Anda di halaman 1dari 54

Laporan Kasus

ABNORMAL LABOR

Oleh :

Dian Arfan As Bahri 1210313009


Clarissa Fiolly R 1210312003

Pembimbing :

dr. Hj. Roza Sri Yanti, Sp.OG-K

BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
RSUP. DR. M. DJAMIL PADANG
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan

hidayahNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Kasus yang berjudul

“Abnormal Ginekologi”. Laporan Kasus ini ditujukan sebagai salah satu syarat

untuk menyelesaikan kepaniteraan klinik di bagian Obstetri dan Ginekologi.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada dr. Hj. Roza Sri Yanti, Sp.OG-

K sebagai pembimbing yang telah membantu dalam penulisan laporan kasus ini.

Penulis menyadari bahwa laporan kasus ini masih banyak kekurangan, oleh karena

itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak yang membaca demi

kesempurnaan laporan kasus ini. Penulis juga berharap laporan kasus ini dapat

memberikan dan meningkatkan pengetahuan serta pemahaman tentang “Abnormal

Labor” terutama bagi penulis sendiri dan bagi rekan-rekan sejawat lainnya.

Padang, April 2017

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Persalinan normal suatu keadaan fisiologis, normal dapat berlangsung

sendiri tanpa intervensi penolong. Kelancaran persalinan tergantung 3 faktor ”P”

utama yaitu kekuatan ibu (power), keadaan jalan lahir (passage) dan keadaan janin

(passanger). Faktor lainnya adalah psikologi ibu (respon ibu ), penolong saat

bersalin, dan posisi ibu saat persalinan.

Dengan adanya keseimbangan atau kesesuaian antara faktor-faktor "P"

tersebut, persalinan normal diharapkan dapat berlangsung. Bila ada gangguan pada

satu atau lebih faktor “P” ini, dapat terjadi kesulitan atau gangguan pada jalannya

persalinan.

Kelambatan atau kesulitan persalinan ini disebut distosia. Salah satu

penyebab dari distosia karena adalah kelainan janin. Distosia berpengaruh buruk

bagi ibu maupun janin. Pengenalan dini dan penanganan tepat akan menentukan

prognosis ibu dan janin.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Abnormal labor (Distosia)

2.1.1 Definisi

Abnormal labor atau disebut juga distosia berasal dari bahasa Yunani, Dys

atau dus berarti buruk atau jelek, tosia berasal dari tocos yang berarti persalinan,

sehingga distosia merupakan persalinan yang sulit, tidak ada kemajuan dalam

persalinan atau merupakan persalinan yang membawa satu akibat buruk bagi janin

maupun ibu (Winkjosastro et al, 2006).

2.1.2 Etiologi

Abnormal labor terjadi karena beberapa faktor, yaitu kelainan power,

passage, dan passanger :

a) Kelainan Power

Power adalah kekuatan ibu mendorong janin, yaitu kekuatan his dan kekuatan

ibu dalam mengejan. His normal yaitu his yang timbul dominan pada fundus uteri,

simetris, kekuatannya semakin lama semakin kuat dan sering serta mengalami fase

relaksasi yang baik. Kelainan his ini dapat berupa inersia uteri hipertonik atau

inersia uteri hipotonik. Kontraksi uterus atau his secara normal terjadi pada awal

persalinan yakni pada kala 1, pada awal kala 1 his yang timbul masih jarang yaitu

1 kali dalam 15 menit dengan kekuatan 20 detik, his ini semakin lama akan timbul

semakin cepat dan sering yakni interval 2 sampai 3 kali dalam 10 menit dengan

kekuatan 50 sampai 100 detik. Apabila kontraksi tidak adekuat, maka serviks tidak

akan mengalami pembukaan, sehingga pada kondisi tersebut dilakukan induksi

persalinan, dan apabila tidak ada kemajuan persalinan maka dilakukan seksio

sesaria, namun pada persalinan kala II apabila ibu mengalami kelelahan maka
persalinan dilakukan dengan menggunakan vacum ekstraksi (Cuningham et al,

2010).

Persalinan kala III yaitu melahirkan plasenta, apabila placenta belum lahir

dalam waktu 30 menit maka hal ini terjadi karena tidak ada kontraksi uterus atau

karena adanya perlengketan sehingga merangsang uterus maka di berikan

pemberian induksin dan melakukan massage uterus (Cuningham et al, 2010).

b) Kelainan Passage

Distosia karena adanya kelainan Passage yaitu karena adanya kelainan pada

jalan lahir, jalan lahir sendiri terbagi atas jalan lahir lunak dan jalan lahir keras.

Jalan lahir keras atau tulang panggul dapat berupa kelainan bentuk panggul, dan

kelainan ukuran panggul. Sedangkan jalan lahir lunak yang sering dijumpai karena

adanya tumor ovarium yang menghalangi jalan lahir dan adanya edema pada jalan

lahir yang dipaksakan (Winkjosastro et al, 2006).

Jenis kelainan pada jalan lahir keras berupa kelainan bentuk yaitu bentuk

panggul yang tidak normal, diantaranya gynecoid, antropoid, android, dan

platipeloid. Terutama pada panggul android distosia sulit diatasi, selain itu terdapat

kelainan panggul yang disertai dengan perubahan bentuk karena pertumbuhan

intrauterine yaitu panggul Naegele, robert, split pelvis dan panggul asimilasi.

Perubahan bentuk panggul juga dapat terjadi karena adanya penyakit seperti

rakhitis, osteomalasia, neoplasma, fraktur, atrifi, karies, nekrosis maupun penyakit

pada sendi sakroiliaka dan sendi sakrokoksigea. Penyakit tulang belakang seperti

kifosis, skoliosis dan spondilolistesis serta penyakit pada kaki seperti koksiis,

luksasio koksa dan atrofi atau kelumpuhan satu kaki merupakan termasuk penyulit

dalam proses persalinan pervaginam (Winkjosastro et al, 2006).


c) Kelainan Passanger

Kelainan passanger merupakan kelainan pada letak, ukuran ataupun bentuk

janin, kelainan letak ini termasuk dalam kelainan presentasi dan kelainan posisi,

pada kondisi normal, kepala memasuki pintu atas panggul dengan sutura sagitalis

dalam keadaan melintang atau oblik sehingga ubun-ubun kecil berada dikanan atau

dikiri lintang atau dikanan atau kiri belakang, setelah kepala memasuki bidang

tengah panggul (Hodge III), kepala akan memutar ke depan akibat terbentur spina

ischiadika sehingga ubun-ubun kecil berada didepan (putaran paksi dalam), namun

terkadang tidak terjadi putaran sehingga ubun-ubun kecil tetap berada dibelakang

atau melintang, keadaaan ini disebut dengan deep transvere arrest, oksipitalis

posterior persisten atau oksipitalis transversus persisten, keadaan ini akan

mempersulit persalinan (Winkjosastro et al, 2006).

Presentasi muka merupakan salah satu kelainan janin, diagnosis presentasi

muka berdasarkan pemeriksaan luar yakni dada akan teraba seperti punggung,

bagian belakang kepala berlawanan dengan bagian dada, dan daerah dada ada

bagian kecil denyut jantung janin terdengan jelas, dan berdasarkan pemeriksaan

dalam umumnya teraba mata, hidung, mulut dan dagu atau tepi orbita. Pada

presentasi dahi pada umumnya merupakan kedudukan sementara sehingga biasanya

dapat menjadi presentasi belakang kepala dan presentasi muka (Cuningham et al,

2010).

Letak sungsang merupakan keadaan dimana letak janin memanjang dengan

kepala dibagian fundus uteri dan bokong dibagian bawah cavum uteri hal ini pula

merupakan penyulit dalam persalinan. Selain letak sungsang, letak lintang pula

cukup sering terjadi, presentasi ini merupakan presentasi yang tidak baik sama
sekali dan tidak mungkin dilahirkan pervaginam kecuali pada keadaan janin yang

sangat kecil atau telah mati dalam waktu yang cukup lama (Cuningham et al, 2010).

Beberapa kelainan dalam bentuk janin yaitu karena adanya pertumbuhan

janin yang berlebihan, berat neonatus pada umunya adalah 4000 gram, makrosomia

atau bayi besar apabila lebih dari 4000 gram, umumnya hal ini karena adanya faktor

genetik, kehamilan dengan diabetes mellitus, kehamilan post matur atau pada

grande multipara. Hidrocephalus pula merupakan kelainan bentuk janin, hal ini

merupakan keadaan dimana cairan serebrospinal dalam ventrikel janin berlebih

sehingga kepala janin menjadi besar dan keadaan ini dapat menyebabkan cephalo

pelvic disproportion (Winkjosastro et al, 2006).

2.2 Distosia Karena Kelainan Tenaga

1. Hypotonic uterine contraction

a) Definisi

Inersia uteri hipotoni atau hipotonic uterine contraction merupakan suatu

keadaan dimana kontraksi uterus terkoordinasi namun tidak adekuat dalam

membuat kemajuan dalam persalinan, biasanya his yang muncul kurang kuat,

terlalu lemah, pendek dan jarang. Inersia uteri terbagi menjadi dua macam, yakni

inersia uteri primer dan inersia uteri sekunder. Inersia uteri primer adalah ketika his

yang timbul sejak awal lemah, sedangkan inersia uteri sekunder his lemah timbul

setelah sebelumnya mengalami his yang kuat (Cuningham et al, 2010).

b) Etiologi

Penyebab inersia uteri umumnya belum diketahui secara pasti, namun ada

beberapa yang menyebutkan penyebab terjadinya inersia uteri karena ibu


merupakan primi tua, psikis ibu dalam kondisi ketakutan, peregangan uterus yang

berlebih umumnya pada kondisi gemeli dan hidramnion, herediter, uterus bikornis,

atau karena bagian janin tidak merapat pada segmen bawah rahim dalam hal ini

kelainan letak atau CPD (cephalo-pelvic disproportion) (Winkjosastro et al, 2006).

Secara normal his muncul sejak memasuki persalinan kala 1, his yang timbul

dominan pada bagian fundus uterus, terjadi secara simetris, kekuatan his semakin

lama semakin sering dan mengalami fase relaksasi, sehingga his yang baik akan

memberikan kemajuan persalinan. Apabila sejak awal his yang timbul bersifat

lemah, atau kurang kuat, pendek serta jarang, maka hal ini disebut dengan inersia

uteri primer hal ini umumnya terjadi pada kala 1 fase laten. Namun apabila

sebelumnya his baik, lalu menjadi lemah, kurang kuat, pendek serta jarang,

biasanya terjadi pada kala 1 dan 2 serta saat pengeluaran placenta, maka hal ini

dinamakan inersia uteri sekunder (Winkjosastro et al, 2006).

c) Diagnosis

Dalam membantu melihat kelainan his dapat didukung dengan pemeriksaan

CTG dan USG, pada inersia uteri hipotoni, his yang timbul tetap dominan pada

fundus, namun kontraksi yang terjadi biasanya lebih singkat dari biasanyanya,

keadaan umum pasien pada umumnya baik, rasa nyeri yang timbul tidak terlalu

sakit. Apabila ketuban masih utuh, keadaan ini tidak berbahaya baik bagi ibu

maupun bagi janin, kecuali apabila persalinan berlangsung lama (Winkjosastro et

al, 2006).

d) Penatalaksanaan

Penanganan kasus inersia uteri hipotoni yaitu dilakukan pengawasan yang

meliputi tekanan darah, denyut jantung janin, dehidrasi serta tanda-tanda asidosis,
diberikan diet cair sebagai persiapan operasi, infus D5% atau NaCl dan apabila

nyeri diberikan pethidine 50 mg, serta dilakukan pemeriksaan dalam di analisa

apakah ada CPD menggunakan pelvimetri atau MRI (Winkjosastro et al, 2006).

Apabila pasien inersia uteri dengan CPD maka dilakukan seksio sesaria,

apabila tidak ditemukan CPD maka perbaiki terlebih dahulu keadaan umum pasien,

apabila kepala atau bokong sudah masuk panggul maka pasien di edukasi untuk

aktivitas berjalan, lakukan pemecahan ketuban, berikan oksitosin drip 5 IU per

D5% dimulai 8 tetes permenit sampai dengan 40 tetes permenit, pasien harus

diawasi terus menerus mengenai kekuatan interval his dan denyut jantung janin dan

apabila oksitosin drip gagal, maka dilakukan seksio sesaria (Winkjosastro et al,

2002).

2.3 Hypertonic uterine contraction

a) Definisi

His terlampau kuat atau juga disebut hypertonic uterine contraction.

Walaupun pada golongan incoordinated hypertonic uterine contraction bukan

merupakan penyebab distosia, namun hal ini dibicarakan di sini dalam rangka

kelainan his. His yang terlalu kuat dan yang terlalu efisien menyebabkan persalinan

selesai dalam waktu yang singkat. Partus yang sudah selesai kurang dari tiga jam,

dinamakan partus presipitatus: sifat his normal, tonus otot di luar his juga biasa,

kelainannya terletak pada kekuatan his. Bahaya partus presipitatus bagi ibu ialah

terjadinya perlukaan luas pada jalan lahir, khususnya serviks uteri, vagina dan

perineum, sedangkan bayi bisa mengalami perdarahan dalam tengkorak karena

bagian tersebut mengalami tekanan kuat dalam waktu yang singkat (Winkjosastro

et al, 2006).
Batas antara bagian atas dan segmen bawah atau lingkaran retraksi menjadi

sangat jelas dan meninggi. Dalam keadaan demikian lingkaran dinamakan

lingkaran retraksi patologik atau lingkaran Bandl. Ligamentum rotundum menjadi

tegang secara lebih jelas teraba, penderita merasa nyeri terus menerus dan menjadi

gelisah. Akhirnya, apabila tidak diberi pertolongan, regangan segmen bawah uterus

melampaui kekuatan jaringan; terjadilah ruptura uteri (Winkjosastro et al, 2006).

b) Etiologi

Kelainan his pertama kali ditemukan pada primigravida, khususnya

primigravida tua. Sampai seberapa jauh faktor emosi mempengaruhi kelainan his,

belum ada persesuaian paham antara para ahli. Hipertonic uterine contraction dan

incoordinate uterine contraction sering terjadi bersama-sama yang ditandai dengan

peningkatan tekanan uterus, kontraksi yang tidak sinkron dan peningkatan tonus

otot di segmen bawah rahim serta frekuensi kontraksi yang menjadi lebih sering.

Hal ini pada umumnya berhubungan dengan solutio plasenta, penggunaan oksitosin

yang berlebihan, disproporsi sefalopelvik dan malpresentasi janin (DeCherney,

2007).

c) Diagnosis

Kelainan his dapat didukung oleh pemeriksaan :

1. KTG

2. USG

d) Penatalaksanaan
Dalam menghadapi persalinan lama oleh sebab apapun, keadaan wanita yang

bersangkutan harus diawasi dengan seksama. Tekanan darah diukur tiap empat jam,

pemeriksaan ini perlu dilakukan lebih sering apabila ada gejala preeklampsia.

Denyut jantung janin dicatat dalam setengah jam dalam kala I dan lebih sering kala

II. Kemungkinan dehidrasi dan asidosis harus mendapat perhatian sepenuhnya.

Karena pada persalinan lama selalu ada kemungkinan untuk melakukan tindakan

pembedahan dengan narkosis, hendaknya wanita jangan diberi makanan biasa

melainkan dalam bentuk cairan. Sebaiknya diberikan infus larutan glukosa 5% dan

larutan NaCl isotonik secara intravena berganti-ganti. Untuk mengurangi rasa nyeri

dapat diberi pethidin 50 mg yang dapat diulangi; pada permulaan kala I dapat diberi

10 mg morfin. Pemeriksaan dalam perlu diadakan, akan tetapi harus selalu disadari

bahwa tiap pemeriksaan dalam mengandung bahaya infeksi. Apabila persalinan

berlangsung 24 jam tanpa kemajuan yang berarti, perlu diadakan penilaian yang

seksama tentang keadaan. Selain penilaian keadaan umum, perlu ditetapkan apakah

persalinan benar-benar sudah mulai atau masih dalam tingkat false labour, apakah

ada inersia uteri atau incoordinate uterine action dan apakah tidak ada disproporsi

sefalopelvik biarpun ringan. Untuk menetapkan hal terakhir ini, jika perlu

dilakukan pelvimetri roentgenologik atau MRI (Magnetis Resonence Imaging).

Apabila serviks sudah terbuka sedikit-dikitnya 3 cm, dapat diambil kesimpulan

bahwa persalinan dapat dimulai.1 Dalam menentukan sikap lebih lanjut perlu

diketahui apakah ketuban sudah atau belum pecah. Apabila ketuban sudah pecah,

maka keputusan untuk menyelesaikan persalinan tidak boleh ditunda terlalu lama

berhubung dengan bahaya infeksi. Sebaiknya dalam 24 jam setelah ketuban pecah

sudah dapat diambil keputusan apakah perlu dilakukan seksio sesaria dalam waktu
singkat, atau persalinan dapat dibiarkan berlangsung terus (Winkjosastro et al,

2006).

His terlalu kuat. Pada partus presipitatus tidak banyak yang dapat dilakukan

karena biasanya bayi sudah lahir tanpa ada seorang yang menolong. Kalau seorang

wanita pernah mengalami partus presipitatus, kemungkinan besar kejadian ini akan

berulang pada persalinan berikutnya. Karena itu sebaiknya wanita dirawat sebelum

persalinan, sehingga pengawasan dapat dilakukan dengan baik. Pada persalinan

keadaan diawasi dengan cermat, dan episiotomi dilakukan pada waktu yang tepat

untuk menghindarkan terjadinya ruptura uteri. Dalam keadaan demikian janin harus

segera dilahirkan dengan cara yang memberikan trauma sedikit-sedikitnya bagi ibu

dan anak (Winkjosastro et al, 2006).

3 Incoordinate uterine action

Tonus uterus otot meningkat, juga di luar his, dan kontraksinya tidak

berlangsung seperti biasa karena tidak ada sinkronisasi antara kontraksi bagian-

bagiannya. Tidak adanya koordinasi antara kontraksi bagian atas, tengah dan bawah

menyebabkan his tidak efisien dalam mengadakan pembukaan. Di samping itu

tonus otot uterus yang meningkat menyebabkan rasa nyeri yang lebih keras dan

lama bagi ibu dan menyebabkan hipoksia dalam janin. His jenis ini juga disebut

sebagai uncoordinated hypertonic uterine contraction. Kadang-kadang dalam

persalinan lama dengan ketuban yang sudah lama pecah, kelainan his ini

menyebabkan spamus sirkuler setempat, sehingga terjadi penyempitan kavum uteri

pada tempat itu. Ini dinamakan lingkaran kontraksi atau lingkaran konstriksi

(Winkjosastro et al, 2006).


Secara teoritis lingkaran ini dapat terjadi dimana-mana, akan tetapi biasanya

ditemukan pada batas antara bagian atas dan bagian segmen uterus. Lingkaran

konstriksi tidak dapat diketahui dengan pemeriksaan dalam, kecuali pembukaan

sudah lengkap, sehingga tangan dapat dimasukkan ke dalam kavum uteri. Oleh

sebab itu jika pembukaan belum lengkap, biasanya tidak mungkin mengenal

kelainan ini dengan pasti. Adakalanya persalinan tidak maju karena kelainan pada

serviks yang dinamakan distosia servikalis. Kelainan ini bisa primer atau sekunder.

Distosia servikalis dinamakan primer kalau serviks tidak membuka karena tidak

mengadakan relaksasi berhubungan dengan incoordinate uterin action. Penderita

biasanya seorang primigravida. Kala I menjadi lama, dan dapat diraba jalan serviks

yang kaku. Kalau keadaan ini dibiarkan, maka tekanan kepala uterus terus menerus

akan menyebabkan nekrosis jaringan serviks dan dapat mengakibatkan lepasnya

bagian tengah serviks secara sirkuler. Distosia servikalis sekunder disebabkan oleh

kelainan organik pada serviks, misalnya karena jaringan parut atau karena

karsinoma. Dengan his kuat serviks bisa robek, dan robekan ini dapat menjalar

kebagian bawah uterus. Oleh karena itu setiap wanita yang pernah mengalami

operasi pada serviks, selalu diawasi persalinannya di rumah sakit (Winkjosastro et

al, 2006).

2.4 Distosia Karena Kelainan Letak dan Bentuk Janin

1. Posisi Oksipitalis Posterior Persisten (POPP)

a) Definisi
Secara normal pada presentasi belakang kepala, kepala yang pertama sampai

kedasar panggul adalah bagian oksiput, sehingga oksiput berputar kedepan karena

panggul luas didepan, pada POPP, oksiput ini tidak berputar kedepan sehingga tetap

dibelakang (Cuningham et al, 2010).

b) Etiologi

POPP ini dapat disebabkan karena beberapa hal, diantaranya bentuk panggul

antropoid, panggul android karena memiliki segmen depan yang sempit, otot

panggul yang sudah lembek biasanya hal ini terjadi pada multipara, dan karena

kepala janin yang kecil dan bulat (Crowin, 2009).

c) Penatalaksanaan

Proses persalinan pada kasus POPP ini apabila dengan presentasi kepala dan

panggung longgar, maka dapat dilahirkan dengan spontan namun dengan proses

yang lama sehingga perlu adanya pengawasan ketat dengan harapan janin dapat

dilahirkan spontan pervaginam. Tindakan baru dilakukan apabila kala II terlalu

lama atau adanya tanda-tanda kegawatan pada janin. Pada persalinan dapat terjadi

robekan perineum yang teratur atau ekstensi dari episiotomi karena mekanisme

persalinan pervaginam pada POPP yaitu ketika kepala sudah sampai pada dasar

panggul, ubun-ubun besar dibawah symphisis sebagai hipomoklion oksiput lahir

melewati perineum, jalan lahir dengan Sirkum Farensia Frontooksipitalis lebih

besar dari Sirkum Suboksipito Bregmatika sehingga kerusakan perineum atau

vagina lebih luas. Sebelumnya periksa ketuban pasien, apabila masih intake maka

pecahkan terlebih dahulu ketubannya, apabila penurunan kepala sudah lebih dari

3/5 diatas PAP atau diatas 2 maka sebagiknya dilakukan seksio sesaria, apabila

pembukaan serviks belum lengkap dan tidak ada tanda obstruksi maka diberikan
oksitosin drip, bila pembukaan lengkap dan tidak ada kemajuan pada fase

pengeluaran, dipastikan kembali tidak adanya obstruksi kemudian apabila tidak ada

tanda obstruksi diberikan oksitosin drip, namun bila pembukaan lengkap dan kepala

masuk tidak kurang dari 1/5 PAP atau pada kala II bila kepala turun sampai dengan

Hodge III dan atau UUK lintang sudah dipimpin namun tak ada kemajuan sehingga

menyebabkan deep transvered arrest maka dilakukan vacum ekstraksi atau forceps,

namun apabila ada tanda obstruksi serta gawat janin maka akhiri kehamilan dengan

seksio sesaria (Cuningham et al, 2005).

Prognosis persalinan dengan POPP ini persalinan menjadi lebih lama dan

kerusakan jalan lahir lebih besar, selain itu kematian perinatal lebih besar pada

POPP dari pada presentasi kepala dengan UUK di bagian depan (Cuningham et al,

2005).

2. Presentasi Puncak Kepala

a) Definisi

Presentasi puncak kepala adalah keadaan dimana puncak kepala janin

merupakan bagian terendah, hal ini terjadi apabila derajat defleksinya ringan atau

kepala dengan defleksi/ekstensi minimal dengan sinsiput merupakan

bagian terendah. Presentasi puncak kepala adalah bagian terbawah janin yaitu

puncak kepala, pada pemeriksaan dalam teraba UUB yang paling rendah, dan UUB

sudah berputar ke depan (Muchtar, 2002).

Pada umumnya presentasi puncak kepala merupakan kedudukan sementara

yang kemudian berubah menjadi presentasi belakang kepala. Mekanisme

persalinannya hampir sama dengan posisi oksipitalis posterior persistens, sehingga

keduanya sering kali dikacaukan satu dengan yang lainnya. Perbedaannya pada
presentasi puncak kepala tidak terjadi fleksi kepala yang maksimal, sedangkan

lingkaran kepala yang melalui jalan lahir adalah sirkumferensia frontooksipitalis

dengan titik perputaran (Cuningham et al, 2005).

b) Etiologi

Letak defleksi ringan dalam buku synopsis Obstetri Fisiologi dan Patologi

(2002) biasanya karena adanya kelainan panggul (panggul picak), kepala bentuknya

bundar, janin kecil atau mati, kerusakan dasar panggul atau karena penyebab lain

yaitu keadaan – keadaan yang memaksa terjadi defleksi kepala atau keadaan yang

menghalangi terjadinya fleksi kepala, hal ini sering ditemukan pada janin besar atau

panggul sempit, multiparitas, perut gantung, anensefalus, tumor leher bagian depan

(Muchtar, 2002).

c) Diagnosis

Untuk menentukan diagnosis presentasi puncak kepala, pada pemeriksaan

lokalis abdomen biasanya didapatkan pada bagian fundus uteri teraba bokong dan

diatas panggul teraba kepala, punggung terdapat pada satu sisi, bagian-bagian kecil

terdapat pada sisi yang berlawanan, oleh karena tidak ada fleksi maupun ekstensi

maka tidak teraba dengan jelas adanya tonjolan kepala pada sisi yang satu maupun

sisi lainnya. Pada auskultasi denut jantung janin terdengar paling keras di kuadran

bawah perut ibu, pada sisi yang sama dengan punggung janin. Pemeriksaan dalam

didapatkan sutura sagitalis umumnya teraba pada diameter transversa panggul,

kedua ubun-ubun sama-sama dengan mudah diraba dan dikenali, keduanya sama

tinggi dalam panggul. Pemeriksaan radiologis akan membantu dan menegakkan

diagnosis kedudukan dan menilai panggul (Cuningham et al, 2005).

d) Penatalaksaan
Mekanisme persalinan pada presentasi puncak kepala, putaran paksi dalam

ubun-ubun besar (UUB) berputar ke simfisis, UUB lahir kemudian dengan glabella

sebagai hipomoglion, kepala fleksi sehingga lahirlah oksiput melalui peineum.

Lingkaran kepala yang melewati panggul adalah circum fronto-occiput sebesar

kurang lebih 34cm, oleh karena itu partus akan berlangsung lebih lama

dibandingkan dengan persalinan normal dimana diameter yang melewati panggul

adalah cirkum suboksipitobregmatikus (32cm). Kepala masuk panggul paling

sering pada diameter transversa PAP. Kepala turun perlahan-lahan, dengan ubun-

ubun kecil dan dahi sama tingginya (tidak ada fleksi maupun ekstensi) dan dengan

sutura sagitalis pada diameter transversa panggul, sampai puncak kepala mencapai

dasar panggul. Sampai di sini ada beberapa kemungkinan penyelesaiannya, sering

kali kepala mengadakan fleksi, ubun-ubun kecil (UUK) berputar ke depan dan

kelahiran terjadi dengan kedudukan occipitoanterior, atau kepala mungkin tertahan

pada diameter transverse panggul, diperlukan pertolongan operatif untuk deep

transverse arrest, atau pada keadaan kepala mungkin berputar ke belakang dengan

atau tanpa fleksi, UUK menuju ke lengkung sacrum dan dahi ke pubis, mekanisme

pada kondisi ini adalah kedudukan UUK belakang menetap dan kelahiran dapat

spontan atau dengan seksio sesaria (Cuningham et al, 2005).

Presentasi puncak kepala dapat ditunggu hingga memungkinkan kelahiran

spontan, namun bila 1 jam dipimpin mengejan bayi tidak lahir dan kepala bayi

sudah didasar panggul maka dilakukan ekstraksi forceps, umunya persalinan pada

presentasi puncak kepala dilakukan episiotomi (Winkjosastro et al, 2006).


Prognosis pada persalinan ini cukup baik baik bagi ibu maupun bagi janin

meskipun sedikit lebih lama dan lebih sukar daripada persalinan normal. Umumnya

terjadi fleksi dan melanjut ke persalinan normal (Winkjosastro et al, 2006).

3. Presentasi Muka

a) Definisi

Pada presentasi muka, kedudukan kepala mengalami defleksi maksimal,

sehingga oksiput tertekan pada punggung dan muka merupakan bagian terendah

menghadap ke bawah. Presentasi muka dikatakan primer apabila sudah terjadi sejak

masa kehamilan sedangkan presentasi muka sekunder apabila terjadi saat persalinan

(Cuningham et al, 2005).

Pada presentasi muka, kepala berada dalam posisi hiperekstensi sehingga

oksiput menempel pada punggung bayi dan dagu (mentum) menjadi bagian

terbawah janin. Muka janin dapat tampil sebagai dahu anterior atau posterior, relatif

terhadap simfisis pubis. Pada janin aterm, kemajuan persalinan biasanya terhalang

oleh presentasi muka mentum posterior atau dagu belakang karena dahi janin akan

tertekan untuk membuka jalan lahir. Posisi ini menghambat fleksi kepala janin yang

diperlukan untuk membuka jalan lahir. Namun berlawanan dengan hal ini, fleksi

kepala dan partus pervaginam sering dijumpai pada presentasi dagu depan, banyak

presentasi dagu posterior yang berubah spontan menjadi presentasi dagu depan

bahkan pada akhir persalinan (Cuningham et al, 2005).

b) Etiologi

Presentasi muka umumnya terjadi karena keadaan-keadaan yang memaksa

terjadinya defleksi kepala atau karena keadaan yang menghalangi terjadinya fleksi

kepala. Oleh karena itu presentasi muka dapat ditemukan pada kondisi panggul
sempit atau janin besar. Pada multiparitas dan perut gantung juga merupakan faktor

yang memudahkan terjadinya presentasi muka. Selain itu juga kondisi kelainan

janin seperti anencephalus dan pada tumor leher dapat mengakibatkan presentasi

muka (Crowin, 2009).

c) Diagnosis

Diagnosis presentasi muka tubuh janin berada dalam keadaan ekstensi

sehingga pada periksa luar didapatkan dada teraba seperti punggung, bagian

belakang kepala berlawanan dengan dada, bagian dada ada bagian kecil dan DJJ

terdengan lebih jelas. Sedangkan pada periksa dalam, teraba dagu, mulut, hidung,

tepi orbita, bila ada caput maka sulit dibedakan dengan bokong, apabila ragu, maka

sebaiknya dilakukan pemeriksaan radiologis , rontgen atau MRI (Cuningham et al,

2005).

d) Penatalaksaan

Proses persalinan presentasi muka kepala turun dengan sirkumfarensia

trakelo parietalis dengan dagu lintang atau miring, setelah muka sampai dasar

panggul terjadi putaran paksi dalam, dagu ke depan di bawah arkus pubis, kemudian

dengan submentum menjadi hipomoklion kepala lahir dengan fleksi sampai dahi,

UUB, belakang kepala lewati perineum, kemudian putaran paksi luar dan badan

lahir. Terkadang dagu tidak dapat diputar ke depan, posisi ini merupakan

mentoposterior persistens maka pada situasi ini dilakukan seksio sesaria

(Winkjosastro et al, 2006).

Pada kondisi dagu belakang prognosis persalinan kurang baik dan tidak dapat

pervaginam, kematian perinatal pada presentasi muka pencapai 2,5 hingga 5%.

Apabila pada kondisi presentasi muka tidak disertai CPD dan posisi dagu depan
maka dilahirkan secara spontan. Dagu belakang memiliki kesempatan berputar

menjadi dagu depan bila kala II posisi mentoposterior persistens, dagu diputar

kedepan, bila berhasil maka lahirkan secara spontan dan apabila gagal maka

dilakukan seksio sesaria (Winkjosastro et al, 2006).

Presentasi muka dapat dicoba diubah menjadi prsentasi belakang kepala

dengan cara tangan dimasukkan ke vagina, tekan bagian muka dan dagu keatas,

apabila tidak berhasil lakukan dengan perasat THORN, bagian belakang kepala

dipegang dengan tangan yang masuk vagina kemudian tarik kebawah tangan yang

lain tekan dada dari luar. Hal ini dilakukan dengan syarat dagu belakang dan kepala

belum turun. Indikasi persalinan dengan seksio sesaria pada presentasi muka yaitu

posisi mentoposterior persistence dan panggul sempit (Muchtar, 2002).

4. Presentasi Dahi

a) Definisi

Presentasi dahi pada umumnya merupakan kedudukan sementara, posisi ini

dapat berubah menjadi presentasi belakang kepala atau presentasi muka, kejaidan

presentasi dahi ini 1:400 (Winkjosastro et al, 2006).

b) Etiologi

Etiologi atau penyebab terjadinya presentasi dahi adalah presentasi

muka (Winkjosastro et al, 2006).

c) Diagnosis

Diagnosis presentasi dahi berdasarkan pemeriksaan luar seperti pada

presentasi muka namun bagian belakang kepala tidak begitu menonjol, DJJ akan

jelas terdengar pada bagian dada. Pemeriksaan dalam akan teraba sutura frontalis,
ujung yang satu akan teraba UUB dan ujung yang lainnya akan teraba pangkal

hidung dan tepi orbita (Winkjosastro et al, 2006).

d) Penatalaksaan

Persalinan pada presentasi dahi, apabila terjadi defleksi lagi dan berubah

menjadi presentasi muka maka persalinan menjadi lama dan hanya 15% lewat

persalinan spontan. Kematian perinatal pada presentasi muka sebesar 20%

(Cuningham et al, 2005).

Prognosis persalinan dengan presentasi dahi ditentukan oleh janinnya, jika

janin kecil maka persalinan mungkin terjadi spontan karena bisa jadi janin berubah

menjadi presentasi belakang kepala atau presentasi muka, namun jika janin berat

atau besarnya normal maka persalinan tidak dapat pervaginam sehingga dilakukan

seksio sesaria oleh karena sirkumfarensia maksilo parietalis lebih besar dari

lingkaran pintu atas panggul. Pada kala I persalinan dilakukan prasat THORN,

apabila gagal maka janin tetap dilahirkan perabdominam yaitu seksio sesaria

(Cuningham et al, 2005).

5. Letak Sungsang

a) Definisi

Letak sungsang merupakan keadaan dimana janin terletak memanjang

dengan kepala di fundus uteri dan bokong berada di bagian bawah kavum

uteri. Tipe letak sungsang yaitu: Frank breech (50-70%) yaitu kedua tungkai fleksi

; Complete breech (5-10%) yaitu tungkai atas lurus keatas, tungkai bawah ekstensi
; Footling (10-30%) yaitu satu atau kedua tungkai atas ekstensi, presentasi kaki

(Cunningham, 2005).

b) Etiologi

Faktor predisposisi dari letak sungsang adalah prematuritas, abnormalitas

uterus (malformasi, fibroid), abnormalitas janin (malformasi CNS, massa

pada leher, aneploid), overdistensi uterus (kehamilan ganda, polihidramnion),

multipara dengan berkurangnya kekuatan otot uterus, dan obstruksi pelvis

(plasenta previa, myoma, tumor pelvis lain). Dengan pemeriksaan USG,

prevalensi letak sungsang tinggi pada implantasi plasenta pada cornu-fundal. Lebih

dari 50 % kasus tidak ditemukan faktor yang menyebabkan terjadinya letak

sungsang (Schiara et al, 1997).

c) Diagnosis

Diagnosis letak bokong dapat ditentukan dengan persepsi gerakan janin oleh

ibu, pemeriksaan Leopold, auskultasi denyut jantung janin di atas umbilikus,

pemeriksaan dalam, USG dan Foto sinar-X (Schiara et al, 1997).

d) Penatalaksanaan

Untuk memilih jenis persalinan pada letak sungsang Zatuchni dan Andros

telah membuat suatu indeks prognosis untuk menilai apakah persalinan dapat

dilahirkan pervaginam atau perabdominan. Jika nilai kurang atau sama dengan 3

dilakukan persalinan perabdominan, jika nilai 4 dilakukan evaluasi kembali secara

cermat, khususnya berat badan janin; bila nilai tetap dapat dilahirkan pervaginam,

jika nilai lebih dari 5 dilahirkan pervaginam (Setjalilakusuma, 2000). ALARM

memberikan kriteria seleksi untuk partus pervaginam yaitu jenis letak sungsang

adalah frank atau bokong komplit, kepala fetus tidak hiperekstensi dan taksiran
berat janin 2500-3600 gram serta tindakan augmentasi dan induksi persalinan

diperbolehkan pada janin letak sungsang (Wiknjosastro, 2005).

Zatuchni dan Andros telah membuat suatu indeks prognosis untuk menilai

lebih tepat apakah persalinan dapat dilahirkan pervaginam atau perabdominan,

sebagai berikut (Cunningham, 2005).

0 1 2

Paritas Primigravida Multigravida

Umur >39 minggu 38 minggu < 37 minggu

Kehamilan

Taksiran >3630 gr 3629 gr -3176 gr < 3176 gr

berat janin

Pernah Tidak 1x >2x

letak

sungsang

Pembukaan <2 cm 3 cm >4cm

serviks

Station <3 <2 1 atau lebih

rendah

Arti nilai :

< 3 : persalinan perabdomen

4 : evaluasi kembali secara cermat, khususnya berat badan janin bila

nilainya tetap maka dapat dilahirkan pervaginam

> 5 : dilahirkan pervaginam

Prosedur persalinan sungsang secara spontan :


a. Tahap lambat : mulai lahirnya bokong sampai pusar merupakan fase yang

tidak berbahaya.

b. Tahap cepat : dari lahirnya pusar sampai mulut, pada fase ini kepala janin

masuk PAP, sehingga kemungkinan tali pusat terjepit.

c. Tahap lama : lahirnya mulut sampai seluruh bagian kepala, kepala keluar

dari ruangan yang bertekanan tinggi (uterus) ke dunia luar yang tekanannya lebih

rendah sehingga kepala harus dilahirkan perlahan-lahan untuk menghindari

pendarahan intrakranial (adanya tentorium cerebellum).

Teknik persalinan

a. Persiapan ibu, janin, penolong dan alat yaitu cunam piper.

b. Ibu tidur dalam posisi litotomi, penolong berdiri di depan vulva saat bokong

mulai membuka vulva, disuntikkan 2-5 unit oksitosin intramuskulus. Dilakukan

episiotomi.

c. Segera setelah bokong lahir, bokong dicengkram dengan cara Bracht, yaitu

kedua ibu jari penolong sejajar sumbu panjang paha, sedangkan jari-jari lain

memegang panggul. Saat tali pusat lahir dan tampak teregang, tali pusat

dikendorkan terlebih dahulu.

d. Penolong melakukan hiperlordosis badan janin untuk menutupi gerakan

rotasi anterior, yaitu punggung janin didekatkan ke perut ibu, gerakan ini

disesuaikan dengan gaya berat badan janin. Bersamaan dengan hiperlordosis,

seorang asisten melakukan ekspresi kristeller. Maksudnya agar tenaga mengejan

lebih kuat sehingga fase cepat dapat diselesaikan. Menjaga kepala janin tetap dalam

posisi fleksi, dan menghindari ruang kosong antara fundus uterus dan kepala janin,

sehingga tidak teradi lengan menjungkit.


e. Dengan gerakan hiperlordosis, berturut-turut lahir pusar, perut, bahu,

lengan, dagu, mulut dan akhirnya seluruh kepala.

f. Janin yang baru lahir diletakkan diperut ibu.

Prosedur manual aid (partial breech extraction) :

Indikasi : jika persalinan secara bracht mengalami kegagalan misalnya

terjadi kemacetan saat melahirkan bahu atau kepala.

Tahapan :

a. Lahirnya bokong sampai pusar yang dilahirkan dengan tenaga ibu

sendiri.

b. Lahirnya bahu dan lengan yang memakai tenaga penolong dengan cara

klasik (Deventer), Mueller, Louvset, Bickenbach.

c. Lahirnya kepala dengan cara Mauriceau (Veit Smellie), Wajouk, Wid and

Martin Winctel, Prague Terbalik, Cunan Piper.

Cara klasik :

a. Prinsip-prinsip melahirkan lengan belakang lebih dahulu karena lengan

belakang berada di ruangan yang lebih besar (sacrum), baru kemudian

melahirkan lengan depan di bawah simpisis tetapi jika lengan depan sulit

dilahirkan maka lengan depan diputar menjadi lengan belakang, yaitu

dengan memutar gelang bahu ke arah belakang dan kemudian lengan

belakang dilahirkan.

b. Kedua kaki janin dilahirkan dan tangan kanan menolong pada

pergelangan kakinya dan dielevasi ke atau sejauh mungkin sehingga

perut janin mendekati perut ibu.


c. Bersamaan dengan itu tangan kiri penolong dimasukkan ke dalam jalan

lahir dan dengan jari tengah dan telunjuk menelusuri bahu janin sampai

fossa cubiti kemudian lengan bawah dilahirkan dengan gerakan seolah-

olah lengan bawah mengusap muka janin.

d. Untuk melahirkan lengan depan, pegangan pada pergelangan kaki janin

diganti dengan tangan kanan penolong dan ditarik curam ke bawah

sehingga punggung janin mendekati punggung ibu.

e. Dengan cara yang sama lengan depan dilahirkan.

f. Jika lengan depan sukar dilahirkan, maka harus diputar menjadi lengan

belakang. Gelang bahu dan lengan yang sudah lahir dicengkram dengan

kedua tangan penolong sedemikian rupa sehingga kedua ibu jari tangan

penolong terletak di punggung dan sejajar dengan sumbu badan janin

sedang jari-jari lain mencengkram dada. Putaran diarahkan ke perut dan

dada janin sehingga lengan depan terletak di belakang kemudian lengan

dilahirkan dengan cara yang sama.

Cara Mueller

a. Prinsipnya : melahirkan bahu dan lengan depan lebih dahulu dengan

ekstraksi, baru kemudian melahirkan bahu dan lengan belakang.

b. Bokong janin dipegang secara femuro-pelviks, yaitu kedua ibu jari

penolong diletakkan sejajar spina sacralis media dan jari telunjuk pada

crista illiaca dan jari-jari lain mencengkram paha bagian depan. Badan

janin ditarik curam ke bawah sejauh mungkin sampai bahu depan tampak

dibawah simpisis, dan lengan depan dilahirkan dengan mengait lengan di

bawahnya.
c. Setelah bahu depan dan lengan depan lahir, maka badan janin yang masih

dipegang secara femuro-pelviks ditarik ke atas sampai bahu ke belakang

lahir. Bila bahu belakang tak lahir dengan sendirinya, maka lengan

belakang dilahirkan dengan mengait lengan bawah dengan kedua jari

penolong.

Cara louvset :

a. Prinsipnya : memutar badan janin dalam setengah lingkaran bolak-balik

sambil dilakukan traksi awam ke bawah sehingga bahu yang sebelumnya

berada dibelakang akhirnya lahir dibawah simpisis.

b. Badan janin dipegang secara femuro-pelviks dan sambil dilakukan traksi

curam ke bawah, badan janin diputar setengah lingkaran, sehingga bahu

belakang menjadi bahu depan. Kemudian sambil dilakukan traksi, badan

janin diputar lagi ke arah yang berlawanan setengah lingkaran. Demikian

seterusnya bolak-balik sehingga bahu belakang tampak di bawah

simpisis dan lengan dapat dilahirkan.

Cara Mauriceau (Veit-Smellie) :

a. Tangan penolong yang sesuai dengan muka janin dimasukkan ke dalam

jalan lahir. Jari tengah dimasukkan ke dalam mulut dan jari telunjuk dan

jari ke 4 mencengkram fossa kanina, sedangkan jari lain mencengkeram

leher. Badan anak diletakkan di atas lengan bawah penolong, seolah-olah

janin menunggang kuda. Jari telunjuk dan jari ke 3 penolong yang lain

mencengkeram leher janin dari arah punggung.

b. Kedua tangan penolong menarik kepala janin curam ke bawah sambil

seorang asisten melakukan ekspresi kristeller. Tenaga tarikan terutama


dilakukan oleh tangan penolong yang mencengkeram leher janin dari

arah punggung. Jika suboksiput tampak di bawah simpisis, kepala janin

diekspasi ke atas dengan suboksiput sebagai hipomoklion sehingga

berturut-turut lahir dagu, mulut, hidung, mata, dahi, ubun-ubun besar dan

akhirnya lahir seluruh kepala janin.

Cara cunam piper :

Pemasangan cunam pada after coming head tekniknya sama dengan

pemasangan lengan pada letak belakang kepala. Hanya pada kasus ini,

cunam dimasukkan pada arah bawah, yaitu sejajar pelipatan paha belakang.

Hanya pada kasus ini cunam dimasukkan dari arah bawah, yaitu sejajar

pelipatan paha belakang. Setelah suboksiput tampak dibawah simpisis,

maka cunam dielevasi ke atas dan dengan suboksiput sebagai hipomoklion

berturut-turut lahir dagu, mulut, muka, dahi dan akhirnya seluruh kepala

lahir.

6. Letak Lintang

a) Definisi

Letak lintang adalah bila dalam kehamilan atau dalam persalinan sumbu

panjang janin melintang terhadap sumbu panjang ibu (termasuk di dalamnya bila

janin dalam posisi oblique). Letak lintang kasep adalah letak lintang kepala janin

tidak dapat didorong ke atas tanpa merobekkan uterus (Winkjosastro et al, 2006).

Letak lintang dapat dibagi menjadi 2 macam, yang dibagi berdasarkan:

a. Letak kepala

1. Kepala anak bisa di sebelah kiri ibu

2. Kepala anak bisa di sebelah kanan ibu


b. Letak punggung

1. Jika punggung terletak di sebelah depan ibu, disebut dorso-anterior

2. Jika punggung terletak di sebelah belakang ibu, disebut dorso-

posterior

3. Jika punggung terletak di sebelah atas ibu, disebut dorso-superior

4. Jika punggung terletak di sebelah bawah ibu, disebut dorso-inferior

b) Etiologi

Penyebab dari letak lintang sering merupakan kombinasi dari berbagai faktor,

sering pula penyebabnya tetap merupakan suatu misteri. Faktor – faktor tersebut

adalah :

1) Fiksasi kepala tidak ada karena panggul sempit, hidrosefalus,

anesefalus, plasenta previa, dan tumor pelvis

2) Janin sudah bergerak pada hidramnion, multiparitas, atau sudah mati.

3) Gemeli

4) Pelvic kidney dan rectum penuh

5) Multiparitas disertai dinding uterus dan perut yang lembek

c) Diagnosis

1) Inspeksi

Perut membuncit ke samping

2) Palpasi

Fundus uteri lebih rendah dari seharusnya tua kehamilan

Fundus uteri kosong dan bagian bawah kosong, kecuali kalau bahu

sudah masuk ke dalam pintu atas panggul

Kepala (ballotement) teraba di kanan atau di kiri


3) Auskultasi

Denyut jantung janin setinggi pusat kanan atau kiri.

4) Pemeriksaan dalam (vaginal toucher)

- Teraba tulang iga, skapula, dan kalau tangan menumbung teraba

tangan. Untuk menentukan tangan kanan atau kiri lakukan dengan cara

bersalaman.

- Teraba bahu dan ketiak yang bisa menutup ke kanan atau ke kiri. Bila

kepala terletak di kiri, ketiak menutup ke kiri.

- Letak punggung ditentukan dengan adanya skapula, letak dada dengan

klavikula.

- Pemeriksaan dalam agak sukar dilakukan bila pembukaan kecil dan

ketuban intak, namun pada letak lintang biasanya ketuban cepat pecah.

d) Penatalaksanaan

Pada permulaan persalinan dalam letak lintang, pintu atas panggung tidak

tertutup oleh bagian bawah anak seperti pada letak memanjang. Oleh karena itu

seringkali ketuban sudah lebih dulu pecah sebelum pembukaan lengkap atau hampir

lengkap. Setelah ketuban pecah, maka tidak ada lagi tekanan pada bagian bawah,

sehingga persalinan berlangsung lebih lama. His berperan dalam meluaskan

pembukaan, selain itu dengan kontraksi yang semakin kuat, maka anak makin

terdorong ke bawah. Akibatnya tubuh anak menjadi membengkok sedikit, terutama

pada bagian yang mudah membengkok, yaitu di daerah tulang leher. Ini pun

disebabkan karena biasnaya ketuban sudah lekas pecah dan karena tak ada lagi air

ketuban, maka dinding uterus lebih menekan anak di dalam rahim. Dengan

demikian bagian anak yang lebih rendah akan masuk lebih dulu ke dalam pintu atas
panggul, yaitu bahu anak. Karena pada letak lintang pintu atas panggul tidak begitu

tertutup, maka tali pusat seringkali menumbung, dan ini akan memperburuk

keadaan janin.

Bila pembukaan telah lengkap, ini pada awalnya tidak begitu jelas

tampaknya. Karena tidak ada tekanan dari atas oleh bagian anak pada lingkaran

pembukaan, makan lingkaran ini tidak dapat lenyap sama sekali, senantiasa masih

berasa pinggirnya seperti suatu corong yang lembut. Penting untuk diketahui,

bahwa tidak ada pembukaan yang benar-benar lengkap pada letak lintang seperti

halnya pembukaan lengkap pada letak memanjang.

Tandanya pembukaan itu sudah lengkap adalah lingkaran pembukaan itu

mudah dilalui oleh kepalan tangan pemeriksa, sedangkan pada pembukaan yang

belum lengkap, kepalan tangan pemeriksa sukar untuk memasuki lingkaran

tersebut. Lain halnya dengan letak memanjang, pada letak lintang setelah

pembukaan lengkap, karena his dan tenaga mengejan, badan anak tidak dapat

dikeluarkan dari rongga rahim, akan tetapi sebagian besar masih di dalam uterus,

meskipun tubuh anak menjadi semakin membengkok.. Jika ini terjadi terus

menerus, maka akan terjadi suatu letak lintang kasep, dimana tubuh anak tidak

dapat lagi didorong ke atas. Letak lintang kasep terjadi bukanlah karena lamanya

persalinan, namun faktor yang penting ialah karena faktor kuatnya his. Pada letak

lintang kasep, biasanya anak telah mati, yang disebabkan karena kompresi pada tali

pusat, perdarahan pada plasenta, ataupun cedera organ dalam karena tubuh anak

terkompresi dan membengkok.

7. Kehamilan Multipel

a) Definisi
Kehamilan kembar atau kehamilan multipel ialah suatu kehamilan dengan

dua janin atau lebih. Kehamilan multipel dapat berupa kehamilan ganda atau

gemelli (2 janin), triplet ( 3 janin ), kuadruplet ( 4 janin ), Quintiplet ( 5 janin ) dan

seterusnya (Cunningham, 2005).

b) Etiologi

Terjadinya kehamilan kembar atau multipel umumnya disebabkan oleh

adanya pembuahan satu atau lebih ovum yang berbeda. Pada kehamilan ganda

sepertiganya berasal dari satu ovum yang mengalami pembuahan kemudian

membelah menjadi dua struktur yang serupa. Faktor-faktor lain yang

mempengaruhi terjadinya kehamilan multipel antara lain (Cunningham, 2005) :

1) Ras

Kehamilan multipel terjadi pada 1 dari 100 kehamilan pada orang kulit

putih dan 1 dari 80 kehamilan pada orang kulit hitam.

2) Hereditas

Memiliki riwayat keturunan dari ibu lebih banyak mempengaruhi

dibanding riwayat keturunan dari ayah.

3) Usia ibu dan paritas

Kehamilan multijanin umunya terjadi pada ibu dengan usia mulai dari

pubertas hingga usia 37 tahun karena adanya aktivitas ovulasi

ganda yang cukup tinggi pada usia reproduksi aktif yang

dipengaruhi oleh peningkatan kadar hormon FSH. Kehamilan

multipel lebih sering terjadi pada ibu nullipara dibandingkan

dengan ibu yang sudah pernah melahirkan sebelumnya.

4) Faktor Gizi
Kehamilan kembar 20 sampai 30 persen lebih sering terjadi pada ibu

yang memiliki ukuran lebih tinggi dan lebih berat dibandingkan

dengan ibu yang memiliki ukuran tubuh yang lebih pendek dan

kecil. Selain itu tingginya asupan gizi sebelum kehamilan dan

suplementasi asam folat perikonsepsi dapat meningkatkan

terjadinya kehamilan kembar.

5) Terapi Kesuburan

Induksi ovulasi dengan menggunakan obat-obatan hormonal

gonadotropin dapat meningkatkan terjadinya kehamilan multipel

karena adanya peningkatan secara mendadak hormon

gonadotropin dapat memicu adanya ovulasi ganda.

c) Diagnosis

Penegakan diagnosa pada kehamilan kembar dapat ditegakkan

melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang

(Cunningham, 2005).

1) Anamnesis

Anamnesis yang dibutuhkan dalam menegakkan diagnosis kehamilan

kembar adalah riwayat adanya kehamilan kembar sebelumnya atau keturunan

kembar dalam keluarga, telah mendapat pengobatan infertilitas, adanya uterus yang

cepat membesar dari amenorea, gerakan janin yang terlalu sering dan adanya

penambahan berat badan ibu menyolok yang tidak disebabkan obesitas atau edema

(Cunningham, 2005).

2) Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan palpasi abdomen didapatkan adanya dua kepala janin yang

berada di kuadram uterus yang berbeda, banyak didapatkan bagian bagian kecil

janin, teraba dua atau lebih bagian besar, dan teraba dua ballotemen. Tinggi fundus

uteri lebih besar dari kehamilan pada umumnya. Denyut jantung janin yang

terdengar lebih dari satu di tempat yang berbeda dengan perbedaan 10 atau lebih

(Cunningham, 2005).

3) Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan USG dapat menunjukkan adanya 2 bayangan janin atau lebih

dengan 1 atau lebih kantong amnion. Diagnosis menggunakan USG yang dilakukan

pada trimester pertama masih sulit untuk mendiagnosis jumlah janin pada uterus,

jumlah kantong gestasional yang terlihat, dan posisi dari janin di dalam uterus

(Cunningham, 2005).

d) Penatalaksanaan

Penyulit dalam persalinan pada kehamilan kembar diantaranya persalinan

preterm, disfungsi uterus, kelainan presentasi, prolaps tali pusat, dan perdarahan

post partum. Sepanjang persalinan pasien harus sudah diberikan infus dengan cairan

RL, penyediaan transfusi darah, ampisilin 2 gram untuk pencegahan infeksi, dan

disiapkannya alat USG untuk mengevaluasi setelah janin pertama lahir. Sebagian

besar janin kembar dalam presentasi kepala-kepala, kepala-bokong, bokong-

bokong, kepala-melintang, dan lain-lain. Presentasi kepala-kepala merupakan

presentasi paling stabil selama persalinan dan memungkinkan untuk terjadinya

persalinan pervaginam. Apabila presentasi janin pertama bokong , dapat

menyebabkan terjadinya penyulit dalam persalinan apabila janin terlalu besar, janin
terlalu kecil, adanya prolapsus tali pusat. Apabila ditemui keadaan seperti ini

sebaiknya dilakukan persalinan per abdominam (Cunningham, 2005).

8. Makrosomia (Distosia Bahu)

a) Definisi

Makrosomia dimana janin diperkirakan memiliki berat > 4000 gram. Faktor

resiko terjadinya makrosomia yaitu riwayat melahirkan bayi besar sebelumnya,

obesitas pada ibu, multiparitas, kehamilan postterm, dan ibu dengan diabetes

mellitus. Makrosomia dapat menyebabkan terjadinya penyulit pada persalinan

diantaranya distosia bahu dan chepalo pelvic disproportion (CPD) (Cunningham,

2005).

Distosia bahu adalah suatu keadaan dimana diperlukannya tambahan

manuver obstetrik oleh karena terjadi impaksi bahu depan diatas simphisis sehingga

dengan tarikan ke arah belakang pada kepala bayi tidak bisa untuk melahirkan bayi

(Prawirohardjo, 2009).

b) Etiologi

Penyebab terjadinya distosia bahu antara lain :

1) Makrosomia ( bayi yang dikandung oleh seorang ibu dengan diabetes

mellitus, obesitas, dan kehamilan postterm).

2) Kelainan bentuk panggul.

3) Kegagalan bahu untuk melipat kedalam panggul.

c) Diagnosis

Penegakan diagnosis pada kondisi terjadinya persalinan dengan distosia bahu

antara lain (Prawirohardjo, 2009) :

1) Kepala janin telah lahir namun masih menekan vulva dengan kencang.
2) Dagu tertarik dan menekan perineum.

3) Turtle sign : suatu keadaan dimana kepala sudah dilahirkan gagal

melakukan putaran paksi luar dan tertahan akibat adanya tarikan yang

terjadi antara bahu posterior dengan kepala.

4) Traksi pada kepala tidak berhasil melahirkan bahu.

d) Penatalaksanaan

Penanganan persalinan dengan distosia bahu dikenal dengan “ALARM“ (Ask

for help, Lift the legs and buttocks, Anterior shoulder disimpaction, Rotation of

posterior shoulder, Manual remover posterior arm).

1) Ask for help

Meminta bantuan asisten untuk melakukan pertolongan persalinan.

2) Lift the legs and buttocks

Melakukan manuver McRoberts yang dimulai dengan memposisikan ibu

dalam posisi McRoberts yaitu ibu terlentang, memfleksikan kedua paha sehingga

posisi lutut menjadi sedekat mungkin dengan dada, dan merotasikan kedua kaki ke

arah luar. Manuver ini dapat menyebabkan terjadinya pelurusan relatif dari sakrum

terhadap vertebra lumbal disertai dengan rotasi simphisis phubis ke arah kepala ibu

serta pengurangan sudut kemiringan panggul. Mintalah asisten untuk melakukan

penekanan suprasimphisis ke arah posterior menggunakan pangkal tangan

(Manuver Massanti). Penekanan ini bertujuan untuk menekan bahu anterior agar

mau masuk ke simphisis. Sementara itu lakukanlah tarikan pada kepala janin ke

arah posterokaudal (Cunningham, 2005).


3) Anterior shoulder disimpaction

Melakukan disimpaksi bahu depan dengan menggunakan dua cara yaitu

eksternal dan internal. Disimpaksi bahu depan secara eksternal dapat dilakukan

dengan menggunakan manuver massanti, sedangkan disimpaksi bahu depan secara

internal dapat dilakukan dengan menggunakan manuver rubin. Manuver Rubin

dilakukan dengan cara (masih dalam manuver McRoberts) masukkan tangan pada

bagian posterior vagina, tekanlah daerah ketiak bayi sehingga bahu berputar

menjadi posisi obliq atau transversa dan dengan bantuan penekanan simphisis maka

akan membuat bahu bayi semakin abduksi sehingga diameternya mengecil

(Prawirohardjo, 2009).

4) Rotation of posterior shoulder

Melakukan rotasi bahu belakang dengan manuver Woods. Manuver ini

dilakukan dengan cara memasukkan tangan penolong sesuai dengan punggung bayi

(jika punggung kanan gunakan tangan kanan, dan sebaliknya) ke vagina dan
diletakkan di belakang bahu janin. Bahu kemudian diputar 180 derajat ke anterior

dengan gerakan seperti membuka tutup botol (Cunningham, 2005).

5) Manual remover posterior arm

Pelahiran bahu belakang secara manual dapat dilakukan dengan

menggunakan manuver Shwartz. Manuver ini dilakukan dengan cara memasukkan

tangan ke vagina sepanjang humerus posterior janin yang dipisahkan ketika lengan

disapukan ke arah dada, namun tetap terfleksi pada siku. Tangan janin digenggam

dan ditarik sepanjang sisi wajah dan kemudian lengan belakang dilahirkan dari

vagina (Cunningham, 2005).


9. Hidrosefalus

a) Definisi

Hidrosefalus adalah suatu kondisi dimana terjadi penumpukan cairan

serebrospinal yang berlebihan di ventrikel dan mengakibatkan terjadinya

pembesaran dari kranium. Volume cairan biasanya 500 – 1500 ml namun bisa juga

mencapai 5000 ml. Lingkar kepala bayi aterm normal berkisar antara 32 hingga 38

cm, namun pada hidrosefalus dapat mencapai 50 cm. Pada presentasi apapun

umumnya hidrosefalus dapat mengakibatkan terjadinya cephalo pelvic

disproportion yang berat (Cunningham, 2005).

b) Etiologi

Hidrosefalus sebagian besar disebabkan oleh tidak lancarnya aliran

serebrospinalis atau berlebihannya produksi cairan serebrospinal pada janin.

c) Diagnosis
Hidrosefalus pada janin dapat didiagnosis melalui (Cunningham, 2005):

1) Pada letak kepala dapat ditemukan kepala lebih besar dari biasanya

sehingga menonjol diatas simphisis.

2) Djj terletak lebih tinggi dari biasanya.

3) Pada pemeriksaan VT dapat diraba adanya sutura dan ubun-ubun yang

melebar tegang dan tulang kepala tipis.

4) Pada pemeriksaan USG didapatkan adanya BPD lebih besar dari usia

kehamilannya.

d) Penatalaksanaan

Persalinan pada janin dengan hidrosefalus upaya yang pertama kali dilakukan

adalah pengecilan ukuran kepala bayi dengan menggunakan sefalosintesis sehingga

bayi dapat dilahirkan pervaginam atau perabdominam. Namun, sefalosintesis dapat

mengakibatkan terjadinya perdarahan intrakranial pada janin sehingga sebaiknya

teknik ini digunakan pada janin dengan kelainan yang sudah cukup parah. Pada

kehamilan dengan janin hidrosefalus sebaiknya dilakukan pelahiran secara

perabdominam (Cunningham, 2005).

2.5 Distosia Karena Kelainan Tulang Panggul

1. Definisi

Distosia karena kelainan panggul adalah persalinan yang sulit yang

disebabkan oleh adanya kelainan dari bentuk panggul atau ukuran panggul.

Menurut Caldwell dan Moloy bentuk panggul di bagi dalam empat jenis, yaitu

(Cunningham, 2005):
a) Panggul Ginekoid

Pintu panggul yang bundar dengan diameter transversa yang sedikit lebih

panjang daripada diameter anteroposterior dan panggul tengah serta pintu bawah

panggul yang cukup luas. Dinding samping panggul lurus, spina tidak menonjol,

dan diameter transversa spina ischiadika 10 cm atau lebih.

b) Panggul Antropoid

Panggul jenis ini memiliki diameter anteroposterior yang lebih panjang

daripada diameter transversa dan dengan arkus pubis menyempit. Spina ischiadika

pada panggul jenis ini cenderung menonjol dan dinding samping panggul

cenderung berbentuk konvergen.

c) Panggul Android

Panggul android memiliki ciri pintu atas panggul berbentuk segitiga dengan

spina ischiadika menonjol kedalam dan arkus pubis menyempit. Dinding samping

biasanya konvergen, spina ischiadika menonjol, dan os sakrum tidak melengkung

tetapi lurus dan maju ke depan.

d) Panggul Platipelloid

Panggul dengan diameter anteroposterior yang lebih pendek daripada

diameter transversa pada pintu atas panggul dan dengan arkus pubis yang luas.

Sudut panggul anterior sangat lebar dan kelengkungan os sakrum biasanya cukup.
Dari keempat jenis panggul diatas panggul ginekoid merupakan jenis panggul

dengan prognosa persalinan paling baik, sedangkan ketiga jenis panggul lainnya

dapat menyebabkan terjadinya distosia persalinan.

Distosia karena kelainan ukuran panggul (disproporsi fetopelvik) dapat

disebabkan karena berkurangnya ukuran panggul, ukuran janin yang terlalu besar,

atau kombinasi diantara keduanya. Setiap penyempitan pada diameter panggul baik

pintu atas panggul, pintu tengah panggul, maupun pintu bawah panggul dapat

menyebabkan terjadinya distosia pada persalinan.

a) Penyempitan pintu atas panggul

Pintu masuk panggul dianggap menyempit apabila diameter anteroposterior

terpendeknya kurang dari 10 cm atau diameter transversa terbesarnya kurang dari

12 cm.

b) Penyempitan pintu tengah panggul

Pintu tengah panggul dikatakan menyempit apabila jumlah diameter

intraspinarum ditambah diameter sagitalis posterior panggul tengah kurang dari

atau sama dengan 13,5 cm.


c) Penyempitan pintu bawah panggul

Pintu bawah panggul menyempit didefinisikan sebagai pemendekan diamter

intertuberosum hingga 8 cm atau kurang (Cunningham, 2005).

2. Diagnosis

Penegakan diagnosis pada distosia akibat adanya kelainan ukuran panggul

dapat ditegakkan dengan melakukan pengukuran pengukuran kapasitas panggul

(Cunningham, 2005).

a) Pintu atas panggul

Dilakukan pemeriksaan dalam untuk menentukan konjugata diagonalis yang

diukur dari tepi bawah simphisis phubis hingga ke promomtorium os sacrum. Pintu

atas panggul berukuran cukup apabila promontorium tidak menonjol dan ukuran

konjugata diagonalis lebih besar dari 11,5 cm.

b) Pintu tengah panggul

Dilakukan pemeriksaan dalam untuk mengetahui kapasitas pintu tengah

panggul, pintu tengah dikatakan tidak menyempit apabila spina ischiadika tidak

menonjol, dinding samping tidak teraba melengkung, dan kecekungan os sacrum

tidak dangkal.

c) Pintu bawah panggul

Dilakukan pengukuran diameter intertuberosum dengan meletakkan tangan

terkepal pada perineum diantara kedua tuberositas ischii. Ukuran normal apabila

lebih dari 8 cm.

3. Penatalaksanaan

Persalinan dengan distosia akibat adanya kelainan ukuran panggul atau

kelainan bentuk panggul sebaiknya dilakukan melalui perabdominam. Persalinan


pervaginam dapat dilakukan tetapi memiliki resiko kegagalan yang cukup besar dan

dapat menimbulkan terjadinya cedera pada kepala janin (Cunningham, 2005).


BAB III

KESIMPULAN

1. Distosia merupakan persalinan yang sulit, tidak ada kemajuan dalam persalinan

atau merupakan persalinan yang membawa satu akibat buruk bagi janin maupun

ibu.

2. Distosia terjadi karena beberapa faktor, yaitu :

a. Kelainan Power

b. Kelainan Passage

c. Kelainan Passanger

3. Penanganan distosia tergantung dari jenis distosianya, dapat dilakukan manuver

obsteterik tambahan agar dapat dilahirkan secara pervaginam atau melakukan

persalinan perabdominam.
BAB 3

LAPORAN KASUS

3.1 IDENTITAS PASIEN

Nama : Ny. MA

Usia : 30 tahun

Alamat : Sei. Dareh

Pekerjaan : IRT

Agama : Islam

Status Menikah : Menikah

Suku : Minang

3.2 ANAMNESIS

Keluhan Utama : Nyeri pinggang yang menjalar ke ari-ari sejak 2 jam sebelum masuk

rumah sakit.

Riwayat Penyakit Sekarang :

 Nyeri pinggang yang menjalar ke ari-ari sejak 2 jam sebelum masuk rumah sakit.

 Keluar lendir bercampur darah dari kemaluan ada sejak 2 jam sebelum masuk rumah

sakit

 Keluar air-air yang banyak dari kemaluan ada, 30 menit sebelum masuk rumah sakit
 Keluar darah yang banyak dari kemaluan tidak ada.

 Gerak janin dirasakan sejak 5 bulan yang lalu.

 HPHT : 22-7-2017, TP : 29-4-2018

 Riwayat hamil muda : mual (-), muntah (-), perdarahan (-).

 ANC : kontrol ke bidan teratur, 1 kali sebulan

 Riwayat hamil tua : mual (-), muntah (-), perdarahan (-)

 Riwayat menstruasi : menarche umur 12 tahun, siklus teratur , lamanya 5-7 hari,

jumlah 3-4  ganti duk/hari, nyeri haid (-).

Riwayat Kehamilan / Persalinan / Nifas / Ginekologi :

 Kehamilan/Persalinan/Abortus : 1/1/0

Riwayat Penyakit Dahulu :

Tidak ada riwayat penyakit jantung, paru, hati, ginjal, DM dan hipertensi.

Riwayat Penyakit Keluarga :

Tidak ada riwayat keluarga mempunyai penyakit keturunan, menular dan kejiwaan.

Riwayat Pekerjaan, sosial ekonomi, kejiwaan& kebiasaan :

Riwayat Perkawinan : 1 

Riwayat pendidikan : SMA

Riwayat pekerjaan : ibu rumah tangga

Riwayat kebiasaan : tidak merokok, minum alkohol dan narkoba

Riwayat imunisasi :-

3.3 PEMERIKSAAN FISIK


Keadaan Umum : Sakit sedang Nadi : 80 kali/menit

Kesadaran : Komposmentis kooperatif Nafas : 20 kali/menit

Tekanan Darah : 130/80 mmHg Suhu : 37°C

Edema :-/- Ikterik :-/-

Sianosis : - /- Anemis : - /-

Status Generalisata

Kulit : tidak tampak kelainan

KGB : tidak tampak dan tidak teraba pembesaran

Kepala : Normocephal, rambut hitam tidak mudah rontok

Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil isokor.

Leher : JVP 5 – 2 CmH2O, tidak terdapat pembesaran kelenjar tiroid dan KGB.

Paru

Inspeksi : simetris kiri dan kanan saat statis dan dinamis.

Palpasi : fremitus kiri dan kanan sama

Perkusi : sonor

Auskultasi : vesikuler, rhonki -/-, wheezing -/-

Jantung

Inspeksi : iktus kordis tidak terlihat


Palpasi : iktus kordis teraba 1 jari medial linea midclavicula sinistra RIC V

Perkusi : batas jantung dalam batas normal

Auskultasi : irama teratur, bising tidak ada, bunyi tambahan tidak ada

Abdomen : Status obstetrikus

Punggung : Tidak ada kelainan

Genitalia : Status obstetrikus

Anus : Colok dubur tidak dilakukan

Ekstremitas : Akral hangat, CRT < 2 detik, edema - / -

Status Obstetrikus

 Muka : chloasma gravidarum (-)

 Mammae : I : areola dan papilla hiperpigmentasi,

 Abdomen :

Inspeksi : -tampak membuncit sesuai usia kehamilan

-Linea mediana hiperpigmentasi (+)

-striae gravidarum (+)

Palpasi : LI: FUT: 31 cm

Teraba bagian keras, bulat.

L II : Teraba tahanan terbesar di kanan ibu

Teraba bagian-bagian kecil di kiri ibu


L III : Teraba massa besar, bulat, noduler

L IV: -

Auskultasi: BJA (+) 131-140 x/menit

 Genitalia : V/U tenang

VT: pembukaan 4-5 cm, persentasi bokong, houge I-II

Diagnosis Kerja :

- G2P1A0H1 parturien aterm 36-37 minggu kala 1 fase aktif + letak sungsang

3.4 PEMERIKSAAN PENUNJANG

a. Laboratorium (26 April 2018) :

 Darah

Hb : 10,5 gr/dl Hematokrit : 32%

Leukosit : 12.750 /mm3

Trombosit : 367.000 /mm3

Kesan : leukositosis

3.5 DIAGNOSIS

G2P1A0H1 parturien aterm 36-37 minggu kala 1 fase aktif + letak sungsang

3.6 PENATALAKSANAAN

- Kontrol KU, VS, His, DJJ

- IVFD RL 20 tpm

- SC cito
Follow-up

Tanggal Follow Up

26/4/2018 Dilakukan SCTPP+insersi IUD, lahir bayi laki-laki dengan:

09.00 WIB BB: 3700 gram, PB: 49 cm, AS: 7/9

A/ P2A0H2 post SCTPP ai letak sungsang + insersi IUD

P/

- Kontrol KU

- IVFD RL + drip sepasang 20 tpm

- Inj. Ceftriaxon 2 x 1 gr

- Inj. Transamin 3x1 amp

- Inj. Vitamin K 3x1

- Inj. Vitamin C 3x1

- Inj. Ranitidine 2x1 amp

- Kateter 24 jam

27/4/2018 S/ Demam (-), ASI (+), BAK (+)

07.30 WIB O/ KU: sedang, Kes: CMC, TD: 110/80, Nd: 78, Nf: 20, T: Af

Abd: luka operasi tenang, nyeri (+), kontraksi baik.

Gen: V/U tenang, PPV (-).

A/ P2A0H2 post SCTPP ai letak sungsang + insersi IUD + NH 1

P/

- Kontrol KU
- IVFD RL 20 tpm

- Inj. Ceftriaxon 2 x 1 gr

- Inj. Transamin 3x1 amp

- Inj. Vitamin K 3x1

- Inj. Vitamin C 3x1

- Inj. Ranitidine 2x1 amp

28/4/2018 S/ Demam (-), ASI (+), BAK (+)

07.20 WIB O/ KU: sedang, Kes: CMC, TD: 110/70, Nd: 78, Nf: 20, T: Af

Abd: luka operasi tenang, nyeri (+) berkurang, kontraksi baik.

Gen: V/U tenang, PPV (-).

A/ P2A0H2 post SCTPP ai letak sungsang + insersi IUD + NH2

P/

- Kontrol KU

- IVFD RL 20 tpm

- Inj. Ceftriaxon 2 x 1 gr

- Inj. Transamin 3x1 amp

- Inj. Vitamin K 3x1

- Inj. Vitamin C 3x1

- Inj. Ranitidine 2x1 amp

29/4/2018 S/ Demam (-), ASI (+), BAK (+)

07.30 WIB O/ KU: sedang, Kes: CMC, TD: 110/80, Nd: 84, Nf: 20, T: Af

Abd: luka operasi tenang, kontraksi baik.

Gen: V/U tenang, PPV (-).


A/ P2A0H2 post SCTPP ai letak sungsang + insersi IUD + NH3

P/

- Cefixime 2x200 mg

- Vitamin C 2x1 tab

- Asam mefenamat 3x500 mg

- Pasien boleh pulang


DAFTAR PUSTAKA
.
Corwin, Elizabeth J. 2009. Sistem Reproduksi. Dalam : Buku Saku Patofisiologi.
Jakarta :EGC, 784-785.
Cuningham F G, Norman F, Kenneth J, Larry C, John C, Katharine D, et al.
Abnormal Labor. In. Williams Obstetrics 23rd Edition. Thw Mc Graw-Hill
Companies, New York. 2010
Cuningham F G, Norman F, Kenneth J, Larry C, John C, Katharine D, et al..
Williams Obstetrics 22nd Edition. Thw Mc Graw-Hill Companies, New York.
2005
DeCherney,Alan. 2007. Current Diagnosis & Treatment Obstetrics &
Gynecology,Ed 10. McGraw-Hill Companies.

Muchtar R. Bentuk dan Kelainan Panggul. Dalam. Sinopsis obstetri. Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta: 2002: 315-330.
Schiara J, et al. 1997. Breech Presentation. Gynecology and Obstetric 6th edition,
Lippincot-Raven Publisher, Chicago.

Setjalilakusuma L. 2000. Induksi Persalinan, dalam Ilmu Bedah Kebidanan,


Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo, Jakarta.

Winkjosastro, Hanifa, 2006. “Ilmu kebidanan” Yayasan Bina Pustaka Sarwono


Prawirohardjo: Jakarta