Anda di halaman 1dari 10

Adaptasi Psikologis Ibu dalam Masa Nifas

Pengalaman menjadi orang tua khususnya menjadi seorang ibu tidak lah selalu merupakan suatu hal
yang menyenangkan bagi wanita atau pasangan suami istri. Realisasi tanggung jawab sebagai ibu setelah
melahirkan bayi seringkali menimbulkan konflik dalam diri seorang wanita dan merupakan faktor
pemicu munculnya ganguan emosi intelektual, dan tingkah laku seorang wanita. Beberapa penyesuaian
di butuhkan oleh wanita dalam menghadapi aktivitas dan peran baru nya sebagai seorang ibu. Sebagaian
wanita berhasil menyesuaikan diri dengan baik , tetapi sebagian lainya tidak berhasil menyesuaikan diri
dan mengalami ganguan-ganguan psikologis dari berbagai gejala atau sindrom yang oleh para peneliti
dan klinisi disebut post partum blues.

Banyak faktor yang di duga berperan pada sindrom ini, salah satu yang penting adalah kecukupan
dukungan sosial dari lingkunganya ( terutama suami ) kuranganya dukungan sosial dari keluarga dan
teman khususnya dukungan suami selama periode paska salin ( nifas ) diduga kuat faktor penting dalam
terjadinya post partum blues. Ada banyak perubahan yang terjadi di masa 9 bulan yang lalu dan bahkan
lebih yang terjadi sekarang , bahkan seorang ibu nifas mungkin merasa sedikit di tinggalkan atau di
pisahkan dari lingkunganya.

Banyak hal yang menambah beban hingga membuat seorang wanita merasa down. Banyak wanita
merasa tertekan setelah melahirkan, sebenarnya hal tersebuta adalah wajar. Perubahan peran seorang
ibu memerlukan adaptasi yang harus di jalani. Tanggung jawab menjadi seorang ibu menjadi besar
dengan lahirnya bayi yang baru di lahirkan. Dorongan da perhatiam dari seluruh anggota keluarga lainya
merupakan dukungan yang positif bagi ibu. Dalam menjalani adaptasi setelah melahirkan, ibu akan
mengalami fase-fase sabagai berikut :

a) Fase take in

Fase take in adalah periode ketergantungan yang berlangsung pada hari pertama sampai hari kedua
melahirkan.pada saat itu, fokus perhatian ibu terutama pada dirinya sendri . pengalaman selama proses
persalinan berulangkali di ceritakanya hal ini membuat ibu cendrung membuat pasif terhadap
lingkunganya.kemampuan mendengarkan ( listening skills ) dan meyediakan waktu yang cukup
merupakan dukungan yang tak ternilai bagi ibu. Kehadiran suami dan kelurga sangat diperlukan pada
fase ini. Perugas kesehatan dapat menganjurkan kepada suami dan kelurga untuk memberikan
dukungan moril dan menyediakan waktu untuk mendengarkan apa yang semua disampaikan pada ibu
agar dia dapat melewati fase ini dengan baik. Gangguan psikologis yang diraskan ibu pada fase ini
sebagai berikut :

a. Kekecewaan karena tidak dapat yang diinginkan tentang bayi nya. Misalkan : jenis kelamin
tertentu, warna kulit dan sebagainya.
b. Ketidaknyaman akibat perubahan fisik yang dialami ibu misalnya rasa mules akibat dari kontraksi
rahim payudara bengkak, akibat luka jahitan, dan sebagainya.

c. Rasa bersalah karena belum bisa menyusui bayinya

d. Suami atau keluarga yang mengkritik ibu tentang cara merawat bayinya dan cendrung melihat
bayinya tanpa membantunya. Ibu akan merasa tidak nyaman, karena hal tersebut merupakan bukan
hanya tanggung jawab ibu saja tetapi tanggung jawab bersama.

b) Fase taking hold

Fase talking hold adalah fase atau periode yang berlangsung antara 3-10 hari setelah melahirkan. Pada
fase ini, ibu merasa khawatir akan ketidak mampuanya dan rasa tanggung jawabnya merawat bayi. Ibu
memiliki perasaan yang sangat sensitivif sehingga mudah tersinggung dan gampang marah sehingga kita
perlu berhati-hati dalam berkomunikasi dengan ibu.

Pada fase ini ibu memerlukan dukungan karena saat ini merupakan kesempatan yang baik untuk
menerima berbagai penyulihan dalam merawat diri dan bayinya sehingga timbul percaya diri. Tugas
sebagai tenaga kesehatan adalah misalnya dengan mengajarkan cara merawat bayi, cara menyusui yang
benar, cara merawat luka jahitan, mengajarkan senam nifas, memberikan pendidikan kesehatan yang
diperlukan seperti gizi, istrihat, kebersihan diri, dll.

c) Fase lating go

Fase lating go adalah fase menerima tanggung jawab akan peran bayinya yang berlangsung 10 hari
setelah melahirkan. Ibu sdah dapat menyusuaikan diri, merawat diri dan bayinya , serta kepercayaan
dirinya sudah meningkat. Pendidikan kesehatan yang kita berikan pada fase sebelumya akan sangat
berguna bagi ibu.ibu ebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan diri dan bayinya.

Dukungan suami dan keluarga masih sangat di perlukan ibu. Suami dan kelurga dapat membantu
merawat bayi, mengerjakan urusan rumah tangga sehingga ibu tidak terlalu di bebani. Ibu memerlukan
istirahat yang cukup sehingga mendapatkan kondisi fisik yang bagus untuk dapat merawat bayinya.

B. Post Partum Blues

Melahirkan merupakan hal yang paling penting dari peristiwa-peristiwa paling bahagia dalam hidup bagi
seorang wanita. Post partum blues atau sering juga disebut maternity blues atau sindrom ibu baru ,
dimengerti sebagai suatu sindrom ganguan efek ringan pada minggu pertama setelah persalinan dengan
di tandai gejala-gejala berikut ini :

a) Reaksi depresi / sedih/ disporia

b) Sering menangis

c) Mudah tersinggung

d) Cemas
e) Lebih litas perasaan

f) Cenderung menyalahkan diri sendri

g) Gangguan tidur dan gangguan nafsy makan

h) kelelahan

i) mudah sedih

j) cepat marah

k) mood mudah berubah , cepat mudah sedih, dan cepat pula menjadi gembira,

l) perasaan terjebak dan juga marah terhadap pasanganya serta bayinya.

m) Perasaan bersalah

n) Pelupa

Puncak dari post partum ini3-5 hari setelah melahirkan dan berlangsung dari beberapa hari sampai 2
minggu. Oleh karena begitu umum maka diharapkan tidak di anggap sebagai penyakit. Post partum
blues tidak menggangu kemampuan seorang wanita untuk merawat bayi nya sehingga ibu dengan post
partum blues masih bisa merawat bayinya. Kecendrungan untuk mengembangkan post partum blues
tidak berhubungan dengan penyakit mental sebelumya dan tidak disebabkan Oleh stres. Namun, dan
sejarah depresi dapat mempengaruhi apak post partum blues menjadi terus menjadi depresi besar, oleh
karena itu post partum blues harus segera ditijak lanjuti.

Faktor-faktor penyebab timbulnya post partum blues adalah :

a) Faktor hormonal berupa perubahan kadar esterogen, progesteron, prolaktin, serta esteriol yang
terlalu rendah. Kadar esterogen turun secara tajam setelah melahirkan dan ternyata esterogen memiliki
efek supresi aktifitas enzim non-adrenalin maupun serotin yang berperan dalam suasana hati dan
kejadian depresi.

b) Ketidak nyaman fisik yang dialami sehingga menimbulkan perasaan emosi pada wanita pasca
melahirkan, misalnya : rasa sakit akibat luka jahit atau bengkak pada payudara.

c) Ketidak mampuan beradaptasi terhadap perubahan-perubahan yang terjadi.

d) Faktor umur dan jumlah anak.

e) Pengalaman dalam proses persalinan dan kehamilanya

f) Faktor belakang psikososial wanita tersebut, misalnya : tingkat pendidikan, kehamilan yang tudak
diinginkan, status persalinan, atau riwat jiwa pada wanita tersebut.
g) Dukungan yang di berikan pada lingkunagnmisalnya dari suami, orang tua, dan keluarga .

h) Stress yang dialami wanita itu sendri misalnya: karena belum bisa menyusui bayinya, rasa bosan
terhadap rutinitas barunya.

i) Kelehan pasca bersalin

j) Ketidak siapan terhadap perubahan peran yang terjadi pada wanita itu sendri.

k) Rasa memiliki bayinya terlalu dalam sehingga takut berlabihan akan kehilangan bayinya.

l) Masalah kecemburuan dari anak yang terdahulunya.

Beberapa cara untuk mengatasi post partum blues :

a) Persiapan diri yang baik selama kehamilan waktu menghadapi masalah kehamilan.

b) Kominikasikan segala permasalahan atau hal yang ingin disampaikan.

c) Selalu membicara rasa cemas yang dialami.

d) Bersikap tulus beserta iklas terhadap apa yang di alami dan berusaha melakukan peran baru nya
sebagai ibu yang baik.

e) Cukup istirahat.

f) Menghindari perubahan hidup yang drastis.

g) Berolahraga ringan.

h) Berikan dukungan dari semua keluarga, suami atau keluarga.

i) Konsultasikan pada tenaga kesehatan atau orang yang profesional agar dapat memfasilitasi faktor
resiko lainya selama masa nifas dan membantu dalam melakukan upaya pengawasan.

Edinburg Postnatal Depressin Scale ( EPSD )

Di luar negeri tindakan skrining untuk mendeteksi gangguan mood/depresi sudah merupakan acuhan
pelayanan pascabersalina yang rutin. Untuk dapat mealukan asuhan tersebut dapat di gunakan alat
bantu tersebut berupa endinburg postnatal depression scale ( EPSD ) yaitu kuesioner dengan validitas
yang telah teruji yang dapat mengukur intensitas perubahan suasana depresi selama 7 hari pasca
bersalin.

Pertanyaan –pertanyaan berhubungan dengan labilitas perasaan kecemasan, perasaan bersalah, serta
mencakup hal-hal yang mencakup post-partum blues. Kuesioner ini terdapat 10 pertanyann di mana
setiap pertanyaan memili 4 pilihan jawaban yang mempunyai nilai atau skor yang dan harus di pilih salah
satu yang sesuai dengan gradasi perasaan yang di rasakan ibu setelah bersalin saat itu.

Pertanyaan tersebut harus dijawab sendiri oleh ibu dan rata-rata harus diselsaikan dalam waktu 5 menit,.
Kuesioner tersebut teruji validitasnya di beberapa negara sperti belanda, swedia, australia, indonesia,
dan italia. EPSD dapat dipergunakan pada minggu pertama setelah bersalin , apabila hasilnya meragukan
dapat di ulangi pengisianya 2 minggu kemudian.

C. Depresi Post Partum

Penelitian menunjukan 10% ibu mengalami depresi setelah melahirkan dan 10% nya saja yang tidak
mengalami perubahan emosi. Keadaan ini berlangsung antara 3-6 bulan bahkan pada beberapa kasus
terjadi selama 1 tahun pertama kehidupan bayi. Penyebab depresi terjadi karena reaksi terhadap rasa
sakit yang muncul saat melahirkan dan karena sebab-sebab yang kompleks lainnya.

Beberapa gejala-gejala Depresi barat adalah sebagai berikut.

a) Perubahan pada mood

b) Gangguan pada pola tidur dan pola makan.

c) Perubahan mental dan libido.

d) Dapat pula muncul fobia, seta ketakutan akan menyakiti dirinya sendri dan bayinya.

Depresi berat akan terjadi biasanya pada wanita /keluarga yang perna mempunyai riwayat kelainan
psikiatrik. Selain itu, kemungkunan dapat terjadi pada kehamilan selanjutnnya.

Berikut ini adalah penatalaksaan depresi berat :

a) Dukungan keluarga dan lingkungan sekitar.

b) Terapi psikologis dan psikiater.

c) Kolaborasi dengan dokter untuk memberikan antidepresan ( perlu diperhatikan pemberian


antidepresan pada wanita hamil dan menyusui ).
d) Jangan ditinggal sendirian di rumah.

e) Jika diperlukan lakukan perawatan di rumah sakit.

f) Tidak dianjurkan rawat gabung ( rooming in ) dengan bayinya pada penderita depresi berat.

D. Respon Orang Tua Terhadap Bayi Baru Lahir

1. Bonding Attachment

Bonding adalah ikatan antara ibu dan bayi pada masa awal neonatus, sedangkan attachment adalah
sentuhan. Bonding Attachment adalah istilah dalam kebidanan atau psikologi kebidanan yang artinya
ikatan antara ibu dan bayi dalam bentuk kasih sayang dan belaian.

Perkembangan bayi normal sangat tergantung dari respon kasih sayang antara ibu dengan bayi yang
dilahirkan yang bersatu dalam hubungan psikologi dan fisiologi. Ikatan ibu dan anak dimulai sejak anak
belum dilahirkan dengan suatu perencaanaan dan konfirmasi kelahiran kehamilan, serta menerima janin
yang tumbuh sebagai individu. Sesudah lahir sampai minggu-minggu berikutnya, kontak visual dan fisik
bayi memicu berbagai penghargaan satu sama lain.

Adapun interaksi yang menyenangkan, misalnya:

a) Sentuhan pada tungkai dan muka bayi secara halus dengan tangan ibu.

b) Sentuhan pada pipi. Sentuhan ini dapat menstimulasi respon yang menyebabkan terjadinya
gerakan muka bayi kearah muka ibu atau ke arah payudara sehingga bayi akan mengusap-usap
menggunakan hidung serta menjilat putingnya, dan terjadilah rangsangan untuk sekresi prolaktin.

c) Tatap mata bayi dan ibu. Ketika mata bayi dan ibu saling tatap pandang, menimbulkan perasaan
saling memiliki antara ibu dan bayi.

d) Tangis bayi. Saat bayi menangis, ibu dapat memberikan respon berupa sentuhan dan suatu yang
lembut serta menyenangkan.

Ikatan ibu dan bayi bisa tertunda karena:

a) Prematuritas

Bayi yang baru dilahirkan dalam keadaan prematur, kurang mendapat kasih sayang dari ibunya karena
kondisi belum cukup viable (kelangsungan hidup terus) dan belum cukup untuk menyesuaikan dengan
extrauterine, bahkan bayi diletakkan dalam inkubator sampai bayi dapat hidup sebagai individu yang
mandiri.

b) Bayi atau ibu sakit


Pada keadaan ibu atau bayi salah satu menderita sakit, dan harus mendapat perawatan khusus, maka
ikatan ibu dan bayi akan tertunda.

c) Cacat fisik

Bayi lahir cacat fisik atau cacat bawaan, atau kelainan lainnya dapat menimbulkan stres pada keluarga,
utamanya ibu. Ibu merasa malu dan kurang menyuikainya.

2. Respon Ayah Dan Keluarga

Respon terhadap bayi baru lahir berbeda antara ayah yang satu dengan ayah yang lain. Hal ini
tergantung, bisa positif bisa negatif. Masalah lain yang dapat berpengaruh, misalnya masalah pada
jumlah anak, keadaan ekonomi, dan lain-lain.

a) Respon positif

a. Ayah dan keluarga menyambut kelahiran bayinya dengan sangat suka cita karena bayi sebagai
anggota baru dalam keluarga, dianggap sebagai anugerah yang sangat menyenangkan.

b. Ayah bertambah giat dalam mencari nafkah karena ingin memenuhi kebutuhan bayi dengan baik.

c. Ayah dan keluarga melibatkan diri dalam merawat bayi.

d. Ada sebagian ayah dan keluarga yang lebih menyayangi dan mencintai ibu yang melahirkan karena
telah melahirkan anak yang diidam-idamkan.

b) Respon negatif

a. Keluarga atau ayah dari bayi itu tidak menginginkan kelahiran bayinya karena jenis kelamin bayi
yang dilahirkan tidak sesuai keinginan.

b. Kurang berbahagia karena kegagalan KB.

c. Ayah merasa kurang mendapat perhatian dari ibu melahirkan (isterinya), karena perhatian
dengan bayinya yang berlebihan.

d. Ada kalanya faktor ekonomi berpengaruh pada rasa kurang senang atau kekhawitan dalam
membina keluarga karena kecemasan dalam biaya hidupnya.

e. Anak lahir cacat menyebabkan rasa malu baik bagi ibu, ayah dan keluarga.

f. Lebih-lebih bila bayi yang dilahirkan adalah hasil hubungan haram, tentu hal ini akan
menyebabkan rasa malu dan aib.
3. Sibling Rivalry

Dari kamus kedokteran Dorland: Sibling (Anglo-Saxon sib sanak + ling bentuk kecil) anak-anak dari orang
tua yang sama; seorang saudara laki-laki atau perempuan. Disebut juga sib. Sedangkan rivalry keadaan
kompetisi atau antagonisme. Sibling rivalry adalah mompetisi antara saudara kandung untuk mendapat
cinta kasih, afeksi dan perhatian dari satu atau kedua orang tuanya, atau mendapatkan pengakuan atau
suatu yang lebih.

Bagi keluarga yang memiliki pendidikan cukup untuk mendidik anak-anaknya, maka akan berlaku adil
sehingga semua merasa mendapat kasih sayang yang sama. Tetapi bagi yang kurang mengerti
bagaimana mendidik anak yang baik, yang umumnya terjadi di daerah pedesaan dengan keluarga yang
miskin dan berpendidikan rendah, karena kekurang tahuannya cara mendidik anak, sangat mungkin
anak yang menangis dicubit bahkan mungkin dicambuk dan lain-lain cara penyiksaan fisik. Tentu hal ini
sangat fatal dan berbahaya ditilik dari pendidikan perkembangan anak.

Sibling rivalry atau perselisihan yang terjadi pada anak-anak tersebut adalah hal yang biasa bagi anak-
anak usia antara 5-11 tahun. Bahkan kurang dari 5 tahun pun sudah sangat mudah terjadi sibling rivalry
itu. Istilah ahli psikologi hubungan antar anak-anak usia seperti itu bersifat ambivalent dengan lovehate
relationship.

Bila salah satu anak tidak mendapatkan respon orang tua atau perlakuan yang berbeda antara
saudaranya maka akan timbul kecenburuan yang berujung pada perselisihan.

Ingat bahwa sifat anak-anak adalah unik dan spesial. Orang tua harus selalu menunjukkan bahwa semua
sama-sama mendapat kasih sayang.

Jangan membandingkan salah satu dengan yang lain baik keunggulannya maupun kekurangannya. Anak-
anak harus didorong untuk senang bersama, dan saling membantu. Tidak boleh menanggapi secara
berlebihan laporan salah satu saudaranya yang berlebihan dan menyalahkan salah satunya. Laporan-
laporan negatif harus di check benar dan dinetralkan dengan keadilan dan kearah pada kerukunan.
Cerita-cerita agama tentang kebaikan, kerukunan, silahturahmi, sayang-menyayangi, sangat baik untuk
mendidik anak-anak agar menjadi ruku dan mengurangi perselisihan.

a) Penyebab sibling rivalry:

1. Kompetensi (kemampuan) kaitannya dengan kecemburuan.

2. Ciri emosional, yaitu temperamen, seperti halnya mudah bosan, mudah frustasi, mudah marah
atau sebaliknya, tidak mudah bosan, tidak mudah frusasi dll.
3. Sifat perasaan anak seusia sampai dengan dua-tiga tahun yakni apa yang disenangi adalah
miliknya, harus difahami benar oleh orang tua.

4. Kelemahan perkembangan seperti halnya lemahnya atau lambatnya kemampuan bahasa, kurang
bisanya dalam hal interaksi sosial, sehingga mudah terjadi friksi dan konflik.

Hal tersebut di atas menyebabkan terjadinya persaingan saling menonjolkan diri. Terjadinya kekerasan
fisik, dimungkinkan dari pengaruh tv yang menayangkan kekerasan. Sifat meniru dari anak-anak sangat
besar.

b) Segi positif sibling rivalry

Sibling rivalry mendorong anak untuk mengatasi perbedaan dengan mengembangkan beberapa
keterampilan penting, diantaranya adalah bagaiman menghargai nilai dan perspektif (pandangan) orang
lain. Disamping itu, dengan sibling rivalry juga merupakan cara cepat untuk berkompromi dan
bernegosiasi, seta mengontrol (mencegah) dorongan untuk bertindak agresif. Oleh karena itu agar segi
positif tersebut dapat dicapai, maka orang tua harus menjadi fasilisator.

c) Mengatasi sibling rivalry

Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk mengatasi sibling rivalry:

1. Orang tua tidak perlu langsung campur tangan, kecuali saat terdapat tanda-tanda akan terjadi
kekerasan fisik.

2. Orang tua harus dapat berperan memberikan otoritas kepada anak-anak demikan rupa sehingga
menyelesaikan masalah dengan anak-anak, bukan untuk anak-anak. Artinya, seakan-akan orang tua
dalam menyelesaikan permasalahan seakan ikut serta dalamnya, anak tersebut diberikan penghargaan
atas buah fikirannya, dihargai peran pendapatnya. Bukan bersifat memberi instruksi seakan yang paling
tahu dab berkuasa adalah orang tua itu.

3. Cara memisah dua anak yang konflik menjurus ke fisik, tidak boleh menyalahkan salah satu, akan
tetapi keduanya dihargai, seakan sama-sama benar, cara memberikan nasehat bahwa salah satu itu
salah adalah dengan contoh-contoh, tetapi tidak langsung saat itu. Yang penting anak-anak yang lagi
konflik fisik, dipisahkan demikian rupa sehingga keduanya menjadi tenang dan sesudahnya dapat
menjadi akrab lagi.

4. Jika anak-anak memperebutkan benda yang sama, orang tua harus dapat memberikan teknik
pengajaran agar keduanya dapat menggunakan secara bergantian yang adil dan mengembirakan.

5. Memberi kesempatan setiap anak mengungkapkan apa yang dirasakan tentang saudaranya, dan
membawa anak dapat mengendalikan emosiny bahkan dibawa ke arah teknik bersahabat lagi. Ceria-
cerita dan dongeng keagamaan tentang baiknya rukun dengan saudara dapat membangkitkan anak agar
menjadi rukun.

6. Jangan memberi tuduhan tertentu tentang negatifnya sifat anak, hal ini bisa memperdalam sibling
rivalry. Jangan memberikan cap pada anak tentang kekurangannya atau kelebihan dari pada anak yang
lain.

7. Kesabaran dan keuletan serta contoh-contoh yang baik dari perilaku orang tua sehari-hari adalah
cara pendidikan anak-anak untuk menghindari sibling rivalry yang paling bagus

Bahiyatun. 2009. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Nifas Normal. Jakarta : EGC

Dewi, Vivian Nanny Lia dkk. 2012. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas. Jakarta : Salemba Medika

Suherni, dkk. 2009. Perawatan Masa Nifas. Yogyakarta : Fitramaya