern maka
pembiayaan dividen akan berkurang, kebijakan ini dijalankan atas pertimbangan bahwa
menambah modal dengan menjual saham biasanya akan mengurangi pengendalian atas
perusahaan itu oleh golongan pemegang saham yang kini sedang berkuasa. Selain itu
penjualan saham tambahan akan memperbesar risiko fluktuasinya keuntungan bagi para
pemegang saham.

10. Keputusan Kebijakan Dividen


Hampir semua perusahaan ingin mempertahankan dividend per share pada tingkat
yang konstan. Tetapi naiknya dividen selalu terlambat dibandingkan dengan naikya
keuntungan, artinya dividen itu baru akan dinaikkan jika sudah jelas bahwa meningkatnya
keuntungan itu benar-benar mantap dan nampak cukup permanen.

2.3 Dana yang Bisa Dibagikan sebagai Dividen

Prakteknya pembagian dividen dikaitkan dengan laba yang diperoleh perusahaan tersedia
bagi pemegang saham. Laba ini ditunjukkan dalam laporan rugi laba yang disebut sebagai
laba setelah pajak (Earning after taxes).

Besarnya dana yang bisa dibagikan sebagai dividen (atau diinvestasikan kembali) sama
dengan laba setelah pajak. Dana yang diperoleh dari hasil operasi selama satu periode
tersebut adalah sebesar laba setelah pajak ditambah dengan penyusutan. Meskipun demikian,
bukan berarti bahwa kita bisa membagikan jumlah ini sebagai dividen. Karena kalau seluruh
dana tersebut dibagikan sebagai dividen, maka perusahaan tidak akan bisa melakukan
penggantian aktiva tetap dimasa yang akan datang. Kalau ini terjadi maka kemampuan
perusahaan untuk menghasilkan laba akan berkurang.

5
Berdasarkan teori keuangan, jumlah dana yang bisa dibagikan sebagai dividen bisa
dinyatakan dalam persamaan sebagai berikut :

Dividen = EAT + Penyusutan - Investasi A.T. - Penambahan M.K.

Dimana :
EAT : Laba setelah pajak
AT : Aktva tetap
MK : Modal kerja

Persamaan tersebut menunjukkan bahwa dana yang bisa dibagikan sebagai dividen
merupakan kelebihan dana yang diperoleh dari operasi perusahaan (yaitu EAT + Penyusutan)
di atas keperluan investasi untuk menghasilkan laba di masa yang akan datang (investasi pada
aktiva tetap dan modal kerja). Hanya saja untuk menyederhanakan analisis sering
diasumsikan bahwa investasi pada aktiva tetap akan diambil dari penyusutan, dan modal

kerja dianggap tidak berubah. Sehingga dengan asumsi seperti itu maka besarnya dividen
ditentukan oleh EAT.

Maksimum Dividen = EAT

Apabila dividen yang dibagikan (Divident Payout Ratio) misalnya hanya 40% dari
EAT, maka ini berarti bahwa yang 60% dipergunakan untuk menambah dana untuk
penyusutan untuk investasi pada aktiva tetap dan penambahan modal kerja.

2.4 Jenis-jenis Pembayaran Dividen


1. Pembayaran Deviden yang Stabil
Perusahaan yang menganut kebijakan untuk membayarkan deviden per lembar
saham dalam jumlah yang stabil cenderung untuk memiliki payout ratio yang
rendah pada saat profit tinggi dan memiliki payout ratio yang tinggi pada saat profit
mengalami penurunan. Alasan untuk memberikan deviden yang stabildengan cara
membiarkan payout ratio berfluktuasi adalah agar harga saham lebih tinggi. Hal ini
mudah dipahami karena
a. Deviden yang berfluktuasi lebih berisiko daripada deviden yang stabil,
oleh karena itu tingkat discount rate yang lebih rendah akan diterapkan
pada deviden yang stabil sehingga nilai saham lebih tinggi.

6
b. Pemegang saham yang mengharapkan pendapatan dari penerimaan
deviden akan lebih suka untuk menerima deviden dalam jumlah yang
stabil dan mengharapkan adanya premium atas saham itu.
c. Persyaratan listing surat berharga mensyaratkan deviden yang stabil
dan tidak terputus.
2. Residual Decision of Devidend
Penentuan besarnya deviden dipengaruhi oleh ada tidaknya kesempatan investasi
yang menguntungkan. Sejauh terdapat investasi yang menguntungkan maka dana
yang diperoleh dari operasi perusahaan akan digunakan untuk investasi tesebut.
Kalau terdapat sisa barulah sisa tersebut dubagikan sebagai deviden. Apabila
pendapat ini dianut maka kita akan mengamati pola pembayaran deviden yang
sangat erratic. Suatu perusahaan membagikan deviden sangat banyak karena tidak
ada investasi yang menguntungkan, pada saat lain tidak membagikan deviden sama
sekali karena seluruh dana digunakan untuk investasi.
3. Payout Ratio yang Konstan
Beberapa perusahaan memilih untuk mempertahankan persentase payout atas laba
yang konstan. Dengan demikian apabila laba yang diperoleh berfluktuasi, maka
deviden yang dibayarkan juga akan berfluktuasi. Kebijakan ini cenderung tidak
akan memaksimumkan nilai saham perusahaan.
4. Pembayaran Deviden Reguler yang Rendah Disertai Pembayaran Ekstra
Kebijakan terakhir merupakan kebijakan yang moderat yaitu merupakan kompromi
atas dua kebijakan satu dan tiga yang lebih fleksibel.

Berikut ini beberapa bentuk kebijakan dividen menurut Sutrisno (2003) adalah:

1. Kebijakan pemberian dividen stabil

Kebijakan pemberian dividen yang stabil ini artinya dividen akan diberikan secara

tetap perlembarnya untuk jangka waktu tertentu walaupun laba yang diperoleh

perusahaan berfluktuasi. Dividen stabil ini dipertahankan untuk beberapa tahun, dan

kemudian bila laba yang diperoleh meningkat dan peningkatannya baik dan stabil,

maka deviden juga akan ditingkatkan untuk selanjutnya dipertahankan selama

beberapa tahun. Kebijakan pemberian dividen yang stabil ini banyak dilakukan oleh

perusahaan, karena beberapa alasan yakni (1) bisa meningkatkan harga saham, sebab

dividen yang stabil dan dapat diprediksi dianggap mempunyai resiko yang kecil, (2)

7
bisa memberikan kesan kepada para investor bahwa perusahaan mempunyai prospek

yang baik dimasa yang akan datang, (3) akan menarik investor yang memanfaatkan

dividen untuk keperluan konsumsi, sebab dividen selalu dibayarkan.

2. Kebijakan deviden yang meningkat

Dengan kebijakan ini, perusahaan akan membayarkan dividen kepada pemegang

saham dengan jumlah yang selalu meningkat dengan pertumbuhan yang stabil.

3. Kebijakan dividen dengan rasio yang kostan

Kebijakan ini memberikan dividen yang besarnya mengikuti besarnya laba yang

diperoleh perusahaan. Semakin besar laba yang diperoleh semakin besar dividen yang

dibayarkan, demikian pula sebaliknya bila laba kecil dividen yang dibayarkan juga

kecil. Dasar yang digunakan sering disebut dividend payout ratio (DPR).

4. Kebijakan pemberian dividen regular yang rendah ditambah ekstra

Kebijakan pemberian dividen dengan cara ini, perusahaan menentukan jumlah

pembayaran dividen per lembar yang dibagikan kecil, kemudian ditambahkan dengan

ekstra dividend bila keuntungannya mencapai jumlah tertentu.

2.5 Teori Kebijakan Dividen

Hal yang terpenting dari kebijakan dividen adalah apakah kebijakan tersebut dapat
mempengaruhi kekayaan pemegang saham dengan mengubah rasio pembayaran dividen.
Beberapa teori menyatakan bahwa kebijakan dividen tidak mempengaruhi harga saham,
namun ada pula teori yang menyatakan kebijakan dividen mempengaruhi harga saham.
Kebijakan dividen yang optimal (optimal dividend policy) ialah kebijakan dividen yang
menciptakan keseimbangan diantara dividen saat ini dan pertumbuhan di masa mendatang,
sehingga memaksimumkan harga saham perusahaan.

Berikut merupakan teori mengenai kebijakan dividen menurut Sartono (2001 : 288)
yaitu :
1. Irrelevant Dividend

8
Modigliani-Miller berpendapat bahwa kebijakan dividen tidak relevan, berarti
bahwa tidak ada kebijakan dividen yang optimal karena kebijakan dividen tidak
mempengaruhi nilai perusahaan
2. Bird-In-The Hand Theory
Gordon-Lintner mempunyai pendapat lain bahwa dividen lebih kecil resikonya
dibanding degan capital gain, sehingga Gordon- Lintner menyarankan perusahaan
untuk menentukan dividend payout ratio atau bagian laba setelah pajak yang
dibagikan dalam bentuk dividen yang tinggi dan menawarkan dividend yield yang
tinggi untuk meminimumkan biaya modal the-bird-in-the-hand fallacy
Tax Differential Theory
Kelompok ketiga berpendapat bahwa karena dividen cenderung dikenakan pajak
yang lebih tinggi daripada capital gain, maka invesor akan meminta tingkat
keuntungan yang lebih tinggi untuk saham dengan dividend yield yang tinggi.
Kelompok terakhir ini menyarankan bahwa perusahaan lebih baik menentukan
dividend payout ratio yang rendah atau bahkan tidak membagikan dividen sama
sekali untuk meminimumkan biaya modal dan memaksimumkan nilai perusahaan.

2.6 Information Content Hypotesis

Manajer kenyatannya cenderung memiliki informasi yang lebih baik tentang prospek
perusahaan dibanding dengan investor atau pemegang saham, akibatnya investor menilai
bahwa capital gain lebih berisiko dibanding dengan dividen dalam bentuk kas. Kenyataannya
tersebut berakibat sering terjadi bahwa pembayaran dividen selalu diikuti dengan kenaikan
harga saham sedangkan penurunan dividen akan diikuti dengan penurunan harga saham. Hal
tersebut menunjukkan investor secara keseluruhan lebih menyukai pembayaran dividen
dibandingkan capital gain. MM berpendapat bahwa kenaikan dividen oleh investor dilihat
sebagai tanda atau signal bahwa prospek di masa datang lebih baik. Sebaliknya penurunan
dividen akan dilihat sebagai tanda bahwa prospek perusahaan menurun.

MM berkesimpulan bahwa reaksi investor terhadap perubahan dividen tidak berarti


sebagai indikasi bahwa investor lebih menyukai dividen dibanding dengan laba ditahan.
Kenyataan bahwa harga saham mengikuti perubahan dividen semata-mata karena adanya
information content dalam pengumumandividen. Banyak penelitian telah dilakukan untuk
menguji hipotesis ini, namun demikian hingga saat ini untuk menentukan apakah perubahan
harga saham yang mengikuti perubahan dividen disebabkan karena: (a) kebijakan dividen
satu tanda bagi investor disebut juga dengan signaling, (b) karena memang investor lebih

9
menyukai dividen daripada capital gain disebut juga dengan preference effect, (c) atau karena
kombinasi keduanya.

2.7 Clintile Effect


Jika perusahaan menahan laba setelah pajak yang diperoleh, investor yang menyukai
pembayaran deviden akan kecewa. Memang para investor tersebut akan menerima capital
again, tetapi untuk memenuhi kebutuhannya mereka terpaksa harus menjual sebagian
sahamnya. Sementara investor yang memilih untuk menginvestasikan kembali
pendapatannya, menghendaki perusahaan untuk membayar deviden yang rendah, karena bagi
mereka pembayaran deviden yang besar berarti pajak yang harus dibayar juga semakin besar.
Ini terjadi karena mungkin kenaikan devidenmengakibatkan kenaikan tarif pajak pendapata
sehingga deviden tidak begitu menguntungkan dibandingkan dengan kenaikan pajak yang
harus dibayar. Dengan demikian paling tidak terdapat dua kelompok investor dengan dua
kepentingan yang bertentangan.
Dengan adanya dua kelompok investor tersebut, perusahaan dapat menentukan
kebijakan deviden yang oleh manajemen dianggap paling baik. Kemudian biarkan investor
yang tidak menyukai kebijakan deviden perusahaan menjual saham mereka. Dengan kata lain
biarlah melakukan pemindahan investasi dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya. Tetapi
perlu diingat bahwa transaksi ini berlangsung efisien karena adanya biaya transaksi dan
pembayaran sebagai akibat penjualan saham.

2.8 Stock Dividen dan Stock Split

Kadang-kadang perusahaan memutuskan untuk membagikan stock dividend atau


pembayaran dividen dalam bentuk saham. Kondisi ini mengakibatkan jumlah lembar saham
akan bertambah sebesar jumlah lembar saham yang dibagikan sebagai dividen. Misalkan
stock dividend 20%, ini berarti bahwa setiap pemiik sepuluh lembar saham akan memperoleh
tambahan saham sebanyak dua lembar, atau dengan kata lain jumlah lembar saham akan
meningkat sebesar 20%.

Stock dividend tidak mengakibatkan kekayaan pemegang saham meningkat, karena


meningkatnya jumlah lembar saham diimbangi dengan turunnya harga saham dengan
proporsi yang sama. Tetapi jika pemegang saham berpendapat bahwa dana yang dibagikan
dalam bentuk dividen diinvestasikan kembali dan diharapkan memberikan hasil yang
menguntungkan sehingga Price earning ratio (PER) perusahaan meningkat, maka
profitabilitas perusahaan akan meningkat.

10
Kadang-kadang perusahaan melakukan pemecahan saham (stock split), sehingga
mengakibatkan jumlah lembar saham menjadi bertambah/berkurang. Tujuan utama
perusahaan melakukan stock split adalah untuk meningkatkan likuiditas dalam perdagangan
perusahaan (artinya saham perusahaan lebih sering diperdagangkan). Tidak likuidnya saham
seringkali disebabkan oleh : (1) harga saham terlalu mahal dan jumlah lembar saham terlalu
sedikit; (2) harga saham terlalu murah sehingga investor mempersepsikan perusahaan kurang
memiliki prospek. Dengan memecah saham, misalnya dari satu menjadi tiga, maka harga
saham akan turun menjadi sepertinya (kalau prospek dan risiko tidak berubah), jumlah
lembar saham akan meningkat tiga kali. Demikian juga sebaliknya dengan menggabungkan
tiga menjadi satu maka harga saham akan naik tiga kali, sehingga jumlah lembar saham akan
berkurang sepertiganya.

Berikut diuraikan persamaan, perbedaan serta identifikasi karakteristik antara stock dividen
dengan stock split.

Perbedaan antara stock dividend dan stock split:


a. Stock dividend adalah hanya merupakan pemindahan bukuan saja dari rekening laba
yang ditahan ke dalam rekening modal saham. Stock dividend merupakan
pembayaran dividen dengan saham.

b. Stock split merupakan pemecahan nilai saham ke dalam nilai nominal yang lebih kecil
sehingga jumlah lembar saham yang beredar meningkat.

Persamaan antara stock dividend dan stock split adalah :


a. Tidak ada pendistribusian kas dalam kedua bentuk tersebut.
b. Keduanya mengakibatkan jumlah lembar saham yang beredar meningkat.
c. Total modal sendiri (net worth) tidak mengalami perubahan, tetapi hanya
komposisinya saja.

Identifikasi karakteristik:
a. Stock split tidak mempengaruhi rekening modal tetapi stock dividend meningkatkan
rekening modal dan mengurangi laba yang ditahan.
b. Stock split mungkin akan merubah par value tetapi stock dividend tidak merubah par
value.

11
c. Banyak bukti yang mendukung bahwa stock split dan stock dividend meningkatkan
kemakmuran pemegang saham.
Contoh :

Berikut ini adalah modal sendiri sebuah perusahaan yang sedang mengalami
pertumbuhan:

Saham biasa @ nominal Rp 4.000 Rp 4.000.000.000

Capital surplus Rp 10.000.000.000

Laba yang ditahan Rp 29.000.000.000

Total Modal sendiri Rp 43.000.000.000

Saham perusahaan tersebut saat ini dijual dengan harga Rp 50.000,00 per lembar saham.

a. Tunjukkan pengaruh 4 for 1 stock split?


b. Tunjukkan pengaruh kebijakan stock dividend 20%?

Jawab:

a.

Saham biasa @ nominal Rp 1.000 *) Rp 4.000.000.000


Capital surplus Rp 10.000.000.000
Laba yang ditahan Rp 29.000.000.000
Total modal sendiri Rp 43.000.000.000
*) stock split hanya akan mempengaruhi jumlah lembar saham menjadi 4.000.000
lembar dan nilai nominal menjadi Rp 1.000,00 per lembar saham.

b. Jumlah lembar saham lama 1.000.000

Stock dividend 20%

Saham baru yang dibagikan 200.000

Harga per lembar saham Rp 50.000,-


12
Saham biasa @ nominal Rp 4.000 *) Rp 4.800.000.000
Capital surplus Rp 19.200.000.000
Laba yang ditahan Rp 10.000.000.000
Total modal sendiri Rp 43.000.000.000
*) jumlah lembar saham setelah stock dividend meningkat sebanyak 200.000 lembar.
Dengan demikian, maka sebesar Rp 10.000.000.000,00 harus didistribusikan dari laba
ditahan ke:

- Saham biasa (Rp 4.000 x 200.000) = Rp 800.000.000

- Capital surplus Rp 10.000.000.000 - Rp 800.000.000 = Rp 9.200.000.000

2.9 Repurchase of Dividen

Perusahaan sering harus melakukan Repurchase of Stock atau pembelian kembali


sahamnya karena memiliki kelebihan kas , dan tidak ada kesempatan investasi yang
menguntungkan. Alasan lain mungkin karena perusahaan akan melakukan penggabungan
usaha dengan perusahaan lain . Dalam kondisi ini tak ada kesempatan investasi yang
menguntungkan , maka pemberian dividen atau pembelian saham tidak ada pajak dan biaya
transaksi bagi investor sama saja . Dengan pembelian kembali , maka jumlah lembar saham
akan lebih besar , akhirnya harga pasar saham akan meningkat .

;;;;;;;;;
Contoh :
Suatu perusahaan memiliki laba dan harga pasar saham sebagai berikut .
Laba setelah pajak 40.000.000
Jumlah saham beredar 500.000
Laba per lembar saham 80
Harga pasar saham setelah dividen 960
P/E ratio 12 kali

Misalkan perusahaan akan membagikan keuntungan sebesar Rp. 20.000.000 sebagai


pembayaran dividend an pembelian saham , maka dividen per lembar saham menjadi
20.000.000/500.000 = 40,00 . Dengan demikian , investor berharap harga saham
sebelum dividen dibayarkan adalah sebesar Rp.1000.000

Misalkan Perusahaan akan membeli saham dengan dana Rp. 20.000.000 , maka akan
dapat dibeli saham sebanyak Rp.20.000.000 / 1000 = 20.000 lembar saham , sehingga

13
jumlah lembar saham yang beredar menjadi 48.000 lembar . Jadi keuntungan per
lembar saham menjadi Rp. 40.000.000 / 480.000 = Rp.83,33

Apabila P/E ratio perusahaan tidak berubah sebesar 12 kali , maka harga pasar saham
secara keseluruhan tidak mengalami perubahaan yakni 83.33 x 12 = Rp. 1000.000 .
Dengan demikian , yang diterima investor baik lewat pembagian dividen maupun
pembelian kembali saham adalah sama sebesar Rp. 40,00

Untuk melakukan pembelian kembali ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu
perusahaan memberikan penawaran atau dengan cara membeli langsung ke pasar . Dengan
tender penawaran , perusahaan membuat penawaran formal kepada pemegang saham untuk
membeli sejumlah sahamnya pada tingkat harga tertentu . Harga itu biasanya sedikit di atas
harga pasar saat ini , kemudian pemegang saham dapat mengumpulkan sahamnya untuk
kemudian dibeli perusahaan .

Cara lain adalah dengan membeli langsung di pasar modal dalam hal ini peran pialang
akan membantu . Sebagai imbalannya perusahaan melakukan pemberian fee sebesar
presentase tertentu . Sebelum perusahaan melakukan pembelian saham sebaiknya perusahaan
memberikan informasi terlebih dahulu kepada pemegang saham mengenai tujuan dan
diadakannya pembelian kembali saham perusahaan .

Brigham dan Housten ( 2002 ) mengungkapkan keuntungan dan kerugian repurchases


of stock ialah :

1. Keuntungan Repurchases of stock :

a. Repurchases of Stock dipandang sebagai indikasi bahwa saham dinilai terlalu


rendah atau undervalued

b. Pemegang saham memiliki pilihan untuk menjual saham mereka atau tidak

c. Dari pandangan manajemen pembelian kembali saham memberikan beberapa


keuntungan bila dibandingkan dengan pembayaran dividen . Misal , bila
terjadi kelebihan aliran kas yang bersifat sementara , manajemen lebih baik
mendistribusikan aliran kas tersebut dalam bentuk repurchases of stock dari

14
pada membayar pembayaran dividen memiliki konsukensi untuk
mempertahankan kenaikan di masa dating .

d. Merupakan satu cara praktis bagi manajemen untuk melakukan restrukturisasi


keuangan perusahaan . Misal perusahaan mungkin akan menjadi lebih baik
apabila menggunakan utang lebih besar dalam struktur modalnya . Salah satu
cara yang dapat ditempuh dengan mengeluarkan obligasi kemudian melakukan
repurchases of stock dengan menggunakan dana yang berasal dari penjualan
obligasi .

2. Kerugian repurchases of stock :

a. Perusahaan mungkin membayar terlalu tinggi untuk repurchases of stock


perusahaan , sehingga sangat merugikan pemegang saham yang memilih untuk
tidak menjual sahamnya .

b. Tidak semua investor memperoleh manfaat atas repurchases of stock , karena


tidak mengetahui implikasinya saat ini dan prosper di masa mendatang .

c. Perusahaan bisa dikenakan pinalti apabilan alasan repurchases of stock ini


dilakukan untuk menghindari pajak atas dividen

d. Beberapa investor memandang bahwa Repurchases of stock dalam jumah


merupakan indikasi perusahaan tidak memiliki pertumbuhan yang baik

2.10 Kebijakan Dividen dalam Praktik

Apabila perusahaan mempertimbangkan akan menginvestasikan keuntungan yang


diperoleh, sementara pemegang saham menghendaki untuk menerima deviden maka
perusahaan harus mengeluarkan saham baru. Bagaimana pengaruh kedua alternatif tersebut ?
misalkan neraca perusahaan manufaktur adalah sbb.

Kas 200.000.000
Aktiva Lain 1.800.000.000 Modal Sendiri 2.000.000.000

Total 2.000.000.000 ;Total 2.000.000.000

15
Misalkan pada kesempatan tersebut tersedia kesempatan invetasi yang diharapkan
memberikan NPV Rp 50 juta, dan memerlukan dana sebesar Rp 200 juta. Apabila para
pemegang saham memutuskan untuk mengambil investasi tersebut ( tidak perlu menerbitkan
saham baru) karena dana yang ada dalam perusahaan masih mencukupi maka rencananya
akan sebagai berikut.

Kas 50.000.000
PV investasi 200.000.000 Modal sendiri 2.050.000.000
Aktiva lain 1.800.000.000
Total 2.050.000.000 Total 2.050.000.000

Sekarang misalkan para pemegang saham menginginkan membagi deviden Rp 200


juta tetapi tetap ingin mengambil investasi dengan NPV Rp 50 juta tersebut, maka perusahaan
perlu menerbitkan saham baru. Misalnya Floatation cost, 3%, maka jumlah saham baruyang
harus dikeluarkan adalah sebesar Rp 206.185.567, dimana yang Rp 6.185.567 merupakan
floatation cost.

Kas 50.000.000 Modal


PV investasi 200.000.000 Sendiri lama 1.834.814.433
Aktiva Lain 1.800.000.000 Modal
Sendiri baru 206.185.567
Total 2.050.000.000 Total 2.050.000.000

2.11 Contoh-Contoh Perhitungan Kasus Dalam Kebijakan Deviden

A. Soal ( Stock Deviden)

PT ADI mempunyai struktur modal sebagai berikut :

Saham Biasa
( Rp 6.000 – 300.000 lbr) Rp 1.800.000.000
Capital Surplus Rp 900.000.000
Laba Ditahan Rp 5.000.000.000
Modal Sendiri Rp 7.700.000.000

Perusahaan menentukan stock deviden 5%, harga Pasar saham Rp 12.000/lbr, jadi ada
tambahan saham sebesar :

16
5% X 300.000 lbr = 15.000 Lbr
(300.000 lbr/15.000 lbr) = 20 lbr, Jadi setiap 20 Lbr saham mendapatkan 1 lbr saham
baru.
Setelah stock deviden, maka struktur modal perusahaan adalah sebagai berikut:
Saham Biasa
(Rp 6.000 – 315.000 lbr) Rp 1.890.000.000
Capital Surplus Rp 990.000.000
Laba Ditahan Rp 4.820.000.000
Modal Sendiri Rp 7.700.000.000

Stock deviden = Rp 12.000 X 15.000 lbr


= Rp 180.000.000
Ditransfer dari laba ditahan ke saham biasa dan capital surplus.
Ke saham Biasa = 15.000 X Rp 6.000
=Rp 90.000.000
Sisanya Rp 90.000.000 ke capital Surplus

Misalkan:
Investor semula 30.000 lbr saham, maka nilai saham nya yaitu
= 30.000 lbr X Rp 12
= 360.000.000
Setelah stock deviden, maka nilai pasar saham akan turun sebesar
Rp 12.000 X (1-30.000/31.500) = Rp 571,43
Dengan demikian nilai keseluruhan saham yang dimiliki adalah
Rp 31.500 X (Rp 12.000 – 571,43) = Rp 360.000.000
Jadi modal sendiri perusahaan tidak mengalami perubahan, oleh karena itu stock
deviden tidak memberikan pengaruh terhadap kemakmuran pemegang saham kecuali
tambahan saham.

17
B. Soal (Stock Split)

Misalkan PT ADI menentukan stock split 1 lembar saham menjadi 2 lembar


saham, maka perhitungannya yaitu:

SEBELUM PEMECAHAN SESUDAH PEMECAHAN


Saham biasa Saham biasa
(Rp 6.000 x 300.000) Rp 1.800.000.000 (Rp 3.000 x 600.000) Rp 1.800.000.000
Cap. Surplus Rp 900.000.000 Cap. Surplus Rp 900.000.000
Laba Ditahan Rp 5.000.000.000 Laba Ditahan Rp 5.000.000.000
Modal sendiri Rp 7.700.000.000 Modal sendiri Rp 7.700.000.000

C. Soal (Repurchases)
PT ADI mempertimbangkan untuk membagikan labanya sebesar Rp 200.000.000
dalam bentuk deviden atau melakukan pembelian kembali sahamnya. Diketahui EAT
= Rp 300.000.000 jumlah saham yang beredar 500.000 lembar dan harga pasar saham
sekarang Rp 10.000
Informasi keuangan tersebut diketahui sbb.
EAT Rp 300.000.000
Jumlah saham beredar 500.000
Laba per lembar saham/EPS
(Rp 300.000.000/500.000) Rp 600
Harga pasar saham sekarang Rp 10.000
Deviden per lembar saham
(Rp 200.000.000/500.000) Rp 400

Nilai Saham = Rp 400 + Rp 10.000


= Rp10.400
Misalkan perusahaan memilih membeli kembali sebagian sahamnya, perusahaan
mampu membeli sebanyak : 200.000.000/ Rp 10.400 = 19.230,77
EPS = Rp 300.000.000 / (500.000 - 19.230,77) = Rp 624
Apabila perusahaan memilih membayar deviden k;as, PER setelah deviden :
Rp 10.000 / Rp 600 = 16,66 kali

18
;Harga per lembar saham = 16,66 X 624 = 10.395,84 dibulatkan menjadi Rp 10.400
Kedua alternatif itu sama dan distribusi kepada pemegang saham Rp 240 per lbr, baik
pembagian deviden kas maupun pembelian kembali saham.
D. Soal 1
Perusahaan C sedang merencanakan untuk memperluas sarana produksinya tahun
depan dengan investasi Rp 15.000.000 rasio hutang terhadap total aset saat ini
adalah40% dan itu dianggap merupakan struktur optimal, laba setelah pajak saat ini
Rp 8.000.000 jika perusahaan mempertahankan 60% deviden payout rationya berapa
banyak eksternal equity yang diperlukan untuk membiayai ekspansi tersebut?
Laba Setelah Pajak
Deviden payout Rp 8.000.000
Deviden 60%
Laba Ditahan Rp 4.800.000
Capital Budget Rp 15.000.000
Debt to total asset 40%
Total Utang Rp 6.000.000
Total Equity Rp 9.000.000
Laba ditahan Rp 4.800.000
Eksternal Equity Rp 4.200.000

E. Soal 2
Perusahaan D memperoleh laba setelah pajak sebesar Rp 14.000.000 tahun yang
lalu dan membagikannya dalam bentuk deviden sebesar Rp 4.000.000 laba
tersebut telah tumbuh dengan tingkat pertumbuhan sebesar 5% per tahun selama
10 tahun. Pada waktu ini perusahaan memperoleh laba sebesar Rp 16.000.000
kesempatan investasi yang tersedia sebesar Rp 12.000.000 hitunglah deviden
untuk tahun ini dibawah setiap kebijakan berikut ini.
a. Payout yg konstan?
b. Pertumbuhan deviden yg stabil?
c. Residual deviden policy (anggap perusahaan berharap akan
mempertahankan debt to total assets ratio 40%)

Jawab:
a. Payout ratio = Rp 4.000.000 / Rp 14.000.000
= 28%
= 28% (Rp 16.000.000) = Rp 4.480.000

19
b. Pertumbuhan 5% sehingga deviden yang dibayarkan
= (1+5%)(Rp 4.000.000)
= Rp 4.200.000

c. Investasi Rp 12.000.000
Persentase equity financing 60%
Equity Financing Rp 7.200.000
Laba yang diperoleh Rp 16.000.000
Deviden yang dibagikan Rp 8.800.000

BAB III

PENUTUP

20
3.1 Kesimpulan

Pada umumnya pembayaran deviden dilakukan secara tunai. Keputusan pembayaran


deviden di indonesia berbeda dengan di negara Amerika Serikat yang menyatakan bahwa
keputusan pembagian deviden berada di tangan board of directors. Di indonesia keputusan
pembagian deviden melalui RUPS berdasarkan UU No 1 tahun 1995, pasal 62 ayat 1 dan 2.
Prakteknya pembagian dividen dikaitkan dengan laba yang diperoleh perusahaan tersedia
bagi pemegang saham. Laba ini ditunjukkan dalam laporan rugi laba yang disebut sebagai
laba setelah pajak (Earning after taxes).

Besarnya dana yang bisa dibagikan sebagai dividen (atau diinvestasikan kembali)
sama dengan laba setelah pajak. Dana yang diperoleh dari hasil operasi selama satu periode
tersebut adalah sebesar laba setelah pajak ditambah dengan penyusutan. Meskipun demikian,
bukan berarti bahwa kita bisa membagikan jumlah ini sebagai dividen. Karena kalau seluruh
dana tersebut dibagikan sebagai dividen, maka perusahaan tidak akan bisa melakukan
penggantian aktiva tetap dimasa yang akan datang. Kalau ini terjadi maka kemampuan
perusahaan untuk menghasilkan laba akan berkurang. Hal yang terpenting dari kebijakan
dividen adalah apakah kebijakan tersebut dapat mempengaruhi kekayaan pemegang saham
dengan mengubah rasio pembayaran dividen. Beberapa teori menyatakan bahwa kebijakan
dividen tidak mempengaruhi harga saham, namun ada pula teori yang menyatakan kebijakan
dividen mempengaruhi harga saham. Kebijakan dividen yang optimal (optimal dividend
policy) ialah kebijakan dividen yang menciptakan keseimbangan diantara dividen saat ini dan
pertumbuhan di masa mendatang, sehingga memaksimumkan harga saham perusahaan.

Untuk melakukan pembelian kembali ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu
perusahaan memberikan penawaran atau dengan cara membeli langsung ke pasar . Dengan
tender penawaran , perusahaan membuat penawaran formal kepada pemegang saham untuk
membeli sejumlah sahamnya pada tingkat harga tertentu . Harga itu biasanya sedikit di atas
harga pasar saat ini , kemudian pemegang saham dapat mengumpulkan sahamnya untuk
kemudian dibeli perusahaan . Cara lain adalah dengan membeli langsung di pasar modal
dalam hal ini peran pialang akan membantu . Sebagai imbalannya perusahaan melakukan
pemberian fee sebesar presentase tertentu . Sebelum perusahaan melakukan pembelian saham
sebaiknya perusahaan memberikan informasi terlebih dahulu kepada pemegang saham
mengenai tujuan dan diadakannya pembelian kembali saham perusahaan .

3.2 Saran
21
Dalam pembuatan makalah ini penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan, maka dari itu penulis berharap kritik dan saran dari para pembaca agar
makalah selanjutnya akan lebih baik lagi. Semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca
untuk menambah wawasan.

DAFTAR REFERENSI

22
Wiagustini, Ni Luh Putu. (2014). Manajemen Keuangan. Denpasar. Udayana University
Press

Ridwan S. Sundjaja dan Inge Barlian, 2002, Manajemen Keuangan Satu, Edisi Keempat,
Prenhallindo, Jakarta.

Agus Sartono. 2001. Manajemen Keuangan Dan Teori Aplikasi. Edisi Keempat.BPFE
Jakarta, Yogyakarta.

Brigham,EF. And Michael C, Ehrdardt. (2002). Financial Management. (tenth Edition)..


Harcourt College Publishers.Orlando

Sutrisno, 2003, Manajemen Keuangan (Teori, Konsep, dan Aplikasi), Edisi Pertama, Cetakan
Kedua, EKONISIA, Yogyakarta.

23
24