Anda di halaman 1dari 14

Martin Muljana

28917003
Magister Arsitektur Lanskap
Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan
Institut Teknologi Bandung

Perancangan Tipologi Rain Garden di Area Perumahan sebagai Konstribusi Arsitektur Lanskap
terhadap Banjir di Kota Bandung
Studi Kasus: Perumahan Mega Raya dan Mega Asri, Kecamatan Cicendo

Pendahuluan

Banjir dapat berupa genangan pada lahan yang biasanya kering seperti pada lahan pertanian,
permukiman, pusat kota. Banjir dapat juga terjadi karena debit/volume air yang mengalir pada suatu
sungai atau saluran drainase melebihi atau diatas kapasitas pengalirannya. Luapan air biasanya tidak
menjadi persoalan bila tidak menimbulkan kerugian, korban meninggal atau luka-luka, tidak
merendam permukiman dalam waktu lama, tidak menimbulkan persoalan lain bagi kehidupan
sehari-hari. Bila genangan air terjadi cukup inggi, dalam waktu lama, dan sering maka hal tersebut
akan mengganggu kegiatan manusia. Dalam sepuluh tahun terakhir ini, luas area dan frekuensi banjir
semakin bertambah dengan kerugian yang makin besar (BNPB,2013).

Indonesia merupakan salah satu negara yang banyak dilanda bencana. Selama periode 2000 sampai
2011, dari sekian banyak bencana secara nasional, 77 persen bencana yang terjadi merupakan
bencana hidrometeorologi, yaitu banjir; angin puting beliung; dan longsor. Pada bulan Januari 2013,
terdapat sekitar 120 kejadian bencana di Indonesia. Akibat bencana tersebut maka 123 orang
meninggal, 179.659 orang menderita dan mengungsi, 940 rumah rusak berat, 2.717 rumah rusak
sedang, 10.798 rumah rusak ringan, kerusakan fasilitas umum lainnya BNPB, 2013).

Gambar 1. Bencana Hidrometeorologi


Sumber : http://google.com/banjir_ 2018

Di Jawa Barat, banjir sering terjadi di DAS Citarum terutama di bagian hulu. Banjir terjadi sejak
puluhan tahun lalu antara lain tahun 1931, 1984, 1986, 2005, 2007, 2010 dan tahun 2012 (Dinas
PSDA Jawa Barat, 2009). Salah satu kawasan di Citarum Hulu yang sering mengalami banjir adalah
Cieunteung. Kampung ini biasanya juga paling parah terkena dampak banjir. Setiap tahun ratusan
penduduk harus meninggalkan tempat tinggalnya mengungsi ke tempat lain karena rumah tempat
tinggal mereka tergenang banjir. Banjir tersebut telah mengganggu berbagai kegiatan penduduk baik
untuk keperluan bekerja, pendidikan, maupun lainnya (BNPB,2013).

Kodoatie dan Syarief (2006) menjelaskan faktor penyebab banjir a.l perubahan guna lahan,
pembuangan sampah, erosi dan sedimentasi, kawasan kumuh di sepanjang sungai, system
pengendalian banjir yang tidak tepat, curah hujan tinggi, fisiografi sungai, kapasitas sungai yang tidak
memadai, pengaruh air pasang, penurunan tanah, bangunan air, kerusakan bangunan pengendali
banjir.

1
Terjadinya banjir juga dipengaruhi oleh kegiatan manusia atau pembangunan yang kurang
memperhatikan kaidah-kaidah konservasi lingkungan. Banyak pemanfaatan ruang yang kurang
memperhatikan kemampuannya dan melebihi kapasitas daya dukungnya.

Alasan lainnya adalah berkurangnya Ruang Terbuka Hijau. Akibat dari berkurangnya RTH kota maka
tingkat infiltrasi di kawasan tersebut menurun sedangkan kecepatan dan debit aliran permukaannya
meningkat. Ketika turun hujan lebat dalam waktu yang lama, maka sebagian besar air hujan akan
mengalir diatas permukaan tanah dengan kecepatan dan volume yang besar dan selanjutnya
terakumulasi menjadi banjir.

Gambar 2. Skema Penyebab Terjadinya Banjir


Sumber : http://google.com/cause_of_flooding 2018

Kajian Teori tentang Residential Rain Garden

Menurut Foud Jaber, dkk dalam buku Stormwater Management: Rain Gardens, Rain Garden adalah
sebuah lekukan dangkal yang ditanami tumbuh-tumbuhan. Berfungsi untuk mengumpulkan air
permukaan yang berasal dari atap, area parkir, dan permukaan lainnya. Rain Garden juga bisa
berfungsi sebagai taman di area pekarangan. Namun, fungsi utamanya adalah untuk menahan dan
menyaring air hujan yang ditampung.

Rain Garden (juga dikenal sebagai bioretension area) berbentuk mangkuk yang dipenuhi oleh
tanaman. Tanaman yang ditanam biasanya tanaman asli suatu daerah atau tanaman yang bisa
beradaptasi terhadap lingkungan yang berair dan kering.

Rain Garden dapat dibangun dari berbagai jenis tanah. Mulai dari yang berpasir sampai tanah liat.
Ukurannya bervariasi tergantung dari luasan area resapan (luas pekarangan suatu rumah). Rain
Garden bisa dibuat dipekarangan rumah atau di lahan parkir.

2
Gambar 3. Potongan Rain Garden
Sumber : http://holemanlandscape.com 2018

Manfaat dari Rain Garden yaitu mengurangi jumlah air permukaan, memperlambat kelajuan air
permukaan, mengurangi polusi pada air permukaan, memperbanyak persediaan air tanah, dan
memperbaiki kualitas air pekarangan.

Rain Garden menggunakan proses kimiawi, biologis, sifat fisik tanah, tumbuhan, dan mikroba untuk
membuang polutan dari air yang ditampung. Proses penyaringannya berupa settling, reaksi kimia di
dalam tanah, tanaman yang menyerap, dan degradasi biologis di zona perakaran.

1. Settling

Ketika air permukaan masuk ke dalam Rain Garden, laju air akan berkurang karena bentuk lekukan
Rain Garden dan juga terhalang oleh tanaman di dalamnya. Tanah-tanah dan puing-puing yang
terbawa air akan terperangkap didalam Rain Garden ini. Tanaman juga membuat polutan
terperangkap dan air difiltrasi sebelum menyerap ke tanah. Untuk itu sedimen yang mengendap perlu
dibersihkan secara ruitn.

2. Reaksi kimia di dalam tanah

Tanah yang terkandung di dalam Rain Garden memproses polutan dengan dua cara. Yaitu penyerapan
(ketika polutan menempel di partikel-partikel tanah) dan penguapan.

3. Tanaman yang menyerap

Tanaman menyerap nutrisi melalui akarnya dan memanfaatkan nutrisi tersebut untuk tumbuh dan
untuk proses lainnya. Ketika tanamannya mati, kemungkinan nutrisi tersebut akan dilepaskan
kembali ke Rain Garden, untuk itu tanaman yang mati tersebut perlu diganti.

3
4. Degradasi biologis di zona akar

Mikroba yang ada di dalam tanah akan mengurai benda organik dan non organik, termasuk minyak
dan lemak, dan membantu menghilangkan bakteri-bakteri penyebab penyakit, atau patogen. Proses
mikroba yang menghilangkan nitrogen dari tanah disebut nitrifikasi dan denitrifikasi.

Nitrifikasi terjadi pada saat bakteri akan mengubah nitrogen yang tidak diserap oleh tanaman menjadi
asam amonia dan asam amonium ke dalam asam nitrat, yang mudah diserap oleh akar. Sedangkan
denitrifikasi terjadi pada saat bakteri mengubah asam nitrat menjadi gas yang akan dilepaskan ke
atmosfer.

Gambar 4. Proses Biologis dan Kimiawi yang Terjadi di Rain


Garden
Sumber : http://cleveland.com 2018

Ada dua desain yang umum dipakai untuk Rain Garden. Yaitu:

- lubang yang ditanami tumbuh-tumbuhan diletakkan dibagian hilir selokan. Desain ini
biasanya dipakai pada rumah dan retail untuk mengumpulkan air hujan dari atap atau tanah
berpasir yang memiliki tingkat infiltrasi yang tinggi

- tanah eksisting diganti dengan beberapa lapisan tanah yang memiliki tingkat infiltrasi tinggi,
kerikil, dan mulch, dan ditanami beberapa jenis tumbuh-tumbuhan. Desain ini biasanya
ditambahkan perforated pipe pada bagian bawah growing media tapi di atas kerikil. Desain
ini cocok di area tanah liat, parkiran, dan pinggir jalan raya.

Pemilihan Lokasi

Untuk memilih lokasi Rain Garden, harus memperhatikan tata guna lahan, tumbuh-tumbuhan, lereng,
dekat dengan fondasi bangunan, dan nilai estetika dari sebuah lahan. Rain Garden didesain untuk area
1 atau 2 hektar. Hindari menempatkan rain garden di dekat area pembangunan, sehingga tidak terjadi
pengendapan material. Kalau terpaksa gunakan pagar pembatas untuk mencegah material masuk. Jika
rain garden difungsikan untuk mengumpulkan air permukaan yang berasal dari atap, makan daerah
tangkapan air (catchment area) terdiri dari area atap dan juga pekarangan.

4
Tabel 1. Koefisien Run Off

Menentukan Jenis Vegetasi


Sumber : http://cleveland.com 2018

Tumbuhan yang ditempatkan di rain


garden harus mampu bertahan dalam
keadaan air yang melimpah (hingga 48
jam), serta dalam kondisi kering. Tumbuhan yang dipilih akan sangat tergantung kepada kondisi cuaca
regional dan kemampuan beradaptasi tanaman.

Lingkup Perancangan dan Lingkup Kajian

5
6
Lingkup wilayah perancangan berada di sepanjang jl. Menthor Perumahan Mega Raya dan Mega Asri,
Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat. Luas area survey 101 292 m². Dari hasil
survey, didapatkan empat tipologi rumah yang akan dihitung jumlah volume aliran air permukaannya.

Dimana:
I = intensitas curah hujan
dalam mm/jam.
R24 = curah hujan harian
maksimum tahunan untuk kala
7 ulang t tahun.
tc = waktu konsentrasi dalam
jam.
Dengan menggunakan rumus Q = CAi, maka didapatkan volume aliran air permukaan selama 2 jam.
Masing-masing terlihat pada gambar diatas.

Hasil Desain

Selain Rain Garden, komponen yang dirancang lainnya adalah sumur resapan, kolam ikan, dan
bioretention swale. Ukuran Rain Garden yaitu 1 m x 1 m dengan kedalaman sekitar 50 cm. Satu Rain
Garden ini dapat menampung 0,17 m³ air, satu sumur resapan dapat menampung 5,07 m³ air,
sedangkan kolam ikan dapat menampung 3 m³ air.

8
Skema alirannya adalah, air hujan akan diarahkan ke dalam kolam ikan terlebih dahulu,
limpasannya akan masuk ke dalam bioretention swale dan kemudian akan diteruskan ke
sumur resapan dan rain garden.

Jenis tanaman yang ditanam adalah tanaman air lokal, seperti anturium merah, alamanda
kuning, bambu air, cana presiden merah, spider lili, bintang air, dan dahlia.

Lampiran

9
Untuk rumah tipe 1, jumlah rain garden-nya ada 10, sumur resapannya ada 3, dan kolam ikan ada 1.
Maka air hujan yang dapat ditampung sebanyak 54 m³ dari total 97 m³.

10
Untuk rumah tipe 2, jumlah rain garden-nya ada 3, sumur resapannya ada 2, dan kolam ikan ada 1.
Maka air hujan yang dapat ditampung sebanyak 15 m³ dari total 94 m³.

11
Untuk rumah tipe 3, jumlah rain garden-nya ada 8, sumur resapannya ada 4, dan kolam ikan ada 2.
Maka air hujan yang dapat ditampung sebanyak 30 m³ dari total 61 m³.

12
Untuk rumah tipe 4, jumlah rain garden-nya ada 2, sumur resapannya ada 2, dan kolam ikan ada 1.
Maka air hujan yang dapat ditampung sebanyak 12 m³ dari total 33 m³.

13
Dafar Pustaka

Fouad Jaber. 2012. Stormwater Management: Rain Garden. Texas : The Texas A&M System

Michael Diettz . 2011. Rain Garden: A Design Guide for Homeowners. Connecticut : University of
Connecticut

www.cleveland.com

www.holemanlandscape.com

14