Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Proses menua (aging) adalah proses alami yang dihadapi manusia. Dalam
proses ini, tahap yang paling krusial adalah tahap lanjut usia. Dalam tahap ini,
pada diri manusia secara alami terjadi penurunan atau perubahan kondisi fisik,
psikologis maupun sosial yang saling berinteraksi satu sama lain. Pada usia
lanjut terjadi kemunduran sel-sel karena proses penuaan yang dapat berakibat
pada kelemahan organ, kemunduran fisik, timbulnya berbagai macam penyakit
terutama penyakit degeneratif. Sebagian Lansia akan mengalami hambatan
dalam kehidupan mereka sehingga tidak sedikit dari mereka menarik diri dari
kehidupan sosial, mengalami depresi dan tidak mau melakukan kegiatan-
kegiatan produktif yang biasa dilakukan bahkan sampai pada keinginan bunuh
diri. Selain itu akan muncul berbagai penyakit degeneratif seperti jantung
koroner, stroke, patah tulang akibat osteoporosis, demensia dan lain-lain
(dalam Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan
RI, 2012).

Psikologi sebagai sebuah ilmu yang mengkaji pikiran, perasaan, dan


perilaku seseorang melihat kematian sebagai suatu peristiwa dahsyat yang
sesungguhnya sangat berpengaruh dalam kehidupan seseorang. Ada
segolongan orang yang memandang kematian sebagai sebuah malapetaka.
Namun ada pandangan yang sebaliknya bahwa hidup di dunia hanya
sementara, dan ada kehidupan lain yang lebih mulia kelak, yaitu kehidupan di
akhirat. Pandangan tersebut melahirkan dua mazhab psikologi kematian.
Pertama, mazhab sekuler yang tidak peduli dan tidak yakin adanya kehidupan
setelah mati. Kedua mazhab religius, yaitu yang memandang bahwa keabadian
setelah mati itu ada. Kehidupan di dunia perlu dinikmati, tetapi bukan tujuan

1
akhir dari kehidupan. Apa saja yang dilakukan di dunia dimaksudkan untuk
investasi kejayaan di akhirat.

Kematian adalah keniscayaan, tidak satu jiwapun mampu menghindarinya.


Sedikit individu yang ingin menerimanya dan hampir semua individu merasa
sangat berat meninggalkan kehidupan.Pandangan lansia tentang konsep hidup
dan mati memegang peranan penting dalam kesiapan lansia untuk menghadapi
kematian, dan kesiapan tersebut dapat mempengaruhi pencapaian optimum
aging. Kesiapan menghadapi kematian berarti keadaan lansia yang telah siap
untuk menghadapi kematian, menerima akan datangnya kematian, dan sedang
atau telah melakukan segala sesuatu yang diperlukan untuk menghadapi
kematian sehingga tidak mendatangkan penyesalan apapun saat kematian itu
datang.

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Apadefinisi dan tugas perkembangan pada dewasa akhir atau lansia?

1.2.2 Apa definisi kematian?

1.2.3 Bagaimana sikap terhadap kematian pada beberapa fase yang berbeda
dalam masa kehidupan?

1.2.4 Bagaimana keadaan psikologis lansia dalam menghadapi kematian?

1.2.5 Apa penyebabketidaksiapan lansia dalam menghadapi kematian?

1.2.6 Bagaimana tahapan menjelang kematian?

1.3 Tujuan Penulisan

1.3.1 Untuk mengetahui definisi dan tugas perkembangan dewasa akhir dan
lansia.

2
1.3.2 Untuk mengetahui pengertian kematian

1.3.3 Untuk mengetahui bagaimana Sikap terhadap Kematian pada Beberapa


Fase yang Berbeda dalam Masa Kehidupan

1.3.4 Untuk mengetahuibagaimana keadaan psikologis lansia dalam menghadapi


kematian.

1.3.5 Untuk mengetahuipenyebab ketidaksiapan lansia dalam menghadapi


kematian.

1.3.6 Untuk mengetahui tahapan menjelang kematian


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi dan Tugas Perkembangan Dewasa Akhir


2.1.1 Definisi Dewasa Akhir
Masa dewasa akhir merupakan periode penutup dimana seseorang
individu telah mencapai kematangan dalam proses kehidupan, serta telah
menunjukkan kemunduran fungsi organ tubuh sejalan dengan berjalannya
waktu. Masa ini dimulai saat seseorang mulai berusia 60 tahun ke atas. Saat
seseorang mulai memasuki masa dewasa akhir, maka akan terlihat gejala
penurunan fisik, psikologis, dan intelektual. Proses inilah yang disebut
dengan istilah proses menua (lansia).

Lanjut usia (lansia) merupakan usia yang mendekati akhir


sikluskehidupan manusia di dunia. Newman dan Newman (2006) membagi
masa lansiake dalam 2 periode, yaitu masa dewasa akhir (lateradulthood)
mulai usia 60sampai 75 tahun, dan usia yang sangat tua (veryoldage) mulai
usia 75 tahunsampai meninggal dunia. Menurut Bustan (2007) terdapat
beberapa karakteristiklansia yang perlu diketahui untuk mendeteksi masalah-
masalah yang dialamilansia antara lain: (1) jenis kelamin; lansia lebih banyak
wanita dari pada pria, (2)status perkawinan; status pasangan masih lengkap

3
dengan tidak lengkap akanmempengaruhi keadaan kesehatan lansia baik fisik
maupun psikologi, (3) livingarrangement; keadaan pasangan, tinggal sendiri,
bersama istri atau suami, tinggalbersama anak atau keluarga lainnya, (4)
kondisi kesehatan; pada kondisi sehat,lansia cenderung untuk melakukan
aktivitas sehari-hari secara mandiri, sedangkan pada kondisi sakit
menyebabkan lansia cenderung dibantu atau tergantung kepada orang lain
dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari, (5) keadaan ekonomi; pada
dasarnya lansia membutuhkan biaya yang tinggi untuk kelangsungan
hidupnya, namun karena lansia tidak produktif lagi pendapatan lansia
menurun sehingga tidak semua kebutuhan lansia dapat terpenuhi.

2.1.2 Tugas Perkembangan Dewasa Akhir


 Penyesuaian terhadap kekuatan fisik yang menurun
 Menyesuaikan diri dengan kematian teman hidup
 Menemukan relasi dengan teman kelompok sebaya
 Penyesuaian gaji yang berkurang dan keadaan pensiun
 Merealisasikan keadaan hidup fisik yang sesuai
 Saling merawat sebagai suami istri
 Melakukan hubungan dengan anak cucu
 Membina kehidupan rutin yang menyenangkan

2.2 Definisi Kematian


kematian berasal dari bahasa arab. Mati biasa juga disebut meninggal
dunia, yang berarti tidak bernyawa, atau terpisahnya roh dari zat, psikis dari
fisik, jiwa dari badan, atau yang ghaib dari yang nyata. Seseorang yang sudah
mati disebut mayat/ jenazah.Pada hakekatnya maut atau mati adalah akhir
dari kehidupan dan sekaligus awal kehidupan (baru). Jadi maut bukan
kesudahan, kehancuran atau kemusnahan. Maut adalah suatu peralihan dari
suatu dunia ke dunia lain, dari suatu keadaan kepada keadaan lain, tempat
kehidupan manusia akan berlanjut.

4
Menurut Papalia (2008) kematian merupakan fakta biologis, akan tetapi
juga memiliki aspek sosial, kultural, historis, religius, legal, psikologis,
perkembangan, medis dan etis. Aspek-aspek tersebut memiliki keterkaitan
satu sama lain. Sedangkan Santrock (2002) mendefinisikan kematian dengan
cukup spesifik yaitu berakhirnya fungsi biologis tertentu, seperti pernapasan
dan tekanan darah serta kakunya tubuh, hal-hal tersebut dianggap cukup jelas
sebagai tanda-tanda kematian. Dapat disimpulkan bahwa kematian adalah
berakhirnya fungsi biologis tertentu dikarenakan lepasnya ruh dari jasad
manusia.

2.3 Sikap terhadap Kematian pada Beberapa Fase yang Berbeda dalam
Masa Kehidupan
Usia kanak-kanak dan dewasa mempengaruhi pengalaman dan pemikiran
mereka tentang kematian. Seorang dewasa yang telah matang, akan berfikir
dan memahami bahwa kematian merupakan akhir kehidupan dan hal itu tidak
dapat diubah lagi, dimana kematian menggambarkan akhir kehidupan dan
segala yang hidup akan mati. Banyak penelitian menemukan bahwa seiring
dengan perkembangan manusia, mereka mengembangkan pendekatan tentang
kematian yang lebih matang (Hayslip & Hanson, 2003 dalam Santrock 2012).
a. Masa Kanak-Kanak
Kebanyakan peneliti percaya bahwa bayi tidak memiliki konsep dasar
tentang kematian. Namun, karena bayi mengembangkan keterkaitan dengan
pengasuhnya, mereka dapat mengalami perasaan kehilangan atau pemisahan
serta kecemasan yang menyertainya. Tapi anak-anak tidak memahami waktu
sebagaimana orang dewasa. Bahkan perpisahan yang singkat mungkin
dialami sebagai pepisahan total. Bagi kebanyakan bayi, kedatangan pengasuh
kembali akan memberikan suatu kontinuitas eksistensi dan hal ini akan
mereduksi kecemasan. Kita sangat sedikit mengetahui pengalaman aktual
bayi tentang kehilangan walaupun kehilangan orang tua, terutama jika

5
pengasuh tidak digantikan, yang dapat berpengaruh negatif terhadap
kesehatan bayi.

Anak usia 3-5 tahun memiliki sedikit ide bahkan tidak sama sekali
mengenai apa yang dimaksud dengan kematian. Mereka sering kali bingung
antara mati dengan tidur, dan bertanya dengan keheranan, “Mengapa ini tidak
bergerak?” Diusia prasekolah, anak-anak jarang kaget dengan pemandangan
seekor binatang yang mati atau dari cerita bahwa seseorang telah mati.
Mereka percaya bahwa orang yang mati dapat menjadi hidup kembali secara
spontan karena adanya hal yang magis atau dengan memberi mereka makan
atau perawatan medis. Anak-anak sering kali percaya bahwa hanya orang-
orang yang ingin mati, atau mereka yang jahat atau yang kurang hati-hati,
yang benar-benar mati. Mereka mungkin juga menyalahkan diri mereka kenal
baik, mengungkapkan alasan yang tidak logis bahwa peristiwa itu mungkin
terjadi karena tidak patuh terhadap orang yang mati.

Kadang-kadang dimasa kanak-kanak tengah dan akhir, konsep yang


tidak logis mengenai kematian yang lambat laun berkembang hingga
diperoleh suatu persepsi kematian yang lebih realistis. Dalam satu penelitian
awal mengenai persepsi kematian seorang anak, usia 3-5 tahun menolak
adanya kematian. Anak usia 6-9 tahun percaya bahwa kematian itu ada, tetapi
hanya dialami oleh beberapa orang. Dan anak usia 9 tahun keatas akhirnya
mengenali kematian dan universalitasnya..Kebanyakan ahli psikologi percaya
bahwa kejujuran merupakan strategi terbaik dalam mendiskusikan kematian
dengan anak-anak. Mempermalukan konsep sebagai hal yang tidak pantas
disebutkan merupakan strategi yang tidak sesuai, walau kebanyakan dari kita
masih tumbuh dalam suatu masyarakat dimana kematian sangat jarang
didiskusikan. Dalam suatu penelitian, peneliti berusaha menilai sikap 30.000
orang usia dewasa muda terhadap kematian (Shneidman, 1973). Hasilnya,
lebih dari 30% berkata bahwa mereka tidak dapat mengingat kembali diskusi
mengenai kematian selama mereka kanak-kanak; dengan jumlah yang sama,
yang lain mengatakan bahwa, meskipun kematian didiskusikan, namun

6
diskusinya berlangsung dalam suasana yang tidak nyaman. Hampir setiap 1
dari 2 responden berkata bahwa kematian kakek/neneknya merupakan
kematian pertama kali mereka hadapi.

b. Masa Remaja
Dimasa remaja, pandangan terhadap kematian, seperti juga pandangan
terhadap penuaan dianggap sebagai suatu hal yang begitu jauh dan tidak
memiliki banyak relavasi. Subjek kematian barang kali dihindari, ditutupi,
diolok-olok, dinetralisir, dan dikontrol, dengan orientasi sebagai penonton
(spektatorlike orientation). Perspektif ini merupakan tipe pemahaman
kesadaran diri pada masa remaja. Bagaimanapun, beberapa remaja
menunjukkan perhatiaannya kepada kematian, mencoba untuk memahami
maksud dari kematian, dan menghadapi saat kematian mereka.
Remaja mengembangkan konsep tentang kematian secara lebih abstrak
dibanding anak-anak. Sebagai contoh, para remaja menggambarkan kematian
dengan istilah kegelapan, cahaya terang, transisi, atau ketiadaan sama sekali
(Wenestam & Wass, 1987 dalam Santrock 2012). Mereka juga
mengembangkan pandangan filosof religious mengenai hakikat kematian dan
kehidupan sesuadah mati.
c. Masa Dewasa
Tidak ada bukti yang menunjukkan di masa dewasa awal dikembangkan
suatu pemahaman atau orientasi khusus mengenai kematian. Peningkatan
kesadaran mengenai kematian muncul sejalan saat mereka beranjak tua, yang
biasanya meningkat pada masa dewasa tengah. Dalam diskusi kita mengenai
masa dewasa tengah, kita mengindikasikan bahwa usi paruh baya merupakan
saat dimana orang dewasa mulai berfikir lebih jauh mengenai berapa banyak
waktu yang tersisa dalam hidup mereka. Para peneliti menemukan bahwa
mereka yang berusia dewasa tengah sebenarnya lebih takut menghadapi
kematian dibandingkan mereka yang berusia dewasa awal maupun dewasa
akhir. Orang-orang di usia dewasa akhir lebih banyak berfikir mengenai
kematian dan mereka lebih banyak membicarakan tentang kematian dengan
orang lain dibandingkan usia dewasa tengah maupun dewasa muda. Mereka
juga mengalami kematian secara lebih langsung seiring dengan sakit dan

7
meninggalnya teman-teman dan keluarga mereka. Di usia dewasa akhir ini,
orang dewasa lanjut didorong untuk lebih sering menguji arti kehidupan dan
kematian dibandingkan orang dewasa muda.
Di usia tua, kematian seseorang lebih wajar dibicarakan dibandingkan
tahun-tahun sebelumnya. Pemikiran dan pembicaraan mengenai kematian
meningkat, perkembangan integritas pun meningkat melalui peninjauan hidup
yang positif dan hal ini mungkin dapat membantu mereka untuk menerima
kematian. Di usia dewasa akhir urusan yang belum selesai lebih sedikit
dibandingkan ketika di usia dewasa muda. Mereka biasanya tidak lagi
memiliki anak yang perlu dibimbing hingga matang, pasangan hidup mereka
biasanya mati lebih dahulu, dan cenderung tidak memiliki kerja yang
berhubungan dengan proyek yang menginginkan kesempurnaan. Kurangnya
antisipasi terhadap kematian barangkali akan menyebabkan rendahnya rasa
sakit yang ditimbulkan secara emosional pada diri mereka. Bahkan diantara
orang dewasa akhir, sikap terhadap kematian terkadang bersifat
individualistis sama seperti mereka yang memegang prinsip tersebut.

2.4 Keadaan Psikologis Lansia dalam Menghadapi Kematian.


Kecemasan adalah respon psikologis terhadap stres yang
mengandungkomponen fisiologis dan psikologis, perasaan takut atau tidak
tenang yang tidakdiketahui sebabnya. Kecemasan terjadi ketika seseorang
merasa terancam baiksecara fisik maupun psikologik seperti harga diri,
gambaran diri atau identitasdiri. Kecemasan dimanifestasikan dalam
tingkatan yang berbeda dari mulairingan sampai berat. Manifestasi
kecemasan yang terjadi tergantung pada kematangan pribadi, pemahaman
dalam menghadapi ketegangan, harga diri dan mekanisme coping.
Kecemasan sangat berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya,
keadaan emosi ini tidak dimiliki obyek yang spesifik, kondisi dialami secara
subyektif dan dikomunikasikan dalam hubungan interpersonal
(Stuart&Sundeen, 1998).
Corr, Nabe&Corr (2003) mengemukakan sikap yang berkaitan dengan
kematian dapat berfokus pada hal-hal antara lain: (a) sikap tentang diri

8
individu pada saat sekarat yaitu merefleksikan ketakutan dan kecemasan
tentang kemungkinan mengalami proses kematian yang panjang, sulit atau
sakit, (b) sikap tentang kematian diri yaitu berfokus kepada apa makna
kematian bagi diri individu, dan (c) sikap tentang apa yang akan terjadi pada
diri setelah kematian yaitu berfokus pada apa yang akan terjadi pada diri
individu sesudah kematian, (d) sikap yang berkaitan dengan kematian atau
rasa kehilangan orang lain yangdicintai yaitu berfokus pada bagaimana
individu memandang kematian orang lain yang dicintai.
Kecemasan dalam menghadapi kematian dibuktikan dengan hasil
penelitian dari Shanty sudarji (2013) yang mengatakan bahwa pada subjek I
kecemasan dalam menghadapi kematian cenderung ringan, dan Ia sudah siap
jika kematiannya tiba. Sementara pada subjek II, cenderung cemas
menghadapi kematian dikarenakan beberapa hal, antara lain takut akan
kematian itu sendiri, takut mati karena banyak tujuan hidup yang belum
tercapai, juga merasa cemas karena merasa sendirian dan tidak akan ada yang
menolong saat Ia sekarat nantinya.
Menurut Hakim, S.N (2003) secara fisik lanjut usia pasti mengalami
penurunan, tetapi pada aktivitas yang berkaitan dengan agama justru
mengalami peningkatan, artinya perhatian mereka terhadap agama semakin
meningkat sejalan dengan bertambahnya usia. Lanjut usia lebih percaya
bahwa agama dapat memberikan jalan bagi pemecahan masalah kehidupan,
agama juga berfungsi sebagai pembimbing dalam kehidupannya,
menentramkan batinnya. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh ahli psikologi
dan psikiatri C.G. Jung yang menganggap bahwa agama adalah sarana yang
ampuh dan obat yang manjur untuk menyembuhkan manusia dari penyakit
neurosis, dan penyakit neurosis yang diderita oleh orang yang berusia sudah
45 tahun keatas adalah berkaitan dengan soal kematian, menyangkut arti dan
makna kehidupan.
Kebutuhan spiritual (keagamaan) dapat memberikan ketenangan
batiniah. Sehingga religiusitas atau penghayatan keagamaan besar

9
pengaruhnya terhadap taraf kesehatan fisik maupun kesehatan mental, hal ini
ditunjukan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hawari (1997), bahwa :
a) Lanjut usia yang nonreligius angka kematiannya dua kali lebih besar
daripada orang yang religius.
b) Lanjut usia yang religius penyembuhan penyakitnya lebih cepat
dibandingkan yang non religius.
c) Lanjut usia yang religius lebih kebal dan tenang menghadapi operasi.
d) Lanjut usia yang religius lebih kuat dan tabah menghadapi stres daripada
yang nonreligius, sehingga gangguan mental emosional jauh lebih kecil.
e) Lanjut usia yang religius tabah dan tenang menghadapi saat-saat terakhir
(kematian) daripada yang nonreligius.
Beberapa penelitian juga menunjukkan adanya hubungan positif antara
agama dan keadaan psikologis lanjut usia, yaitu penelitian yang dilakukan
oleh Koenig, Goerge dan Segler (1988 dalam Papalia & Olds, 1995) yang
menunjukkan bahwa strategi menghadapi masalah yang tersering dilakukan
oleh 100 responden berusia 55th – 80th tahun terhadap peristiwa yang paling
menimbulkan stres adalah berhubungan dengan agama dan kegiatan religius
(Saadah, 2003).
Sebuah penelitian menyatakan bahwa lansia yang lebih dekat dengan
agama menunjukkan tingkatan yang tinggi dalam hal kepuasan hidup, harga
diri dan optimisme. Studi lain menyatakan bahwa praktisi religius dan
perasaan religius berhubungan dengan sense of well being, terutama pada
wanita dan individu berusia di atas 75 tahun (Koenig, Smiley, & Gonzales,
1988 dalam Santrock, 2006). Studi lain di San Diego menyatakan hasil bahwa
lansia yang orientasi religiusnya sangat kuat diasosiasikan dengan kesehatan
yang lebih baik . Cupertino & Haan (dalam Santrock, 2006).
Agama dapat memenuhi beberapa kebutuhan psikologis yang penting
pada lansia dalam hal menghadapi kematian, menemukan dan
mempertahankan perasaan berharga dan pentingnya dalam kehidupan, dan
menerima kekurangan di masa tua (Daaleman, Perera &Studenski, 2004; Fry,
1999; Koenig & Larson, 1998 dalam Santrock, 2006). Hasil studi lainnya

10
yang mendukung adalah dari Seybold& Hill (dalam Papalia, 2003) yang
menyatakan bahwa ada asosiasi yang positif antara religiusitas atau
spiritualitas dengan well being, kepuasan pernikahan, dan keberfungsian
psikologis; serta asosiasi yang negatif dengan bunuh diri, penyimpangan,
kriminalitas, dan penggunaan alkohol dan obat-obatan terlarang.Hal ini
mungkin terjadi karena dengan beribadah dapat mengurangi stress dan
menahan produksi hormon stres oleh tubuh, seperti adrenalin. Pengurangan
hormon stress ini dihubungkan dengan beberapa keuntungan pada aspek
kesehatan, termasuk sistem kekebalan tubuh yang semakin kuat (McCullough
& Others, 2000 dalam Santrock, 2006).
Lansia dengan komitmen beragama yang sangat kuat cenderung
mempunyai harga diri yang paling tinggi (Krase, 1995 dalam Papalia, 2002).
Individu berusia 65 ke atas mengatakan bahwa keyakinan agama merupakan
pengaruh yang paling signifikan dalam kehidupan mereka, sehingga mereka
berusaha untuk melaksanakan keyakinan agama tersebut dan menghadiri
pelayanan agama (Gallup & Bezilla, 1992 dalam Santrock 2002). Dalam
survey lain dapat dilihat bahwa apabila dibandingkan dengan younger adults,
dewasa di old age lebih memiliki minat yang lebih kuat terhadap spiritualitas
dan berdoa (Gallup & Jones, 1989 dalam Santrock 2002). Dalam suatu studi
dikemukakan bahwa self-esteem older adults lebih tinggi ketika mereka
memiliki komitmen religius yang kuat dan sebaliknya (Krause, 1995 dalam
Santrock, 2002). Dalam studi lain disebutkan bahwa komitmen beragama
berkaitan dengan kesehatan dan well-being pada young, middle-aged, dan
older adult berkebangsaan Afrika-Amerika (Levin, Chatters, &Taylor, 1995
dalam Santrock 2002). Agama dapat menambah kebutuhan psikologis yang
penting pada older adults, membantu mereka menghadapi kematian,
menemukan dan menjaga sense akan keberartian dan signifikansi dalam
hidup, serta menerima kehilangan yang tak terelakkan dari masa tua (Koenig
&Larson, 1998 dalam Santrock 2002).
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kehidupan spiritual pada
lanjut usia dapat memberi ketenangan batiniah, dimana spiritualitas

11
berpengaruh besar pada kesehatan fisik dan kesehatan mental sehingga
seorang lanjut usia mampu mengatasi perubahan atau stres yang terjadi dalam
hidupnya dan dalam menghadapi kematiannya.
Dengan spiritualitasnya lanjut usia lebih dapat menerima segala
perubahan yang terjadi dalam dirinya dengan pasrah kepada Tuhan, yang
tercermin melalui kehidupan yang bermanfaat bagi dirinya dan dalam
menghadapi suatu masalah (coping) dengan lingkungannya.

2.5 Penyebab KetidaksiapanLansia dalam Menghadapi Kematian.


Menurut Erikson (dalam Hall dan Lindzey, 1978) individu yang berada
pada masa dewasa akhir harus mengatasi krisis terakhir dari delapan krisis
yaitu integritas versus keputusasaan. Integritas merupakan keadaan individu
yang telah berhasil menyesuaikan diri dengan keberhasilan-keberhasilan dan
kegagalan dalam hidup, sehingga individu merasa bahwa kehidupannya
memiliki makna. Lawan dari integritas adalah keputusasaan dalam
menghadapi perubahan-perubahan siklus kehidupan individu terhadap kondisi
sosial dan histories, juga kefanaan hidup di hadapan kematian. Keputusasaan
dapat memperburuk perasaan bahwa hidup tidak ada artinya, bahwa ajal
sudah dekat, sudah tidak ada waktu lagi untuk berbalik dan mencoba gaya
hidup yang lain. Mereka yang berhasil mengatasi krisis terakhir tersebut
mencapai kebijaksanaan yang dapat membuat mereka menerima apa yang
telah dilakukan dalam hidupnya dan menerima datangnya kematian yang
makin dekat, dengan teratasinya krisis tersebut diharapkan di masa usia
lanjut, lansia telah siap menghadapi kematian (Papalia, 2002).
Ketidaksiapan lansia antara lain diakibatkan oleh kualitas kepuasaan
hidup (Papalia, 2002), konsep mengenai hidup dan mati, pengakuan akan
adanya kematian, dan konsistensi menjalankan ajaran agama.

2.6 Tahapan Menjelang kematian


Ross, 1969 (dalam Santrock,2012) membagi perilaku dan proses
berpikir seseorang menjelangkematian menjadi lima fase, yaitu :

12
a. Penolakan dan asosiasi (denialanddisolation),merupakan hasil pertama
dimana orang menolak bahwa kematian benar-benarada. Namun,
penolakan biasanya sebagai bentuk pertahanan diri yang
bersifatsementara dan kemudian akan digantikan dengan rasa penerimaan
yangmeningkat saat seseorang dihadapkan pada beberapa hal.
b. Kemarahan (anger),merupakan fase kedua dimana orang yang menjelang
kematian menyadari bahwapenolakan tidak dapat lagi dipertahankan.
Penolakan sering memunculkan rasabenci, marah dan iri.
c. Tawar-menawar (bargaining), merupakan fase ketigadimana seseorang
mengembangkan harapan bahwa kematian sewaktu-waktudapat ditunda
atau diundur.
d. Depresi (depression), merupakan fase keempatdimana orang yang sekarat
akhirnya menerima kematian. Pada titik ini, suatuperiode depresi atau
persiapan berduka mungkin muncul.
e. Penerimaan (acceptance), sebagai fase terakhir dimana
seseorangmengembangkan rasa damai; menerima takdir; dan, dalam
beberapa hal, inginditinggal sendiri.

13
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kematian dapat dipandang dari berbagai sudut pandang. Kematian dapat
dipandang sebagai sesuatu hal yang menakutkan, ataupun dimaknai sebagai
suatu hal yang tidak dapat dihindari, terdapat kehidupan yang lebih baik
setelah mati. Tingkat religiusitas seseorang dapat mempengaruhi pandangan
seseorang akan kematian. Kondisi kehidupan seperti ada atau tidaknya
pasangan, kondisi kesehatan, kondisi lingkungan sekitar juga dapat
mempengaruhi pandangan seseorang akan kematian. Kecemasan dalam
menghadapi kematian setiap orang juga berbeda-beda begitupun dengan
persiapan setiap individu dalam menghadapi kematian juga berbeda-beda.

3.2 Saran
Saran yang dapat diberikan adalah terkhusus kepada lansia tetap
melakukan aktivitas dan kegiatannya yang dapat membuat kehidupan di masa
tua menjadi lebih bermakna, juga dapat mengisi waktu luangnya dengan
kegiatan atau aktivitas ringan dan menyenangkan seperti berjalan-jalan di
sore hari, menonton televisi, dll agar selalu merasa santai dan bahagia. Serta
meningkatkan religiusitas dan kesiapan dalam menghadapi kematian serta
menurunkan kecemasan yang berlebih.

14