Anda di halaman 1dari 66

LAPORAN PRAKTIKUM II

Penentuan Parameter Mutu Ekstrak Kaempferia galanga L.


Disusun Untuk Memenuhi Tugas Praktikum Fitofarmaka

KELOMPOK: 1
KELAS: C
Novelia (201410410311007)
Aprilia Kartika Putri (201410410311011)
Anis Khoirun Sauma (201410410311013)
Sukmawansyah (201410410311016)
Imanda Gita R. (201410410311120)
Nur Cholidah (201410410311124)
Qardina Annisa H. (201410410311127)
Fardhiyanti (201410410311156)
Aida Rakhiba (201410410311158)
Langlang Kurniawan (201410410311220)
Abelia M Alhamid (201410410311259)

DOSEN PEMBIMBING:
Dra. Herra Studiawan, M.Si, Apt
Siti Rofida, S,Si., M.Farm.,Apt

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2017

TUGAS 2

Penentuan Parameter Mutu Ekstrak Kaempferia galanga L.

I. JUDUL
Penentuan Parameter Mutu Ekstrak Kaempferia galanga L.

II. Tujuan
Untuk mengetahui dan menerapkan mutu spesifik dan non spesifik ekstrak
sesuai standar yang telah ditetapkan.
III. TINJAUAN PUSTAKA
Klasifikasi Tumbuhan
Kingdom : Plantae
Sub kingdom : Traecheobionta
Super divisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Sub kelas : Commenlinidae
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Kaempferia
Spesies : Kaempferia galangal L. (Fahmi, 2015)
Deskripsi tanaman
Kaempferia merupakan genus herbal yang memiliki anggota lebih dari 50
spesies asli dari Asia Timur Tropis yang masuk dalam family Zingiberaceae.
Kaenpferia merupakan rhizome herbal yang berukuran kecil yang biasanya
berbentuk akar tuberous aromatic yang tebaldan rizoma yang pendek (Tang et
al, 2014).
Kencur (Kaempferia galangal L.) merupakan salah satu dari lima jenis
tumbuhan yang dikembangkan sebagai tanaman obat asli Indonesia. Kencur
merupakan tanaman obat yang bernilai ekonomis cukup tinggi sehingga banyak
dibudidayakan. Bagian rimpangnya digunakan sebagai bahan baku industri obat
tradisonal, bumbu dapur, bahan makanan, maupun minuman (Rostiana dkk.,
2003).

Kandungan Kimia
Kandungan senyawa yang terdapat secara melimpah yaitu asam
propanoate, pentadekana, etil-p-metoksisinamat. Kandungan lainnya yaitu 1,8-
sineol, undekanon, isopropyl sinamat, disikloheksilpropandinitril, dipenten
dioksida, 9-hidroksi, 2-nonanon, 2,7-oktadien-1-il asetat, etil sikloheksil asetat,
cis-11-tetradesenil asetat, alfa pinen, champhene, borneol, luteolin, dan apigenin
(Umar et all., 2011)
Standarisasi EKSTRAK
Standardisasi ekstrak adalah penentuan parameter kualitatif dan kuantitatif
baik terhadap senyawa aktif maupun senyawa khas lainnya dan sifat kimianya.
Mutu ekstrak dipengaruhi oleh bahan asal/simplisia, karenanya sebelum diproses
menjadi ekstrak, simplisia/bahan awal yang akan diekstraksi harus pula
distandarisasi. Dua faktor yang mempengaruhi mutu simplisia adalah faktor
biologi dan kimia.
Faktor biologi meliputi beberapa hal, yaitu:
1. Identitas jenis (spesies), jenis tumbuhan dari sudut keragaman hayati dapat
dikonfirmasikan sampai informasi genetika sebagai faktor internal untuk
validasi jenis.
2. Lokasi tumbuhan asal. Lokasi merupakan faktor eksternal, yaitu lingkungan
dimana tumbuhan bereaksi bisa berupa energi (cuaca, temperatur, cahaya) dan
materi (air, senyawa organik dan anorganik)
3. Periode pemanenan hasil tumbuhan. Pemanenan yang dilakukan tidak pada
waktunya bisa mempengaruhi kendungan senyawa.
4. Penyimpanan bahan tumbuhan. Ruang atau wadah yang digunakan untuk
menyimpan bisa mempengaruhi mutu senyawa tanaman.
5. Umur tanaman dan bagian yang digunakan. Hal ini sangat menentukan
keberadaan senyawa kimia seperti klorofil yang terdapat di daun.
Faktor kimia meliputi beberapa hal, yaitu:
Faktor internal seperti jenis, komposisi, kualitatif dan kuantitatif serta
kadar total rerata senyawa aktif dalam bahan. Faktor eksternal seperti metode
ekstraksi, perbandinga ukuran alat ekstraksi, kekerasan dan kekeringan bahan,
pelarut yang digunakan dalam ekstraksi, kandungan logam berat dan kandungan
pestisida.
Standarisasi adalah serangkaian parameter, prosedur dan cara pengukuran
yang hasilnya merupakan unsur-unsur terkait paradigma untuk kefarmasian, mutu
dalam artian memenuhi syarat standar (kimia, biologi, dan farmasi). Termasuk
jaminan (batas-batas) stabilitas sebagai produk kefarmasian pada umumnya.
Persyaratan mutu ekstrak terdiri dari berbagai parameter standar umum dan
parameter standar spesifik.
Standardisasi secara normatif ditujukan untuk memberikan efikasi yang
terukur secara farmakologis dan menjamin keamanan konsumen. Standardisasi
obat herbal meliputi dua aspek:
1. Aspek parameter spesifik: berfokus pada senyawa atau golongan senyawa yang
bertanggung jawab terhadap aktivitas farmakologis. Analisis kimia yang
dilibatkan ditujukan untuk analisa kualitatif dan kuantitatif terhadap senyawa
aktif.
2. Aspek parameter non spesifik: berfokus pada aspek kimia, mikrobiologi dan
fisis yang akan mempengaruhi keamanan konsumen dan stabilitas misal kadar
logam berat, aflatoksin, kadar air dan lain- lain
Standardisasi Obat Herbal
Standardisasi obat herbal merupakan rangkaian proses melibatkan
berbagai metode analisis kimiawi berdasarkan data farmakologis, melibatkan
analisis fisik dan mikrobiologi berdasarkan kriteria umum keamanan (toksikologi)
terhadap suatu ekstrak alam atau tumbuhan obat herbal (Saifudin et al ., 2011).
Standardisasi dalam kefarmasian tidak lain adalah serangkaian parameter,
prosedur dan cara pengukuran yang hasilnya merupakan unsur- unsur terkait
pradigma mutu kefarmasian, mutu dalam artian memenuhi syarat standar (kimia,
biologi dan farmasi), termasuk jaminan (batas- batas) stabilitas sebagai produk
kefarmasian umumnya. Dengan kata lain, pengertian standardisasi juga berarti
proses menjamin bahwa produk akhir obat (obat, ekstrak atau produk ekstrak)
mempunyai nilai parameter tertentu yang konstan dan ditetapkan terlebih dahulu.
Terdapat dua faktor yang mempengaruhi mutu ekstrak yaitu faktor biologi dari
bahan asal tumbuhan obat dan faktor kandungan kimia bahan obat tersebut.
Standardisasi ekstrak terdiri dari parameter standar spesifik dan parameter standar
non spesifik (Depkes RI, 2000).
a. Parameter-parameter Standar Ekstrak
Parameter- parameter standar ekstrak terdiri dari parameter spesifik dan
parameter non spesifik.
1. Parameter Spesifik Ekstrak
Penentuan parameter spesifik adalah aspek kandungan kimia
kualitatif dan aspek kuantitatif kadar senyawa kimia yang bertanggung
jawab langsung terhadap aktivitas farmakologis tertentu. Parameter
spesifik ekstrak meliputi:
a. Identitas
Parameter identitas esktrak meliputi: deskripsi tata nama, nama
ekstrak (generik, dagang, paten), nama lain tumbuhan (sistematika
botani), bagian tumbuhan yang digunakan (rimpang, daun, dsb) dan
nama Indonesia tumbuhan.
b. Organoleptis:
Parameter organoleptik ekstrak meliputi penggunaan panca indera
mendeskripsikan bentuk, warna, bau, rasa guna pengenalan awal yang
sederhana se- objektif mungkin.
c. Senyawa terlarut dalam pelarut tertentu
Melarutkan ekstrak dengan pelarut (alkohol/ air) untuk ditentukan
jumlah larutan yang identik dengan jumlah senyawa kandungan secara
gravimetrik. Dalam hal tertentu dapat diukur senyawa terlarut dalam
pelarut lain misalnya heksana, diklorometan, metanol. Tujuannya untuk
memberikan gambaran awal jumlah senyawa kandungan.
Nilai : - Nilai minimal atau rentang yang ditetapkan terlebih dahulu
(BPOM, 2000).
- Sari larut air, tidak kurang dari 14,2 % (FHI, 2008)
- Sari larut etanol, tidak kurang dari 4,2 % (FHI, 2008)
d. Uji kandungan kimia ekstrak
 Pola kromatogram
Pola kromatogram dilakukan sebagai analisis kromatografi sehingga
memberikan pola kromatogram yang khas. Bertujuan untuk
memberikan gambaran awal komposisi kandungan kimia berdasarkan
pola kromatogram (KLT, KCKT) (Depkes RI, 2000).
Nilai : - Kesamaan pola dengan data baku yang ditetapkan terlebih dahulu
(BPOM, 2000).
 Kadar kandungan kimia tertentu
Suatu kandungan kimia yang berupa senyawa identitas atau senyawa kimia
utama ataupun kandungan kimia lainnya, maka secara kromatografi
instrumental dapat dilakukan penetapan kadar kandungan kimia
tersebut. Instrumen yang dapat digunakan adalah densitometri,
kromatografi gas, KCKT atau instrumen yang sesuai. Tujuannya
memberikan data kadar kandungan kimia tertentu sebagai senyawa
identitas atau senyawa yang diduga bertanggung jawab pada efek
farmakologi (Depkes RI, 2000).
Nilai : - Minimal atau rentang kadar yang telah ditetapkan (BPOM, 2000).
 Kadar Total Golongan Kandungan Kimia
Dengan penerapan metode spektrofotometri, titrimetri, volumetri,
gravimetri atau lainnya dapat ditetapkan kadar golongan kandungan
kimia. Metode harus sudah teruji validitasnya, terutama selektivitas dan
batas linieritas. Tujuannya adalah memberikan informasi kadar
golongan kandungan kimia sebagai parameter mutu ekstrak dalam
kaitannya dengan efek farmakologis.
Nilai : - Minimal atau rentang yang telah ditetapkan (BPOM, 2000).
- Kadar simplisia minyak atsiri : tidak kurang dari 2,40 % v/b
- Kadar simplisia etil p-metoksisinamat : tidak kurang dari 1,80 % v/b
- Kadar ektrak minyak atsiri : tidak kurang dari 7,93 % v/b
- Kadar ekstrak etil p-metoksisinamat : tidak kurang dari 4,30 % v/b
(FHI, 2008).
2. Parameter Non Spesifik Ekstrak
Parameter non spesifik ekstrak meliputi (Depkes RI, 2000):
a) Susut Pengeringan
Pengukuran sisa zat setelah pengeringan pada temperatur 105 oC
selama 30 menit atau sampai berat konstan yang dinyatakan dalam
persen. Tujuannya adalah untuk memberikan batas maksimal (rentang)
tentang besarnya senyawa yang hilang pada proses pengeringan
(BPOM, 2000).
Nilai : - Susut pengeringan simplisia : tidak lebih dari 10 % (FHI,
2008).
b) Bobot jenis
Parameter bobot jenis adalah massa per satuan volume yang
diukur pada suhu kamar tertentu (25C) yang menggunakan alat khusus
piknometer atau alat lainnya. Tujuannya adalah memberikan batasan
tentang besarnya massa persatuan volume yang merupakan parameter
khusus ekstrak cair sampai ekstrak pekat (kental) yang masih dapat
dituang, bobot jenis juga terkait dengan kemurnian dari ekstrak dan
kontaminasi.
Nilai : Minimal atau rentang yang diperbolehkan terkait dengan
kemurnian dan kontaminasi.
c) Kadar air
Parameter kadar air adalah pengukuran kandungan air yang
berada didalam bahan yang bertujuan untuk memberikan batasan
minimal atau rentang tentang besarnya kandungan air dalam bahan
(Depkes RI,2000) Persyaratan berdasarkan Farmakope Herbal adalah
kadar air dalam ekstrak tidak lebih dari 10% (FHI, 2008)
Nilai : - Maksimal atau rentang yang diperbolehkan terkait dengan
kemurnian dan kontaminasi (BPOM, 2000).
- Kadar air tidak lebih dari 10 % (FHI, 2008)

d) Kadar abu
Parameter kadar abu adalah bahan dipanaskan pada temperatur
dimana senyawa organik dan turunannya terdestruksi dan menguap.
Sehingga tinggal unsur mineral dan anorganik, yang memberikan
gambaran kandungan mineral internal dan eksternal yang berasal dari
proses awal sampai terbentuknya esktrak. Parameter kadar abu ini
terkait dengan kemurnian dan kontaminasi suatu ekstrak.
Nilai : - Maksimal atau rentang yang diperbolehkan terkait dengan
kemurnian dan kontaminasi.
- Kadar abu total simplisia : tidak lebih dari 8,7 %
- Kadar abu tidak larut asam simplisia : tidak lebih dari 2,5 %
- Kadar abu total ekstrak : tidak lebih dari 0,5 %
- Kadar abu tidak larut asam ekstrak : tidak lebih dari 0,2 %

e) Sisa pelarut
Parameter sisa pelarut adalah penentuan kandungan sisa pelarut
tertentu yang mungkin terdapat dalam ekstrak. Tujuannya adalah
memberikan jaminan bahwa selama proses tidak meninggalkan sisa
pelarut yang memang seharusnya tidak boleh ada. Pengujian sisa
pelarut berguna dalam penyimpanan ekstrak dan kelayakan ekstrak
untuk formulasi (Putri et al., 2012).
Nilai : - Maksimal yang diperbolehkan. Namun dalam hal pelarut
berbahaya seperti kloroform nilai harus negatif sesuai
deteksi instrumen. Terkait dengan kemurnian dan
kontaminasi.

f) Cemaran mikroba
Parameter cemaran mikroba adalah penentuan adanya mikroba
yang patogen secara analisis mikrobiologis. Tujuannya adalah
memberikan jaminan bahwa ekstrak tidak boleh mengandung mikroba
patogen dan tidak mengandung mikroba non patogen melebihi batas
yang ditetapkan karena berpengaruh pada stabilitas ekstrak dan bahaya
(toksik) bagi kesehatan.
Nilai : - Pemeriksaan kuman boleh positif tetapi harus mempunyai
batas serta tidak boleh mengandung bakteri patogen,
misalnya Salmonella sp, Escherichia coli, Staphylococcus sp,
Stretococcus sp, vibrio cholera, Bacillus sp, Pseudomonas
sp, Shigella sp, Priteus sp.
- ALT : <106
- Angka kapang khamir : <106
- E. coli : -/9
- Salmonella : -/9
- P. Aeruginosa : -/9
- S. aureus : -/9

g) Cemaran aflatoksin
Aflatoksin merupakan metabolit sekunder yang dihasilkan oleh
jamur. Aflatoksin sangat berbahaya karena dapat menyebabkan
toksigenik (menimbulkan keracunan), mutagenik (mutagi gen),
teratogenik (penghambatan dan pertumbuhan janin) dan karsinogenik
(menimbulkan kanker pada jaringan) (Rustian, 1993). Tujuannya adalah
untuk memberikan jaminan bahwa ekstraksi tidak mengandung
cemaran jamur melebihi batas yang telah ditetapkan karena
berpengaruh pada stabilitas ekstrak dan aflatoksin berbahaya bagi
kesehatan (BPOM, 2008). Jika ekstrak positif mengandung aflatoksin
maka pada media pertumbuhan akan menghasilkan koloni berwarna
hijau kekuningan sangat cerah (Saifudin et al., 2011).
Nilai : - Menjadi persyaratan tapi tidak harus nol
- AKK : <106
- Aflatoksin : <20 µg/kg

h) Cemaran logam berat


Parameter cemaran logam berat adalah penentuan kandungan
logam berat dalam suatu ekstrak, sehingga dapat memberikan jaminan
bahwa ekstrak tidak mengandung logam berat tertentu (Hg, Pb, Cd, dll)
melebihi batas yang telah ditetapkan karena berbahaya bagi kesehatan
(Depkes RI, 2000).
Nilai : - Pd : ≤ 10 mg/kg atau mg/l atau ppm
- Cd : ≤ 0,3 mg/kg atau mg/l atau ppm
- As : ≤ 5 mg/kg atau mg/l atau ppm
- Hg : ≤ 0,5 mg/kg atau mg/l atau ppm (BPOM, 2014)
IV. ALAT DAN BAHAN
Alat

 Kertas saring
 Labu destilator
 Corong pisah
 Corong
 Cawan petri
 Kurs silikat
 Desikator
 Kaki tiga
 Bunsen
 Penjepit kayu
 Analytical balance
 Botol timbang + tutup
 Oven
Bahan
 Ekstrak kering kencur
 Aquadest
 Kloroform
 Etanol 95%
V. Prosedur kerja

Parameter Spesifik

1. Identitas
a. Deskripsi tata nama:
 Nama ekstrak (generik, dagang, paten)
 Nama latin tumbuhan (sistematika botani)
 Bagian yang digunakan (rimpang, daun, dsb)
 Nama Indonesia tumbuhan
b. Senyawa Identitas, senyawa tertentu yang menjadi petunjuk spesifik
dengan metode tertentu.
2. Organoleptik
Penggunaan pancaindra mendeskripsikan bentuk, warna, bau dan rasa:
 Bentuk : padat, serbuk- kering, kental, cair.
 Warna : kuning, coklat, dll.
 Bau : aromatik, tidak berbau, dll.
 Rasa : pahit, manis, kelat, dll.
3. Senyawa terlarut dalam air

Disaring

Ditimbang ekstrak Dimaserasi selama 18 jam dg


sebanyak 5,0 g air kloroform LP 100 ml,
dikocok berkali-kali

Hitung kadar dalam % Residu dipanaskan pada


Catatan : suhu 105C ad bobot Filtrat diuapkan ad
dihitung terhadap kering
konstan
Air- kloroform LP adalah air suling 99,75 ml dicampur dengan 2,5 ml kloroform.
ekstrak awal

4. Senyawa terlarut dalam etanol Disaring

Ditimbang ekstrak Dimaserasi selama 18 jam


sebanyak 5,0 g dg etanol 95% dikocok
berkali-kali

Hitung kadar dalam Residu dipanaskan pada


% dihitung terhadap suhu 105C ad bobot Filtrat diuapkan ad
ekstrak awal konstan kering
Parameter Non-spesifik

1. Susut Pengeringan

Pijar kurs Masukkan ke


Diamkan selama dalam desikator Timbang ad
porselen selama konstan
10 menit
Cawan
10 menit penguap di Didinginkan selamamenit
10 10 Ditimbang
panaskan pada suhu menit dalam desikator cawan kosong
105C

Dimasukkan ke dalam
Dipanaskan dalam oven Ditimbang ekstrak
cawan dan timbang
dengan suhu 105C kencur 1 g
2. selama
Kadar30Abu
menit Masukkan
dalam kurs
yang telah
konstan

Pijar kurs
Timbang ekstrak Ditimbang cawanDitimbang
+ ekstrak porselen selama
2g kurs + ekstrak
ad berat konstan 10 menit
Didinginkan dalam
desikator

Masukkan ke
Timbang ad Diamkan selama
dalam desikator
konstan 10 menit
10 menit
3. Kadar MC
Cara Kerja:
 Tekan On pada alat
 Wadah dibersihkan
 Penutup ditutup sampai menunjukkan angka 0,00
 Ekstrak dimasukkan
 Tutup kembali
 Catat angka yang tertera
VI. Hasil
Penimbangan (parameter spesifik)
1. Identitas

Nama ekstrak : Extractum galanga rhizoma


Bagian yang digunakan : Rimpang
Nama latin tumbuhan : Kaempferia galanga
Nama Indonesia : kencur
2. Organoleptis
Bentuk : serbuk kering
Warna : kuning kecoklatan
Bau : khas aromatik
Rasa : agak pedas, hangat

1. Spesifik air

Cawan kosong 31,4257 g


Cawan + isi I 31,5153 g
Cawan + isi II 31,5121 g
Cawan + isi III 31,5126 g
Cawan + isi IV 31,5100 g
Cawan + isi V 31,5058 g
Cawan + isi VI 31,5056 g
Cawan + isi VII 31,5041 g
Cawan + isi VIII 31,5066 g
Cawan + isi IX 31,5064 g
Cawan + isi X 31,5063 g
Bobot ekstrak 31,5063 g – 31,4257 g = 0,0806 g

2. Spesifik etanol

Cawan kosong 32,1257 g


Cawan + isi I 32,7425 g
Cawan + isi II 32,7090 g
Cawan + isi III 32,6899 g
Cawan + isi IV 32,6232 g
Cawan + isi V 32,5867 g
Cawan + isi VI 32,5830 g
Cawan + isi VII 32,5282 g
Cawan + isi VIII 32,5369 g
Cawan + isi IX 32,5287 g
Cawan + isi X 32,5266 g
Cawan + isi XI 32,7441 g
Cawan + isi XII 32,4739 g
Cawan + isi XIII 32,4738 g
Bobot ekstrak 32,4738 g – 32,1257 g = 0,3481 g
Penimbangan (parameter non-spesifik)

1. Susut pengeringan

1,0000 g ±5 (1,0500 g – 0,9500 g)

Penimbangan ekstrak = 1,0001 g

Cawan kosong 37,1359 g


Cawan + isi I 38,1359 g
Cawan + isi II 38,0212 g
Cawan + isi III 37,9778 g
Cawan + isi IV 37,9356 g
Cawan + isi V 37,9320 g
Cawan + isi VI 37,9199 g
Cawan + isi VII 37,9122 g
Cawan + isi VIII 37,9060 g
Cawan + isi IX 37,9060 g
Cawan + isi X 37,9059 g
Bobot ekstrak 37,9059 g – 37,1359 g = 0,7700 g

2. Kadar abu

2,0000 g ±5 (2,1000 g – 1,9000 g)

Bobot botol kosong 35,0860 g


Bobot botol + isi 37,0738 g
Bobot akhir/ekstrak 1,9878 g

Penimbangan I 37,0738 g
Penimbangan II 35,6842 g
Penimbangan III 35,6795 g
Penimbangan IV 35,6795 g
Penimbangan V 35,6795 g
Penimbangan VI 35,6795 g
Bobot abu 35,6795 g – 35,0860 g = 0,5935 g

VII. Perhitungan

1. Penentuan kadar air

Alat Mouisture Analyzer


Bobot ekstrak 2,646 g
Suhu 105 ℃
Time 10 menit
% kadar 11,26%

2. Kadar senyawa larut Aquadest – Kloroform

( cawan+ ekstrak )−( cawankosong ) × 100 ml


× 100
bobot ekstrak ×20 ml

0,036 g ×100 ml
×100 =3,6
5 ×20 ml

3. Kadar senyawa larut etanol

( cawan+ ekstrak )−( cawankosong ) × 100 ml


× 100
bobot ekstrak ×20 ml

0,3481 g ×100 ml
×100 =34,81
5× 20 ml

4. Susut pengeringan

bobot awal−bobot akhir


× 100
bobot awal

1,0001 g−0,7700 g
×100 =23,01
1,0001

5. Kadar abu

bobot abu 0,5935 g


× 100 = × 100 =29,68
bobot ekstrak 2,0000 g
VIII. Pembahasan

Standarisasi ekstrak sangat penting dilakukan untuk mempertahankan


konsistensi kandungan senyawa aktif yang terkandung dalam ekstrak.
Terpenuhinya standar mutu produk atau bahan ekstrak tidak terlepas dari
pengendalian proses artinya bahwa proses yang terstandar dapat menjamin
produk tersebut.

Dalam standarisasi mutu ekstrak terbagi menjadi dua parameter, yaitu


parameter spesifik dan parameter non-spesifik. Penetapan nilai untuk kedua
parameter tersebut bertujuan untuk menjamin bahwa ekstrak tersebut
mempunyai nilai parameter tertentu yang konstan dan ditetapkan terlebih
dahulu.

Pada parameter spesifik dengan cara idenstifikasi pada organoleptis,


senyawa terlarut dalam pelarut tertentu (air dan etanol). Serta parameter non-
spesifik dilakukan dengan cara susut pengeringan, penetapan kadar abu, dan
kadar air.

Parameter spesifik yang pertama adalah dengan identifikasi organoleptis


ekstrak, dilakukan panca indra ekstrak kencur berbentuk serbuk kering,
berwarna kuning pucat, bau menyengat seperti jamu, rasa pedas. Selanjutnya
diuji senyawa terlarut dalam larutan tertentu (air dan etanol). Kadar senyawa
larut air, ekstrak 5g dilakukan maserasi ditambah 150ml dan kloroform
berfungsi untuk melarutkan ekstrak, masukan larutan dalam corong pisah,
kocok selama 4 jam untuk memisahkan antara air dengan kloroform karena
mempunyai densitas yang berbeda. Diamkan selama 24 jam, dan disaring
untuk memisahkan filtrate dengan residu, kemudian filtrate diuapkan
sebanyak 20ml hingga kering dalam ovenm pada suhu 105 ℃ untuk
mendapatkan ekstrak yang kental, setelah ekstrak kental, diamkan dalam
desikator 10 menit untuk menghilangkan kadar air yang mungkin saja masih
terkandung dalam ekstrak kemudian ditimbang sehingga mendapat berat yang
konstan (replikasi hingga konstan). Lakukan hal yang sama pada senyawa
larut etanol, dengan pelarut yang diganti etanol 95%.

Terdapat pula parameter non-spesifik, pertama dilakukan adalah susut


pengeringan yang merupakan prosentase senyawa yang hilang selama proses
pengeringan. Prosedurnya adalah dengan menara cawan porselin dan
dipanaskan dengan oven pada suhu 105 ℃ selama 30 menit, kemudian
dimasukan ekstrak 1g kedalam cawan porselin, dioven kembali 105 ℃
selama 30 menit, didesikator 10 menit dan ditimbang. Lakukan replikasi
hingga berat konstan, parameter ini juga menggambarkan senyawa yang
menguap. Dilakukan parameter berikutnya, yaitu pengukuran kadar air dengan
alat mouiture analyzer HB-45-s Halogen, timbang ekstrak 2,646g ditaburkan
merata pada lempeng alat, atur suhu 105 ℃ tunggu nilai konstan hingga
alat berbunyi (kelompok kami memerlukan waktu 10 menit), hasil Mc yang
didapat adalah 11,26% Mc. Nilai tersebut melebihi nilai Mc konstan yaitu
tidak lebih dari 8% dan susut pengeringan tidak lebih dari 10%. Pada
praktikum ini klompok kami mendapat 23,01% pada susut pengeringan, yang
berarti nilai tersebut tidak konstan. Parameter terakhir adalah kadar abu total
timbang 2g ekstrak, kemudian dimasukkan ke kurs porselin yang sudah
dipijar. Dipijar ekstrak tersebut, dinginkan, didesikator, dan timbang (replikasi
hingga berat konstan). Didapat kan persentasi 29,68% sedangkan persyaratan
berdasarkan farmakope herbal untuk ekstrak kencur tidak boleh lebih dari
8,7%, hal ini dapat dikatakan belum memenuhi persyaratan ekstrak yang baik.
LAPORAN PRAKTIKUM III

Penetapan Kadar Senyawa Marker pada Ekstrak Rimpang Kaempferia


galangaa L.
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Praktikum Fitofarmaka

KELOMPOK: 1
KELAS: C
Novelia (201410410311007)
Aprilia Kartika Putri (201410410311011)
Anis Khoirun Sauma (201410410311013)
Sukmawansyah (201410410311016)
Imanda Gita R. (201410410311120)
Nur Cholidah (201410410311124)
Qardina Annisa H. (201410410311127)
Fardhiyanti (201410410311156)
Aida Rakhiba (201410410311158)
Langlang Kurniawan (201410410311220)
Abelia M Alhamid (201410410311259)

DOSEN PEMBIMBING:
Dra. Herra Studiawan, M.Si, Apt
Siti Rofida, S,Si., M.Farm.,Apt

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2017
TUGAS 3

Penetapan Kadar Senyawa Marker pada Ekstrak Rimpang


Kaempferia galangaa L.
I. TUJUAN
‒ Untuk mengetahui pembuatan Fingerprint dan penetapan kadar senyawa
marker dalam ekstrak.
‒ Untuk mengetahui bagaimana proses pembuatan marker dengan cara
KLT.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Kencur (Kaempferia galanga L.) adalah salah satu jenis empon-empon
atau tanaman obat yang tergolong dalam suku temu-temuan dengan tata nama atau
klasifikasi sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Famili : Zingiberaceae
Genus : Kaempferia
Spesies : Kaempferia galanga L.
Standarisasi simplisia dibutuhkan karena kandungan kimia tanaman obat
sangat bervariasi tergantung banyak faktor seperti telah dikemukakan sebelumnya.
Standarisasi simplisia diperlukan untuk mendapatkan efek yang dapat diulang.
Kandungan kimia yang berkhasiat atau kandungan kimia yang hanya sebagai
petanda (marker), atau yang memiliki sidik jari (fingerprint) pada kromatogram.
Untuk mendapatkan simplisia dengan mutu standar diperlukan pembudidayaan
dalam kondisi standar (Dewoto, 2007).
Khusus untuk etil ῥ-metoksisinamat, kadar etil ῥ-metoksisinamat dalam
kencur cukup tinggi (tergantung spesiesnya) bisa sampai 10%, karena itu bisa
diisolasi dari bagian umbinya menggunakan pelarut petroleum eter/etanol.
Struktur etil ῥ-metoksisinamat (C12H14O2) adalah :
Untuk penetapan kadar EPMS dilakukan dengan KLT-Densitometri.
Banyak sekali keuntungan penggunaan KLT dan salah satu keuntungannya adalah
mampu memisahkan beberapa sampel secara bersamaan, yang lebih
menguntungkan dibandingkan KCKT. Densitometri merupakan metode analisis
instrumental yang didasarkan pada interaksi radiasi elektro magnetik dengan
analit yang merupakan bercak pada KLT. Densitometri dimaksud untuk analisis
kuantitatif analit dengan kadar kecil, yang sebelumnya dilakukan pemisahan
dengan KLT. KLT merupakan kromatografi sederhana dengan bentuk
kromatografi planar yang memisahkan campuran analit berdasarkan distribusi
komponen tersebut diantara 2 fase, yaitu fase diam dan fase gerak. Prinsip kerja
KLT adalah dengan menotolkan cuplikan atau sampel pada lempeng KLT,
kemudian lempeng dimasukkan kedalam wadah berisi fase gerak, sehingga
komponen-komponen dalam sampel tersebut terpisah. Komponen yang
mempunyai afinitas besar terhadap fase gerak atau afinitas yang lebih kecil
terhadap fase diam akan bergerak lebih cepat dibanding komponen dengan sifat
sebaliknya (Ihsanto, 2009).
Pada prinsipnya pemisahan KLT diusahakan dilakukan dalam keadaan
netral (Surya, 2011). KLT dapat digunakan untuk tujuan preparatif dan kuantitatif,
meskipun KLT kuantitatif kurang teliti bila dibandingkan dengan sistem
kromatografi lainnya. Sistem KLT telah banyak digunakan untuk analisis obat dan
senyawa bahan alam. Analisis kualitatif pada KLT menggunakan nilai Rf. Dua
senyawa dikatakan identik bila mempunyai nilai Rf yang sama dengan dan diukur
pada kondisi KLT yang sama. Analisis kuantitatif pada KLT didukung dengan
teknik densitometri. Untuk menguji validitas dari metode ini dilakukan pengujian
antara lain uji akurasi dengan parameter % perolehan kembali (% recovery), uji
presisi dengan parameter simpangan baku (SD) dan koefisien variasi (KV)
(Rofita, 2009).
III. ALAT DAN BAHAN
a. Alat
‒ TLC Scanner
‒ Lempeng KLT
‒ Pipet Mikro
‒ Analitical Balance
‒ Labu Ukur
‒ Cawan Timbang
‒ Vial Tertutup
‒ Batang Pengaduk
b. Bahan
‒ Ekstrak kering Kaempferia galanga L.
‒ Standart EPMS
‒ N-Heksan
‒ Etil Asetat
‒ Asam Formiat
‒ Etanol 96%

IV. SKEMA KERJA


 Pembuatan Eluen (Fase Gerak)

N-Heksana etil asetat as.format campur dan homogenkan masukkan kedalam


perbandingan (90:10: 1 tetes) Chamber dengan
goyang2 dan
homogenkan
 Pembuatan Larutan Baku
- Pembuatan Larutan Induk 1

Ditimbang standart dimasukkan + 20 ml etanol 96% +etanol 96%


BI 1 ke labu ukur 50,0 ml (5000 ppm)
EPMS 50mg
- Pembuatan Larutan Induk 2

BK 1 (200
ppm)
Dipipet 4.0 ml dimasukkan ke labu +etanol 96% ad 10 ml
- Pembuatan baku kerja
a. BK 1
BK 2 (300
ppm)
Dipipet 5ml (BK 3) masukkan kelabu + etanol 96% ad 10 ml homogenkan
b. BK 2
BK 2 (300 ppm)

Dipipet 5.0 ml (BK 5) masukkan kelabu + etanol 96% ad 10 ml homogenkan

c. BK 3
BK 3 (400 ppm)

Dipipet 5.0 ml (BK 6) masukkan kelabu + etanol 96% ad 10 ml homogenkan


d. BK 4
BK 4 (500 ppm)
Dipipet 5.0 ml (BI 1) masukkan kelabu + etanol 96% ad 10 ml homogenkan
e. BK 5
BK 5 (600 ppm)

Dipipet 3.0 ml (Bi 2) masukkan kelabu + etanol 96% ad 10 ml homogenkan


f. BK 6
BK 6 (800 ppm)

Dipipet 5.0 ml (BI 2) masukkan ke labu + etanol 96% ad 10 ml homogenkan


 Preparasi Sampel
- Sampel Untuk Penetapan Kadar EPMS dalam ekstrak kering

Sampel ditimbang 20 mg masukkan ke labu + 2ml etanol 96%, kemudian


ultrasonic selama 5 menit +
etanol ad 5.0 ml. Di ultrasonic
selama 10 menit.saring

 Sampel Untuk Penetapan Recovery

Sampel ditimbang 20 mg masukkan ke labu + 2ml etanol 96%, kemudian


ultrasonic selama 5 menit +
standart EPMS 1.0 ml(500 ppm).
Ultrasonic 10 menit.saring
 Penetapan Sampel dan Standart

+
Larutan sampel larutan recovery ditotolkan pada plat KLT
 Penentuan Panjang gelombang Maksimum
Plat KLT yang sudah di scan pada panjang gelombang 264nm dan
365 nm kemudian di scan panjang gelombang 200-400 nm. disini dapat
diketahui pada panjang berapa EPMS memberikan absorban maksimu.
Panjang gelombang maksimum tersebut yang akan digunakan untuk
pengukuran.
 Penentuan Linieritas
Linieritas ditentukan dari standart EPM pada lempeng KLT kemudian
dianalisis dengan KLT densitometer pada panjang gelombang maksimum
yang akan digunakan untuk pengukuran.
 Penentuan Presisi

+
Larutan sampel larutan epms ditotolkan pada plat KLT eluasi.
Masukkan ke chamber

 Penentuan Akurasi
Untuk menentukan persen recovery di totolkan sampel pada masing-
masing dan larutan standart EPMS masing-masing 2micoliter pada plat
KLT. Plat ini kemudian dielusi dengan fase gerak dan dianalisis
menggunakan KLT densitometer pada panjang gelombang maksimum.
Kadar yang diperoleh Ct
% Recovery = = x 100
Kadar sebenarnya Cp+Cst
dimana : Ct : Kadar EPMS yang diperoleh
Cp : Kadar EPMS sampel
Cst : Kadar standart EPMS yang ditambahkan
Hasil yang diperoleh kemudian dihitung standart deviasi (SD) dan
Kooefisien Variasinya (KV).
V. PERHITUNGAN
Penimbangan Bahan

A. Penimbangan Baku Induk = 0,0505 g dalam 10 ml


B. Penimbangan Standar EPMS = 0,0254 g dalam 50 ml
C. Penimbangan Sampel :
a) 0,02035 g = 20,35 mg
b) 0,02028 g = 20,28 mg
c) 0,02023 g = 20,23 mg
D. Penimbangan Recovery :
a) 0,02023 g = 20,23 mg
b) 0,02024 g = 20,24 mg
c) 0,0203 g = 20,23 mg

Perhitungan Konsentrasi

A. Konsentrasi Baku Induk


50,5 mg
BI 1=0,0505 mg= x 1000 ml=5050 ppm
10 ml

BI2 N 1 x V 1=N 2 x V 2
4 ml x 5050 ppm
N 2=
10 ml
N 2=2020 ppm
B. Konsentrasi Baku Kerja

BK1 : V1 x N1 BK3 = V2 x N2
5,0 ml x 404,0 ppm = 10 ml x N2
N2 = 202 ppm

BK2 : V1 x N1 BK5 = V2 x N2
5,0 ml x 606,0 ppm = 10 ml x N2
N2 = 303 ppm
BK3 : V1 x N1 BK6 = V2 x N2
5,0 ml x 808,0 ppm = 10 ml x N2
N2 = 404 ppm

BK4 : V1 x N1 BI1 = V2 x N2
1,0 ml x 5050 ppm = 10 ml x N2
N2 = 505 ppm

BK5 : V1 x N1 BI2 = V2 x N2
3,0 ml x 2020 ppm = 10 ml x N2
N2 = 606 ppm

BK6 : V1 x N1 BI2 = V2 x N2
4,0 ml x 2020 ppm = 10 ml x N2
N2 = 808 ppm

C. Konsentrasi Standar EPMS = 0,0254 g = 25,4 mg


25,4 mg
x 1000 ml=508 ppm
50 ml
508 mg
508 ppm= x 1 ml=0,508 mg
1000 ml
Perhitungan Kadar EPMS dalam Sampel

A. % Kadar cab-o-sil dalam Ekstrak

Bobot cab−o−sil yang ditambahkan


= x 100
Bobot ekstrak kering

24,5 g
= x 100 =30,25
80,21

B. Bobot Ekstrak dalam Sampel dan Recovery


 Sampel 1 = 20,35 mg – (30,52% x 20,35 mg)
= 14,14 mg
 Sampel 2 = 20,28 mg – (30,52% x 20,28 mg)
= 14,09 mg

 Sampel 3 = 20,23 mg – (30,52% x 20,23 mg)


= 14,06 mg
 Recovery 1 = 20,23 mg – (30,52% x 20,23 mg)
= 14,06 mg
 Recovery 2 = 20,24 mg – (30,52% x 20,24 mg)
= 14,06 mg
 Recovery 3 = 20,23 mg – (30,52% x 20,23 mg)
= 14,06 mg
C. Kandungan EPMS dalam Sampel
202m g
 BK1 = 202 ppm = x 5 ml=1,01 mg
1000 ml
303 m g
 BK2 = 303 ppm = x 5 ml=1,51 mg
1000 ml
404 m g
 BK3 = 404 ppm = x 5 ml=2,02 mg
1000 ml
505 m g
 BK4 = 505 ppm = x 5 ml=254 mg
1000 ml
606 m g
 BK5 = 606 ppm = x 5 ml=303 mg
1000 ml
808 m g
 BK6 = 808 ppm = x 5 ml=404 mg
1000 ml

Luas Area

λ 254 nm λ 308 nm λ 254 nm λ 308 nm


BK1 3463,8 AU 1590,0 AU S1 8167,8 AU 26703,9 AU
BK2 4918,0 AU 20383,1 AU S2 9230,7 AU 29532,0 AU
BK3 6026,4 AU 22520,4 AU S3 8641,1 AU 28588,6 AU
BK4 7569,4 AU 22468,4 AU R1 8772,9 AU 28665,2 AU
BK5 3177,2 AU 27579,0 AU R2 8666,5 AU 28717,4 AU
BK6 7240,2 AU 24896,2 AU R3 8206,5 AU 27795,4 AU

Persamaan Regresi Kadar Baku Kerja (x) dan Luas Area (y)

Baku Kerja Konsentrasi (ppm) Luas Area (AU)


BK 1 1,01 mg 15901,0 AU
BK 2 1,51 mg 20383,1 AU
BK 3 2,02 mg 22520,4 AU
BK 4 2,52 mg 22468,4 AU
BK 5 3,53 mg 27579,0 AU
BK 6 4,04 mg 24896,2 AU
Regresi :

a = 4148,6
b = 8321,1
r = 0,9539
Regresi Sampel

1. S1 = y = bx + a

y −a 26703,9 – 4148,6
x= = =2,71 mg
b 8321,1

2. S2 = y = bx + a

y −a 29532,0 – 4148,6
x= = =3,05 mg
b 8321,1

3. S3 = y = bx + a

y −a 28588,6 – 4148,6
x= = =2,94 mg
b 8321,1

Konsentrasi Sampel untuk Menetapkan Kadar EPMS dalam Ekstrak Kering

3 ml 5000 ml
1. S1 = 2,71 mg x x =8130mg =8,13 mg
1ml 5 ml

3 ml 5000 ml
2. S2 = 3,05 mg x x =9150 mg=9,15 mg
1ml 5 ml

3 ml 5000 ml
3. S3 = 2,94 mg x x =8820mg=8,82 mg
1ml 5 ml

% Kadar Ekstrak dalam Sampel

8,13 mg
1. S1 = x 100 =57,50
14,14 mg

9,15 mg
2. S2 = x 100 =64,94
14,09 mg

8,82mg
3. S3 = x 100 =62,73
14,06 mg

57,50 +64,94 +62,73


π= =61,72
3

Regresi Recovery
1. S1 = y = bx + a

y −a 28665,2 – 4148,6
x= = =2,95 mg
b 8321,1

2. S2 = y = bx + a

y −a 28717,4 – 4148,6
x= = =2,95 mg
b 8321,1

3. S3 = y = bx + a

y −a 27795,4 – 4148,6
x= = =2,84 mg
b 8321,1

Kadar EPMS dari Sampel Recovery (Ct)

3 ml 5000 ml
1. R1 = 2,95 mg x x =8850mg =8,85 mg
1ml 5 ml

3 ml 5000 ml
2. R2 = 2,95 mg x x =8850mg =8,85 mg
1ml 5 ml

3 ml 5000 ml
3. R3 = 2,84 mg x x =8520mg=8,52 mg
1ml 5 ml

Cp = π sampel x (penimbangan recovery – cab-o-sil)

1. R1 = 61,72 % x 14,06 mg = 8,6778

2. R2 = 61,72 % x 14,06 mg = 8,6778

3. R3 = 61,72 % x 14,06 mg = 8,6778

Cst = Standart EPMS Konsentrasi = 0,508 mg

Perhitungan % Recovery

Ct
1. R1 = x 100
Cp+Cst

8,85 mg
= x 100 =96,34
(8,6778 mg+0,508 mg)
Ct
2. R2 = x 100
Cp+Cst

8,85 mg
= x 100 =96,34
(8,6778 mg+0,508 mg)

Ct
3. R3 = x 100
Cp+Cst

96,34 + 96,34 + 92,75


π= =95,14
3

SD = 2,07269

SD 2,07269
KV = = x 100 =2,18
π 95,14

VI. PEMBAHASAN
Pada praktikum ini bertujuan untuk melakukan penentuan kadar senyawa
marker dan rimpang Kaempferia galanga L. Tanaman kencur dapat
digunakan sebagai sampel karena tanaman kencur diketahui mengandung
senyawa marker atau senyawa penanda. Senyawa marker menjadi bagian
penting dalam penentuan standar mutu bahan baku dan dibutuhkan sebagai
pembanding dalam konfirmasi keberadaan suatu ekstrak tanaman dalam
produk obat bahan alam.
Pada tanaman kencur diketahui bahwa senyawa marker yang dikandung
adalah EPMS (etil ῥ-metoksisinamat), dan senyawa marker ini yang
digunakan dalam praktikum kali ini. Senyawa EPMS ini termasuk
golongan ester yang mengandung cincin benzen dan gugus metoksi yang
bersifat non-polar. Selain itu senyawa EPMS juga mengandung gugus
karbonil yang mengikat gugus etil dan ikatan ini bersifat polar. Senyawa
marker ini dapat digunakan untuk identifikasi dengan autentik sumber
bahan alam, mencapai kualitas yang konsisten mengkuantibasi senyawa
farmakologik aktif pada produk akhir serta memastikan efikasi produk.
Penentuan kadar senyawa marker dalam praktikum kali ini menggunakan
Kromatografi Lapis Tipis (KLT). KLT yang dimaksud untuk uji kuantitatif
salah satunya dengan menggunakan densitometer. Densitometri
merupakan metode analisis instrumental yang didasarkan pada interaksi
radiasi elektromagnetik dengan analit yang merupakan bercak pada KLT.
Pada praktikum kali ini terdapat 3 kali scanning pada panjang gelombang
yang berbeda. Hal tersebut dapat dilihat pada hasil pengamatan yaitu
sebagai berikut :
a. Scanning λ 254 nm
Scanning dilakukan untuk melihat apakah proses eluasi berhasil
memisahkan senyawa EPMS dari ekstrak. Hasilnya menunjukkan tanda
substance 1 yang berarti terdapat 1 senyawa yang terbaca pada noda
dan senyawa tersebut adalah senyawa EPMS. Proses eluasi senyawa
menggunakan eluen n-heksan : etil asetat : asam formiat (90:10:2
tetes).
b. Scanning λ 200-400 nm
Scanning dilakukan untuk menentukan λ maksimum dalam
penentuan luas area terbaca yang akan digunakan untuk penentuan
kadar senyawa EPMS. Pada analisis diketahui Rf tertinggi didapat pada
panjang gelombang 308 nm, panjang gelombang maksimum dalam
penentuan kadar EPMS adalah 308 nm.
c. Scanning λ maks 308 nm
Scanning dilakukan pada λ maksimum (308 nm) dan dilihat kurva baku
menggunakan luas area yang didapatkan.
Untuk menguji validitas dari metode densitometri dilakukan
pengujian antara lain uji akurasi dengan parameter % perolehan kembali
(% recovery), uji presisi dengan parameter simpangan baku (SD) dan
koefisien variasi (KV).
Pada proses praktikum, dilakukan pembuatan larutan baku induk
dan baku kerja untuk memperoleh kurva baku. Setelah pembuatan baku
kerja selesai, dilakukan preparasi sampel dan recovery yang ditambahkan
dengan standar EPMS. Kemudian dilkaukan penotolan dengan plat KLT
yang eluennya menggunakan eluen n-heksana : etil asetat : asam formiat
(90:10:2 tetes) yang akan menampakkan bercak untuk menetapkan kadar
EPMS ekstrak kencur dengan densitometri. Setalah dilakukan uji scanning
didapatkan data kurva baku dan terdapat data BK 6 yang di reject.
Persamaan kurva baku yang diperoleh adalah r=0,9539, dengan persamaan
y=8321,1 x + 4148,6.
Dari persamaan regresi data tersebut didaptkan hasil kadar sampel
diperoleh S1= 57,50 %; S2= 64,94 %; dan S3= 62,73% dengan rata-rata dari
% kadar ekstrak dalam sampel adalah 61,72%. Untuk penentuan presisi
diperoleh dari data kadar EPMS dalam sampel. Suatu data dikatakan
presisi jika nilai koefisien variasi (KV) < 2% (Harmita, 2004). Kriteria
penerimaan untuk korelasi (r) adalah > 0,9950 (Badan POM, 2003). Untuk
kriteria penerimaan untuk % standart deviasi relatif (KV) adalah < 2% dan
untuk bias adalah -2,0% sampai +2,0% (Badan POM, 2003). Menurut
Farmakope Indonesia < 5%. Dan hasil dari data praktikum kelompok kami
memperoleh hasil SD=2,07% dan KV=2,18%, hasil tersebut, menunjukkan
presisi yang diperoleh memenuhi syarat KV yang tertera pada litelatur dan
kriteria korelasi (r) tidak memenuhi syarat karena < dari 0,9950.
Untuk mengetahui tingkat akurasi dari praktikum yang dilakukan
dapat dilihat melalui penetapan % recovery. Dari hasil pembacaan densito
scanner diperoleh R1= 96,34%; R2= 96,34%; dan R3= 92,72% dengan nilai
rata-rata adalah 95,14%. Persen recovery yang baik menurut Farmakope
Indonesia adalah 95-105%, sedangkan BPOM sebesar 98-102%. Pada
hasil perhitungan recovery menunjukkan hasil recovery yang memenuhi
persyaratan FI dan BPOM. Hal ini mengindikasi pekerjaan praktikan yang
kurang teliti dan kurang kuantitatif karena % recovery jauh dari 100%.
Kesalahan dalam praktikum yang terjadi karena teknik praktikan
dalam melakukan praktikum secara kuantitatif, baik dalam penimbangan
maupun pengenceran, dan penotolan dari pipa kapiler, ataupun pengukuran
larutan sehingga didapat hasil praktikum.
LAPORAN PRAKTIKUM IV

PEMBUATAN KAPSUL EKSTRAK KENCUR DAN PENETAPAN KADAR


SENYAWA MARKER DALAM KAPSUL
(Kaempferia galanga)
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Praktikum Fitofarmaka

KELOMPOK: 1
KELAS: C
Novelia (201410410311007)
Aprilia Kartika Putri (201410410311011)
Anis Khoirun Sauma (201410410311013)
Sukmawansyah (201410410311016)
Imanda Gita R. (201410410311120)
Nur Cholidah (201410410311124)
Qardina Annisa H. (201410410311127)
Fardhiyanti (201410410311156)
Aida Rakhiba (201410410311158)
Langlang Kurniawan (201410410311220)
Abelia M Alhamid (201410410311259)
DOSEN PEMBIMBING:
Dra. Herra Studiawan, M.Si, Apt
Siti Rofida, S,Si., M.Farm.,Apt

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2017

TUGAS 4
PEMBUATAN KAPSUL EKSTRAK KENCUR DAN
PENETAPAN KADAR SENYAWA MARKER DALAM KAPSUL

(Kaempferia galanga)

I. TUJUAN UMUM
Mahasiswa mampu melakukan pembuatan kapsul ekstrak kencur dengan
jumlah senyawa marker yang ditentukan dalam kapsul.

II. TINJAUAN PUSTAKA


A. Tanaman (Kaempferia galanga)
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Kaempferia
Spesies : Kaempferia galanga
Pemerian
Bau khas aromatik; rasa pedas, hangat, agak pahit akhirnya menimbulkan
rasa tebal.
Makroskopik
Temu kecil yang tumbuh subur di daerah dataran rendah/ pegunungan
yang tanahnya gembur dan tidak terlalu banyak air. Jumlah helaian daun
kencur tidak lebih dari 2-3 lembar (janrang 5) dengan susunan tumbuh
diatas permukaan tanah. Bunga majemuk tersusun setengah duduk dengan
kuntum bunga berjumlah antara 4 sampai 12 buah. Bibir bunga berwarna
lembayung dengan warna putih lebih dominan. Bentuk rimpang: kepingan;
pipih, bentuk hampir bundar sampai jorong/ tidak beraturan; tebal keping
1-4 mm; panjang 1-5 cm, lebar 0,5-3 cm; bagian terpi berombak dan
berkeriput, warna coklat sampai coklat kemerahan, bagian tengah
berwarna putih sampai putih kecoklatan. Korteks: sempit, lebar lebih
kurang 2mm; warna putih; berkas pembuluh tersebar tampak sebagai
bintik-bintik berwarna kelabu/ keunguan. Silinder pusat: lebar, banyak
tersebar berkas pembuluh seperti pada korteks. Berkas patahan: rata,
berdebu, berwarna putih (Materia Medika halaman 55).
Kandungan Senyawa Kencur
Secara empiris kencur digunakan sebagai penambah nafsu makan,
ekspertoran, oba batuk, disentri, tonikum, infeksi bakteri, masuk angin,
sakit perut. Rimpang kencur mengandung minyak atsiri dengan etil p-
metoksisinamat (31,77%), metilsinamat (23,23%), karvon (11,13%),
eukaliptol (9,59%) dan pentadecone (6,41%). Selain itu kandungan
lainnya terdapat sineol, borneol, 3-carene, camphene, kampferal,
sinamaldehid, etil sinamat, asam p-metoksisinamat. Kandungan utama
kencur adalah etil p-metoksisinamat yang didalam tubuh mengalami
hidrolisis menjadi senyawa aktif biologis, asam p-metoksisinamat
(APMS). Senyawa ini bekerja dengan soklooksigenase sehingga konversi
asam arakhidonat menjadi prostaglandin terganggu. Selain itu, EPMS
termasuk kelompok fenolik alam dari golongan fenil propanoid yang
bermanfaat sebagai tabir surya.
B. Senyawa Marker
Berdasarkan Natural Health Product Directorate (NHPD), senyawa
marker merupakana constituent that occurs naturally in the material and
that is selected for special attention (e.g. for identification and
standardization purposes) by a researcher or manufacturer. Marker
mempunyai 2 tujuan utama yaitu sebagai penanda farmakologis dan
analisis. Misal: germacron adalah senyawa marker yang terdapat dalam
purwoceng namun zat aktif yang terkandung dalam tanaman tersebut
adalah stigmasterol. Stigmasterol juga ditemukan pada tanaman cabe jawa.
Oleh karena itu sering ditemukan adanya pemalsuan purwoceng yang
dicampur dengan cabe jawa, karena harga purwoceng jauh lebih mahal.
Marker dapat digunakan untuk identifikasi dengan benar dan autentik
sumber bahan alam, mencapai kualitas yang konsisten, mengkuantifikasi
senyawa farmakologik aktif pada produk akhir, atau memastikan efikasi
produk. Marker sangat penting dalam evaluasi jaminan kualitas
produk. Senyawa marker tidak harus memiliki aktivitas farmakologi.

Senyawa marker dapat digolongkan menjadi 4 kategori berdasarkan


bioaktivitasnya.
a. Zat aktif
Merupakan senyawa kimia dengan aktivitas klinik yang diketahui.
Contoh: epedrin pada Epedra sinensis dan sylimarin pada Sylibum
marianum.
b. Marker aktif
Merupakan zat kimia yang mempunyai efek farmakologi, tapi belum
tentu mempunyai efikasi klinik. Contoh: alliin pada Allium sativum,
hiperisin dan hiperforyn pada St. John Wort (Hypericum perforatum).
c. Marker analisis
Merupakan zat kimia yang dipilih untuk determinasi kuantitatif tetapi
belum tentu mempunyai aktivitas biologi dan efikasi klinis. Selain itu,
marker ini juga berguna untuk identifikasi positif bahan baku dan
ekstrak untuk standardisasi. Contoh: alkilamid yang berbeda
ditemukan pada akar Echinaceae angustifolia dan E. purpurea tetapi
tidak ada pada E. pallida.
d. Marker negatif
Senyawa aktif dengan zat aktif toksik atau allergenik. Contoh: Asam
ginkolat pada Gynko biloba.
Kencur (Kaemferia galanga L.) merupakan tanaman tropis yang
mengandung senyawa etil-p-metoksisinamat sebagai komponen utamadan
terkandung pula senyawa lainnya seperti etil sinamat dan p-
metoksistiren.Kadar etil-p-metoksisinamat dalam kencur cukup tinggi
(tergantung spesiesnya) dengan bias sampai 10%.

C. Etil Para Metoksi Sinamat / EPMS


Etil p-metoksisinamat (EPMS) adalah satu senyawa hasil isolasi
rimpang kencur (Kaempferia galanga L). EPMS termasuk dalam golongan
senyawa ester yang mengandung cincin benzena dan gugus metoksi yang
bersifat nonpolar dan juga gugus karbonil yang mengikat etil yang bersifat
sedikit polar sehingga dalam ekstraksinya dapat menggunakan pelarut-

pelarut yang mempunyai variasi kepolaran yaitu etanol, etil asetat,


metanol, air dan heksana.
Spesifikasi EPMS :
- Berat molekul = 206,237 g/mol
- Bentuk = kristal
- Warna = putih
- Bau/ aorma = harum seperti aromatik khas
- Titik leleh = 40-500C

D. Kapsul
Kapsul dapat didefinisikan sebagai bentuk kesediaan padat, dimana
satu bahan macam obat atau lebih dan atau bahan inert lainnya yang
dimasukan kedalam cangkang atau wadah kecil umumnya dibuat dari
gelatin yang sesuai. Tergantung pada formulasinya, kapsul dari gelatin bisa
merupakan kapsul lunak dan bisa merupakan kapsul keras. Kebanyakan
kapsul-kapsul yang sudah diedarkan dipasaran adalah kapsul yang
semuanya dapat ditelan oleh pasien, untuk keuntungan dalam pengobatan.
Proses pengolahan kapsul dimulai dari penimbangan bahan baku yang
diluluskan oleh bagian Quality assurance. Ada dua metode pengolahan
kapsul, yaitu pencampuran langsung serbuk menggunakan mixer atau
melalui proses granulasi basah. Pada metode granulasi basah, dilakukan
proses granulasi seperti pada pembuatan tablet, kemudian granul yang
dihasilkan dicampur dengan bahan lainnya. Setelah itu dilakukan proses
pengisian dengan menggunakan Filling Capsule Machine. Setelah proses
pengisian, tahap selanjutnya adalah polishing kapsul yang berguna untuk
menghilangkan serbuk yang lengket pada permukaan cangkang kapsul
sehingga kapsul tampak lebih bersih dan mengkilap.

E. Penetapan Kadar dalam Kapsul


Penetapan kadar dilakukan untuk memastikan bahwa kandungan zat
berkhasiat yang terdapat dalam kapsul telah memenuhi syarat dan sesuai
dengan yang tertera pada etiket. Metode penetapan kadar yang digunakan
sesuai dengan zat aktif yang terkandung dalam sediaan kapsul.
Caranya ditimbang 10-20 kapsul, isinya di gerus dan bahan aktif yang
larut diekstraksi menggunakan pelarut yang sesuai menurut prosedur yang
sudah ditetapkan. Secara umum rentang kadar bahan aktif yang
ditentukan berada diantara 90-110% dari pernyataan pada label (Agoes,
2008).

F. Keseragaman Bobot
Tetapkan kadar 10 kapsul, satu per satu sebagaimana dicantumkan
dalam monografi masing-masing bahan. Persyaratan untuk keseragaman
dosis terletak antara 85 sampai 115% dari yang disyaratakan dalam
monografi atau yang ditentukan dalam label. Bila suatu atau lebih unit
dosis berada diluar batas tersebut, maka unit tambahan harus ditetapkan
kadarnya dan selanjutnya diperoleh persyaratan sebagaimana ditetapkan
dalam USP.
KAPSUL KERAS – Timbang satu per satu secara seksama 10 buah
kapsul. Isi dari tiap kapsul dikeluarkan dengan cara yang sesuai, isi dari
kapsul disatukan. Timbang secara seksama kapsul kosong satu per satu
dan hitung untuk tiap kapsul berat bersih dari isinya dengan cara
mengurangkan berat cangkang kapsul dari masing-masing berat kotor.
Dari hasil penentuan kadar didapat sebagaimana diperintahkan dalam
monografi masing-masing, hitung kandungan zat aktif merata.
KAPSUL LUNAK – Timbang dengan seksama 10 kapsul yang
dimaksud satu per satu untuk mendapatkan berta kotornya. Kemudian
kapsul dibuka dengan cara menggunakan alat pemotong yang kering
seperti gunting atau pisau terbuka yang tajam dan mengeluarkan isinya
dengan pencucian menggunakan pelarut yang tepat. Biarkan pelarut
menguap dari cangkang pada temperatur kamar setelah jangka waktu
sekitar 30 menit, lakukan tindakan pencegahan untuk menjaga jangan
sampai kehilangan uap air. Timbang masing-masing cangkang dan hitung
isi netto. Dari hasil penentuan kadar yang diperoleh sebagaimana
diperintahkan dalam masing-masig monografi, hitung kandungan zat aktif
dalam tiap kapsul, dengan anggapan distribusi zat aktif merata.
Uji keseragaman bobot dilakukan dengan penimbangan 20 kapsul
sekaligus dan ditimbang lagi satu persatu isi tiap kapsul. Kemudian
timbang seluruh cangkang kosong dari 20 kapsul tersebut. Lalu dihitung
bobot isi kapsul dan bobot rata-rata tiap isi kapsul. Perbedaan bobot isi
tiap kapsul terhadap bobot rata-rata tiap isi kapsul,tidak boleh melebihi
dari yang ditetapkan pada kolom A dan untuk setiap 2 kapsul tidak lebih
dari yang ditetapkan pada kolom B.

Bobot rata- rata A B

120 mg 10 % 20 %

120 mg atau lebih 7,5 % 15 %


G. Bahan Tambahan
1. Cab – O sil
Sinonim : Aerosil; Cab-O-Sil; Cab-O-Sil M-5P; colloidal silica;
fumed silica; fumed silicon dioxide; hochdisperses silicum dioxid;
SAS; silica colloidalis anhydrica; silica sol; silicic anhydride; silicon
dioxide colloidal; silicon dioxide fumed; synthetic amorphous silica.
Pemerian : Cab-O-Sil adalah sebuah fumed silica submicroscopic
dengan ukuran partikel 15 nm. Cab-O-Sil berwarna putih kebiru-
biruan, terang, tidak berbau, tidak berasa, serbuk amorf tidak berpasir.
Rumus Kimia : SiO2 (BM = 60.08)
Fungsi : Adsorbent; anticaking agent; emulsion stabilizer; glidant;
suspending agent; tablet disintegrant; thermal stabilizer; viscosity-
increasing agent.
Cab-O-Sil digunakan secara luas dalam farmasi, kosmetik dan produk
makanan. Cab-O-Sil memiliki ukuran partikel kecil dan luas area
permukaan spesifiknya besar sehingga memberikan karakter aliran
yang diinginkan yang dieskplorasi untuk memperbaiki aliran serbuk
kering pada proses pembuatan tablet. Penggunaan Cab-O-Sil sebagai :
 Aerosol = 0,5 – 2,0 %
 Emulsion = 1,0 – 5,0 %
 Glidant = 0,1 – 1,0 %
 Suspending dan thickening agent = 2,0 – 10,0 %
pH : 3,5-4,0 (4 % w/v aqueous dispersion)
Distribusi partikel : 7-16 nm
Kelarutan : praktis tidak larut dalam pelarut organik, air, dan
larutan asam, kecuali hydrofluoric acid. Larut dalam larutan alkali
hidroksida panas. Membentuk dispersi koloidal dalam air.
Cab-O-Sil higroskopis tetapi mengadsorbsi sejumlah besar air tanpa
mencair. Ketika digunakan dalam sistem aqueous pada pH 0-7.5, Cab-
O-Sil dapat meningkatkan viskositas dari sistem. Tapi pada pH lebih
dari 7.5 peningkatan viskositas Cab-O-Sil akan berkurang dan pada pH
lebih dari 10.7 kemampuan Cab-O-Sil menghilang karena Cab-O-Sil
terlarut membentuk silikat.

2. Avicel
Sinonim : Avicel PH; Cellets; Celex; cellulose gel; hellulosum
microcristallinum; Celphere; Ceolus KG; crystalline cellulose; E460;
Emcocel; Ethispheres; Fibrocel; MCC Sanaq; Pharmacel; Tabulose;
Vivapur.
Rumus Kimia : (C6H10O5)
Fungsi : Adsorbent; suspending agent; capsule diluent; tablet
disintegrant.
Avicel digunakan secara luas dalam farmasi, umumnya sebagai
binder/diluent pada tablet oral dan formula kapsul dimana ini
digunakan baik dalam granulasi basah dan proses kempa langsung.
Pada penambahannya sebagai binder/diluent, avicel juga memiliki
fungsi sebagai lubrikan dan disintegran yang berguna dalam tabletasi.
pH : 5,0-7,5
Densitas : 1,512-1,668 g/cm3
Titik lebur : 260-270oC
Distribusi partikel : 20-200 μm
Kelarutan : mudah larut dalam 5% w/v larutan NaOH, praktis tidak
larut dalam air, asam terlarut, dan sebagian besar pelarut organik.
Kompatibilitas : avicel inkompatibel dengan agen oksidator kuat.

III.BAHAN DAN ALAT


 Sampel ekstrak kencur  Timbangan analitik
dalam etanol 96%  Mortir dan stamper
 Cangkang kapsul  Labu ukur 10.0mL
 Avicel  Pipet volume
 Cab-O sil  Ultrasonik
 Etanol 96%  Densitometer
IV. BAGAN ALIR
A. Pembuatan kapsul
Ekstrak kencur ditimbang, lalu dimasukkan ke dalam mortir, digerus ad
halus

Ditimbang avicel, lalu dimasukkan ke dalam mortir sedikit demi sedikit,


digerus ad homogen

Ditimbang cab-o-sil, lalu dimasukkan ke dalam mortir sedikit demi


sedikit, digerus ad homogen

Setelah tercampur homogen, lalu ditimbang campuran kemudian dibagi


2 sama banyak, tiap bagian dibagi menjadi 10 bagian secara visual

Dimasukkan ke dalam kapsul/ cangkang kapsul satu per satu

Kemudian tutup cangkang dan bersihkan cangkang kapsul


B. Keseragaman bobot
Dibuka kapsul yang telah berisi campuran ekstrak kencur + cab-o-sil +
avicel, satu per satu ( sebanyak 20 kapsul )

Campuran ditimbang satu per satu , dicatat bobotnya

Kemudian dimasukkan campuran (yang ditimbang tadi) ke dalam


cangkang, lalu diberikan

Kapsul dimasukkan ke dalam botol obat, diberi etiket dan label

IV. PENIMBANGAN
 Rancangan Formulasi :
- Kadar rata-rata EPMS = 61,72%
100 x 15 mg = 24,30 mg
61,72
- Ekstrak ditimbang per kapsul
% kadar Ca-bosil 30,52%
24,30 mg + (30,52% x 24,30 mg)= 31,72 mg
- Bahan pengisi = 200mg – 31,72 mg = 168,28 mg
- Avicel : cab-o-sil ( 3 : 1)
 Avicel = 3 x 168,28 mg = 126,21 mg
4
Untuk 20 kapsul = 126,21 mg x 20 kapsul = 2524,2 mg
 Cab-o-sil = 1 x 168,28 mg = 42,07 mg
4
Untuk 20 kapsul = 42,07 mg x 20 kapsul = 841,4 mg

 Total serbuk teoritis = 4,0 g


 Total serbuk yang ditimbang = 4,0 g
 % kesalahan = Bobot teoritis – Bobot yang ditimbang x 100%
Bobot teoritis
= 4,0667 g – 3,9575 g x 100% = 2,68 %
4,0667 g
Keseragaman bobot kapsul :
BOBOT
BOBOT ISI %
NO. KAPSUL + ISI KAPSUL (mg)
KAPSUL (g) PENYIMPANGAN
ISI (g)
1. 0,312 0,122 0,190 2,5141
2. 0,314 0,126 0,188 3,5403
3. 0,329 0,125 0,204 4,6691
4. 0,326 0,130 0,196 0,5644
5. 0,318 0,125 0,193 0,9749
6. 0,294 0,119 0,175 10,2104
7. 0,311 0,130 0,181 7,1315
8. 0,334 0,126 0,208 6,7214
9. 0,336 0,130 0,206 5,6952
10. 0,314 0,127 0,187 4,0534
11. 0,336 0,122 0,214 9,7999
12. 0,328 0,128 0,200 2,6167
13. 0,322 0,123 0,199 2,1036
14. 0,309 0,127 0,182 6,6188
15. 0,323 0,125 0,198 1,5906
16. 0,335 0,128 0,207 6,2083
17. 0,313 0,128 0,185 5,0795
18. 0,325 0,126 0,199 2,1036
19. 0,304 0,124 0,180 7,6449
20. 0,333 0,128 0,205 5,1821

 Bobot total = 3,898g


 Bobot rata-rata = 3,898 g = 0,1949 g
20
 % Kesalahan setelah dimasukkan kapsul =
Bobot sebelum dimasukkan kapsul – bobot setelah dimasukkan kapsul x 100%
Bobot sebelum dimasukkan kapsul
200 mg – 194,9 mg x100% = 2,55%
194,9 mg
V. PEMBAHASAN
Pada praktikum ini dilakukan pembuatan kapsul ekstrak kencur dan
penetapan kadar senyawa marker EPMS dalam kapsul yang bertujuan untuk
membuat kapsul ekstrak kencur sesuai dengan persyaratan kapsul dan kadar
senyawa marker EPMS dalam kapsul memenuhi standar sehingga dapat
menghasilkan efek terapi saat penggunaanya. Kapul ialah sediaan padat yang
terdiri dari obat dalam cangkang kapsul keras atau lunak yang dapat larut.
Pembuatan sediaan kapsul dengan mempersiapkan bahan-bahan yang akan
digunakan seperti ekstrak kering kencur, avicel dan cab-o-sil. Bahan-bahn
ditimbang kemudian dicampur sampai homogen. Kemudian seluruh serbuk
ditiimbang dengan timbangan miligram diperoleh bobot 3,898g, lalu dibagi
menjadi 2 sama banyak dan tiap bagian dibagi menjadi 10 bagian secara
visual. Dan diperoleh 20 bagian kemudian dimasukkan ke dalam cangkang
kapsul.
Kapsul yang telah berisi serbuk dilakukan pengujian keseragaman bobot,
bertujuan untuk mengetahui bobot tiap kapsul dan rata-ratanya isis kapsul
agar kadar yang didapat sama rata. Keseragman bobot dilakukan dengan
menimbang satu per satu kapsul dan isinya, kemudian menimbang cangkang
kapsul kosong yang telah dikeluarkan isinya. Dicatat dan dihitung %
keseragman bobot yang didapat tiap-tiap kapsul.
Hasil total isi kapsul yaitu sebanyak 3,898g, jika dibandingkan dengan
bobot penimbangan sebelum dimasukkan kapsul yaitu sebesar 3,9575 g,
dimana % kesalahan setelah dimasukkan ke dalam cangkang kapsul sebesar
2,55% sehingga isi berkurang sekitar 1 ka0psul / ± 200 mg bobot campuran
bahan yang hilang. Hasil yang baik yaitu % kesalahan mendekati 0%, dimana
semakin kecil hasil maka semakin kecil bobot yang hilang.
Bobot campuran/ isi kapsul yang hilang dapat disebabkan oleh beberapa hal
yaitu pada saat pencampuran bahan masih ada bahan yang tertinggal di dalam
mortir dan stamper, pada saat mengkosongkan kapsul tidak sepenuhnya isi
kapsul dikeluarkan/ serbuk menempel pada kapsul.
Hasil dari keseragman bobot jika dibandingkan dengan persyaratan bobot
rata-rata isi kapsul menurut farmakope indonesia, diketahui bahwa terdapat 3
kapsul yang menyimpang dari kolom B yang jauh dari persyaratan. Hal ini
dikarenakan kurang homogennya/ tidak ratanya bobot tiap kapsul, jika
banyak bobot yang hilang/ kurang maka saat pengujian penetapan kadar dapat
berpengaruh dimana kadar yang diperoleh dapat lebih rendah dari kadar yang
ditetapkan.

VI. KESIMPULAN
Dari hasil praktikum ini dapat disimpulkan bahwa :
 % rata-rata EPMS ekstrak kencur pada serbuk = 61,72%
 Rata-rata bobot isi kapsul = 0,1949 g/ kapsul
 % kesalahan setelah dimasukkan kapsul = 2,55% >0% karena
kemungkinan pada saat proses pengisian bahan ke cangkang kapsul
banyak bahan yang terjatuh sehingga ada bobot yang hilang.
 Persentase penyimpangan pada kapsul yang dibuat menunjukkann
adanya 3 kapsul yang persen penyimpangannya melebihi batas kolom B.
Hal ini mungkin dikarenakan akibat kurangnya tingkat ketelitian
praktikum saat melakukan pembagian secara visual.
VII. LAMPIRAN
VIII.

3. Masukkan cab-o-sil ke dalam


mortir dan gerus hingga halus,
tambahkan avicel, gerus ad
homogen dan tambahkan ekstrak
kencur, gerus ad homogen

1. Timbang ekstrak kencur 2. Timbang bahan tambahan yaitu


untuk 20 kapsul Cab-o-sil dan Avicel dengan
perbandingan 1:3

5. Bagi campuran ke dalam 4


bagian secara visual. Dan siapkan
20 lembar perkamen

6. Bagi 1 bagian campuran ke


dalam 5 lembar permaken hingga
campuran habis 7. Masukkan campuran ke dalam
masing-masing kapsul
4. Timbang campuran dan
didapatkan berat apakah sesuai
dengan berat teoritis
8. Hitung % kesalahan dan % 9. Keluarkan isi dari cangkangnya 10. Masukkan kembali isi ke dalam
penyimpangan dengan menimbang dan timbang bobot cangkang cangkangnya dan taruh kapsul di
masing-masing kapsul (cangkang + kosong. Sehingga di dapatkan bobot dalam wadah dan beri etiket setelah
isi) dan didapatkan bobotnya isi kapsul didapat hasil %kesalahan dan
penyimpangan
LAPORAN PRAKTIKUM V

Penetapan Kadar Senyawa Marker pada Sediaan Kapsul


Disusun Untuk Memenuhi Tugas Praktikum Fitofarmaka

KELOMPOK: 1
KELAS: C
Novelia (201410410311007)
Aprilia Kartika Putri (201410410311011)
Anis Khoirun Sauma (201410410311013)
Sukmawansyah (201410410311016)
Imanda Gita R. (201410410311120)
Nur Cholidah (201410410311124)
Qardina Annisa H. (201410410311127)
Fardhiyanti (201410410311156)
Aida Rakhiba (201410410311158)
Langlang Kurniawan (201410410311220)
Abelia M Alhamid (201410410311259)

DOSEN PEMBIMBING:
Dra. Herra Studiawan, M.Si, Apt
Siti Rofida, S,Si., M.Farm.,Apt

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2017
TUGAS 5

Penetapan Kadar Senyawa Marker pada Sediaan Kapsul

I. TUJUAN
Mahasiswa mampu melakukan penetapan kadar senyawa marker EPMS dalam
sediaan kapsul yang berisi ekstrak kering Kaempferia galanga L.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Kencur (Kaempferia galanga L.) adalah salah satu jenis empon-empon atau
tanaman obat yang tergolong dalam suku temu-temuan dengan tata nama atau
klasifikasi sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Famili : Zingiberaceae
Genus : Kaempferia
Spesies : Kaempferia galanga L.
Ekstrak kering rimpang kencur adalah ekstrak yang dibuat dari rimpang
kencur. Tumbuhan Kaempferia galanga L. mengandung minyak atsiri tidak
kurang dari 37,9% dan etil ῥ-metoksisinamat tidak kurang dari 4,3%.
Kandungan kimia ekstral yaitu minyak atsiri dengan komponen utama etil ῥ-
metoksisinamat dan etil sinamat. Standarisasi simplisia dibutuhkan karena
kandungan kimia tanaman obat sangat bervariasi tergantung banyak faktor
seperti telah dikemukakan sebelumnya. Standarisasi simplisia diperlukan
untuk mendapatkan efek yang dapat diulang. Kandungan kimia yang
berkhasiat atau kandungan kimia yang hanya sebagai petanda (marker), atau
yang memiliki sidik jari (fingerprint) pada kromatogram. Untuk mendapatkan
simplisia dengan mutu standar diperlukan pembudidayaan dalam kondisi
standar.
Jenis-jenis senyawa marker :
1. Zat aktif : senyawa kimia dengan aktivitas klinik yang diketahui.
2. Marker aktif : zat kimia yang mempunyai efek farmakologi, tapi belum
tentu mempunyai efikasi klinik
3. Marker analisis : zat kimia yang dipilih untuk determinasi kuantitatif tapi
belum tentu mempunyai aktivitas biologi dan efikasi klinik
4. Marker negative : senyawa aktif dengan zat aktif yang toxic.
Khusus untuk etil ῥ-metoksisinamat, kadar etil ῥ-metoksisinamat dalam
kencur cukup tinggi (tergantung spesiesnya) bisa sampai 10%, karena itu
bisa diisolasi dari bagian umbinya menggunakan pelarut petroleum
eter/etanol. Struktur etil ῥ-metoksisinamat (C12H14O2) adalah :

Penetapan kadar dilakukan untuk memastikan bahwa kandungan zat


berkhasiat yang terdapat dalam kapsul telah memenuhi persyaratan dan sesuai
dengan yang tertera pada etiket. Metode penetapan kadar yang digunakan
sesuai dengan zat aktif yang terkandung dalam sediaan kapsul. Caranya
ditimbang 10-20 kapsul, isinya digerus dan bahan aktif yang larut diekstraksi
menggunakan pelarut yang sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan.
Secara umum, rentang kadar bahan aktif yang diberikan berada diantara 90-
110% dari pernyataan pada label. Untuk penetapan kadar EPMS
dilakukan dengan KLT-Densitometri. Banyak sekali keuntungan penggunaan
KLT dan salah satu keuntungannya adalah mampu memisahkan beberapa
sampel secara bersamaan, yang lebih menguntungkan dibandingkan KCKT.
Densitometri merupakan metode analisis instrumental yang didasarkan pada
interaksi radiasi elektro magnetik dengan analit yang merupakan bercak pada
KLT. Densitometri dimaksud untuk analisis kuantitatif analit dengan kadar
kecil, yang sebelumnya dilakukan pemisahan dengan KLT. KLT merupakan
kromatografi sederhana dengan bentuk kromatografi planar yang memisahkan
campuran analit berdasarkan distribusi komponen tersebut diantara 2 fase,
yaitu fase diam dan fase gerak. Prinsip kerja KLT adalah dengan menotolkan
cuplikan atau sampel pada lempeng KLT, kemudian lempeng dimasukkan
kedalam wadah berisi fase gerak, sehingga komponen-komponen dalam
sampel tersebut terpisah. Komponen yang mempunyai afinitas besar terhadap
fase gerak atau afinitas yang lebih kecil terhadap fase diam akan bergerak
lebih cepat dibanding komponen dengan sifat sebaliknya (Ihsanto, 2009).
Pada prinsipnya pemisahan KLT diusahakan dilakukan dalam keadaan netral
(Surya, 2011). KLT dapat digunakan untuk tujuan preparatif dan kuantitatif,
meskipun KLT kuantitatif kurang teliti bila dibandingkan dengan sistem
kromatografi lainnya. Sistem KLT telah banyak digunakan untuk analisis obat
dan senyawa bahan alam. Analisis kualitatif pada KLT menggunakan nilai Rf.
Dua senyawa dikatakan identik bila mempunyai nilai Rf yang sama dengan
dan diukur pada kondisi KLT yang sama. Analisis kuantitatif pada KLT
didukung dengan teknik densitometri. Untuk menguji validitas dari metode
ini dilakukan pengujian antara lain uji akurasi dengan parameter % perolehan
kembali (% recovery), uji presisi dengan parameter simpangan baku (SD) dan
koefisien variasi (KV).
III. ALAT DAN BAHAN
a. Alat
‒ TLC Scanner
‒ Lempeng KLT
‒ Chamber
‒ Pipet Mikro
‒ Analitical Balance
‒ Labu Ukur
‒ Cawan Timbang
‒ Gelas ukur
‒ Vial Tertutup
‒ Batang Pengaduk
‒ Kertas saring
‒ Aluminium Foil
b. Bahan
‒ Kapsul ekstrak Kaempferia galanga L.
‒ Standart EPMS
‒ N-Heksan
‒ Etil Asetat
‒ Asam Formiat
‒ Etanol 96%
IV. PROSEDUR KERJA
A. Pembuatan Eluen

1. N-heksan + etil asetat + 2. Masukkan ke chamber,


asam formiat (90:10:1) homogenkan
B. Pembuatan Larutan Baku Induk

2. Tambahkan etanol 10 ml, 3. Dipipet 4,0 ml LI1, dimasukkan


1. Timbang standar
diultrasonik 5 menit. Tambahkan labu ukur 10 ml, tambahkan etanol
EPMS 12,5 mg
etanol 96% ad 50 ml (LI1) 96% ad tanda (LI2)

C. Pembuatan Larutan Baku Kerja


Dipipet:
BK6 = 4,0 ml BI2, BK5 = 3,0 ml BI2, BK4 =
Masukkan labu ukur 10,0 ml.
1,0 ml BI1, BK3 = 5,0 ml BK6, BK2 = 5,0
Tambahkan etanol 96% ad tanda
ml BK5, BK1 = 5,0 ml BK3

D. Preparasi Sampel Sediaan Kapsul dan Recovery

3. Masukkan ke labu ukur


10 ml + etanol 96% ad
tanda, ultrasonik 15 menit
(Sampel 1, 2, 3)

1. Ambil 6 kapsul secara acak (3 Sampel,


3 Recovery) dengan persyaratan %
penyimpangan tidak > 7,5%. Ditimbang
2. Ditimbang lagi pada
isi sebanyak 60 mg pada timbangan
timbangan gram balance
kasar.

4. Masukkan ke labu ukur


10 ml + standar EPMS +
etanol 96% ad tanda,
ultrasonik 15 menit
(Recovery 1, 2, 3)

7. Dilakukan analisis
4. Masukkan ke labu ukur 10 ml +
KLT densitometer untuk
standar EPMS + etanol 96% ad tanda, 7. Dilakukan analisis KLT linieritas,
penentuan
ultrasonik
6. Dilakukan analisis pada sinar 15 menit
UV 254 (Recovery 1, 2, 3)
dan 365 densitometer untukpresisi
penentuan
dan akurasinya.
untuk penentuan panjang gelombang maksimum linieritas, presisi dan akurasinya.
6. Dilakukan analisis
5. Saring pada vial
pada sinar UV 254 dan
365 untuk penentuan
V. HASIL panjang gelombang
A. Penimbangan baku induk = 0,05025 g dalam 10maksimum
ml
B. Penimbangan standar EPMS = 0,01248 g dalam 40 ml
C. Penimbangan isi kapsul 60mg ±5% (0,0570-0,0630 g)
Nomor Kapsul Bobot + isi Bobot Kosong Bobot isi
kapsul
S1 5 (193 mg) 20,1620 mg 20,1012 mg 0,0608 mg
S2 8 (208 mg) 20,1575 mg 20,0958 mg 0,0617 mg
S3 9 (206 mg) 20,1590 mg 20,0964 mg 0,0626 mg
R1 12 (200 mg) 20,1586 mg 20,0956 mg 0,0630 mg
R2 15 (198 mg) 20,1567 mg 20,0958 mg 0,0609 mg
R3 16 (207 mg) 20,1569 mg 20,0952 mg 0,0617 mg
Perhitungan konsentrasi

D. Konsentrasi baku induk


50,26 mg
Bi 1=0,05026 mg= x 1000 ml=5026 Ppm
10 ml
dipipet dari Bi1 sebanyak 4 ml ad 10 ml
Bi2 N 1 x V 1=N 2 x V 2
4 ml x 5028 Ppm
N 2=
10 ml
N 2=2010,4 Ppm
E. Konsentrasi Baku Kerja

Bk1 _ V1 x N1 Bk3 = V2 x N2
5,0 ml x 401,6 Ppm = 10 ml x N2
N2 = 201,04 Ppm
Bk2 _ V1 x N1 Bk5 = V2 x N2
5,0 ml x 602,4 Ppm = 10 ml x N2
N2 = 301,56 Ppm
Bk3 _ V1 x N1 Bk6 = V2 x N2
5,0 ml x 803,2 Ppm = 10 ml x N2
N2 = 402,08 Ppm

Bk4 _ V1 x N1 Bk3 = V2 x N2
1,0 ml x 5028 Ppm = 10 ml x N2
N2 = 50,28 Ppm
Bk5 _ V1 x N1 Bk3 = V2 x N2
5,0 ml x 2010, 4 Ppm = 10 ml x N2
N2 = 603,12 Ppm
Bk6 _ V1 x N1 Bk3 = V2 x N2
4,0 ml x 2010,4 Ppm = 10 ml x N2
N2 = 80416 Ppm

F. Konsentrasi Standar EPMS = 0,01248 g = 12,48 mg


12,48 mg
x 1000 ml=249,6 Ppm
50 ml
249,6 mg
249,6 Ppm= x 10 ml=0,2496 mg
1000 ml

G. Perhitungan eluen yang digunakan


N-heksan : etil asetat ; asam formiat (90:10:1)
90
 N-heksan x 75 ml = 67,5 ml
100
10
 Etil asetat x 75 ml=7,5 ml
100

H. Penimbangan sampel untuk menentukan kadar EPMS dalam kapsul


Penimbangan 60 mg ± 5% (57 mg – 63 mg)
 Sampel 1 kapsul 5 = 0,0608 g = 60,8 mg
 Sampel 2 kapsul 8 = 0,0617 g = 61,7 mg
 Sampel 3 kapsul 9 = 0,0626 g = 62,8 mg

I. Penimbangan recovery untuk menentukan kadar EPMS dalam kapsul


 Recovery 1 kapsul 12 = 0,0630 g = 63,0 mg
 Recovery 2 kapsul 15 = 0,0608 g = 60,8 mg
 Recovery 3 kapsul 16 = 0,0617 g = 61,7 mg

Persamaan regresi kadar Baku kerja (x) dan Luas area (y)

Baku Kerja Konsentrasi (Ppm) Luas Area (Au)


Bk 1 201,04 Ppm 15626,3 Au
Bk 2 301,56 Ppm 18324,2 Au
Bk 3 402,08 Ppm 20602,2 Au
Bk 4 502,60 Ppm 21561,3 Au
Bk 5 603,12 Ppm 22026,6 Au
Bk 6 804,16 Ppm 23940,7 Au
Regresi :
a. = 14264,29
b. = 12,9667
r. = 0,9529
y = b (x) + a
= 12,9667 (x) + 14264,29
y −14264,29
x =
12,9667

Perhitungan konsentrasi EPMS dalam sampel dan recovery (1 kapiler = 5µl)

18516,5−14264,29
 S1 _ x = = 327,9331 Ppm
12,9667

19979,1−14264,29
 S2 _ x = = 440,7297 Ppm
12,9667

20204,9−14264,29
 S3 _ x = = 458,1436 Ppm
12,9667

21374,2−14264,29
 R1 _ x = = 548,3207 Ppm
12,9667

24316,2−14264,29
 R2 _ x = = 775, 2096 Ppm
12,9667

24703,0−14264,29
 R3 _ x = = 805, 0398 Ppm
12,9667

Perhitungan kadar (mg) EPMS dalam larutan (10 ml untuk 60 mg ± 5%)

327,9331 Ppm
 S1 _ 327,9331 Ppm = x10 ml = 3,2793 mg
1000 ml

440,7297 Ppm
 S2 _ 440,7297 Ppm = x10 ml = 4,4073 mg
1000 ml

458,3207 Ppm
 S3 _ 458,3207 Ppm = x10 ml = 4,5814 mg
1000 ml
548,3207 Ppm
 R1 _ 548,3207 Ppm = x10 ml = 5,4832 mg
1000 ml

775,2096 Ppm
 R2 _ 775,2096 Ppm = x10 ml = 7,7521 mg
1000 ml

805,0398 Ppm
 R3 _ 805,0398 Ppm = x10 ml = 8,0504 mg
1000 ml

Larutan Luas area Konsentrasi dalam Kadar dalam 10


5µl ml
S1 18516,5 Au 327,9331 Ppm 3,2793 mg
S2 19979,1 Au 440,7297 Ppm 4,4073 mg
S3 20204,9 Au 458,1436 Ppm 4,5814 mg
R1 21374,2 Au 548,3207 Ppm 5,4832 mg
R2 24316,2 Au 775, 2096 Ppm 7,7521 mg
R3 24703,0 Au 805, 0398 Ppm 8,0504 mg
Perhitungan kadar EPMS dalam kapsul (diinginkan 15 mg setiap kapsulnya)

3,2793 mg x 3,2793 mg x 193 mg


 S1 _ = » x= = 10,41
60,8 mg 193 mg 60,8 mg
mg
4,4073 mg x 4,4073 mg x 208 mg
 S2 _ = » x= = 14,86
61,7 mg 208 mg 61,7 mg
mg
4,5814 mg x 4,5814 mg x 206 mg
 S3 _ = » x= = 15,08
62,6 mg 206 mg 62,6 mg
mg

Rata-rata kadar EPMS setiap kapsul

10,41 mg+14,86 mg+15,08 mg


 = 13,45 mg
3

SD = 2,6350

SD
KV = x 100%
X

2,6350
= x 100% = 19,59 %
13,45
15 mg−13,45mg
% kesalahan sampel x 100 % = 10,33 %
15 mg

Perhitungan recovery

5,4814 mg x 5,4814 mg x 200 mg


 R1 _ = » x= = 17,40
63,0 mg 200 mg 63,0 mg
mg
7,7521 mg x 7,7521 mg x 198 mg
 R2 _ = » x= = 25,20
60,9 mg 198 mg 60,9 mg
mg
8,0504 mg x 8,0504 mg x 207 mg
 R3 _ = » x= = 27,01
61,7 mg 207 mg 61,7 mg
mg

Perhitungan % recovery

Ct = kadar EPMS dalam Recovery

Cp = kandungan yang diinginkan (15 mg)

Cst = kadar standar EPMS (0,2496 mg)

Ct 17,40 mg
 R1 _ x 100 % = x 100 % s=
Cp+Cst 15 mg+0,2496 mg
114,10 %
Ct 25,20 mg
 R2 _ x 100 % = x 100 % s=
Cp+Cst 15 mg+0,2496 mg
165,25 %
Ct 27,01 mg
 R3 _ x 100 % = x 100 % s=
Cp+Cst 15 mg+0,2496 mg
177,12 %

Rata-rata persen recovery

114,10 +165,25 + 177,12


 = 152,16 %
3

SD = 33,4882 = 33,49 %
SD
KV = x 100%
X

33,49
= x 100% = 22,01 %
152,16
VI. PEMBAHASAN
Pada praktikum ini bertujuan untuk melakukan penentuan kadar senyawa
marker EPMS dalam sediaan kapsul Kaempferia galanga L. Pada tanaman
kencur diketahui bahwa senyawa marker yang dikandung adalah EPMS (etil
ῥ-metoksisinamat), dan senyawa marker ini yang digunakan dalam praktikum
kali ini. Senyawa EPMS ini termasuk golongan ester yang mengandung
cincin benzen dan gugus metoksi yang bersifat non-polar. Selain itu senyawa
EPMS juga mengandung gugus karbonil yang mengikat gugus etil dan ikatan
ini bersifat polar. Senyawa marker ini dapat digunakan untuk identifikasi
dengan autentik sumber bahan alam, mencapai kualitas yang konsisten
mengkuantibasi senyawa farmakologik aktif pada produk akhir serta
memastikan efikasi produk.
Penentuan kadar senyawa marker dalam praktikum kali ini menggunakan
Kromatografi Lapis Tipis (KLT). KLT yang dimaksud untuk uji kuantitatif
salah satunya dengan menggunakan densitometer. Densitometri merupakan
metode analisis instrumental yang didasarkan pada interaksi radiasi
elektromagnetik dengan analit yang merupakan bercak pada KLT. Pada
praktikum kali ini dilakukan 2 kali scanning yaitu λ 200-400 nm dan λ 310
nm
Untuk menguji validitas dari metode densitometri dilakukan pengujian antara
lain uji akurasi dengan parameter persen perolehan kembali (% recovery), uji
presisi dengan parameter simpangan baku (SD) dan koefisien variasi (KV).
Pada proses praktikum, dilakukan pembuatan larutan baku induk dan baku
kerja untuk memperoleh kurva baku. Setelah pembuatan baku kerja selesai,
dilakukan preparasi sampel dan recovery yang ditambahkan dengan standar
EPMS. Kemudian dilkaukan penotolan dengan plat KLT yang eluennya
menggunakan eluen n-heksana : etil asetat : asam formiat yang akan
menampakkan bercak untuk menetapkan kadar EPMS pada kapsul ekstrak
kencur dengan densitometri. Setalah dilakukan uji scanning didapatkan data
kurva baku. Persamaan kurva baku yang diperoleh adalah r=0,9539, dengan
persamaan y=2,9667 x + 14264,29.
Nilai akurasi suatu senyawa dalam matriks dengan konsentrasi >0,1%
diterima jika berada pada rentang 95-105% dari kadar yang sebenarnya
(Hamita, 2009). Menurut BPOM pada rentang 98-102% dan dari Farmakope
yaitu 95-105%. Dan hasil persen recovery kelompok 1 yaitu 152,16%. Jadi
persen recovery yang didapatkan tidak memenuhi persyaratan yang ada. Hal
ini mungkin disebabkan karena kesalahan praktikan pada saat praktikum
berlangsung.
Sedangkan, presisi adalah ukuran yang menunjukkan didapat kedekatan
antara hasil uji individual, diukur melalui penyebaran hasil individual dan
rata-rata jika prosedur diterapkan secara berulang pada sampel-sampel yang
diambil dari campuran yang homogen. Presisi diukur sebagai simpangan baku
(SD) / simpangan baku relative ( KV). Suatu data dikatakan presisi jika nilai
koefisien variasi (KV) <2% (Hamita, 2004) dan menurut (BPOM, 2000) yaitu
<2% dan menurut Farmakope Herbal <5%. Dan hasil KV yang didapat
kelompok 1 yaitu KV sampel 19,59% dan KV recovery 22,01% yang berarti
tidak memenuhi persyaratan.
Menurut (BPOM, 2003) hasilkorelasi (r) yaitu 0,9950, tapi r yang diperoleh
kelompok 1 yaitu 0,9529 sehingga tidak memenuhi persyaratan. Nilai SD
yang memenuhi persyaratan Farmakope Herbal yaitu 2,6350 karena <5% dan
SD recovery 33,49% sehingga tidak memeuhi persyaratan. Dan persentase
kesalahan pada sampel yaitu 10,33% dan rata-rata kadar EPMS perkapsul
13,45mg, mendekati kadar EPMS yang dikehendaki yaitu 15mg/kapsul.
Kesalahan dalam praktikum yang terjadi karena teknik praktikan dalam
melakukan praktikum secara kuantitatif, baik dalam penimbangan maupun
pengenceran, dan penotolan dari pipa kapiler, ataupun pengukuran larutan
sehingga didapat hasil praktikum yang tidak memenuhi persyaratan.

VII.KESIMPULAN
‒ Persamaan regresi y=2,9667 x + 14264,29.
‒ KV sampel 19,59% dan KV recovery 22,01%
‒ Persentase kesalahan 10,33%
‒ Rata-rata kadar EPMS perkapsul 13,45mg
‒ LAMPIRAN
‒ A. Pembuatan Eluen


1. N-heksan + etil asetat + asam 2. Masukkan ke chamber,
‒ B. Pembuatan Larutan Baku Induk
‒ formiat (90:10:1) homogenkan

1. Timbang standar Larutan Baku Kerja
‒ C. Pembuatan 3. Dipipet 4,0 ml LI1, dimasukkan labu
2. Tambahkan etanol 10 ml, diultrasonik 5
EPMS
‒ 12,5 mg ukur 10 ml, tambahkan etanol 96% ad
menit. Tambahkan etanol 96% ad 50 ml (LI1)
‒ Dipipet: Masukkan labu ukur 10,0 ml. tanda (LI2)
BK6 = 4,0 ml BI2, BK5 = 3,0 ml BI2, BK4 Tambahkan etanol 96% ad tanda
= 1,0 ml BI1, BK3 = 5,0 ml BK6, BK2 =
5,0 ml BK5, BK1 = 5,0 ml BK3
‒ D. Preparasi Sampel Sediaan Kapsul dan Recovery


‒ 3. Masukkan ke labu ukur 10
‒ ml + etanol 96% ad tanda,
‒ ultrasonik 15 menit (Sampel

1, 2, 3)


‒ 4. Masukkan ke labu ukur 10 ml +
‒ standar EPMS + etanol 96% ad
‒ tanda, ultrasonik 15 menit

(Recovery 1, 2, 3)





1. Ambil
‒ 6 kapsul secara acak (3 2. Ditimbang lagi pada
Sampel,
‒ 3 Recovery) dengan timbangan gram balance
persyaratan % penyimpangan tidak >
7,5%. Ditimbang isi sebanyak 60 mg
pada timbangan kasar.

6. Dilakukan analisis pada sinar UV 254 dan 365 untuk


penentuan panjang gelombang maksimum

5. Disaring, filtrat di tampung ke vial.


7. Dilakukan analisis KLT densitometer
Kemudian ditotolkan pada plat KLT
untuk penentuan linieritas, presisi dan
sebanyak 5mikroliter
akurasinya.

7.5.Dilakukan
Disaring, filtrat
analisis
di KLT
tampung
densitometer
ke vial.
untuk
Kemudian
penentuan
ditotolkan
linieritas,
padapresisi
plat KLT
dan 6. Dilakukan analisis pada sinar UV 254 dan 365 untuk
sebanyak
akurasinya.
5mikroliter penentuan panjang gelombang maksimum
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan RI. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak


Tumbuhan Obat. Derektorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan :
Jakarta.

Departemen Kesehatan RI. 2008. Farmakope Herbal Indonesia ed 2.


Departemen Kesehatan RI : Jakarta.

Dewoto, H.R., 2007. Pengembangan Obat Tradisional Indonesia menjadi


Fitofarmaka, Majalah kedokteran indonesia, 57(7): 205-211.

Ditjen POM, Depkes RI , 2000, Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan


Obat, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta, 9-11,16.

Mida Fahmi. 2015. Isolasi dan Uji Aktivitas Antiinflamasi Senyawa Metabolit
Sekunder dari Rimpang Kencur (Kaempferia galangal L.). Jurusan Farmasi
UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Rostiana, Otih dkk. 2005. Budidaya Tanaman Kencur. Bogor : Balai Penelitian
Tanaman Obat dan Aromatika.

Tang et al. 2014. Phytochemicals from Kaempferia angustifolia Rosc and Their
Cytotoxic and Antimicrobial Activities. Hindawi Publishing Corporation :
BioMed Research International volume 2014, Article ID 417674, 6.

Umar, Muhammad., Amirin S., dan Rabia A. 2014. Ethyl-p-methoxycinnamate


Isolated from Kaempferia galanga L. Inhibits Inflammation by
Suppresing Interleukin-1, Tumor Necrosis Factor-a and Angiogenesis by
Blocking Endhotelial Functions. Clinics (Sao Paulo), 69(2). pp 134-144.