Anda di halaman 1dari 37

LAPORAN PELAKSANAAN

KULIAH KERJA NYATA


UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA
PERIODE GANJIL 2017/2018

DUSUN : MAKAKADDUT
DESA : KATUREI
KECAMATAN: SIBERUT BARAT DAYA
KABUPATEN : KEPULAUAN MENTAWAI

DISUSUN OLEH:
1. Anindita Aland Sahertya /Teknobiologi/ Atma Jaya Yogyakarta
2. Bertilia Kanina /Ilmu Sosial dan Politik/ Parahyangan Bandung
3. Claudia Anindita Cindy/Psikologi/Atma Jaya Jakarta
4. Geovany Daru Damara /Ilmu Komunikasi/ Widya Mandala Surabaya
5. Liliana Rahmadewi Santoso /Teknologi Pangan/ Soegijapranata Semarang
6. Yosef Sanpedro Andika /Sastra Inggris/ Sanata Dharma Yogyakarta

PUSAT PENGABDIAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT


LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA
SEMARANG
2018
LEMBAR PENGESAHAN

Program-program Kuliah Kerja Nyata periode Semester Ganjil 2017-2018 APTIK


Peduli Mentawai (10 Desember 2017-10 Januari 2018)

DUSUN : MAKAKADDUT
DESA : KATUREI
KECAMATAN : SIBERUT BARAT DAYA
KABUPATEN : KEPULAUAN MENTAWAI
PROVINSI : SUMATRA BARAT
TIM KKN : 1. Anindita Aland Sahertya /Teknobiologi/ Atma Jaya Yogyakarta
2. Bertilia Kanina /Ilmu Sosial dan Politik/ Parahyangan Bandung
3. Claudia Anindita Cindy/Psikologi/Atma Jaya Jakarta
4. Geovany Daru Damara /Ilmu Komunikasi/ Widya Mandala
Surabaya
5. Liliana Rahmadewi Santoso /Teknologi Pangan/ Soegijapranata
Semarang
6. Yosef Sanpedro Andika /Sastra Inggris/ Sanata Dharma
Yogyakarta

Telah dilaksanakan sebagaimana yang telah disajikan dalam laporan ini.

Semarang, 5 Februari 2018


Mengesahkan,

Ketua Pusat Pengembangan dan Dosen Pembimbing Lapangan,


Pemberdayaan Masyarakat (P3M),

Rudy Elyadi, SE.MM Katharina Ardanareswari, STP,MSc.


NPP.058.1.1989.053 NPP. 0581. 2016. 303

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Rencana
Program APTIK Peduli Mentawai ini tepat waktu. Penulis ingin mengucapkan banyak
terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam pembuatan Rencana
Program ini terutama kepada:
1. Prof. Robertus Wahyudi Triweko, Ph.D. selaku ketua koordinator KKN APTIK dan
penanggung jawab kegiatan ini.
2. Dosen pembimbing Universitas Widya Mandala, Dr. Gratianus Edwi Nugrahadi.
3. Dosen pembimbing Universitas Widya Mandala, Dr. Margaretha Ardhanari, S.E,
M.Si.
4. Dosen pembimbing Univeristas Atma Jaya Yogyakarta, Ir.Hendra Suryadharma,
MSP.
5. Dosen pembimbing Universitas Atma Jaya Yogyakarta, R.Sigit Widiarto,
S.H.,LL.M.
6. Dosen pembimbing Universitas Katolik Soegijapranata, Katharina Ardanareswari,
STP,MSc.
7. Dosen pembimbing Universitas Sanata Dharma, Dr. Widanarto.
8. Dosen pembimbing Universitas Katolik Parahyangan, Dr. Pius Sugeng Prasetyo.
9. Kepala Dusun dan penduduk Desa Katurei Kecamatan Siberut Barat Daya yang
telah memberikan penulis kesempatan untuk melakukan observasi dan penggalian
data.

Penulis berharap semoga program ini bisa memberikan tambahan pengetahuan


bagi semua pihak yang membaca program ini. Penulis juga menyadari bahwa program
ini belum sempurna, oleh karena itu penulis sangat berharap kepada semua pihak yang
membaca program ini untuk bisa memberikan saran demi perbaikan program.

Mentawai, 14 Desember 2017

Penulis

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Kegiatan


1.1.1. Latar Belakang Sosial Ekonomi
Dusun Makakaddut merupakan salah satu dusun pemekaran dari dusun
Sarausau yang memiliki kurang lebih 56 kepala keluarga. Menurut hasil
wawancara dengan salah satu penduduk setempat, penduduk asli Dusun
Makakaddut adalah penduduk asli Kampung Simangkat yang daerahnya sudah
rusak karena akibat bencana tsunami. Secara umum, masyarakat yang tinggal
di Dusun Makakaddut berprofesi sebagai petani dan nelayan. Sebagai petani,
mereka bekerja di ladang yang ditanami berbagai macam tumbuhan seperti
kelapa, pisang, pinang, kakao, cengkeh, durian, serta keladi. Disisi lain, profesi
mereka menjadi nelayan adalah menangkap hasil laut seperti kepiting, ikan dan
kerang.
Dari pengamatan yang kami peroleh, tidak semua hasil pertanian dan
perikanan tersebut dijual ke pasar yang ada di Muara Siberut yang sebelumnya
telah dikumpulkan terlebih dahulu ke pengepul. Hanya sebagian kecil saja dari
mereka yang mau terus menjadi pengepul atau menjual hasil tangkapannya ke
Pasar Muara Siberut. Sisa hasil ladang atau nelayan tersebut dikonsumsi untuk
keluarga. Disamping itu, kami juga menemukan penduduk di Dusun
Makakaddut yang berprofesi sebagai wirausaha dengan cara mendirikan kedai
jualan atau toko kelontong yang menjual barang-barang kebutuhan pokok dan
satu penduduk yang juga merangkap profesi menjadi pengepul kepiting.
Adanya pengepul kepiting di Dusun Makakaddut lebih memudahkan warga
untuk mendapatkan upah dari hasil tangkapan kepitingnya.
Tidak mudah bagi penduduknya yang berprofesi sebagai petani untuk
bisa mendapatkan harga yang sepadan dengan hasil ladang yang diperoleh.
Tengkulak yang membeli hasil ladang menaruh harga yang sangat rendah,
sehingga pendapatan petani tersebut menjadi tidak menentu. Faktor lain yang
membuat rendahnya hasil beli adalah adanya perbandingan kualitas hasil petani

1
2

dari Mentawai dengan hasil petani dari Minang, sehingga daya saing hasil
petani Mentawai menurun.

1.1.2. Latar Belakang Pendidikan


Terdapat dua instansi pendidikan Dusun Makakaddut, Desa Katurei,
Kecamatan Siberut Barat Daya, Provinsi Sumatra Barat yaitu tingkat Taman
Kanak-kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD), yaitu TK Yayasan Bhineka
Tunggal Ika (YBTI) Universal dan SD Negeri 19 Katurei. Dari sisi sarana dan
prasarana TK YBTI Universal, terdapat 3 orang tenaga pendidikan tamatan
SMA dan termasuk 1 orang kepala sekolah tamatan perguruan tinggi. Fasilitas
kelas di TK yang digunakan sudah cukup memadai namun ruang kelas kurang
mencukupi untuk menampung anak-anak TK. SD Negeri 19 Katurei memiliki
9 orang pengajar dan 6 ruang kelas yang digunakan untuk setiap tingkat kelas,
dari kelas 1 hingga 6 SD. Sarana dan prasarana di setiap kelas sudah cukup
memadai, dengan adanya papan tulis, bangku dan kursi di dalamnya. Sebagian
besar anak-anak di Dusun Makakaddut bersekolah di TK dan SD. Namun ada
juga yang tidak dapat melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih jauh.
Untuk melanjutkan ke jenjang SMP dan SMA, anak-anak Dusun Makakaddut
harus pergi ke Muara Siberut atau ke luar pulau karena terbatasnya instansi
pendidikan di dusun ini. Tenaga pendidikan di Dusun Makakaddut beberapa
perlu diperbanyak dan ditingkatkan baik dari sisi kuantitas dan kualitas.

1.1.3. Latar Belakang Infrastruktur


Dari segi infrakstruktur, kami kelompokkan menjadi 4 bagian yaitu
kebersihan, rumah, transportasi, dan sarana umum (gereja, masjid, WC umum,
dan lapangan voli). Penduduk di Dusun Makakaddut sebagian besar belum
menyadari arti akan kebersihan, yaitu membudayakan membuang sampah di
tempat sampah. Namun kesadaran masyarakatnya untuk mandi sebanyak 2 kali
dalam sehari sudah terbentuk. Sebagian besar rumah penduduk yang ada di
Dusun Makakaddut masih sangat sederhana dengan khas budayanya yaitu
beratapkan susunan daun pohon sagu dan kerangka bangunannya terbuat dari
kayu pohon Ariribuk atau pohon Kakaddut. Di dusun ini juga terlihat ada
3

beberapa uma yang dibangun, yaitu rumah adat Mentawai yang luas dan
panjang, biasanya digunakan untuk pesta besar suatu keluarga.
Sarana transportasi yang dapat ditemui dalam dusun ini sendiri adalah
motor, namun tidak semua penduduk punya motor karena penduduk disini
terbiasa untuk berjalan. Keadaan jalan utama di sepanjang dusun Makakaddut
terbuat dari pasir pantai dan sedikit campuran semen. Jalan ini sudah banyak
yang berlubang dan tidak rata.
Sarana umum yang tersedia di dusun ini seperti gereja, khususnya gereja
Katolik keadaannya masih sangat sederhana. Lantainya masih terbuat dari
plesteran kasar dan dindingnya masih tersusun dari kayu pohon Ariribuk.
Infrastruktur Gereja Kristen Protestan di dusun ini sudah baik, keadaan lantai
yang sudah di keramik, dan dindingnya sudah tembok bata. Begitu pula dengan
masjid yang ada di dusun ini sudah terbuat dari pasangan batu bata yang sudah
di plester dan di cat sehingga memadai untuk beribadah.
Tidak setiap rumah penduduk terdapat WC untuk mandi maupun untuk
buang air besar, sehingga di dusun ini terdapat WC umum untuk laki-laki dan
perempuan. Keadaan WC ini belum memadai karena dindingnya masih
plesteran kasar, lantainya masih campuran semen yang belum rata. Kondisi di
WC bagian perempuan pintunya hanya setengah utuh dan terbuat dari kayu.
Atapnya dari seng dan beberapa bagian sudah bolong. Air mengalir di suatu
bak mandi yang besar yang juga terbuat dari plesteran semen yang belum jadi.
Air yang mengalir di WC tidak terlalu keruh dan tidak berbau, namun air di
bak mandi yang ada terlihat keruh karena bak jarang dikuras. Air di dusun ini
beberapa bersumber dari bukit dan disalurkan ke rumah warga melalui program
pemerintah yaitu Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri
(PNPM). Di sepanjang jalan utama dusun ini terdapat beberapa air pancuran
yang disponsori oleh PNPM. Di dusun ini terdapat lapangan voli yang
keadaannya terbuat dari beberapa tonggak kayu dan keadaannya masih
sederhana.
4

1.2. Gambaran Kekuatan, Kelemahan, Peluang, & Tantangan Wilayah Kegiatan


Bagian ini berisi isu-isu yang dijumpai oleh kelompok di lokasi KKN.
Selain itu, kelompok juga menggambarkan kekuatan-kekuatan (potensi kekuatan)
yang dimiliki oleh wilayah dan/atau penduduk, beserta dengan peluang-peluang
yang dimiliki dan tantangan-tantangannya.
Dalam menggambarkan poin-poin tersebut, kelompok juga memberikan
penjelasan tentang isu-isu yang dijumpai serta diakhiri dengan menyertakan satu
rumusan isu yang paling mendasar yang menggambarkan isu utama.

1.2.1. SWOT Frame


Strengths Weaknesses
1. Tingginya laju pertumbuhan 1. Sumber daya manusia yang
penduduk. terdidik belum memadai.
2. Interaksi sosial antar warga 2. Kesadaran akan pengelolaan
yang tinggi. sampah sangat rendah.
3. Air sumber dari PNPM tidak 3. Kualitas tenaga pengajar yang
berbau dan berasa sehingga kurang memadai.
dapat dikatakan layak 4. Tidak adanya tindak lanjut
Internal

dikonsumsi. dari warga untuk memperbaiki


4. Terdapat sumber mata air lapangan voli.
program PNPM di tiap-tiap 5. Fasilitas MCK umum belum
titik. memadai.
5. Terdapat balai dusun dengan 6. Penggunaan balai dusun yang
fasilitas yang layak digunakan. kurang maksimal.
7. Pembangunan jalan setapak
yang rusak dan belum
diperbaiki.
Opportunities Threats
1. Material untuk memperbaiki 1. Infrastuktur sekolah yang
Eksternal

lapangan voli sudah tersedia. penggunaannya kurang


2. Banyaknya SDA (Sumber maksimal dan terpelihara.
Daya Alam) yang berupa 2. Keadaan lapangan voli yang
5

kayu, air, tanah. jauh dari standar layak pakai.


3. Terdapat lembaga pendidikan 3. Penyaluran air PNPM tidak
yaitu di tingkat Taman kanak- merata pada tiap-tiap rumah
kanak YBTI dan Sekolah warga dan kadang-kadang
dasar, SDN 19 Katurei. tersumbat dan keruh.
4. Tersedianya lapangan voli. 4. Keadaan bangunan gereja
5. Terdapat sarana tempat ibadah yang kurang memadai.
yang berupa gereja dan
masjid.

1.2.2. Analisis SWOT


a. Strenght - Opportunities
- Dengan adanya laju pertumbuhan penduduk yang tinggi menjadikan sumber
daya manusia yang dimiliki Dusun Makakaddut melimpah, haruslah diikuti
dengan adanya pendidikan, salah satu dengan memaksimalkan fasilitas SD
Negeri 19 Katurei dan Taman Kanak-kanak YBTI.
- Terdapat fasilitas air bersih PNPM yang layak dikonsumsi oleh warga agar
warga dapat mengutamakan hidup bersih dan sehat.
- Penduduk yang ada di Dusun Makakaddut dapat beribadah di tempat ibadah
yang sudah tersedia.
b. Strenght – Threats
- Dengan menggunakan interaksi sosial yang kuat antar warga dapat
menciptakan sarana gotong royong untuk membangun lapangan voli yang
memenuhi standar prasarana olahraga.
- Terdapat fasilitas air bersih PNPM yang layak dikonsumsi oleh warga,
sehingga layak untuk dipertahankan dan dipelihara agar saluran pipanya tidak
tersumbat.
- Adanya fasilitas ibadah selayaknya digunakan dan dipelihara dengan baik
supaya menciptakan suasana beribadah yang khusyuk.
- Dengan adanya balai dusun, diharapkan warga yang memiliki kegiatan
bersama dapat melaksanakannya di balai dusun.
6

c. Opportunities – Weaknessess
- Dengan menggunakan sarana sumber daya alam yang ada, dapat
menumbuhkan kesadaran warga untuk mengolah limbah rumah tangga dan
menciptakan kesadaran masyarakat tentang pentingnnya hidup bersih dan
sehat.
- Memperbaiki kualitas tenaga pengajar pada sekolah-sekolah yang ada di
dusun untuk memajukan sistem pendidikan pada tiap-tiap sekolah, di SD
Negeri 19 Katurei dan Taman Kanak-kanak YBTI.
- Dengan melakukan pemeliharaan pipa saluran PNPM dapat mendistribusikan
air bersih menuju ke rumah warga.
- Masyarakat yang banyak di dusun ini, seharusnya muncul rasa untuk
membangun MCK umum yang bersih sehingga dapat digunakan bersama-
sama dan tercipta kesadaran akan kesehatan, kebersihan, serta keamanan.
d. Weaknessess– Threats
- Dapat memperbaiki keadaan lapangan voli yang keadaannya jauh dari standar
layak pakai.
- Pembangunan jalan setapak yang rusak yang belum ada penanganan dari
pemerintah.

1.3. Isu Utama/ Isu Mendasar


Kepulauan Mentawai, Desa Katurei, Kecamatan Siberut Barat Daya
memiliki kekayaan alam yang sangat melimpah seperti pisang, pinang, kelapa,
cengkeh, keladi. Namun harga-harga bahan alam ini memiliki nilai yang rendah di
pasaran. Sehingga bahan-bahan ini hanya dikonsumsi oleh masyarakat setempat
saja tanpa adanya pengolahan bahan baku yang lebih lanjut. Selain itu,
perekonomian masyarakat belum berkembang dikarenakan tidak adanya lapangan
pekerjaan di desa ini. Dilihat dari pembangunan desa ini, dikatakan sangat lambat
karena pemerintahan yang menyediakan dana yang belum bisa transparan.
Padahal, masyarakat sudah menganggarkan kepada pemerintahan.
7

1.4. Deskripsi Perumusan Program


Berdasarkan beberapa strategi yang kelompok tentukan dari analisa S-W-
O-T, kelompok memilih salah satu strategi dan memfokuskan ke dalam
pemberdayaan masyarakat yaitu inspiratif dan inovatif dengan melibatkan mitra
lokal untuk memanfaatkan Sumber Daya Alam (SDA). Strategi yang kelompok
pilih adalah dengan menggunakan sarana sumber daya alam yang ada, dapat
menumbuhkan kesadaran warga untuk mengolah sumber daya alam lokal sebagai
suatu alat untuk kebersihan, pendidikan, pariwisata, perekonomian dan sosial
budaya.
Dalam strategi ini selain menggunakan sumber daya alam yang ada,
kelompok juga menggerakan kesadaran dan kepedulian masyarakat tentang
membuang sampah pada tempatnya serta menerapkan budaya menabung.
Kelompok mengajak warga untuk turut ambil bagian dalam gerakan ini, dengan
cara membuka diri dan meminta bantuan dari warga dalam proses pembuatan
tempat sampah konvensional. Kelompok memilih menciptakan gerakan
“Kampung Berseri” sebagai aktivitas pemberdayaan yang berbasis masyarakat
dengan masyarakat sebagai center learning.
Langkah tersebut kelompok pilih atas dasar keprihatinan kelompok
terhadap pentingnya self- awareness warga akan kebersihan tempat tinggal dan
alam yang dimiliki sebagai sarana untuk menunjang sistem perekonomian dan
pariwisata yang ada di Desa Katurei khususnya di Dusun Makakaddut. Pada
awalnya warga cenderung membuang sampah sembarangan dan menjadikan
Teluk Katurei sebagai tempat pembuangan akhir mereka. Hal tersebut sangatlah
disayangkan, melihat bahwa keindahan Kepulauan Mentawai yang begitu terkenal
di mata dunia. Oleh karena itu sangatlah penting bagi warga Dusun Makakaddut
untuk menjaga kebersihan lingkungan mereka sebagai investasi dalam bidang
kesehatan, kebersihan lingkungan, sistem perekonomian serta pariwisata di dusun
Makakaddut. Dari gerakan kami yaitu “Kampung Berseri” kami memberikan
penyuluhan mengenai budaya menabung, rumah belajar, sosialisasi inovasi
pembuatan abon ikan, pembuatan pupuk mol, sosialisasi pembasmi obat nyamuk,
serta pentingnya menanam obat keluarga.
BAB II
PROGRAM KERJA DUSUN MAKAKADDUT

Berikut kami uraikan beberapa program kerja kami serta beberapa evaluasi yang kami peroleh setelah melaksanakan program.

2. Rencana Kegiatan
Hari, Ukuran
No Masalah Tujuan Kegiatan PIC Evaluasi
Tanggal Keberhasilan
Obat di Melengkapi Menanam Minggu, 17 Seluruh tanaman yang
Cuaca yang kurang baik
1. puskesmas yang obat-obatan di tanaman obat Desember Geo dibawakan kelompok
membuat tanah becek
tidak lengkap puskesmas keluarga 2017 berhasil ditanam
Kurangnya
bahan baku
untuk
Informasi yang
pembuatan
Mengetahui dan disampaikan tidak
rosario Minggu, 17 80% masyarakat dapat
membuat rosario Pembuatan maksimal sehingga
2. sehingga Desember Claudia membuat rosario dari
dari bahan Rosario beberapa warga belum
masyarakat 2017 bahan manik-manik
manik-manik tahu tentang pembuatan
lebih sering
rosario ini.
menggunakan
biji-bijian
‘sagele’
- Senin, 18 6 tong sampah Keterlambatan
Desember 2017
Kurangnya Meningkatkan berhasil dibuat dan datangnya bahan baku
- Membuat - Selasa, 19
3. kesadaran akan kesadaran Desember 2017 Sanpedro dibagikan di titik membuat terjadinya
tong sampah
kebersihan masyarakat - Kamis, 21 tertentu dusun perubahan jadwal yang
Desember 2017 Makakaddut sudah ditentukan

8
9

- Pembagian
Senin, 1
Tong
Januari 2018
Sampah
Ada beberapa anak yang
Kurangnya Meningkatkan Selasa, 19 90% murid TK YBTI tidak dapat mengikuti
Rumah
4. pengajar minat belajar Desember Berti dan SDN 19 Katurei kegiatan karena
Belajar
terdidik anak 2017 mengikuti kegiatan bertepatan dengan
liburan sekolah.
Masyarakat
Mengenalkan
kurang
kepada Masyarakat masih
menerima
masyarakat kurang membutuhkan
adanya pupuk Selasa, 19 4 keluarga melihat
tentang pupuk Pembuatan pupuk tapi lebih
5. organik karena Desember Aland cara pembuatan pupuk
organik dengan Pupuk Mol membutuhkan
masih 2017 mol
starter pembasmi penyakit
mengutamakan
mikroorganisme tanaman kakao
pembusukan
lokal
dedaunan
- Informasi yang
disampaikan tidak
Meningkatkan semua warga tahu
Kurangnya
sumber tentang demo ini
produktivitas 80% masyarakat
pendapatan - Bahan baku ikan
serta inovasi Demo Rabu, 20 terutama ibu-ibu
ekonomi yang digunakan
6. untuk Pembuatan Desember Lili rumah tangga datang
masyarakat belum ada sehingga
meningkatkan Abon Ikan 2017 dan berkontribusi
sebagai buah perlu membeli di
perekonomian untuk membuat abon
tangan khas Pasar Muara Siberut
masyarakat
Mentawai
10

Kurangnya Masyarakat
Inovasi baru
pengetahuan Sosialisasi Kamis & mengimplementasikan Tidak semua kepala
dalam
masyarakat pembuatan Jumat, 21 & cara membasmi keluarga didatangi
7. membasmi Aland
akan cara pembasmi 22 Desember nyamuk secara alami karena ada rumah yang
nyamuk secara
membasmi nyamuk 2017 dengan cara door to tidak ada penghuninya
alami
nyamuk door
BAB III
IMPLEMENTASI PROGRAM KERJA

Kelompok kami merencanakan dan merealisasikan beberapa program kerja kami


pada tanggal 16 Desember hingga 21 Desember 2017. Terdapat 7 program kerja kami
diantaranya penanaman TOGA, pembuatan rosario, membuat tempat sampah, rumah
belajar, pembuatan pupuk mol, pembuatan abon ikan, sosialisasi pembasmi nyamuk.

a. Penanaman TOGA (Tanaman Obat Keluarga)


Latar belakang adanya program ini, yaitu dikarenakan obat-obatan di puskesmas
yang minim dan sudah melebihi batas waktu yang dikonsumsi (expired). Maka
dari itu tujuan program ini adalah agar masyarakat Dusun Makakaddut, jika
sedang terkena penyakit, dapat mudah untuk mendapatkan obat dikarenakan
penyediaan obat di Dusun Makakaddut sangatlah minim. Program ini
dilaksanakan pada tanggal 17 Desember 2017. Program penanaman TOGA ini
adalah awal atau menjadi program pembuka sebelum program-program lain
dilaksanakan. Penanggungjawab pelaksana program ini adalah Geo. Tanaman
obat keluarga yang ditanam meliputi sirsat manis, sambung nyawa, lidah buaya,
ciplukan, daun wungu, daun sendok, daun dewa, daun kelor. Penanaman ini
dilakukan di depan balai dusun Sarausau dan Makakaddut dengan dibantu oleh
campur tangan beberapa warga. Program ini mengalami beberapa kendala,
banyak rintangan ketika merealisasikannya meliputi tanah subur yang harus
diambil jauh dari lokasi dan musim hujan yang membuat tanah terus basah,
bahkan sampai tergenang air.

b. Pembuatan Rosario
Latar belakang adanya program kerja ini adalah kurangnya bahan baku untuk
pembuatan rosario sehingga masyarakat lebih sering menggunakan biji-bijian
‘sagele’ untuk membuat rosario. Selain itu, masyarakat Dusun Makakaddut
sendiri belum mengetahui cara membuat rosario yang ternyata relatif mudah.
Penanggungjawab pelaksanaan program pembuatan rosario ini adalah Claudia.
Tujuan diselenggarakannya program kerja pembuatan rosario ini adalah untuk
meningkatkan tingkat kreatifitas masyarakat Dusun Makakaddut dalam
11
12

mengelola biji-bijian terebut. Selain itu juga bisa menjadi sebuah mata
pencaharian yang nantinya rosario yang terbuat dari biji-bijian ‘sagele’ dapat
menjadi daya tarik bagi orang-orang dari luar pulau mentawai dan akhirnya
dapat menghasilkan uang. Program kerja pembuatan Rosario ini dilaksanakan
pada hari Minggu tanggal 17 Desember 2017. Dalam realisasinya masyarakat
sangat antusias belajar membuat rosario dari bahan-bahan berupa manik-manik,
senar, dan peralatan lainnya yang sudah dipersiapkan oleh kelompok. Namun
kendala dari program ini adalah informasi yang minim diinformasikan ke
masyarakat sehingga sebagian masyarakat tidak mengetahui adanya pembuatan
rosario ini.

c. Pembuatan Tempat Sampah


Kesadaran masyarakat yang kurang akan kebersihan di desa ini menjadikan latar
belakang kami membuat program pembuatan tempat sampah. Penanggungjawab
pelaksanaan program pembuatan tempat sampah ini adalah Sanpedro. Dengan
adanya tempat sampah di beberapa titik di Dusun Makakaddut diharapkan dapat
meningkatkan tingkat kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada
tempatnya dan akhirnya sampah yang berserakan di pinggir-pinggir jalan bisa
berkurang. Pembuatan tong sampah ini dilaksanakan pada hari Senin tanggal 18
Desember 2017. Ada 6 buah tong sampah dan 6 titik penyebaran tong sampah.
Bahan baku tempat sampah tersebut terbuat dari kayu Kakaddut yang disusun
sedemikian rupa hingga menjadi tempat sampah. Kegiatan pembuatan tempat
sampah ini tidak hanya di kerjakan oleh para mahasiswa, namun juga dibantu
oleh campur tangan beberapa warga dari Dusun Makakaddut. Meskipun
program pembuatan tempat sampah ini dapat berjalan dengan lancar, namun
kami para mahasiswa masih menemui beberapa kendala yaitu dana untuk
membeli bahan pembuatan tempat sampah masih minim, sehingga kami tidak
dapat membuat satu tempat sampah untuk setiap satu rumah. Kemudian kendala
lain yang dihadapi adalah masih minimnya waktu untuk menyelesaikan program
ini karena kami belum sempat memperbaharui TPA yang ada di Dusun
Makakaddut dan itu berdampak pada kebingungan masyarakat Dusun
Makakaddut untuk membuang sampah yang telah menunpuk di tempat sampah.
13

d. Pembuatan Abon Ikan


Latar belakang dari program pembuatan abon ikan ini adalah kurangnya tingkat
kreatifitas warga Dusun Makakaddut dalam pengolahan ikan. Padahal, jumlah
ikan di Dusun Makakaddut ini sangat melimpah, namun warga disini hanya bisa
mengolahnya dengan cara digoreng ataupun direbus. Tujuan dari program kerja
ini adalah untuk memberi pemahaman tentang pengolahan ikan supaya dapat
disimpan lama dan dapat menjadi salah satu inovasi perekonomian sebagai salah
satu buah tangan khas Mentawai. Penanggungjawab pelaksana program
pembuatan abon ikan ini adalah Lili. Sebelum pelaksanaan program, dilakukan
simulasi pembuatan abon di rumah Bapak M. Yusuf dengan bahan baku ikan
ambu-ambu (tongkol) dengan campuran bumbu seperti gula pasir, garam,
ketumbar, bawang merah, bawang putih, cabai merah, minyak goreng (boleh
tidak digunakan), asam, jahe, serai, daun salam, dan lengkuas. Simulasi ini
dilakukan pada hari Sabtu, 16 Desember 2017 dengan estimasi waktu 3-4 jam.
Program kerja dilaksanakan pada hari Rabu, 20 Desember 2017 dengan bahan
baku ikan yang digunakan adalah ikan karang dengan berat 3,5 kg. Kami
mengajak seluruh warga terutama ibu-ibu rumah tangga untuk datang melihat
cara pembuatan abon yang berlangsung di Balai Dusun Sarausau dan
Makakaddut. Tahap pertama yang dilakukan dalam pembuatan abon ini adalah
ikan dibersihkan dari kotoran perut dan dipotong melintang untuk memudahkan
pengukusan (penyiangan), lalu ikan dikukus sampai matang untuk memudahkan
pengambilan daging serta pemisahan tulang supaya daging ikan mudah untuk
dicabik-cabik (pengukusan). Setelah itu, daging ikan yang sudah halus
dicampurkan dengan bumbu-bumbu yang sebelumnya sudah dihaluskan hingga
merata (pemberian bumbu). Daging ikan yang sudah siap dengan bumbu yang
sudah disiapkan kemudian digoreng dengan minyak yang merendam seluruh
daging hingga kering dan berubah warna menjadi kecoklatan (penggorengan).
Tahap terakhir adalah pengepresan dimana daging ikan yang sudah berwarna
coklat dan digoreng matang dikeluarkan minyaknya hingga habis sehingga
diperoleh tekstur abon yang kering. Program kerja ini sempat terhambat karena
adanya beberapa hal yaitu hujan, bahan baku yang seharusnya didapat dari
memancing atau menjaring ikan tidak didapatkan karena kurangnya persiapan
14

untuk memancing sehingga kelompok perlu untuk membeli ikan di Pasar Muara
Siberut, peralatan yang perlu dipersiapkan banyak, informasi yang diberikan
kurang maksimal sehingga ada warga yang sebagian tidak tahu. Namun
selebihnya, program pembuatan abon ini mendapat antusias baik di kalangan
ibu-ibu Dusun Makakaddut karena mereka mengetahui salah satu cara
pengolahan ikan yang baru.

e. Rumah Belajar
Latar belakang diadakannya program rumah belajar ini adalah untuk
meningkatkan kreatifitas anak dan juga melatih wawasan anak agar lebih luas
dan terampil. Penanggungjawab pelaksanaan program rumah belajar ini adalah
Berti. Program rumah belajar ini dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 19
Desember 2017. Ada tiga kelas yang kami adakan, kelas pertama adalah kelas
bahasa inggris, kelas kedua mewarnai gambar sayuran, kelas ketiga adalah
boneka tangan. Disetiap kelas ada 2 mahasiswa yang mengajar anak-anak.
Target dari rumah belajar ini adalah anak TK dan siswa-siswi kelas 1 sampai 6.
Kendala yang kami temui saat melaksanakan program rumah belajar ini adalah
waktu pelaksanaan yang sangat minim karena kami hanya diberi ijin oleh guru
dan orang tua murid hanya satu jam. Sehingga kami tidak bisa memberikan
materi dan pembelajaran yang banyak.

f. Pembuatan Pupuk Organik dengan Tambahan MOL (Mikroorganisme


Lokal)
Latar belakang dilaksanakan program pembuatan pupuk organik dengan
tambahan mol yaitu pupuk organik menjadi solusi agar masalah tidak terjadi
sehingga produksi tetap meningkat. Pupuk organik dapat dibuat dengan
memanfaatkan mikroorganisme lokal sehingga masyarakat dapat menjadikan
sampah sebagai pupuk organik. Penanggungjawab pelaksanaan program ini
adalah Aland. Kendala yang dihadapi yaitu masyarakat belum tertarik
menggunakan pupuk dikarenakan tanah yang masih subur.
15

g. Pembuatan Pembasmi Nyamuk Alami


Latar belakang diadakan program pembuatan pembasmi nyamuk yaitu kawasan
perkampungan yang berada dekat dengan perairan merupakan daerah yang
disenangi oleh nyamuk, selain dekat dengan tempat berkembang biak. Dengan
adanya pembasmi nyamuk alami diarapkan masyarakat dapat melindungi diri
dari gigitan nyamuk sehingga terhindar dari sakit penyakit yang disebabkan oleh
gigitan nyamuk. Penanggung jawab pelaksana program ini adalah Aland.
Kendala yang ditemukan adalah bahan yang digunakan masih terbatas karena
belum keringnya cengkih yang digunakan sehingga dalam pembuatan hanya
menggunakan sedikit cengkih.
BAB IV
RINCIAN ANGGARAN DANA

PEMASUKAN

TOTAL ANGGARAN Rp 1.000.000

PENGELUARAN

Nama Barang Harga Jumlah Total


Selang timbang Rp 1,500 1 meter Rp 1,500
Ember tutup Rp 50,000 1 buah Rp 50,000
Lakban jilid Rp 15,000 1 buah Rp 15,000
Tang lancip Rp 20,000 1 buah Rp 20,000
Gunting Gunindho Rp 3,700 1 buah Rp 3,700
Penghapus JK Rp 1,000 15 buah Rp 15,000
Pensil Joyko Rp 1,500 10 buah Rp 15,000
Print Rp 1,000 1 buah Rp 1,000
Fotocopy Rp 200 55 lembar Rp 11,000
Fotocopy Rp 250 234 lembar Rp 58,500
Aqua gelas Rp 50,000 1 dus Rp 50,000
Aqua 1,5 liter Rp 8,000 11 botol Rp 88,000
Pembelian kayu Rp 20,000 10 kayu Rp 200,000
Palu Rp 50,000 3 buah Rp 150,000
Gula Rp 15,000 1 kg Rp 15,000
Jahe Rp 5,000 ¼ kg Rp 5,000
Jeruk nipis Rp 5,000 ¼ kg Rp 5,000
Saringan Rp 8,000 2 buah Rp 16,000
Ikan karang Rp 24,300 3,5 kg Rp 85,000
Bawang merah Rp 7,000 ¼ kg Rp 7,000
Daun salam Rp 2,000 1 tangkai Rp 2,000
Ketumbar Rp 2,000 2 plastik Rp 4,000
Asam jawa Rp 1,000 3 biji Rp 1,000
Minyak goreng Rp 15,000 1 liter Rp 15,000
Garam Dolphin Rp 5,000 1 bungkus Rp 5,000
Gula Rp 7,000 ½ kg Rp 7,000
Bawang putih Rp 3,000 1 sium Rp 3,000
Gula Rp 16,000 1 kg Rp 16,000
Bawang putih Rp 2,000 2 sium Rp 2,000
Cabai Rp 10,000 ¼ kg Rp 10,000
Serai Rp 2,000 1 ikat Rp 2,000
Daun salam Rp 1,000 1 ikat Rp 1,000
Ketumbar dan lada Rp 3,000 3 buah Rp 3,000
Tepung beras Rp 7,000 1 buah Rp 7,000
Telur Rp 5,000 3 butir Rp 5,000
Bensin Rp 10,000 5 liter Rp 50,000
16
17

Cat kuda terbang Rp 12,000 3 kaleng Rp 36,000


Amplas Rp 5,000 1 lembar Rp 5,000
Klip Rp 6,000 2 kotak Rp 12,000
Mata Pancing Rp 5,000 1 buah Rp 5,000
TOTAL PENGELUARAN Rp 1,002,700

REKAPITULASI ANGGARAN
TOTAL PEMASUKAN Rp 1,000,000
TOTAL PENGELUARAN Rp 1,002,700
SISA DANA Rp -(2,700)*
*)Didapat dari biaya mandiri
BAB V
PENUTUP

5.1.Saran
a. Perlu adanya observasi serta persiapan yang matang dalam menentukan suatu
masalah sehingga pada saat mahasiswa melakukan implementasi program kerja
yang akan dilaksanakan bisa dieksekusi dengan baik.
b. Perlu adanya interaksi antar warga yang baik misalnya diskusi bersama supaya
mahasiswa dapat memberikan solusi yang tepat bila menghadapi suatu masalah.
c. Perlu adanya komunikasi yang baik apabila ingin mengajak masyarakat
berpartisipasi sehingga semua warga dapat turut andil dalam program kerja.

5.2. Refleksi Anggota Kelompok


a. Anindita Aland Sahertya (Universitas Atma Jaya Yogyakarta)
Luar biasa kata itu yang dapat teruncap saat datang dikabupaten
Mentawai dengan puluhan pulau kecil yang nan indah dalamnya. Suatu
kesempatan berharga dan tidak dapat dilupakan setelah terpilih mengikuti
kegiatan KKN bersama APTIK. Kawan baru yang belum pernah kita kenal, akan
menemani dan menghiasi keseharian selama satu bulan yang awalnya terasa
berat dan indah pada akhirnya serta tidak terlintas akan gambaran untuk
membayangkan keadaan masyarakat dan keindahan alam mentawai. Dengan
kesederhanaan setiap warga desa dan tawa ceria anak anak yang menyambut
kami yang baru memasuki dusun makakaddut.
Malam pertama yang terlintas dalam pikiran adalah hangat dan tak akan
tergantikan, diawali dengan suasana makan bersama yang mengharuskan kita
untuk tidak memegang handphone saat makan yang sangat jarang kita temui di
perkotaan. Kegiatan rutin yang selalu dilakukan setelah makan yaitu berkumpul
bersama untuk sekedar berbagi cerita dan pengalaman yang sekali lagi tanpa ada
kesibukan diri sendiri dengan dunianya sendiri. Tak hanya menjadi kegiatan
rutin sehabis makan, berkumpul bersama duduk dan saling bertukar pikiran
dapat terjadi kapanpun baik sebelum makan, waktu di sore hari, sebelum tidur,
bahkan sesudah bangun. Dengan secangir minuman dan sepiring cemilan yang
selalu menemani indahnya berbagi.
18
19

Sebagai mahasiswa yang menjalani kkn, tumpukan program kegiatan


yang sudah tersusun harus segera terlaksana agar waktu waktu yang terlewati
tidak terbuang dengan sia-sia. Program kegiatan yang dilakukan perlahan-lahan
dapat terselesaikan, hingga pada saat persiapan natal dan tahun baru dilewati
bersama masyarakat, gotong royong untuk menyelesaikan semua program
kegiatan.
Berjalannya program kegiatan berjalan juga masalah yang datang, kami
pun harus dapat diselesaikan dan jika masalah tersebut datang lagi kita harus
siap menghadapinya. Ego adalah masalah terbesar dalam kelompok saat
berdiskusi dengan teman-teman baru yang belum sempat berkenalan satu dengan
lain untuk menemukan watak asli dari temen-temen. Amarah dan suasana yang
tidak kondusif itulah yang terjadi saat ego itu muncul dalam kegiatan program
kerja. Saling curiga kesesama teman akan gosip atau omongan di belakang yang
membicarakan dirinya mulai muncul saat ke tidak nyamanan yang di sebabkan
ego itu muncul. Kebersamaanlah kunci untuk meredam ego, yap sore yang indah
duduk bersama di dekat patung bunda maria dan membicarakan masalah apa
yang terjadi sehingga ego yang muncul, amarah yang terbentuk sehingga
menghadirkan senyum dan tawa diantara temen-temen mahasiswa.
Memang masalah yang datang tak akan pernah bisa terselesaikan tanpa
adanya kebersamaan. Bersama juga dapat menikmati indahnya anugrah terindah
yang di berikan Tuhan untuk memtawai. Bersama memang sangat indah, dapat
menciptakan rasa aman, rasa nyaman dan kekeluargaan. Tak hanya bersama
teman teman mahasiswa tetapi keluarga yang berada di mentawai, yap tak cukup
satu bulan untuk berbagi cerita bertukar pikiran akan tetapi sudah cukup untuk
merasakan kenyamanan yang tercipta sehingga sulit untuk meninggalkan
keluarga dimentawai. Keluarga tidak hanya rumah yang ditempati tetapi semua
warga yang sudah menyambut dan menerima kehadiran kami. Setelah rasa
nyaman dan kekeluargaan tercipta, perpisahan adalah tembok yang memisahkan
keluarga baru. Kesedihan yang tak dapat terbendung saat perpisahan itu di
terjadi. Akan tetapi biarlah perpisahan ini merupakan awal dari pertemuan-
pertemuan dimasa-masa yang akan datang.
20

b. Bertilia Kanina (Universitas Katolik Parahyangan Bandung)


Bandung, 2 Desember 2017. Akhirnya UNPAR memberikan kepastian
kepada kami untuk pergi ke Mentawai pada taanggal 10 Desember 2017 ketika
UAS masih berlangsung. Kami diizinkan untuk mengikuti UAS susulan setelah
tanggal 10 Januari 2018. Hal ini membuat saya mulai mempersiapkan barang-
barang yang akan dibawa menuju Mentawai, tempat yang belum saya ketahui
bagaimana keadaannya. Dengan niat yang sudah bulat, tiket pesawat pun kami
dapatkan untuk keberangkatan tanggal 10 Desember menuju Padang.
Di Padang pukul 16.00 kami sampai di PMKRI Padang untuk saling
mengenal satu sama lain dengan teman teman baru. Dari berbagai universitas,
jurusan dan latar belakang kami dipersatukan untuk membantu mengembangkan
Mentawai. Berbagai macam usulan program kerjapun terlontarkan dari setiap
pribadi kami untuk dusun yang kami tinggali selama tiga minggu. Lalu kamipun
mematangkan usulan kami agar program kerja bisa berjalan dengan baik.
Pada tanggal 12 Desember, perjalanan pun kami lanjutkan menuju
Siberut untuk menginap satu malam di paroki. Perjalanan selama 7 jam kami
lalui dan akhirnya kami tiba di Siberut. Lalu pada tanggal 13 Desember tibalah
kami di dusun masing-masing dan saya ditempatkan di Dusun Makakadut.
Pembagian rumah pun dilakukan dan saya ditempatkan di rumah Kepala Dusun
Makakadut, Pak Mikael bersama dengan Mama, keempat anaknya yaitu Garai,
Pidel, Ervina, dan Silva dan bersama dua peserta APTIK yaitu Claudia dan Geo.
Setiap malam kami adakan rapat kelompok bersamaan dengan kelompok
dari Dusun Serausau karena letak dusun kami yang berdekatan dan program
kerja kami yang sama. Dari mulai bermusyawarah mengenai agama,
membersihkan goa maria, membuat rosario, membersihkan kuburan, rumah
belajar, pembuatan tong sampah, pembuatan abon ikan, sensus penduduk,
menghias gereja dalam rangka merayakan Hari Natal, mempersiapkan tarian dan
nyanyian untuk dipersembahkan kepada warga pada perayaan tahun baru,
menghadiri undangan bupati Memtawai untuk makan bersama dalam rangka
merayakan hari Natal dan tahun baru, mengecet patung Bunda Maria,
penyuluhan Ayo Menabung, dan pergi menuju Kalilimo untuk mengunjungi
Kepala Desa.
21

Banyak hal baru yang saya dapatkan dari Mentawai yang amat kaya akan
alamnya dan kaya akan rasa kekeluargaannya. Dari sini saya mulai menghargai
keindahan alam akan semesta yang harus dijaga dan dilindungi. Kehidupan di
sini sangat berbanding terbalik dengan kehidupan saya di kota. Tanpa harus
berkerja setiap hari, masyarakat disini tidak perlu khawatir untuk kelaparan
karena sumber makanan yang bisa didapatkan dari alam. Rasa kebersaamaan
yang sangat kental membuat saya tidak pernah merasa kesepian seperti di kota.
Saling bertegur sapa ketika kami sedang berjalan jalan membuat kami lebih
mengenal warga dengan hangat.
Tak terasa sudah datang waktunya untuk berpisah dengan Makakadut.
Sedih untuk berpisah dengan keluarga baru yang telah memberikan banyak
pelajaran berharga bagi saya. Di lain sisi ada perasaan senang karena saya
memiliki banyak cerita baru tentang indahnya Mentawai untuk diceritakan ke
teman teman dan keluarga di rumah. Pengalaman yang tidak akan pernah
terlupakan. Pengalaman yang tidak pernah habis untuk diceritakan dan susah
untuk diungkapkan dengan kata-kata. Membuat hati ini tidak pernah berhenti
untuk bersyukur akan semesta.
Berpisah dengan Mentawai bukan merupakan akhir, tetapi menjadi awal
akan perjalanan kehidupan kami.

c. Claudia Anindita Cindy (Universitas Atma Jaya Jakarta)


Selama satu bulan mengikuti program KKN APM, saya mendapat
banyak pengalaman berharga. Pengalaman paling berkesan saya dapatkan di
dalam keluarga. Awalnya saya merasa takut tidak diterima atau tidak cocok
dengan keluarga di Mentawai. Saya sendiri merupakan orang yang cukup sulit
beradaptasi di lingkungan baru. Tapi ternyata, ketakutan saya salah. Di
Mentawai, saya tinggal bersama keluarga Bapak Michael yang merupakan
kepala dusun Makakkadut. Bapak Michael memiliki 6 anak dan semua anggota
keluarganya sangat terbuka dengan kedatangan saya.
Sejak hari pertama saya tinggal di rumah, mamak dan bapak bersikap
sangat ramah dengan saya. Mamak dan bapak sering bercerita tentang
kehidupan di Mentawai, membuat saya sedikit banyak mengerti tentang
22

masyarakat Mentawai. Hal lain yang mrmbuat saya terkesan adalah masyarakat
Mentawai sangat menghargai kedatangan orang lain. Walaupun saya datang
dari kota dan budaya yang berbeda, tapi mereka menganggap saya sebagai
keluarga. Setiap hari, mamak dan keluarga selalu menyempatkan waktu untuk
makan bersama dengan saya. Hal ini membuat saya terharu dan sedikit malu
karena selama tinggal di Jakarta, saya hampir tidak pernah makan bersama
dengan keluarga.
Selain itu, mamak dan keluarga selalu menyempatkan waktu untuk
mengobrol dengan saya setiap hari. Ini membuat saya berpikir kembali betapa
sederhananya tolak ukur kebahagiaan mereka. Hanya dengan berkumpul
bersama keluarga, mereka sudah dapat merasakan kebahagiaan. Dari keluarga
ini saya belajar bahwa kebersamaan merupakan sesuatu yang sangat penting
dalam keluarga. Selama sebulan berada di Mentawai, saya melihat bahwa
meskipun kehidupan mereka sangat sederhana dan hanya mengandalkan
sumber daya alam, tetapi mereka tetap dapat hidup dengan bahagia.
Tidak hanya di dalam keluarga, kebersamaan juga terasa dari masyarakat
di Mentawai. Saat hari raya natal dan tahun baru, semua warga berkumpul di
gereja sejak malam hari hingga subuh untuk merayakan hari raya. Perayaannya
pun terbilang cukup meriah. Semua warga dari anak-anak hingga orang dewasa
berkumpul untuk mempersembahkan tarian dan hiburan lainnya. Ini merupakan
pengalaman pertama bagi saya karena sebelumnya tidak pernah ada perayaan
seperti ini di kota.
Dari kegiatan KKN ini saya belajar betapa pentingnya meluangkan
waktu sejenak bersama orang lain. Jika selama di kota saya selalu berfokus
pada gadget, disini saya harus melupakan segala kemewahan yang ada di kota.
Saya juga belajar bagaimana cara berkomunikasi dengan masyarakat yang
berbeda bahasa dan budayanya dengan saya. Saya sangat bersyukur bisa banyak
belajar dari kegiatan KKN ini karena banyak hal yang sebelumnya tidak dapat
saya temui di kota.
23

d. Geovany Daru Damara (Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya)


Waktu telah menjemput, hari demi hari kian berlalu. Beribu ucap kata
terimakasih yang tak bisa diungkapkan untuk ‘dirinya’. Sungguh rasa syukur
saya berterimakasih kepada APTIK yang memberikan saya kesempatan, hingga
saya bisa menulis refleksi ini di malam terakhir saya tinggal bersama keluarga
istimewa ini dan hidup dalam masyarakat yang menjunjung keharmonisan.
Rupanya saya bisa menantang diri saya sendiri bahwa hidup itu harus
keluar dari zona nyaman. Sama seperti apa kata janji saya disaat wawancara
sebelumnya, saya ingin menantang diri saya untuk menjadi seseorang yang tidak
terus-terusan berada di zona nyaman. Disitulah rupanya saya bisa mengukur diri
saya untuk bisa berkembang.
Sebelum memasuki refleksi tentang saya berada di desa ini selama
sebulan, saya akan merefleksikan diri saya ketika bertemu dengan teman-teman
seperjuangan yang dimana saya tidak pernah mengenali mereka sebelumnya.
Beragam kota kami disatukan, dan beragam karakter kami dikompakan. Saling
mengenal satu sama lain itu momen yang berarti buat saya. Rupanya kami
berangkat dari latar belakang tujuan yang berbeda-beda dalam mengikuti
program APTIK ini. Ada yang berangkat dengan tujuan KKN, ingin menambah
pengalaman baru, mengikuti ini karena passionnya yaitu pemberdayaan
masyarakat bahkan ada juga yang sebagai pelarian. Tapi itu semua bukan
halangan buat saya dan teman-teman saya, meskipun berbeda-beda kami hanya
punya satu tujuan yaitu melayani sesama manusia sama seperti pengajaran
Yesus Kristus. Pengalaman bertemu dengan mereka, mengenali mereka, saling
sharing ilmu bahkan cerita kenakalan dan kekocakan mereka di kampus masing-
masing hingga cerita mengenai keluarga itu kami saling ceritakan, itu semua
membuat kami semakin memiliki rasa kekeluargaan dan saling menjaga satu
sama lain. Bekal itulah yang kami bawa ketika kami selama sebulan ini.
Poin yang saya ingin tekankan ketika menginjak tanah desa Katurei
selama sebulan ini adalah tentang kasih. Saya sangat belajar banyak hal di desa
ini, terutama mengenai kasih. Sangat terasa sekali kasih itu selalu hadir dalam
diri saya. Kemana dan kapan pun saya berada disitu selalu ada kasih yang
menyelimuti diri saya. Berbeda 180 derajat dari perkotaan, jauh dari keramaian,
24

jauh dari kericuhan, jauh dari transportasi kota, jauh dari teknologi yang
membuat manusia less gadget itu tidak pernah saya dapatkan disini.
Berawal dari keluarga angkat saya yang telah menerima saya untuk
tinggal bersama mereka dalam sebulan ini. Banyak pengalaman yang saya
belajar dari mereka, contohnya mengenai makan bersama ketika tiba saatnya
jam makan itu datang. Dalam keluarga saya sendiri jarang sekali kami makan
bersama dan berkumpul bersama, itu sebabnya saya sangat merasakan kasih itu
ada dalam keluarga angkat saya. Saling memberikan perhatian dan kepedulian,
bekerjasama satu sama lain, berinteraksi secara intens itu saya dapatkan
dikeluarga angkat saya namun tidak dalam keluarga saya sendiri. Di perkotaan
mereka sibuk dengan kepentingannya masing-masing termasuk saya.
Pembelajaran yang saya dapatkan adalah begitu sederhananya dan mudahnya
saya mendapatkan kasih itu dalam keluarga angkat saya ketika tinggal bersama
mereka. Apa yang saya dapat dan belajar mengenai kasih itu, akan saya terapkan
untuk keluarga saya sendiri nantinya.
Hingga saatnya kami menghadapi perpisahan itu. Rasa kehilangan dan
rindu saya mulai bercampur. Melihat isak tangis mereka saat kami berpisah,
disitu saya melihat ketulusan kasih mereka menerima saya sebulan lalu hingga
saat ini. Saya belajar bahwa kasih itu segalanya dan karena kasih kita dapat
melakukan hal apa saja. Termasuk suatu saat nanti ketika saya diijinkan Tuhan
bertemu mereka kembali, saya akan datang ke tanah ini untuk membuktikan
bahwa kasih dan kerinduan saya tidak ada habisnya untuk mereka. Sampai
jumpa keluarga baruku, sampai kita bertemu kembali.

e. Liliana Rahmadewi Santoso (Universitas Katolik Soegijapranata


Semarang)
Suatu kesempatan berharga bagi saya bisa mengikuti Kuliah Kerja Nyata
(KKN) di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Desa Katurei, Kecamatan Siberut
Barat Daya. Mentawai bagi saya merupakan salah satu kepulauan yang
menakjubkan di bagian barat negara Indonesia, pulau yang terdiri dari beraneka
macam dusun di empat pulau berbeda. Pulau yang diapit oleh Selat Mentawai
dan Samudra Hindia. Selama kurang lebih 1 bulan di Dusun Makakadut yang
25

termasuk bagian dari Desa Katurei, saya mendapatkan banyak cerita, ilmu, dan
pengalaman yang mungkin tidak saya dapatkan di daerah Jawa Tengah. Pertama
kali saya ditakjubkan oleh lingkungan yang masih asri dengan pohon-pohon
bakau yang mengelilingi desa. Perjalanan saya dengan kawan-kawan KKN
menggunakan transportasi boat. Disepanjang perjalanan menuju Desa Katurei,
terdapat teluk yang dikelilingi oleh pohon bakau, sagu dan pohon-pohon yang
meringkuk disisi kanan kiri teluk. Masyarakat di Mentawai sangat
mengandalkan transportasi berupa sampan, boat, pong-pong. Begitu mendekati
dusun Tiop, saya dan kawan-kawan tiba di balai Dusun Tiop. Disana telah hadir
beberapa perangkat desa dari berbagai perwakilan dusun Desa Katurei.
Kedatangan kami sebagai anak KKN disambut sangat hangat dan baik oleh
warga, terutama oleh anak-anak di sana. Hal yang terpikirkan di otak saya
pertama kali menginjakan kaki di Dusun Tiop adalah ‘amazing’. Sangat
beruntung saya dapat melihat keindahan Desa Katurei ini. Rumah-rumah yang
masih sederhana dengan balutan daun sagu, papan yang kokoh untuk mendirikan
rumah. Pada saat penerjunan saya ke rumah warga, kebetulan saya ditempatkan
di Dusun Makakadut bagian dari pemekaran Dusun Sarausau, saya melihat
adanya perbedaan yang mencolok dari Dusun Tiop. Dilihat dari anak-anaknya,
anak-anak di Dusun Sarausau dan Makakadut sangat pemalu dibandingkan
dengan anak-anak di Dusun Tiop. Namun begitu, beruntung saya dan teman-
teman sangat diterima di Dusun Sarausau dan Makakadut.
Kebetulan saya Muslim dan warga menyarankan agar siswa yang muslim
dijadikan 1 rumah dengan warga yang memeluk agama Muslim. Keluarga saya
adalah keluarga Pak Yusuf, Muslim yang tidak terlalu fanatik tapi sangat
menerapkan nilai-nilai keislaman ke dalam kehidupannya. Sebagai warga baru,
susah untuk beradaptasi mulai muncul ketika untuk mandi saja, warga yang
tidak memiliki MCK hanya mengandalkan MCK umum yang kondisinya sudah
miris dengan pintu hanya setengah bagian kanan, tidak ada kunci gembok, bak
mandi berbahan plester semen yang kita tidak tahu di dalamnya bersih atau
tidak, seng atap yang bolong, dan tidak tersedianya lampu. Bagian sisi depan kiri
MCK terdapat 2 buah kamar mandi kloset dengan keadaan yang miris juga, WC
yang 1 berkondisi tidak layak pakai karena sampah sedangkan WC yang 1 masih
26

layak pakai walau pintu juga tidak bisa terkunci. Namun yang paling saya salut,
warga dusun Sarausau masih bisa survive mandi di MCK dengan keadaan yang
sangat memilukan. Keluarga bapak Yusuf sangat sayang dengan saya dan Nadia
teman saya dari dusun Sarausau. Saya baru memahami budaya mereka bila
waktu jam makan telah tiba, baik makan pagi, makan siang dan makan malam,
mereka akan selalu menunggu anggota keluarganya untuk makan bersama
apabila ada salah satu anggota keluarga mereka yang masih pergi sebentar/ada
urusan lain. Uniknya, sesama tetanggapun apabila mereka berkunjung saat
makan pasti akan diajak untuk makan bersama. Di desa ini, kebersamaan dan
kekeluargaannya sangat kental. Tetanggapun bisa merupakan saudara kandung
sendiri. Kebetulan kami anak-anak KKN di Dusun Sarausau dan Makakadut
tinggal di lingkungan keluarga besar suku Tasiriabbangan, suku terbesar di
Dusun Sarausau. Jadi kekeluargaan antar anak-anak KKN juga tercipta karena
orang tua kita semua bersaudara dan kebaikan mereka yang menganggap kami
sebagai anak mereka sendiri. Di sini saya juga menyadari adanya kepercayaan
animisme yang diturunkan dari nenek moyang mereka bahwa mereka percaya di
dusun yang mereka tinggali masih berkeliaran roh-roh nenek moyang mereka
sehingga ada beberapa kegiatan atau perlakuan kita dianggap sebagai suatu
pantangan. Seperti contoh, mereka percaya bahwa mandi di malam hari setelah
pukul 6 sore merupakan pantangan, apalagi jika mandi di MCK umum. Mandi
dimanapun harus memakai minimal 1 baju atau potongan kain untuk menutupi
tubuh karena akan ada banyak roh-roh yang melihat kita saat mandi. Kemudian
saya juga menyadari bahwa rasa kekeluargaan yang dimunculkan di keluarga
saya sangat menyentuh terlebih pada saat saya makan bersama dengan mereka.
Kepedulian mereka datang saat saya sakit, terkena kissei atau kasapo. Jadi
masyarakat di sini percaya bahwa siapapun yang terkena kissei harus dilindungi
dan segera diobati dengan berbagai macam ramuan sebagai tameng diri selain
berdoa kepada Tuhan. Mereka mau membantu dengan sangat ikhlas, lahir dan
batin apapun untuk anak-anak KKN ini supaya program kerjanya bisa berjalan
dengan lancar tanpa hambatan apapun. Saya juga melihat dinamika baru pada
saat natal dan tahun baru dimana masyarakat di Dusun Sarausau selalu
mengadakan acara seperti pesta dari jam 8 malam hingga jam 4 subuh dan
27

banyak anak-anak yang tampil di waktu dini hari. Saya tidak bisa
membayangkan bagaimana lelah tubuh anak-anak yang menonton dan menari.
Ada satu anak dan cucu dari bapak dan ibu saya di rumah di Dusun Makakadut,
yaitu Ilyas dan Sukirman. Semua anak ini sangat pemalu di awal namun seiring
waktu saya bisa memahami bagaimana karakter anak-anak ini di saat satu hari
ada kami. Kebaikan dan ketulusan kedua anak ini memang secara tidak langsung
diutarakan lewat bibir, tapi terlihat dari kemauan dan kerja keras mereka untuk
membantu orang lain seperti saudaranya yang lain tanpa pamrih. Kehidupan
bermasyarakat di Dusun Makakadut sangat guyub dan rukun, baik antar
pemuda, anak-anak, ibu-ibu, serta bapak-bapaknya. Tindak kejahatan seperti
pencurian dan pemerkosaan sangat minim terjadi karena masyarakat di sini
sangat menghormati satu sama lain karena disini warganya saling menjaga
termasuk dalam hal agama, namun untuk agama jarang disinggung oleh
masyarakat.
Ada rasa bangga tersendiri yang tumbuh dan muncul di hati disaat anak-anak
KKN Dusun Makakadut dan Dusun Sarausau bisa melaksanakan semua program
kerja dengan baik, dapat meringankan program BPD, dan mengenal 10 pribadi
lain yang berbeda-beda latar belakangnya dengan baik sehingga sudah dianggap
sebagai saudara sendiri, teman yang selalu guyonan, bete’an, dan tertawa
bersama. Ada rasa haru dimana warga di Dusun Sarausau dan Makakadut
menerima kita anak-anak KKN dengan baik dan dianggap seperti anak-anak
sendiri, mendapatkan orang tua yang sayang dengan saya. Ada rasa senang saat
anak-anak kecil di dusun memanggil nama saya ‘Kak Lili’ disaat saya sedang
berjalan, bermain dengan anak-anak yang lain karena di perumahan saya di Jawa
tidak akan pernah saya dapatkan yang seperti ini. Hampir semua anak-anak kecil
tahu nama saya. Ada rasa sedih, senang, gembira, haru disaat kami anak-anak
KKN akan pergi ke kampung halaman masing-masing. Satu hal yang bisa saya
petik dari pengalaman KKN kali ini. Keluar dari zona nyamanmu, percayalah
bahwa semua yang kamu syukuri bisa membawa semangat positif bagi dirimu
dan orang lain. Rasa kebersamaan yang diperoleh dari keluarga mamak dan
bapak yang hangat selalu diingat. Dan memang seperti pepatah, akan ada
28

perpisahan disetiap pertemuan. Dan itu yang saya rasakan saat ini, namun
inshaAllah saya berjanji akan kembali saat saya sudah lulus ujian skripsi. Amin.

f. Yosef Sanpedro Andika (Universitas Sanata Dharma Yogyakarta)


Oke, Mentawai. Pertama kali saya dengar nama Mentawai, hal yang ada
dipikiran saya adalah tempat yang sangat terpencil, dengan tradisi-tradisi yang
masih kental, banyak hal mistis terdapat didalamnya, tempat dimana tidak ada
sinyal, listrik pun masih susah, pokoknya masih sangat primitif, itulah yang
pertama kali saya pikirkan. Saya awalnya sudah mendaftar KKN reguler yang
bertempatan di Gunung Kidul. Namun saat dibukanya pendaftaran KKN di
Mentawai, saya tidak ragu untuk mendaftarkan diri dan melepaskan KKN
reguler tersebut, karena saya sendiri ingin mencoba hal-hal baru dan juga ingin
mengetahui tradisi yang berbeda dari tradisi ditempat saya tinggal, yaitu Jawa.
Saya tau ada KKN Mentawai ini juga dari teman satu jurusan, dia menceritakan
hal-hal tentang mentawai dan akhirnya saya pun tertarik. Kata ragu pun mulai
hilang dalam kamus hidup saya.
Bumbu-bumbu untuk mempersiapkan apa yang saya lakukan pun tidak
terlalu maksimal, saya hanya meracik bumbu yang pas untuk memantapkan jiwa
dan raga saya saja untuk berangkat ke Mentawai. Dan akhirnya, sampailah saya
di Mentawai ini, setelah melewati perjalanan panjang, baik perjalanan udara,
darat, maupun laut saya tempuh demi ke Mentawai ini. Hal yang pertama kali
saya rasakan perbedaannya adalah bahasa, bahasa yang digunakan di sini adalah
bahasa mentawai, sangat susah dipelajari dan di ingat karna sangat rumit dan
membingungkan saat di dengar maupun di eja. Rumah-rumah di dusun tempat
saya ditempatkan juga masih memakai papan kayu, alas semen dan atap dari
daun pisang yang sudah dikeringkan.
Disini saya mulai merasakan yang namanya Kuliah Kerja Nyata.
Mengapa demikian? karena disini, semua serba susah. Air susah, listrik susah,
ekonomi pun masih susah. Bahkan, sinyalpun tidak ada. Transportasi disini pun
sehari-hari masih jalan kaki, dan jika ingin ke pulau lain di mentawai, harus
menggunakan 'pong-pong' atau disebut juga sampan. Adapun jumlah motor di
dusun makakaddut ini masih bisa dihitung dengan jari tangan. Saya tinggal
29

dirumah Bapak Kleleus. Beliau adalah BPD dusun sarausau. Ramah dan lucu
adalah kata yang tepat untuk mendeskripsikan watak beliau. Walaupun beliau
ramah dan lucu, namun patut saya acungi dua jempol untuk kedisiplinan beliau.
Bisa dibilang, walaupun beliau tinggal lama di Mentawai, tapi pola pikir yang
beliau punya sudah maju.
Setelah saya kurang lebih sebulan, tinggal dan hidup di Mentawai ini,
nilai-nilai dasar sebagai manusia yang berbudaya dan berjiwa sosial benar-benar
tercermin dari keseharian masyarakat di Dusun Makakaddut ini. Desa ini
mengingatkan kita untuk kembali mengingat kodrat kita sebagai makhluk sosial
yang seutuhnya. Menghargai momen yang ada dalam kesederhanaan untuk
menjadi bahagia adalah hal yang terlupakan oleh kita, orang-orang kota yang
sibuk dengan gawainya sendiri. Hiruk-pikuk kota dan arus informasi yang begitu
cepat menjadikan manusia lupa akan jati dirinya, menjadikan manusia lupa
untuk memikirkan orang di sekitarnya. Disini, saya belajar yang namanya
menghargai waktu dan kesempatan. Waktu untuk bisa berbagi cerita dan
pengalaman kepada bapak, ibu, pemuda dan anak-anak yang ada di dusun ini.
Kesempatan, untuk bisa belajar bersama. Kesempatan untuk bisa menjadi
pribadi yang lebih baik lagi, pribadi yang lebih unggul lagi. Dibalik semua yang
serba susah di Makakaddut ini, saya juga menghargai yang namanya usaha.
Karena sekecil apapun usaha yang dilakukan disini, itu adalah hal yang sangat
berharga bagi orang-orang disini untuk bisa menyambung hidup mereka.
Jujur, jikalau saya harus menulis refleksi tentang apa yang saya rasakan
di mentawai, tepatnya di Dusun Makakaddut ini, saya bingung harus dengan
kata apa saya bisa mengungkapkannya. Mungkin bagi kalian yang membaca,
terkesan biasa-biasa saja. Jadi intinya kalian yang mungkin sekarang sedang
membaca tulisan saya ini, RASAKANLAH sendiri keindahan dan kehangatan
yang ada di mentawai ini, karena dua hal tersebut tidak akan bisa di deskripsikan
hanya melalui kata-kata. Mungkin satu kata yang tepat untuk mendeskripsikan
segala sesuatu di mentawai ini adalah KELUARGA. Akhir kata, masura bagata
pada pihak APTIK yang telah memberikan saya kesempatan untuk bisa
merasakan yang namanya 'benar-benar hidup'. Dan juga, Surak sabeu untuk
30

Mentawai, Dusun Makakaddut yang sudah mau menerima saya selama sebulan
yang sangat tidak terasa ini. Meiku boiki.

5.3. Penutup
Demikian laporan pertanggungjawaban ini dibuat dengan sesungguh-
sungguhnya dengan tujuan melaporkan segala kegiatan yang telah dilakukan
selama pelaksanaan KKN APTIK Batch 2. Segala kekurangan tetap berpeluang
ada, oleh sebab itu kami bersedia bertanggungjawab seandainya ditemukan
kejanggalan dan masalah pada LPJ ini dikemudian hari.
LAMPIRAN
DOKUMENTASI KEGIATAN

Gambar 1. Saat menanam TOGA di depan Balai Dusun.

Gambar 2. Saat pembagian tong sampah di beberapa titik.

31
32

Gambar 3. Saat Pelaksanaan Rumah Belajar di SDN 19 Katurei.

Gambar 4. Proses Pembuatan Abon Ikan.


33

Gambar 5. Proses Pembuatan Rosario.

Gambar 6. Sosialisasi Pembuatan Pembasmi Nyamuk


34

Gambar 7. Pembuatan Pupuk Mol