Anda di halaman 1dari 34

ASUHAN KEPERAWATAN

PADA LANSIA DENGAN PENURUNAN FUNGSI


PERNAFASAN

OLEH

KELOMPOK 2

ANGGOTA :

1. DITA ANDRIANI DAUD SUYADI


2. DWI HASTUTI
3. ELIS SULISTIANAWATI
4. EMMILIA AGUSTINA GULTOM
5. ENDANG SRI WAHYUNI
6. EPA YOHANTI

Dosen Pembimbing
Ns. RINA PUSPITA SARI,M.Kep.,Sp.Kep.Kom

PROGRAM STUDI S 1
KEPERAWATAN YATSI TANGERANG
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa
atas segala rahmat-Nya sehingga kelompok dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul “Asuhan Keperawatan pada Lansia dengan penurunan Fungsi
pernafasan” dengan tepat waktu.
Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada semua pihak yang telah
membantu dalam penyusunan makalah. Kami juga menyadari bahwa makalah
ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu kritik dan saran sangat kami
harapkan dari para pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Demikianlah makalah ini kami buat untuk memenuhi kebutuhan akan
pengetahuan kita semua. Semoga bermanfaat.
Terimakasih.

Tangerang, Agustus 2017

Penyusun

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR …………………….………………………….. i


DAFTAR ISI …………………………………………………………. ii
BAB I PENDAHULUAN …………………………………………. 1
A. Latar Belakang …………………………………………… 1
B. Tujuan Penulisan ………………………………………… 2
1. Tujuan Umum …………………………………….. 2
2. Tujuan Khusus ……………………………………….. 2
C. Ruang Lingkup Penulisan …………………………………. 3
D. Metode Penulisan ……………………………………… 3

BAB II LANDASAN TEORI ……………………………………… 4


A. Konsep Dasar Lansia …………………………………… 4
1. Pengertian ……………………………………………. 4
2. Batasan Lansia ………………………………………. 4
3. Tipe Lansia ………………………………………….. 5
4. Proses Penuaan ……………………………………… 5
B. Perubahan-perubahan Yang terjadi pada usia lanjut ……... 6
1. Penurunan Kondisi Fisik ……………………………… 6
2. Penurunan Fungsi & Potensi Seksual ……………….. 7
3. Perubahan Aspek Sosial …………………………...... 7
4. Perubahan yang berkaitan dengan pekerjaan ………….. 8
5. Perubahan dalam peran social dan masyarakat ……… 9
C. Perubahan anatomi Fisiologi sistem pernafasan pada lansia .. 10
1. Perubahan anatomi pada pernafasan …………………. 10
2. Perubahan Fisiologi pada pernafasan ………………… 11
3. Faktor-faktor yang memperburuk fungsi paru ……….. 12
4. Pernyakit pernafasan pada usia lanjut ………………. 13
D. Fatogenesis Penyakit Paru pada usia lanjut ……………….. 14
1. Perubahan anatomi Fisiologis ………………………… 14

2
2. Perubahan daya tahan tubuh …………………………. 15
3. Perubahan metabolik tubuh …………………………… 15
4. Perubahan respon terhadap obat …………………….. 15
5. Perubahan degenerative ……………………………… 15
6. Perubahan atau kejadian lainnya …………………….. 16

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN ……………………………….. 17


A. Pengkajian …………………………………………….. 17
B. Analisa Data …………………………………………… 21
C. Diagnosa Keperawatan ………………………………….. 23
D. Rencana Asuhan Keperawatan …………………………. 23

BAB IV PENUTUP …………………………………………………. 27


A. Kesimpulan …………………………………………….. 27
B. Saran ……………………………………………………. 27

DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………. 29

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada usia lanjut terjadi perubahan anatomi-fisiologi dan dapat timbul pula
penyakit-penyakit pada sistem pernafasan. Usia harapan hidup lansia di
Indonesia semakin meningkat karena pengaruh status kesehatan, status gizi,
tingkat pendidikan, ilmu pengetahuan dan sosial ekonomi yang semakin
meningkat sehingga populasi lansia pun meningkat.
Apabila taraf hidup masyarakat meningkat, ditambah dengan
berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran, maka dapat
memberikan dampak yang sangat luas bagi masyarakat. Dampak yang timbul
antara lain angka kejangkitan dan kematian penyakit-penyakit Infeksi
menurun, sedangkan insidensi penyakit lain (misalnya kardiovaskuler)
meningkat.
Dengan pertambahan umur, ditambah dengan adanya faktor-faktor lingkungan
yang lain, terjadilah perubahan anatomik-fisiologik tubuh. Salah satu organ
tubuh yang mengalami perubahan anatomik-fisiologik akibat bertambahnya
usia seseorang adalah sistem pernafasan, dapat timbul penyakit-penyakit pada
sistem pernafasan. Umumnya, penyakit-penyakit yang diderita kelompok usia
lanjut merupakan : kelanjutan penyakit yang diderita sejak umur muda, akibat
gejala sisa penyakit yang pernah diderita sebelumnya, penyakit akibat kebiasaan-
kebiasaan tertentu di masa lalu (misalnya kebiasaan merokok, minum alkohol
dan sebagainya), dan penyakit-penyakit yang mudah terjadi akibat usia lanjut.
Penyakit-penyakit paru yang diderita kelompok usia lanjut juga mengikuti
pola penyebab atau kejadian tersebut.
Peningkatan insiden dan prevalensi pneumonia pada lansia juga dikaitkan
dengan penyakit komorbid yang diderita pasien, seperti diabetes melitus,
penyakit jantung, malnutrisi, dan penyakit hati kronik. Sebagai contoh,
diabetes melitus menyebabkan penurunan fungsi sistim imun tubuh baik proses

1
kemotaksis maupun fagositosis. Pada gagal jantung kongestif yang disertai
edema paru, fungsi clearance paru berkurang sehingga kolonisasi kuman
pernafasan mudah berkembangbiak. Pasien yang sebelumnya sering
mengonsumsi obat-obatan yang bersifat sedatif atau hipnotik berisiko tinggi
mengalami aspirasi sehingga mempermudah terjadinya infeksi. Hal itu
disebabkan kedua obat tersebut menekan rangsang batuk dan kerja
clearance mukosilier.
Dampak yang diakibatkan meliputi masa rawat yang lebih panjang, biaya
rawat yang lebih besar serta sering timbulnya komplikasi berat sehingga
menimbulkan penurunan kualitas hidup. Infeksi saluran nafas atas dan
influenza malah sering berlanjut menjadi pneumonia yang gejala dan tanda
pneumonia pada lansia sering tidak khas yang menyebabkan keterlambatan
diagnosis, belum lagi meningkatnya resistensi mikroba terhadap antibiotika.
Adapun peran kita sebagai seorang perawat dalam mencegah ataupun
menangani gangguan yang terjadi pada sistem pernapasan lansia adalah
memberikan pendidikan kesehatan pada lansia untuk mencegah terjadinya
gangguan yang lebih kronis dan memberikan tindakan keperawatan sesuai
wewenang kita sebagai seorang perawat sesuai indikasi yang diderita oleh
lansia (Geffen, 2006).

B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan umum

Mahasiswa mengetahui bagaimana konsep teori serta asuhan keperawatan


yang tepat untuk lansia dengan gangguan sistem pernafasan.

2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui konsep lansia

b. Untuk mengetahui perubahan anatomi dan fisiologi sistem respirasi


pada lansia

2
c. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada lansia dengan penurunan
fungsi pernafasan

C. Ruang Lingkup Penulisan


Penyusunan ini hanya membahas tentang perubahan fisiologis sistem
respiratori dan asuhan keperawatan pada lansia dengan penurunan fungsi
pernafasan

D. Metode Penulisan
Penulisan ini menggunakan metode deskriptif yaitu dengan menggambarkan
perubahan fisiologis sistem respiratori dan terapi modalitas sistem respiratori
pada lansia dengan studi literature yang diperoleh dari buku-buku
perpustakaan, internet dan hasil dari diskusi kelompok yang disajikan dalam
bentuk makalah.

3
BAB II

LANDASAN TEORI

A. Konsep Dasar Lansia


1. Pengertian
Usia lanjut adalah suatu kejadian yang pasti akan dialami oleh semua
orang yang dikaruniai usia panjang, terjadinya tidak bisa di hindari
siapapun. Usia tua adalah periode penutup dalam rentang hidup
seseorang, yaitu periode dimana seseorang telah “beranjak jauh” dari
periode terdahulu yang lebih menyenangkan atau beranjak dari waktu
yang penuh dengan manfaat (Hurlock, 2000).
Menurut Undang-Undang RI nomor 13 tahun 1998, Depkes (2001) yang
dimaksud dengan usia lanjut adalah seorang laki – laki atau perempuan
yang berusia 60 tahun atau lebih, baik yang secara fisik masih
berkemampuan ( potensial) maupun karena sesuatu hal yang tidak
mampu berperan aktif dalam pembangunan (tidak potensial).
Wheeler, mengungkapkan usia tua tidak hanya dilihat dari perhitungan
kronologis atau berdasarkakan kalender saja, tetapi juga menurut kondisi
kesehatan seseorang ( health age ). Sehingga umur sesungguh nya dari
seseorang merupakan gabungan dari ketiga - tiganya (Nugroho, 2008).
Jadi dapat disimpulkan bahwa lansia adalah suatu periode penutup
dalam hidup seseorang baik laki-laki maupun perempuan yang berusia 60
tahun atau lebih yang secara fisik masih potensial maupun tidak
potensial.

2. Batasan Lansia
Menurut Setyonegoro, dalam Nugroho ( 2008), pengelompokkan usia
lanjut adalah sebagai berikut :

4
a. Usia dewasa muda ( Elderly adulhood), 18 atau 20 – 25 tahun
b. Usia dewasa penuh ( middle years ) atau maturitas, 25 – 60 atau 65
tahun
c. Lanjut usia ( geriatric age ), lebih dari 65 atau70 tahun. Terbagi
untuk umur 70 – 75 tahun ( young old), 75– 80 tahun (old), dan lebih
dari 80 tahun ( very old ).
Sedangkan menurut WHO tahun 2005, Lanjut usia meliputi usia
pertengahan yakni kelompok usia 45-59 tahun, Lanjut usia (Elderly)
yakni 60-74 tahun, usia lanjut tua (Old) yakni 75-90 tahun, dan usia
sangat tua (very old) yakni lebih dari 90 tahun.
3. Tipe Lansia
Beberapa tipe lansia tergantung dari karakter, pengalaman hidup,
lingkungan, kondisi fisik, mental, sosial dan ekonomi (Nugroho, 2008).
Tipe tersebut antara lain :
a. Tipe arif bijaksana kaya dengan hikmah, pengalaman, menyesuaikan
diri dengan perubahan zaman, mempunyai kesibukan, bersikap
ramah, rendah hati, sederhana, dermawan, memenuhi undangan, dan
menjadi panutan
b. Tipe mandiri mengganti kegiatan yang hilang dengan yang baru,
selektif dalam mencari pekerjaan, bergaul dengan teman, dan
memenuhi undangan
c. Tipe tidak puas konflik lahir batin menentang proses penuaan
sehingga menjadi pemarah, tidak sabar, mudah tersinggung, sulit
dilayani, pengkritik dan banyak menuntut
d. Tipe pasrah menerima dan menunggu nasib baik, mengikuti kegiatan
agama, dan melakukan pekerjaan apa saja
e. Tipe bingung kaget, kehilangan kepribadian, mengasingkan diri,
minder, menyesal, pasif, dan acuh tak acuh

4. Proses penuaan

5
Penuaan merupakan konsekuensi yang tidak bisa dihindari oleh setiap
manusia. Walaupun proses penuaan merupakan suatu proses yang
normal, akan tetapi keadaan ini lebih menjadi beban. Hal ini secara
keseluruhan tidak dapat dipungkiri oleh beberapa orang yang lebih
merasa menderita karena pengaruh penuaan. Proses penuaan mempunyai
konsekuensi terhadap aspek biologis, psikologis dan sosial (Watson,
2003).

B. Perubahan-perubahan yang terjadi pada usia lanjut


Untuk dapat mengatakan bahwa suatu kemunduran fungsi tubuh adalah
disebabkan oleh proses menua dan bukan disebabkan oleh penyakit yang
menyertai proses menua, ada 4 kriteria yang harus dipenuhi :

- Kemunduran fungsi dan kemampuan tubuh tadi harus bersifat universal,


artinya umum terjadi pada setiap orang.
- Proses menua disebabkan oleh faktor intrinsik, yang berarti perubahan
fungsi sel dan jaringan disebabkan oleh penyimpangan yang terjadi di dalam
sel dan bukan oleh faktor luar.
- Proses menua terjadi secara progresif, berkelanjutan, berangsur Iambat dan
tidak dapat berbalik lagi.
- Proses menua bersifat proses kemunduran/kerusakan (injury).

1. Penurunan Kondisi Fisik

Setelah orang memasuki masa lansia umumnya mulai dihinggapi adanya


kondisi fisik yang bersifat patologis berganda ( multiple pathology ),
misalnya tenaga berkurang, energi menurun, kulit makin keriput, gigi
makin rontok, tulang makin rapuh dan sebagainya. Secara umum kondisi
fisik seseorang yang sudah memasuki masa lansia mengalami penurunan
secara berlipat ganda. Hal ini semua dapat menimbulkan gangguan atau
kelainan fungsi fisik, psikologik maupun sosial, yang selanjutnya dapat
menyebabkan suatu keadaan ketergantungan kepada orang lain.

6
Dalam kehidupan lansia agar dapat tetap menjaga kondisi fisik yang sehat,
maka perlu menyelaraskan kebutuhan-kebutuhan fisik dengan kondisi
psikologik maupun sosial, sehingga mau tidak mau harus ada usaha untuk
mengurangi kegiatan yang bersifat memforsir fisiknya. Seorang lansia
harus mampu mengatur cara hidupnya dengan baik, misalnya makan, tidur,
istirahat dan bekerja secara seimbang (Nugroho, 2008).

2. Penurunan Fungsi dan Potensi Seksual

Penurunan fungsi dan potensi seksual pada lanjut usia sering kali
berhubungan dengan berbagai gangguan fisik seperti : Gangguan jantung,
gangguan metabolisme, misal diabetes millitus, vaginitis, baru selesai
operasi : misalnya prostatektomi, kekurangan gizi, karena pencernaan
kurang sempurna atau nafsu makan sangat kurang, penggunaan obat-obat
tertentu, seperti antihipertensi, golongan steroid, tranquilizer.
Faktor psikologis yang menyertai lansia adalah :
a. Rasa tabu atau malu bila mempertahankan kehidupan seksual pada
lansia.
b. Sikap keluarga dan masyarakat yang kurang menunjang serta diperkuat
oleh tradisi dan budaya.
c. Kelelahan atau kebosanan karena kurang variasi dalam kehidupannya.

d. Pasangan hidup telah meninggal.

e. Disfungsi seksual karena perubahan hormonal atau masalah kesehatan


jiwa lainnya misalnya cemas, depresi, pikun dan sebagainya.

3. Perubahan Aspek Sosial

Pada umumnya setelah orang memasuki lansia maka ia mengalami


penurunan fungsi kognitif dan psikomotor. Fungsi kognitif meliputi proses
belajar, persepsi, pemahaman, pengertian, perhatian dan lain-lain sehingga

7
menyebabkan reaksi dan perilaku lansia menjadi makin lambat. Sementara
fungsi psikomotorik (konatif) meliputi hal-hal yang berhubungan dengan
dorongan kehendak seperti gerakan, tindakan, koordinasi, yang berakibat
bahwa lansia menjadi kurang cekatan.
Dengan adanya penurunan kedua fungsi tersebut, lansia juga mengalami
perubahan aspek psikososial yang berkaitan dengan keadaan kepribadian
lansia. Beberapa perubahan tersebut dapat dibedakan berdasarkan 5 tipe
kepribadian lansia sebagai berikut :

a. Tipe Kepribadian Konstruktif (Construction personalitiy), biasanya


tipe ini tidak banyak mengalami gejolak, tenang dan mantap sampai
sangat tua.

b. Tipe Kepribadian Mandiri (Independent personality), pada tipe ini ada


kecenderungan mengalami post power sindrome, apalagi jika pada
masa lansia tidak diisi dengan kegiatan yang dapat memberikan
otonomi pada dirinya.

c. Tipe Kepribadian Tergantung (Dependent personalitiy), pada tipe ini


biasanya sangat dipengaruhi kehidupan keluarga, apabila kehidupan
keluarga selalu harmonis maka pada masa lansia tidak bergejolak,
tetapi jika pasangan hidup meninggal maka pasangan yang
ditinggalkan akan menjadi merana, apalagi jika tidak segera bangkit
dari kedukaannya.

d. Tipe Kepribadian Bermusuhan (Hostility personality), pada tipe ini


setelah memasuki lansia tetap merasa tidak puas dengan
kehidupannya, banyak keinginan yang kadang-kadang tidak
diperhitungkan secara seksama sehingga menyebabkan kondisi
ekonominya menjadi morat-marit.

e. Tipe Kepribadian Kritik Diri (Self Hate personalitiy), pada lansia tipe
ini umumnya terlihat sengsara, karena perilakunya sendiri sulit
dibantu orang lain atau cenderung membuat susah dirinya.

8
4. Perubahan yang Berkaitan dengan Pekerjaan
Pada umumnya perubahan ini diawali ketika masa pensiun. Meskipun
tujuan ideal pensiun adalah agar para lansia dapat menikmati hari tua atau
jaminan hari tua, namun dalam kenyataannya sering diartikan sebaliknya,
karena pensiun sering diartikan sebagai kehilangan penghasilan,
kedudukan, jabatan, peran, kegiatan, status dan harga diri. Reaksi setelah
orang memasuki masa pensiun lebih tergantung dari model kepribadiannya
seperti yang telah diuraikan pada point tiga di atas.
Dalam kenyataan ada menerima, ada yang takut kehilangan, ada yang
merasa senang memiliki jaminan hari tua dan ada juga yang seolah-olah
acuh terhadap pensiun (pasrah). Masing-masing sikap tersebut sebenarnya
punya dampak bagi masing-masing individu, baik positif maupun negatif.
Dampak positif lebih menenteramkan diri lansia dan dampak negatif akan
mengganggu kesejahteraan hidup lansia. Agar pensiun lebih berdampak
positif sebaiknya ada masa persiapan pensiun yang benar-benar diisi
dengan kegiatan-kegiatan untuk mempersiapkan diri, bukan hanya diberi
waktu untuk masuk kerja atau tidak dengan memperoleh gaji penuh.
Persiapan tersebut dilakukan secara berencana, terorganisasi dan terarah
bagi masing-masing orang yang akan pensiun. Jika perlu dilakukan
assessment untuk menentukan arah minatnya agar tetap memiliki kegiatan
yang jelas dan positif. Untuk merencanakan kegiatan setelah pensiun dan
memasuki masa lansia dapat dilakukan pelatihan yang sifatnya
memantapkan arah minatnya masing-masing. Misalnya cara
berwiraswasta, cara membuka usaha sendiri yang sangat banyak jenis dan
macamnya.
Model pelatihan hendaknya bersifat praktis dan langsung terlihat hasilnya
sehingga menumbuhkan keyakinan pada lansia bahwa disamping
pekerjaan yang selama ini ditekuninya, masih ada alternatif lain yang
cukup menjanjikan dalam menghadapi masa tua, sehingga lansia tidak
membayangkan bahwa setelah pensiun mereka menjadi tidak berguna,
menganggur, penghasilan berkurang dan sebagainya (Nugroho, 2008).

9
5. Perubahan dalam Peran Sosial di masyarakat
Akibat berkurangnya fungsi indera pendengaran, penglihatan, gerak
fisik dan sebagainya maka muncul gangguan fungsional atau bahkan
kecacatan pada lansia. Misalnya badannya menjadi bungkuk, pendengaran
sangat berkurang, penglihatan kabur dan sebagainya sehingga sering
menimbulkan keterasingan. Hal itu sebaiknya dicegah dengan selalu
mengajak mereka melakukan aktivitas, selama yang bersangkutan masih
sanggup, agar tidak merasa terasing atau diasingkan. Karena jika
keterasingan terjadi akan semakin menolak untuk berkomunikasi dengan
orang lain dan kdang-kadang terus muncul perilaku regresi seperti mudah
menangis, mengurung diri, mengumpulkan barang-barang tak berguna
serta merengek-rengek dan menangis bila ketemu orang lain sehingga
perilakunya seperti anak kecil.
Dalam menghadapi berbagai permasalahan di atas pada umumnya lansia
yang memiliki keluarga bagi orang-orang kita (budaya ketimuran) masih
sangat beruntung karena anggota keluarga seperti anak, cucu, cicit, sanak
saudara bahkan kerabat umumnya ikut membantu memelihara (care)
dengan penuh kesabaran dan pengorbanan. Namun bagi mereka yang tidak
punya keluarga atau sanak saudara karena hidup membujang, atau punya
pasangan hidup namun tidak punya anak dan pasangannya sudah
meninggal, apalagi hidup dalam perantauan sendiri, seringkali menjadi
terlantar (Nugroho, 2008).

C. Perubahan anatomi fisiologi sistem pernapasan pada lansia


Berikut adalah penjelasan tentang penyakit pernapasan pada lansia yang
dimulai dengan penjelasan tentang perubahan anatomi dan fisiologik jantung:
1. Perubahan anatomi pada pernafasan
Efek penuaan tersebut dapat terlihat dari perubahan-perubahan yang terjadi
baik dari segi anatomi maupun fisiologinya. Perubahan-perubahan anatomi
pada lansia mengenai hampir seluruh susunan anatomik tubuh, dan
perubahan fungsi sel, jaringan atau organ. Perubahan anatomi yang terjadi
turut berperan terhadap perubahan fisiologis sistem pernafasan dan
kemampuan untuk mempertahankan homeostasis. Penuaan terjadi secara

10
bertahap sehingga saat seseorang memasuki masa lansia, ia dapat
beradaptasi dengan perubahan yang terjadi. Perubahan anatomik sistem
respirastory akibat penuaan adalah sebagai berikut :
a. Paru-paru kecil dan kendur.
b. Pembesaran alveoli.
c. Penurunan kapasitas vital, penurunan PaO2 dan residu
d. Kelenjar mucus kurang produktif
e. Pengerasan bronkus dengan peningkatan resistensi
f. Penurunan sensivitas sfingter esophagus .
g. Klasifikasi kartilago kosta, kekakuan tulang iga pada kondisi
pengembangan.
h. Hilangnya tonus otot toraks, kelemahan kenaikan dasar paru.
Penurunan sensivitas kemoreseptor.

2. Perubahan Fisiologik pada pernapasan


Menurut Stanley, 2006 perubahan anatomi dan fisiologi yang terjadi pada
lansia, yaitu:
Hilangnya silia serta terjadinya penurunan reflex batuk dan muntah pada
lansia menyebabkan terjadinya penurunan perlindungan pada sistem
respiratory. Hal ini terjadi karena saluran pernafasan tidak akan segera
merespon atau bereaksi apabila terdapat benda asing didalam saluran
pernafasan karena reflex batuk dan muntah pada lansia telah
mengalami penurunan.
Penurunan kompliants paru dan dinding dada. Hal ini menyebabkan
jumlah udara (O2) yang dapat masuk ke dalam saluran pernafasan
menurun dan menyebabkan terjadinya peningkatan kerja pernafasan guna
memenuhi kebutuhan tubuh.
Atrofi otot pernafasan dan penurunan kekuatan otot pernafasan. Kedua hal
ini menyebabkan pengembangan paru tidak terjadi sebagai mestinya
sehingga klien mengalami kekurangan suplay O2 dan hal ini dapat
menyebabkan kompensasi penigkatan RR yang dapat menyebabkan
kelelahan otot-otot pernafasan pada lansia.
Perubahan interstisium parenkim dan penurunan daerah permukaan
alveolar menyebabkan menurunnya tempat difusi oksigen yang
menyebabkan klien kekurangan suplai O2.

11
Penurunan mortilitas esophagus dan aster serta hilangnya tonus sfringter
kardiak. Hal ini menyebabkan lansia mudah mengalami aspirasi yang
apabila terjadi dapat mengganggu fisiologis pernafasan.
Paru-paru kecil dan mengendur. Paru-paru yang mengecil menyebabkan
ruang atau permukaan difusi gas berkurang bila dibandingkan dengan
dewasa.

3. Faktor-Faktor Yang Memperburuk Fungsi Paru


Selain penurunan fungsi paru akibat proses penuaan, terdapat beberapa
faktor yang dapat memperburuk fungsi paru, Faktor-faktor
yang memperburuk fungsi paru antara lain :
a. Faktor merokok
Merokok akan memperburuk fungsi paru, yaitu terjadi penyempitan
saluran nafas. Pada tingkat awal, saluran nafas akan
mengalami obstruksi clan terjadi penurunan nilai VEP1 yang besarnya
tergantung pada beratnya penyakit paru.
b. Obesitas
Kelebihan berat badan dapat memperburuk fungsi paru seseorang.
Pada obesitas, biasanya terjadi penimbunan lemak pada leher,
dada dan (finding perut, akan dapat mengganggu compliance dinding
dada, berakibat penurunan volume paru atau terjadi keterbatasan
gerakan pernafasan (restriksi) dan timbul gangguan fungsi paru tipe
restriktif.
c. Imobilitas
Imobilitas akan menimbulkan kekakuan atau keterbatasan gerak saat
otot-otot berkontraksi, sehingga kapasitas vital paksa atau
volume paru akan relatif' berkurang. Imobilitas karena kelelahan otot-
otot pernafasan pada usia lanjut dapat memperburuk fungsi paru
(ventilasi paru). Faktor-faktor lain yang menimbulkan imobilitas
(paru), misalnya efusi pleura, pneumotoraks, tumor paru dan

12
sebagainya. Perbaikan fungsi paru dapat dilakukan dengan menjalankan
olah raga secara intensif.
d. Operasi
Tidak semua operasi (pembedahan) mempengaruhi faal paru. Dari
pengalaman para ahli diketahui bahwa yang pasti
memberikan pengaruh faal paru adalah:
1) Pembedahan toraks (jantung dan paru)
2) Pembedahan abdomen bagian atas.
3) Anestesi atau jenis obat anastesi tertentu
Perubahan fungsi paru yang timbul, meliputi perubahan proses
ventilasi, distribusi gas, difusi gas serta perfusi darah kapiler paru.
Adanya perubahan patofisiologik paru pasca bedah mudah menimbulkan
komplikasi paru : atelektasis, infeksi atau sepsis dan selanjutnya mudah
terjadi kematian, karena timbulnya gagal nafas.

4. Penyakit pernapasan pada Usia Lanjut

Pada proses menua terjadi penurunan kompliance dinding dada, tekanan


maksimal inspirasi dan ekspirasi menurun dan elastisistas jaringan paru
juga menurun. Pada pengukuranterlihat FEV1, FVC menurun, PaO 2
menurun, V/Q naik. Penurunan ventilasi alveolar, merupakan resiko
untuk terjadinya gagal napas. Selain itu terjadi perubahan berupa
(Lukman, 2009):

a. Otot pernafasan kaku dan kehilangan kekuatan, sehingga volume


udara inspirasiberkurang, sehingga pernafasan cepat dan dangkal.

b. Penurunan aktivitas silia menyebabkan penurunan reaksi batuk


sehingga potensialterjadi penumpukan sekret.

c. Penurunan aktivitas paru ( inspirasi & ekspirasi ) sehingga jumlah


udara pernafasan yangmasuk keparu mengalami penurunan, kalau
pada pernafasan yang tenang kira kira 500 ml.

13
d. Alveoli semakin melebar dan jumlahnya berkurang (luas
permukaan normal 50m²), menyebabkan terganggunya proses
difusi.

e. Penurunan oksigen (O2) Arteri menjadi 75 mmHg menggangu


proses oksigenasi darihemoglobin, sehingga O2 tidak terangkut
semua kejaringan.

f. CO2 pada arteri tidak berganti sehingga komposisi O2 dalam arteri


juga menurun yang lama kelamaan menjadi racun pada tubuh
sendiri.

g. Kemampuan batuk berkurang, sehingga pengeluaran sekret &


corpus alium dari saluran nafas berkurang sehingga potensial
terjadinya obstruksi.

Penyebab kegawatan napas pada lansia meliputi obstruksi jalan napas


atas, hipoksia karena penyakit paru obstruktif kronik (PPOK),
pneumotoraks, pneumonia aspirasi, rasa nyeri, bronkopneumonia,
emboli paru, dan asidosis metabolik. Akan tetapi penyakit respirasi
yang sering terjadi pada lansia adalah pneumonia, tuberkulosis paru,
sesak napas, nyeri dada.

D. Patogenesis penyakit paru pada usia lanjut


Mekanisme timbulnya penyakit yang menyertai usia lanjut dapat dijelaskan atau
dapat dikaitkan dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada usia lanjut.
Perubahan-perubahan tersebut. adalah :

1. Perubahan anatomis - fisiologis


Dengan adanya perubahan anatomis – fisiologis sistem pernafasan
ditambah adanya faktor-faktor lainnya dapat memudahkan timbulnya
beberapa macam penyakit paru: bronkitis kronis, emfisema paru, PPOM,
TB paru, kanker paru dan sebagainya.

14
2. Perubahan daya tahan tubuh
Pada usia lanjut terjadi penurunan daya tahan tubuh, antara lain karena
lemahnya fungsi limfosit B dan T, sehingga penderita rentan terhadap
kuman-kuman pathogen virus, protozoa, bakteri atau jamur.

3. Perubahan metabolik tubuh


Pada orang usia lanjut sering terjadi perubahan metabolik tubuh, dan paru
dapat ikut mengalami perubahan penyebab tersering adalah penyakit-
penyakit metabolik yang bersifat sistemik: diabetes mellitus, uremia, artritis
rematoid dan sebagainya. Fakator usia peranannya tidak jelas, tetapi
lamanya menderita penyakit sistemik mempunyai andil untuk timbulnya
kelainan paru tadi.

4. Perubahan respons terhadap obat


Pada orang usia lanjut, bisa terjadi bahwa penggunaan obat-ohat tertentu
akan nemnemberikansan respons atau perubahan pada paru dan saluran
nafas, yang mungkin perubahan-perubahan tadi tidak terjadi pada usia
muda. Contoh, yaitu penyakit paru akibat idiosinkrasi terhadap obat yang
sering digunakan dalam pengobatan penyakit yang sedang dideritanya
yang mana proses tadi jarang terjadi pada usia muda.

5. Perubahan degenerative
Perubahan degeneratif merupakan perubahan yang tidak dapat
dielakkaan terjadinya pada individu-individu yang mengalami proses
penuaan. Penyakit paru yang timbul akibat proses (perubahan)
degeneratif tadi, misalnya terjadinya bronkitis kronis, emfisema paru,
penyakit paru obstruktif menahun, karsinoma paru yang terjadinya pada
usia lanjut dan sebagainya.

15
6. Perubahan atau kejadian lainnya
Ada pengaruh-pengaruh lain yang terjadi sebelum atau selama usia
lanjut yang dapat mempengaruhi dirinya sehingga dapat memudahkan
penyakit paru tertentu pada usia lanjut, misalnya :

 Kebiasaan merokok masa lalu dan sekarang


Merokok yang berlangsung lama dapat menimbulkan perubahan-
perubahan struktur pada saluran nafas, juga dapat menurunkan fungsi
sistem pertahanan tubuh yang diperankan oleh paru dan saluran nafas,
sehingga memudahkan timbulnya infeksi pada paru dan saluran nafas.
Merokok selain dapat memberikan perubahan- perubahan pada saluran
nafas, dapat pula memudahkan timbulnya keganasan paru, PPOM,
bronkitis kronis dan sebagainya.

 Pengaruh atau akibat kekurangan gizi


Pada usia lanjut telah diketahui terjadi penurunan daya tahan tubuh,
terutama respons imun seluler. Ini merupakan konsekuensi lanjut atas
terjadinya involusi kelenjar timus pada usia lanjut. Proses
involusi kelenjar timus menyebabkan jumlah hormon timus yang
beredar dalam peredaran darah menurun, berakibat proses pemasakan
limfosit T berkurang dan limfosit T yang beredar dalam peredaran darah
juga berkurang. Imunitas humoral pada usia lanjut juga terdapat
perubahan yang berarti, bahkan terdapat peninggian kadar autoantibodi.
IgA dan IgG terdapat peningkatan, sedangkan IgM mengalami
penurunan.

16
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
1. Identitas
a. Nama : Tn Y
b. Jenis kelamin : Laki-laki
c. Umur : 63 Tahun
d. Agama : Islam
e. Status perkawinan : Menikah
f. Pendidikan : SMA
g. Pekerjaan : Pensiuan
h. Alamat rumah : Kp. C Tangerang

2. Riwayat kesehatan :
a. Masalah kesehatan yang pernah dialami :
Pasien pernah mengalami sesak nafas yang hilang timbul sejak 5
tahun yang lalu.
b. Masalah kesehatan yang dirasakan saat ini :
 Pasien mengeluh sesak nafas yang semakin meningkat sejah 2 hari
yang lalu, sesak dirasakan terus menerus, sesak semakin meningkat
saat beristirahat, dan berkurang saat posisi duduk, sesak tidak di
pengaruhi oleh emosi, cuaca, maupun makanan
 Batuk sejak 2 minggu yang lalu, batuk berdahak warna putih
kehijauan, tidak batuk darah, tidak ada nyeri dada
 Nyeri ulu hati sejak 1 minggu yang lalu, pasien merasa mual dan
muntah. Apabila batuk suka di sertai muntah
c. Masalah kesehatan keluarga/ keturunan:

17
Tn Y tidak mempunyai penyakit keturunan seperti hipertensi &
kencing manis.

d. Riwayat Sosial Ekonomi :


Tn Y adalah pensiunan PNS, Tn Y merokok sejak usia 15 tahun, dan
berhenti merokok di usia 55 tahun, pasien merokok ± 2 bungkus / hari.

3. Keadaan Biologis
a. Pola makan : makan 2 kali sehari makan bubur atau nasi dengan sayur
yang berkuah dengan porsi yang sekitar 5 sendok makan karena sesak,
mual dan tidak nafsu makan
b. Pola minum : Minum 5 gelas sehari
c. Pola Tidur : Tidur malam sekitar 5 jam sehari dengan posisi setengah
duduk karena sesak, tidak tidak terlalu nyenyak
d. Pola Eliminasi (BAB/BAK) :
BAB 1 kali/hari, BAK 5 – 6 kali/hari
e. Pola Aktivitas :
Pasien mengeluh sulit beraktivitas karena sesak, hanya bisa
beraktivitas di tempat tidur, bila berjalan walaupun hanya ke kamar
mandi pasien merasa tidak kuat.
f. Pola Rekreasi
Rekreasi 1 tahun sekali kalau diajak anak-anaknya saat liburan.

4. Keadaan Psikologis
a. Keadaan emosi
Pasien merasa cemas dengan penyakitnya, dan tidak mau di tinggal
sendirian.

5. Sosial
a. Dukungan Keluarga

18
Keluarga sangat mendukung Tn Y, selalu bergantian mendampingi Tn
Y selama sakit terutama istrinya.

b. Hubungan antar keluarga


Tn Y dan istrinya hidup rukun dengan anak-anaknya, anak-anaknya
membantu menjaga Tn Y selama sakit.
c. Hubungan dengan orang lain
Tn Y sering berkumpul dengan tetangganya di acara pengajian atau
kegiatan lainnya.

6. Spiritual / Kultural
a. Pelaksanaan ibadah
Tn Y selalu melaksanakan sholat 5 waktu dan sering mengikuti
pengajian di mesjid dekat rumahnya
b. Keyakinan tentang kesehatan
Tn Y yakin apabila dia berobat, Allah akan memberi kesembuhan.

7. Pemeriksaan Fisik
a. Tanda Vital
 Keadaan Umum : Pasien tambah Sesak
 Kesadaran : Compos mentis
 Suhu : 37,7 0C
 Nadi : 88 x / menit
 Tekanan Darah : 140/90 mmHg
 Pernafasan : 26 x / menit, nafas cepat dan dangkal
 Tinggi badan : 160 cm
 Berat badan : 50 Kg
 IMT : 19,5

b. Pemeriksaan Khusus

19
 Kepala
- Rambut : Beruban
- Mata : Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikhterik
- Hidung : Tidak ada pernafasan cuping hidung, tidak
ada sekret
- Mulut : Simetris, Tidak ada sariawan
- Telinga : Simetris, tidak ada serumen, fungsi
pendengaran agak berkurang
 Leher : Tidak ada pembesaran KGB
 Dada / Thorax
- Paru-paru
Inspeksi : Ada penggunaan otot bantu pernafasan
Palpasi : Vocal Fremitus simetris kanan-kiri
Perkusi : Sonor seluruh lapang paru
Auskultasi : ekspirasi memanjang, Wheezing +/+
- Jantung : Bunyi jantung reguler, Bising jantung (-)
 Abdomen :
Inspeksi : Perut tampak datar, tidak ada scar
Palpasi : Nyeri tekan (+) epigastrum
Perkusi : Timpani seluruh kuadran abdomen
Auskultasi : Bising usus (+) normal
 Muskuloskeletal : Akral hangat, CRT < 2 detik, edema (-)
Pembengkakan pada ekstremitas bawah

8. Informasi penunjang
a. Diagnosa Medik : PPOM
b. Laboratorium
HB : 13,9 g%
Ht : 41 %
Leukosit : 13,000/mm3

20
Trombosit : 249.000/mm3
c. Rontgen Thorax
Paru : Corakan Bronkovaskuler meningkat, infiltrat
di paru kiri
Jantung : CTR < 50 %
Diafragma : Sudut costofrenikus lancip
Kesan : Bronkitis kronik
d. Rencana Pemeriksaan
 Spirometri
 Analisis gas darah
 Sputum BTA
e. Terapi Medik
 O2 Nasal kanul 2 liter/menit
 Drip Aminophylin 7,6 cc dalam D5 % 16 tetes.menit
 Inj Cefriaxone 1 gram/12 jam/iv
 Inj metilprednisolon 125mg/12jam/iv
 inj ranitidin 50 mg/12 jam/iv
 Nebilizer : Farbivent 2,5 ml 6 x 1
 Oral : Propepsa Srp 3x 1 sdm, Azitromisin 1 x 500 mg, Paracetamol
3 x 500 mg

B. ANALISA DATA

DATA FOKUS

DS :

- Klien mengeluh sesak nafas


- Klien mengeluh Batuk sejak 2 minggu yang lalu, batuk berdahak warna
putih kehijauan, tidak batuk darah

21
- Klien mengeluh Nyeri ulu hati sejak 1 minggu yang lalu, pasien merasa
mual dan muntah. Apabila batuk suka di sertai muntah
DO :

- Pernafasan : 26 x / menit, nafas cepat dan dangkal


- Ada penggunaan otot bantu pernafasan
- Wheezing +/+

ANALISA DATA

NO DATA PENYEBAB MASALAH


1. - Klien mengeluh sesak Peningkatan Bersihan jalan nafas
nafas produksi sekret tidak efektif
- Klien mengeluh Batuk
berdahak
R = 26 x /menit
Ada otot bantu pernafasan
Whezing ++

2. - Klien mengeluh sesak Kurang suplai Gangguan


nafas oksigen pertukaran gas
- Klien mengeluh Batuk
berdahak
R = 26 x /menit
Ada otot bantu pernafasan
Whezing ++

3. Ketidakmampuan Ketidakseimbangan
- Klien mengeluh Nyeri ulu absorpsi nutrisi nutrisi
hati sejak 1 minggu yang
lalu,
- pasien merasa mual dan

22
muntah. Apabila batuk
suka di sertai muntah
- Nyeri tekan +

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan bronchospasme,
peningkatan produksi secret
2. Kerusakan Pertukaran gas yang berhubungan dengan : kurangnya suplai
oksigen, destruksi alveoli
3. Ketidakseimbangan nutrisi Kurang dari kebutuhan tubuh yang
berhubungan dengan Dypsnea, Fatique

D. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

Diagnoa Keperawatan Perencanaan


No
(NANDA) Tujuan (NOC) Intervensi (NIC) & Rasional
1 Bersihan jalan nafas tak Status Respirasi : Kepatenan a. Manajemen jalan nafas
efektif yang berhubungan Jalan nafas # dengan Rasional : untuk
dengan : skala…….. (1 – 5) setelah menghindari terjadi
diberikan perawatan nya obtruktif jalan
Bronchospasme
Peningkatan produksi selama……. Hari, dengan nafas yang disebabkan
sekret (sekret yang kriteria : oleh peningkatan
tertahan, kental) sekret
 Tidak ada demam
Data-data  Tidak ada cemas b. Latih batuk efektif

 RR dalam batas normal


Rasional : bertujuan
Klien mengeluh sulit

23
untuk bernafas  Irama nafas dalam batas untuk mengeluarkan
Perubahan
normal sekrek
kedalaman/jumlah
 Pergerakan sputum keluar
nafas, penggunaan otot c. Terapi oksigen
dari jalan nafas
bantu pernafasan Rasional : untuk
 Bebas dari suara nafas
Suara nafas abnormal: memenuhi kebutuhan
tambahan
wheezing oksigen
Batuk (persisten)
dengan produksi d. Pemberian posisi

sputum. Rasional : mengatur


posisi dapat
meningkatkan sirkulasi

e. Monitoring tanda vital


Rasional : untuk
mengetahui keadaan
umum pasien
menghindari
komplikasi

2 Kerusakan Pertukaran gas Status Respirasi : a. Manajemen asam dan


yang berhubungan dengan : basa tubuh
Pertukaran gas # dengan skala
Rasional : mencegah
Kurangnya suplai ……. (1 – 5) setelah diberikan
komplikasi akibat
oksigen (obstruksi jalan perawatan selama……. Hari
penurunan atau
nafas oleh sekret, dengan kriteria :
peningkatan PCO2
bronchospasme, air
 Status mental dalam
trapping) b. Manajemen jalan nafas
Destruksi alveoli batas normal
Rasional : untuk
 Bernafas dengan mudah
Data-data : memfasilitasi
 Tidak ada cyanosis kepatenan jalan nafas
Dyspnea  PaO2 dan PaCO2 dalam
Confusion, lemah c. Terapi oksigen
Tidak mampu batas normal
Rasional : memberikan
mengeluarkan secret  Saturasi O2 dalam

24
Nilai ABGs abnormal rentang normal oksigen dan memantau
(hipoxia dan aktivitas
hiperkapnia)
Perubahan tanda vital d. Monitoring tanda vital
Menurunnya toleransi Rasional : untuk
terhadap aktifitas. mengetahui keadaan
umum pasien
menghindari
komplikasi
3 Ketidakseimbangan nutrisi Status Nutrisi : Intake cairan a. Manajemen cairan
Kurang dari kebutuhan tubuh dan makanan gas # dengan Rasional : membantu
yang berhubungan dengan : skala ……. (1 – 5) setelah kebutuhan cairan tubuh
diberikan perawatan
Dyspnea, fatique b. Monitoring cairan
Efek samping selama……. Hari dengan Rasional : menghindari
pengobatan kriteria :
kelebihan atau
Produksi sputum
Anorexia,  Asupan makanan skala (1 kekurangan cairan
nausea/vomiting. – 5) (adekuat) c. Manajemen gangguan
 Intake cairan peroral (1– makan
Data :
5) (adekuat) Rasional : untuk
Penurunan berat badan  Intake cairan (1 – 5)
Kehilangan masa otot, mencari alternatif
(adekuat) untuk memenuhi
tonus otot jelek
Dilaporkan adanya Status Nutrisi : Intake Nutrien kebutuhan nutrisi
perubahan sensasi rasa gas # dengan skala ……. (1 –
Tidak bernafsu untuk 5) setelah diberikan perawatan d. Terapi nutrisi

makan. Rasional : memenuhi


selama……. Hari dengan
kebutuhan nutrisi
kriteria :
e. Kontroling nutrisi
 Intake kalori (1 – 5)
Rasional :
(adekuat)
mempertahankan
 Intake protein,
intake dan output
karbohidrat dan lemak (1

25
– 5) (adekuat) f. Manajemen berat
Kontrol Berat Badan gas # badan.
dengan skala ……. (1 – 5) Rasional : untuk
setelah diberikan perawatan apakah terapi diet yang
diberikan berhasil
selama……. Hari dengan
kriteria :

 Mampu memeliharan
intake kalori secara
optimal (1 – 5)
 Mampu memelihara
keseimbangan cairan (1 –
5)
 Mampu mengontrol
asupan makanan secara
adekuat (1 – 5).

26
BAB IV

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Usia lanjut adalah suatu kejadian yang pasti akan dialami oleh semua orang
yang dikaruniai usia panjang, terjadinya tidak bisa di hindari siapapun. Usia
tua adalah periode penutup dalam rentang hidup seseorang, yaitu periode
dimana seseorang telah “beranjak jauh” dari periode terdahulu yang lebih
menyenangkan atau beranjak dari waktu yang penuh dengan manfaat

Pada usia lanjut terjadi penurunan fungsi anatomi - fisiologi paru dan saluran
nafas, antara lain berupa pengurangan elastic recoil paru; kecepatan arus
ekspirasi, tekanan oksigen acted serta respons pusat reflek pernafasan terhadap
rangsangan oksigen arteri atau hiperkapnia. Hal-hal tersebut berpengaruh pada
mekanisme pertahanan tubuh terhadap timbulnya penyakit paru.
Penyakit paru yang sering ditemukan pada usia lanjut adalah infeksi saluran
nafas akut bagian bawah PPOM. Berhagai cara dapat dilakukan untuk
pencegahan terhadap timbulnya infeksi pernafasan akut bagian bawah, PPOM.
Untuk mencegah melanjunya penurunan fungsi paru, antara lain dapat diatasi
dengan melakukan olah raga atau latihan fisik yang teratur, selain meningkatkan
taraf kesehatan usia lanjut. Laju penurunan fungsi paru dapat diketahui dengan
pemeriksaan faal paru secara berkala.

27
B. SARAN
Untuk Lansia menghindari faktor resiko :

1. Anjurkan klien untuk tidak merokok


2. Anjurkan klien untuk cukup istirahat
3. Anjurkan klien untuk menghindari alergen
4. Anjurkan klien untuk mengurangi aktifitas
5. Anjurkan klien untuk mendapatkan asupan gizi yang cukup

Untuk keluarga memberikan dukungan :

1. Anjurkan keluarga untuk memberi perhatian pada klien


2. Anjurkan keluarga untuk memantau kondisi klien
3. Anjurkan keluarga untuk menciptakan lingkungan yang kondusif

28
DAFTAR PUSTAKA

Corwin, Elizabeth J. Buku saku Patofisiologi. Jakarta :EGC.

Doengoes, Marilynn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC.

Guyton, Arthur C. 1945. Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit.


Jakarta : EGC.

Lueckenotte, A.G. 2000. Gerontologic nursing. St. Louis Mosby, INC.

Long, Barbara C. 1996. Perawatan Medikal Bedah. Bandung : Yayasan Ikatan


Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran Bandung.

Matteson, M.A and MC, Connel, E.S. 1988. Gerontological nursing : Concept and
Practice. Philadelphia : WB Sounders Company.

Price, Syna, A and Wilson, Lorraine M. 1994. Patofisiologi, Konsep Klinis


proses-proses Penyakit, edisi ke-4. Jakarta : EGC.

R.Boedi-Dharmojo dan H.Hadi Martono (1999). Buku Ajar Geriatri (Ilmu


Kesehatan usia lanjut) edisi ke-3. Jakarta : EGC.

Suddarth dan Brunner. 2002. Keperawatan Medikal Bedah, edisi 8. Jakarta : EGC.

Wood, Under J.C.E. 1996. Patologi Umum dan Sistemik. Jakarta : EGC.

29
30