Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH SWAMEDIKASI JERAWAT

Makalah
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Swamedikasi

Disusun Oleh:
Viki Fadhilah (1061711119)
Vivi Lasandra (1061711120)
Wahyu Agung Y. (1061711121)
Wahyu Marga K. (1061711122)
Wahyu Nur H. (1061711123)
Wike Arditaningrum (1061711124)
Yohana Fransiska E D. (1061711125)
Yuliana (1061711126)
Yunia Widianingrum (1061711127)
Yustine Amalia (1061711128)

PROGRAM STUDI APOTEKER


SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI “YAYASAN PHARMASI”
SEMARANG
2017
I. PENDAHULUAN
Acne vulgaris merupakan kelainan folikuler umum yang mengenai folikel
sebasea (folikel rambut) yang rentan dan paling sering ditemukan di daerah muka,
leher serta badan bagian atas (Suzanne,2001). Kligman melaporkan 15% remaja
mempunyai akne klinis (akne major) dan 85% akne fisiologi (akne minor), yaitu
akne yang hanya terdiri dari beberapa komedo (Soetjiningsih, 2004). Dari survei
di kawasan Asia Tenggara, terdapat 40-80% kasus jerawat, sedangkan di
Indonesia, catatan kelompok studi dermatologi kosmetika Indonesia,
menunjukkan terdapat 60% penderita jerawat pada tahun 2006 dan 80% pada
tahun 2007.
Dalam masa remaja maka fisik anak akan menjadi dewasa, seringkali
penyimpangan-penyimpangan daripada bentuk badan wanita atau laki-laki
menunjukkan kegusaran batin mendalam karena pada masa ini perhatian remaja
sangan besar tehadap penanmpilan dirinya. Maka remaja sendiri merupakan salah
satu penilaian yang penting tehadap badannya sendiri sebagai rangsang sosial.
Bila ia mengerti bahwa badannya tadi memenuhi persyaratannya, maka hal ini
berakibat positif terhadap penilaian dirinya. Bila ada penyimpangan-
penyimpangan timbullah masalah-masalah yang berhubungan dengan penilaian
diri dan sikap sosialnya (Monks, Knoers, 1991). Walaupun akne tidak
mengancam kehidupan, namun akne dapat menyebabkan konsekuensi psikologis
yang berat dan menimbulkan efek negatif pada kualitas hidup penderita, untuk itu
penanganan yang baik perlu dilakukan bukan hanya untuk tujuan kosmetik
(Abramovits, Gonzalez-Serva, 2000).
Dari prevalensi jerawat di atas dapat disimpulkan bahwa hampir sebagian
besar masyarakat khususnya remaja pernah menderita jerawat. Jerawat sendiri,
selain dapat menyebabkan ketidaknyamanan secara fisik baik dikarenakan
nyeri akibat jerawat dan purulent discharge. Selain menimbulkan bekas di wajah,
efek utama jerawat adalah pada jiwa seseorang, seperti dampak psikologis dan
menurunnya kualitas hidup.
II. PATOFISIOLOGI
Acne Vulgaris (AV) merupakan suatu penyakit peradangan kronis dari
folikel pilosebasea yang ditandai dengan adanya komedo, papul, kista, dan pustula
(Tahir, 2010). Acne vulgaris didefinisikan sebagai peradangan kronik dari folikel
polisebasea yang disebabkan oleh beberapa faktor dengan gambaran klinis yang
khas (Siregar,1991). Acne vulgaris atau jerawat, merupakan reaksi peradangan
folikel sebasea yang pada umumnya dan biasanya disertai dengan pembentukan
papula, pustula, dan abses terutama di daerah yang banyak mengandung kelenjar
sebasea (Wasiataatmaja, 2007). Jerawat hadir dalam berbagai bentuk, termasuk
komedo, whitehead, papula, pustula, nodul, dan kista. Daerah–daerah
predileksinya terdapat di muka, bahu, bagian atas dari ekstremitas superior, dada,
dan punggung (Harahap, 2000).

A. Epidemiologi
Karena hampir setiap orang pernah menderita penyakit ini, maka sering
dianggap sebagai kelainan kulit yang timbul secara fisiologis dan pada masa
remajalah Acne Vulgaris menjadi salah satu problem. Umumnya prevalensi
jerawat 80-100% pada usia dewasa muda yaitu 14-17 tahun pada wanita dan 16-
19 tahun pada pria. Diketahui pula bahwa ras Oriental (Jepang, Cina, Korea) lebih
jarang menderita Acne Vulgaris dibanding dengan ras Kaukasia (Eropa dan
Amerika) dan lebih sering terjadi nodulo-kistik pada kulit putih daripada Negro
(Wasiaatmadja, 2007).
Pada umumnya banyak remaja yang bermasalah dengan jerawat, bagi
mereka jerawat merupakan gangguan psikis (Ayudianti & Indramaya, 2010).
Sedangkan menurut Catatan Kelompok Studi Dermatologi Kosmetika Indonesia
menunjukkan terdapat 60% penderita Acne Vulgaris pada tahun 2006 dan 80%
pada tahun 2007 (Kabau, 2012)

B. Etiologi Jerawat atau Acne Vulgaris


Etiologi Acne Vulgaris belum diketahui secara pasti. Secara garis besar
terdapat empat faktor yang berperan dalam patogenesis Acne Vulgaris yaitu:
1. Peningkatan produksi sebum
Acne biasanya mulai timbul pada masa pubertas pada waktu kelenjar
sebasea membesar dan mengeluarkan sebum lebih banyak dari sebelumnya.
Terdapat korelasi antara keparahan acne dengan produksi sebum. Pertumbuhan
kelenjar sebasea dan produksi sebum berada di bawah pengaruh hormon
androgen.
Pada penderita acne terdapat peningkatan konversi hormon androgen
yang normal beredar dalam darah (testoteron) ke bentuk metabolit yang lebih aktif
(5>alfa dehidrotestoteron). Hormon ini mengikat reseptor androgen di sitoplasma
dan akhirnya menyebabkan proliferasi sel penghasil sebum. Meningkatnya
produksi sebum pada penderita acne disebabkan oleh respon organ akhir yang
berlebihan (end-organ hyperresponse) pada kelenjar sebasea terhadap kadar
normal androgen dalam darah, sehingga terjadi peningkatan unsur komedogenik
dan inflamatogenik sebagai penyebab terjadinya acne. Terbukti bahwa pada
kebanyakan penderita, lesi acne hanya ditemukan di beberapa tempat yang kaya
akan kelenjar sebasea.

2. Keratinisasi folikel
Keratinisasi pada saluran pilosebasea disebabkan olah adanya
penumpukan korneosit dalam saluran pilosebasea. Hal ini dapat disebabkan oleh
bertambahnya produksi korneosit pada saluran pilosebasea, pelepasan korneosit
yang tidak adekuat, atau dari kombinasi kedua faktor. Bertambahnya produksi
korneosit dari sel keratinosit merupakan salah satu sifat komedo. Terdapat
hubungan terbalik antara sekresi sebum dan konsentrasi asam linoleik dalam
sebum. Dinding komedo lebih mudah ditembus bahan–bahan yang dapat
menimbulkan peradangan. Walaupun asam linoleik merupakan unsur penting
dalam seramaid-1, lemak lain mungkin juga berpengaruh pada patogenesis acne.
Kadar sterol bebas juga menurun pada komedo sehingga terjadi keseimbangan
antara kolesterol bebas dengan kolesterol sulfat, sehingga adhesi korneosit pada
akroinfundibulum bertambah dan terjadi retensi hiperkeratosis folikel.

3. Kolonisasi Saluran Pilosebasea dengan Propionibacterium acnes


Terdapat tiga macam mikroba yang terlibat pada patogenesis acne adalah
Corynebacterium Acnes (Proprionibacterium Acnes), Staphylococcus epidermidis
dan Pityrosporum ovale (Malassezia furfur). Adanya seborea pada pubertas
biasanya disertai dengan kenaikan jumlah Corynebactirium Acnes, tetapi tidak ada
hubungan antara jumlah bakteri pada permukaan kulit atau dalam saluran
pilosebasea dengan derajat hebatnya acne. Dari ketiga macam bakteri ini
bukanlah penyebab primer pada proses patologis acne.
Beberapa lesi mungkin timbul tanpa ada mikroorganisme yang hidup
sedangkan pada lesi yang lain mikroorganisme mungkin memegang peranan
penting. Bakteri mungkin berperan pada lamanya masing–masing lesi. Apakah
bakteri yang berdiam di dalam folikel (resident bacteria) mengadakan eksaserbasi
tergantung pada lingkungan mikro dalam folikel tersebut.
Menurut hipotesis Saint-Leger, skualen yang dihasilkan oleh kelanjar
sebasea dioksidasi di dalam folikel dan hasil oksidasi ini menjadi penyebab
terjadinya komedo. Kadar oksigen dalam folikel berkurang dan akhirnya terjadi
kolonisasi Corynebacterium Acnes. Bakteri ini memproduksi porfirin, yang bila
dilepaskan dalam folikel akan menjadi katalisator untuk terjadinya oksidasi
skualen sehingga oksigen dan tingginya jumlah bakteri ini dapat menyebabkan
peradangan folikel. Hipotesis ini dapat menerangkan bahwa acne hanya dapat
terjadi pada beberapa folikel sedangkan folikel yang lain tetap normal.
4. Inflamasi
Faktor yang menimbulkan peradangan pada acne belum diketahui dengan
pasti. Pencetus kemotaksis adalah dinding sel dan produk yang dihasilkan oleh
Corynebacterium Acnes, seperti lipase, hialuronidase, protease, lesitinase, dan
neuramidase, memegang peranan penting pada proses peradangan.
Faktor kemotatik yang berberat molekul rendah (tidak memerlukan
komplemen untuk bekerja aktif) bila keluar dari folikel dapat menarik leukosit
nukleus polimorf (PMN) dan limfosit. Bila masuk ke dalam folikel PMN dapat
mencerna Corynebacterium Acnes dan mengeluarkan enzim hidrolitik yang bisa
menyebabkan kerusakan dari folikel pilosebasea. Limfosit dapat merupakan
pencetus terbentuknya sitokin.
Bahan keratin yang sukar larut yang terdapat di dalam sel tanduk serta
lemak dari kelenjar sebasea dapat menyebabkan reaksi non spesifik yang disertai
oleh mekrofag dan sel–sel raksasa. Pada fase permulaan peradangan yang
ditimbulkan oleh Corynebacterium Acnes, juga terjadi aktivasi jalur komplemen
klasik dan alternatif (classical and alternative complement pathways). Respon
pejamu terhadap mediator juga amat penting. Selain itu antibodi terhadap
Corynebacterium Acnes juga meningkat pada penderita acne yang berat (Tahir,
2010).

III. TANDA KLINIS JERAWAT


Lesi jerawat secara umum dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu: lesi
non-inflamasi dan lesi inflamasi. Lesi non-inflamasi terdiri dari komedo terbuka
atau komedo tertutup. Lesi ini merupakan manifestasi pertama pada tahap awal
pubertas dan seringmuncul awalnya di dahi. Dengan perkembangan pubertas dan
pertambahan usia, terutama pada wanita, lesi ini cenderungmuncul di area tubuh
di bawah leher, seperti pada dada dan punggung. Wanita berusia 30-an dan 40-an
tidakjarang dapat memiliki jerawat yang terkonsentrasi di dagu dan sepanjang
garis rahang. Lesi inflamasi dikarakterisasikan dengan adanya papula, pustula,
atau nodul.Tetapi dapat dimungkinkan pula bahwa pasiendapat menunjukkan satu
atau lebih dari jenis lesi.
 Komedo tertutup (whiteheads):terbentuk akibat penyumbatan pori-
pori oleh sebum (kelenjar minyak) yang terlalu aktif,bakteri maupun
sel kulit mati. Warna dari komedo ini putih dan kadang juga berwarna
kekuningan. Whiteheads berada tepat di bawah permukaan kulit dan
merupakan pembesaran dari mikrokomedo.
 Komedo terbuka (blackheads): komedo terbuka terjadi ketika pori-
pori hanya tertutup sebagian, sehinggaakan membebaskan beberapa
sebum, bakteri dan sel kulit mati yang terperangkap untuk perlahan-
lahan keluar ke permukaan. Warna hitam tersebut tidak disebabkan
oleh kotoran. Tetapi disebabkan oleh reaksi dari pigmen kulit
melanindengan oksigen di udara.
 Papula: papula memiliki ciri-ciri benjolan berwarna kemerahan dan
meradangtetapi pada bagian tengahnya belum bernanah.
 Pustula : pustula hampir sama dengan whitehead, tapi terjadi
inflamasi. Dengan ciri-ciri bulatan berwarna merah dan di bagian
tengahnya berwarna putih atau kuning yang merupakan nanah.
 Nodul :nodular jerawat terdiri dari bintik-bintik jerawat yang jauh
lebih besar, sangat menyakitkan, dan kadang-kadang bisa bertahan
selama berbulan-bulan
 Nodul merupakan akibat dari gangguan pada dinding folikel,sehingga
folikel akan melepaskan isinya ke dalam dermis di sekitarnya.
 Kista : kista jerawat dapat muncul mirip dengan nodul tetapi berisi
nanah
(Parija, et al., 2013 : 268; Krinsky, et al., 2015 :762)

Lesi Non-inflamasi

Polisebaseus Normal Mikrokomedo


Komedo tertutup Komedo terbuka
(whiteheads) (blackheads)

Lesi Inflamasi

Papula Pustula

Nodul Kista
(Lavers, 2014 : 16-18)

IV. TINGKAT KEPARAHAN JERAWAT

Grade of Acne Description


0 Kulit bersih tanpa inflamasi atau lesi noninflamasi
1 Hampir bersih : lesi non-inflamasi jarang, dan memiliki tidak lebih
dari satu lesi inflamasi kecil
2 Keparahan ringan (mild severity) : ada beberapa lesi non-inflamasi
dengan sedikit lesi inflamasi (papula / pustula saja, tidak ada lesi
nodular)
3 Keparahan sedang (moderate severity): banyak lesi non-inflamasi
dan mungkin memiliki beberapalesi inflamasi, serta terdapat satu
lesi nodular kecil
4 Parah (severe): banyak lesi non-inflamasi dan lesi inflamasi, serta
memiliki beberapa lesi nodular
(Krinsky, et al., 2015 :762)
V. TUJUAN TERAPI

Tujuan terapi jerawat adalah mencegah timbulnya jaringan parut akibat


jerawat, mengurangi proses peradangan kelenjar polisebasea dan frekuensi
eksaserbasi jerawat, mencegah dan meminimalkan bekas luka serta memperbaiki
penampilan pasien. Ada tiga hal yang penting pada pengobatan jerawat, yaitu:
1) Mencegah timbulnya komedo, biasanya digunakan bahan pengelupas kulit.
2) Mencegah pecahnya mikrokomedo atau meringankan reaksi peradangan.
3) Mempercepat resolusi lesi peradangan Pengobatan terhadap jerawat dapat
dikategorikan menjadi dua yaitu pengobatan yang diberikan dengan resep dokter
dan tanpa resep dokter. Obat jerawat tanpa resep dokter seperti benzoil peroksida,
sulfur, dan asam salisilat memiliki efek samping iritasi dan tak jarang
mengakibatkan parakeratolitik. Pengobatan dengan resep dokter pun tak jarang
menggunakan antibiotik seperti klindamisin, eritromisin, tetrasiklin, asam azeloat,
tretinoin, dan adapalen .Penggunaan antibiotik tersebut dalam jangka panjang
dapat menimbulkan resistensi, fotosensitivitas, kerusakan organ dan
imunohipersensitivitas (Wasitaatmaja, 1997).

VI. TATALAKSANA TERAPI

A. Terapi non farmakologis :


a. Menghindari pemencetan lesi dengan non higienis,
b. Memilih kosmetik yang non komedogenik, bebas minyak dan mengandung
moisturizer, selain itu juga dianjurkan untuk tidak menggunakan kosmetik
secara berlebihan (berat).
c. Lakukan perawatan kulit wajah seperti membersihkan wajah dengan sabun
muka dan air minimal 2 kali sehari
d. Mencuci muka dengan sabun yang keras (sabun batang) dapat meningkatkan
pH setidaknya 2,0 unit sehingga dapat menyebabkan kulit kering dan
menciptakan lingkungan untuk pertumbuhan P. acnes. (pH normal kulit
adalah 5,3-5,9)
e. Menggosok kulit dengan scrub abrasif atau berlebihan mencuci wajah dapat
menyebabkan iritasi kulit, sehingga harus dihindari.
f. Untuk menghindari iritasi kulit dan kekeringan selama terapi jerawat, penting
untuk menggunakan agen pembersih kulit yang lembut.
g. Pasien dianjurkan untuk menghindari gaya rambut yang terus menyentuh
wajah
h. Sinar matahari alami dianggap membantu dalam mengurangi jerawat, tetapi
terpapar yang terlalu banyak harus dihindari.
i. Mengurangi stress
j. Pasien juga harus mempertimbangkan perubahan diet dengan mengurangi
makanan dengan kandungan glukosa tinggi
k. Untuk mencegah atau meminimalkan timbulnya jerawat, sebaiknya
menghindari atau mengurangi paparan dari lingkungan seperti kotoran, debu,
bahan kimia yang iritatif.
l. Untuk mencegah hidrasi berlebihan pada kulit yang dapat menyebabkan
timbulnya jerawat, hindari menggunakan pakaian ketat karenaakanmembatasi
aliran udara.

B. Terapi fisik
Alat Pengobatan
Scrub Sifat abrasif dari scrub dapat membuka komedo yang
tertutup dan dapat mencegah perkembangan komedo.
Namun, sifat abrasif tersebut dapat merusak integritas kulit.
Kain pembersih Kain kurang abrasif daripada scrub dan dapat menyebabkan
wajah pengelupasan kulit.
Kuas (sikat) Gerakan kuas pada kulit dapat digunakan untuk
membersihkan kulit secara mendalam saat mengeluarkan
makeup. Dampak dari pengobatan ini belum dievaluasi
secara klinis
Alat pemanas Alat pemanas digunakan untuk mengobati jerawat dengan
cara berkontak langsung dengan lesi. Alat ini diduga dapat
mengobati jerawat melalui panas dan fototerapi
Terapi sinar Penggunaan sinar biru (415 nm) sertacampuran sinar biru
dan merah (415 nm dan 660 nm) telah ditemukanefektif
dalam mengurangi lesi jerawat setelah 4-12 minggu
(Krinsky, et al., 2015 :764)
C. Terapi farmakologis :
Terapi topikal
a. Benzoilperoksida
Benzoil peroksida (BP) merupakan produk antibiotik topikal untuk
jerawat, yang tersedia baik dengan ataupun tanpa resep. Benzoil peroksida
memiliki aktivitas keratolitik, komedolitik, dan antibakteri terhadap P.acnes. Sifat
lipofilik dari benzoil peroksida memungkinkan untuk menembus ke situs
pertumbuhanP.acnes.Benzoil peroksida membunuh bakteri dengan cara
melepaskan oksigen ke lingkungan, sehingga dapat merusak dinding sel bakteri
dan membunuh P.acnes, dimana bakteri inihanya dapat berkembang dalam
lingkungan yang bebas oksigen (Krinsky, et al., 2015 : 763 , Alldredge, et al.,
2013 : 948).Benzoil peroksida juga dapat meredakan komedo dengan cara
mengelupas dan membuka pori-pori kulit melalui aktivitas keratolitik (Alldredge,
et al., 2013 :948).
Benzoil peroksida memiliki kemampuan untuk mencegah atau
menghilangkan perkembangan resistensi bakteri oleh P. acnes.Penggunaan
benzoil peroksida yang dikombinasi dengan antibiotik telah direkomendasikan
untuk meminimalkan resistensi P. acnes.Benzoil peroksida sering digunakan
dalam kombinasi dengan antibiotik oral atau topikal lainnya.Benzoil peroksida
lebih efektif daripada antibiotik topikal seperti klindamisin dan eritromisin.Selain
itu,kombinasi benzoil peroksida dengan antibiotik akan lebih efektif dan lebih
dapat ditoleransi dengan baik daripada antibiotik tunggal. Formulasi non resep
dari benzoil peroksida tersedia dalam konsentrasi 2,5% - 10% (Krinsky, et al.,
2015 : 763-764).
Informasi dari Benzoil peroksida :
 Jangan gunakan benzoil peroksida jika Anda memiliki kulit yang sangat
sensitif atau peka terhadap benzoil peroksida.
 Saat menggunakan produk ini, hindari paparan sinar matahari dan dianjurkan
untuk menggunakan tabir surya.
 Hindari kontak BP dengan mata, bibir, mulut, hidung, serta luka, goresan,
dan lecet lainnya, untuk menghindari kemungkinan terjadinya iritasi yang
berlebihan.
 Iritasi kulit, ditandai dengan kemerahan, rasa terbakar, gatal, mengelupas,
atau mungkin bengkak, dapat terjadi. Iritasi dapat dikurangi dengan tidak
terlalu sering menggunakan produk tersebut atau menggunakan produk dalam
konsentrasi yang lebih rendah.
 Setelah 1-2 minggu pengobatan, penggunaan dapat dapat ditingkatkan hingga
2-3kali per hari selama periode2-3hari.
 Sedikit perbaikan pada kulit dapat terlihat hanya dalam beberapa hari, tetapi
efek maksimum bisa memakan waktu hingga 4-6minggu.
 Jika pengobatan dapat ditoleransi, tapi jerawat belum teratasi maka kekuatan
dapat ditingkatkan sampai 5% setelah 1 minggu dan10% setelah 2 minggu,
jika perlu (Krinsky, et al., 2015 : 765).

b. Asam salisilat
Asam salisilat merupakan agen keratolitik, memiliki efek komedolitik dan
antiinflamasi. Asam salisilat dapat dikombinasikan dengan sulfur dan resorsinol
yang bersifat sinergis. Asam salisilat kurang efektif dibandingkan dengan benzoil
peroksida (Wells, et al., 2009 : 183).
Asam salisilat atau Asam Beta Hidroksi adalah suatu agen komedolitik
yang terdapat dalam berbagai produk jerawat non resep dengan konsentrasi 0,5%
- 2%. Asam salisilat dapat larut dalam lemak, sehingga dapat menembus
pilosebaseus untuk menghasilkan efek komedolitik. produk asam salisilat juga
dapat memberikan perlindungan dari sinar matahari dengan menghambat radiasi
sinar ultraviolet B (UVB). Dimana radiasi sinar UVB dapat menginduksi
pembentukan sel-sel kulit yang terbakar dan menyebabkan kerusakan permanen
sel DNA. Namun, pasien yang menggunakan produk ini harusterus
menggunakantabir surya untuk melindungi kulit dari kerusakan kulit lebih lanjut.
Penggunaan produk ini harus dibatasipada daerah yang terkena. Penggunaan
produk di area yang luas untuk jangka waktu yang lama dapat mengakibatkan
keracunan. Tanda-tanda toksisitas salisilat meliputi mual, muntah, pusing,
kehilangan pendengaran, tinnitus, lesu, hiperpnea, diare, gangguan psikis,
kerusakan telinga bagian dalam, hipoglikemia, dan hipersensitivitas (Krinsky, et
al., 2015 : 766).
 Asam salisilat membantu membuka pori-pori dengan menyebabkan kulit
sedikit mengelupas.
 Obat ini kurang efektif dibandingkan benzoil peroksida.
 Asam salisilat dapat digunakan sekali atau dua kali sehari sebagai pembersih
atau sebagai gel topikal.
 Formulasi gel harus diaplikasikan hanya pada daerah yang sakit.
 Jika terjadi pengelupasan yang berlebihan, batasi penggunaan asam salisilat
menjadi satu kali sehari.
 Asam salisilat dapat menyebabkan sensitivitas terhadap matahari, sehingga
perlu menggunakan tabir surya (Krinsky, et al., 2015 : 765).

c. Sulfur
Sulfur termasuk produk untuk pengobatan jerawat, bersifat keratolitik dan
memiliki aktivitas antibakteri pada konsentrasi 3% - 10%. Apabila pada
penggunaan secara kontinyu, sulfur mungkin memiliki efek komedogenik.
Bentuk-bentuk alternatif sulfur diantaranya seperti natrium tiosulfat, seng sulfat,
dan seng sulfida. Kekurangan dari produk ini meliputi bau dari sulfur dan kulit
kering (jarang terjadi). Sulfur biasanya dikombinasikan dengan agen topikal lain
seperti resorsinol (Krinsky, et al., 2015 : 766).
 Sulfur bekerja dengan menghambat pertumbuhan P. acnes.
 Obat ini dapat digunakan 1-3 kali sehari, namun penggunaannya dibatasi
karena adanya warna kuning kapur dan karakteristik bau yang tidak
menyenangkan.
 Penggunaan sulfur sebagian besar sebagai ajuvan (terapi penunjang),
sehingga tidak seefektif benzoil peroksida.
 Jangan gunakan pada pasien yangmemiliki alergi terhadap obat sulfa.
(Krinsky, et al., 2015 : 765).

d. Sulfur dan Resorsinol


Kombinasi dari sulfur (3%-8%) dengan resorsinol (2%) atau resorsinol
monoasetat (3%), dapat meningkatkan efek dari sulfur. Fungsi produk ini terutama
sebagai agen keratolitik, membantupergantian sel dan deskuamasi (pengelupasan
kulit). Resorsinol tidak efektif bila digunakan sebagai monoterapi. Namun, produk
ini diyakini memiliki efek antibakteri, antijamur, dan keratolitik apabila
digunakan dengan produk anti jerawat lainnya seperti sulfur. Resorsinol
menimbulkan sisik berwarna coklat tua yang reversibel, pada beberapa individu
berkulit gelap (Krinsky, et al., 2015 : 766).

e. Asam alfa hidroksi


Agen keratolitik seperti Asam Alfa Hidroksi (AAH) juga merupakan
produk jerawat yang non resep. Asam hidroksi dianggap kurang kuat dan sering
digunakan ketika pasien tidak bisa mentolerir produk jerawat topikal lainnya.
Asam alfa hidroksi adalah asam yang terbentuk secara alami, dan
ditemukan pada tebu, susu, dan buah-buahan. Asam alfa hidroksi yang paling
umum adalah asam glikolat, asam laktat, dan asam sitrat. Asam alfa hidroksitidak
dapat menembus polisebaseus untuk menghasilkan efek komedolitik. Asam
hidroksi alfa tersedia dalam beberapa formulasi dalam konsentrasi 4% - 10% atau
melalui ahli pada konsentrasi yang lebih tinggi (Krinsky, et al., 2015 : 766).
Efek dari penggunaan asam alfa hidroksi yaitu dapat meningkatkan hidrasi
kulit dan turgor kulit. Selain itu, asam alfa hidroksi dapat menyebabkan
deskuamasi (pengelupasan kulit), dan normalisasi epidermis melalui efek
keratolisis. Efek keratolitik dari asam alfa hidroksidapat digunakan untuk terapi
jerawat serta untuk pengelupasan kulit (peeling) (Babilas, et al.,2012 : 488)
Perbandingan Agen Topikal Jerawat Nonresep

Benzoil Asam Salisilat Sulfur Resorcinol


Peroksida (Asam beta hidroksi)
Bakterisidal Ya Tidak Ya Ya (dan antijamur)
Keratolitik Ya Ya Ya Ya
Komedolitik Ya Ya Ya Tidak
Konsentrasi 2,5%-10 % 0,5% - 2% 3%-10% 2% (kombinasi
dengan sulfur)
(Krinsky, et al., 2015 : 767).

VIII. Pengobatan Jerawat Dengan OTC dan OWA

Untuk swamedikasi terhadap jerawat dapat digunakan obat-obat yang


mengandung :
a. Menggunakan Obat Yang mengandung Sulfur / belerang endap
Cara kerja obat : Mempunyai sifat germisida, fungisida, parasitisida, dan
juga mempunyai efek keratolitik.
Hal yang perlu diperhatikan :Hindarkan kontak dengan mata, mulut dan
mukosa.
Efek yang tidak diinginkan :Iritasi kulit
Contoh Obat OTC :
 Acne Feldin® ( B )( ISO INDONESIA, 2007: 275)
Komposisi : Sulfur Prespitat 6,6 %
Indikasi : Akne Vulgaris
Dosis : Oleskan 2 x sehari pada kulit berjerawat yang telah
dibersihkan
 Acnomel® ( B ) ( ISO INDONESIA, 2007: 275)
Komposisi : Resorsinol 2%, sulfur 8 %
Indikasi : Pengobatan Jerawat
 Bioacne® ( B )
Komposisi : Per g Cetrimide 5 mg, resorsinol 5 mg, sulfur 50 mg.
Indikasi : Jerawat
Dosis : Oleskan 2-3x/hari

b. Menggunakan Obat Yang mengandung Asam Salisilat


Cara kerja obat : Mempunyai sifat keratolitik, yang dapat melunakkan kulit
sehingga dapat membantu penyerapan obat lain dan fungisida yang lemah.
Efek yang tidak diinginkan : Iritasi kulit
Contoh Obat OTC :
 Verile® ( B ) ( ISO INDONESIA, 2007: 307 )
Komposisi : Asam Salisilat 0,5 %,Asam Borak 1 %, Resorsinol 2 %, aloe
vera 0,1 %,triklosan 0,1 %, alkohol 25 %.
Indikasi : Akne Vulgaris
 Rosal® ( B )( ISO INDONESIA, 2007: 306 )
Komposisi : Asam Salisilat 0,2 %, Resorsinol 0,5 %
Indikasi : Menghilangkan minyak yang berlebih pada kulit yang
berjerawat, mencegah timbulnya jerawat
Dosis : Tuangkan pada kapas, oles pada bagian yang berjerawat,
digunakan sesudah mandi dan sesudah membersihkan.

c. Menggunakan Obat Yang mengandung Resorsinol


Cara kerja obat : Mempunyai efek anti fungi, anti bakteri dan keratolitik.
Hal yang perlu diperhatikan : Tidak dianjurkan pemakaian jangka lama
karena dapat menggangu fungsi tiroid
Efek yang tidak diinginkan : Iritasi, reaksi alergi pada kulit

Contoh Obat OTC :


 Acnomel® ( B )
Komposisi : Resorsinol 2%, sulfur 8 %
Indikasi : Pengobatan Jerawat
 Rosal® ( B ) ( ISO INDONESIA, 2007: 275 )
Komposisi : Asam Salisilat 0,2 %, Resorsinol 0,5 %
Indikasi : Menghilangkan minyak yang berlebih pada kulit
yang berjerawat, mencegah timbulnya jerawat
Dosis :Tuangkan pada kapas, oleskan pada bagian yang
berjerawat, digunakan sesudah mandi atau sesudah membersihkan
muka (Botol 100 mL)
 Verile® ( B) ( ISO INDONESIA, 2007:307 )
Komposisi : Asam Salisilat 0,5 %, Asam Borak 1 %, Resorsinol
2 %, aloe vera 0,1 %,triklosan 0,1 %, alkohol 25 %.
Indikasi : Akne Vulgaris

d. Menggunakan Obat Yang mengandung Benzoil Peroksida


Cara kerja obat : Benzoil Peroksida secara perlahan-lahan melepaskan
oksigen aktif yang memberikan efek bakteriostatik juga mempunyai efek
keratolitik dan mengeringkan sehingga dapat menunjang efek pengobatan.
Hal yang perlu diperhatikan : Hindari kontak dengan mata, mulut dan
mukosa.
Efek yang tidak diinginkan : Iritasi kulit.
Contoh Obat OTC :
 Feldixid® ( B ) ( ISO INDONESIA, 2007:300 )
Komposisi : Benzoil Peroksida 5 %, Sulfur Presipitat 2%
Indikasi : Akne Vulgaris
Dosis : Oleskan 2x sehari pada kulit berjerawat yang telah
Dibersihkan
 Pimplex®( T ) ( ISO INDONESIA, 2007:304 )
Komposisi : Benzoil Peroksida 2,5 % / Krim
Indikasi : Akne Vulgaris
 Benzolac ®(T)
Komposisi : Benzoil Peroksida 2,5%
Indikasi : Membantu pengobatan jerawat
Dosis : 1 – 2 kali sehari, dioleskan tipis – tipis pada bagian
yang terkena jerawat, selama 3 hari pertama.
 Polybenza AQ®( B) ( ISO INDONESIA, 2007:275 )
Komposisi : Benzoyl Peroxide 2,5 % / 20 g
Indikasi : Akne Vulgaris
Dosis : Oleskan 1 atau 2 x sehari pada area yang terkena

Keputusan Menteri Kesehatan Nomor : 347/ MenKes/SK/VII/1990 tentang


OBAT WAJIB APOTIK yaitu obat keras yang dapat diserahkan oleh Apoteker
kepada pasien di Apotik tanpa resep dokter. Contoh obat keras untuk mengobati
acne, yang dapat diserahkan tanpa resep dokter oleh apoteker di apotik

(obat wajib apotik no 2) :


N Nama Generik Jumlah Maksimal Tiap Pembatasan
o. Jenis Obat Per Pasien
1. Clindamicin 1 tube Sebagai obat luar untuk obat
acne.
2. Dexametason 1 tube Sebagai obat luar untuk obat
acne.
3. Dexpanthenol 1 tube Sebagai obat luar untuk obat
acne.
4. Diclofenac 1 tube Sebagai obat luar untuk obat
acne.

IX. KASUS dan ANALISA SOAP


Nn.Y datang ke apotek mengeluhkan jerawat pada wajahnya. Kemudian
Nn. Y menceritakan pengalamannya yang sering berganti kosmetik dari dokter
satu ke dokter yang lain, sehingga keluhan tentang jerawatnya bukan berangsur
sembuh malah semakin bertambah. Nn. Y juga sangat suka makan gorengan dan
Nn. Y menanyakan obat yang cocok untuk jerawat di wajahnya.
ANALISA SOAP
Subyektif :
Ny.Y mengeluhkan jerawat pada wajah.
Riwayat Ny.Y sering berganti kosmetik dari dokter.

Obyektif :
-

Assesment :
Jerawat disebabkan karena Ny. Y berganti – ganti kosmetik dari satu
dokter ke dokter yang lain.

Plan :
Disarankan menggunakan produk Benzolac, karena mengandung
benzoil peroksida 2,5%.
Cara kerja obat : Benzoil Peroksida secara perlahan-lahan melepaskan
oksigen aktif yang memberikan efek bakteriostatik juga mempunyai
efek keratolitik dan mengeringkan sehingga dapat menunjang efek
pengobatan.
Hal yang perlu diperhatikan :Hindari kontak dengan mata, mulut dan
mukosa.
Efek yang tidak diinginkan :Iritasi kulit.
Cara penggunaan : dioleskan 2x sehari pada bagian jerawat.
Disarankan pasien menggunakan produk pimplex, yang mengandung
Benzoil Peroksida.

KIE :
Mengurangi makanan berlemak, mengandung MSG, dan junkfood,
menghindari begadang, mengkonsumsi sayur dan buah-buahan,
olahraga, pola hidup sehat, Menggunakan krim dengan cara dioleskan
2x sehari pada bagian jerawat yang telah dibersihkan.
X. DAFTAR PUSTAKA

Addor F. A. S., Schalka S. 2010. Acne in Adult Women. An Bras Dermatol.


85(6):789-95.

Alldredge, B.K., Corelli, R.L., Ernst, M.E., Guglielmo, B.J., Jacobson, P.A.,
Kradjan,W.A., Williams, B.R. 2013. Koda-Kimble & Young’s Applied
Therapeutics:The Clinical Use of Drugs, 10th Edition. USA:Lippincott
Williams & Wilkins.

Babilas, P., Knie, U., Abels, C. 2012. Cosmetic and Dermatologic Use of Alpha
Hydroxy Acids. Journal Compilation. 7 (10) : 488-491.
Badan Pom RI. Naturakos. Vol. IV/No.10. JULI 2009.

Haider A, Shaw J.C. 2004. Treatment of Acne Vulgaris. JAMA. 292(6):726-35.

Harper J.C. 2004. An Update on the Pathogenesis and Management of Acne


Vulgaris. J Am Acad Dermatol. 51(1):S36-8. Krinsky, D.L., Ferreri, S.P.,
Hemstreet, B., Hume, A.L., Newton, G.D., Rollins, C.J., Tietze, K.J. 2015.
Handbook of Nonprescription Drug An Interactive Approach to Self-Care
18th Edition. Washinton DC : American Pharmacists Association.
Miratunnisa, Mulqie Lanny, dan Hajar Siti. 2015. Uji Aktivitas Antibakteri
Ekstrak Etanol Kulit Kentang (Solanum Tuberosum L.) terhadap
Propionibacterium. Universitas Islam Bandung. ISSN 2460-6472.

Parija, S., Kanungo, S.K., Swain, S.R. 2013. A Review on Alternative Therapy of
Acne. International Journal of Research in Pharmacology &
Pharmacotherapeutics. Vol.2 (1) : 267-273.
Wells, B.G., Dipiro, J,T., Schwinghammer, T.L., Dipiro, C.V. 2009.
Pharmacotherapy Handbook Sevent Edition. The McGraw-Hill Companies,
Inc. New York, United States of America.

Zouboulis C. C., Eady A., Philpott M., Goldsmith L. A., Orfanos C., Cunliff e W.
C., Rosenfi eld R. 2005. What is the pathogenesis of acne. Experimental
Dermatology. 14: 143-52.

Beri Nilai